ANALISIS DAN DESAIN STRUKTUR RANGKA ATAP
Gambar 1. Struktur Rangka Atap Baja
Dalam struktur kuda kuda, beban yang bekerja adalah beban merata yang berasal dari genteng,
reng, tekanan angin, maupun beban mati, dll. Dalam konstruksi kuda kuda batang tidak boleh
menerima beban, untuk itu beban merata tersebut di ubah menajadi beban terpusat yang akan di
arahkan pada titik buhul/simpul. Untuk mengubah beban merata tersebut digunakan gording
untuk mengubah beban merata menjadi beban terpusat.
Gambar 1.1 Skema Kuda kuda
Dalam pembebanan yang berlaku di Indonesia. Besarnya angin tiup yang bekerja pada struktur
atap diambil minimum sebesar 25 kg/m2 . Tekanan yang ada di tepi pantai hingga sejauh 5 km
dari tepi pantai diambil minimum 40 kg/m2 . Angin mempunyai pengaruh terhadap tekan dan
hisap, jadi beban yang bekerja pada struktur atap juga mempunyai beban angin tekan dan beban
angin hisap. Dimana harga tersebut didapat berdasarkan bentuk dan kemiringan atap.
Perhitungan di jelaskan dalam skema di bawah
Jika diketahui tekanan tiup angin : qw = ( 25 40 ) kg/m2 , kemiringan atap : a , jarak
rengka atap : L , jarak antar gording : Lg, maka besar tekanan angin hisap (Wh) angin tekan (Wt)
adalah
Angin tekan
: Wt = Lg . L . [( 002 . a + 0,4 )]. Qw
Angin hisap
: Wt = Lg . L . ( 0,4 . Qw )
Untuk keperluan perhitungan, beban terpusat pada titik simpul yang terjadi harus di urai menjadi
beban yang terarah Vertikal maupun Horisontal sebagai berikut
Tekanan angin (Wt) : Vt = Wt. cos
Tekanan angin (Wh) : Vh = Wh. cos
t = Wt. sin
h = Wh. sin
Beban mati pada struktur rangka atap terdiri dari berat sendiri rangka, beban penutup kap, usuk,
reng, gording, plafond, dan penggantung. Berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk
Gedung 1987, besar beban dari (genting, usuk, dan reng) adalah
(qa) = 50 kg/m2 , plafond dan penggantung (qp) = 18 kg/m
Untuk berat jenis baja = 7850 kg/m3, dengan demikianbesar beban terpusat pada titik buhul
adalah, Qa = [Link] dan akibat plafond Qp = [Link]
Gambar 1.2 Skema Pembebanan
Besarnya beban hidup akibat berat pekerja diperhitungkan sebesar Qh = 100 kg
Gambar 1.3 Skema Pembebanan
SOAL PERHITUNGAN ANALISIS DAN DESAIN KUDA KUDA
3
Suatu struktur rangka atap dari baja, mempunyai konfigurasi seperti pada gambar.
Sambungan antara batang menggunakan baut berdiameter 10 mm dan pelat buhul tebal 1 cm.
Panjang bentang dari rangka = 865 cm, tinggi rangka = 249.7 cm, dan jarak antara rangka atap :
B = 317.5 cm.
Untuk keperluan desain awal. batang tepi atas dan tepi bawah menggunakan profil siku
rangkap 2L.30.30.3 . Batang vertikal dan batang diagonal menggunakan profil siku rangkap
2L.30.30.3 , 2L.35.35.4. DAN 2L.40.40.6. Mutu profil baja yang digunakan adalah BJ.37,
dengan tegangan leleh (fy) = = 2400 kg/cm2.
Beban-beban yang diperhitungkan bekerja pada struktur rangka atap adalah beban angin
(qw) = 25 kg/m2, beban penutup atap (qa) = 50 kg/m2, dan beban plafon (qp) :::; 20 kg/m2.
Berat jenis baja = 7850 kg/m3 , modulus elastisitas baja E = 2100000 kg/cm2 , dan angka
poisson baja = 0,3.
Kombinasi pembebanan yang ditinjau pada analisis struktur adalah :
-
Pembebanan tetap
Pembebanan Sementara 1
Pembebanan Sementara 2
: Beban mati + beban hidup
: Beban mati + beban hidup + beban angin dari kiri
: Beban mati + beban hidup + beban angin dari kanan
Gambar 1.4 Penggunaan Profil Batang Kuda kuda
Langkah Perhitungan Menggunakan
4
SAP Non Linier 2000
Perhitungan Beban
Beban Angin (qw)
Jarak antara kuda kuda
Jarak antara gording (Lg)
Kemiringan atap ()
Tekanan Angin (Qt)
= 40 kg/m2
= 3.175 m
= 2.497 m
= 30
= Lg.B.[0.02.-0.4).qw]
= 2,497.3,175.[0,02.30-0,4).40]
= 63.424
Tekanan vertical (Vt)
Tekanan horizontal (Ht)
Hisapan angin (Qi)
= Qt cos
= Qt sin
= 63.424 x cos 30 = 54.927
= 63.424 x sin 30 = 31.712
= Lg.B.[(0,4).40}
= 2,497.3.175.[(0,4).40]
= 126.848
Hisapan vertikal (Vi)
Hisapan horizontal (Hi)
Beban Penutup atap (qa)
Beban Plafond
Penutup atap (qa)
= Qi cos
= Qi sin
= 126.848 x cos 30 = 109.853
= 126.848 x sin 30 = 63.424
= 50 kg/m2
= 18 kg/m2
= [Link]
= 1,[Link]
= 198.438
Penutup plafon (Qp)
= [Link]
=1,250.3,175.18
= 71,438
Besarnya beban hidup pada struktur rangka atap diperhitungkan sebesar Qh = 100 kg
LANGKAH PERHITUNGAN DAN PENERAPAN
5
PADA PROGRAM SAP
1.
Buka program SAP
Gambar 1.1 Dekstop Tampilan SAP
Muncul dialog sebagai berikut :
Gambar 1.2 Tampilan Program SAP
2. Ubah satuan awal dari Kip-in menjadi Kgf-cm
Gambar 1.3 Satuan Program SAP
3. Untuk membuat model awal, pilih File > New model
Gambar 1.4 Pembuatan Model Awal
4. Muncul tampilan sebagai berikut
Isi tabel dengan segmen skema kuda kuda
Gambar 1.5 Tab Koordinat Sistem
5. Ketika sudah didapat segmen nya, mulai membuat batang sebagai kuda kuda dengan
memilih icon di bawah (Draw Frame Element)
Gambar 1.6 Icon Membuat Frame
6. Rangkai sesuai titik sudut yang ada
Gambar 1.7 Pembuatan Skema Kuda kuda
7
7. Hingga membentuk gambar sebagai berikut :
Gambar 1.8 Kuda kuda dalam Program SAP
8. Berikutnya ubah material yang digunakan dengan cara Define > Materials
Ubah menjadi steel
Gambar 1.9 Pengaturan Material yang digunakan program SAP
9. Kemudian Static Load Cases... berikan nama beban mati dengan type Dead dan
masukkan angka 1 lalu beban hidup type Live dengan angka 0 sedangkan angin kanan
dan kiri satu per satu dimasukkan denagan type Wind dan angka 0 juga.
Gambar 1.10 Jendela Penggunaan Jenis Beban
Gambar 1.11 Tampilan Jendela Penggunaan Jenis Beban
10. Kombinasi pembebanan dapat diinput dengan cara Define > Load Combination
Define Load Combinations... Add New Combo
COMB1 untuk beban hidup dan mati dengan beban mati diberi angka 1,2 dan beban
hidup 1,6, pilih Use for Steel Design, OK.
Add New Combo lagi, COMB2 untuk beban mati, beban hidup dan angin kiri. Untuk
angin masukkan angka 1,4, OK.
Add New Combo lagi, COMB3 untuk beban mati, beban hidup dan angin kanan.
Gambar 1.12 Tampilan Jendela Kombinasi Jenis Beban
11. Dengan hasil sebagai berikut :
Gambar 1.13 Hasil Kombinasi Beban
10
12. Kemudian beri perletakan pada ujung buhul seperti pada gambar
Gambar 1.14 Simpul Perletakan Tumpuan
13. Dengan cara Assign > Joint > Restraints
Gambar 1.15 Cara memberi Tumpuan
14. Lalu pilih seperti pada gambar
Gambar 1.16 Tumpuan Sendi
11
15. Kemudian buat untuk profil yang akan digunakan dengan cara :
Define > Frame Sections
Gambar 1.17 Cara memberi jenis batang/Frame
Muncul dialog sebagai berikut
16. Lalu pilih dibagian click to pilih anak panah yang ke2 seperti pada gambar
Gambar 1.18 Tampilan pembuatan jenis batang
12
17. Pilih profil Double Angle
Muncul format
Gambar 1.19 Tampilan Batang Double L / double Angle
18. Untuk mengisi format di atas, angka didapat dari
- Outside depth (t3)
Adalah jarak dari atas hingga bawah dari plat L
Jadi t3 = ukuran panjang plat L kebawah + tebal sayap pelat
Gambar 1.20 Outside depth
Outside width (t2)
Adalah jarak dari ujung sayap satu ke sayap lain
Dengan rumus t2 = 2x lebar sayap + 2x tebal pelat + tebal pelat kopel
Gambar 1.21 Outside width
13
Horizontal leg thickness (tf)
Adalah tebal pelat horizontal / sayap pelat
Gambar 1.22 Horizontal leg thickness
Vertical leg thickness (tf)
Adalah tebal pelat vertical
Gambar 1.23 Vertical leg thickness
Back to back distance (dis)
Adalah tebal pelat kopel itu sendiri atau jarak antar punggung pelat
Gambar 1.24 Back to back distance
19. Untuk mengisi data di atas dibutuhkan tabel pelat baja
14
Sebagai contoh untuk membuat pelat double angle dengan ukuran 50x50x5mm
Dengan mengisi sebagai berikut
Gambar 1.25 Data data batang yang digunakan
20. Untuk mengisi beban menggunakan cara
Blok / select simpul yang akan di beri beban> Assign > Joint static loads > Forces
Gambar 1.26 Cara mengisi beban
Maka muncul tab
15
Gambar 1.27 Tampilan pengisian beban
21. Untuk mengisi beban, gunakan Force Global, sedangkan untuk (X,Y,Z) adalah arah dari
beban tersebut ,
Dalam hal ini gunakan beban Force Global Z ,karena beban searah dengan sumbu Z
dalam program SAP
Isikan dengan notasi tanda min / negative
Gambar 1.28 Tampilan pengisian beban
16
Karena arah beban menuju kuda kuda / arah kebawah, maka angka beban bernilai
negative
Kemudian OK
22. Kemudian pada perletakan diberi beban dari beban sebelumnya
Gambar 1.29 Penggunaan beban
Karena peruntukan beban pada perletakan bernilai
Gambar 1.30 Pembagian beban
17
23. Untuk beban plafond dipasang pada:
Gambar 1.31 Beban Plafond
Diberi beban dengan cara yang sama seperti cara sebelumnya
Dengan total beban
18
pp
Gambar 1.32 Beban yang digunakan
24. Untuk memasang profil yang telah dibuat, digunakan cara
Blok batang yang akan di pasang profil> Assign > Frame > Sections
Gambar 1.33 Pemasangan Profil Batang
Pilih batang yang diinginkan> OK
Maka akan muncul skema sebagai berikut :
Gambar 1.34 Hasil pemasangan batang
19
25. Kemudian untuk pengerjaan,
Pilih Analyze > Set Option
Gambar 1.35 Cara menjalankan perhitungan
26. Pilih XZ Plane > OK
Gambar 1.36 Mode dalam perhitungan
27. Kemudian Analyze > Run
Gambar 1.37 Cara menghitung dalam SAP
28. Tunggu proses berjalan hingga muncul tulisan
Gambar 1.38 Proses perhitungan SAP
20
29. Dengan hasil sebagai berikut
Gambar 1.39 Hasil Perhitungan
Gambar 1.40 Hasil keamanan dari gaya batang
21
Gambar 1.41 Hasil momen dari gaya batang
30. Dengan menggunakan profil baja
Gambar 1.42 Penggunaan profil batang
22
PERHITUNGAN SAP
RING BALOK DAN KOLOM LANTAI 2
Data teknis
23
Mutu Beton
: K200 (20 MPa)
Mutu Baja
: 240 MPa
Dimensi Ring Balok
: 15x20
Dimensi Kolom Lt.02
: 15x15
Berat Jenis Beton
: 2400 kg/m3
Berat Jenis Pas. Bata
:1700 kg/m3
Dari data yang didapat pada perhitungan SAP untuk kuda kuda baja, didapat
RAv maupun RBv. dalam hal ini RAv dan RBv dijadikan sebagai beban titik
yang menumpu pada ring balk, karena beban yang bekerja = reaksi yang
dihasilkan
Langkah Perhitungan Menggunakan Program SAP
1. Langkah pertama buka program SAP2000
Gambar 2.1 Tampilan dekstop
2. Maka muncul tampilan sebagai berikut
24
Gambar 2.2 Tampilan program SAP
Pilih OK , kemudian untuk membuat grid grid model dari ring balk.
3. Dalam hal ini penulis menggunakan grid seperti pada gambar
Gambar 2.2 Cara membuat model baru
4. Kemudian terbentuk grid dari hasil input sebagai berikut.
Untuk menggambar segmen dari ring balok itu sendiri, gunakan toolbar Draw
Frame Element
Kemudian ikuti titik (snap) perpotongan dari grid itu sendiri
25
Gambar 2.3 Cara penggambaran batang/Frame
Gambar 2.4 Hasil penggambaran Frame
5. Gambar bagian bagian balok hingga selesai
26
Gambar 2.5 Hasil akhir penggambaran frame balok
6. Untuk membuat material maupun dimensi, gunakan toolbar Define >>
Materials
Gambar 2.6 Cara mengubah material
7. Karena kita menggunakan ringbalok dari bahan beton, maka gunakan bahan
conc yang berarti Concreate yang artinya beton
Gambar 2.7 Tampilan tab material
27
8. Untuk membuat dimensi dari ring balok,
Define >> Frame Section
Gambar 2.8 Cara membuat batang(ring balok)
9. Pilih Add Rectangular untuk membuat ring balok
Gambar 2.9 Tampilan pembuatan batang
[Link] ukuran dari ringbalok , (menggunakan 15/20)
28
Gambar 2.10 Hasil akhir batang ring balok
[Link] assign dimensi yang kita buat ke dalam frame yang telah ada
Dengan cara Blok yang ingin di assign >> Assign >> Frame >> Section
Gambar 2.11 Memasang batang pada skema
29
Gambar 2.12 Cara Memasang batang pada skema
Gambar 2.13 Pemilihan batang pada skema
30
Gambar 2.14 Hasil pemasangan batang
Dengan hasil sebagai berikut
Gambar 2.15 Hasil akhir permodelan
[Link] buat kolom lantai 2 dengan cara yang sama seperti langkah di awal
31
Gambar 2.16 Pembuatan kolom lantai 2
[Link] Assign kolom dan buat dimensi kolom yang digunakan seperti cara
sebelumnya
Gambar 2.17 Pemasangan kolom
Gambar 2.18 Pembuatan dan pemasangan batang
32
Gambar 2.19 Hasil pemasangan batang pada permodelan
Dengan cara
Gambar 2.20 Cara pemasangan
14. Gunakan beban Kuda kuda pada perhitungan sebelumnya , dari reaksi
menjadi sebuah beban pada perletakan kuda kuda.
Gambar 2.21 Pemasangan beban kuda kuda
[Link] beban kuda kuda 576,48 (sebesar reaksi)
33
Karena arah ke bawah maka gunakan
Tanda negative
Gambar 2.22 pengisian beban kuda kuda
Gambar 2.23 Pengisian Beban Hidup
34
Gambar 2.24 Jenis beban
Gambar 2.25 Kombinasi jenis beban
[Link] beban kombinasi, antara beban mati dan beban hidup dengan
1.2 beban mati
1.6 beban hidup
Gambar 2.26pengisian kombinasi jenis beban
[Link] pilih beban kombinasi yang telah dibuat dengan cara
35
Select design Combo
Gambar 2.27 Pemasangan kombinasi jenis beban
[Link] semua diatur baik beban maupun batang
Run untuk mendapatkan hasilnya
Gambar 2.27 Cara proses perhitungan
[Link] adalah hasil Run
Gambar 2.28 Hasil perhitungan
[Link] Design >> Start Design untuk menampilkan hasil
36
Gambar 2.29 Cara menampilkan hasil kebutuhan momen
Gambar 2.30 Angka kebutuhan tulangan minimal
[Link] yang tertera adalah kebutuhan minimal tulangan
Gambar 2.31 Pengambilan sample angka kebutuhan tulangan terbesar
37
Untuk angka yang tercantum di atas adalah data kebutuhan tulangan minimal
Contoh
87.50
45.91
23,46
76,40
55,86
47,20
Ditentukan angka yang paling besar
87.50 jadi digunakan tulangan
2 buah diameter 10
= 2 x 78.5
= 157,00
Untuk luas tulangan kolom di samping 225
Adalah kebutuhan minimal luas tulangan
Kolom 15 x 15 menggunakan 4 buah tulangan pokok
Diameter 12 = 4 x 113.04
= 452.16
38
PERHITUNGAN SAP
BALOK DAN KOLOM LANTAI 1
Data teknis
39
Mutu Beton
: K200 (20 MPa)
Mutu Baja
: 240 MPa
Dimensi Ring Balok
: 20x30 , 15x25
Dimensi Kolom Lt.01
: 25x25
Berat Jenis Beton
: 2400 kg/m3
Berat Jenis Pas. Bata
:1700 kg/m3
Langkah Perhitungan Menggunakan Program SAP
Untuk menghitung pembebanan menggunakan SAP
1. Langkah pertama buka program SAP2000 (versi SAP2000 Student)
Gambar 3.1 Tampilan dekstop
2. Ubah satuan menjadi kg.m pad pojok kanan bawah
40
Gambar 3.2 segmen koordinat
3. Buat Grid untuk ukuran balok dan Kolom seperti diatas
Gunakan Icon di samping untuk membuat rangka
Gambar 3.3 Permodelan Balok dan kolom
4. Gambar rangka hingga menjadi gambar seperti di atas
Setelah rangka jadi, ubah material yang digunakan menjadi Conc
41
Gambar 3.4 Penggunaan material
5. Buat dimensi ukuran kolom maupun balok yang dibutuhkan
Dalam hal ini menggunakan Kolom ukuran (25x25)
Serta untuk balok menggunakan (20x30), (15x25)
KOLOM 25x25
BALOK 20x30
BALOK 20x15
42
Gambar 3.5 Jenis batang
6. Kemudian Assign ke batang yang telah ditentukan
Gambar 3.6 Jenis material yang digunakan
43
Gambar 3.7 Penggunaan jenis batang
7. Buat beban dan kombinasi yang telah ditentukan
Gambar 3.8 Kombinasi beban
8. Setelah di buat assign untuk bebannya
Gambar 3.9 Daftar beban pada balok
44
Gambar 3.10 pemberian beban balok
9. Dan jangan lupa untuk meletakkan beban hasil akumulasi dari kolom
lantai 2
Gambar 3.11 Beban terpusat pada kolom lantai 2
Setelah permodelan selesai
10.
Run untuk mengetahui hasilnya
Gambar 3.12 cara perhitungan
45
Gambar 3.13 Proses perhitungan
Gambar 3.14 Hasil perhitungan
11. Pilih Design >> Start Design untuk mengetahui angka hasil
perhitungan
46
Gambar 3.15 Menampilkan hasil kebutuhan tulangan minimal
Gambar 3.16 Hasil kebutuhan tulangan minimal
12.
Berikut adalah hasil dari perhitungan
47
Gambar 3.17 Menampilkan hasil reaksi
13.
Untuk mengetahui Reaksi/Beban akumulasi
Pilih icon tersebut
Lalu Pilih Reaction
Gambar 3.18 Hasil reaksi pada kolom lantai 1
Untuk angka yang tercantum di atas adalah data kebutuhan tulangan minimal
Contoh
Ditentukan angka yang paling besar
273,90 jadi digunakan tulangan
2 buah diameter 16
= 2 x 200,96
= 547,8
48
Untuk kolom
Angka minimal untuk luas tulangan = 625
Kolom ukuran 30x30 menggunakan 8 buah tulangan pokok
Jadi 625/8 = 78,125
Jadi menggunakan tulangan diameter 10
PERHITUNGAN SAP
SLOOF DAN PEDESTAL LANTAI 1.
49
Data teknis
Mutu Beton
: K200 (20 MPa)
Mutu Baja
: 240 MPa
Dimensi Sloof
: 20x25
Dimensi Pedestal
: 20x20
Berat Jenis Beton
: 2400 kg/m3
Berat Jenis Pas. Bata
:1700 kg/m3
50
Dari data yang didapat pada perhitungan SAP untuk kolom dan balok lantai 1
didapat reaksi dari kolom , dan hasil reaksi kolom tersebut menjadi sebuah
beban yang akan ditumpu oleh pedestal.
Langkah Perhitungan Menggunakan SAP
1. Di sini penyusun menggunakan SAP 2000 non linear V7
Gambar 4.1 Program SAP 2000
Dengan tampilan sebagai berikut :
51
Gambar 4.2 Tampilan Program SAP 2000 V7
2. Ubah Satuan menjadi Kg.m
Gambar 4.3 Satuan Awal
3. Buat grid dan spacing sesuai frame yang diinginkan seperti pada gambar
Gambar 4.3 Grid yang digunakan
Gambar 4.3 Pembuatan permodelan
4. Beri tumpuan dengan pilih Assign Joint Restraints
52
Gambar 4.4 Pemberian Tumpuan
Gambar 4.5 Hasil setelah diberi tumpuan
5. Setelah gambar telah selesai di buat
Jangan lupa untuk mengatur kombinasi dan komponen beban serta bahan yang
digunakan
Define -> Materials : Untuk mengatur material yang dipakai
Gambar 4.6 Penggunaan Material
Define -> Frame Section -> Add Rectangular : Untuk mengatur jenis dan
ukuran balok dan kolom
53
BALOK 20x25
KOLOM 20x20
Gambar 4.7 Jenis dan ukuran balok/kolom yang digunakan
Define -> Static Load Cases : Untuk pemilihan beban apa saja yang
dipakai pada konstruksi yang akan kita hitung
Gambar 4.8 Tabel Define Static Load Cases
Define -> Load Combinations -> Add New Combo : untuk menentukan
kombinasi beban yang berlaku
54
Gambar 4.9 input Data Beban Tetap
6. Pilih batang pada sloof dan kolom struktur yang diinginkan dengan cara
Assign -> Frame Section
Gambar 4.10 Tampilan Setelah Mengatur Frame Balok dan Kolom
55
7. Setelah material di buat , kemudian assignkan pada yang diinginkan
Kemudian akumulasi beban yang didapat pada perhitungan Balok dan Kolom
Lantai 1
Gambar 4.9 Akumulasi beban titik pada kolom lantai 1
Gambar 4.10 Input Beban Terpusat dari Kolom Lantai 1
Berat Sendiri sloof = 0,20 x 0,25 x 2400 = 120 kg/m
56
Gambar 4.11 Input Beban Sloof Sendiri
Berat DInding Pasangan Batu Bata = 0,15 x 1 x 1 x 1700
= 1020 kg/m
Gambar 4.12 Input Beban Dinding
Gambar 4.13 Input Beban Hidup
8. Setelah menginput semua beban untuk mengurangi beban pada sloof , jadi
pada tumpuan sendi per meter untuk pondasi plat lajur dengancara : select
batang sloof yang akan diberikan tumpuan -> Edit -> Divide Frames -> Input
angka sesuai panjang batang
57
Gambar 4.14 Menginput data dalam Divide Selected Frames
9. Langkah selanjutnya memberi tumpuan ke setiap batang dan memberikan joint
pada sloof dan tumpuan sendi pada batang . Yang menghasilkan gambar seperti
ini
Gambar 4.15 Batang Sloof setelah diberi tumpuan sendi
[Link] Struktur
Analyze -> Set Option , terlebih dahulu kita atur settingannya
Gambar 4.12 Option untuk Analyze
58
[Link] kita Analyze dengan cara Analyze -> Run
Gambar 4.13 beban merata
[Link] Analyze harus menunjukan tulisan seperti ini
Gambar 4.14 Hasil Analyze
59
Gambar 4.15 Hasil Analyze
[Link] mengecek kekuatan strukturnya , Design -> Start Design/Check of
Structure atau dengan menekan tombol dikeyboard Ctrl+F5
Gambar 4.15 Hasil pengecekan struktur
60
[Link] mengecek diagram moment , Display -> Show Forces/stresses -> Frames
-> Moment 3-3
Gambar 4.16 Diagram Momen
[Link] mengecek diagram normal : Display -> Show Forces/stresses -> Frames
-> Axial Force
Gambar 4.17 Diagram Gaya Normal
Untuk mengecek diagram gaya geser yang bekerja pada struktur dapat dilakukan
dengan cara :Display -> Show forces/stresses -> Frames -> Shear 22
61
Gambar 4.18 Diagram Gaya Geser
[Link] Luas Tulangan
Gambar 4.18 Hasil Gambar Joint Reaction Forces
Ditentukan angka yang paling besar
87,59 jadi digunakan tulangan
2 buah diameter 10
= 2 x 78,5
= 157
Untuk kebutuhan tulangan pedestal = 400
Karena pedestal ukuran 20x20 menggunakan 8 buah
Tulangan pokok
62
Maka 400/8 = 50
Jadi menggunakan 8 buah diameter 8
Gambar 4.20 Reaksi total pada pedestal
63
64