0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
383 tayangan19 halaman

Teknik Handling Kucing dalam Veteriner

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai teknik handling, restrain, anastesi dan pemasangan IV Cath pada kucing dan anjing. Beberapa teknik yang dijelaskan antara lain cara menangkap, mengangkat, dan memegang kucing/anjing; penggunaan alat bantu seperti kantong, kotak, dan stock; serta teknik pemberangusan darurat.

Diunggah oleh

Nana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
383 tayangan19 halaman

Teknik Handling Kucing dalam Veteriner

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai teknik handling, restrain, anastesi dan pemasangan IV Cath pada kucing dan anjing. Beberapa teknik yang dijelaskan antara lain cara menangkap, mengangkat, dan memegang kucing/anjing; penggunaan alat bantu seperti kantong, kotak, dan stock; serta teknik pemberangusan darurat.

Diunggah oleh

Nana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TIKET MASUK PRAKTIKUM ILMU BEDAH UMU

Handling, Restrain, Anastesi dan Pemasangan IV Cath pada Kucing

Dewi Febriana Widarma


125130100111059
2012 C

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Handling dan Restrain


KUCING
a. Menangkap seekor kucing
Seekor kucing yang ketakutan dan berkeliaran bebas dalam kamar atau seekor
kucing berkelakuan buruk dalam kurungan serta memperlihatkan tanda-tanda tidak ingin di
dekati
seseorang
maka ia dapat ditangkap dengan
sebuah jerat atau
dengan melemparkan sebuah
selimut atau kantong
di atasnya. Sebuah jerat untuk
kucing
dapat
sepanjang satu sampai dua kaki
tetapi
untuk
menunjang bobot kucing, tidak
perlu terlalu berat.
Jerat dapat dibuat dari batag
yang ringan serta ada
tali
di
dalamnya
yang
membentuk
jerat
pada ujungnya untuk mennagkap
hewan tersebut.

Suatu cara yang lebih mudah untuk menangkap seekor kucing adalah dengan
melemparkan sebuah kantong, selimut atau kain di atas hewan tersebut. Sebelum kucing
itu dapat melepaskan diri, kita harus segera menangkapnya. Dengan meraba melalui kain,
kita pegang kepalanya erat-erat pada tengkuk, sehingga hewan itu tidak dapat
memalingkan kepalanya. Setelah kucing terpegang dengan baik, kain itu dapat
disingkapkan.

b. Mengangkat dan Memegang Kucing


Sambil berdiri pada sisi kiri kucing, ulurkan tangan
kanan lewat di atas punggung ke bawah badan kucing
dengan tangan terbuka sehingga jari tengah berada di antara
kedua kaki depan.
Dengan tangan kiri memegang kulit punggung leher,
kucing itu kemudian di angkat. Lalu tahan tubuh kucing di
antara kelok lengan dan pinggul. Kaki belakang kucing akan
bertumpu pada pinggul.

c. Mengeluarkan kucing dari kurungan dan memegangnya


Dengan sedikit membuka pintu kurungan , kita memasukkan tangan kita ke
dalamnya dan menempatkan tangan kiri di atas pundak kucing serta memegangnya
sedemikian rupa sehingga hewan itu tidak dapat lepas. Pintu lalu dapat dibuka lebar-lebar
dengan tangan kanan diletakkan di bawah badan kucing dengan jari tengah di antara kaki
depan sedangkan ibu jari dan jari lainnya memegangnya erat-erat.
Kucing itu dapat diangkat dari kurungan dengan tangan kanan, bersamaan dengan
itu tangan kiri melalui punggung memegang ekor dan kaki belakang. Jari tengah dan
ekornya harus berada di antara kedua kaki belakang sedangkan ibu jari dan jari lainnya
memegangnya. Jika hewan itu akan segera diobati, kucing itu segera ditempatkan dalam
sebuah kantong, kotak, atau stock. Jika tidak, hewan ditaruh di atas tanah atau meja. Satu
tangan tetap memegang kucing untuk mencegahnya melarikan diri.
d. Pemberangus

Banyak dokter hewan yang jika hendak buru-buru mengobati kucing,


memberangusnya dengan menempelkan pita adhesif untuk moncong hewan tersebut. Hal
ini akan menghemat satu menit sebelum pengobatan, tetapi kemudian untuk melepaskan
pita tersebut merupakan kerja yang lama dan menjengkelkan. Bulu kucing harus di gunting
atau harus menggunakan karbon tetrakhlorida atau pelarut lain. Lebih sederhana jika kita
meluangkan waktu satu menit lebih ama sebelum mengobati dengan memberangus kucing
dengan kain atau pembalut kasa.
e. Pengekangan Pada Sisi di Atas Meja
Untuk pemeriksaan seekor kucing dapat diletakkan pada sisinya di atas meja. Kita
memegang kedua kaki depan dengan satu tangan, telunjuk berada di antara ke dua kaki
sedangkan ibu jari dan jari lain melingkarinya. Lengan melintang di atas leher kucing dan
menekan kepala hewan itu ke bawah. Tangan lain memegang kedua kaki belakang ke arah
yang sama, menariknya perlahan-lahan ke belakang dan sedikit meregangkan tubuh kucing
itu sehingga hewan itu tidak dapat berputar.
f. Kantong Kucing
Sebuah kantong dapat dikatakan mutlak diperlukan dalam pengekangan kucing.
Seekor kucing dapat saja dibungkus dengan kain atau handuk agar tidak dapat mencakar,
tetapi ini tidak membatasi hewan itu seperti halnya kantong. Beberapa dokter hewan
menggunakan kantong kucing yang terbuat dari kulit agar cakar kucing tidak dapat
menembusnya. Kekurangannya kantong demikian adalah bahwa kulit tidak dapat dicuci
sesering yang seharusnya dilakukan pada sebuah kantong kucing. Karena itu lebih
diutamakan kantong yag terbuat dari kain jenas, kain kasur, atau kanvas dan harus dicuci
setiap sehabis dipakai,meskipun kelihatannya masih bersih.

g.

h.

i.

j.

k.

Sebuah kantong yag baik harus mempunyai tali penutup diatasnya dan satu lubang pada
salah satu ujungnya. Kucing harus dimasukkan ke dalam kantong dengan kaki belakang
lebih dahulu dan tali penutup ditarik erat sekitar lehernya, sehingga kepala keluar untuk
diobati.
Kotak Kucing Bosshart
Kotak ini merupakan kotak kayu panjang dengan tutup yang meluncur dalam jalur
di atas dan ditahan hanya oleh sebuah slot pada satu ujung dan selembar kaca pada ujung
lain. Satu sudut tutup itu dpotong dan dibagian depan dibuat suatu setengah lingkaran.
Kotak semacam ini berguna untuk pemberian eter pada kucing. Untuk pemberian
anastesi, kotak ini cepat dibuat kedap hawa dengan menarik tutup sedemikian rupa
sehingga bagian yang dipotong persegi di pojok hampir sampai pada pinggir kaca dan
bagian depan yang dilubangi menjulur melampaui pinggir kotak. Dengan menarik tutup
demikian, kita masih dapat melihat bagian dalam kotak tersebut melalui kaca.
Stock Cornell
Dengan menggunakan stock jenis ini, seorang asisten dapat memegang seekor
kucing untuk hampir semua jenis pemgobatan. Stock ini mempunyai empat celah untuk ke
empat kaki hewan dan terletak lebih dekat pada satu ujung daripada ujung lain. Jika kaki
belakang kucing ditempatkan di dalam celah yang lebih dekat dengan tepi, maka papan itu
menjulur beberapa icni di depan kepala hewan. Seorang asisten memegang kedua kaki
depan dan belakang di bawah stock. Asisten memegangnya dengan cara yang lazim, yaitu
dengan telunjuk diantara kaki dan jari lain melingkarinya serta menarik kaki belakang
hewan ke belakang dan kaki depan ke muka seperti arah panah dalam gambar.
Untuk keperluan pengobatan cakar atau pemberian suntikan intravenus, satu kaki
dapat diletakkan diatas stock dan diikat pada kaki stock dengan pembalut kasa.
Perisai
Selembar papan dengan dua lubang untuk kaki kucing dapat digunakan untuk
melindungi kita dari garukan dan gigitan. Penggunaan alat ini sama dengan stock, tetapi
tidak berkaki, alat ini dapat diletakkan diatas meja. Seorang asisten harus menopang
seluruh bobot hewan atau menempatkan tubuh hewan pada badannya.
Stock Reward
Stock ini ditempatkan secara permanen pada sebuah meja dan dibuat utuk kucingkucing yang berlainan besarnya. Alat ini sangat berguna bagi seorang dokter hewan yang
tidak mempunyai asisten. Dia dapat menempatkan kucing di dalam alat tersebut,
menutupnya dan tanpa bantuan, mengekang hewan dalam suatu posisi yang
memungkinnya untuk mengobati dengan mudah.
Sarung Tinju
Untuk mencegah seekor kucing menggaruk luka-luka di kepala atau tubuhnya,
tetapi masih memberinya kebabasan bergerak, dapat diikatkan sarung tinju pada kakinya.
Sarung ini terbuat dari kain kanvas yang tebal dan setiap kali sehabis dipakai harus dicuci
bersih.

ANJING
a. Jerat
Seekor anjing yang jahat atau menderita rabies harus ditangkap dengan jerat atau
tang. Alat-alat ii akan menahannya dalam jarak yang aman dari kita. Jerat-jerat yang

diperdagangkan atau yang dibuat sendiri sama dengan jerat yang dipergunakan untuk
hewan lain. Sebuah jerat babi dapat digunakan untuk menangkap seekor anjing yang besar.
b. Tang Penangkap
Alat ini merupakan penjepit besar untuk menangkap leher anjing. Jika alat ini tidak
tersedia pada waktu harus menangkap seekor anjing yang binal, maka dapat menggunakan
ikat pinggang yang kuat untuk menangkapnya. Kita harus meloncat dan dengan cepat ke
sisi lain dari pintu atau pagar, melemparkan ikat pinggang di atasnya dan membiarkan
anjing tergantung pada ikat pinggang di sisi lain.
c. Pemberangus Darurat
Dengan simpul tali bedah buatlah lingkar di tengah-tengah tali atau perban yang
panjangnya 4 kaki. Masukkan lingkar di sekitar hidung dan tarik erat.

Tarik ujung-ujungnya ke bawah dan ikat dengan simpul mati. Lewatkan masingmasing ujung melalui sisi leher dan ikat dengan simpul reefer atau simpul persegi pada
tengkuknya.
d. Pemberangus Darurat Cara Kedua
Buatlah sebuah lingkar degan simpul mati di tengah tali atau pembalut yang
panjangnya 3 kaki. Masukkan lingkar sekitar hidung sampai pertengahan lebar mulut.
Tarik lingkar tersebut erat-erat dan lewatkan ujung-ujungnya disekitar sisi leher.
Pada tengkuk ikat ujung ujung dengan simpul persegi atau reefer. Lalu berangus ini
dapat dibuat lebih cepat dari yang sebelumnya, tetapi kurang erat.
e. Pemberangus Darurat untuk Anjing Moncong Pendek
Buatlah berangus untuk anjing bermoncong panjang seperti telah dijelaskan
sebelumnya. Untuk meringankan tekanan lingkar hidung pada saluran oernapasan anjing
bermoncong pendek, lewatkan salah satu ujung yang bebas di bawah lingkar pada
permukaan dorsal dari hidung dan tarik erat. Ikatlah ujung-ujung tali tersebut simpul reefer
pada tengkuk. Berangus telah selesai.
f. Pengekangan Kepala
Jika sekeor anjing harus diberi suntikan atau perlu diobati dengan cepat, maka lebih
kudah untuk menyuruh seorang asisten atau empunya untuk memegang kepalanya
daripada memberangusnya. Hal ini terutama untuk anjing bermoncong pendek.
Kita harus berdiri di belakang anjing dan memegang kepalanya dengan satu tangan
pada tiap sisinyal . Telapak tangan berada di bawah kuping dengan jari-jri melingkari
bawah dan ibu jari bertemu di dahi.

g. Pelindung Mata
Jenis penutup oftalmik ini digunakan untuk melindungi pembalut mata dan
mencegah anjing untuk menggaruknya lepas. Biasnaya jika hewan diberi sedativa, penutup
ini cukup melndungi balutan mata. Alat ini dapat dibuat dari kain tebal yang diberi pita
untuk ikatan atau diberi gesper. Terdapat dua lubang untuk telingan keempat helai kelopak
diatas tiap mata harus mempunyai pita agar dapat diikat menjadi satu. Sengan mengikatnya
secara erat atau longgar kita dapat mengatur kedalaman penutup mata sehingga sesuai
dengan ketebalan pembalut mata.

h. Krag (Ban Leher) Elizabeth


Alat ini mencegah seekor anjing memalingkan kepala untuk mengganggu luka
dibadannya dengan gigi. Juha mencegahnya untuk menggaruk luka de kepala dengan
kakinya. Selain itu anjing dapat bergerak secara leluasa
Alat ini dibuat dari tripleks ukuran 1/8 inci seperti terlihat pada gambar. Dengan
mengatur letak lubang-lubang , alat ini dapat disesuaikan dengan setiap aning yang
ukurannya sedang. Untuk anjing yang sangat kecil dan kucing harus dibuat dengan ukuran
yang lebih kecil. Kedua bagian itu pada satu sisi harus disatukan dengan sebuah baut.
Sehingga krag tersebut dapat dipasang dengan cepat pada leher anjing dan sisi lain
dikencangkan dengan baut.
i. Mengikat Seekor Anjing Pada Meja
Untuk suatu pekerjaan pasa sisi, seekor anjing dapat diikat pada meja agar tidak
dapat bergerak. Pertama-tama hewan harus diberi sedativa atau anastesi dan ditempatkan
pada sisinya di atas meja. Kemudian kedua kaki yang ada di bawah diikat dengan tali atau
pembalut pada kaki meja.

Hal ini dilakukan dengan memasukkan sebuah lingkar sekitar lengan di atas siku
dan kemudia membuat sebuah ikatan mati tepat di atas cakar. Ujung tali diikat dengan
simpul reefer atau ikatan tali leher pada kaki meja terdekat. Pada kaki belakang lingkar
ditempatkan di atas hock dan ikatan mati di atas cakar ujungnya diikat pada kaki meja.
j. Menahan Anjing Pada Sisinya Di Atas Meja
Untuk menahan seekor anjing pada sisinya di atas meja, pemegang harus memgang
kedua kaki depan dengan satu tangan dan kedua kaki belakang dengan tangan lainnya. Jika
anjing itu kecil, pada waktu memegang kaki telunjuk berada diantara kaki . Dengan satu
lengan menahan leher dengan menekan pangkal kepala sehingga anjing tidak dapat
mengangkat kepalanya. Lengan lainnya ditekankan pada kaki belakang dan menahannya.

2.2. Anestesi
Anestesi atau keadaan tidak peka terhadap rasa sakit, sangat berguna untuk
melakukan suatu tindak pembedahan karena demi rasa kemanusiaan (humanitarian), agar
hewan tidak menderita; dan demi efisiensi kerja, karena hewan menjadi diam sehingga
suatu tindak pembedahan dapat dikerjakan secara lancar dan aman. Secara luas anestesi
terdiri dari :
2.2.1. Anastesi Lokal
Yaitu anastesi yang disebabkan oleh anestetika yang daya pengaruhnya selektif,
menyebabkan paralisa sementara pada sarafsaraf sensoris dan ujung-ujung saraf;

tergantung cara melakukan anestesi ini menurut luas daerah anestesi yang dicapai ada yang
disebut anestesi lokal dan anestesi regional. Macam-macam anastesi lokal :
1. Golongan ikatan ester; ansestetika ini di dalam darah lebih mudah dihidrolisis oleh
esterease plasma menjadi PABA dan diethylaminoethanol, dan sebagian dimetabolisme
di hati. Obat ini dapat diberikan secara suntikan infiltratif sedang pemberian secara
topikal tidak efektif dan bersifat vasodilatoris. Sebagai contohnya adalah Prokain
Hidrochlorida.
2. Golongan ikatan amide, anestetika ini dimetabolisir di hati oleh mikrosoma hati
melalui proses dealkilasi dan hidrolisis; bukan merupakan derivat PABA; dapat
diberikan secara suntikan infiltratif dan topikal; tidak bersifat vasodilatoris; potensinya
lebih kuat dan lebih lama dan bersifat hepatotoksis. Sebagai contohnya adalah
Lidokain Hidrochlorida.
2.2.2. Anastesi Umum
Yaitu anestesi yang ditimbulkan oleh anestetika yang mendepres hingga
menyebabkan paralisa sementara pada susunan saraf pusat dan akan menghasilkan
hilangnya kesadaran dan refleks otot disamping hilangnya perasaan sakit seluruh tubuh.
Sebelum anestesi umum dilakukan, biasanya diberi preanestesi atau premedikasi, yaitu
suatu substansi yang terdiri dari sedativa atau tranquliser sebagai penenang dan substansi
anti kholinergik yang berguna untuk menekan produksi air liur agar hewan tidak
mengalami gangguan bernafas selama pembiusan. Tranquliser digunakan untuk relaksasi
otot. menekan derajad kesadaran dan perubahan tingkah laku, walaupun tidak disertai
adanya rasa ngantuk. Sedativa adalah obat yang menbuat hewan menjadi tenang
a. PREMEDIKASI
Antikolinergik
Obat-obat golongan ini disebut juga antimuskarinik atau parasimpatolitik atau
penghambat parasimpatik Mekanisme kerjanya pada umumnya mengadakan
penghambatan pada tempat yang dipersarafi oleh serabut postganglion kolinergik, dimana
asetil kolin sebagai neurotrasmitor. Sebagai contoh penggunaan atropin sulfat atau obat
lain mirip atropin. Atropin digunakan sebagai premedikasi anestesi dengan tujuan utama
adalah menekan produksi air liur dan sekresi jalan nafas jugs mencegah reflek yang
menimbulkan gangguan jantung atau mencagah timbulnya bradikardi. Walaupun begitu
pemeberian atropin berpengaruh pada susunan saraf pusat merangsang medolaoblongata,
pada mats menyebabkan midriasis, saluran nafas mengurai sekret hidung ,mulut,faring dan
bronkus, pada jantung merangsang [Link] sehingga bardikardi tidak nyata, saluran cerna
adanya penghambatan peristaltik usus dan lambung, otot polos akan terlihat adanya
dilatasi piala ginjal, ureter dan kandung kencing,sehingga kemungkinan retensi urine ,
pada uterus tidak nyata, pada kelenjar eksokrin yang paling nyata adalah pada kelenjar liur.
Dosis atropin sebagai premedikasi pada anjing dan kucing berkisar antara 0,02-0,1
mg per kgbb atau dosis umum yang digunakan adalah 0,04 mg/kgbb, diberikan dengan
cara suntikan i.m atau sc dengan onset kerja terlihat 15-30 menit kemudian. Di smaping
atropin dapat pula digunakan scopolamin dengan dosis 0,2-0,4mg/kgbb dan potensinya
lebih kuat dari atropin.
Obat Penenang/ trangulizer/sedatifa/hipnotika
Untuk premedikasi anestesi sebagai obat penenang di bidang veteriner grup
trangulizer bidang veteriner grup trangulizer major sering digunakan termasuk al
preparat phenothiasine

butyrophenones
benzodiazepines
di samping obat-obat penenang lainnya derivat phenothiasine (khlorpromazine,
combelen) sering digunakan sebagai preanestesi umum karena mempunyai sifatsifat yang
menguntungkan anatara lain
hewan mudah dikuasai termasuk waktu induksi anestesi umum; dapat mereduksi
/mengurangi dosis anestesi umum yang diberikan; mencegah kecenderungan untuk
muntah; khusus derivat phenotiasine dapat mencegah alfa blockade sehingga mengurangi
kejadian shock.
Sedang sifat yang tidak menguntungkan pemeberian trangulizer ini antara lain
:Tidak menghasilkan analgesia; kadang berakibat fatal; biaya lebih mahal; sering ada
reaksi alergi yang individual; pada heawan yang berpenyakit jantung karena adanya alfa
blockade dapat berakibat hipotensif yang fatal; pada hewan besar jantan sering terjadi
permanen protusio penis.
Jenis penenang yang lain dapat pula digunakan sebagai premedikasi anestesi umum
misalnya Xilazine atau nama lainnya rompun *. Obat ini mempunyai potensi yang lebih
kuat terutama pada kucing dan ruminesia dan primata (kera) karena obat ini mempunyai
sifat anelgesia, hipnotika dan relaksan otot.
Obat penenang golongan narkotika seperti morfin, pethidin, metadon, fentanyl dan
bupremorfin juga mempunyai efek hipnotik sampai basal narkose, namun karena untuk
memperolehnya melalui prosedur yang rumit, sekarang jarang digunakan.
Dari uraian dua (2) jenis obat yang digunakan sebagai premedikasi anestesi umum
yaitu obat antikolinergik dan penenang dapat disimpulkan kegunaannya yaitu :
1. dapat mereduksi/mengurangi kebutuhan doisi anestesi umum yang digunakan dan
meningkatkan keamanan selama anestesi berlangsung
2. pasien menjadi tenang sehingga anestesi yang diberikan tanpa dipengaruhi oleh emosi
rasa takut maupun kemauan berontak/meronta/lepas
3. mengurangi sekresi air liur dan sekresi di jalan nafas, sehingga jalan nafas tetap
terpelihara/ventilasi tidak terganggu
4. mengurangi gerakan motilitas gastrium dan usus sehingga mencegah kecenderungan
untuk muntah selama anestesi ( kalau sewaktu teranestesi muntah berarti kemungkinan
sleik /pnemonia aspirasi besar dan dapat menimbulkan kematian sewaktu operasi atau
death on the table- ini harus betulbetul dihindari)
5. hambatan reflek vago-vagal mencegah lemahnya jantung atau mencegah cardiac arrest.
6. mengurangi rasa sakit, eksitasi, suara gaduh sewaktu recovery/bangun.
b. GOLONGAN OBAT ANESTESI UMUM
1. Anestetika gas (inhalasi)
Anestesi umum inhalasi merupakan salah satu metode anestesi umum yang
dilakukan dengan cara memberikan agen anestesi yang berupa gas dan atau cairan yang
mudah menguap melalui alat anestesi langsung ke udara inspirasi. Hiperventilasi akan
menaikkan ambilan anestetikum dalam alveolus dan hipoventilasi akan menurunkan
ambilan alveolus. Kelarutan zat inhalasi dalam darah adalah faktor utama yang penting
dalam menentukan induksi dan pemulihan anestesi inhalasi. Induksi dan pemulihan akan
berlangsung cepat pada zat yang tidak larut dan lambat pada zat yang larut. Anestetik gas
tidak mudah larut dalam darah sehingga tekanan parsial dalam darah cepat meningkat. Batas
keamanan antara efek anesthesia dan efek letal cukup lebar.
Contoh :

1.1. Nitrogen monoksida (N2O)


Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
dan lebih berat daripada udara. N2O biasanya tersimpan dalam bentuk cairan bertekanan
tinggi dalam baja, tekanan penguapan pada suhu kamar 50 atmosfir. N2O mempunyai efek
analgesic yang baik, dengan inhalasi 20% N2O dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg
morfin. Kadar optimum untuk mendapatkan efek analgesic maksimum 35% . gas ini
sering digunakan pada partus yaitu diberikan 100% N2O pada waktu kontraksi uterus
sehingga rasa sakit hilang tanpa mengurangi kekuatan kontraksi dan 100% O2 pada waktu
relaksasi untuk mencegah terjadinya hipoksia. Anestetik tunggal N2O digunakan secara
intermiten untuk mendapatkan analgesic pada saat proses persalinan dan Pencabutan gigi.
H2O digunakan secara umum untuk anestetik umum, dalam kombinasi dengan zat lain.
1.2 Siklopropan
Siklopropan merupakan anestetik gas yang kuat, berbau spesifik, tidak berwarna,
lebih berat daripada udara dan disimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi. Gas ini
mudah terbakar dan meledak karena itu hanya digunakan dengan close method. Siklopropan
relative tidak larut dalam darah sehingga menginduksi dengan cepat (2-3 menit). Stadium III
tingkat 1 dapat dicapai dengan kadar 7-10% volume, tingkat 2 dicapai dengan kadar 10-20%
volume, tingkat 3 dapat dicapai dengan kadar 20-35%, tingkat 4 dapat dicapai dengan kadar
35-50% volume. Sedangkan pemberian dengan 1% volume dapat menimbulkan analgesia
tanpa hilangnya kesadaran. Untuk mencegah delirium yang kadang-kadang timbul,
diberikan pentotal IV sebelum inhalasi siklopropan. Siklopropan menyebabkan relaksasi
otot cukup baik dan sedikit sekali mengiritasi saluran nafas. Namun depresi pernafasan
ringan dapat terjadi pada anesthesia dengan siklopropan.
Siklopropan tidak menghambat kontraktilitas otot jantung, curah jantung dan
tekanan arteri tetap atau sedikit meningkat sehingga siklopropan merupakan anestetik
terpilih pada penderita syok. Siklopropan dapat menimbulkan aritmia jantung yaitu fibrilasi
atrium, bradikardi sinus, ekstrasistole atrium, ritme atrioventrikular, ekstrasistole ventrikel
dan ritme bigemini. Aliran darah kulit ditinggikan oleh siklopropan sehingga mudah terjadi
perdarahan waktu operasi. Siklopropan tidak menimbulkan hambatan terhadap sambungan
saraf otot. Setelah waktu pemulihan sering timbul mual, muntah dan delirium. Absorpsi dan
ekskresi siklopropan melalui paru. Hanya 0,5% dimetabolisme dalam badan dan diekskresi
dalam bentuk CO2 dan air. Siklopapan dapat digunakan pada setiap macam operasi. Untuk
mendapatkan efek analgesic digunakan 1,2% siklopropan dengan oksigen. Untuk mencapi
induksi siklopropan digunakan 25-50% dengan oksigen, sedangkan untuk dosis penunjang
digunakan 10-20% oksigen.
2. Anestetik yang menguap
Anestetik yang menguap (volatile anesthetic) mempunyai 3 sifat dasar yang sama
yaitu berbentuk cairan pada suhu kamar, mempunyai sfat anestetik kuat pada kadar rendah
dan relative mudah larut dalam lemak, darah dan jaringan. Kelarutan yang baik dalam darah
dan jaringan dapat memperlambat terjadinya keseimbangan dan terlawatinya induksi, untuk
mengatasi hal ini diberikan kadar lebih tinggi dari kadar yang dibutuhkan. Bila stadium yang
diinginkan sudah tercapai kadar disesuaikan untuk mempertahankan stadium tersebut. Untuk
mempercepat induksi dapat diberika zat anestetik lain yang kerjanya cepat kemudian baru
diberikan anestetik yang menguap.
Umumnya anestetik yang menguap dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan
eter misalnya eter (dietileter) dan golongan hidrokarbon halogen misalnya halotan,
metoksifluran, etil klorida, trikloretilen dan fluroksen. Eter merupakan cairan tidak
berwarna, mudah menguap, berbau mudah terbakar, mengiritasi saluran nafas dan mudah

meledak. Eter merupakan anestetik yang sangat kuat sehingga penderita dapat memasuki
setiap tingkat anesthesia. Sifat analgesic kuat sekali, dengan kadar dalam darah arteri 10-15
mg % sudah terjadi analgesia tetapi penderita masih sadar.
Eter pada kadar tinggi dan sedang menimbulkan relaksasi otot karena efek sentral
dan hambatan neuromuscular yang berbeda dengan hambatan oleh kurare, sebab tidak dapat
dilawan oleh neostigmin. Zat ini meningkatkan hambatan neuromuscular oleh antibiotic
seperti neomisin, streptomisin, polimiksin dan kanamisin. Eter dapt merangsang sekresi
kelenjar bronkus. Pada induksi dan waktu pemulihan eter menimbulkan salvias, tetapi pada
stadium yang lebih dalam, salvias akan dihambat dan terjadi depresi nafas.
Eter diabsorpsi dan disekresi melalui paru dan sebagian kecil diekskresi juga melalui
urin, air susu, keringat dan difusi melalui kulit utuh.
Efluran merupakan anestetik eter berhalogen yang tidak mudah terbakar dan cepat
melewati stadium induksi tanpa atau sedikit menyebabkan eksitasi. Kecepatan induksi
terhambat bila penderita menahan nafas atau batuk. Sekresi kelenjar saliva dan bronkus
hanya sedikit meningkat sehingga tidak perlu menggunakan medikasi preanestetik yaitu
atropin. Kadar yang tinggi menyebabkan depresi kardiovaskuler dan perangsangan SSP,
untuk menghindari hal ini enfluran diberikan dengan kadar kadar rendah bersama N2O.
Efluran kadar rendah tidak banyak mempengaruhi system kardiovaskuler, meskipun dapat
menurunkan tekanan darah dan meningkatkan frekuensi nadi. Efluran menyebabkan
sensitisasi jantung terhadap ketekolamin yang lebih lemah dibandingkan dengan halotan
tetapi efluran membahayakan penderita penyakit ginjal. Pada anestesi yang dalam dan
hipokapnia, efluran dapat menyebabkan kejang tonik-klonik pada otot muka dan
ekstremitas. Hal ini dapat dihentikan tanpa gejala sisa dengan mengganti obat anestesi,
melakukan anestesi yang tidak terlalu dalam dan menurunkan ventilasi semenit untuk
mengurangi hipokapnia. Efluran jangan digunakan pada anak dengan demam berumur
kurang dari 3 tahun.
Isofluran merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. Secara kimiawi
mirip dengan efluran, tetapi secara farmakologi berbeda. Isofluran berbau tajam sehingga
membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh penderita karena penderita menahan
nafas dan batuk. Setelah pemberian medikasi preanestetik stadium induksi dapat dilalui
dengan lancer dan sedikit eksitasi bila diberikan bersama N2O dan O2. isofluran
merelaksasi otot sehingga baik untuk intubasi. Tendensi timbul aritmia amat kecil sebab
isofluran tidak menyebabkan sensiitisasi jantung terhadap ketokolamin. Peningkatan
frekuensi nadi dan takikardi adihilangkan dengan pemberian propanolol 0,2-2 mg atau dosis
kecil narkotik (8-10 mg morfin atau 0,1 mg fentanil), sesudah hipoksia atau hipertemia
diatasi terlebih dulu. Penurunan volume semenit dapat diatasi dengan mengatur dosis. Pada
anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan SSP seperti pada
pemberian enfluran. Isofluran meningkatkan aliran darah otak pada kadar labih dari 1,1
MAC (minimal Alveolar Concentration) dan meningkatkan tekanan intracranial.
Halotan merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar dan
tidak mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen. Halotan bereaksi dengan perak,
tembaga, baja, magnesium, aluminium, brom, karet dan plastic. Karet larut dalam halotan,
sedangkan nikel, titanium dan polietilen tidak sehingga pemberian obat ini harus dengan alat
khusus yang disebut fluotec. Efek analgesic halotanlemah tetapi relaksasi otot yang
ditimbulkannya baik. Dengan kadar yang aman waktu 10 menit untuk induksi sehingga
mempercepat digunakan kadar tinggi (3-4 volume %). Kadar minimal untuk anestesi adalah
0,76% volume.

Metoksifluran merupakan cairan jernih, tidak berwarna, bau manis seperti buah,
tidak mudah meledak, tidak mudah terbakar di udara atau dalam oksigen. Pada kadar
anestetik, metoksifluran mudah larut dalam darah. Anestetik yang kuat dengan kadar
minimal 0,16 volume % sudah dapat menyebabkan anestesi dalam tanpa hipoksia.
Metoksifluran tidak menyebabkan iritasi dan stimulasi kelenjar bronkus, tidak menyebabkan
spasme laring dan bronkus sehingga dapat digunakan pada penderita asma. Metoksifluran
menyebabkan sensitisasi jantung terhadap ketokolamin tetapi tidak sekuat kloroform,
siklopropan, halotan atau trikloretilan. Metoksifluran bersifat hepatoksik sehingga sebaiknya
tidak diberikan pada penderita kelainan hati.
Etilklorida merupakan cairan tak berwarna, sangat mudah menguap, mudah
terbakar dan mempunyai titik didih 12-13C. Bila disemprotkan pada kulit akan segera
menguap dan menimbulkan pembekuan sehingga rasa sakit hilang. Anesthesia dengan
etilklorida cepat terjadi tetapi cepat pula hilangnya. Induksi dicapai dalam 0,5-2 menit
dengan waktu pemulihan 2-3 menit sesudah pemberian anesthesia dihentikan. Karena itu
etilkloretilen sudah tidak dianjurkan lagi untuk anestetik umum, tetapi hanya digunakan
untuk induksi dengan memberikan 20-30 tetes pada masker selama 30 detik. Etilkloroda
digunakan juga sebagai anestetik local dengan cara menyemprotkannya pada kulit sampai
beku. Kerugiannya, kulit yang beku sukar dipotong dan mudah kena infeksi Karena
penurunan resistensi sel dan melambatnya penyembuhan.
Trikloretilen merupakan cairan jernih tidak berwarna, mudah menguap, berbau khas
seperti kloroform, tidak mudah terbakardan tidak mudah meledak. Induksi dan waktu
pemulihan terjadi lambat karena trikloretilen sangat larut dalam darah. Efek analgesic
trikloretilen cukup kuat tetapi relaksasi otot rangka yang ditimbulkannya kurang baik , maka
sering digunakan pada operasi ringan dalam kombinasi dengan N2O. untuk anestesi umum,
kadar trikloretilen tidak boleh lebih dari 1% dalam campuran 2:1 dengan N2O dan oksigen.
Trikloretilen menimbulkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin dan sensitisasi
pernafasan pada stretch receptor. Sifat lain trikloretilen tidak mengiritasi saluran nafas.
3. Anestetik yang diberikan secara intravena (anestetik perenteral)
Pemakaian obat anestetik intravena, dilakukan untuk : induksi anesthesia, induksi
dan pemeliharaan anesthesia bedah singkat, suplementasi hypnosis pada anesthesia atau
analgesia local, dan sedasi pada beberapa tindakan medic. Anestesi intravena ideal
membutuhkan criteria yang sulit dicapai oleh hanya satu macam obat yaitu cepat
menghasilkan efek hypnosis, mempunyai efek analgesia, disertai oleh amnesia
pascaanestesia, dampak yang tidak baik mudah dihilangkan oleh obat antagonisnya, cepat
dieliminasi dari tubuh, tidak atau sedikit mendepresi fungsi restirasi dan kardiovasculer,
pengaruh farmakokinetik tidak tergantung pada disfungsi organ. Untuk mencapai tujuan di
atas, kita dapat menggunakan kombinasi beberapa obat atau cara anestesi lain. Kebanyakan
obat anestetik intravena dipergunakan untuk induksi. Kombinasi beberapa obat mungkin
akan saling berpotensi atau efek salah satu obat dapat menutupi pengaruh obat yang lain.
Barbiturate menghilangkan kesadaran dengan blockade system sirkulasi
(perangsangan) di formasio retikularis. Pada pemberian barbiturate dosis kecil terjadi
penghambatan system penghambat ekstra lemnikus, tetapi bila dosis ditingkatkan system
perangsang juga dihambat sehingga respons korteksmenurun. Pada penyuntikan thiopental.
Barbiturate menghambat pusat pernafasan di medulla oblongata. Tidal volume menurun dan
kecepatan nafas meninggi dihambat oleh barbiturattetapi tonus vascular meninggi dan
kebutuhan oksigen badan berkurang, curah jantung sedikit menurun. Barbiturate tidak
menimbulkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin.
Barbiturate yang digunakan untuk anestesi adalah

Natrium thiopental dosis yang dibutuhkan untuk induksi dan mempertahankan


anestesi tergantung dari berat badan, keadaan fisik dan penyakit yang diderita. Untuk
induksi pada orang dewasa diberikan 2-4 ml larutan 2,5% secara intermitten setiap 30-60
detik sampai tercapai efek yang diinginkan. Untuk anak digunakan larutan pentotal 2%
dengan interval 30 detik dengan dosis 1,5 ml untuk berat badan 15 kg,3 ml untuk berat
badan 30 kg, 4 ml untuk berat badan 40 kg dan 5 ml untuk berat badan 50 kg. Untuk
mempertahankan anesthesia pada orang dewasa diberikan pentotal 0,5-2 ml larutan 2,5%,
sedangkan pada anak 2 ml larutan 2%. Untuk anesthesia basal pada anak, biasa digunakan
pentotal per rectal sebagai suspensi 40% dengan dosis 30 mg/kgBB.
Natrium tiamilal dosis untuk induksi pada orang dewasa adalah 2-4 ml larutan
2,5%, diberikan intravena secara intermiten setiap 30-60 detik sampai efek yang diinginkan
tercapai, dosis penunjang 0,5-2 ml larutan 2,5% a tau digunakan larutan 0,3% yang
diberikan secara terus menerus (drip)
Natrium metoheksital dosis induksi pada orang dewasa adalah 5-12 ml larutan 1%
diberikan secara intravena dengan kecepatan 1 ml/5 detik, dosis penunjang 2-4 ml larutan
1% atau bila akan diberikan secara terus menerus dapat digunakan larutan larutan 0,2%.
Ketamin merupakan larutan larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar
dan relatif aman. Ketamin mempunyai sifat analgesic, anestetik dan kataleptik dengan kerja
singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk system somatik, tetapi lemah untuk sistem
visceral. Tidak menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan kadang-kadang tonusnya sedikit
meninggi. Ketamin akan meningkatkan tekanan darah, frekuensi nadi dan curah jantung
sampai 20%. Ketamin menyebabkan reflek faring dan laring tetap normal. Ketamin sering
menimbulkan halusinasi terutama pada orang dewasa.
Sebagian besar ketamin mengalami dealkilasi dan dihidrolisis dalam hati, kemudian
diekskresi terutama dalam bentuk utuh. Untuk induksi ketamin secara intravena dengan
dosis 2 mm/kgBB dalam waktu 60 detik, stadium operasi dicapai dalam 5-10 menit. Untuk
mempertahankan anestesi dapat diberikan dosis ulangan setengah dari semula. Ketamin
intramuscular untuk induksi diberikan 10 mg/kgBB, stadium operasi terjadi dalam 12-25
menit.
Droperidol dan fentanil tersedia dalam kombinasi tetap, dan tidak diperguna-kan
untuk menimbulkan analgesia neuroleptik. Induksi dengan dosis 1 mm/9-15 kg BB
diberikan perlahan-lahan secara intravena (1 ml setiap 1-2 menit) diikuti pemberian N2O
atau O2 bila sudah timbul kantuk. Sebagai dosis penunjang digunakan N2O atau fentanil
saja (0,05-0,1 mg tiap 30-60 menit) bila anesthesia kurang dalam. Droperidol dan fentanil
dapat diberikan dengan aman pada penderita yang dengan anestesi umum lainnya
mengalami hiperpireksia maligna.
Diazepam menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran yang disertai nistagmus dan
bicara lambat, tetapi tidak berefek analgesic. Juga tidak menimbulkan potensiasi terhadap
efek penghambat neuromuscular dan efekanalgesik obat narkotik. Diazepam digunakan
untuk menimbulkan sedasi basal pada anesthesia regional, endoskopi dan prosedur dental,
juga untuk induksi anestesia terutama pada penderita dengan penyakit kardiovascular.
Dibandingkan dengan ultra short acting barbiturate, efek anestesi diaz-epam kurang
memuaskan karena mula kerjanya lambat dan masa pemulihannya lama. Diazepam juga
digunakan untuk medikasi preanestetik dan untuk mengatasi konvulsi yang disebabkan obat
anestesi local.
Etomidat merupakan anestetik non barbiturat yang digunakan untuk induksi
anestesi. Obat ini tidak berefek analgesic tetapi dapat digunakan untuk anestesi dengan
teknik infuse terus menerus bersama fentanil atau secara intermiten. Dosis induksi eto-midat

menurunkan curah jantung , isi sekuncup dan tekanan arteri serta meningkat-kan frekuensi
denyut jantung akibat kompensasi. Etomidat menurunkn aliran darah otak (35-50%),
kecepatan metabolism otak, dan tekanan intracranial, sehingga anestetik ini mungkin
berguna pada bedah [Link] menyebabkan rasa nyeri ditempat nyeri di tempat suntik
yang dapat diatasi dengan menyuntikkan cepat pada vena besar, atau diberikan bersama
medikasi preanestetik seperti meperidin.
Propofol secara kimia tak ada hubungannya dengan anestetik intravena lain. Zat ini
berupa minyak pada suhu kamar dan disediakan sebagai emulsi 1%. Efek pemberian
anestesi umum intravena propofol (2 mg/kg) menginduksi secara cepat seperti tiopental.
Rasa nyeri kadang terjadi ditempat suntikan, tetapi jarang disertai dengan thrombosis.
Propofol menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira 80% tetapi efek ini lebih disebabkan
karena vasodilatasi perifer daripada penurunan curah jantung. Tekanan sistemik kembali
normal dengan intubasi trakea. Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. Aliran darah
ke otak, metabolism otak, dan tekanan intracranial akan menurun. Biasanya terdapat kejang.
c. STADIUM ANESTESI UMUM
Stadium anestesi umum sangat perlu dipahami bagi si operator dalam menjalankan
operasi, karena dengan memonitor tahapan stadium operasi akan berjalan lancar dan aman.
Namun tidak semua anestesi umum dapat mnunjukkan tahapan stadium ini, hanya anestesi
inhalasi menggunakan eter akan lebih nyata teramati pada stadium anestesi ini .Stadium
anestesi dibagi menjadi sbb. :
Stage I. Induction stage or stage of Voluntary Excitement (stadium induksi atau
stadium Eksitasi Bebas), ditandai :
Hewan masih sadar, masih perlu restrain yang balk agar hewan tidak berontak
/lepas. pernafasan masih dipengaruhi oleh kemauan, rasa takut akan meningkatkan
ferkwensi nafas dan pulsus, pupil mata dilatasi dan bahkan hewan dapat terkencingkencing dan defekasi.
Stacie II. Stage of Involuntary Excitement (stadium eksitasi tidak-bebas), ditandai :
Hewan segera hilang kesadarannya setelah memasuki stadium ini. Reaksi reflek
terhadap stimuli sangat kuat, gerakan kaki belakang demikian kuatnya sehingga perlu
direstrain yang sempurna, nafas sangat tidak teratur, denyut jantung tidak teratur, reflek
menelan dan muntah masih ada demikian juga reflek batuk masih ada.
Perlu diketahui bahwa stadium ini adalah stadium yang menyulitkan bagi
dokterhewan sehingga dalam prakteknya stadium ini harus segera dilewati sehingga tandatandanya tidak muncul. Caranya dengan pemberian premedikasi berupa trangulizer, atau
penenang yang lain dan juga dengan teknik peberian suntikan dengan sepertiga atau
setengah dosis volume yang diperhitungkan ( misal untuk pentotal atau sagatal/barbiturat)
dberikan secara cepat dan sisanya diberikan secara pelan-pelan sambil memonitor
kedalaman anestesi.
Stage III . stage of surgical Anaesthesia (stadium operasi) ditandai
Stadium ini dibagi dalam tiga (3) tingkatan kedalaman, light, medium dan deep.

First plane ( plana/plain pertama/ringan) ditandai dengan adanya pernafasan yang


bebas dari kemaun dan berhentinya semua gerakan kaki belakang. Bola mata bergerakgerak dari satu sisi ke sisi yang lain, sesuai dengan makin dalamnya anestesi gerakan bola
mata menjadi lebih lemah dan akhirnya berhenti bila memasuki tingan berikutnya. Reflek
palpebra, kunyunctiva dan kornea segera menghilang jika memasuki plain kedua. Reflek
pedal pada tingkan ini masih kuat dan cepat. Anestesi pada tingkatan kedalam ini dapat
dipergunakan untuk keperluan diagnostik dan pembedahan yang bersifat ringan.
Second Plane (plana/plain medium) ditandaidengan perubhan pada sifat respirasi
bersifat thorakoabdominal dan amplitudonya menurun, bola mata bergeser ke
ventromedial, reflek kornea, palpebra, conyunctiva hilang, reflek batuk akan menghilang
pada pertengan stadium ini, reflek ppedal masih ada tetapi melemah, otot mengalami
relaksasi kecuali otot abdominal. Anestesi pada tingkatan ini semua pembedahan dapat
dilakukan kecuali pembedahan rongga perut
Third Plane (plana/plain dalam) ditandai dengan adanya pernafasan yang bersifat
abdominal dengan amplitudo yang minimal, antara inspirasi dan ekpirasi jelas, bola mata
menuju ke tengah, reflek pedal hilang, reflek batuk hilang, tekanan rahang (jaw tension)
hilang; semua otot mengalami relaksasi. Pada staium inilah semua operasi termasuk
operasi besar dan memerlukan waktu yang relatif lama dapat dilakukan.
Stage IV Overdosage atau stadium paralisa.
Pada stadium ini ditandai dengan paralisa otot-otot thorak sempurna dan hanya
diagpragma yang masih [Link] nafas tersengal-sengal, pulsus cepat dan lemah,
pupil mengembang/dilatasi dan bola mata seperti mata ikan( fish-eye) karena sekresi mata
berhenti; keadaan ini melanjut nafas melemah dan akhirnya berhenti. Warna sianots
mukosa mata berubah menjadi abu-abu (ashen-grey colour) yang menunjukkan adanya
gagalnya jantung ( heart failure) kemudian diikuti berhentinya jantung ( cardiac arrest)
berarti mati/DEATH.
2.3. IV Cath
IV catheter adalah catheter yang dimasukkan ke dalam pembuluh vena.
Kegunaanya berlaku sebagai vena tambahan (perpanjangan vena) untuk pengobatan IV
jangka lama yang lebih dari 48 jam. Pembedahan dengan wing needle bila digunakan lebih
dari 48 jam akan menimbulkan thrombosis, karena wing needle terbuat dari logam.

(Peristiwa pada saat IV Catheter msuk ke dalam pembuluh vena)


Rekomendasi yang dianjurkan untuk penempatan IV kateter adalah:
1. Mencukur wilayah rambut di sekitar lokasi venipuncture , sehingga akan memudahkan
pencarian vena
2. scrub tempat venipuncture sebanyak tiga kali dengan 2 % chlorhexidine dan 70 %
isopropil alkohol .
3. Kenakan sarung tangan atau benar-benar mencuci tangan dengan sabun antibakteri
selama 2 menit sebelum penyisipan kateter .
4. Jangan letakkan topi kateter terbuka pada permukaan yang tidak steril .
5. Bersihkan semua darah dan puing-puing dari kulit sebelum memasang IV cath
6. Beberapa merekomendasikan menggunakan sepotong kain kasa kering untuk menutupi
tempat pemasangan sebelum perban . Namun, tidak lagi dianjurkan untuk menempatkan
salep antibiotik di lokasi penyisipan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Anestesi Umum adalah obat yang dapat menimbulkan anestesia atau narkosa. Yakni
suatu keadaan depresi umum dari berbagai pusat di SSP yang bersifat reversibel, dimana
seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan sehingga lebih mirip dengan keadaan pinsan.
Anestesi Lokal atau zat penghilang rasa setempat yaitu obat yang pada penggunaan lokal
merintangi secara reversibel penerusan impuls saraf ke SSP dan dengan demikian
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal gatal, rasa panas atau dingin. Agar dapat
melakukan anestesi dengan benar, hal awal yang harus diperhatikan adalah bagaimana kita
elakukan cara handling dan restrain yang benar pada hewan coba, yaitu kucing. Oleh karena
itu, agar dapat melakukan pemasangan IV cath dan melakukan anestesi secara benar dan tepat
sasaran pada hewan coba paper ini dibuat.

1.2.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Rumusan Masalah
Bagaimana cara melakukan handling dan restrain untuk kucing?
Bagaimana cara melakukan handling dan restrain untuk anjing?
Apa itu anestesi?
Obat-obat golongan apa saja yang termasuk dalam anestesi lokal dan anestesi umum?
Bagaimana perbedaan dari ke empat stadium anestesi umum?
Bagaimana cara pemasangan IV cath pada kucing?

1.3.

Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana cara handling dan restrain pada hewan anjing maupun
kucing
2. Untuk memahami obat obatan apa saja yang dapat digunakan sebagai premedikasi,
anestesi lokal, maupun anestesi umum. Serta membedakan ke 4 tahapan stadium dari
anestesi umum
3. Untuk mengetahui dan memahami apa itu IV cath, dan bagaimana cara pemasanganya
pada kucing.

BAB III
PENUTUP

3.1.

Kesimpulan
Untuk pemasangan IV cath pada kucing, maupun pemberian anestesi hal-hal yang
paling penting untuk diperhatikan adalah bagaimana kita menghandle dan merestrain
kucing tersebut. Bisa digunakan kantong kucing untuk menangkap kucing tersebut, atau
dengan menggendongnya dengan dua tangan. Jika cara handle dan restrain telah tepat,
tentu akan memudahkan kita dalam pemberian obat anestesi. Obat anestesi terbagi dalam
2, yaitu
Anestesi Umum adalah obat yang dapat menimbulkan anestesia atau narkosa.
Yakni suatu keadaan depresi umum dari berbagai pusat di SSP yang bersifat reversibel,
dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan sehingga lebih mirip dengan keadaan
pinsan. Anestesi Lokal atau zat penghilang rasa setempat yaitu obat yang pada penggunaan
lokal merintangi secara reversibel penerusan impuls saraf ke SSP dan dengan demikian
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal gatal, rasa panas atau dingin. Yang harus
diperhatikan dalam anestesi umum adalah ke-4 stadium anestesi umum yaiut stadium
induksi, stadium eksitasi, stadium operasi dan stadium over dosis.

DAFTAR PUSTAKA

Erwin dkk, 2013. Kadar Hemoglobin Selama Induksi Anestesi Per Inhalasi dan Anestesi Per
Injeksi Pada Anjing Lokal. Jurnal Medika Veterinaria Vol.7 no.2
Leahy,dkk. 2007. Cara-Cara Mengekang Hewan. IPB Press : Bogor

Santosa,Agus. 2009. Anestesiologi. Universitas Gajah Mada : Yogyakarta


Weil,dkk. 2006. Intravenous Indwelling Catheters : Use and [Link] ACVA :Purdue
University

Anda mungkin juga menyukai