Diagnosa dan Pemeriksaan GTP Gigi
Diagnosa dan Pemeriksaan GTP Gigi
prognosis GTP
Diagnosa GTP
Dalam menegakkan suatu diagnose dari pembutuhan gigi tiruan penuh, dibutuhkan
pemeriksaan secara keseluruhan besertakan riwayat terdahulu dari pasien, diantaranya:
1. Anamnesis
Anamnesis adalah riwayat yang lalu dari suatu penyakit atau kelainan, berdasarkan pada ingatan
penderita pada waktu dilakukan wawancara dan pemeriksaan medic/dental. (Lusiana K.B., 1995)
Ditinjau dari cara penyampaian cerita, dikenal dua macam anamnesis. Pada auto anamnesis,
cerita mengenaikeadaan penyakit disampaikan sendiri oleh pasien. Disamping itu terdapat
keadaan dimana cerita mengenai penyakit ini tidak disampaikan oleh pasien yang bersangkutan,
melainkan melalui bantuan orang lain. Keadaan seperi ini dijumpai umpamanya pada paien bisu,
ada kesulitan bahasa, penderita yang mengalami kecelakaan atau pada anak-anak kecil. Cara in9i
disebut allo anamnesis. (Lusiana K.B., 1995)
Dai segi inisiatif penyampaian cerita, dikenal pula anamnesis pasif dimana pasien sendirilah
yang menceritakan keadaannya kepada si pemeriksa. Sebaliknya, pada anamnesis aktif penderita
perlu dbantu pertanyaan-pertanyaan dalam menyampaikan ceritanya. (Lusiana K.B., 1995)
Pada saat anamnesis biasanya ditanyakan hal-hal sebagai berikut :
-
Nama penderita
Hal ini perlu diketahui untuk membedakan seorang penderita dari yang lainnya di samping
mengetahui asal suku atau rasnya. Hal terakhir ini penting, karena ras antara lain berhubungan
dengan penyusunan gigi depan, contohnya: orang eropa (kas kaukakus) mempunyai profil yang
lurus, sedangkan orang Asia (ras Mongoloid)cembung.
-
Alamat
Dengan mengetahui alamatnya, penderita dapat dihubungi segera bila terjadi sesuatu yang tak
diharapkan, umpamanya kekeliruan pemberian obat. Pemanggilan kembali penderita juga dapat
dengan
mudah
dilakukan.
Alamat
juga
dapat
membantu
kita
mengetahui
belakanglingkungan hidup seorang pasien, sehingga dapat pula diketahui status sosialnya.
-
Pekerjaan
latar
Modifikasi jenis perawatan mungkin perlu dilakukan karena factor jenis pekerjaan. Dengan
memahami pekerjaan pasien, keadaan sosial ekonominya juga dapat diketahui. Pada umumnya
lebih tinggi kedudukan sosial seseorang lebih besar tuntutannya terhadap faktor estetik.
-
Jenis kelamin
Secara jelas sebetulnya tidak terdapat karakteristik konkrit yang berlaku untuk pria dan wanita.
Namun demikian hal-hal berikut ini sebaiknya diperhatikan. Wanita pada umumnya cenderung
lebih memperhatikan faktor estetik dibanding pria. Sebaliknya pria membutuhkan protesa yang
lebih kuat, sebab merekan menunjukkan kekuatan mastikasi yang lebih besar. Pria juga lebih
mementingkan rasa enak/nyaman, di samping faktor fungsional geligi tiruan yang dipakainya.
Selanjutnya bentuk gigi wanita relatif lebih banyak lengkungan/bulatannya dibanding gigi pria
yang memberi kesan lebih kasar dan persegi. Pengelolaan perawatan penderita wanita dalam
masa menopouse membutuhkan pertimbangan lebih teliti. Pada periode ini, mulut biasanya
terasa lebih kering dan ada rasa seperti terbakar.
-
Usia
Pengaruh lanjutnya usia pada perawatan prostodontik harus selalu menjadi bahan pertimbangan.
Proses menua mempengaruhi toleransi jaringan, kesehatan mulut, koordinasi otot, mengalirnya
saliva, ukuran pulpa gigi serta panjang mahkota klinis. Usia juga menentukan bentuk, warna,
serta ukuran gigi seseorang. Pada lanjut usia, lebih sering pula dijumpai pelbagai penyakit seperti
hipertensi, jantung dan diabetes [Link] pada orang usia muda lebih sering dijumpai karies
dentis, maka pada kelompok usia lanjut penyakit periodontalah yang lebih sering dijumpai.
Kemampuan adaptasi penderita usia muda terhadap geligi tiruan biasanya lebih tinggi dibanding
penderita usia lanjut. Pada usia di atas empat puluh tahun, adapatasi biasanya mulai berkurang
dan akan menjadi sukar setelah usia enampuluhan.
-
Waktu dan gigi dibagian mana yang dicabut terakhir perlu diketahui. Apakah gigi tesebut sengaja
dicabut atau tanggal sendiri. Bila tanggal sendiri mungkin ada sisa akar yang tertinggal. Lama
jangka waktu anatara pencabutan terakhir dengan saat dimulainya pembuatan geligi tiruan akan
mempengaruhi hasil perawatan.
-
Seorang penderita yang pernah memakai geligi tiruan sudah mempunyai pengalaman, sehingga
adaptasinya terhadap geligi tiruan baru akan lebih mudah dan cepat. Ia juga sudah mengalami
prosedur pembuatannya. Sebaliknya, penderita semacam ini juga sering membandingbandingkan protesa barunya dengan yang pernah dipakai [Link] yang belum
pernah memakai geligi tiruan, biasanya membutuhkan masa adatasi lebih panjang karena
kesulitannya menyesuaikan diri. Kelompok ini belum berpengalaman dalam prsedur pembuatan
protesa; seperti pada waktu pencetakan, penentuan gigitan, maupun pada saat awal pemakaian,
yang sering kali menimbulkan rasa sakit. Itulah sebabnya penerangan yang diberikan kepada
penderita sebelum pembuatan geligi tiruan dilaksanakan menjadi penting sekali.
-
Penderita perlu ditanyai mengenai tujuan pembuatan geligi tiruannya, apakah dia lebih
mementingkan pemenuhan factor estetik atau fungsional. Biasanya konstruksi disesuaikan
dengan kebutuhan penderita.
-
Keterangan Lain
Penderita ditanyai apakah penderita mempunyai kebiasaan buruk dsb. Kadang-kadang kebiasaan
tersebut sulit ditentukan tanpa suatu pengamatan yang intensif. (Lusiana K.B., 1995)
2. Pemeriksaan Intra Oral
Merupakan pemeriksaan yang di lakukan , untuk mengetahui keadaan rongga mulut apakah
terdapat kelainan atau tidak yang nantinya di gunakan untuk membantu menegakkan diagnose.
Pemeriksaan intra oral dapat meliputi, pemeriksaan jaringan keras dan lunak rongga mulut.
a.
Riwayat penyakit umum yang pernah diderita sebaiknya ditanyakan dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan terpilih. Penderita sebaiknya ditanya apakah ia sedang berada dalam
perawatan dokter umum/lain dan bila demikian, obat-obat apa saja yang sedang diminum. Hal ini
perlu dikatahui karena penyakit dan pengobatan tertentu dapat mempengaruhi jaringan yang
terlibat dalam perawatan dental, umpamnya diabetes mellitus, penyakit kardiovaskular,
tuberculosis, lues, depresi mental, kecanduan alcohol, dsb. (Lusiana K.B., 1995)
b.
Fungsi pemeriksaan antara lain untuk mengetahui adanya kelainan, iritasi atau keadaan patologis
pada jaringan mukosa rongga mulut. Sebagai rencana awal perawatan pendahuluan. Pemeriksaan
yang di lakukan dapat membantu mengidentifikasi inflamasi periradikuler sebagai asal nyeri,
meliputi palpasi diatas apeks; tekanan dengan jari pada mukosa rongga mulut, atau
menggoyangkan gigi dan perkusi ringan dengan ujung gagang kaca mulut.
c. Foto Rongent
Tujuan menggunakan foto ini dalam pembuatan protesa sebagian lepasan adalah untuk:
1. Melihat atau memeriksa struktur tulang yang akan menjadi pendukung tulang yang padat akan
memberi dukungan yang baik
2. Melihat bentuk, panjang, dan jumlah akar gigi.
3. Melihat kelainan bentuk pada, residual ridge, umpamanya bila terdapat suatu tonjolan pada
prosesus alveolaris.
4. Melihat adanya sisa aka rgigi
5. Meneliti keadaan vitalitas gigi
6. Memeriksan adanya kelainan periapikal
d. Oklusi
Hubungan gigi gigi 6 dan 3 adalah mesioklusi, neutronklusi atau distoklusi. Hubungan gigi 6
atas dan bawah yang normal (neutroklusi) dicapai bila tonjol mesiobukal gigi 6 atas terletak pada
groove bukal gigi 6 bawah. Hubungan gigi 3 atas dan bawah yang normal ( neutroklusi )
dicapai bila tonjol gigi 3 atas terletak diantara dan berkontak dengan lereng distal dari tonjol gigi
3 bawah dan lereng mesial dari tonjol bukal gigi 4 bawah.
Hubungan gigi - gigi depan dapat berupa :
a)
b)
dalamarah vertical
e. Vestibulum
Merupakan celah antara mukosa bergerak dan tidak bergerak. Vestibulum diukur dari dasar
fornix hingga hingga puncak ridge.
1.
Cara pemeriksaan
Diperiksa menggunakan kaca mulut (nomor 3). Pemeriksaan dilakuka pada regio posterior dan
anterior terutama pada bagian yang tak bergigi, dimulai dari fornix sampai puncak ridge.
Sedangkan pada daerah yang masih ada giginya, dari dasar fornix sampai ke tepi gingival.
a.
Vestibulum dalam
b.
Vestibulum dangkal
kacamulut.
2.
Fungsi
Untuk retensi dan stabilitas gigi tiruan. Vestibulum yang lebih dalam lebih retentive daripada
yang dangkal.
f. Bentuk Insisiv Pertama Atas
Susunan gigi pada tulang rahang membentuk sebuah lengkung yang memiliki bentuk dan ukuran
yang berbeda-beda tiap individu. Lengkung gigi adalag garis yang menghubungkan titik kontak
antar gigi. Lengkung gigi didukung oleh setiap gigi yang terletak di dalam suatu basis tulang.
Bentuk lengkung berdasarkan bagian anterior kurve dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu :
ovoid, tepered, dan square. Ketiga bentuk lengkung memiliki kemiripan yang cukup tinggi
sehingga sulit dibedakan. Untuk parameter yang digunakan untuk menentukan hal-hal apa saja
yang mempengaruhi bentuk rahang yaitu interkaninus, intermolar, tinggi kaninus dan tinggi
molar.
g. Frenulum
Frenulum yaitu lipatan jaringan lunak yang menahan pergerakan organ yang dapat bergerak,
termasuk lidah.
Frenulum labialis pada rahang atas dan bawah dan frenulum lingualis pada
rahang bawah merupakan struktur yang perlekatannya seringkali dekat dengan puncak residual
ridge
1.
Cara Pemeriksaan
Sedang
Rendah
2. Fungsi
Untuk retensi dan estetik. Frenulum yang tinggi dapat meng-ganggu penutupan tepi (seal)
dan stabilitas geligi tiruan.
h.
Bentuk Ridge
Cara pemeriksaan
Cara memeriksa bentuk ridge adalah dengan palpasi ridge pada bagian edentulus.
Terdapat empat macam bentuk ridge antara lain :
[Link]
ovoid
tapering
flat
: tidak menguntungkan
2.
Fungsi
Bentuk ridge berhubungan dengan retensi dan stabilitas. Bentuk ridge square mempunyai
retensi yang paling baik karena mempunyai luas penampang yang luas. Bentuk ridge ovoid
mempunyai stabilitas yang baik. Bentuk ridge tapering, memerlukan relief agar dapat retentif .
Bentuk ridge flat merupakan bentuk yang paling tidak menguntungkan terhadap retensi dan
stabilitas.
i. Bentuk Dalam Palatum
Berfungsi untuk retensi dan stabilitas. Terdapat empat bentuk palatum, yaitu :
1)
2)
Ovoid : menguntungkan
3)
4)
j. Torus Palatina
Merupakan tonjolan tulang yang terdapat pada garis tengah palatum. Fungsinya untuk stabilisasi
gigi tiruan. Torus palatina ini ada yang besar, sedang dan kecil. Pemeriksaannya dengan
memakai burnisher, denngan menekan beberapa tempat sehingga dapat dirasakan perbedaan
kekenyalan jaringan.
k. Torus Mandibula
Cara pemeriksaannya sama seperti torus palatinus, pemeriksaan dengan cara menekan daerah
palatum menggunakan burnisher. Bila terasa ada daerah keras dan daerah tersebut berwarna
putih bila ditekan maka terdapat torus mandibularis.
Kehadiran torus mandibularis dapat mempersulit upaya untuk memperoleh gigi tiruan yang
nyaman karena tepi-tepi gigi tiruan langsung menekan mukosa yang menutupi tonjolan tulang
tersebut. Dalam hal demikian perlu dilakukan pengambilan torus secara torektomi. Biasanya
dilakukan pengambilan pada tulang ini bila pada pemasangan gigi tiruan dirasakan bisa
mengganggu kestabilan gigi tiruan tersebut.
l. Tuber Maxilaris
Disini dapat dilihat besar, sedang atau kecilnya dari satu sisi maupun dua sisi. Bentuk tuber
maxilaris yang besar sangat berguna untuk retensi gigi geligi tiruan didaerah undercut. Apabila
hanya besar pada satu sisinya dapat diatasi dengan mencari arah pasangnya.
m.
Eksostosis
Merupakan tonjolan tulang pada prossesus alveolaris yang berbentuk membulat seperti tonus
palatinus, torus mandibula serta tajam akibat pencabutan gigi bila diraba, terasa sakit dan tidak
dapat digerakkan.
Cara pemeriksaannya dengan melakukan palpasi, bila terdapat eksostosis dan mengganggu
fungsi gigi tiruan maka dilakukan tindakan pembedahan (alveolektomi) atau di relief. Fungsi
diadakannya pemeriksaan ini untuk mengetahui ada atau tidaknya tulang menonjol dan terasa
sakit akibat pencabutan yang tidak beraturan dan dapat mempengaruhi pemakaian gigi tiruan.
n. Rongga Retromylohyoid
Merupakan perlekatan otot didaerah antara molar 2 dan molar 3 disebelah lingual. Daerah ini
penting untuk penting untuk daerah retensi gigi tiruan. Pemeriksaannya dilakukan pada daerah
lingual didaerah gigi M2 dan M3 rahang bawah dengan kaca mulut. Kaca mulut yang terbenam
lebih setengahnya menunnjukkan daerah retro yang dalam, retro dangkal: kaca mulut terbenam
kurang dari setengahnya, retro sedang : kaca mulut terbenam kira-kira setengahnya.
Rencana Perawatan GTP
Tahapan rencana perawatan
Preparasi Mulut
Secara garis besar, sebetulnya ada dua tahapan preparasi mulut, yaitu yang pertama,dalam
proses ini biasanya langkah-langkah pendahuluan, seperti tindakan bedah, perawatan
periodontal, konservatif termasuk endodontic,bahkan ortodontil perlu dilaksanakan untuk
mempersiapkan mulut pasien menerima geligi tiruan yang akan dipakai. Kedua, mulut pasien
perlu dipersiapkan untuk pemasangan geligi tiruan yang akan dibuat.
Tindakan Bedah Pra Prostetik
Persiapan tindakan bedah, seperti pencabutan gigi, pembedahan gigi impaksi, tulang atau
jaringan hendaknya dilakukan secepat mungkin. Prosedur bedah ini harus diselesaikan jauh
sebelum pembuatan protesa dilakukan, supaya penyembuhan optimal bias tercapai.
Perawatan konservatif
Perawatan konservatif atau restorative dengan demikian tidak terbatas hanya kepada perawatan
karies saja, tetapi juga harus :
a. Memberikan kekuatan yang cukup serta cukup tebal untuk preparasi sandaran oklusal
b. Mengurangi ruang interproksimal yang berlebihan
c. Memberikan ruang oklusal yang cukup luas
d. Membentuk daerah gerong untuk retensi, bila daerah ini memang tak ada
e. Mendukung terpenuhnya factor estetik
f. Memberikan kontur gigi yang sesuai
Perawatan ortodontik
Perawatan periodontik
Prognosis Perawatan
Prognosis adalah suatu perdiksi terhadap kemungkinan keberhasilan dalam suatu perawatan yang
dibuat berdasarkan pengetahuan tentang patogenesis penyakit dan faktor-faktor resikonya.
Prognosis ditentukan sesudah diagnosis ditetapkan dan sebelum perawatan dilakukan. Dalam
menentukan prognosis, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, antaralain:
a.
Faktor klinis, seperti usia pasien, keparahan penyakit dan kerja sama pasien.
b.
c.
Faktor lokal seperti oral hygiene, faktor anantomis dan faktor prostetik.
Menurut M.M. House (1937), prognosis perawatan di tentukan oleh karakter pasien :
1. Philosopical Mind
o
Prognosis : Baik.
2. Exacting or Critical Mind
Serba teratur, terlalu hati-hati, ingin segala sesuatu secara tepat, kadang-kadang
keseehatannya buruk.
o
Prognosis : Baik jika sikap kritis dan tendensinya sepadan dengan kecerdasannya.
3. Hysterical Mind
o
Prognosis : Buruk, kecuali jika penerangan dan instruksi berhasil dengan baik.
Keparahan masalah
Sikap pasien
2.
3.
Terdapat enam atau lebih gigi-gigi anterior rahang bawah, kelas 1 Kennedy, dan
kehilangan tulang posterior mandibula yang parah
4.
Dimensi vertikal yang sangat jauh dari ideal, terdapat pengurangan sekitar 15 mm
5.
Gambar 1. Pasien dengan kehilangan seluruh gigi rahang atas dan hanya terdapat gigi-gigi anterior pada rahang
bawah
sindrom kombinasi menjelaskan terdapat lima tanda atau gejala yang umum terjadi pada sindrom
ini, yaitu:
1. Kehilangan tulang dari linggir maksila anterior
2. Pertumbuhan yang berlebih dari tuberositas
3. Hiperplasia papila pada palatum keras
4. Ekstrusi gigi-gigi anterior rahang bawah
5. Kehilangan tulang di bawah landasan gigi tiruan sebagian
Sedangkan, Saunders et al menjelaskan terdapat enam tanda atau gejala klinis yang berhubungan
dengan sindrom ini, yaitu:
[Link] dimensi vertikal dari oklusi
[Link] dataran oklusal
[Link] mandibula ke anterior
[Link] yang buruk dari gigi tiruan
[Link] fissuratum
[Link] periodontal
Gambar 3. Enam tanda klinis yang sering ditemukan pada pasien dengan kehilangan seluruh gigi rahang atas dan
kehilangan sebagian gigi rahang bawah
Ketika ketinggian tulang dan linggir di bagian anterior berkurang, tuberositas di bagian
posterior turun ke bawah. Ada teori yang menyebutkan bahwa tekanan negatif dari gigi tiruan
lengkap rahang atas menarik tuberositas ke bawah seiring dengan naiknya linggir anterior karena
oklusi di bagian anterior. Linggir bagian posterior rahang atas akan menjadi lebih lebar sesuai
dengan
perkembangan
tuberositas
fibrous
yang
membesar.
Menurunnya
tuberositas
menghasilkan tekanan berlebih pada linggir posterior rahang bawah dan menyebabkan resorpsi
pada linggir posterior rahang bawah. Dengan adanya perubahan ini, dataran oklusal berpindah
lebih ke atas pada regio anterior dan ke bawah pada regio posterior.
Gambar 7. Model diagnostik yang memperlihatkan penurunan linggir pada regio anterior rahang atas dan regio
posterior rahang bawah, serta membesarnya tuberositas maksila
Gerakan tipping pada bagian anterior gigi tiruan lengkap rahang atas dan gerakan yang
lebih menurun pada bagian posterior akan mengurangi kontak pada gigi-gigi anterior rahang
bawah, sehingga setelah beberapa lama gigi-gigi anterior rahang bawah akan ekstrusi. Kemudian
terjadi ketidaksesuaian dataran oklusal dan pasien dapat mengalami kehilangan dimensi vertikal
yang sesuai. Estetik menjadi buruk karena pada pasien tidak tampak gigi-gigi anterior rahang
atas, akan tetapi gigi-gigi anterior rahang bawah justru lebih banyak terlihat dan dataran oklusal
turun untuk membebaskan gigi-gigi posterior rahang bawah.
Gambar 10. Gigi tiruan anterior rahang atas tidak terlihat di bawah bibir atas pasien
Menghindari kombinasi dari gigi tiruan lengkap rahang atas yang berkontak
dengan gigi rahang bawah kelas 1 Kennedy
2.
3.
[Link] klinis dan radiografis baik jaringan keras maupun lunak yang berhubungan dengan
penggunaan gigi tiruan
[Link] dari beberapa tanda-tanda inflamasi, jika ada
[Link] kemungkinan dari karies pada pasien-pasien pengguna gigi tiruan, status
periodontal, dan kebersihan mulutnya
[Link]-faktor yang diperlukan gigi sebagai penyangga (vitalitas gigi, perubahan morfologi gigi,
jumlah akar, dukungan tulang, kegoyangan gigi, perbandingan mahkota-akar, ada/tidak dan
posisi restorasi, posisi gigi di dalam lengkung, kemampuan retensi dan guide plane)
Perawatan konvensional sindrom kombinasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
hanya dengan perawatan prostodontik saja, atau dengan kombinasi perawatan prostodontik dan
bedah pra-prostetik.
merawat pasien-pasien sindrom kombinasi adalah untuk mendapatkan dataran oklusal yang lebih
baik yang mana terjadi penekanan oklusal pada regio anterior rahang atas, baik pada posisi
sentrik maupun eksentrik.1 Beberapa perawatan objektif khusus yang disebutkan antara lain:
1. Gigi tiruan sebagian lepasan rahang bawah harus memberikan dukungan oklusal yang positif
dari gigi-gigi asli dan memiliki penutupan maksimal pada landasan yang diperluas ke arah distal.
Hal ini sebanding dengan pendapat Kelly, yaitu landasan gigi tiruan sebagian rahang bawah
sebaiknya diperluas seluruhnya dan harus menutupi retromolar pad dan area buccal shelf
2. Desain gigi tiruan harus kaku dan menghasilkan stabilitas yang maksimal
3. Dataran oklusalnya harus berada tepat saat posisi relasi sentrik dan sesuai dengan dimensi
vertikal
4. Gigi-gigi anterior sebaiknya hanya digunakan untuk kebutuhan fonetik dan estetik saja
5. Gigi-gigi posterior sebaiknya dalam oklusi yang berimbang
Pada tahun 1985, Stephen M. Schmitt menjelaskan pendekatan perawatan yang dapat
meminimalkan perubahan atau kerusakan, dengan menggunakan perawatan objektif yang
dikemukakan Saunders et al, yaitu:
1.
2.
3.
Gigi resin akrilik digunakan untuk menggantikan gigi anterior rahang atas
4.
Agar pasien dapat melakukan gerakan menggiling dengan baik, inklinasi cuspal tidak
mungkin sama dengan pasien-pasien lainnya, dan diperlukan teknik pembuatan khusus untuk
bagian oklusal gigi tiruan rahang atas. Lapisan cast gold pada bagian oklusal dapat digunakan,
tetapi harganya mahal dan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pembuatannya.
Pendekatan lain, yang telah berhasil dilakukan, adalah mengubah anatomi oklusal gigi tiruan
rahang atas dengan menggunakan light-cured resin komposit, atau amalgam.
perubahan-perubahan besar yang sudah ada sebaiknya dilakukan perawatan bedah terlebih
dahulu. Kondisi ini termasuk jaringan flabby (hiperplastik), hiperplasia papila, dan tuberositas
yang membesar. Gigi tiruan lengkap rahang bawah menghasilkan prognosis yang lebih baik pada
pasien sindrom kombinasi dan gigi-gigi asli anterior rahang bawah ada keterlibatan periodontal.
Gigi tiruan dengan penyangga implant menghasilkan retensi, stabilisasi, fungsi, dan kenyamanan
bagi pasien serta lebih stabil saat oklusi. Untuk melakukan prosedur ini prostodontis harus
berkonsultasi dengan ahli bedah mulut. Tahun 2001, Wennerberg et al melaporkan keberhasilan
jangka panjang penggunaan implant di rahang bawah sebagai penyangga protesa fixed yang
berlawanan dengan gigi tiruan lengkap lepasan rahang atas.
Basis
Merupakan bagian gigi yang menggantikan tulang alveolaryang sudah hilang, dan berfungsi
mendukung (elemen) gigi tiruan. Di desain sesuai di atas sisa alveolar ridge dan disekitar
gingiva.
2.
Flange
Bagian dari basis yang membentang diatas mukosa, melekat dari margin servikal gigi hingga
batas gigi tiruan
3.
Post Dam
Berupa pembuatan bendungan di depan vibrating line yang menghubungkan kedua hamular
notch. Postdam dibuat berbentuk bead/alur dengan lebar 2 mm kedalaman 1-1,5 mm dan
semakin landai ke arah anterior. Ini merupakan bagian retensi dari gigi tiruan rahang atas yang
tergantung dari suction seal.
4.
Elemen atau gigi tiruan merupakan bagian geligi tiruan sebagian lepasan yang berfungsi
menggantikan gigi asli yang hilang. Dalam seleksi elemen ada metode pemilihan gigi anterior
dan posterior serta faktor-faktor yang harus diperhatikan, yaitu ukuran, bentuk, tekstur
permukaan, warna, dan bahan elemen.
basis gigi tiruan lepas. Bahan pelapis lunak permanen yang bersifat elastis dan kenyal dapat
diaplikasikan pada permukaan anatomis basis gigi tiruan lepas, sehingga akan diperoleh daya
tahan ridge terhadap tekanan pengunyahan, karena tekanan akan didistribusikan secara merata.
-
Alveolar Ridge
Alveolar ridge adalah jaringan pendukung utama basis gigi tiruan lepas untuk menahan
tekanan pengunyahan. Alveolar ridge terdiri dari mukosa yang menghadap gigi tiruan,
submukosa, periosteum dan tulang alveolar dibawahnya.(O Boucher Carl, 1975:7). Alveolar
ridge yang tajam adalah alveolar ridge yang bentuk puncaknya kecil dan sangat tajam akibatnya
tidak mampu menahan tekanan sebanyak alveolar yang masih lebar.(Zarb GA, 2002:78)
Resorpsialveolar biasanya terjadi secara merata, tetapi kadang-kadang resorbsi terjadi secara
tidak teratur dan berlebihan pada salah satu dimensi, sehingga alveolar ridge yang terbentuk
tidak sesuai untuk mendukung gigi tiruan sebagian lepas.(Hopkins, 1989:26). Alveolar ridge
permukaannya ditutupi oleh mukosa tipis yang atropi dan
bila terkena tekanan pengunyahan akan menimbulkan rasa sakit sehingga pasien merasa tidak
nyaman.
Macam-macam Bentuk Alveolar Ridge
Menurut (Itjiningsi, 1996:8, Sudiono & Anggraeni,2001:166) macam-macam bentuk alveolar
ridge adalah sebagai berikut:
1.
Alveolar ridge dengan bentuk U yaitu dimana permukaan labial atau bukal sejajar
dengan permukaan lingual atau palatal.(gambar 1)
2.
Alveolar ridge dengan bentuk V yaitu dimana ridge dengan puncak sempit, dan
kadang-kadang tajam seperti pisau.(gambar 2)
3.
Alveolar ridge dengan bentuk jamur atau bulbous atau omega yaitu dimana
bentuknya membesar atau melebar di puncaknya. Bentuk jamur berleher dan
menimbulkan undercut.(gambar 3)
mempunyai keuntungan yang sama seperti bentuk U tetapi adanya gerong akan menyulitkan
dan menimbulkan rasa sakit pada saat geligi tiruan dipasang ataupun saat dilepas. Bila dilakukan
peredaan akan menjadi tempat penimbunan sisa makanan dan kebocoran karena seal
terganggu. Akibatnya geligi tiruan akan kehilangan kekokohannya. Bila terdapat bentuk Jamur
pada kedua sisi harus dikoreksi secara bedah.
Menurut (Syafrinani dan ismet, 2001 : 249, Sudiono dan Anggraini, 2001:165) pada dasarnya
factor-faktor yang mempengaruhi resorpsi dapat dikelompokan dalam tiga kelompok,yaitu :
1.
Faktor anatomik ; termasuk dalam factor ini adalah struktur tulang alveolar, ukuran dan
bentuk residual alveolar ridge, kualitas tulang alveolar, serta kualitas mukosa diatas tulang
alveolar.
2.
3.
Factor mekanik/fungsi ; dipengaruhi oleh besar,arah dan frekuensi tekanan yang bekerja
Batas Anantomis merupakan batas-batas yang harus didapatkan pada saat mencetak
untuk mendapatkan retensi dan stabilisasi pada gigi tiruan. Adapun batas batas
anatomis dari rahang itu sendiri diabagi menjadi dua bagian yaitu :
Rahang Atas :
1. Frenulum labii superior
2. Ruggae palatina
3. Frenulum buccalis
4. Tuberositas maxillae
5. Hamular notch
6. Vibrating line
7. Processus alveolaris
8. Incisivus papilae
9. Fornix
10. Vovea palatine
Rahang bawah :
1. Frenulum labii inferior
2. Frenulum buccalis
3. Vestibulum buccalis
4.
5.
6.
7.
Retromolar pad
Frenulum lingualis
Processus alveolaris
Mylohyoid line
Batas-Batas Anatomis
a. Rahang atas
Frenulum Labialis
Terlihat sebagai lipatan dari membrane mukosa meluas dari lapisan mukosa bibir
kearah puncak sisa ridge permukaan [Link] ini dapat sempit atau lebar,pada
Frenulum bukalis
Terletak disebelah bukal prossesus alvolaris,di sebalah anterior vestibulum bukalis
dan disebelah posterior vestibulum labialis frenulum ini akan bergerak kearah
anterior dan posterior otot otot anguli oris,buksinator dan obricularis [Link]
yang terbentuk pada hasil cetakan akan memberikan kebebasan gerak otot-otot wajah
sisa
alveolar,terjadinya resorbsi secara progresif pada sisa elveolar menjadi terjadi lebih
sempit dan lebih pendek sedangkan sisa alveolar yang ideal mempunyai yang lebar
dan lereng yang [Link] sisa alveolar puncak menjadi lebih tajam
akibatnya tidak mampu menahan tekanan [Link] tulang alveolar sempit
Alveolar tuberkel
Terletak disebelah disebelah distal dari sisa [Link] sayap bukal didaerah disto bukal
dari tuberkel,kadang terletak perlekatan otot yang [Link] dapat bila pasien membuka
mulut dan menggerakan rahang ke lateral, akan terbentuk sayap disto bukal oleh tepi
anterior dari prossesus [Link] cetakan terlihat sebagai suatu peninjolan
palatum lunak.
Posterior palatal seal
Batas posterior viting survace adalah vibrating line(AH Linekan garis khayal yang
menandai batas akhir permukaan palatum. Vibrating line ada 2 regio
Vibrating line anterior(VLH)
Garis khayal terletak pada batas palatum durum dan palatum molle.
Vibrating line posterior(VLP)
Merupakan batas atau garis khayal antara bagian palatum molle yang gerakanya
sedikit(kecil dan terbatas ) dengan bagian palatum molle yang jelas waktu gerakan
fungsional(aktif)
b. Rahang bawah
Frenulum labialis
Terlihat sebagai lipatan dari membrana [Link] cetakan berupa suatu
kaninus.
Retromolar pad
Daerah berbentuk buah per kecil,hasil cetakanya terlihat sebagai cekungan berbentuk