RE AGUSTUS 2026 RDP
RE AGUSTUS 2026 RDP
1. Identitas Perusahaan/Instansi :
a. Nama : CV. RATNA DUA PUTRI
b. Alamat : Jln. Trunojoyo, RT 10 RW 03, Kelurahan
Klecorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten
Madiun, Jawa Timur
c. Telp./Fax : 082334213627
d. e-mail : ratnaduaputri2@[Link]
3. Data Usaha/Kegiatan :
a. Nama : CV. RATNA DUA PUTRI
b. Jenis Kegiatan : 08103 Penggalian Kerikil/Sirtu
c. Lokasi : Desa Morang, Kecamatan Kare, Kabupaten
Madiun, Provinsi Jawa Timur
Catatan:
- Font Arial 12
- Line Spasing 1 (Single)
- Antar paragraph: Spasing (Befor 6, Ater 0)
- Antar list: Spasing (Befor 3, Ater 0)
- Huruf pada tabel bisa diperkecil sesuai kebutuhan tapi tetap dapat dibaca
- JANGAN MERUBAH LAYOUT!!!!!
Halaman 1 dari 33
A. Pemenuhan Kajian Teknis
1) Parameter dan Nilai Baku Mutu Emisi untuk:
a) Tahap Pra-Konstruksi
Sosialisasi Rencana
Pertambangan
Pengurusan perizinan
Tahap Konstruksi
Emisi fugitif
Pengangkutan material
CO : 0,000000385 ton/tahun
tambang sirtu HC : 0,0000000825 ton/tahun
NOx : 0,0000008113 ton/tahun
PM10 : 0,0000000642 ton/tahun
Pemeliharaan alat berat SO2 : 0,0000000376 ton/tahun
Halaman 2 dari 33
Pembongkaran fasilitas Emisi fugitif (partikulat)
tambang TSP : 0,002813 ton/tahun
Pascatambang
Reklamasi lahan
Emisi fugitif (partikulat)
TSP : 1,067558938 ton/tahun
PM10 : 0,307949694 ton/tahun
PM2,5 : 0,043112957 ton/tahun
Emisi fugitif
CO : 0,000000021 ton/tahun
Demobilisasi peralatan dan HC : 0,0000000045 ton/tahun
material NOx : 0,0000000443 ton/tahun
PM10 : 0,0000000035 ton/tahun
SO2 : 0,0000000021 ton/tahun
Halaman 3 dari 33
9. Memiliki komoditas batuan yang telah diproduksi setelah membayar pajak daerah
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
10. Hak lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pemegang IUP memiliki kewajiban :
1. Menyusun dan menyampaikan Dokumen Teknis Pertambangan untuk
mendapatkan persetujuan;
2. Melakukan kegiatan penambangan setelah mendapatkan persetujuan Dokumen
Perencanaan Penambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
3. Melakukan kegiatan penambangan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah IUP
diterbitkan;
4. Melakukan penyelesaian hak atas tanah dengan pemegang hak atas tanah dalam
IUP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;.
5. Menyampaikan laporan kegiatan tertulis secara berkala kepada Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral melalui Direktur Jenderal Mineral dan Batubara atas
pelaksanaan kegiatan berdasarkan persetujuan Dokumen Perencanaan
Penambangan;
6. Menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik (good mining practice);
7. Melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
8. Mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
9. Menjamin penerapan standar dan baku mutu lingkungan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
Kegiatan perencanaan teknis dilakukan berdasar survey lokasi secara detil guna
merencanakan block plan penambangan meliputi studi eksplorasi kegiatan
penambangan dimana didalamnya termasuk studi geologi, hidrogeologi, kedalaman
lubang galian, jenis komoditas tambang, umur tambang, sistem penambangan yang
dipakai, sistem rehabilitasi lahan setelah penambangan, dan lain-lain. Lokasi tambang
secara umum akan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1. Daerah tadah/imbuhan air tanah (catchment area) serta sempadan saluran air di
sekitar lokasi penambangan sesuai aturan yang berlaku;
2. Letak bangunan-bangunan penting seperti tiang transmisi tegangan tinggi,
bendung, tanggul dan jembatan.
3. Penambangan tidak dilakukan pada tempat dengan lereng yang lebih besar dari
40 % agar tidak terjadi erosi dan longsoran.
4. Komposisi dan ketebalan lapisan yang berlokasi di antara tambang dan air
permukaan;
5. Memastikan lapisan terlindung dari erosi akibat aliran air;
6. Daerah rawan gerakan tanah, jalur gempa kuat, bahaya letusan gunung api, banjir
bandang dan sebagainya.
7. Daerah-daerah yang memiliki fungsi lindung.
Halaman 4 dari 33
terkait tahapan-tahapan pelaksanaan penambangan dan rehabilitasi pasca
penambangan serta upaya pengendalian dampak yang dihasilkan, sehingga dapat
mereduksi keresahan warga terkait potensi keamanan dan gangguan kenyamanan
yang ditimbulkan. Sebelum dilakukan penambangan maka dilakukan identifikasi
vegetasi yang berada di lokasi tambang. Identifikasi dilakukan dengan tujuan
menyesuaikan tanaman yang akan digunakan reklamasi sehingga memiliki harapan
hidup lebih tinggi apabila sesuai dengan pemilihan jenis tanamannya sesuai habitatnya
b) Tahap Konstruksi
Halaman 5 dari 33
ataupun menggunakan akses jalan tambang yang sudah ada oleh kegiatan
penggalian Sirtu yang sudah ada sebelumnya. Berdasarkan KepMen
1827/K/30/MEM/2018, Lebar Jalan dibuat dua arah dengan mempertimbangkan alat
angkut terbesar berupa excavator maka lebar jalan dibuat 3,5 x lebar alat angkut
terbesar yaitu sekitar 10 meter dan panjang total 250 m sehingga luas jalan tambang
seluruhnya adalah 2.500 m2.
Kegiatan pembuatan patok/batas IUP dan blok area pertambangan sesuai peraturan
yang berlaku. Sehingga penambangan yang dilaksanakan akan dapat berjalan sesuai
dengan rencana kegiatan pertambangan. Pembuatan batas penambangan perlu
dilakukan agar pada saat kegiatan penambangan berlangsung, agar para pekerja
tambang tidak bekerja melebihi dari IUP yang diijinkan. Batas tambang ini juga
diperlukan untuk menata lahan setelah kegiatan tambang selesai dilaksanakan. Hal
ini sangat berguna untuk menghindari kerusakan lingkungan yang lebih lanjut akibat
kegiatan penambangan yang dilakukan.
Rencana produksi komoditas sirtu 163.568 ton/tahun. Umur tambang yang dimiliki
berdasarkan estimasi cadangan sebesar 3.271.353 ton dibagi rencana produksi tiap
tahun sebesar 163.568 ton yaitu 20 tahun. Rencana produksi komoditas sirtu masa 5
Tahun dilakukan mulai Tahun 2027 s/d 2031. Luas bukaan lahan yang digunakan
untuk area penambangan/front tambang Tahun 2027 s/d 2031 2,13 ha. Waktu kerja
efektif yang direncanakan ialah 8 jam per hari, 25 hari per bulan.
Kegiatan penambangan Tahun 2027 dimulai dari sisi utara mengarah ke selatan
Wilayah IUP. Luas bukaan lahan 0,92 ha. Volume tanah pucuk yang dikupas 4.613
m3. Rencana produksi komoditas sirtu 163.568 ton. Peralatan yang digunakan 2 unit
excavator back [Link] rencana elevasi akhir tambang pada elevasi 329 [Link].
Geometri jenjang tambangyang digunakan 5 jenjang dengan ukuran tinggi tiap
jenjang maksimal 7 meter, sudut jenjang 60° Recovey penambangan 100%. Proses
penambangan diawali dengan pengupasan dan penimbunan tanah pucuk
menggunakan 1 unit excavator back hoe. Material tanah pucuk yang telah dikupas
ditimbun di lokasi timbunan seluas 5.000 m2 yang berjarak 50 meter dari front
tambang dan berada di sisi barat area sekuen Tahun 2027. Setelah pengupasan
tanah pucuk, dilanjutkan penggalian sirtu menggunakan 2 unit excavator back hoe.
Material sirtu yang telah tergalilangsung dimuat ke dump truck untuk dilakukan
penjualan. Peralatan dump truck yang digunakan untuk proses penjualan disediakan
sendiri oleh pihak konsumen/pembeli yang mengangkut material sirtu dari lokasi
tambang ke lokasi penjualan.
Halaman 6 dari 33
tidak memaksakan jumlah volume angkut maksimal [Link] alat
pengangkut material tambang tidak melebihi kapasitas angkut serta melakukan
penutupan pada bak truk sedemikan rupa untuk menghindari terjadinya ceceran dan
timbulan debu selama proses [Link] bahan galian disesuaikan
dengan kapasitas muat, jumlah armada, dan kapasitas jalan tambang yang ada.
Kecepatan armada juga perlu disesuaikan sehingga dapat meminimalisir terjadinya
kecelakaan. Truk juga harus dipastikan untuk keluar dari lokasi tambang dalam
keadaan bannya bersih dari ceceran material sirtu dengan melewati bak cuci truk.
2. Reklamasi Lahan
Kegiatan reklamasi dan revegetasi di lokasi IUP akan dilakukan progresif setiap
tahunnya mengikuti kemajuan penambangan setiap tahunnya. Setelah kegiatan
penambangan pada tahun 1 selesai, maka blok tersebut akan langsung di reklamasi
dengan melakukan penataan, penebaran tanah pucuk dan revegetasi dengan
tanaman randu, baik pada lantai tambang maupun pada jenjang tambang. Kegiatan
penataan lahan akan menggunakan alat berat mekanis seperti excavator dan wheel
loader yang ada di lokasi tambang, unutk kegiatan revegetasi akan melibatkan tenaga
manual dari masyarakat setempat yang akan dipekerjakan oleh perusahaan.
Rencana luasan lahan yang akan di reklamasi setiap tahunnya mengikuti luas
kemajuan penambangan setiap tahunnya
Halaman 7 dari 33
3. Demobilisasi karyawan
Halaman 8 dari 33
Ti = suhu rata-rata (°C)
10
𝑃𝐸 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑥 = (2842,301/(1,8 𝑥 26,84 + 22)) 9
𝑃𝐸 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑥 = 60,97
Keterangan
𝐸𝑀𝑃𝑀10 : Emisi PM10 (Kg)
𝐸𝐹𝑃𝑀10 :Faktor Emisi PM10 (Kg/m2 tahun)
Aaffected 2
: Area terdampak konstruksi (m )
d : durasi konstruksi (tahun)
CE : Efisiensi pengendalian emisi
PE : Indeks presipitasi-evaporasi Thornthwaite
S : Kandungan tanah-lanau (%)
Halaman 9 dari 33
Eco = 0,25 Km x 3 unit x 8,4 gr/Km = 6,3 gr/hari
dimana :
E = Emisi dihasilkan (gr/hari)
Eco = Emisi CO (gr/hari)
R = panjang jalan dilalui dan jumlah kendaraan melintas (Km)
FE = faktor emisi
Tabel 3. Emisi mobilisasi alat tambang
Faktor pengali emisi untuk TSP adalah 2,6 kg/jam, PM10 adalah 0,75
kg/jam, PM2,5 adalah 0,105 kg/jam) sehingga jumlah emisi yang
dihasilkan sebesar:
2,6 (𝑠)1,2
TSP =
𝑀1,3
2,6 (6,9%)1,2
TSP = (7,9%1,3
TSP = 2,849 kg/jam
TSP = 5,769 ton/tahun
Dimana:
s = Kandungan lanau (%)
Halaman 10 dari 33
M = Kelembaban (%)
Halaman 11 dari 33
• Estimasi Emisi Pengangkutan Material
E = R x FE
Eco = 0,25 Km x 55 truk/hari x 8,4 gr/Km = 115,5 gr/hari
dimana :
E = Emisi dihasilkan (gr/hari)
Eco = Emisi CO (gr/hari)
R = panjang jalan dilalui dan jumlah kendaraan melintas (Km)
FE = faktor emisi
Tabel 7. Emisi pengangkutan sirtu
Halaman 12 dari 33
Pi = presipitasi bulanan bulan ke-i (mm)
(sumber : Copernicus ERA Hourly data)
𝑃𝐸 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑥 = 60,97
Keterangan
𝐸𝑀𝑃𝑀10 : Emisi PM10 (Kg)
𝐸𝐹𝑃𝑀10 :Faktor Emisi PM10 (Kg/m2 tahun)
Aaffected : Area terdampak konstruksi (m2)
d : durasi konstruksi (tahun)
CE : Efisiensi pengendalian emisi
PE : Indeks presipitasi-evaporasi Thornthwaite
S : Kandungan tanah-lanau (%)
• Emisi Reklamasi
Halaman 13 dari 33
Tabel 9. Faktor emisi reklamasi (setara kegiatan land clearing) berdasarkan AP-42;11.9
Faktor pengali emisi untuk TSP adalah 2,6 kg/jam, PM10 adalah 0,75
kg/jam, PM2,5 adalah 0,105 kg/jam) sehingga jumlah emisi yang
dihasilkan sebesar:
2,6 (𝑠)1,2
TSP = 𝑀1,3
2,6 (6,9%)1,2
TSP = (7,9%1,3
TSP = 2,849 kg/jam
TSP = 5,769 ton/tahun
Dimana:
s = Kandungan lanau (%)
M = Kelembaban (%)
Halaman 14 dari 33
• Emisi demobilisasi peralatan tambang
Halaman 15 dari 33
Tabel 13. Estimasi Emisi proses produksi kegiatan penunjang
No. Tahapan Parameter Emisi (ton/tahun)
A Pra Konstruksi
1 Pengadaan Lahan -
3 Pengurusan Perizinan -
B Konstruksi
TSP 0,000042
2 Konstruksi kantor lapangan PM10 0,000300
PM2,5 0,000030
CO 0,001890
HC 0,000405
3 Mobilisasi peralatan tambang NOx 0,003983
PM10 0,000315
SO2 0,000185
C Operasi
TSP 5,769020
1 Penyiapan lahan PM10 0,432807
PM2,5 0,605747
CO 0,034650
HC 0,007425
2 Pengangkutan bahan tambang NOx 0,073013
PM10 0,005775
SO2 0,003383
D Pasca Operasi
TSP 0,000042
1 Pembongkaran fasilitas tambang PM10 0,000300
PM2,5 0,000030
TSP 5,769020
2 Reklamasi Tambang PM10 0,432807
PM2,5 0,605747
CO 0,001890
HC 0,000405
4 Demobilisasi peralatan dan material NOx 0,003983
PM10 0,000315
SO2 0,000185
Total TSP 11,5727748568
Halaman 16 dari 33
PM10 1,930292688
PM2,5 0,269362275
CO 0,003780
HC 0,000810
NOx 0,007965
SO2 0,000369
*bahwasanya penggalian sirtu merupakan proses utama dan sudah dijelaskan di tabel 2 pada
neraca produksi, tabel ini memuat proses penunjang tambang.
Tidak ada sumber emisi wajib pantau. Emisi yang dihasilkan adalah emisi fugitive.
Tidak ada sumber emisi cerobong wajib pantau karena tidak ada cerobong. Emisi
yang dihasilkan berupa emisi fugitif partikulat
Tidak ada parameter dan nilai baku mutu karena tidak ada cerobong. Emisi yang
dihasilkan berupa emisi fugitif partikulat.
Dalam proses CV. RATNA DUA PUTRI tidak memiliki proses penunjang
produksi
Tidak ada bahan baku / bahan bakar serta bahan penolong yang
digunakan
Halaman 17 dari 33
3) Neraca Massa Proses Penunjang
Tidak ada sumber emisi wajib pantau karena tidak ada cerobong. Emisi
yang dihasilkan berupa emisi fugitif partikulat
Tidak ada parameter dan nilai baku mutu karena tidak ada cerobong. Emisi yang
dihasilkan berupa emisi fugitif partikulat.
Kebutuhan air dipergunakan untuk kegiatan penyiraman lahan dan jalan. Sumber
air ini dibeli dari pihak ketiga. Jalan yang disiram adalah jalan tambang hingga ke
jalan desa dengan panjang 280 m lebar 5 m. sehingga luasan jalan yang disiram
adalah 2.000 m2. Efisiensi alat pengendalian debu dengan spray 110 ml/menit
adalah sebesar 50%. Bufferzone akan digunakan sebagai pendukung
pengendalian emisi yang akan dilakukan dengan pembuatan green belt disekitar
IUP.
Tabel 16. Spesifikasi water truck
Tenaga 3.600 rpm Kapasitas Tangki 5.000 ltr
Maksimum
Torsi max 1.800 rpm Berat kosong 8 ton
Jumlah Silinder 4 Dimensi keseluruhan 3450 * 1520 *
1050 mm
Bahan bakar Diesel Material body Mild steel 3,2
mm
Jumlah Water truck yang dibutuhkan 1
Jumlah ritase pengisian air per hari (musim hujan) 1
Jumlah ritase pengisian air per hari (musim kemarau) 3
Halaman 18 dari 33
Tabel 17. Kebutuhan air saat operasional (musim hujan)
Truk yang digunakan untuk angkutan harus tertutup bak dengan rapat dan
batasan volume disesuaikan dengan kapasitas truk. Saat meninggalkan
lokasi tambang dan tidak membawa muatan terlalu penuh sehingga tidak
ada ceceran material yang terjatuh di jalan.
Halaman 19 dari 33
Gambar 3. Hydraulic fine spray dan jenis sebaran spray
Halaman 20 dari 33
A. Hasil Dispersi Tahap Penambangan Tanpa Data Baseline Sebelum
Pengelolaan
1. TSP
Sebelum dilakukan adanya pengelolaan konsentrasi TSP 24 jam tertinggi
berada pada nilai 317 µg/m3. Nilai tersebut cenderung tinggi dan di atas baku mutu
sehingga dibutuhkan pengelolaan untuk mengurangi dampak emisi.
2. PM10
Sebelum dilakukan adanya pengelolaan konsentrasi PM10 24 jam tertinggi
berada pada nilai 85,9 µg/m3. Nilai tersebut cenderung tinggi melebihi baku mutu
dan dibutuhkan pengelolaan untuk mengurangi dampak emisi.
Halaman 21 dari 33
3. PM2,5
Sebelum dilakukan adanya pengelolaan konsentrasi PM2,5 24 jam tertinggi
berada pada nilai 25,4 µg/m3. Nilai tersebut cenderung tidak melebihi baku mutu
namun tetap dibutuhkan pengelolaan untuk mengurangi dampak emisi.
1. PM10
Sebelum dilakukan adanya pengelolaan konsentrasi PM10 24 jam tertinggi
berada pada nilai 122 µg/m3. Nilai tersebut melebihi baku mutu dan dibutuhkan
pengelolaan untuk mengurangi dampak emisi
Halaman 22 dari 33
2. PM2,5
Sebelum dilakukan adanya pengelolaan konsentrasi PM2,5 24 jam tertinggi
berada pada nilai 44,6 µg/m3. Nilai tersebut melebihi baku mutu dan tidak
dibutuhkan pengelolaan untuk mengurangi dampak emisi
2. PM10
Sebelum dilakukan pengelolaan nilai dispersi maksimal sebesar 86,9 µg/m3
dengan jarak jatuh sebaran 150-700 m dari pusat kegiatan. Setelah dilakukan
pengelolaan konsentrasi PM10 24 jam tertinggi berada pada nilai 33,5 µg/m3. Nilai
tersebut cenderung aman dan di bawah baku mutu.
Halaman 23 dari 33
3. PM2,5
Sebelum dilakukan pengelolaan nilai dispersi maksimal sebesar 25,4 µg/m3
dengan jarak jatuh sebaran 150-800 m dari pusat kegiatan. Setelah dilakukan
adanya pengelolaan konsentrasi PM2,5 24 jam tertinggi berada pada nilai 12,6
µg/m3. Nilai tersebut cenderung aman dan tidak mempengaruhi kualitas udara
ambien secara signifikan.
1. PM10
Sebelum dilakukan pengelolaan nilai dispersi maksimal sebesar 122 µg/m3
dengan jarak jatuh sebaran 50-600 m dari pusat kegiatan. Setelah dilakukan
adanya pengelolaan konsentrasi PM10 24 jam tertinggi berada pada nilai 68,5
µg/m3. Nilai tersebut cenderung aman dan di bawah baku mutu.
Halaman 24 dari 33
2. PM2,5
Sebelum dilakukan pengelolaan nilai dispersi maksimal sebesar 44,6 µg/m3
dengan jarak jatuh sebaran 100-300 m dari pusat kegiatan. Setelah dilakukan
adanya pengelolaan konsentrasi PM2,5 24 jam tertinggi berada pada nilai 32,5
µg/m3. Nilai tersebut cenderung aman dan tidak mempengaruhi kualitas udara
ambien secara signifikan.
Halaman 25 dari 33
Tabel 20. Rekapitulasi hasil model dan titik jarak jatuh sebelum dilakukan pengelolaan emisi
Jarak Jarak
jatuh jatuh
Hasil sebaran Hasil sebaran
Jenis
dispersi hasil dispersi hasil
Kegiatan
Baku maksimum dispersi maksimum dispersi
Periode mutu sebelum sebelum setelah setelah
No. Parameter pengukuran (µg/m3) reduksi reduksi reduksi reduksi
1 tahun - - - - -
Selama TSP 24 jam 230 - - - -
kegiatan 1 tahun 40 63,5 50-400 46 10-250
dengan
data PM10 24 jam 75 122 50-600 68,5 10-400
Base 1 tahun 15 29,75 50-200 25,13 10-100
1 PM2,5 24 jam 55 44,6 100-300 32,5 50-150
1 tahun - 112 100-500 30,7 50-250
Selama TSP 24 jam 230 317 100-600 86,9 50-200
kegiatan 1 tahun 40 28,5 50-600 11 50-150
tanpa
data PM10 24 jam 75 86,9 150-700 33,5 50-350
Base 1 tahun 15 9,15 100-700 4,53 10-400
2 PM2,5 24 jam 55 25,4 150-800 12,6 50-400
5) Sumber Emisi wajib pantau dilengkapi dengan nama, titik koordinat, dan
periode pemantauan
Halaman 26 dari 33
Tidak ada lokasi pengambilan sampel karena tidak ada alat pengendali emisi yang
digunakan
6) Sarana prasarana pengambilan sampel
Tidak ada sarana prasarana pengambilan sampel karena tidak ada alat
pengendali emisi yang digunakan
Tabel 22. Lokasi pemantauan kualitas udara ambien, kebisingan dan getaran
Lokasi Pemantauan
No Titik Pantau Koordinat DMS Koordinat Keterangan
Desimal
1 Titik 1 111° 42' 23,758" E 111,706599 E Pemukiman
7° 39' 23,149" S -7,65643 S
2 Titik 2 111° 42' 24,257" E 111,706738 E Permukiman
7° 39' 35,113" S -7,659754 S
Titik 1, permukiman dan jalan dilewati armada, Desa Morang, Kec. Kare, berlawanan arah angin (upwind) (ilham sport)
Titik 2, permukiman dan jalan dilewati armada, Desa Morang, Kec. Kare berlawanan arah angin (upwind)
Gambar 4. Peta pemantauan kualitas udara ambien dan kebisingan CV. RATNA DUA PUTRI
Halaman 27 dari 33
Gambar 5. Wind rose lokasi tambang (wind to)
Halaman 28 dari 33
- Baku Mutu Kebisingan
Baku mutu kebisingan yang digunakan adalah peruntukan kawasan dan
permukiman yaitu 55 db(A) sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
No. KEP-48/MENLH/ 11/ 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Pemantauan
dilakukan selama 6 bulan sekali.
Tabel 24. Baku mutu kebisingan sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
No. KEP-48/MENLH/ 11/ 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan
Peruntukan Kawasan/ Tingkat
kebisingan
Lingkungan Kegiatan DB (A)
a. Peruntukan kawasan
1. Perumahan dan pemukiman 55
2. Perdagangan dan Jasa 70
3. Perkantoran dan Perdagangan 65
4. Ruang Terbuka Hijau 50
5. Industri 70
6. Pemerintahan dan Fasilitas 60
Umum
7. Rekreasi 70
8. Khusus:
- Bandar udara *) 70
- Stasiun Kereta Api *) 60
- Pelabuhan Laut
- Cagar Budaya
b. Lingkungan Kegiatan
1. Rumah Sakit atau sejenisnya 55
2. Sekolah atau sejenisnya 55
3. tempat ibadah atau sejenisnya 55
Halaman 29 dari 33
Frekuensi Nilai Tingkat Geraran dalam mikron (10-6 meter)
(Hz) Tidak Mengganggu Tidak Menyakitkan
Mengganggu Nyaman
50 <8 8-12 > 12- 15 > 15
63 <6 6-9 > 9- 12 > 12
8) Kewajiban
1) Memastikan alat pengangkut material tambang tidak melebihi kapasitas
angkut serta melakukan penutupan pada bak truk sedemikan rupa untuk
menghindari terjadinya ceceran dan timbulan debu selama proses
pengangkutan;
2) Memiliki alat pengendali emisi sesuai kebutuhan;
3) Menaati Baku Mutu Emisi yang ditetapkan bagi Usaha dan/atau Kegiatan;
4) Memenuhi persyaratan teknis pengambilan sampel emisi;
5) Memantau baku mutu udara ambien serta konsentrasi emisi secara berkala
menggunakan laboratorium yang teregistrasi oleh KLH/ BBLH;
6) Melaksanakan pengurangan dan pemanfaatan kembali;
7) Memiliki penanggung jawab yang memiliki kompetensi di bidang perlindungan
dan pengelolaan mutu udara
8) Melakukan perhitungan Beban Emisi
9) Memiliki Sistem Tanggap Darurat Pencemaran Udara;
10) Melaporkan seluruh kewajiban pengendalian Pencemaran Udara melalui
Sistem Informasi Lingkungan Hidup (SIMPEL) dan secara manual ke DLH
Provinsi Jawa Timur dan Tembusan ke DLH Kabupaten Madiun; dan
11) Melakukan pengelolaan emisi fugitif.
9) Larangan
1) Dilarang mengangkut material tambang melebihi batas ketinggian bak truk
untuk menghindari terjadinya ceceran selama proses pengangkutan;
2) Dilarang mengangkut material tambang dalam keadaan bak truk terbuka;
3) Membuang emisi secara langsung atau pelepasan dadakan;
4) Melakukan pembuangan emisi non-fugitif tidak melalui cerobong
5) Menambahkan udara ke cerobong setelah alat pengendali, di luar dari proses
operasi kegiatan; dan
6) Tindakan lain yang dilarang dalam Persetujuan Lingkungan dan/atau
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Halaman 30 dari 33
3. personel yang memiliki kompentensi lainnya sesuai dengan kebutuhan.
Halaman 31 dari 33
a. Memantau, mengukur, menganalisis, dan mengevaluasi kinerja
pengendalian Pencemaran Udara; dan
b. Mengevaluasi hasil pemantauan Emisi yang dilakukan terhadap nilai Baku
Mutu Emisi yang ditetapkan dalam Persetujuan Lingkungan atau
peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Baku Mutu Emisi.
11. Melalukan pemeriksaan berupa:
a. Mengevaluasi pemenuhan terhadap kewajiban penaatan pengendalian
Pencemaran Udara;
b. Melakukan internal audit secara berkala; dan
c. Mengkaji sistem manajemen lingkungan organisasi terkait pengendalian
Pencemaran Udara untuk memastikan kesesuaian, kecukupan, dan
keefektifan.
12. Melakukan tindakan berupa:
a. Melakukan tindakan untuk menangani ketidaksesuaian; dan
b. Melakukan tindakan perbaikan berkelanjutan terhadap sistem manajemen
lingkungan yang belum sesuai dan efektif untuk meningkatkan kinerja
pengendalian Pencemaran Udara.
Halaman 32 dari 33
E. Pernyataan Pemrakarsa / Pemohon
Kami menyatakan bahwa Ringkasan Eksekutif ini dibuat dengan sebenar-
benarnya dan sesuai dengan kondisi dan atau perencanaan senyatanya. Jika
dikemudian hari terjadi ketidaksesuaian maka kami bersedia untuk diproses
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Halaman 33 dari 33