BAB II RVS
BAB II RVS
TINJAUAN PUSTAKA
4
2.2 Pengertian Jalan
Jalan Raya adalah jalur-jalur tanah di atas permukaan bumi yang sengaja
dibuat oleh manusia dengan bentuk, ukuran-ukuran dan konstruksinya sehingga
dapat digunakan untuk menyalurkan lalu lintas orang, hewan dan kendaraan yang
mengangkut barang-barang dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya dengan
cepat dan mudah. (UU RI No. 38/ 2004).
Jalan raya adalah jalur – jalur tanah di atas permukaan bumi yang dibuat
oleh manusia dengan bentuk, ukuran dan jenis konstruksinya sehingga dapat
digunakan untuk menyalurkan lalu lintas orang, hewan, dan kendaraan yang
mengangkut barang dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan mudah dan cepat.
(Clarkson H. Oglesby, 1999).
a. Jalan Arteri
Jalan arteri adalah jalan umum yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri
perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk
dibatasi secara efisien (UU RI No. 38/2004)
b. Jalan Kolektor
Jalan kolektor adalah jalan umum yang melayani angkutan
pengumpul/pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata
sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi (UU RI No. 38/2004).
5
c. Jalan Lokal
Merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan
ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk
tidak dibatasi (UU RI No. 38/2004).
d. Jalan Lingkungan
Merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan
ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah (UU RI No.
38/2004).
6
b. Jalan Kolektor Primer
Jalan Kolektor Primer yaitu jalan yang secara efisien menghubungkan antara
pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan wilayah
atau antara pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal. Untuk penentuan
Klasifikasi Peranan Jalan Kolektor Primer harus memenuhi persyaratan kriteria
sebagai berikut:
1) Jalan kolektor primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 40
km/h.
2) Lebar badan jalan kolektor primer paling rendah 9 m.
3) Jumlah jalan masuk ke jalan kolektor primer dibatasi secara efisien; jarak antar
jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 400 m.
4) Persimpangan pada jalan kolektor primer diatur dengan pengaturan tertentu
yang sesuai dengan volume lalu lintasnya.
5) Jumlah kolektor primer mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu
lintas rata-rata.
6) Besarnya volume lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih rendah dari
jalan arteri primer.
7) Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup seperti rambu, marka, lampu
pengatur lalu lintas, dan lampu penerangan jalan.
8) Dianjurkan tersedianya jalur khusus yang dapat digunakan untuk sepeda dan
kendaraan lambat lainnya.
7
3) Besarnya volume lalu lintas harian rata-rata pada umumnya paling rendah pada
sistem primer.
8
Jalan Kolektor Sekunder yaitu jalan yang menghubungkan kawasan sekunder
kedua dengan kawasan sekunder kedua atau menghubungkan kawasan sekunder
kedua dengan kawasan sekunder ketiga (UU RI No. 38/2004). Untuk penentuan
Klasifikasi Peranan Jalan Kolektor Sekunder harus memenuhi persyaratan kriteria
sebagai berikut:
a) Jalan kolektor sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling
rendah 20 km/h.
b) Lebar badan jalan kolektor sekunder paling rendah 9 m.
c) Besarnya volume lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih rendah
dari sistem primer dan arteri sekunder.
d) Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup.
9
b. Jalan Provinsi
Jalan Provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer
yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau
antar ibukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
c. Jalan Kabupaten
Jalan Kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer
yang tidak termasuk jalan nasional dan provinsi, yang menghubungkan ibukota
kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, ibukota
kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan
umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan
jalan strategis kabupaten.
d. Jalan Kota
Jalan Kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang
menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat
pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan
antarpusat pemukiman yang berada dalam kota.
e. Jalan Desa
Jalan Desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan atau
antar pemukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.
Gambar 2.1 Penyebaran Beban Roda melalui Lapisan Perkerasan Jalan (Sukirman, S. 2010)
11
Lapisan yang terletak paling atas disebut lapisan permukaan, dan berfungsi
sebagai:
a. Lapis perkerasan penahan beban roda, lapisan mempunyai stabilitas tinggi
untuk menahan beban roda selama masa pelayanan.
b. Lapis kedap air, sehingga air hujan yang jatuh diatasnya tidak meresap
kelapisan di bawahnya dan melemahkan lapisan-lapisan tersebut.
c. Lapis aus (wearing course), lapisan yang langsung menderita gesekan akibat
rem kendaraan sehingga mudah menjadi aus.
d. Lapis yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh
lapisan lain yang mempunyai daya dukung yang lebih jelek.
Guna dapat memenuhi fungsi tersebut diatas, pada umumnya lapisan
permukaan dibuat dengan menggunakan bahan pengikat aspal sehingga
menghasilkan lapisan yang kedap air dengan stabilitas yang tinggi dan daya yang
tahan lama (Sukirman, S. 1999).
13
≥5 ........................................(2.1)
<5 .......................................(2.2)
Keterangan:
= diameter butir pada keadaan banyaknya persen yang lolos = 15%
= diameter butir pada keadaan banyaknya persen yang lolos = 85%
Gambar 2.3 Jenis Tanah Dasar ditinjau dari Muka Tanah Asli (Sukirman, S. 1999)
Keterangan:
P : Penetrasi
D : Selisih Penetrasi
N : Jumlah Tumbukan
b) Dn= Dn₂-Dn₁ …………………………(2.4)
Keterangan:
Dn : Kumulatif Penetrasi (mm)
c) CBR perlapisan (%) : Log CBR perlapisan = 2,555 – 1,145 log P (konus 30)
d) CBR perlapisan = 10^ (log CBR perlapisan)
e) ............…(2.5)
15
3. Material konstruksi perkerasan, dalam hal ini disebabkan oleh sifat material itu
sendiri atau dapat pula disebabkan oleh sistem pengelolaan bahan yang tidak
baik.
4. Iklim, Indonesia beriklim tropis dimana suhu udara dan curah hujan umumnya
tinggi, yang merupakan salah satu penyebab kerusakan jalan.
5. Kondisi tanah dasar yang tidak stabil, kemungkinan disebabkan oleh sistem
pelaksanaan yang kurang baik, atau dapat juga disebabkan oleh sifat tanah
yang memang kurang baik.
6. Proses pemadatan lapisan diatas tanah yang kurang baik.
16
Tabel 2.2 Jenis Kerusakan Perkerasan Jalan Beraspal
Modus Jenis Ciri
Retak - retak memanjang - memanjang serah sumbu jalan
- retak melintang - melintang tegak lurus sumbu jalan
- tidak berhubungan dengan pola
- tidak jelas
- retak tidak beraturan membentuk parabola atau bulan
sabit
- retak selip - membentuk poligon, spasi jarak
>300 mm
- retak blok - membentuk poligon, spasi jarak <
- retak buaya 300 mm
Deformasi - Alur - Penurunan sepanjang jejak roda
- Keriting - Penurunan regular melintang,
berdekatan
- Amblas - Cekungan pada lapisan permukaan
- Peninggian lokal pada lapis
- Sungkur permukaan
17
1) Daya dukung tanah dasar rendah.
2) Defleksi berlebihan dari lapis permukaan.
3) Lapisan bawah kurang stabil.
b. Kegemukan (Bleeding)
Kegemukan adalah ketika aspal pengikat berlebihan dan akhirnya timbul
keatas atau menonjol ke permukaan perkerasan. Kegemukan juga
mengakibatkan kontak antara ban dan agregat menjadi berkurang.
Faktor penyebab kerusakan kegemukan (Hardiyatmo, 2015):
1) Terlalu rendahnya kadar udara dalam campuran aspal.
2) Pada tambalan, aspal yang berlebihan pada bawah permukaan tambalan.
3) Kadar aspal yang sangat tinggi pada campuran aspal.
18
1) Perambatan dari retak susut yang terjadi pada lapisan perkerasan
dibawahnya.
2) Retak pada lapis perkerasan yang lama tidak diperbaiki secara benar
sebelum pekerjaan lapisan tambahan (overlay) dilakukan.
3) Perbedaan penurunan dari timbunan/pemotongan badan jalan dengan
struktur perkerasan.
4) Perubahan volume pada lapis pondasi dan tanah dasar.
5) Adanya akar pohon atau utilitas lainnya dibawah lapis perkerasan.
d. Keriting (Corrugation)
Kerusakan ini dikenal juga dengan istilah lain, yaitu: Ripples. Bentuk
kerusakan ini berupa gelombang pada lapis permukaan, atau dapat dikatakan
alur yang terjadi yang arahnya melintang jalan, dan sering disebut juga dengan
Plastic Movement. Kerusakan ini umumnya terjadi pada tempat berhentinya
kendaraan, akibat pengereman kendaraan.
Faktor penyebab kerusakan keriting:
1) Stabilitas lapis permukaan yang rendah.
2) Penggunaan material/agregat yang tidak tepat, seperti digunakannya agregat
yang berbentuk bulat licin.
3) Terlalu banyak menggunakan agregat halus.
4) Lapis pondasi yang memang sudah bergelombang.
5) Lalu lintas dibuka sebelum perkerasan mantap (untuk perkerasan yang
menggunakan aspal cair).
19
Gambar 2.7 Kerusakan Keriting (Anonim, 1983)
e. Amblas (Depression)
Amblas adalah kerusakan yang menyebabkan perkerasan mengalami
penurunan kadang diikuti retakan pada area terbatas. Penurunan permukaan
lapisan perkerasan biasanya diikuti dengan timbulnya genangan air yang dapat
membahayakan pengguna jalan.
Faktor penyebab kerusakan amblas:
1) Beban/berat kendaraan yang berlebihan, sehingga kekuatan struktur bagian
bawah perkerasan jalan atau struktur perkerasan jalan itu sendiri tidak
mampu memikulnya.
2) Penurunan bagian perkerasan dikarenakan oleh turunnya tanah dasar.
3) Pelaksanaan pemadatan tanah yang kurang baik.
20
Diantara area retak pinggir perkerasan juga disebabkan oleh tingkat kualitas
tanah yang lunak dan kadang-kadang pondasi yang bergeser.
Faktor penyebab kerusakan retak pinggir:
1) Kurangnya dukungan dari arah lateral (dari bahu jalan).
2) Drainase kurang baik.
3) Bahu jalan turun terhadap permukaan perkerasan.
4) Konsentrasi lalu lintas berat didekat pinggir perkerasan.
21
h. Pinggiran Jalan Turun Vertikal (Lane/Shoulder Drop Off)
Bentuk kerusakan ini terjadi akibat terdapatnya beda ketinggian antara
permukaan perkerasan dengan permukaan bahu atau tanah sekitarnya, dimana
permukaan bahu lebih rendah terhadap permukaan perkerasan.
Faktor penyebab kerusakan penurunan pada bahu jalan:
1) Lebar perkerasan yang kurang.
2) Material bahu yang mengalami erosi/penggerusan.
3) Dilakukan pelapisan lapisan perkerasan, namun tidak dilaksanakan
pembentukan bahu.
22
j. Tambalan dan Tambalan Pada Galian Utilitas (Patching and Utility Cut
Patching)
Tambalan adalah lapisan penutup pada perkerasan dimana sebelumnya telah
dilakukan penanganan. Biasanya terjadi karena lapis permukaan menjadi
menonjol keatas dari perkerasan sebelumnya (asli).
Faktor penyebab kerusakan tambalan:
1) Buruknya pemasangan material bawah perkerasan.
2) Terjadi kegagalan di sekitar tambalan dan dibawah tambalan.
Gambar 2.13 Kerusakan Tambalan dan Tambalan Galian Utilitas (Hardiyatmo, 2015)
m. Alur (Rutting)
Istilah lain yang digunakan untuk menyebutkan jenis kerusakan ini adalah
longitudinal ruts, atau channels/rutting. Bentuk kerusakan ini terjadi pada
lintasan roda sejajar dengan as jalan dan berbentuk alur.
Faktor penyebab kerusakan alur:
1) Ketebalan lapisan permukaan yang tidak mencukupi untuk menahan beban
lalu lintas.
2) Lapisan perkerasan atau lapisan pondasi yang kurang padat.
3) Lapisan permukaan/lapisan pondasi memiliki stabilitas rendah sehingga
terjadi deformasi plastis.
24
Gambar 2.16 Kerusakan Alur (Anonymous, 1983)
n. Sungkur (Shoving)
Sungkur adalah perpindahan lapisan perkerasan pada bagian tertentu yang
disebabkan oleh beban lalu lintas. Beban lalu lintas akan mendorong
berlawanan dengan perkerasan dan akan menghasilkan ombak pada lapisan
perkerasan. Kerusakan ini biasanya disebabkan oleh aspal yang tidak stabil dan
terangkat ketika menerima beban dari kendaraan.
Faktor penyebab kerusakan sungkur:
1) Stabilitas tanah dan lapisan perkerasan yang rendah.
2) Daya dukung lapis permukaan yang tidak memadai.
3) Pemadatan yang kurang pada saat pelaksanaan.
4) Beban kendaraan yang melalui perkerasan jalan terlalu berat.
5) Lalu lintas dibuka sebelum perkerasan mantap.
p. Mengembang (Swell)
Mengembang adalah gerakan yang diakibatkan oleh pengembangan tanah
dasar sehingga seperti menyembul keluar lalu membuat retakan pada
perkerasan. Perkerasan yang menyembul ini menyebabkan retakan pada
permukaan aspal.
Faktor penyebab kerusakan mengembang (Hardiyatmo, 2015):
1) Mengembangnya material lapisan di bawah perkerasan atau tanah dasar.
2) Tanah das perkerasan mengembang, bila kadar air naik. Umumnya, hal ini
terjadi bila tanah pondasi berupa lempung yang mudah mengembang
(lempung mentmorillonite) oleh kenaikan kadar air.
Gambar 2.21 Diagram Alir Perhitungan Surface Distress Index (SDI) (Bina Marga, 2011)
28
Tabel 2.3 Diagram Alir Perhitungan Surface Distress Index (SDI)
No PENILAIAN A PENILAIAN B
1 TIDAK ADA TIDAK ADA
2 <10%……SDI = 5 HALUS <1 MM….SDI2 = SDI1
3 10-30%......SDI = 20 SEDANG 1-5 MM…..SDI2 = SDI1
4 >30%......SDI = 40 LEBAR > 5 MM…..SDI= SDI1 * 2
No PENILAIAN C PENILAIAN D
1 TIDAK ADA TIDAK ADA
2 <10/100 M … SDI3 = SDI2 + 15 <1 CM (X = 0,5)….SDI4 = SDI3 + 5 * X
3 10-50/100 M…..SDI3 = SDI2 + 75 1 – 3 CM (X = 2)….SDI4 = SDI3 + 5 * X
4 >50/100 M…..SDI3 = SDI2 + 225 >3 / CM (X = 5)…..SDI4 = SDI3 + 20 * X
(Sumber: Bina Marga, 2011)
B. Kondisi/Keadaan
a. Baik/Tidak ada Kelainan
Permukaan jalan rata tanpa perumahan bentuk atau penurunan.
29
b. Aspal yang Berlebihan
Permukaan jalan licin, berkilat dan tidak ada batu yang kelihatan. Waktu
hari panas permukaan dari tipe ini jadi lunak dan lekat.
c. Lepas-lepas
Keadaan ini terjadi pada permukaan yang banyak pengikat aspal yang tidak
mengikat agregat batu sehingga banyak batu yang terlepas tanpa pengikat
aspal.
d. Hancur
Permukaan jalan hancur dan hampir semua bahan pengikat aspal hilang.
Banyak sekali batu dari barbagai ukuran yang sudah lepas diatas permukaan
jalan dan kelihatan seperti jalan kerikil dengan sedikit permukaan yang masi
mempunyai aspal. Kondisi/keadaan Permukaan perkerasan dapat dilihat
pada tabel 2.5.
Tabel 2.5 Susunan Permukaan Perkerasan
Kondisi / keadaan Bobot
Baik / tidak ada kelainan 1
Aspal berlebihan 2
Lepas – lepas 3
Hancur 4
(Sumber: Bina Marga, 2011)
C. Penurunan
Penurunan permukaan merupakan penurunan setempat pada suatu bidang
perkerasan yang biasanya terjadi dengan bentuk tidak menentu. Termaksud
kategori penurunan adalah penurunan bekas roda kendaraan. Yang diperhitungkan
adalah presentasi luas bidang yang mengalami penurunan terhadap luas total
permukaan sepanjang 50 m. untuk presentasi penurunan dapat dilihat pada tabel
2.6.
Tabel 2.6 Presentasi Penurunan Permukaan Perkerasan
Penurunan Bobot
Tidak ada 1
< 10 % luas 2
10 – 30 % luas 3
>30 % luas 4
(Sumber: Bina Marga, 2011)
30
D. Tambalan
Tambalan adalah keadaan dari permukaan perkerasaan dimana lubang-lubang.
Penurunan dan retak-retak sudah di perbaiki dan diratakan dengan material aspal
dan batu-batuan atau agregat lain. Yang diperhitungkan adalah presentasi luas
bidang tambalan terhadap luas total permukaan jalan sepanjang 50 m. Presentase
luas tambalan dapat dilihat pada tabel 2.7.
Tabel 2.7 Presentasi Tambalan Permukaan Perkerasan
Tambalan Bobot
Tidak ada 1
<10 % luas 2
10 – 30 % luas 3
>30 % luas 4
(Sumber: Bina Marga, 2011)
2. Retak-retak
A. Jenis Retakan
a. Tidak ada
b. Tidak berhubungan
Retak-retak yang merupakan bentuk garis-garis yang tidak beraturan dan
Panjangnya berbeda dan serta arahnya memanjang atau melintang
permukaan perkerasan jalan.
c. Saling berhubungan (berbidang luas)
Retak-retak yang saling berhubungan berbentuk pola dengan bidang yang
luas berbentuk pola melintang atau memanjang.
d. Saling berhubungan (berbidang sempit)
Retak-retak yang saling berhubungan berbentuk pola dengan bidang yang
sempit atau kecil termasuk retakan kulit buaya dan retakan dengan tipe yang
sama.
Jenis retakan beserta bobot dapat dilihat pada tabel 2.8.
31
Tabel 2.8 Jenis Retakan Permukaan Perkerasan
Jenis retakan Bobot
Tidak ada 1
Tidak berhubungan 2
Saling berhubungan
3
(berbidang luas)
Saling berhubungan
4
(berbidang sempit)
(Sumber: Bina Marga, 2011)
B. Lebar Retakan
Lebar retakan yaitu jarak antara dua bidang retakan diukur pada permukaan
perkerasan. Pembagian bobot retakan dapat dilihat pada tabel 2.9.
Tabel 2.9 Lebar Retakan Permukaan Perkerasan
Lebar Retakan Bobot Kondisi
Tidak Ada 1 -
<1 mm 2 Halus
1 – 5 mm 3 Sedang
>5 mm 4 Lebar
(Sumber: Bina Marga, 2011)
C. Luas Retakan
Luas retakan adalah luas bagian permukaan jalan yang mengalami retakan,
Diperhitungkan secara presentase terhadap luas permukaan segmen jalan yang
disurvei sepanjang dalam 50 m. Luas retakan dapat dilihat pada tabel 2.10.
Tabel 2.10 Luas Retakan Permukaan Perkerasan
Luasan retak Bobot
Tidak ada 1
<10% luas 2
10-30% luas 3
>30% luas 4
(Sumber: Bina Marga, 2011)
3. Lubang
A. Jumlah Lubang
Jumlah lubang adalah jumlah lubang yang terdapat pada permukaan jalan yang
di survei sepanjang 100 m. jumlah lubang dapat di lihat pada tabel 2.11.
32
Tabel 2.11 Jumlah Lubang Permukaan Perkerasan
Jumlah lubang Bobot
Tidak ada 1
<10/100m 2
10-50/100m 3
>50/100m 4
(Sumber: Bina Marga, 2011)
B. Ukuran Lubang
Ukuran lubang adalah perkiraan ukuran lubang rata-rata yang mewakili pada
100 m segmen jalan yang di survei. Ukuran lebar dan kedalaman lubang dibatasi
pada tabel 2.12.
Tabel 2.12 Ukuran Lubang Permukaan Perkerasan
Lebar dan
Ukuran Keterangan
Kedalaman
Kecil Diameter <0,5 m
Lebar Diameter ≥0,5 m
Dangkal Kedalaman <5 cm
Dalam Kedalaman ≥5 cm
(Sumber: Bina Marga, 2011)
Hasil pengamatan berdasarkan Bina Marga (2011) diatas, maka didapat nilai
dari tiap jenis kerusakan yang diidentifikasi, sehingga untuk menentukan
penilaian kondisi jalan didapat dengan cara menjumlahkan nilai kerusakan yang
33
terjadi. Dapat diketahui bahwa semakin besar angka kerusakan kumulatif, maka
akan semakin besar pula nilai kondisi jalan, yang berarti bahwa jalan tersebut
memiliki kondisi yang buruk sehingga membutuhkan pemeliharaan yang lebih
baik.
Perhitungan SDI, terdapat 4 (empat) variabel utama yang nantinya akan
dimasukkan kedalam perhitungan, yaitu persentasi luas retak (%), rata-rata lebar
retak (mm), jumlah lubang per 100 m dan rata-rata kedalaman alur (cm). Indeks
SDI dihitung dengan cara mengakumulasikan kerusakan jalan, dan hasil akan
menentukan kondisi jalan sesuai dengan yang tertera dalam Tabel 2.14.
Tabel 2.14 Kondisi Jalan Berdasarkan Indeks SDI
Surface Distress Index (SDI) Kondisi Jalan
<50 Baik
50 – 100 Sedang
100 – 150 Rusak Ringan
>150 Rusak Berat
(Sumber: Bina Marga, 2011)
Setelah mendapat persentase retak, lalu memasukkan bobot seperti tabel 2.10
di atas. Berikut adalah perhitungan SDI 1:
a. Tidak ada
b. Luas retak <10%, maka SDI 1 = 5
c. Luas retak 10-30%, maka SDI 1 = 20
34
d. Luas retak > 30%, maka SDI 1 = 40
2. Menentukan Nilai SDI 2 (Lebar Retak)
Setelah didapat nilai SDI 1, selanjutnya adalah mencari nilai SDI 2 dengan cara
menentukan bobot total lebar retak seperti yang tercantum pada tabel 2.9.
Kemudian nilai SDI 1 dimasukkan kedalam perhitungan seperti yang tertara di
bawah ini:
a. Tidak ada
b. Lebar retak <1 mm (halus), maka SDI 2 = SDI 1
c. Lebar retak 1-5 mm (sedang), maka SDI 2 = SDI 1
d. Lebar retak >5 mm (lebar), maka SDI 2 = SDI 1*2
3. Menentukan Nilai SDI 3 (Jumlah Lubang)
Setelah mendapat nilai SDI 2 (Lebar Retak). Selanjutnya nilai SDI 2
dimasukkan kedalam perhitungan SDI 3 (Jumlah Lubang). Berikut adalah
perhitungan SDI 3 berdasarkan bobot seperti yang sudah di cantumkan dalam
tabel 2.11.
a. Tidak ada
b. Jumlah lubang <10/100 m, maka SDI 3 = SDI 2+15
c. Jumlah lubang 10-50/100 m, maka SDI 3 = SDI 2+75
d. Jumlah lubang >50/100 m, maka SDI 3 = SDI 2+225
4. Menentukan Nilai SDI 4 (Kedalaman Bekas Roda)
Setelah mendapat bobot nilai SDI 4 seperti pada tabel 2.13, maka selanjutnya
memasukkan nilai SDI 3 kedalam perhitungan berikut:
a. Tidak ada
b. Kedalaman bekas roda <1cm (X=0,5), maka SDI 4 = SDI 3+5*X
c. Kedalaman bekas roda <1-3 cm (X=2), maka SDI 4 = SDI 3+5*X
d. Kedalaman bekas roda >3 cm (X=5), maka SDI 4 = SDI 3=20*X
2.8 Metode Perhitungan dan Penelitian Nilai SDI (Surface Distress Index)
Berdasarkan metode yang digunakan, beberapa data yang digunakan untuk
melakukan perhitungan nilai SDI didaptkan dari Survei Kondisi Jalan (SKJ)/Road
Condition Survey (RCS).
A. Survei Kondisi Jalan (SKJ)/Road Condition Survey (RCS)
36
Survei Kondisi Jalan (SKJ) bertujuan untuk menentukan kondisi jalan pada
suatu waktu tertentu dan survei ini tidak berhubungan dengan evaluasi struktur
dari perkerasan jalan yang dilakukan melalui survei evaluasi jalan SKJ adalah
analisis fungsional jalan secara langsung dengan mendata kondisi bagian jalan
yang mudah berubah baik untuk jalan beraspal dan jalan kerikil/tanah. SKJ
sebaiknya dilaksanakan bersamaan waktu dengan survei kekasaran permukaan
jalan sehingga hasil kedua survei dapat saling melengkapi. SKJ dilakukan
berdasarkan panduan survei kondisi jalan nomor SDM-03/RCS.
39
2.9.2. Analisa Volume Lalu Lintas
Menurut Manual Desain Perkerasan Jalan Bina Marga 2017, Parameter
yang penting dalam analisis struktur perkerasan adalah data lalu lintas yang
diperlukan untuk menghitung beban lalu lintas rencana yang dipikul oleh
perkerasan selama umur rencana. Beban dihitung dari volume lalu lintas pada
tahun survei yang selanjutnya diproyeksikan ke depan sepanjang umur rencana.
Volume tahun pertama adalah volume lalu lintas sepanjang tahun pertama setelah
perkerasan diperkirakan selesai dibangun atau direhabilitasi. Volume lalu lintas
didefinisikan sebagai jumlah kendaraan yang melewati satu titik pengamatan
selama satu satuan waktu (hari, jam, atau menit). Lalu lintas harian rata-rata
adalah volume lalu lintas rata-rata dalam satu hari. Dari lama waktu pengamatan
untuk mendapatkan nilai lalu lintas harian rata-rata, dikenal 2 jenis lalu lintas
harian rata-rata yaitu:
1. Lalu Lintas Harian Rata-Rata Tahunan (LHRT) yaitu volume lalu lintas harian
yang diperoleh dari nilai rata-rata jumlah kendaraan selama satu tahun penuh.
..................…………………...(2.7)
2. Lalu lintas Harian Rata-Rata (LHR), yaitu volume lalu lintas harian yang
diperoleh dari nilai rata-rata jumlah kendaraan selama beberapa hari
pengamatan.
……………………………...(2.8)
40
c. Nilai perkiraan untuk jalan dengan lalu lintas rendah.
Rata -
Jawa Sumatera Kalimantan
rata
Faktor pertumbuhan lalu lintas (R) dapat juga ditentukan berdasarkan tabel
dibawah ini.
Tabel 2.18 Faktor Laju Pertumbuhan Lalu Lintas (R) (%)
Laju Pertumbuhan (i) pertahun (%)
Umur Rencana
(Tahun) 0 2 4 6 8 10
5 5 5,2 5,4 5,4 5,9 6,1
10 10 10,9 12 13,2 14,5 15,9
15 15 17,3 20 23,3 27,2 31,8
20 20 24,3 29,8 36,8 45,8 57,3
25 25 32 41,6 54,9 73,1 98,3
30 30 40,6 56,1 79,1 113,3 164,5
35 35 50 73,7 111,4 172,3 271
Sumber: Bina Marga MDPJ04/SE/Db/2017:4-2
Keterangan:
41
R = Faktor pengali pertumbuhan lalu lintas kumulatif
i = Laju pertumbuhan lalu lintas tahunan (%)
UR = Umur rencana (tahun)
42
Jenderal Bina Marga dapat menentukan waktu penerapan efektif beban terkendali
tersebut setiap waktu. Jika survei beban gandar tidak mungkin dilakukan oleh
perencana dan data survei beban gandar sebelumnya tidak tersedia, maka nilai
VDF pada Tabel 2.20 dan Tabel 2.21 dapat digunakan untuk menghitung ESA.
Tabel 2.20 menunjukkan nilai VDF regional masing-masing jenis kendaraan niaga
yang diolah dari data studi WIM yang dilakukan Ditjen Bina Marga pada tahun
2012–2013. Data tersebut perlu diperbarui secara berkala sekurang-kurangnya
setiap 5 tahun.
43
Tabel 2.20 Nilai VDF masing-masing jenis Kendaraan Niaga
44
Tabel 2.21 Nilai VDF masing-masing Kendaraan Niaga
45
2.10 Beban Sumbu Standar Kumulatif (CESAL)
Beban sumbu standar kumulatif atau Cumulative Equivalent Single Axle
Load (CESAL) merupakan jumlah kumulatif beban sumbu lalu lintas desain pada
jalur desain selama umur rencana yang ditentukan menggunakan VDF masing-
masing kendaraan niaga:
46
2.11 Manual Desain Perkerasan Jalan Bagian II Rehabilitasi Perkerasan
(Perlapisan Struktural, Pengerikilan Kembali, Daur Ulang dan
Rekontruksi)
47
Tabel 2.22 Umur Rencana Jenis Penanganan
Kriteria beban lalu
< 0,5 0,5 - < 30 ≥ 30
lintas (juta ESA4)
- Rekonstruksi – 20 tahun
Seluruh - Overlay struktual – 10 tahun
Umur rencana
penanganan 10 - Overlay non struktual – 10 tahun
perkerasan lentur
tahun - Penanganan sementara – sesuai
kebutuhan
Sumber: MDPJ Bina Marga 2017
48
f. Jika lapisan tanah lunak cukup dalam dan bukti historis menunjukkan
kerusakan berlebihan pada perkerasan eksisting, maka metode pendukung
seperti cakar ayam atau micro pile dapat dipertimbangkan.
49
Tabel 2.23 Pemilihan Struktur Perkerasan
OVERLAY PERKERASAN EKSISTING
Kumulatif ESA5 20* tahun (juta)**
Struktur Perkerasan
<0,1 0,1 - 4 4 - 10 >10-30 >30
AC-WC/BC modifikasi SBS
AC-WC/BC modifikasi
yang disetujui
AC-WC/BC normal
REKONSTRUKSI
Kumulatif ESA4 20* tahun (juta)***
Struktur Perkerasan
<0,1 0,1 - 4 4 - 10 >10-30 >30
Perkerasan beton di atas
tanah normal
CTRB + AC modifikasi
CTRB + AC
HRS + lapis fondasi agregat
kelas A
perkerasan tanpa penutup
Sumber: MDPJ Bina Marga 2017
Opsi utama
Opsi alternatif
*20 tahun digunakan untuk menyetarakan perbandingan, bukan sebagai umur
rencana. Umur rencana overlay AC adalah 10 tahun (lihat poin 1 di atas).
**ESA5 digunakan untuk perhitungan overlay dengan campuran aspal;
***ESA4 digunakan untuk menyetarakan perbandingkan berbagai alternatif
penanganan rekonstruksi.
Ketentuan diatas tidak berlaku mutlak, perencana harus mempertimbangkan
berbagai kendala pelaksanaan dan kepraktisan konstruksi. Solusi alternatif harus
dipilih salah satu berdasarkan nilai ESA dan pada biaya siklus masa layan terkecil
atau paling kompetitif.
51