0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
135 tayangan8 halaman

Penguatan dan Penghapusan Perilaku

Dokumen tersebut membahas tentang konsep-konsep dasar modifikasi perilaku seperti reinforcement, extinction, shaping, chaining, dan token economy. Reinforcement merupakan peristiwa yang memperkuat perilaku, terdiri dari primary dan secondary reinforcer. Extinction adalah menghilangkan perilaku dengan menghentikan pemberian penguatan. Shaping membentuk perilaku baru secara bertahap dengan memberikan penguatan. Chaining dan token economy juga merupakan teknik modifikasi perilaku yang melibatkan penguatan

Diunggah oleh

leojerk
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
135 tayangan8 halaman

Penguatan dan Penghapusan Perilaku

Dokumen tersebut membahas tentang konsep-konsep dasar modifikasi perilaku seperti reinforcement, extinction, shaping, chaining, dan token economy. Reinforcement merupakan peristiwa yang memperkuat perilaku, terdiri dari primary dan secondary reinforcer. Extinction adalah menghilangkan perilaku dengan menghentikan pemberian penguatan. Shaping membentuk perilaku baru secara bertahap dengan memberikan penguatan. Chaining dan token economy juga merupakan teknik modifikasi perilaku yang melibatkan penguatan

Diunggah oleh

leojerk
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Reinforcement
1.1 Definisi
Reinforcement merupakan peristiwa khusus dari perilaku, yang diikuti dengan
konsekuensi,dimana konsekuensi tersebut akan memperkuat perilaku. Seseorang yang
mendapatkan reinforcement akan cenderung mengulang perilaku yang sama di masa
mendatang. Operant behavior yang terjadi dalam sebuah lingkungan akan menghsilkan
sebuah konsekuensi. Konsekuensi yang memperkuat operant behavior disebut reinforcer.
1.2 Jenis Jenis Reinforcement
1.2.1 Primary reinforcer atau uncondition reinforcer
reinforcement yang langsung dapat dinikmati misalnya makanan dan minuman
1.2.2 Secondary reinforcer atau conditioned reinforcer,
reinforcement berupa uang, senyuman, pujian, medali, pin, hadiah, dan kehormatan
1.2.3 Contingency reinforcement,
tingkah laku yang tidak menyenangkan dipakai sebagai syarat agar anak melakukan
tingkah laku menyenangkan, misal kerjakan PR dulu baru nonton TV
1.3 Positif Reinforcement
Penguatan positif (positive

reinforcement)

adalah

memberikan

penguatan

yang

menyenangkan setelah setelah tingkah laku yang diinginkan ditampilkan yang bertujuan
agar tingkah laku yang diinginkan cenderung akan diulang , meningkat, atau menetap di
masa yang akan dating
1.4 Negatif Reinforcement
Penguatan negatif (negative reinforcement) yaitu menghilangkan aversive stimulus yang
biasa dilakukan agar tingkah laku yang tidak diinginkan berkurang dan tingkah laku yang
diinginkan meningkat.

1.5 Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Positif Reinforcement


1.5.1 Imediacy
Stimulus akan menjadi lebih efektif sebagai reinforce ketika segera diberi setelah perilaku
seseorang terbantuk.
1.5.2 Contingency
Stimulus akan menjadi lebih efektif sebagai reinforce ketika menjadi satu kesatuan dengan
Perilaku yang terbentuk. Ada konsistensi dalam pemberian konsekuensi.
1.5.3 Establishing Operation

Pengurangan atau kejadian lain, terkadang dapat menjadikan sebuah stimulus sebagai
reinforce pada waktu-waktu tertentu.
1.5.4 Individual Differences
Reinforcers berbeda dan bervariasi pada setiap orang.
1.5.5 Magnitude
Semakin kuat stimulus, semakin efektif perannya sebagai reinforcers (penguat perilaku)
1.6 Panduan Menyusun Reinforcement Positif
a. Mengumpulkan informasi tentang permasalahan melalui analisis ABC
- Antecendent (pencetus prilaku)
- Behavior ( prilaku yang dipermasalahkan; Frekuensi, intensitas, dan durasi )
- Consequence (akibat yang diperoleh dari perilaku tersebut)
b. Memilih perilaku target yang ingin ditingkatkan
c. Menetapkan data awal (baseline) perilaku awal
d. Menetapkan reinforcement yang bermakna
e. Menetapkan jadwal pemberian reinforcement
2. Extinction
2.1 Definisi
Extinction merupakan salah satu fenomena-fenomena dalam kondisioning klasik yang
artinya adalah menurunnya frekuensi respon bersyarat bahkan akhirnya menghilangnya respon
bersyarat akibat ketiadaan stimulus alami dalam proses kondisioning atau secara singkat dapat
diartikan hilangnya perilaku akibat dari dihilangkannya reinforcers.
2.2 Langkah Langkah Penerapan Extinction
a. Tentukan tingkah laku yang akan dihentikan dengan analisis ABC
b. Bila tingkah laku itu ditampilkan, guru atau orang tua diam dan tidak memberikan indikasi bahwa
guru atau orang tua melihat tingkah laku tersebut
c. Extinction akan lebih kuat bila dikombinasikan dengan teknik penguatan positif.
2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Extinction
a. Control terhadap pemberi penguatan bagi perilaku yang akan diturunkan/dihapuskan. Saat perilaku
diabaikan jangan sampai ada orang lain yang member perhatian/penguatan pada perilaku yang
tidak diharapkan.
b. Penurunan perilaku dikombinasi dengan penguatan positif bagi perilaku alternatif. Penguatan
diberi secara gradual. Misalnya saat anak menangis menjerit-jerit diabaikan, kemudian setelah
anak diam menangis selama 15 detik-1 menit kemudian diberi penguatan positif.
c. Lakukan pada situasi yang memaksimalkan program extinction dan meminimalkan situasi yang
memungkinkan pihak lain memperkuat perilaku yang tidak diharapkan. Misalnya anak temper
tantrum di super market akan sulit ditenangkan dibandingkan dilakukan di rumah.

d. Memberi instruksi dengan membuat aturan.

e. Extinction akan berlangsung cepat setelah diikuti continuous reinforcement pemberian


penguatan setiap kali perilaku diharapkan muncul.
f. Extinction akan berlangsung cepat setelah diikuti continuous reinforcement pemberian
penguatan setiap kali perilaku diharapkan [Link] continuous reinforcement pada
extinction akan lebih cepat menurunkan perilaku yang tidak diharapkan dibandingkan
intermittent reinforcement.
g. Extinction bisa menghasilkan perilaku agresi. Hal ini dapat diminimalisir apabila
mengkombinasi antara penghapusan (extinction) dengan penguatan positif (positive
reinforcement) bagi perilaku alternatif yang muncul.
h. Perilaku yang sudah hilang dapat muncul kembali setelah beberapa waktu. Ini disebut
spontaneous recovery. Bila hal ini terjadi maka perlu dilakukan kembali atau dilanjutkan
program penghapusan (extinction).
i. Prinsip penting dalam modifikasi tingkah laku adalah :bila ingin perilaku muncul lebih sering
maka beri dia penguatan. Bila ingin perilaku menurun atau hilang,maka abaikanlah.
2.4 Kelebihan Extinction
a. Prosedur ini dikombinasikan dengan prosedur lain telah terbukti efektif diterapkan dalam
berbagai macam situasi. Berlangsung cepat apabila dikombinasikan dengan penguatanan
perilaku yang diingini
b. Prosedur penghapusan menimbulkan efek yang tahan lama. Contoh perilaku rewel diatas tidak
akan kambuh bila tidak mendapat penguatan.
c. Prosedur penghapusan tidak menimbulkan efek sampingan se-negatif prosedur-prosedur yang
menggunakan stimuli aversif.
2.5 Kekurangan Extinction
a. Efek tidak terjadi dengan segera
Efek penghapusan biasanya tidak seketika terjadi. Setelah konsekuensi yang mengukuhkan
dihilangkan, perilaku-sasaran tetap berlangsung sampai waktu tertentu. Ini dapat
menimbulkan masalah dalam penerapannya
b. Frekuensi dan intensitas sementara meningkat.

Pada saat-saat permulaan penguatan tidak diberikan, frekuensi dan intensitas perilaku sasaran
cenderung bertambah. Oleh karena itu, memilih saat yang tepat menghentikan pemberian
penguatan sangat penting.
c. Perilaku-perilaku lain, termasuk perilaku agresif, sering timbul.
Kenaikan dan frekuensi dan intensitas sementara diikuti oleh perilaku-perilaku lain sebagai
usaha mendapat penguatan, termasuk perilaku agresif. Perilaku agresif disebabkan oleh
kekecewaan tidak diperolehnya penguatan yang biasa diperoleh.
d. Imitasi perilaku oleh orang lain
Pada permulaan penghapusan, perilaku yang berulang-ulang timbul dan tidak mendapat
perhatian yang berwenang, oleh orang lain yang melihatnya disangka mendapat persetujuan,
akibatnya perilakunya cenderung ditiru. Anak-anak mencari perhatian guru dengan mengusuli
teman. Guru melakukan ekstinsi. Ia hanya memperhatikan siswa yang tenang. Karena guru
tidak mengambil tindakan yang menyolok, pada anak2 tersebut, maka mereka mengira guru
tidak keberatan. Mereka mulai meniru perilaku tersebut. Kesukaran menemukan penguatan
yang mengontrol. Kadang-kadang terlihat jelas penguatan apa yang menimbulkan perilaku
yang berulang. Kadang-kadang sulit sekali untuk menemukan, terutama bila penguatan terjadi
pada jadwal yang sangat jarang. Begitu jarangnya konsekuensi penguatan ditemukan, sampai
seorang pengamat gagal mengendalikannya
e. Kesukaran menghentikan penguatanan

Kadang-kadang ditemukan penguatan yang tidak mungkin dipisahkan


dari perilaku sasaran, karena sudah terpadu atau alamiah merupakan
konsekuensi perilaku tersebut
3. Shaping
3.1 Definisi
Shaping adalah membentuktingkah laku baru yang sebelumnya belum ditampilkan dengan
memberikan reinforcement secara sistematik dan langsung setiap kali tingkah laku ditampilakan.
Tingkah laku diubah secara bertahap dengan memperkuat unsur unsur kecil tingkah laku baru
yang diinginkan secara berturut turut sampai mendekati tingkah laku akhir.
3.2 Langkah-Langkah Pelaksanaan Shaping
a. Membuat analisis ABC
b. Menetapkan target perilaku yang akan dicapai dengan konseli
c. Tentukan bersama jenis reinforcement positif yang akan digunakan

d. Membuat perencanaan dengan membuat tahapan pencapaian perilaku mulai dari perilaku awal
sampai perilaku akhir
e. Perencanaan dapat dimodikasikan selama berlangsung program shaping
f. Penetapan waktu pemberian reinforcement pada setiap tahap program
3.3 Faktor Yang Mempengaruhi Efektifitas Shaping
a. Spesifikkan perilaku akhir yang ingin dicapai. Ketepatan pemilihan perilaku yang spesifik
akan mempengaruhi ketepatan hasil.
b. Memilih perilaku awal. Hal ini bertujuan untuk menetapkan level pencapaian awal yang
dimiliki,karena program shaping bertujuan untuk mencapai perilaku secara bertahap
c. Memilih tahap shaping, mulai dari perilaku awal bergerak ke perilaku akhir
- Tidak ada pedoman yang ideal ; berapa kali percobaan dari satu langkah ke langkah
berikutnya.
- Tidak ada pedoman yang ideal ; berapa banyak tahapan yang harus digunakan pada program
shaping.
- Penetapan ditentukan fleksibel sesuai kecepatan belajar konseli
d. Ketepatan jarak waktu perpindahan tahapan
- Perpindahan dari langkah pertama ke langkah berikutnya harus sesuai dengan tahapan,
jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat. Upayakan pindah pada saat perilaku sudah
menetap.
- Penetapan setiap tahapan jangan terlalu dekat/kecil jaraknya
- Tapi kalau terlanjut terlalu cepat pindah tahap dan perilaku yang diharapkan hilang atau
tidak muncul, maka kembali ke tahap sebelumnya.
4. Chaining
4.1 Definisi
5. Token Economy
5.1 Definisi
Kartu berharga ( token economy ) merupakan teknik konseling behavioral yang didasarkan
pada prinsip operant conditioning Skinner yang termasuk di dalamnya adalah penguatan.
Token economy adalah strategi menghindari pemberian reinforcement secara langsung,
token merupakan penghargaan yang dapat ditukar, kemudian dengan berbagai barang yang
diinginkan oleh konseli. Token Economy bertujuan untuk mengembangkan perilaku adaptif
melalui pemberian reinforcement dengan token. Ketika tingkah laku yang diinginkan telah
cenderung menetap, pemberian token dikurangi secara bertahap.
5.2 Kelebihan Token Economy
Adapun kelebihan dari token economy yaitu sebagai berikut

a. Token dapat menguatkan tingkah laku target dengan seketika setelah terjadi dan tidak
ditunda-tunda.
b. Token mampu menumbuhkan motivasi di alam bawah sadar sehingga memberi penguatan
yang alami.
c. Token economy mempunyai variasi penguat yang mem-backup sehingga tidak
menjenuhkan.
d. Token economy merupakan program yang tersusun baik sehingga perilaku target yang
diharapkan diperkuat secara konsekuen.
e. Token mudah dibagikan dan siswa mudah menjumlahkan.
f. Token mudah diukur sehingga tiap tingkah laku mendapat jumlah token yang berbeda
pula.
g. Penukaran token mudah dilaksanakan.
h. Siswa mampu belajar ketrampilan-ketrampilan yang terlibat dalam perencanaan
memperoleh penguatan yang diinginkan.
5.3 Kekurangan Token Economy
Kekurangan Token Economy yaitu sebagai berikut
a. Kurangnya pembentukan motivasi intrinsik, karena token merupakan dorongan dari luar
diri.
b. Dibutuhkan dana lebih banyak untuk penyediaan pengukuh pendukung /back up reinforce
c. Adanya beberapa hambatan dari orang yang memberikan dan menerima token
5.4 Langkah Langkah Penyusunan Token Economy
5.4.1 Tahap Perencanaan
a. Pedoman diberikan pada konseli dan staf
b. Menetapkan item yang dipergunakan sebagai token.
c. Menentukan pengukuh idaman dan tarif penukaran untuk tiap pengukuh.
d. Menentukan harga balasan untuk tingkah laku negatif yang muncul.
e. Menentukan jadwal serta tempat penukaran token.
5.4.2 Tahap Pelaksanaan
a. Perkenalan program token economy ini di kelas yang menjadi target.
b. Menetapkan aturan yang dipergunakan dalam program ini.
c. Pencatatan tingkah laku siswa selama program ini berlangsung, khususnya saat mata pelajaran
matematika.

5.4.3 Tahap Evaluasi


Tahap evaluasi ini melihat kembali faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya program ini.
Kelebihan serta kekurangan dari program ini akan menjadi bahan pertimbangan untuk
menyususn rancangan program selanjutnya.
5.5 Aturan Dalam Menyusun Program Token Economy
Aturan yang perlu diperhatikan dalam menyusun program token economy, yaitu:

a. Menggunakan token dan pengukuh idaman yang mudah dan cepat untuk diberikan.
b. Hindari penundaan dan pemberian token secara konsisten.
c. Memperhitungkan nilai untuk tiap pengukuh.
d. Persyaratan yang diberlakukan hendaknya jelas dan mampu dipahami siswa.
e. Memilih pengukuh yang bervariasi dan berkualitas sehingga siswa tidak jenuh.
f. Kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan demi kelancaran program ini.
g. Pemberian token diiringi dengan pemberian pujian dan kedekatan emosional dengan siswa
agar menguatkan motivasi.
h. Jika tingkah laku yang ditargetkan sudah tercapai, maka secara berangsur-angsur token mulai
dikurangi.
6. Modeling
6.1 Definisi
Modeling merupakan belajar melalui observasi dengan menambahkan atau mengurangi
tingkah laku yang teramati, menggenelisirkan berbagai pengamatan sekaligus, melibatkan proses
kognitif.
Terdapat beberapa tipe modeling, yaitu modeling tingkah laku baru yang dilakukan melalui
observasi terhadap model tingkah laku yang diterima secara social individu memperoleh tingkah
laku model baru. Modeling mengubah tingkah laku lama yaitu dengan maniru tingkah laku
model yang tidak diterima social akan memperkuat / memperlemah tingkah laku tergantung
tingkah laku model itu diganjar atau dihukum. Modeling simbolik yaitu modeling melalui film
dan televisi menyajikan contoh tingkah laku, berpotensi sebagai sumber model tingkah laku.
Modeling kondisioning banyak dipakai untuk mempelajari respons emosional.
6.2 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penerapan Modelling
a. Ciri model seperti, usia, status social, jenis kelamin, keramahan.
b. Anak lebih senang meniru model seusianya daripada model dewasa.
c. Anak cenderung meniru model yang standar prestasinya dalam jangkauannya.
d. Anak cenderung mengimitasi orang tuanya yang hangat dan terbuka.
6.3 Prinsip Prinsip Modelling
a. Belajar bisa diperoleh melalui pengamatan langsung dan bisa tidak langsung dengan
mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekwensinya.
b. Kecakapan social tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku
model yang ada.
c. Reaksi reaksi emosional yang terganggu bisa dihapus dengan mengamati orang lain yang
mendekati objek atau situasi yang ditakuti tanpa mengalami akibat menakutkan dengan
tindakan yang dilakukannya.
d. Pengendalian diri dipelajari melalui pengamatan atau model yang dikenai hukuman.
e. Status kehormatan model sangat berarti.
f. Individu mengamati seorang model dan dikuatkan untuk mencontoh tingkah laku model.

g. Modeling dapat dilakukan dengan model symbol melalui film dan alat visual lainnya.
h. Para konseling kelompok terjadi model ganda karena peserta bebas meniru pemimpin
kelompok atau peserta lain.
i. Prosedur modeling dapat menggunakan berbagai teknik dasar modifikasi perilaku.
6.4 Pengaruh Modeling
a. Pengambilan respon atau keterampilan baru dan memperlihatkannya dalam perilaku baru.
b. Pengambilan respon atau keterampilan baru dan memperlihatkannya dalam perilaku
[Link] respon takut setelah melihat tokoh melakukan sesuatu yang menimbulkan rasa
takut konseli,tidak berakibat buruk bahkan berakibat positif.
c. Melalui pengamatan terhadap tokoh, seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu yang mungkin
sudah diketahui atau dipelajari dan tidak ada hambatan.
6.5 Macam Macam Model
a. Model nyata (live modeling), seperti: terapis,guru,anggota keluarga atau tokoh yang dikagumi
dijadikan model oleh konseli
b. Model simbolik (symbolic modeling), seperti: tokoh yang dilihat melalui film,video, atau media
lain.
c. Model ganda (multiple modeling), seperti:terjadi dalam kelompok, seorang anggota mengubah
sikap dan memperlajari sikap baru setelah mengamati anggota lain bersikap.
7. Punishment

Anda mungkin juga menyukai