sejarah, selain tujuan yang tercantum secara implisit dalam SK dan KD, terdapat juga tujuan penyerta atau
tersembunyi yang sering dikenal dengan hidden curriculum.
b. Evaluasi model CIPP Konsep evaluasi model CIPP (Context, Input, Prosess and Product) pertama kali ditawarkan oleh Stufflebeam pada tahun 1965 sebagai hasil usahanya mengevaluasi ESEA (the Elementary and Secondary Education Act). Konsep tersebut ditawarkan oleh Stufflebeam dengan pandangan bahwa tujuan penting evaluasi adalah bukan membuktikan tetapi untuk memperbaiki. The CIPP approach is based on the view that the most important purpose of evaluation is not to prove but to improve (Madaus, Scriven, Stufflebeam, 1993: 118). Evaluasi model CIPP dapat diterapkan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, manajemen, perusahaan sebagainya serta dalam berbagai jenjang baik itu proyek, program maupun institusi. Dalam bidang pendidikan Stufflebeam menggolongkan sistem pendidikan atas 4 dimensi, yaitu context, input, process dan product, sehingga model evaluasinya diberi nama CIPP model yang merupakan singkatan ke empat aspek tersebut. 1). Context Evaluation (Evaluasi Konteks) Evaluasi konteks, sebagai berikut: the delineation and specification of projects environment, its unmet, the population and sample individual to be served, and the project objectives. Contect evaluation provides a rationale for justifying a particular type of program intervention Sax. (1980: 595). Evaluasi konteks merupakan penggambaran dan spesifikasi tentang lingkungan program, kebutuhan yang belum dipenuhi, karakteristik populasi dan sampel dari individu yang dilayani dan tujuan program. Evaluasi konteks membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program dan merumuskan tujuan program. Evaluasi konteks
32
menurut Suharsimi (1988: 39) dilakukan untuk menjawab pertanyaan: a). Kebutuhan apa yang belum dipenuhi oleh kegiatan program, b).Tujuan pengembangan manakah yang berhubungan dengan
pemenuhan kebutuhan, c). Tujuan manakah yang paling mudah dicapai. 2). Input Evaluation (Evaluasi Masukan) Evaluasi masukan membantu mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternative apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai tujuan, bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya. Komponen evaluasi masukan meliputi: a). Sumber daya manusia, b). Sarana dan peralatan pendukung, c). Dana atau anggaran, dan d). Berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan. 3). Process Evaluation (Evaluasi Proses) Evaluasi proses menekankan pada 3 tujuan: (1) do detect or predict in procedural design or its implementation during
implementation stage, (2) to provide information for programmed decisions, and (3) to maintain a record of the procedure as it occurs Worthen & Sanders (1981: 137). Evaluasi proses digunakan untuk mendeteksi atau memprediksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi selama tahap implementasi, menyediaan informasi untuk keputusan program dan sebagai rekaman atau arsip prosedur yang telah terjadi. Evaluasi proses meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan dan diterapkan dalam praktek pelaksanaan program. Pada dasarnya evaluasi proses untuk mengetahui sampai sejauh mana rencana telah diterapkan dan komponen apa yang perlu diperbaiki dalam tindak lanjut. 4). Product Evaluation (Evaluasi Produk/Hasil) Evaluasi produk memiliki fungsi penting seperti dirumuskan oleh Sax (1980: 598) adalah to allow to project director (or teacher) to make decision regarding continuation, termination, or modification of program. Dari hasil evaluasi proses diharapkan dapat membantu
33
pimpinan projek atau guru untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan kelanjutan, akhir maupun modifikasi program. Sementara menurut Tayibnapis (2000: 14) evaluasi produk untuk membantu membuat keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun apa yang dilakukan setelah program itu berjalan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa evaluasi produk merupakan penilaian yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Data yang dihasilkan akan sangat menentukan apakah program diteruskan, dimodifikasi atau dihentikan (S Eko Widyoko, 2007). 5). Kelebihan dan Kekurangan Evaluasi Model CIPP Berdasarkan kajian terhadap model ini, maka jika dibandingkan dengan model-model evaluasi yang lain, model CIPP memiliki beberapa kelebihan antara lain: lebih komprehensif, karena objek evaluasi tidak hanya pada hasil semata tetapi juga mencakup konteks, masukan (input), proses, maupun hasil. Selain memiliki kelebihan model CIPP juga memiliki kerbatasan, antara lain penerapan model ini dalam bidang program pembelajaran di kelas mempunyai tingkat keterlaksanaan yang kurang tinggi jika tanpa adanya modifikasi. Hal ini dapat terjadi karena. untuk mengukur konteks, masukan maupun hasil dalam arti yang luar akan melibatkan banyak fihak yang akan membutuhkan waktu dan biaya yang lebih sehingga kurang dalam hal efektivitas dan efisiensinya.
c. Evaluasi Model Kirkpatrick Model ketiga yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah model Kirkpatrick. Model evaluasi ini dikembangkan oleh Kirkpatrick dikenal dengan Evaluating Training Programs: The Four Levels atau Kirkpatricks evaluation model. Evaluasi terhadap program training mencakup empat level evaluasi, yaitu: reaction, learning, behavior, dan result (Widyoko, 2007). Model ini mengevaluasi secara sistematis mulai dari evaluasi reaksi, evaluasi belajar, evaluasi perilaku dan evaluasi hasil
34