0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan5 halaman

Pendahuluan Terapi ECT

Laporan pendahuluan ini membahas tentang terapi Electro Convulsive Therapy (ECT) yang digunakan untuk mengobati gangguan jiwa tertentu. ECT dilakukan dengan mengalirkan listrik ke pelipis pasien untuk menimbulkan kejang. Terapi ini efektif untuk mengobati depresi berat, skizofrenia katatonik, dan gangguan jiwa lainnya yang resisten terhadap obat. Laporan ini juga menjelaskan prosedur, indikasi, kontraindikasi

Diunggah oleh

Abdu Rahman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan5 halaman

Pendahuluan Terapi ECT

Laporan pendahuluan ini membahas tentang terapi Electro Convulsive Therapy (ECT) yang digunakan untuk mengobati gangguan jiwa tertentu. ECT dilakukan dengan mengalirkan listrik ke pelipis pasien untuk menimbulkan kejang. Terapi ini efektif untuk mengobati depresi berat, skizofrenia katatonik, dan gangguan jiwa lainnya yang resisten terhadap obat. Laporan ini juga menjelaskan prosedur, indikasi, kontraindikasi

Diunggah oleh

Abdu Rahman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ELECTRO CONVULSIVE THERAPY

OLEH:
DWI JAYANTI ROHMATIN
0710720031

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

ELECTRO CONVULSIVE THERAPY (ECT)


A. Definisi ECT
ECT adalah bentuk terapi yang menimbulkan kejang (Grandmal) dengan
mengalirkan arus listrik kekuatan rendah (2-3 joule) melalui elektroda yang
ditempelkan beberapa detik pada pelipis kiri/kanan (lobus frontalis) (Kusumawati
& Hartono, 2010)
ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan
menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. Tindakan ini adalah
bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang
ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmal (Wirnata,
2011).
B. Macam-Macam ECT
1. ECT konvensional
- Timbul kejang (kejang dapat dilihat dengan nyata) sehingga tampak
tidak manusiawi
- Menimbulkan perasaan takut pada pasien
- Penderita merasa disiksa
2. ECT dengan premedikasi dan anastesia
- Tidak timbul kejang
- Penderita tidak takut bila di ECT ulang
- Lebih manusiawi
- Mengurangi risiko akibat kejang misalnya fraktur
- Memerlukan banyak tenaga medis
- Lebih mahal
(Kaplan & sadock,1997; Kusumawati & Hartono, 2010)
C. Indikasi dan Frekuensi Pemberian ECT
Indikasi dan Frekuensi Pemberian ECT adalh sebagai berikut:
1. Depresi berat (6-10 kali)
2. Skizofrenia katatonik (20-30 kali)
3. Skizofrenia episodik akut (30 kali)
4. Penderita gangguan jiwa yang resisten terhadap obat psikofarma (12 kali)
Masing-masing diberikan 2-3 hari sekali (seminggu 2 kali).
D. Kontraindikasi Pemberian ECT
Pasien gangguan jiwa yang disertai dengan:
1. Peningkatan tekanan intrakranial (karena tumor otak, infeksi SSP).
2. Gangguan kardiovaskuler: infark miokardium, angina, hipertensi, aritmia dan
aneurisma
3. Kehamilan, karena dapat mengakibatkan keguguran
4. Gangguan sistem musculoskeletal karena dapat mengakibatkan cidera
E. Efek Samping Pemberian ECT

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Luksasio dan dislokasi sendi


Fraktur vertebra dan ekstremitas
Robekan otot rahang
Apnoe
Sakit kepala, mual dan nyeri otot
Amnesia
Bingung, agresif, distruktif
Demensia

F. Reaksi Penderita
Reaksi penderita dengan ECT adalah terjadi konvulsi mirip grandmal epilepsy:
Fase tonik 10 detik fase klonik 30-40 detik fase relaksasi dengan pernapasan
dalam dan panjang (Jika tidak terjadi nafas, segera lakukan resusitasi. Kepala penderita
dimiringkan agar tidak kesedak air liur atau muntahan) penderita tidak sadar kurang
lebih 5 menit kesadaran pulih 5-10 menit terjadi amnesia ada yang langsung
tidur, ada yang bingung.
G. Persiapan Tindakan ECT
1. Persiapan Alat
Konvulsator set
Tempat tidur dengan alas yang rata dan agak keras
Alcohol untuk membersihkan tempat yang akan ditempati electrode agar tidak
berlemak karena lemak merupakan isolator yang menghambat aliran listrik
Spatel lidah atau kain yang dilipat untuk mengganjal rahang
Kasa yang dibasahi dengan air garam
Oksigen dan obat-obatan darurat
Alat-alat untuk mengukur tanda-tanda vital (tensimeter, stetoskop, termometer)
2. Persiapan Penderita
Pemeriksaan fisik untuk mengetahui adanya kontraindikasi
Kalau perlu dilakukan pemeriksaan penunjang (ECG, EEG, Lab, Rontgen)
Penderita harus puasa agar tidak muntah dan keselak (bahaya aspirasi

pneumoni)
Obat-obatan yang menaikkan ambang kejang (obat anti kejang) harus

dihentikan pada malam hari sebelum ect dilakukan.


Kandung kemih dan rectum harus dikosongkan agar tidak mengotori tempat
jika terjadi inkontinesia.

H. Peran Perawat dalam Pelaksanaan ECT


1. Pengkajian
- Kelengkapan data pasien yang ada kaitannya dengan terapi ini: EKG, foto
-

thoraks, pemeriksaan laboratorium yang diperlukan)


Surat kesepakatan pelaksanaan tindakan ECT (Informed Consent)
Pemeriksaan TTV (tekanan darah, nadi, pernapasan, temperatur)
Pemeriksaan tanda-tanda kecemasan sehubungan pemberian terapi ECT
Jika klien ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum ECT

Pastikan pemberian premedikasi dengan injeksi SA (sulfa atropin) 0,6-1,2 mg

setengah jam sebelum ECT


2. Perencanaan
- Penjelasan tentang pemberian tindakan ECT kepad apenderita dan keluarga,
serta tentang pentingnya tindakan tersebut sebatas tingkat pengetahuan pasien
-

dan keluarga.
Penderita diharuskan puasa/mengosongkan perut 4 jam sebelum tindakan

dilakukan untuk menghindari asfiksia karena muntah.


3. Penatalaksanaan
- Setelah alat sudah disiapkan, pindahkan klien ke tempat dengan permukaan rata
dan cukup keras. Posisikan hiperektensi punggung tanpa bantal. Pakaian
-

dikendorkan, seluruh badan di tutup dengan selimut, kecuali bagian kepala.


Berikan natrium metoheksital (40-100 mg IV). Anestetik barbiturat ini dipakai

untuk menghasilkan koma ringan.


Berikan pelemas otot suksinikolin atau Anectine (30-80 mg IV) untuk

menghindari kemungkinan kejang umum.


Kepala bagian temporal (pelipis) dibersihkan dengan alkohol untuk tempat

elektrode menempel.
Kedua pelipis tempat elektroda menempel dilapisi dengan kasa yang dibasahi

caira Nacl.
Penderita diminta untuk membuka mulut dan masang spatel/karet yang

dibungkus kain dimasukkan dan klien diminta menggigit


Rahang bawah (dagu), ditahan supaya tidak membuka lebar saat kejang dengan

dilapisi kain
Persendian (bahu, siku, pinggang, lutu) di tahan selama kejang dengan

mengikuti gerak kejang


Pasang elektroda di pelipis kain kasa basah kemudia tekan tombol sampai timer

berhenti dan dilepas


Menahan gerakan kejang sampai selesai kejang dengan mengikuti gerakan

kejang (menahan tidak boleh dengan kuat).


Bila berhenti nafas berikan bantuan nafas dengan rangsangan menekan

diafragma
- Bila banyak lendir, dibersihkan dengan slim siger
- Kepala dimiringkan
- Observasi sampai klien sadar
- Dokumentasikan hasil di kartu ECT dan catatan keperawatan
4. Evaluasi
- Observasi dan awasi tanda vital sampai kondisi klien stabil
- Jaga keamanan
- Bila klien sudah sadar bantu mengembalikan orientasi klien sesuai kebutuhan,
biasanya timbul kebingungan pasca kejang 15-30 menit.

DAFTAR PUSTAKA
Kaplan & Sadock.1997. Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis.
Jakarta : Binarupa Aksara
Kusumawati & Hartono. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika
Wirnata. 2011. Electro Convulsive Therapy (ECT), (Online). [Link] Diakses pada 29
April 2012.

Anda mungkin juga menyukai