BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perkembangan Penduduk
Perkembangan penduduk adalah salah satu faktor yang sangat penting
dalam perencanaan kebutuhan air minum dimasa yang akan dating, analisa
perkembangan penduduk digunakan untuk memperkirakan tingkat pelayanan air
minum kepada masyarakat.
Model ini digunakan apabila suatu daerah mempunyai tingkat
pertumbuhan penduduk yang tidak tetap.
Memperkirakan jumlah penduduk pada tahun akhir rencana. Metode proyeksi
yang digunakan adalah (Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah, Dirjen Cipta
Karya 1987:7):
Pn = Po . (1 + r)n
Dimana :
Pn = Perkiraan jumlah penduduk pada tahun akhir rencana.
Po = Jumlah penduduk pada tahun awal perencanaan (tahun akhir data).
n = Periode waktu perencanaan.
r = Tingkat pertumbuhan penduduk
2.2 Penggunaan dan Jumlah Air
Penggunaan air di satu kota daerah dengan daerah lainnya berbeda-beda
tergantung dari cuaca, ciri-ciri penduduk, lingkungan hidup, industrialisasi dan
faktor-faktor lainnya. Pada suatu daerah tertentu penggunaan air juga berubah dari
musim ke musim, kemungkinan penggunaan air dan variasinya harus
diperhitungkan dengan cermat (Linlet dan Franzini, 1986: 91).
Penggunaan air di dasarkan pada beberapa faktor, yakni :
2.2.1 Penggunaan Air
Untuk menghitung proyeksi kebutuhan air bersih di Kecamatan Gondalegi
mengikuti kriteria yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum Direktorat
Jendral Cipta Karya. (Departemen PU Dirjen Cipta Karya, Petunjuk Teknis,
1998:
7). Penggunaannya dibagi dalam kategori sebagai berikut :
a. Penggunaan Domestik adalah air yang dipergunakan di tempat-tempat
hunian pribadi, rumah-rumah apartemen dan sebagainya untuk minum,
mandi, penyiraman taman, saniter, dan tujuan-tujuan lainnya.
Kebutuhan Domestik, meliputi :
1. Untuk sambungan rumah
- Satu sambungan rumah melayani 5 jiwa.
(sesuai dengan kondisi masyarakat kecamatan Gondanglegi)
- Prosentase rencana pelayanan sambungan rumah antara 35 – 80% dari
jumlah penduduk di 3 desa yang menjadi daerah studi.
- Standart kebutuhan air bersih. Dari laporan Ikhtisar DRD Air dapat
dihitung kebutuhan air bersih. Dari laporan Ikhtisar DRD Air dapat
dihitung kebutuhan air bersih per hari per orang sebagai berikut :
air terjual (m3 / bl ) 54236 m3 / bl
pelanggan 2586 x 7 jiwa
1807866,7 lt / hr
99,8 lt / hr / jiwa
18102 jiwa
100 lt / hr / jiwa
Direncanakan sebesar 100 lt/hr/jiwa
2. Hidran Umum / Kran Umum (HU/KU)
Perhitungan kebutuhan air untuk hidran umum sampai tahun 2009
mencapai 3% dari daerah pelayanan, sedangkan untuk tahun 2019 direcanakan
2% dari total daerah pelayanan, karena penduduk di perkirakan sudah
mendapat pelayan air bersih dari sambungan rumah tanga.
b. Penggunaan Non Domestik dan industry adalah air yang dipergunakan
oleh badan-badan komersial dan industri.
Kebutuhan non domestik digunakan untuk memenuhi kebutuhan air dalam
sektor.
- Fasilitas perdagangan dan inudtri
- Fasilitas perkantoran dan pemerintahan
- Fasilitas sosial seperti tempat ibadah, lembaga permasyarakatan, rumah
sakit dan lain-lain.
Prosentase pelayanan non domestik sebesar 15% dari kebutuhan domestic.
(Departemen PU Cipta Karya, Petunjuk Teknis, 1998 :10).
2.2.2 Kehilangan Air
Untuk prosentasi kehilangan air ini berkisar antara 20 – 30%, diambil 30%
hingga akhir tahun perencanaan pengembangan (Sumber : PDAM Unit
Kecamatan Gondanglegi).
2.2.3 Fluktuasi Penggunaan Air
Penggunaan air tidak akan selalu sama, tetapi akan berfluktuasi. Pada
umumnya kebutuhan air dibagi dalam tiga kelompok :
1. Kebutuhan harian rata-rata
Adalah kebutuhan air untuk keperluan domestik dan non domestik termasuk
kehilangan air. Biasanya dihitung berdasarkan kebutuhan air rata – rata
perorangan perhari di hitung dari pemakaian air setiap jam selama sehari (24)
jam.
2. Kebutuhan pada jam puncak
Adalah pemakaian air yang tertinggi dalam satu hari. Kebutuhan air pada jam
puncak dihitung berdasarkan kebutuhan air harian rata – rata dengan
menggunakan faktor pengali (Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan
Umum, 1996: III-6) sebagai berikut : Kebutuhan jam puncak : (1,3 – 1,70 x
kebutuhan air bersih)
3. Kebutuhan harian maksimum
Adalah banyaknya air yang dibutuhkan terbesar dalam satu tahun. Kebutuhan
harian maksimum dihitung berdasarkan kebutuhan harian rata-rata dengan
menggunakan faktor pengali (Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan
Umum, 1996:III-6) sebagai berikut :
Kebutuhan hari maksimum : (1,1 – 1,25 x kebutuhan air bersih)
Kebutuhan haria maksimum dipakai : (1,15 x kebutuhan air bersih)
Kebutuhan harian maksimum dan jam puncak sangat diperlukan dalam
perhitungan besarnya kebutuhan air baku. Dalam perencanaannya
menggunakan pendekatan angka koefisien sebagai berikut :
a. Kebutuhan harian maksimum : 1,15 x kebutuhan air rata-rata
b. Kebutuhan jam puncak : 1,50 x kebutuhan air rata-rata
Fungsi dari suatu sistem jaringan distribusi air bersih adalah untuk
besarnya kebutuhan bagi konsumen dengan tekanan yang cukup pada berbagai
macam kondisi permintaan (loading condition).
Kondisi permintaan pada kondisi ini didefinisikan sebagai fluktuasi dari
kebutuhan harian pada kondisi permanen pada suatu titik simpul (debit
pembebanan) yang diakibatkan oleh suatu urutan corak perubahan sepanjang hari,
kebutuhan puncak harian dan adanya kebutuhan krisis ketika terjadi kerusakan
pipa. Dari perhitungan variasi terhadap kebutuhan harian ini dapat dibuat suatu
kurva penggunaan air harian.
Kriteria dan asumsi yang dipakai untuk mengevaluasi adanya variasi debit
pembebanan disetiap titik simpul pada studi ini adalah sebagai berikut :
Corak variasi kebutuhan air bersih harian yang terjadi pada titik simpul
dengan metode pendekatan corak fluktuasi kebutuhan air bersih harian yang
dilakukan oleh Dirjen Karya PU (Anonim, 1994:24) seperti yang disajikan pada
gambar 2.1.
Grafik Fluktuasi Pemakaian Air Bersih
Gambar 2.1 Grafik Fluktuasi Pemakaian Air Bersih Harian
Sumber Anonim, 1987 : 205
Berdasarkan grafik fluktuasi kebutuhan air bersih dari DPUD Jenderal
Cipta Karya Direktur Air bersih didapatkan nilai load factor sebagai berikut :
Tabel 2.1 Faktor Pengali (Load Factor) terdapat kebutuhan Harian
Jam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
LF 0.3 0.37 0.45 0.64 1.15 1.4 1.53 1.56 1.41 1.38 1.27 1.2
Jam 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
LF 1.14 1.17 1.18 1.22 1.31 1.38 1.25 0.98 0.62 0.45 0.37 0.25
Sumber Anonim, 1987 : 205
Pemilihan metode penderajatan dengan menggunakan nilai faktor pengali
perhitungan variasi kebutuhan air bersih harian dari DPUD Jenderal Cipta Karya
Direktorat Air Bersih tersebut didasarkan pada hal berikut ini yakni Metode
Pendekatan berdasarkan penelitian variasi kebutuhan air bersih.
Tabel 2.2 Nilai Kebutuhan Air Bersih untuk Bangunan Tempat Tinggal
Kebutuhan Air
Kategori
Keterangan Jumlah penduduk Minimum
Kota
(l/org/hr)
I Kota Metropolitan di atas 1 juta 190
II Kota Besar 500.000 s.d 1 juta 170
III Kota Sedang 100.000 s.d 500.000 150
IV Kota Kecil 20.000 s.d 100.000 130
V Desa 10.000 s.d 20.000 100
VI Desa Kecil 3.000 s.d 10.000 60
Sumber Anonim, 1994 dalam Natalia, 2007:13
Tabel 2.3 Kriteria Pemakaian Air Bersih
Kota
No Parameter
Metro Besar Sedang Kecil
1 Kebutuhan Domestik
(tingkat pemakaian air) :
- Sambungan rumah (il/org/hr) 190 170 150 130
- Kran umum (lt/org/hr) 30 30 30 30
2 Kebutuhan Non Domestik :
Industri (lt/dt/ha)
- Berat 0,50 – 1,00
- Sedang 0,25 – 0,50
- Ringan 0,15 – 0,25
Komersial
- Pasar (lt/dt/ha) 0,10 – 1,00
- Rumah makan (lt/unit/hr) 15
- Hotel (lt/kamar/hr)
- Lokal 400
- Internasional 1000
Sosial dan Institusi
- Sekolah (lt/siswa/hr) 15
- Rumah sakit (m3/hr/unit) 1–2
- Puskesmas (lt/hr) 400
3 Kebutuhan Air Rata-rata Kebutuhan Domestik + Non Domestik
4 Kebutuhan Air Maksimum Kebutuhan rata-rata x 1,15 – 1,2
(Faktor kehilangan jam maksimum)
5 Kehilangan Air :
Kota Metro dan Besar 25% x kebutuhan rata-rata
Kota Sedang dan Kecil 30% x kebutuhan rata-rata
6 Kebutuhan Jam Puncak Kebutuhan rata-rata x
faktor jam puncak (165% - 200%
2.3 Reservoir
Reservoir adalah bak penampung air sementara, dapat berupa tangki pada
permukaan tanah (Ground Tank) atau tangki di atas kaki (Elevated Tank) baik
untuk suatu sistem pemompaan ataupun sistem gravitasi.
2.3.1 Fungsi Reservoir
Penyimpanan (Storage) air untuk :
a. Melayani fluktuasi pemakaian per jam.
b. Cadangan air untuk pemadam kebakaran.
c. Pelayanan dalam keadaan emergency, diakibatkan oleh tertutupnya sumber
transmisi, kerusakan atas gangguan pada bangunan pengolahan air.
d. Pemerataan aliran dan tekanan akibat variasi pemakaian di dalam daerah
distribusi.
e. Sebagai distribusi, pusat atau sumber pelayanan dalam daerah distribusi.
2.3.2 Kapasitas Reservoir
Dalam suatu sistem distribusi terdiri dari suatu reservoir (storage) dan pipa
distribusi yang mempunyai kemampuan membagi air pada setiap konsumen
pemakai, dimana konsumen pemakai dapat memakai dan menikmati akan air
bersih. Reservoir dapat berupa tangki dan permukaan ataupun dengan sistem
gravitasi. Untuk mengetahui kapasitas reservoar yang dibutuhkan untuk
menghasilkan produktifitas dapat dicari dengan rumus :
V=PxLxD
Dimana :
V = Volume (m3)
L = Lebar (m)
P = Panjang (m)
D = Kedalaman (m)
2.3.3 Perhitungan Waktu Pengisian Reservoir
Perhitungan waktu ini ditujukan agar kebutuhan debit air yang dibutuhkan
oleh penduduk terpenuhi setiap waktu. Waktu pada perhitungan ini diperlukan
untuk menurunkan atau menaikkan permukaan zat cair dalam tangki.
Pengisian Tangki Air
Gambar 2.2 Pengisian Tangki Air
Sumber Hidrolika I, 1993 : 168
Debit aliran melalui lubang :
q Cd a 2 gh K h
Dalam satu interval waktu dt pertambahan volume di dalam tangki adalah :
dV (Q q)dt (Q K h )dt
Selama waktu dt tersebut permukaan zat cair di dalam tangki naiks ebesar dh,
sehingga pertambahan volume adalah :
dV = A dh
Sehingga perhitungan waktu pengisian air pada reservoar adalah (Sumber
Hidrolika I, 1993 : 169) :
2A Q k H1
K H1 H 2
t [Link]
k 2 Qk H
2
Dimana :
t = Waktu pengisian (dt)
A = Luas penampang (m2)
k = Koefisien permeabilitas
Q = Debit (m3/dt)
K = Koefisien tahanan hidrolik
H = Tinggi Tekan (m)
Elevasi permukaan zat cair di dalam tangki akan konstan apabila q = Q.
Perhatian yang di utamakan adalah bahwa apabila ada harga masukan
yang diberikan f i dan keadaan sistem hidrologi S, maka ia akan mampu untuk
memperkirakan harga keluarnya. Konsep ini di gambarkan secara gambar ini.
Gambar 2.3
Pengosongan Tangki Air
Gambar 2.4 Pengisian Tangki Air
Sumber Hidrolika I, 1993 : 166
Pada suatu saat permukaan zat cair di dalam tangki adalah pada ketinggian
h di atas lobang. Kecepatan aliran pada saat tersebut adalah :
V Cv 2 gh
Dan debit aliran adalah :
Q Cd a 2 gh
Dalam satu interval waktu dt volume zat cair yang keluar dari tangki adalah :
dV = Q dt
dV Cd a 2 gh dt
Selama interval waktu dt tersebut permukaan zat cair turun sebesar dh, sehingga
pengurangan volume zat cair di dalam tangki adalah :
dV = -A dh
Apabila tangki dikosong maka H2 = 0, sehingga persamaan adalah (Sumber
Hidrolika I, 1993 : 167) :
2 AH11 / 2
t
Cd a 2 g
Dimana :
t = Waktu pengisian (dt)
A = Luas penampang (m2)
H = Tinggi Tekan (m)
a = Luas lubang (m2)
Cd = Koefisien pengaliran
g = Gravitasi (9,81 m/dt 2)
Gravitasi Aliran Masuk dan Aliran Keluar
Gambar 2.5 Grafik Aliran Masuk dan Aliran Keluar
Sumber Hidrologi Teknik, 1986 :
2.4 Pompa
Pompa adalah komponen sistem yang mampu memberikan tambahan
tekanan dalam suatu sistem jaringan air bersih. Apabila sebelum pompa dipasang
telah ada aliran, maka pompa juga dapat dipergunakan untuk menambah kapasitas
debit pada sistem tersebut.
2.4.1 Penentuan Kapasitas Pompa
Penentuan kapasitas pompa ditentukan dengan kurva karakteristik.
Penentuan kapasitas di lihat perbandingan beberapa kapasitas pompa yang dapat
ditentukan dengan penentuan tinggi tekan pompa.
H = Hs + hf
Dimana :
H = Tinggi tekan (m)
Hs = Tinggi hisap static (m)
hf = Kehilangan tinggi tekan karena gesekan, dinyatakan dengan :
hf = 3,7 x Q2 (Q in m3/menit)
2.4.2 Daya Pompa
Daya yang bekerja pada pompa dapat ditentukan berdasarkan rumus
sebagai berikut : (Priyantoro, 1991 : 101)
Y .Q.H
P
Dimana :
P = Daya pompa (kW)
Y = Berat spesifik (kg/m)
Q = Debit (m3/det)
H = Tinggi tekan (m)
η = Efisiensi pompa (%)