100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
574 tayangan31 halaman

Morfologi Bunga dalam Praktikum Botani

Laporan praktikum ini membahas morfologi bunga dengan menjelaskan bagian-bagian bunga dan rumus bunga berdasarkan hasil observasi pada beberapa spesies tumbuhan. Mahasiswa melakukan praktikum untuk mempelajari struktur bunga secara langsung.

Diunggah oleh

Baiquni Al Fikri
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
574 tayangan31 halaman

Morfologi Bunga dalam Praktikum Botani

Laporan praktikum ini membahas morfologi bunga dengan menjelaskan bagian-bagian bunga dan rumus bunga berdasarkan hasil observasi pada beberapa spesies tumbuhan. Mahasiswa melakukan praktikum untuk mempelajari struktur bunga secara langsung.

Diunggah oleh

Baiquni Al Fikri
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM BOTANI

MORFOLOGI BUNGA

Di Susun oleh:
BAIQUNI AL FIKRI

(4442121258)

DEVI ARIANTO

(4442121258)

EGI TRINUGRAHA

(4442120558)

LIKA RUSTIANTI

(4442120558)

MUHTADI

(4442120818)
KELAS 3B

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG-BANTEN
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa,
yang kiranya patut kami selaku penulis ucapkan, karena atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini. Dalam laporan ini kami
menjelaskan mengenai Morfologi Bunga dalam praktikum Botani.

Kami

menyadari, dalam laporan ini masih banyak kesalahan dan

kekurangan. hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan, pengetahuan dan


pengalaman yang kami miliki, namun demikian banyak pula pihak yang telah
membantu kami

dengan menyediakan dokumen atau sumber informasi,

memberikan masukan pemikiran. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran. Demi perbaikan dan kesempurnaan laporan ini di waktu yang akan datang.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kami pada khusunya dan pembaca pada
umumnya.

Serang, 25 November 2013

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
DAFTAR TABEL.............................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................iv
DAFTAR LAMPIRAN.....................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Tujuan Pratikum............................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................3
2.1 Pengertian Bunga...........................................................................................3
2.2 Bagian Bunga................................................................................................3
2.3 Jumlah Bunga Dan Tata Letaknya Pada Suatu Tumbuhan...........................8
2.4 Kelamin Bunga..............................................................................................8
2.5 Tipe Bunga....................................................................................................9
2.6 Simetri Bunga................................................................................................9
2.7 Rumus Bunga..............................................................................................10
2.8 Diagram Bunga............................................................................................12
BAB III METODE PRATIKUM...................................................................13
3.1 Waktu dan Tempat......................................................................................13
3.2 Alat dan Bahan............................................................................................13
3.3 Cara Kerja....................................................................................................13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.........................................................14
4.1 Hasil.............................................................................................................14
4.2 Pembahasan.................................................................................................16
BAB V KESIMPULAN...................................................................................22

5.1 Kesimpulan..................................................................................................22
5.2 Saran............................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................24
LAMPIRAN.....................................................................................................25

BAB I
ii
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ilmu tumbuhan pada waktu sekarang telah mengalami kemajuan yang
demikian pesat, hingga bidang-bidang pengetahuan yang semula hanya
merupakan cabang-cabang ilmu. Tumbuhan saja, sekarang ini telah menjadi ilmu
yang berdiri sendiri-sendiri. Dari berbagai cabang ilmu tumbuhan yang sekarang
telah berdiri sendiri adalah Morfologi Tumbuhan. Morfologi Tumbuhan yang
mempelajari bentuk dan susunan tubuh tumbuhanpun sudah demikian besar
perkembangannya hingga dipisahkan menjadi morfologi luar dan morfologi saja
(morphology in sensu stricto = dalam arti yang sempit) dan morfologi dalam atau
anatomi tumbuhan.
Bunga (flos) merupakan salah satu organ tubuh tumbuhan yang berfungsi
sebagai alat perkembangbiakan secara generatif yang memiliki bentuk dan
susunan yang berbeda-beda menurut jenisnya, tetapi bagi tumbuhan yang berbiji,
alat tersebut lazimnya merupakan bagian tumbuhan yang kita kenal sebagai
bunga. Jika kita memperhatikan suatu bunga, mudahlah diketahui bahwa bunga
adalah penjelmaan suatu tunas (batang dan daun-daun) yang bentuk, warna dan
susunannya disesuaikan dengan kepentingan tumbuhan, sehingga pada bunga ini

dapat berlangsung penyerbukan dan pembuahan, dan akhirnya dapat dihasilkan


alat-alat perkembangbiakan. Mengingat pentingnya bunga pada tumbuhan, pada
bunga terdapat sifat-sifat yang merupakan penyesuaian untuk melaksanakan
tugasnya sebagai penghasil alat perkembangbiakan yang sebaik-baiknya.
Umumnya dari suatu bunga sifat-sifat yang amat menarik ialah bentuk bunga
seluruhnya dan bentuk bagian-bagiannya, warnanya, baunya, ada dan tidaknya
madu ataupun zat lain.
Tumbuhan berbunga adalah kelompok terbesar tumbuhan yang hidup di
daratan. Namanya diambil dari cirinya yang paling khas, yaitu menghasilkan
organ reproduksi dalam bentuk bunga. Bunga sebenarnya adalah modifikasi daun
dan batang untuk mendukung sistem pembuahan tertutup. Sistem pembuahan
tertutup (dikatakan tertutup karena bakal biji
1 terlindung di dalam bakal buah atau
ovarium) ini juga menjadi ciri khasnya yang lain. Ciri yang terakhir ini
membedakannya dari kelompok tumbuhan berbiji yang lain: tumbuhan berbiji
terbuka atau Gymnospermae.
Dari kedua ciri tersebut muncullah nama Anthophyta ("tumbuhan bunga")
dan Angiospermae ("berbiji terbungkus"). Nama lain yang juga dikenakan
kepadanya adalah Magnoliophyta ("tumbuhan sekerabat dengan magnolia").
Nama Angiospermae diambil dari penggabungan dua kata bahasa Yunani Kuno:
(aggeion, "penyangga" atau "pelindung") dan (sperma, bentuk
jamak untuk "biji") yang diperkenalkan oleh Paul Hermann pada tahun 1690.
Dalam sebagian besar sistem taksonomi modern, kelompok ini sekarang
menempati takson sebagai divisio. Namun demikian, klasifikasi terbaru
berdasarkan APG (Sistem klasifikasi APG II) menempatkannya dalam suatu klad
yang tidak menempati suatu takson dan dinamakan Angiosperms.

1.2 Tujuan
1. Agar mahasiswa mampu mengetahui bagian bagian bunga.
2. Agar mahasiswa mampu mengetahui dan menghitung rumus bunga.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengrtian Bunga


Bunga adalah pucuk yang termodifikasi, disebut demikian karena
menunjukan beberapa perubahan dalam pengaturan apeks pucuk. Bunga dianggap
ranting yang bersumbu pendek dengan daun-daun yang merapat dan memiliki
bentuk khas sesuai fungsinya.
Bagian utama bunga terdiri dari kelopak (kaliks), tajuk /mahkota (corolla),
benang sari (stamen) dan putik (pistilum). Bagian lainnya adalam dasar bunga
(reseptakulum), tangkai bunga (pediselus) dan kelenjar madu (nektarium). Bagian
utama bunga dapat saling berlekatan atau saling terpisah-pisah. Jika terjadi

persatuan 2 yang sama disebut konasi atau kohesi sedangkan jika persatuan antara
2 bagian yang berbeda disebut adnasi.
Bunga terdiri dari beberapa daun yang tersusun berkarang. Karang paling luar
adalah kelopak. Helaiannya disebut sepal, dapat berlekatan (gamesepalus
/sinsepalus) atau terpisah (polipetal/ dialipetal). Fungsi korola adalah untuk
menarik pollinator dan sebagai pelindung alat kelamin.

2.2 Bagian Bunga


Bunga pada umumnya mempunyai bagian-bagian berikut:
A. Tangkai bunga (pedicellus), yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat
batang, padanya seringkali terdapat daun-daun peralihan, yaitu bagian-bagian
yang menyerupai daun, berwarna hijau, yang seakan-akan merupakan
peralihan dari daun biasa ke bunga.
B. Dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai yang seringkali melebar,
dengan ruas-ruas yang amat pendek. Sehingga daun-daun yang telah
mengalami metamorfosis menjadi bagian-bagian bunga yang duduk amat
rapat satu sama lain, bahkan biasanya lalu tampak duduk dalam satu
lingkaran.
C. Perhiasan bunga (perianthium), beberapa
3 jenis bunga ada yang memiliki
perhiasan bunga (perigonium). Helainnya disebut tepal. Tersusun terpisah
(perigonium

choripetalum/p.

pleiopetalum)

atau

saling

berlekatan

([Link]/p. gamotepalis). Jika tenda bunga ini memiliki cirri seperti


corolla disebut spetaloid/corrolina, sedangkan jika mirip dengan kaliks
disebut [Link]/p. calisinus.
D. Tenda bunga (periginium), tidak semua bunga mempunyai hiasan bunga yang
jelas dapat dibedakan dalam kelopak dan ujung bunganya. Berbagai jenis
tumbuhan mempunyai hiasan bunga yang tidak lagi dapat dibedakan mana
kelopak dan mana tajuknya, dengan lain perkataan kelopak dan tajuk bunga
sama, baik bentuk maupun warnanya. Itulah yang disebut tenda bunga
(perigonium). Bagian-bagian yang menyusun tenda bunga dinamakan
phalaenopsis Fitzg.

E. Kelopak (calyx), daun-daun hiasan bunga yang merupakan lingkaran luar,


biasanya berwarna hijau, lebih kecil dan lebih lebar daripada hiasan bunga
yang sebelah dalam. Bagian ini disebut kelopak (calyx).Kelopak tersusun atas
bagian-bagiannya yang dinamakan daun kelopak (sepala). Pada bunga-bunga
daun kelopak mempunyai sifat yang berbeda-beda.
1. Berlekatan (gamesopalus). Pada kelopak biasanya yang berlekatan hanya
bagian bawah daun-daun kelopaknya saja, bagian atasnya yang berupa
puncung-puncungnya tetap [Link] banyak dan sedikitnya bagian
yang berlekatan dibedakan menjadi 3 macam kelopak;
a) Berbagi (partitus), jika hanya bagian kecil daun-daun saja yang
berlekatan, pucuk-pucuknya panjang, lebih dari separuh panjang
kelopak.
b) Bercangap (fissus), jika bagian yang berlekatann kira-kira meliputi
separuh panjangnya keopak, jadi puncung-puncungnya kira-kira
separuhnya.
c) Berlekuk (lobatus), jika bagian yang berlekatan melebihi separuh
panjang kelopak, jadi puncung-puncungnya pendek.
2. Lepas atau bebas (polesepalus), jika daun-daun kelopak yang satu dengan
yang lain benar-benar terpisah-pisah, sama sekali tidak [Link]
simetrinya, bentuk kelopak yang bermacam-macam itu dapat dibedakan
4
dalam 2 golongan:
a) Beraturan atau aktinomorf (regularis, actinomorphus), jika kelopak
dengan beberapa cara dapat dibagi menjadi dua bagian yang setangkup
(simetri)
b) Setangkup tunggal atau zigomorf (zygomorphus), kelopak yang bersifat
demikian dijumpai pada kelopak yang bertaji (calcaratus) dan berbibir
(labiatus)
F. Tajuk bunga atau mahkota bunga (corolla), merupakan hiasan bunga yang
terdapat di sebelah kanan kelopak, umumnya lebih besar, dengan warna yang
indah, menarik. Dengan bentuk susunan yang bagus, tidak jarang pula
mempunyai bau yang harum atau sedap, dan dianggapnya bahwa warna yang
indah atau baunya yang wangi yang menyebabkan serangga tertarik pada

bunga yang seringkali datang mengunjungi bunga untuk mencari makan.


Tumbuhan memang memerlukan adanya kunjungan binatang-binatang tadi,
kaarena mereka dapat menjadi pelantara berlangsungnya penyerbukan.
Bagian-bagian tajuk bunga dinamakan daun tajuk atau daun mahkota
(petala), dan seperti halnya dengan daun-daun kelopak, daun-daun mahkota
bunga menunjukan sifat yang berbeda pula:
a.

Berlekatan (syampetalus, gemopetalus atau monopetalus). Dalam


keadaan yang demikian pada tajuk bunga dapat dibedakan 3 bagian
berikut:
1) Tabung atau buluh tajuk
2) Pinggiran tajuk
3) Leher tajuk.

b.

Lepas atau bebas (choripetalus, dialypetalus, atau polypetalus), jika


daun-daun tajuk terpisah-pisah satu sama lain. Dalam keadaan demikian
pada setiap daun tajuk dapat dibedakan
1) Kuku daun tajuk (unguis), ialah bagian bawah daun tajuk yang tidak
lebar dan seringkali lebih tebal daripada bagian lainnya.
2) Helaian daun tajuk (lamina), yaitu bagian yang lebar dan biasanya
tipis.

c. Daun-daun tajuk tidak ada atau sangat kecil sehingga sama sekali tidak
5
menarik perhatian. Bunga tanpa tajuk bunga (apetalus) seringkali
dinamakan pula bunga telanjang (flos nudus).
G. Benang sari (stamen), bagi tumbuhan merupakan alat kelamin jantan. Benang
sari terdiri dari tangkai sari (filament), kepala sari (antera), dan penghubung
(konektiv). Seperti halnya pada bagian-bagian bunga yang diuraikannya
dahulu, benang sari pun merupakan suatu metamorphosis daun yang bentuk
dan fungsinya telah disesuaikan sebagai alat kelamin jantan. Pada benang sari
dapat dibedakn 3 bagian yaitu:
a) Tangkai sari (filamentum), yaitu bagian yang berbentuk benang dengan
penampang melintang yang umumnya berbentuk bulat atau batang, tetapi
ada stamen yang seperti lembaran yang biasanya steril, misalnya dapat
ditemukan pada bunga Canna hybrid.

b) Kepala sari (anther), yaitu bagian benang sari yang terdapat pada ujung
tangkai sari. Kepala sari dapat terpisah atau berlekatan.
c) Penghubung ruang sari (connectivum), bagian ini merupakan lanjutan
tangkai sari yang menjadi penghubung kedua bagian kepala sari (ruang
sari) yang terdapat di kanan kiri penghubung ini.
Dalam satu bunga jumlah benang sari bervariasi. Berdasarkan panjangnya
dapat dibedakan menjadi benang sari dinamus (2 panjang, 2 pendek) dan
tetradinamus (4 panjang, 2 pendek). Benang sari dapat terpisah atau
berlekatan satu dengan yang lain. Benang sari yang berlekatan dapat
dibedakan menjadi:
1. Monadelfus, terdiri dari 1 tukal, seperti pada Hibiskis sp
2. Diadelfus, memiliki 2 tukal (1+9) seperti papilionaceae
3. Polyadelfus, lebih dari 2 tukai, seperti pada Calliandra sp
H. Putik (pistilum), merupakan bagian bunga yang paling dalam letaknya, putik
merupakan alat kelamin betina. Putik pun tersusun atas daun-daun yang telah
mengalami metamorphosis. Putik terdiri dari bakal buah (ovarium), tangkai
putik (stilus) dan kepala puttik (stigma). Di dalam ovarium terdapat bakal biji
(ovulum). Daun-daun penyusun putik disebut daun buah. (carpellum), dan
daun-daun buah sebagai kedeluruhan yang penyusun putik atau yang
dinamkan ginaecium. Bahwasanya putik itu merupakan metamorphosis daun
6
sudah amat sukar untuk dibuktikan, tetapi tumbuhan yang berbiji telanjang
misalnya pakis haji itu masih terlihat jelas. Menurut banyaknya daun buah
yang menyusun sebuah putik, putik dapat dibedakan kedalam:
a) Putik tunggal (simplex), yaitu jika putik hanya tersusun atas sehelai daun
buah saja, misalnya terdapat pada semua tumbuhan yang berbuah polong,
misalnya kacang-kacangan.
b) Putik majemuk (composites), jika putik terdiri dari dua daun buah atau
lebih, seperti misalnya pada kapas.
Berdasarkan letak ovarium terdapat dasar bunga, dapat dibedakan menjadi:
1. Ovarium menumpang (superum)
2. Ovarium tenggelam (inferum)

3. Ovaruim setengah tenggelam (heni/semi inferum)


Berdasarkan letak ovarium terhadap perhiasan bunga, dapat dibedakan
menjadi :
1. Ovarium epiginus
2. Ovarium periginus
3. Ovarium hhipoginus
Putik tersusun dari karpel, karpel ini dapat terpisah-pisah (apokarp) atau
bersatu (sinkarp). Ruang pada karpel dapat dibedakan menjadi marginalis,
parietalus, aksilaris, sentralis, basalis, dan apical.
Melihat bagian-bagian yang terdapat pada bunga (tangkai dan dasar
bunganya tidak diperhitungkan), maka bunga dapat dibedakan dalam:
a.

Bunga lengkap atau bunga atau bunga sempurna (flos completusl), yang dapat
terdiri atas: 1 lingkaran daun-daun kelopak, 1 lingkaran daun-daun mahkota,
1 atau 2 lingkaran benang-benang sari dan satu lingkaran daun-daun buah.
Bunga yang bagian-bagiannya tersusun dalam 4 lingkaran dikatakan: bersifat
tetrasiklik, dan jika bagian-bagiannya tersusun dalam 5 lingkaran: pentasiklik.

b.

Bunga tidak lengkap atau bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna
(flos incompompletes), jika salah satu bagian hiasan bunganya atau salah satu
alat kelaminnya tidak ada. Jika bunga tidak mempunyai hiasan bunga7 itu
deisebut telanjang (nudus), jika hanya mempunyai salah satu dari kedua
macam alat kelaminnya, dinamakan berkelamin tunggal (unisexual).

2.3 Jumlah Bunga Dan Tata Letaknya Pada Suatu Tumbuhan


Jika suatu tumbuhan hanya mempunyai satu bunga saja, biasanya bunga itu
terdapat pada ujung batang, jika bunganya banyak, dapat sebagian bunga-bunga
tadi terdapat dalam ketiak-ketiak daun dan sebagainya pada ujung batang atau
cabang-cabang. Jadi menurut tempatnya pada tumbuhan, kita dapat membedakan:
a.

Bunga pada ujung batang (flos terminalis), biasanya bunga coklat dan
kembang merak.

b.

Bunga di ketiak daun (flos lateralis atau flos axillaris), misalnya pada
kembang sepatu (Hibiscus rosa-sintesis), kembang telang (Clitoria ternatea
L)
Selain itu pada suatu tumbuhan dapat kita lihat, bahwa bunganya yang besar

besar jumlahnya itu, dapat:

Terpencar atau terpisah-pisah (flores spersi), misalnya pada kembang sepatu

Berkumpul membentuk suatu rangkaian dengan susunan yang beranekaragam.


Suatu rangkaian bunga dinamakan dinamakan pula bunga majemuk
(anthotaxis atau inflorescantia), misalnya pada kembang merak.

2.4 Kelamin Bunga


Berdasarkan alat-alat kelamin yang terdapat pada masing-masing bunga, di
bedakan:
a.

Bunga banci atau kelamin dua (hermaphroditus), yaitu bunga yang terdapat
benang sari (alat kelamin jantan) maupun putik (alat kelamin betina). Bunga
ini seringkali dinamakan pula bunga sempurna atau bunga lengkap, karena
biasanya pun jelas mempunyai hiasan bunga yang terdiri atas kelopak dan
mahkota, misalnya bunga terung.

b.

Bunga kelamin tunggal (unisexualis), jika pada bunga hanya terdapat salah
8
satu kedua macam alat kelaminnya, berdasarkan alat kelamin yang ada
padanya dapat dibedakan lagi dalam:
1) Bunga jantan (flos masculus), jika pada bunga hanya terdapat benang sari
tanpa putik, misalnya bunga jagung yang terdapat di bagian atas
tumbuhan.
2) Bunga betina (flos femineus), yaitu bunga yang tidak mempunyai benang
sari, melainkan hanya putik saja, misalnya bunga jagung yang tersusun
dalam tongkolnya.
3) Bunga mandul atau tidak berkelamin, jika pada bunga terdapat benang
sari maupun putik, misalnya bunga pinggir (bunga pita) pada bunga
matahari.

2.5 Tipe Bunga

1. Bunga tunggal
Tumbuhan yang menghasilkan satu bunga
2. Bunga majemuk
Tumbuhan yang menghasilkan lebih dari satu bunga
a. Bunga majemuk tak terbatas yaitu bunga majemuk yang ibu tangkainya
dapat tumbuh terus
b. Bunga majemuk terbatas yaitu bunga majemuk yang ujung ibu
tangkainya selalu ditutup dengan suatu bunga
c. Bunga majemuk campuran yaitu bunga majemuk yang memperlihatkan
sifat bunga majemuk terbatas maupun sifat bunga majemuk tak terbatas

2.6 Simetri Bunga


1. Asimetris
Tidak dapat dibuat satu bidang simetri dengan jalan apapun juga
2. Setangkup tunggal

Hanya dapat dibuat satu bidang simetri saja yang membagi bunga menjadi
2 bagian yang setangkup
3. Setangkup ganda
Dapat dijadikan 2 bagian yang setangkup menurut 2 bidang simetri yang
tegak lurus satu sama lain
4. Simetri banyak
Dapat dibuat banyak bidang simetri untuk membagi bunga dalam 2
bagiannya yang setangkup

2.7 Rumus bunga

Lambang-lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat


bunga yang bertalian dengan simetrinya atau jenis kelaminnya, huruf-huruf
merupakan singkatan nama bagian-bagian bunga, sedangkan angka-angka
menunjukan jumlah masing-masing jumlah bagian bunga.
Oleh karena itu, suatu rumus bunga hanya dapat ditunjukan hal-hal mengenai
4 bagian pokok bunga sebagai berikut:
1) Kelopak, yang dinyatakan dengan huruf K singkatan kata kalix (calyx), yang
merupakan istilah ilmiah untuk kelopak
2) Tajuk atau mahkota, yang dinyatakan dengan huruf C singkatan kata corolla
(istilah ilmiah untuk mahkota bunga)
3) Benang-benang sari, yang dinyatakan dengan huruf A, singkatan kata
adroecium (istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga)
4) Putik, yang dingyatakan dengan huruf G, singkatan kata gynaecium (istilah
ilmiah untuk alat kelamin betina).
Jika bunga misalnya mempunyai 5 daun kelopak, 5 daun mahkota, 10 benang
sari dan putik yang terjadi dari sehelai daun buah. Maka rumusnya adalah:
K 5. C 5. A 10. G 1 (bunga merak: Caesalpinia pulcherrima Swartz.)
Jika kita mengambil contoh lain yaitu bunga yang mempunyai tenda
bunga. Misalnya, lilia gereja (Lilium longiflorum Thunb.) yang mempunyai 6
daun tenda bunga, 6 benang sari dan sebuah putik yang terjadi dari 3 daun buah.
10
Maka rumusnya adalah:
P 6. A 6. G 3.
Didepan rumus hendaknya diberi tanda yang menunjukkan simetrei
bunga. Biasanya hanya diberikan dua macam tanda simetri. Yaitu, untuk bunga
yang bersimetri

banyak (octinomorphus)

dan

tanda untuk

bunga

yang

bersimetri satu (zygomorphus). Jadi, dalam hal rumus bunga merak yang bersifat
zigomorf, rumusnya menjadi:
K 5. A 5. A 10. G 1.
Sedangkan, bunga lilia gereja yang bersifat aktinomorf rumusnya menjadi:

P 6. A 6. G 3.
Selain lambang yang menunjukkan simetri pada rumus bunga dapat pula
ditambahkan lambang yang menunjukkan jenis kelamin bunga. Untuk bunga yang
banci (hemafroditus) dipakai lambang: S. Untuk bunga jantan dipakai
lambang U dan untuk bunga betina dipakai lambang: T. Lambang jenis kelamin
ditempatkan di depan lambang simetri. Jika kedua contoh rumus tersebut di atas
dilengkapi dengan lambang jenis kelaminnya, maka rumusnya menjadi:
S K 5. C 5. A 10. G 1. Dan
S P 6. A 6. G 3.
Suatu bagian bunga dapat tersusun dalam lebih daripada satu lingkaran.
Bunga-bunga yang dipakai contoh diatas misalnya, masing-masing mempunyai
bagian-bagiannya yang tersusun dalam 5 lingkaran. Bunga merak misalnya
mempunyai 2 lingkaran benang sari dengan 5 benang sari dalam tiap lingkaran,
sedangkan bunga lilia gereja mempunyai 2 lingkaran daun tenda bunga dan 2
lingkaran benang sari, tiap lingkaran berbilangan 3. Dalam hal yang demikian di
belakang huruf yang menunjukkan bagian yang tersusun dalam lebih daripada
satu lingkaran tadi harus ditaruh 2 kali angka yang menunjukkan jumlah bagian di
dalam tiap lingkaran dengan tenda + (tanda tambah) diantara kedua angka 11
tadi.
Contoh kedua rumus di atas harus kita ubah menjadi:
S K 5. C 5. A 5 + 5. G 1. Dan
S P 3 + 3. A 3 + 3. G 3.
Jika bagian-bagian bunga yang tersusun dalam masing-masing
lingkaran itu berlekatan satu sama lain, maka yang menunjukkan jumlah bagian di
dalam tiap lingkaran dengan tanda + (tanda tambah) diantara kedua angka tadi.
Contoh kedua rumus di atas harus kita ubah menjadi:
S K (5). C 5. A 5 + 5. G 1.

S P (3 + 3). A 3 + 3. G (3).

2.8 Diagram bunga


Dalam mendiskripsikan bunga, disamping secara verbal (dengan kata-kata)
dapat dikatakan gambar-gambar agar pembaca dapat memperoleh kesan yang
lebih mendalam tentang keadaan bunga. Salah satu gambar bunga yang
melukiskan keadaan bunga dan bagian-bagiannya adalah diagram bunga.
Yang dinamakan diagram bunga ialah suatu gambar proyeksi pada bidang
datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu
digambarkan penampang-penampang melintang daun daun kelopak, tajuk bunga,
benang sari, dan putik, juga bagian-bagian bunga lainnya jika masih ada,
disamping keempat bagian pokok tersebut di atas. Perlu diperhatikan, bahwa
lazimnya dari daun-daun kelopak dan tajuk bunga digambar melintang bagian
tengah-tengahnya, sedang dari benang sari digambarksan penampang kepala sari,
dan dari putik penampang melintang bakal buahnya .

BAB III

12

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Botani tentang Morfologi Bunga yang dilaksanakan pada hari
Kamis, tanggal 14 november 2013 pukul 09.00 WIB s/d selesai yang bertempat di
Laborotarium Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa, Serang.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

3.2.2 Bahan

1. Alat tulis

1. Bunga Adenium

2. 5 Kertas HVS

2. Bunga Allamanda

3. Buku Morfologi

3. Bunga Bougenville

Tumbuhan

4. Bunga Pukul 4
5. Bunga Sepatu

3.3 Cara Kerja


1. Siapkan alat tulis dan kertas HVS sebanyak 5 lembar
2. Ambil bahan yang akan di amati (bunga) dan lalu gambar bunga secara
utuh dan mendetails
3. Buka buku morfologi tumbuhan dan identifikasi bagian bagian bunga.
4. Selanjutnya tentukan rumus bunga dari keterangan keterang bagian bunga
yang telah di ketahui tadi,serta lengkapi semua bunga dengan rumus bunga
tersebut.

BAB IV
13

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1 Hasil Pengamatan Bunga
No Nama Bunga

Gambar Bunga

14

Keterangan

Bunga

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi:
Magnoliophyta
Kelas:
Magnoliopsida
Ordo:
Gentianales
Famili: Apocynaceae
Genus: Adenium
Spesies: A. obesum

Adenium

Gambar 1 Adenium obesum

Bunga
Allamanda

Gambar 2 Pleurotus ostreatus

Nama binomial
Adenium obesum
Rumus bunga
* K5. C 5. A6
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Filum:
Basidiomycota
Kelas:
Magnoliopsida
Ordo:
Apocynales
Famili: Apocynaceae
Genus: Allamanda
Spesies: Allamanda
cathartica
Nama binomial
Pleurotus ostreatus
Rumus bunga
* K5.C5.A5

Bunga

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi:
Magnoliophyta
Kelas:
Magnoliopsida
Ordo:
Caryophyllales
Famili: Nyctaginaceae
Genus: Bougainvillea
Spesies: Bougainvillea
buttiana

Bougenville

Gambar 3 Bougainvillea spp.

Bunga Pukul

Nama binomial
Bougainvillea spp.
Rumus bunga
P * K5.C5.A6.G1
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi:
Magnoliophyta
Kelas:
Magnoliopsida
Ordo:
Caryophyllales
Famili: Nyctaginaceae
Genus: Mirabilis
Spesies: M. jalapa
Nama binomial
Mirabilis jalapa
Rumus bunga

Gambar 4 Mirabilis jalapa

Bunga

K5.C5.A~.G1

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi:
Magnoliophyta
Kelas:
Magnoliopsida
Ordo:
Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Hibiscus
Spesies: H. rosa-sinensis

Sepatu

Nama binomial
15

Gambar 5 Hibiscus rosa-sinensis

Hibiscus rosa-sinensis
Rumus bunga
* K5, C5, (A)~, (G)4.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Bunga Adenium

Mahkota (corolla)

Tangkai bunga (pediselus)


Benang sari (stamen)
Kepala sari (antera)
Gambar 6 Bunga Adenium
Penpang Atas

Dasar bunga (reseptakulum)

Pada bunga adenium memiliki rumus bunga


sebagai berikut

Gambar 7 Bunga Adenium


Penampang Samping

* K5. C 5. [Link] rumus tersebut dapat di peroleh bahwa


16

bunga ini berkelamin jantan dan bunga ini memiliki simetri [Link] di lihat
dari bagian bagian pada bunga, bunga adenium memiliki 5 kelopak, 5 mahkota,
6 benang [Link] tentang adenium, Adenium atau Kamboja Jepang (nama
kamboja jepang sendiri sebenarnya menyesatkan, karena dapat diidentikkan
dengan kamboja, yang banyak ditemui di areal pemakaman. Sedangkan embelembel kata jepang seakan-akan bunga ini berasal dari Jepang, padahal Adenium
berasal dari Asia Barat dan Afrika) berasal dari daerah gurun pasir yang kering,
dari daratan asia barat sampai [Link] disana adalah Mawar Padang

Pasir (desert rose). Karena berasal dari daerah kering, tanaman ini tumbuh lebih
baik pada kondisi media yang kering dibanding terlalu basah.
Disebut sebagai adenium, tanaman ini dinamakan adenium karena salah satu
tempat asal adenium adalah daerah Aden (Ibukota Yaman).Masyarakat Indonesia
menamakan adenium sebagai kamboja jepang, mungkin dikaitkan dengan
stereotype yang beredar. Contohnya buah-buahan yang besar biasa disebut
sebagai Bangkok, sedangkan tanaman yang kecil-kecil biasa disebut Jepang,
sehingga jika dahulu kala sudah ada Kamboja yang sosok tanamannya tinggi
besar, maka begitu ada tanaman yang sosoknya kecil tapi mirip kamboja,
disebutlah sebagai kamboja jepang.

4.2.2 Bunga Allamanda

Mahkota Bunga ( corolla)


Kepala Putik ( stigma )
Tangkai Putik ( stilus )
Bakal Biji (ovulum).
Gambar 8 Bunga Allamanda

Tangkai bunga (pediselus)

Bunga allamanda mempunya rumus sebagai berikut * K5.C5.A5. Bunga


allamanda berkelamin jantan dan memiliki satu simetri serta bunga ini memiliki
17 5
kelopak, 5 mahkota, dan 1 putik. Dan sekilas tentang bunga allamanda Allamanda
cathartica adalah tanaman hias yang umum disebut sebagai bunga alamanda dan
juga sering disebut sebagai bunga terompet emas, bunga lonceng kuning, atau
bunga [Link] alamanda berasal dari daerah Amerika Tengah dan
Selatan dan banyak ditemukan di Brazil di mana bunga ini umum digunakan
sebagai hiasan karena bentuknya yang indah. Tanaman alamanda termasuk dalam
golongan perdu berkayu dengan tinggi yang dapat mencapai 2 meter. Tanaman ini
bersifat evergreen (hijau sepanjang tahun). Batangnya yang sudah tua akan
berwarna cokelat karena pembentukan kayu, sementara tunas mudanya berwarna

hijau. Daunnya memiliki bentuk yang melancip di ujung dengan permukaan yang
kasar dengan panjang 6 hingga 16 cm. Selain itu daun alamanda pada umumnya
berkumpul sebanyak tiga atau empat helai. Bunga alamanda berwarna kuning dan
berbentuk seperti terompet dengan ukuran diameter 5-7.5 cm. Tanaman ini
memiliki bunga yang harum.

4.2.3 Bunga Bougenville

Mahkota Bunga (Corolla)


Tangkai bunga (pediselus)

Benang Sari (stamen)


Kepala Sari (antera)
Gambar 9 Bunga Bougenville

Pada bunga bougenville yang kelompok

kami amati memiliki rumus bunga P * K5.C5.A6.G1, Sekilas tentang bunga


bougenville

sebagia

berikut.

Pokok

Bunga

Kertas

(bahasa

Inggeris:

"bougainvillea") mempunyai bunga berwarna-warni yang berkembang sepanjang


tahun dan oleh itu, telah menjadi pilihan tanaman hiasan tropika yang sangat
18
popular. Berasal dari Amerika Selatan, pokok bunga kertas sering ditanam di
taman-taman, kawasan perumahan, dan kawasan hiasan laman. Semasa pokok
bunga kertas berbunga, adalah kebiasaannya bahawa kebanyakan daunnya akan
luruh dan meninggalkan bunga-bunga dan dahan-dahan yang menarik. Nama
botani bunga ini Bougainvillea spp.
Pokok bunga kertas mendapat nama disebabkan bunganya yang nipis dan
mempunyai ciri-ciri seperti kertas. Nama Inggeris bunga ini, iaitu Bougainvilla,
pula dinamakan sempena nama Louis Antoine de Bougainville, seorang
Komander Laut Perancis.

Pokok bunga kertas tergolong dalam famili Nyctaginaceae yang mengandungi 28


genus dan 250 spesies. Terdapat tiga spesies utama bougainvilla di Malaysia, iaitu
B. glabra, B. spectabilis, dan B. Mrs. Butt. Banyak kacukan telah dilakukan
daripada tiga spesies asal ini untuk menghasilkan pokok bunga kertas yang
mempunyai pelbagai warna kelopak, baik selapis mahupun banyak lapis.

4.2.4 Bunga Pukul 4

Mahkota Bunga (Corolla)


Kepala Sari (antera)

Benang Sari (stamen)


Kelopak Bunga (calyx)
Bakal Biji (ovulum).
Tangkai bunga (pediselus)
Gambar 10 Bunga Pukul 4

Bunga puluk empat memiliki rumus bunga

* K5.C5.A~.G!. Terdiri

dari 5 mahkota , 5 kelopak, banyak memiliki benang sari, dan memiliki 1


[Link] ini adalah bunga banci karena meiliki 2 alat kelamin,dan bunga ini
bersimetri banyak. Bunga pukul empat merupakan tanaman hias, pada umur 3
bulan tanaman ini baru mulai berbunga Bunga pukul empat termasuk dalam suku
kampah kampahan. Bunganya seperti terompet kecil, warna bunga tergantung
19
jenisnya, ada yang merah, putih, kuning, bahkan kadang-kadang dalam satu pohon
terdapat warna campuran. Batangnya tebal dan tegak tidak berbulu dan banyak
bercabang-cabang. Daunnya berbentuk seperti gambar hati berujung runcing dan
panjangnya 3 15 cm. lebarnya 2 9 cm. Bijinya bulat berkerut, jika sudah
masak berukuran 8 mm.
Pada waktu muda bijinya berwarna hijau, kemudian berubah menjadi
hitam kehitaman. Akhirnya pada saat matang bewarna hitam sepenuhnya.
Buahnya keras, berwarna hitam, berbentuk telur dan bila sudah tua di dalamnya

terdapat zar tepung yang mengandung lemak. Tanaman ini biasanya tumbuh liar
tidak terpelihara.
Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan. Di Indonesia hampir ditanam
dimana-mana sehingga mudah dijumpai karena tanaman ini mudah beradaptasi
dengan iklim tropik, dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi.
Bunga Pukul empat merupakan tanaman tropis, dapat tumbuh sampai ketinggian
1.200 m di atas permukaan laut. Suhu yang dikehendaki berkisar antara 26 30
C, meskipun suhu lingkungan sejuk, namun demikian juga membutuhkan sinar
matahari yang cukup. Tanah yang dikehendaki untuk pertumbuhan Bunga Pukul
Empat adalah tanah yang gembur, subur, dengan pH tanah 6 7.
Bunga pukul empat tidak dapat setiap saat mekar. Mekarnya hanya pada jam-jam
tertentu saja, yaitu pada sore hari.

4.2.5 Bunga Sepatu

Kepala Sari (antera)

Tangkai Putik (stilus)


Mahkota Bunga (Corolla)

Bakal Biji (ovulum).


Benang Sari (stamen)

Kelopak Bunga
(calyx)
Bunga sepatu yang kami amati memilikiTangkai
rumus bunga
bunga (pediselus)
* K5, C5,
(A)~, (G)4, terdiri daribunga ini berkelaminbanci atau
hermaprodit lalu bunga ini bersimetri banyak , memiliki 5 kelopak, 5 mahkota,
20
Gambar 11 Bunga Sepatu

Memiliki banyak benang sari serta 4 putik lalu kenapa rumus terdapat tanda
kurung karena a dan g pada bunga sepatu saling [Link] berikut sekilas
tentang bunga sepatu , Bunga terdiri dari 5 helai daun kelopak yang dilindungi
oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak
bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5 lembar atau lebih jika merupakan hibrida.
Tangkai putik berbentuk silinder panjang dikelilingi tangkai sari berbentuk oval

yang bertaburan serbuk sari. Biji terdapat di dalam buah berbentuk kapsul berbilik
lima.
Pada umumnya tinggi tanaman sekitar 2 sampai 5 meter. Daun berbentuk
bulat telur yang lebar atau bulat telur yang sempit dengan ujung daun yang
meruncing. Di daerah tropis atau di rumah kaca tanaman berbunga sepanjang
tahun, sedangkan di daerah subtropis berbunga mulai dari musim panas hingga
musim gugur.
Bunga berbentuk trompet dengan diameter bunga sekitar 6 cm. hingga 20 cm.
Putik (pistillum) menjulur ke luar dari dasar bunga. Bunga bisa mekar menghadap
ke atas, ke bawah, atau menghadap ke samping. Pada umumnya, tanaman bersifat
steril dan tidak menghasilkan buah. Tanaman berkembang biak dengan cara stek,
pencangkokan, dan penempelan.

BAB V

21

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Bunga merupakan organ yang sangat penting bagi tumbuhan magnoliophyta (
tumbuhan berbuga ),karena bunga merupakan organ reproduksi bagi tumbuhan

tersebut. Bentuk-bentuk bunga sangat beragam tergantung pada jenis tumbuhan


[Link] bunga ialah untuk menjadi pengantara bagi penyatuan gamet
jantan dan gamet betina. Proses ini diistilahkan sebagai pendebungaan. Banyak
bunga bergantung kepada angin untuk menggerakkan debunga antara bungabunga spesies yang sama. Ada juga yang bergantung kepada haiwan, khususnya
serangga untuk berbuat demikian. Tempoh masa yang mana proses ini dapat
dilakukan (iaitu bunga telah menjadi matang dan berfungsi) digelarkan antesis.
Bagian utama bunga terdiri dari kelopak (calix) tajuk/ mahkota (corolla),
benang sari (stamen) dan putik (pistilum). Bagian lainnya adalah dasar bunga
(reseptakulum), tangkai bunga (pediselus) dan kelenjar madu (nektarium).Bagian
utama bunga dapat saling berlekatan atau terpisah-pisah. Jika terjadi persatuan 2
bagian yang sama disebut konasi atau kohesi sedangkan jika persatuan antara 2
bagian yang berbeda disebut adnasi. Bunga terdiri dari beberapa daun yang
tersusun berkarang. Karangan paling luar adalah kelopak. Helaiannya disebut
sepal,

dapat

berlekatan

(gamosepalus/sinsepalus)

atau

terpisah

(polipetal/dialipetal). Fungsi kelopak adalah melindungi bunga pada saat masih


kuncup. Setelah kelopak, dapat ditemukan korola, helaiannya disebut petal.
Fungsi mahkota adalah untuk menarik polinator dan sebagai pelindung alat
kelamin. Benang sari adalah alat kelamin jantan terdiri dari tangkai sari (filamen),
kepala sari (anthera), dan penghubung (conectivum). Keseluruhan benang sari
pada bunga disebut andresium (androecium). Putik (pistilum) adalah alat kelamin
betina. Putik terdiri dari bakal buah (ovarium), tangkai putik (stilus) dan kepala
putik (stigma). Keseluruhan putik disebut ginasium (gynaecium). Di dalam
ovarium terdapat bakal [Link] memiliki rumus bunga yang berbeda -beda di
karenakan bedanya struktur bunga yang di miliki setiap bunga.
22

5.2 Saran
Sebaiknya sebelum dan sesudah praktikum diadakan doa [Link]
berharap agar dalam praktikum selanjutnya dapat berlangsung dengan lebih
tenang, sehingga praktikan dapat memanfaatkan waktu yang telah disediakan
dengan seefisien mungkin. Serta praktikan berharap agar tidak hanya para

praktikan yang mematuhi tata tertib pada saat di dalam laboratorium ( Tidak
bicara hal di luar praktikum di dalam laborotarium ), namun para asisten juga
sehingga praktikum dapat berjalan lebih [Link] praktikan juga di tuntut untuk
keilmuannya dalam praktikum agar apa yang akan di praktikum dalam
laborotarium para praktikan sudah bisa menguasai materi praktikum tanpa harus
bertanya ke pada asisten laborotarium dengan pertanyaan yang seharusnya
praktikan ketahui.

DAFTAR PUSTAKA
23

Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi 3. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada


Press.
Hidajat, Estiti B. 1995. Morfologi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB
Loveless.A.R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik.
Jakarta: [Link] Pustaka Utama

Morton, J. 1987. Mango. p. 221239. In: Fruits of warm climates. New York:
Miami, FL.
Muzayyinah. [Link] Tumbuhan. Surakarta: PT. Lembaga
Pengembangan Pendidikan.
Reece, Campbell. 1999. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Salisbury, Frank. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. ITB: Bandung.
Tjirosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.
Sri Amintarti. 2011. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. PMIPA FKIP
UNLAM: Banjarmasin.

Ikha Mumud. 2012. Diagram & Rumus Bunga. [Link]


2012/10/06/diagram-tumbuhan/ Diakses 25 November 2013 13.00
WIB
Joe. 2012. Diagram Bunga. [Link]
Diakses 25 November 11.00 WIB

DAFTAR TABEL
24

Tabel 1 Hasil Pengamatan Bunga.........................................................17

DAFTAR GAMBAR
iii

Gambar 1 Adenium obesum.................................................................18


Gambar 2 Pleurotus ostreatus..............................................................18
Gambar 3 Bougainvillea spp................................................................19
Gambar 4 Mirabilis jalapa.....................................................................19
Gambar 5 Hibiscus rosa-sinensis..........................................................19
Gambar 6 Bunga Adenium Penpang Atas.............................................20

Gambar 7 Bunga Adenium Penampang Samping.................................20


Gambar 8 Bunga Allamanda................................................................21
Gambar 9 Bunga Bougenville...............................................................22
Gambar 10 Bunga Pukul 4....................................................................23
Gambar 11 Bunga Sepatu....................................................................24

DAFTAR LAMPIRAN
iv

Lampiran 1 Morfologi Bunga Baiquni..................................................................


Lampiran 2 Morfologi Bunga Devi.......................................................................
Lampiran 3 Morfologi Bunga Egi.........................................................................
Lampiran 4 Morfologi Bunga Lika.......................................................................
Lampiran 5 Morfologi Bunga Muhtadi.................................................................

Anda mungkin juga menyukai