Teknik Akses Jamak dan Spread Spectrum
Teknik Akses Jamak dan Spread Spectrum
( Base Station ) untuk dapat diakses oleh beberapa titik yang saling berjauhan ( Subriber Station ) dengan tidak saling mengganggu. Fungsi Multiple Accesss: Digunakan untuk mengorganisasi user dalam memberikan komunikasi yang bebas interferensi Menyalurkan beberapa informasi secara serentak dalam satu spektrum. Jenis multiple access 1. FDMA (frequency division multiple accesss ): 2. TDMA (time domain multipel accesss) : 3. CDMA (code domain multiple accesss) FDMA Masing-masing pengguna menggunakan frekuensi tertentu (privat) dalam proses komunikasinya, tiap kanal pembicaraan dibedakan berdasarkan pembagian frekuensi. Tiap-tiap kanal menempati satu frekuensi dengan lebar band 30 KHz. Jadi hanya satu pemakai yang dapat memakai kanal frekuensi tersebut dalam setiap waktunya.
TDMA Masing-masing pengguna menggunakan frekuensi khusus namun hanya selama time slot [Link] telah melampaui time slotnya maka frekuensinya akan digunakan oleh yang lain, Sedangkan pada sistem TDMA menerapkan pembagian waktu untuk meningkatkan kapasitas sistem. Satu kanal frekuensi dibagi lagi menjadi beberapa time slot sehingga kapasitas sistem lebih meningkat. TDMA diterapkan antara lain pada seluler GSM dimana satu band frekuensi dibagi menjadi delapan time slot.
CDMA Untuk membedakan pengguna yang satudengan pengguna yang lain menggunakan code yang tertentu yang berbeda-beda dalam sinyal yang sama (waktu dan frekuensi yang sama),interferensi terjadi karena pengguna yang banyak yang saling [Link] pemakai seluler memakai frekuensi pancar yang sama dengan lebar band 1,25 MHz dimana masingmasing kanal dibedakan oleh kode unik tertentu.
CDMAOne CDMAone berbeda dengan teknologi 2G lainnya karena teknologi ini berbasis Code Division Multiple Access (CDMA). Teknologi ini meningkatkan kapasitas sesi peneleponan dengan menggunakan sebuah metode pengkodean yang unik untuk setiap kanal frekuensi yang digunakannya. Dengan adanya sistem pengkodean ini, maka lalu-lintas dan alokasi waktu masing-masing sesi dapat diatur. Frekuensi yang digunakan pada teknologi ini adalah 800 MHz. Namun, terdapat varian lain yang berada di frekuensi 1900 MHz. Teknologi CDMAOne Spread spectrum adalah sebuah metode komunikasi dimana semua sinyal komunikasi disebar di seluruh spektrum frekuensi yang tersedia. Pada awalnya dikembangkan untuk kepentingan militer dan intelejen. Ide dasarnya adalah untuk menyebarkan sinyal informasi melalui bandwidth yang lebih luas untuk mencegah dilakukannya pencegatan informasi dan gangguan-gangguan lainnya. Istilah spread spectrum digunakan karena pada sistem ini sinyal yang ditransmisikan memiliki bandwidth yang jauh lebih lebar dari bandwidth sinyal informasi (mencapai ribuan kali). Proses penebaran bandwidth sinyal informasi ini disebut spreading. Spread spectrum jenis pertama yang dikembangkan dikenal dengan nama frequency hopping atau lompatan frekuensi. Versi yang terbaru adalah direct squence spread spectrum. Kedua teknik ini dipergunakan dalam berbagai produk jaringan nirkabel. Selain itu juga untuk berbagai aplikasi lainnya, seperti telepon nirkabelt (cordless telephone).
1. 2. 3.
Sebuah sistem spread-spectrum harus memenuhi kriteria sebagai berikut : Sinyalnya membutuhkan bandwidth yang besar untuk mengirimkan informasi. Spreading signal atau disebut code signal merupakan data independen. Pada receiver, despreading dilakukan dengan menyesuaikan spread sinyal yang diterima dengan replika sinkronisasi dari spread sinyal informasi.
Sinyal spread spectrum digunakan untuk: 1. Menghilangkan atau menekan efek interferensi detrimental pada jamming, interferensi dari user lain pada kanal dan interferensi karena multipath propagasi. 2. Menyembunyikan sinyal dengan mentransmisikan pada daya rendah yang tertutup oleh noise. Penyembunyian pesan dibalik noise dilakukan dengan menyebarkan bandwidthnya dengan coding dan transmitting sinyal resultan pada daya rendah. 3. Memberi pesan pribadi tanpa didengar user lain. Hal ini dilakukan dengan superimposing pola pseudo-random dalam pentransmisian pesan. Pesan dapat didemodulasi oleh receiver yang dimaksud, yang mengetahui pola pseudo-random atau kode yang digunakan transmiter, sedangkan receiver lain yang tidak mengetahui kode ini tidak dapat menerima pesan tersebut. Pada aplikasi lain selain untuk komunikasi, spread spectrum signal digunakan untuk menghasilkan perhitungan time delay yang akurat dan rata-rata kecepatan pada radar dan navigasi.
Frequency Hoping diperoleh dengan merubah-rubah frekuensi pembawa berdasarkan waktu dengan pola yang mendekati acak, pseudo random. Sedangkan CDMA diperoleh dengan memodulasi sinyal informasi dengan spreadingsequence yang dikenal sebagai pseudo noise (PN) sinyal digitalyang menjadikan sinyal informasi berpita lebar dan berbentuk seperti derau (noise).
Bentuk spektrum sinyal Frequency Hoping (atas) dan CDMA (bawah). Frequency Hopping Spread Spectrum merupakan teknik spread spectrum yang menggunakan teknik lompatan frekuensi yang berubah-ubah pada sinyal carrier untuk membawa suatu data informasi. Sinyal carrier atau sinyal pembawa mengubah-ubah frekuensi, atau melompat menurut urutan yang bersifat pseudorandom. Urutan pseudorandom ini digunakan sebagai suatu daftar beberapa frekuensi ke arah mana pembawa akan melompat pada suatu interval waktu yang ditetapkan sebelum terjadi pengulangan pola tersebut. Transmiter menggunakan urutan lompatan ini untuk memilih frekuensi pemancarnya. Apabila daftar frekuensi tersebut telah terpakai semua, maka transmiter atau pemancar akan mengulangi urutan tersebut.
Blok diagram FHSS. Karena kompleksnya teknologi yang digunakan pada FHSS maka perlu dibuat standarisasi aturan. IEEE mengeluarkan standarisasi operasi yang meliputi beberapa kategori sistem di antaranya : - Band Frekuensi - Hop Sequences - Dwell Time - Hop time Keempat parameter tersebut perlu diatur dan distandardkan agar seluruh sistem yang memanfaatkan teknologi FHSS ini dapat saling kompetibel dan bisa digunakan antara yang satu dengan yang lain.
Hop Sequence
Untuk menentukan saluran yang digunakan pada FHSS menggunakan hop sequence. Frekuensi hopping bekerja menggunakan hop pattern yang disebut dengan channel. Berikut analogi dari teknik FHSS, dimana pada tiap periode waktu tertentu sinyal carrier akan mengalami perubahan frekuensi.
Dari frekuensi di atas yang dimiliki dimungkinkan terdapat pembagian frekuensi hingga 79 sinkronisasi (2.401 GHz 2.479 GHz dengan masing-masing kanal 1 MHz), dimana dengan system sebanyak ini setiap frekuensi hopping radio membutuhkan sinkronisasi dengan yang lain tanpa adanya interferensi. Frequency hopping system secara tipikal menggunakan 26 pola lompatan sesuai standar dari FCC. Berikut contoh sederhana untuk membantu kita memperjelas maksud hop sequence. Pada gambar di bawah ini memperlihatkan suatu frequency hopping system yang menggunakan urutan lompatan (hop sequence) sebanyak 5 frekuensi pada suatu band yang berukuran 5 MHz. Dalam contoh ini urutannya adalah: 1. 2.449 GHz 4. 2.450 Ghz 2. 2.452 GHz 5. 2.451 Ghz 3. 2.448 GHz
Setelah radio memancarkan informasi pada pembawa 2.451 GHz, radio tersebut akan mengulang hop sequence (urutan lompatan), kemudian dimulai lagi dari frekuensi 2.449 GHz.
Dwell Time Dalam FHSS kita tahu bahwa frekuensi dari carrier akan berpindah-pindah atau melompatlompat dari frekuensi yang satu ke frekuensi yang lain. Penempatan carrier pada suatu frekuensi memiliki waktu tertentu. Waktu inilah yang dinamakan dwell time. Atau dengan kata lain, dwell time merupakan rentang lamanya waktu yang diperlukan oleh sistem untuk menempati suatu kanal tertentu, sehingga carrier masih akan berada pada suatu frekuensi tertentu selama jangka waktu yang ditetapkan. Ketika dwell time habis, sistem akan berganti ke frekuensi yang berbeda dan memulai untuk mengirim lagi. Hop Time Pada saat suatu frequency hopping radio melompat dari frekuensi A ke frekuensi B maka ia harus mengubah frekuensi pancar dalam salah satu dari dua cara yaitu, radio tersebut harus beralih ke suatu rangkaian yang berbeda yang telah diselaraskan dengan frekuensi baru tersebut, atau ia harus mengubah sebagian elemen dari rangkaian yang ada untuk menyelaraskan dengan frekuensi baru tersebut. Pada tiap cara, proses peralihan ke frekuensi baru harus tuntas sebelum transmisi dapat dijalankan kembali, dan perubahan ini membutuhkan waktu karena adanya latensi listrik yang inheren dalam sistem rangkaian. Terdapat sedikit waktu selama perubahan frekuensi ini dimana radio tersebut tidak memancar, yang disebut hop time. Hop time diukur dalam mikrodetik (s) dan dengan dwell time yang relatif panjang yaitu sekitar 100-200 ms, hop time menjadi tidak signifikan. Sistem FHSS 802.11 yang tipikal melompat antar saluran dalam waktu 200-300 s. 2. DS (Direct Sequence) CDMA adalah teknik multiple access yang menggunakan modulasi spread spectrum dari masing-masing akses dengan masing-masing kode yg unik pada spektrum yang sama. Merupakan teknik modulasi dan multiple accesss berdasarkan teknik spread spectrum direct sequence dimana pengiriman sinyal menduduki lebar pita frekuensi melebihi spektrum minimal yang dibutuhkan. Dalam teori dasar telah di jelaskan tentang multiple acces dan modulasi secara umum,sekarang kita akan bahas terkait peng-kode-an. Dalam metode spektrum tersebar, setiap sektor dibedakan dengan Pseudo-noise (PN) atau pseudorandom sequence. Direct Sequence adalah teknik Spread Spectrum paling populer. Sinyal data dikalikan dengan kode Pseudo Random Noise (PN-code). PN-code adalah urutan chips bernilai -1 dan 1 (polar) atau 0 dan 1 (non-polar). Jumlah chip dalam satu kode disebut periode kode. PN-code adalah kode yang menyerupai noise (noise-like code) dengan properti properti tertentu.
Ada beberapa kelas binary (2-phase) PN-codes: M-sequences (base), Gold-codes dan Kasami-codes. PN-code dapat dibuat dengan satu atau lebih shiftregisters. Jika panjang dari shiftregister adalah n, secara umum periode N dapat dinyatakan sbb: N = 2n -1 Dalam kasus paling sederhana, PN-code dikalikan dengan satu bit data (lihat gambar, dalam contoh ini N = 7). Bandwidth sinyal data dikalikan dengan faktor N, faktor ini disebut sebagai processing gain.
Pada uraian ini yang dibahas adalah jenis direct-spreading (DS), yang mempunyai proses sebagai berikut. Pada sisi pancar, sinyal dengan laju bit rendah (misalnya 9,6 kbps), pertama kali dimodulasikan digital secara BPSK. Kemudian sinyal BPSK ini dikalikan dengan deretan kode PN (pseudo-noise) yang memiliki laju bit tinggi (misalnya 1,2288 Mbps). Pada proses perkalian tersebut terjadi penyebaran energi pada pita frekuensi yang besar. Sinyal tersebar ini kemudian dimodulasi dengan pembawa RF tertentu dan kemudian dipancarkan. Pada sisi terima, sinyal didemodulasi dan mendapat kembali sinyal tersebarnya. Kemudian sinyal ini di despread dengan mengalikannya dengan deretan kode PN yang sama seperti pada sisi kirim. Sinyal yang telah di despread ini kemudian dilewatkan pada demodulator sinyal BPSK untuk memperoleh sinyal digital asal. Kedua proses tersebut diatas dilukiskan secara diagram blok yang ditunjukkan pada Gambar dibawah ini
(a)
(b)
Diagram blok sistem CDMA (a) sisi kirim, (b) sisi terima.
Pada sisi kirim nampak, bahwa sinyal carrier pada proses modulasi BPSK adalah Accosct, sedang sinyal pseudonoise yang biasa disebut chip, adalah c(t) yang mempunyai laju bit sebesar Rc. Nilai yang diambil untuk Rc umumnya >> Rb. Dengan keseluruhan proses pada sisi kirim tersebut, sinyal keluarannya yang disebut sebagai BPSK-DS-SS mempunyai persamaan sebagai,
s(t) = Ac m(t).c(t).cosct
.....................................
(1)
Karena m(t) dan c(t) adalah sebagai fungsi waktu, maka sinyal s(t) tersebut dapat dibuktikan mempunyai spektrum yang relatif sangat lebar sehingga daya didistribusikan atau disebarkan sepanjang bandwidth tersebut seperti ditunjukkan pada Gambar-3. Pada Gambar-3 nampak, bahwa lebar pita sinyal m(t) ditunjukkan sebagai Bs ( 2Rb ) yang mempunyai rapat spektral (power spectral density, PSD), P (watt/Hz). Sementara sinyal s(t) mempunyai lebar pita sebesar Bss dengan nilai PSD yang sebanding dengan nilai Bs/Bss. Lebar pita frekuensi ini lebih banyak ditentukan oleh laju bit sinyal pseudonoise. Sebagai contoh misalnya, bila Rb = 9,6 kb/s dan Rc = 9,6 Mchip/s, maka lebar pita frekuensi sinyal BPSK-DS-SS adalah, BT 2Rc = 19,2 MHz. Dengan data itu juga, maka PSD sinyal s(t) direduksi sebesar (9,6 Mchip/s)/(9,6 kb/s) = 1000 x atau 30 dB.
Pada sisi terima, terjadi proses sebaliknya, yaitu proses despreading dan demodulasi BPSK. Tetapi sinyal yang menjadi input receiver tidak hanya sinyal s(t) saja, melainkan bersama sinyalsinyal interferensi yang disebut sebagai sinyal jamming dari transmitter yang lain. Sehingga sinyal yang diterima adalah, r(t) = s(t) + nj(t). Selanjutnya, sinyal r(t) di despread dengan sinyal c(t) yang sama dari generator yang mendapat sinkronisasi dari generator pada sisi kirim. Sinyal nj(t) mempunyai lebar pita relatif sempit dan berbentuk sinyal sine-wave yang diasumsikan mempunyai frekuensi sama dengan fc pada situasi jamming yang paling buruk, sehingga sinyal
input pada sisi terima berbentuk, r(t) = Ac m(t).c(t).cosct + Aj..cosct .................... (2)
Disini diasumsikan bahwa, daya sinyal jamming adalah [ Aj2/2 ] relatif terhadap daya sinyal data, [ Ac2/ 2 ]. Dengan memperhatikan diagram blok Gambar-2(b), sinyal keluaran blok despreader adalah, v1(t) = Ac m(t).cosct + Aj..c(t).cosct .................... (3)
Karena c2(t) = ( 1)2 = 1. Sehingga sinyal BPSK-DS-SS sekarang menjadi sinyal BPSKnya sendiri seperti dapat dilihat pada persamaan (3), ditambah sinyal jamming yang mengalami penyebaran daya. Karena mengalami penyebaran daya, maka level sinyal jamming tersebut menjadi seper seribu sesuai contoh soal kasus di atas. Pada input receiver, lebar pita frekuensi sinyal sebesar 2RC, tetapi setelah proses despreading, lebar pita frekuensi sinyal outputnya, yaitu sinyal BPSK, adalah 2RB. Sinyal BPSK ini kemudian dideteksi kembali menjadi sinyal data aslinya. Untuk sinyal jamming sendiri, karena levelnya yang rendah dan bandwidthnya yang lebar melalui proses spreading oleh sinyal c(t), maka dengan menggunakan lowpass filter (LPF) seperti ditunjukkan pada Gambar-2(b), sinyal jamming dapat dieliminasi. Nampak pada Gambar2(b), bahwa input LPF menjadi,
......................................
(4a)
dan sinyal selebar 2 fc yaitu sinyal jamming, dieliminasi karena tidak dapat melewati LPF yang mempunyai frekuensi cutoff hanya 2 fb. Daya sinyal jamming pada output receiver tertentu nilainya sebesar,
Pn3 =
Rb
Rb
Aj 1 Aj df = 2 Rc Rc / Rb
2
...........................
(5)
Dengan demikian, receiver SS (spread spectrum) dapat meredam sinyal jamming yang sudah sempit karena LPF, dengan faktor Rc/Rb seperti ditunjukkan pada persamaan (5). Faktor Rc/Rb ini dinamakan processing-gain satu receiver SS. Sehingga dikatakan bahwa receiver SS tersebut mempunyai kemampuan antijam (antijam capability) sebesar Rc/Rb. Dalam contoh soal diatas, nilai tersebut adalah 30 dB.
1. WALSH CODE Walsh code merupakan pengkodean untuk membedakan user satu dg yg lain dlm satu BTS. Pada arah forward (BTS ke MS), kode walsh digunakan untuk menghilangkan interferensi antar kanal antar pengguna dalam sel yang sama, sedangkan pada arah reverse (MS ke BTS), kode walsh digunakan untuk modulasi simbol. Pada arah reverse fungsi walsh tidak digunakan untuk identifikasi panggilan karena setiap MS pada sel yang sama akan mengalami delay yang berbeda-beda karena setiap kode tidak tersinkronisasi pada arah tersebut. Sistem CDMA menggunakan kode walsh dengan panjang 64 bit dimana setiap kode tersebut terdiri dari 64 chips. Kode sebanyak 64 tersebut (Walsh 0 s/d Walsh 63) pada sistem komunikasi, diantaranya : Walsh 0 untuk kanal pilot Walsh 1-7 untuk kanal paging, Isinya berupa informasi parameter system, kapasitas kanal dan SMS. Hanya saja pada kanal paging ini, semua kode tersebut tidak harus digunakan secara keseluruhan, hanya walsh 1 saja yang dedicated untuk paging, sedangkan lainnya menyesuaikan sesuai kebutuhan. Walsh 32 untuk kanal sinkronisasi Walsh 8-31 dan Walsh 33-63 untuk kanal trafik
Kode walsh dibentuk berdasarkan matriks Hammard seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4 dengan menggunakan persamaan
Pembentukan matriks kode walsh berdasarkan pembentukan matriks pada gambar, secara sederhana matriks ini dihasilkan dengan memulai sebuah matriks dengan nilai bit 0, mengulang bit 0 secara horizontal dan vertikal serta membalik (invers) bit 0 tadi menjadi 1 ataupun sebaliknya untuk bit 1 diinvers ke bit 0 secara diagonal. Proses ini akan dilanjutkan dengan membuat blok-blok baru sehingga dihasilkan kode walsh dengan panjang kode yang diinginkan. Kode walsh bersifat ortogonal satu sama lain sehingga kode ini sangat penting untuk menghilangkan interferensi sehingga pengguna yang satu tidak akan mengganggu pengguna yang lain walaupun mereka menggunakan frekuensi yang sama. Suatu kode walsh dikatakan ortogonal dengan kode walsh yang lain apabila kedua kode tersebut memiliki korelasi-silang (cross correlation) sama dengan nol. Korelasi-silang ini diperoleh dengan mengalikan urutan bit kedua kode menggunakan logika XOR. Bila XOR dari kedua kode tersebut menghasilkan jumlah bit 0 dan bit 1 yang sama maka kedua kode tersebut memiliki korelasi-silang nol yang menandakan kode tersebut saling ortogonal. Kode walsh dapat digunakan jika penerima (RX) tersinkronisasi secara waktu dengan pengirim (TX), artinya tidak boleh ada pergeseran antara sandi yang dikirimkan dengan yang diterima walaupun hanya satu chip karena korelasi-silang antara kode walsh yang bergeser dengan kode aslinya tidak lagi akan sama dengan nol. Forward link terdiri dari base station (BS) sebagai pengirim, kanal radio dan mobile station (MS) sebagai penerima. Forward link terdiri dari empat kanal, yaitu : Forward Pilot Channel (FPiCh) Synchronization channel (SyncCh) Forward Paging Channel (FPCh) Forward traffic channel (FTCh)
Setiap carrier CDMA IS-95 memiliki Forward Pilot Channel (FPiCh) yang menggunakan Walsh 0 (W0 ). Kanal ini hanya menyalurkan bit 0, ortogonal dimodulasi oleh deretan PN-I dan PN-Q (kode PN pendek) menggunakan fase PN offset tertentu, yang secara unik mengidentifikasi setiap BTS dalam jaringan. MS mendapatkan forward pilot channel, dikirimkan pada carrier forward link jika BTS menggunakan lebih dari satu frekuensi, untuk menyinkronkan dengan generator PN sequence internal ke sequence. Karena kode walsh disinkronisasi dengan kode PN pendek, MS juga memperoleh kode Walsh hasil sinkronisasi. Setiap BTS pada sistem CDMA mentransmisikan pada satu atau dua frekuensi carrier standar, juga dikenal sebagai carrier primer dan sekunder, yang harus berisi forward pilot channel (FPiCh) dan synchonisation channel (SyncCh). Setelah pemrosesan akuisisi dan SyncCh sukses tersebut, MS dapat mengidentifikasi BTS. SyncCh menggunakan kode Walsh 32 (W32) dan mengirimkan pesan yang berisi data tentang BTS. Informasi ini memungkinkan MS dalam jangkauan layanan BTS tersebut untuk mensinkronkan generator kode PN panjang dan mengidentifikasi offset BTS (pilot PN). Identifikasi BTS terdiri dari sejumlah offset unik, mulai dari 0 hingga 511. Setiap offset merupakan langkah dari 64 chip kode PN pendek, yaitu PN sequence PN-I dan PN-Q. Awal kode Walsh dan sequence ini adalah bersamaan, keduanya menggunakan tingkat transmisi yang
sama 1.2288 Mcps. Semua forward channel ditransmisikan oleh BTS, disinkronisasi dan diproses oleh kode PN pendek setelah aplikasi offset BTS (pilot PN). Carrier secara default juga harus mengirimkan Primary Forward Paging Channel (FPCh), yang menggunakan kode Walsh 1 (W1). FPCh ini digunakan oleh BTS untuk mengirimkan data sistem, seperti paging channel tambahan dan identifikasi operator CDMA yang akan digunakan oleh MS pada kanal forward dan reverse. Data yang ditransmisikan melalui FPChs, MS memberikan semua informasi yang diperlukan untuk mengakses jaringan CDMA. Setiap carrier CDMA dapat berisi sampai tujuh FPCh, menggunakan kode Walsh 1-7. Setiap MS harus dikaitkan ke salah satu FPCh. MS dalam jangkauan layanan dari setiap BTS adalah pseudo-randomly terdistribusi pada FPCh yang tersedia, dengan menggunakan algoritma hash. Semua kode Walsh yang lain digunakan untuk Forward Traffic channels (FTChs), kanal yang digunakan selama panggilan berlangsung. Tabel 5.2 menunjukkan tugas kode Walsh untuk operator primer dan sekunder (setup) pada BTS. Tabel 2 menunjukkan tugas pada tambahan carrier BTS yang sama. Akan menyebabkan proses akuisisi system dilakukan secara eksklusif pada operator setup, tidak perlu untuk memiliki SyncCh pada carrier tambahan. Pada sistem CDMA IS-95 B, langkah pertama dalam evolusi awal dari IS-95, Forward Supplemental Code Channels (FSCChs) ini diimplementasikan untuk meningkatkan kemampuan lalu lintas data. Saluran ini menggunakan kode Walsh yang tersedia untuk saluran lalu lintas dalam sistem sebelumnya (lihat Tabel 5.2 dan 5.3). Sampai tujuh FSCCh dan satu FTCh yang dapat ditempati oleh subscriber, untuk meningkatkan kapasitas data. Tabel 5.2 Kode Walsh assignmen untuk carrier setup primer dan sekunder
Kode Walsh assignment untuk carrier tambahan pada BTS yang sama pada
Forward Pilot Channel (FPiCh) mengirimkan terus urutan bit 0 dalam seluruh waktu menggunakan kode Walsh W0 tidak dimodulasi (1.2288 Mcps) menyediakan referensi phase dan timing ke mobile memberikan kuat sinyal ke mobile untuk akuisisi kanal dipakai ulang disetiap sel dan sektor dengan kode PN pendek yang berbeda
b Synchronization Channel (SyncCh) dapat diterima oleh mobile setelah dapat pilot sinyal bekerja pada 1200 bps mempunyai panjang frame 26.666 ms menggunakan W32 menyediakan informasi timing ke mobil untuk sinkronisasi menyediakan ID sistem dan jaringan menyediakan rate kanal paging
Struktur Kanal Sinkronisasi c Forward Paging Channel (FPCh) digunakan untuk mem-page mobile dan mengirimkan informasi sistem melalui kanal 1-7 tergantung pada beban trafik bit rate 9600 atau 4800 bps panjang frame 80 ms, messages dapat menduduki beberapa slot (1-4) menggunakan kode Walsh W1-W7 mengirimkan pesan parameter sistem : informasi registrasi, kelas BS, posisi BS (lintang dan bujur), threshold power control mengirimkan pesan parameter akses : jumlah kanal akses, persyaratan daya akses, jumlah yang mencoba akses, info authentication membawa page untuk mobile membawa penentuan kanal untuk kanal trafik ke mobile
d ForwardTraffic Channel (FTCh) Digunakan untuk pengiriman informasi user dan informasi signaling ke MS selama panggilan. BS mengirimkan informasi dalam traffic channel pada bit rate yang bervariasi yaitu 9600,4800, 2400 dan 1200 bps.
Stuktur Kanal Trafik (Rate Set 2) Reverse link Reverse link pada sistem CDMA IS-95, hanya terdapat dua jenis kanal, yaitu : Reverse Access Channel (RACh) dan Reverse Traffic Channel (RTCh). Secara umum, struktur link pada reverse link CDMA IS-95 seperti yang ditunjukkan pada Gambar ini:
MS menggunakan Reverse Access Channel (RACh) untuk mengakses sistem. Akses ini mungkin asal sebuah panggilan atau respon transmisi terhadap pesan tertentu, atau perintah yang dikirim oleh server BTS. Setiap RACh unik terkait dengan suatu FPCh, total 32 Rachs per FPCh. Dalam percakapan, yaitu selama panggilan, MS menggunakan Reverse Traffic Channel (RTCh). Traffic Channel ditetapkan ke BTS, pada arah forward dan reverse, didefinisikan oleh sistem. Informasi ini ditransmisikan ke MS melalui FPCh yang terkait. a Reverse Access Channel (RACh) Ini adalah suatu kanal akses yang random, dipakai oleh mobile untuk mengirim informasi (bukan data user) ke BTS bit rate 4800 bps mask kode panjang PN, terdiri dari nomor kanal akses, identifier BTS, nomor kanal paging yang berkaitan
b Reverse Traffic Channel (RTCh) digunakan untuk membawa data user dan data signalling. Sebuah BTS akan mendukung sampai 61 kanal mendukung transfer data pada 4 level yang berbeda di dalam satu rate set informasi signalling dimultipleks dengan data user mask kode PN panjang digunakan untuk identitas mobil secara unik modulasi ortogonal terdiri dari pengiriman satu dari 64 kemungkinan fungsi Walsh untuk masing-masing group dari 6 buah bit yang dikodekan. Rate output = 307,2 Kbps.
Seperti dalam forward link, evolusi ke CDMA IS-95 B juga terdapat saluran logis baru, Reverse Supplemental Code Channels (RSCChs), dengan fungsi yang sama seperti pada kanal forward. Gambar di bawah menyajikan grafis hubungan antara saluran logis yang digunakan pada sistem CDMA IS-95 A dan IS-95 B
2. Pseudorandom Noise Code (PN code) Pada dasarnya, sistem CDMA menggunakan sistem spread spectrum untuk akses jamak dimana pengiriman sinyal menduduki lebar pita frekuensi melebihi spektrum minimal yang dibutuhkan sehingga dibutuhkan sebuah kode yang mampu menghasilkan spektrum yang lebar sesuai dengan kebutuhan tersebut. Kode yang digunakan untuk proses spreading tersebut adalah kode Pseudorandom Noise (kode PN), seperti pada gambar xx. Pada gambar x, sinyal paling atas adalah bit data. Bit data tersebut dikalikan dengan kode PN yaitu sinyal di tengah yang akan menghasilkan sinyal termodulasi di bagian bawah. Bila bit data bernilai 1 maka sinyal keluaran memiliki bentuk sama dengan kode PN. Bila bit data bernilai 0 maka sinyal keluaran memiliki bentuk berlawanan dengan kode PN.
Proses spreading dengan kode PN Kode PN merupakan rangkaian bit dengan kecepatan tinggi yang bernilai polar dari 1 ke -1 atau non polar 1 ke 0 dan bersifat acak. Kode PN yang mempunyai satuan chip, merupakan sinyal penyebar sinyal informasi dan digunakan untuk membedakan antara kanal pengguna satu dengan yang lainnya. Pemakaian sejumlah chip kode ini dimaksudkan untuk mendapatkan sinyal-sinyal asli dalam bit-bit kecil kode PN. Hal ini dilakukan dengan mengalikan sinyal asli termodulasi dengan kode PN berkecepatan tinggi yang akan membagi sinyal menjadi bit-bit kecil sehingga lebar pita frekuensi menjadi bertambah. Kode PN dihasilkan dengan mengkombinasikan keluaran (output) dari sebuah shift register umpan balik. Sebuah shift register umpan-balik terdiri atas beberapa pengingat dua keadaan yang saling berturutan atau beberapa tingkat penyimpan dan logika umpan balik. Urutan biner digeser sepanjang shift register sebagai tanggapan terhadap pulsa detak (clock). Isi masing-masing penyimpan secara logika dikombinasikan untuk menghasilkan masukan penyimpan pertama. Kondisi awal masing-masing penyimpan logika umpan balik menentukan kondisi-kondisi penyimpan-penyimpan selanjutnya. Penyimpan-penyimpan ini biasanya berupa flip-flop. Sebuah register geser umpan balik dan keluarannya bersifat linear sementara logika umpan balik seluruhnya terdiri atas penjumlah modulo-2.
Keluaran dari generator kode PN dapat dikelompokkan sebagai panjang maksimal (msequence) atau panjang tidak maksimal. Kode PN dengan panjang maksimal tergantung dari jumlah register sebagai penyimpan dimana semakin banyak register maka akan dihasilkan kode dengan panjang yang maksimal. Untuk generator shift register biner, panjang dari m-sequence yang dapat dibuat adalah L = 2n-1 dimana n adalah jumlah penyimpan di dalam register geser dan memiliki periode pengulangan runtun dalam pulsa clock T0 = 2n-1. Jika sebuah shift register umpan-balik menghasilkan urutan kode yang maksimal, maka semua keluarannya yang bukan semuanya nol juga maksimal.
Generator kode PN menggunakan empat shift register Gambar di atas menunjukkan sebuah proses pembangkitan kode PN dengan menggunakan 4 shift register untuk penyimpanan dan penggeseran, sebuah penjumlah modulo-2 Adder berupa logika XOR, jalur umpan balik dari penjumlah ke masukan register dan pulsa clock. Untuk setiap perubahan pulsa clock, isi dari masing-masing penyimpan didalam register digeser satu tingkat ke kanan lalu dijumlahkan dengan menggunakan Modulo-2-Adder. Misalnya, diasumsikan mula-mula isi dari masing-masing shift register secara berturut-turut yaitu X11, X21, X31, X41. Pada saat clock pertama, isi dari register X3 dan X4 dijumlahkan modulo-2 yang menghasilkan bit 1. Keluaran dari modulo-2 kemudian diumpan-balikkan ke X1 dan isi dari register X2, X3 dan X4 bergeser kekanan secara berurut sehingga dihasilkan keluaran bit 1 untuk urutan bit 1111. Selanjutnya, dengan operasi pergeseran, penjumlahan dan pengumpan-balikan akan berulang hingga periode To. Hasil dari proses pemnbangkitan kode tersebut seperti yang terlihat pada Tabel 1 Tabel 1. Urutan kode PN
Clock 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
X1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0
X2 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0
X3 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0
X4 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1
Output 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1
Berdasarkan Tabel di atas terlihat bahwa isi register akan berulang setiap L=2n-1=24-1=15 siklus yang menghasilkan output 111100010011010 dengan bit paling kiri adalah bit paling awal. Dalam runtun keluaran, jumlah keseluruhan bit 0 adalah tujuh, berbeda satu dengan jumlah keseluruhan bit 1 yaitu delapan. Jika sebuah shift register geser umpan-balik memiliki kondisi 0 untuk semua penyimpannya, keluaran selanjutnya akan tetap bernilai nol dan akibatnya keluaran deretan selanjutnya akan bernilai nol. Periode shift register linear dengan n penyimpan tidak dapat melebihi 2n-1 karena jumlah keadaan tidak nol tepat sejumlah 2n-1.
SHORT PN CODE Short PN Code ini digunakan untuk membedakan tiap BTS pada arah forward dan pada arah reverse digunakan untuk quadrature spreading. Kode PN ini digunakan untuk mengidentifikasi dan membedakan cell (sector) dengan offset tertentu (PN Offset). Setiap BTS mempunyai list BTS yang terdekat dengannya, sehingga pada saat terjadi handoff secara otomatis pelanggan tersebut dialihkan ke BTS terdekat yang mencakup wilayah layanannya dengan offset yang berbeda. Kode PN pendek dibangkitkan menggunakan 15 shift register umpan-balik dengan panjang maksimal L = 215 1 = 32.767 chip, yang dimodifikasi untuk menghasilkan deretan chips sepanjang 32.768. Dengan kecepatan spreading sebesar 1,2288 Mcps, deretan kode PN pendek akan berulang dengan periode 26,67 ms. Pada dasarnya, semua BTS menggunakan kode PN pendek yang sama, hanya saja untuk membedakan antar tiap sel digunakan kode PN pendek yang mengalami pergeseran fasa sebesar 64 chips. Pergeseran fasa pada kode ini dikenal dengan istilah PN Offset dengan jumlah PN Offset sebanyak 512 kode. Pergeseran 64 chip merupakan rekomendasi IS-95 dengan perhitungan berdasar pada jarak minimal multipath (yang menghasilkan penerimaan tunda chip pada sisi penerima).
LONG PN CODE Pada dasarnya setiap BTS melayani beberapa pelanggan (user) pada saat yang bersamaan, karena semua user manggunakan frekuensi yang sama sehingga menyulitkan setiap BTS untuk membedakan tiap user. Fungsi utama dari kode PN panjang adalah untuk mengidentifikasi dan membedakan tiap user pada arah reverse, sedangkan pada arah forward digunakan sebagai data scrambling (pengacakan).
Didalam aplikasinya, hanya terdapat 1 kode PN panjang untuk mengidentifikasi setiap kanal pada kanal reverse (access channel, kanal akses dan reverse channel traffic, kanal trafik reverse) pada satu sel dengan offset tertentu. Long Code memiliki 242 unique offsets berdasarkan ESN (Electronic Serial Number), yang berbeda tiap MS dan tidak ditentukan oleh sector. Long Code memiliki panjang chips L=242-1= 4,398x1012 dengan spreading rate yang sama dengan kode PN pendek sebesar 1,2288 Mcps. Dikatakan kode PN panjang karena untuk menghasilkan m-sequence dari sejumlah chipnya memakan waktu sekitar 41 hari, 10 jam, 12 menit, dan 19,4 detik.
ARSITEKTUR NETWORK
PERANGKAT VENDOR / OPERATOR Pada Desember 2002, Flexi hadir sebagai operator CDMA pertama di Indonesia, di bawah pengawasan PT Telkom Indonesia, menggunakan frekuensi 1.900 MHz dengan lisensi FWA (Fixed Wireless Access). Artinya, sistem penomoran untuk tiap pelanggan menggunakan kode area menurut kota asalnya, seperti yang dipergunakan oleh telepon berbasis sambungan tetap dengan kabel milik Telkom. Pada November 2003, PT Radio dan Telepon Indonesia (Ratelindo) berubah nama menjadi PT Bakrie Telecom dan meluncurkan produk esia sebagai operator CDMA kedua berbasis FWA,
yang kemudian diikuti dengan kehadiran Fren sebagai merek dagang PT Mobile-8 Telecom pada Desember 2003, namun dengan lisensi CDMA berjelajah nasional, seperti umumnya operator seluler berbasis GSM. PT Indosat Tbk menyusul kemudian dengan StarOne pada bulan Mei 2004, juga dengan lisensi CDMA FWA. Perangkat yang digunakan: 1. BTS (base transceiver station) o Perangkat yang digunakan sebagai penghubung antara UE dengan network o Vendor : Huawei ZTE Ericssons o Untuk contoh huawei : CDMA BTS 3606E 2. Base Station Controller o BSC Adalah suatu perangkat yang berfungsi sebagai kontrol, manage dari kumpulan BTS dan jembatan antara UE dengan PDSN o Vendor : o Huawei o ZTE o Ericssons o Untuk contoh huawei : BSC6680 V300R008C00 3. HLR (Home Location Register) o HLR Adalah suatu perangkat yang berfungsi sebagai penyimpan rigister-register dari UE yang bersifat permanen. o Vendor : o Huawei o ZTE o Ericssons o Untuk contoh huawei : HLRi 4. MSC (Mobile Switching Center) o berperan untuk inter koneksi hubungan pembicaraan, baik antar pelanggan selularr maupun antar selular dengan jaringan telepon kabel PSTN, ataupun dengan jaringan data o Vendor : o Huawei o ZTE o Ericssons
o Contoh perangkat huawei : CDMA NSS 5. AAA RADIUS o AAA adalah suatu protocol yang berfungsi melakukan authentication, accounting dan authorization o Vendor : o JUNIPER o CISCO o HUAWEI o Untuk contoh juniper: SBR