0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan36 halaman

Penerapan PHBS di Sekolah Dasar

Dokumen tersebut membahas tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah, terutama mengenai pengelolaan sampah. PHBS merupakan upaya untuk memberikan pengalaman belajar tentang hidup sehat melalui pendekatan advokasi, dukungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu indikator PHBS adalah membuang sampah pada tempatnya, namun banyak sekolah yang masih kurang menerapkannya dengan ba

Diunggah oleh

Ibby Imyadelna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan36 halaman

Penerapan PHBS di Sekolah Dasar

Dokumen tersebut membahas tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah, terutama mengenai pengelolaan sampah. PHBS merupakan upaya untuk memberikan pengalaman belajar tentang hidup sehat melalui pendekatan advokasi, dukungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu indikator PHBS adalah membuang sampah pada tempatnya, namun banyak sekolah yang masih kurang menerapkannya dengan ba

Diunggah oleh

Ibby Imyadelna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya memberikan pengalaman belajar
atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat dengan
membuka jalur komunikasi, memberikan informasi, dan melakukan edukasi untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap serta perilaku hidup bersih sehat, melalui pendekatan
pimpinan (advokasi), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat
(empowerment). Dengan demikian masyarakat diharapkan dapat mengenali dan mengatasi
masalahnya sendiri melalui penerapan hidup sehat dan menjaga serta meningkatkan status
kesehatannya(1).
PHBS dikembangkan adanya lima tatanan, yaitu dirumah atau tempat tinggal, di sekolah,
di tempat kerja, di tempat-tempat umum, dan di sarana kesehatan. Dari sini dikembangkan
rumah tangga PHBS, sekolah PHBS, institusi kesehatan PHBS, tempat kerja PHBS, tempat
umum PHBS sehingga dapat mendukung terwujudya kawasan sehat sampai ke indonesia
sehat1) .
Salah satu tatanan PHBS adalah di lingkungan sekolah, dimana sekolah merupakan
tempat kedua bagi anak berinteraksi setelah keluarga. Sementara itu populasi anak dalam
suatu komunitas sangat besar 40%-50%. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009,
Indonesia memiliki sekitar 79,4 juta anak usia 8-18 tahun. Namun upaya menjaga kesehatan
mereka masih menjadi tantangan bagi semua pihak, sehingga promosi kesehatan terkait
PHBS di institusi pendidikan merupakan kebutuhan mutlak seiring munculnya berbagai
penyakit. Institusi pendidikan dianggap sebagai tempat yang strategis sebagai tempat untuk
mempromosikan kesehatan sekolah karena munculnya berbagai penyakit yang menyerang
anak usia sekolah umumnya berkaitan dengan rendahnya PHBS yang dapat menyebabkan
angka kejadian penyakit semakin meningkat dari tahun ke tahun sehingga menjadi kejadian
luar biasa (KLB).
PHBS di sekolah meliputi 8 indikator yang keseluruhan akan mempengaruhi status
kesehatan anak sekolah. Salah satu indikator PHBS yang tidak bisa dipisahkan dari
aktivitas anak sekolah setiap hari adalah perilaku membuang sampah pada tempatnya.
Konsumsi makanan oleh anak di sekolah akan menyisakan limbah berupa sampah yang
1

apabila tidak dikelola dengan baik dapat mencemari lingkungan bahkan memunculkan
vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, kecoa, tikus yang menimbulkan berbagai macam
penyakit antara lain diare, kecacingan, DBD, dan lain sebagainya. Badan kesehatan dunia
atau WHO menyatakan setiap tahun 100.000 anak meninggal dunia akibat diare dan data
dari Departemen Kesehatan tahun 2005 menyatakan prevalensi kecacingan pada anak
sekolah mencapai 40%-60% kasus.
Sekolah sebagai salah satu pusat pendidikan bagi generasi penerus bangsa belum
maksimal melaksanakan PHBS. Hal ini terlihat dari banyaknya sekolah yang masih
dikotori dengan sampah yang dihasilkan oleh warga sekolah. Sekolah sebagai lembaga
pendidikan seharusnya dapat menerapkan cara mengelola sampah dengan baik dan benar.
Anak-anak dalam keseharian masih membuang sampah di sembarang tempat meskipun
sekolah sudah mengajarkan membuang sampah di sembarang tempat dapat menyebabkan
penyakit serta merugikan orang lain sendiri, dan juga lingkungan. Banyak hal yang
mempengaruhi ketaatan siswa dalam membuang sampah pada tempatnya seperti sarana
prasarana pembuangan sampah di sekolah, contoh perilaku dari guru maupun teman,
pengetahuan siswa tentang membuang sampah pada tempatnya, serta dampak yang dapat
ditimbulkan jika membuang sampah di sembarang tempat. Sampai saat ini kesadaran
masyarakat untung membuang sampah pada tempatnya masih rendah termasuk anak-anak
di lingkungan sekolah penting untuk diperhatikan untuk mencegah berbagai macam
penyakit yang dapat muncul dan menghindari pencemaran lingkungan.
Sekolah sebagai perpanjangan tangan keluarga dalam meletakkan dasar perilaku
untuk kehidupan anak selanjutnya. Oleh karena itu pendidikan kesehatan di sekolah
sangat penting karena dalam hal ini anak sebagai agen of change di masyarakat.
Pengetahuan yang diberikan anak di sekolah khususnya tentang kesehatan akan
mengubah sikap anak dan akan berdampak pada perilakunya. Saat ini dukungan sekolah
terhadap PHBS pada anak dirasa kurang maksimal, hal ini terlihat dari minimnya bahkan
tidak tersedianya sarana dan prasarana atau fasilitas untuk mendukung keberhasilan
PHBS seperti pengelolaan sampah yang kurang baik sehingga siswa terbiasa membuang
sampah tidak pada tempatnya. Dalam hal ini sekolah khususnya guru harus mampu
berperan sebagai pembimbing, pengajar, pelatih agar dapat dijadikan panutan bagi anak
didiknya.
Promosi kesehatan di lingkungan sekolah yang dicanangkan WHO menggunakan
model holistik meliputi aspek mental, fisik dan lingkungan yang melibatkan keluarga
sebagai pendorong. Sekolah yang menjadi sasaran tempat penelitian adalah sekolah dasar
di wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring, kecamatan Pondok Kelapa. Hasil wawancara
2

dan observasi didapatkan data masih banyak sampah yang berserakan di sekolah
meskipun guru sudah mengajarkan perilaku membuang sampah pada tempatnya di
sekolah dan menyediakan fasilitas untuk pembuangan sampah. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap anak sekolah dengan penerapan
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) membuang sampah pada tempatnya di sekolah
tersebut. Ruang lingkup penelitian ini meliputi responden yaitu siswa sekolah dasar di
wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring kabupaten Bengkulu Tengah. Dimana dari siswa
digali informasi mengenai pengetahuan, sikap dan tindakan yang hubungannya dengan
PHBS membuang sampah pada tempatnya, yang berdampak pada status kesehatan
mereka sebagai generasi penerus bangsa yang harus memiliki sumber daya manusia yang
sehat dan berkualitas.
Anak usia sekolah merupakan generasi penerus bangsa dan merupakan masa
keemasan untuk menanamkan perilaku hidup bersih sehat, sehingga dalam hal ini sekolah
sebagai tempat belajar mengajar juga merupakan ancaman penularan penyakit jika tidak
dikelola dengan baik. Selain tidak terjadwalnya materi PHBS, peran sekolah dalam
pengembangan kesehatan sekolah juga belum optimal. Tidak tersedianya sarana dan
prasarana atau fasilitas untuk mendukung keberhasilan PHBS seperti pengelolaan sampah
yang kurang baik sehingga siswa terbiasa membuang sampah tidak pada tempatnya,
jamban yang kurang bersih dan sehat, kantin yang tidak sehat, dan sebagainya. Hal inilah
yang menyebabkan tingginya angka penyakit pada anak sekolah terkait dangan rendahnya
PHBS.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah penelitian adalah bagaimana
gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan anak sekolah dengan penerapan PHBS pada
tempatnya yaitu sekolah dasar di wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum :
Meningkatkan derajat kesehatan siswa SD di wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring
melalui peningkatan PHBS di sekolah
1.3.2 Tujuan khusus :
1. Mengetahui pengetahuan siswa mengenai PHBS di sekolah dasar wilayah kerja
puskesmas Pekik Nyaring kecamatan Pondok Kelapa.
2. Mengetahui sikap siswa mengenai PHBS di sekolah dasar wilayah kerja puskesmas
Pekik Nyaring kecamatan Pondok Kelapa.
3

3. Mengetahui tindakan siswa mengenai PHBS di sekolah dasar wilayah kerja


puskesmas Pekik Nyaring kecamatan Pondok Kelapa.
1.4 Manfaat Penelitian :
1. Sebagai bahan masukkan bagi pimpinan / tenaga pengajar di sekolah dasar wilayah kerja
puskesmas Pekik Nyaring kecamatan Pondok Kelapa untuk menerapkan Perilaku Hidup
Bersih Sehat agar terhindarnya dari penyakit yang berhubungan dengan rendahnya PHBS.
2. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang berhubungan dengan PHBS.
3. Sebagai tahap penerapan keilmuan penulis dalam melakukan penelitiann pada bidang
kesehatan yang diperoleh selama mengikuti program internsip di Puskesmas Pekik Nyaring
4. Sebagai masukkan bagi puskesmas Pekik Nyaring untuk membantu mengawasi
pelaksanaan program PHBS

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI
No. 1193/MENKES/SK/X/2004 adalah salah satu kebijakan nasional yaitu promosi
kesehatan untuk mendukung pencapaian visi indonesia sehat 2010. Berikut penjelasan
tentang PHBS yang meliputi pengertian, tatanan dan indikator.
2.11 Pengertian PHBS

PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil
pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri dibidang
kesehatan dan berperan aktif mewujudkan kesehatan masyarakat.
PHBS adalah wujud pemberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu
mempraktekkan PHBS. Program PHBS adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar
atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Masyarakat diharapkan dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam
tatanan masing-masing dan masyarakat agar dapat menerapkan cara hidup sehat dengan
menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
2.1.2 Tatanan PHBS
Tatanan adalah tempat dimana sekumpulan orang hidup, bekerja, bermain,
berinteraksi dan lain-lain. Dalam hal ini ada 5 tatanan PHBS yaitu rumah tangga, sekolah,
tempat kerja, sarana kesehatan dan tempat umum. Dalam penelitian ini adalah tatanan
institusi pendidikan yang tujuannya adalah mengevaluasi pelaksanaan program untuk
berperilaku hidup bersih dan sehat.

2.1.3 Indikator PHBS


Indikator diperlukan untuk menilai apakah aktivitas pokok yang dijalankan telah
sesuai dngan rencana dan menghasilkan dampak yang diharapkan. Dengan demikian
indikator merupakan suatu alat ukur untuk menunjukkan suatu keadaan atau kecenderungan
dengan keadaan dari suatu hal yang menjadi pokok perhatian.
2.2 PHBS di Tatanan Sekolah
2.2.1 Sekolah
Sekolah adalah lembaga dengan organisasi yang tersusun rapih dengan segala
aktivitasnya direncanakan dengan sengaja disusun yang disebut kurikulum. Sekolah adalah
tempat diselenggarakannya proses belajar mengajar secara formal, dimana terjadi
transformasi ilmu pengetahuan dari para guru atau pengajar kepada anak didiknya. Sekolah
memegang peranan penting dalam pendidikan karena pengaruhnya besar sekali pada jiwa
5

anak, maka disamping keluarga sebagai pusat pendidikan, sekolah juga mempunyai fungsi
sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan pribadi anak.
2.2.2 PHBS di Sekolah
PHBS di sekolah adalah upaya untuk memberdayakan siswa, guru, dan masyarakat
lingkungan sekolah agar tahu, mau dan mampu mempraktekkan PHBS dan berperan aktif
dalam mewujudkan sekolah sehat.
2.2.3 Manfaat PHBS di Sekolah
a. Terciptanya sekolah yang bersih dan sehat sehingga peserta didik, guru, dan
masyarakat lingkungan sekolah terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman
penyakit.
b. Meningkatnya semangat proses belajar-mengajar yang berdampak pada prestasi
belajar peserta didik
c. Citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu
menarik minat orang tua
d. Meningkatnya citra pemerintah daerah di bidang pendidikan
e. Menjadi percontohan sekolah sehat bagi sekolah atau daerah lain
2.3 Indikator PHBS di Sekolah
2.3.1 Mencuci Tangan Dengan Air Mengalir dan Sabun
Mencuci tangan merupakan langkah yang cukup penting untuk mencegah penyebaran
penyakit. Tangan merupakan salah satu jalur penularan berbagai penyakit menular seperti
penyakit gangguan usus dan pencernaan (diare, muntah) dan berbagai penyakit lainnya yang
dapat berpotensi membawa kepada arah kematian.
Mencuci tangan dengan air saja lebih umum dilakukan, namun hal ini terbukti tidak
efektif dalam menjaga kesehatan dibandingkan dengan mencuci tangan dengan sabun.
Menggunakan sabun dalam mencuci tangan sebenarnya menyebabkan sesorang harus
mengalokasikan waktunya lebih banyak saat mencuci tangan, namun penggunaan sabun
menjadi lebih efektif karena lemak dan kotoran yang menempel akan terlepas saat tangan
digosok dan bergesek dalam upaya melepaskannya. Didalam lemak dan kotoran yang
6

menempel inilah kuman penyakit hidup. Efek lainnya adalah tangan menjadi harum setelah
dicuci dengan menggunakan sabun dan dalam beberapa kasus, tangan yang menjadi wangilah
yang membuat cuci tangan dengan sabun menarik untuk dilakukan.
Untuk mengatasi kuman dibutuhkan pengertian akan pentingnya kebiasaan mencuci
tangan oleh siapapun. Bukan hanya sekedar mencuci tangan saja melainkan juga
menggunakan sabun dan dilakukan di bawah air yang mengalir karena sabun mengurangi
atau melemahkan kuman yang ada di tangan.
Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi
dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk
menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. PBB telah mencanangkan tanggal 15
Oktober sebagai Hari Mencuci Tangan dengan Sabun Sedunia.
2.3.2 Mengkonsumsi Jajanan Sehat di Kantin Sekolah
Jajan bagi anak merupakan hal yang paling sering dilakukan dan hal ini dapat
membahayakan apabila jajanan yang mereka konsumsi tidak sehat. Banyak pencemaran
secara mikrobiologis dan kimiawi. Makanan jajanan dapat menyumbang asupan energi bagi
anak sekolah sebanyak 36%, protein 29% dan zat besi 52%. Oleh karena itu, makanan
jajanan memiliki peranan penting pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah. Jadi,
untuk mengurangi paparan anak sekolah terhadap makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak
aman, perlu dilakukan untuk promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah, guru,
orangtua, murid, serta pedagang.
Anak-anak sekolah umunya setiap hari menhabiskan waktunya di sekolah,
demikian halnya berpengaruh pada pola makan anak. Sebagai orang tua mungkin perlu kita
sadari bahwa makanan dari luar rumah(disekolah) memberikan kontribusi terhadap
pemenuhan kebutuhan energi sebesar 31,1%.
Makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak bermutu mengakibatkan timbulnya resiko
bagi kesehatan dan memiliki dampak negatif jangka panjang terhadap pembentukkan
generasi bangsa. Peningkatan perhatian kesehatan anak usia sekolah melalui makanan jajanan
yang sehat ini diharapkan dapat menciptakan peserta didik yang sehat, cerdas dan berprestasi
yang merupakan aset bangsa di masa mendatang.
2.3.3 Menggunakan Jamban Yang Bersih dan Sehat
7

Tindakan yang paling penting dan dapat dilakukan sekolah untuk mencegah
penyebarluasan penyakit menular seperti diare adlah membuang kotoran manusia secara
aman yaitu dengan menggunakan jamban. Letak jamban sebaiknya tidak terlalu dekat dengan
ruangan kelas. Jamban antara siswa laki-laki dan siswa perempuan harus dipisahkan agar
kebersihan jamban dapat terjaga dan jamban dilakukan pemeriksaan kebersihan setiap hari.
Jamban merupakan sanitasi dasar penting yang harus dimiliki setiap masyarakat.
Pentingnya buang air kecil dan besar di jamban bersih adalah untuk menghindari dari
berbagai jenis penyakit yang timbul karena sanitasi yang buruk. Oleh karena itu jamban harus
mengikuti standar pembuatan jamban yang sehat dimana harus terletak minimal 10 meter dari
sumber air dan mempunyai saluran pembuangan udara agar tidak mencemari lingkungan
sekitar. Syarat jamban sehat meliputi :
a. Tidak mencemari sumber air bersih, untuk ini letak lubang penampungan kotoran
paling sedikit berjarak 10 meter dari sumber air minum. Tetapi kalau keadaan
tanahnya berkapur atau tanah liat yang retak-retak pada musim kemarau, demikian
juga bila letak jamban disebelah atas dari sumber air minum pada tanah yang
miring, maka jarak tersebut hendaknya lebih dari 15 meter.
b. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus, untuk ini tinja
harus tertutup rapat, misalnya dengan menggunakan leher angsa/penutup yang
rapat.
c. Mudah dibersihkan, aman digunakan untuk ini maka harus dibuat dari bahanbahan yang kuat dan tahan lama dan agar lebih irit hendaknya dibuat dari bahanbahan yang ada di daerah setempat
d. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang
e. Cukup penerangan
f. Lantai kedap air
g. Luas ruangan cukup atau tidak terlalu rendah
h. Ventilasi cukup baik
i. Tersedia air dan alat pembersih
8

2.3.4 Olahraga Yang Teratur dan Terukur


Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara
kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup. Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik
yang terncana dan terstruktur yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditunjukkan
untuk meningkatkan kebugaran jasmani.
Manfaat olahraga :
1. Meningkatnya kerja dan fungsi jantung, paru, dan pembuluh darah yang ditandai
dengan :
a. Denyut nadi istirahat menurun
b. Isi sekuncup bertambah
c. Kapasitas bertambah
d. Penumpukan asam laktat berkurang
e. Meningkatkan pembuluh darah kolateral
f. Meningkatkan HDL kolestrol
g. Mengurangi aterosklerosis
2. Meningkatkan kekuatan otot dan kepadatan tulang yang ditandai pada :
a. Pada anak : mengoptimalkan pertumbuhan
b. Pada orang dewasa : Memperkuat massa tulang, menurunkan nyeri sendi
kronis pada pinggang, punggung dan lutut
3. Meningkatkan kelenturan pada tubuh sehingga dapat mengurangi cedera
4. Meningkatkan

metabolisme

tubuh

untuk

mencegah

kegemukan

dan

mempertahankan berat badan ideal


5. Mengurangi resiko terjadinya berbagai penyakit seperti :
a. Tekanan darah tinggi
b. Penyakit jantung Koroner
9

c. Diabetes Melitus
d. Infeksi
6. Meningkatkan sistem hormonal melalui peningkatan sensitifitas hormon terhadap
jaringan tubuh
7. Meningkatkan aktivitas sistem kekbalan tubuh terhadap penyakit melalui
peningkatan pengaturan kekebalan tubuh.
2.3.5 Tidak Merokok
Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen dan setidaknya 200
diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar,
nikotin dan karbon momksida. Persentase merokok tertinggi beradea pada kelompok remaja
(15-19tahun). Hal ini berarti bahaya rokok pada masyarakat yang rentan yakni anak-anak dan
akan berdampak pada masa remaja. Oleh karena itu kebiasaan merokok harus dihindarkan
sejak dini mulai dari tingkat sekolah dasar.
2.3.6 Menimbang Berat badan dan Mengukur Tinggi badan
Mengukur berat dan tinggi badan merupakan salah satu upaya untuk mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan dketahuinya tingkat pertumbuhan dan
perkembanagan anak dapat memberikan masukan untuk peningkatan konsumsi makanan
yang bergizi bagi pertumbuhan anak. Sedangkan untuk mengetahui pertumbuhan seorang
anak normal atau tidak bisa diketahui melalui cara membandingkan ukuran tubuh anak yang
bersangkutan dengan ukuran anak seusia pada umumnya.
Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan siswa dilakukan pencatatan hasil
penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan di Kartu Menuju Sehat secara teratur
setiap 6 bulan.
2.3.7 Membuang Sampah Pada Tempatnya
Sampah adalah termasuk yang mempengaruhi kelestarian lingkungan hidup, karena
sampah mempengaruhi lingkungan alam dan sosial, apabila ada kesalahan dalam
pembuangan sampah maka akan berakibat fatal bagi lingkungan. Ketika sampah menumpuk
akan mengakibatkan bencana yang merusak lingkungan, contohnya seperti banjir, longsor,
dan bencana lainnya.
10

Membuang sampah pada tempatnya merupakan cara sederhana yang sangat besar
manfaatnya, karena hampir di semua kalangan masyarakat, tidak hanya warga miskin, bahkan
mereka yang berpendidikan tinggi pun melakukannya.
2.3.8 Memberantas Jentik Nyamuk
1. Alasan memberantas jentik nyamuk di sekolah
Agar sekolah bebas jentik nyamuk, peserta didik dan masyarakat lingkungan sekolah
terhindar dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui nyamuk.
2. Pengertian memberantas jentik nyamuk
Memberantas

jentik

nyamuk

disekolah

adalah

kegiatan

memeriksa

tempat

penampungan air bersih yang ada di sekolah ( bak mandi, kolam ) apakah bebas dari jentik
atau tidak.
3. Kegiatan memberantas jentik nyamuk
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M plus ( Menguras, menutup,
mengubur, plus menghindari gigitan nyamuk). PSN merupakan kegiatan memberantas telur,
jentik dan kepompong nyamuk menular sebagai penyakit seperti demam berdarah, demam
chikunguya, malaria, filariasis ditempat-tempat perkembang biakannya.
3M Plus yang dilakukan pada saat PSN :
a. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air
b. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
c. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas
d. Plus menghindari gigitan nyamuk seperti :
1) Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk
2) Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi yang memadai
3) Memperbaiki saluran dan talang air yang rusak
4) Menaburkan lavarsida (bubuk pembunuh jentik) ditempat-tempat yang sulit
dikuras
11

5) Memelihara ikan pemakan jentik ( cupang, nila 0


6) Menanam tumbuhan pengusir nyamuk ( Lavender )
2.4 Sekolah Dasar
Sekolah dasar adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia,
ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 dan merupakan suatu
lembaga dengan organisasi yang tersusun rapi dan segala aktivitasnya direncanakan
dengan sengaja yang disebut kurikulum.
1. Fungsi Sekolah
Sekolah memiliki fungsi yakni :
Membantu lingkungan keluarga untuk mendidik dan mengajar, memperbaiki,
dan memperdalam atau memperluas tingkah laku anak didik yang dibawa dari
keluarga serta membantu pengembanagan bakat.
Mengembangkan kepribadian peserta didik dapat bergaul dengan guru dan
teman-temannya sendiri, taat kepada peraturan atau disiplin dan dapat terjun
di masyarakat berdasarkan norma yang berlaku.
2. Faktor yang mempengaruhi lingkungan sekolah ;
Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan sekolah yang sehat adalah :
a. Persediaan air bersih yang terdiri dari air ledeng dan bukan air ledeng
b. Fasilitas cuci tangan yaitu disediakan kran-kran atau tempat air untuk cuci tangan
c. WC yang memenuhi syarat kesehatan
d. Tempat pembuangan sampah yang mudah dijangkau dan memenuhi syarat
kesehatan
e. Saluran pembuangan air limbah yang lancar
f. Program sanitasi makanan sekolah, misalnya warung sekolah juga harus
memenuhi syarat kesehatan
g. Bangunan sekolah dan letaknya
12

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif untuk menggambarkan
pengetahuan, sikap dan tindakan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada
anak-anak.
3.2 Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di sekolah dasar wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring
kecamatan Pondok Kelapa.
3.2.1. Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan September 2013
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi terjangkau adalah seluruh siswa SD kelas 5 dan 6 di desa Pekik Nyaring
periode September 2013 sebanyak 637 orang. Subjek penelitian adalah seluruh lansia
yang termasuk ke dalam populasi terjangkau dan memenuhi kriteria penelitian.
13

3.3.2 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


1.

Kriteria Inklusi
a) Siswa kelas 5 6 SD
b) Siswa yang kooperatif
c) Siswa yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian

2.
a)
b)

Kriteria Eksklusi
Siswa yang tidak sehat secara mental.
Siswa yang mempunyai lebih dari satu penyakit kronik berat

3.3.3. Sampel Penelitian


Besar sampel
Perkiraan besar sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan rumus.
Rumus populasi infinit:
No
Z
P
Q
d

Z2 x P x Q
d2
= Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95% besarnya 1,96
= Persentase siswa SD yang telah berperilaku hidup bersih sehat dalam skala
=

nasional tahun 2013*= 38.7 %


= Prevalensi/proporsi yang tidak mengalami peristiwa yang diteliti = 1 0.39
= 0.61
= Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p > 10% adalah 0.05
No
= (1.96)2 x 0.39 x 0.61
= 365.5 ~ pembulatan 366
(0.05)2

*Penelitian sebelumnya pada tahun 2007 menurut Riskesdas


Rumus populasi finit:
n
=
n
n0
N

n0
(1 + n0/N)
= Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit.
= Besar sampel dari populasi yang infinit
= Besar sampel populasi finit ( Seluruh siswa SD kelas 5-6 di desa Pekik
Nyaring periode September 2013 )
n
=
366
(1 + 366/637)
= 266 siswa

14

Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 266 orang. Adapun teknik sampling
yang digunakan adalah stratified sampling dipisahkan menjadi dua kelompok responden
yaitu :
1. Kelompok anak-anak yang berusia 9-11 tahun atau kelompok anak dengan pendidikan SD
kelas V
2. Kelompok anak-anak yang berusia 12-13 tahun atau kelompok anak dengan pendidikan
SD kelas VI
3.4. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui
pembagian kuesioner dan diikuti dengan wawancara langsung dengan anak-anak kelas 5-6 di
SD wilayah kerja puskesmas Pekik Nyaring kecamatan Pondok Kelapa.
3.5. Definisi Operasional
1. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari tahu anak-anak tentang PHBS, yang terjadi
setelah anak-anak memperoleh informasi PHBS.
2. Sikap (attitude) adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari anak-anak
3. Tindakan atau praktrek (practice) adalah perbuatan nyata anak-anak
3.6 Aspek Pengukuran
Dalam aspek pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tingkat
pengetahuan, sikap dan tindakan tentang PHBS pada anak-anak kelas 5-6 SD di wilayah
kerja puskesmas Pekik Nyaring kecamatan Pondok Kelapa.
3.6.1. Pengetahuan
Pengetahuan ini dapat diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner yang telah
diberi bobot. Jumlah pertanyaan sebanyak 12 dan total skor sebanyak 36.

15

Adapun kriteria pertanyaan tingkat pengetahuan mempunyai tiga pilihan dengan


pemberian skor sebagai berikut :
A. Skor jawaban pertanyaan nomor 1 s/d 4 yaitu :
1. Jawaban a, dengan skor 3
2. Jawaban b, dengan skor 2
3. Jawaban c, dengan skor 1
B. Skor jawaban pertanyaan nomor 5 s/d 8 yaitu :
1. Jawaban a, dengan skor 2
2. Jawaban b, dengan skor 1
3. Jawaban c, dengan skor 3
C. Skor jawaban pertanyaan nomor 9 s/d 12 yaitu :
1. Jawaban a, dengan skor 1
2. Jawaban b, dengan skor 2
3. Jawaban c, dengan skor 3
Berdasarkan kriteria pemberian skor, pengetahuan anak dikategorikan dengan skala
pengukuran sebagai berikut :
1. Baik, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memilih jawaban yang memiliki
nilai (skor) > (lebih dari) 75% dari total skor seluruh pertanyaan
2. Sedang, jika hasil penjumlahan skor jawaban yang memiliki nilai (skor) = (sama dengan)
40%-75% dari total skor seluruh pertanyaan
3. Buruk, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memiliki nilai < (kurang dari)
40% dari total skor seluruh pertanyaan
3.6.2. Sikap
Sikap ini dapat diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner yang telah diberi
bobot. Jumlah pertanyaan sebanyak 12 dan total skor sebanyak 36.
16

Adapun kriteria pertanyaan tingkat sikap anak-anak mempunyai tiga pilihan dengan
pemberian skor sebagai berikut :
A. Skor jawaban pertanyaan 1 s/d 6 yaitu :
1. Setuju, dengan skor 3
2. Ragu-ragu, dengan skor 2
3. Tidak setuju, dengan skor 1
B. Skor jawaban pertanyaan nomor 7 s/d 12 yaitu :
1. Setuju, dengan skor 1
2. Ragu-ragu, dengan skor 2
3. Tidak setuju, dengan skor 3
Berdasarkan kriteria pemberian skor, sikap anak-anak dikategorikan dengan skala
pengukuran sebagai berikut :
1. Baik, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memilih jawaban yang memiliki
nilai (skor) > (lebih dari) 75% dari total skor seluruh pertanyaan
2. Sedang, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memiliki nilai (skor) = (sama

dengan) 40%-75%
3. Buruk, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memiliki nilai (skor) < (kurang

dari) 40% dari total skor seluruh pertanyaan


3.6.3. Tindakan
Tindakan ini dapai diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner yang telah diberi
bobot. Jumlah pertanyaan sebanyak 12 dan total skor sebanyak 36. Adapun kriteria
pertanyaan tingkat tindakan mempunyai tiga pilihan dengan pemberian skor sebagai berikut :
A. Skor jawaban pertanyaan nomor 1 s/d 4 yaitu :
1. Jawaban a, dengan skor 3
2. Jawaban b, dengan skor 2
17

3. Jawaban c, dengan skor 1


B. Skor jawaban pertanyaan nomor 5 s/d 8 yaitu :
1. Jawaban a, dengan skor 2
2. Jawaban b, dengan skor 1
3. Jawaban c, dengan skor 3
C. Skor jawaban pertanyaan nomor 9 s/d 12 yaitu :
1. Jawaban a, dengan skor 1
2. Jawaban b, dengan skor 3
3. Jawaban c, dengan skor 2
Berdasarkan kriteria pemberian skor, tindakan anak-anak dikategorikan dengan skala
pengukuran :
1. Baik, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memiliki nilai > (lebih dari) 75%
dari total skor seluruh pertanyaan
2. Sedang, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memiliki nilai = (sama dengan)
40%-75% dari total skor seluruh pertanyaan
3. Buruk, jika hasil penjumlahan skor jawaban responden memiliki nilai < (kurang dari)
40% dari total skor seluruh pertanyaan

18

BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum SDN 239/IX Kecamatan Mestong


SDN 239/IX kecamatan Mestong yang berlokasi di [Link], Komplek Pertamina,
Tempino. Jumlah murid 218 siswa, jumlah pengajar 11 orang. Murid kelas satu berjumlah
56 siswa dengan jenis kelamin wanita 28 orang dan pria 28 orang, murid kelas dua
berjumlah 41 siswa dengan jenis kelamin wanita 17 orang dan pria 24 orang, murid kelas
tiga berjumlah 36 siswa dengan jenis kelamin wanita 21 orang dan pria 15 orang, murid
kelas empat berjumlah 39 siswa dengan jenis kelamin wanita 14 orang dan pria 25 orang,
murid kelas lima berjumlah 23 siswa dengan jenis kelamin wanita 12 orang pria 11 orang,
murid kelas enam berjumlah 24 siswa dengan jenis kelamin wanita 14 orang dan pria 10
orang.

4.2 Karakteristik Responden


Untuk mengetahui karakteristik responden di SDN 239/IX maka dilakukan pengumpulan
data melakukan kuesioner yang diikuti dengan wawancara pada siswa SDN 239/IX.
Berikut hasil pengumpulan data mengenai karakteristik responden yang terdiri dari umur
responden, jenis kelamin responden dan tingkat pendidikan responden.

19

4.2.1 Umur responden


Tabel 4.1 Distribusi responden berdasarkan umur responden di SDN 239/IX
No.

Usia Responden

Jumlah (n)

Persentase (%)

1.

9 tahun

15

25,86%

2.

10 tahun

29

50%

3.

11 tahun

12,06%

12 tahun

6,89%

13 tahun

5,19%

TOTAL

58

100

Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa umur responden yang terbanyak adalah umur 10
tahun sebanyak 29 orang (50%) dan paling sedikit 13 tahun sebanyak 3 orang (5,19%).
4.2.2 Tingkat Pendidikan Responden
Tabel 4.2 Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan responden di SDN
239/IX
NO.

Tingkat Pendidikan Responden

Jumlah (n)

Persentase (%)

1.

SD kelas 4

35

60,34%

2.

SD kelas 5

23

39,66%

TOTAL

58

100

Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden yang terbanyak adalah
SD kelas 4 sebanyak 35 orang (60,34%) dan paling sedikit SD kelas 5 sebanyak 23 orang
(39,66%)
4.2.3 Jenis Kelamin Responden
Tabel 4.3 Distribusi Responden berdasarkan jenis kelamin di SDN 239/IX
20

NO.

Jenis Kelamin Responden

Jumlah(n)

Persentase(%)

1.

Laki-laki

32

55,17%

2.

Perempuan

26

44,83%

TOTAL

58

100

Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa jenis kelamin responden yang terbanyak adalah lakilaki sebanyak 32 orang (55,17%) dan paling sedikit perempuan sebanyak 26 orang
(44,83%)
4.3 Tingkat Pengetahuan Responden
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden di SDN 239/IX maka dilakukan
pengumpulan data melalui kuesioner yang diikuti dengan wawancara. Berikut ini adalah
hasil pengumpulan data terhadap responden di SDN 239/IX tentang tingkat pengetahuan
tentang PHBS dalam tabel distribusi di bawah ini :
NO.

Pengetahuan

Jumlah(n)

Presentase (%)

1.

Alasan cuci tangan pakai sabun :


57

98,27%

[Link] tubuh menjadi wangi

1,73%

[Link] tahu

a.2 kali sehari

57

98,27%

[Link] kali dalam sehari

1,73%

[Link] tahu

56

96,55%

[Link] mulut dan nafas tidak bau

3.45%

[Link] tahu

[Link] kuman dan kotoran terbuang


dari kulit

2.

3.

Frekuensi mandi dalam sehari :

Alasan gosok gigi :


[Link] gigi dan mulut bersih dan
sehat

21

4.

Frekuensi gosok gigi yang baik


sehari :

5.

a.2 kali

58

100%

b.1 kali

[Link] tahu

[Link] makan

68,96%

[Link] tahu

[Link] makan dan setelah BAB

54

31,04%

[Link] tahu

[Link] panjang mengandung telur

58

100%

[Link] penuh dengan angin

21

36,20%

b. buah dan sayuran

c. bakteri, virus atau jamur yang

37

63,8%

[Link] tahu

[Link] beraneka ragam

58

100%

Waktu kapan cuci tangan pakai


sabun :

dan BAK
6.

Penyebab kuku panjang dan


kotor pada kecacingan :
[Link] kuku panjang s
usah dibersihkan

7.

Penyebab sakit perut :

masuk bersama makanan


8.

Pengetahuan tentang gizi


seimbang:
[Link] yang menyebabkan
kenyang

mengandung karbohidrat, lemak,


22

protein
9.

Jamban/toilet sehat :
[Link] tahu

[Link] leher angsa, tersedia air

47

81,03%

11

18,97%

[Link] jalan raya

[Link] tong sampah

58

100%

[Link] sungai

[Link] tahu

[Link] rambut dan kulit kepala

54

93,10%

6,9%

[Link] tahu

[Link] pertumbuhan anak dengan

58

100%

bersih, sabun, lap pengering


[Link] yang tidak menimbulkan
bau-bauan
10.

Tempat buang sampah yang


baik:

11.

Alasan kebersihan rambut perlu


dijaga :

bersih dan sehat


[Link] tidak ada kutu di kepala
12.

Alasan perlu tidur :

baik dan memulihkan tenaga


kembali
[Link] tidak ngantuk

Tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa seluruh 100% responden mengetahui alasan cuci
tangan pakai sabun yaitu agar kuman dan kotoran terbuang dari kulit serta frekuensi mandi
satu hari yaitu dua kali.

23

Pengetahuan responden tentang gosok gigi jawaban terbanyak 96,5%, sedangakan yang
memiliki alasan agar mulut bersih dan sehat 3,45%. Demikian juga pengetahuan tentang
frekuensi gosok gigi yan baik jawaban terbanyak 100%.
Pengetahuan responden tentang kapan waktu cuci tangan terbanyak yaitu setelah BAB
dan BAK sebesar 31,04% sedangkan setelah makan 68,96%. Pengetahuan responden
tentang penyebab sakit perut terbanyak yaitu karena kuku panjang mengandung telur
100%. Pengetahuan responden tentang jawaban/toilet yang sehat, responden yang
menjawab jamban dengan bentuk leher angsa , tersedia air bersih dan lap pengering
81,03%, sedangkan yang tidak menimbulkan bau-bauan sebesar 18,97%. Pengetahuan
responden tempat buang sampah yang baik sebesar 100%.

Pengetahuan responden

tentang alasan kebersihan rambut perlu dijaga jawaban terbanyak yaitu agar rambut dan
kulit kepala bersih dan sehat sebesar 93,10%, sedangkan agar tidak ada kutu di kepala
6,9%. Pengetahuan alasan perlunya tidur yang terbanyak yaitu agar pertumbuhan baik dan
memulihkan tenaga kembali sebesar 100%.
Tabel 4.5 Distribusi Pengetahuan Responden tentang PHBS di SDN 239/IX
No.

Pengetahuan tentang PHBS

Jumlah (n)

Presentase (%)

1.

Baik

55

94,82%

2.

Sedang

5,18%

3.

Buruk

Total

58

100%

Tabel 4.5 diatas menunjukkan bahwa seluruh pengetahuan responden tentang PHBS di
SDN 239/IX yang paling banyak yaitu pengetahuan dengan kategori baik sebesar 94,82%
dan tindakan dengan kategori sedang 5,18%
Tabel 4.6 Distribusi Pengetahuan responden tentang PHBS berdasarkan kelompok
umur responden di SDN 239/IX
No

Kelompok

Tingkat Pengetahuan

umur

9-11 tahun

Baik

Sedang

Total
Buruk

Jumlah

27

90

10

30

100
24

12-13

28

100

55

94,82% 3

28

100

5,18% 0

58

100

tahun

Tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa tindakan responden usia 9-11 tahun tentang PHBS di
SDN 239/IX dengan kategori baik sebesar 90%, sedangkan kelompok 12-13 tahun memiliki
pengetahuan dengan kategori baik sebesar 100%.
4.4 Sikap Responden
Untuk mengetahui sikap responde di SDN 239/IX maka dilakukan pengumpulan data
melakukan kuesioner yang diikuti dengan wawancara. Berikut ini adalah hasil
pengumpulan data tentang sikap responden tentang PHBS di SDN 239/IX
Tabel 4.7 Distribusi sikap responden tentang PHBS di SDN 239/IX
No.

Sikap tentang

Setuju

Ragu-ragu

Tidak setuju

PHBS

1.

Jumlah

Persen

Jumlah

Persen

Jumlah

Persen

(n)

(%)

(n)

(%)

(n)

(%)

Makan

sayur 58

dan

buah-

buahan

setiap

100%

100%

100%

100%

hari
2.

Kuku
bersih

harus 58
dan

pendek
3.

Cuci

tangan 58

sebelum makan
4.

Cuci

tangan 58

pakai

sabun

setelah

BAB
25

dan BAK
5.

Mandi

harus 58

100%

pakai

sabun

100%

67,24%

3,44%

17

29,32%

100%

13,79%

5,17%

47

81,04%

58

100%

boleh 58

100%

5,17%

3,44%

53

91,39%

mandi
6.

Cuci

rambut 58

sebaiknya pakai
shampo
7.

Baju yang kita 39


pakai

diganti

sekali

dalam

satu hari
8.

Sampah jangan 58
di

tumpuk

dipekarangan
rumah
9.

Anak-anak
baiknya

tidur

lebih atau sama


dengan

dari

delapan

jam

setiap hari
10.

Kegiatan
olahraga
meningkatkan
kebugaran tubuh

11.

Tidak

merokok dalam
ruangan
12.

Menggosok gigi 3
dua kali sehari

26

Tabel 4.7 diatas dapat dilihat bahwa seluruh responden 100% setuju bahwa makan sayur
dan buah-buahan setiap hari, kuku harus bersih dan pendek, cuci tangan sebelum makan,
cuci tangan pakai sabun setelah BAB dan BAK, mandi harus pakai sabun mandi, cuci
rambut sebaiknya pakai shampoo, sampah jangan ditumpuk dipekarangan rumah, kegiatan
olahraga meningkatkan kebugaran tubuh dan tidak boleh merokok dalam ruangan.
Responden yang setuju baju yang kita pakai diganti sekali dalam satu hari sebesar
67,24% , ragu- ragu sebesar 3,44% , tidak setuju sebesar 29,32%. Responden yang setuju
anak-anak baiknya tidur lebih atau sama dengan dari delapan jam setiap hari 13,79%,
ragu-ragu 5,17% , tidak setuju 81,04%. Responden yang setuju menggosok gigi dua kali
sehari 5,17% , ragu-ragu 3,44% , tidak setuju 91,39%
Tabel 4.8 Distribusi sikap responden tentang PHBS di SDN 239/IX
No.

Sikap tentang PHBS

Jumlah (n)

Presentase (%)

1.

Baik

56

96,55%

2.

Sedang

3,45%

3.

Buruk

Total

58

100%

Tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa seluruh sikap responden tentang PHBS di SDN
239/IX yang paling banyak yaitu sikap dengan kategori baik sebesar 96,55% dan tindakan
dengan kategori sedang 3,45%
Tabel 4.9 Distribusi Sikap responden tentang PHBS berdasarkan kelompok umur
responden di SDN 239/IX
No

Kelompok

Sikap

umur

Baik
n

Total

Sedang
N

Buruk
n

Jumlah

9-11 tahun

28

93,33% 2

6,67% -

30

100

12-13

28

100

28

100

27

tahun
56

94,82% 2

6,67% 0

58

100

Tabel 4.9 diatas dapat dilihat bahwa sikap responden usia 9-11 tahun tentang PHBS di SDN
239/IX dengan kategori baik sebesar 93,33%, sedangkan kelompok 12-13 tahun memiliki
pengetahuan dengan kategori baik sebesar 100%.

4.5 Tindakan Responden


Tabel 4.10 Distribusi responden berdasarkan tindakan tentang PHBS di SDN 239/IX
No.
1.

Tindakan Responden

Jumlah (n)

Persen (%)

58

100

[Link]-kadang ditempah sampah

[Link] tempat

[Link] kali

56

96,55%

[Link] satu kali dan kadang dua kali

3,45%

[Link] kali

58

100%

[Link]-kadang

[Link]

[Link] kali

58

100%

[Link] kali

[Link] pernah

Tempat membuang sampah :


[Link] sampah yang tersedia

2.

3.

Frekuensi mandi dalam sehari :

Cuci tangan pakai sabun :


[Link]

4.

5.

Frekuensi gosok gigi dalam sehari :

Cara membersihkan rambut :


28

[Link] sabun mandi

6.

[Link] shampo

57

98,27%

[Link] air saja

1,73%

a.1 s/d 3 kali seminggu

[Link] pernah

58

100

43

74,13%

15

25,87%

16

27,58%

42

72,42%

56

96,55%

3,45%

[Link],ganti baju sekali dalam dua hari

8,62%

[Link],selalu ganti baju tiap hari

47

81,03%

[Link],tapi kadang-kadang

10,35%

57

98,27%

Frekuensi makan sayur dalam satu minggu :

[Link] hari
7.

Frekuensi makan buah dalam satu minggu :


a.1 s/d 3 kali dalam seminggu
[Link] pernah
[Link] hari

8.

Lama tidur dalam satu hari :


[Link] teratur
[Link]/sama dengan delapan jam
[Link] dari delapan jam

9.

Tempat buang air kecil dan buang air besar :


[Link] tanah (ladang/sungai)
[Link]/jamban
[Link]

dijamban/toilet

dan

kadang

diatas

tanah(ladang atau sungai)


10.

11.

Tindakan ganti baju setiap hari :

Cuci tangan pakai sabun setelah BAB dan


BAK:
[Link] pernah
[Link] cuci tangan pakai sabun

29

[Link]-kadang
12.

Frekuensi

olahraga/aktivitas

fisik

1,73%

58

100%

dalam

seminggu:
[Link] pernah
b.1-3 kali seminggu
[Link] karena capek ke ladang

Tabel 4.10 diatas menunjukkan bahwa seluruh responden 100% membuang sampah
ditempah sampah yang tersedia, selalu cuci tangan pakai sabun, makan sayur setiap hari
dalam seminggu, dua kali dalam sehari frekuensi gosok gigi, frekuensi olahraga/aktivitas
fisik dalam seminggu 1-3 kali seminggu.
Responden menunjukkan bahwa 96,55% mandi dua kali sehari, 3,45% kadang satu dan
kadang dua kali. Responden menunjukkan 98,27% mencuci rambut dengan shampoo dan
1,73% hanya dengan air saja.
Responden menunjukkan 74,13% makan buah 1 s/d 3 kali dalam seminggu dan 25,87%
makan buah setiap hari. Responden menunjukkan 27,58% lama tidur dalam satu hari tidak
teratur dan 72,42% kurang dari delapan jam.
Responden menunjukkan 96,55% buang air kecil dan besar di toilet dan 3,45% kadang
dijamban/toilet. Responden menunjukkan 81,035 selalu ganti baju setiap hari, 10,35%
kadang-kadang dan 8,625 tidak ganti baju sekali dalam dua hari.
Responden menunjukkan 98,27% selalu cuci tangan pakai sabun dan 1,73% kadangkadang menggunakan sabun.
Tabel 4.11 Distribusi Tindakan Responden tentang PHBS di SDN 239/IX
No.

Tindakan tentang PHBS

Jumlah (n)

Presentase (%)

1.

Baik

55

94,82%

2.

Sedang

5,18%

3.

Buruk

Total

58

100%
30

Tabel 4.11 diatas menunjukkan bahwa seluruh tindakan responden tentang PHBS di SDN
239/IX yang paling banyak yaitu tindakan dengan kategori baik sebesar 94,82% dan
tindakan dengan kategori sedang 5,18%
Tabel 4.12 Distribusi tindakan responden tentang PHBS berdasarkan kelompok
umur responden di SDN 239/IX
No

Kelompok

Tindakan

umur

Baik

Total

Sedang

Buruk

Jumlah

9-11 tahun

27

90

10

30

100

12-13

28

100

28

100

55

94,82% 3

5,18% 0

58

100

tahun

Tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa tindakan responden usia 9-11 tahun tentang PHBS di
SDN 239/IX dengan kategori baik sebesar 90%, sedangkan kelompok 12-13 tahun memiliki
pengetahuan dengan kategori baik sebesar 100%

BAB V
31

PEMBAHASAN

5.1 Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Responden tentang PHBS


5.1.1 Pengetahuan
Tingkat pengetahuan responden tentang PHBS dapat dilihat pada tabel 4.3 dikatakan bahwa
pengetahuan responden dengan kategori baik sebanyak 55 siswa (94,82%), sedangkan
pengetahuan responden dengan kategori sedang sebanyak 3 orang (5,18%)
Pengetahuan merupakan faktor pemudah (predisposising factor) bagi anak-anak untuk
terlaksananya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Dengan demikian faktor ini menjadi
pemicu atau anteseden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi tindakannya
akibat tradisi atau kebiasaan, kepercayaan, tingkat pendidikan dan tingkat sosial ekonomi.
Ada keeratan hubungan antara pengetahuan dalam upaya memperbaiki perilaku. Dengan
demikian meningkatkan pengetahuan akan memberi hasil yang cukup berarti untuk
memperbaiki perilaku. Pengetahuan/kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi
terbentuknya perilaku, dan perilaku yang disadari pengetahuan akan bertahan lebih langgeng
daripadasa perilaku yang tidak disadari pengetahuan.
Tingkat pengetahuan responden tentang PHBS berdasarkan kelompok umur di SDN 239/IX
menunjukkan perbedaan antara kelompok. Kelompok umur responden 9-11 tahun secara
keseluruhan 90% memiliki pengetahuan yang baik, sedangka kelompok umur 12-13 tahun
memiliki pengetahuan baik sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan
responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa berpengaruh pada tingginya
pengetahuan siswa tentang PHBS.
5.1.2 Sikap
Sikap anak-anak SDN 239/IX mengenai PHBS secara umum baik seperti terlihat pada tabel
4.4 dimana responden yang memiliki sikap baik sebanyak 56 siswa (96,55%), sikap sedang
sebanyak 2 siswa (3,45%), dan tidak ada responden yang memiliki sikap yang buruk.
Sikap responden tentang PHBS berdasarkan kelompok umur di SDN 239/IX tidak
menunjukkan perbedaan yang berarti antara kelompok. Kelompok umur responden 9-11
32

tahun secara keseluruhan 93,33% memiliki pengetahuan yang baik, sedangka kelompok umur
12-13 tahun memiliki pengetahuan baik sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa sikap
responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa berpengaruh pada tingginya sikap
siswa tentang PHBS.
Sikap diturunkan dari pengetahuan responden. Dengan demikian untuk menentukan sikap
harus didasari oleh pengetahuan responden.
Terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan PHBS responden dengan tingkat
keeratan hubungan dengan tindakan. Hal ini menunjukkan bahwa sikap positif responden
yang ditunjukkan oleh sikap menerima, merespon, menghargai, dan bertanggung jawab
terhadap PHBS akan memberi dampak yang positif juga bagi PHBS mereka.
Sikap adalah satu predisposisi untuk munculnya perilaku dapat dibuktikkan dalam penelitian
ini. Bahwa perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh kepercayaan, keyakinan, kehidupan
emosional, dan kecenderungan untuk berperilaku yang semua itu merupakan komponen
sikap.
5.1.3 Tindakan
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overtbehaviour). Untuk
terwujudnya sikap menjadi suatu perbedaan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga
diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain, misalnya suami atau istri, orang tua
atau mertua sangat penting untuk mendukung [Link] responden tentang PHBS di
SDN 239/IX secara umum dikategorikan baik, seperti yang disajikan di tabel 4.3 dikatakan
bahwa tindakan responden dengan kategori baik sebanyak 55 siswa (94,82%), sedangkan
tindakan responden dengan kategori sedang sebanyak 3 orang (5,18%).Tindakan responden
tentang PHBS berdasarkan kelompok umur di SDN 239/IX menunjukkan perbedaan antara
kelompok. Kelompok umur responden 9-11 tahun secara keseluruhan 90% memiliki tindakan
yang baik, sedangkan kelompok umur 12-13 tahun memiliki tindakan baik sebesar 100%. Hal
ini menunjukkan bahwa tindakan responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa
berpengaruh pada tingginya tindakan siswa tentang PHBS.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
33

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada siswa SDN 239/IX tentang PHBS
maka dapat ditarik beberapa kesimpulan seperti :
1. Tingkat pengetahuan responden tentang PHBS berdasarkan kelompok umur di SDN
239/IX menunjukkan perbedaan antara kelompok. Kelompok umur responden 9-11
tahun secara keseluruhan 90% memiliki pengetahuan yang baik, sedangka kelompok
umur 12-13 tahun memiliki pengetahuan baik sebesar 100%. Hal ini menunjukkan
bahwa tingkat pengetahuan responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa
berpengaruh pada tingginya pengetahuan siswa tentang PHBS.
2. Sikap responden tentang PHBS berdasarkan kelompok umur di SDN 239/IX tidak
menunjukkan perbedaan yang berarti antara kelompok. Kelompok umur responden 911 tahun secara keseluruhan 93,33% memiliki pengetahuan yang baik, sedangka
kelompok umur 12-13 tahun memiliki pengetahuan baik sebesar 100%. Hal ini
menunjukkan bahwa sikap responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa
berpengaruh pada tingginya sikap siswa tentang PHBS.
3. Tindakan responden tentang PHBS berdasarkan kelompok umur responden 9-11
tahun secara keseluruhan 90% memiliki tindakan yang baik, sedangkan kelompok
umur 12-13 tahun memiliki tindakan baik sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa
tindakan responden menunjukkan bahwa tingginya umur siswa berpengaruh pada
tingginya tindakan siswa tentang PHBS.

6.2 Saran

34

1. Kepada para guru/pengajar di SDN 239/IX agar senantiasa menanamkan nilai-nilai PHBS
kepada para siswa untuk mencegah datangnya berbagai penyakit seperti diare, sakit gigi,
cacingan dan penyakit kulit seperti kudis, kurap dan lain-lain
2. Keadaan para guru/pengajar di SDN 239/IX agar melakukan pemeriksaan kesehatan secara
berkala dan sekaligus memberikan informasi dalam bentuk penyuluham, poster atau leaflet
tentang PHBS.
3. Pemerintah kota Muaro jambi dan dinas terkait seperti dinas kesehatan supaya lebih
proaktif mengupayakan peninjauan tentang sumber daya dan kelayakan fasilitas yang
mendukung higiene dan sanitasi sekaligus memberi donasi serta solusi permasalahan yang
ada di SDN 239/IX dalam rangka mendukung sumber daya manusia yang berkualitas yaitu
sehat jasmani dan rohani serta produktif.

DAFTAR PUSTAKA
35

1. Adisasmito W,2008. Sistem Kesehatan. Jakarta : Rajagrafindo Persada


2. Departemen Kesehatan RI, 2004. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. Jakarta :
Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI
3. Departemen Kesehatan RI, 2005. Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan. Jakarta :
Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI
4. Departemen Kesehatan RI, 2006. Pengembangan Promosi Kesehatan Didaerah Melalui
Dana Dekon 2006. Jakarta : Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI
5.

Departemen

Kesehatan

RI,

2007.

Panduan

Manajemen

PHBS

Menuju

Kabupaten/Kota Sehat. Jakarta : Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI


6. Departemen Kesehatan RI, 2007. Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota. Jakarta : Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI
7. Departemen Kesehatan RI, 2008. Informasi Pengendalian Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan. Jakarta : Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI

36

Anda mungkin juga menyukai