Sistem Proteksi Sepam 2000 di P.T. Semen Padang
Sistem Proteksi Sepam 2000 di P.T. Semen Padang
=
very inverse time (VIT)
5 . 1
T
.
1 ) Is / I (
5 . 13
t
=
extremely inverse time (EIT)
808 . 0
T
.
1 ) Is / I (
80
t
2
=
ultra inverse time (UIT)
T .
1 ) Is / I (
315
t
5 . 2
=
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 12
Fungsi ini juga dimasukkan kedalam perhitungan variasi arus
selama interval time delay.
Penyettingan OCR dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut :
1) Menentukan T (waktu tunda) dan Is (arus setting) yang diinginkan dimana :
Defenite : Is diset antara 0,3 In s Is s 24 In dalam Amper
T diset antara 50 ms s T s 655s
IDMT : Is diset antara 0,3 In s Is s 2,4 In dalam Amper
T diset antara 100 ms s T s 12,5 s
2) Menentukan If, arus gangguan yang lebih besar dari Is
3) Menentukan I/Is dengan membagi arus gangguan dengan arus setting
4) Menentukan masing-masing waktu relai pick up menurut kurva IDMT tas,
bila memakai arus sesaat maka relai tidak menggunakan waktu tunda
sehingga t = T.
4.3.2 Thermal Overload Protection
Bekerja berdasarkan kenaikan arus secara perlahan-lahan akibat adanya
beban lebih, terdapat 2 buah kurva karakteristik waktu kerja yaitu kurva dingin
(cold curve), dan kurva panas (hot curve).
Kurva dingin (cold curve) dipakai untuk kenaikan arus gangguan dari
kondisi awal sampai batas panas tertentu (diasumsikan dalam besaran arus).
Kurva panas (hot curve) dipakai untuk kenaikan arus dari kondisi panas tertentu
sampai batas panas untuk membuat relai bekerja (diasumsikan dalam besaran
arus).
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 13
Relai ini mensimulasikan kenaikan panas pada peralatan yang diproteksi
dengan menggunakan arus yang diukur dari dua fasa (I
1
dan I
3
) atau tiga fasa.
Relai ini memonitor kenaikan panas dan membandingkannya dengan dua titik
setting:
- Berdasarkan aplikasinya, pendeteksian titik setting yang pertama
dirancang untuk sinyal alarm (transformator, kondensator) atau
mendeteksi status panas yang digunakan oleh relay starts per hour; (
OL1)
- Nilai setting yang kedua dirancang untuk proteksi; (OL2)
- Pengaruh harmonik
Kenaikan panas dalam peralatan tergantung pada bentuk gelombang arus
yang mengalir pada peralatan tersebut. Pengukuran nilai arus rms fasa 1
dengan menggabungkan pengaruh harmonik hingga tingkat 23
dimasukkan ke dalam perhitungan bentuk gelombang untuk menghitung
kenaikan panas pada beban tiga fasa yang seimbang.
- Pengaruh arus urutan negatif
Arus urutan negatif adalah faktor penting dalam menghitung kenaikan
panas. Medan putar yang berhubungan dengan arus urutan negatif akan
menimbulkan frekuensi ganda putaran arus yang menimbulkan besarnya
rugi-rugi.
Inilah sebabnya kenapa fungsi thermal overload dimasukkan ke dalam
perhitungan persamaan arus berikut :
Ieq
2
= I
2
+ [Link]
2
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 14
I = arus maksimum dari I
1
, I
2
, I
3
dan I
1
rms
Ii = arus urutan negatif
K = faktor urutan negatif
- Kalkulasi kenaikan panas
Kenaikan panas dinyatakan sebagai nilai relatif terhadap kenaikan panas
tertentu pada pengoperasian di bawah beban tertentu.
Proteksi thermal overload memonitor variabel kenaikan panas. Kenaikan
panas dinyatakan sebagai nilai relatif dengan berpengaruh pada tingkat
kenaikan panas yang cocok dengan operasi di bawah rating beban.
Fungsi yang menghitung kenaikan panas peralatan E menurut model
thermal didefenisikan menurut persamaan differensial berikut:
T
dt
x E .
T
dt
x
Ib
Ieq
dE
2
|
.
|
\
|
=
E = kenaikan panas
Ib = arus dasar peralatan yang di set pada status menu
Ieq = arus ekivalen
T = konstanta waktu
- Pengaruh konstanta waktu
Konstanta waktu tergantung pada karakteristik thermal peralatan.
Pendinginan motor lebih efisien ketika motor sedang bekerja daripada
ketika sedang berhenti karena adanya putaran fan dan ventilasinya.
Konstanta waktu diambil pada 2 nilai yaitu T
1
dan T
2
menurut kondisi
motor, apakah sedang bekerja atau sedang berhenti.
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 15
- Konstanta waktu thermal T
1
adalah waktu yang dibutuhkan untuk
kenaikan panas peralatan di bawah tertentu beban untuk mencapai 0.63 x
kenaikan panas tertentu (diperoleh setelah waktu tak terbatas ).
- T
2
adalah waktu yang dibutuhkan setelah berhenti untuk kenaikan panas
awal pada peralatan untuk turun ke 0.36 x kenaikan panas tertentu.
- Bekerja atau berhentinya peralatan dihitung menurut nilai arus
o bekerja jika I > 0.015 Ib
o berhenti jika I < 0.015 Ib
1
0.63
0
T1 t
E
Gambar 4.12 Konstanta waktu kenaikan panas
E
1
0.36
0
T2 t
E
1
0.36
0
T2 t
Gambar 4.13 Konstanta waktu pendinginan
- Kurva Dingin (Cold Curve)
Kurva dingin memberikan waktu kerja proteksi menurut arus mulai dari
kenaikan panas nol. Dimulai dari status dingin, kenaikan panas bervariasi
menurut persamaan :
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 16
|
|
.
|
\
|
|
.
|
\
|
=
1 T
1 2
e 1 x
Ib
Ieq
E
Jika E adalah nilai setting untuk trip, waktu trip proteksi adalah :
Es
Ib
Ieq
Ib
Ieq
T t
|
.
|
\
|
|
.
|
\
|
=
2
2
1
log
- Kurva Panas (Hot Curve)
Kurva panas memberikan waktu operasi proteksi menurut arus mulai dari
kenaikan panas tertentu (misalnya ketika beban lebih terjadi pada peralatan
yang sedang bekerja). Dimulai dari status panas rata-rata, kenaikan panas
bervariasi menurut persamaan :
(
(
|
.
|
\
|
|
.
|
\
|
=
1
2
1
1 2
Ib
Ieq
x e
Ib
Ieq
E
T
Jika E adalah nilai setting untuk trip, waktu trip proteksi adalah :
1 x
Es
Ib
Ieq
1
Ib
Ieq
log x 1 T t
2
2
|
.
|
\
|
|
.
|
\
|
=
- Pendinginan ketika motor berhenti
Setelah peralatan berhenti, kenaikan panas bervariasi menurut persamaan :
2 T
t
e x Es E=
Es = nilai kenaikan panas pada saat peralatan berhenti
Untuk mensetting relai ini dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 17
1) Menentukan setting deteksi keadaan panas Es1 (OL1), dan setting tripnya
relay Es2 (OL2) dimana nilai setting berkisar antara 50% - 200%
2) Menentukan waktu kenaikan panas konstan T1, dengan nilai antara 5 mn
120 mn dan waktu pendinginan konstan T2, dengan nilai antara
5 mn 600 mn (untuk motor, T1 < T2, sedangkan untuk trafo dan
kapasitor, T1 = T2)
3) Menentukan faktor K untuk urutan negatif yang akan digunakan dimana
terdiri dari : none (0), low (2,25), average (4,5) dan high (9)
4) Menentukan ukuran kenaikan panas E (heating) dengan nilai setting 0 %-
99%
5) Menghitung Ieq, arus ekivalen dengan menggunakan Ieq = \(I
2
+ K Ii
2
)
sebagai arus gangguan (I)
6) Menghitung I/Ib dengan membagi arus gangguan dengan arus dasar relay
7) Menghitung nilai t1 (waktu dingin) dan t2 (waktu panas)
t1 = T1 * log [ (Ieq/Ib)
2
/ (Ieq/Ib)
2
Es ]
t2 = T2 * log [ (Ieq/Ib)
2
1/ (Ieq/Ib)
2
Es ] * I
4.3.3 Earth Fault Protection
Earth Fault Relai (EFR) berfungsi untuk mengamankan gangguan
hubungan tanah dengan menggunakan relai arus untuk mendeteksi arus yang
melalui titik netral dengan tanah. Kerja relai ini sangat sensitif, karena mendeteksi
gangguan hubung luar seperti sirkulasi arus yang saling meniadakan dan juga
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 18
gangguan dalam seperti sirkulasi arus yang saling menjumlahkan, menyebabkan
relai tersebut bekerja.
Proteksi gangguan tanah (earth fault) terdiri dari satu fasa. Ia akan pick up
ketika arus gangguan tanah mencapai nilai settingnya. Relai ini diberikan
perlambatan waktu (time delay). Perlambatan waktunya boleh definite time (DT)
atau inverse definite minimum time-IDMT (standard inverse-SIT, very inverse-
VIT, extre-mely inverse-EIT, atau ultra inverse-UIT).
Proteksi Definite Time
Iso adalah arus setting dalam Ampere, dan T adalah perlambatan waktu
proteksi
t
I
Iso
T
Gambar 4.14 Prinsip proteksi definite time
Proteksi I DMT
Io/Iso 11,2
t
T
10
Gambar 4.15 Prinsip proteksi IDMT
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 19
Dimana : Iso adalah asimtot tegak dari kurva
T adalah waktu tunda operasi saat 10Iso
Kurva tersebut didefenisikan menurut persamaan :
standard inverse time (SIT)
97 . 2
.
1 ) / (
14 . 0
02 . 0
0 0
T
Is I
t
=
very inverse time (VIT)
5 . 1
.
1 ) / (
5 . 13
0 0
T
Is I
t
=
extremely inverse time (EIT)
808 . 0
.
1 ) / (
80
2
0 0
T
Is I
t
=
ultra inverse time (UIT)
T
Is I
t .
1 ) / (
315
5 . 2
0 0
=
Fungsi ini juga dimasukkan kedalam perhitungan variasi arus selama
interval time delay.
Pada penyetingan EFR dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1) Menentukan T (waktu tunda) dan Iso (arus setting) yang diinginkan, perlu
diperhatikan bahwa arus gangguan tanah tersebut diukur dapat menggunakan :
* CSH yang melewati konduktor 3 fasa dan mendeteksi secara cermat :
Defenite : Iso diset antara 0,05 Ino s Iso s 10 Ino atau 0,1 s Iso s 20 A
T diset antara 50 ms s T s 655 s
IDMT: Iso diset antara 0,05 Ino s Iso s Ino A
T diset antara 100 ms s T s 12,5s
* CHS 30 yang bertindak sebagai adaptor :
Defenite : Iso diset antara 0,05 In s Iso s 10 In atau 1,5 s Iso s 300 A
T diset antara 50 ms s T s655s
IDMT : Iso diset antara 0,05 In s Iso s 1 In
T diset antara 100ms sTs12,5s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 20
Defenite : Iso diset antara 0,05 In s Iso s 10 In A
T diset antara 50 ms s T s 655 s
IDMT : Is diset antara 0,05 In s Iso s In
T diset antara 100 ms s T s 12,5 s
2) Menentukan If, arus gangguan yang lebih besar dari Iso
3) Menentukan Io/Iso dengan membagi arus gangguan dengan arus setting
4) Menentukan masing-masing waktu relai pick up menurut kurva IDMT diatas,
bila memakai arus sesaat (defenite) maka relai tidak menggunakan waktu
tunda sehingga t = T.
4.3.4 Negative Sequence Unbalance Protection
Bekerja berdasarkan ketidaksetimbangan arus antar phasa atau adanya
phasa yang terbalik. Proteksi ini dirancang untuk melindungi peralatan dari
kondisi tidak seimbang.
Relai ini akan pick up ketika komponen urutan negatif dari arus fasa lebih
besar dari nilai settingnya.
Relai ini diberikan perlambatan waktu. Perlambatan waktunya bisa
definite time atau IDMT.
Arus urutan negatif I
i
dihitung dari arus tiga fasa :
) aI I a I ( x
3
1
Ii
3 2
2
1
+ + = ;
3
2
j
e a
t
=
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 21
Ketika Sepam hanya dihubungkan pada sensor arus 2 fasa, arus urutan
negatif adalah :
) I a I ( x
3
1
I
3
2
1 i
+ = ;
3
2
j
e a
t
=
tanpa arus gangguan tanah
- Definite Time Delay
Untuk Ii > Is, perlambatan waktu adalah definite (tidak tergantung pada Ii) dan
sebanding dengan T.
t
Is
T
Ii
Gambar 4.16 Prinsip proteksi definite time
- I DMT Time Delay
Untuk Ii > Is, perlambatan waktu tergantung pada nilai Ii/Ib. T sesuai dengan
perlambatan waktu untuk Ii/Ib = 5.
Is 5Ib
Ii
t
Gambar 4.17 Prinsip proteksi IDMT
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 22
Kurva tripping didefenisikan menurut persamaan :
Untuk Is/Ib s Ii/Ib s 0.5 T .
) Ib / Ii (
19 . 3
t
5 . 1
=
Untuk 0.5 s Ii/Ib s 5 T .
) Ib / Ii (
64 . 4
t
96 . 0
=
Untuk Ii/Ib > 5 t = T
Fungsi tersebut dimasukkan ke dalam perhitungan variasi arus
urutan negatif selama waktu tunda. Pengukuran arus urutan negatif
dinyatakan sebagai persentase arus dasar yang dapat diakses melalui
terminal pocket TSM 2001. Hal tersebut tersedia jika proteksi tidak
sanggup.
Pada penyetelan relai unbalance ini dapat dilakukan hal-hal sebagai
berikut :
1) Menentukan T (waktu tunda) dan Is (arus setting) yang diinginkan dimana :
Defenite : Is diset antara 10 % Ib s Is s 500 % Ib dalam Amper
T diset antara 100 ms s T s 655 s
IDMT : Is diset antara 10 % Ib s Is s 50 % Ib dalam Amper
T diset antara 100 ms s T s 1 s
2) Menentukan Ii, arus unbalance yang merupakan arus gangguan sebesar 2 % -
100 % arus fasa (I = I1 = I2 = I3).
3) Menentukan I/Ib dengan membagi arus gangguan dengan arus dasar.
4) Menentukan masing-masing waktu relai pick up menurut kurva yang
digunakan.
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 23
4.3.5 Locked Rotor / Excessive Starting Time Protection
Bekerja berdasarkan kenaikan arus yang besar saat start awal motor
peralatan proteksi ini menggunakan kurva karakteristik invers.
Proteksi ini terdiri dari tiga fasa. Ia terdiri dari dua bagian :
Excessive starting time
Selama starting, proteksi ini akan pick up ketika arus salah satu fasanya
lebih besar dari nilai arus settingnya (Is) untuk jangka waktu yang lebih
lama daripada perlambatan waktu ST (waktu starting normal).
Locked Rotor (Rotor Terkunci)
Pada operasi normal (setelah starting), proteksi ini akan pick up ketika
arus salah satu fasanya lebih besar dari nilai arus settingnya Is untuk waktu
yang lebih lama daripada perlambatan waktu LT dengan tipe definite
[Link] dideteksi ketika arus yang diserap 5% lebih besar dari arus
dasar (Ib).
Pada penyettingan relai ini dapat dilakukan :
1) Menentukan arus setting Is dengan nilai antara 50% Ib s Is s 500% Ib yang
mana Ib < Is < I start.
2) Menentukan waktu tunda ST, T start yang berhubungan dengan waktu starting
normal dengan nilai antara 500 ms s T s 655 s
3) Menentukan waktu tunda LT, T lock untuk akselerasi ulang yang tak dideteksi
sebagai suatu start ulang dengan nilai antara 50 ms s T s 655 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 24
4.3.6 Starts Per Hour Protection
Proteksi ini terdiri dari tiga fasa. Relai ini akan pick up ketika jumlah start
mencapai batas berikut :
Jumlah start per jam maksimum yang diijinkan.
Jumlah start panas (hot start) secara berturut-turut maksimum yang
diijinkan.
Jumlah start dingin (cold start) maksimum yang diijinkan.
Selain itu juga ada indikasi yang hanya terbaca dari TSM 2001, yaitu :
+ Jumlah start yang masih diperbolehkan sebelum maksimumnya, jika proteksi
tak bekerja
+ Waktu tunggu sebelum dibolehkan start, jika proteksinya bekerja
Starting dideteksi ketika arus yang diserap menjadi 5% lebih besar dari
arus Ib setelah lebih rendah selama penundaan waktu T.
I
0.05Ib
T
t
Gambar 4.15 Pendeteksian Starting
Jumlah start per jam adalah jumlah start yang dihitung dalam 60 menit
terakhir. Jumlah start secara berturut-turut adalah jumlah start yang dihitung
selama 60/N menit start terakhir, N start adalah jumlah start yang diijinkan per
jam.
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 25
Status panas motor yang berhubungan dengan overrunning (bekerja secara
berlebihan) dari nilai pertama pada fungsi thermal overload. Ini mungkin
dilakukan untuk menambah jumlah start dengan sebuah input data logic.
Pada penyetelan relai ini dapat dilakukan :
1) Menentukan N start, jumlah start yang diperbolehkan per jam : 1 - 60
2) Menentukan H start, jumlah start panas secara berturut-turut : 1 N start
3) Menentukan C start, jumlah start dingin secara berturut-turut : 1 N start
4) Menentukan T, penundaan waktu antara start, yang mendefinisikan suatu
waktu shutdown minimum sebelum start yang lain dibolehkan dan dihitung :
500 ms s T s 655 s
5) Menentukan ukuran N rest, waktu tunggu : 1 mn 60 mn
4.3.7 Positive Sequence Undervoltage and Phase Rotation Direction Check
- Positive Sequence Undervoltage
Proteksi ini akan Pick up ketika komponen urutan positif Vd dari
sistem tiga fasa kurang dari nilai tegangan settingnya (Vsd), dengan:
Vd = (1/3)[V
1
+ aV
2
+ a
2
V
3
]
Vd = (1/3)[U
21
a
2
U
23
]
3
U
V=
3
2t
j
e a =
Proteksi ini memiliki perlambatan waktu definite time T.
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 26
- Phase Rotation Direction
Proteksi ini juga mengizinkan arah putaran fasa (phase rotation
direction) terdeteksi. Peralatan proteksi akan menganggap arah putaran fasa
berlawanan ketika tegangan urutan positif kurang dari 10% Un dan ketika
tegangan urutan positif melebihi 80% Un.
- Pengukuran Tegangan Urutan Positif
Proteksi ini juga mengindikasikan nilai tegangan urutan Positif pada
TSM 2001. Tegangan dinyatakan dalam kilovolt.
Ketika arah putaran fasa berlawanan, maka akan ditampilkan pesan
berupa :
Vd = inverse
Relai-relai tersebut akan memberi perintah untuk memutuskan tenaga
kepada pemutus tenaga ( CB ) jika merasakan adanya gangguan pada motor.
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 27
BAB V
KOORDINASI RELAI DI GARDU INDUK DENGAN RAW MILL DAN
CEMENT MILL INDARUNG V
Relai proteksi yang terdapat dalam peralatan SEPAM 2000, memproteksi
mulai dari transformator di Gardu induk P.T Semen Padang sampai kepada beban-
beban yang dilayaninya. Gardu Induk Semen Padang memiliki 3 buah trafo, trafo
1 mensuplai listrik ke beban di raw mill Indarung V, trafo 2 mensuplai listrik ke
beban di kiln Indarung V, dan trafo 3 mensuplai listrik ke beban di cement mill
Indarung V.
5.1 Single Line Diagram Gardu Induk [Link] Padang Dari Trafo 1 Dan 3
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 28
5.2 Koordinasi Relai masing-masing Feeder dari Trafo 1 dan Trafo 3 Gardu
Induk [Link] Padang sampai ke beban
5.2.1 Setting relai feeder 28 sampai ke beban
S
i
l
o
E
x
t
r
a
c
t
i
o
n
6 kV/400 V
1600 kVA
6 kV/400 V
1600 kVA
F 28
Dept 628
CB SF6
2500 A
1000/5 A
6300/100 V
Outgoing to Feeder 28 (Dept.628) (Sepam S2035S02), Ratio CT 1000/5
A
- Over Current (DT)
Setting 3200 A
I/U or other 3.2 In
Time 0.4 s
- Overload (EI)
Setting 400 A
I/U or other 0.4 In
Time 0.9 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 29
- Earthfault
Setting 13 A
I/U or other 13 A
Time 0.4 s
Incoming to substation 628 (Sepam S2025M15), Ratio CT 400/5 A
- Over Current (DT)
Setting 3200 A
I/U or other 8 In
Time 0.4 s
- Overload (EI)
Setting 400 A
I/U or other 1 In
Time 0.9 s
- Earthfault
Setting 10 A
I/U or other 10 A
Time 0.4 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 30
S
i
l
o
E
x
t
r
a
c
t
i
o
n
6 kV/400 V
1600 kVA
6 kV/400 V
1600 kVA
Cement Cilos & Compressor ST 2, Silo Extraction, Spare (Sepam
S2025T09), Ratio CT 200/5
- Over Current (DT)
Setting 2000 A
I/U or other 10 In
Time 0.05 s
- Overload (EI)
Setting 160 A
I/U or other 0.8 In
Time 0.5 s
- Earthfault
Setting 8 A
I/U or other 8 A
Time 0.1 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 31
5.2.2 Setting relai feeder 26 dan 27 sampai ke beban
M M M M M M
R
o
l
l
e
r
P
r
e
s
s
1
C
e
m
e
n
t
M
i
l
l
1
S
p
a
r
e
C
e
m
e
n
t
M
i
l
l
2
D
e
p
t
&
C
e
m
e
n
t
T
r
a
n
s
p
C
e
m
e
n
t
M
i
l
l
2
6 kV/400 V
2000 kVA
900 kW 6140 kW 520 kW
Bus Coupler
6 kV/400 V
2000 kVA
900 kW 6140 kW
F 27
Dept 548.1
F 26
Dept 548.2
CB SF6
2500 A
2000/5 A
CB SF6
2500 A
2000/5 A
6300/100 V 6300/100 V
Outgoing Feeder 26 to substation 548.1 (Sepam S2035S02), Ratio CT
2000/5 A
- Over Current (DT)
Setting 5800 A
I/U or other 2.9 In
Time 0.7 s
- Overload (DT)
Setting 2000 A
I/U or other 1 In
Time 36 s
- Earthfault (DT)
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 32
Setting 15 A
I/U or other 15 A
Time 0.4 s
- Remanent Undervoltage
Setting 1260 V
I/U or other 20% Un
Time 0.1 s
- Overvoltage
Setting 6930 V
I/U or other 110% Un
Time 1 s
Outgoing Feeder 27 to substation 548.2 (Sepam S2035S02), Ratio CT
2000/5 A
- Over Current (DT)
Setting 5800 A
I/U or other 2.9 In
Time 0.7 s
- Overload (DT)
Setting 2000 A
I/U or other 1 In
Time 36 s
- Earthfault (DT)
Setting 13 A
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 33
I/U or other 13 A
Time 0.5 s
- Undervoltage
Setting 4725 V
I/U or other 75% Un
Time 1 s
- Remanent Undervoltage
Setting 1260 V
I/U or other 20% Un
Time 0.1 s
- Overvoltage
Setting 6930 V
I/U or other 110% Un
Time 1 s
Incoming substation 548.1=548.2 (Sepam S2025M15),Ratio CT 2000/5A
- Over Current (DT)
Setting 5800 A
I/U or other 2.9 In
Time 0.7 s
- Overload (DT)
Setting 2000 A
I/U or other 1 In
Time 36 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 34
- Earthfault (DT)
Setting 10 A
I/U or other 10 A
Time 0.4 s
- Negative sequence Unbalance (IDMT)
Setting 400 A
I/U or other 0.2 Ib
Time 0.4 s
- Positive Sequence Undervoltage
Setting 4200 V
I/U or other 70% Un
Time 1 s
Cement Mill 2 (Sepam S2025M15),Ratio CT 800/5 A
- Over Current (DT)
Setting 3695 A
I/U or other 4.62 In
Time 0.1 s
- Overload (DT)
Setting 880 A
I/U or other 1.1 In
Time 27 s
- Earthfault (DT)
Setting 8 A
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 35
I/U or other 8 A
Time 0.1 s
- Negative sequence Unbalance (IDMT)
Setting 221.7 A
I/U or other 0.3 Ib
Time 0.4 s
- Positive Sequence Undervoltage
Setting 4200 V
I/U or other 70% Un
Time 1 s
Cement Mill 2 Dept & Cement (Sepam S2025M15),Ratio CT 200/5 A
- Over Current (DT)
Setting 2400 A
I/U or other 12 In
Time 0.05 s
- Overload (EI)
Setting 200 A
I/U or other 1 In
Time 0.5 s
- Earthfault (DT)
Setting 8 A
I/U or other 8 A
Time 0.1 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 36
Cement Mill Fan 2 (Sepam S2025M15),Ratio CT 100/5 A
- Over Current (DT)
Setting 650 A
I/U or other 6.5 In
Time 0.1 s
- Overload (DT)
Setting 75 A
I/U or other 0.75 In
Time 23 s
- Earthfault (DT)
Setting 8 A
I/U or other 8 A
Time 0.1 s
- Negative sequence Unbalance (IDMT)
Setting 18.87 A
I/U or other 0.3 Ib
Time 0.5 s
Positive Sequence Undervoltage
Setting 4200 V
I/U or other 70% Un
Time 1 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 37
Bus Coupler (Sepam S2025T09),Ratio CT 1200/5 A
- Over Current (DT)
Setting 4800 A
I/U or other 4 In
Time 0.4 s
- Overload (DT)
Setting 1200 A
I/U or other 1 In
Time 32 s
- Earthfault (DT)
Setting 8 A
I/U or other 8 A
Time 0.1 s
Roller pres 2 (Sepam S2025T09),Ratio CT 150/5 A
- Over Current (DT)
Setting 2100 A
I/U or other 14 In
Time 0.05 s
- Overload (EI)
Setting 150 A
I/U or other 1 In
Time 0.5 s
- Earthfault (DT)
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 38
Setting 8 A
I/U or other 8 A
Time 0.1 s
5.2.3 Setting relai feeder 25 sampai ke beban
M M
C
o
a
l
M
i
l
l
6 kV/400 V
1600 kVA
750 kW 750 kW
F 25
Dept 468
CB SF6
2500 A
1000/5 A
1250/1A
6300/100 V
Outgoing Feeder 25 substation 468 (Sepam S2035S02),Ratio CT
1000/5A
- Over Current (DT)
Setting 3600 A
I/U or other 3.6 In
Time 0.4 s
- Overload (EI)
Setting 600 A
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 39
I/U or other 0.6 In
Time 0.9 s
- Earthfault (DT)
Setting 10 A
I/U or other 10 A
Time 1 s
- Undervoltage
Setting 4725 A
I/U or other 75% Un
Time 1 s
- Remanent Undervoltage
Setting 1260 V
I/U or other 20% Un
Time 0.1 s
- Overvoltage
Setting 6930 V
I/U or other 110% Un
Time 1 s
Incoming to substation 468 (Sepam S2025M15), Ratio CT 600/5 A
- Over Current (DT)
Setting 3600 A
I/U or other 6 In
Time 0.4 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 40
- Overload (EI)
Setting 600 A
I/U or other 1 In
Time 0.9 s
- Earthfault (DT)
Setting 10 A
I/U or other 10 A
Time 0.4 s
- Negative sequence Unbalance (DT)
Setting 120 A
I/U or other 0.2 Ib
Time 0.5 s
- Positive Sequence Undervoltage
Setting 2.55 kV
I/U or other 70% Un
Time 1 s
Coal Mill Fan 750 kW (Sepam S2025T09), Ratio CT 100/5 A
- Over Current (DT)
Setting 270 A
I/U or other 2.7 In
Time 0.1 s
- Overload (EI)
Setting 89 A
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 41
I/U or other 0.89 In
Time 12.5 s
- Earthfault (DT)
Setting 6 A
I/U or other 6 A
Time 0.1 s
- Negative sequence Unbalance (DT)
Setting 35.6 A
I/U or other 0.4 Ib
Time 0.5 s
- Positive Sequence Undervoltage
Setting 2.55 kV
I/U or other 70% Un
Time 1 s
Coal Mill 750 kW (Sepam S2025T09), Ratio CT 100/5 A
- Over Current (DT)
Setting 270 A
I/U or other 2.7 In
Time 0.1 s
- Overload (EI)
Setting 89 A
I/U or other 0.89 In
Time 12.5 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 42
- Earthfault (DT)
Setting 6 A
I/U or other 6 A
Time 0.1 s
- Negative sequence Unbalance (DT)
Setting 35.6 A
I/U or other 0.4 Ib
Time 0.5 s
- Positive Sequence Undervoltage
Setting 2.55 kV
I/U or other 70% Un
Time 1 s
5.2.4 Setting relai feeder 14 sampai ke beban
R
a
w
M
a
t
e
r
i
a
l
H
a
n
d
l
i
n
g
R
a
w
M
a
t
e
r
i
a
l
T
r
a
n
s
p
o
r
t
R
a
w
M
a
t
e
r
i
a
l
T
r
a
n
s
p
o
r
t
6 kV/400 V
1000 kVA
6 kV/400 V
2000 kVA
6 kV/400 V
1600 kVA
6 kV/400 V
1000 kVA
6 kV/400 V
1000 kVA
CB SF6 2500 A
1000/5 A
6300/100 V
F 14
Dept 158
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 43
Outgoing Feeder 14 substation 158 (Sepam S2035S02), Ratio CT
1000/5A
- Over Current (DT)
Setting 3600 A
I/U or other 3.6 In
Time 0.4 s
- Overload (EI)
Setting 600 A
I/U or other 0.6 In
Time 0.9 s
- Earthfault (DT)
Setting 13 A
I/U or other 13 A
Time 1 s
- Undervoltage
Setting 4725 A
I/U or other 75% Un
Time 1 s
- Remanent Undervoltage
Setting 1260 V
I/U or other 20% Un
Time 0.1 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 44
- Overvoltage
Setting 6930 V
I/U or other 110% Un
Time 1 s
Incoming to substation 158 (Sepam S2025M15), Ratio CT 600/5 A
- Over Current (DT)
Setting 3600 A
I/U or other 6 In
Time 0.4 s
- Overload (EI)
Setting 600 A
I/U or other 1 In
Time 0.9 s
- Earthfault (DT)
Setting 10 A
I/U or other 10 A
Time 0.4 s
- Negative sequence Unbalance (IDMT)
Setting 120 A
I/U or other 0.2 Ib
Time 0.5 s
- Positive Sequence Undervoltage
Setting 2.55 kV
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 45
I/U or other 70% Un
Time 1 s
Limestone silica transport storage = clay crushing coal intake = Raw
material handling (Sepam S2025T09), Ratio CT 100/5 A
- Over Current (DT)
Setting 1300 A
I/U or other 13 In
Time 0.1 s
- Overload (EI)
Setting 100 A
I/U or other 1 In
Time 0.5 s
- Earthfault (DT)
Setting 8 A
I/U or other 8 A
Time 0.1 s
- Overvoltage
Setting 6.8 kV
I/U or other 105% Un
Time 4 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 46
5.2.5 Setting relai feeder 15 sampai ke beban
M M
6 kV/400 V
1000 kVA
2900 kW 2900 kW
F 15
Dept 348.1
CB SF6 2500 A
2000/5 A
6300/100 V
Outgoing Feeder 2 substation 348.1 (Sepam S2035S02), Ratio CT
1000/5 A
- Over Current (DT)
Setting 3600 A
I/U or other 3.6 In
Time 0.4 s
- Overload (EI)
Setting 1200 A
I/U or other 1.2 In
Time 0.9 s
- Earthfault (DT)
Setting 13 A
I/U or other 13 A
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 47
Time 1 s
- Undervoltage
Setting 4725 A
I/U or other 75% Un
Time 1 s
- Remanent Undervoltage
Setting 999 kV
I/U or other 20% Un
Time 0.1 s
- Overvoltage
Setting 6930 V
I/U or other 110% Un
Time 1 s
Incoming to substation 348.1 (Sepam S2025M15), Ratio CT 1000/5 A
- Over Current (DT)
Setting 3600 A
I/U or other 3.6 In
Time 0.4 s
- Overload (EI)
Setting 1200 A
I/U or other 1.2 In
Time 0.9 s
- Earthfault (DT)
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 48
Setting 10 A
I/U or other 10 A
Time 0.5 s
- Negative sequence Unbalance (IDMT)
Setting 400 A
I/U or other 0.4 Ib
Time 0.5 s
- Positive Sequence Undervoltage
Setting 2550 V
I/U or other 70% Un
Time 1 s
Raw Mill 1=Raw Mill 2 (Sepam S2025M15), Ratio CT 400/5 A, In =
400A, Ib =347
- Over Current (DT)
Setting 1000 A
I/U or other 0.25 In
Time 0.1 s
- Overload (EI)
Setting 278 A
I/U or other 0.7 In
Time 12.5 s
- Earthfault (DT)
Setting 2 A
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 49
I/U or other 2 A
Time 0.1 s
- Negative sequence Unbalance (IDMT)
Setting 139 A
I/U or other 0.4 Ib
Time 0.5 s
- Positive Sequence Undervoltage
Setting 2550 V
I/U or other 70% Un
Time 1 s
Raw Mill 1 Dept (Sepam S2025T09), Ratio CT 100/5 A, In = 100 A, Ib
=92
- Over Current (DT)
Setting 1300 A
I/U or other 13 In
Time 0.1 s
- Overload (EI)
Setting 100 A
I/U or other 1 In
Time 0.5 s
- Earthfault (DT)
Setting 2 A
I/U or other 2 A
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 50
Time 0.1 s
- Overvoltage
Setting 6800 V
I/U or other 105% Un
Time 4 s
5.3 Analisa koordinasi Relai proteksi
Urutan kerja antara proteksi utama dengan proteksi penyangga disebut
dengan koordinasi relai. Urutan kerja ini terlihat dengan adanya perbedaan
interval waktu pada relai proteksi tersebut. Berdasarkan data di atas, telah terlihat
ada perbedaaan interval waktu.
Jika dilihat pada tiap-tiap feeder, waktu trip pada relai proteksi di beban
lebih kecil dibandingkan dengan waktu trip pada busbar untuk beban tersebut. Hal
ini menunjukkan bahwa proteksi utama yang berada di beban akan lebih dulu
bekerja jika terjadi gangguan. Jika proteksi utama bekerja dengan baik maka
beban-beban lain pada sistem dapat terus bekerja. Namun, jika proteksi utama
gagal bekerja, maka proteksi penyangga akan segera mentrip. Hal ini berarti
menghentikan kerja sekelompok beban yang terdapat pada feeder yang sama.
Keberadaan proteksi utama sangat penting untuk keamanan sistem
keseluruhan. Maka kerja dari relai proteksi pada proteksi utama sangat
menentukan kelanjutan operasi sistem. Namun, kegagalan bisa saja terjadi pada
relai proteksi dengan beberapa penyebab sebagai berikut :
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 51
1. Relai tidak mengirim sinyal trip ke pemutus circuit breaker (tidak selektif)
2. Relai bekerja tapi tidak mampu untuk mengoperasikan circuit breaker. Hal
ini bisa disebabkan oleh kerusakan perangkat lain.
Proteksi untuk setiap jenis gangguan, telah ada setting waktunya untuk
beban, incoming to feeder (busbar), dan outgoing dari trafo. Setting waktu pada
beban yang lebih kecil menunjukkan bahwa proteksi utama adalah relai proteksi
yang berlokasi di beban berupa motor-motor listrik. Gangguan yang sering terjadi
di motor mengharuskan relai pada motor ini untuk bekerja secepat mungkin
sehingga tidak mengganggu kerja beban lain.
Contoh perhitungan saat terjadi gangguan :
Jika terjadi gangguan beban lebih (overload) di Cement cilos sebesar 192 A, jika
diketahui setting di cement cilos adalah :
Setting (EI) 160 A
I/U or other 0.8 In
Time 0.5 s
6 kV/400
V
1600 kVA
F 28
Dept 628
Cement Cilos & Compressor ST 2
Silo Extraction
Outgoing to
s.s 628
Incoming to
s.s 628
Menggunakan setting waktu EI (Extremely Invers Time):
808 . 0
T
.
1 ) Is / I (
80
t
2
=
jika I/Is = 192/160 = 1,2
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 52
Is adalah arus setting, sedangkan I adalah arus gangguan (biasanya melebihi
arus setting)
808 . 0
5 . 0
.
1 ) 2 . 1 (
80
2
= t = 112,5 s
Jika dibandingkan dengan incoming to substation 628 :
Overload (EI)
Setting 400 A
I/U or other 1 In
Time 0.9 s
Menggunakan setting waktu EI (Extremely Invers Time):
808 . 0
T
.
1 ) Is / I (
80
t
2
=
jika I/Is = 1,2
Is adalah arus setting, sedangkan I adalah arus gangguan (biasanya melebihi
arus setting)
808 . 0
9 . 0
.
1 ) 2 . 1 (
80
2
= t = 202,52 s
Jika dibandingkan dengan outgoing to incoming substation 628 :
Overload (EI)
Setting 400 A
I/U or other 0.4 In
Time 0.9 s
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 53
Menggunakan setting waktu EI (Extremely Invers Time):
808 . 0
T
.
1 ) Is / I (
80
t
2
=
jika I/Is = 1,2
Is adalah arus setting, sedangkan I adalah arus gangguan (biasanya melebihi
arus setting)
808 . 0
9 . 0
.
1 ) 2 . 1 (
80
2
= t = 202,52 s
Berdasarkan perhitungan di atas terlihat bahwa waktu trip pada cement
cilos (t = 112,5 s), sedangkan untuk outgoing dan incoming, dengan waktu trip
yang sama (t = 202,52 s). Proteksi yang ada di Cement cilos berfungsi sebagai
relai utama dengan waktu trip yang lebih cepat daripada outgoing dan incoming
yang berfungsi sebagai relai penyangga.
Untuk outgoing dan incoming mempunyai setting yang sama karena bila
terjadi gangguan antara outgoing dan incoming maka ia akan sama-sama men-trip.
Hal ini disebabkan karena kedua relai berada pada satu saluran transmisi atau
berada antara dua buah busbar tanpa beban. Lebih jelasnya, dapat dilihat pada
gambar zona proteksi yang saling tumpang tindih di bawah ini :
A B
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 54
Gambar Ini menunjukkan bahwa antara bus A dan B pada prinsipnya
hanya menggunakan satu relai. Sehingga outgoing dan incoming dari feeder 28 di
atas memiliki setting waktu yang sama, supaya memproteksi kedua bus dengan
fungsi yang sama sebagai relai utama pada saluran transmisi tersebut.
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 55
BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Dari pelaksanaan kerja praktek yang telah dilakukan dan hasil penulisan
laporan dapat diambil kesimpulan yaitu :
1. [Link] Padang menggunakan Sepam 2000 yang berfungsi sebagai
peralatan proteksi, kontrol dan monitoring pada sistem kelistrikannya.
2. Pada Sepam 2000 terdapat setting relai untuk semua jenis gangguan
dengan setting waktu yang berbeda-beda.
3. Setting waktu yang terdapat pada relai proteksi Sepam 2000 telah
sesuai dengan urutan kerja relai proteksi. Dimana setting waktu relai
utama lebih kecil dibanding relai penyangga.
6.2. Saran
1. Pada saat penyettingan Sepam 2000, diperlukan diperhatikan
koordinasi relai yang benar dengan memperhitungkan perbedaan
interval waktu antara relai utama dengan relai penyangga.
2. Pemeliharaan dari peralatan harus selalu diperhatikan agar kegagalan
kerja relai dapat diminimalisasi.
[Link] Padang Universitas Andalas
Bayu Putra ( 03 175 047) 56
DAFTAR PUSTAKA
Biro Pembinaan dan Pengembangan [Link] dan Pembuatan
[Link] [Link].
Biro Pembinaan dan Pengembangan [Link] Pembangkit dan
[Link] [Link].
Biro Pemeliharaan Listrik dan Instrument Indarung III. Pengenalan Peralatan
Listrik dan Instrumen, PT. Semen Padang, Padang.
Ravindranath, 1993, Power System Protection and Switchgear, New Delhi.
Schneider Group. Sepam 2000, Instruction Manual. Merlin Gerin. 1998