0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan15 halaman

LP RDS

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang perawatan anak pada bayi dengan diagnosis Respiratory Distress Syndrome (RDS) di RSUD Kabupaten Karangasem. RDS adalah gangguan pernapasan yang umum terjadi pada bayi prematur, dengan gejala seperti takipnea, sianosis, dan retraksi dada. Penatalaksanaan meliputi pemberian terapi surfaktan eksogen, ventilasi, dan pengobatan untuk mencegah infeksi serta mengelola hipoksemia.

Diunggah oleh

w5xwd2zf69
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan15 halaman

LP RDS

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang perawatan anak pada bayi dengan diagnosis Respiratory Distress Syndrome (RDS) di RSUD Kabupaten Karangasem. RDS adalah gangguan pernapasan yang umum terjadi pada bayi prematur, dengan gejala seperti takipnea, sianosis, dan retraksi dada. Penatalaksanaan meliputi pemberian terapi surfaktan eksogen, ventilasi, dan pengobatan untuk mencegah infeksi serta mengelola hipoksemia.

Diunggah oleh

w5xwd2zf69
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN ANAK

PADA BAYI DENGAN DIAGNOSA RESPIRATORY DISTRESS


SYNDROME (RDS) DI RSUD KABUPATEN KARANGASEM

OLEH:

Ni Wayan Yuni Rosayanti


25089145067

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG
2026
A. KONSEP TEORI
1. Definisi
Respiratory Distress of the Newborn (RDN) atau biasa juga disebut
Respiratory Distress Syndrome (RDS) biasa juga disebut Hyaline Membrane
Disease (HMD) Adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi
premature dengan tanda- tanda takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada
udara kamar yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-
ray thorak yang spesifik, sekitar 60% bayi yang lahir sebelum gestasi 29 minggu
mengalami RDS. RDS (Respiratori Distress Syndrom) adalah gangguan
pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda takipnue
(>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau
memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik. Tanda-
tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya infeksi dan ada
tidaknya shunting darah melalui PDA Sindrom distres pernafasan adalah
perkembangan yang imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah
surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai Hyaline Membrane Disesae
(Suryadi & Yuliani, 2016).
2. Etiologi
Menurut Suriadi dan Yulianni (2016) etiologi dari RDS yaitu :
a. Ketidakmampuan paru untuk mengembang dan alveoli terbuka.
b. Alveoli masih kecil sehingga mengalami kesulitan berkembang dan
pengembangan kurang sempurna. Fungsi surfaktan untuk menjaga agar
kantong alveoli tetap berkembang dan berisi udara, sehingga pada bayi
prematur dimana surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya
berkembang paru kurang dan bayi akan mengalami sesak nafas.
c. Membran hialin berisi debris dari sel yang nekrosis yang tertangkap dalam
proteinaceous filtrat serum (saringan serum protein), di fagosit oleh makrofag.
d. Berat badan bayi lahir kurang dari 2500 gram.
e. Adanya kelainan di dalam dan di luar paru
f. Kelainan dalam paru yang menunjukan sindrom ini adalah
pneumothoraks/pneumomediastinum, penyakit membran hialin (PMH) Bayi
prematur atau kurang bulan. Diakibatkan oleh kurangnya produksi surfaktan.
Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, semakin muda
usia kehamilan, maka semakin besar pula kemungkinan terjadi RDS.
3. Tanda dan Gejala
Berat atau ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi olch
tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan. semakin
berat gejala klinis yang ditunjukan. Gejala dapat tampak beberapa jam setelah
kelahiran. Kasus RDS kemungkinan besar terjadi pada bayi yang lahir prematur.
Menurut (Asrining, 2013) Gejala utama Gawat napas/distress respirasi pada
neonatus yaitu:
a. Takipnca laju napas 60 kali per menit (normal laju napas 40 kali per menit)
b. Sianosis sentral pada suhu kamaryang menetap atau memburuk pada 48-96
jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik
c. Retraksi cekungan pada stemum dan kosta pada saat inspirasi
d. Grunting: suara merintih saat ekspirasi
e. Pernapasan cuping hidung

Menurut (Manuaba, 2012) tanda-tanda yang mungkin ditunjukkan oleh bayi yang
mengalami RDS di antaranya:

a. Napas cepat
b. Lubang hidung melebar ketika bernapas
c. Retraksi (Ketika bayi bernapas dengan cepat, kulit tertarik di antara tulang
rusuk atau di bawah tulang rusuk).
d. Bising saat bernapas atau mendengkur.
e. Bibir, bantalan kuku, dan kulit berwama kebiruan karena kekurangan oksigen,
yang disebut dengan sianosis
f. Biasanya gejala RDS akan memburuk pada hari ketiga. Saat bayi membaik, ia
memerlukan lebih sedikit oksigen dan bantuan mekanis untuk bernapas. Gejala
RDS mungkin tampak seperti kondisi kesehatan lainnya.
4. Klasfikasi
Menurut (Haryani, Hardiani, S., & Thoyibah, 2021), klasifikasi RDS antara lain :
a. Sindrom gawat nafas klasik atau Classic Respiratory Distress Syndrome,
disebabkan karena kekurangan aerasi (underaration). Volume paru-paru yang
menurun, parenkim paru-paru yang memiliki polaretikulogranurer difusi, dan
terdapat gambaran bronkogram udara yang meluas ke perifer.
b. Sindrom gawat nafas sedang-berat atau Moderately Severe Respiratory
Distress Syndrome, polaretikulogranuler terlihat lebih menonkol dan
terdistribusi lebih merata. Paru-paru hypoaerated. Terlihat pada Gambaran
bronkogram udara yang meningkat.
c. Sindrom gawat nafas berat atau Severe Respiratory Distress Syndrom, terdapat
retikulogranuler yang berbentuk opaque pada kedua paru-paru pada area cystic
pada paru-paru kanan yang dapat menunjukkan alveoli yang berdilatasi atau
empisemaintertitial.
5. Patofisiologi
Faktor terjadinya kegawatan nafas atau RDS pada bayi prematur disebabkan oleh
alveoli yang masih kecil sehingga sulit untuk mengembang. Pengembangan yang
kurang sempurna terjadi karena dinding dada yang lemah dan kurangnya produksi
[Link] diketahui bahwa defisiensi surfaktan merupakan faktor terpenting
dalam terjadinya RDS. Surfaktan dihasilkan oleh pneumosit tipe 2 yang terdiri
dari 90% lipid dan 10% protein pada usia gestasi 24 – 28 minggu dan mulai
berfungsi aktif pada usia gestasi 34 – 35 minggu. Fungsi dari surfaktan yaitu untuk
mengurangi tegangan permukaan cairan yang melapisi alveolar dan
mempertahankan integritas struktural alveoli (Suminto, 2017). Penurunan
surfaktan menyebabkan peningkatan usaha nafas untuk ekspansi paru pada setiap
nafas dan meningkatkan kemungkinan kolaps alveolar pada akhir ekspirasi. Pasien
RDS biasanya akan mengalami ketidaksesuaian antara ventilasi-perfusi yang akan
berakhir menjadi hipoksemia. Pada saat bernafas, stres pada alveoli dan
bronkiolus terminalis terjadi akibat dari usaha repetitif untuk membuka kembali
alveoli yang kolaps dan distensi yang berlebih pada alveoli yang terbuka. Tekanan
tersebut dapat merusak struktur paru sehingga terjadi kebocoran debris
proteinaseosa ke jalan nafas. Debris dapat semakin mengganggu fungsi surfaktan
sehingga akan menyebabkan gagal nafas (Suminto, 2017)
WOC

6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan pada bayi dengan RDS, yaitu (Marfuah & Barlianto, W., &
Susmarini, 2013) :
a. Nilai darah lengkap pada bayi RDS, terdiri dari :
1) Hb (normal 15 – 19 g/dL) , biasanya Hb pada bayi dengan RDS cenderung
turun karena O2 dalam darah sedikit.
2) Leukosit lebih dari 10.0 (normal 4.0 – 10.0 10^3/µL) karena pada bayi
preterm, imunitas masih rendah sehingga beresiko tinggi terhadap infeksi.
3) Trombosit (normal 100 – 300 10^3/µL)
4) Distrofiks pada bayi preterm dengan RDS cenderung turun karena sering
terjadi hipoglikemia.
b. Pemeriksaan Analisa Gas Darah karena didapatkan adanya hipoksemia
kemudian hiperkapnea dengan asidosis respiratorik.
1) pH (normal 7,36 – 7, 46)
2) PCO2 (normal 35 – 45 mmHg)
3) PO2 (normal 80 – 100 mmHg)
4) SaO2 (normal 95% - 97%), < 90% dapat mengidentifikasikan hipoksemia.
5) HCO3 (normal 24 – 28 mEq/L)
6) SpO2 (normal 80 – 100%)
c. Pemeriksaan Radiologis, setelah 14 – 24 jam akan tampak infiltrat alveolar
tanpa batas yang tegas di seluruh paru.
d. Biopsi paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal di
dalam parenkim paru.
7. Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan pada bayi dengan RDS menurut (Suminto, 2017), adalah
mencegah terjadinya hipoksemia dan asidosis respiratorik, mencegah perburukan
atelektasis dan edema pulmoner, mengurangi oxidant lung injury, dan mengurangi
kerusakan yang terjadi pada paru akibat dari ventilasi mekanik. Berikut ini adalah
penatalaksanaan pada bayi dengan RDS (Haryani dkk, 2021) :
a. Antibiotika untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.
b. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan cairan
paru.
c. Vitamin E untuk menurunkan radikal bebas oksigen
d. Pertahankan PO2 dalam batas normal
e. Ventilasi dan oksigenasi (3 – 5 liter dengan menggunakan masker)
f. Metilksantin (teofilin dan kafein) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
g. Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaannya dalam
pengobatan RDS adalah pemberian terapi surfaktan eksogen. Surfaktan
eksogen merupakan derivat dari sumber alami misalnya manusia (didapatkan
dari cairan amnion, akan tetapi juga bisa berbentuk surfaktan buatan). Dosis
surfaktan diberikan secara bervariasi antara 100mg/kgBB sampai 200
mg/kgBB. Dengan dosis 100 mg/kgBB maka sudah dapat memberikan
oksigenasi dan ventilasi yang baik dan dapat menurunkan angka kematian
neonatus. Pemberian terapi surfaktan eksogen tersebut dikombinasikan dengan
menggunakan CPAP atau Continues Positives Airway Pressure
(Suminto, 2017).
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
A) Anamnesa :
1) Data Demografi
a) Nama
b) Usia : bayi yang lahir sebelum gestasi 29 minggu.
c) Jenis Kelamin
d) Suku / Bangsa
e) Alamat
B) Keluhan Utama : Pasien dengan RDS didapatkan keluhan seperti sesak,
mengorok ekspiratori, pernapasan cuping hidung, lemah, lesu, apneu, tidak
responsive, penurunan bunyi napas.
C) Riwayat Penyakit Sekarang : Pada pasien RDS, biasanya akan diawali dengan
tanda-tanda mudah letih, dispnea, sianosis, bradikardi, hipotensi, hipotermi,
tonus otot menurun, edema terutama di daerah dorsal tangan atau kaki, retraksi
supersternal/ epigastrik/ intercosta, grunting expirasi. Perlu juga ditanyakan
mulai kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk
menurunkan ataumenghilangkan keluhan-keluhan tersebut.
D) Riwayat Penyakit Dahulu : Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami
prematuritas dengan paru-paru yang imatur (gestasi dibawah 32 minggu),
gangguan surfactan, lahir premature dengan operasi Caesar serta penurunan
suplay oksigen saat janin saat kelahiran pada bayi matur atau premature,
atelektasis, diabetes mellitus, hipoksia, asidosis
E) Riwayat Maternal
Meliputi riwayat menderita penyakit seperti diabetes mellitus, kondisi seperti
perdarahan placenta, placenta previa, tipe dan lama persalinan, stress fetal atau
intrapartus, dan makrosomnia (bayi dengan ukuran besar akibat ibu yang
memiliki riwayat sebagai perokok, dan pengkonsumsi minuman keras serta
tidak memperhatikan gizi yang baik bagi janin).
F) Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang terkena penyakit -penyakit
yang disinyalir sebagai penyebab kelahiran premature / Caesar sehinnga
menimbulakan membrane hyialin disease.
G) Riwayat psikososial
Meliputi perasaan keluarga pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara
mengatasinya serta bagaimana perilaku keluarga pasien terhadap tindakan
yang dilakukan terhadap bayinya.
H) Status Infant saat Lahir
1) Prematur, umur kehamilan.
2) Apgar score, apakah terjadi aspiksia.
3) Apgar score adalah : Suatu ukuran yang dipakai untuk mengevaluasi
keadaan umum bayi baru lahir.
4) Bayi premature yang lahir melalui operasi Caesar
I) Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu (> 60 kali/menit),
pernafasan mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping
hidung, sianosis dan pucat, hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit
bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya suara nafas mungkin normal
kemudian dengan menurunnya pertukaran udara, nafas menjadi parau dan
pernapasan dalam. Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan
pernafasan dapat dilihat dari penilaian fungsi respirasi dan penilaian fungsi
kardiovaskuler. Penilaian fungsi respirasi meliputi :
1) Frekuensi nafas
Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi.
Takhipneu tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha
kompensasi terhadap terjadinya asidosis metabolik seperti pada syok,
diare, dehidrasi, ketoasidosis, diabetikum, keracunan salisilat, dan
insufisiensi ginjal kronik. Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler
sering terjadi pada hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang merupakan
tanda memburuknya keadaan klinik.
2) Mekanika usaha pernafasan
Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung,
retraksi dinding dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan
penyakit alveolar. Anggukan kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi
memanjang menandakan terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan.
3) Warna kulit/membran mukosa
Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat berbercak
(mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin.
4) Kardiovaskuler
a) Frekuensi jantung dan tekanan darah
Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum adanya stress,
ansietas, nyeri, demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsi
jantung.
b) Kualitas nadi
Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui
volume dan aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan
tidak teraba pada satu sisi menandakan berkurangnya aliran darah
atau tersumbatnya aliran darah pada daerah tersebut. Perfusi kulit
kulit yang memburuk dapat dilihat dengan adanya bercak, pucat
dan sianosis.
c) Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara :
- Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)
- Blancing Skin Test, caranya yaitu dengan meninggikan sedikit
ekstremitas dibandingkan jantung kemudian tekan telapak
tangan atau kaki tersebut selama 5 detik, biasanya tampak
kepucatan. Selanjutnya tekanan dilepaskan pucat akan
menghilang 2-3 detik.
d) Perfusi pada otak dan respirasi
Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi
agitasi dan letargi. Pada iskemia otak mendadak selain terjadi
penurunan kesadaran juga terjadi kelemahan otot, kejang dan
dilatasi pupil.
J) ADL (Activity daily life)
1) Nutrisi :
Bayi dapat kekeurangan cairan sebagai akibat bayi belum minum atau
menghisap
2) Istirahat tidur
Kebutuhan istirahat terganggu karena adanya sesak nafas ataupun
kebutulan nyaman tergangu akibat tindakan medis
3) Eliminasi
Penurunan pengeluaran urine
2. Masalah Keperawatan dan Data Pendukung
a) Masalah keperawatan : Pola Napas Tidak Efektif
Definisi : Inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat
Data pendukung :
Subjektif : Dispnea, ortopnea
Objektif : Pola napas abnormal, penggunaan otot bantu napas, pernapasan
cuping hidung
b) Masalah Keperawatan : Gangguan Pertukaran Gas
Definisi : Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan eliminasi karbondioksida
pada membran alveolus - kapiler
Data pendukung :
Subjektif : Dispnea, penglihatan kabur
Objektif : Pola napas abnormal, napas cuping hidung, sianosis, takikardia
c) Masalah keperawatan : Risiko infeksi
Definisi : Berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik
3. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
a) Pola napas tidak efektif (D.005) b.d depresi pusat pernapasan d.d dispnea, pola
napas abnormal
b) Gangguan pertukaran gas (D.0003) b.d ketidakseimbangan ventilasi – perfusi
d.d dispnea, pola napas abnormal
c) Risiko Infeksi (D.0142) d.d peningkatan paparan organisme patogen
lingkungan
4. Intervensi
No Diagnosa Luaran dan Kriteria Intervensi Keperawatan
Keperawatan Hasil
1. Pola napas tidak Pola napas (L.01004) Manajemen Jalan Napas ( I.01011)
efektif (D.005) b.d Setelah dilakukan Observasi
depresi pusat intervensi keperawatan a. Monitor pola napas
pernapasan d.d selama 1 x 24 jam (frekuensi, kedalaman, usaha
dispnea, pola napas maka diharapkan pola napas)
abnormal napas membaik dengan b. Monitor bunyi napas
kriteria hasil : tambahan (mis. gurgiling,
- Dispnea mengi, wheezing, ronkhi
menurun kering)
- Frekuensi napas c. Monitor sputum (jumlah,
membaik warna, aroma)
- Kedalaman Terapeutik
napas membaik d. Pertahanan kepatenan jalan
napas dengan head-tift dan
chin-lift (jaw-thrust jika
curiga trauma servikal)
e. Posisikan Semi-Fowler atau
Fowler
f. Berikan minuman hangat
g. Lakukan fisioterapi dada,
jika perlu
h. Lakukan penghisapan lendir
kurang dari 15 detik
i. Lakukan hiperoksigenasi
sebelum penghisapan
endotrakeal
j. Keluarkan sumbatan benda
padat dengan proses McGill
k. Berikan Oksigen, Jika perlu
Edukasi
l. Anjurkan asupan cairan
2000 ml/hari, Jika tidak
komtraindikasi
m. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, Jika perlu
2. Gangguan Pertukaran gas Pemantauan Respirasi (I.01014)
pertukaran gas (L.01003) Observasi
(D.0003) b.d Setelah dilakukan a. Monitor frekuensi, irama,
ketidakseimbangan intervensi keperawatan kedalaman dan upaya napas
ventilasi – perfusi selama 1 x 24 jam b. Monitor pola napas (seperti
d.d dispnea, pola makan diharapkan bradipnea, takipnea,
napas abnormal pertukaran gas hiperventilasi, kussmaul,
meningkat dengan Cheyne-Stokes, biot,
kriteria hasil : ataksik)
- Dispnea c. Monitor kemampuan bantuk
menurun efektif
- Gelisah d. Monitor adanya produksi
menurun sputum
- Napas cuping e. Monitor adanya sumbatan
hidung menurun jalan napas
- Pola napas f. Palpasi kesimetrisan
membaik ekspansi paru
g. Auskultasi bunyi napas
h. Monitor saturasi oksigen
i. Monitor nilai AGD
j. Monitor hasil x-ray toraks
Teraupetik
a. Atur interval pemantauan
respirasi sesuai kondisi
pasien
b. Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi
a. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
b. Informasikan hasil
pemantauan, jika perlu
3. Risiko Infeksi Tingkat infeksi Pencegahan Infeksi (I.14539)
(D.0142) d.d (L.14137) Observasi
peningkatan Setelah dilakukan a. Monitor tanda dan gejala
paparan organisme intervensi selama 1 x infeksi lokal dan sistematik
patogen 24 jam maka Terapeutik
lingkungan diharapkan tingkat a. Batasi jumlah pengunjung
infeksi menurun b. Berikan perawatan kulit
dengan kriteria hasil : pada area edema
- Kadar sel darah c. Cuci tangan sebelum dan
putih membaik sesudah kontak dengan
- Bengkak pasien dan lingkungan
menurun pasien
- Kemerahan d. Pertahankan teknik aseptik
menurun (T. P. pada pasien beresiko tinggi
S. D. PPNI., Kolaborasi
2018) e. Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu (T. .
PPNI, 2018)

5. Implementasi
Pada langkah ini, perawat memberikan asuhan keperawatan yang pelaksanaannya
berdasarkan rencana keperawatan yang telah disesuaikan pada langkah
sebelumnya (intervensi). Implementasi merupakan tahap keempat dari proses
keperawatan yang dimulai setelah perawat menyusun rencana keperawatan.
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu pasien dari masalah status kesehatan yang dihadapi pada
status kesshatan yang baik yang menggambarkan criteria hasil yang diharapkan
Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan pasion,
Faktor-faktor lain yang mampengaruhi kobutuhan keperawatan, strategi
implementasi keperawatan, dan kegiatan komunikasi
6. Evaluasi
Evaluasi dimaksudkan yaitu untuk pencapaian tujuan dalam asuhan keperawatan
yang telah dilakukan pasien. Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses
keperawatan dan berasal dari hasil yang ditetapkan dalam
rencana [Link] merupakan langkah akhir dari proses keperawatan.
Evaluasi adalah kegiatan yang disengaja dan terus menarus dengan melibatkan
pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Menurut Setiadi (2012) dalam
buku Konsep & penulisan Asuhan Keperawatan, Tahap evaluasi adalah
perbandingan yang sistematis dan terencana tantang kesehatan pasien dengan
tujuan yang telah ditetapkan dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan
melibatkan pasien, keluarga, dan tanaga kesehatan lainnya Tujuan avaluasi adalah
untuk melihat kemampuan pasian dalam mencapai tujuan yang disesuaikan
dengan criteria hasil pada tahap perencanaan. Menurut (Asmadi, 2014) Terdapat 2
jenis evaluasi
A) Evaluasi Formatif (Proses)
Evaluasi formatif berfokus pada aktifitas proses keperawatan dan hasil
tindakan keperawatan. Evaluasi ini dilakukan segera setelah perawat
mengimplementasikan. rencana keperawatan guna menilai ke efektifan
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi ini meliputi 4
komponen yang dikanal dengan istilah SOPA, yakni subjektif (data keluhan
pasien), objektif (data hasil pemeriksaan), analisis data (perbandingan data
dengan teori), dan perencanaan.
B) Evaluasi sumatif (hasil)
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah semua aktifitas proses
keperawatan selesai dilakukan. Evaluasi sumatif ini bertujuan menilai dan
memonitor kualitas asuhan keperawatan yang telah diberikan. Metode yang
dapat digunakan pada evaluasi jenis ini adalah melakukan wawancara pada
akhir pelayanan, menanyakan respon pasien dan keluarga terkait pelayanan
keperawatan, mengadakan pertemuan pada akhir layanan Ada tiga
kemungkinan hasil evaluasi dalam pencapaian tujuan keperawatan, yaitu:
1. Tujuan tercapai/masalah teratasi
2. Tujuan tercapai sebagian/masalah teratasi sebagian
3. Tujuan tidak tercapai/masalah belum teratasi
DAFTAR PUSTAKA

Asrining, S. (2013). Perawatan Bayi Berisiko Tinggi.

Haryani, Hardiani, S., & Thoyibah, Z. (2021). (2021). Asuhan Keperawatan Pada Bayi
Dengan Risiko Tinggi. CV. Trans Info Media.

Marfuah, M., & Barlianto, W., & Susmarini, D. (2013). Faktor Risiko Kegawatan Nafas
Pada Neonatus Di Rsd. Dr. Haryoto Kabupaten Lumajang Tahun 2013. Jurnal
Ilmu Keperawatan, 1(2), p.1.

PPNI., T. P. S. D. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Edisi 3. DPP


PPNI.

PPNI., T. P. S. D. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st ed.). DPP PPNI.

PPNI, T. . (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Dewan Pengurus Pusat.

Suminto, S. (2017). Peranan Surfaktan Eksogen pada Tatalaksana Respiratory Distress


Syndrome Bayi Prematur. Cermin Dunia Kedokteran, 44(8), 568– 571.

Suryadi, & Yuliani. (2016). Efektifitas High Flow Nasal Cannula Pada Penderita
Respiratory Disstress Syndrome Neonatus Kurang Bulan RSD DR Jember.

Anda mungkin juga menyukai