PERENCANAAN CAMPURAN BETON (MIX DESIGN)
Pembangunan suatu konstruksi beton bertulang memerlukan rencana
kebutuhan bahan dan tenaga pelaksana sebagai langkah persiapan, agar efisien
bahan, tenaga, waktu dan biaya. Peraturan Standar nasional Indonesia tentang
perencanaan campuran beton (mix design) mengacu ke metode DOE
(Department of Environment).
Asumsi dasar yang dipakai dalm metode DOE ini adalah:
1. Workabilitas (mudahnya pengerjaan adukan beton), tergantung dari
jumlah air bebas dan tidak tergantung dari kadar semen dan factor air
semen.
2. Kekuatan atau mutu beton tergantung dari factor air semen dan tidak
tergantung dari banyaknya air dan kadar semen.
Langkah-langkah Perencanaan Campuran Beton (mix design):
Langkah 1:
Tentukan kuat tekan yang direncanakan fc sesuai kebutuhan desain struktur dan
penggunaannya.
Misal: K175 K225 untuk beton normal
K500 K750 untuk beton mutu tinggi
Langkah 2:
Tentukan besar standar deviasi yang digunakan.
Standar deviasi ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaan
pencampuran betonnya, makin baik mutu pelaksanaan, maka standar deviasi
makin kecil.
1. Jika pelaksana tidak mempunyai data pengalaman atau mempunyai
pengalaman kurang dari 15 buah benda uji, maka nilai deviasi standar
diambil dari tingkat pengendalian mutu pekerjaan dibawah ini.
Tabel 1. Nilai Standar Deviasi berdasarkan tingkat pengendalian mutu
Tingkat pengendalian mutu
pekerjaan
Memuaskan
Sangat baik
Baik
Cukup
Jelek
Tanpa kendali
SD (MPa)
2,8
3,5
4,2
5,6
7,0
8,4
2. Jika pelaksana mempunyai data pengalaman pembuatan beton serupa
minimum 30 buah silinder yang diuji kuat tekannya pada umur 28 hari,
maka jumlah data dikoreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu
faktor pengali.
Tabel 2. Faktor pengali standar deviasi (SD)
Jumlah data
30
25
20
Faktor pengali
1,0
1,03
1,08
15
1,16
<15
lihat *
* bila data lapangan tidak tersedia sebelumnya, atau data lapangan
kurang dari 15 buah, maka kuat tekan rata-rata fcr harus diambil tidak
kurang dari:
fcr = fc + 12 MPa
Langkah 3:
Tentukan kuat tekan rata-rata yang direncanakan fcr
fcr = fc + M
dimana
M = nilai tambah = 1,64 x SD, bila terdapat data lapangan dari pengujian
sebelumnya
M = 12 MPa, bila tidak terdapat data lapangan dari pengujian sebelumnya.
Langkah 4:
Tentukan jenis semen yang digunakan, sesuai dengan SII 0013-81
Tentukan jenis agregat yang digunakan
Langkah 5:
Tentukan nilai faktor air semen (FAS) yang diperlukan untuk mencapai kuat tekan
rata-rata yang ditargetkan didasarkan:
1. Hubungan kuat tekan dan faktor air semen yang diperoleh dari penelitian
lapangan sesuai dengan bahan dan kondisi pekerjaan yang diusulkan. Bila
tidak tersedia data hasil penelitian sebagai pedoman dapat dipergunakan
Tabel 3 dan Grafik 1 atau 2;
2. untuk lingkungan khusus, faktor air semen maksimum harus memenuhi
SNI 03-1915-1992 tentang spesifikasi beton tahan sulfat dan SNI 03-29141994 tentang spesifikasi beton bertulang kedap
Tabel 3 . Perkiraan kekuatan tekan (MPa) beton dengan Faktor air semen, dan
agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia
Kekuatan tekan
Jenis Agregat
Jenis semen
Pada umur (hari)
Bentuk
Kasar
3
7
28
91
Bentuk Uji
Alami
17
23
33
40
Silinder
Semen Portland tipe I,
Batu pecah
19
27
37
45
atau semen tahan
Alami
20
28
40
48
sulfat tipe II, dan V
Kubus
Batu pecah
23
32
45
54
Semen Portland tipe III
Alami
Batu pecah
Alami
Batu pecah
21
25
25
30
28
33
31
40
38
44
46
53
44
48
53
60
Silinder
Kubus
Langkah 6:
Tetapkan nilai FAS maksimum
Langkah 7:
Tentukan kadar air bebas per meter kubik beton. Untuk pembacaan tabel, perlu
ditentukan terlebih dahulu nilai slump dan ukuran besar butir agregat
maksimum: 10mm, 20 mm, atau 40mm.
Tabel 5
Apabila jenis agregat halus dan agregat kasar berbeda, maka kadar air bebas
ditentukan dengan rumus:
Kadar air bebas = 2/3 Ah + 1/3 Ak
Dimana
Ah = jumlah air yeng dibutuhkan berdasarkan jenis agregat halus
Ah = jumlah air yeng dibutuhkan berdasarkan jenis agregat kasar
Langkah 8:
Tentukan kebutuhan semen dengan cara membagi jumlah air yang dibutuhkan
dengan faktor air semen maksimum.
Kemudian tetapkan kadar semen minimum sesuai dengan kegunaan beton dan
lingkungannya (tabel 4).
Langkah 9:
Tentukan golongan agregat halus (pasir).
Tentukan besar prosentase agregat halus (pasir) terhadap agregat keseluruhan
dengan melihat grafik 3 5.
Langkah 10:
Tentukan berat jenis campuran pasir dan kerikil dengan rumus
P
K
Bj campuran
xBj pasir
xBj kerikil
100
100
Dimana:
Bj campuran : berat jenis campuran
P
: persentase pasir terhadap agregat campuran
K
: persentase kerikil terhadap agregat campuran
Langkah 11:
Tentukan berat isi beton dengan menggunakan data berat jenis campuran dan
kebutuhan air tiap meter kubik, kemudian dimasukkan dalam grafik 6.
Langkah 12:
Tentukan kebutuhan agregat gabungan, dengan rumus:
Berat pasir dan kerikil = berat isi beton kadar air bebas kadar semen
Tentukan kebutuhan agregat halus (pasir):
Berat pasir = % agregat halus x berat agregat gabungan
Tentukan kebutuhan agregat kasar (kerikil):
Berat kerikil = berat agregat gabungan berat pasir
LATIHAN:
Data perencanaan :
Kuat tekan karakteristik 17.5 MPa untuk umur 28 hari, bagian yang tidak
memenuhi syarat (cacat) 5 %. Dengan benda uji berbentuk silinder. Beton
berada di lingkungan normal.
Agregat kasar yang dipakai : batu pecah (alami)
Agregat kasar yang dipakai : pasir zona II
Ukuran butir agregat maksimum
: 20 mm.
Tinggi slump yang disyaratkan
: 60 - 180 mm.
Mutu semen yang dipakai
: jenis I
Dari hasil penelitian diperoleh data agregat sebagai berikut:
Pasir
Kerikil
Berat Jenis SSD
2.558
2.623
Kadar Air
2.354
1.700
Penyerapan
3.093
2.756
Berat Isi
1554.692
1458.155
Hitunglah bahan-bahan yang diperlukan untuk 1 m 3 campuran beton.
N
O
FORMULIR PERENCANAAN CAMPURAN BETON METODE DOE
TABEL / GRAFIK
URAIAN
NILAI
PERHITUNGAN
Kuat Tekan Karakteristik
ditetapkan
17.5 MPa pada 28 Hari
2
3
Standart Deviasi
Nilai tambah ( margin )
Kekuatan rata - rata yang hendak di
capai
Jenis semen
Jenis agregat
diketahui
7 MPa
1.64 * 7 = 11.48 MPa
1+3
ditetapkan
ditetapkan
25 + 11.48 = 36.48 MPa
Semen PPC jenis I
Kasar : Batu Pecah mesin
Halus : alami
0.58
0.6
60 - 180 mm
20 mm
4
5
6
7
8
9
10
Faktor air bebas
Faktor air semen maksimum
Slump
Ukuran agregate maksimum
Tabel 3,grafik1
ditetapkan
ditetapkan
ditetapkan
11
12
13
14
15
16
17
Kadar air bebas
Jumlah semen
Jumlah semen maksimum
Jumlah semen minimum
F.a.s yang di sesuaikan
Susunan butir agregate halus
Persen agregat halus
18
19
20
21
22
Berat jenis relatif agregat
Berat isi beton
Kadar agregate gabungan
Kadar agregate halus
Kadar agregate kasar
Tabel 5
11 : 7
ditetapkan
ditetapkan
ditetapkan
diketahui
grafik 4
grafik 6
19 - ( 12 - 11 )
17 x 20
20 - 21
225 Kg/m3
388 Kg/m3
di abaikan
275 Kg/m3
di abaikan
Zone II
43 %
0.43*2.7 + 0.57*2.80 =
2.75
2325 Kg/m3
1712 Kg/m3
736 Kg/m3
976 Kg/m3
Jumlah bahan untuk 1 m3 beton sebelum terkoreksi :
1. Semen
: 388 Kg
2. Aggregate Halus
: 736 Kg
3. Aggregate Kasar
: 976 Kg
4. Air
: 225 liter
Koreksi akibat kadar air dan penyerapan :
1. Koreksi aggregate kasar
Kadar air penyerapan = 1.700 2.756= - 1.056 ( kekurangan air )
2. Koreksi aggregate halus
Kadar air penyerapan = 2.354 3.093= - 0.739 ( kekurangan air )
Komposisi aggregate terkoreksi
1. Komposisi agegat kasar
= ( 100 + - 1.056) % x
976 Kg
2. Komposisi Pasir Lumajang
= ( 100 + - 0.739) % x
736 Kg
= 965.69 Kg
= 730.56 Kg
Jumlah Air terkoreksi
= 225 + ( 736 730.56 ) + ( 976 965.69 )
= 240.75 Liter / m3
Kontrol
Air = BJ Beton - Semen - Aggregate kasar - Aggregat Halus
240.75 = 2325 388 965.69 730.56
240.75 = 240.75 .. oke
Komposisi Material Akhir ( Penggabungan ) untuk 1 m3 Beton
Semen Portland
388 Kg/m3
Kerikil
965.69
Kg/m3
Pasir
730.56
Kg/m3
Air
240.75
liter
Perbandingan berat bahan campuran beton per m3
PC
:
Aggregate halus
:
Aggregate kasar
388
965.69
388
1
730.56
:
:
388
1.88
:
:
:
388
2.49