Penerapan PHBS di Sekolah Dasar
Penerapan PHBS di Sekolah Dasar
PENDAHULUAN
apabila tidak dikelola dengan baik dapat mencemari lingkungan bahkan memunculkan
vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, kecoa, tikus yang menimbulkan berbagai macam
penyakit antara lain diare, kecacingan, DBD, dan lain sebagainya. Badan kesehatan dunia
atau WHO menyatakan setiap tahun 100.000 anak meninggal dunia akibat diare dan data
dari Departemen Kesehatan tahun 2005 menyatakan prevalensi kecacingan pada anak
sekolah mencapai 40%-60% kasus.
Sekolah sebagai salah satu pusat pendidikan bagi generasi penerus bangsa belum
maksimal melaksanakan PHBS. Hal ini terlihat dari banyaknya sekolah yang masih
dikotori dengan sampah yang dihasilkan oleh warga sekolah. Sekolah sebagai lembaga
pendidikan seharusnya dapat menerapkan cara mengelola sampah dengan baik dan benar.
Anak-anak dalam keseharian masih membuang sampah di sembarang tempat meskipun
sekolah sudah mengajarkan membuang sampah di sembarang tempat dapat menyebabkan
penyakit serta merugikan orang lain sendiri, dan juga lingkungan. Banyak hal yang
mempengaruhi ketaatan siswa dalam membuang sampah pada tempatnya seperti sarana
prasarana pembuangan sampah di sekolah, contoh perilaku dari guru maupun teman,
pengetahuan siswa tentang membuang sampah pada tempatnya, serta dampak yang dapat
ditimbulkan jika membuang sampah di sembarang tempat. Sampai saat ini kesadaran
masyarakat untung membuang sampah pada tempatnya masih rendah termasuk anak-anak
di lingkungan sekolah penting untuk diperhatikan untuk mencegah berbagai macam
penyakit yang dapat muncul dan menghindari pencemaran lingkungan.
Sekolah sebagai perpanjangan tangan keluarga dalam meletakkan dasar perilaku
untuk kehidupan anak selanjutnya. Oleh karena itu pendidikan kesehatan di sekolah
sangat penting karena dalam hal ini anak sebagai agen of change di masyarakat.
Pengetahuan yang diberikan anak di sekolah khususnya tentang kesehatan akan
mengubah sikap anak dan akan berdampak pada perilakunya. Saat ini dukungan sekolah
terhadap PHBS pada anak dirasa kurang maksimal, hal ini terlihat dari minimnya bahkan
tidak tersedianya sarana dan prasarana atau fasilitas untuk mendukung keberhasilan
PHBS seperti pengelolaan sampah yang kurang baik sehingga siswa terbiasa membuang
sampah tidak pada tempatnya. Dalam hal ini sekolah khususnya guru harus mampu
berperan sebagai pembimbing, pengajar, pelatih agar dapat dijadikan panutan bagi anak
didiknya.
Promosi kesehatan di lingkungan sekolah yang dicanangkan WHO menggunakan
model holistik meliputi aspek mental, fisik dan lingkungan yang melibatkan keluarga
sebagai pendorong. Sekolah yang menjadi sasaran tempat penelitian adalah sekolah dasar
di wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring, kecamatan Pondok Kelapa. Hasil wawancara
2
dan observasi didapatkan data masih banyak sampah yang berserakan di sekolah
meskipun guru sudah mengajarkan perilaku membuang sampah pada tempatnya di
sekolah dan menyediakan fasilitas untuk pembuangan sampah. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap anak sekolah dengan penerapan
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) membuang sampah pada tempatnya di sekolah
tersebut. Ruang lingkup penelitian ini meliputi responden yaitu siswa sekolah dasar di
wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring kabupaten Bengkulu Tengah. Dimana dari siswa
digali informasi mengenai pengetahuan, sikap dan tindakan yang hubungannya dengan
PHBS membuang sampah pada tempatnya, yang berdampak pada status kesehatan
mereka sebagai generasi penerus bangsa yang harus memiliki sumber daya manusia yang
sehat dan berkualitas.
Anak usia sekolah merupakan generasi penerus bangsa dan merupakan masa
keemasan untuk menanamkan perilaku hidup bersih sehat, sehingga dalam hal ini sekolah
sebagai tempat belajar mengajar juga merupakan ancaman penularan penyakit jika tidak
dikelola dengan baik. Selain tidak terjadwalnya materi PHBS, peran sekolah dalam
pengembangan kesehatan sekolah juga belum optimal. Tidak tersedianya sarana dan
prasarana atau fasilitas untuk mendukung keberhasilan PHBS seperti pengelolaan sampah
yang kurang baik sehingga siswa terbiasa membuang sampah tidak pada tempatnya,
jamban yang kurang bersih dan sehat, kantin yang tidak sehat, dan sebagainya. Hal inilah
yang menyebabkan tingginya angka penyakit pada anak sekolah terkait dangan rendahnya
PHBS.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah penelitian adalah bagaimana
gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan anak sekolah dengan penerapan PHBS pada
tempatnya yaitu sekolah dasar di wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum :
Meningkatkan derajat kesehatan siswa SD di wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring
melalui peningkatan PHBS di sekolah
1.3.2 Tujuan khusus :
1. Mengetahui pengetahuan siswa mengenai PHBS di sekolah dasar wilayah kerja
puskesmas Pekik Nyaring kecamatan Pondok Kelapa.
2. Mengetahui sikap siswa mengenai PHBS di sekolah dasar wilayah kerja puskesmas
Pekik Nyaring kecamatan Pondok Kelapa.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil
pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri dibidang
kesehatan dan berperan aktif mewujudkan kesehatan masyarakat.
PHBS adalah wujud pemberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu
mempraktekkan PHBS. Program PHBS adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar
atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Masyarakat diharapkan dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam
tatanan masing-masing dan masyarakat agar dapat menerapkan cara hidup sehat dengan
menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
2.1.2 Tatanan PHBS
Tatanan adalah tempat dimana sekumpulan orang hidup, bekerja, bermain,
berinteraksi dan lain-lain. Dalam hal ini ada 5 tatanan PHBS yaitu rumah tangga, sekolah,
tempat kerja, sarana kesehatan dan tempat umum. Dalam penelitian ini adalah tatanan
institusi pendidikan yang tujuannya adalah mengevaluasi pelaksanaan program untuk
berperilaku hidup bersih dan sehat.
anak, maka disamping keluarga sebagai pusat pendidikan, sekolah juga mempunyai fungsi
sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan pribadi anak.
2.2.2 PHBS di Sekolah
PHBS di sekolah adalah upaya untuk memberdayakan siswa, guru, dan masyarakat
lingkungan sekolah agar tahu, mau dan mampu mempraktekkan PHBS dan berperan aktif
dalam mewujudkan sekolah sehat.
2.2.3 Manfaat PHBS di Sekolah
a. Terciptanya sekolah yang bersih dan sehat sehingga peserta didik, guru, dan
masyarakat lingkungan sekolah terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman
penyakit.
b. Meningkatnya semangat proses belajar-mengajar yang berdampak pada prestasi
belajar peserta didik
c. Citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu
menarik minat orang tua
d. Meningkatnya citra pemerintah daerah di bidang pendidikan
e. Menjadi percontohan sekolah sehat bagi sekolah atau daerah lain
2.3 Indikator PHBS di Sekolah
2.3.1 Mencuci Tangan Dengan Air Mengalir dan Sabun
Mencuci tangan merupakan langkah yang cukup penting untuk mencegah penyebaran
penyakit. Tangan merupakan salah satu jalur penularan berbagai penyakit menular seperti
penyakit gangguan usus dan pencernaan (diare, muntah) dan berbagai penyakit lainnya yang
dapat berpotensi membawa kepada arah kematian.
Mencuci tangan dengan air saja lebih umum dilakukan, namun hal ini terbukti tidak
efektif dalam menjaga kesehatan dibandingkan dengan mencuci tangan dengan sabun.
Menggunakan sabun dalam mencuci tangan sebenarnya menyebabkan sesorang harus
mengalokasikan waktunya lebih banyak saat mencuci tangan, namun penggunaan sabun
menjadi lebih efektif karena lemak dan kotoran yang menempel akan terlepas saat tangan
digosok dan bergesek dalam upaya melepaskannya. Didalam lemak dan kotoran yang
6
menempel inilah kuman penyakit hidup. Efek lainnya adalah tangan menjadi harum setelah
dicuci dengan menggunakan sabun dan dalam beberapa kasus, tangan yang menjadi wangilah
yang membuat cuci tangan dengan sabun menarik untuk dilakukan.
Untuk mengatasi kuman dibutuhkan pengertian akan pentingnya kebiasaan mencuci
tangan oleh siapapun. Bukan hanya sekedar mencuci tangan saja melainkan juga
menggunakan sabun dan dilakukan di bawah air yang mengalir karena sabun mengurangi
atau melemahkan kuman yang ada di tangan.
Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi
dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk
menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. PBB telah mencanangkan tanggal 15
Oktober sebagai Hari Mencuci Tangan dengan Sabun Sedunia.
2.3.2 Mengkonsumsi Jajanan Sehat di Kantin Sekolah
Jajan bagi anak merupakan hal yang paling sering dilakukan dan hal ini dapat
membahayakan apabila jajanan yang mereka konsumsi tidak sehat. Banyak pencemaran
secara mikrobiologis dan kimiawi. Makanan jajanan dapat menyumbang asupan energi bagi
anak sekolah sebanyak 36%, protein 29% dan zat besi 52%. Oleh karena itu, makanan
jajanan memiliki peranan penting pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah. Jadi,
untuk mengurangi paparan anak sekolah terhadap makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak
aman, perlu dilakukan untuk promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah, guru,
orangtua, murid, serta pedagang.
Anak-anak sekolah umunya setiap hari menhabiskan waktunya di sekolah,
demikian halnya berpengaruh pada pola makan anak. Sebagai orang tua mungkin perlu kita
sadari bahwa makanan dari luar rumah(disekolah) memberikan kontribusi terhadap
pemenuhan kebutuhan energi sebesar 31,1%.
Makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak bermutu mengakibatkan timbulnya resiko
bagi kesehatan dan memiliki dampak negatif jangka panjang terhadap pembentukkan
generasi bangsa. Peningkatan perhatian kesehatan anak usia sekolah melalui makanan jajanan
yang sehat ini diharapkan dapat menciptakan peserta didik yang sehat, cerdas dan berprestasi
yang merupakan aset bangsa di masa mendatang.
2.3.3 Menggunakan Jamban Yang Bersih dan Sehat
7
Tindakan yang paling penting dan dapat dilakukan sekolah untuk mencegah
penyebarluasan penyakit menular seperti diare adlah membuang kotoran manusia secara
aman yaitu dengan menggunakan jamban. Letak jamban sebaiknya tidak terlalu dekat dengan
ruangan kelas. Jamban antara siswa laki-laki dan siswa perempuan harus dipisahkan agar
kebersihan jamban dapat terjaga dan jamban dilakukan pemeriksaan kebersihan setiap hari.
Jamban merupakan sanitasi dasar penting yang harus dimiliki setiap masyarakat.
Pentingnya buang air kecil dan besar di jamban bersih adalah untuk menghindari dari
berbagai jenis penyakit yang timbul karena sanitasi yang buruk. Oleh karena itu jamban harus
mengikuti standar pembuatan jamban yang sehat dimana harus terletak minimal 10 meter dari
sumber air dan mempunyai saluran pembuangan udara agar tidak mencemari lingkungan
sekitar. Syarat jamban sehat meliputi :
a. Tidak mencemari sumber air bersih, untuk ini letak lubang penampungan kotoran
paling sedikit berjarak 10 meter dari sumber air minum. Tetapi kalau keadaan
tanahnya berkapur atau tanah liat yang retak-retak pada musim kemarau, demikian
juga bila letak jamban disebelah atas dari sumber air minum pada tanah yang
miring, maka jarak tersebut hendaknya lebih dari 15 meter.
b. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus, untuk ini tinja
harus tertutup rapat, misalnya dengan menggunakan leher angsa/penutup yang
rapat.
c. Mudah dibersihkan, aman digunakan untuk ini maka harus dibuat dari bahanbahan yang kuat dan tahan lama dan agar lebih irit hendaknya dibuat dari bahanbahan yang ada di daerah setempat
d. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang
e. Cukup penerangan
f. Lantai kedap air
g. Luas ruangan cukup atau tidak terlalu rendah
h. Ventilasi cukup baik
i. Tersedia air dan alat pembersih
8
metabolisme
tubuh
untuk
mencegah
kegemukan
dan
c. Diabetes Melitus
d. Infeksi
6. Meningkatkan sistem hormonal melalui peningkatan sensitifitas hormon terhadap
jaringan tubuh
7. Meningkatkan aktivitas sistem kekbalan tubuh terhadap penyakit melalui
peningkatan pengaturan kekebalan tubuh.
2.3.5 Tidak Merokok
Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen dan setidaknya 200
diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar,
nikotin dan karbon momksida. Persentase merokok tertinggi beradea pada kelompok remaja
(15-19tahun). Hal ini berarti bahaya rokok pada masyarakat yang rentan yakni anak-anak dan
akan berdampak pada masa remaja. Oleh karena itu kebiasaan merokok harus dihindarkan
sejak dini mulai dari tingkat sekolah dasar.
2.3.6 Menimbang Berat badan dan Mengukur Tinggi badan
Mengukur berat dan tinggi badan merupakan salah satu upaya untuk mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan dketahuinya tingkat pertumbuhan dan
perkembanagan anak dapat memberikan masukan untuk peningkatan konsumsi makanan
yang bergizi bagi pertumbuhan anak. Sedangkan untuk mengetahui pertumbuhan seorang
anak normal atau tidak bisa diketahui melalui cara membandingkan ukuran tubuh anak yang
bersangkutan dengan ukuran anak seusia pada umumnya.
Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan siswa dilakukan pencatatan hasil
penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan di Kartu Menuju Sehat secara teratur
setiap 6 bulan.
2.3.7 Membuang Sampah Pada Tempatnya
Sampah adalah termasuk yang mempengaruhi kelestarian lingkungan hidup, karena
sampah mempengaruhi lingkungan alam dan sosial, apabila ada kesalahan dalam
pembuangan sampah maka akan berakibat fatal bagi lingkungan. Ketika sampah menumpuk
akan mengakibatkan bencana yang merusak lingkungan, contohnya seperti banjir, longsor,
dan bencana lainnya.
10
Membuang sampah pada tempatnya merupakan cara sederhana yang sangat besar
manfaatnya, karena hampir di semua kalangan masyarakat, tidak hanya warga miskin, bahkan
mereka yang berpendidikan tinggi pun melakukannya.
2.3.8 Memberantas Jentik Nyamuk
1. Alasan memberantas jentik nyamuk di sekolah
Agar sekolah bebas jentik nyamuk, peserta didik dan masyarakat lingkungan sekolah
terhindar dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui nyamuk.
2. Pengertian memberantas jentik nyamuk
Memberantas
jentik
nyamuk
disekolah
adalah
kegiatan
memeriksa
tempat
penampungan air bersih yang ada di sekolah ( bak mandi, kolam ) apakah bebas dari jentik
atau tidak.
3. Kegiatan memberantas jentik nyamuk
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M plus ( Menguras, menutup,
mengubur, plus menghindari gigitan nyamuk). PSN merupakan kegiatan memberantas telur,
jentik dan kepompong nyamuk menular sebagai penyakit seperti demam berdarah, demam
chikunguya, malaria, filariasis ditempat-tempat perkembang biakannya.
3M Plus yang dilakukan pada saat PSN :
a. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air
b. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
c. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas
d. Plus menghindari gigitan nyamuk seperti :
1) Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk
2) Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi yang memadai
3) Memperbaiki saluran dan talang air yang rusak
4) Menaburkan lavarsida (bubuk pembunuh jentik) ditempat-tempat yang sulit
dikuras
11
BAB III
METODE PENELITIAN
Kriteria Inklusi
a) Siswa kelas 5 6 SD
b) Siswa yang kooperatif
c) Siswa yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian
2.
a)
b)
Kriteria Eksklusi
Siswa yang tidak sehat secara mental.
Siswa yang mempunyai lebih dari satu penyakit kronik berat
Z2 x P x Q
d2
= Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95% besarnya 1,96
= Persentase siswa SD yang telah berperilaku hidup bersih sehat dalam skala
=
n0
(1 + n0/N)
= Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit.
= Besar sampel dari populasi yang infinit
= Besar sampel populasi finit ( Seluruh siswa SD kelas 5-6 di desa Pekik
Nyaring periode September 2013 )
n
=
366
(1 + 366/637)
= 266 siswa
14
Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 266 orang. Adapun teknik sampling
yang digunakan adalah stratified sampling dipisahkan menjadi dua kelompok responden
yaitu :
1. Kelompok anak-anak yang berusia 9-11 tahun atau kelompok anak dengan pendidikan SD
kelas V
2. Kelompok anak-anak yang berusia 12-13 tahun atau kelompok anak dengan pendidikan
SD kelas VI
3.4. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui
pembagian kuesioner dan diikuti dengan wawancara langsung dengan anak-anak kelas 5-6 di
SD wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring kecamatan Pondok Kelapa.
3.5. Definisi Operasional
1. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari tahu anak-anak tentang PHBS, yang terjadi
setelah anak-anak memperoleh informasi PHBS.
2. Sikap (attitude) adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari anak-anak
3. Tindakan atau praktrek (practice) adalah perbuatan nyata anak-anak
3.6 Aspek Pengukuran
Dalam aspek pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tingkat
pengetahuan, sikap dan tindakan tentang PHBS pada anak-anak kelas 5-6 SD di wilayah
kerja puskesmas Pekik Nyaring kecamatan Pondok Kelapa.
3.6.1. Pengetahuan
Pengetahuan ini dapat diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner yang telah
diberi bobot. Jumlah pertanyaan sebanyak 12 dan total skor sebanyak 36.
15
Adapun kriteria pertanyaan tingkat sikap anak-anak mempunyai tiga pilihan dengan
pemberian skor sebagai berikut :
A. Skor jawaban pertanyaan 1 s/d 6 yaitu :
1. Setuju, dengan skor 3
2. Ragu-ragu, dengan skor 2
3. Tidak setuju, dengan skor 1
B. Skor jawaban pertanyaan nomor 7 s/d 12 yaitu :
1. Setuju, dengan skor 1
2. Ragu-ragu, dengan skor 2
3. Tidak setuju, dengan skor 3
Berdasarkan kriteria pemberian skor, sikap anak-anak dikategorikan dengan skala
pengukuran sebagai berikut :
1. Baik, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memilih jawaban yang memiliki
nilai (skor) > (lebih dari) 75% dari total skor seluruh pertanyaan
2. Sedang, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memiliki nilai (skor) = (sama
dengan) 40%-75%
3. Buruk, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memiliki nilai (skor) < (kurang
18
BAB IV
HASIL PENELITIAN
19
Usia Responden
Jumlah (n)
Persentase (%)
1.
9 tahun
15
25,86%
2.
10 tahun
29
50%
3.
11 tahun
12,06%
12 tahun
6,89%
13 tahun
5,19%
TOTAL
58
100
Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa umur responden yang terbanyak adalah umur 10
tahun sebanyak 29 orang (50%) dan paling sedikit 13 tahun sebanyak 3 orang (5,19%).
4.2.2 Tingkat Pendidikan Responden
Tabel 4.2 Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan responden di SDN
239/IX
NO.
Jumlah (n)
Persentase (%)
1.
SD kelas 4
35
60,34%
2.
SD kelas 5
23
39,66%
TOTAL
58
100
Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden yang terbanyak adalah
SD kelas 4 sebanyak 35 orang (60,34%) dan paling sedikit SD kelas 5 sebanyak 23 orang
(39,66%)
4.2.3 Jenis Kelamin Responden
Tabel 4.3 Distribusi Responden berdasarkan jenis kelamin di SDN 239/IX
20
NO.
Jumlah(n)
Persentase(%)
1.
Laki-laki
32
55,17%
2.
Perempuan
26
44,83%
TOTAL
58
100
Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa jenis kelamin responden yang terbanyak adalah lakilaki sebanyak 32 orang (55,17%) dan paling sedikit perempuan sebanyak 26 orang
(44,83%)
4.3 Tingkat Pengetahuan Responden
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden di SDN 239/IX maka dilakukan
pengumpulan data melalui kuesioner yang diikuti dengan wawancara. Berikut ini adalah
hasil pengumpulan data terhadap responden di SDN 239/IX tentang tingkat pengetahuan
tentang PHBS dalam tabel distribusi di bawah ini :
NO.
Pengetahuan
Jumlah(n)
Presentase (%)
1.
98,27%
1,73%
[Link] tahu
57
98,27%
1,73%
[Link] tahu
56
96,55%
3.45%
[Link] tahu
2.
3.
21
4.
5.
a.2 kali
58
100%
b.1 kali
[Link] tahu
[Link] makan
68,96%
[Link] tahu
54
31,04%
[Link] tahu
58
100%
21
36,20%
37
63,8%
[Link] tahu
58
100%
dan BAK
6.
7.
protein
9.
Jamban/toilet sehat :
[Link] tahu
47
81,03%
11
18,97%
58
100%
[Link] sungai
[Link] tahu
54
93,10%
6,9%
[Link] tahu
58
100%
11.
Tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa seluruh 100% responden mengetahui alasan cuci
tangan pakai sabun yaitu agar kuman dan kotoran terbuang dari kulit serta frekuensi mandi
satu hari yaitu dua kali.
23
Pengetahuan responden tentang gosok gigi jawaban terbanyak 96,5%, sedangakan yang
memiliki alasan agar mulut bersih dan sehat 3,45%. Demikian juga pengetahuan tentang
frekuensi gosok gigi yan baik jawaban terbanyak 100%.
Pengetahuan responden tentang kapan waktu cuci tangan terbanyak yaitu setelah BAB
dan BAK sebesar 31,04% sedangkan setelah makan 68,96%. Pengetahuan responden
tentang penyebab sakit perut terbanyak yaitu karena kuku panjang mengandung telur
100%. Pengetahuan responden tentang jawaban/toilet yang sehat, responden yang
menjawab jamban dengan bentuk leher angsa , tersedia air bersih dan lap pengering
81,03%, sedangkan yang tidak menimbulkan bau-bauan sebesar 18,97%. Pengetahuan
responden tempat buang sampah yang baik sebesar 100%.
Pengetahuan responden
tentang alasan kebersihan rambut perlu dijaga jawaban terbanyak yaitu agar rambut dan
kulit kepala bersih dan sehat sebesar 93,10%, sedangkan agar tidak ada kutu di kepala
6,9%. Pengetahuan alasan perlunya tidur yang terbanyak yaitu agar pertumbuhan baik dan
memulihkan tenaga kembali sebesar 100%.
Tabel 4.5 Distribusi Pengetahuan Responden tentang PHBS di SDN 239/IX
No.
Jumlah (n)
Presentase (%)
1.
Baik
55
94,82%
2.
Sedang
5,18%
3.
Buruk
Total
58
100%
Tabel 4.5 diatas menunjukkan bahwa seluruh pengetahuan responden tentang PHBS di
SDN 239/IX yang paling banyak yaitu pengetahuan dengan kategori baik sebesar 94,82%
dan tindakan dengan kategori sedang 5,18%
Tabel 4.6 Distribusi Pengetahuan responden tentang PHBS berdasarkan kelompok
umur responden di SDN 239/IX
No
Kelompok
Tingkat Pengetahuan
umur
9-11 tahun
Baik
Sedang
Total
Buruk
Jumlah
27
90
10
30
100
24
12-13
28
100
55
94,82% 3
28
100
5,18% 0
58
100
tahun
Tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa tindakan responden usia 9-11 tahun tentang PHBS di
SDN 239/IX dengan kategori baik sebesar 90%, sedangkan kelompok 12-13 tahun memiliki
pengetahuan dengan kategori baik sebesar 100%.
4.4 Sikap Responden
Untuk mengetahui sikap responde di SDN 239/IX maka dilakukan pengumpulan data
melakukan kuesioner yang diikuti dengan wawancara. Berikut ini adalah hasil
pengumpulan data tentang sikap responden tentang PHBS di SDN 239/IX
Tabel 4.7 Distribusi sikap responden tentang PHBS di SDN 239/IX
No.
Sikap tentang
Setuju
Ragu-ragu
Tidak setuju
PHBS
1.
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
(n)
(%)
(n)
(%)
(n)
(%)
Makan
sayur 58
dan
buah-
buahan
setiap
100%
100%
100%
100%
hari
2.
Kuku
bersih
harus 58
dan
pendek
3.
Cuci
tangan 58
sebelum makan
4.
Cuci
tangan 58
pakai
sabun
setelah
BAB
25
dan BAK
5.
Mandi
harus 58
100%
pakai
sabun
100%
67,24%
3,44%
17
29,32%
100%
13,79%
5,17%
47
81,04%
58
100%
boleh 58
100%
5,17%
3,44%
53
91,39%
mandi
6.
Cuci
rambut 58
sebaiknya pakai
shampo
7.
diganti
sekali
dalam
satu hari
8.
Sampah jangan 58
di
tumpuk
dipekarangan
rumah
9.
Anak-anak
baiknya
tidur
dari
delapan
jam
setiap hari
10.
Kegiatan
olahraga
meningkatkan
kebugaran tubuh
11.
Tidak
merokok dalam
ruangan
12.
Menggosok gigi 3
dua kali sehari
26
Tabel 4.7 diatas dapat dilihat bahwa seluruh responden 100% setuju bahwa makan sayur
dan buah-buahan setiap hari, kuku harus bersih dan pendek, cuci tangan sebelum makan,
cuci tangan pakai sabun setelah BAB dan BAK, mandi harus pakai sabun mandi, cuci
rambut sebaiknya pakai shampoo, sampah jangan ditumpuk dipekarangan rumah, kegiatan
olahraga meningkatkan kebugaran tubuh dan tidak boleh merokok dalam ruangan.
Responden yang setuju baju yang kita pakai diganti sekali dalam satu hari sebesar
67,24% , ragu- ragu sebesar 3,44% , tidak setuju sebesar 29,32%. Responden yang setuju
anak-anak baiknya tidur lebih atau sama dengan dari delapan jam setiap hari 13,79%,
ragu-ragu 5,17% , tidak setuju 81,04%. Responden yang setuju menggosok gigi dua kali
sehari 5,17% , ragu-ragu 3,44% , tidak setuju 91,39%
Tabel 4.8 Distribusi sikap responden tentang PHBS di SDN 239/IX
No.
Jumlah (n)
Presentase (%)
1.
Baik
56
96,55%
2.
Sedang
3,45%
3.
Buruk
Total
58
100%
Tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa seluruh sikap responden tentang PHBS di SDN
239/IX yang paling banyak yaitu sikap dengan kategori baik sebesar 96,55% dan tindakan
dengan kategori sedang 3,45%
Tabel 4.9 Distribusi Sikap responden tentang PHBS berdasarkan kelompok umur
responden di SDN 239/IX
No
Kelompok
Sikap
umur
Baik
n
Total
Sedang
N
Buruk
n
Jumlah
9-11 tahun
28
93,33% 2
6,67% -
30
100
12-13
28
100
28
100
27
tahun
56
94,82% 2
6,67% 0
58
100
Tabel 4.9 diatas dapat dilihat bahwa sikap responden usia 9-11 tahun tentang PHBS di SDN
239/IX dengan kategori baik sebesar 93,33%, sedangkan kelompok 12-13 tahun memiliki
pengetahuan dengan kategori baik sebesar 100%.
Tindakan Responden
Jumlah (n)
Persen (%)
58
100
[Link] tempat
[Link] kali
56
96,55%
3,45%
[Link] kali
58
100%
[Link]-kadang
[Link]
[Link] kali
58
100%
[Link] kali
[Link] pernah
2.
3.
4.
5.
6.
[Link] shampo
57
98,27%
1,73%
[Link] pernah
58
100
43
74,13%
15
25,87%
16
27,58%
42
72,42%
56
96,55%
3,45%
8,62%
47
81,03%
[Link],tapi kadang-kadang
10,35%
57
98,27%
[Link] hari
7.
8.
9.
dijamban/toilet
dan
kadang
diatas
11.
29
[Link]-kadang
12.
Frekuensi
olahraga/aktivitas
fisik
1,73%
58
100%
dalam
seminggu:
[Link] pernah
b.1-3 kali seminggu
[Link] karena capek ke ladang
Tabel 4.10 diatas menunjukkan bahwa seluruh responden 100% membuang sampah
ditempah sampah yang tersedia, selalu cuci tangan pakai sabun, makan sayur setiap hari
dalam seminggu, dua kali dalam sehari frekuensi gosok gigi, frekuensi olahraga/aktivitas
fisik dalam seminggu 1-3 kali seminggu.
Responden menunjukkan bahwa 96,55% mandi dua kali sehari, 3,45% kadang satu dan
kadang dua kali. Responden menunjukkan 98,27% mencuci rambut dengan shampoo dan
1,73% hanya dengan air saja.
Responden menunjukkan 74,13% makan buah 1 s/d 3 kali dalam seminggu dan 25,87%
makan buah setiap hari. Responden menunjukkan 27,58% lama tidur dalam satu hari tidak
teratur dan 72,42% kurang dari delapan jam.
Responden menunjukkan 96,55% buang air kecil dan besar di toilet dan 3,45% kadang
dijamban/toilet. Responden menunjukkan 81,035 selalu ganti baju setiap hari, 10,35%
kadang-kadang dan 8,625 tidak ganti baju sekali dalam dua hari.
Responden menunjukkan 98,27% selalu cuci tangan pakai sabun dan 1,73% kadangkadang menggunakan sabun.
Tabel 4.11 Distribusi Tindakan Responden tentang PHBS di SDN 239/IX
No.
Jumlah (n)
Presentase (%)
1.
Baik
55
94,82%
2.
Sedang
5,18%
3.
Buruk
Total
58
100%
30
Tabel 4.11 diatas menunjukkan bahwa seluruh tindakan responden tentang PHBS di SDN
239/IX yang paling banyak yaitu tindakan dengan kategori baik sebesar 94,82% dan
tindakan dengan kategori sedang 5,18%
Tabel 4.12 Distribusi tindakan responden tentang PHBS berdasarkan kelompok
umur responden di SDN 239/IX
No
Kelompok
Tindakan
umur
Baik
Total
Sedang
Buruk
Jumlah
9-11 tahun
27
90
10
30
100
12-13
28
100
28
100
55
94,82% 3
5,18% 0
58
100
tahun
Tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa tindakan responden usia 9-11 tahun tentang PHBS di
SDN 239/IX dengan kategori baik sebesar 90%, sedangkan kelompok 12-13 tahun memiliki
pengetahuan dengan kategori baik sebesar 100%
BAB V
31
PEMBAHASAN
tahun secara keseluruhan 93,33% memiliki pengetahuan yang baik, sedangka kelompok umur
12-13 tahun memiliki pengetahuan baik sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa sikap
responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa berpengaruh pada tingginya sikap
siswa tentang PHBS.
Sikap diturunkan dari pengetahuan responden. Dengan demikian untuk menentukan sikap
harus didasari oleh pengetahuan responden.
Terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan PHBS responden dengan tingkat
keeratan hubungan dengan tindakan. Hal ini menunjukkan bahwa sikap positif responden
yang ditunjukkan oleh sikap menerima, merespon, menghargai, dan bertanggung jawab
terhadap PHBS akan memberi dampak yang positif juga bagi PHBS mereka.
Sikap adalah satu predisposisi untuk munculnya perilaku dapat dibuktikkan dalam penelitian
ini. Bahwa perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh kepercayaan, keyakinan, kehidupan
emosional, dan kecenderungan untuk berperilaku yang semua itu merupakan komponen
sikap.
5.1.3 Tindakan
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overtbehaviour). Untuk
terwujudnya sikap menjadi suatu perbedaan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga
diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain, misalnya suami atau istri, orang tua
atau mertua sangat penting untuk mendukung [Link] responden tentang PHBS di
SDN 239/IX secara umum dikategorikan baik, seperti yang disajikan di tabel 4.3 dikatakan
bahwa tindakan responden dengan kategori baik sebanyak 55 siswa (94,82%), sedangkan
tindakan responden dengan kategori sedang sebanyak 3 orang (5,18%).Tindakan responden
tentang PHBS berdasarkan kelompok umur di SDN 239/IX menunjukkan perbedaan antara
kelompok. Kelompok umur responden 9-11 tahun secara keseluruhan 90% memiliki tindakan
yang baik, sedangkan kelompok umur 12-13 tahun memiliki tindakan baik sebesar 100%. Hal
ini menunjukkan bahwa tindakan responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa
berpengaruh pada tingginya tindakan siswa tentang PHBS.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
33
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada siswa SDN 239/IX tentang PHBS
maka dapat ditarik beberapa kesimpulan seperti :
1. Tingkat pengetahuan responden tentang PHBS berdasarkan kelompok umur di SDN
239/IX menunjukkan perbedaan antara kelompok. Kelompok umur responden 9-11
tahun secara keseluruhan 90% memiliki pengetahuan yang baik, sedangka kelompok
umur 12-13 tahun memiliki pengetahuan baik sebesar 100%. Hal ini menunjukkan
bahwa tingkat pengetahuan responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa
berpengaruh pada tingginya pengetahuan siswa tentang PHBS.
2. Sikap responden tentang PHBS berdasarkan kelompok umur di SDN 239/IX tidak
menunjukkan perbedaan yang berarti antara kelompok. Kelompok umur responden 911 tahun secara keseluruhan 93,33% memiliki pengetahuan yang baik, sedangka
kelompok umur 12-13 tahun memiliki pengetahuan baik sebesar 100%. Hal ini
menunjukkan bahwa sikap responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa
berpengaruh pada tingginya sikap siswa tentang PHBS.
3. Tindakan responden tentang PHBS berdasarkan kelompok umur responden 9-11
tahun secara keseluruhan 90% memiliki tindakan yang baik, sedangkan kelompok
umur 12-13 tahun memiliki tindakan baik sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa
tindakan responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa berpengaruh pada
tingginya tindakan siswa tentang PHBS.
6.2 Saran
34
1. Kepada para guru/pengajar di SDN 239/IX agar senantiasa menanamkan nilai-nilai PHBS
kepada para siswa untuk mencegah datangnya berbagai penyakit seperti diare, sakit gigi,
cacingan dan penyakit kulit seperti kudis, kurap dan lain-lain
2. Keadaan para guru/pengajar di SDN 239/IX agar melakukan pemeriksaan kesehatan secara
berkala dan sekaligus memberikan informasi dalam bentuk penyuluham, poster atau leaflet
tentang PHBS.
3. Pemerintah kota Muaro jambi dan dinas terkait seperti dinas kesehatan supaya lebih
proaktif mengupayakan peninjauan tentang sumber daya dan kelayakan fasilitas yang
mendukung higiene dan sanitasi sekaligus memberi donasi serta solusi permasalahan yang
ada di SDN 239/IX dalam rangka mendukung sumber daya manusia yang berkualitas yaitu
sehat jasmani dan rohani serta produktif.
DAFTAR PUSTAKA
35
Departemen
Kesehatan
RI,
2007.
Panduan
Manajemen
PHBS
Menuju
36