0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan11 halaman

Laporan Pendahuluan tentang Scabies

Dokumen tersebut membahas tentang laporan pendahuluan scabies yang mencakup definisi, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, dan penatalaksanaan penyakit scabies. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi parasit Sarcoptes scabei yang menyerang kulit dan menyebabkan gatal hebat terutama pada malam hari. Terdapat beberapa bentuk scabies atipik seperti pada orang bersih, incognito, nodular, yang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan11 halaman

Laporan Pendahuluan tentang Scabies

Dokumen tersebut membahas tentang laporan pendahuluan scabies yang mencakup definisi, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, dan penatalaksanaan penyakit scabies. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi parasit Sarcoptes scabei yang menyerang kulit dan menyebabkan gatal hebat terutama pada malam hari. Terdapat beberapa bentuk scabies atipik seperti pada orang bersih, incognito, nodular, yang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

SCABIES

A. Definisi Scabies
Menurut Handoko (2007), scabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh
infestasi dan sensitisasi terhadap tungau (mite) Sarcoptes scabei. Penyakit ini dikenal
juga dengan nama the itch, gudik, atau gatal agogo.
Scabies (the itch, gudik, budukan, gatal agogo) adalah penyakit kulit yang disebabkan
oleh infestasi dan sensitisasi terhadap sarcoptes scabiei [Link] dan produknya
(Mansjoer, 2000 : 110).
Penyakit scabies ini merupakan penyakit menular oleh kutu tuma gatal sarcoptes scabei
tersebut, kutu tersebut memasuki kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau
terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter.

B. Klasifikasi Scabies
Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal,
sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain
(Sungkar, S, 1995):

1.

Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated).


Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya
sehingga sangat sukar ditemukan.

2.

Skabies incognito.
Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala
dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi.
Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi
atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain.

3.

Skabies nodular
Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya
terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila.

Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies.


Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus
mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah
diberi pengobatan anti scabies dan kortikosteroid.

4.

Skabies yang ditularkan melalui hewan.


Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan
skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan
genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering
kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa
inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4
8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S. scabiei var. binatang tidak dapat
melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.

5.

Skabies Norwegia.
Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta,
skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit
kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat
disertai distrofi kuku. Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies
Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang
menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi
imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat
berkembangbiak dengan mudah.

6.

Skabies pada bayi dan anak.


Lesi scabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher,
telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo,
ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka. (Harahap. M,
2000).

7.

Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden).


Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur
dapat menderita skabies yang lesinya terbatas. (Harahap. M, 2000).

C. Etiologi Scabies
Scabies dapat disebabkan oleh kutu atau kuman sercoptes scabei varian hominis.

Sarcoptes scabieiini termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina,


superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Kecuali itu
terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi. Secara morfologik merupakan
tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau
ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata.

D. Manifestasi Klinis Skabies


Diagnosis dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal berikut :

1.

Pruritus noktuma (gatal pada malam hari) karena aktivitas tungau lebih tinggi pada
suhu yang lembab dan [Link] ditemukan pada sekelompok manusia,
misalnya mengenai seluruhanggota keluarga.

2.

Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih


atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1cm, pada
uung menjadi pimorfi (pustu, ekskoriosi). Tempat predileksi biasanya daerah dengan
stratum komeum tpis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar,
siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mammae dan lipat glutea,
umbilicus, bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat
menyerang bagian telapak tangan dan telapak kaki bahkan seluruh permukaan ulit.
Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit kepala dan wajah.

3.

Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu atau
lebih stadium hidup tungau ini.
Pada pasien yang selalu menjaga higiene, lesi yang timbul hanya sedikit sehingga
diagnosis kadang kala sulit ditegakkan. Jika penyakit berlangsung lama, dapat timbul
likenifikasi, impetigo, dan furunkulsis.

E. Patofisiologi Scabies
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau scabies, akan tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga
terjadi kontak kulit yang kuat,menyebabkan lesi timbul pada pergelangan tangan. Gatal
yang terjadi disebabkan leh sensitisasi terhadap secret dan ekskret tungau yang
memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat it kelainan kulit
menyerupai dermatitis dengan ditemuannya papul, vesikel, dan urtika. Dengan garukan

dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang
terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.

F. Penatalaksanaan Scabies
Syarat obat yang ideal adalah efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan
iritasi dan toksik, tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah
diperoleh dan harganya murah.
Jenis obat topical :

1.

Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Pada
bayi dan orang dewasa sulfur presipitatum 5% dalam minyak sangat aman dan
efektif. Kekurangannya adalah pemakaian tidak boleh kurang dari 3 hari karena
tidak efektif terhadap stadium telur, berbau, mengotori pakaian dan dapat
menimbulkan iritasi.

2.

Emulsi benzyl-benzoat 20-25% efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap


malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadangkadang makin gatal setelah dipakai.

3.

Gama benzena heksa klorida (gameksan) 1% daam bentuk krim atau losio, termasuk
obat pilihan arena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang
memberi iritasi. Obat ini tidak dianurkan pada anak dibawah umur 6 tahun dan
wanta hamil karena toksi terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cup sekali
dalam 8 jam. Jika masihada gejala, diulangi seminggu kemudian.

4.

Krokamiton 10% dalamkrim atau losio mempunyaidua efek sebagai antiscabies dan
antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra. Krim( eurax) hanya efetif
pada 50-60% pasien. Digunakan selama 2 malam berturut-turut dan dbersihkan
setelah 24 jam pemakaian teraKriteria Evaluasiir.

5.

Krim permetrin 5% merupakan obat yang paling efektif dan aman arena sangat
mematikan untuk parasit [Link] dan memiliki toksisitas rendah pada manusia.

6.

Pemberian antibiotika dapat digunakan jika ada infeksi sekunder, misalnya bernanah
di area yang terkena (sela-sela jari, alat kelamin) akibat garukan.

Konsep Dasar Askep Scabies


A. Pengkajian Keperawatan

1.

Biodata
a. Identitas pasien
b. Identitas penanggungjawab

2.
a.

Riwyat kesehatan

Keluhan utama
Pada pasien scabies terdapat lesi dikulit bagian punggung dan merasakan gatal
terutama pada malam hari.

b. Riwayat kesehatan sekarang


Pasien mulai merasakan gatal yang memanas dan kemudian menjadi edema karena
garukan akibat rasa gatal yang sangat hebat.

c.

Riwayat kesehatan dahulu


Pasien pernah masuk RS karena alergi

d. Riwayat kesehatan keluarga


Dalam keluarga pasien ada yang menderita penyakit seperti yang klien alami yaitu
kurap, kudis.

3.
a.

Pola fungsi kesehatan

Pola persepsi terhadap kesehatan


Apabila sakit, klien biasa membeliobat di tko obat terdeat atauapabila tidak terjadi
perubahan pasien memaksakan diri ke puskesmas atau RS terdekat.

b. Pola aktivitas latihan


Aktivitas latihan selama sakit :
Makan
Mandi
Berpakaian
Eliminasi
Mobilisasi di tempat tidur

c.

Pola istirahat tidur


Pada pasien scabies terjadi gangguan pola tidur akibat gatal yang hebat pada malam
hari.

d. Pola nutrisi metabolik


Tidak ada gangguan dalam nutrisi metaboliknya.

e.

Pola eliminasi
Klien BAB 1x sehari, dengan konsitensi lembek, warna kuning bau khas dan BAK 45x sehari, dengan bau khas warna kuning jernih.

f.

Pola kognitif perceptual


Saat pengkajian kien dalam keadaan sadar, bicara jelas, pendengaran dan penglihatan
normal.

g.

Pola peran hubungan

h. Pola seksual reproduksi


Pada klien scabies mengalami gangguan pada seksual reproduksinya.

i.

Pola koping
Masalah utama yang terjadi selama klien sakit, klien selalu merasa gatal, dan pasien
menjadi malas untuk bekerja.
Kehilangan atau perubahan yang terjadi klien malas untuk melakukan aktivitas
sehari-hari.
Takut terhadap kekerasan : tidak
Pandangan terhadap masa depan
Klien optimis untuk sembuh

A. Diagnosa Keperawatan Pada Askep Scabies


1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampianSekunder
4. Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
5. resiko infeksi berhubungan dengan jaringan kuit rusak dan prosedur infasif
6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema

A. Intervensi Keperawatan Pada Askep Scabies

1.

Diagnosa 1
Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 24 jam,
diharapkan nyeri klien dapat teratasi dengan Kriteria Evaluasi:

a.

Nyeri terkontrol

b. Gatal mulai hilang


c.

Puss hilang

d. Kulit tidak memerah

Intervesi:

a.

Kaji intensitas nyeri, karakteristik dan catat lokasi

b. Berikan perawatan kulit dengan sering, hilangkan rangsangan lingungan yang


kurang menyenangkan

c.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

d. Kolaborasi pemberian antibiotika


2.

Diagnosa 2
Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 24 jam diharapkan
tidur klien tidak terganggu dengan Kriteria Evaluasi :

a.

Mata klien tidak bengkak lagi

b. Klien tidak sering terbangun dimalam hari

Intervensi:

a.

Berikan kenyamanan pada klien (kebersihan tempat tidur klien)

b. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik


c.

Catat banyaknya klien terbangun dimalam hari

d. Berikan lingkungan yang nyaman dan kurangi kebisingan

e.

Berikan minum hangat (susu) jika perlu

f.

Berikan musik klasik sebagai pengantar tidur

3.

Diagnosa 3
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampian
sekunder
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 324 jam diharapkan
klien tidak mengalami gangguan dalam cara penerapan citra diri dengan
Kriteria Evaluasi:

a.

Mengungkapkan penerimaan atas penyakit yang di alaminya

b. Mengakui dan memantapkan kembali sistem dukungan yang ada

Intervensi

a.

Dorong individu untuk mengekspresikan perasaan khususnya mengenai


pikiran, pandangan dirinya

b. Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah penanganan,


perkembangan kesehatan

4.

Diagnosa 4
Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 24 jam diharapkan
klien tidak cemas lagi dengan Kriteria Evaluasi :

a.

Klien tidak resah

b. Klien tampak tenang dan mampu menerima kenyaataan


c.

Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas

d. Postur tubuh ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan
berkurangnya kecemasan

Intervensi

a.

Identifikasi kecemasan

b. Gunakan pendekatan yang menenangkan


c.

Temani pasien untuk memberian keamanan dan mengurangi ketakutan

d. Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan


e.

Berikan informasi faktual tentang diagnosis, tindakan prognosis

5.

Diagnosa 5
Resiko infeksi berhubungan dengan jaringan kuit rusak dan prosedur infasif
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 24 jam diharapkan
klien tidak terjadi resiko infeksi dengan Kriteria Evaluasi :

a.

Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

b. Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi


c.

Menunjukkan perilaku hidup sehat

d. Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang mempengaruhi


penularan dan penatalaksanaannya

intervensi

a.

Monitor tanda dan gejala infeksi

b. Monitor kerentanan terhadap infeksi


c.

Batasi pengunjung bila perlu

d. Instruksikan pada pengunjung untk mencuci tangan saat berkunjung dan


setelah meninggalkan pasien

e.

Pertahankan lingkngan aseptic selama pemasangan alat

f.

Berikan perawatan kulit pada area epidema

g.

Inspeksi kulit dan membrane mukosa terhadap kemerahan, panas

h. Inspeksi kondisi luka


i.

Berikan terapi antibiotik bila perlu

j.

Ajarkan cara menghindari infeksi

6.

Diagnosa 6
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan elama 3 24 jam diharapkan

lapisan kulit klien terlihat normal, dengan Kriteria Evaluasi :

a.

Integritas kulit yang bak dapat dipetahankan (sensasi, elastisitas, temperatur)

b. Tidak ada luka atau lesi pada kulit


c.

Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit serta


perawatan alami

d. Perfusi jaringan baik

Intervensi

e.

Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

f.

Monitor kulit akan adanya kemerahan

g.

Mandikan pasien dengan air hangat dan sabun

B. Implementasi Keperawatan
1. Mengkaji intensitas nyeri, karakteristik dan catat lokasi
2. Memberikan perawatan kulit dengan sering, hilangkan rangsangan lingkungan yang
kurang menyenangkan
3. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik dan antibiotika
C. Evaluasi Keperawatan
Masalah gangguan rasa nyaman nyeri dikatakan teratasi apabila :

1.

nyeri terkontrol

2.

gatal mulai hilang

3.

puss hilang

4.

kulit tidak memerah

D. Daftar Pustaka
Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ED : 3
jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.
Carpenito, Linda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.
Closkey, Mc, et all. 2007. Diagnosa Keperawatan NOC-NIC. St-Louis
Harahap. M, 2000. Ilmu penyakit kulit. Hipokrates. Jakarta.
Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medikal.

Anda mungkin juga menyukai