1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................... I
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ III
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
1.1.
Latar Belakang............................................................................... 1
1.2
Rumusan masalah..........................................................................5
1.3
Tujuan Penelitian............................................................................ 5
1.4
Manfaat Penelitian..........................................................................6
BAB II KAJIAN PUSTAKA................................................................................ 7
2.1
Landasan Teori............................................................................... 7
2.1.1. Manajemen Operasi dan Produksi.............................................7
[Link].
Pengertian Manajemen......................................................7
[Link].
Pengertian Operasional dan Produksi..............................10
[Link].
Pengertian Manajemen Operasional................................10
2.1.2.
Pengendalian Kualitas............................................................11
[Link].
Pengertian Kualitas..........................................................11
[Link].
Pengertian Pengendalian Kualitas....................................13
2.1.3.
Statistic Quality Control (SQC)...............................................15
[Link].
Pengertian Statistic Quality Control (SQC).......................15
[Link].
Alat Pengendalian Kualitas (Quality Control)...................17
2.2.
Penelitian Terdahulu.....................................................................22
2.3.
Kerangka Konsep..........................................................................23
BAB III METODE PENELITIAN......................................................................25
3.1.
Definisi Oprasioanal.....................................................................25
3.2.
Jenis dan Sumber Data.................................................................25
3.2.1.
Jenis Data............................................................................... 25
3.2.2.
Sumber Data..........................................................................26
3.3.
Metode Pengumpulan Data..........................................................27
3.4.
Pengolahan Data..........................................................................28
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 31
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar
Judul
Halaman
2.1
Histogram
19
2.2
Diagram Pareto ..
20
2.3
Peta Kendali ...
21
2.4
Diagram Sebab Akibat ..
22
2.5
Kerangka Konsep ...
24
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak kelapa sawit (CPO) dan
inti kelapa sawit (Palm Kernel) merupakan salah satu primadona tanaman
perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non-migas bagi Indonesia.
Saat ini, luas lahan kelapa sawit Indonesia mencapai 9,1 juta ton di mana sekitar
3,79 juta ton berasal dari kepemilikan petani. Dengan produktivitas rata-rata
sebesar 3,8 ton CPO per hektare per tahun. Cerahnya prospek komoditi minyak
kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati telah mendorong para
pengusaha berpikir kembali untuk merubah fokuskan usahanya menjadi kelapa
sawit. Perusahaan besar seperti PT PP London Sumatra Indonesia Tbk
(Lonsum). Di awal berdirinya, perusahaan mendiversifikasikan tanamannya
menjadi tanaman karet, teh dan kakao. Di awal Indonesia merdeka Lonsum lebih
memfokuskan usahanya kepada tanaman karet, yang kemudian dirubah menjadi
kelapa sawit. Tidak hanya swasta pemerintah Indonesia juga memacu
pengembangan areal perkebunan kelapa sawit dengan berdirinya perusahaan
BUMN seperti PT. Perkebunan Nusantara III, PT. Perkebunan Nusantara (PTPN)
IV dan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) V.
Tahun 2015 adalah masa di mana industri sawit mengalami cukup
banyak tantangan, dimulai dengan harga Crude Palm Oil (CPO) global yang
tidak bergairah sampai pada kasus kebakaran lahan perkebunan. Menurut data
dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) per Januari 2016, harga ratarata bulan CPO global sepanjang tahun 2015 tidak mampu mencapai US$ 700
per metrik ton. Sehingga sepanjang tahun secara otomatis ekspor CPO dan
turunannya tidak dikenakan Bea Keluar karena harga rata-rata CPO di bawah
US$ 750 per metrik ton yang merupakan batas minimum pengenaan Bea Keluar.
Harga rata-rata CPO tahun 2015 hanya berada di angka US$ 614,2 per metrik
ton. Harga rata-rata ini turun sebesar 25% dibandingkan dengan harga rata-rata
tahun 2014 yaitu US$ 818.2 per metrik ton. Namun tahun 2016 sekarang,
industri kelapa sawit masih menjadi andalan. Menurut Dorab Mistry analis CPO
dari Godrej International Ltd, dengan diberlakukannya mandatori B15 tahun 2015
oleh pemerintah, maka harga minyak sawit (CPO) diprediksikan akan naik tahun
2016 di kisaran US$600-800 per ton. Pemerintah melalui Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerapkan mandatori pencampuran bahan
bakar nabati (BBN) dalam bahan bakar minyak (BBM) sebesar 15 persen (B15)
mulai 1 April 2015. Mandatori ini diatur dalam Permen ESDM Nomor 12 Tahun
2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga BBN Sebagai Bahan
Bakar Lain. Untuk mendukung program tersebut, pemerintah akan menerapkan
pungutan ekspor CPO. Dana hasil pungutan ekspor salah satunya digunakan
untuk menutup selisih harga pembelian biodiesel domestik yang lebih tinggi
dibandingkan harga produk sejenis di pasar Singapura. Ketua Gabungan
Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono mengungkapkan,
mandatori B15 akan menentukan nasib industri CPO nasional. Jika kebijakan ini
diterapkan secara konsisten, harga CPO akan meningkat.
Munculnya program mandatori B15 memacu perusahaan industri minyak
kelapa sawit memperbaiki kebijakan perusahaan guna menjaga kualitas produk
selalu terdepan. Kualitas menjadi faktor dasar keputusan konsumen dalam
memilih produk. Sehingga perusahaan harus memberikan perhatian khusus
dalam menerapkan pengendalian kualitas dalam pembuatan produk. Kualitas
produk yang baik merupakan persyaratan yang penting bagi perusahaan untuk
memperoleh daya saing produk dipasaran. Mutu produk yang baik perlu
diciptakan dan program pengawasan kualitas yang efektif dilakukan agar dapat
meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Pengendalian kualitas adalah aktivitas keteknikan dan manajemen, di
mana aktivitas tersebut mengukur ciri-ciri kualitas produk, membandingkannya
dengan spesifikasi atau persyaratan, dan mengambil tindakan penyehatan yang
sesuai apabila ada perbedaan antara penampilan yang sebenarnya dan yang
standar (Montgomery, 1990). Statistical Quality Control (SQC) merupakan salah
satu metode pengendalian kualitas. Pada tahun 1924, Walter A Shewhart dari
Bell Telephone Laboratories mengembangkan diagram pengawasan dengan
pendekatan statistik untuk mengontrol variabel-variabel penting dalam proses
produksi. Metode statistical quality control lebih banyak menggunakan
pendekatan diagram-diagram fungsi dan statistika dalam implementasinya.
Penerapan pengendalian kualitas pada penelitian ini akan dilakukan pada
PT. Hutan Hijau Mas. PT. Hutan Hijau Mas merupakan sebuah perusahaan yang
bergerah dibidangan perkebunan kelapa sawit. PT. Hutan Hijau Mas merupakan
anak cabang dari Kuala lumpur Kepong Berhad (KLK) yang berkantor pusat di
Malaysia. PT. Hutan Hijau Mas merupakan salah satu perusahan yang
menghasilkan minyak kelapa sawit (CPO / Crude Palm Oil) dan inti kelapa sawit
(Palm Kernel/PK). Awal mulai berdirinya PT. Hutan Hijau Mas yaitu berdiri pada
tanggal 29 April 2003. Berlokasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Permintaan pasar untuk minyak kelapa sawit (CPO) setiap tahunnya mengalami
peningkatan yang cukup tinggi, sehingga perusahaan selalu melakukan
perbaikan kebijakan guna menjaga kualitas mutu CPO. Minyak sawit memiliki
tiga spesifikasi mutu, yakni kadar asam lemak bebas, kadar air, dan kadar
kotoran. Kualitas CPO sangat dipengaruhi oleh ketiga spesifikasi mutu tersebut.
Semakin tinggi nilai ataupun kadar dari spesifikasi mutu tersebut, maka kualitas
CPO akan semakin menurun. Begitu juga sebaliknya, jika semakin rendah nilai
ataupun kadar dari spesifikasi mutu tersebut, maka kualitas CPO akan semakin
baik.. Keadaan saat ini menunjukkan mutu minyak kelapa sawit yang dihasilkan
ternyata selalu bervariasi dan sering tidak memenuhi spesifikasi standard mutu
yang ditetapkan perusahaan.
Hal ini dapat diketahui dari data yang didapat dari tanggal 1 sampai 31
Maret 2016, dimana untuk kadar asam lemak bebas terdapat 1 sampel data
yang berada diluar batas normal kadar asam lemak bebas yang ditetapkan
perusahaan. Sedangkan untuk kadar air sebanyak 25 sampel data berada diluar
batas normal kadar air yang ditentukan perusahaan. Untuk kadar kotoran jumlah
sampel data yang berada diluar batas normal yaitu 25 sampel.
Berdasarkan data-data diatas maka perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas minyak sawit dan cara
penanggulangannya agar mutu minyak sawit yang diproduksi dapat memenuhi
standar yang ditetapkan. Peneliti menganggap penelitian dibidang pengendalian
mutu ini sangat penting dalam mendukung perusahaan untuk memiliki daya
saing dengan produk perusahaan lain. Dalam hal ini bentuk penelitian tentang
penerapan Statistical Quality Control (SQC). Oleh karena itu penelitian ini
berjudul Analisis Pengendalian Mutu Pada Pengolahan Minyak Sawit
Dengan Metode Statistical Quality Control (SQC) Pada PT. Hutan Hijau Mas
Berau .
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dapat
dirumuskan sebagai berikut:
a. Bagaimana peta kendali untuk setiap faktor mutu yang ada?
b. Apakah faktor yang menjadi penyebab menurunnya kualitas CPO?
c. Bagaimana rekomendasikan tindakan yang sebaiknya dilakukan dalam
mencegah menurunnya kualitas CPO?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Menentukan jumlah sampel yang di luar batas kendali pada setiap faktor
mutu sesuai dengan nilai rata-rata den range dari data syarat mutu
minyak mentah kelapa sawit yaitu kadar asam lemak bebas, kadar air
dan kadar kotoran .
b. Untuk menentukan faktor yang menjadi penyebab menurunnya kualitas
CPO.
c. Untuk memberikan saran atau rekomendasi tindakan yang sebaiknya
dilakukan dalam mencegah menurunnya kualitas CPO.
1.4 Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini manfaat yang dapat diperoleh antara lain :
a. Bagi perusahaan
Dapat memberikan salah satu alternatif pemecahan masalah kepada PT.
Hutan Hijau Mas dalam mengatasi masalah pengendalian kualitas dan
Sebagai
pedoman
bagi
perusahaan
untuk
mengendalikan
dan
mengontrol kualitas produk yang dihasilkan.
b. Bagi akademik
Diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang
ingin mengetahui lebih banyak tentang penerapan Statistical Quality
Control (SQC) terhadap perusahaan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1. Manajemen Operasi dan Produksi
Manajemen
produksi
dan
operasi
merupakan
kegiatan
yang
mencakup bidang yang cukup luas, dimulai dari penganalisisan dan
penetapan keputusan saat sebelum dimulainya kegiatan produksi dan
operasi, keputusan jangka panjang, keputusan jangka pendek serta
keputusan-keputusan pada waktu menyiapkan dan melaksanakan kegiatan
produksi dan pengoperasiannya..
[Link].
Pengertian Manajemen
Menurut Sudarwan dan Yunan Danim (2010) mengemukakan
bahwa Manajemen sebagai sebuah proses yang khas, yang terdiri atas
tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan, dan
pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai
sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber
daya manusia serta sumber-sumber lain untuk mencapai tujuan tertentu.
Manajemen
adalah
proses
untuk
mencapai
tujuan-tujuan
organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu
merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), memimpin
(leading),
dan
mengendalikan
(controlling).
Dengan
demikian,
manajemen adalah suatu kegiatan yang berkesinambungan.
Untuk mencapai efisiensi serta efektivitas dalam manajemen,
maka segala tindakan dan kegiatan baru sebaiknya dilaksanakan dengan
pertimbangan dan perhitungan yang rasional. Untuk itu diperlukan
langkah-langkah kegiatan dengan perumusannya secara jelas dan tegas,
agar tujuan program yang dimaksudkan dapat berjalan dengan sebaik
mungkin.
Pengertian manajemen menurut Handoko (1997) menjelaskan
bahwa Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan
penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil makna bahwa
manajemen mengandung arti optimalisasi sumber-sumber daya atau
pengelolaan dan pengendalian. Sumber-sumber daya yang dioptimalkan,
dikelola, dan dikendalikan tersebut meliputi sumber daya manusia dan
sumber pendukung lainnya. Proses tersebut mencakup langkah-langkah
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian.
Manajemen bagi setiap organisasi atau lembaga merupakan
unsur pokok yang harus dijalankan oleh setiap pimpinan organisasi atau
lembaga tersebut. Para pimpinan tersebut bertindak sebagai manajer
sehingga harus menggunakan sumber daya organisasi, keuangan,
peralatan dan informasi serta sumber daya manusia dalam mencapai
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sumber daya manusia
merupakan sumber daya terpenting bagi setiap organisasi. Tujuan-tujuan
organisasi yang telah ditetapkan (state goals) mengandung arti bahwa
para pemimpin atau manajer organisasi apapun berupaya untuk
mencapai berbagai hasil akhir spesifik, tentu saja harus unik bagi
masing-masing organisasi.
Ulber Silalahi (2002) mengungkapkan Manajemen sebagai
proses perencanaan, pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan dan
pengontrolan
untuk
optimasi
penggunaan
sumber-sumber
dan
pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasional secara
efektif dan secara efisien.
Secara
prinsip
dapat
dilihat
bahwa
pada
kenyataannya
manajemen merupakan kombinasi ilmu dan seni dan tidak dalam
proporsi yang tetap, tetapi dalam proporsi yang bermacam-macam.
Konsep manajemen merupakan suatu konsep yang mencerminkan
adanya kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan terus menerus
dalam organisasi.
Berdasarkan dari pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan
bahwa manajemen adalah suatu pola atau sistem koordinasi yang
dilakukan
dalam
pengorganisasian,
organisasi
melalui
pelaksanaan,
dan
proses
perencanaan,
pengawasan
dengan
memberdayakan semua kekuatan yang dimiliki dalam rangka pencapaian
tujuan tertentu..
[Link].
Pengertian Operasional dan Produksi
Pengertian produksi begitu luas, sehingga terdapat perbedaan
definisi beberapa pakar sebagai berikut :
10
Menurut John Wiley dan Sons (1994), Sistem produksi adalah
wahana yang dipakai dalam mengubah masukan-masukan (input)
sumber daya untuk menciptakan barang dan jasa yang bermanfaat.
Sedangkan Elwood [Link] dan Rakesh [Link] mendefinisikan
Sistem produksi sebagai alat yang digunakan untuk mengubah
masukan sumber daya guna menciptakan barang dan jasa yang
berguna sebagai keluaran.
Dari pengertian produksi diatas, maka disimpulkan bahwa
produksi adalah alat yang digunakan untuk mengubah input sumber daya
menjadi keluaran berupa barang dan jasa.
[Link].
Pengertian Manajemen Operasional
Menurut Sofyan Assauri (2004) Manajemen Produksi dan
Operasi merupakan kegiatan untuk mengatur dan mengkoordinasikan
penggunaan sumber-sumber daya yang berupa sumber daya manusia,
sumber daya alat dan sumber daya dana serta bahan, secara efektif dan
efisien untuk menciptakan dan menambah kegunaan sesuatu barang
atau jasa.
Menurut T Hani Handoko (2000) Manajemen Produksi dan
Operasi
merupakan
usaha-usaha
pengelolaan
secara
optimal
penggunaan sumber daya (atau sering disebut faktor-faktor produksi),
tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya
10
11
dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi
berbagai produk atau jasa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Manajemen Produksi dan Operasi
merupakan usaha-usaha pengelolaan sumber daya yang ada secara
optimal di dalam proses produksi agar dapat menciptakan dan
menambah nilai atau kegunaan suatu produk atau jasa.
2.1.2. Pengendalian Kualitas
[Link].
Pengertian Kualitas
Kata kualitas memiliki definisi yang sangat beraneka ragam.
Para pakar kualitas memberikan definisi masing-masing, antara lain
(Ariani, 2004):
1. J.M. Juran kualitas adalah kesesuaian dengan tujuan atau
manfaatnya.
2. Crosby kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan yang meliputi
availability, delivery, reliability, maintainability, dan cost effectiveness.
3. Deming kualitas harus bertujuan memenuhi kebutuhan pelanggan
sekarang dan di masa mendatang.
4. Feigenbaum kualitas merupakan keseluruhan karakteristik produk
dan jasa yang meliputi marketing, engineering, manufacture, dan
maintenance, dimana produk dan jasa tersebut dalam pemakaiannya
akan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan.
5. Scherkenbach kualitas ditentukan oleh pelanggan; pelanggan
menginginkan produk dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan
11
12
harapannya pada suatu tingkat harga tertentu yang menunjukkan nilai
produk tersebut.
6. Elliot kualitas adalah sesuatu yang berbeda untuk orang yang
berbeda dan tergantung pada waktu dan tempat, atau dikatakan
sesuai dengan tujuan.
7. Goetch dan Davis kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang
berkaitan dengan produk, pelayanan, orang, proses, dan lingkungan
yang memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan.
Dapat dikatakan bahwa secara garis besar, kualitas adalah
keseluruhan ciri atau karakteristik produk atau jasa dalam tujuannya
untuk memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.
Kualitas dinilai dengan beberapa dimensi, yang disebut
dengan dimensi kualitas, meliputi (Ariani, 2004):
1. Performance, yaitu kesesuaian produk dengan fungsi utama produk
itu sendiri atau karakteristik operasi dari suatu produk.
2. Feature, yaitu ciri khas produk yang membedakan dari produk lain
yang merupakan karakteristik pelengkap dan mampu menimbulkan
kesan yang baik bagi pelanggan.
3. Reliability, yaitu kepercayaan pelanggan terhadap produk karena
kehandalannya atau karena kemungkinan kerusakan yang rendah.
4. Conformance, yaitu kesesuaian produk dengan syarat atau ukuran
tertentu atau sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi
standar yang telah ditetapkan.
5. Durability, yaitu tingkat ketahanan/awet produk atau lama umur
produk.
12
13
6. Serviceability, yaitu kemudahan produk itu bila akan diperbaiki atau
kemudahan memperoleh komponen produk tersebut.
7. Aesthetic, yaitu keindahan atau daya tarik produk tersebut.
8. Perception, yaitu fanatisme konsumen akan merek suatu produk
tertentu karena citra atau reputasi produk itu sendiri.
[Link].
Pengertian Pengendalian Kualitas
Kata kendali didefinisikan sebagai kegiatan mengarahkan,
mempengaruhi, verifikasi dan perbaikan untuk menjamin penerimaan
produk tertentu sesuai rancangan dan spesifikasi (Feigenbaum,
1983).
Pengendalian
kualitas
adalah
aktivitas
keteknikan
dan
manajemen, yang dengan aktivitas itu kita ukur ciri-ciri kualitas
produk, membandingkannya dengan spesifikasi atau persyaratan,
dan mengambil tindakan perbaikan yang sesuai apabila ada
perbedaan antara penampilan yang sebenarnya dan yang standar.
Tahapan pada kegiatan pengendalian kualitas mengandung
prinsip-prinsip sebagai berikut (Purnomo, 2003):
1. Penetapan standar, dengan mempertimbangkan pemenuhan standar
kualitas harga, kualitas penampilan, kualitas keamanan dan kualitas
kepercayaan produk.
2. Pengamatan terhadap performansi produk atau proses.
3. Membandingkan performansi yang ditampilkan dengan standar yang
berlaku.
13
14
4. Mengambil
tindakan-tindakan
bila
terdapat
penyimpangan-
penyimpangan yang cukup signifikan, dan jika perlu dibuat tindakantindakan untuk mengoreksi permasalahan dan penyebabnya melalui
faktor-faktor pemasaran, desain, mesin, produksi, perawatan yang
mempengaruhi kepuasaan pelanggan.
5. Rencana peningkatan, dengan mengembangkan usaha berkelanjutan
untuk meningkatkan standar harga, performa, keamanan dan
kepercayaan.
Berdasarkan tahapan-tahapan pada kegiatan pengendalian
kualitas tersebut, maka pengendalian kualitas bertujuan untuk
mengendalikan kualitas produk atau jasa yang dapat memuaskan
konsumen, mengurangi biaya kualitas keseluruhan, menurunkan
cacat/defect, memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk yang
dihasilkan.
2.1.3. Statistic Quality Control (SQC)
[Link].
Pengertian Statistic Quality Control (SQC)
Statistik merupakan teknik pengambilan keputusan tentang
suatu proses atau populasi berdasarkan pada suatu analisa informasi
yang terkandung di dalam suatu sampel dari populasi. Metode
statistik memegang peranan penting dalam jaminan kualitas. Metode
statistik memberikan cara-cara pokok dalam pengambilan sampel
produk, pengujian serta evaluasi dan informasi di dalam data yang
14
15
digunakan
untuk
mengendalikan
dan
meningkatkan
proses
pembuatan.
Pengendalian
kualitas
merupakan
aktivitas
teknik
dan
manajemen dimana mengukur karakteristik kualitas dari produk atau
jasa, kemudian membandingkan hasil pengukuran itu dengan
spesifikasi produk yang diinginkan serta mengambil tindakan
peningkatan yang tepat apabila ditemukan perbedaan kinerja aktual
dan standar.
Pengendalian kualitas produksi dapat dilakukan dengan
berbagai cara, misalnya dengan penggunaan bahan/material yang
bagus, penggunaan mesin-mesin/peralatan produksi yang memadai,
tenaga kerja yang terampil, dan proses produksi yang tepat. Dalam
hal ini pengendalian kualitas secara statistik (Statistical Quality
Control) dapat digunakan untuk menemukan kesalahan produksi
yang mengakibatkan produk tidak baik, sehingga dapat diambil
tindakan lebih lanjut untuk mengatasinya.
Statistic Quality Control (pengendalian kualitas statistik)
adalah teknik yang digunakan untuk mengendalikan dan mengelola
proses baik manafaktur maupun jasa melalui penggunaan metode
statistik
(Dorothea.
W.A,2003).
Pengendalian
kualitas
statistik
merupakan teknik penyelesaian masalah yang digunakan untuk
memonitor,
mengendalikan,
15
menganalisis,
mengelola,
dan
16
memperbaiki produk dan proses menggunakan metode-metode
statistik.
Dalam banyak proses produksi bagaimanapun baiknya suatu
rancangan atau pemeliharaan akan selalu ada variabilitas dasar.
Variabilitas dasar atau gangguan dasar ini merupakan pengaruh
komulatif dari banyak sebab-sebab kecil yang pada dasarnya tidak
terkendali.
Variabilitas yang dimaksud adalah variabilitas antar sampel
dan variabilitas dalam sampel. Apabila sampel diambil dari populasi
yang sama, variasi statistik akan terjadi dari sampel kesampel dan
variasi range dapat dihitung. Bentuk ini merupakan dasar dari batas
yang dihitung pada peta kendali atau control chart dan banyaknya
penerimaan. Dimana tujuan akhir dari pengendalian kualitas statistik
adalah menyingkirkan atau mengurangi variabilitas dalam proses.
Pendendalian kualitas statistik (statistic quality control) secara
garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu pengendalian proses
statistik (statistic process control) dan rencana penerimaan sampel
produk
(acceptance
sampling).
Berdasarkan
jenis
data
yang
digunakan pengendalian kualitas statistik dapat dibagi atas dua
golongan, yaitu pengendalian kualitas untuk data variabel dan
pengendalian kualitas untuk data atribut.
[Link].
Alat Pengendalian Kualitas (Quality Control)
16
17
Alat-alat pengendalian kualitas diperlukan untuk melakukan
pengendalian kualitas dimana untuk mendeteksi adanya cacat dari
suatu produk. Fungsi alat pengendalian kualitas adalah meningkatkan
kemampuan perbaikan proses sehingga akan diperoleh peningkatan
kemampuan berkompetensi, dan meningkatkan produktifitas sumber
daya. Alat-alat pengendalian kualitas ini dibuat dengan tujuan untuk
mendeteksi
penyebab
khusus
yang
mengakibatkan
terjadinya
kecacatan atau proses diluar kontrol sedini mungkin sehingga kualitas
produk dapat dipertahankan.
Seorang profesor Engineering di Universitas Tokyo yang
bernama Kaoru Ishikawa kemudian mengemukakan bahwa dari alatalat tersebut, terdapat 7 alat utama yang dapat menyelesaikan hampir
95% permasalahan yang dihadapi oleh Perusahaan. Ketujuh alat
tersebut yang terdiri dari Cause and Effect Diagram, Check Sheet,
Pareto Diagram, Histogram, Control Chart, Scatter Diagram dan
Flowchart ini kemudian dikenal dengan istilah QC Seven Tools atau
Tujuh Alat Pengendalian Kualitas. Prof. Kaoru Ishikawa.
Dari ketujuh alat pengendalian kualitas tersebut digunakan 4
tool yang nantinya digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Histogram
Histogram adalah salah satu alat bantu dalam memecahkan
masalah
yang
berupa
grafik
17
khusus
yang
menggambarkan
18
penyebaran data sebagai hasil dari satu macam pengukuran
darisuatu proses, yang dapat digunakan untuk:
a. Membuktikan atau menyelidiki apakah suatu proses benar-benar
terjadi. Dimana histogram akan berfungsi sebagai indikator
masalah dan dengan penyelidikan lebih lanjut dapat dibuktikan
sumber atau sebab masalah tersebut.
b. Menyampaikan informasi mengenai variasi dalam suatu proses.
c. Mengambil keputusan dengan memusatkan perhatian pada
upaya perbaikan.
Gambar 2.1 Histogram
Sumber : Internet
2. Diagram Pareto
Alat lain dari 7-QC tools yang sering digunakan adalah
diagram pareto. Diagram pareto ini sebenarnya adalah diagram
batang biasa, namun memiliki spesifikasi khusus yang berkaitan
dengan
penentuan
skala
prioritas
dari
penanganan
suatu
permasalahan.
a. Beberapa kegunaan dari diagram pareto ini adalah:
b. Menunjukkan persoalan utama yang ada pada
suatu
proses/rangkaian proses.
c. Menyatakan perbandingan masing-masing persoalan terhadap
keseluruhan.
d. Menunjukkan skala prioritas dari setiap permasalahan yang
sedang dibahas
e. Sebagai alat untuk melakukan evaluasi, terhadap tingkat
keberhasilan dari suatu proses perbaikan.
Gambar 2.2 Diagram Pareto
18
19
Sumber : Internet
3. Petak Kendali (Control Chart)
Peta kendali merupakan salah satu alat dalam mengendalikan
proses. Umumnya peta kendali dipergunakan untuk : (Gazpersz,
2003)
a. Menentukan apakah proses berada dalam pengendalian statistik.
b. Memantau proses terus-menerus agar proses tetap stabil secara
statistik dan hanya mengandung variasi penyebab umum.
c. Menentukan kemampuan proses (process capability).
Pada dasarnya setiap Peta Kontrol memiliki:
a. Garis tengah/pusat (central line/CL) merupakan target nilai.
b. Sepasang batas kontrol (control limits), dimana satu batas
kontrol ditempatkan di atas central line merupakan batas kontrol
atas (upper control limit/UCL), dan yang satu lagi ditempatkan di
bawah central line merupakan batas kontrol bawah (lower control
limit/LCL).
c. Tebaran nilai-nilai karakteristik kualitas yang menggambarkan
keadaan dari proses, dimana jika semua nilai yang diplot berada
di dalam batas kontrol tanpa memperlihatkan kecenderungan
tertentu,
maka
proses
dianggap
berada
dalam
keadaan
terkendali. Namun, jika semua nilai yang diplot berada diluar
kontrol atau memperlihatkan kecenderungan tertentu, maka
proses dianggap tidak terkendali sehingga perlu diambil tindakan
korektif untuk memperbaiki proses yang ada. Ilustrasi dari
sebuah peta kendali dapat dilihat pada gambar.
19
20
Gambar 2.3 Peta Kendali
Sumber : Internet
4. Diagram Sebab Akibat (Cause & Effect Diagram).
Diagram sebab akibat atau yang lebih dikenal dengan nama
diagram tulang ikan (fishbone diagram) diperkenalkan pertama
kalinya oleh Prof. Kaoru Ishikawa pada tahun 1943. Diagram fish
boneatau tulang ikan dapat digunakan untuk :
a. Memperlihatkan faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap
kualitas hasil.
b. Membuat kategori atau mengelompokkan berbagai sebab
potensial dari suatu masalah.
c. Menjelaskan suatu proses bekerja dan masalah-masalah yang
terjadi didalamnya.
Diagram tulang ikan ini pada umumnya memiliki 5 faktor
utama yang perlu diperhatikan dalam setiap penyusunannya, seperti
terlihat dalam gambar dibawah ini.
Gambar 2.4 Diagram Sebab Akibat
Sumber : Internet
2.2.
Penelitian Terdahulu
Ayu Musfirah Azis (2013) melakukan penelitian tentang Analisis
Pengendalian Mutu Terpadu Dalam Peningkatan Mutu Produk Pada PT.
20
21
Fajar Makassar Grafika. Hasil Peta kendali yang dibuat, ternyata masih
terdapat data yang berada di luar batas kendali, walaupun telah
diterapkan pengendalian mutu pada perusahaan. Hal ini menunjukkan
bahwa proses produksi belum stabil.
2.3.
Kerangka Konsep
Pengendalian kualitas dapat dilakukan secara statistik dengan
menggunakan alat bantu Qualty Control . Pengendalian kualitas secara
statistik yaitu sebuah proses yang digunakan untuk menjaga standar,
mengukur dan melakukan tindakan perbaikan terhadap produk atau jasa
yang diproduksi Pengendalian kualitas secara statistik dapat digunakan
untuk menerima atau menolak produk yang telah diproduksi dan dapat
dipergunakan untuk mengawasi proses sekaligus kualitas produk yang
sedang dikerjakan.
Kerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini untuk
menggambarkan bagaimana pengendalian kualitas yang dilakukan
secara statistik dapat bermanfaat dalam menganalisis tingkat kualitas
CPO yang dihasilkan oleh PT. Hutan Hijau Mas serta mengidentifikasi
penyebab yang dapat menurunkan kualitas CPO untuk kemudian
ditelusuri solusi penyelesaian masalah tersebut sehingga menghasilkan
usulan/ rekomendasi perbaikan kualitas produksi di masa mendatang.
21
22
Gambar 2.5 Kerangka Konsep
Penetapan Masalah
Menetapkan Permasalahan yang terjadi dalam perusahaan
(pengendalian mutu minyak mentah kelapa sawit)
Studi Literatur
Menyediakan literatur yang
mendukung perumusan masalah
1.
Pengendalian kualitas
statistik
2.
Metode analisis untuk
peningkatan kualitas
Studi Lapangan
Melakukan pengamatan langsung
pada perusahaan yang diteliti
3.
Pengantar pengendalian
kualitas statistik
Pengumpulan Data
Pengumpulan data kadar Asam Lemak Bebas
(ALB), Kadar Air
1.
2.
3.
4.
Pengolahan Data
Menghitung normalitas data
Menghitung batas kendali peta untuk
masing-masing karakteristik data
Menggambarkan peta kendali untuk
Kesimpulan dan Saran
masing-masing karakteristik
Membuat peta revisi bila ada data di
luar batas kendali.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.
Definisi Oprasioanal
Definisi
Analisa dan pemecahan masalah
1.
Menganalisa sebab data yang berada di luar batas kendali
2.
Analisa terhadap
faktor yang
mempengaruhi
kualitas
operasional
variabel
adalah
pengertian
3.
variabel (yang diungkap
Usulan perbaikan sesuai dengan analisa perbaikan kualitas
dalam definisi konsep) tersebut, secara operasional, secara praktik, secara nyata
22
23
dalam lingkup obyek penelitian/obyek yang diteliti. Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat.
a. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi, yang menyebabkan
timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Adapun variabel bebas dalam
penelitian ini adalah kadar asam lemak bebas, kadar kotoran dan kadar air
pada minyak mentah kelapa sawit.
b. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi karena adanya variabel
bebas. Adapun variabel terikat dalam penelitian ini adalah kualitas minyak
mentah kelapa sawit.
3.2.
Jenis dan Sumber Data
3.2.1. Jenis Data
Adapun jenis data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Data Kualitatif
Menurut Sugiyono (2003) data kualitatif adalah data yang berbentuk katakata atau yang berwujud pernyataan-pernyataan verbal, bukan dalam bentuk
angka. Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan
data misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus,atau observasi.
b. Data Kuantitatif
Menurut Sugiyono (2003) data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka
atau data kualitatif yang diangkakan. Data berupa angka-angka yang
terdapat dapat pada penelitian ini berupa laporan tingkat kualitas CPO
seperti kadar asam lemak, kadar kotoran dan kadar air.
23
24
3.2.2. Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder.
a. Data Primer
Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari objek yang diteliti.
Menurut Sugiyono (2010) yang menyatakan bahwa data primer adalah
sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data
primer yang diperoleh dengan cara observasi dan wawancara dengan pihak
PT. Hutan Hijau Mas.
b. Data sekunder
Pengertian dari data sekunder menurut Sugiyono (2010) adalah sumber data
yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya
lewat orang lain atau lewat dokumen. Data sekunder antara lain disajikan
dalam bentuk data-data, tabel-tabel, diagram-diagram, atau mengenai topik
penelitian. Data diperoleh dari hasil searching di internet mengenai artikelartikel, jurnal, dan adanya hasil dari penelitian sebelumnya yang dapat
digunakan oleh peneliti sebagai bahan perbandingan dengan penelitian yang
dilakukan.
3.3.
Metode Pengumpulan Data
Prosedur yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah :
a. Wawancara
Menurut Sugiyono
(2012),
wawancara
digunakan
sebagai
teknik
pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk
24
25
menemukan masalah yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin
mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah
respondennya sedikit/kecil. Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur
(peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan
diperoleh) maupun tidak terstruktur (peneliti tidak menggunakan pedoman
wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap sebagai
pengumpul datanya) dan dapat dilakukan secara langsung (tatap muka)
maupun secara tidak langsung (melalui media seperti telepon). Wawancara
dilakukan dengan HRD atau bagian operasional PT. Hutan Hijau Mas.
b. Observasi
Sutrisno Hadi, dalam Sugiyono (2012) mengemukakan bahwa, observasi
merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari
berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah
proses-proses pengamatan dan ingatan. Observasi langsung dilakukan pada
PKS di kecamatan Segah kabupaten Berau milik PT. Hutan Hijau Mas.
c. Data historis
Mencatat prosedur pemeriksaan dan hasil pengukuran kadar asam lemak
bebas dan kadar air, data gambaran umum perusahaan dan inventaris mesin
dan peralatan.
3.4.
Pengolahan Data
Pengolahan
data
dilakukan
dengan
menggunakan
metode
pengendalian kualitas statistik. Data yang digunakan adalah data variabel
yaitu data yang berdasarkan karakteristik yang diukur secara sebenarnya.
Data yang diambil adalah kadar Asam Lemak Bebas (ALB), kadar air, dan
25
26
kadar kotoran yang terkandung dalam Crude Palm Oil (CPO). Data variabel
yang diperoleh dari perusahaan diolah dengan cara :.
1. Menghitung normalitas data, dilakukan untuk menguji apakah data yang telah
dikumpulkan berdistribusi normal, berdasarkan uji chi square.
2. Menghitung X rata-rata, rentang, dan R rata-rata dengan rumus:
g
Xi
X = i=1
g
Dimana :
X = jumlah rata-rata dari nilai rata-rata subgroup
Xi = nilai rata-rata subgroup ke-i
g = jumlah subgroup
g
Ri
R= i=1
g
Dimana :
R = jumlah rata-rata dari nilai rata-rata subgroup
Ri = nilai rata-rata subgroup ke-i
g = jumlah subgroup
3. Menentukan batas kontrol untuk pembuatan peta kendali X dan R
26
27
Batas kontrol peta X : Batas kontrol atas (BKA) = X + A2 R
Batas kontrol bawah (BKB) = X - A2 R
Dimana : BKA = Batas Kontrol Atas
BKB = Batas Kontrol
A2 = Nilai Koefisien
R = Selisih Harga Xmaks dan Xmin
Batas kontrol peta R : Batas kontrol atas (BKA) = D4.R
Batas kontrol bawah (BKB) = D3.R
Dimana : BKA = Batas Kontrol Atas
BKB = Batas Kontrol Bawah
D4, D3 = Nilai Koefisien
4. Menghitung harga Xnew, Rnew dan batas kendali untuk membuat peta
kontrol revisi. Peta revisi dilakukan bila terdapat data di luar batas kontrol.
5. Menghitung kapabilitas proses untuk mengetahui kemampuan
27
28
DAFTAR PUSTAKA
Montgomery, Douglas C. 1990. Pengantar Pengendalian Kualitas Statistik.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Danim, Sudarwan dan Danim,Yunan. 2010. Administrasi Sekolah dan Manajemen
Kelas, Bandung: CV. Pustaka Setia.
Handoko, T. Hani. 1997. Dasar-dasar Manajement Produksi dan Operasi, edisi 1,
cetakan 13, Jakarta.
Silalahi, Ulber. 2002. Pemahaman Praktis Asas-asas Manajemen. Bandung: CV
Mandar Maju
28
29
Assauri, Sofyan. 2004. Manajemen Produksi dan Operasi. Jakarta: Lembaga
Fakultas Ekonomi UI.
Handoko, T. Hani. 2000. Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia, Edisi II,
Cetakan Keempat Belas. Yogyakarta: BPFE.
Ariani, D.W. 2004. Pengendalian Kualitas Statistik Pendekatan Kuantitatif dan
Managemen Kualitas. Yogyakarta: ANDI.
Gaspersz, Vincent. 2003. Manajemen Bisnis Total Total Quality Management.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Montgomery, Douglas C. 1995. Pengendalian Kualitas Statistik. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Kelima. Bandung: CV. Alfabeta.
Sugiyono. 2010, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: CV.
Alfabeta
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B. Bandung: CV.
Alfabeta.
Kho, Dickson. 2015. Pengertian Control Chart (Peta Kendali) dan Tahapan
Membuatnya. [Link] Diakses pada tanggal 15 Juni
2016.
Avatarx.
2009.
Langkah
dan
Alat
[Link]
tanggal 15 Juni 2016.
29
proses
Diakses
QCC.
pada
30
Indonesia, Sawit Redaksi. 2015. 2020, Kebutuhan Minyak Nabati Dunia Bergantung
Kepada
Cpo
Indonesia.
[Link]
kebutuhan-minyak-nabati-dunia-bergantung-kepada-cpo-indonesia.
Diakses pada tanggal 26 Juni 2016.
Wikipedia.
2016.
Daftar
perusahaan
kelapa
sawit
Indonesia.
[Link]
Diakses pada tanggal 26 Juni 2016.
Gapki.
2016.
Refleksi
Industri
Kelapa
Sawit
2015
dan
Prospek
2016.
[Link]
Diakses pada tanggal 26 Juni 2016.
Rahayu, Martha Eva. 2015. Wow, Harga Sawit Tahun 2016 Diprediksi Tembus US$
600 - 800/Ton. [Link] Diakses pada tanggal 26
Juni 2016.
30