PROPOSAL
ANALISIS PAJAK KENDARAAN BERMOTOR UNTUK MENINGKATKAN
PAJAK DAERAH & PAD DIWILAYAH BANJARBARU DARI TAHUN 2020-
2025
Dosen Pengampu:
Ayu Oktaviani, SE, [Link], Ak, CA
Disusun oleh:
Muhammad Rifki Pasha
Nim 2400312310014
PROGRAM STUDI DIII PERPAJAKAN
PROGRAM DIPLOMA III
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2026
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim, Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Esa, karena berkat rahmat dan karunianya sehingga penulis mampu
menyelesaikan tugas kuliah ini dengan tepat waktu. Tujuan dari penyusunan
Proposal ini dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Teknil Penulisan
Laporan Program Studi Diploma III Perpajakan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Lambung Mangkurat.
Dalam penyusunan ini tentunya terdapat banyak kendala dan kekurangan
yang telah kami lewati, tetapi berkat bantuan dari berbagai pihak proposal ini
dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Untuk itu pada kesempatan ini kami
mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Ayu Oktaviani, SE, M. SI, Ak, CA
selaku dosen pengampu pada mata kuliah Teknik Penulisan Laporan. Semoga
makalah ini dapat memberikan banyak manfaat bagi orang lain dan dapat
digunakan sebagai referensi sumber ilmu. Penulis juga mengharapkan agar para
pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun untuk porposal ini
kedepannya. Akhir kata kami mengucapkan Terima Kasih.
Banjarmasin, 28 April 2026
Muhammad Rifki Pasha
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN...........................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian................................................................................................2
1.4 Kegunaan Penilitian...........................................................................................3
1.5 Metode Penelitian..............................................................................................3
1.5.1 Ruang Lingkup Penelitian..........................................................................3
1.5.2 Lokasi Penelitian........................................................................................4
1.5.3 Jenis Data dan Sumber Data......................................................................4
1.5.4 Teknik Pengumpulan Data.........................................................................5
1.5.5 Teknik Analisa Data...................................................................................5
BAB II LANDASAN TEORI.....................................................................................6
2.1 Pengertian Pajak.................................................................................................6
2.2 Fungsi Pajak.......................................................................................................7
2.3 Pengertian Pajak Daerah.....................................................................................8
2.4 Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor..............................................................9
2.5 Objek Kendaraan Bermotor..............................................................................10
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................12
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak yang dikenakan atas kepemilikan
atau penguasaan kendaraan bermotor. Proses pemungutannya dilakukan di kantor
bersama Samsat. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) merupakan salah satu sumber
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang memiliki potensi besar. Dalam hal ini, Badan
Pendapatan Daerah, melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) PPD, memegang peran
penting dalam meningkatkan pendapatan daerah. Pemerintah daerah melihat
potensi yang signifikan untuk menjadikan setiap kendaraan bermotor milik wajib
pajak sebagai objek PKB, dalam rangka mengoptimalkan pengembangan dan
perluasan fungsi anggaran untuk terus menggali sumber-sumber pendapatan yang
potensial bagi daerah.
Penerimaan pajak daerah memiliki peran penting dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Saat ini, pendapatan dari pajak kendaraan
bermotor, baik sepeda motor (R2) maupun mobil penumpang atau pribadi (R4),
menjadi sumber utama penerimaan negara yang diharapkan dapat terus meningkat
setiap tahunnya. Dalam proses penerimaan pajak di Indonesia, peran masyarakat
sebagai wajib pajak (WP) atas nama kendaraan tersebut sangat krusial. WP
diwajibkan membayar pajak tahunan atas kendaraan pribadinya, baik setiap tahun
maupun setiap lima tahun, di lokasi-lokasi yang disediakan oleh Direktorat
Jenderal Pajak (Dirjen Pajak), Untuk meningkatkan penerimaan daerah dari
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari pajak daerah, yang digunakan
untuk membiayai
1
2
3
pelaksanaan pembangunan, peningkatan pelayanan dan perbaikan kinerja
pemungutan, penambahan jenis pajak (ekstensifikasi), serta pemberian
kewenangan dan keleluasaan kepada pemerinah daerah untuk terus menggali
potensi yang dimiliki daerah tersebut.
Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia terus mengalami
peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Badan Pusat Statistik (BPS)
mencatat bahwa pada tahun 2020, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia
mencapai sekitar 136 juta unit, dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Lonjakan kepemilikan kendaraan bermotor ini didorong oleh peningkatan daya
beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi, serta semakin mudahnya akses
pembiayaan kendaraan melalui lembaga keuangan. Perkembangan ini tentu
menjadi peluang besar bagi pemerintah daerah, khususnya di tingkat provinsi,
untuk mengoptimalkan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor sebagai salah satu
andalan penerimaan PAD (Badan Pusat Statistik, 2022).
Kota Banjarbaru merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi
Kalimantan Selatan yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami
perkembangan yang cukup pesat, baik dari segi pertumbuhan penduduk,
perekonomian, maupun infrastruktur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota
Banjarbaru, jumlah penduduk Kota Banjarbaru terus mengalami pertumbuhan
setiap tahunnya yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan masyarakat akan
sarana transportasi pribadi. Pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan
meningkatnya mobilitas masyarakat ini berkorelasi positif dengan peningkatan
jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di wilayah Kota Banjarbaru, sehingga
4
secara langsung berpengaruh terhadap potensi penerimaan Pajak Kendaraan
Bermotor di daerah tersebut (BPS Kota Banjarbaru, 2023).
Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di wilayah Kota Banjarbaru
merupakan bagian dari penerimaan pajak provinsi yang dikelola oleh Unit
Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi
Kalimantan Selatan yang berlokasi di Banjarbaru. Perkembangan penerimaan
PKB di wilayah ini dari tahun 2020 hingga 2025 mengalami dinamika yang cukup
menarik untuk dikaji, mengingat adanya berbagai faktor eksternal seperti pandemi
COVID-19 yang sempat terjadi pada tahun 2020-2021 yang berdampak pada
perlambatan ekonomi dan berpengaruh terhadap penerimaan pajak daerah. Pasca
pemulihan ekonomi, penerimaan PKB di Kota Banjarbaru kembali menunjukkan
tren positif seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat (Bapenda
Provinsi Kalimantan Selatan, 2023).
Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah
dan Pajak Daerah secara keseluruhan di berbagai daerah di Indonesia
menunjukkan angka yang cukup besar. Beberapa penelitian terdahulu
menunjukkan bahwa PKB mampu memberikan kontribusi antara 30% hingga 50%
terhadap total penerimaan pajak daerah provinsi. Penelitian yang dilakukan oleh
Fatimah dan Wardani (2017) di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
menyimpulkan bahwa Pajak Kendaraan Bermotor memiliki kontribusi yang sangat
signifikan terhadap PAD, dengan rata-rata kontribusi di atas 30% per tahun.
Temuan serupa juga dikemukakan oleh Sugianto (2019) yang menyatakan bahwa
optimalisasi penerimaan PKB dapat secara langsung meningkatkan kemampuan
fiskal daerah dalam membiayai berbagai program pembangunan.
5
Kajian mengenai efektivitas dan efisiensi penerimaan pajak kendaraan
bermotor menjadi sangat penting dalam konteks pengelolaan keuangan daerah
yang akuntabel dan transparan. Efektivitas penerimaan pajak diukur dari sejauh
mana realisasi penerimaan pajak dapat mencapai target yang telah ditetapkan.
Sementara itu, tingkat pertumbuhan penerimaan pajak mencerminkan seberapa
besar peningkatan penerimaan dari tahun ke tahun. Analisis terhadap efektivitas,
kontribusi, dan pertumbuhan Pajak Kendaraan Bermotor sangat diperlukan guna
mengetahui potensi dan permasalahan dalam pemungutan PKB sehingga dapat
dirumuskan langkah-langkah strategis untuk mengoptimalkan penerimaan pajak
tersebut (Mahmudi, 2016).
Dalam rangka mengoptimalkan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor,
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah telah mengeluarkan berbagai
kebijakan dan regulasi. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, misalnya, telah
mengeluarkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif dan mekanisme pemungutan
Pajak Kendaraan Bermotor. Selain itu, program-program seperti pemutihan pajak
kendaraan bermotor yang dilaksanakan secara berkala bertujuan untuk
meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak dan memperluas basis pajak. Kebijakan
penghapusan denda dan sanksi administratif dalam program pemutihan terbukti
efektif dalam mendorong masyarakat untuk melunasi kewajiban pajaknya
sehingga meningkatkan realisasi penerimaan PKB (Perda Provinsi Kalimantan
Selatan, 2019).
Meskipun potensi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Kota
Banjarbaru cukup besar, masih terdapat berbagai tantangan dalam
pemungutannya. Salah satu permasalahan utama adalah tingginya tingkat
6
ketidakpatuhan Wajib Pajak dalam membayar PKB tepat waktu. Data dari Badan
Pendapatan Daerah menunjukkan bahwa masih terdapat sejumlah kendaraan yang
tidak melakukan pembayaran PKB sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Selain
itu, adanya kendaraan yang sudah tidak aktif namun masih terdaftar dalam sistem
administrasi perpajakan turut mempengaruhi akurasi data kendaraan bermotor.
Permasalahan ini menjadi tantangan tersendiri bagi aparat pajak dalam upaya
Penelitian dengan pendekatan kuantitatif dipandang tepat untuk
menganalisis perkembangan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan
kontribusinya terhadap Pajak Daerah serta Pendapatan Asli Daerah di wilayah
Banjarbaru dalam kurun waktu 2020 hingga 2025. Pendekatan kuantitatif
memungkinkan peneliti untuk mengukur secara objektif tingkat efektivitas, laju
pertumbuhan, dan kontribusi PKB terhadap PAD dengan menggunakan alat
analisis berupa rasio-rasio keuangan daerah. Data sekunder yang bersumber dari
laporan realisasi APBD, laporan penerimaan pajak daerah, serta data statistik dari
instansi terkait menjadi bahan utama dalam penelitian ini. Teknik studi
dokumentasi dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memperoleh data
historis yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan (Sugiyono, 2019).
Berdasarkan penelusuran literatur yang telah dilakukan, penelitian
mengenai analisis Pajak Kendaraan Bermotor dan kontribusinya terhadap PAD di
wilayah Kota Banjarbaru secara spesifik masih sangat terbatas. Sebagian besar
penelitian yang ada berfokus pada daerah-daerah besar seperti DKI Jakarta, Jawa
Barat, atau Jawa Timur, sementara penelitian yang mengambil objek di
Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarbaru, masih jarang dilakukan.
Penelitian yang mencakup periode tahun 2020–2025 pun memiliki urgensi
7
tersendiri mengingat periode tersebut mencakup masa pandemi COVID-19 serta
masa pemulihan ekonomi pasca pandemi yang tentunya memberikan dampak
yang unik terhadap dinamika penerimaan pajak kendaraan bermotor di daerah
(Kuncoro, 2020).
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul "Analisis Pajak Kendaraan Bermotor untuk
Meningkatkan Pajak Daerah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Wilayah
Banjarbaru dari Tahun 2020–2025". Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
gambaran yang komprehensif mengenai perkembangan penerimaan PKB di Kota
Banjarbaru, mengukur tingkat efektivitas dan kontribusi PKB terhadap PAD, serta
memberikan rekomendasi kebijakan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan
bagi pemerintah daerah dalam upaya mengoptimalkan penerimaan Pajak
Kendaraan Bermotor guna mendukung kemandirian fiskal daerah dan pelaksanaan
pembangunan yang lebih baik di Kota Banjarbaru.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana perkembangan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di
wilayah Kota Banjarbaru tahun 2020-2025?
2. Bagaimana kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kota Banjarbaru tahun 2020-2025?
3. Apakah penerimaan Pajak Kenderaan Bermotor (PKB) telah efektif dalam
meningkatkan Pajak Daerah dan PAD Kota Banjarbaru?
8
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui perkembangan penerimaan Pajak Kenderaan Bermotor di
Kota Banjarbaru tahun 2020-2025.
2. Untuk menganalisis kontribusi Pajak Kenderaan Bermotor terhadap
Pendapatan Asli Daerah.
3. Untuk mengetahui Tingkat efektivitas penerimaan Pajak Kenderaan Bermotor
dalam meningkatkan Pajak Daerah dan PAD di Kota Banjarbaru
1.4 Kegunaan Penilitian
Penelitian ini diharapkan menambah wawasan dan pengetahuan di bidang
perpajakan daerah, khususnya mengenai Pajak Kenderaan Bermotor dan
Kontribusinya terhadap PAD. Sebagai sarana untuk menerapkan ilmu yang
diperoleh selama perkuliahan di D3 Perpajakan dan sebagai referensi untuk
penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pajak daerah.
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan
kuantitatif. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan dan
menganalisis bagaimana perkembangan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor
(PKB) serta kontribusinya terhadap Pajak Daerah dan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) di wilayah Banjarbaru selama periode tahun 2020 sampai dengan tahun
2025. Pendekatan kuantitatif digunakan karena penelitian ini menggunakan data
berupa angka-angka yang diperoleh dari laporan realisasi penerimaan pajak
daerah, khususnya Pajak Kendaraan Bermotor.
9
1.5.1 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian dalam laporan Tugas Akhir ini dibatasi pada
analisis penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dalam upaya
meningkatkan pajak daerah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di wilayah
Banjarbaru selama periode tahun 2020 sampai dengan tahun 2025. Penelitian
ini berfokus pada perkembangan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor
setiap tahun serta kontribusinya terhadap total penerimaan pajak daerah dan
Pendapatan Asli Daerah (PAD), Data yang digunakan dalam penelitian ini
diperoleh dari instansi terkait, seperti Badan Pendapatan Daerah (Bapenda)
atau Samsat Banjarbaru, dalam bentuk laporan realisasi penerimaan pajak
daerah.
1.5.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pelaksana Pendapatan Daerah
(UPPD) Samsat Banjarbaru, BPS Kota Banjarbaru dan Badan Pendapatan
Daerah (BAPENDA) yang berlokasi di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa instansi
tersebut merupakan lembaga yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan
dan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor di wilayah Banjarbaru. Melalui
instansi tersebut dapat diperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan
penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor serta kontribusinya terhadap pajak
daerah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
10
1.5.3 Jenis Data dan Sumber Data
Penelitian ini memakai data sekunder yang didapatkan dari sumber
resmi pemerintah, yaitu Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Provinsi
Kalimantan Selatan. Data tersebut mencakup pendapatan Pajak Kenderaan
Bermotor (PKB), serta total realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD)
tahunan untuk periode 2020 sampai dengan 2025. Data sekunder dipilih
karena memberikan gambaran yang valid dan representatif terkait realisasi
penerimaan pajak daerah, mengingat sumber resmi memiliki standar
pencatatan dan pelaporan yang sesuai dengan peraturan pemerintah. Data
Sekunder diperoleh dari web resmi yaitu Sumber: Pemerintah Kota
Banjarbaru [Link]
1.5.4 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini memakai teknik studi dokumentasi (documentation
study) yaitu dengan mengumpulkan dan menelaah beberapa dokumen resmi.
Dokumen yang dikaji mencakup laporan tahunan Pendapatan Asli Daerah
(PAD), laporan realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang
didapatkan dari Badan Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan atau
instansi terkait.
Proses pengumpulan data juga melibatkan permintaan data kepada
instansi pemerintah melalui prosedur resmi untuk mendapatkan dokumen
yang lengkap dan valid (Widya, 2023).
Menurut Nazir (2017) studi dokumentasi sangat berguna untuk
memperoleh data historis dan faktual yang sudah ada, sementara studi
11
kepustakaan diperlukan untuk membangun dasar teori yang kuat. Tingkat
kontribusi Pajak Kenderaan Bermotor terhadap PAD dibawah ini.
1.5.5 Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah
analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif sederhana, yang bersumber
dari data sekunder berupa dokumentasi resmi. Data yang dianalisis meliputi
laporan realisasi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Pendapatan Asli Daerah
(PAD), serta data pendukung lainnya di wilayah Banjarbaru tahun 2020–
2025.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Pajak
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan pasal 1 ayat (1) pajak adalah pembayaran yang
sah yang terutang kepada negara oleh orang atau unit kendaraan bermotor kepada
negara tanpa segera dikompensasikan dan digunakan untuk keperluan negara.
untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH, dalam (Mardiasmo 2016)
menyatakan “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang
undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal
(kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk
membayar pengeluaran umum”.
Secara rinci terdapat beberapa pengertian yang diungkapkan oleh
beberapa ahli yang ternyata mempunyai maksud yang sama, antara lain:
1. Menurut Andriani dalam Soemarso ( 2007:2)
“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-
undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal
(kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk
membayar pengeluaran umum”.
Menurut .Smeets dalamAgoes Sukrisno (2009:4) “Pajak adalah prestasi
kepada pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum, dapat dipaksakan
tanpa adanya kontraprestasi yang dapat ditunjukkan secara individual,
maksudnya adalah untuk membiayai pengeluaran pemerintah”.
12
13
2.2 Fungsi Pajak
Fungsi pajak adalah kegunaan pokok, manfaat pokok pajak, Pajak
berfungsi untuk menutup biaya yang harus dikeluarkan pemerintah dalam
menjalankan pemerintahannya, oleh karenanya pengenaan pajak dipandang dari
sudut ekonomi harus diatur senetral-netralnya dan sekali- kali tidak boleh
dibelokkan untuk mencapai tujuan yang menyimpang.
Menurut Devano (2006:26) Fungsi pajak terbagi atas dua bagian yaitu
fungsi budgetair dan fungsi regulerend.
Adapun fungsi pajak menurut Resmi (Resmi 2013) adalah sebagai berikut.
1. Fungsi Budgetair (Sumber Keuangan Negara), Pajak memiliki fungsi
budgetair, artinya Pajak sebagai salah satu sumber penerimaan pemerintah
dengan menggunakan pajak sebagai sumber pendapatan negara untuk
membiayai biaya rutin maupun biaya pembangunan. .
2. Fungsi Regulerend (Pengatur), pajak sebagai sarana untuk mengatur atau
melaksanakan kebijakan pemerintah di bidang sosial dan ekonomi dan
untuk mencapai tujuan tertentu di luar bidang keuangan
14
2.3 Pengertian Pajak Daerah
Definisi pajak daerah menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009
tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 1 angka 10 adalah “Pajak
Daerah, yang selanjutnya disebut pajak adalah kontribusi wajib kepada daerah
yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan jasa imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut oleh daerah bedasarkan
peraturan pajak yang ditetapkan oleh daerah (melalui Perda) untuk kepentingan
pembiayaan rumah tangga pemerintah daerah. Definisi pajak menurut Prof. Dr.
Rochmat Soemitro, SH Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan
undang-undang yang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat timbal
(kontraprestasi) yang lansung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk
membayar pengeluaran umum. Beberapa unsur-unsur pajak :
1. Iuran dari rakyat kepada negara Yaitu berhak memungut pajak hanyalah
negara
iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
2. Berdasarkan undang-undang Pajak dipungut berdasarkan atau dengan
kekuatan
undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
3. Tanpa Jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung yang
dapat ditunjuk, Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya
kontraprestasi individual oleh pemerintah.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran
15
pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
2.4 Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor
Pajak kendaraan bermotor adalah pajak atas pemilikan dan/atau
pengelolaan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Nomor 28 Tahun (2009) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pasal 1(13)
mendefinisikan kendaraan bermotor sebagai alat angkut semua roda yang
digunakan pada berbagai jenis jalan raya, serta segala perlengkapan teknis yang
digunakan untuk menggerakkan kendaraan bermotor, termasuk perlengkapannya,
alat berat, dan perlengkapan besar, seperti motor listrik atau lainnya. jenis sumber
energi. Mesin berbasis air dan kendaraan bermotor yang tidak ditempatkan secara
permanen tetapi menggunakan roda dan motor untuk bergerak.
Pajak ini termasuk dalam jenis pajak daerah (provinsi) yang dipungut
melalui kantor SAMSAT. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) diatur utamanya
melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (UU HKPD) Bab 1 Pasal 1
angka 28, menggantikan UU No. 28 Tahun 2009. Berdasarkan Permendagri
Nomor 7 Tahun 2025 pasal 1 angka 1, kendaraan bermotor adalah semua
kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan
darat atau kendaraan yang dioperasikan di air yang digerakkan oleh peralatan
teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu
sumber daya energi
tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan.
16
2.5 Objek Kendaraan Bermotor
Kepemilikan dan/atau penatausahaan kendaraan bermotor merupakan tujuan
pengenaan pajak kendaraan bermotor, menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2009. memiliki atau memiliki kendaraan bermotor jalan, gandengan, perahu, atau
benda lain dengan tonase kotor GT 5 (lima gross ton) atau lebih besar (tujuh gross
tonnage). Tidak semua kepemilikan dan/atau pengelolaan kendaraan bermotor
dikenakan pajak kendaraan bermotor.
Berdasarkan UU HKPD Bab 2 Pasal 7, objek PKB mencakup kepemilikan
dan/atau penguasaan atas kendaraan bermotor. Sedangkan subjek PKB adalah
orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor
yang diatur dalam UU HKPD Bab 2 Pasal 8. Berikut adalah kendaraan yang wajib
di daftarkan dan tidak wajib di daftarkan, serta yang di kecualikan :
a. Kendaraan yang Wajib Didaftarkan: Berdasarkan aturan yang berlaku, setiap
17
kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan raya umum wajib melalui proses
pendaftaran resmi. Kategori ini mencakup moda transportasi harian seperti
mobil
pribadi, kendaraan operasional perusahaan, sepeda motor, bus, hingga truk.
b. Kendaraan yang Tidak Wajib Didaftarkan: Pendaftaran tidak diwajibkan bagi
kendaraan dengan kapasitas mesin atau daya yang sangat kecil, seperti sepeda
motor listrik dengan daya di bawah 250 watt. Selain itu, kendaraan yang tidak
beroperasi di jalan raya resmi, misalnya alat transportasi pertanian yang hanya
digunakan terbatas dilahan sendiri, juga masuk dalam kategori ini.
c. Kendaraan yang Dikecualikan: Merujuk pada UU HKPD Nomor 1 Tahun 2022
dan Perda DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2024, terdapat beberapa jenis kendaraan
yang bebas dari Pajak Kendaraan Bermotor. Pengecualian ini diberikan kepada
kereta api, kendaraan khusus pertahanan dan keamanan negara, kendaraan
perwakilan negara asing atau lembaga internasional dengan asas timbal balik,
kendaraan berbasis energi terbarukan, serta unit milik pabrikan atau importir yang
hanya digunakan untuk keperluan pameran.
18
DAFTAR PUSTAKA
Dinda, Cahya Fitri. 2023. “ANALISIS PENGARUH PAJAK KENDARAAN
BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR
PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017-2021 TERHADAP PENINGKATAN
REALISASI PENERIMAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)(Studi
Pada Kantor Bersama Samsat Bandar Lampung).” UIN RADEN INTAN
LAMPUNG.)
Hadi, Seno Sudarmono. 2018. “Analisa Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor
Terhadap Pendapatan Asli Daerah Pada BPRD DKI Jakarta.” Jurnal
Khatulistiwa Informatika 5(2): 185–94.
Hifni, S, A Sayudi, I Anwary, C Sa’roni, and W Gustiawan. “… Analisa Proyeksi
Potensi Dan Proyeksi Target Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik
Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Dan Pajak Air Permukaan (PAP) ….”
[Link] KAJIAN ANALISA PROYEKSI
POTENSI DAN PROYEKSI TARGET PKB BBNKB DAN PAP BAKEUDA
PROV KALSEL TAHUN 2022/2023.
19
Muzdalifah, Muzdalifah, Syahrituah Siregar, Hidayatullah Muttaqin, Ryan Anward,
Rusmin Nuryadin, and others. “Potensi Pendapatan Asli Daerah Berdasarkan
Potensi Pajak Dan Retribusi Daerah.”
AL RAZAQ, AHMAD. 2026. “PERAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR
TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH PADA SAMSAT MEDAN
SELATAN.” Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, UNIVERSITAS ISLAM
SUMATERA UTARA.
Setyadi, MochamadCholdunSina. 2011. “Upaya Peningkatan Penerimaan Pajak
Kendaraan Bermotor Untuk Meningkatkan Pandapatan Asli Daerah (Studi
Tentang Koordinasi Pada Kantor Bersama SAMSAT Malang Kota).”
Universitas Brawijaya.
Wardani, Dewi Kusuma, and Rumiyatun Rumiyatun. "Pengaruh pengetahuan wajib
pajak, kesadaran wajib pajak, sanksi pajak kendaraan bermotor, dan sistem
Samsat drive thru terhadap kepatuhan wajib pajak kendaraan bermotor." Jurnal
Online Fakultas Ekonomi UST 5.1 (2017): 15-24.
Siswanto, S., & Maylani, D. A. (2022). Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai
Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Nominal: Barometer Riset Akuntansi
dan Manajemen, 11(1), 184-195.
Kuantitatif, P. P. (2016). Metode penelitian kunatitatif kualitatif dan R&D. Alfabeta,
Bandung.
Kuncoro, M. (2004). Otonomi & pembangunan daerah: reformasi, perencanaan,
strategi dan peluang.