0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan4 halaman

Indrajit

Hanya Share Semata

Diunggah oleh

Dadang Adi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan4 halaman

Indrajit

Hanya Share Semata

Diunggah oleh

Dadang Adi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI

PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

Pengantar dan Konsep Supply Chain

EKOJI999 Nomor

385, 28 September 2013

oleh Prof. Richardus Eko Indrajit - indrajit@[Link]

Artikel ini merupakan satu dari 999 bunga rampai pemikiran Prof. Richardus Eko Indrajit di bidang sistem dan
teknologi informasi. Untuk berlangganan, silahkan kirimkan permohonan anda melalui alamat email indrajit@[Link].

Konsep supply chain adalah juga konsep baru dalam

melihat persoalan logistik. Konsep lama melihat logistik


lebih sebagai persoalan intern masing-masing
perusahaan dan pemecahannya dititik beratkan pada
pemecahan secara intern di perusahaan masing-masing.
Dalam konsep baru ini, masalah logistik dilihat sebagai
masalah yang lebih luas yang
terbentang sangat
panjang sejak dari bahan dasar sampai barang jadi yang
dipakai konsumen akhir yang merupakan mata rantai
penyediaan barang.
Oleh karena itu, maka supply chain management dapat
didefinisikan sebagai berikut:
Supply chain management is a set of approaches utilized to efficiently
integrate suppliers, manufacturers, warehouses, and stores, so that
merchandise is produced and distributed at the right quantities, to the right
locations, at the right time, in order to minimize systemwide costs while
satisfying service level requirement (David Simchi-Levi)
Melihat definisi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa supply chain ialah logistics network. Dalam
hubungan ini ada beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan-perusahaan yang
mempunyai kepentingan yang sama tersebut yaitu:
suppliers
manufacturer
distribution
retail outlets
customers
Chain 1 : Suppliers
Jaringan bermula dari sini, dimana merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama dimana
mata rantai penyaluran barang akan bermulai. Bahan pertama ini dapat dalam bentuk bahan baku,
bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan, subassemblies, spare parts dan sebagainya.
Sumber pertama ini dinamakan suppliers. Dalam artinya yang murni, disini termasuk juga
suppliers suppliers atau sub-suppliers. Supplier ini dapat berjumlah banyak atau sedikit, tetapi
suppliers suppliers biasanya berjumlah banyak sekali. Inilah mata rantai yang pertama.

HALAMAN 1 DARI 4

(C) COPYRIGHT BY RICHARDUS EKO INDRAJIT, 2013

SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI

PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

Chain 1 - 2 : Suppliers Manufacturer


Rantai pertama dihubungkan dengan rantai ke dua yaitu manufacturer atau plants atau assembler
atau fabricator atau bentuk lain yang melakukan pekerjaan membuat, memfabrikasi,
mengasembling, merakit, mengkonversikan ataupun menyelesaikan barang (finishing). Untuk
keperluan tulisan ini, sebut saja bentuk yang bermacam-macam tadi sebagai manufacturer.
Hubungan mata rantai pertama ini sudah mempunyai potensi untuk melakukan penghematan.
Misalnya inventories bahan baku maupun bahan setengah jadi maupun bahan jadi yang berada di
pihak suppliers maupun di manufacturer maupun di tempat transit merupakan target untuk
penghematan ini. Tidak jarang bahwa antara 40% sampai 60% bahkan lebih penghematan dapat
diperoleh dari inventory carrying cost di mata rantai ini. Dengan menggunakan konsep supplier
partnering misalnya, penghematan ini dapat diperoleh.
Chain 1 - 2 - 3 : Suppliers Manufacturer Distribution
Barang yang sudah jadi yang sudah dihasilkan oleh manufacturer sudah mulai harus disalurkan
kepada pelanggan. Walaupun tersedia banyak cara untuk penyaluran barang ke pelanggan, yang
umum adalah melalui distributor dan ini biasanya ditempuh oleh sebagian besar supply chain.
Barang dari pabrik melalui gudangnya disalurkan kepada gudang distributor atau wholesaler atau
pedagang besar dalam jumlah besar dan pada waktunya nanti pedagang besar menyalurkan dalam
jumlah yang lebih kecil kepada retailers atau pengecer.
Chain 1 - 2 - 3 - 4 : Supplier Manufacturer Distribution Retail Outlets
Pedagang besar biasanya mempunyai fasilitas gudang sendiri atau dapat juga menyewa dari pihak
lain. Gudang ini digunakan untuk menimbun barang sebelum disalurkan lagi ke pihak pengecer.
Sekali lagi disini ada kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam bentuk jumlah inventories
dan biaya gudang dengan cara melakukan desain kembali pola-pola pengiriman barang baik dari
gudang manufacturer maupun kepada toko pengecer (retail outlets).
Walaupun ada beberapa pabrik yang langsung menjual barang hasil produksinya kepada pelanggan,
namun secara relatif jumlahnya tidak banyak dan kebanyakan menggunakan pola seperti di atas.
Chain 1 - 2 - 3 - 4 - 5 : Supplier Manufacturer Distribution Retail Outlets
Customers
Dari rak-raknya, para pengecer atau retailers ini menawarkan barangnya langsung kepada para
pelanggan atau pembeli atau pengguna barang tersebut. Dalam pengertian outlets ini termasuk toko,
warung, department store, super market, toko koperasi, mal, club stores dan sebagainya pokoknya
dimana pembeli akhir melakukan pembelian. Walaupun secara fisik dapat dikatakan bahwa disini
merupakan mata rantai yang terakhir, sebetulnya masih ada lagi yaitu mata rantai dari pembeli
(yang mendatangi retail outlet tadi) kepada real customers atau real user, karena pembeli belum
tentu pengguna sesungguhnya. Mata rantai supply betul-betul baru berhenti sampai barang yang
bersangkutan tiba di pemakai langsung (pemakai yang sebenarnya) dari barang atau jasa dimaksud.
Dari penjelasan pelaku-pelaku supply chain tersebut di atas, dapat dikembangkan suatu model
supply chain, yaitu suatu gambaran plastis mengenai hubungan mata rantai dari pelaku-pelaku
tersebut yang dapat berbentuk seperti mata rantai yang terhubung satu dengan yang lain. Model
supply chain dikembangkan dengan cukup baik pada tahun 1994 oleh [Link] seperti tertera
dan dapat dilihat dalam gambar berikut ini.

HALAMAN 2 DARI 4

(C) COPYRIGHT BY RICHARDUS EKO INDRAJIT, 2013

SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI

PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

Dalam ilustrasi ini, suppliers suppliers telah dimasukkan untuk menunjukkan hubungan yang
lengkap dari sejumlah perusahaan atau organisasi yang bersama-sama mengumpulkan/mencari,
merubah dan mendistribusikan barang dan jasa kepada pelanggan terakhir. Salah satu faktor kunci
(key factor) untuk mengoptimalisasikan supply chain ialah dengan menciptakan alur informasi yang
bergerak secara mudah dan akurat diantara jaringan atau mata rantai tersebut dan pergerakan barang
yang efektif dan efisien yang menghasilkan kepuasan maksimal pada para pelanggan.
Selama dua dasawarsa terakhir ini, ada 2 (dua) konsep yang banyak digunakan dan dikembangkan
untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pergerakan barang tersebut, yang kedua merupakan
kelanjutan dari yang kesatu yaitu :
Mengurangi jumlah supplier
Konsep ini dikembangkan sejak akhir tahun 1980-an yang bertujuan mengurangi ketidakseragaman, biaya-biaya negosiasi dan pelacakan (tracking)
Konsep ini adalah permulaan perubahan kecenderungan dari konsep multiple supplier ke
single supplier
Dengan demikian maka cara lama yang dahulu dianggap ampuh seperti mencari sourcing
dengan cara tender terbuka makin tidak populer, karena tender terbuka tidak menjamin
terbatasnya jumlah supplier
Paling-paling yang masih cocok dengan perkembangan ini ialah tender diantara supplier
yang terbatas jumlahnya
Konsep ini berkembang menuju tahap selanjutnya, yaitu tahap yang kedua, seperti akan
dijelaskan sebagai berikut ini

HALAMAN 3 DARI 4

(C) COPYRIGHT BY RICHARDUS EKO INDRAJIT, 2013

SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI

PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

Mengembangkan supplier partnership atau strategic alliance


Konsep ini dikembangkan sejak pertengahan tahun 1990-an dan diharapkan masih akan
populer pada permulaan abad 21 ini
Konsep ini menganggap bahwa hanya dengan supplier partnership, key suppliers untuk
barang tertentu merupakan strategic sources yang dapat dihandalkan dan dapat menjamin
lancarnya pergerakan barang dalam supply chain
Konsep ini selalu dibarengi dengan konsep perbaikan terus menerus dalam biaya dan mutu
barang (continuous improvement in cost and quality)
Model supply chain tersebut dapat dilukiskan juga seperti denah pada gambar terkait yang dapat
disebut sebagai the Interenterprise Supply Chain Model yang merupakan suatu mata rantai supply,
yang dinamakan juga model empat langkah atau the four step model yang terdiri dari unsurunsur :
Suppliers (dan sub-suppliers atau suppliers suppliers)
Manufacturers (plant, yang terdiri dari beberapa unit)
Distributors (terdiri dari distribution center, wholesaler dan sebagainya)
Retailers (yang sangat banyak jumlahnya)

--- akhir dokumen ---

HALAMAN 4 DARI 4

(C) COPYRIGHT BY RICHARDUS EKO INDRAJIT, 2013

Anda mungkin juga menyukai