Subhan Aristiadi R
240210110021
IV.
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Roti adalah produk makanan dari fermentasi terigu (tepung gandum) dengan
ragi atau pengembang lainnya kemudian dipanggang. Roti merupakan convenient
food yang memiliki dua lapisan utama, yaitu lapisan pertama merupakan crust (kulit
roti) yang biasanya berwarna coklat keemasan sebagai akibat reaksi karamelisasi dan
hilangnya air dari permukaan roti sebagai akibat pemanggangan. Lapisan kedua
adalah crumb (daging roti) yang biasanya berwarna putih (Herudiyanto, 2008).
Praktikum yang dilakukan kali ini adalah pembuatan berbagai macam roti,
diantaranya roti tawar open top, roti tawar sandwich, roti burger dan baguette. Bahan
bahan yang umumnya digunakan dalam pembuatan roti adalah tepung, air, ragi,
bread improver, gula, lemak, telur, susu, garam, dan bahan tambahan lainnya.
Tepung terigu merupakan bahan baku pembuatan roti yang berasal dari biji
gandum. Air dapat memungkinkan terbentuknya gluten yang merupakan protein yang
terbentuk bila tepung dicampurkan dengan air. Air juga dapat melarutkan garam,
menahan dan menyebarkan bahan-bahan bukan tepung secata seragam serta
memungkinkan terjadinya kegiatan enzim. Ragi (Saccharomyces cereviseae)
berfungsi untuk mengembangkan adonan dengan menghasilkan gas CO 2 dan
memperlunak gluten dengan asam yang dihasilkan, serta memberi rasa dan aroma
pada roti. Bread improver adalah bahan-bahan yang dapat meningkatkan kualitas roti.
Gula berfungsi sebagai makanan ragi, gula akan memberikan warna coklat
pada kulit dan rasa manis pada roti. Lemak berfungsi untuk menghasilkan daging roti
yang lembut dalam penambahan jumlah tertentu. Telur digunakan untuk memoles
bagian atas roti agar terlihat mengkilap, selain itu, kuning telur dapat berperan
sebagai emulsifier. Susu yang ditambahkan pada pembuatan roti berfungsi untuk
menghasilkan tekstur roti yang lembut dan rasa yang gurih. Garam berperan dalam
menstabilkan gluten dan memungkinkan toleransi yang lebih baik pada proses
fermentasi
5.1
Roti Tawar Open Top
Roti tawar open top merupakan salah satu jenis roti tawar yang memiliki
bentuk melingkar pada bagian atasnya karena dibiarkan mengembang saat
dipanggang. Pembuatannya dilakukan dengan cara mencampur bahan-bahan yaitu
Subhan Aristiadi R
240210110021
tepung terigu, ragi, gula, dan susu bubuk dalam mixer kemudian ditambahkan air
sedikit-sedikit hingga adonan tidak lengket lagi. Penimbangan bahan harus tepat agar
nantinya roti memiliki karakteristik yang sesuai dengan yang diinginkan. Setelah itu
dimasukkan mentega putih dan garam, kemudian diaduk rata. Pencampuran garam
tidak dilakukan bersamaan dengan ragi karena garam bersifat dapat menghambat
daya kerja ragi. Selanjutnya adonan diuleni dengan tangan sampai kalis.
Proses pencampuran bahan bertujuan untuk pembentukan adonan yang
ditandai dengan terbentuknya adonan yang lembut, elastis, ekstensibel dan nampak
kering serta tidak lengket. Pencampuran dianggap selesai bila adonan sudah menjadi
kalis yaitu lembut, elastis, kering, serta resisten terhadap peregangan (tidak mudah
sobek). Setelah adonan kalis, adonan didiamkan selama 10 menit lalu dibulatkan,
selanjutnya adonan didiamkan selama 15 menit di tempat tertutup untuk proses
fermentasi yang bertujuan untuk pematangan adonan sehingga adonan mudah
ditangani dan dapat menghasilkan produk bermutu baik dan bercita-rasa baik. Hal
yang terpenting saat fermentasi adalah kondisi lingkungan suhu dan kelembapan
ideal. Setelah dilakukan fermentasi, adonan dikempiskan untuk menghilangkan atau
membuang gas CO2 dan mempermudah pengisian adonan. Lalu adonan didiamkan
kembali selama 15 menit, dan kempiskan kembali. Tujuan dari pengempisan ini
adalah menghentikan sementara proses fermentasi karena adonan akan dipotong dan
ditimbang. Jangan menguleni adonan yang sudah difermentasikan karena pori-pori
yang sudah terbentuk akan menjadi rusak dan serat yang terbentuk menjadi hilang
(Anonima, 2009).
Selanjutnya adonan dimasukkan ke dalam loyang yang telah diolesi mentega
agar tidak lengket, lalu dimasukkan ke dalam proofer selama 1 jam. Proofing
bertujuan untuk pengistirahatan adonan agar lebih mudah ditangani pada proses
selanjutnya. Pada tahap ini adonan akan melanjutkan proses fermentasi sehingga
adonan kembali elastis setelah kehilangan gas, teregang dan terkoyak. Proses terakhir
adalah pemanggangan dalam oven selama 20-25 menit pada suhu 220oC, lalu
didinginkan untuk selanjutnya diamati.
Proofing merupakan satu tahapan dalam proses pembuatan roti, yang artinya
pengistirahatan adonan setelah proses fermentasi berlangsung. Tujuannya, agar
Subhan Aristiadi R
240210110021
adonan mengembang lebih maksimal. Sebelum proofing, biasanya adonan telah
ditimbang menjadi bagian kecil, dan dibulatkan terlebih dulu. Waktu proofing
sebaiknya
antara 15-20 menit.
Jika berlebih, akan terjadi over proofing yang
menyebabkan tekstur roti menjadi terlalu lunak (tidak kokoh) ([Link],
2010).
Roti tawar open top yang telah dibuat berbentuk membukit di bagian atasnya
dan berpoti. Pengembangan adonan ini disebabkan oleh fermentasi yang
menghasilkan gas CO2. Gluten dalam tepung terigu yang digunakan memegang peran
penting dalam pengembangan adonan, yaitu gluten yang terbentuk dari 2 protein
tepung gandum lain dapat membentuk adonan sebesar 85%, dan memiliki
kemampuan untuk mengembang dengan bantuan udara, uap air, karbondioksida
menghasilkan sifat elastic dari glutenin dan fluidity dan stickyness dari gliadin.
Adonan yang terbentuk kurang bertekstur kenyal, meskipun telah diberikan
penambahan tepung dan air dalam waktu yang cukup lama karena proses mixing
adonan yang kurang sempurna. Adonan yang bantat juga dapat disebabkan
pengembangan oleh ragi yang kurang maksimal, dapat juga disebabkan tidak
ditambahkan telur.
Warna dari roti tawar open top ini adalah coklat keemasan pada bagian
atasnya, krem kekuningan pada bagian dalam (daging) roti. Warna coklat keemasan
pada bagian atas roti ini disebabkan oleh reaksi karamelisasi dan hilangnya air pada
permukaan roti saat proses pemanggangan. Warna crust (bagian luar roti) dipengaruhi
oleh suhu oven, fermentasi adonan, aktivitas enzim dan lama pemanggangan, warna
putih kekuningan pada bagian bawah terjadi karena pemanggangan yang kurang dari
bagian atas karena terhalang oleh loyang yang digunakan. Warna krem kekuningan
pada bagian dalam (daging) roti (crumb) terbentuk dari tepung terigu yang digunakan
dan tergantung dari kualitas pigmen tepung tersebut.. Kecerahan daging roti
tergantung pada pengembangan ukuran dan bentuk sel udara yang seragam (Lange
dan BBC, 2004).
Aroma dan rasa roti open top yang dibuat adalah khas roti dan agak gurih.
Aroma pada roti terbentuk oleh ragi pada proses fermentasi dan susu yang
ditambahkan saat proses pembuatan. Sedangkan rasa, terbentuk dari fermentasi oleh
Subhan Aristiadi R
240210110021
ragi yang memiliki rasa khas susu yang memiliki rasa gurih dan gula yang
memberikan rasa manis. Tekstur dari roti ini agak keras pada bagian luar dan empuk
pada bagian dalam, selain itu roti tawar ini tidak remah, yang menandai bahwa roti
berkualitas baik. Tekstur keras pada bagian luar dipengaruhi oleh kadar air yang lebih
rendah dibandingkan pada bagian dalam roti.
5.2
Roti Tawar Sandwich
Roti tawar sandwich merupakan roti berlapis yang biasa digunakan untuk
membuat sandwich. Perbedaan roti tawar sandwich dengan open top yaitu roti tawar
sandwich adalah bentuknya yang kotak tanpa ada bagian melingkar dan
pembuatannya yang melalui proses penggulungan terlebih dahulu. Cara membuat roti
tawar sandwich adalah dengan membuat adonan yang terdiri dari tepung terigu, ragi,
gula pasir, dan susu bubuk.
Adonan tersebut diaduk rata sambil ditambahkan dengan air sedikit demi
sedikit hingga rata di dalam mixer. Selanjutnya dicampurkan dengan mentega putih
yang berfungsi sebagai pengempuk adonan, dan garam sebagai penstabil gluten.
Adonan diaduk rata hingga kalis dan diamkan selama 10 menit keadaan tertutup agar
adonan mengembang. Setelah adonan mengembang, kempiskan kembali dan diamkan
selama 15 menit lalu kempiskan lagi. Adonan kemudian dibagi menjadi 5 bagian,
diratakan lalu digulung dan disusun di dalam loyang yang sudah diolesi mentega.
Penggulungan yang pada awalnya renggang ini selanjutnya akan mengetat dan
membentuk potongan roti yang khas pada saat dipanggang. Selanjutnya loyang
ditutup setengah bagian, lalu didiamkan di dalam proofer selama 1 jam hingga
pengembangan. Setelah itu adonan diolesi dengan kuning telur untuk mengkilapkan
permukaan roti, lalu loyang ditutup penuh dan dipanggang di dalam oven selama 2025 menit pada suhu 220oC, suhu umum pemanggangan roti. Kemudian roti
didinginkan dan diamati.
Adonan roti berwarna kuning kecoklatan, beraroma khas ragi, tekstur elastis
pada panjang 7,8 cm, lunak, dan kalis. Setelah penambahan mentega dan garam,
adonan berwarna lebih kuning kecoklatan, beraroma khas ragi, tekstur elastis pada
panjang 8 cm, lebih lunak, dan kalis. Adonan bertambah lunak dan elastis karena
terigu telah mengikat air membentuk gluten yang bersifat elastis dan penambahan
Subhan Aristiadi R
240210110021
mentega atau lemak menyebabkan adonan lunak. Adonan yang telah di proofing
warnanya akan lebih kuning kecoklatan dan teskturnya lebih lunak dan lembut. Saat
proofing adonan difermentasi dan dikembangkan lagi sehingga bertambah elastis dan
dapat mengembang setelah banyak kehilangan gas, teregang dan terkoyak pada
proses pembagian adonan.
Roti tawar sandwich yang telah dibuat memiliki bentuk kotak seperti balok.
Bentuk ini didapat berdasarkan loyang yang digunakan pada proses pembuatan.
Warna rotinya coklat keemasan pada bagian crust dan putih pada bagian crumb.
Seperti yang sebelumnya dijelaskan pada roti tawar open top, crust berwarna coklat
keemasan karena reaksi karamelisasi bahan gula dan hilangnya kadar air dari
permukaan. Sedangkan warna putih pada crumb terbentuk dari tepung terigu yang
digunakan.
Aroma roti tawar sandwich adalah khas [Link] khas roti terbentuk dari
hasil fermentasi ragi dan susu. Rasa roti ini tawar dan sedikit gurih, rasa ini terbentuk
dari fermentasi ragi, gula dan gurih dari susu, dan juga terasa sedikit asam. Tekstur
dari roti adalah keras pada bagian luar dan empuk pada bagian dalam karena pada
bagian luar kadar airnya lebih rendah dibandingkan dengan bagian dalam. Roti ini
juga memiliki pori yang berasal dari CO 2 yang dihasilkan dari proses fermentasi
dengan ragi. Keremahan pada roti ini adalah tidak remah, keremahan ini berkaitan
dengan penambahan lemak atau mentega karena lemak berfungsi sebagai pelumas
sehingga akan memperbaiki remah roti.
5.3
Roti Burger
Roti burger adalah jenis roti yang berbentuk bulat, umumnya digunankan
dengan dibagi dua dan diberi isian berupa daging, sayur, dan sebagainya, atau disebut
burger. Bahan yang digunakan dalam pembuatan roti burger ini sama seperti roti
tawar open top dan roti tawar sandwich. Perbedaannya adalah bentuk roti burger yang
bulat dan ukurannya yang kecil, yaitu hanya untuk 1 porsi.
Proses pembuatan roti burger ini adalah dengan mencampur bahan-bahan
tepung terigu, ragi, dan susu bubuk dalam mixer lalu diaduk sampai rata ditambahkan
air sedikit demi sedikit. Kemudian ditambahkan mentega putih dan garam dan diaduk
Subhan Aristiadi R
240210110021
hingga kalis. Adonan kemudian dikeluarkan dan diuleni dengan tangan sampai kalis.
Adonan selanjutnya ditimbang seberat 65 gram dan dibulatkan lalu dibiarkan
mengembang selama 10 menit. Setelah itu, adonan dikempiskan lalu dibulatkan lagi
dan disusun di atas loyang burger dan dibiarkan mengembang selama 40 menit di
dalam proofer. Tujuannya adalah agar adonan lebih mudah dibentuk dan lebih elastis.
Selanjutnya adonan diolesi dengan air dan ditaburi wijen, selanjutnya adonan
dipanggang pada suhu 220oC selama 20 menit. Kemudian roti didinginkan dan
diamati. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan data sebagai berikut:
Pencampuran tepung terigu, gula, susu bubuk, dan ragi akan menghasilkan
adonan dengan warna putih kekuningan, aroma yang mulai tercium namun tidak
begitu menyengat. Pembentukan aroma ini berkaitan dengan fermentasi ragi yang
merubah gula dan karbohidrat di dalam adonan menjadi gas karbondioksida (CO 2)
dan alkohol. Terbentuknya zat inilah yang menjadikan adonan mengembang dan
beraroma harum (Apriyantono, 2009). Adonan memiliki tekstur yang tidak elastis
saat ditarik membentang sepanjang 10 cm, lunak, dan lengket. Setelah penambahan
mentega putih dan garam lalu diaduk, warna adonan menjadi lebih putih kekuningan,
aromanya menyengat, teksturnya elastis, lebih lunak, dan menjadi kalis. Adonan
menjadi lebih lembut dan lunak dikarenakan penambahan mentega. Selain itu adonan
menjadi lebih elastis karena pada tahap ini partikel-partikel glutein terhidrasi karena
penambahan air dan pengadukan terus menerus menyebabkan terjadi kecenderungan
memanjang atau membentuk serabut-serabut (Winarno, 1983).
Roti burger yang dihasilkan berbentuk bulat, seperti yang diharapkan.
Warnanya kuning kecoklatan tidak merata dimana pada bagian crust berwarna coklat
keemasan dan putih pada bagian crumb. Perubahan warna tersebut merupakan hasil
reaksi karamelisasi saat pemanggangan. Tekstur dari roti adalah keras pada bagian
luar karena kadar air yang lebih rendah akibat penguapan air, dan lembut berpori pada
bagian dalam, lembut karena penambahan mentega putih dan pori yang berasal dari
hasil fermentasi yaitu karbondioksida. Aromanya khas roti yang dipanggang, berasal
dari ragi dan susu. Rasanya sedikit gurih karena ditambahkan susu dan manis karena
penambahan gula. Roti ini tidak beremah, yang berarti baik.
Subhan Aristiadi R
240210110021
5.4
Roti Baguette
Roti Baguette merupakan roti khas Perancis yang bentuknya lain dari roti
lainnya yaitu panjang dan ukurannya yang besar dan sangat renyah. Diameter standar
baguette kira-kira 5 cm 6 cm dengan panjang mencapai 1 meter (Anonimb, 2011).
Roti perancis ini dibuat dengan formula yang tidak mengandung lemak dari adonan
asam, berbentuk panjang berkerak tebal, keras, remahnya kurang dan berrongga.
(Herudiyanto, 2008)
Pembuatan roti baguette diperlukan bahan-bahan seperti tepung terigu, ragi
dan bread improver. Bread improver adalah bahan-bahan yang dapat membantu
meningkatkan kualitas roti dan ditambahkan ke dalam adonan. Dengan penambahan
bread improver dalam adonan ini memungkinkan produksi roti dengan kualitas yang
baik dalam waktu yang singkat (Herudiyanto, 2008).
Proses pembuatan roti baguette ini adalah dengan cara mengaduk rata tepung
terigu, ragi, dan bread improver dengan menggunakan mixer lalu ditambahkan air dan
garam perlahan-lahan hingga adonan kalis. Selanjutnya adonan ditimbang seberat 340
gram dan dibentuk bulatan dan panjang. Setelah itu adonan didiamkan didalam
proofer selama 1 jam. Kemudian adonan di sayat pada permukaannya dan di
panggang di dalam oven bersuhu 220oC yang ditambahkan uap selama 20 menit.
Setelah dipanggang roti didinginkan dan diamati.
Baguette yang dihasilkan berbentuk memanjang dan oval pada bagian
ujungnya. Warna crust dari baguette ini adalah kuning kecoklatan yang merupakan
hasil reaksi karamelisasi dan penguapan air dalam adonan. Crumbnya berwarna putih
gading sesuai dengan tepung yang digunakan dalam proses pembuatan. Tekstur dari
baguette ini keras pada bagian luar dan empuk pada bagian dalam. Tekstur baguette
ini lebih keras dibandingkan dengan roti lain karena tidak ditambahkan mentega
sebagai pelembut dan air yang tidak terlalu banyak. Aromanya khas roti, tanpa aroma
gurih dari susu karena memang tidak ditambahkan susu. Rasanya sedikit gurih dari
garam yang ditambahkan. Remahnya sangat remah, seharusnya baguette memiliki
remah yang kurang.
Subhan Aristiadi R
240210110021
Permasalahan yang umum dalam pembuatan roti adalah bantat. Istilah
tersebut dipakai untuk mencirikan roti yang teksturnya keras, tidak empuk serta tidak
mengembang (Widianarko, Pratiwi dan Retnaningsih, 2000). Cara-cara untuk
mengatasi bantat pada roti diantaranya :
1. Tepung yang dipakai mempunyai komposisi yang pas untuk roti.
2. Ragi yang digunakan jumlahnya mencukupi.
3. Waktu pengembangan cukup.
4. Pada pembuatan cake dan bolu, pengocokan telur dilakukan sampai
4.6
putih keras dan pencampuran gandum dilakukan secara hati-hati.
5. Dapat ditambahkan emulsifier.
Roti Pitta
Pita atau pitta (/iconpt/ PI-t) adalah sebuah roti kosong bulat yang banyak
dikonsumsi dalam berbagai masakan Timur Tengah, Mediterania, dan Balkan. Roti
ini terkenal di Yunani, Balkan, Levant, Jazirah Arab, dan Turki. Kantung udara di
dalam roti pita ini diciptakan oleh uap air yang mengembangkan adonannya. Ketika
roti mendingin dan menipis, kantung udara terbentuk di bagian tengahnya (Anonim c,
2013).
Pembuatan roti pitta terdiri dari bahan-bahan seperti ragi, gula, tepung
gandum, tepung cakra, garam, dan minyak. Proses pembuatan roti pitta yaitu 100 ml
air tambahkan gula dan ragi sambil diaduk, kemudian tambahkan tepung gandum dan
tepung cakra masing-masing 15 g terlebih dahulu. Lalu dilakukan proofing selama 15
menit. Sama seperti pembuatan roti lainnya, proofing pada pembuatan roti pita juga
bertujuan agar adonan mengembang lebih maksimal. Setelah 15 menit, adonan
diamati, lalu ditambahkan garam, minyak dan sisa tepung, aduk dengan sendok kayu
hingga kalis, lalu diamati. Kemudian setelah itu dilakuka pengembangan selama 1
jam lalu diamati kembali. Adonan dibentuk menjadi bentuk bulat pipih, dipanggang
pada suhu 220 oC selama 2 menit. Setelah itu, roti dibalik dan panggang selama 2
menit. Amati roti pitta yang terbentuk.
Adonan roti pita yang terbentuk setelah proofing 15 menit diamati berwarna
coklat muda, beraroma asam, apek, bertekstur elastis, lunak dan lengket. Proofing
yang dilakukan tidak boleh terlalu lama karena jika terlalu lama akan menyebabkan
adonan yang terlalu lunak (tidak kokoh). Di amati pada setelah penambahan garam,
Subhan Aristiadi R
240210110021
minyak dan sisa tepung, lalu diaduk hingga kalis, adonan masih berwarna coklat
muda, dengan aroma ragi dan bertekstur kenyal, empuk dan tidak lengket.
Penambahan garam, minyak dan sisa tepung tujuannya untuk menghilangkan sifat
lengket dan menambah sifat kenyal pada adonan, sebelum dilakukan pengembangan.
Setelah dilakukan pengembangan 1 jam, warna adonan berubah menjadi krem
berbintik coklat dengan aroma tepung sedikit asam, teksturnya kembali lengket.
Selama pengembangan, ragi berperan besar dalam membentuk adonan agar diperoleh
bentuk roti sesuai yang diinginkan. Tekstur yang kembali lengket disebabkan air yang
naik ke permukaan atas adonan karena aktivitas ragi. Kemudian, diamati setelah
adonan dipanggang, warna roti yang terbentuk yaitu putih kecoklatan berbintik dan
tidak beraroma. Warna yang memutih disebabkan panas yang diberikan selama
pemanggangan dan aroma yang hilang juga disebabkan uap air yang teruapkan
selama pemanggangan. Tekstur yang terbentuk sangat keras dan tidak lengket.
V.
KESIMPULAN
Bahan bahan yang umumnya digunakan dalam pembuatan roti adalah
tepung, air, ragi, bread improver, gula, lemak, telur, susu, garam, dan bahan
tambahan lainnya Setiap bahan memiliki fungsi yang berbeda-beda pada
pembuatan roti.
Sampel semua adonan yang telah dibulatkan dan didiamkan akan
mengembang akibat terjadinya fermentasi oleh ragi atau bread improver
untuk baguette.
Pengempisan adonan dilakukan untuk menghilangkan atau membuang gas
CO2 dan mempermudah pengisian adonan serta menghentikan sementara
proses fermentasi karena adonan akan dipotong dan ditimbang
Subhan Aristiadi R
240210110021
Roti tawar open top merupakan jenis roti tawar yang memiliki bentuk
melingkar pada bagian atasnya karena dibiarkan mengembang pada saat
pemanggangan.
Roti tawar sandwich merupakan roti yang digunakan untuk membuat
sandwich dan terdiri dari gulungan adonan yang mengembang dan
membentuk potongan khas roti.
Roti burger merupakan roti berbentuk bulat dan umumnya digunakan untuk
membuat burger.
Baguette merupakan roti khas perancis yang berbentuk panjang berkerak
tebal, keras, remahnya kurang dan berongga.
Subhan Aristiadi R
240210110021
DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2009. Tips Mengolah dan Memodifikasi Adonan Roti (Bag.2). Available
at: [Link] (Diakses tanggal 24 Maret 2015).
Anonimb. 2011. Sandwich. Available at : [Link] (diakses 24 Maret
2015).
Anonimc. 2013. Roti Pita. Available at: [Link] (diakses 24 Maret
2015).
Herudiyanto, M., dan Fitri, M. 2009. Teori dan Praktik Teknologi Pengolahan Roti
dan Kue. Penerbit Widya Padjadjaran, Bandung.
Lange, M., dan Bogasari Baking Center. 2004. Roti, Teori dan Resep
Internasional. PT. Gaya Favorit Press. Jakarta.
Widianarko, Budi., A Rika Pratiwi dan Retnaningsih. 2000. Roti Menjadi Bantat.
Unika Soegijapranata, Semarang.
JAWABAN PERTANYAAN
Subhan Aristiadi R
240210110021
1. Apa bahan utama dalam pembuatan roti ?
Jawab :
Tepung terigu
Ragi
Air
Bread improver
Gula
Lemak
Telur
Susu
Garam
2. Jenis tepung apa yang digunakan dalam pembuatan roti?
Jawab :
Tepung terigu berkadar protein tinggi. Hal ini dikarenakan dalam pembuatan
roti dibutuhkan tepung terigu yang mampu menyerap air dalam jumlah
banyak untuk mencapai konsistensi adonan yang tepat, dan memiliki
elastisitas yang baik untuk menghasilkan roti dengan remah yang halus,
tekstur lembut dan volume yang besar. Semakin tinggi kadar protein tepung
terigu maka semakin tinggi pula daya serap airnya.
3. Di Pulau Jawa apa nama merek jenis tepung terigu tersebut?
Jawab :
Cakra Kembar