Analisis Saringan Agregat dan Metode
Analisis Saringan Agregat dan Metode
= 98,6%
G. KESIMPULAN
Dari hasil pratikum yang telah dilaksanakan, agregat yang masih
terselimuti oleh aspal setelah direndam selama 16 jam sebanyak 98.6%. Ini
berarti aspal memiliki daya lekat yang baik terhadap agregat.
H. DAFTAR PUSTAKA
Sukirman, [Link] Aspal Campuran [Link]: Granit
[Link], [Link] Bahan Bangunan [Link]: Teknik sipil
UNP
[Link] dan Struktur Jalan [Link]: Biro
Penerbit
SNI 03-2439-1991
[Link]
[Link]
[Link]
Aspal
[Link]
[Link]
12
PENGUJIAN PENETRASI ASPAL
( AFFINITY FOR BITTUMEN )
A. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat:
1. Menentukan nilai penetrasi aspal
2. Mengklasifikasikan aspal berdasarkan angka penetrasi
B. ALAT
a. Alat penetrasi (penetrometer) lengkap
Gambar 3.1 penetrometer
b. Cawan silinder
c. Timbangan elektrik
d. Kompor
e. Wajan
f. Waterbath
Gambar 3.2 Waterbath
13
C. BAHAN
a. Aspal
b. Air suling
D. TEORI SINGKAT
Aspal merupakan salah satu dari jenis bitumen yang merupakan bahan
pengikat agregat yang mutu dan jumlahnya sangat menentukan keberhasilan
suatu campuran aspal yang merupakan bahan jalan. Dari sudut pandang
rekayasa engineering, ragam dari komposisi unsur penyusun bahan bitumen
biasanya tidak ditinjau lebih lanjut, untuk menggambarkan karakteristik
ragam respon material bahan bitumen tersebut diperkenalkan beberapa
parameter, yang salah satunya adalah nilai PEN (Penetrasi). Penetrasi adalah
masuknya jarum penetrasi dalam suatu ukuran tertentu, beban dan waktu
tertentu kedalam aspal pada suhu tertentu.
Nilai Penetrasi menggambarkan kekerasan bahan bitumen pada suhu
standar 25
o
C, yang diambil dari pengukuran kedalaman penetrasi jarum
standar, dengan beban standar (50 gr/100 gr), dalam rentang waktu yang juga
standar (5 detik).
British Standard (BS) membagi nilai penetrasi tersebut menjadi 10 macam,
dengan rentang nilai PEN 15 s/d 450, sedangkan AASHTO mendefenisikan
nilai PEN 40-50 sebagai nilai PEN untuk material bahan bitumen terkeras
dan PEN 200-300 untuk bahan bitumen terlembek/terlunak.
Nilai penetrasi sangat sensitif terhadap suhu. Pengukuran di atas suhu
kamar akan menghasilkan nilai yang berbeda. Variasi suhu terhadap nilai
penetrasi dapat di susun sedemikian rupa hingga di hasilkan grafik hubungan
antara suhu dan nilai penetrasi. Penetration Index dapat di tentukan dari
grafik tersebut.
Seperangkat alat untuk penetrasi aspal disebut penetrometer. Penetrometer
terdiri dari alat ukur jarak masuknya jarum kedalam benda uji. Semakin
besar penetrasi maka semakin lunak aspal tersebut dan viskositasnya.
Jarum yang digunakan untuk penetrasi aspal dirancang khusus dan sangat
akurat untuk penetrasi sampel aspal dibawah beban standar secara vertical
14
yang dinyatakan dalam satuan 0,1 mm pada kondisi beban, waktu, dan
temperature yang diketahui.
Alat penetrometer yang dapat menunjukkan kedalaman masuknya jarum
ke dalam benda uji sampai 0,1 mm terdekat. Penetrometer harus dilengkapi
dengan waterpass untuk memastikan pasisi jarum dan pemegang jarum tegak
(90
0
) ke permukaan.
Jarum penetrasi harus terbuat dari stainless steel dari bahan yang kuat.
Jarum standar memiliki panjang sekitar 50 mm dan jarum panjang memiliki
panjang sekitar 60 mm.
Pengujian penetrasi aspal diatur oleh standar SNI 06-2456-1991 dimana
disebutkan:
Metode ini sebagai acuan dalam pelaksanaan/menentukan penetrasi aspal
keras atau lembek dengan tujuan menyeragamkan dari pengujian dan
pengedalian mutu bahan dalam elaksanaan bangunan.
E. LANGKAH KERJA
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Panaskan aspal.
3. Tuangkan aspal ke dalam cawan silinder sebanyak 2/3 bagian, pada
suhu ruang 25
0
C (tutup sampel agar bebas dari debu)
Gambar 3.3 Sampel Aspal
4. Apabila aspal tersebut sudah dingin, masukkan dua sampel ke dalam
waterbath selama 30 menit.
15
5. Setelah 30 menit dalam waterbath, angkat sampel yang ada di dalam
waterbath dan letakkan pada alat penetrasi.
6. Turunkan jarum penetrasi hingga menyentuh permukaan sampel.
7. Aturlah parameter penetrometer, lepaskan memegang jarum.
8. Baca arloji penetrometer.
9. Ulangi langkah 5-8 untuk sampel yang tidak dimasukkan ke dalam
waterbath.
10. Masukkan data ke dalam tabel.
F. DATA DAN PERHITUNGAN
1. DATA
No Kegiatan Uraian
1 Pembukaan contoh Contoh dipanaskan
Mulai jam : 14.10
Selesai jam : 14.20
2 Mendinginkan contoh Didiamkan di suhu ruang
Mulai jam : 14.22
Selesai jam : 15.14
3
Mencapai suhu
pemeriksaan Direndam pada suhu 25
0
C Pembacaan suhu
Mulai jam : 15.16 waterbath 60
0
C
Selesai jam : 15.46
4 Pemeriksaan Penetrasi pada suhu 25
0
C
Mulai jam : 16.15
Selesai jam : 17.15
Tabel 3.1 data Penetrasi Aspal
16
No
Penetrasi pada suhu
25
o
C
Pengamatan
Suhu Ruang Waterbath
1 A 325-400=75 395-485=90
2 B 323-407=84 362-465=103
3 C 390-467=77 370-476=106
4 D 005-070=65 390-495=105
5 E 380-455=75 380-485=105
Rata-rata 75,2 101,8
Tabel 3.2 Pengamatan Penetrasi Aspal
2. PERHITUNGAN
a. Rata-rata Penetrasi yang pada suhu ruang
=
= 75,2
b. Rata-rata Penetrasi yang direndam dalam waterbath
=
= 101,8
G. KESIMPULAN
Dari pratikum yang telah dilakukan, didapatkan data:
1. Nilai Penetrasi pada suhu ruang adalah : 75,2
2. Nilai Penetrasi pada sampel yang direndam pada waterbath adalah:
101,8
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa aspal yang digunakan tergolong
dalam aspal yang keras. Karena aspal pada suhu ruang nilai penetrasinya
75,2 yang memasuki standart SNI 06-2456-1991 yaitu 60 79. Sedangkan
aspal yang direndam di waterbath nilai penetrasinya adalah 101,8, yang
berarti rendaman tersebut membuat aspal lebih aspal lunak dan
psikositasnya lebir rendah dibandingkan pada suhu ruang.
17
H. DAFTAR PUSTAKA
Sukirman, [Link] Aspal Campuran [Link]: Granit
Wignal,Arthur, Peter S. Kendrik, Roy Ancil, Malcolm
[Link] Jalan ( Teori dan Praktek) . Jakarta: Erlangga
[Link], [Link] Bahan Bangunan [Link]: Teknik sipil
UNP
[Link] dan Struktur Jalan [Link]: Biro
Penerbit
SNI 06-2456-1991
[Link]
[Link]
[Link]
18
PENGUJIAN BERAT JENIS
DAN PENYERAPAN AGREGAT
A. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat:
Menentukan berat jenis kering oven (bulk), berat jenis kering permukaan
jenuh (saturated surface dry=SSD), berat jenis semu (apparent), dan
penyerapan agregat.
B. ALAT
a. Rifle sampel
b. Timbangan elektrik
c. Kerucut Abram
Gambar 4.1 Kerucut Abram
d. Tabung kaca
e. Plat kaca
Gambar 4.2 Plat Kaca
19
f. Kipas angin
g. Pan
h. Ember
i. Kain penyerap
j. Tissue
k. Oven
l. Saringan 4,75 mm dan 3,36 mm
C. BAHAN
a. Agregat
Split = 3 kg
Screen = 3 kg
AB = 1 kg
b. Air Suling
D. TEORI SINGKAT
Berat jenis suatu agregat adalah perbandingan berat dari suatu satuan
volume bahan terhadap berat air dengan volume yang sama pada temperatur
20-25C (68-77F). Berat jenis agregat berbeda satu sama lainnya
tergantung dari jenis batuan, susunan, mineral, struktur butiran, dan porositas
batuannya.
Terdapat 3 jenis berat jenis (spesifik gravity) yaitu :
a. Berat Jenis Bulk (Bulk Spesifik Gravity)
Berat jenis dengan memperhitungkan berat agregat dalam keadaan
kering dan seluruh volume agregat. (Vs + Vi + Vp + Vc)
b. Berat Jenis Kering Permukaan (Saturated Surface Dry)
Berat jenis dengan memperhitungkan berat agregat dalm keadaan
kering permukaan. Jadi merupakan berat agregat kering + berat air
yang dapat meresap kedalam pori agregat dan seluruh volume agregat.
(Vc + Vi + Vp + Vc)
20
c. Berat Jenis Semu (Apperent Spesifik Gravity)
Berat jenis dengan memperhitungkanberat agregat dalamkeadaaan
kering, dan volume agregat yang tidak dapat diresapi oleh air. (Vs +
Vi)
d. Berat Jenis Efektif (Efective Spesifik Gravity)
Berat jenis dengan memperhitungkan berat agregat dalam
keadaankering, jadi merupakan berat agregat kering, dan volume
agregat yang tidak dapat diresapi aspal.
Nilai penyerapan adalah perbandingan perubahan berat agregat karena
penyerapan air oleh pori pori dengan berat agregat pada kondisi kering.
Standart laboratorium untuk penyerapan akan diperoleh setelah merendam
agregat yang kering ke dalam air selama 24 jam. Untuk agregat yang telah
kontak dengan air dan terdapat air bebas pada permukaan partikelnya,
persentase air bebasnya dapat ditentukan dengan mengurangi penyerapan dari
kadar air total yang ditentukan dengan cara uji AASTHO T 255.
RUMUS :
a. Agregat Kasar
BeratJenisKeringPermukaan (SSD) =
BeratJenisKering Oven (Bulk) =
BeratJenisSemu (Apparent) =
Penyerapan Air (%) =
b. Agregat Halus
BeratJenisKeringPermukaan (SSD) =
BeratJenisKering Oven (Bulk) =
BeratJenisSemu (Apparent) =
21
Penyerapan Air (%) =
E. LANGKAH KERJA
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Persiapkan benda uji
a. Rendam benda uji ke dalam air selama jam sampai menjadi
dalam keadaan jenuh
b. Tiriskan, lalu saring dengan saringan 4,75 mm (SP & SC) dan 2,36
mm (AB)
c. Untuk split dan screen yang tertahan saringan 4,75 mm lakukan
pengu jian berat jenis dan penyerapan untuk agregat kasar,
sedangkan yang lolos saringan 4,75 mmlakukan pengujian berat
jenis dan penyerapa air untuk agregat halus
d. Untuk AB yang tertahan saringan 2,36 mm, lakukan pengujian
berat jenis dan penyerapan air untuk agregat kasar, sedangkan
untuk yang lolos saringan 2,36 mm lakukan pengujian berat jenis
dan penyerapan air untuk agegat halus
3. Pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat kasar
a. Buat agregat dalam keadaan SSD
b. Tentukan volume uji
1) Timbang benda uji (W1)
2) Timbang benda uji dalam air (w2)
Gambar 4.3 Penimbangan Benda Uji dalam Air
22
3) masukkan benda uji ke dalam oven selama jam, lalu
timbang (W3)
4. Pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat halus
a. Buat agregat dalam keadaan SSD
1) Angin-anginkan agregat halus menggunakan kipas angin
dalam pan besar
2) Cek kondisi SSD dengan kerucur Abram
b. Tentukan volume uji
1) Sediakan tabung kaca + plat kaca
2) Isi dengan air suling sampai penuh hingga tidak ada
gelembung udara dalam botol
3) Tutup botol dengan plat kaca, lalu timbang (B)
4) Timbang agregat yang akan di uji berat jenisnya (A)
5) Buang air sebagian dalam tabung kaca, lalu masukkan
agregat ke dalam tabung kaca, hilangkan gelembung udara
dalam tabung kaca
6) Isis air sampai penuh agar gelembung udara naik semua,
lalu tutup dengan plat kaca
7) Lap bagian luar tabung dan plat kaca yang terkena air
8) Timbang tabung+ plat kaca+benda uji SSD (C)
9) Keringkan benda uji dalam oven, lalu timbang (D)
23
F. DATA DAN PERHITUNGAN
1. DATA
a. Agregat Kasar > 4,75 mm (split dan Screen)
No contoh Sp Sc
Berat benda uji SSD (gr) W1 1027,9 1019,6
Berat benda uji SSD dalam air
(gr)
W2 619,7 593,2
Berat benda uji kering oven
(gr)
W3 991,2 986,2
Bj SSD
2,518 2,391
Bj Bulk
2,4282 2,3129
Bj Apparent
2,668 2,509
Penyerapan Air
3,703% 3,387%
Tabel 4.1 analisis data Uji Berat Jenis dan Penyerapan air, agregat kasar >
4,75mm (Split dan Screen)
Analsis data diatas:
1. Split
Diketahui : W
1
= 1027,9 gr
W
2
= 619,7 gr
W
3
= 991,2 gr
a. BJ SSD =
= 2,518 gr
b. BJ bulk =
= 2,4282 gr
c. BJ apparent =
= 2,668 gr
d. Penyerapan agregat =
24
= 3,703 %
2. Screen
Diketahui : W
1
= 1019,6 gr
W
2
= 593,2 gr
W
3
= 986,2 gr
a. BJ SSD =
= 2,391 gr
b. BJ bulk =
= 2,3129 gr
c. BJ apparent =
= 2,509 gr
d. Penyerapan agregat =
= 3,387 %
Agregat < 4,75 mm
Uji Berat Jenis tidak dilakukan, karena berat agregat yang lolos <
10% dari berat total.
Split = 0.9 gr = 0.0876 %
Screen =0.3 gr = 0.0294 %
25
b. Agregat Halus (Abubatu)
No contoh >2.36 <2.36
Berat benda uji SSD (gr) A 287,6 188,5
Berat tabung+plat+air (gr) B 2729,2 2729,6
Berat tabung+plat+air+agregat (gr) C 2900,8 2839,6
Berat benda iji kering oven (gr) D 269,8 167,5
Bj SSD
2,479 2,411
Bj Bulk
2,326 2,142
Bj Apparent
2,747 2,928
Penyerapan Air
6,598% 12,5%
Tabel 4.2 analisis data Uji Berat Jenis dan Penyerapan air, agregat halus
(Abubatu)
Analsis data diatas
Abubatu > 2,36 mm
Diketahui : A = 287,6 gr
B = 2729,3gr
C = 2900,8gr
D = 269,8 gr
1. BJ SSD =
= 2,479 gr
2. BJ bulk =
=
= 2,326 gr
3. BJ apparent=
=
= 2,747 gr
4. Penyerapan agregat =
26
= 6,598 %
Abubatu < 2,36 mm
Diketahui : A = 188,5 gr
B = 2729,6 gr
C = 2839,9 gr
D = 167,5 gr
1. BJ SSD =
=
= 2,411 gr
2. BJ bulk =
= 2,142 gr
3. BJ apparent =
= 2,928
gr
4. Penyerapan agregat =
= 12,5 %
AGREGAT PROPORSI BERAT JENIS Penyerapan air
mm % SSD BULK APPARENT %
Split >4.75 99,912 2,518 2,4282 2,688 3,703
<4.75 0,088
Screen >4.75 99,971 2,391 2,3129 2,509 3,387
<4.75 0,029
Ab >2.36 60,407 2,479 2,326 2,747 6,598
<2.36 39,593 2,411 2,142 2,928 12,5
Tabel 4.3 hasil analisis data Uji Berat Jenis dan Penyerapan air
27
G. KESIMPULAN
Dari pratikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan:
1. Pada agregat kasar > 4,75mm (split dan screen), perbedaan antara berat
jenis SSD,Bulk dan Apperent tidak jauh berbeda.
2. Pada agregat kasar < 4,75mm (split dan screen), tidak dilakukan
pratikum, karena jumlah agregatnya < dari 10%, yaitu untuk split
0,088% dan untuk screen hanya 0,029 % dari berat total agregat.
3. Penyerapan air pada Split 3,703 %, sedangkan penyerapan air pada split
3,387%, yang tidak jauh berbeda.
4. Berat jenis pada abubatu >2,36 mm,SSD = 2,479, Bulk = 2,2362,
Apperent = 2,747 sedangkan pada < 2,36 mm,SSD = 2,411, Bulk =
2,142, Apperent = 2,928. Yang tidak jauh berbeda.
5. Penyerapan air pada abubatu memiliki perbedaan yangcukup signifikan
yaitu abubatu>2,36 mm =6,598% sedangkan abubatu<2,36mm =12,5%.
H. DAFTAR PUSTAKA
Sukirman, [Link] Aspal Campuran [Link]: Granit
Wignal,Arthur, Peter S. Kendrik, Roy Ancil, Malcolm
[Link] Jalan ( Teori dan Praktek) . Jakarta: Erlangga
[Link], [Link] Bahan Bangunan [Link]: Teknik sipil
UNP
[Link] dan Struktur Jalan [Link]: Biro
Penerbit
SNI 03-1969-2008
[Link]
dan_30.html
[Link]
gravity-dan-penyerapan-agregat-halus-2/
28
KEAUSAN AGREGAT DENGAN ALAT ABRASI LOS ANGELES
( LOS ANGELES ABRASSION TEST )
A. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat
menentukan sifat agregat kasar berdasarkan keausannya, dengan menghitung
% jumlah bagian berat yang aus (lolos saringan 1.17mm/ No. 12) setelah
mendapatkan abrasi pada mesin los angeles.
B. ALAT
a. Saringan satu set : 19,1mm (3/4), 9.5mm (3/8), 4.76mm (No.4),
2.38mm (No. 8), 1.2mm ( No. 12)
b. Timbangan
c. Mesin Los Angeles + bola baja
Gambar 5.1 Mesin Los Angeles
d. Oven
e. Wadah / talam
C. BAHAN
Agregat yang lolos saringan 37.5mm ( 1 ) = 5000 gram (yang sudah
kering oven).
29
D. TEORI SINGKAT
Daya tahan agregat merupakan ketahanan agregat terhadap adanya
penurunan mutu akibat proses mekanis dan kimiawi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat degradasi yang terjadi sangat ditentukan oleh jenis
agregat, gradasi campuran, ukuran pertikel, bentuk agregat, dan besarnya
energy yang dialami oleh agregat tersebut.
Daya tahan agregat terhadap beban mekanis diperiksa dengan melakukan
pengujian abrasi menggunakan abrasi Los Angeles, sesuai dengan SNI-03-
2417-1991 atau AASHTO T96-87. Gaya mekanis pada pemeriksaan dengan
alat abrasi Los Angeles diperoleh dari bola-bola baja yang dimasukkan
bersama dengan agregat yang hendak di uji.
Penggolongan tingkat keausan agregat diindikasi oleh nilai abrasi dari
hasil pengujian mesin Los Angeles terdiri dari:
Agregat kasar nilai abrasi < 20%
Agregat lunak nilai abrasi >50%
Mesin abrasi Los Angeles terdiri dari silinder baja tertutup pada kedua
sisinya dengan diameter 711 mm (28") panjang dalam 508 mm (20");
silinder bertumpu pada dua poros pendek yang tak menerus dan berputar
pada poros mendatar; Silinder berlubang untuk memasukkan benda uji:
penutup lubang terpasang rapat sehingga permukaan dalam silinder tidak
terganggu; di bagian dalam silinder terdapat bilah baja melintang penuh
setinggi 89 mm (3,5").
Metode abrasi Los Angeles ini dimaksudkan sebagai pegangan untuk
menentukan ketahanan agregat kasar terhadap keausan dengan
mempergunakan mesin Abrasi Los Angeles.
Pengujian ini adalah untuk mengetahui angka keausan tersebut, yang
dinyatakan dengan perbandingan antara berat bahan aus lolos saringan No.
12 (1,7 mm) terhadap berat semula, dalam [Link] ini dapat
digunakan untuk mengukur keausan agregat kasar. Hasil pengujian bahan ini
dapat digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan bahan perkerasan jalan
atau konstruksi beton.
30
Prinsip Los Angeles adalah pengukuran perontokan agregat dari gradasi
standardnya akibat kombinasi abrasi atau atrisi, tekanan dan pengiasan
dalam drum baja. Ketika drum berputar, bilah baja yang terdapat di
dalamnya mengangkat sampel dan bola baja, membawanya berputar sampai
kembali jatuh mengakibatkan efek tumbuk-tekan/impact-crushing pada
sampel. Sampel sendiri kemudian berguling dengan mengalami aksi abrasi
da penilasan sampai bilah baja kembali menekan dan membawanya berputar.
Cara ujinya adalah masukkan benda uji yang telah disiapkan ke dalam
mesin abrasi, putar mesin kecepatan 30 rpm sampai 33 rpm dengan jumlah
putaran untuk masing-masing gradasi berbeda, keluarkan benda uji
kemudian saring, butiran yang tertahan dicuci dan dikeringkan dalam oven
sampai berat tetap.
Gambar 5.2 Spesifikasi Mesin Los Angeles
Putaran dapat dilakukan 500 atau 1000 putaran dengan kecepatan 30-33
rpm. Nilai abrasi dinyatakan dalam persen yang merupak nila perbandingan
antara berat benda uji semula dikurangi berat tertahan saringan no.12
denagn bera benda uji semula.
% keausan =
Ket: W1 = berat total agregat semula (gr)
W2 = berat total agregat tertahan saringan n0.12 (gr)
31
Keausan pada 500 putaran menurut PB-0206-76 manual pemeriksaan
bahan jalan maksimum adalah 40%.
E. LANGKAH KERJA
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Timbang agregat sebanyak 5000 gram.
3. Saring agregat dengan saringan 19.1mm 2.38mm dan timbang agregat
sesuai dengan gradasinya, kemudian hitung total berat agregat (W1
dalam gram).
4. Masukkan agregat + bola baja sesuai dengan gradasi agregat sesuai
dengan ke dalam mesin Los Angeles.
5. Putar mesin dengan kecepatan 30 33 rpm, sebanyak 500 putaran.
6. Setelah selesai pemutaran, keluarkan agregat dari mesin Los Angeles
dan lakukan penyaringan dengan saringan 1.17mm (No. 12)
7. Timbang agregat (W2 dalam gram)
8. Hitung % keausan = ((W1-W2)/W1) x 100%
TABEL GRADASI DAN JUMLAH AGREGAT
Ukuran saringan (mm)
Gradasi dan berat untuk setiap ukuran
(gram)
Lolos Tertahan A B C D
37,5 25 125025
25 19 125025
19 12,5 125010 250010
12,5 9,5 125010 250010
9,5 6,3 250010
6,3 4,75 250010
4,75 2,36 500010
Total 500010 500010 500010 500010
Jumlah bola baja 12 11 8 6
Tabel 5.1 gradasi dan Jumlah agregat
32
F. DATA DAN PERHITUNGAN
1. DATA
Ukuran saringan
(mm)
Gradasi dan berat
untuk setiap ukuran (gr)
Lolos Tertahan Sebelum Sesudah
37,5 19 4168,5 1823,3
19 9,5 822,3 1485,2
9,5 4,75 3,2 343,6
4,75 2,36 2,2 329,7
2,36 1,176
180,4
Jumlah berat 4958.1 4162,2
Berat tertahan No.12 - 4162,2
Tabel 5.2 Data berat Agregat
2. PERHITUNGAN
W1 = 4996,2 gr
W2 = 4162,2 gr
W1-W2= 4996,2-4162 = 834 gr
Keausan =
= 16,693 %
= 16,7%
G. KESIMPULAN
Setelah melakukan pratikum ini, maka didapatkan Angka Keausan adalah
16,7 % dengan menggunakan 12 buah bola baja. Nilai Keausan berada
dibwah 20%, maka dapat kita simpulkan bahwasannya agregat cukup bagus
untuk menahan Keausan, yang berarti Nilai Keausan memenuhi standar
ketetapan atau yang diharapkan.
33
H. DAFTAR PUSTAKA
Sukirman, [Link] Aspal Campuran [Link]: Granit
Wignal,Arthur, Peter S. Kendrik, Roy Ancil, Malcolm
[Link] Jalan ( Teori dan Praktek) . Jakarta: Erlangga
[Link], [Link] Bahan Bangunan [Link]: Teknik sipil
UNP
[Link] dan Struktur Jalan [Link]: Biro
Penerbit
SNI 03-2417-1991
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
34
MERANCANG CAMPURAN BERASPAL, MEMBUAT BENDA UJI,
DAN PEMERIKSAAN BENDA UJI SERTA EVALUASI HASIL
RANCANGAN
A. TUJUAN
Setelah melakukan pengujian ini, diharapkan mahasiswa dapat:
1. Merancang campuran aspal beton.
2. Untuk mengetahui proses pembuatan benda uji mulai dari
mencampur,mengaduk sampai memadatkan banda uji aspal beton untuk
Marshall Test sesuai dengan % kadar aspal masing-masing.
3. Untuk mengetahui kadar aspal optimum yang memenuhi persyaratan
sifat campuran yang dipilih.
B. ALAT
a. Cetakan dari logam diameter 10.16 mm dan tinggi 7.62 mm, lengkap
dengan pelat alas dan leher sambung.
Gambar 6.1 Cetakan logam
b. Mesin penumbuk lengkap lindasan pemadat dan pemegang cetakan
benda uji.
Gambar 6.2 alat Penumbuk lengkap
35
c. Ekstruder/ alat pengeluar benda uji.
Gambar 6.3 Ekstruder
d. Alat marshall lengkap
Gambar 6.4 Alat Marshall
e. Oven
f. Bak perendam (water bath) dilengkapi dengan pengatur suhu.
Gambar 6.5 waterbath
36
g. Timbangan
h. Pengukur suhu dari logam (metal thermometer)
i. Perlengkapan lain:
Wajan/ panic pemanas agregat, aspal dan campuran aspal
Sendok pengaduk dan spatula
Kompor dan pemanas, (hot plate)
Sarung tangan tahan panas, masker
Kompor gas elpiji atau minyak tanah
C. BAHAN
a. Aspal
b. Split
c. Screen
d. Abubatu
e. Air suling
D. TEORI SINGKAT
Aspal beton campuran panas adalah salah satu jenis dari lapis perkerasan
konstruksi perkerasan lentur, jenis perkerasan ini merupakan campuran
homogeny antara agregat dan aspal sebagai bahan pengikat pada suhu
tertentu.
Beton aspal terdiri dari campuran agregat dari berbagai diameter dan
aspal. Pencampuran dapat dilakukan secara dingin (cold mix) maupun secara
panas (hot mix). Pencampuran secara hot mix, yaitu suatu campuran yang
terdiri dari komponen-komponen agregat yang merupakan komponen
terbesar dalam campuran dan bahan pengikatny aspal, dimana cara
pencampurannya melalui proses pemanasan. Pada hot mix bahan dipanasi
sampai suhu 195C untuk agregat dan 140C untuk aspal. Serta akan
menghasilkan campuran dengan suhu + 145C.
Bahan penyusunnya:
37
Bahan ikat: aspal
Agregat : -agregat kasar, agregat halus, pengisi/filler.
Peralatan marshall adalah merupakan alat penguji campuran beraspal
panas (hot mix) yang umum dilakukan untuk mengetahui untuk kekuatan
campuran beraspal panas (hot mix) yang digunakan dalam perkerasan lentur
jalan raya. Parameter kekuatan campuran beraspal panas (hot mix) yang diuji
dengan alat marshall harus memenuhi spesifikasi seperti: penyerapan aspal,
rongga dalam aspal (VIM), rongga dalam agregat (VMA), rongga terisi aspal
(VFB), stabilitas marshall (MS), pelelehan (FLOW), marshall quotient,
stabilitas marshall sisa setelah perendaman selama 24 jam, rongga dalam
campuran pada kepadatan membal (refusal). Rencana perkerasan lebih
mengenal parameter stabilitas marshall (MS) dan perameter lain harus
memenuhi spesifikasi, karena parameter MS tersebut berkaitan langsung
dengan koefisien kekuatan relative (layer coefficient) yang digunakan untuk
menghitung tebal perkerasan.
Stabilitas, yaitu kemampuan lapisan perkerasan menerima beban lalu
lintas, tanpa terjadi perubahan untuk tetap seperti gelombang, alur ataupun
bleeding. Stabilitas terjadi dari hasil geseran antar butir, penguncian antar
partikel dan daya ikat yang baik dari lapisan aspal.
Ketahanan terhadap kelelehan (flow), merupakan kemampuan beton
aspal menerima lendutan berulang akibat repetisi beban, tanpa terjadinya
kelehan berupa alur atau retak. Hal ini dapat tercapai jika menggunakan
kadar aspal yang tinggi.
E. LANGKAH KERJA
1. Langkah kerja pembuatan benda uji
Persiapan bahan
a. Keringkan agregat sampai berat tetap
b. Siapkan bahan untuk setiap benda uji yaitu agregat gram
dari % analisis saringan.
38
Pembuatan benda uji
a. Panaskan agregat yang sudah dicampur untuk setiap benda uji
denga suhu
Gambar 6.6 Pemanasan Agregat
b. Panaskan aspal dengan suhu
Gambar 6.7 Pemanasan Aspal
c. Siapkan peralatan seperti: cetakan, alat penumbuk, dan lain-lain;
alat ini harus dipanaskan terlebih dahulu
d. Timbang wajan dalam keadaan bersih dan kering, kemudian catat
beratnya (A gram)
e. Masukkan campuran agregat dalam keadaan panas ke dalam wajan
yang sudah dipanaskan terlebih dahulu dan aduk secara merata dan
perlahan
f. Timbang campuran agregat +wajan (B garam)
39
g. Hitung berat aspal yang sesuai dengan kadar aspal yang aka dibuat
benda ujinya
( )
Kadar aspal yag digunakan 4-7%dengan kenaikan 0.5 % untuk
setiap benda uji.
Gambar 6.8 penambahan aspal pada agregat
h. Campur dan aduk aspal dengan campuran agregat sampai rata
denga suhu
i. Pengadukan harus homogen untuk mendapatkan hasil yang baik
Gambar 6.9 pengadukan aspal dan agregat
j. Masukkan campuran agregat +aspal tersebut ke dalam cetakan
yang sudah dipanaskan, disusun terlebih dahulu cetakannya serta di
bagian alasnya dipasang kertas saring
40
Gambar 6.10 pemasukan aspal dan agregat ke mol
k. Tusuk bagian benda uji dengan spatula sebanyak 15 kali di pinggir
dan 10 kali di tengah
l. Tutup bagian atasnya dengan kertas saring
m. Tumbuk benda uji masing-masing sebanyak 75 tumbukan tiap
permukaannya (atas dan bawah) pada suhu
Gambar 6.11 proses penumbukkan
n. Lepasakan cetakan dari alat penumbuk, biarkan menit sambil
diselimuti lap basah
41
Gambar 6.12 proses pedinginan
o. Keluarkan benda uji dari cetakan dengan menggunakan ekstruder,
kemudian beri tanda kadar aspal, kelompok
Gambar 6.13 proses pengeluaran benda uji
p. Diamkan benda uji pada suhu ruang selama 24 jam, setelah itu
lakukan pengujian Marshall
2. Langkah kerja pengujian Marshall
Ada tiga tahap pengukuran
a. Melakukan pengukuran berat jenis
b. Pengukuran stabilitas dan flow
c. Pengukuran kerapatan dan analisis rongga
Persiapan
a. Benda uji harus bersih dari kotoran
b. Setiap benda uji diberi tanda
42
c. Ukur tinggi dan diameter masing-masing benda uji dengan
menggunakan jangka sorong dengan ketelitian 0,1 mm. tinggi dan
diameter benda uji adalah rata-rata dari 3 kali pengukuran.
Pengukuran berat jenis
a. Timbang benda uji (berat benda uji kering)
b. Masukkan benda uji ke dalan air suhu selama 3-5 menit dan
timbang untuk mendapatkan berat benda ijindalam air
c. Angkat benda uji dari dalam air, selimuti dengan kain yang dapat
menyerap air lalu timbang (berat benda uji kondisi jenuh-kering
permukaan/SSD). Proses pengambilan dari dalam air dan
menyelimuti benda uji dengan kain serta penimbangan sebaiknya
dilakukan tidak lebih dari 30 detik
d. Berat Jenis Curah benda iji adalah berat benda uji kering/ berat
benda uji kondisi jenuh kering permukaan-berat benda uji dalam
air
Pengukuran stabilitas dan flow
a. Rendam benda uji dalam bak perendam selama 30-40 menit
dengan suhu tetap
b. Kelurakan benda uji dari bak perendam dan letakkan ke dalam
proving ring. Proses pengangkatan benda iji dari bak perendam
sampai terjadi beban maks tidak boleh melebihi 30 detik
c. Pasang proving ring keseluruhan dan letakkan pada mesin penguji
d. Pasang arloji pengukur pelelehan (flow) dan atur kedudukannya
e. Naikkkan kepala penekan beserta benda ujinya hingga menyentuh
alas cincin penguji, sebelum pembebanan diberikan
f. Berikan pembebanan pada benda uji denga kecepatan tetap sampai
pembebenan maks tercapai atau pembebanan menurun seperti
ditunjukka oleh jarum arloji tekan dan catat pembebanan
maksimum
g. Catat nilai flow pada saat pembebanan maksimum tercapai
43
Gambar 6.14 proses pengujian Marshall
Tahap perhitungan
a. Perhitungan Bulk Spsific Gravity Agregat=
b. Perhitungan Effective Specific Gravity Campuran =
c. Perhitungan Bulk Specific Gravity Campuran =
d. Berat Benda Uji Maksimum Campuran Teoritis (Max. Theoretical
Specific Gravity)=
44
e. Volume Benda Uji (Campuran)=
f. Berat Isi Banda Uji (Campuran)=
()
g. Perhitungan total rongga dalam campuran (VIM)
h. Perhitungan jumlah rongga dalam agregat (VMA, Void in the
Mineral Agregat )=
( )
i. Rongga terisi aspal (VFA, Void Filled with Asphalt)=
( )
Analisis data
Koreksi nilai stabilitas perlu dilakukan jika tinggi benda uji tidak sama
dengan 63,5 mm (2,5) dengan mengggunakan table koreksi
Hitung nilai rata-rata yang mewakili setiap nilai kadar aspal untuk nilai
stabilitas, flow, stabilitas/flow, berat isi campuran,VIM,VMA,VFA
Buat grafik untuk masing-masing stabilitas, flow, stabilitas/flow, berat isi
campuran,VIM,VMA,VFA. Kecenderungan yang umum pada garfik:
Nilai stabilitas naik dengan bertambahnya kadar aspal dan akan
mencapai puncaknya pada suatu kadar aspal tertentu. Setelah itu
pertambahan kadar aspal akan mernurunkan nilai stabilitas
Nilai flow akan naik sesuai pertambhan kadar aspal
Kurva untuk berat isi campuran kecenderungannya sama dengan
kurva untuk stabilitas, tetapi biasanya (tidak selalu) nilai
maksimum untuk berat isi akan diperoleh untuk kadar aspal yang
45
sedikit lebih tinggi daripada kadar aspal untuk stabilitas
maksimum
VIM akan menurun dengan bertambahnya kadar aspal
VMA akan turun ke suatu nilai minimum kemudian akan naik
lagi sesuai dengan pertambahan kadar aspal
stabilitas, flow, stabilitas/flow, berat isi
campuran,VIM,VMA,VFA
VFA akan naik sesuai dengan pertmbahan kadar aspal, karena
VIM terisi oleh aspal.
Isi benda uji
(cm)
3
Tebal benda
uji (mm)
Angka
Korelasi
200-213
214-225
226-237
238-250
251-264
265-276
277-289
290-301
302-316
317-328
329-340
341-353
354-367
368-379
380-392
393-405
406-420
421-431
432-443
444-456
457-470
471-482
483-495
496-508
509-522
523-535
536-546
547-559
560-573
25,4
27,0
28,6
30,2
31,8
33,3
34,9
36,5
38,1
39,1
41,3
42,9
44,4
46,0
47,6
49,2
50,8
52,4
54,0
55,6
57,2
58,7
60,3
61,9
63,5
65,1
66,7
68,3
69,9
5,56
5,00
4,55
4,17
3,85
3,57
3,33
3,03
2,78
2,50
2,27
2,08
1,92
1,79
1,67
1,56
1,47
1,39
1,32
1,25
1,19
1,14
1,09
1,04
1,00
0,96
0,93
0,89
0,86
46
574-585
586-598
599-610
611-625
71,4
73,0
74,6
76,2
0,83
0,81
0,78
0,76
Tabel 6.1 Koreksi Nilai Stabilitas berdasarkan benda uji
F. DATA DAN PERHITUNGAN
1. DATA
Campuran agregat yang di pakai:
Split 18,88 %
Screen 20,37 %
Abu batu 60,75 %
Kadar aspal W1 W2 W3 W4 W5 W6
% gr gr gr gr gr gr
4 3488.8 4588.8 1100 45.8 1145.8 4634.6
4.5 3762 4833.4 1071.4 50.5 1121.9 4883.9
5 3174.9 4255.6 1080.7 56.9 1137.6 4312.5
5.5 3173.5 4243.3 1069.8 62.3 1132.1 4305.6
6 3453.5 4521.3 1067.8 68.2 1136.0 4589.5
6.5 3174.6 4249.4 1074.8 74.7 1149.5 4324.1
6.5 3763.8 4846.5 1082.7 75.3 1158.0 4921.8
7 3176.7 4248.5 1071.8 80.7 1152.5 4329.2
Tabel 6.2 data benda uji
Keterangan:
W1 = Berat Wajan
W2 = Berat Wajan + Agregat
W3 = Berat Agregat
W4 = Berat Aspal
W5 = Berat Agregat + Aspal
W6 = Berat Wajan + Agregat + Aspal
47
Kadar
Aspal
Berat
Diameter Tinggi Stabilitas Flow
Kering Dalam Air SSD
% (gram) (gram) (gram) (cm) (cm)
4 1113,9 586,9 1124 10,13 6,61 116 130
4,5 1102,8 551,9 1113,6 10,19 6,74 95 135
5 1119 581,6 1151,6 10,14 7,38 75 130
5,5 1116 582,6 1124,3 10,18 6,42 178 208,5
6 1138,3 587,2 1151,3 10,14 6,93 140 132
6,5 1144,1 576,1 1165,6 10,15 7,11 114 128
7 1134,6 579,6 1147,6 10,15 6,83 145 218
Tabel 6.3 Data Benda Uji
2. PERHITUNGAN
a. Perhitungan Bulk Gravity Agregat
b. Perhitungan efektif specific gravity agregat
)
46
48
Kadar Aspal
4 4,5 5 5,5 6 6,5
7
c. Perhitungan bulk
spesific gravity campuran
2,07 1,96 1,96 2,06 2,02 1,94
2,00
d. Berat jenis Maksimum
Campuran Teoritis (Max.
Theorotical Specific
Gravity)
2,36 2,34 2,33 2,31 2,30 2,28
2,27
e. Volume Benda Uji
(Campuran) (gram)
537,1 561,7 570 541,7 564,1
589,
5
568
f. Berat isi benda uji
(Campuran)
0,004 0,003 0,003 0,004 0,004
0,00
3
0,00
3
g. Perhitungan Total
Rongga Dalam Campuran
(VIM)
99,83 99,87 99,87 99,83 99,83
99,8
7
99,8
7
h. Perhitungan jumlah
rongga dalam agregat
(VMA)
13,6 18,62 19,04 15,36 17,44 1,13
19,1
3
i. Rongga Terisi Aspal
(VMA)
-634
-
436,3
-
424,5
-
549,9
-
472,4
-
372,
6
-
422,
06
Tabel 6.4 Perhitungan Data
49
Sampel Kadar
t
Berat
v
SGC
No
Aspal
(%) Kering
Dalam
Air SSD bulk Max SG
(%) (mm) (gram) (gram) (gram) (cc)
A1 4 66,1 1113,9 586,9 1124 537,40 2,07 2,36
A2 4,5 67,4 1102,8 551,9 1113.6 561,70 1,96 2,34
A3 5 73,8 1119 581,6 1151,6 570,00 1,96 2,33
A4 5,5 64,2 1116 582,6 1124,3 541,70 2,06 2,31
A5 6 69,3 1138,3 587,2 1151,3 564,10 2,02 2,30
A6 6,5 71,1 1144,1 576,1 1165,6 589,50 1,94 2,28
A7 7 68,3 1134,6 579,6 1147,6 568,00 2,00 2,37
Rata2
2,00 2,31
Tabel 6.5 Perhitungan Data
Sampel Kadar
Berat
isi VIM VMA VFA
Stabilitas
Flow
MQ
no
Aspal
(%)
Bacaan
Dial Stabilitas
Faktor
Koreksi Koreksi
(%) (t/m) % % % kg mm
kg/mm
A1 4 0,004 99,83 13,6 -634 116 296,816 0,941 279,304 1,300
214,849
A2 4,5 0,003 99,87 18,62 -436,3 95 243,082 0,913 221,934 1,350
164,396
A3 5 0,003 99,87 19,04 -424,5 75 191,907 0,795 152,566 1,300
117,359
A4 5,5 0,004 99,83 15,36 -549,9 178 2,180 0,983 447,716 2,085
214,732
A5 6 0,004 99,83 17,44 -472,4 140 358,226 0,878 314,523 1,320
238,275
A6 6,5 0,003 99,87 21,13 -372,4 114 291,699 0,836 243,860 1,280
190,516
A7 7 0,003 99,87 19,13 -442,06 145 371,02 0,890 330,208 2,180
151,472
Rata2 0,0034 99,85 17,76 -475,94 284,302 1,545
184,51
Tabel 6.6 Analisis Rongga dan Stabilitas
50
Grafik 2: Kadar Aspal dan Stabiliti
Grafik 3: Kadar Aspal dan Flow
0.000
50.000
100.000
150.000
200.000
250.000
300.000
350.000
400.000
450.000
500.000
4 4.5 5 5.5 6 6.5 7
A
x
i
s
T
i
t
l
e
Kadar Aspal dan Stabiliti
kadar aspal dan stabiliti
0.000
0.500
1.000
1.500
2.000
2.500
4 4.5 5 5.5 6 6.5 7
A
x
i
s
T
i
t
l
e
Kadar Aspal dan Flow
kadar aspal dan flow
51
Grafik 4: Kadar Aspal dan VI M
Grafik 5: Kadar Aspal dan VMA
99.805
99.810
99.815
99.820
99.825
99.830
4 4.5 5 5.5 6 6.5 7
Kadar Aspal dan VIM
kadar aspal dan VIM
0.000
5.000
10.000
15.000
20.000
25.000
4 4.5 5 5.5 6 6.5 7
Kadar Aspal dan VMA
kadar aspal dan VMA
52
Grafik 6: Kadar Aspal dan VFA
Grafik 7: Kadar Aspal dan MQ
G. KESIMPULAN
Dari pratikum yang dilaksanakan didapatkan data:
1. Bulk specific gravity campuran yang diperoleh adalah 2,00
2. Berat jenis maksimum campuran teoritis (max SG) = 2,31
3. Marshall Quotient yang diperoleh 184,51 kg/mm
4. Berat benda uji dalam air kurang lebih setengah dari berat kering
ataupun berat SSD.
-700.000
-600.000
-500.000
-400.000
-300.000
-200.000
-100.000
0.000
4 4.5 5 5.5 6 6.5 7
Kadar Aspal dan VFA
kadar aspal dan VFA
0.000
50.000
100.000
150.000
200.000
250.000
300.000
4 4.5 5 5.5 6 6.5 7
Kadar Aspal dan MQ
kadar aspal dan MQ
53
5. Berat isi rata-rata = 0,0034 t/m
6. - VIM rata rata = 99,85 %
7. VMA rata rata = 17,76 %
8. VFA rata rata = 475,94 %
H. DAFTAR PUSTAKA
Sukirman, [Link] Lentur Jalan [Link]: Penerbit
Nova
Sukirman, [Link] Aspal Campuran [Link]: Granit
[Link], [Link] Bahan Bangunan [Link]: Teknik sipil
UNP
[Link] dan Struktur Jalan [Link]: Biro
Penerbit
Wignal,Arthur, Peter S. Kendrik, Roy Ancil, Malcolm
[Link] Jalan ( Teori dan Praktek) . Jakarta: Erlangga
SNI 03-1737-1989
[Link]
Beton-Aspal-Panas-Berbasis-Spesifikasi-Lama
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
ual=high&fname=/jiunkpe/s1/sip4/2000/jiunkpe-ns-s1-2000-21495132-
[Link]
54
REKAPITULASI DATA HASIL PRAKTIKUM PERKERASAN JALAN
RAYA
1. Analisis Saringan Agregat ( Sieve Analisis )
Persentase gradasi Agregat yang didapatkan adalah :
1. Split = 19,5 %
2. Screen = 18,5 %
3. Abu batu = 63 %
2. Pengujian Kelekatan Agregat Pada Aspal ( Affinity For Bitumen )
No. Pengamat Hasil Pengamatan/Kelekatan (%)
1
2
3
4
5
A
B
C
D
E
99
99
98
99
98
Rata- rata 98,6
Perhitungan :
= 98,6
3. Pengujian Penetrasi Aspal ( Penetration Of Bituminous Materials )
No
Penetrasi pada suhu
25
o
C
Pengamatan
Suhu Ruang Waterbath
1 Abdul Arif 325-400=75 395-485=90
2 Kiki Rizky Amalia 323-407=84 362-465=103
3 Rahmat Herwandi 390-467=77 370-476=106
4 Wandika Andi Putra 005-070=65 390-495=105
5 Zuancher 380-455=75 380-485=105
Rata-rata 75,2 101,8
55
Perhitungan
a. Rata-rata Penetrasi yang pada suhu ruang
=
= 75,2
b. Rata-rata Penetrasi yang direndam dalam waterbath
=
= 101,8
4. Pengujian Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat
AGREGAT PROPORSI BERAT JENIS Penyerapan air
mm % SSD BULK APPARENT %
Split >4.75 99,912 2,518 2,4282 2,688 3,703
<4.75 0,088
Screen >4.75 99,971 2,391 2,3129 2,509 3,387
<4.75 0,029
Ab >2.36 60,407 2,479 2,326 2,747 6,598
<2.36 39,593 2,411 2,142 2,928 12,5
5. Keausan Agregat Dengan Alat Abrasi Los Angeles ( Los Angeles Abration
Test )
W1 = 4996,2 gr
W2 = 4162,2 gr
W1-W2= 4996,2-4162 = 834 gr
Keausan =
= 16,693 %
= 16,7%
56
6. Merancang Campuran Beraspal, Membuat Benda Uji, dan Pemeriksaan
Benda Uji Serta Evaluasi Hasil Rancangan
Sampel Kadar
t
Berat
v
SGC
No
Aspal
(%) Kering
Dalam
Air SSD bulk Max SG
(%) (mm) (gram) (gram) (gram) (cc)
A1 4 66,1 1113,9 586,9 1124 537,40 2,07 2,36
A2 4,5 67,4 1102,8 551,9 1113.6 561,70 1,96 2,34
A3 5 73,8 1119 581,6 1151,6 570,00 1,96 2,33
A4 5,5 64,2 1116 582,6 1124,3 541,70 2,06 2,31
A5 6 69,3 1138,3 587,2 1151,3 564,10 2,02 2,30
A6 6,5 71,1 1144,1 576,1 1165,6 589,50 1,94 2,28
A7 7 68,3 1134,6 579,6 1147,6 568,00 2,00 2,37
Rata2
2,00 2,31
Analisis rongga dan stabilitas
Sampel Kadar
Berat
isi VIM VMA VFA
Stabilitas
Flow
MQ
no
Aspal
(%)
Bacaan
Dial Stabilitas
Faktor
Koreksi Koreksi
(%) (t/m) % % % kg mm
kg/mm
A1 4 0,004 99,83 13,6 -634 116 296,816 0,941 279,304 1,300
214,849
A2 4,5 0,003 99,87 18,62 -436,3 95 243,082 0,913 221,934 1,350
164,396
A3 5 0,003 99,87 19,04 -424,5 75 191,907 0,795 152,566 1,300
117,359
A4 5,5 0,004 99,83 15,36 -549,9 178 2,180 0,983 447,716 2,085
214,732
A5 6 0,004 99,83 17,44 -472,4 140 358,226 0,878 314,523 1,320
238,275
A6 6,5 0,003 99,87 21,13 -372,4 114 291,699 0,836 243,860 1,280
190,516
A7 7 0,003 99,87 19,13 -442,06 145 371,02 0,890 330,208 2,180
151,472
Rata2 0,0034 99,85 17,76 -475,94 284,302 1,545
184,51
57
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan:
Analisis Saringan Agregat ( Sieve Analisis )
Persentase dari split 19,5%, screen = 18,5 % dan abubatu = 63 %.
Berdasarkan susunan dari butiran agregat tersebut kurang baik untuk
perkerasan jalan, karena persentase abubatu yang terlalu banyak. Dari hal
itu, dapat kita simpulkan bahwa Semakin kecil nilai kumulatif tertahan (%)
maka semakin besar nilai kumulatif lolos (%) dan nilai fullernya.
Pengujian Kelekatan Agregat Pada Aspal ( Affinity For Bitumen )
Agregat yang masih terselimuti oleh aspal setelah direndam selama 16 jam
sebanyak 98.6%. Ini berarti aspal memiliki daya lekat yang baik terhadap
agregat.
Pengujian Penetrasi Aspal ( Penetration Of Bituminous Materials )
1. Nilai Penetrasi pada suhu ruang adalah : 75,2
2. Nilai Penetrasi pada sampel yang direndam pada waterbath adalah:
101,8
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa aspal yang digunakan
tergolong dalam aspal yang keras. Karena aspal pada suhu ruang nilai
penetrasinya 75,2 yang memasuki standart SNI 06-2456-1991 yaitu 60
79. Sedangkan aspal yang direndam di waterbath nilai penetrasinya adalah
101,8, yang berarti rendaman tersebut membuat aspal lebih aspal lunak
dan psikositasnya lebir rendah dibandingkan pada suhu ruang.
Pengujian Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat
Pada agregat kasar > 4,75mm (split dan screen), perbedaan antara berat
jenis SSD,Bulk dan Apperent tidak jauh berbeda.
58
Pada agregat kasar < 4,75mm (split dan screen), tidak dilakukan pratikum,
karena jumlah agregatnya < dari 10%, yaitu untuk split 0,088% dan untuk
screen hanya 0,029 % dari berat total agregat.
Penyerapan air pada Split 3,703 %, sedangkan penyerapan air pada split
3,387%, yang tidak jauh berbeda.
Berat jenis pada abubatu >2,36 mm,SSD = 2,479, Bulk = 2,2362, Apperent
= 2,747 sedangkan pada < 2,36 mm,SSD = 2,411, Bulk = 2,142, Apperent
= 2,928. Yang tidak jauh berbeda.
Penyerapan air pada abubatu memiliki perbedaan yangcukup signifikan
yaitu abubatu>2,36 mm =6,598% sedangkan abubatu<2,36mm =12,5%.
Keausan Agregat Dengan Alat Abrasi Los Angeles ( Los Angeles Abration Test)
Setelah melakukan pratikum ini, maka didapatkan Angka Keausan adalah
16,7 % dengan menggunakan 12 buah bola baja. Nilai Keausan berada
dibwah 20%, maka dapat kita simpulkan bahwasannya agregat cukup
bagus untuk menahan Keausan, yang berarti Nilai Keausan memenuhi
standar ketetapan atau yang diharapkan.
Merancang Campuran Beraspal, Membuat Benda Uji, dan Pemeriksaan Benda Uji
Serta Evaluasi Hasil Rancangan
Bulk specific gravity campuran yang diperoleh adalah 2,00
Berat jenis maksimum campuran teoritis (max SG) = 2,31
Marshall Quotient yang diperoleh 184,51 kg/mm
Berat benda uji dalam air kurang lebih setengah dari berat kering ataupun
berat SSD.
Berat isi rata-rata = 0,0034 t/m
VIM rata rata = 99,85 %
VMA rata rata = 17,76 %
VFA rata rata = 475,94 %
59
DAFTAR PUSTAKA
Sukirman, [Link] Aspal Campuran [Link]: Granit
Wignal,Arthur, Peter S. Kendrik, Roy Ancil, Malcolm
[Link] Jalan ( Teori dan Praktek) . Jakarta: Erlangga
[Link], [Link] Bahan Bangunan [Link]: Teknik sipil
UNP
[Link] dan Struktur Jalan [Link]: Biro
Penerbit
Sukirman, [Link] Lentur Jalan [Link]: Penerbit
Nova
SNI 03-1968-1990
SNI 03-2439-1991
SNI 06-2456-1991
SNI 03-1969-2008
SNI 03-2417-1991
SNI 03-1737-1989
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Aspal
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
60
[Link]
dan_30.html
[Link]
gravity-dan-penyerapan-agregat-halus-2/
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Beton-Aspal-Panas-Berbasis-Spesifikasi-Lama
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
ual=high&fname=/jiunkpe/s1/sip4/2000/jiunkpe-ns-s1-2000-21495132-
[Link]