KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN R.
I
POLITEKTIK STMI JAKARTA
Jalan Letjen Soeprapto No. 26, CempakaPutih - Jakarta Pusat
Telp (021) 4244561, 4244280
MAKALAH LEACHING
NAMA
NIM
KELAS
: ***
: 15****
: ****
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan
hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya. Shalawat beriring salam selalu kita panjatkan kepada
Rasullullah SAW, karena kegigihan beliau dan ridha-Nyalah kita dapat
merasakan kenikmatan dunia seperti sekarang ini.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas yang diberikan oleh dosen Satuan Operasi 2, makalah ini juga
bertujuan untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca
sekalian.
Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran penulis harapkan dari
pembaca sekalian demi terciptanya kesempurnaan dalam penyusunan
makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi yang memerlukan.
Terima kasih.
Jakarta, 2 Juli 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan
kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda,
biasanya air dan yang lainnya pelarutorganik . Dalam praktiknya, proses
Ekstraksi dapat berlangsung secara cair- cair atau pun [Link] padat-cair dikenal atau leaching yaitu peristiwa pelarutan
terarah dari satu atau lebih senyawaan dari suatu campuran
padatan dengan cara mengontakkan dengan pelarut cair didmana
pelarut akan melarutkan sebagian bahan padatan sehingga bahan
terlarut yang diinginkan dapat diperoleh. Ekstraksi padat cair (leaching)
biasanya diterapkan pada industri pembuatan Teh.
Pada industri teh kandungan kafein haruslah serendah mungkin
karena dalam kadar yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada
kesehatan. Oleh karena efek negatif tersebut maka proses ekstraksi
padat-cair digunakan untuk mengurangi kadar kafein. Selain Industri
Teh, ekstraksi padat cair (leaching) banyak digunakan dalam industri
metalurgi alumunium, cobalt, mangan, nikel dan timah. Juga digunakan
dalam industri kopi, minyak kedelai, dan dalam pembuatan gula.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam
penulisan makalah ini adalah :
1. Apa itu leaching?
2. Bagaimana hal-hal terkait leaching?
Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui apa itu leaching
2. Memahami terkait tentang leaching
BAB II
PEMBAHASAN
Leaching
Leaching adalah peristiwa pelarutan terarah satu atau lebih
senyawaan dari campuran padatan dengan cara mengontakkan dengan
pelarut [Link] melarutkan sebagan bahan padatan sehingga bahan
terlarut yang diinginkan dapat diperoleh.
Teknologi leaching biasanya digunakan oleh industri-industri
logam untuk memisahkan mineral dari bijih dan batuan(ores). Pelarut
asam membuat garam logam terlarut) seperti: leaching Cu dengan
medium H2SO4 atau NH3, leaching Co&Ni dengancampuran H2SO4-NH3O2,.Contoh dari leaching yaitu pemisahan emas (Au) dari bentuk
padatan berongga dengan menggunakan larutan asam sianida (HCN)
atau sulfat (H2SO4). Pabrik gula juga mengunakan prinsip leaching saat
memisahkan gula dari bit, dimana air sebagai pelarut. Pada saat
memisahkan minyak dari kedelai,kacang,biji matahari,biji kapas,dll.,
industri minyak goreng juga menggunakan prinsip-prinsip leaching
dengan memakai pelarut hexana,aseton,eter atau pelarut organik
lainnya.
Dengan prinsip leaching juga para praktisi pada industri farmasi
mengambil kandungan obat dari dedaunan, akar dan [Link]
sebenarnya konsep dasar leaching juga terjadi pada lingkungan kita.
Sebagai misal, kita melihat erosi unsur- unsur hara oleh air hujan.
Demikian juga leaching terjadi saat kita menyeduh teh atau kopi dipagi
hari.
Leaching dapat dibagi menjadi dua:
1. Percolation Liquid added into solids
Pelarut dikontakkan dengan padatan melalui proses tunak
ataupun tak tunak. Metode ini lebih banyak digunakan untuk pemisahan
campuran solid-liquid dimana jumlah padatan sangat besar
dibandingkan fasa liquid.
2. Dispersed SolidsSolids added into liquid
Pada metode ini, padatan dihancurkan terlebih dahulu menjadi
pecahan kecil sebelum dikontakkan dengan pelarut. Metode ini popular
karena tingkat kemurnian hasil proses sehingga dapat mengimbangi
biaya operasi pemisahan yang tinggi.
Untuk kedua jenis leaching diatas,tiga variabel penting didalam
leaching yaitu temperatur,area kontak,dan jenis pelarut.
Istilah leaching, baik secara sengaja maupun tidak, sering juga
dirancukan dengan [Link] juga alatnya sering
dirancukan dengan penamaan sebagaiekstraktor.
PrinsipKerja
Operasi leaching bisa dilakukan dengan sistem batch,semi
batch,atau kontinu. Proses ini biasanya dilakukan pada suhu tinggi untuk
meningkatkan ke larutan solut didalam pelarut. Untukmeningkatkan
unjuk kerja, sistem aliran dalam leaching dapat dilakukan dengan cara
arus-berhadapan(crosscurrent)atau arus-searah(countercurrent).
Kesetimbangan fasa cair-padat adalah kata kunci untuk
memahami leaching. Proses operasi separasi atau peristiwa
perpindahan massa lainnya yang menggunakan prinsip kesetimbangan
fasacair-padat adalah kristalisasi dan adsorbsi. Diffusi melalui padatan
berjalan lambat, bahkan melalui pori-pori didalam bahan, dan karenanya
kesetimbangan sulit tercapai.
Setelah leaching selesai dilakukan, pemisahan fasa padat dari fasa
cair dapat dilakukan dengan operasi sedimentasi, Filtrasi atau
sentrifugasi. Pemisahan yang sempurna adalah suatu hal yang hampir
tidak mungkin dilakukan karena adanya kesetimbangan fasa, disamping
secara mekanis sangat sulit untuk mencapainya. Jadi, selalu ada
bagian yang basahatau air yang terjebakdidalam padatan.
Perhitungan dalam operasi ini melibatkan 3 komponen,yaitu
padatan,pelarut,solut. Asupan umumnya berupa padatan yang terdiri
dari bahan pembawa tak larut dan senyawa dapat-larut. Senyawa
dapat-larut inilah yang biasanya merupakan bahan atau mengandung
bahan yang kita inginkan.
Bahan yang diinginkan akan larut sampai titik tertentu dan keluar dari
ekstraktor sebagai alir-atas(alir-atas).Padatan yang keluar kita sebut
sebagai alir-bawah(alir-bawah).Sebagaimana diuraikan diatas,alir-bawah
biasanya basah karena campuran pelarut/solut masih terbawa
[Link] atau persentasi solut yang dapat dipisahkan dari padatan
basah/kering disebut rendemen.
Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan :
1.
Ukuran Partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil
ukuran partikel, area terbesar antara padatan dan cairan, oleh karena
itu kecepatan tertinggi dari transfer material dan jarak terkecil untuk
solute mendifusi diantara padatan yang sudah terindikasi, lain masalah
permukaan padatan tidak efektif digunakan pada material yang sangat
keras jika sirkulasi dari cairan kurang dan pemisahan partikel dari cairan
dan drainase residu padatan semakin sulit. Hal yang diinginkan secara
umum bahwa range ukuran partikel kecil sehingga partikel lain yang
diperlukan kira kira waktunya sama untuk ekstraksi.
2.
Pelarut
Pemilihan cairan yang baik adalah pelarut yang sesuai dan
viskositas harus cukup rendah agar sirkulasinya bebas. Umumnya,
pelarut murni akan digunakan, meskipun dalam proses ekstraksi,
konsentrasi dari solute akan meningkat dan kecepatan ekstraksi akan
melambat. Pertama karena gradien konsentrasi akan hilang dan kedua
karena cairan akan semakin viscous pada umumnya.
Sifat pelarut mencakup beberapa hal antara lain :
a.
Selektifitas
Pelarut harus mempunyai selektifitas cukup tinggi artinya kelarutan
zat yang ingin dipisahkan dalam pelarut tadi harus besar sedang
kelarutannya dari padatan pengotor kecil atau diabaikan.
b.
Kapasitas
Yang dimaksud kapasitas pelarut adalah besarnya kelarutan solute
dalam pelarut tersebar. Bila kapasitas pelarut kecil, maka :
-
Batch jumlah pelarut yang lebih banyak.
Larutan ekstrak lebih encer.
Kebutuhan panas untuk evaporator/pemekatan larutan ekstrak
bertambah banyak.
c.
Kemudahan untuk dipisahkan
Untuk penghematan, pelarut dipisahkan dari solute untuk dapat
dipakai kembali, biasanya dengan cara evaporasi atau distilasi. Oleh
karena itu, pelarut biasanya dipilih bertitik didih rendah namun tetap
diatas temperatur operasi leaching.
d.
Sifat-sifat fisik pelarut
Viskositas dan densitas pelarut akan berpengaruh pemakaian daya
untuk pengadukan. Selain itu viskositas akan berpengaruh pada laju
difusi sedang densitas akan berpengaruh pada laju difusi sedang
densitas akan berpengaruh pada pemisahan mekanik.
3.
Temperatur
Pada banyak kasus, kelarutan material yang akan diekstraksi akan
meningkat dengan temperatur yang diberikan pada kecepatan tinggi
dari ekstraksi. Koefisien difusi yang diharapkan meningkat bersamaan
meningkatnya temperatur dan akan bertambah kecepatan ekstraksi.
4.
Faktor Pengaduk
Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan pengaduk, seperti
ukuran, jenis dan posisi pengaduk. Namun yang lebih berpengaruh
dalam operasi leaching adalah laju putar dan lama pengadukan.
Semakin cepat laju putar, partikel semakin terdistribusi dalam pelarut
sehingga permukaan kontak meluas dan dapat memberikan kontak
dengan pelarut yang diperbaharui terus. Begitu pula semakin lama
waktu pengadukan berarti difusi dapat berlangsung terus dan lama
pengadukan terus dibatasi pada harga optimum agar konsumsi energi
tak terlalu besar. Pengaruh faktor pengadukan ini hanya ada bila laju
pelarutan memungkinkan.
Metode Operasi Leaching
Dikenal 4 jenis metoda operasi ekstraksi padat-cair. Berikut ini disajikan
uraian singkat mengenai masing-masing metoda tersebut:
1. Operasi dengan Sistem Bertahap Tunggal
Dengan metoda ini, pengontakan antara padatan dan
pelarut dilakukan sekaligus, dan kemudian disusul dengan
pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara ini jarang ditemukan
dalam operasi industry karena perolehan solute yang rendah.
2. Operasi dengan system bertahap banyak dengan aliran sejajar
atau aliran silang
Operasi ini dimulai dengan pencampuran umpan
padatan dan pelarut dalam tahap pertama; kemudian aliran
bawah dari tahap ini dikontakkan dengan pelarut baru pada
tahap berikutnya, dan demikian seterusnya. Larutan yang
diperoleh sebagai aliran atas dapat dikumpulkan menjadi satu
seperti yang terjadi pada system dengan aliran sejajar, atau
ditampung secara terpisah, seperti pada system dengan aliran
silang.
3. Operasi secara kontinu dengan aliran berlawanan
Dalam sistem ini, aliran bawah dan atas mengalir secara
berlawanan. Operasi dimulai pada tahap pertama dengan
mengontakkan larutan pekat yang merupakan aliran atas tahap
kedua, dan padatan baru. Operasi berakhir pada tahap ke-n
(tahapterakhir), dimana terjadi pencampuran antara pelarut baru
dan padatan yang berasal dari tahap ke-n (n-1). Dapat
dimengerti bahwa sistem ini memungkinkan didapatkannya
perolehan solut yang tinggi, sehingga banyak digunakan didalam
industri.
4. Operasi secara batch dengan system bertahap banyak dengan
aliran berlawanan
Sistem ini terdiri dari beberapa unit pengontak batch yang
disusun berderet atau dalam lingkaran yang dikenal sebagai
rangkaian ekstraksi (extraction battery). Di dalam sistem ini,
padatan dibiarkan stationer dalam setiap tangki dan dikontakkan
dengan beberapa larutan yang konsentrasinya makin
[Link] yang hampir tidak mengandung solute
meninggalkan rangkaian setelah dikontakkan dengan pelarut
baru, sedangkan larutan pekat sebelum keluar dari rangkaian
terlebih dahulu dikontakkan dengan padatan baru didalam tangki
yang lain.
Perhitungan Ekstraksi Padat-Cair (Leaching)
Untuk merancang peralatan ekstraksi padat-cair perlu
dilakukan tahapan perancangan berikut:
1) menghitung jumlah tahap yang diperlukan untuk memperoleh
solut dalam jumlah tertentu , dengan data yang ada : kadar
solute di dalam campuran padatan umpan,dan konsentras
isolut dalam larutan pada akhir tahap operasi
2) menghitung jumlah solut yang dapat dipisahkan dari campuran
umpan dengan menggunakan beberapa data yang diketahui
seperti
kadar
zat
terlaru
tdalam
padatan
umpan,jumlahtahappencucian,danmetodaoperasiyangdipilih.
3) Untuk menghitungan besaran-besaran yang diperlukan dalam
perancangan alat ekstraksi padat cair dikenal 3metoda, yaitu:
a. Cara aljabar (tahapdemitahap)
b. cara analitik,dan
c. cara grafik.
4)
Seperti pada operasi perpindahan massa yang lain,
perhitungan secara grafik adalah yang termudah.
selanjutnya,
pada bab ini hanya akan diuraikan
Untuk
dengan
singkat mengenai metoda perhitungan tersebut.
5)
Tata
Laksana
Perhitungan
6) Dasar perhitungan yang digunakan adalah:
-
neraca bahan
data kesetimbangan antara fasa padat dan fasa cair di dalam
campuran
7) Untuk maksud perhitungan ini,campuran dianggap terdiri dari tiga
komponen, yaitu:
8)
padatan yang tidak larut(B)
satu solute tunggal yang dapat berbentuk padatan atau cairan(C)
suatu pelarut(A)
Sistem 3 komponen ini dapat digambarkan dalam koordinat
segitiga atau segi [Link] koordinat segi empatakan
lebih menguntungkan untuk keperluan perhitungan jumlah tahap
operasi, karena alasan ketelitian pada penempatan titik-titik
dalam koordinat tersebut. Sebagai ordinat pada sistem ini adalah
konsentrasi innert(n), yang dinyatakan sebagai perbandingan
berat padatan innert dan larutan (B/(A+C)); sedang absisnya
adalah fraksi beratsolut didalam aliran atas(x)dan didalam aliran
bawah(y),yang keduanya dinyatakan sebagai perbandingan
beratsolut dan larutan saja (C/(A+C)),tanpa memperhitungkan
padatan B.
9) Neraca Bahan
Sistem Bertahap Tunggal
10)
Untuk system ini neraca massa adalah sebagai
berikut:
a) Neracamassa innert
11) B=NF.F=E1.N1 (1)
b) Neraca massa zat terlarut
12) [Link]+R0.x0=E1.y1+R1.x1
(2)
10
c) Neraca massa pelarut
13) F.(1-yF )+R0.(1-x0)=E1.(1-y1)+R1.(1-x1) (3)
d) Neraca untuk larutan(A+C)
14) F+R0 =E1+R1=M1
(4)
15)
Disini M1menyatakan jumlah campuran secara
keseluruhan (innert+solut+pelarut). Untuk meletakkan titik
M1 ini di dalam koordinat segi empat, terlebih dahulu harus
dihitung:
16)
17)
18)
11
19) Keterangan:
20) A=jumlah pelarut murni
21) B=jumlah innert
22) C=jumlah zat terlarut
23) E=jumlah larutan yang berada bersama padatan
24) F=jumlah larutan yang berada bersama padatan umpan
25) M=jumlah total larutan dalam campuran
26) N=B/(A+C)
27) R=jumlah larutan
dalam aliran atas
28) x=C/(A+C)dalam
aliran atas
29) y=C/(A+C)dalam aliran bawah
Sistem Bertahap Banyak dengan Aliran Berlawanan
30)
Pada dasarnya, penulisan neraca massa untuk sistem
ini sama dengan pada sistem bertahap [Link] massa
total untuk larutan:
31)
32)
F+Rn+1=R1+En=M
(7)
Sedangkan untuk terlarut, neraca massa totalnya adalah:
33)
[Link]+Rn+[Link]+1=R1x1+Enyn=Mym
(8)
34)
Dari persamaan-persamaan di atas dapat
diturunkan hubungan yang menyatakan koordinat-koordinat
titik M:
35)
36)
37)
B
F + Rn +1
NM1 =
VM =
(9)
Y F F+ R n+1 X n+1
F + Rn+ 1
Dengan
menyusun
(10)
kembali
persamaan
akan didapat persamaan berikut
38)
F-R1= EnRn+1=R
(11)
39)
Persamaan ini berlaku pula untuk tahap12
tahap yang lain:
40)
FR1=E2R2R2=E3R3=R
(12)
41)
jumlah
merupakan
perbedaan
aliran
bawah dan atas pada setiap tahap.
42)
yang
Bila data kesetimbangan
terlibat
menggunakan
dalam
operasi
ini
suatu sistem 3 komponen
diketahui,maka
dengan
persamaan-persamaan diatas,jumlah tahap yang
diperlukan untuk memperoleh solute dalam jumlah tertentu dapat
dihitung secara grafik.
43)
13
44)
45)
Gambar7
Perhitungansecaragrafikuntuksistembertahapbanyakdenganaliran
berlawanan
46)
Aplikasi Leaching pada Industri Bijih besi
danUranium
47)
Bijih besiyang terdapat di alam terkadang masih
mengandung Uraniumdalam jumlah signifikan sebagai
pengotornya. Kandungan Uranium pada campuran bijih besi
bergantung pada lokasi penambangan bijih [Link]
kandungan Uranium pada beberapa lokasi berkisar dari 0.02%
sampai 15%. Asamsulfat(H2SO4) biasa digunakan sebagai pelarut.
Asam sulfat digunakan untuk melarutkan Uranium karena Uranium
14
memiliki kelarutan pada asam sulfat lebih tinggi daripada logamlogam lain yang terdapat bijih besi.
48)
Teknik yang dipakai adalah dengan metode In-Situ leaching,
yaitu
suatukegiatanpemurnianbarangtambangdenganmenggunakanmet
odeleaching,[Link]
urnianbijihbesidariUraniumlangsungdisituspenambanganbijihbesid
imaksudkanuntukmenghindarimeluasnya
bahayakerusakanlingkunganakibattercecernyalimbahuraniumbila
metode ex-situ atau dengan transporatsi digunakan.
49)
Proses
leaching
Uranium
dapat
dilakukan
oleh
asam
ataupun larutan alkali. Agar proses ini berhasil dengan sempurna,
maka Uranium yang belum stabil harus dibentuk menjadi bentuk
yang stabil yaitu dalam keadaan heksavalen maupun dioksidasi
dalam proses leaching-nya. Jadi, untuk mendapatkan bijih besi
yang murni kita menggunakan larutan asam atau alkali untuk
memisahkan Uranium dari barang tambang.
50)
Asam yang digunakan dalam proses leaching biasanya
adalah asam sulfat (H2SO4) dengan cara mengaduk (agitasi)
campuran bijih besi dengan asam tersebut selama 4-48 jam pada
temperature ambient. Jumlah asam sulfat yang dibutuhkan
secukupnya agar menghasilkan larutan dengan pH 1.5.
51)
Biasanya selain asam sulfat, dilakukan pula penambahan
MnO2 (Mangan dioksida) dan ion klorat untuk mengoksidasi
Uranium bervalensi 4 (U4+) menjadi ion Uranil heksavalen (UO22+).
Biasanya penambahan tersebut berupa 5 kilogram Mangan
dioksida atau 1.5 kilogram natrium klorat tiap ton campuran asam
sulfatnya. Uranium yang telah teroksidasi bereaksi dengan asam
sulfat
untuk
membentuk
anion
kompleks
Uranil
sulfat
[UO2(SO4)3]4-.
15
52)
Untuk melakukan proses leaching pada Uranium yang masih
menyatu dalam bijih besi yang masih mengandung mineralmineral seperti kalsit dan dolomit, proses sebaiknya dilakukan
dengan menggunakan 0,5 - 1 molar larutan Natrium karbonat.
53)
Campuran Uranium yang larut dalam asam sulfat ini
dinamakan
mining solution, selanjutnya
mining solution
ini
dimanfaatkan untuk secondary injeksi untuk mengeluarkan bijih
besi dari dalam tanah.
54)
Dalam kenyataannya dalam leaching Uranium dari bijih besi
dengan konsentrasi tinggi, jumlah asam sulfat yang dibutuhkan
adalah sekitar 65 kg (H2SO4) per ton bijih besi dan mixing
ratiodari
asam
sulfat
yang
diperlukan
untuk
membentuk
campuran yang seragam (uniform) diantara bijih besi dan asam
sulfat adalah 100 sampai 150 Liter larutan asam sulfat per ton
bijih besi.
55)
Ketika mixing ratio lebih rendah dari 100 L/ton,
konsentrasi larutan asam sulfat yang bercampur dengan bijih besi
lebih tinggi dari 650 g/L. Maka, dalam kasus leaching Uranium dari
bijih besi dengan konsentrasi asam sulfat yang tinggi justru
menguntungkan karena proses separasi solid-liquid menjadi terfasilitasi. Sebaliknya, campuran asam sulfat dan bijih besi menjadi
sulit dipisahkan sehingga dengan konsentrasi asam yang rendah,
proses leaching menjadi tidak maksimal.
56)
57)
58)
59)
60)
61)
62)
63)
16
64)
65)
66)
67)
68)
69)
70)
71)
72)
73)
74)
75)
76)
77)
BAB III
PENUTUP
78)
79)
KESIMPULAN
80)
Ekstraksipadat-cair dikenalatau
Leachingyaituperistiwa pelarutanterarahdarisatu atau lebih
senyawaan dari suatu campuran padatan dengan cara
mengontakkan dengan pelarut cairdidmanapelarut
akanmelarutkansebagianbahanpadatan sehinggabahanterlarut
yang [Link] unit operasi, leaching
merupakan salah satu cara tertua dalam industri kimia, misalnya
pada industri metalurgi yang merupakan pengguna terbesar
operasi leaching. Contohnya tembaga yang terkandung dalam biji
besi di leaching dengan asam sulfat atau amoniak, emas
dipisahkan dengan larutan sodium sianida, proses metalurgi
aluminium, cobalt, mangan, nikel dan timah.Dikenal4
jenismetodaoperasiekstraksipadat-cair,antara lain:
Operasi dengan Sistem Bertahap Tunggal
17
Operasi dengan system bertahap banyak dengan aliran sejajar
atau aliran silang
Operasi secara kontinu denganaliranberlawanan
Operasi secara batch dengan system bertahap banyak dengan
aliran berlawanan
81)
Dalam leachingada empat faktor penting yang harus
diperhatikan :
Ukuran Partikel
82)
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi.
Pelarut
83)
Pemilihan cairan yang baik adalah pelarut yang sesuai dan
viskositas harus cukup rendah agar sirkulasinya bebas.
Temperatur
84)
Koefisien difusi yang diharapkan meningkat bersamaan
meningkatnya temperatur dan akan bertambah kecepatan
ekstraksi.
Faktor Pengaduk
85)
Dalam operasi leachingyang lebih berpengaruh adalah laju
putar dan lama pengadukan.
86)
87)
88)
89)
SARAN
90)
1. Semoga makalah ini menjadi penambahan pengetahuan pembaca
dalam memahami leachingitu sendiri dan dapat
mensosialisasikannya pada orang lain.
2. Semoga makalah ini menjadi sebuah inspirasi dan referensi dapat
penulisan makalah berikutnya.
91)
92)
93)
94)
95)
96)
18
97)
98)
99)
100)
101)
102)
103)
104)
105)
106)
107)
108)
109)
110)
111)
112)
DAFTAR PUSTAKA
113)
114)
o
Geankoplis, Christie (2004). Transport Process and Separation
Principles. NJ: Pretence Hall. pp. 802817.
o Li, Li; Jing Ge; Renjie Chen; Feng Wu; Shi Chen; Xiaoxiao Zhang
(March 16, 2010). "Environmental friendly leaching reagent for
cobalt and lithium recovery"
o Halim Fauzi Abdul. Dasar Teori Leaching.
([Link]
diakses pada 4 Juli 2015).
o KhairunnisaRahayu. LEACHING Kelompok5. (online).
([Link] diakses pada 4 Juli 2015).
o nyimasulfatry. 76874930-Leaching. (online).
([Link]
diakses pada 4 Juli 2015).
19
o Suko Adi Zhuko. Leaching. (online).
([Link]
diakses pada 4 Juli 2015).
o Seader and Henley, J.D. and Ernest J. (2001). Separation Process
Principles. U.K: John Wiley & Sons inc. pp. 639641.
115)
20