0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
257 tayangan7 halaman

Definisi dan Prosedur Injeksi

Teks tersebut memberikan penjelasan mengenai injeksi, termasuk definisi, tujuan, dan proses pemberian injeksi. Secara singkat, teks menjelaskan bahwa injeksi adalah prosedur pemberian obat secara parenteral menggunakan jarum suntik untuk mendapatkan efek obat yang cepat, serta menjelaskan berbagai jenis injeksi seperti subkutan, intramuskuler, intravena, dan lainnya beserta cara melakukannya
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
257 tayangan7 halaman

Definisi dan Prosedur Injeksi

Teks tersebut memberikan penjelasan mengenai injeksi, termasuk definisi, tujuan, dan proses pemberian injeksi. Secara singkat, teks menjelaskan bahwa injeksi adalah prosedur pemberian obat secara parenteral menggunakan jarum suntik untuk mendapatkan efek obat yang cepat, serta menjelaskan berbagai jenis injeksi seperti subkutan, intramuskuler, intravena, dan lainnya beserta cara melakukannya
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengertian Injeksi Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus

dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan secara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Pemberian injeksi merupakan prosedur invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan teknik steril. 1.2 Tujuan Injeksi Pada umumnya Injeksi dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat proses penyerapan (absorbsi) obat untuk mendapatkan efek obat yang cepat. 1.3 Indikasi Injeksi biasanya dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. Apabila klien tidak sadar atau bingung, sehingga klien tidak mampu menelan atau mempertahankan obat dibawah lidah. injeksi. !elain itu, indikasi pemberian obat secara injeksi juga disebabkan karena ada beberapa obat yang merangsang atau dirusak getah lambung (hormon), atau tidak direarbsorbsi oleh usus. Pemberian injeksi bisa juga dilakukan untuk anastesi lokal. A. Spuit !puit terdiri dari tabung (barrel) berbentuk silinder dengan bagian ujung (tip) di desain tepat berpasangan dengan jarum hypodermis dan alat pengisap (plunger) yang tepat menempati rongga spuit. !puit, secara umum, diklasifikasikan sebagai "uer #lok atau non"uer$lok. %omenklatur ini didasarkan pada desain ujung spuit. Adapun tipe$tipe spuit yaitu& a) !puit "uer$lok yang ditandai dengan ',( persepuluh b) !puit tuberkulin yang ditandai dengan ','( (seperseratus) untuk dosis kurang dari ( ml c) !puit insulin yang ditandai dalam unit (('') d) !puit insulin yang ditandai dengan unit ()') leh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan obat klien dilakukan denganpemberian obat secara

!puit terdiri dari berbagai ukuran, dari ',) sampai *' ml. +idak la,im menggunakan spuit berukuran lebih besar dari ) ml untuk injeksi !- atau I.. /olume spuit yang lebih besar akan menimbulkan rasa ynag tidak nyaman. !puit yang lebih besar disiapkan untuk injeksi I/. Perawat mengisi spuit dengan melakukan aspirasi, menarik pengisap keluar sementara ujung jarum tetap terendam dalam larutan yang disediakan. Perawat dapat memegang bagian luar badan spuit dan pegangan pengisap. 0ntuk mempertahankan sterilitas, perawat menghindari objek yang tidak steril menyentuh ujung spuit atau bagian dalam tabung, hub, badan pengisap, atau jarum. B. Jarum !upaya individu fleksibel dalam memilih jarum yang tepat, jarum dibingkus secara individual. 1eberapa jarum tudak dipasang pada spuit ukuran standar. 2lebanyakan jarum terbuat sari stainless steel dan hanya digunakan satu kali. 3arum memiliki tiga bagian& hub, yang tepat terpasang pada ujung sebuah spuit4 batang jarum (shaft), yang terhubung dengan bagian pusat4 dan bevel, yakni bagian ujung yang miring. !etiapum memiliki tiga karaktreisrik utama& kemiringan bevel, panjang batang jarum, dan ukuran atau diameter jarum. 1evel yang panjang dan lebih tajam, sehingga meminimalkan rasa ridak nyaman akibat injeksi !- dan I.. Panjang jarum bervariasi dari 5 sampai ) inci. Perawat memilih panjang jarum berdasarkan ukuran dan berat klien serta tipe jaringan tubuh yang akan diinjeksi obat. !emakin kecil ukuran jarum, semakin besar ukuran diameternya. !eleksi ukuran jarum bergantung pada viskositas cairan yang akan disuntikkan atau diinfuskan.

1.5 Proses Injeksi .emberikan injeksi merupaka prosedur invasif yang harus dilakukandengan menggunakan teknik steril. !etelah jarum menembus kulit, muncul resiko infeksi. Perawat memberi obat secara parenteral melalui rute !-, I., I6, dan I/. !etiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan yang tertentu untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat. 7fek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat, bergantung pada kecepatan absorbsi obat. Perawat mengobservasi respons klien dengan ketat. !etiap rute injeksi unik berdasarkan tipe jaringan yang akan diinjeksi obat. 2arakteristik jaringan mempengaruhi absorbsi obat dan awitan kerja obat. !ebelum menyuntikkan sebuah obat, perawat harus mengetahui volume obat yang diberikan, karaktersitik dan viskositas obat, dan lokasi struktur anatomi tubuh yang berada di bawah tempat injeksi. 2onsekuensi yang serius dapat terjadi, jika injeksi tidak diberikan secara tepat. 2egagalan dalam memilih tempat unjeksi yang tepat, sehubungan dengan penanda anatomis tubuh, dapat menyebabkan timbulnya kerusakan saraf atau tulang selama insersi jarum. Apabila perawat gagal mengaspirasi spuit sebelum menginjeksi sebiah obat, obat dapat tanpa sengaja langsung di injkesi ke dalam arteri atau vena. .enginjeksi obat dalam volume yang terlalu besar di tempat yang dipilih dapat menimbulkan nyeri hebat dan dapat mengakibatkan jaringan setempat rusak. 1anyak klien, khususnya anak$anak takut terhadap injeksi. 2lien yang menderita penyakit serius atau kronik seringkali diberi banyak injeksi setiap hari. Peraway dapat berupaya meminimalkan rasa nyeri atau tidak nyaman dengan cara& a) 8unakan jarum yang tajam dan memiliki bevel dan panjang serta ukurannya paling kecil, tetapi sesuai. b) 1eri klien posisi yang nyaman untuk mengurangi ketegangan otot

c) Pilih tempat injkesi yang tepat dengan menggunakan penanda aanatomis tubuh d) 2ompres dengan es tempat injeksi untuk menciptakan anastesia lokal sebelum jarum diinsersi e) Alihkan perhatian klien dari injeksi dengan mengajak klien bercakap$cakap f) h) Insersi jarum dengan perlahan dan cepat untuk meminimalkan menarik jaringan Pijat$pijat tempat injeksi dengan lembut selama beberapa detik, kecuali g) Pegang spuit dengan mantap selama jarum berada dalam jaringan dikontraindikasikan 1.6 Macam-macam injeksi Pemberian obat secara parenteral (harfiah berarti 9di luar usus:) biasanya dipilih bila diinginkan efek yang cepat, kuat, dan lengkap atau obat untuk obat yang merangsang atau dirusak getah lambung (hormone), atau tidak direarbsorbsi usus (streptomisin), begitupula pada pasien yang tidak sadar atau tidak mau bekerja sama. 2eberatannya adalah lebih mahal dan nyeri, sukar digunakan oleh pasien sendiri. !elain itu, adapula bahaya terkena infeksi kuman (harus steril) dan bahaya merusak pembuluh atau saraf jika tempat suntikan tidak dipilih dengan tepat. a. subkutan (hypodermal). Injeksi di bawah kulit dapat dilakukan hanya dengan obat yang tidak merangsang dan melarut baik dalam air atau minyak. 7feknya tidak secepat injeksi intramuscular atau intravena. .udah dilakukan sendiri, misalnya insulin pada penyakit gula. +empat yang paling tepat untuk melakukan injeksi subkutan meliputi area vaskular di sekitar bagian luar lengan atas, abdomen dari batas bawah kosta sampai krista iliaka, dan bagian anterior paha. +empat yang paling sering direkomendasikan untuk injeksi heparin ialah abdomen. +empat yang lain meliputi daerah scapula di punggung atas dan daerah ventral atas atau gloteus dorsal. +empat yang dipilih ini harus bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, dan otot atau saraf besar dibawahnya. bat yang diberikan melalui rute !- hanya obat dosis kecil yang larut dalam air (',) sampai ( ml). 3aringan !- sensitif terhadap larutan yang mengiritasi dan obat dalam volume besar. 2umpulan obat dalam jaringan dapat menimbulkan abses steril yang tak tampak seperti gumpalan yang mengeras dan nyeri di bawah kulit. b. Intrakutan (;di dalam kulit)

Perawat biasanya memberi injeksi intrakutan untuk uji kulit. 2arena keras, obat intradermal disuntikkan ke dalam dermis. 2arena suplai darah lebih sedikit, absorbsi lambat. Pada uji kulit, perawat harus mampu melihat tempat injeksi dengan tepat supaya dapat melihat perubahan warna dan integritas kulit. 6aerahnya harus bersih dari luka dan relatif tidak berbulu. "okasi yang ideal adalah lengan bawah dalam dan punggung bagian atas. c. Intramuskuler (i.m), <ute I. memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada rute !- karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. 1ahaya kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yang dalam tetapi bila tidak berhati$hati ada resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh darah. 6engan injeksi di dalam otot yang terlarut berlangsung dalam waktu ('$=' menit. 8una memperlambat reabsorbsi dengan maksud memperpanjag kerja obat, seringkali digunakan larutan atau suspensi dalam minyak, umpamanya suspensi penisilin dan hormone kelamin. +empat injeksi umumnya dipilih pada otot pantat yang tidak banyak memiliki pembuluh dan saraf. +empat injeksi yang baik untuk I. adalah otot /astus "ateralis, otot /entrogluteal, otot 6orsogluteus, otot 6eltoid. d. Intravena (i.v), Injeksi dalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat dalam waktu (> detik, yaitu waktu satu peredaran darah, obat sudah tersebar ke seluruh jaringan. +etapi, lama kerja obat biasanya hanya singkat. -ara ini digunakan untuk mencapai penakaran yang tepat dan dapat dipercaya, atau efek yang sangat cepat dan kuat. +idak untuk obat yang tak larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah. 1ahaya injeksi intravena adalah dapat mengakibatkan terganggunya ,at$,at koloid darah dengan reaksi hebat, karena dengan cara ini 9benda asing: langsung dimasukkan ke dalam sirkulasi, misalnya tekanan darah mendadak turun dan timbulnya shock. 1ahaya ini lebih besar bila injeksi dilakukan terlalu cepat, sehingga kadar obat setempat dalam darah meningkat terlalu pesat. leh karena itu, setiap injeksi i.v sebaiknya dilakukan amat perlahan, antara )'$?' detik lamanya. e. Intra arteri.

Injeksi ke pembuluh nadi adakalanya dilakukan untuk 9membanjiri: suatu organ, misalnya hati, dengan obat yang sangat cepat diinaktifkan atau terikat pada jaringan, misalnya obat kanker nitrogenmustard. f. Intralumbal (antara ruas tulang belakang pinggang), intraperitoneal (ke dalam ruang selaput perut), intrapleural, intracardial, intra$articular (ke celah$celah sendi) adalah beberapa cara injeksi lainnya untuk memasukkan obat langsung ke tempat yang diinginkan. 1.7 Hal-hal ang !erlu di!erhatikan dalam melakukan injeksi Pemberian obat secara injeksi dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka kita harus memperhatikan beberapa hal berikut ini & a) 3enis spuit dan jarum yang digunakan b) 3enis dan dosis obat yang diinjeksikan c) +empat injeksi d) Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi e) 2ondisi@penyakit klien 1." #ara mencegah in$eksi selama injeksi !alah satu efek yang bisa ditimbulkan dari pemberian obat secara injeksi adalah dapat menimbulkan infeksi. Adapun cara$cara yang dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi selama injeksi dilakukan yaitu & a) b) 0ntuk mencegah kontaminasi larutan, isap obat dari ampul dengan cepat. 3angan biarkan ampul dalam keadaan terbuka 0ntuk mencegah kontaminasi jarum, cegah jarum menyentuh daerah yang terkontaminasi (mis& sisi luar ampul atau vial, permukaan luar tutup jarum, tangan perawat, bagian atas wadah obat, permukaan meja) c) d) 0ntuk mencegah spuit terkontaminasi jangan sentuh badan pengisap (plunger) atau bagian dalam karet (barrel). 3aga bagian ujung spuit tetap tertututp penutup atau jarum. 0ntuk menyiapkan kulit, cuci kulit yang kotor karena kototran, drainase atau feses dengan sabun dan air lalu keringkan. "akukan gerakan mengusap dan melingkar ketika membersihkan luka menggunakan swab antiseptic. 0sap dari tengah dan bergerak keluar dalam jarak dua inci. 1.% &ontra Indikasi

<esiko infeksi dan obat yang mahal. 2lien berulang kali disuntik. <ute !-, I., dan itradermal dihindari pada klien yang cenderung mengalami perdarahan. <esiko kerusakan jaringan pada injeksi !-. <ute I. dan I/ berbahaya karena absorbsinya cepat. <ute ini menimbulkan rasa cemas yang cukup besar pada klien , khususnya anak$anak.

Anda mungkin juga menyukai