0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
177 tayangan6 halaman

Metode Bisection untuk Persamaan Non-Linier

Dokumen tersebut membahas metode bisection untuk menyelesaikan persamaan non-linear. Metode ini didasarkan pada teorema nilai antara fungsi kontinu dimana suatu selang harus mengandung akar bila nilai fungsi di ujung selang berlawanan tanda. Metode ini melakukan pembagian selang secara berulang hingga lebar selang cukup kecil untuk mendekati akar persamaan.

Diunggah oleh

Windu Nur Mohamad
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
177 tayangan6 halaman

Metode Bisection untuk Persamaan Non-Linier

Dokumen tersebut membahas metode bisection untuk menyelesaikan persamaan non-linear. Metode ini didasarkan pada teorema nilai antara fungsi kontinu dimana suatu selang harus mengandung akar bila nilai fungsi di ujung selang berlawanan tanda. Metode ini melakukan pembagian selang secara berulang hingga lebar selang cukup kecil untuk mendekati akar persamaan.

Diunggah oleh

Windu Nur Mohamad
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Metode Bisection Windu Nur Mohamad (1210703035) Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri

Sunan Gunung Djati Bandung Windu_nm@yahoo@[Link]

Abstract

Sari Dalam permasalahan non-linier, terutama permasalahan yang mempunyai hubungan fungsi eksponensial dalam pembentukan polanya dapat dianalisis secara

eksperimental maupun teoritis. Salah satu bagian dari analisa teoritis adalah dengan melakukan komputasi dengan metode numerik. Metode numerik dalam komputasi akan sangat membatu dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang rumit diselesaikan secara aritmatika. Metode numerik akan sangat membantu setiap penyelesaian permasalahan apabila secara matematis dapat dibentuk suatu pola hubungan antar variabel/parameter. Hal ini akan menjadi lebih baik jika pola hubungan yang terbentuk dapat dijabarkan dalam bentuk fungsi. Ada sejumlah metode numerik yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persamaan non-linear. Metode numerik digunakan untuk menyelesaikan persoalan dimana perhitungan secara analitik tidak dapat digunakan. Metode numerik ini berangkat dari pemikiran bahwa permasalahan dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatanpendekatan yang dapat dipertanggung-jawabkan secara analitik. Metode numerik ini disajikan dalam bentuk algoritma-algoritma yang dapat dihitung secara cepat dan mudah. Pendekatan yang digunakan dalam metode numerik merupakan pendekatan analisis matematis. Sehingga dasar pemikirannya tidak keluar jauh dari dasar pemikiran analitis, hanya saja pemakaian grafis dan teknik perhitungan yang mudah merupakan pertimbangan dalam pemakaian metode numerik.

A. Tujuan Dalam pelaksanaan praktikum tentang metode bisection ini, memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Membantu pengguna yang ingin menyelesaikan sistem persamaan linier. 2. Membantu mempelajari langkah-langkah yang dilakukan untuk menyelesaikan. B. Dasar Teori Metode bagi dua(bisection) ini didasarkan pada teorema nilai antara fungsi kontinu,yaitu bahwa suatu selang[a,b] harus mengandung f(x) = 0,bila f(a) dan f(b) berlawanan tanda misalnya f(a)>0 dan

f(b)<[Link] dilakukan dengan pengulangan membagi selang [a,b] menjadi dua dalam setiap langkah persyaratan diambil setengah selang yang memenihi

tersebut. Proses ini didapatkan ketelitian yang sama dengan

interval[a,b] terakhir. Dalam algoritma digunakan variable : a. sebagai batas bawah selang b. sebagai batas atas selang T sebagai titik tengah Bila f(a) > 0 dan f(b) < 0 maka perkalian keduanya menghasilkan yang kecil dari 0 atau f(a)f(b)<0. Ini berarti selang [a,b] terdapat sedikitnya satu akar. Metode ini memerlukan dua nilai

bilangan paling

sebagai tebakan awal, sebut a dan b, a < b, yang harus memenuhi f(a), f(b) < 0 ; selang (a,b) mengandung satu akar. Mula-mula ditentukan titik tengah selang (a,b) atau selang

(a,b) dibagi dua sama panjang, sebut titik T engahnya T. Dua selang baru yang diperoleh yakni (a,T) dan (T ,b), salah satu diantaranya apsti mengandung akar. Proses diulangi dengan membagi dua selang tersebut dan memeriksa setengah selang yan mana yang mengandung akar. Pembagi-duaan selang ini dilanjutkan sampai lebar selang yang ditinjau cukup kecil.

C. Permasalahan

D. Simulasi Percobaan

E. Analisis Tahap pertama proses adalah menetapkan nilai sembarang a dan b sebagai batas segmen nilai fungsi yang dicari. Batasan a dan b memberikan harga bagi fungsi f(x) untuk x=a dan x=b Langkah selanjutnya adalah memeriksa apakah f(a) X f(b) < 0. Apabila terpenuhi syarat tersebut berarti terdapat akar fungsi dalam segmen tinjauan. Jika tidak demikian, kembali harus ditetapkan nilai a dan b sedemikian rupa sehingga terpenuhi ketentuan perkalian f(a) X f(b) < 0. Dengan rumusan m = (a + b) / 2, diperiksa apakah nilai mutlak f(m) < 10-6 (batasan simpangan kesalahan). Jika benar, nilai x = m adalah solusi yang dicari. Jika tidak terpenuhi, ditetapkan batasan baru dengan mengganti nilai b = m, apabila f(a)*f(m) < 0, dan mengganti a = m bila f(a)*f(m) > 0, proses menemukan m baru dilakukan seperti prosedur yang telahh dijelaskan. Metode bisection adalah salah satu kelas metode pengelompokkan, karena prosedur untuk mendapatkan nilai x untuk f(x) = 0 dilakukan melalui pendekatan kelompok akar.

Metode ini tidak sepenuhnya memanfaatkan data f(x) bagi penentuan nilai x. mialnya tidak digunakannya ukuran relative f(a) dan f(b) karena umumnya jika f(a) < f(b) dalam nilai mutlaknya, maka akar persamaan akan terletak lebih dekat ke f(a). salah satu cara efektif mendapatkan nilai m ini adalah menghubungkan f(a) dan f(b) dengan garis lurus dan perpotongan garis ini dengan absis x merupakan nilai m.

F. Kesimpulan 1. Bahwa keberadaan ilmu fisika komputasi, fisika eksperimen dan fisika teori adalah saling mendukung bagi pengembangan ilmu fisika dan terapannya. Fisika eksperimen dan fisika teori adalah saling memerlukan terutama dalam hal melakukan uji coba teori, usulan teori, usulan eksperimen dan interpretasi eksperimen. Sementara itu, fisika eksperimen dan fisika komputasi adalah saling membutuhkan terutama dalam hal menghasilkan data, analisis data, pengontrolan alat, usulan eksperimen dan pemodelan yang riil. Di lain pihak fisika komputasi dan fisika teori juga saling memerlukan terutama dalam hal usulan teori, ketelitian perhitungan, pengembangan persamaan matematis dan interpresiasi hasil. 2. Untuk pengembangan bidang fisika komputasi, maka pengetahuan dasar pendukung minimal yang harus dimiliki adalah: pemodelan, matematika, logika, struktur data, teknik pemrograman dan bahasa pemrograman. 3. Fisika komputasi merupakan penggabungan tiga disiplin ilmu, yakni ilmu fisika, metode numerik dan pemrograman komputer. 4. Metode komputasi dan model matematis dapat digunakan untuk mengetahui dan menganalisis karakteristik gerakannon-linearsatu dimensi, dan getaran harmonis (mekanis) dua dimensi. 5. Perancangan perangkat lunak (simulasi) komputer dapat digunakan sebagai alat bantu eksperimen untuk menganalisis berbagai gejala

fisis seperti gerakannon-linearsatu dimensi dan getaran mekanis dua dimensi, karena program yang dirancang mudah dioperasikan dan dianggap mempunyai ketelitian yang relatif baik.

G. Daftar Pustaka
Altrock, Von, Constantin, 1995, Fuzzy Logic and NeuroFuzzy Applications Explained, Prentice Hall, New Jersey. Kaur, Devinder and Konga, Elisa and Konga, Esa, 1995, Fuzzy Traffic Light Controller, IEEE Journal. Ross, Timothy J., 1995, Fuzzy Logic with Engineering Apllications, McGrawHill, New York. Taskin, Harun and Gumustat, Remzy, 1997, Simulation of Traffic Flow System and Control Using Fuzzy Logic, Proceeding of 12th IEEE, Istambul.

Anda mungkin juga menyukai