0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan33 halaman

RE AGUSTUS 2026 RDP

Dokumen ini merupakan kajian teknis persetujuan emisi untuk CV. Ratna Dua Putri yang berlokasi di Madiun, Jawa Timur, terkait kegiatan penggalian kerikil/sirtu. Dokumen mencakup identitas perusahaan, penanggung jawab, dan detail teknis mengenai emisi yang dihasilkan selama berbagai tahap operasi penambangan. Selain itu, terdapat juga rencana pemenuhan perizinan dan sosialisasi kepada masyarakat terkait kegiatan penambangan yang akan dilakukan.

Diunggah oleh

ario geger2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan33 halaman

RE AGUSTUS 2026 RDP

Dokumen ini merupakan kajian teknis persetujuan emisi untuk CV. Ratna Dua Putri yang berlokasi di Madiun, Jawa Timur, terkait kegiatan penggalian kerikil/sirtu. Dokumen mencakup identitas perusahaan, penanggung jawab, dan detail teknis mengenai emisi yang dihasilkan selama berbagai tahap operasi penambangan. Selain itu, terdapat juga rencana pemenuhan perizinan dan sosialisasi kepada masyarakat terkait kegiatan penambangan yang akan dilakukan.

Diunggah oleh

ario geger2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RINGKASAN EKSEKUTIF

PERSETUJUAN TEKNIS PEMBUANGAN EMISI


CV. RATNA DUA PUTRI
(JENIS DOKUMEN: KAJIAN TEKNIS)

Surabaya, 6 Agustus 2026

1. Identitas Perusahaan/Instansi :
a. Nama : CV. RATNA DUA PUTRI
b. Alamat : Jln. Trunojoyo, RT 10 RW 03, Kelurahan
Klecorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten
Madiun, Jawa Timur
c. Telp./Fax : 082334213627
d. e-mail : ratnaduaputri2@[Link]

2. Penanggungjawab Usaha dan/atau kegiatan :


a. Nama : SANDHIKA RATNA FERRYANTIKO
b. Jabatan : Direktur
c. Alamat : Jln. Trunojoyo, RT 10 RW 03, Kelurahan
Klecorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten
Madiun, Jawa Timur
d. No. Telepon : 082334213627 (Direktur)
e. e-mail : ratnaduaputri2@[Link]

3. Data Usaha/Kegiatan :
a. Nama : CV. RATNA DUA PUTRI
b. Jenis Kegiatan : 08103 Penggalian Kerikil/Sirtu
c. Lokasi : Desa Morang, Kecamatan Kare, Kabupaten
Madiun, Provinsi Jawa Timur

Persetujuan Teknis dilaksanakan dengan ketentuan sebagaimana tersebut dibawah ini.

Catatan:
- Font Arial 12
- Line Spasing 1 (Single)
- Antar paragraph: Spasing (Befor 6, Ater 0)
- Antar list: Spasing (Befor 3, Ater 0)
- Huruf pada tabel bisa diperkecil sesuai kebutuhan tapi tetap dapat dibaca
- JANGAN MERUBAH LAYOUT!!!!!

…………….. STOP GANTI HALAMAN…………………

Halaman 1 dari 33
A. Pemenuhan Kajian Teknis
1) Parameter dan Nilai Baku Mutu Emisi untuk:
a) Tahap Pra-Konstruksi

Perencanaan Teknis dan


Pengurusan Perizinan
Tahap Pra-Konstruksi

Sosialisasi Rencana
Pertambangan

Pengurusan perizinan
Tahap Konstruksi

Mobilisasi tenaga kerja


Emisi fugitif
CO : 0,000000021 ton/tahun
HC : 0,0000000045 ton/tahun
NOx : 0,0000000443 ton/tahun
Mobilisasi Peralatan PM10 : 0,0000000035 ton/tahun
tambang SO2 : 0,0000000021 ton/tahun

Konstruksi fasilitas Emisi fugitif (partikulat)


tambang TSP : 0,002813 ton/tahun
PM10 : 0,000834 ton/tahun
PM2,5 : 0,000083 ton/tahun

Penyiapan lahan (land Emisi fugitif (partikulat)


Tahap Penambangan

TSP : 1,29570639 ton/tahun


clearing) PM10 : 0,205299796 ton/tahun
PM2,5 : 0,028741971 ton/tahun

Penggalian material tambang


Menggunakan alat berat dan Emisi fugitif (partikulat)
pemuatan (163.568 TSP : 16,68394 ton/tahun
ton/tahun) PM10 : 8,17840 ton/tahun
PM2,5 : 0,81784 ton/tahun

Emisi fugitif
Pengangkutan material
CO : 0,000000385 ton/tahun
tambang sirtu HC : 0,0000000825 ton/tahun
NOx : 0,0000008113 ton/tahun
PM10 : 0,0000000642 ton/tahun
Pemeliharaan alat berat SO2 : 0,0000000376 ton/tahun

Halaman 2 dari 33
Pembongkaran fasilitas Emisi fugitif (partikulat)
tambang TSP : 0,002813 ton/tahun
Pascatambang

PM10 : 0,000834 ton/tahun


PM2,5 : 0,000083 ton/tahun
Tahap

Reklamasi lahan
Emisi fugitif (partikulat)
TSP : 1,067558938 ton/tahun
PM10 : 0,307949694 ton/tahun
PM2,5 : 0,043112957 ton/tahun

Demobilisasi tenaga kerja

Emisi fugitif
CO : 0,000000021 ton/tahun
Demobilisasi peralatan dan HC : 0,0000000045 ton/tahun
material NOx : 0,0000000443 ton/tahun
PM10 : 0,0000000035 ton/tahun
SO2 : 0,0000000021 ton/tahun

Gambar 1. Diagram Tahap Pra-Konstruksi hingg pasca tambang

1) Pengadaan Lahan Tambang


Lahan yang ada di lokasi IUP CV. RATNA DUA PUTRI adalah lahan milik warga
yang dikerjasamakan dengan CV. RATNA DUA PUTRI untuk diambil komoditas sirtu.
2) Perencanaan Teknis dan Pengurusan Perizinan
Dalam rangka legalitas formil operasional penambangan Sirtu, maka pengurusan
perizinan mutlak dilakukan sebagai prasyarat memulai penambangan.
Pemegang IUP memiliki hak :
1. Memasuki wilayah IUP sesuai dengan peta dan daftar koordinat;
2. Melakukan kegiatan usaha pertambangan pada IUP sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan;
3. Membangun sarana dan/atau prasarana penunjang kegiatan usaha
pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
4. Mendapatkan Pembinaan di bidang keselamatan pertambangan, lingkungan,
teknis pertambangan, dan manajemen dari Menteri melalui Direktorat Jenderal
Mineral dan Batubara;
5. Memanfaatkan atau melakukan kerja sama dengan Badan Usaha lain dalam
rangka memanfaatkan sarana dan prasarana umum untuk keperluan kegiatan IUP
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan;
6. Bekerja sama dengan perusahaan jasa pertambangan yang telah mendapatkan
IUJP atau sertifikat standar untuk kegiatan konsultasi/perencanaan usaha jasa
pertambangan sesuai dengan persetujuan Dokumen Perencanaan
Penambangan;
7. Membangun sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan operasi produksi
sesuai dengan persetujuan Dokumen Perencanaan Penambangan;
8. Memanfaatkan atau melakukan kerja sama dengan koperasi/perseorangan lain
dalam rangka memanfaatkan sarana dan prasarana umum untuk keperluan
kegiatan IUP sebagaimana persetujuan Dokumen Perencanaan Penambangan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

Halaman 3 dari 33
9. Memiliki komoditas batuan yang telah diproduksi setelah membayar pajak daerah
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
10. Hak lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pemegang IUP memiliki kewajiban :
1. Menyusun dan menyampaikan Dokumen Teknis Pertambangan untuk
mendapatkan persetujuan;
2. Melakukan kegiatan penambangan setelah mendapatkan persetujuan Dokumen
Perencanaan Penambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
3. Melakukan kegiatan penambangan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah IUP
diterbitkan;
4. Melakukan penyelesaian hak atas tanah dengan pemegang hak atas tanah dalam
IUP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;.
5. Menyampaikan laporan kegiatan tertulis secara berkala kepada Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral melalui Direktur Jenderal Mineral dan Batubara atas
pelaksanaan kegiatan berdasarkan persetujuan Dokumen Perencanaan
Penambangan;
6. Menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik (good mining practice);
7. Melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
8. Mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
9. Menjamin penerapan standar dan baku mutu lingkungan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;

Kegiatan perencanaan teknis dilakukan berdasar survey lokasi secara detil guna
merencanakan block plan penambangan meliputi studi eksplorasi kegiatan
penambangan dimana didalamnya termasuk studi geologi, hidrogeologi, kedalaman
lubang galian, jenis komoditas tambang, umur tambang, sistem penambangan yang
dipakai, sistem rehabilitasi lahan setelah penambangan, dan lain-lain. Lokasi tambang
secara umum akan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1. Daerah tadah/imbuhan air tanah (catchment area) serta sempadan saluran air di
sekitar lokasi penambangan sesuai aturan yang berlaku;
2. Letak bangunan-bangunan penting seperti tiang transmisi tegangan tinggi,
bendung, tanggul dan jembatan.
3. Penambangan tidak dilakukan pada tempat dengan lereng yang lebih besar dari
40 % agar tidak terjadi erosi dan longsoran.
4. Komposisi dan ketebalan lapisan yang berlokasi di antara tambang dan air
permukaan;
5. Memastikan lapisan terlindung dari erosi akibat aliran air;
6. Daerah rawan gerakan tanah, jalur gempa kuat, bahaya letusan gunung api, banjir
bandang dan sebagainya.
7. Daerah-daerah yang memiliki fungsi lindung.

3) Sosialisasi Rencana Penambangan


Kegiatan Sosialisasi rencana kegiatan merupakan salah satu kewajiban pemrakarsa
dalam melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan pekerjaan, dengan tujuan untuk
mendapatkan saran, tanggapan masyarakat sekitar, terkait rencana penambangan
Sirtu yang akan dilaksanakan. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan dengan perwakilan
masyarakat di Ringinrejo sehingga dapat memberikan informasi kepada masyarakat

Halaman 4 dari 33
terkait tahapan-tahapan pelaksanaan penambangan dan rehabilitasi pasca
penambangan serta upaya pengendalian dampak yang dihasilkan, sehingga dapat
mereduksi keresahan warga terkait potensi keamanan dan gangguan kenyamanan
yang ditimbulkan. Sebelum dilakukan penambangan maka dilakukan identifikasi
vegetasi yang berada di lokasi tambang. Identifikasi dilakukan dengan tujuan
menyesuaikan tanaman yang akan digunakan reklamasi sehingga memiliki harapan
hidup lebih tinggi apabila sesuai dengan pemilihan jenis tanamannya sesuai habitatnya

b) Tahap Konstruksi

1) Mobilisasi Tenaga Kerja

Pada tahap persiapan penambangan, kegiatan dilakukan oleh pemrakarsa untuk


merekrut tenaga kerja. Kebutuhan tenaga kerja untuk kegiatan penambangan ini
dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu manajemen/staff dan pekerja tambang.
Pemrakarsa akan memberikan prioritas utama kepada tenaga kerja lokal dalam
pelaksanaan penambangan dimana sistem pengaturannya akan melibatkan Aparat
Desa setempat. Selama proses penerimaan tenaga kerja dilakukan pendataan dan
pengumpulan fotokopi KTP guna mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan.
Setiap tenaga kerja diharuskan menjaga ketertiban dan keamanan di dalam dan luar
proyek. Tenaga kerja yang dibutuhkan 15 orang Commented [age1]: rapikan

2) Mobilisasi Peralatan Tambang

Kegiatan Mobilisasi Peralatan Tambang yang dilakukan meliputi pengangkutan alat


berat (excavator Komatsu Pc-200 kapasitas bucket 0,9 m3) 2 unit, dan water truck
yang berfungsi menunjang operasional tambang. Truk berasal dari pembeli.

3) Pembangunan fasilitas tambang

Kantor menggunakan bangunan eksisting berlokasi di luar tapak [Link]


fasilitas tambang berupa kolam pengendapan, pos lapangan, jalan tambang dan
drainase tambang.

c) Tahap Tambang (Operasi Produksi)

1) Penyiapan Lahan Tambang (land clearing)

Pembersihan lahan ditujukan untuk mempersiapkan lahan dengan mengubah lahan


tambang menjadi lahan yang sesuai dengan perancangan teknis penambangan.
Sebelum dilaksanakan land clearing, melakukan identifikasi jenis–jenis tanaman yang
berada di sekitar (inventarisasi tanaman), karena hal ini berhubungan dengan
rencana reklamasi revegetasi. Desain tambang akan mengakomodir pohon-pohon
eksisting agar tidak ditebang kecuali menghalangi jalan akses sehingga pelestarian
plasma nutfah terjaga. Selain itu pelaksanaan revegetasi tiap tahun diharapkan dapat
mengembalikan kesuburan tanah. Pembersihan lahan dilakukan dengan
membersihkan vegetasi, benda-benda lain, dan bentukan-bentukan lahan yang
diperkirakan tidak mendukung pelaksanaan penambangan.

Kegiatan pengembangan jalan tambang ini meliputi kegiatan land clearing,


pemadatan/pengerasan jalan sehingga area akan lebih mudah untuk dilintasi
kendaraan pengangkut bahan galian. Akses jalan tambang ini menggunakan jalan
lokal yang ada, yaitu dengan memperlebar dan perkerasan jalan lokal tersebut,

Halaman 5 dari 33
ataupun menggunakan akses jalan tambang yang sudah ada oleh kegiatan
penggalian Sirtu yang sudah ada sebelumnya. Berdasarkan KepMen
1827/K/30/MEM/2018, Lebar Jalan dibuat dua arah dengan mempertimbangkan alat
angkut terbesar berupa excavator maka lebar jalan dibuat 3,5 x lebar alat angkut
terbesar yaitu sekitar 10 meter dan panjang total 250 m sehingga luas jalan tambang
seluruhnya adalah 2.500 m2.

Kegiatan pembuatan patok/batas IUP dan blok area pertambangan sesuai peraturan
yang berlaku. Sehingga penambangan yang dilaksanakan akan dapat berjalan sesuai
dengan rencana kegiatan pertambangan. Pembuatan batas penambangan perlu
dilakukan agar pada saat kegiatan penambangan berlangsung, agar para pekerja
tambang tidak bekerja melebihi dari IUP yang diijinkan. Batas tambang ini juga
diperlukan untuk menata lahan setelah kegiatan tambang selesai dilaksanakan. Hal
ini sangat berguna untuk menghindari kerusakan lingkungan yang lebih lanjut akibat
kegiatan penambangan yang dilakukan.

2) Kegiatan Operasional Penambangan (Penggalian material tambang)

Rencana produksi komoditas sirtu 163.568 ton/tahun. Umur tambang yang dimiliki
berdasarkan estimasi cadangan sebesar 3.271.353 ton dibagi rencana produksi tiap
tahun sebesar 163.568 ton yaitu 20 tahun. Rencana produksi komoditas sirtu masa 5
Tahun dilakukan mulai Tahun 2027 s/d 2031. Luas bukaan lahan yang digunakan
untuk area penambangan/front tambang Tahun 2027 s/d 2031 2,13 ha. Waktu kerja
efektif yang direncanakan ialah 8 jam per hari, 25 hari per bulan.

Kegiatan penambangan Tahun 2027 dimulai dari sisi utara mengarah ke selatan
Wilayah IUP. Luas bukaan lahan 0,92 ha. Volume tanah pucuk yang dikupas 4.613
m3. Rencana produksi komoditas sirtu 163.568 ton. Peralatan yang digunakan 2 unit
excavator back [Link] rencana elevasi akhir tambang pada elevasi 329 [Link].
Geometri jenjang tambangyang digunakan 5 jenjang dengan ukuran tinggi tiap
jenjang maksimal 7 meter, sudut jenjang 60° Recovey penambangan 100%. Proses
penambangan diawali dengan pengupasan dan penimbunan tanah pucuk
menggunakan 1 unit excavator back hoe. Material tanah pucuk yang telah dikupas
ditimbun di lokasi timbunan seluas 5.000 m2 yang berjarak 50 meter dari front
tambang dan berada di sisi barat area sekuen Tahun 2027. Setelah pengupasan
tanah pucuk, dilanjutkan penggalian sirtu menggunakan 2 unit excavator back hoe.
Material sirtu yang telah tergalilangsung dimuat ke dump truck untuk dilakukan
penjualan. Peralatan dump truck yang digunakan untuk proses penjualan disediakan
sendiri oleh pihak konsumen/pembeli yang mengangkut material sirtu dari lokasi
tambang ke lokasi penjualan.

3) Pengangkutan bahan tambang

Pengangkutan merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam


kelancaran pencapaian target produksi pertahun. Untuk mendukung tercapainya
target produksi, sistem dan sarana transportasi perlu direncanakan dengan baik.
Rencana jalur tambang yang digunakan untuk transportasi adalah sebagai berikut:
Jalur pengangkutan yang berada di dalam lokasi penambangan dibuat dengan lebar
10 meter dan grade maksimun 12% atau 5⁰. Jalan di dalam lokasi tambang
menyesuaikan dengan lokasi yang akan ditambang. Untuk mengatur kepadatan di
lokasi penambangan maka untuk jalur masuk dan keluar lokasi tambang melalui barat
lokasi IUP melewati sungai yang rencananya akan dibuat akses jembatan.
Pengangkutan bahan galian ataupun material lain tersebut di dalam area
penambangan diwajibkan mengikuti aturan kesehatan dan keselamatan kerja yang
berlaku. Penumpukan material disesuaikan dengan kapasitas muat armada dan

Halaman 6 dari 33
tidak memaksakan jumlah volume angkut maksimal [Link] alat
pengangkut material tambang tidak melebihi kapasitas angkut serta melakukan
penutupan pada bak truk sedemikan rupa untuk menghindari terjadinya ceceran dan
timbulan debu selama proses [Link] bahan galian disesuaikan
dengan kapasitas muat, jumlah armada, dan kapasitas jalan tambang yang ada.
Kecepatan armada juga perlu disesuaikan sehingga dapat meminimalisir terjadinya
kecelakaan. Truk juga harus dipastikan untuk keluar dari lokasi tambang dalam
keadaan bannya bersih dari ceceran material sirtu dengan melewati bak cuci truk.

4) Pemeliharaan alat berat

Kegiatan pemeliharaan dilakukan terhadap peralatan yang digunakan saat


pertambangan. Kegiatan pemeliharaan peralatan bertujuan untuk mempertahankan
kinerja alat yang dilakukan secara berkala setiap bulan, sedangkan perbaikan
menyeluruh (overhoul) dilakukan setiap tahun sekali atau disesuaikan dengan
prosedur pengecekan dan perawatan sesuai penetapan Parts Life Time, sehingga
menimbulkan dampak positif bagi masyarakat sekitar dan lingkungan hidup
terdampak. Kegiatan pemeliharaan yang menghasilkan limbah B3 ini dilakukan saat
per tahun dan disimpan di TPS Limbah B3. Pengelolaan limbah B3 ini diserahkan
kepada pihak ketiga yang telah memiliki izin pengangkutan Limbah B3

d) Tahap Pasca tambang

1. Pembongkaran Fasilitas Tambang

Program pasca tambang yang direncanakan pemegang izin mencakup kegiatan


pemobongkaran, serta reklamasi dalam bentuk revegetasi dan penataan lahan.
Prinsip reklamasi yang diterapkan oleh pemohon izin adalah melakukan rehabilitasi
lahan selesai penambangan dan penanaman pohon sesuai keinginan masyarakat
sekitar. Rencana program pasca tambang akan dilaksanakan selama 5 tahun setelah
tambang tahun pertama dilakukan mengikuti kemajuan tambang tiap tahun. Untuk
periode awal kegiatan reklamasi tersebut penataan lahan, pembibitan, revegetasi,
pemeliharaan dan pemantauan.

2. Reklamasi Lahan

Lahan bekas tambang di daerah penelitian direncanakan difungsikan kembali


sebagai lahan pertanian/perkebunan dengan dtanami tanaman
pertanian/perkebunan yang sebelumnya sudah ada dilokasi ini. Kegiatan reklamasi
akan dilakukan dengan metode back filling. Kegiatan reklamasi yang akan dilakukan
adalah berupa penataan lahan, penebaran tanah pucuk, dan revegetasi dengan jenis
tanaman randu. Saluran irigasi pada area tambang juga akan ditata sedemikian rupa
sehingga tidak terjadi genangan dan air dapat mengalir dengan baik ke arah bagian
utara lokasi tambang berupa depresi/elevasi yang lebih rendah.

Kegiatan reklamasi dan revegetasi di lokasi IUP akan dilakukan progresif setiap
tahunnya mengikuti kemajuan penambangan setiap tahunnya. Setelah kegiatan
penambangan pada tahun 1 selesai, maka blok tersebut akan langsung di reklamasi
dengan melakukan penataan, penebaran tanah pucuk dan revegetasi dengan
tanaman randu, baik pada lantai tambang maupun pada jenjang tambang. Kegiatan
penataan lahan akan menggunakan alat berat mekanis seperti excavator dan wheel
loader yang ada di lokasi tambang, unutk kegiatan revegetasi akan melibatkan tenaga
manual dari masyarakat setempat yang akan dipekerjakan oleh perusahaan.
Rencana luasan lahan yang akan di reklamasi setiap tahunnya mengikuti luas
kemajuan penambangan setiap tahunnya

Halaman 7 dari 33
3. Demobilisasi karyawan

Kegiatan reklamasi di akhir tahun tambang masih membutuhkan kantor untuk


aktivitas karyawan (menggunakan bangunan eksisting di luar tapak proyek) karena
IUP seluas 16,60 Ha dengan bukaan 5 tahun pertama seluas 2,13 Ha ditambah
luasan fasilitas tambang seluas 58 m2 memakan waktu beberapa bulan agar
pelaksanaan rangkaian reklamasi selesai.

4. Demobilisasi alat berat

Berakhirnya operasional pertambangan maka berakhir juga kontrak kerja karyawan


tambang. CV. RATNA DUA PUTRI akan berupaya memberikan penjelasan terkait
berakhirnya masa kontrak kerja . Setelah rangkaian kegiatan reklamasi dan pasca
tambang selesai maka alat berat yang disewa ini akan dikembalikan kepada pihak
vendor alat berat

1) Jenis dan Kapasitas Produksi/Kegiatan yang diajukan


Tabel 1. Kapasitas Produksi penggalian sirtu
Kapasitas Produksi Luas bukaan/tahun
Tahun Nama Produk Rencana Pengembangan
ton/tahun Ha
1 163.568 0,92
2 163.568 0,46
3 Penggalian Kerikil/Sirtu 163.568 0,43
4 163.568 0,32
5 163.568 -
Jumlah 817.840 2,13

2) Bahan baku serta bahan penolong yang digunakan

Tidak ada bahan baku yang digunakan.

3) Neraca Massa Produksi

• Emisi konstruksi fasilitas tambang

Kegiatan konstruksi dapat menghasilkan emisi partikulat karena proses-


proses yang terlibat dalam konstruksi berupa material padat seperti tanah,
batu, batu gamping, dan beton. Berdasarkan Tabel 3-3 Section 2.A.5.b of
EMEP/EEA Guidebook (2023) bagian "Construction and Demolition", kegiatan
konstruksi untuk tipe tempat tinggal memiliki nilai faktor emisi untuk parameter
TSP sebesar 0,29 kg/m²/tahun, PM10 sebesar 0,086 kg/m²/tahun, dan PM2.5
sebesar 0,0086 kg/m²/tahun. Kondisi lokasi yang berupa tegalan didominasi
material berukuran butir pasir bercampur lanau (silt) maka berdasarkan EPA
1999, bernilai 33% (Sandy load). Dalam 1 tahun (6,75 jam/hari selama 300
hari kerja) maka setara dengan 2.025 jam kerja per tahun.
12 10
𝑃𝑖
PE dihasilkan dari rumus : 𝑃𝐸 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑥 = ∑ (1,8𝑇𝑖+22) 9 dimana:
𝑖=0

Pi = presipitasi bulanan bulan ke-i (mm)

Halaman 8 dari 33
Ti = suhu rata-rata (°C)
10
𝑃𝐸 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑥 = (2842,301/(1,8 𝑥 26,84 + 22)) 9

𝑃𝐸 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑥 = 60,97

Kegiatan konstruksi untuk fasilitas penambangan direncanakan seluas 58 m²,


sehingga jumlah emisi yang dihasilkan sebesar:
24 𝑆
EMPM10 = EFPM10 × Aaffected × d × (1 – CE) × ( ) × ( )
𝑃𝐸 9%
0,086 𝑘𝑔 0,5 24 33%
𝐸𝑀𝑃𝑀10 = × 58 𝑚2 × × (1 − 0) × ( )×( )
𝑚2 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 12 60,97 9%
𝐾𝑔 𝑗𝑎𝑚
𝐸𝑀𝑃𝑀10 = 0,299 ÷ 2.025
𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛
𝐾𝑔
𝐸𝑀𝑃𝑀10 = 0,000148
𝑗𝑎𝑚
𝑔
𝐸𝑀𝑃𝑀10 = 0,000041
𝑠

Keterangan
𝐸𝑀𝑃𝑀10 : Emisi PM10 (Kg)
𝐸𝐹𝑃𝑀10 :Faktor Emisi PM10 (Kg/m2 tahun)
Aaffected 2
: Area terdampak konstruksi (m )
d : durasi konstruksi (tahun)
CE : Efisiensi pengendalian emisi
PE : Indeks presipitasi-evaporasi Thornthwaite
S : Kandungan tanah-lanau (%)

Tabel 2. Emisi kegiatan konstruksi fasilitas tambang

Parameter Faktor Luas Durasi Jam Emisi Emisi Emisi


emisi bangunan konstruksi operasional (kg/jam) (g/detik) (ton/tahun)
(Kg/m2 (m2) (bulan)
tahun)
TSP 0,29 58 0,5 2.025 0,0000208 0,0000058 0,0000421
PM10 0,086 58 0,5 2.025 0,000148 0,000041 0,0003
PM2,5 0,0086 58 0,5 2.025 0,0000148 0,0000041 0,00003

• Emisi mobilisasi peralatan tambang

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 12 Tahun 2010


tentang Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Udara di di Daerah
pengangkutan menggunakan truk akan menghasilkan CO 8,4 g/Km, HC
1,8 g/Km, Nox 17,7 g/Km, PM10 1,4 g/Km, CO2 3172 g/Kg BBM, SO2 g/Km).
Alat berat yang dimobilisasi berdasarkan persetujuan tekno ekonomi CV.
RATNA DUA PUTRI 1 ater truck dan 2 alat berat sedangkan truk berasal
dari pembeli
Sehingga berdasarkan parameter tersebut perhitungan emisi CO yang
dihasilkan dari kegiatan pengangkutan material adalah:
E = R x FE

Halaman 9 dari 33
Eco = 0,25 Km x 3 unit x 8,4 gr/Km = 6,3 gr/hari
dimana :
E = Emisi dihasilkan (gr/hari)
Eco = Emisi CO (gr/hari)
R = panjang jalan dilalui dan jumlah kendaraan melintas (Km)
FE = faktor emisi
Tabel 3. Emisi mobilisasi alat tambang

Parameter Faktor Jumlah Panjang Emisi Emisi (gr/detik) Emisi (ton/tahun)


Emisi Kendaraan jalan (gr/hari)
(unit) (Km)
CO 8,4 3 0,25 6,3 0,00021875 0,00189
HC 1,8 1,35 0,00004688 0,000405
Nox 17,7 13,275 0,00046094 0,0039825
PM10 1,4 1,05 0,00003646 0,000315
SO2 0,82 0,615 0,00002135 0,0001845

• Emisi Penyiapan lahan (land clearing)

Kegiatan penyiapan lahan dapat menghasilkan emisi partikulat karena


proses-proses yang terlibat dalam land clearing berupa material padat
seperti tanah, batu, dan overburden. Berdasarkan Tabel 3-5 Section
2.A.5.b of EMEP/EEA Guidebook (2023) bagian "Construction and
Demolition", emisi kegiatan land clearing merujuk pada AP-4 tabel 11.9 :
Tabel 4. Faktor emisi land clearing berdasarkan AP-42;11.9

Faktor pengali emisi untuk TSP adalah 2,6 kg/jam, PM10 adalah 0,75
kg/jam, PM2,5 adalah 0,105 kg/jam) sehingga jumlah emisi yang
dihasilkan sebesar:
2,6 (𝑠)1,2
TSP =
𝑀1,3
2,6 (6,9%)1,2
TSP = (7,9%1,3
TSP = 2,849 kg/jam
TSP = 5,769 ton/tahun
Dimana:
s = Kandungan lanau (%)

Halaman 10 dari 33
M = Kelembaban (%)

PM10 menggunakan rumus 0,75 x hasil perhitungan faktor emisi PM15,


PM2,5 menggunakan rumus 0,105 x hasil perhitungan faktor emisi TSP.
Kandungan M sebesar 7,9% dan silt 6,9% sehingga jumlah emisi yang
dihasilkan sebesar:
0,45 (𝑠)1,5
PM10 = × 0,75
𝑀 1,4
PM10= 0,214 kg/jam
PM10= 0,433 ton/tahun
Dimana:
s = Kandungan lanau (%)
M = Kelembaban (%)
Tabel 5. Emisi penyiapan lahan (land clearing)

Parameter Faktor Kandungan Kelembaban Jam Emisi Emisi Emisi


emisi Lanau (s1,2) (M1,3) operasional/tahun (kg/jam) (g/detik) (ton/tahun)
TSP 2,6 0,040 0,036 2.025 2,849 0,791 5,769
PM10 0,75 x 2.025 0,214
PM15 0,059 0,433
PM2,5 0,105 2.025 0,299
x TSP 0,083 0,606

• Perhitungan emisi penggalian sirtu

Berdasarkan EMEP “European Environment Agency, Quarrying and


mining of minerals other than coal” (2016)
alat berat yang digunakan dalam penambangan menghasilkan kadar
emisi yang dihitung berdasarkan mineral selain batubara dalam hal ini
adalah komoditas kerikil/sirtu. Selama 1 tahun direncanakan 300 hari
kerja dengan jam efektif 7 jam per hari.
Perhitungan untuk parameter TSP adalah sebagai berikut:
E = 102 g/Mg x 163.568 ton/tahun
= 16.683.936 g/tahun
= 16,68 ton/tahun
Perhitungan untuk parameter PM10 adalah sebagai berikut:
E = 50 g/Mg x 163.568 ton/tahun
= 8.178.400g/tahun
= 8,18 ton/tahun
Perhitungan untuk parameter PM2,5 adalah sebagai berikut:
E = 5 g/Mg x 163.568 ton/tahun
= 817.840 g/tahun
= 0,82 ton/tahun
Tabel 6 Emisi proses produksi tambang tahunan
Parameter Faktor emisi (g/Mg) Produksi Emisi (g/tahun) Emisi (ton/tahun) Emisi (g/detik)
(ton/tahun)

TSP 102 163.568 16.683.936 16,68 1,93


PM10 50 163.568 8.178.400 8,18 0,95
PM2,5 5 163.568 817.840 0,82 0,09

Halaman 11 dari 33
• Estimasi Emisi Pengangkutan Material

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 12 Tahun 2010


tentang Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Udara di di Daerah
pengangkutan
menggunakan truk akan menghasilkan CO 8,4 g/Km, HC 1,8 g/Km, Nox
17,7 g/Km, PM10 1,4 g/Km, CO2 3172 g/Kg BBM, SO2 g/Km). Truk per hari
berdasarkan yang direncanakan CV. RATNA DUA PUTRI ± 55 truk/hari.
Sehingga berdasarkan parameter tersebut perhitungan emisi CO yang
dihasilkan dari kegiatan pengangkutan material adalah:

E = R x FE
Eco = 0,25 Km x 55 truk/hari x 8,4 gr/Km = 115,5 gr/hari
dimana :
E = Emisi dihasilkan (gr/hari)
Eco = Emisi CO (gr/hari)
R = panjang jalan dilalui dan jumlah kendaraan melintas (Km)
FE = faktor emisi
Tabel 7. Emisi pengangkutan sirtu

Faktor Jumlah Panjang


Emisi Emisi Emisi
Parameter Emisi Kendaraan jalan
(gr/hari) (ton/tahun) (gr/detik)
(g/Km) (unit/hari) (Km)
CO 8,4 55 0,25 115,5 0,0347 0,0040
HC 1,8 24,75 0,0074 0,0009
Nox 17,7 243,375 0,0730 0,0085
PM10 1,4 19,25 0,0058 0,0007
SO2 0,82 11,275 0,0034 0,0004

• Emisi pembongkaran fasilitas tambang

Kegiatan pembongkaran dapat menghasilkan emisi partikulat karena


proses-proses yang terlibat dalam konstruksi berupa material padat seperti
tanah, batu, batu gamping, dan beton. Berdasarkan Tabel 3-3 Section
2.A.5.b of EMEP/EEA Guidebook (2023) bagian "Construction and
Demolition", kegiatan konstruksi untuk tipe tempat tinggal memiliki nilai
faktor emisi untuk parameter TSP sebesar 0,29 kg/m²/tahun, PM10 sebesar
0,086 kg/m²/tahun, dan PM2.5 sebesar 0,0086 kg/m²/tahun. Kondisi lokasi
yang berupa tegalan didominasi material berukuran butir pasir bercampur
lanau (silt) maka berdasarkan EPA 1999, bernilai 33% (Sandy load). Dalam
1 tahun (6,75 jam/hari selama 300 hari kerja) maka setara dengan 2.025
12 10
𝑃𝑖
jam kerja per tahun. PE dihasilkan dari rumus : 𝑃𝐸 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑥 = ∑ (1,8𝑇𝑖+22) 9
𝑖=0
dimana:

Halaman 12 dari 33
Pi = presipitasi bulanan bulan ke-i (mm)
(sumber : Copernicus ERA Hourly data)

Ti = suhu rata-rata (°C)


10
𝑃𝐸 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑥 = (2842,301/(1,8 𝑥 26,84 + 22)) 9

𝑃𝐸 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑥 = 60,97

Kegiatan pembongkaran untuk fasilitas penambangan direncanakan seluas


58 m², sehingga jumlah emisi yang dihasilkan sebesar:
24 𝑆
EMPM10 = EFPM10 × Aaffected × d × (1 – CE) × ( ) × ( )
𝑃𝐸 9%
0,086 𝑘𝑔 0,5 24 33%
𝐸𝑀𝑃𝑀10 = × 58 𝑚2 × × (1 − 0) × ( )×( )
𝑚2 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 12 60,97 9%
𝐾𝑔 𝑗𝑎𝑚
𝐸𝑀𝑃𝑀10 = 0,299 ÷ 2.025
𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛
𝐾𝑔
𝐸𝑀𝑃𝑀10 = 0,000148
𝑗𝑎𝑚
𝑔
𝐸𝑀𝑃𝑀10 = 0,000041
𝑠

Keterangan
𝐸𝑀𝑃𝑀10 : Emisi PM10 (Kg)
𝐸𝐹𝑃𝑀10 :Faktor Emisi PM10 (Kg/m2 tahun)
Aaffected : Area terdampak konstruksi (m2)
d : durasi konstruksi (tahun)
CE : Efisiensi pengendalian emisi
PE : Indeks presipitasi-evaporasi Thornthwaite
S : Kandungan tanah-lanau (%)

Tabel 8. Emisi kegiatan pembongkaran fasilitas tambang

Parameter Faktor Luas Durasi Jam Emisi Emisi Emisi


emisi bangunan konstruksi operasional (kg/jam) (g/detik) (ton/tahun)
(Kg/m2 (m2) (bulan)
tahun)
TSP 0,29 58 0,5 2.025 0,0000208 0,0000058 0,0000421
PM10 0,086 58 0,5 2.025 0,000148 0,0000411 0,0003
PM2,5 0,0086 58 0,5 2.025 0,0000148 0,00000411 0,00003

• Emisi Reklamasi

Kegiatan reklamasi dapat menghasilkan emisi partikulat karena proses-


proses yang terlibat dalam reklamasi (setara kegiatan land clearing) berupa
material padat seperti tanah, batu, dan perataan top soil. Berdasarkan
Tabel 3-5 Section 2.A.5.b of EMEP/EEA Guidebook (2023) bagian
"Construction and Demolition", emisi kegiatan land clearing merujuk pada
AP-4 tabel 11.9 :

Halaman 13 dari 33
Tabel 9. Faktor emisi reklamasi (setara kegiatan land clearing) berdasarkan AP-42;11.9

Faktor pengali emisi untuk TSP adalah 2,6 kg/jam, PM10 adalah 0,75
kg/jam, PM2,5 adalah 0,105 kg/jam) sehingga jumlah emisi yang
dihasilkan sebesar:
2,6 (𝑠)1,2
TSP = 𝑀1,3
2,6 (6,9%)1,2
TSP = (7,9%1,3
TSP = 2,849 kg/jam
TSP = 5,769 ton/tahun
Dimana:
s = Kandungan lanau (%)
M = Kelembaban (%)

PM10 menggunakan rumus 0,75 x hasil perhitungan faktor emisi PM15,


PM2,5 menggunakan rumus 0,105 x hasil perhitungan faktor emisi TSP.
Kandungan M sebesar 7,9% dan silt 6,9% sehingga jumlah emisi yang
dihasilkan sebesar:
0,45 (𝑠)1,5
PM10 = 𝑀 1,4
× 0,75
PM10= 0,214 kg/jam
PM10= 0,433 ton/tahun
Dimana:
s = Kandungan lanau (%)
M = Kelembaban (%)

Tabel 10. Emisi reklamasi lahan


Parameter Faktor Kandungan Kelembaban Jam Emisi Emisi Emisi
emisi Lanau (s1,2) (M1,3) operasional/tahun (kg/jam) (g/detik) (ton/tahun)
TSP 2,6 0,040 0,036 2.025 2,849 0,791 5,769
PM10 0,75 x 2.025 0,214
PM15 0,059 0,433
PM2,5 0,105 2.025 0,299
x TSP 0,083 0,606

Halaman 14 dari 33
• Emisi demobilisasi peralatan tambang

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 12 Tahun 2010


tentang Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Udara di di Daerah
pengangkutan menggunakan truk akan menghasilkan CO 8,4 g/Km, HC
1,8 g/Km, Nox 17,7 g/Km, PM10 1,4 g/Km, CO2 3172 g/Kg BBM, SO2 g/Km).
Alat berat yang dimobilisasi berdasarkan persetujuan tekno ekonomi CV.
RATNA DUA PUTRI 1 water truck dan 2 alat berat sedangkan dumptruk
berasal dari pembeli.
Sehingga berdasarkan parameter tersebut perhitungan emisi CO yang
dihasilkan dari kegiatan pengangkutan material adalah:
E = R x FE
Eco = 0,25 Km x 3 unit x 8,4 gr/Km = 6,3 gr/hari
dimana :
E = Emisi dihasilkan (gr/hari)
Eco = Emisi CO (gr/hari)
R = panjang jalan dilalui dan jumlah kendaraan melintas (Km)
FE = faktor emisi

Tabel 11. Emisi demobilisasi alat tambang


Parameter Faktor Jumlah Panjang Emisi Emisi Emisi
Emisi Kendaraan jalan (gr/hari) (gr/detik) (ton/tahun)
(unit) (Km)
CO 8,4 3 0,25 7,56 0,00189 0,00022
HC 1,8 1,62 0,00041 0,00005
Nox 17,7 15,93 0,00398 0,00046
PM10 1,4 1,26 0,00032 0,00004
SO2 0,82 0,738 0,00018 0,00002

Sehingga seluruh proses emisi proses produksi dan kegiatan penunjang


dapat dilihat pada tabel berikut:

Input (ton/tahun) Output (ton/tahun)


Raw Material 163.568 Emisi
TSP* 16,68
PM10* 8,17
PM2.5* 0,81
Sirtu (produk) 163.542,32
Total 163.568 163.568
Tabel 12. Neraca produksi sirtu per tahun
*Berdasarkan dokumen Tekno Ekonomi CV. Ratna Dua Putri tahun 2026, tidak ada loss
material*angka dihasilkan dari perhitungan emisi produksi

Halaman 15 dari 33
Tabel 13. Estimasi Emisi proses produksi kegiatan penunjang
No. Tahapan Parameter Emisi (ton/tahun)
A Pra Konstruksi

1 Pengadaan Lahan -

2 Sosialisasi rencana tambang -

3 Pengurusan Perizinan -

B Konstruksi

1 Mobilisasi tenaga kerja -

TSP 0,000042
2 Konstruksi kantor lapangan PM10 0,000300
PM2,5 0,000030
CO 0,001890
HC 0,000405
3 Mobilisasi peralatan tambang NOx 0,003983
PM10 0,000315
SO2 0,000185
C Operasi
TSP 5,769020
1 Penyiapan lahan PM10 0,432807
PM2,5 0,605747
CO 0,034650
HC 0,007425
2 Pengangkutan bahan tambang NOx 0,073013
PM10 0,005775
SO2 0,003383

3 Pemeliharaan peralatan dan fasilitas -

D Pasca Operasi
TSP 0,000042
1 Pembongkaran fasilitas tambang PM10 0,000300
PM2,5 0,000030
TSP 5,769020
2 Reklamasi Tambang PM10 0,432807
PM2,5 0,605747

3 Demobilisasi Tenaga Kerja -

CO 0,001890
HC 0,000405
4 Demobilisasi peralatan dan material NOx 0,003983
PM10 0,000315
SO2 0,000185
Total TSP 11,5727748568

Halaman 16 dari 33
PM10 1,930292688
PM2,5 0,269362275
CO 0,003780
HC 0,000810
NOx 0,007965
SO2 0,000369
*bahwasanya penggalian sirtu merupakan proses utama dan sudah dijelaskan di tabel 2 pada
neraca produksi, tabel ini memuat proses penunjang tambang.

1) Sumber Emisi wajib pantau

Tidak ada sumber emisi wajib pantau. Emisi yang dihasilkan adalah emisi fugitive.

- Identifikasi seluruh sumber emisi proses produksi wajib pantau

Tidak ada sumber emisi cerobong wajib pantau karena tidak ada cerobong. Emisi
yang dihasilkan berupa emisi fugitif partikulat

- Identifikasi sumber emisi seluruh proses produksi


Tabel 14. Emisi penggalian sirtu
Lokasi Lokasi Rencana pengelolaan
No Sumber Emisi
Terdampak
Front bukaan • Melakukan penyiraman pada
tambang Partikulat Cox, jalur mobilisasi
1 Mobilisasi
NOx, SOx • Merawat tanaman sekitar buffer
zone
Penggalian sirtu menggunakan alat berat Front bukaan • Melakukan perawatan alat
2 Partikulat
dan pemuatan (proses loading) tambang mekanis secara berkala
Front bukaan Partikulat Cox, • Melakukan penyiraman pada
3 Pengangkutan material
tambang NOx, SOx jalur pengangkutan
Front bukaan • Melakukan penyiraman pada
tambang jalur mobilisasi
4 Demobilisasi alat angkut Partikulat
• Merawat tanaman sekitar buffer
zone

2) Parameter dan nilai baku mutu

Tidak ada parameter dan nilai baku mutu karena tidak ada cerobong. Emisi yang
dihasilkan berupa emisi fugitif partikulat.

a) Proses Penunjang Produksi

1) Jenis dan Kapasitas Kegiatan Penunjang

Dalam proses CV. RATNA DUA PUTRI tidak memiliki proses penunjang
produksi

2) Bahan baku / bahan bakar serta bahan penolong yang digunakan

Tidak ada bahan baku / bahan bakar serta bahan penolong yang
digunakan

Halaman 17 dari 33
3) Neraca Massa Proses Penunjang

Tidak ada neraca massa proses penunjang.

4) Sumber Emisi wajib pantau

- Identifikasi seluruh sumber emisi penunjang wajib pantau

Tidak ada sumber emisi wajib pantau karena tidak ada cerobong. Emisi
yang dihasilkan berupa emisi fugitif partikulat

- Identifikasi seluruh sumber emisi Fugitive


Tabel 15. Sumber emisi fugitif
No Sumber Emisi Parameter Sifat
Penggalian sirtu menggunakan alat berat dan pemuatan Partikulat TSP, PM10, Minor, fugitif,
1
(proses loading) PM2,5 netral
CO, HC, Nox, Minor, fugitif,
2 Pengangkutan material
PM10,SO2 netral

5) Parameter dan nilai baku mutu

Tidak ada parameter dan nilai baku mutu karena tidak ada cerobong. Emisi yang
dihasilkan berupa emisi fugitif partikulat.

2) Desain alat pengendali Emisi


Daftar Alat Pengendali yang digunakan

Kebutuhan air dipergunakan untuk kegiatan penyiraman lahan dan jalan. Sumber
air ini dibeli dari pihak ketiga. Jalan yang disiram adalah jalan tambang hingga ke
jalan desa dengan panjang 280 m lebar 5 m. sehingga luasan jalan yang disiram
adalah 2.000 m2. Efisiensi alat pengendalian debu dengan spray 110 ml/menit
adalah sebesar 50%. Bufferzone akan digunakan sebagai pendukung
pengendalian emisi yang akan dilakukan dengan pembuatan green belt disekitar
IUP.
Tabel 16. Spesifikasi water truck
Tenaga 3.600 rpm Kapasitas Tangki 5.000 ltr
Maksimum
Torsi max 1.800 rpm Berat kosong 8 ton
Jumlah Silinder 4 Dimensi keseluruhan 3450 * 1520 *
1050 mm
Bahan bakar Diesel Material body Mild steel 3,2
mm
Jumlah Water truck yang dibutuhkan 1
Jumlah ritase pengisian air per hari (musim hujan) 1
Jumlah ritase pengisian air per hari (musim kemarau) 3

Halaman 18 dari 33
Tabel 17. Kebutuhan air saat operasional (musim hujan)

No. Jenis Kegiatan Keperluan Air Rotasi Penyiraman


Bersih
(liter/hari)
1 Penyiraman jalan lingkungan yang 2.500 Total 2 x sehari (jam 09.00
berdebu dan tidak beraspal dan 13.00)
sepanjang 250 m lebar 5 m
2 Air untuk dust suppression (110 138,6 Selama tambang
ml/menit) selama jam kerja efektif beroperasi
7 jam
Total 2.638,6

Tabel 18. Kebutuhan air saat operasional (musim kemarau)

No. Jenis Kegiatan Keperluan Air Rotasi Penyiraman


Bersih
(liter/hari)
1 Penyiraman jalan lingkungan yang 5.000 Total 4 x sehari (jam
berdebu dan tidak beraspal 09.00, 11.00, 13.00 dan
sepanjang 250 m lebar 5 m 15.00)
2 Air untuk dust suppression (110 138,6 Selama tambang
ml/menit) selama jam kerja efektif beroperasi
7 jam
Total 5.138,6

Truk yang digunakan untuk angkutan harus tertutup bak dengan rapat dan
batasan volume disesuaikan dengan kapasitas truk. Saat meninggalkan
lokasi tambang dan tidak membawa muatan terlalu penuh sehingga tidak
ada ceceran material yang terjatuh di jalan.

Gambar 2. Ilustrasi Bak truk angkutan material yang wajib ditutup


rapat dan tidak melebihi bak truk

Nozzle spray yang digunakan menggunakan Hyrdraulic fine spray nozzle


untuk menjangkau area yang cukup luas dengan kemampuan tangkapan
debu yang halus (kisaran 10 – 1000 μm).

Halaman 19 dari 33
Gambar 3. Hydraulic fine spray dan jenis sebaran spray

Berdasarkan table 3-3 EMEP/EEA (European Environmental Agency) – Air


Pollutant Emission Inventory guidebook 2019 – 2.A.5a pengelolaan emisi
partikulat metode penyiraman lahan dapat mereduksi kadar partikulat
hingga 50%, sehingga parameter TSP, Pm10 dan PM2,5 secara signifikan

3) Prakiraan Dampak Kajian Dispersi dan Kesimpulan

Hasil Simulasi Dispersi


Kondisi permodelan sesuai dengan data yang di dapat dari perhitungan dan
lapangan, hasil perkiraan persebaran dampak disajikan dalam hasil nilai tertinggi
permodelan dalam AERMOD, baik tanpa adanya pengelolaan.

Data Baseline Kualitas Udara Ambien


Data konsentrasi latar belakang (baseline) partikulat PM 2,5, PM10, dan TSP
diperoleh dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) Global
Reanalysis (EAC4) untuk periode Desember 2023 sampai dengan Desember
2024. Dataset reanalisis ini merupakan data historis hasil asimilasi model kimia
atmosfer dengan pengamatan, sehingga merepresentasikan kondisi kualitas
udara regional secara stabil dan non-forecast Data diunduh dalam resolusi
temporal jam-jaman dan selanjutnya diolah menjadi nilai statistik yang digunakan
sebagai baseline pada pemodelan dispersi udara.
Tabel 19. Baseline Kualitas Udara Ambien
No. Parameter Konsentrasi Baseline (µg/m3)
1 PM10 35,03
2 PM2,5 20,60
*data TSP tidak tersedia di CAMS EAC4

Halaman 20 dari 33
A. Hasil Dispersi Tahap Penambangan Tanpa Data Baseline Sebelum
Pengelolaan

Hasil permodelan pada tahap penambangan sebelum dilakukannya pengelolaan


tanpa data baseline adalan sebagai berikut

1. TSP
Sebelum dilakukan adanya pengelolaan konsentrasi TSP 24 jam tertinggi
berada pada nilai 317 µg/m3. Nilai tersebut cenderung tinggi dan di atas baku mutu
sehingga dibutuhkan pengelolaan untuk mengurangi dampak emisi.

2. PM10
Sebelum dilakukan adanya pengelolaan konsentrasi PM10 24 jam tertinggi
berada pada nilai 85,9 µg/m3. Nilai tersebut cenderung tinggi melebihi baku mutu
dan dibutuhkan pengelolaan untuk mengurangi dampak emisi.

Halaman 21 dari 33
3. PM2,5
Sebelum dilakukan adanya pengelolaan konsentrasi PM2,5 24 jam tertinggi
berada pada nilai 25,4 µg/m3. Nilai tersebut cenderung tidak melebihi baku mutu
namun tetap dibutuhkan pengelolaan untuk mengurangi dampak emisi.

B. Hasil Dispersi Dengan Data Baseline Sebelum Pengelolaan

Hasil permodelan pada tahap penambangan sebelum dilakukannya pengelolaan


dengan data baseline adalan sebagai berikut

1. PM10
Sebelum dilakukan adanya pengelolaan konsentrasi PM10 24 jam tertinggi
berada pada nilai 122 µg/m3. Nilai tersebut melebihi baku mutu dan dibutuhkan
pengelolaan untuk mengurangi dampak emisi

Halaman 22 dari 33
2. PM2,5
Sebelum dilakukan adanya pengelolaan konsentrasi PM2,5 24 jam tertinggi
berada pada nilai 44,6 µg/m3. Nilai tersebut melebihi baku mutu dan tidak
dibutuhkan pengelolaan untuk mengurangi dampak emisi

C. Hasil Dispersi Tanpa Data Baseline Setelah Pengelolaan


1. TSP
Sebelum dilakukan pengelolaan nilai dispersi maksimal sebesar 317 µg/m3
dengan jarak jatuh sebaran 100-600 m dari pusat kegiatan. Setelah dilakukan
pengelolaan, konsentrasi TSP 24 jam tertinggi berada pada nilai 86,9 µg/m3. Nilai
tersebut cenderung aman dan di bawah baku mutu.

2. PM10
Sebelum dilakukan pengelolaan nilai dispersi maksimal sebesar 86,9 µg/m3
dengan jarak jatuh sebaran 150-700 m dari pusat kegiatan. Setelah dilakukan
pengelolaan konsentrasi PM10 24 jam tertinggi berada pada nilai 33,5 µg/m3. Nilai
tersebut cenderung aman dan di bawah baku mutu.

Halaman 23 dari 33
3. PM2,5
Sebelum dilakukan pengelolaan nilai dispersi maksimal sebesar 25,4 µg/m3
dengan jarak jatuh sebaran 150-800 m dari pusat kegiatan. Setelah dilakukan
adanya pengelolaan konsentrasi PM2,5 24 jam tertinggi berada pada nilai 12,6
µg/m3. Nilai tersebut cenderung aman dan tidak mempengaruhi kualitas udara
ambien secara signifikan.

D. Hasil Dispersi dengan Data Baseline Setelah Pengelolaan

1. PM10
Sebelum dilakukan pengelolaan nilai dispersi maksimal sebesar 122 µg/m3
dengan jarak jatuh sebaran 50-600 m dari pusat kegiatan. Setelah dilakukan
adanya pengelolaan konsentrasi PM10 24 jam tertinggi berada pada nilai 68,5
µg/m3. Nilai tersebut cenderung aman dan di bawah baku mutu.

Halaman 24 dari 33
2. PM2,5
Sebelum dilakukan pengelolaan nilai dispersi maksimal sebesar 44,6 µg/m3
dengan jarak jatuh sebaran 100-300 m dari pusat kegiatan. Setelah dilakukan
adanya pengelolaan konsentrasi PM2,5 24 jam tertinggi berada pada nilai 32,5
µg/m3. Nilai tersebut cenderung aman dan tidak mempengaruhi kualitas udara
ambien secara signifikan.

Halaman 25 dari 33
Tabel 20. Rekapitulasi hasil model dan titik jarak jatuh sebelum dilakukan pengelolaan emisi
Jarak Jarak
jatuh jatuh
Hasil sebaran Hasil sebaran
Jenis
dispersi hasil dispersi hasil
Kegiatan
Baku maksimum dispersi maksimum dispersi
Periode mutu sebelum sebelum setelah setelah
No. Parameter pengukuran (µg/m3) reduksi reduksi reduksi reduksi
1 tahun - - - - -
Selama TSP 24 jam 230 - - - -
kegiatan 1 tahun 40 63,5 50-400 46 10-250
dengan
data PM10 24 jam 75 122 50-600 68,5 10-400
Base 1 tahun 15 29,75 50-200 25,13 10-100
1 PM2,5 24 jam 55 44,6 100-300 32,5 50-150
1 tahun - 112 100-500 30,7 50-250
Selama TSP 24 jam 230 317 100-600 86,9 50-200
kegiatan 1 tahun 40 28,5 50-600 11 50-150
tanpa
data PM10 24 jam 75 86,9 150-700 33,5 50-350
Base 1 tahun 15 9,15 100-700 4,53 10-400
2 PM2,5 24 jam 55 25,4 150-800 12,6 50-400

Tabel 21. Kebutuhan minimum alat pengendali emisi


Jarak
jatuh
Jenis sebaran Efisiensi
Kegiatan Hasil dispersi hasil alat
Baku maksimum dispersi pengendali
Periode mutu sebelum sebelum dibutuhkan
No. Parameter pengukuran (µg/m3) reduksi reduksi (%)
1 tahun - - -
Selama TSP 24 jam 230 - -
kegiatan 1 tahun 40 63,5 50-400 37%
dengan
data PM10 24 jam 75 122 50-600 39%
Base 1 tahun 15 29,75 50-200 50%
1 PM2,5 24 jam 55 44,6 100-300 0%
1 tahun - 112 100-500 -
Selama TSP 24 jam 230 317 100-600 27%
kegiatan 1 tahun 40 28,5 50-600 0%
tanpa
data PM10 24 jam 75 86,9 150-700 14%
Base 1 tahun 15 9,15 100-700 0
2 PM2,5 24 jam 55 25,4 150-800 0%

4) Lokasi titik pengambilan sampel


Tidak ada lokasi pengambilan sampel karena tidak ada alat pengendali emisi yang
digunakan

5) Sumber Emisi wajib pantau dilengkapi dengan nama, titik koordinat, dan
periode pemantauan

Halaman 26 dari 33
Tidak ada lokasi pengambilan sampel karena tidak ada alat pengendali emisi yang
digunakan
6) Sarana prasarana pengambilan sampel
Tidak ada sarana prasarana pengambilan sampel karena tidak ada alat
pengendali emisi yang digunakan

7) Lokasi dan titik pemantauan udara ambien, kebisingan dan getaran


- Lokasi Pemantauan
Titik pemantauan udara ambien, kebisingan dan getaran ditetapkan pada lokasi
seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 22. Lokasi pemantauan kualitas udara ambien, kebisingan dan getaran
Lokasi Pemantauan
No Titik Pantau Koordinat DMS Koordinat Keterangan
Desimal
1 Titik 1 111° 42' 23,758" E 111,706599 E Pemukiman
7° 39' 23,149" S -7,65643 S
2 Titik 2 111° 42' 24,257" E 111,706738 E Permukiman
7° 39' 35,113" S -7,659754 S
Titik 1, permukiman dan jalan dilewati armada, Desa Morang, Kec. Kare, berlawanan arah angin (upwind) (ilham sport)
Titik 2, permukiman dan jalan dilewati armada, Desa Morang, Kec. Kare berlawanan arah angin (upwind)

Gambar 4. Peta pemantauan kualitas udara ambien dan kebisingan CV. RATNA DUA PUTRI

Halaman 27 dari 33
Gambar 5. Wind rose lokasi tambang (wind to)

- Baku Mutu Udara Ambien


Baku mutu udara ambien menyesuaikan Lampiran VII Peraturan Pemerintah
No.22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Tabel 23. Baku mutu udara ambien Lampiran VII Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 2021
Baku Sistem Frekuensi
Waktu
No Parameter Mutu Pengukur pemantauan
Pengukuran
(µg/m3) an
1 SO2 (Sulfur dioksida) 1 Jam 150 Aktif 6 bulan sekali
Manual
2 CO (Karbon monoksida) 1 Jam 10.000 Aktif 6 bulan sekali
Manual
3 NO2 (Nitrogen dioksida) 1 Jam 200 Aktif 6 bulan sekali
Manual
4 O3 fotokomia (Ox) sebagai 1 Jam 150 Aktif 6 bulan sekali
Ozon(03) Manual
5 HC (Hidrokarbon) non- 3 Jam 160 Aktif 6 bulan sekali
metana (NMHC) Kontinu***
6 TSP (Debu) < 100 µm 24 jam 230 Aktif 6 bulan sekali
Manual
PM10 (Partikel < 10 µm) 24 Jam 75 Aktif 6 bulan sekali
Manual
PM2.5 (Partikel < 2.5 µm) 24 Jam 55 Aktif 6 bulan sekali
Manual
µg/m3 = konsentrasi dalam mikrogram per meter kubik, pada kondisi atmosfer normal, yaitu tekanan (P) 1 atm
dan temperatur (T) 25°C
* Konsentrasi yang dilaporkan untuk waktu pengukuran selama 1 (satu) jam adalah konsentrasi hasil
pengukuran yang dilakukan setiap 30 (tiga puluh) menit (dalam 1 jam dilakukan 2 kali pengukuran) dan
dilakukan antara pukul 11:00 – 14:00 waktu setempat
** Konsentrasi yang dilaporkan untuk waktu pengukuran selama 8 (delapan) jam adalah konsentrasi dari waktu
pengukuran yang dilakukan di antara pukul 06:00 – 18:00 waktu setempat
*** Konsentrasi yang dilaporkan untuk waktu pengukuran selama 3 (tiga) jam adalah konsentrasi dari waktu
pengukuran yang dilakukan di antara pukul 06.00-10.00 waktu setempat Commented [age2]: Sudah diperbaiki

Halaman 28 dari 33
- Baku Mutu Kebisingan
Baku mutu kebisingan yang digunakan adalah peruntukan kawasan dan
permukiman yaitu 55 db(A) sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
No. KEP-48/MENLH/ 11/ 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Pemantauan
dilakukan selama 6 bulan sekali.

Tabel 24. Baku mutu kebisingan sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
No. KEP-48/MENLH/ 11/ 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan
Peruntukan Kawasan/ Tingkat
kebisingan
Lingkungan Kegiatan DB (A)
a. Peruntukan kawasan
1. Perumahan dan pemukiman 55
2. Perdagangan dan Jasa 70
3. Perkantoran dan Perdagangan 65
4. Ruang Terbuka Hijau 50
5. Industri 70
6. Pemerintahan dan Fasilitas 60
Umum
7. Rekreasi 70
8. Khusus:
- Bandar udara *) 70
- Stasiun Kereta Api *) 60
- Pelabuhan Laut
- Cagar Budaya
b. Lingkungan Kegiatan
1. Rumah Sakit atau sejenisnya 55
2. Sekolah atau sejenisnya 55
3. tempat ibadah atau sejenisnya 55

- Baku Mutu Getaran


Baku mutu getaran yang digunakan adalah lampiran 1 Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No.49 Tahun 1996 Tanggal 25 November 1996 tentang baku
tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan. Pemantauan dilakukan
selama 6 bulan sekali.

Tabel 25. Baku mutu getaran

Frekuensi Nilai Tingkat Geraran dalam mikron (10-6 meter)


(Hz) Tidak Mengganggu Tidak Menyakitkan
Mengganggu Nyaman
4 < 100 100-500 > 500 -1000 > 1000
5 < 80 80-350 > 350 -1000 > 1000
6,3 < 70 70-275 > 275 -1000 > 1000
8 < 50 50-160 > 160 - 500 > 500
10 < 37 37-120 > 120 - 300 > 300
12,5 < 32 32-90 > 90 - 220 > 220
16 < 25 25-60 > 60 - 120 > 120
20 < 20 20-40 > 40 - 85 > 85
25 <7 17-30 > 30 - 50 > 50
31,5 <2 12-20 > 20- 30 > 30
40 <9 9-15 > 15- 20 > 20

Halaman 29 dari 33
Frekuensi Nilai Tingkat Geraran dalam mikron (10-6 meter)
(Hz) Tidak Mengganggu Tidak Menyakitkan
Mengganggu Nyaman
50 <8 8-12 > 12- 15 > 15
63 <6 6-9 > 9- 12 > 12

8) Kewajiban
1) Memastikan alat pengangkut material tambang tidak melebihi kapasitas
angkut serta melakukan penutupan pada bak truk sedemikan rupa untuk
menghindari terjadinya ceceran dan timbulan debu selama proses
pengangkutan;
2) Memiliki alat pengendali emisi sesuai kebutuhan;
3) Menaati Baku Mutu Emisi yang ditetapkan bagi Usaha dan/atau Kegiatan;
4) Memenuhi persyaratan teknis pengambilan sampel emisi;
5) Memantau baku mutu udara ambien serta konsentrasi emisi secara berkala
menggunakan laboratorium yang teregistrasi oleh KLH/ BBLH;
6) Melaksanakan pengurangan dan pemanfaatan kembali;
7) Memiliki penanggung jawab yang memiliki kompetensi di bidang perlindungan
dan pengelolaan mutu udara
8) Melakukan perhitungan Beban Emisi
9) Memiliki Sistem Tanggap Darurat Pencemaran Udara;
10) Melaporkan seluruh kewajiban pengendalian Pencemaran Udara melalui
Sistem Informasi Lingkungan Hidup (SIMPEL) dan secara manual ke DLH
Provinsi Jawa Timur dan Tembusan ke DLH Kabupaten Madiun; dan
11) Melakukan pengelolaan emisi fugitif.

9) Larangan
1) Dilarang mengangkut material tambang melebihi batas ketinggian bak truk
untuk menghindari terjadinya ceceran selama proses pengangkutan;
2) Dilarang mengangkut material tambang dalam keadaan bak truk terbuka;
3) Membuang emisi secara langsung atau pelepasan dadakan;
4) Melakukan pembuangan emisi non-fugitif tidak melalui cerobong
5) Menambahkan udara ke cerobong setelah alat pengendali, di luar dari proses
operasi kegiatan; dan
6) Tindakan lain yang dilarang dalam Persetujuan Lingkungan dan/atau
ketentuan peraturan perundang-undangan.

B. Pemenuhan Standar Kompetensi Sumber Daya Manusia


Usaha dan/atau Kegiatan wajib mempunyai sumber daya manusia yang sudah
memiliki sertifikat kompetensi sebagai:
1. Penanggung jawab pengendalian pencemaran udara;
2. Penanggung jawab operasional instalasi pengendalian pencemaran udara;
dan

Halaman 30 dari 33
3. personel yang memiliki kompentensi lainnya sesuai dengan kebutuhan.

C. Sistem Manajemen Lingkungan


Usaha dan/atau Kegiatan menerapkan sistem manajemen lingkungan melalui:
1. memiliki komitmen dari manajemen puncak terhadap pengendalian
Pencemaran Udara;
2. memiliki kebijakan pengendalian Pencemaran Udara;
3. memiliki sumber daya yang disyaratkan untuk penerapan dan pemeliharaan
system manajemen lingkungan terkait pengendalian Pencemaran Udara;
4. memiliki struktur organisasi yang menangani pengendalian Pencemaran
Udara;
5. mengidentifikasi dan memiliki akses terhadap kewajiban penaatan
pengendalian Pencemaran Udara
6. memiliki rencana untuk mengambil aksi menangani risiko dan peluang serta
evaluasi efektifitas dari kegiatan tersebut;
7. memiliki sasaran pengendalian Pencemaran Udara serta menentukan
indikator dan proses untuk mencapainya
8. menyusun rencana audit internal secara regular dan mendokumentasikan
hasil audit dan tindak lanjut perbaikannya
9. Melakukan perencanaan berupa:
a. Menentukan lingkup dan menerapkan sistem manajemen lingkungan
terkait pengendalian Pencemaran Udara;
b. Menetapkan kepemimpinan dan komitmen dari manajemen puncak
terhadap pengendalian Pencemaran Udara;
c. Menetapkan kebijakan pengendalian Pencemaran Udara;
d. Menentukan sumber daya yang disyaratkan untuk penerapan dan
pemeliharaan sistem manajemen lingkungan terkait pengendalian
Pencemaran Udara;
e. Memiliki sumber daya manusia yang memiliki sertifikasi kompetensi
pengendalian Pencemaran Udara;
f. Menetapkan struktur organisasi yang menangani pengendalian
Pencemaran Udara;
g. Menetapkan tanggung jawab dan kewenangan untuk peran yang sesuai;
h. Menentukan aspek pengendalian Pencemaran Udara dan dampaknya;
i. Mengidentifikasi dan memiliki akses terhadap kewajiban penaatan
pengendalian Pencemaran Udara;
j. Merencanakan untuk mengambil aksi menangani risiko dan peluang serta
evaluasi efektifitas dari kegiatan tersebut;
k. Menetapkan sasaran pengendalian Pencemaran Udara serta menentukan
indikator dan proses untuk mencapainya;
l. Memastikan kesesuaian metode untuk pembuatan dan pemutakhiran
serta pengendalian informasi terdokumentasi;
m. Menentukan potensi situasi darurat dan respon yang diperlukan.
10. Melakukan pelaksanaan berupa:

Halaman 31 dari 33
a. Memantau, mengukur, menganalisis, dan mengevaluasi kinerja
pengendalian Pencemaran Udara; dan
b. Mengevaluasi hasil pemantauan Emisi yang dilakukan terhadap nilai Baku
Mutu Emisi yang ditetapkan dalam Persetujuan Lingkungan atau
peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Baku Mutu Emisi.
11. Melalukan pemeriksaan berupa:
a. Mengevaluasi pemenuhan terhadap kewajiban penaatan pengendalian
Pencemaran Udara;
b. Melakukan internal audit secara berkala; dan
c. Mengkaji sistem manajemen lingkungan organisasi terkait pengendalian
Pencemaran Udara untuk memastikan kesesuaian, kecukupan, dan
keefektifan.
12. Melakukan tindakan berupa:
a. Melakukan tindakan untuk menangani ketidaksesuaian; dan
b. Melakukan tindakan perbaikan berkelanjutan terhadap sistem manajemen
lingkungan yang belum sesuai dan efektif untuk meningkatkan kinerja
pengendalian Pencemaran Udara.

D. Periode Waktu Uji Coba Instalasi Pengendali Emisi


Tabel 26. Periode Waktu Uji Coba Instalasi Pengendali Emisi
Waktu Pelaksanaan
No Kegiatan 2026 2027
4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3
Pengajuan
1 Persetujuan
Teknis
2 Pengurusan Perling
Konstruksi Fasilitas
3
kegiatan
Pengambilan
4
sampling
Permohonan
5 persetujuan akhir
studi kelayakan
Peningkatan Operasi
6
Produksi
7 Pengurusan SLO

Halaman 32 dari 33
E. Pernyataan Pemrakarsa / Pemohon
Kami menyatakan bahwa Ringkasan Eksekutif ini dibuat dengan sebenar-
benarnya dan sesuai dengan kondisi dan atau perencanaan senyatanya. Jika
dikemudian hari terjadi ketidaksesuaian maka kami bersedia untuk diproses
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Surabaya 8 Juli 2026


Pimpinan/ Perwakilan Perusahaan

SANDHIKA RATNA FERRYANTIKO


Direktur CV. RATNA DUA PUTRI

Halaman 33 dari 33

Anda mungkin juga menyukai