0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
396 tayangan10 halaman

Ancaman Keamanan pada Sistem Akuntansi

Dokumen tersebut merangkum tentang pengendalian dan sistem informasi akuntansi. Ancaman terhadap sistem informasi akuntansi semakin meningkat karena berbagai faktor seperti ketersediaan informasi, akses pihak luar, dan ketidakpahaman terhadap implikasi sistem. Dokumen ini juga membahas berbagai kerangka pengendalian seperti COBIT, COSO, dan manajemen risiko perusahaan untuk menjamin pengendalian yang efektif.

Diunggah oleh

ElFatmalissya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
396 tayangan10 halaman

Ancaman Keamanan pada Sistem Akuntansi

Dokumen tersebut merangkum tentang pengendalian dan sistem informasi akuntansi. Ancaman terhadap sistem informasi akuntansi semakin meningkat karena berbagai faktor seperti ketersediaan informasi, akses pihak luar, dan ketidakpahaman terhadap implikasi sistem. Dokumen ini juga membahas berbagai kerangka pengendalian seperti COBIT, COSO, dan manajemen risiko perusahaan untuk menjamin pengendalian yang efektif.

Diunggah oleh

ElFatmalissya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama

NIM
Kelas
Mata Kuliah

:
:
:
:

Ellen Fatmalissya
F1314037
A (S1 Transfer Akuntansi)
Sistem Informasi Akuntansi

TUGAS RINGKASAN MATERI KULIAH KE-3


(BAB 7 - Pengendalian dan Sistem Informasi Akuntansi)

Control and Accounting Information System


A. PENDAHULUAN
Ancaman Terhadap Sistem Informasi Akuntansi Meningkat
Hampir setiap tahun, lebih dari 60% organisasi mengalami kegagalan utama
dalam mengendalikan keamanan dan integritas sistem komputernya, antara
lain karena :
1. Ketersediaan informasi bagi sejumlah pekerja tidak terpenuhi;
2. Informasi pada jaringan komputer distribusi sulit dikendalikan;
3. Pelanggan serta pemasok memiliki akses ke sistem dan data satu sama
lain.
Organisasi belum melindungi data dengan baik karena :
1. Beberapa perusahaan memandang kehilangan atas informasi penting
sebagai ancaman yang tidak mungkin terjadi;
2. Implikasi pengendalian atas pemindahan dari sistem komputer
tersentralisasi ke sistem berbasis internet tidak sepenuhnya dipahami;
3. Banyak perusahaan tidak menyadari bahwa informasi adalah sumber
daya strategis dan melindungi informasi harus menjadi sebuah ketentuan
strategis;
4. Produktivitas dan penekanan biaya memotivasi manajemen untuk
mengabaikan ukuran-ukuran pengendalian yang memakan waktu.
Kejadian (event) atau ancaman (threat) adalah segala potensi kejadian
yang merugikan, atau kejadian tidak diinginkan yang dapat merusak
Sistem Informasi Akuntansi (SIA) atau organisasi.
Paparan (exposure) atau dampak (impact) merupakan kerugian uang yang
potensial dari sebuah ancaman tertentu yang akan menjadi kenyataan.
Kemungkinan (likelihood) ancaman yaitu kemungkinan bahwa ancaman
(paparan/dampak) akan terjadi.
Ancaman-ancaman atas Sistem Informasi Akuntansi (SIA), meliputi :
1. Kehancuran karena bencana alam dan politik, seperti : kebakaran atau
panas berlebih, banjir, gempa bumi, badai angin, peperangan.
2. Kesalahan pada software dan tidak berfungsinya peralatan, seperti :
kegagalan hardware, kesalahan atau kerusakan pada software, kegagalan
1

sistem operasi, gangguan dan fluktuasi listrik, kesalahan pengiriman data


yg tidak terdeteksi.
3. Tindakan yang tidak disengaja, seperti : kecelakaan yang disebabkan oleh
kesalahan manusia, kesalahan atau penghapusan karena ketidaktahuan,
hilangnya atau salah letaknya data, kesalahan pada logika sistem, sistem
yang tidak memenuhi kebutuhan perusahaan atau tidak mampu
menangani tugas yang diberikan.
4. Tindakan disengaja yang biasanya disebut sebagai kejahatan komputer,
seperti : sabotase, penipuan melalui komputer, penyalahgunaa aset,
pencurian.

B. IKHTISAR KONSEP PENGENDALIAN


Pengendalian internal (internal control) merupakan proses dan prosedur yang
dijalankan untuk menyediakan jaminan memadai bahwa tujuan pengendalian
telah dicapai.
Tujuan-tujuan pengendalian tersebut meliputi :
1. Mengamankan aset;
2. Mengelola catatan dengan detail yang baik untuk melaporkan aset
perusahaan secara akurat dan wajar;
3. Memberikan informasi yang akurat dan reliabel;
4. Menyiapkan laporan keuangan yang sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan;
5. Mendorong dan memperbaiki efisiensi operasional;
6. Mendorong ketaaan terhadap kebijakan manajerial yang telah ditentukan;
7. Mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku.
Pengendalian internal melaksanakan tiga fungsi penting yaitu :
1. Pengendalian untuk pencegahan (preventive control) mencegah
timbulnya suatu masalah sebelum mereka muncul.
2. Pengendalian untuk pemeriksaan (detective control) dibutuhkan untuk
mengungkap masalah begitu masalah muncul.
3. Pengendalian korektif (corrective control) memecahkan masalah yang
ditemukan oleh pengendalian untuk pemeriksaan.
Pengendalian internal sering kali dipisahkan dalam dua kategori berikut :
1. Pengendalian umum (general control) : memastikan lingkungan
pengendalian sebuah organisasi stabil dan dikelola dengan baik.
2. Pengendalian aplikasi (application control) : mencegah, mendeteksi, dan
mengoreksi kesalahan transaksi serta penipuan di dalam program
aplikasi.
Empat kaitan pengendalian untuk membantu manajemen menyelesaikan
konflik di antara kreativitas dan pengendalian (Robert Simons, professor
bisnis Harvard) :
2

1. Sebuah sistem kepercayaan (belief system), menjelaskan cara sebuah


perusahaan menciptakan nilai, membantu pegawai memahami visi misi
manajemen, mengkomunikasi-kan nilai-nilai dasar perusahaan, serta
menginspirasi kerja pegawai dengan nilai tersebut.
2. Sebuah sistem batas (boundary system), membantu pegawai bertindak
secara etis dengan membangun batas-batas dalam perilaku kepegawaian.
3. Sebuah sistem pengendalian diagnostik (diagnostic control system),
mengukur, mengawasi, dan membandingkan perkembangan perusahaan
aktual berdasar anggaran & tujuan kinerja.
4. Sebuah sistem pengendalian interaktif (interactive control system),
membantu manajer untuk memfokuskan perhatian bawahan pada isu-isu
strategis utama dan lebih terlibat di dalam keputusan mereka.
Pengendalian manajemen (management control) meliputi tiga fitur berikut:
1. Merupakan bagian kesatuan dari tanggung jawab manajemen;
2. dirancang untuk mengurangi kesalahan, penyimpangan, dan mencapai
tujuan organisasi;
3. berorientasi pada personil dan berusaha membantu karyawan mencapai
tujuan perusahaan.

1.
2.
3.
4.

Prosedur pengendalian khusus yang digunakan dalam sistem pengendalian


internal dan sistem pengendalian manajemen dapat diklasifikasikan dalam
klasifikasi pengendalian internal berikut:
Pengendalian pencegahan, detektif, dan korektif;
pengendalian umum dan aplikasi;
pengendalian administratif dan akuntansi;
pengendalian input, proses/pengolahan, dan output.
Praktik Korupsi Asing dan Sarbanes-Oxley Acts
Pada tahun 1977 Kongres menggabungkan aturan dari sebuah pernyataan
American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) ke dalam Foreign
Corrupt Practices Act (FCPA). Tujuan utama dari undang-undang ini adalah
mencegah penyuapan oleh perusahaan kepada para pejabat luar negeri
untuk mendapatkan bisnis. Selain itu juga mengharuskan perusahaan untuk
memelihara sistem pengendalian internal akuntansi yang baik.
Pada tahun 2002, Kongres mengeluarkan undang-undang Sarbanes-Oxley
Act (SOX) yang dimaksudkan untuk mencegah kejahatan laporan keuangan,
membuat laporan keuangan lebih transparan, memberikan perlindungan
pada investor, memperkuat pengendalian internal pada perusahaan publik,
dan menghukum eksekutif yang melakukan kejahatan.
Setelah SOX dikeluarkan, Securities and Exchange Commission (SEC)
memerintahkan bahwa manajemen harus :
1. mendasarkan evaluasinya pada sebuah kerangka pengendalian yang
berlaku;
2. mengungkap semua kelemahan pengendalian internal material;

3. menyimpulkan bahwa sebuah perusahaan tidak memiliki pengendalian


internal pelaporan keuangan yang efektif jika terdapat kelemahan
material.

C. KERANGKA PENGENDALIAN
1. Kerangka COBIT
Information
Systems
Audit
and
Control
Foundation
(ISACF)
mengembangkan Control Objectives for Information and related
Technology (COBIT), yaitu sebuah kerangka praktik pengendalian untuk
teknologi informasi dan keamanan sistem informasi yang umumnya dapat
diaplikasikan. COBIT mengonsolidasi standar dari 36 sumber berbeda ke
dalam satu kerangka. Kerangka tersebut memungkinkan :
Manajemen membuat tolok ukur praktik keamanan dan pengendalian
lingkungan TI;
Para pengguna layanan TI dijamin dengan pengendalian dan keamanan
yang memadai;
Para auditor memperkuat opini pengendalian internal dan untuk
memberikan saran dalam masalah keamanan dan pengendalian TI.
2. Kerangka Pengendalian Internal COSO
Committee of Sponsoring Organizations (COSO) adalah kelompok sektor
swasta yang terdiri dari : American Accounting Association (AAA);
American Institute of Certified Public Accountants (AICPA); Institute of
Internal Auditors; Institute of Management Accountants; dan Financial
Executives Institute.
Pada tahun 1992, COSO mengeluarkan Pengendalian Internal - Kerangka
Terintegrasi - IC, untuk mengembangkan definisi pengendalian internal
dan memberikan panduan untuk mengevaluasi dan meningkatkan sistem
pengendalian internal, yang telah diterima sebagai otoritas untuk
pengendalian internal yang digabungkan ke dalam kebijkan, peraturan,
dan regulasi untuk mengendalikan aktivitas bisnis.
Untuk memberikan jaminan yang wajar bahwa tujuan pengendalian
dicapai dengan pertimbangan hal-hal berikut :
a. Efektivitas dan efisiensi (effectiveness and efficiency) operasional
organisasi;
b. Keandalan (reliability) pelaporan keuangan;
c. Kesesuaian (compliance) dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
Lima komponen Model Pengendalian Internal COSO yang saling
berhubungan :
a. Control environment (lingkungan pengendalian)
b. Control activities (aktivitas pengendalian)
c. Risk assessment (penilaian risiko)
d. Information and communication (informasi dan komunikasi)
e. Monitoring (pengawasan)
4

3. Kerangka Manajemen Risiko Perusahaan COSO


Manajemen risiko perusahaan (Enterprise Risk Management) Kerangka
Terintegrasi (Integrated Framework) ERM, merupakan sebuah kerangka
COSO yang memperbaiki proses manajemen risiko dengan memperluas
(menambahkan tiga elemen tambahan) Pengendalian Internal COSOterintegrasi. Kerangka ERM digunakan dewan direksi dan manajemen
untuk mengatur strategi, mengidentifikasi kejadian yang mungkin
memengaruhi entitas, menilai dan mengelola risiko, serta menyediakan
jaminan memadai bahwa perusahaan mencapai tujuan dan sasarannya.
4. Kerangka
Manajemen
RIsiko
Perusahaan
Vs
Kerangka
Pengendalian Internal
Kerangka IC telah diadopsi secara luas sebagai cara untuk
mengevaluasi pengendalian internal, seperti yang ditentukan oleh SOX.
Kerangkan ERM lebih komprehensif menggunakan pendekatan berbasis
risiko daripada berbasis pengendalian, dengan menambah 3 elemen ke
kerangka IC COSO yaitu :
a. Penetapan tujuan,
b. Pengidentifikasian
kejadian
yang
mungkin
mempengaruhi
perusahaan, dan
c. Pengembangan sebuah respon untuk risiko yang dinilai.
Sehingga pengendalian bersifat fleksibel dan relevan karena mereka
ditautkan dengan tujuan organisasi terkini.
Model ERM juga mengakui bahwa risiko, selain dikendalikan, dapat pula
diterima, dihindari, dibuat berjenis-jenis, dibagi, atau ditransfer.

D. LINGKUNGAN INTERNAL
Lingkungan penegendalian terdiri dari faktor-faktor berikut ini :
1. Filosofi Manajemen, Gaya Pengoperasian, dam Selera Risiko
Filosofi pihak manajemen dan gaya beroperasi dapat dinilai dengan cara
menjawab pertanyaan seperti berikut ini :
Apakah manajemen mengambil resiko yang tidak sepantasnya untuk
mencapai tujuan, atau apakah manajemen menilai risiko dan manfaat
potensial sebelum bertindak?
Apakah manajemen mencoba untuk memanipulasi ukuran-ukuran
kinerja seperti pemasukan bersih, agar kinerjanya dapat dilihat dalam
pandangan yang lebih baik?
Apakah manajemen menekan para pegawai untuk mencapai hasil
terlepas dari metodenya, atau apakah manajemen menuntut perilaku
yang etis?
2. Komitmen terhadap Integritas, Nilai Etis, dan Kompetensi
Merupakan hal yang penting bagi pihak manajemen untuk menciptakan
stuktur organisasional yang menekankan pada integritas dan nilai-nilai
5

etika. Perusahaan dapat mengesahkan integritas sebagai prinsip dasar


beroperasi, dengan secara aktif mengajarkan dan mempraktikannya.
Contohnya, manajemen puncak harus memperjelas bahwa laporan yang
jujur lebih penting daripada laporan yang sesuai keinginan pihak
manajemen.
3. Pengawasan Pengendalian Internal oleh Dewan Direksi
Komite Audit Dewan Komisaris (board of Director) bertanggungjawab
untuk mengawasi struktur pengendalian internal perusahaan, proses
pelaporan keuangan dan kepatuhannya terhadap hukum, peraturan dan
standar yang terkait, serta perekrutan dan pengawasan auditor internal
dan eksternal, juga tanggungjawab menyediakan peninjauan independen,
atas nama pemegang saham perusahaan, terhadap tindakan para
manajer perusahaan.
4. Struktur Organisasi
Struktur organisasional perusahaan menetapkan garis otoritas dan
tanggungjawab, serta menyediakan kerangka umum untuk perencanaan,
pelaksanaan, pengendalian, dan pengawasan operasinya. Beberapa aspek
pentik dari struktur organisasi yaitu :
a. Sentralisasi atau desentralisasi wewenang;
b. Hubungan pengarahan atau matriks pelaporan;
c. Organisasi berdasarkan industri, lini produk, lokasi, atau jaringan
pemasaran;
d. Alokasi tanggung jawab memengaruhi ketentuan informasi;
e. Organisasi & garis wewenang untuk akuntansi, pengauditan, fungsi
sistem informasi;
f. Ukuran dan jenis aktivitas perusahaan.
5. Metode Penetapan Wewenang dan Tanggung Jawab
Pihak manajemen harus memberikan tanggung jawab untuk tujuan bisnis
tertentu ke depatemen dan individu yang terkait, serta kemudian
membuat mereka tanggung jawab untuk mencapai tujuan tersebut. Buku
pedoman kebijakan dan prosedur (policy and procedures manual) adalah
alat yang penting untuk memberikan otoritas dan tanggung jawab,
merupakan dokumen yang menjelaskan praktik bisnis yang sesuai,
pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan, prosedur dokumen, cara
menangani transaksi serta mendata sumber daya yang tersedia untuk
melaksanakan tugas-tugas tertentu.
6. Standar Sumber Daya Manusia yang Menarik, Mengembangkan,
dan Mempertahankan Individu yang Kompeten
Kebijakan dan praktik-praktik mengenai perekrutan, pengontrakan,
pelatihan, pemberian kompensasi, pengevaluasian, dan promosi pegawai,
pengelolaan pegawai yang tidak puas, pemberhentian, liburan dan rotasi
tugas, perjanjian kerahasiaan dan asuransi ikatan kesetiaan, serta
6

menuntut dan memenjarakan pelaku, yang seluruhnya mempengaruhi


kemampuan organisasi untuk meminimalkan ancaman, risiko, dan
paparan.
7. Pengaruh Eksternal
Pengaruh-pengaruh
eksternal
yang
mempengaruhi
lingkungan
pengendalian adalah termasuk persyaratan yang dibebankan oleh bursa
efek, Financial Accounting Standards Board (FASB), PCAOB, dan Securities
and Exchange Commision (SEC), serta persyaratan yang diwajibkan oleh
badan regulasi seperti bank, utilitas, dan perusahaan asuransi.

E. PENETAPAN TUJUAN
Manajemen menentukan hal yang ingin dicapai oleh perusahaan, sering
disebut sebagai visi misi perusahaan. Penetapan tujuan meliputi :
Tujuan strategis (strategic objective) : tujuan tingkat tinggi yang
disejajarkan dan mendukung misi perusahaan serta menciptakan nilai
pemegang saham.
Tujuan operasi (operation objective) : berhubungan dengan efektivitas dan
efisiensi operasi perusahaan serta menentukan cara mengalokasikan
sumber daya.
Tujuan pelaporan (reporting objective) : membantu memastikan ketelitian,
kelengkapan, dan kehandalan laporan perusahaan, meningkatkan
pembuatan keputusan, serta mengawasi aktivitas dan kinerja perusahaan.
Tujuan kepatuhan (compliance objective) : membantu perusahaan
mematuhi seluruh hukum dan peraturan yang berlaku.

F. IDENTIFIKASI KEJADIAN
Kejadian (event) menurut COSO, merupakan sebuah insiden atau peristiwa
yang berdampak baik positif, negatif, atau keduanya, dari sumber-sumber
internal dan eksternal yang mempengaruhi implementasi strategi atau
pencapain tujuan organisasi.
Teknik untuk mengidentifikasi kejadian termasuk penggunaan sebuah daftar
komprehensif dari kejadian potensial, pelaksanaan sebuah analisis internal,
pengawasan kejadian-kejadian yang menjadi penyeab dan titik-titik pemicu,
pengadaan seminar atau wawancara, penggunaan data mining, dan
penganalisisan proses-proses bisnis.

G. PENILAIAN RISIKO DAN RESPONS RISIKO


Pendekatan penilaian risiko untuk perancangan pengendalian internal :
1. Mengidentifikasi kejadian/ancaman yang menyerang perusahaan;
7

2. Memperkirakan kemungkinan dari masing-masing ancaman yang terjadi;


3. Memperkirakan kemungkinan dan dampak/kerugian potensial dari setiap
ancaman;
4. Mengidentifikasi pengendalian untuk melawan setiap ancaman;
5. Memperkirakan biaya dan manfaat dari pengendalian yang dibentuk;
6. Menentukan efektivitas biaya/manfaat
7. Mengurangi risiko dengan mengimplementasikan pengendalian untuk
melawan ancaman, atau menerima, membagi, atau menghindari risiko
(jika biaya/manfaat tidak memadai)
Persamaan untuk memperkirakan nilai pengendalian internal :
EXPECTED LOSS = RISK EXPOSURE
Kerugian yang diperkirakan = Dampak x Kemungkinan

H. AKTIVITAS PENGENDALIAN
Aktivitas pengendalian merupakan kebijakan dan peraturan
menyediakan jaminan yang wajar bahwa tujuan pengendalian
manajemen dicapai.

yang
pihak

Prosedur pengendalian meliputi beberapa kategori berikut :


1. Otorisasi Transaksi dan Aktivitas yang Tepat
Otorisasi merupakan penetapan kebijkan bagi para pegawai untuk diikuti
dan kemudian memberdayakan mereka guna melakukan fungsi organisasi
tertentu,
dapat
didokumentasikan
dengan
penandatanganan,
penginisialisasian, atau pengkodean.
2. Pemisahan Tugas
Contoh pemisahan tugas akuntansi guna meminimalkan tindakan
penipuan oleh pegawai
Fungsi Penyiapan
Fungsi Pencatatan
Fungsi otorisasi
(Custodial Functions)
(Recording Functions)
(Authorization
Functions)
penanganan kas
Mempersiapkan dokumen sumber
otorisasi transaksi
penanganan aset
menjaga catatan jurnal
menulis/mencatat cek
mempersiapkan rekonsiliasi
Menerima cek dalam surat Mempersiapkan laporan kinerja
Sedangkan pemisahan tugas sistem menerapkan prosedur pengendalian
untuk membagi wewenang dan tanggung jawab secara jelas di dalam
fungsi sistem informasi, meliputi :
a. Administrasi sistem,
b. Manajemen jaringan,
c. Manajemen keamanan,
d. Manajemen perubahan,
e. Pengguna,
8

f.
g.
h.
i.
j.

Analisis sistem,
Pemrograman,
Operasi komputer,
Perpustakaan sistem informasi,
Pengendalian data.

3. Pengembangan Proyek dan Pengendalian Akuisisi (Perolehan)


Pengendalian pengembangan sistem yang penting meliputi :
a. Komite pengarah,
b. Rencana induk strategis,
c. Rencana pembangunan proyek,
d. Jadwal pengolahan data,
e. Pengukuran kinerja sistem,
f. Tinjauan pasca implementasi.
4. Mengubah Pengendalian Manajemen
Organisasi memodifikasi sistem yang berjalan untuk merefleksikan
praktik-praktik bisnis baru dan untuk memanfaatkan penguasaan TI.
5. Mendesain dan Menggunakan Dokumen dan Catatan
Desain dan penggunaan dokumen elektronik dan kertas yang sesuai dapat
membantu memastikan pencatatan yang akurat serta lengkap dari
seluruh data transaksi yang relevan.
6. Pengamanan Aset, Catatan, dan Data
Perusahaan harus melindungi kas dan aset fisik beserta informasinya,
berikut beberapa hal penting yang harus diperhatikan :
a. Menciptakan dan menegakkan kebijakan dan prosedur yang tepat;
b. Memelihara catatan akurat dari seluruh aset;
c. Membatasi akses terhadap aset;
d. Melindungi catatan dan dokumen.
7. Pengecekan Kinerja yang Independen
Dilakukan oleh seseorang yang bukan pelaku operasi yang asli untuk
membantu memastikan bahwa transaksi diproses dengan tepat, meliputi :
a. Tinjauan tingkat atas;
b. Tinjauan analitis;
c. Rekonsiliasi catatan-catatan yang dikelola secara independen;
d. Perbandingan jumlah aktual dengan yang dicatat;
e. Pembukaan berpasangan (akuntansi double-entry);
f. Peninjauan independen.

I. INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Tujuan utama dari SIA adalah mengumpulakan, mencatat, memproses,


menyimpan, meringkas, dan mengkomunikasikan informasi atas suatu
organisasi. Akuntan harus memahami bagaimana:
a. transaksi diawali;
b. data didapat dalam bentuk yang dapat dibaca oleh mesin, atau data
diubah dari dokumen; sumber ke bentuk yang dapat dibaca oleh mesin;
c. file komputer diakses dan diperbaharui;
d. data diproses untuk mempersiapkan sebuah informasi;
e. informasi dilaporkan ke para pemakai internal dan pihak eksternal;
f. transaksi dicatat.
Prinsip dalam proses informasi dan komunikasi berdasarkan kerangka IC
yang diperbarui :
a. Mendapatkan atau menghasilkan informasi yang relevan dan berkualitas
tinggi untuk mendukung pengendalian internal;
b. Mengkomunikasikan informasi secara internal, termasuk tujuan dan
tanggung jawab yang diperlukan untuk mendukung komponen lain dari
pengendalian internal;
c. Mengkomunikasikan hal-hal pengendalian internal yang relevan kepada
pihak eksternal.

J. PENGAWASAN
Metode utama mengawasi kinerja mencakup :
1. Menjalankan Evaluasi Pengendalian Internal;
2. Implementasi Pengawasan yang Efektif;
3. Menggunakan Sistem Akuntansi Pertanggungjawaban;
4. Mengawasi Aktivitas Sistem;
5. Melacak Perangkat Lunak dan Perangkat Bergerak yang Dibeli;
6. Menjalankan Audit Berkala;
7. Memperkerjakan Petugas Keamanan Komputer dan Chief Compliance
Officer;
8. Menyewa Spesialis Forensik;
9. Memasang Perangkat Lunak Deteksi Penipuan;
10.
Mengimplementasikan Hotline Penipuan;

10

Anda mungkin juga menyukai