1
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air Susu Ibu (ASI) adalah nutrisi yang paling tepat untuk diberikan
kepada anak usia 0 - 24 bulan. Pemberian ASI lebih difokuskan pada 6
bulan pertama usia anak yang disebut juga ASI Eksklusif. Menurut World
Health Organization (WHO), ASI Eksklusif adalah bayi diberikan hanya
ASI tanpa memberikan makanan atau minuman lain kecuali obat dan
vitamin, hingga usia enam bulan (Alfaridh et al., 2021).
WHO dan UNICEF merekomendasi bahwa bayi sebaiknya diberikan
ASI dalam satu jam setelah lahir dan berlanjut ASI eksklusif selama enam
bulan pertama kehidupannya untuk mencapai pertumbuhan optimal
(WHO, 2018).
Pemberian ASI eksklusif merupakan hal yang penting untuk bayi. Hal
ini sudah diatur melalui Kemenkes RI No. 450/Menkes/SK/IV/2004
dengan menetapkan target pemberian ASI eksklusif 6 bulan sebesar 80%.
Pemberian ASI secara Eksklusif di usia 0 - 6 bulan dipandang sangat
strategis, karena pada usia tersebut kondisi bayi masih sangat labil dan
mudah terkena penyakit (Prihatini, dkk, 2023).
Pemberian ASI eksklusif sangat penting bagi kelangsungan hidup
bayi. Manfaat ASI Eksklusif untuk bayi antara lain gizi lengkap,
meningkatkan kekuatan tubuh, meningkatkan kestabilan kecerdasan
2
mental dan emosional serta matangnya spiritualitas yang diikuti dengan
perkembangan sosial yang baik, mudah dicerna dan diserap, memiliki 2
komposisi lemak, karbohidrat, kalori, protein dan vitamin. , perlindungan.
penyakit menular, perlindungan alergi karena ASI mengandung antibodi,
merangsang kecerdasan dan saraf, meningkatkan kesehatan dan
kecerdasan secara optimal.
Proses pematangan daya tahan tubuh sangat penting karena daya tahan
tubuh bayi baru lahir belum sempurna. Jika ASI tidak diberikan secara
eksklusif, proses pematangan sistem kekebalan tubuh akan terganggu dan
membuat bayi rentan terkena infeksi. Pengobatan infeksi yang tertunda
dapat mengakibatkan kematian. Selain itu, kegagalan memberikan ASI
eksklusif juga dapat mengganggu proses pematangan organ dan hormon
(Louis, 2022).
Bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif memiliki risiko kematian
akibat diare atau pneumonia yang jauh lebih besar dibandingkan bayi yang
mendapat ASI. Selain itu, menyusui mendukung sistem kekebalan bayi
dan dapat melindungi mereka di kemudian hari dari kondisi kronis seperti
obesitas dan diabetes. Terlepas dari semua manfaat yang ada, kurang dari
1 dari 2 (48%) bayi usia 0 – 5 bulan di seluruh dunia mendapatkan ASI
eksklusif (UNICEF, 2023).
Pemberian ASI yang tidak optimal mempengaruhi terjadinya 45%
kematian akibat infeksi neonatal, 30% kematian akibat diare dan 18%
kematian akibat infeksi saluran pernafasan pada balita. Anak yang tidak
3
disusui beresiko 14 kali akan mengalami kematian karena penyakit diare
dan pneumonia, dibandingkan dengan anak yang mendapatkan ASI
eksklusif (Nisa, 2023).
Indonesia masih mengalami penurunan dan peningkatan dalam
prevalensi pemberian ASI Ekslusif. Menurut data yang didapat dari profil
kesehatan Indonesia cakupan ASI Eksklusif pada tahun 2021 yaitu
66,01%, tahun 2022 sebesar 61,5%, dan tahun 2023 sebesar 63,9% .
Namun, persentase tersebut masih sangat jauh di bawah target pemberian
ASI eksklusif negara sebesar 80% yang ditetapkan pada tahun 2019 oleh
WHO dan Kementrian Kesehatan.
Data cakupan bayi mendapatkan ASI eksklusif di Provinsi Lampung
pada tahun 2021 sebesar 74,93%, meningkat menjadi 76,76% pada tahun
2022 dan sedikit menurun menjadi 76,20% pada tahun 2023. Berdasarkan
Profil Kesehatan Kabupaten Tulang Bawang Barat cakupan bayi yang
mendapatkan ASI Eksklusif di Kabupaten Tulang Bawang Barat pada
tahun 2021 sebesar 68,5%, tahun 2022 sebesar 47,5% dan tahun 2023
sebesar 120,2% (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2023).
Cakupan pemberian ASI ekslusif setiap tahunnya masih dipengaruhi
oleh beberapa hal diantaranya, pemasaran susu formula masih gencar
dilakukan untuk bayi 0-6 bulan tanpa indikasi medis, masih banyak tenaga
kesehatan yang kurang peduli pada pemenuhan hak bayi untuk
mendapatkan ASI ekslusif yaitu untuk mendorong memberi susu formula
pada bayi 0-6 bulan dan belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi
4
dan kampanye terkait pemberian ASI ekslusif (Profil Kesehatan
TUBABA, 2023).
Susu formula merupakan produk seperti susu yang berasal dari hewani
atau nabati yang sudah diformulasikan secara industri dan sesuai standar
nasional untuk formula bayi yang berguna sebagai pengganti ASI dalam
memenuhi gizi bayi (UNICEF, 2021).
Menurut UNICEF (2022), perusahaan susu formula semakin gencar
dalam mempromosikan produk mereka serta menyatakan bahwa lebih dari
setengah orang tua dan ibu hamil telah menjadi target pemasaran oleh
perusahaan susu formula yang mana akan berdampak pada pemberian ASI
eksklusif pada bayi.
Pemberian susu formula tidak direkomendasikan pada bayi 0 – 6
bulan karena ASI sendiri dapat menyesuaikan kandungan gizi yang
dibutuhkan oleh bayi. Menurut UNICEF, pemberian susu formula dapat
berbahaya bagi bayi karena kesterilannya tidak terjamin sehingga perlu
kehati-hatian saat mempersiapkan susu formula tersebut. Selain itu,
pemberian susu formula pada bayi dapat menyebabkan bayi lebih berisiko
terkena diare, alergi, obesitas, dan infeksi saluran pernapasan, hingga
kematian yang disebabkan oleh diare atau ISPA yang tidak ditangani
dengan baik (UNICEF, 2022).
Tenaga kesehatan memegang peranan yang penting dalam mendukung
keberhasilan pemberian ASI eksklusif, melalui berbagai upaya edukasi,
konseling, serta dukungan praktis yang diberikan kepada ibu. Sebagai
5
sumber informasi, tenaga kesehatan memiliki peran dalam menyampaikan
pengetahuan yang komprehensif mengenai manfaat ASI eksklusif serta
teknik-teknik yang tepat dalam praktik menyusui (Mohamed et al., 2020).
Pengaruh tenaga kesehatan tidak hanya terbatas pada pemberian
informasi semata, melainkan juga mencakup pemberian dukungan
emosional dan motivasional yang dapat memperkuat rasa percaya diri ibu
dalam melaksanakan menyusui (Yuliani et al., 2022).
Hal ini sejalan dengan penelitian tentang hubungan promosi susu
formula, peran tenaga kesehatan, peran suami, ketersediaan fasilitas dan
sikap terhadap pemberian asi eksklusif yang dilakukan Yulianti dan Abdul
Aziz, 2023 dalam Open Access Jakarta Journal Health Sciences
mengatakan bahwa terdapat pengaruh langsung serta besaran antara
promosi susu formula terhadap peran suami pada pemberian ASI eksklusif
sebesar 33.55% dan terdapat pengaruh langsung serta besaran antara
promosi susu formula terhadap peran tenaga kesehatan pada pemberian
ASI eksklusif sebesar 48,84%.
Berdasarkan hasil presurvey yang dilakukan pada bulan Mei 2025 di
wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa,
ditemukan bahwa dari 10 ibu menyusui yang memiliki bayi usia 7 - 12
bulan, sebanyak 6 ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif. Dari 6 ibu
yang memberikan susu formula, 5 mengaku terpengaruh oleh promosi
melalui media (televisi, media sosial, dan brosur), dan 4 ibu lainnya
mengaku kurang mendapatkan edukasi atau penyuluhan tentang ASI
6
eksklusif dari tenaga kesehatan. Selain itu, ditemukan pula faktor lain yang
turut memengaruhi yaitu 3 ibu mengatakan air susu ibu tidak lancar karena
bayi sejak lahir telah diberikan susu formula, 3 ibu tidak didukung oleh
suami/orang tua, 4 ibu yang benar-benar memahami manfaat ASI
eksklusif, sementara lainnya masih ragu atau belum pernah mendapat
penyuluhan.
Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif di UPTD Puskesmas
Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa menjadi perhatian peneliti.
Mengingat besarnya manfaat pemberian ASI eksklusif dan juga kerugian
yang ditimbulkan dari kegagalannya, maka perlu dilakukan penelitian
tentang Hubungan Promosi Susu Formula dan Peran Tenaga Kesehatan
Dengan Pemberian Asi Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat
Inap Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat.
B. Rumusan Masalah
Apakah terdapat hubungan susu formula dan peran tenaga kesehatan
dengan pemberian ASI ekslusif di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan promosi susu formula dan peran
tenaga kesehatan dengan pemberian ASI ekslusif di wilayah kerja
7
Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten
Tulang Bawang Barat.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pemberian ASI ekslusif di
wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa
Kabupaten Tulang Bawang Barat.
b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi promosi susu formula di
wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa
Kabupaten Tulang Bawang Barat.
c. Untuk mengetahui distribusi frekuensi peran tenaga kesehatan di
wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa
Kabupaten Tulang Bawang Barat.
d. Untuk mengetahui hubungan promosi susu formula dengan
pemberian ASI ekslusif di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat.
e. Untuk mengetahui hubungan peran tenaga kesehatan dengan
pemberian ASI ekslusif di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah
dalam bidang kesehatan terkait hubungan promosi susu formula dan
peran tenaga kesehatan dengan pemberian ASI esklusif.
8
2. Manfaat Aplikatif
a. Manfaat Bagi Responden
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi
tentang manfaat ASI eksklusif sebagai makanan terbaik bagi bayi
usia 0-6 bulan.
b. Manfaat Bagi Tempat Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi
dan motivasi dalam mempromosikan ASI eksklusif kepada
masyarakat.
c. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan
evaluasi dan masukan untuk bahan bacaan kepustakaan dan sebagai
pembanding peneliti selanjutnya.
d. Manfaat Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran
untuk melakukan penelitian selanjutnya.
E. Ruang Lingkup
Penelitian ini dilaksanakan di wilaya kerja Puskesmas Rawat Inap
mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat pada bulan
Juli Tahun 2025. Jenis penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
ibu yang memiliki bayi usia 7 – 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas
Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat
9
pada bulan Juli tahun 2025 berjumlah 54 orang. Pengambilan sampel
menggunakan total sampling yaitu berjumlah 54 orang.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan
kuesioner. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari
variabel independen yaitu promosi susu formula dan peran tenaga
kesehatan, sedangkan variabel dependen nya yaitu pemberian ASI esklusif.
Analisa data yang digunakan yaitu analisa univariat dan analisa bivariat
menggunakan chi-square.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
1. Pemberian ASI Ekslusif
a. Definisi ASI
ASI (Air Susu Ibu) adalah air susu yang dihasilkan oleh ibu dan
mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk
perkembangan dan pertumbuhan bayi. Selain itu, ASI (Air Susu Ibu)
termasuk cairan kehidupan terbaik yang mengandung berbagai zat dan
sangat dibutuhkan oleh bayi. ASI juga dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh bagi bayi sehingga bisa menjadi pelindung (imun)
dari semua jenis infeksi (Bidan dan Dosen Kebidanan Indonesia,
2018).
ASI merupakan makanan pertama, utama dan terbaik untuk bayi.
ASI mengandung nutri lengkap yang dibutuhkan dalam proses
tumbuh kembang bayi serta antibodi yang bisa membantu bayi
membangun sistem kekebalan tubuh dalam masa pertumbuhannya.
ASI juga mencegah penyakit noninfeksi, seperti alergi, obesitas,
kurang gizi, asme dam eksim. ASI dapat meningkatkan IQ dan EQ
anak. Selain itu pemberian ASI dapat menciptakan ikatan psikologis
dan kasih sayang yang kuat antara ibu dan bayi ( Dewi Andaria
Ningsih & Istidamatul Ludvia, 2021).
11
b. Komposisi Nutrisi Dalam ASI
Komposisi ASI ternyata tidak tetap dan sama dari waktu ke
waktu. Hal ini dipengaruhi banyak faktor seperti stadium laktasi, ras,
keadaan nutrisi ibu dan lainnya. ASI terdiri dari kombinasi yang
kompleks dari berbagai komponen yang meliputi:
1) Kalori
Kalori sebagai sumber tenaga bagi bayi. ASI mengandung
kurang lebih 0,65 kkal/ml energi. Energi tersebut variasi antara
protein dan karbohidrat. Komposisi kalori dalam ASI lebih sedikit
bila dibandingkan dengan susu formula, namun ini sudah
mencukupi kebutuhan bayi.
2) Protein
ASI mengandung total protein yang lebih rendah
dibandingkan dengan susu sapi, tetapi mengandung lebih banyak
soluble whey protein. Komposisi inilah yang menyebabkan ASI
lebih mudah diserap dan dicerna. Kualitas dan kuantitas protein
sama-sama penting, karena protein juga menyediakan sumber
energi.
ASI mengandung protein seperti laktoferin, yang memiliki
sifat antibakteri, serta kasein dan whey protein, yang mudah
dicerna oleh bayi. Protein ini penting untuk pertumbuhan dan
perkembangan jaringan pada bayi.
12
3) Lemak
Lemak merupakan sumber energi yang penting dan juga
membantu dalam pengembangan otak. ASI mengandung lemak
yang kaya akan asam lemak rantai panjang seperti DHA
(docosahexaenoic acid), yang penting untuk pengembangan saraf
dan otak.
4) Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI, yang tidak
hanya memberikan energi tetapi juga membantu dalam
pencegahan mikroorganisme patogen dan mendukung
pertumbuhan bakteri baik di usus bayi (probiotik).
5) Vitamin dan Mineral
ASI menyediakan semua vitamin dan mineral yang
dibutuhkan bayi dalam beberapa bulan pertama kehidupan,
termasuk vitamin A, C, D, dan B kompleks, serta mineral seperti
kalsium dan besi.
Kalsium yang terkandung dalam ASI lebih mudah diserap
oleh bayi. Di dalam ASI terdapat 250–300 mg/L dan tidak ada
perubahan selama proses laktasi berlangsung. ASI mengandung
besi, natrium, kalium, fosfor dan khlor yang lebih sedikit dari
susu formula, tetapi dengan jumlah tersebut sudah dapat
mencukupi kebutuhan bayi.
13
6) Zat Antibodi
ASI kaya akan sel-sel kekebalan tubuh dan antibodi, seperti
IgA sekretori, yang melindungi bayi dari infeksi dengan cara
melapisi saluran pencernaan bayi, sehingga mencegah
mikroorganisme berbahaya menempel dan menyebabkan
penyakit.
7) Enzim dan Hormon
ASI juga mengandung enzim seperti lipase dan amilase
yang membantu pencernaan lemak dan karbohidrat. Hormon
seperti oksitosin dan prolaktin dalam ASI mempengaruhi perilaku
makan dan ikatan antara ibu dan bayi.
8) Laktosa
Merupakan komponen utama karbohidrat dalam ASI. Bila
dibandingkan dengan susu sapi, kandungannya cenderung lebih
banyak. Laktosa merupakan sumber energi yang mudah dicerna,
selain itu beberapa dari laktosa diubah menjadi asam laktat yang
mencegah timbulnya bakteri yang tidak diinginkan dan mungkin
membantu penyerapan kalsium dan mineral-mineral lainnya
(Mutmainnah, 2024).
c. Manfaat ASI
1) Bagi Bayi
Adapun beberapa manfaat ASI bagi bayi diantaranya yaitu
(Katmawati dkk, 2021) :
14
a) Aspek kesehatan
Salah satu dari sekian manfaat ASI yang cukup signifikan
dan terbilang sangat terlihat tidak lain dari segi kesehatan. Hal
ini karena ASI mengandung unsur-unsur bergizi nutrien dan zat
protektif yang tentunya dapat memberikan manfaat dalam
memenuhi kebutuhan bayi sehingga terhindar dari malnutrisi.
Selain merupakan cairan yang mampu diserap dan digunakan
oleh tubuh dengan cepat, ASI juga memiliki kandungan
antibodi yang mampu memberikan imunitas khusus bagi bayi
sehingga mengurangi terjadinya kanker limfomaligna. Tentu
hal ini pun membuat bayi yang mendapat ASI akan jauh lebih
sehat dibandingkan yang tidak diberikan ASI.
b) Aspek kecerdasan
Selain dari segi kesehatan, juga terdapat salah satu aspek
yang penting diketahui terkait manfaat ASI khususnya bagi bayi
yakni kecerdasan. Selain laktosa, DHA yang terdapat pada ASI
mampu memberikan proses mielinisasi otak, yakni proses
pematangan otak agar berfungsi optimal. Kegagalan pada
pertumbuhan otak yang tidak optimal kemudian akan
mempengaruhi proses perkembangan, sehingga menyebabkan
gangguan kemampuan kognitif, motorik, personal sosial dan
bahasa anak. Penelitian juga membuktikan bahwa anak yang
15
mendapat ASI Eksklusif mempunyai IQ lebih tinggi
dibandingkan dengan anak ASI non-eksklusif.
c) Aspek emosi
Selain aspek kesehatan dan kecerdasan, salah satu aspek
yang sering terlewat dari manfaat pemberian ASI pada bayi
yakni emosi. Seperti yang kita ketahui, pemberian ASI menjadi
salah satu perantara dari wujud kasih sayang oleh ibu kepada
bayinya, dimana saat ibu mendekap bayi maka didapatkan
rangsangan emosional. Beberapa manfaat ASI lainnya bagi bayi
yaitu sebagai perlindungan terhadap infeksi gastrointestinal,
menurunkan risiko kematian bayi akibat diare dan infeksi,
sumber energi dan nutrisi bagi anak usia 6 sampai 23 bulan,
serta mengurangi angka kematian di kalangan anak-anak yang
kekurangan gizi.
2) Bagi Ibu
Adapun beberapa manfaat ASI bagi ibu diantaranya yaitu
(Nardina dkk, 2021):
a) Aspek kesehatan ibu
Ditinjau dari aspek kesehatan pada ibu bahwa isapan bayi
akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofisis.
Oksitosin ini akan membantu involusi uterus dan mencegah
terjadi perdarahan post partum. Penundaan haid dan
berkurangnya perdarahan post partum mengurangi prevalensi
16
anemia akibat kekurangan zat besi. Selain itu, dapat
mengurangi angka kejadian karsinoma mammae pada ibu.
b) Aspek keluarga berencana
Pemberian ASI secara tidak langsung merupakan KB
alami sehingga dapat menjarangkan jarak kehamilan. Hal ini
dikarenakan hormon yang mempertahankan laktasi bekerja
menekan hormone ovulasi hingga dapat menunda kembalinya
kesuburan seorang ibu. Menurut penelitian, rerata jarak
kehamilan pada ibu yang menyusui adalah 24 bulan, sedangkan
ibu yang tidak menyusui adalah 11 bulan.
c) Aspek psikologis
Beberapa keuntungan menyusui adalah ibu akan merasa
bangga dan diperlukan oleh bayinya karena dapat menyusui
anak kesayangan dan yang diharapkan. Rasa bangga dan
dibutuhkan oleh sesama manusia ini yang memberikan
kekuatan dan motivasi pada ibu yang menyusui.
3) Manfaat Bagi Keluarga
Adapun beberapa manfaat ASI bagi keluarga diantaranya
yaitu (Nardina dkk, 2021):
a) Aspek ekonomi
Selain Air Susu Ibu (ASI) tidak perlu dibeli, pemberian
ASI terus menerus pada bayi menyebabkan anak mempunyai
kekebalan yang baik sehingga anak menjadi jarang sakit. Hal ini
17
tentunya dapat mengurangi pengeluaran sehingga dana bisa
dihemat atau dialokasikan untuk keperluan rumah tangga yang
lain.
b) Aspek psikologis
Pemberian ASI berdampak pada kesuburan ibu sehingga
jarak kehamilan dapat diatur sesuai yang diinginkan sehingga
suasana kejiwaan ibu baik dan kebahagiaan keluarga
bertambah. Hal ini tentunya bisa mendekatkan hubungan antara
bayi dengan keluarga.
c) Aspek kemudahan
Pemberian ASI dengan cara menyusui bayi bisa dilakukan
di mana saja, kapan saja serta tidak merepotkan karena tidak
perlu meminta pertolongan orang lain.
4) Manfaat Bagi Negara
Adapun beberapa manfaat ASI bagi negara di antaranya yaitu
(Nardina dkk, 2021):
a) Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak
Salah satu fungsi ASI diantaranya memberikan protektif
dan nutrien yang sesuai pada bayi dan menjamin status gizi bayi
baik sehingga akan terjadi penurunan angka kesakitan dan
kematian pada bayi. Beberapa penelitian epidemiologis
menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit
18
infeksi, seperti diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan
bagian bawah.
b) Mengurangi subsidi untuk rumah sakit
Dengan adanya program ASI eksklusif secara tidak
langsung menyebabkan biaya subsidi ke rumah sakit berkurang
atau menurun. Hal ini karena dapat memungkinkan dilakukan
rawat gabung ibu-anak sehingga akan memperpendek lama
rawat inap ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan
infeksi nosokomial serta mengurangi biaya perawatan anak
sakit.
c) Mengurangi devisa untuk membeli susu formula
ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua
ibu menyusui bayinya, diperkirakan akan mengurangi devisa
negara untuk membeli susu formula.
d) Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa
Pemberian ASI akan meningkatkan kualitas generasi
penerus bangsa kita. Hal ini dimungkinkan karena anak yang
mendapat ASI dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,
sehingga kualitas generasi penerus bangsa dapat terjamin.
d. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Ekslusif
Faktor yang mempengaruhi perilaku pelaksanaan pemberian
ASI ekslusif dibedakan menjadi tiga, yaitu : Faktor Pemudah
(Predisposing Factors), Faktor Pendukung (Enabling Factors),
19
Faktor Pendorong (Reinforcing Factors) (Wulandari S & Nurlaela
E, 2021)
1) Faktor Pemudah (Predisposing Factors)
a) Pendidikan
Pendidikan akan membuat seseorang terdorong untuk ingin
tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang didapatkan
akan menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki akan
membentuk keyakinan untuk perilaku. Ibu dengan pendidikan
tinggi akan lebih mudah menerima suatu ide baru dibandingkan
dengan ibu yang berpendidikan rendah, sehingga informasi dan
promosi tentang ASI akan lebih mudah diterima dan
dilaksanakan.
b) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil stimulasi informasi. Informasi
bisa berasal dari pendidikan formal maupun informal,
percakapan, membaca, mendengar, menonton dan pengalaman
hidup. Contoh pengalaman hidup yaitu pengalaman menyusui
anak.
c) Nilai-Nilai Adat atau Budaya
Adat budaya akan mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI
secara ekslusif karena sudah menjadi budaya yang masih
dilakukan di masyarakat. Contohnya adalah adat untuk melatih
pencernaan bayi, padahal hal tersebut tidak benar namun tetap
20
dilakukan oleh masyarakat karena sudah menjadi adat budaya
keluarga.)
2) Faktor Pendukung (Enabling Factors)
a) Pendapatan Keluarga
Pendapatan keluarga adalah penghasilan yang diperolah
suami dan istri dari berbagi kegiatan ekonomi sehari-hari,
misalnya gaji. Pendapatan tinggi memungkinkan keluarga cukup
pangan sehingga yang dikonsumsi ibu memiliki kandungan gizi
yang baik. Konsumsi makanan dengan kandungan gizi yang baik
akan menghasilkan ASI yang berkualitas baik.
b) Ketersediaan Waktu
Ketersediaan waktu ibu untuk menyusui bayinya secara
ekslusif berkaitan erat dengan status pekerjaannya. Banyak ibu
yang berhenti menyusui dengan alasan ibu kembali bekerja
setelah selesai cuti melahirkan. Padahal ibu yang bekerja, ASI
dapat diperah setiap 3-4 jam sekali untuk disimpan dalam lemari
pendingin.
c) Kesehatan Ibu
Kondisi kesehatan ibu sangat mempengaruhi proses
pemberian ASI Ekslusif pada bayi. Ibu yang mempunyai
penyakit menular (HIV,TBC, Hepatitis B) dan penyakit pada
payudara (kanker payudara, kelainan putting susu) tidak boleh
ataupun tidak bisa menyusui bayinya.
21
3) Faktor Pendorong (Reinforcing Factors)
a) Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga yaitu suami, orang tua serta saudara lain
sangat mempengaruhi keberhasilan menyusui, karena dukungan
keluarga berdampak pada kondisi emosi ibu sehingga akan
mempengaruhi produksi ASI. Ibu yang kurang mendapatkan
dukungan menyusui dari keluarga akan menurunkan pemberian
ASI. Peran orang tua adalah faktor yang paling dominan terhadap
pemberian ASI Ekslusif.
b) Dukungan Tenaga Kesehatan
Dukungan Petugas Kesehatan yang professional akan
menjadi faktor pendukung ibu dalam memberikan ASI.
Dukungan tenaga kesehatan kaitannya dengan nasehat kepada
ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya akan menentukan
berkelanjutan pemberian ASI.
2. Promosi Susu Formula
a. Promosi
Promosi adalah suatu komunikasi dari penjual dan pembeli yang
berasal dari informasi yang tepat yang bertujuan untuk merubah sikap
dan tingkah laku pembeli, yang tadinya tidak mengenal menjadi
mengenal sehingga menjadi pembeli dan tetap mengingat produk
tersebut (Hendri dkk, 2017).
22
Menurut Hendrik Dan Hendri (2017) tujuan utama promosi adalah
sebagai berikut :
a. Menginformasikan.
Menginformasikan pasar mengenai keberadaan suatu produk,
memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu produk baru,
menyampaikan perubahan harga kepada pasar dan menjelaskan
cara kerja suatu produk. Menginformasikan jasa – jasa yang
disediakan oleh perusahaan. Meluruskan kesan yang salah,
mengurangi kekhawatiran dan ketakutan pembeli serta membangun
citra perusahaan.
b. Membujuk pelanggan sasaran
Membujuk pelanggan melalu ipembentukan pilihan merk.
Mengalihkan pilihan merk tertentu. Mengubah persepsi pelanggan
terhadap atribut produk dan mendorong pembeli untuk berbelanja.
c. Mengingatkan pelanggan
Mengingatkan pelanggan bahwa produk yang bersangkutan
dibutuhkan dalam waktu dekat. Mengingatkan pelanggan akan
tempat – tempat yang menjual produk perusahaan, membuat
pelanggan tetap ingat walaupun tidak ada kampanye iklan, menjaga
agar ingatan pertama pelanggan jatuh pada produk perusahaan.
b. Susu Formula
Susu formula adalah susu yang dibuat oleh industri yang biasanya
di buat oleh susu sapi atau produk kedelai yang telah dimodifikasi.
23
Banyak fakor yang menyebabkan ibu memberikan susu formula
kepada bayinya. Alasan yang sering muncul adalah masalahh medis,
komplikasi selama kehamilan dan persalinan, rujukan keluarga, faktor
ibu bekerja, dan persepsi ibu tentang kurangnya produksi ASI
(Nurbaya, 2021).
Ada banyak piilihan susu formula yang beredar di pasaran, ada
yang terbuat dari susu sapi, susu kambing, susu kedelai dan lain- lain.
Meskipun industri susu telah berusaha membuat susu formula bayi
yang identik dengan ASI, namun kandungan sus formula tidak akan
bisa manyamai kandungan gizi pada ASI ( Nurbaya, 2021).
c. Promosi Susu Formula
Susu formula merupakan salah satu faktor yang dituding sebagai
penyebab rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif. Susu formula
adalah bisnis yang sangat menguntungkan saat ini. Produsen susu
formula mengincar Indonesia dan Cina karena jumlah penduduknya
yang besar. Produsen susu formula mempunyai berbagai cara untuk
mendapatkan konsumen (Toto Sudargo & Nur Aini Kusmayanti,
2023).
Saat ini, tempat bersalin, rumah sakit, dan Puskesmas sudah
menjadi sasaran distribusi dan promosi susu formula. Sering dijumpai,
produsen susu formula melibatkan petugas kesehatan dan tempat
pelayanan kesehatan dalam mendistribusikan dan mempromosikan
produk mereka (Toto Sudargo & Nur Aini Kusmayanti, 2023).
24
3. Peran Tenaga Kesehatan
a. Pengertian Peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang
sesuai dengan posisi atau kedudukannya dalam sistem sosial
(Budiman & Riyanto, 2016).
b. Pengertian Tenaga Kesehatan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2012
mengatakan bahwa “Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang
mengabdikan diri dalam bidang kesehatan, serta memiliki
pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan
yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan
upaya kesehatan.
c. Pengertian Peran Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat penting dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, baik secara individu
maupun kelompok, melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif. Peran tersebut meliputi sebagai edukator, komunikator,
fasilitator, dan motivator dalam upaya mengubah perilaku masyarakat
ke arah hidup sehat (Mubarak & Chayatin, 2016).
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 terdapat
beberapa peran tenaga kesehatan, antara lain :
25
1) Dalam Pasal 1 ayat 1 mengenai inisiasi menyusui dini menyebutkan
bahwa tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan
kesehatan wajib melakukan inisiasi menyusui dini terhadap bayi
yang baru lahir kepada ibunya paling singkat selama satu jam;
2) Dalam Pasal 13 mengenai informasi dan edukasi menyebutkan
bahwa untuk mencapai pemanfaatan pemberian ASI Ekslusif secara
optimal, petugas kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan
kesehatan wajib memberikan informasi dan edukasi ASI Ekslusif
kepada ibu atau anggota keluarga dari bayi yang bersangkutan sejak
pemeriksaan kehamilan sampai dengan periode pemberian ASI
Ekslusif selesai. Informasi dan edukasi ASI Ekslusif sebagaimana
yang di maksud adalah sebagai berikut :
a) Keuntungan dan keunggulan pemberian ASI;
b) Gizi Ibu;
c) Persiapan dan mempertahankan menyusui;
d) Akibat negatif dari pemberian makanan botol secara parsial
terhadap pemberian ASI;
e) Kesulitan untuk mengubah keputusan untuk tidak memberikan
ASI.
3) Dalam pasal 16 mengenai penggunaan susu formula bayi dan
produk bayi lainnya menyebutkan bahwa tenaga kesehatan harus
26
memberikan peragaan dan penjelasan atas penggunaan dan
penyajian susu formula bayi kepada ibu dan keluarga yang
memerlukan susu formula bayi, yaitu dalam kondisi :
a) Indikasi Medis;
b) Ibu tidak ada;
c) Ibu berpisah dari bayi.
4) Dalam pasal 17 mengenai penggunaan susu formula bayi dan
produk bayi lainnya menyebutkan bahwa setiap tenaga kesehatan
tidak diperbolehkan memberikan, menerima bantuan serta
mempromosikan susu formula bayi atau produk bayi lainnya yang
dapat menghambat program pemberian ASI Ekslusif kecuali pada
keadaan tertentu. Sehingga, dapat di sebutkan bahwa salah satu
peran tenaga kesehatan dalam pemberian ASI Ekslusif adalah
melindungi hak ibu menyusui untuk dapat melaksanakan program
ASI Ekslusif.
d. Cara Ukur Peran Tenaga Kesehatan
Pengukuran peran tenaga kesehatan dilakukan menggunakan
kuesioner tertutup yang disusun berdasarkan konsep peran tenaga
kesehatan sebagai edukator, komunikator, dan fasilitator dalam
mendukung pemberian ASI eksklusif. Instrumen ini menggunakan
27
skala Guttman, yaitu skala pengukuran dengan pilihan jawaban
dikotomis berupa “Ya” dan “Tidak”.
Menurut Sugiyono (2017), skala Guttman merupakan skala yang
memberikan jawaban pasti (tegas) untuk setiap item, di mana pilihan
jawabannya yaitu Setuju atau Tidak Setuju, ya atau tidak, pernah atau
tidak pernah. Jika pertanyaan diajukan dalam bentuk positif jawaban ya
diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0. Sebaliknya, jika pertanyaan negatif
jawaban ya diberi skor 0 dan tidak diberi skor 1.
Untuk menentukan tingkat peran tenaga kesehatan, skor total
dikonversi ke dalam bentuk persentase, kemudian dikategorikan
berdasarkan kriteria sebagai berikut:
Peran kurang : jika nilai < 50% (skor 1)
Peran lengkap : jika nilai ≥ 50% (skor 0).
B. Penelitian Terkait
1. Nur Aulia, Fairus Prihatin Idris, Harpiana Rahman (2023) judul
penelitian Hubungan Promosi Susu Formula dengan Kegagalan
Pemberian ASI Ekslusif di UPTD Puskesmas Bojo Baru. Metode
penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.
Semua populasi dijadikan sampel yaitu sebanyak 93 orang ibu
yang memiliki bayi usia 6-12 bulan. Variabel independen yang di teliti
yaitu promosi susu formula, sedangkan variabel dependennya yaitu
28
kegagalan pemberian ASI esklusif. Instrument yang digunakan adalah
kuesioner. Pengolahan data menggunakan analisis univariat dan
bivariate dengan uji chisquare.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan
promosi susu formula dengan kegagalan pemberian ASI eksklusif pada
bayi usia 0-6 bulan di UPTD Puskesmas Bojo Baru Kabupaten Barru
Tahun 2022 dengan nilai ρ value = 0.000. P Hasil penelitian
menunjukan bahwa terdapat hubungan promosi susu formula dengan
kegagalan pemberian ASI ekslusif pada bayi 0 - 6 bulan di UPTD
Puskesmas Bojo Baru Kecamatan Baru Tahun 2022 dengan nilai ρ
value = 0.000.
2. Sixtia Kusumawati (2021) judul penelitian Hubungan Sikap dan
Dukungan Tenaga Kesehatan dengan Keberhasilan pemberian ASI
Esklusif di Wilayah Puskesmas Berangas Kabupaten Barito Kuala.
Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan
menggunakan rancangan penelitian studi korelasi dan desain cross
sectional. Penelitian dilakukan di Wilayah Puskesmas Berangas
kabupaten Barito Kuala pada bulan Maret - April Tahun 2021. Variabel
independen yang di teliti yaitu sikap dan dukungan tenaga kesehatan,
sedangkan variabel dependennya yaitu keberhasilan ASI esklusif.
Populasi penelitian ini ialah seluruh ibu yang memiliki bayi usia
6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Berangas Kabupaten Barito
29
Kuala sebanyak 70 orang, sampel sebanyak 70 orang menggunakan
total sampling. Instrumen penelitian ini melakukan observasi kemudian
dianalisis. Hubungan antar variabel ditentukan dengan menggunakan
uji analisis bivariat chi Square
Hasil penelitian menunjukkan 53 orang (67,95%) diantaranya
memiliki sikap positif teradap pemberian ASI esklusif,61 orang
(78,2%) diantaranya mendapatkan dukunngan tenaga kesehatan dan 40
orang (62,82%) berhasil memberikan ASI esklusif. Penelitian ini
meyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara sikap
ibu dengan keberhasilan pemberian ASI esklusif dengan nilai p 0,0004
dan terdapat hubungan bermakna antara dukungan tenaga kesehatan
dengan keberhasilan pemberian ASI esklusif dengan nilai p sebesar
0,0007 .
3. Fitri Fatirotul Fauziah, Rupdi L. Siantar, Marni Br Karo (2023) judul
penelitian Hubungan Promosi Susu Formula dan dukungan suami
terhadap pemberian ASI esklusif pada ibu menyususi. Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross
sectional.
Jumlah responden 75 ibu menyusui yang bertempat tinggal di
Puskesmas Cikedal Kabupaten pandeglang. Variabel independen yang
di teliti yaitu Promosi Susu Formula dan Dukungan suami, sedangkan
variabel dependennya yaitu pemberian ASI esklusif.
30
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 75 responden
Yang ada promosi susu formula sebanyak 71 orang (94,7%) dan yang
tidak ada sebanyak 4 orang (5,3%). Yang suaminya mendukung
sebanyak 66 orang (88%) sedangkan yang suaminya tidak mendukung
sebanyak 9 orang (12%) yang melakukan pemberian ASI eksklusuf
dengan baik sebanyak 59 orang (78,7%) sedangkan yang tidak baik
sebanyak 16 orang (21,3%). Terdapat hubungan dukungan suami
dengan Pemberian ASI Eksklusif. Dengan hasil uji statistik diperoleh p-
value (0,018) < α (0,05), Terdapat hubungan dukungan suami dengan
Pemberian ASI Eksklusif. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh p-
value (0,018) < α (0,05).
31
C. Kerangka Teori Penelitian
Faktor Predisposisi/
Predisposing Factor
1. Umur
2. Paritas
↓
3. Pendidikan
4. Pekerjaan
5. Pengetahuan
6. Sikap
7. Sosial budaya
Faktor Pendukung/ Enabling
Factor
1. Inisiasi menyusui dini Pemberian ASI
2. Promosi susu formula Ekslusif
3. Tempat bersalin
4. Rawat gabung
5. Jenis persalinan
Faktor Pendorong/ Reinforcing
Factor
1. Pelayanan konseling laktasi
2. Dukungan suami
3. Dukungan tenaga kesehatan
4. Dukungan keluarga
Gambar 2.1 : Kerangka Teori Penelitian
Sumber : Telah dimodifikasi dari Wulandari S & Nurlaela E, (2021),
Susiloretni, K. A., et al. (2015), Sihombing, M., et al. (2020), Hamima
Rani et al. (2022), Fikawati & Syafiq (2009), Siti Anisak et al. (2023),
Lawrence W. Green (2022).
32
D. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antar
konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti
(Notoatmodjo, 2018)
Promosi susu formula
Pemberian ASI Ekslusif
Peran Tenaga Kesehatan
SS
Tabel 2.2 Kerangka Konsep
E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap tujuan penelitian yang
diturunkan dari kerangka pemikiran yang telah dibuat (Sujarweni, 2021).
Hipotesis Alternative (Ha) dalam penelitian ini adalah :
1. Ada hubungan antara promosi susu formula dengan pemberian ASI
ekslusif.
2. Ada hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan pemberian ASI
ekslusif.
33
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuantitatif. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian untuk
mendapatkan gambaran yang akurat dari sebuah karakteristik masalah
yang mengklasifikasikan suatu data dan pengambilan data yang
berhubungan dengan angka-angka, baik yang diperoleh dari hasil
pengukuran maupun nilai suatu data yang diperoleh (Notoatmodjo,
2018).
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas
Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang
Barat pada bulan Juli 2025.
C. Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
waktu cross sectional. Peneliti ingin melihat hubungan promosi susu
formula dan peran tenaga kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif
di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa
Kabupaten Tulang Bawang Barat.
34
D. Subjek Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau
subyek yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu
(Sujarweni, 2021). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu
yang memiliki bayi usia 7 - 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas
Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang
Bawang Barat pada bulan Juli tahun 2025 yang berjumlah 54 orang.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki
oleh populasi yang digunakan untuk penelitian (Sujarweni, 2021).
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total
sampling. Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana
seluruh anggota populasi digunakan sebagai sampel yaitu berjumlah
54 orang. Teknik ini dipilih agar hasil penelitian lebih akurat dan
representatif teradap populasi yang diteliti.
3. Teknik Sampling
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
total sampling. Teknik ini umumnya digunakan ketika jumlah
populasi relatif kecil, sehingga memungkinkan untuk melibatkan
semua anggota populasi dalam penelitian (Notoatmodjo, 2023).
35
E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang dapat diteliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi dan
ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2018). Dalam penelitian ini, variabel
yang digunakan adalah variabel independent dan variabel dependent
Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini adalah promosi
susu formula dan peran tenaga kesehatan. Sedangkan variabel terikat
(dependent) dalam penelitian ini adalah pemberian ASI esklusif.
F. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Opersional
Variabel Defenisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Hasil Ukur
Operasional Ukur
Dependent Pemberian Wawancara Kuesioner Ordinal [Link]
ASI saja pada ASI eksklusif
Pemberian bayi selama 6 [Link]
ASI Eksklusif bulan tanpa memberikan
tambahan ASI eksklusif
makanan/
minuman lain
kecuali obat
obatan
Independent Suatu Wawancara Kuesioner Ordinal 0. Tidak
komunikasi mendapatkan
Promosi Susu dari penjual promosi susu
Formula dan pembeli formula jika <
yang berasal 50%
dari
informasi [Link]
yang tepat promosi susu
bertujuan formula jika ≥
untuk 50%
merubah
sikap dan
36
tingkah laku
pembeli,
yang tadinya
tidak
mengenal
menjadi
mengenal
sehingga
menjadi
pembeli dan
tetap
mengingat
produk susu
formula
tersebut
Independent Peran tenaga Wawancara Kuesioner Ordinal 0. peran kurang
kesehatan jika < 50%
Peran Tenaga
sebagai
Kesehatan [Link] lengkap
edukator, jika ≥ 50%
komunikator
, fasilitator,
dan
motivator
dalam
pemberian
ASI eksklusif
kepada ibu
menyusui.
G. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengukur
fenomena alam atau sosial yang diteliti (Sugiyono, 2020). Instrumen
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner.
Kuesioner yang digunakan di adopsi dari Arfun Nisa Martadillah
(2021) dan dimodifikasi oleh peneliti. Kuesioner telah dilakukan uji
37
validitas dan reliabilitas di Puskesmas Kibang Budi Jaya dan
didapatkan hasil seluruh item kuesioner valid dengan nilai Cronbach’s
Alfa = 0,712.
H. Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam
beberapa tahap yaitu sebagai berikut :
1. Mengajukan permohonan izin penelitian kepada Universitas Aisyah
Pringsewu.
2. Mengajukan permohonan izin kepada Kepala Puskesmas Rawat Inap
Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat.
3. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri dan dibantu oleh
enumerator yang terdiri dari 6 bidan desa.
4. Menentukan responden yang memenuhi kriteria dan menjelaskan
kepada responden tentang tujuan penelitian.
5. Responden yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian diminta
menandatangani informed consent sebagai tanda persetujuan menjadi
responden.
6. Menjelaskan kepada responden cara pengisian kuesioner.
38
7. Peneliti melakukan wawancara kepada responden sambil mengisi
lembar jawaban kuesioner yang telah disediakan dengan teliti dan
cermat.
I. Pengolahan Data
Langkah-langkah pengolahan data meliputi editing, coding,
processing, cleaning, dan tabulating.
1. Editing adalah tahapan kegiatan memeriksa validitas data yang masuk
seperti memeriksa kelengkapan pengisian kuesioner, kejelasan
jawaban, relevansi jawaban, dan keseragaman suatu pengukuran.
2. Coding adalah kegiatan memberikan kode dalam bentuk angka dalam
mengklasifikasikan data dari jawaban menurut kategori masing-
masing responden sehingga memudahkan dalam pengelompokkan
data.
3. Processing adalah tahapan kegiatan memproses data agar dapat
dianalisis. Pemrosesan data dilakukan dengan cara meng-entry
(memasukkan) data hasil pengisian kuesioner ke dalam master tabel
atau database komputer.
4. Cleaning yaitu tahapan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah
dientry dan melakukan koreksi bila terdapat kesalahan.
39
5. Tabulating merupakan tahapan kegiatan pengorganisasian data
sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun, dan
ditata untuk disajikan dan dianalisis.
J. Analisis Data
Analisis data dilakukan secara bertahap yang meliputi analisis
univariat, bivariat dan multivariat.
1. Analisis univariat
Analisis univariat dilakukan terhadap setiap variabel dan hasil
penelitian, data ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
Data yang akan dianalisis pada penelitian ini adalah distribusi
frekuensi pemberian ASI eksklusif, promosi susu formula dan peran
tenaga kesehatan.
2. Analisis bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua
variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel
independen promosi susu formula dan peran tenaga kesehatan
sedangkan variabel dependen adalah pemberian ASI eksklusif.
Jenis uji statistik yang digunakan adalah uji chi square dengan
confident interval (CI) 95% dan α = 0,05. Hasil analisis secara
bermakna apabila nilai p ≤ α = 0,05 dengan ketentuan sebagai
berikut:
40
a. Jika p value ≤ α maka Ho ditolak
b. Jika p value > α maka Ho diterima (Darwel., dkk, 2022)