Desain Pembelajaran Model Kemp
Desain Pembelajaran Model Kemp
Menurut Morisson, Ross, dan Kemp (2004), model desain sistem pembelajaran ini akan membantu
pendidik sebagai perancang program atau kegiatan pembelajaran dalam memahami kerangka teori
dengan lebih baik dan menerapakan teori tersebut untuk menciptakan aktivitas pembelajaran yang lebih
efektif dan efisien. Desain pembelajaran model Kemp dapat dijelaskan dengan sebuah bagan berikut:
12
Jerol E. Kemp berasal dari California State Univercity di Sanjose. Kemp mengembangkan model desain
instruksional yang paling awal bagi pendidikan. Model Kemp memberikan bimbingan keada para
siswanya untuk berpikir tentang masalah masalah umum dan tujuan tujuan pembelajaran. Model ini
juga mengarahkan para pengembang desain instruksional untuk melihat karakteristik para siswa serta
menentukan tujuan- tujuan belajar yang tepat. Langkah berikutnya adalah spesifikasi isi pelajaran dan
mengembangkan pretest dari tujuan tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya adalah menetapkan
strategi dan langkah langkah dalam kegiatan belajar mengajar serta sumber- sumber belajar yang akan
digunakan. Selanjutnya , materi / isi (content) kemudian di evaluasi atas dasar tujuan tujuan yang telah
di rumuska. Langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi dan revisi didasarkan atas hasol- hasil
evaluasi.
Perencanaan desain pembelajaran model Kemp dapat digunakan pada tingkat sekolah dasar, sekolah
lanjutan, maupun perguruan tinggi.
Desain Pembelajaran Model Kemp ini dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan, yakni :
1. Apa yang harus di pelajari siswa (tujuan pembelajaran )
2. Apa atau bagaimana prosedur,dan sumber- sumber belajar apa yang tepat untuk mencapai hasil belajar
yang diinginkan (kegiatan, media, dan sumber belajar yang digunakan).
3. Bagaimana kita tahu bahwa hasil belajar yang diharapkan telah tercapai (evaluasi)
Langkah langkah pengembangan desain pembelajaran model Kemp, terdiri dari delapan langkah, yakni
:
1. Menentukan tujuan instruksional umum (TIU) atau kompetensi dasar, yaitu tujuan umum yang ingin di
capai dalam mengajarkan masing- masing pokok bahasan.
2. Membuat analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui
apakah latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program ,
serta langkah- langkah apa yang perlu diambil.
3. Menentukan tujuan instruksional secara spesifik, operasional, dan terukur (dalam KTSP adalah
indikator). Dengan demikian, siswa akan tahu apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya,
dan apa ukurannya bahwa ia telah berhasil. Bagi guru, rumusan itu akan berguan dalam menyusun tes
kemampuan /keberhasilan dan pemilihan materi/bahan belajar yang sesuai.
4. Menentukan materi/ bahan ajar yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus (indikator) yang telah
dirumuskan. Masalah yang sering kali dihadapi guru- guru adalah begitu banyakknya materi pelajaran
yang harus diajarkan dengan waktu yang terbatas. Demikian juga, timbul kesulitan dalam
mengorganisasikan materi/ bahan ajar yang akan disajikan kepada para siswa. Dalam hal ini diperlukan
ketepatan guru dalam memilih dan memilah sumber belajar, materi, media,dan prosedur pembelajaran
yang akan digunakan.
5. Menetapkan penjajagan atau tes awal (preassesment). Ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana
pengetahuan awal siswa dalam memenuhi prasyarat belajar yang dituntut untuk mengikuti program
pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dengan demikian, guru dapat memilih materi yang diperlukan
tanpa harus menyajikan yang tidak perlu, sehingga siswa tidak menjadi bosan.
6. Menentukan strategi belajar mengajar, media dan sumber belajar. Kriteria umum untuk pemilihan
strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus (indikator) tersebut, adalah
efisiensi, keefektifan, ekonomis, kepraktisan, melalui suatu analisis alternatif.
7. Mengoordinasikan sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan
tenaga.
8. Mengadakan evaluasi. Evaluasi ini sangat perlu untuk mengontroldan mengkaji keberhasilan program
secara keseluruhan, yaitu siswa, program pembelajaran, alat evaluasi (tes), dan metode/strategi yang
digunakan.
Semua komponen diatas saling berhubungan satu dengan yang lainnya, bila adanya perubahan atau data
yang bertentangan pada salah satu komponen mengakibatkan pengaruh pada komponen lainnya. Dalam
lingkaran model Kemp menunjukkan kemungkinan revisi tiap komponen bila diperlukan. Revisi
dilakukan dengan data pada komponen sebelumnya maupun sesudahnya. Berbeda dengan pendekatan
sistem dalam pembelajaran, perencanaan desain pembelajaran ini bisa dimulai dari komponen mana saja,
jadi perencanaan desain boleh dimulai dengan merencanakan pokok bahasan terlebih dahulu, atau
mungkin dengan evaluasi. Komponen mama yang di dahulukan serta di prioritaskan yang dipilih
bergantung kepada data apa yang sudah siap, tersedia, situasi,dan kondisi sekolah,atau bergantung pada
pembuat perencanaan itu sendiri.
1. Pokok Bahasan dan Tujuan Umum (Goals, Topic, and General Purposes)
Pengertian Goals, Topic, and General Purposes jika dipadukan menjadi satu pengertian adalah tujuan
umum. Dalam prosedur pengembangan pembelajaran biasa disebut tujuan instruksional umum.
Pokok Bahasan
Pokok bahasan menjadi dasar dalam pembelajaran dan menggambarkan ruang kingcup pembelajaran itu
sendiri. Pada Sekolah Dasar kelas rendah, tema atau topic bahasan biasanya lebijh sederhana umumnya
nyata pada pengalaman siswa sehari-hari. Sedangkan untuk kelas tinggi biasanya pokok bahasan
disesuaikan dengan SK dan KD yang telah dikeluarkan oleh BSNP.
Tujuan Pembelajaran Umum
Tujauna pembelajaran umum (dalam, Rusman, 2011: 170) adalah tujuan pembelajaran yang sifatnya
masih umum dan belum dapat menggambarkan tingkah laku yang lebih spesifik. Tujuan pembelajaran
umum dapat dilihat dari setiap pokok bahasan suatu mata pelajaran yang ada di dalam silabus atau
kurikulum.
Biasanya tujmuan umum ditandai dengan kata memahami,mengetahui dan sebagainya. Kata kerja
semacam itu tidak operasional dan sukar menentukan criteria dan spesifikasinya, sehingga susah untuk
diukur.
2. Karakteristik Siswa (Learner Characteristic)
Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mencapai tujuan
belajar atau tidak.
Contoh:
Sasaran
: Siswa Sekolah
Jumlah Siswa
: 30
Kemampuan Membaca
: 12-14
Kematangan
2. Domain Afektif, yaitu menekankan pada sikap, perasaan, emosi, dan karakterisitik moral yang
diperlukan untuk kehidupan di masyarakat. Domain afektif memiliki lima tingkatan yaitu: 1)
Penerimaan, misalnya kemampuan siswa untuk mendengarkan materi pelajaran yang disampaikan oleh
guru dan melihat perasaan, antusiasme,dan semangat belajar siswa. 2) responding, kemampuan siswa
untuk menerima timbale balik positif terhadap lingkungan dalam pembelajaran. 3) Penilaian, yaitu
penerimaan terhadap nilai-nilai yang ditanamkan dalam pembelajaran, membuat pertimbangan terhadap
berbagai nilai untuk diyakinkan dan diaplikasikan. 4) Pengorganisasian, yaitu kemampuan siswa dalam
hal mengorganisasikan suatu siste nilai, dan 5) Karakterisasi, yaitu pengembangan dan internalisasi dari
tingkatan pengorganisasian terhadap representasi kehidupan secara luas.
3. Domain Psikomotor, yaitu domain yang menekankan pada gerakan-gerakan fisik, kecakapan fisik,
keterampilan fisik halus maupun kasar. Domain ini lebih menekankan pada mata pelajaran yang
berhubungan dengan kemampuan keterampilan seseorang. Ada enam tingkatan yaitu persepsi, kesiapan,
gerakan terbimbing, gerakan mekanis terpola, gerakan respon kompleks, penyesuaian pola gerak, dan
keterampilan matural.
Tujuan itu bertahap (dalam, Rusman, 2011: 174) dari mudah (rendah), sedang, sulit (tinggi).
Kelebihan dan keterbatasan tujuan.
A. Kelebihan
1) Memberi tahu siswa tentang apa yang harus dicapainya.
2) Menolong guru untuk berpikir lebih spesifik, mempermudah, mengatur, dan menyusun sistematika
pelajaran.
3) Menunujukan macam dan ragam dari kegiatan yang diharapkan dari keberhasilan belajar.
4) Menjadi dasar evaluasi, baik terhadap hasil belajar siswa maupun untuk mengukur keefektifan
program instruksional.
B. Keterbatasan
1)
Kebanyakan tujuan hanya bertujuan untuk tingkat penguasaan pengetahuan (ranah kognitif).
2)
Tujuan psikomotor dan kognitif lebihn mudah untuk diketahui, tetapi tujuan afektif sulit
dinyatakan tujuan maupun cara mengukurnya.
3)
Menyusun struktukr pelajaran tertentu seperti matematika, ilmu pengetahuan alam dan pelajaran
bahasa lebih mudah dibandingkan dengan seni, ilmu0ilmu social dan humanistis.
4)
Dengan menetapkan ukuran suatu tujuan, rasanya pendekatan belajar kurang manusiawi, dan
mengnggap bahwa prosedur pendidikan terlalu mekanis dan tidak personal.
5)
Dengan menetapkan ukuran suatu tujuan, rasanya pendekatan belajar kurang manusiawi, dan
menganggap bahwa prosedur pendidikan terlalu makanis dan tidak professional.
5. Materi/Bahan Pelajaran (Subject Content)
Subject Content adalah materi atau isi pokok [Link] ini harus berkaitan dengan tujuan yang telah
[Link], bila siswa diajarkan tentang fakta dan konsep, harus ada penerapannya tidak hanya
berhenti sampai [Link] menyusun materi pokok bahan ajar biasanya kita buat pertanyaanpertanyaan seperti berikut ini.
1.
2.
3.
4.
1.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Mempelajari materi pokok bahasan dari buku teks yang dianjurkan seperti berikut ini:
Daniel Bell, Toward the World 2000
Arthur Clarks, Profiles of the Future
Don Faben, Dynamics of Change
Robert Heilbroner, The Future of History
Herman Khan and Anthony Weiner, The Year 2000
Kemungkinan yang akan berubah atau berkembang di masa depan (menjadi beberapa subpokok bahasan)
sebagai berikut:
Perubahan tingkah laku
Penggunaan tanah
Prioritas kedokteran
Pengawasan cuaca
Prioritas dalam masyarakat
Perkembangan kota
6. Penjajakan terhadap Siswa (Preassessment)
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguji, apakah [erencanaan yang telah disusun pada empat
langkah dapat diteruskan ke langkah selanjutnya, yaitu kegiatan pembelajaran(teaching, learning
activities and resource).Jadi preassessment adalah menguji cobakan rencana pokok bahasan, tujuan
belajar, dari rencana isi. Data dari hasil preassessment kemudian diolah untuk disimpulkan menjadi:
1. Apakah tujuan belajar yang telah ditentukan mungkin dapat dicapai dengan kondisi dan situasi siswa
seperti data yang didapatkanoleh karakteristik siswa (langkah kedua)
2. Apakah siswa berminat terhadap pokok bahasan sesuai dengan tujuan belajar (langkah ketiga)
3. Apakah yang perlu diajarkan dan apa yang tidak sesuai dengan perencanaan isi pokok bahasan (langkah
keempat)
Bila hasil preassessment tidak dapat memenuhi hal di atas, maka perencanaan desain perlu direvisi.
7. Kegiatan Belajar Mengajar dan Media (Teaching/Learning Activities and Resource)
Menurut B.F Skinner dan kawan-kawan ada sepuluh prinsip belajar, yaitu:
1. Persiapan belajar (prelearning preparation)
1. Minimal sebelum belajar kita tahu tujuan belajar itu apa, apa yang menjadi pendahuluan belajar atau
syarat-syarat sehingga nanti akan dicapai tujuan maksimal.
2. 2.
Motivasi (motivation)
1. Berdasarkan pengalaman siswa, mana yang disukai siswa agar perhatian belajar dapat meningkat.
2. 3.
Perbedaan individual (individual differences)
1. Membuat desain berdasarkan pengalaman belajar siswa yang menyangkut empat segi, yaitu penentuan
kecepatan belajar, penentuan tingkat, penentuan kemampuan, dan bahan pelajaran apa (materi) yang
palin tepat.
2. Kondisi pembelajaran (instructional condition)
1. Belajar akan berhasil apabila tujuannya sudah jelas
2. Belajar juga akan lebih mudah apabila materi yang dipelajari juda teratur mulai dari yang mudah
dipelajari hingga ke hal yang kompleks.
Kegiatan Belajar Mengajar
Tiga jenis kegiatan belajar-mengajar adalah:
1. Pembelajaran Klasikal (group presentation)
Pengajaran klasikal adalah kegiatan penyampaian pelajaran kepada sejumlah siswa. Kegiatan ini
biasanya dilakukan oleh pengajar dengan berceramah didepan kelas. Kegiatan ini dianggap baik apabila
siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, keaktifan itu digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu 1)
actve interaction with the instructor siswa bertanya dan pengajar menjawab atau siswa lain berkonsultasi
sesudah pengajar. 2) working at the students seat, siswa mencatat apa yang diajarkan atau mengerjakan
tugas yang diberikan. 3) other mental participation, siswa juga berpikir tentang ap yang dikemukakan
dan mempersiapkan bahan pertanyaan yang akan ditanyakan.
2. Belajar Mandiri (individual learning)
Bentuk belajar mandiri adalah self instruction (modul), independent study, self paced learning. selain itu
ada pula bentuk belajar mandiri, seperti student contracts, textbook, dll.
8. Interaksi antara guru dan siswa (interaction between teacher and student)
Pertemuan tatap muka antara beberapa siwa dalam satu kelompok dan pengajar menjadi tekanan disini,
seperi beridskusi, tukar-menukar pikiran, memecahkan masalah bersama tentang hasil belajar dari
pengajaran klasik, dan belajar mandiri.
Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan
membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisi aktif dalam
pembelajaran.
Inti
Proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara
interaktif, inspiratif, menyenagkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minta,
dan perkembangan fisik serta mental peserta didik.
Penutup
Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dilakukan dalam
bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak-lanjut.
Kesimpulan :
1. Hal-hal apa saja yang diperlukan untuk diajarkan kepada siswa.
2. Hal-hal apa saja yang perlu dipelajari oleh siswa untuk belajar mandiri sesuai kemampuan.
3. Hal-hal apa saja yang harus dibicarakan bersama dan memerlukan interaksi aktif antara siswa dengan
pengajar dan antara siswa dengan siswa.
Media Pembelajaran (Instructional Resource)
Bagaimana memeilih media? Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media,
yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
2.
1.
2.
3.
1. Norm Referenced Testing, yaitu di kategorikan orang sebagai cara lama karena pencapaian siswa
ukurannya sangat relatif. Hasil belajar relatif kurang ada alasan yang kuat untuk di katakan baku karena
hasil belajar seseorang siswa hanya di bedakan dengan hasil yang di capai oleh teman sekelasnya atau
rata-rata pada satu sekolah di bandingkan dengan hasil rata-rata dengan sekolah lain.
2. Criterion Referenced Testing, adalah cara yang di kehendaki dalam rangka proses belajar-mengajar
dengan mempergunakan desain sistem instruksional. Sebab dengan cara penilaian ini tiap siswa di tuntut
untuk dapat mencapai tujuan belajar yang telah di tentukan dengan jelas sebelum siswa melakukan
kegiatan [Link] belajar tuntas (mastery learning)pada dasarnya yaitu tiap siswa di
harapkan dapat mencapai seluruh tujuan belajar yang telah di tentukan sebelumnya dengan jelas dan
rinci.
Menilai tujuan Belajar Kognitif
Tes tertulis bisa berbentuk tes objektif dan tes esai. Macam tes objektif biasanya dapat berupa: benarsalah (true-false), menjodohkan (matching), mengisi jawaban pendek (short answer), dan multiple
choice. Tes esay umumnya di pergunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengukur,
menghubungkan, mengintegrasi, dan menilai suatu ide.
Menilai Tujuan Belajar
Tujuan belajar Psikomotor bersifat keterampilan (motor skill). Jadi tujuan belajarnya adalah siswa dapat
atau terampil mengerjakan sesuatu.
Menilai Tujuan Belajar Afektif
Menilai tujuan belajar siswa yang berhubungan dengan sikap dan nilai, perlu di kumpulkan data siswa
dengan berbagai cara misalnya:
a. Meneliti tingkah laku siswa
[Link] pendapat dan komentar siswa
[Link] hasil kuesioner yang telah diisi oleh siswa
d. Mengajuakan pertanyaan tertulis dengan bentuk multiple choice
e. Mengajuakan pertanyaan tertulis dengan jawaban rentang (ranting scale)
Kelebihan Model Kemp
Model pembelajaran kemp ini, di setiap melakukan langkah atau prosedur terdapat revisi terlebih dahulu
gunanya untuk menuju ke tahap berikutnya. Tujuannya adalah apabila terdapat kekurangan atau
kesalahan di tahap tersebut, dapat di lakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahap
berikutnya.
Kekurangan Model Kemp
Model pembelajaran Jerold E. Kemp ini agak condong ke pembelajaran klasikal atau pembelajaran di
kelas. Oleh karena itu, peran guru di sini mempunyai pengaruh besar, karena mereka di tuntut dalam
rangka program pengajaran, instrumen evaluasi, dan strategi pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Bandung: PT RajaGrafindo Persada.
Afandi, Muhammad dan Badarudin. 2011. Perencanaan [Link] Sekolah [Link]:
Alfabeta
[Link]
PEMBAHASAN
A. Hakikat Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan
pembelajaran
berasal
dari
dua
kata,
yakni
kata perencanaan dan
kata pembelajaran. Perencanaan berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusantentang apa yang
harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, proses suatu perencanaan harus dimulai dari
penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisiskebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian
menetapkan langkah-langkah yangharus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Setiap perencanaan minimal harus memiliki empat unsur sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
Dari kedua makna tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah proses
pengambilan keputusan hasil berfikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu,
yakni perubahan perilaku serta rangkaian kegiatan yang harus dilakukan sebagai upaya pencapaian
tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada. Hasil akhir dari
proses pengambilan keputusan tersebut adalah tersusunnya dokumen yang berisi tentang hal-haldiatas,
sehingga selanjutnya dokumen tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dan pedoman dalam melaksanakan
proses pembelajaran.
Pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Sesederhana apa pun proses pembelajaranyang dibangun
oleh guru, proses tersebut diarahkan untuk mencapai suatu tujuan.
Pembelajaran adalah proses kerjasama. Proses pembelajaran minimal akan melibatkanguru dan siswa.
3.
Proses pembelajaran adalah proses yang kompleks. Pembelajaran bukan hanya sekedar menyampaikan
materi pelajaran, akan tetapi suatu proses pembentukan perilaku siswa.
4.
Proses pembelajaran akan efektif manakala memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang
tersedia termasuk memanfaatkan berbagai sumber belajar.
Melalui proses yang matang, kita akan terhindar dari keberhasilan yang bersifat untung-untungan.
Sebagai alat untuk memecahkan masalah, dengan perencanaan yang matang guruakan dengan mudah
mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin timbul.
Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat.
Perencanaan akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis artinya, proses
pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, akan tetapi akan berlangsung secara terarah dan
terorganisir.
Menurut Kemp, desain pembelajaran terdiri dari banyak bagian dan fungsi yang saling berhubungan
dan harus dikerjakan secara logis agar mencapai apa yang diinginkan. Model desain sistem instruksional
yang dikembangkan oleh kemp merupakan model yang berbentuk lingkaran. Model berbentuk lingkaran
menunjukan adanya proses kontinyu dalam menerapkandesain sistem pembelajaran. Menurut kemp
langkah tiap-tiap pengembangan berhubungan langsung dengan aktivitas revisi. Pengembangan
perangkat ini dimulai dari titik manapun sesuai di dalam siklus tersebut. Pengembangan model Kemp
memberi kesempatan kepada para pengembang untuk dapat memulai dari komponen manapun. Namun,
karena kurikulumyang berlaku secara nasional di Indonesia dan berorientasi pada tujuan, maka
seharusnya proses pengembangan itu dimulai dari tujuan.
E. Langkah-Langkah Perencanaan Pembelajaran Kemp
Skema hubungan tiap-tiap langkah dalam Perencanaan Pembelajaran Kemp. Pada dasarnya,
perencanaan dalam desain pembelajaran terdiri atas delapan langkah:
1.
Menentukan Topic dan Tujuan instruksional Umum (Goal, Topic and general Purpose).
Menentukan topik dan tujuan instruksional umum untuk pembelajaran tiap pokok-pokok bahasan.
Sebuah perencanaan harus menentukan topik utama, begitu pula dengan perencanaan kemp, topik
tersebut akan menjadi cakupan program pembelajaran yang dibuat. Topik biasanya disusun secara logis,
paling simpel, dan konkret sehingga orang dapat langsung melihat gambaran dari rencana
program pembelajaran tersebut. Topik dapat disusun berdasarkan pengalaman yang didapatatau
pemikiran yang menjadi dasar sesuatu yang akan dibuat.
2.
3.
4.
5.
Dalam pelaksanaannya, pre-assesment tidak selalu harus dilakukan dengan konsep formal. Misalnya
saja kita dapat bertanya langsung pada siswa di dalam kelas. Kita dapat bertanya berapa banyak di antara
mereka yang telah mengerti dengan materi yangakan diberikan.
6.
7.
1) Biaya
Dana merupakan hal yang amat krusial dalam pengembangan [Link] program baru yang
akan dipakai tentunya memerlukan dana untuk memulainya. Sekolah yang ingin mengembangkan
program pendidikannya misalnya saja dengan membuat inovasi baru, penelitian, dan
pengembangan memerlukan biaya untuk menjalankannya. Pemanfaatan biaya dilakukan ketikamasa
pengembangan dan selama pemakaian peralatan.
2) Fasilitas
Proses pembelajaran tentunya membutuhkan fasilitas yang memadai untuk keberlangsungannya
proses belajar-mengajar. Dalam kegiatan presentasi, kitamembutuhkan proyektor audio visual, sound
sistem, papan tulis dan perlengkapanlainnya.
3) Peralatan
Dalam menjalankan program yang telah dijalankan tentunya kita memerlukan beberapa peralatan
untuk menunjang kegiatan tersebut.
4) Waktu
Dalam menentukan program hendaknya kita memperhatikan jadwal dan waktuyang tepat.
8.
Evaluasi (Evaluation)
Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat
kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapafase dari perencanaan yang membutuhkan
perbaikan. Evaluasi harus sejalan dengantujuan awal pembelajaran. Selanjutnya tujuan awal
pembelajaran akan berperansebagai acuan dari evaluasi. Proses evaluasi ini berfungsi untuk mengukur
hasiloutcome dari pembelajaran yang telah dilakukan. Selain itu proses evaluasi juga berfungsi untuk
mengukur tingkat keberhasilan program pembelajaran yang telahdidesain. Dari proses evaluasi ini kita
dapat melihat perbandingan siswa yang lulusdan tidak lulus. Jika perbandingan siswa yang lulus lebih
banyak dibandingkan siswayang tidak lulus maka pembelajaran ini dianggap berhasil.
Kelebihan
Dalam Model Pembelajaran Kemp ini di setiap melakukan langkah atau prosedur terdapat revisi
terlebih dahulu untuk menuju ke tahap berikutnya, sehingga apabila terdapat kekurangan atau kesalahan
ditahap tersebut, dapat dilakukan perbaikan terlebih dahulu barulah dapat melangkah ke tahap
berikutnya. Sedangkan,
2.
Kelemahan
Dari Model Pembelajaran Jerols E. Kemp ini agak condong ke pembelajaran klasikal atau
pembelajaran di kelas, sehingga peran guru disini mempunyai pengaruh yang besar, karena guru dituntut
dalam rangka program pengajaran, instrument evaluasi, dan strategi pengajaran. Untuk lebih jelas, kami
menyimpulkan kelemahan serta kelebihan model pembelajaran kemp dengan model pembelajaran lain
dalam bentuk tabel berikut.
1.
Model
Pembelajaran
kemp1. Untuk model pembelajaran lain,
berbentuk lingkaran dan ketika akan revisihanya
dilakukan
setelah
melakukan langkah-langkah
evaluasi pembelajaran.
selanjutnya selalu dilakukan revisi
2. Untuk model pembelajaran lain,
terlebih dahulu.
langkah awal
dalam
proses
2. Model
Pembelajaran
Kemp pembelajaran sudah ditetapkan.
berbentuk siklus
yang memberi
kemungkinan
bagi penggunanya3. Model briggs diterapkan pada
untuk
memulai
kegiatan desain kurikulumyang baru, terdapat tim
sistem
pembelajaran
dari prmantau yang ikutdalam menyusun
perencanaan pembelajaran
fase manapun.
3.
PENUTUP
Kesimpulan
Perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berfikir secara rasional
tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yakni perubahan perilaku serta rangkaian kegiatan
yang harus dilakukan sebagai upaya pencapaian tujuantersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan
sumber belajar yang [Link] E. Kemp mengembangkan model Pengembangan Instruksional yang
palingawal bagi pendidikan.
Model Kemp memberikan bimbingan kepada para pemakainyauntuk berfikir tentang masalahmasalah umum dan tujuan-tujuan pengajaran. Menurutkemp pengembangan desain sistem pembelajaran
terdiri atas komponen-komponen, yangdikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai
kendala yang timbul. Langkah tiap-tiap pengembangan berhubungan langsung dengan aktivitas
revisi. Pengambangan perangkat ini dimulai dari titik manapun sesuai di dalam siklus tersebut.
Pengembangan model Kemp memberi kesempatan kepada para pengembang untuk dapatmemulai
dari komponen [Link]-Langkah Perencanaan Pembelajaran Kemp :
1.
Daftar Topic dan Tujuan Umum (Goal, topic and General purpose).
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Evaluasi (Evaluation)
Model perencanaan pembelajaran kemp mempunyai kelebihan serta [Link] dalam
Model Pembelajaran Kemp ini di setiap melakukan langkah atau prosedur terdapat revisi terlebih dahulu
untuk menuju ke tahap berikutnya. Sedangkan Kelemahan dari Model Pembelajaran Jerols E. Kemp ini
agak condong ke pembelajaranklasikal atau pembelajaran di kelas, sehingga peran guru disini
mempunyai pengaruhyang besar, karena guru dituntut dalam rangka program pengajaran, instrument
evaluasi,dan strategi pengajaran
Diposkan oleh joni nadi di 22.24
[Link]