Simple Random Sampling
Menurut Buchari Lapau, dimana masing-masing unit penelitian dari populasi penelitian yang
besar disusun dalam kerangka sampel. Dengan menggunakan tabel random atau teknik lotre
dipilih semua unit populasi yang sesuai dengan perhitungan ukuran sampel. Penggunaan
prosedur ini mengalami kesulitan, bila dilakukan poengambilan sampel dalam populasi yang
besar seperti di tingkat kabupaten, provinsi, dan lain lain. Karena itu biasanya digunakan cara
pemilihan sampel yang lebih mudah yaitu pemilihan sampel secara sistematis.
Buchari Lapau. Metode penelitian kesehatan: Metode penulisan skripsi, tesis
dan disertasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia (YOI) ; 2013
Misalnya, untuk sampel suatu penelitian kita hanya memerlukan 50 orang dari jumlah populasi
penelitian sebanya 100 orang. Pertama, kita buat dulu daftar nama populasi penelitian dan diberi
nomor urut 00 sampai dengan 99, kemudian siapkan tabel random dan tentukan mulai dari mana
pemilihan angka yang akan dilakukan-apakah mulai dari atas kebawah atau dari kanan ke kiridan pilih angka dua digit dari belakang.
Budiman Chandra. Biostatistik untuk kedokteran dan kesehatan. Jakarta:
EGC; 2009. h. 42, 44, 115
Penjelasan lainnya menurut Sudigdo Sastroasmoro dan Sofyan Ismael mengenai Simple random
sampling yaitu kita hitung terlebih dahulu jumlah subyek dalam populasi (terjangkau) yang akan
dipilih subyeknya sebagai sampel penelitian. Setiap subyek diberi nomor dan dipilih sebagian
dari mereka dengan bantuan tabel angka random. Contoh Misalnya akan kita pilih 20 dari
sejumlah 200 subyek pada populasi terjangkau dengan cara simple random sampling. Ke 200
subyek kita beri nomor urut, dari 1 sampai dengan 200. Lihatlah salah satu halaman pada tabel
angka random. Karena ada 200 subyek, maka kita ambil angka yang terdiri atas 3 digit; jadi
dipilih deretan angka yang masing-masing terdiri atas 3 digit. Pada contoh, misalnya dimulai
pada kolom pertama, baris kedua, dapat kita baca nomor 074, selanjutnya ke kanan berturut-turut
835, 145, 311, 649, 487, 815, 949, 584, 836, 738, 250, 141, 546, 096, 283, 018, dan seterusnya.
Oleh karena angka tertinggi yang akan diambil adalah 200, maka setiap angka yang lebih dari
200 diabaikan, jadi hanya diambil angka 200 (dalam contoh kita adalah angka 145, 141, 096,
018,). Bila ada angka yang sama maka angka yang muncul kemudian diabaikan. Demikian
seterusnya sampai ditemukan 20 nomor. Agar objektif, maka pemilihan angka awal dipilih secara
acak, misalnya dengan cara menjatuhkan pensil sambil memejamkan mata; angka yang terdekat
dengan jatuhnya ujung pensil dipilih sebagai angka awal. Pembacaan tidak harus dari kiri ke
kanan, namun juga dapat ke kiri, atas atau bawah, dan sekali telah ditetapkan arah pembacaan
harus tetap taat-asas.
Sudigdo Sastroasmoro, Sofyan Ismael. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Edisi 4. Jakarta:
Sagung Seto; 2011. h. 95-7, 98-9, 115, 464
Penjelasan lainnya menurut Rozaini Nasution mengenai Simple random sampling, dimana proses
pengambilan sampel dilakukan dengan memberi kesempatan yang sama pada setiap anggota
populasi untuk menjadi anggota sampel. Jadi disini proses memilih sejumlah sampel n dari
populasi N yang dilakukan secara random. Ada 2 cara yang dikenal yaitu: ROZAINI
NASUTION
a. Bila jumlah populasi sedikit, bisa dilakukan dengan cara mengundi "Cointoss".
b. Tetapi bila populasinya besar, perlu digunakan label "Random Numbers" yang
prosedurnya adalah sebagai berikut:
- Misalnya populasi berjumlah 300 (N=300).
- tentukan nomor setiap unit populasi (dari 1 s/d 300 = 3 digit/kolom).
- tentukan besar sampel yang akan diambil. (Misalnya 75 atau 25 %)
- tentukan skema penggunaan label random numbers. (misalnya dimulai dari 3 kolom
pertama dan baris pertama) dengan menggunakan tabel random numbers, tentukan unit
mana yang terpilih, sebesar sampel yang dibutuhkan, yaitu dengan mengurutkan angkaangka dalam 3 kolom pertama, dari atas ke bawah, setiap nomor 300, merupakan
nomor sampel yang diambil (100, 175, 243, 101), bila ada nomor 300, tidak diambil
sebagai sampel (N = 300). Jika pada lembar pertama jumlah sampel belum mencukupi,
lanjutkan kelembaran berikutnya, dan seterusnya. Jika ada nomor yang serupa dijumpai,
di ambil hanya satu, karena setiap orang hanya mempunyai 1 nomor identifikasi.
Keuntungan
: - Prosedur estimasi mudah dan sederhana
Kerugian
: - Membutuhkan daftar seluruh anggota populasi.
- Sampel mungkin tersebar pada daerah yang luas, sehingga biaya transportasi
besar.
Penjelasan lainnya mengenai simple random sampling dimana satuan sampling dipilih secara
acak. Peluang untuk terpilih harus diketahui besarnya, dan untuk tiap satuan sampling besarnya
harus sama. Misalnya ada sebuah penelitian mengenai Model Pembiayaan Pendidikan Dasar di
Jawa Barat, sampelnya adalah seluruh SD dan SMP yang ada di Jawa Barat. Terhadap seluruh
SD dan SMP tersebut dilakukan pemilihan secara random tanpa melakukan pengelompokkan
terlebih dahulu, dengan demikian peluang masing-masing SD maupun SMP untuk terpilih
sebagai sampel sama. Setiawan Nugraha
SRS merupakan teknik pengambilan sampel probabilistik yang paling sederhana dimana satuan
pengamatan mempunyai peluang yang sama untuk terpilih ke dalam sampel. Teknik ini
digunakan apabila (1) variabel yang akan diteliti keadaannya relatif homogen dan tersebar
merata di seluruh populasi. Keuntungannya SRS adalah rumus-rumus perhitungannya relatif
lebih sederhana, tidak memerlukan pembobotan, dan semua teknik-teknik statistika standar bisa
diterapkan secara langsung. Kerugiannya adalah (1) kemungkinan proses randomisasi (pemilihan
secara random) tidak menjamin 100 persen terutama jika satuan pengamatan tidak menyebar
merata dan (2) jika ukuran populasi dan ukuran sampel relatif sangat besar maka pemilihan SRS
secara manual sulit dilakukan, misalnya pada saat menyusun kerangkan sampling (sampling
frame). Langkah kerja sekengkapnya teknik SRS ini adalah sebagai berikut: Lembaga.
1.
2.
3.
4.
Tentukan populasi sasaran secara tegas
Tentukan ukuran populasi secara tepat, contohnya 100 satuan pengamatan
Tentukan bentuk satuan sampling dan susun kerangka samplingnya secara lengkap.
Tentukan ukuran sampel melalui perhitungan tertentu. Ukuran ini bisa ditentukan
berdasarkan pertimbangan statisis (statistical aspect) atau oleh pertimbangan non statistis
(nonstatistical aspect). Aspek statistik ditentukan oleh bentuk parameter (frekuensi, ratarata, atau proporsi), teknik sampling yang digunakan, tujuan penelitian (menaksir atau
menguji parameter), sifat penelitian (nonkomparatif atau komparataif), kedalaman
analisis (overall atau elaborasi), variabilitas variabel yang diteliti (homogen atau
heterogen), serta batas kesalahan dan derajat kepercayaan. Aspek nonstatistis biasanya
mempertimbangkan biaya, waktu, tenaga, dan kepraktisan atau ketersediaan satuan
pengamatan di lapangan.
5. Proses pemilihan 10 dari 100 satuan pengamatan secara acak. Proses yang melibatkan
kerangka sampling yang kecil bisa dilakukan dengan cara undian (seperti pengocokan
pemenang arisan). Tetapi yang paling banyak digunakan, terutama untuk kerangka
sampling dan ukuran sampel yang relative lebih besar, digunakan tabel angka acak.
Menurut Kerlinger (2006:188), simple random sampling adalah metode penarikan dari sebuah
populasi atau semesta dengan cara tertentu sehingga setiap anggota populasi atau semesta tadi
memiliki peluang yang sama untuk terpilih atau terambil. Menurut Sugiyono (2001:57)
dinyatakan simple
(sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara
acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Margono (2004:126) menyatakan
bahwa simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung
dilakukan pada unit sampling. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap
homogen. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu populasi
tidak terlalu besar.
Misal, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program
S1 (unit
sampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari populasi tersebut, digunakan
teknik ini, baik dengan cara undian, ordinal, maupun tabel bilangan random. Teknik ini dapat
digambarkan di bawah ini.
Fgegshgs Gambar 1. Teknik Simpel Random Sampling (Sugiyono, 2001: 58)
Berikut beberapa hasil penelitian yang teknik pengambilan sampel menggunakan cara simple
random sampling
Pada penelitian yang dilakukan oleh Nizarul Alim pada pengaruh kompetensi dan independensi
terhadap kualitas audit dengan etika auditor sebagai variabel moderasi, dimana populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh auditor yang ada di wilayah Jawa Timur. Sesuai dengan daftar
dalam Directory Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik 2006, KAP yang ada di Jawa Timur
berjumlah 53 dimana dalam penelitian ini diasumsikan bahwa tiap-tiap KAP memiliki 5 auditor.
Responden dalam penelitian ini adalah para akuntan publik yang terdapat dalam Kantor Akuntan
Publik dimana ia menjalankan proses audit, yaitu yang melakukan pengujian terhadap laporan
keuangan. Alasan pemilihan tersebut adalah akuntan publik melakukan pemeriksaan terhadap
laporan keuangan dan memberikan pendapat atas dasar hasil pemeriksaan tersebut, sehingga
mereka terlibat dalam penentuan kualitas audit. Pengambilan sampel dalam penelitian ini
menggunakan cara simple random sampling dimana dilakukan dengan mengambil secara
langsung dari populasinya secara random. Penentuan sampel sebanyak 5 orang untuk tiap-tiap
KAP berdasarkan hasil pengamatan jumlah rata-rata auditor yang dimiliki KAP di Kota Malang,
sehingga pada penelitian ini diasumsikan bahwa tiap-tiap KAP di Jawa Timur memiliki 5 auditor.
Nizarul alim
Simple random sampling adalah suatu tipe sampling probabilitas, di mana peneliti dalam
memilih sampel dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua anggota populasi
untuk ditetapkan sebagai anggota sampel. Dengan teknik semacam itu maka terpilihnya individu
menjadi anggota sampel benar-benar atas dasar faktor kesempatan (chance), dalam arti memiliki
kesempatan yang sama, bukan karena adanya pertimbangan subjektif dari peneliti. Teknik ini
merupakan teknik yang paling objektif, dibandingkan dengan teknik-teknik sampling yang lain.
Teknik sampling secara random dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a.
Menggunakan cara undian.
b.
Menggunakan tabel bilangan random.
a.
Cara Undian
Cara undian, dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip undian. Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut:
1)
Peneliti mendaftar semua anggota populasi;
2)
Setelah selesai didaftar, kemudian masing-masing anggota populasi diberi nomor,
masing-masing dalam satu kertas kecil-kecil;
3)
Kertas-kertas kecil yang masing-masing telah diberi nomor tersebut kemudian digulung
atau dilinting;
4)
Gulungan atau lintingan kertas yang telah berisi nomor-nomor tersebut, kemudian
dimasukkan ke dalam suatu tempat (misalnya kotak atau kaleng) yang dapat digunakan untuk
mengaduk sehingga tempatnya tersusun secara acak (sembarang);
5)
Setelah proses pengadukan dianggap sudah merata, kemudian peneliti atau orang lain
yang diawasi peneliti, mengambil lintingan kertas satu per satu sampai diperoleh sejumlah
sampel yang diperlukan.
Cara undian ini sangat sederhana dan mudah digunakan, cocok digunakan untuk jumlah sampel
yang kecil, namun untuk digunakan terhadap jumlah populasi yang besar, akan menjadi tidak
efisien.
b.
Tabel Bilangan Random
Cara ini juga sangat mudah diimplementasikan dalam penelitian survei. Para peneliti survei
dapat menggunakan tabel bilangan random yang sudah tersedia di sejumlah buku metodologi
penelitian, yang secara khusus membahas tentang teknik sampling. Dibandingkan dengan
random cara undian, cara ini lebih mudah dan praktis, dan dapat digunakan pada jumlah sampel
yang cukup besar. Tabel berikut adalah salah satu contoh penggunaan tabel bilangan random:
10480 15011 01536
22368 46573 25595
12430 48360 22527
42167 93093 06243
37570 39975 81837
77921 06975 11008
99562 72905 56420
96301 91977 05463
89579 14342 63661
85475 36857 53342
28918 69578 88231
63553 40961 48235
09429 93969 52636
Dari contoh di atas, peneliti telah menentukan 10 anggota populasi untuk ditetapkan sebagai
sampel penelitian, yaitu nomor-nomr: 30; 67; 70; 21; 62; 01; 79; 75; 18; dan 53 (dalam tabel
ditunjukkan oleh bilangan dua digit yang tercetak tebal). Cara yang ditempuh ialah mengambil
dua digit secara konsisten. Dari contoh tersebut, penentuan nomor 30 dilakukan secara random,
kemudian untuk mengambil bilangan-bilangan berikutnya dengan cara mengambil angka dua
digit di bawahnya, dan seterusnya. Apabila ke bawah belum mencukupi, peneliti dapat
mengambil dua digit pada kolom kedua; Apabila masih belum cukup, peneliti dapat pindah ke
kolom ketiga, dan seterusnya. Untuk peneliti yang ingin menggunakan tabel bilangan random,
para ahli menyarankan, bahwa bila jumlah sampel kurang dari 100 unit, maka dalam
pengambilan bilangan random, dianjurkan menggunakan dua digit. Apabila jumlah sampel antara
100 sampai dengan 1000 unit, dianjurkan menggunakan tiga digit, dan seterusnya.
Sampel acak sederhana adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit
penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih
sebagai sampel. Peluang yang dimiliki oleh setiap unit penelitian untuk dipilh sebagai sampel
sebesar n/N, yakni ukuran sampel yang dikehendaki dibagi dengan ukuran populasi.
Dalam menggunakan Teknik Sampling Random Sederhana ini ada beberapa syarat yang harus
dipenuhi, antara lain (Singarimbun dan Effendy, 1989):
1. Harus tersedia kerangka sampling atau memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya
(dalam kerangka sampling tidak boleh ada unsur sampel yang dihitung dua kali atau lebih).
2. Sifat populasinya harus homogen, jika tidak, kemungkinan akan terjadi bias.
3. Ukuran populasinya tidak tak terbatas, artinya harus pasti berapa ukuran populasinya.
4. Keadaan populasinya tidak terlalu tersebar secara geografis.
Teknis pelaksanaannya ada dua cara, yakni:
1. Dengan mengundi unsur-unsur penelitian atau satuan-satuan elementer dalam populasi.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyusun semua unit penelitian atau unit elementer
ke dalam kerangka sampling, mulai dari nomor terkecil hingga nomor ke-n (tergantung berapa
besar ukuran populasinya). Selanjutnya masing-masing nomor unsur populasi itu ditulsikan
dalam secarik kertas, digulung, dan dimasukkan ke dalam sebuah kotak atau toples. Lalu lakukan
pengocokan secara merata, dan ambil sejumlah gulungan kertas tersebut sebanyak ukuran sampel
yang dikehendaki. Nomor-nomr yang terambil itu menjadi unit elementer yang terpilih sebagai
sampel. Pengundian juga dapat dilakukan seperti halnya ibu-ibu anggota kelompok arian
menentukan pemenang arisannya. Gulungan kertas yang di dalamnya sudah berisi nomor unit
elementer, dimasukkan ke dalam toples yang diberi tutup dengan lubang sebesar kira-kira dapat
dilalui oleh setiap gulungan kertas yang ada di dalamnya. Lalu kocok berulang-ulang hingga
keluar sejumlah gulungan kertas sesuai dengan ukuran sampel yang direncanakan. Penggunaan
cara ini (cara pengundian) seringkali tidak praktis, terutama apabila ukuran populasinya relatif
besar, sebab: pertama, hampir tidak mungkin kita dapat melakukan pengocokan secara saksama
dan merata seluruh gulungan kertas undian; dan kedua, ada kecenderungan kita untuk tergoda
memilih angka-angka tertentu. Dalam keadaan yang demikian, gunakan teknik kedua, yakni
dengan mengundi Tabel Angka Random.
2. Dengan menggunakan Tabel Angka Random. Cara ini dipilih karena selain meringankan
pekerjaan, juga lebih memberikan jaminan yang lebih besar bahwa setiap unit elementer
mempunyai peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Caranya adalah sebagai berikut:
misalnya, dari satuan elementer dlam populasi (N) yang besarnya 500 orang, akan dipilih 50
satuan elementer sebagai sampel (n). Bilangan 500 ini terdiri dari tiga dijit (digit), oleh karena itu
dalam kerangka sampling satuan elementernya diberi nomor mulai dari 001 sampai 500.
Selanjutnya lihat Tabel Angka Random atau Tabel Bilangan Random yang selalu ada pada
lampiran buku-buku metodologi penelitian atau buku-buku metode statistika. Karena angkaangka yang yang terdapat dalam Tabel Bilangan Random itu disusun secara kebetulan (randomly
assorted), maka pemakai tabel tersebut dapat mulai melihatnya dari baris dan kolom mana saja.
Di samping itu, ia dapat juga mengikutinya ke arah mana saja. Penentuan angka pertama dapat
dilakukan, misalnya, dengan cara menjatuhkan pensil dengan mata pensil mengarah ke bawah
pada lembaran kertas yang di dalamnya terdapat tabel bilangan random yang kita gunakan.
Angka random yang terkena oleh mata pensil tadi adalah unsur sampel pertama yang kita pilih.
Selanjutnya, kita dapat menentukan unsur sampel lainnya dengan cara berjalan ke atas mengikuti
kolom yang sama, atau ke samping mengikuti baris, ke bawah mengikuti kolom, atau cara apa
saja yang dianggap mudah.