0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan16 halaman

Desain Pembelajaran Model Kemp

1. Model desain sistem pembelajaran Kemp membantu pendidik memahami kerangka teori dan menciptakan aktivitas pembelajaran yang efektif dan efisien. 2. Model ini terdiri atas delapan langkah mulai dari menentukan tujuan hingga evaluasi. 3. Tujuan model ini adalah menentukan apa yang harus dipelajari siswa, bagaimana prosedur dan sumber belajarnya, serta bagaimana mengetahui apakah tujuan tercapai.

Diunggah oleh

Yamni_yunus14
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan16 halaman

Desain Pembelajaran Model Kemp

1. Model desain sistem pembelajaran Kemp membantu pendidik memahami kerangka teori dan menciptakan aktivitas pembelajaran yang efektif dan efisien. 2. Model ini terdiri atas delapan langkah mulai dari menentukan tujuan hingga evaluasi. 3. Tujuan model ini adalah menentukan apa yang harus dipelajari siswa, bagaimana prosedur dan sumber belajarnya, serta bagaimana mengetahui apakah tujuan tercapai.

Diunggah oleh

Yamni_yunus14
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Model Kemp

Menurut Morisson, Ross, dan Kemp (2004), model desain sistem pembelajaran ini akan membantu
pendidik sebagai perancang program atau kegiatan pembelajaran dalam memahami kerangka teori
dengan lebih baik dan menerapakan teori tersebut untuk menciptakan aktivitas pembelajaran yang lebih
efektif dan efisien. Desain pembelajaran model Kemp dapat dijelaskan dengan sebuah bagan berikut:

12

Gambar Model Desain Pembelajaran Kemp


(Morrison, Ross & Kemp 2004 :29)
Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah, yaitu:
a) Menentukan tujuan dan daftar topik, menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
b) Menganalisis karakteristik peserta didik, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c) Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolok
ukur perilaku peserta didik;
d) Menentukan isi materi pelajar yang dapat mendukung tiap tujuan;
e) Pengembangan penilaian awal untuk menentukan latar belakang peserta didik dan pemberian level
pengetahuan terhadap suatu topik;
f) Memilih aktivitas dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi
pembelajaran, jadi peserta didik akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
g) Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitasfasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
h) Mengevaluasi pembelajaran peserta didik dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta
melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang
membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan
evaluasi sumatif.

Jerol E. Kemp berasal dari California State Univercity di Sanjose. Kemp mengembangkan model desain
instruksional yang paling awal bagi pendidikan. Model Kemp memberikan bimbingan keada para
siswanya untuk berpikir tentang masalah masalah umum dan tujuan tujuan pembelajaran. Model ini
juga mengarahkan para pengembang desain instruksional untuk melihat karakteristik para siswa serta
menentukan tujuan- tujuan belajar yang tepat. Langkah berikutnya adalah spesifikasi isi pelajaran dan
mengembangkan pretest dari tujuan tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya adalah menetapkan
strategi dan langkah langkah dalam kegiatan belajar mengajar serta sumber- sumber belajar yang akan
digunakan. Selanjutnya , materi / isi (content) kemudian di evaluasi atas dasar tujuan tujuan yang telah
di rumuska. Langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi dan revisi didasarkan atas hasol- hasil
evaluasi.
Perencanaan desain pembelajaran model Kemp dapat digunakan pada tingkat sekolah dasar, sekolah
lanjutan, maupun perguruan tinggi.
Desain Pembelajaran Model Kemp ini dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan, yakni :
1. Apa yang harus di pelajari siswa (tujuan pembelajaran )
2. Apa atau bagaimana prosedur,dan sumber- sumber belajar apa yang tepat untuk mencapai hasil belajar
yang diinginkan (kegiatan, media, dan sumber belajar yang digunakan).
3. Bagaimana kita tahu bahwa hasil belajar yang diharapkan telah tercapai (evaluasi)
Langkah langkah pengembangan desain pembelajaran model Kemp, terdiri dari delapan langkah, yakni
:
1. Menentukan tujuan instruksional umum (TIU) atau kompetensi dasar, yaitu tujuan umum yang ingin di
capai dalam mengajarkan masing- masing pokok bahasan.

2. Membuat analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui
apakah latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program ,
serta langkah- langkah apa yang perlu diambil.
3. Menentukan tujuan instruksional secara spesifik, operasional, dan terukur (dalam KTSP adalah
indikator). Dengan demikian, siswa akan tahu apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya,
dan apa ukurannya bahwa ia telah berhasil. Bagi guru, rumusan itu akan berguan dalam menyusun tes
kemampuan /keberhasilan dan pemilihan materi/bahan belajar yang sesuai.
4. Menentukan materi/ bahan ajar yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus (indikator) yang telah
dirumuskan. Masalah yang sering kali dihadapi guru- guru adalah begitu banyakknya materi pelajaran
yang harus diajarkan dengan waktu yang terbatas. Demikian juga, timbul kesulitan dalam
mengorganisasikan materi/ bahan ajar yang akan disajikan kepada para siswa. Dalam hal ini diperlukan
ketepatan guru dalam memilih dan memilah sumber belajar, materi, media,dan prosedur pembelajaran
yang akan digunakan.
5. Menetapkan penjajagan atau tes awal (preassesment). Ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana
pengetahuan awal siswa dalam memenuhi prasyarat belajar yang dituntut untuk mengikuti program
pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dengan demikian, guru dapat memilih materi yang diperlukan
tanpa harus menyajikan yang tidak perlu, sehingga siswa tidak menjadi bosan.
6. Menentukan strategi belajar mengajar, media dan sumber belajar. Kriteria umum untuk pemilihan
strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus (indikator) tersebut, adalah
efisiensi, keefektifan, ekonomis, kepraktisan, melalui suatu analisis alternatif.
7. Mengoordinasikan sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan
tenaga.
8. Mengadakan evaluasi. Evaluasi ini sangat perlu untuk mengontroldan mengkaji keberhasilan program
secara keseluruhan, yaitu siswa, program pembelajaran, alat evaluasi (tes), dan metode/strategi yang
digunakan.
Semua komponen diatas saling berhubungan satu dengan yang lainnya, bila adanya perubahan atau data
yang bertentangan pada salah satu komponen mengakibatkan pengaruh pada komponen lainnya. Dalam
lingkaran model Kemp menunjukkan kemungkinan revisi tiap komponen bila diperlukan. Revisi
dilakukan dengan data pada komponen sebelumnya maupun sesudahnya. Berbeda dengan pendekatan
sistem dalam pembelajaran, perencanaan desain pembelajaran ini bisa dimulai dari komponen mana saja,
jadi perencanaan desain boleh dimulai dengan merencanakan pokok bahasan terlebih dahulu, atau
mungkin dengan evaluasi. Komponen mama yang di dahulukan serta di prioritaskan yang dipilih
bergantung kepada data apa yang sudah siap, tersedia, situasi,dan kondisi sekolah,atau bergantung pada
pembuat perencanaan itu sendiri.
1. Pokok Bahasan dan Tujuan Umum (Goals, Topic, and General Purposes)
Pengertian Goals, Topic, and General Purposes jika dipadukan menjadi satu pengertian adalah tujuan
umum. Dalam prosedur pengembangan pembelajaran biasa disebut tujuan instruksional umum.
Pokok Bahasan
Pokok bahasan menjadi dasar dalam pembelajaran dan menggambarkan ruang kingcup pembelajaran itu
sendiri. Pada Sekolah Dasar kelas rendah, tema atau topic bahasan biasanya lebijh sederhana umumnya
nyata pada pengalaman siswa sehari-hari. Sedangkan untuk kelas tinggi biasanya pokok bahasan
disesuaikan dengan SK dan KD yang telah dikeluarkan oleh BSNP.
Tujuan Pembelajaran Umum

Tujauna pembelajaran umum (dalam, Rusman, 2011: 170) adalah tujuan pembelajaran yang sifatnya
masih umum dan belum dapat menggambarkan tingkah laku yang lebih spesifik. Tujuan pembelajaran
umum dapat dilihat dari setiap pokok bahasan suatu mata pelajaran yang ada di dalam silabus atau
kurikulum.
Biasanya tujmuan umum ditandai dengan kata memahami,mengetahui dan sebagainya. Kata kerja
semacam itu tidak operasional dan sukar menentukan criteria dan spesifikasinya, sehingga susah untuk
diukur.
2. Karakteristik Siswa (Learner Characteristic)
Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mencapai tujuan
belajar atau tidak.
Contoh:
Sasaran

: Siswa Sekolah

Jumlah Siswa

: 30

Kemampuan Membaca

: 12-14

Kematangan

: cukup menguasai cara balajar inquiri discovery

3. Tujuan Pembelajaran Khusus (Learning Objective)


Tujuan pembelajaran khusus merupakan penjabaran dari tujuan pembelajaran umum. Tujuan ini
dirumuskan oleh guru dengan maksud agar tujuan pembelajaran tersebut lebih spesifik dan mudah diukur
tingkat ketercapaiannya.
Dalam menyusun tujuan pembelajaran khusus seorang guru harus memperhatikan beberapa criteria
penyusunan tujuan pembelajaran khusus yang baik, yaitu menggunakan kata kerja operasional,
dirumuskan dalam bentuk hasil belajar, dalam bentuk kegiatan dan perilaku siswa, harus mengandung
satu kemampuan, sebagaimana penyusunan indicator.
Tujuan merupakan dasar untuk mengukur keberhasilan pemebelajaran dan juga menjadi landasan untuk
menentukan materi, stretategi, media dan evaluasi pembelajaran.
4. Klasifikasi Tujuan Pembelajaran
Klasifikasi tujuan terdiri dari tiga domain atau skema, yaitu:
1. Domain Kognitif, yaitu menenkankan pada aspek intelektual dan memiliki jenjang dari rendah samapai
tinggi, yaitu 1) Pengetahuan menitiberatkan pada sapek ingatan terhadap materi yang telah dipelajarai
mulai dari fakta sampai teori. 2) Pemahaman tingkat awal untuk dapat menjelaskan suatu konsep. 3)
Aplikasi, yaitu kemampuan menggunakan bahan yang telah dipelajari kedalam situasi yang nyata. 4)
Analisis, kemampuan dalam merinci bahan menjadi bagian-bagian yang mudah dimengerti. 5) Sintesis,
kemampuan mengombinasi bagian-bagian menjadi sesuatu yang baru. 6) Evaluasi, kemampuan untuk
mempertimbangkan nilai berdasarkan criteria tertentu.

2. Domain Afektif, yaitu menekankan pada sikap, perasaan, emosi, dan karakterisitik moral yang
diperlukan untuk kehidupan di masyarakat. Domain afektif memiliki lima tingkatan yaitu: 1)
Penerimaan, misalnya kemampuan siswa untuk mendengarkan materi pelajaran yang disampaikan oleh
guru dan melihat perasaan, antusiasme,dan semangat belajar siswa. 2) responding, kemampuan siswa
untuk menerima timbale balik positif terhadap lingkungan dalam pembelajaran. 3) Penilaian, yaitu
penerimaan terhadap nilai-nilai yang ditanamkan dalam pembelajaran, membuat pertimbangan terhadap
berbagai nilai untuk diyakinkan dan diaplikasikan. 4) Pengorganisasian, yaitu kemampuan siswa dalam
hal mengorganisasikan suatu siste nilai, dan 5) Karakterisasi, yaitu pengembangan dan internalisasi dari
tingkatan pengorganisasian terhadap representasi kehidupan secara luas.
3. Domain Psikomotor, yaitu domain yang menekankan pada gerakan-gerakan fisik, kecakapan fisik,
keterampilan fisik halus maupun kasar. Domain ini lebih menekankan pada mata pelajaran yang
berhubungan dengan kemampuan keterampilan seseorang. Ada enam tingkatan yaitu persepsi, kesiapan,
gerakan terbimbing, gerakan mekanis terpola, gerakan respon kompleks, penyesuaian pola gerak, dan
keterampilan matural.
Tujuan itu bertahap (dalam, Rusman, 2011: 174) dari mudah (rendah), sedang, sulit (tinggi).
Kelebihan dan keterbatasan tujuan.
A. Kelebihan
1) Memberi tahu siswa tentang apa yang harus dicapainya.
2) Menolong guru untuk berpikir lebih spesifik, mempermudah, mengatur, dan menyusun sistematika
pelajaran.
3) Menunujukan macam dan ragam dari kegiatan yang diharapkan dari keberhasilan belajar.
4) Menjadi dasar evaluasi, baik terhadap hasil belajar siswa maupun untuk mengukur keefektifan
program instruksional.
B. Keterbatasan
1)

Kebanyakan tujuan hanya bertujuan untuk tingkat penguasaan pengetahuan (ranah kognitif).

2)
Tujuan psikomotor dan kognitif lebihn mudah untuk diketahui, tetapi tujuan afektif sulit
dinyatakan tujuan maupun cara mengukurnya.
3)
Menyusun struktukr pelajaran tertentu seperti matematika, ilmu pengetahuan alam dan pelajaran
bahasa lebih mudah dibandingkan dengan seni, ilmu0ilmu social dan humanistis.
4)
Dengan menetapkan ukuran suatu tujuan, rasanya pendekatan belajar kurang manusiawi, dan
mengnggap bahwa prosedur pendidikan terlalu mekanis dan tidak personal.
5)
Dengan menetapkan ukuran suatu tujuan, rasanya pendekatan belajar kurang manusiawi, dan
menganggap bahwa prosedur pendidikan terlalu makanis dan tidak professional.
5. Materi/Bahan Pelajaran (Subject Content)
Subject Content adalah materi atau isi pokok [Link] ini harus berkaitan dengan tujuan yang telah
[Link], bila siswa diajarkan tentang fakta dan konsep, harus ada penerapannya tidak hanya

berhenti sampai [Link] menyusun materi pokok bahan ajar biasanya kita buat pertanyaanpertanyaan seperti berikut ini.
1.
2.
3.
4.

Apakah spesifikasi pokok bahasan?


Fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip apa yang berhubungan dengan pokok bahasan?
Langkah-langkag apa yang ditempuh dari prosedur yang berkaitan dengan pokok bahasan?
Teknik apa yang diperlukan falam melakukan suatu keterampilan?
Pokok bahasan yang diajarkan hendaknya berkaitan dengan kebutuhan [Link] pokok bahsan
yang terikat oleh urut kegiatan tertentu, seperti pada pelajaran keterampilan, sistematika penyampaian,
isi mengikuti langkah-langkah yang sudah ditentukan urutannya(step by step), yang disebut task
analysis.
Contoh:

1.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mempelajari materi pokok bahasan dari buku teks yang dianjurkan seperti berikut ini:
Daniel Bell, Toward the World 2000
Arthur Clarks, Profiles of the Future
Don Faben, Dynamics of Change
Robert Heilbroner, The Future of History
Herman Khan and Anthony Weiner, The Year 2000
Kemungkinan yang akan berubah atau berkembang di masa depan (menjadi beberapa subpokok bahasan)
sebagai berikut:
Perubahan tingkah laku
Penggunaan tanah
Prioritas kedokteran
Pengawasan cuaca
Prioritas dalam masyarakat
Perkembangan kota
6. Penjajakan terhadap Siswa (Preassessment)
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguji, apakah [erencanaan yang telah disusun pada empat
langkah dapat diteruskan ke langkah selanjutnya, yaitu kegiatan pembelajaran(teaching, learning
activities and resource).Jadi preassessment adalah menguji cobakan rencana pokok bahasan, tujuan
belajar, dari rencana isi. Data dari hasil preassessment kemudian diolah untuk disimpulkan menjadi:

1. Apakah tujuan belajar yang telah ditentukan mungkin dapat dicapai dengan kondisi dan situasi siswa
seperti data yang didapatkanoleh karakteristik siswa (langkah kedua)
2. Apakah siswa berminat terhadap pokok bahasan sesuai dengan tujuan belajar (langkah ketiga)
3. Apakah yang perlu diajarkan dan apa yang tidak sesuai dengan perencanaan isi pokok bahasan (langkah
keempat)
Bila hasil preassessment tidak dapat memenuhi hal di atas, maka perencanaan desain perlu direvisi.
7. Kegiatan Belajar Mengajar dan Media (Teaching/Learning Activities and Resource)
Menurut B.F Skinner dan kawan-kawan ada sepuluh prinsip belajar, yaitu:
1. Persiapan belajar (prelearning preparation)
1. Minimal sebelum belajar kita tahu tujuan belajar itu apa, apa yang menjadi pendahuluan belajar atau
syarat-syarat sehingga nanti akan dicapai tujuan maksimal.
2. 2.
Motivasi (motivation)

1. Berdasarkan pengalaman siswa, mana yang disukai siswa agar perhatian belajar dapat meningkat.
2. 3.
Perbedaan individual (individual differences)
1. Membuat desain berdasarkan pengalaman belajar siswa yang menyangkut empat segi, yaitu penentuan
kecepatan belajar, penentuan tingkat, penentuan kemampuan, dan bahan pelajaran apa (materi) yang
palin tepat.
2. Kondisi pembelajaran (instructional condition)
1. Belajar akan berhasil apabila tujuannya sudah jelas
2. Belajar juga akan lebih mudah apabila materi yang dipelajari juda teratur mulai dari yang mudah
dipelajari hingga ke hal yang kompleks.
Kegiatan Belajar Mengajar
Tiga jenis kegiatan belajar-mengajar adalah:
1. Pembelajaran Klasikal (group presentation)
Pengajaran klasikal adalah kegiatan penyampaian pelajaran kepada sejumlah siswa. Kegiatan ini
biasanya dilakukan oleh pengajar dengan berceramah didepan kelas. Kegiatan ini dianggap baik apabila
siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, keaktifan itu digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu 1)
actve interaction with the instructor siswa bertanya dan pengajar menjawab atau siswa lain berkonsultasi
sesudah pengajar. 2) working at the students seat, siswa mencatat apa yang diajarkan atau mengerjakan
tugas yang diberikan. 3) other mental participation, siswa juga berpikir tentang ap yang dikemukakan
dan mempersiapkan bahan pertanyaan yang akan ditanyakan.
2. Belajar Mandiri (individual learning)
Bentuk belajar mandiri adalah self instruction (modul), independent study, self paced learning. selain itu
ada pula bentuk belajar mandiri, seperti student contracts, textbook, dll.
8. Interaksi antara guru dan siswa (interaction between teacher and student)
Pertemuan tatap muka antara beberapa siwa dalam satu kelompok dan pengajar menjadi tekanan disini,
seperi beridskusi, tukar-menukar pikiran, memecahkan masalah bersama tentang hasil belajar dari
pengajaran klasik, dan belajar mandiri.
Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan
membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisi aktif dalam
pembelajaran.
Inti
Proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara
interaktif, inspiratif, menyenagkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minta,
dan perkembangan fisik serta mental peserta didik.
Penutup

Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dilakukan dalam
bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak-lanjut.
Kesimpulan :
1. Hal-hal apa saja yang diperlukan untuk diajarkan kepada siswa.
2. Hal-hal apa saja yang perlu dipelajari oleh siswa untuk belajar mandiri sesuai kemampuan.
3. Hal-hal apa saja yang harus dibicarakan bersama dan memerlukan interaksi aktif antara siswa dengan
pengajar dan antara siswa dengan siswa.
Media Pembelajaran (Instructional Resource)
Bagaimana memeilih media? Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media,
yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Apakah media itu akan dipergunakan klasikal atau belajar sendiri?


Apakah media visual yang akan ditampilkan diam atau bergerak?
Jika media visual diam, apakah didisplay atau diproyeksikan?
Jika bergrak, apakah berupa film atau video tape?
Apakah media visual akan dilengkapi dengan rekaman suara yang terpisah atau terpadu tetapi dalam
bentuk variasi?
6. Jika mempergunakan lebih dari satu media sekaligus bagaimana cara mempergunakannya?
7. Apakah media itu akan dipergunakan oleh pengajar atau oleh siswa?
8. Jika akan memutar film, proyektor yang akan dipergunakan film 8mm atau 16mm?
9. Juga memprhatikan biaya?
10. Pelayanan penunjang (support service)
Pelayanan penunjang tersebut bisa berupa petugas, dana, fasilitas, peralatan, teknisi, staf administrasi dan
lain-lain. Pelayanan penunjang di gunakan mulai dari awal penyusunan desain sampai dengN
BERkhirnya proses belajar-mengajar. Adapun petuas yang menunjang mulai dari perencanaan desain
sampai dengan tuntasnya pelaksanaan program secara menyeluruh dan lengkap, yaitu:
1. Tenaga ahli dan pembantu
2. Tenaga ahli seperti satu orang pengajar, 1 orang perancang, satu orang ahli media.
3. Tenaga pembantu seperti asisten pengajar, juru foto, graphic artist, kepala bagian perpustakaan, teknisi,
asisten laboratorium, tenaga administrasi, pesuruh.
1. Pengadaan bahan
1. bahan-bahan tersebut dapat berupa bahan untuk grafis, rekaman suara, cetak, praktikum laboratorium,
buku teks, fotografi, dan lain-lain
fasilitas
1. Ruang (kelas) unuk kelompok besar, kelompok kecil, untuk belajar mandiri (carrel) dan ruang proyeksi.
2. Perpustakaan.
3. Peralatan
Pemilihan peralatan hendaknya berdasarkan efiiensi dan di usahakan semurah-murahnya. Peralatan bisa
berupa proyektor, tape recorder, camera, alat-alat laboratorium, alat-alat kantor, dan lain-lain.
1. Penjadwalan waktu
Untuk seluruh kegiatan hendaknya di buat jadwal yang mengatur waktu setiap kegiatan proses belajarmengajar, seperti:
1. Jadwal pengajaran atau jadwal belajar, termasuk asisten

2.
1.
2.
3.

Jadwal pemakaian ruangan


Jadwal dan daftar peminjaman alat-alat dan buku teks, untuk melayani pengajar atau siswa.
Pemasangan atau instalasi peralatan, display, dan lain-lain.
Evaluasi
Ukuran pencapaian (standart of achievment)
Sekurang-kurangnya ada dua macam cara mengukur pencapaian hasil belajar siswa, yitu dengan:

1. Norm Referenced Testing, yaitu di kategorikan orang sebagai cara lama karena pencapaian siswa
ukurannya sangat relatif. Hasil belajar relatif kurang ada alasan yang kuat untuk di katakan baku karena
hasil belajar seseorang siswa hanya di bedakan dengan hasil yang di capai oleh teman sekelasnya atau
rata-rata pada satu sekolah di bandingkan dengan hasil rata-rata dengan sekolah lain.
2. Criterion Referenced Testing, adalah cara yang di kehendaki dalam rangka proses belajar-mengajar
dengan mempergunakan desain sistem instruksional. Sebab dengan cara penilaian ini tiap siswa di tuntut
untuk dapat mencapai tujuan belajar yang telah di tentukan dengan jelas sebelum siswa melakukan
kegiatan [Link] belajar tuntas (mastery learning)pada dasarnya yaitu tiap siswa di
harapkan dapat mencapai seluruh tujuan belajar yang telah di tentukan sebelumnya dengan jelas dan
rinci.
Menilai tujuan Belajar Kognitif
Tes tertulis bisa berbentuk tes objektif dan tes esai. Macam tes objektif biasanya dapat berupa: benarsalah (true-false), menjodohkan (matching), mengisi jawaban pendek (short answer), dan multiple
choice. Tes esay umumnya di pergunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengukur,
menghubungkan, mengintegrasi, dan menilai suatu ide.
Menilai Tujuan Belajar
Tujuan belajar Psikomotor bersifat keterampilan (motor skill). Jadi tujuan belajarnya adalah siswa dapat
atau terampil mengerjakan sesuatu.
Menilai Tujuan Belajar Afektif
Menilai tujuan belajar siswa yang berhubungan dengan sikap dan nilai, perlu di kumpulkan data siswa
dengan berbagai cara misalnya:
a. Meneliti tingkah laku siswa
[Link] pendapat dan komentar siswa
[Link] hasil kuesioner yang telah diisi oleh siswa
d. Mengajuakan pertanyaan tertulis dengan bentuk multiple choice
e. Mengajuakan pertanyaan tertulis dengan jawaban rentang (ranting scale)
Kelebihan Model Kemp
Model pembelajaran kemp ini, di setiap melakukan langkah atau prosedur terdapat revisi terlebih dahulu
gunanya untuk menuju ke tahap berikutnya. Tujuannya adalah apabila terdapat kekurangan atau

kesalahan di tahap tersebut, dapat di lakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahap
berikutnya.
Kekurangan Model Kemp
Model pembelajaran Jerold E. Kemp ini agak condong ke pembelajaran klasikal atau pembelajaran di
kelas. Oleh karena itu, peran guru di sini mempunyai pengaruh besar, karena mereka di tuntut dalam
rangka program pengajaran, instrumen evaluasi, dan strategi pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Bandung: PT RajaGrafindo Persada.
Afandi, Muhammad dan Badarudin. 2011. Perencanaan [Link] Sekolah [Link]:
Alfabeta
[Link]

Model Pembelajaran Menurut Jerol's E Kemp

PEMBAHASAN
A. Hakikat Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan
pembelajaran
berasal
dari
dua
kata,
yakni
kata perencanaan dan
kata pembelajaran. Perencanaan berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusantentang apa yang
harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, proses suatu perencanaan harus dimulai dari
penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisiskebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian
menetapkan langkah-langkah yangharus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Setiap perencanaan minimal harus memiliki empat unsur sebagai berikut:
1.

Adanya tujuan yang harus dicapai

2.

Adanya strategi untuk mencapai tujuan

3.

Sumber daya yang dapat mendukung

4.

Implementasi setiap keputusan


Sedangkan pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerjasama antara guru dansiswa dalam
memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik potensi yang bersumber dari dalam diri siswa itu
sendiri seperti minat, bakan dan kemampuan dasar yang dimiliki termasuk daya belajar maupun potensi
yang ada diluar diri siswa seperti lingkungan, sarana dan sumber belajar sebgai upaya untuk mencapai
tujuan belajar tertentu.

Dari kedua makna tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah proses
pengambilan keputusan hasil berfikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu,
yakni perubahan perilaku serta rangkaian kegiatan yang harus dilakukan sebagai upaya pencapaian
tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada. Hasil akhir dari
proses pengambilan keputusan tersebut adalah tersusunnya dokumen yang berisi tentang hal-haldiatas,
sehingga selanjutnya dokumen tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dan pedoman dalam melaksanakan
proses pembelajaran.

Perencanaan pembelajaran juga dapat didefinisikan sebagai proses penerjemahankurikulum yang


berlaku menjadi program-program pembelajaran yang selanjutnya dapatdijadikan pedoman oleh guru
dalam penyelenggaraan proses pembelajaran.
B. Pentingnya Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran dibutuhkan disebabkan beberapa hal, sebagai berikut :
1.
2.

Pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Sesederhana apa pun proses pembelajaranyang dibangun
oleh guru, proses tersebut diarahkan untuk mencapai suatu tujuan.
Pembelajaran adalah proses kerjasama. Proses pembelajaran minimal akan melibatkanguru dan siswa.

3.

Proses pembelajaran adalah proses yang kompleks. Pembelajaran bukan hanya sekedar menyampaikan
materi pelajaran, akan tetapi suatu proses pembentukan perilaku siswa.

4.

Proses pembelajaran akan efektif manakala memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang
tersedia termasuk memanfaatkan berbagai sumber belajar.

C. Manfaat dan Fungsi Perencanaan


Ada beberapa manfaat yang dapat kita petik dari perencanaan pembelajaran, yaitusebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Melalui proses yang matang, kita akan terhindar dari keberhasilan yang bersifat untung-untungan.
Sebagai alat untuk memecahkan masalah, dengan perencanaan yang matang guruakan dengan mudah
mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin timbul.
Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat.
Perencanaan akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis artinya, proses
pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, akan tetapi akan berlangsung secara terarah dan
terorganisir.

D. Perencanaan Pembelajaran Kemp


Perencanaan Pembelajaran Kemp Jerols E. Kemp dari California State University di Sanjose
mengembangkan model Pengembangan Instruksional yang paling awal bagi pendidikan.
Model pembelajaran Kemp memberikan bimbingan kepada para pemakainya untuk berfikir tentang
masalah-masalah umum dan tujuan-tujuan pengajaran.

Menurut Kemp, desain pembelajaran terdiri dari banyak bagian dan fungsi yang saling berhubungan
dan harus dikerjakan secara logis agar mencapai apa yang diinginkan. Model desain sistem instruksional
yang dikembangkan oleh kemp merupakan model yang berbentuk lingkaran. Model berbentuk lingkaran
menunjukan adanya proses kontinyu dalam menerapkandesain sistem pembelajaran. Menurut kemp
langkah tiap-tiap pengembangan berhubungan langsung dengan aktivitas revisi. Pengembangan
perangkat ini dimulai dari titik manapun sesuai di dalam siklus tersebut. Pengembangan model Kemp
memberi kesempatan kepada para pengembang untuk dapat memulai dari komponen manapun. Namun,
karena kurikulumyang berlaku secara nasional di Indonesia dan berorientasi pada tujuan, maka
seharusnya proses pengembangan itu dimulai dari tujuan.
E. Langkah-Langkah Perencanaan Pembelajaran Kemp
Skema hubungan tiap-tiap langkah dalam Perencanaan Pembelajaran Kemp. Pada dasarnya,
perencanaan dalam desain pembelajaran terdiri atas delapan langkah:
1.

Menentukan Topic dan Tujuan instruksional Umum (Goal, Topic and general Purpose).
Menentukan topik dan tujuan instruksional umum untuk pembelajaran tiap pokok-pokok bahasan.
Sebuah perencanaan harus menentukan topik utama, begitu pula dengan perencanaan kemp, topik
tersebut akan menjadi cakupan program pembelajaran yang dibuat. Topik biasanya disusun secara logis,
paling simpel, dan konkret sehingga orang dapat langsung melihat gambaran dari rencana
program pembelajaran tersebut. Topik dapat disusun berdasarkan pengalaman yang didapatatau
pemikiran yang menjadi dasar sesuatu yang akan dibuat.

2.

Menganalisis karakteristik pelajar (Learning Characteristic)


Ketika mendesain sebuah rencana pembelajaran kemp, kita harus memutuskankarakteristik dari
siswa karena dengan mengetahui karakteristik tersebut sangat membantu dalam membuat perencanaan
[Link] ini diperlukan antara lain untuk mengetahui, apakah latar belakang pendidikan,
dan sosial budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program, dan langkah-langkah apa yang perlu
diambil.

3.

Tujuan Pembelajaran (Learning Objective)


Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar.
Dengan demikian, siswa akan mengetahui apa yang harusdikerjakannya, dan apa ukurannya dia telah
berhasil. Dari segi pengajar, rumusan ituakan berguna dalam menyusun tes kemampuan/keberhasilan dan
pemilihan materi yang sesuai.

4.

Menentukan Isi Meteri (Subject Content)


Menentukan isi meteri pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan. Isi materi pelajaran
memberikan inti informasi yang diperlukan dalam pokok bahasan. Informasimenumbuhkan pengetahuan
yang merupakan tata hubungan antara rincian fakta. Hasilakhirnya adalah pemikiran intelektual dan
pemahaman.

5.

Menetapkan Pengajaran Awal (Pre-Assesment)


Langkah ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memenuhi persyaratan belajar
yang dituntut untuk mengikuti program yang bersangkutan sertauntuk pemahaman siswa terhadap materi
yang akan diberikan.

Dalam pelaksanaannya, pre-assesment tidak selalu harus dilakukan dengan konsep formal. Misalnya
saja kita dapat bertanya langsung pada siswa di dalam kelas. Kita dapat bertanya berapa banyak di antara
mereka yang telah mengerti dengan materi yangakan diberikan.

6.

Aktivitas Belajar Mengajar (Teaching/ learning activities resources)


Tahapan selanjutnya dari model pembelajaran adalah aktifitas [Link] tahapan ini
dijelaskan tentang bentuk bentuk dari kegiatan belajar yang efektif dan mediamedia yang dapat
dijadikan sebagai sumber belajar. Dalam kegiatan pembelajaran ada tiga alternatif pembelajaran yaitu
group presentation, individualized learning, dan interaction between teacher and student. Dalam
melakukan proses pembelajaran hendaknya kita memilih alternatif kegiatan yang paling efektif dan
sesuai dengan keadaan siswa. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang
menyenangkan atau menentukanstrategi belajar-mengajar, jadi siswa akan mudah menyelesaikan tujuan
yang diharapkan.
Umumnya para guru dapat mendesain pembelajaran dengan bantuan buku manual. Namun hal itu
hanya terbatas pada pembelajaran yang bersifat tradisional saja. Padahal ilmu pendidikan senantiasa
berkembang dan terus mengeluarkan produk produk baru yang lebih canggih lagi. Dari sinilah
masalah muncul, karena para guru tidak menguasai produkproduk baru tersebut. Di sinilah peran
seorang pendesain diperlukan. Sumber pembelajaran juga merupakan komponen terpenting yang tidak
boleh kita lupakan dalam media pembelajaran.
Hendaknya kita memilih media yang cocok dengan kondisi dan materi yang akan diberikan. Media
yang baik dapat memotifasi siswa dan dapat menjelaskan materi secara efektif serta mengilustrasikan isi
materi. Media yang digunakan dapat bermacam macam. Media yang digunakan dapat berupa media
cetak, media audio, media visual, dan media audio visual yang terpenting media itu dapat menunjang
kegiatan personal maupun kelompok.

7.

Sarana Penunjang (Support Service)


Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi biaya, fasilitas, peralatan,
waktu dan lainnya.

1) Biaya
Dana merupakan hal yang amat krusial dalam pengembangan [Link] program baru yang
akan dipakai tentunya memerlukan dana untuk memulainya. Sekolah yang ingin mengembangkan
program pendidikannya misalnya saja dengan membuat inovasi baru, penelitian, dan
pengembangan memerlukan biaya untuk menjalankannya. Pemanfaatan biaya dilakukan ketikamasa
pengembangan dan selama pemakaian peralatan.
2) Fasilitas
Proses pembelajaran tentunya membutuhkan fasilitas yang memadai untuk keberlangsungannya
proses belajar-mengajar. Dalam kegiatan presentasi, kitamembutuhkan proyektor audio visual, sound
sistem, papan tulis dan perlengkapanlainnya.
3) Peralatan

Dalam menjalankan program yang telah dijalankan tentunya kita memerlukan beberapa peralatan
untuk menunjang kegiatan tersebut.
4) Waktu
Dalam menentukan program hendaknya kita memperhatikan jadwal dan waktuyang tepat.
8.

Evaluasi (Evaluation)
Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat
kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapafase dari perencanaan yang membutuhkan
perbaikan. Evaluasi harus sejalan dengantujuan awal pembelajaran. Selanjutnya tujuan awal
pembelajaran akan berperansebagai acuan dari evaluasi. Proses evaluasi ini berfungsi untuk mengukur
hasiloutcome dari pembelajaran yang telah dilakukan. Selain itu proses evaluasi juga berfungsi untuk
mengukur tingkat keberhasilan program pembelajaran yang telahdidesain. Dari proses evaluasi ini kita
dapat melihat perbandingan siswa yang lulusdan tidak lulus. Jika perbandingan siswa yang lulus lebih
banyak dibandingkan siswayang tidak lulus maka pembelajaran ini dianggap berhasil.

F. Kelemahan dan Kelebihan Perencanaan Pembelajaran Kemp


1.

Kelebihan
Dalam Model Pembelajaran Kemp ini di setiap melakukan langkah atau prosedur terdapat revisi
terlebih dahulu untuk menuju ke tahap berikutnya, sehingga apabila terdapat kekurangan atau kesalahan
ditahap tersebut, dapat dilakukan perbaikan terlebih dahulu barulah dapat melangkah ke tahap
berikutnya. Sedangkan,

2.

Kelemahan
Dari Model Pembelajaran Jerols E. Kemp ini agak condong ke pembelajaran klasikal atau
pembelajaran di kelas, sehingga peran guru disini mempunyai pengaruh yang besar, karena guru dituntut
dalam rangka program pengajaran, instrument evaluasi, dan strategi pengajaran. Untuk lebih jelas, kami
menyimpulkan kelemahan serta kelebihan model pembelajaran kemp dengan model pembelajaran lain
dalam bentuk tabel berikut.

Kelebihan Model Pembelajaran Kemp Dari Kelemahan Model Pembelajaran Kemp


Model Pembelajaran Lain
Dari Model Pembelajaran Lain

1.

Model
Pembelajaran
kemp1. Untuk model pembelajaran lain,
berbentuk lingkaran dan ketika akan revisihanya
dilakukan
setelah
melakukan langkah-langkah
evaluasi pembelajaran.
selanjutnya selalu dilakukan revisi
2. Untuk model pembelajaran lain,
terlebih dahulu.
langkah awal
dalam
proses
2. Model
Pembelajaran
Kemp pembelajaran sudah ditetapkan.
berbentuk siklus
yang memberi
kemungkinan
bagi penggunanya3. Model briggs diterapkan pada
untuk
memulai
kegiatan desain kurikulumyang baru, terdapat tim
sistem
pembelajaran
dari prmantau yang ikutdalam menyusun
perencanaan pembelajaran
fase manapun.
3.

Model pembelajaran kemp berfokus


pada perencanaan kurikulum dengan
pendekatan tradisional/klasik.

PENUTUP
Kesimpulan
Perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berfikir secara rasional
tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yakni perubahan perilaku serta rangkaian kegiatan
yang harus dilakukan sebagai upaya pencapaian tujuantersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan
sumber belajar yang [Link] E. Kemp mengembangkan model Pengembangan Instruksional yang
palingawal bagi pendidikan.
Model Kemp memberikan bimbingan kepada para pemakainyauntuk berfikir tentang masalahmasalah umum dan tujuan-tujuan pengajaran. Menurutkemp pengembangan desain sistem pembelajaran
terdiri atas komponen-komponen, yangdikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai
kendala yang timbul. Langkah tiap-tiap pengembangan berhubungan langsung dengan aktivitas
revisi. Pengambangan perangkat ini dimulai dari titik manapun sesuai di dalam siklus tersebut.
Pengembangan model Kemp memberi kesempatan kepada para pengembang untuk dapatmemulai
dari komponen [Link]-Langkah Perencanaan Pembelajaran Kemp :
1.

Daftar Topic dan Tujuan Umum (Goal, topic and General purpose).

2.

Menganalisis karakteristik pelajar (Learning Characteristic).

3.

Tujuan Pembelajaran (Learning Objective).

4.

Menentukan Isi Meteri (Subject Content).

5.

Menetapkan pengajaran awal (Pre-Assesment).

6.

Aktivitas Belajar Mengajar (Teaching/ learning activities resources).

7.

Sarana Penunjang (Support Service).

8.

Evaluasi (Evaluation)
Model perencanaan pembelajaran kemp mempunyai kelebihan serta [Link] dalam
Model Pembelajaran Kemp ini di setiap melakukan langkah atau prosedur terdapat revisi terlebih dahulu
untuk menuju ke tahap berikutnya. Sedangkan Kelemahan dari Model Pembelajaran Jerols E. Kemp ini
agak condong ke pembelajaranklasikal atau pembelajaran di kelas, sehingga peran guru disini
mempunyai pengaruhyang besar, karena guru dituntut dalam rangka program pengajaran, instrument
evaluasi,dan strategi pengajaran
Diposkan oleh joni nadi di 22.24
[Link]

Anda mungkin juga menyukai