TUGAS UTS
MANAJEMEN PROYEK PROFESI
NAMA
: Anton kobofe Duwit
KELAS
:(A)
NBI
: 1441401914
SHOP DRAWING.
Secara sederhana, pengertian shop drawing adalah gambar teknis
lapangan yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan pekerjaan. Shop
drawing ini dibuat oleh kontraktor, yang diajukan approval terlebih dahulu
ke MK/Konsultan Pengawas/Owner, sebeleum mulai dikerjakan. Dari
penjelasan ini, mestinya sudah jelas pengertian shop drawing, waktu
pembuatannya dan dibuat oleh siapa.
Namun ternyata saya masih menemui adanya kekeliruan dalam
memahami pengertian shop drawing dan posisi shop drawing. Pada
sebuah blog tentang jasa desain arsitek, dijelaskan bahwa pengertian
shop drawing adalah:
Shop drawing
dipakai untuk
bersifat detail
melaksanakan
atau gambar kerja adalah gambar teknis lapangan yang
acuan pelaksanaan suatu pekerjaan. Gambar-gambar ini
dan menjadi pedoman pelaksana atau pemborong dalam
pekerjaan suatu proyek.
Pengertian di atas sudah benar. Tapi ketika saya memperhatikan contoh
shop drawing yang diberikan, ternyata adalah sebuah gambar desain dari
arsitek atau perencana. Gambarnya tidak detail, baik tentang notasi
gambar, ukuran, dimensi maupun jenis material.
Sementara itu, pada blog yang lain, saya mendapat penjelasan shop
drawing yang keliru. Kekeliruan pemahaman itu terjadi ketika blog
tersebut mencoba menjelaskan tentang perbedaan antara shop drawing
dengan as built drawing, sebagai berikut:
Gambar shop drawing dibuat oleh perencana/desainer bangunan yang
dibangun, baik itu perorangan ataupun perusahaan/biro gambar. Gambargambar yang tersaji dalam 1 bendel/jilid-an, kadangkala disertai dengan
soft copy (gambar dengan program tertentu). Sedangkan gambar As Built
Drawing dibuat oleh kontraktor/pelaksana pembuat bangunan, juga bisa
perorangan ataupun perusahaan kontraktor bangunan.
Kesalahan dalam penjelasan di atas adalah:
1. Shop
drawing
dikerjakan
perencana/desainer.
oleh
kontraktor,
bukan
oleh
2. Shop drawing dibuat setiap ada tahap pekerjaan yang akan
dilaksanakan, jadi tidak langsung dalam satu bundel utuh.
3. Jadi shop drawing dan as built drawing sama-sama dikerjakan oleh
kontraktor/pelaksana. Bedanya, sehop drawing dikerjakan sebelum
pelaksanaan pekerjaan, karena menjadi panduan pelaksanaan
pekerjaan itu sendiri. Sedangkan as built drawing dibuat setelah
selesai pekerjaan, dan menggambarkan apa yang terlaksana di
lapangan, termasuk penyesuaian atau perubahan yang mungkin
terjadi di lapangan.
4. Sedangkan gambar yang dibuat oleh arsitek/perencana lebih tepat
kita sebut sebagai gambar desain. Status gambar desain dalam
sebuah lelang pelaksanaan pekerjaan sering kita sebut sebagai
gambar kontrak atau gambar for construction, yang artinya adalah
gambar yang menjadi dasar dalam pelaksanaan pekerjaan oleh
kontraktor dan menjadi acuan bagi MK/Konsultan Pengawas/Owner
untuk memberikan approval shop drawing yang diajukan oleh
kontraktor, sebelum pelaksanaan pekerjaan.
1. A shop drawing is a drawing or set of drawings produced by the
contractor, supplier, manufacturer, subcontractor, or fabricator.
2. Shop drawings are not produced by architects and engineers under
their contract with the owner. The shop drawing is the
manufacturers or the contractors drawn version of information
shown in the construction documents.
3. The shop drawing normally shows more detail than the construction
documents. It is drawn to explain the fabrication and/or installation
of the items to the manufacturers production crew or contractors
installation crews. The style of the shop drawing is usually very
different from that of the architects drawing.
Nah, dari pengertian di atas, saya ingin menekankan pada kalimat,
1. The shop drawing normally shows more detail than the construction
documents
2. The style of the shop drawing is usually very different from that of
the architects drawing.
Untuk lebih memperjelas pengertian shop drawing, saya akan
membandingkan antara gambar kontrak (for construction) dengan shop
drawing. Yang pertama, saya berikan contoh gambar kontrak (for
construction) yang dibuat oleh arsitek/perencana:
Selanjutnya akan kita bandingkan dengan gambar shop drawing yang
dibuat oleh kontraktor:
Contoh gambar shop drawing pasangan
bata toilet
Contoh gambar shop drawing denah keramik toilet
Perbandingan gambar di atas bukan untuk membandingkan bagus
tidaknya gambar tersebut, melainkan untuk memperjelaskan pengertian
dan kedudukan gambar shop drawing. Untuk itu, saya akan merangkum
penjelasan tentang gabar di atas sebagai berikut:
1. Pada contoh gambar kontrak, gambar denah toilet tersebut adalah
bagian dari keseluruhan gambar desain oleh perencana. Gambar
tersebut hanya untuk memperdetail desain ruang toilet. Sedangkan
hal-hal yang menyangkut material yang digunakan, berapa ukuran
dan dimensinya, mengacu pada RKS yang merupakan satu
kesatuan dokumen kontrak. Dan gambar tersebut sudah cukup
sebagai acuan bagi pembuatan shop drawing oleh kontraktor.
2. Sedangkan pada contoh gambar shop drawing, gambarnya sudah
sangat detail, karena tujuan dari shop drawing adalah merupakan
acuan dalam pelaksanaan pekerjaan. Semua informasi yang
diperlukan, baik notasi, ukuran dan dimensi ruang, ukuran dan
dimensi material, dan jenis/spesifikasi material sudah tercantum
dalam shop drawing tersebut. Itulah sebabnya, jika kita membaca
gambar shop drawing, kadang terlihat begitu rumit, terutama bagi
yang belum terbiasa melihat shop drawing. Tapi hal ini tak dapat
dihindari, karena shop drawing adalah gambar yang bersifat teknis.
hop Drawing adalah gambar atau kumpulan gambar yang dihasilkan oleh
kontraktor , pemasok , produsen , subkontraktor . Shop Drawing biasanya
diperlukan untuk prefabrikasi komponen. Contoh ini meliputi: lift, baja
struktural, gulungan, pra-cor, jendela, peralatan, lemari, unit penanganan
udara, dan millwork . Juga penting adalah gambar instalasi dan toko
koordinasi MEP perdagangan seperti lembaran membutuhkan saluran
kerja logam, pipa, pipa, perlindungan kebakaran, dan listrik. Shop Drawing
biasanya Menampilkan Lebih detail dari dokumen konstruksi. model shop
drawing biasanya sangat berbeda dari gambar arsitek. Dikutip Dari
[Link]
Dalam Membuat shop drawing haruslah memperhatikan dan Memahami
kemampuan pengguna Agar nantinya gambar shop drawing tidak akan
menyulitkan pengguna dalam memahami dan dapat mengindari
terjadinya kesalahan pelaksanaan serta kesalahan persepsi. Gambar shop
drawing merupakan sebuah media komunikasi yang efektif antara design
dan pelaksanaan. Oleh karna itu gambar shop drawing harus dibuat
dengan tingkat detail yang lebih baik.
Kriteria Gambar Shop Drawing
Kriteria baik sebuah gambar secara umum adalah mudah dipahami dan
dapat dijadikan sebagai pedoman di lapangan dalam pelaksanaan
pembangunan, kriteria tersebut diantaranya adalah
1. Bentuk peulisan Kop pada sisi bagian kanan berisi judul gambar,
perusahaan, nama proyek, nomor gambar dan halaman.
2. Bentuk Gambar Dan Ukuran Konstruksi Harus dapat menampilkan
bentuk dan dari setiap bagian konstruksi dengan jelas dan
mendetail.
3. Gambar Harus mengunakan skala gambar
4. Pembuatan Gambar Harus Sesuai dengan keadaan / kondisi
lapangan agar pelaksanaannya tepat pada saat dilapangan.
5. Membuat Atau Menempatkan keterangan gambar seperti elevasi,
jenis material dan penjelasan lainya.
6. Gambar Akan tetap Jelas terlihat saat digandakan/Copy
Kendala Gambar Shop Darwing.
Kendala Yang terjadi Dalam Gambar ShopDarwing. Dalam pelaksanaannya
adalah sebagai berikut :
1. Terdapat Gambar yang tidak detail. Gambar kontrak sebagai bagian
dari produk perencana paling tidak memilik item-item pekerjaannya
yang tergambar secara jelas. Jika kekurangan detail itu hanya
tentang dimensi atau identifikasi jenis material, maka itu dapat
langsung ditambahkan pada proses shop drawing. Tapi jika ada item
pekerjaan yang sebenarnya harus ada secara sistem tapi tidak
tergambar, maka perlu klarifikasi dengan pihak MK atau perencana,
2. Adanya Perbedaan gambar kontrak, BQ dan RKS. Sering terjadi
perbedaan antara gambar kontrak, BQ dan RKS, baik menyangkut
item pekerjaan maupun volume pekerjaannya. Untuk itu shop
drawing dapat berfungsi untuk memperjelas, mana yang akan
dipakai. Hal ini tentunya melalui forum rapat koordinasi dengan
pihak MK/owner, sehingga dicapai kesepahaman atas adanya
perbedaan tersebut, yang tentunya mengacu pada tercapainya
sistem yang optimal. Karena dari shop drawing inilah akan dihitung
volume pekerjaan yang dilaksanakan.
3. Dapat memberikan acuan yang jelas dan detail. Kesepahaman
terhadap pekerjaan juga diperlukan dalam pelaksanaan di lapangan.
Dan ini harus dimulai dari kejelasan shop drawing itu sendiri, selain
melalui forum sosialisasi shop drawing kepada tim lapangan (site
manager, pelaksana/supervisi, subkontraktor, mandor dan pekerja).
4. Dapat mendukung Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan (schedule) Shop
drawing mutlak diperlukan, selain untuk kejelasan dan
kesepahaman terhadap pelaksanaan pekerjaan, juga untuk
menghindari kesalahan dalam pekerjaan yang berakibat pada
terjadinya re-work, yang tentunya berdampak pada pembengkakan
waktu dan biaya.
Shop drawing menjadi media komunikasi yang vital antara design dan
pelaksanaan. Shop drawing haruslah dibuat dengan tingkat detil
sedemikian pelaksana dapat dengan mudah memahami apa yang harus
dikerjakan. Sayangnya kejadian di lapangan tidaklah demikian. Banyak
sekali shop drawing yang ada berupa gambar kontrak yang diperbesar
dan disesuaikan ukuran dan skalanya pada bagian yang dilaksanakan.
Drafter ibarat jadi mesin foto copy yang bisa melakukan copy perbesar.
Sampai kapan ini akan terus terjadi?
Shop drawing adalah gambar yang dibuat oleh Kontraktor yang disetujui
oleh Konsultan Pengawas yang menjadi dasar dalam pelaksanaan
pekerjaan. Shop drawing memegang peranan yang penting dalam
terlaksananya pekerjaan yang sesuai dengan perencanaan. Gambar ini
menjadi media komunikasi antara perencanaan dan pelaksanaan yang
vital sehingga harus diperhatikan dalam pembuatannya.
Sebagai media komunikasi, shop drawing haruslah memperhatikan obyek
penggunanya. Di lapangan, gambar ini digunakan oleh Pelaksana atau
Supervisi, Mandor, dan juga Pekerja. Oleh karena itu gambar ini tak pelak
harus memiliki tingkat kejelasan yang tinggi sedemikian pengguna tinggal
pakai dan tidak perlu lagi membuat persepsi atau asumsi-asumsi yang
bisa berakibat kesalahan pelaksanaan.
Membuat shop drawing haruslah memperhatikan obyek pengguna yang
terdiri atas Pelaksana / Supervisi, Mandor, dan Pekerja. Harus diketahui
tingkkat kemampuan dan pemahaman mereka dalam membaca dan
mempersepsikan gambar shop drawing. Pelaksana mungkin cukup
mampu untuk membaca gambar tersebut, tapi bagaimana dengan
Mandor dan Para Pekerja? Tentu masih di bawah kemampuan Pelaksana /
Supervisi. Memahami kemampuan pengguna akan membuat gambar shop
drawing tidak menyulitkan mereka dalam memahami dan tidak
membuang waktu atas diskusi gambar serta mengindari terjadinya
kesalahan pelaksanaan akibat kesalahan persepsi. Dengan memahami
kemampuan pengguna, shop drawing akan menjadi media komunikasi
yang efektif.
hopdrawing adalah gambar dan data-data yang disiapkan oleh
kontraktor yang menjelaskan detail karakteristik bangunan atau
menunjukkan bagaimana spesifikasi dari elemen struktural yang
akan dibangun. Gambar ini merupakan implementasi dan bukannya
mengganti gambar kontrak. Di dalam dokumen kontrak terdapat
keterangan yang cukup jelas untuk shop drawing. (Nunally, 1998).
Shop drawing bukan hanya merupakan kumpulan dari garis, simbol
dan angka yang terletak pada sebuah kertas melainkan shop
drawing merupakan gambar yang mempunyai makna yang dapat
dipelajari. Shop drawing digunakan untuk menunjukkan ukuran dan
bentuk dari sebuah bangunan. Dengan membaca shop drawing,
pelaksanan di lapangan dapat mengerti dengan cepat apa yang
telah direncanakan oleh konsultan (Lincoln, 1973).
Shop drawing merupakan gambar yang diberikan kontraktor kepada
pihak konsultan struktur / arsitektur. Shop drawing biasanya berisi
tentang detail dari pembuatan komponen proyek konstruksi. Shop
drawing juga digunakan pada proses instalasi untuk mempermudah
proses pemasangan, untuk melihat bentuk bangunan, serta untuk
memperkirakan perhitungan material dan peralatan yang
dibutuhkan di lapangan. (wayne, 2006).
Shop drawing menghubungkan antara gambar dan konstruksi.
Apabila terjadi keterlambatan dalam mengolah shop drawing atau
kesalahan dalam pembuatan gambar pada shop drawing akan
menjadi sumber masalah. Berbagai keterlambatan dalam
pembuatan shop drawing maka akan berdampak pada jadwal dari
kontraktor yang nantinya akan menyebabkan adanya pengeluaran
tambahan (Wayne, 2006).
Dalam pengalaman di proyek, seringkali shop drawing dibuat dengan cara
mendapatkan soft copy gambar kontrak lalu gambar tersebut diperbesar
pada daerah yang akan dikerjakan dengan sedikit sentuhan penjelasan
yang belum memadai. Hal ini tentu akan membuat pengguna akan
kesulitan dan butuh waktu yang extra dalam memahami gambar yang
akan dikerjakan. Akibat yang gampang ditebak adalah keterlambatan
pelaksanaan.
Membuat shop drawing butuh keahlian tersendiri. Banyak permasalahan
yang terjadi selama proses pembuatan shop drawing di proyek, yaitu:
Gambar dari Konsultan Perencana tidak detail
Jumlah drafter yang sedikit tidak sebanding dengan kebutuhan
gambar di lapangan
Tingkat penguasaan materi oleh drafter
Tidak adanya SOP mengenai proses pembuatan, approval, dan
distribusi shop drawing
Lamanya waktu persetujuan oleh Konsultan Pengawas (MK) dan
penolakan gambar
Macam-macam gambar yang harus dibuat shop drawing dan detai
gambarnya.
Urutan pembuatan shop drawing
Ternyata memang cukup banyak kendala pembuatanya. Lantas
bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut? Berikut langkahlangkah efektif yang dapat dilakukan:
1. Membuat schedule shop drawing
Schedule shop drawing dibuat dengan mengacu pada master schedule
bulanan yang telah dibuat. Misalnya pada pekerjaan pasangan bata, pada
master schedule target pelaksanaan pasangan bata dimulai pada minggu
ketiga. Maka shop drawing pasangan bata dischedulkan 2 minggu
sebelumnya harus sudah masuk ke koreksi Konsultan Perencana.
2. Mempelajari gambar perencana, RKS, BQ , dan dokumen
kontrak yang lain.
Dokumen tersebut harus dipelajari secara komprehensif dan dijelaskan
kepada drafter. Sangat penting bagi engineer untuk menguasai gambar
perencana, RKS, dan BQ agar tidak terjadi kesalahan pelaksanaan proyek.
Setelah mempelajarinya, maka harus dikoordinasikan kepada drafter
untuk dibuat shop drawingnya. Gambar shop drawing untuk suatu
pekerjaan juga harus memperhatikan gambar terkait yang lain. Misalnya
pekerjaan struktur harus memperhatikan design arsitektur dan M/E pada
lokasi yang akan dibuat shop drawingnya. Jika diperlukan, dapat dibuat
shop drawing komposit antara ketiga gambar tersebut.
3. Mengadakan brainstorming secara rutin antara Engineer dan
Supervisi
Brainstorming diperlukan untuk meningkatkan komunikasi antara bagian
teknik dengan pelaksana di lapangan. Yang menjadi sasaran dari
brainstorming ini adalah:
a.
Menampung ide inovasi dan efisiensi yang dapat dilaksanakan
dengan pertimbangan waktu, biaya, dan kemudahan pelaksanaan.
b.
Kesepakatan terkait spesifikasi dan gambar yang belum jelas,
perbedaan BQ dengan gambar, efisiensi volume dan inovasi yang akan
dilakukan untuk dibuat shop drawingnya.
c.
Menentukan gambar apa saja yang diperlukan dan prioritasnya
disesuaikan dengan tingkat produktifitas gambar. Untuk gambar yang
sangat mendesak, dibuatkan sketsa yang informatif.
4. Melakukan koreksi shop drawing
Shop drawing yang dibuat oleh drafter harus dikoreksi oleh engineer
untuk menjamin ketepatan metode yang telah disepakati, kesesuaian
dengan kontrak, sehingga efektif dalam penggunaanya sebagai gambar
kerja. Gambar shop drawing yang belum jelas harus dikomunikasikan
dengan pengawas dan konsultan perencana untuk menjamin apa yang
telah digambar sesuai dengan maksud perencanaan.
5. Melakukan koordinasi dengan Konsultan Pengawas (MK)
Koordinasi diperlukan agar mengetahui status gambar yang diajukan telah
disetujui atau belum. Selain itu, perlu dikoordinasikan juga cara
penggambaran yang disetujui oleh Konsultan Pengawas sehingga
pembuatanya lebih efektif. Perlu juga untuk menyepakati SOP pembuatan,
approval, dan distribusi gambar shop drawing dalam rangka menjamin
pelaksanaan yang lebih baik
Dari penjabaran langkah tersebut, ternyata untuk membuat shop drawing
yang efektif diperlukan koordinasi dan komunikasi yang solid antara tim
proyek. Penyusunan shop drawing jangan dianggap sepele sebagai
pemenuhan kewajiban kontraktor terhadap kontraknya saja. Bisa
dibayangkan bagaimana jika pelaksanaan pekerjaan tanpa menggunakan
panduan yang baik, dampaknya akan muncul pengerjaan yang salah
sehingga harus diulang dan pencapaian mutu pekerjaan yang jelek.