PENGUAT INVERTING
I.
II.
Tujuan
1.
Dapat membuat rangkaian penguat inverting dengan benar.
2.
Mengetahui cara kerja penguat inverting.
3.
Dapat menggambar sinyal output dari penguat inverting.
DASAR TEORI
Rangkaian penguat dengan inverting maksudnya adalah inverting (terminal
negative) diberi sinyal input, sedangkan non inverting (terminal positive)
dihubungkan dengan ground seperti yang terdapat pada gambar dibawah ini :
R1
Vf
Rf
I1
I2
Vin
Vcc
+15
OP-AMP
+
Vcc
-15
Vout
Gambar 2.1 Rangkaian Penguat Dengan Inverting
Keterangan :
Vin
: Tegangan input
R1
: Tahanan input
Rf
: Tahanan FeedBack
I1
: Arus Input
AMP : Amplifier
Vf
: Tegangan diferensial
Vo
: Tegangan Output
Berarti dari persamaan tadi, dapat dijabarkan menjadi :
-
=
=
Sebab I1 = If atau
Karena A =
maka;
A=
Jadi jelas persamaan di atas bahwa penguatnya ditentukan oleh besarnya
tahanan R1 dan Rf, namun untuk parameter penguat operasional tahanan feedback
tetap tidak ada pengaruhnya sebab tidak ada arus mengalir melalui terminal
negative tersebut melainkan terus menerus.
Maka itu :
I1 = If ( arus input )
Z1= R1 ( Impendansi input)
Sehingga penguat operasional dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan
berdasarkan pilian Rin dan Rf. Seperti sudah kita ketahui sebelumnya, bahwa
penguat operasional mempunyai peguat tak terhingga, sehingga berlaku rumus:
A = Vo : Vs atau ;
Vs =
menjadi ;
Vs =
= 0 (nol)
Jadi jelas pada penguat operasional , tegangan diferensialnya adalah nol
(Vs=0) dan juga Is = 0. Selain itu juga, karena tidak ada selisih antara terminal
negative (-) dan terminal positif (+) sehingga mengakibatkan nilai Vs= 0.
Dilihat dari gambar 2.1, karena Vs = 0 maka tegangan input (Vin) memberikan
arus pada R dab Rf yang sama besarnya yaitu I1 dan If, oleh karena itu berlaku
rumus-rumus hukum ohm, bahwa :
I1 =
Dimana :
I1
: arus input penguat operasional (A)
V1
: tegangan input penguat operasional (V)
R1
: tahanan input (impedansi input ) dalam ohm ()
Karena tahanan Feedback (Rf) sejajar dengan AMP, maka tegangan
output (Vo) sama dengan yegangan yang terdapat pada Rf, yaitu :
-Vo = If . Rf
I=
Dimana :
Vo
: Tegangan output (V)
I1
: Arus Feedback (A)
RF
: Tahanan feedback ()
III. Alat dan Bahan
1.
Multimeter metrowatt
1 buah
2.
Osiloskop
1 buah
3.
Pascal
1 buah
4.
Function Generation
1 buah
5.
Resistor 1 K
2 buah
6.
Resistor 2,2 K
1 buah
7.
Resistor 3,3 K
1 buah
8.
Resistor 4,7 K
1 buah
9.
Resistor 5,6 K
1 buah
10. Protoboard
1 buah
11. Jumper
1 set
12. Kabel Penghubung
1 buah
IV. Gambar Rangkaian Percobaan
Rf
Rin
+15
-15
Gambar 2.2
Rangkaian Penguat Inverting dengan Satu Masukan
Rf
Rin
+15
R2
-15
V2
Gambar 2.3
Rangkaian Penguat Inverting dengan Dua Masukan
V.
LANGKAH PERCOBAAN
1.
Buat rangkaian percobaan pada gambar 2.2.
2.
Set Vcc = 15 V, Vce = - 15 V, Rin = 1 K dengan Rf = 2K2 , 3K3,
4K7, 5K6 dan Vin = 2V, 3V, 4V dan 5V. Catat hasilnya pada tabel
1 dan gambar pada kertas grafik.
3.
Ganti penguat dengan input AC yang langsung diberikan pada R1 input.
4.
Ulangi langkah 2.
5.
Catat hasilnya pada tabel 2 dan gambarkan outputnya pada kertas
grafik.
6.
Untuk gambar 2.3 input sinyal AC diberikan V1 = 1 Vpp dan V2 = 1
Vpp.
7.
Ganti harga resistor R2 = 2K2, 4K7, 5K6.
8.
Tahanan Rf dan R1 = 1K.
9.
Catat pada tabel 3 dan gambar output pada kertas grafik.
VI. Keselamatan Kerja
1.
Sebelum melakukan praktik, pastikan semua alat yang digunakan dalam
keadaan baik dan benar.
2.
Sebelum memasukkan tegangan input ke dalam rangkaian, kebenaran
rangkaian harus sesuai dengan yang kita butuhkan, jangan melebihi
batas yang dibutuhkan.
3.
Pada saat mengukur dan memasukkan tegangan sumber pada pascal
harus sesuai dengan yang kita butuhkan.
4.
Pergunakan semua alat-alat yang ada pada laboratorium Pengolahan
Sinyal dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan fungsinya.
5.
Apabila praktik telah selesai, matikan semua alat yang telah digunakan
dan pastikan semuanya kembali seperti semula.
VII. Data Percobaan
Tabel 1. Input Sinyal DC
Resistor
R()
R1
f
2K2
3K3
4K7
5K6
2K2
3K3
4K7
5K6
2K2
3K3
4K7
5K6
2K2
3K3
4K7
5K6
2K2
3K3
4K7
5K6
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
Vin
1
1
1
1
2
2
2
2
3
3
3
3
4
4
4
4
5
5
5
5
Tegangan (V)
Vout
Perhitungan Pengukuran
-2,2
-3,3
-4,7
-5,6
-4,4
-6,6
-9,4
-11,2
-6,6
-9,9
-14,1
-16,8
-8,8
-13,2
-18,8
-22,4
-11,0
-16,5
-23,5
-28,0
-2,3
-3,6
-5,0
-6,0
-4,6
-7,0
-10,3
-11,9
-6,8
-10,7
-12,0
-12,0
-9,0
-12,0
-12,0
-12,0
-10,5
-12,0
-12,0
-12,0
AV
V/Div
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
Perhitungan
Pengukuran
2,2
3,3
4,7
5,6
2,2
3,3
4,7
5,6
2,2
3,3
4,7
5,6
2,2
3,3
4,7
5,6
2,2
3,3
4,7
5,6
2,3
3,3
5,0
6,0
2,3
3,5
5,2
6,0
2,3
3,6
4,0
4,0
2,3
4,0
4,0
4,0
2,1
4,0
4,0
4,0
Tabel 2. Input Sinyal AC
Resistor
Rf () R1
2K2
3K3
4K7
5K6
2K2
3K3
4K7
5K6
2K2
3K3
4K7
5K6
2K2
3K3
4K7
5K6
2K2
3K3
4K7
5K6
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
Vin
1
1
1
1
2
2
2
2
3
3
3
3
4
4
4
4
5
5
5
5
Tegangan (V)
Vout
Perhitungan Pengukuran
-2,2
-3,3
-4,7
-5,6
-4,4
-6,6
-9,4
-11,2
-6,6
-9,9
-14,1
-16,8
-8,8
-13,2
-18,8
-22,4
-11,0
-16,5
-23,5
-28,0
-1,6
-2,4
-3,5
-4,3
-2,8
-4,4
-6,1
-7,2
-4,2
-6,4
-9,0
-9,9
-5,5
-8,6
-10,9
-11,0
-6,8
-10,2
-11,5
-12,0
AV
V/Div
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
2V
Perhitungan
Pengukuran
2,2
3,3
4,7
5,6
2,2
3,3
4,7
5,6
2,2
3,3
4,7
5,6
2,2
3,3
4,7
5,6
2,2
3,3
4,7
5,6
1,6
2,4
3,5
4,3
1,4
2,2
3,05
3,6
1,4
2,13
3,0
3,3
1,4
2,2
2,7
2,8
1,4
2,04
2,3
2,4
Tabel 3. Input Sinyal AC dengan Dua Input
Resistor ()
Rf
R1
R2
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
1K
2K2
4K7
5K6
2K2
4K7
5K6
2K2
4K7
5K6
Tegangan
Input
(V) / (Vpp)
V1
V
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Tegangan
Output
(V)
Vout
Vout
Perhitungan Pengukuran
-1,45
-1,1
-1,2
-0,95
-1,18
-0,9
-1,9
-1,6
-1,43
-1,2
-1,36
-1,1
-2,4
-2,1
-1,64
-1,4
-1,56
-1,2
1
1
1
2
2
2
3
3
3
V/Div
1V
1V
1V
1V
1V
1V
1V
1V
1V
VIII. Analisa
Rangkaian penguat inverting merupakan rangkaian elektronika yang
berfungsi untuk memperkuat dan membalik polaritas sinyal masukan. Pada
percobaan ini rangkaian penguat inverting menggunakan IC 741.
Pada percobaan penguat inverting dengan sinyal masukan berupa tegangan
DC maka output yang dihasilkan dari rangkaian penguat inverting merupakan
kebalikan input. Jika input-nya positif maka output op amp akan negative dan
sebaliknya, dimana terlihat dari data percobaan yang didapat dan diperkuat
dengan teori yang telah ada. Untuk sinyal masukan berupa tegangan AC maka
sinyal input dan sinyal output terjadi beda fasa. Besarnya tegangan output dan
penguatan yang dihasilkan dapat diperoleh berdasarkan rumus yakni :
Berikut hasil perhitungan tegangan output untuk sinyal masukan DC dan AC satu
input :
Vin = 1Volt
Rin = 1K , Rf = 2,2 K dan Vin = 1 V
Vout =
= -2,2 Volt
AV
Vout
Vin
2,2 V
1V
= 2,2
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC tegangan outputnya sebesar -2,3 V dengan
penguatan 2,3 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan
output sebesar -1,6 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 1,6 dimana
dapat diketahui bahwa output yang dihasilkan ialah berbanding
terbalik dengan input.
Rin = 1K , Rf = 3,3 K dan Vin = 1 V
Vout =
= -3,3 Volt
AV
Vout
Vin
3,3 V
1V
= 3,3
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC tegangan outpunya sebesar -3,6 V dengan
penguatan 3,6 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan
output sebesar -2,4 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,4.
Rin = 1K , Rf = 4,7 K dan Vin = 1 V
Vout =
= -4,7 Volt
AV
Vout
Vin
4,7 V
1V
= 4,7
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC tegangan outputnta sebesar -5,0 V dengan
penguatan 5,0 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan
output sebesar -3,5 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 3,5.
Rin = 1K , Rf = 5,6 K dan Vin = 1 V
Vout =
= -5,6 Volt
AV
Vout
Vin
5,6 V
1V
= 5,6
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -6,0 V dengan penguatan 6,0 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -4,3
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 4,3.
Vin = 2 Volt
Rin = 1K , Rf = 2,2 K dan Vin = 2 V
Vout =
= -4,4 Volt
AV
Vout
Vin
4,4 V
2V
= 2,2
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -4,6 V dengan penguatan 2,3 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -2,8
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 1,4.
Rin = 1K , Rf = 3,3 K dan Vin = 2 V
Vout =
= -6,6 Volt
AV
Vout
Vin
6,6 V
2V
= 3,3
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -7,0 V dengan penguatan 3,5 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -4,4
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,2.
Rin = 1K , Rf = 4,7 K dan Vin = 2 V
Vout =
= -9,4 Volt
AV
Vout
Vin
9,4 V
2V
= 4,7
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -10,3 V dengan penguatan 5,2 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -6,1
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 3,05.
Rin = 1K , Rf = 5,6 K dan Vin = 2 V
Vout =
= -11,2 Volt
AV
Vout
Vin
11,2 V
2V
= 5,6
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -11,9 V dengan penguatan 6,0 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -7.2
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 3,6.
Pada percobaan kali ini, hasil sinyal output AC yang di dapat
mengalami distorsi amplitudo berupa terpotongnya sinyal output pada
sisi negatif penyebab terjadinya distorsi amplitudo yakni tegangan
output yang dihasilkan melebihi tegangan saturasi sementara hasil
output dari OP-AMP tidak dapat melebihi batas rating maksimal
saturasi yakni berkisar 12 Volt.
Vin = 3 Volt
Rin = 1K , Rf = 2,2 K dan Vin = 3 V
Vout =
= -6,6 Volt
AV
Vout
Vin
6,6 V
3V
= 2,2
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan didapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -6,8 V dengan penguatan -2,3 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar
-4,2V. Serta penguatannya di dapat sebesar 1,4.
Rin = 1K , Rf = 3,3 K dan Vin = 3 V
Vout =
= -9,9 Volt
AV
Vout
Vin
9,9 V
3V
= 3,3
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -10,7 V dengan penguatan 3,6 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -6,4
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,13.
Rin = 1K , Rf = 4,7 K dan Vin = 3 V
Vout =
= -14,1 Volt
AV
Vout
Vin
14,1 V
3V
= 4,7
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan didapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -12,0 V dengan penguatan 4,0 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -9,0
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 3,0.
Sama halnya dengan Rf = 5K6 dengan Vin = 2 V, hasil sinyal
output AC yang didapat mengalami distorsi amplitudo berupa
terpotongnya sinyal output pada sisi negatif penyebab terjadinya
distorsi amplitudo yakni tegangan output yang dihasilkan melebihi
tegangan saturasi sementara hasil output dari OP-AMP tidak dapat
melebihi batas rating maksimal saturasi yakni berkisar 12 Volt.
Rin = 1K , Rf = 5,6 K dan Vin = 3 V
Vout =
= -16,8 Volt
AV
Vout
Vin
16,8 V
3V
= 5,6
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -12,0 V dengan penguatan 4,0 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -9,9
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 3,3.
Pada percobaan kali inipun hasil sinyal output AC yang di dapat
mengalami distorsi amplitudo berupa terpotongnya sinyal output pada
sisi negatif karena tegangan output melebihi tegangan saturasi.
Vin = 4 Volt
Rin = 1K , Rf = 2,2 K dan Vin = 4 V
Vout =
= -8,8 Volt
AV
Vout
Vin
8,8 V
4V
= 2,2
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -9,0 V dengan penguatan 2,3 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar
-5,5V. Serta penguatannya di dapat sebesar 1,8.
Rin = 1K , Rf = 3,3 K dan Vin = 4 V
Vout =
= -13,2 Volt
AV
Vout
Vin
13,2 V
4V
= 3,3
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -12,0 V dengan penguatan 4,0 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -8,6
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,15.
Pada percobaan kali ini dengan Vin = 4 V, hasil sinyal output AC
yang di dapat mengalami distorsi amplitudo berupa terpotongnya
sinyal output pada sisi negatif karena tegangan output melebihi
tegangan saturasi dimana batas rating maksimal saturasi yakni berkisar
12 Volt.
Rin = 1K , Rf = 4,7 K dan Vin = 4 V
Vout =
= -14,1 Volt
AV
Vout
Vin
14,1 V
4V
= 4,7
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -12,0 V dengan penguatan 4,0 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar
-10,9 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,7.
Sama halnya dengan Rf = 3K3 sebelumnya, hasil sinyal output AC
yang di dapat mengalami distorsi amplitudo berupa terpotongnya
sinyal output pada sisi negatif karena tegangan output melebihi
tegangan saturasi dimana batas rating maksimal saturasi yakni berkisar
12 Volt.
Rin = 1K , Rf = 5,6 K dan Vin = 4 V
Vout =
= -16,8 Volt
AV
Vout
Vin
16,8 V
4V
= 5,6
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -12,0 V dengan penguatan 4,0 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -11
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,7.
Sama halnya dengan Rf = 3K3 dan Rf = 4K7 sebelumnya, hasil
sinyal output AC yang di dapat mengalami distorsi amplitudo berupa
terpotongnya sinyal output pada sisi negatif karena tegangan output
melebihi tegangan saturasi dimana batas rating maksimal saturasi
yakni berkisar 12 Volt.
Vin = 5 Volt
Rin = 1K , Rf = 2,2 K dan Vin = 5 V
Vout =
= -11,0 Volt
AV
Vout
Vin
11,0 V
5V
= 2,2
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -10,5 V dengan penguatan 2,1 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar -6,8
V. Serta penguatannya di dapat sebesar 1,36 .
Rin = 1K , Rf = 3,3 K dan Vin = 5 V
Vout =
= -16,5 Volt
AV
Vout
Vin
16,5 V
5V
= 3,3
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -12,0 V dengan penguatan 4,0 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar
-10,7 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,14.
Sama halnya dengan sebelumnya, hasil sinyal output AC yang di
dapat mengalami distorsi amplitudo berupa terpotongnya sinyal output
pada sisi negatif karena tegangan output melebihi tegangan saturasi
dimana batas rating maksimal saturasi yakni berkisar 12 Volt.
Rin = 1K , Rf = 4K7 K dan Vin = 5 V
Vout =
= -22,0 Volt
AV
Vout
Vin
22,0 V
5V
= 4,7
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -12,0 V dengan penguatan 4,0 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar
-11,5 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,3.
Sama halnya dengan sebelumnya, hasil sinyal output AC yang di
dapat mengalami distorsi amplitudo berupa terpotongnya sinyal output
pada sisi negatif karena tegangan output melebihi tegangan saturasi
dimana batas rating maksimal saturasi yakni berkisar 12 Volt.
Rin = 1K , Rf = 5K6 K dan Vin = 5 V
Vout =
= -28,0 Volt
AV
Vout
Vin
28,0 V
5V
= 5,6
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat :
Untuk input sinyal DC sebesar -12,0 V dengan penguatan 4,0 V,
sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar
-12 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,4.
Sama halnya dengan sebelumnya, hasil sinyal output AC yang di
dapat mengalami distorsi amplitudo berupa terpotongnya sinyal output
pada sisi negatif karena tegangan output melebihi tegangan saturasi
dimana batas rating maksimal saturasi yakni berkisar 12 Volt.
Adapun data perhitungan tegangan output pada penguat inverting dengan
dua input sinyal AC ialah sebagai berikut :
Rf = 1K , R1 = 1 K, R2 = 2,2 K, V1 = 1V, V2 = 1V
Vout = - (
( )
=-(
( )
( ))
(
))
= - 1,45
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan yang didapat yaknitegangan
output yang didapat ialah -1,1 V.
Rf = 1K , R1 = 1 K, R2 = 4,7 K, V1 = 1V, V2 = 1V
Vout = - (
( )
=-(
( )
( ))
(
))
= - 1,2
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan yang didapat yaknitegangan
output yang didapat ialah -0,95 V.
Rf = 1K , R1 = 1 K, R2 = 5,6 K, V1 = 1V, V2 = 1V
Vout = - (
( )
=-(
( )
( ))
(
))
= - 1,18
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan yang didapat yaknitegangan
output yang didapat ialah 0,9 V.
Rf = 1K , R1 = 1 K, R2 = 2,2 K, V1 = 1V, V2 = 2V
Vout = - (
( )
=-(
( )
( ))
(
))
= - 1,9
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan yang didapat yaknitegangan
output yang didapat ialah -1,6 V.
Rf = 1K , R1 = 1 K, R2 = 4,7 K, V1 = 1V, V2 = 2V
Vout = - (
( )
=-(
( )
( ))
(
))
= - 1,43
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan yang didapat yaknitegangan
output yang didapat ialah -1,2 V.
Rf = 1K , R1 = 1 K, R2 = 5,6 K, V1 = 1V, V2 = 2V
Vout = - (
( )
=-(
( )
( ))
(
))
= - 1,36
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan yang didapat yaknitegangan
output yang didapat ialah -1,1 V.
Rf = 1K , R1 = 1 K, R2 = 2,2 K, V1 = 1V, V2 = 3V
Vout = - (
( )
=-(
( )
( ))
(
))
= - 2,4
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan yang didapat yaknitegangan
output yang didapat ialah -2,1 V.
Rf = 1K , R1 = 1 K, R2 = 4,7 K, V1 = 1V, V2 = 3V
Vout = - (
( )
=-(
( )
( ))
(
))
= - 1.64
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan yang didapat yaknitegangan
output yang didapat ialah -1,3 V.
Rf = 1K , R1 = 1 K, R2 = 5,6 K, V1 = 1V, V2 = 2V
Vout = - (
( )
=-(
( )
( ))
(
))
= - 1,56
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan yang didapat yaknitegangan
output yang didapat ialah -1,2 V.
IX.
Kesimpulan
-
Untuk sinyal masukan DC, tegangan output yang dihasilkan ialah
berbanding terbalik dengan tegangan input dimana ketika input
bernilai 1 Vmaka tegangan Output yang dihasilkan ialah -1V.
Untuk sinyal masukan AC satu input, sinyal output yang dihasilkan
ialah berbeda fasa dengan sinyal masukan yakni dengan beda fasa
180.
Besarnya penguatan pada penguat inverting bergantung pada besarnya
harga Rf, yakni besar penguatan akan mendekati atau sama dengan
besar harga Rf itu sendiri.
Distorsi amplitudo sinyal output untuk sinyal masukan AC satu input
terjadi apabila tegangan output yang dihasilkan melebihi tegangan
saturasi.
Tegangan output yang dihasilkan untuk sinyal masukan AC dua input
merupakan penjumlahan dari tegangan masukan itu sendiri.
X.
Daftar Pustaka
Albert Paul Malvino. 2004. Prinsip-Prinsip Elektornika. Selemba
Teknika:Jakarta
Anonim. http//[Link] ( Diakses pada hari Senin, 2 April 2012
pukul 13.00-14.30)
Robert F. Coughlin Frederick F. Driscoll. 1994. Penguat Operasional dan
Rangkaian Terpadu Linear. Erlangga: Jakarta
Candra, Robby. 2005. Operational Amplifiers. Jakarta: Universitas
Gunadharma
Sutikno, Lina. H. 2000. Teori Aplikasi Op Amp. Jakarta: Universitas
Mercubuana