0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan40 halaman

proposal

Dokumen ini membahas pentingnya pemberian ASI eksklusif untuk bayi usia 0-24 bulan, yang direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF untuk mendukung pertumbuhan optimal dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Meskipun manfaatnya besar, cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih di bawah target 80%, dengan faktor-faktor seperti pemasaran susu formula dan kurangnya edukasi dari tenaga kesehatan berkontribusi pada masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara promosi susu formula dan peran tenaga kesehatan terhadap pemberian ASI eksklusif di wilayah tertentu.

Diunggah oleh

frety carolis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan40 halaman

proposal

Dokumen ini membahas pentingnya pemberian ASI eksklusif untuk bayi usia 0-24 bulan, yang direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF untuk mendukung pertumbuhan optimal dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Meskipun manfaatnya besar, cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih di bawah target 80%, dengan faktor-faktor seperti pemasaran susu formula dan kurangnya edukasi dari tenaga kesehatan berkontribusi pada masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara promosi susu formula dan peran tenaga kesehatan terhadap pemberian ASI eksklusif di wilayah tertentu.

Diunggah oleh

frety carolis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air Susu Ibu (ASI) adalah nutrisi yang paling tepat untuk diberikan

kepada anak usia 0 - 24 bulan. Pemberian ASI lebih difokuskan pada 6

bulan pertama usia anak yang disebut juga ASI Eksklusif. Menurut World

Health Organization (WHO), ASI Eksklusif adalah bayi diberikan hanya

ASI tanpa memberikan makanan atau minuman lain kecuali obat dan

vitamin, hingga usia enam bulan (Alfaridh et al., 2021).

WHO dan UNICEF merekomendasi bahwa bayi sebaiknya diberikan

ASI dalam satu jam setelah lahir dan berlanjut ASI eksklusif selama enam

bulan pertama kehidupannya untuk mencapai pertumbuhan optimal

(WHO, 2018).

Pemberian ASI eksklusif merupakan hal yang penting untuk bayi. Hal

ini sudah diatur melalui Kemenkes RI No. 450/Menkes/SK/IV/2004

dengan menetapkan target pemberian ASI eksklusif 6 bulan sebesar 80%.

Pemberian ASI secara Eksklusif di usia 0 - 6 bulan dipandang sangat

strategis, karena pada usia tersebut kondisi bayi masih sangat labil dan

mudah terkena penyakit (Prihatini, dkk, 2023).

Pemberian ASI eksklusif sangat penting bagi kelangsungan hidup

bayi. Manfaat ASI Eksklusif untuk bayi antara lain gizi lengkap,

meningkatkan kekuatan tubuh, meningkatkan kestabilan kecerdasan


2

mental dan emosional serta matangnya spiritualitas yang diikuti dengan

perkembangan sosial yang baik, mudah dicerna dan diserap, memiliki 2

komposisi lemak, karbohidrat, kalori, protein dan vitamin. , perlindungan.

penyakit menular, perlindungan alergi karena ASI mengandung antibodi,

merangsang kecerdasan dan saraf, meningkatkan kesehatan dan

kecerdasan secara optimal.

Proses pematangan daya tahan tubuh sangat penting karena daya tahan

tubuh bayi baru lahir belum sempurna. Jika ASI tidak diberikan secara

eksklusif, proses pematangan sistem kekebalan tubuh akan terganggu dan

membuat bayi rentan terkena infeksi. Pengobatan infeksi yang tertunda

dapat mengakibatkan kematian. Selain itu, kegagalan memberikan ASI

eksklusif juga dapat mengganggu proses pematangan organ dan hormon

(Louis, 2022).

Bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif memiliki risiko kematian

akibat diare atau pneumonia yang jauh lebih besar dibandingkan bayi yang

mendapat ASI. Selain itu, menyusui mendukung sistem kekebalan bayi

dan dapat melindungi mereka di kemudian hari dari kondisi kronis seperti

obesitas dan diabetes. Terlepas dari semua manfaat yang ada, kurang dari

1 dari 2 (48%) bayi usia 0 – 5 bulan di seluruh dunia mendapatkan ASI

eksklusif (UNICEF, 2023).

Pemberian ASI yang tidak optimal mempengaruhi terjadinya 45%

kematian akibat infeksi neonatal, 30% kematian akibat diare dan 18%

kematian akibat infeksi saluran pernafasan pada balita. Anak yang tidak
3

disusui beresiko 14 kali akan mengalami kematian karena penyakit diare

dan pneumonia, dibandingkan dengan anak yang mendapatkan ASI

eksklusif (Nisa, 2023).

Indonesia masih mengalami penurunan dan peningkatan dalam

prevalensi pemberian ASI Ekslusif. Menurut data yang didapat dari profil

kesehatan Indonesia cakupan ASI Eksklusif pada tahun 2021 yaitu

66,01%, tahun 2022 sebesar 61,5%, dan tahun 2023 sebesar 63,9% .

Namun, persentase tersebut masih sangat jauh di bawah target pemberian

ASI eksklusif negara sebesar 80% yang ditetapkan pada tahun 2019 oleh

WHO dan Kementrian Kesehatan.

Data cakupan bayi mendapatkan ASI eksklusif di Provinsi Lampung

pada tahun 2021 sebesar 74,93%, meningkat menjadi 76,76% pada tahun

2022 dan sedikit menurun menjadi 76,20% pada tahun 2023. Berdasarkan

Profil Kesehatan Kabupaten Tulang Bawang Barat cakupan bayi yang

mendapatkan ASI Eksklusif di Kabupaten Tulang Bawang Barat pada

tahun 2021 sebesar 68,5%, tahun 2022 sebesar 47,5% dan tahun 2023

sebesar 120,2% (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2023).

Cakupan pemberian ASI ekslusif setiap tahunnya masih dipengaruhi

oleh beberapa hal diantaranya, pemasaran susu formula masih gencar

dilakukan untuk bayi 0-6 bulan tanpa indikasi medis, masih banyak tenaga

kesehatan yang kurang peduli pada pemenuhan hak bayi untuk

mendapatkan ASI ekslusif yaitu untuk mendorong memberi susu formula

pada bayi 0-6 bulan dan belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi
4

dan kampanye terkait pemberian ASI ekslusif (Profil Kesehatan

TUBABA, 2023).

Susu formula merupakan produk seperti susu yang berasal dari hewani

atau nabati yang sudah diformulasikan secara industri dan sesuai standar

nasional untuk formula bayi yang berguna sebagai pengganti ASI dalam

memenuhi gizi bayi (UNICEF, 2021).

Menurut UNICEF (2022), perusahaan susu formula semakin gencar

dalam mempromosikan produk mereka serta menyatakan bahwa lebih dari

setengah orang tua dan ibu hamil telah menjadi target pemasaran oleh

perusahaan susu formula yang mana akan berdampak pada pemberian ASI

eksklusif pada bayi.

Pemberian susu formula tidak direkomendasikan pada bayi 0 – 6

bulan karena ASI sendiri dapat menyesuaikan kandungan gizi yang

dibutuhkan oleh bayi. Menurut UNICEF, pemberian susu formula dapat

berbahaya bagi bayi karena kesterilannya tidak terjamin sehingga perlu

kehati-hatian saat mempersiapkan susu formula tersebut. Selain itu,

pemberian susu formula pada bayi dapat menyebabkan bayi lebih berisiko

terkena diare, alergi, obesitas, dan infeksi saluran pernapasan, hingga

kematian yang disebabkan oleh diare atau ISPA yang tidak ditangani

dengan baik (UNICEF, 2022).

Tenaga kesehatan memegang peranan yang penting dalam mendukung

keberhasilan pemberian ASI eksklusif, melalui berbagai upaya edukasi,

konseling, serta dukungan praktis yang diberikan kepada ibu. Sebagai


5

sumber informasi, tenaga kesehatan memiliki peran dalam menyampaikan

pengetahuan yang komprehensif mengenai manfaat ASI eksklusif serta

teknik-teknik yang tepat dalam praktik menyusui (Mohamed et al., 2020).

Pengaruh tenaga kesehatan tidak hanya terbatas pada pemberian

informasi semata, melainkan juga mencakup pemberian dukungan

emosional dan motivasional yang dapat memperkuat rasa percaya diri ibu

dalam melaksanakan menyusui (Yuliani et al., 2022).

Hal ini sejalan dengan penelitian tentang hubungan promosi susu

formula, peran tenaga kesehatan, peran suami, ketersediaan fasilitas dan

sikap terhadap pemberian asi eksklusif yang dilakukan Yulianti dan Abdul

Aziz, 2023 dalam Open Access Jakarta Journal Health Sciences

mengatakan bahwa terdapat pengaruh langsung serta besaran antara

promosi susu formula terhadap peran suami pada pemberian ASI eksklusif

sebesar 33.55% dan terdapat pengaruh langsung serta besaran antara

promosi susu formula terhadap peran tenaga kesehatan pada pemberian

ASI eksklusif sebesar 48,84%.

Berdasarkan hasil presurvey yang dilakukan pada bulan Mei 2025 di

wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa,

ditemukan bahwa dari 10 ibu menyusui yang memiliki bayi usia 7 - 12

bulan, sebanyak 6 ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif. Dari 6 ibu

yang memberikan susu formula, 5 mengaku terpengaruh oleh promosi

melalui media (televisi, media sosial, dan brosur), dan 4 ibu lainnya

mengaku kurang mendapatkan edukasi atau penyuluhan tentang ASI


6

eksklusif dari tenaga kesehatan. Selain itu, ditemukan pula faktor lain yang

turut memengaruhi yaitu 3 ibu mengatakan air susu ibu tidak lancar karena

bayi sejak lahir telah diberikan susu formula, 3 ibu tidak didukung oleh

suami/orang tua, 4 ibu yang benar-benar memahami manfaat ASI

eksklusif, sementara lainnya masih ragu atau belum pernah mendapat

penyuluhan.

Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif di UPTD Puskesmas

Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa menjadi perhatian peneliti.

Mengingat besarnya manfaat pemberian ASI eksklusif dan juga kerugian

yang ditimbulkan dari kegagalannya, maka perlu dilakukan penelitian

tentang Hubungan Promosi Susu Formula dan Peran Tenaga Kesehatan

Dengan Pemberian Asi Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat

Inap Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat.

B. Rumusan Masalah

Apakah terdapat hubungan susu formula dan peran tenaga kesehatan

dengan pemberian ASI ekslusif di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap

Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan promosi susu formula dan peran

tenaga kesehatan dengan pemberian ASI ekslusif di wilayah kerja


7

Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten

Tulang Bawang Barat.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pemberian ASI ekslusif di

wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa

Kabupaten Tulang Bawang Barat.

b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi promosi susu formula di

wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa

Kabupaten Tulang Bawang Barat.

c. Untuk mengetahui distribusi frekuensi peran tenaga kesehatan di

wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa

Kabupaten Tulang Bawang Barat.

d. Untuk mengetahui hubungan promosi susu formula dengan

pemberian ASI ekslusif di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap

Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat.

e. Untuk mengetahui hubungan peran tenaga kesehatan dengan

pemberian ASI ekslusif di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap

Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah

dalam bidang kesehatan terkait hubungan promosi susu formula dan

peran tenaga kesehatan dengan pemberian ASI esklusif.


8

2. Manfaat Aplikatif

a. Manfaat Bagi Responden

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi

tentang manfaat ASI eksklusif sebagai makanan terbaik bagi bayi

usia 0-6 bulan.

b. Manfaat Bagi Tempat Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi

dan motivasi dalam mempromosikan ASI eksklusif kepada

masyarakat.

c. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan

evaluasi dan masukan untuk bahan bacaan kepustakaan dan sebagai

pembanding peneliti selanjutnya.

d. Manfaat Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran

untuk melakukan penelitian selanjutnya.

E. Ruang Lingkup

Penelitian ini dilaksanakan di wilaya kerja Puskesmas Rawat Inap

mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat pada bulan

Juli Tahun 2025. Jenis penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif

dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

ibu yang memiliki bayi usia 7 – 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas

Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat
9

pada bulan Juli tahun 2025 berjumlah 54 orang. Pengambilan sampel

menggunakan total sampling yaitu berjumlah 54 orang.

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan

kuesioner. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari

variabel independen yaitu promosi susu formula dan peran tenaga

kesehatan, sedangkan variabel dependen nya yaitu pemberian ASI esklusif.

Analisa data yang digunakan yaitu analisa univariat dan analisa bivariat

menggunakan chi-square.
10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Pemberian ASI Ekslusif

a. Definisi ASI

ASI (Air Susu Ibu) adalah air susu yang dihasilkan oleh ibu dan

mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk

perkembangan dan pertumbuhan bayi. Selain itu, ASI (Air Susu Ibu)

termasuk cairan kehidupan terbaik yang mengandung berbagai zat dan

sangat dibutuhkan oleh bayi. ASI juga dapat meningkatkan sistem

kekebalan tubuh bagi bayi sehingga bisa menjadi pelindung (imun)

dari semua jenis infeksi (Bidan dan Dosen Kebidanan Indonesia,

2018).

ASI merupakan makanan pertama, utama dan terbaik untuk bayi.

ASI mengandung nutri lengkap yang dibutuhkan dalam proses

tumbuh kembang bayi serta antibodi yang bisa membantu bayi

membangun sistem kekebalan tubuh dalam masa pertumbuhannya.

ASI juga mencegah penyakit noninfeksi, seperti alergi, obesitas,

kurang gizi, asme dam eksim. ASI dapat meningkatkan IQ dan EQ

anak. Selain itu pemberian ASI dapat menciptakan ikatan psikologis

dan kasih sayang yang kuat antara ibu dan bayi ( Dewi Andaria

Ningsih & Istidamatul Ludvia, 2021).


11

b. Komposisi Nutrisi Dalam ASI

Komposisi ASI ternyata tidak tetap dan sama dari waktu ke

waktu. Hal ini dipengaruhi banyak faktor seperti stadium laktasi, ras,

keadaan nutrisi ibu dan lainnya. ASI terdiri dari kombinasi yang

kompleks dari berbagai komponen yang meliputi:

1) Kalori

Kalori sebagai sumber tenaga bagi bayi. ASI mengandung

kurang lebih 0,65 kkal/ml energi. Energi tersebut variasi antara

protein dan karbohidrat. Komposisi kalori dalam ASI lebih sedikit

bila dibandingkan dengan susu formula, namun ini sudah

mencukupi kebutuhan bayi.

2) Protein

ASI mengandung total protein yang lebih rendah

dibandingkan dengan susu sapi, tetapi mengandung lebih banyak

soluble whey protein. Komposisi inilah yang menyebabkan ASI

lebih mudah diserap dan dicerna. Kualitas dan kuantitas protein

sama-sama penting, karena protein juga menyediakan sumber

energi.

ASI mengandung protein seperti laktoferin, yang memiliki

sifat antibakteri, serta kasein dan whey protein, yang mudah

dicerna oleh bayi. Protein ini penting untuk pertumbuhan dan

perkembangan jaringan pada bayi.


12

3) Lemak

Lemak merupakan sumber energi yang penting dan juga

membantu dalam pengembangan otak. ASI mengandung lemak

yang kaya akan asam lemak rantai panjang seperti DHA

(docosahexaenoic acid), yang penting untuk pengembangan saraf

dan otak.

4) Karbohidrat

Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI, yang tidak

hanya memberikan energi tetapi juga membantu dalam

pencegahan mikroorganisme patogen dan mendukung

pertumbuhan bakteri baik di usus bayi (probiotik).

5) Vitamin dan Mineral

ASI menyediakan semua vitamin dan mineral yang

dibutuhkan bayi dalam beberapa bulan pertama kehidupan,

termasuk vitamin A, C, D, dan B kompleks, serta mineral seperti

kalsium dan besi.

Kalsium yang terkandung dalam ASI lebih mudah diserap

oleh bayi. Di dalam ASI terdapat 250–300 mg/L dan tidak ada

perubahan selama proses laktasi berlangsung. ASI mengandung

besi, natrium, kalium, fosfor dan khlor yang lebih sedikit dari

susu formula, tetapi dengan jumlah tersebut sudah dapat

mencukupi kebutuhan bayi.


13

6) Zat Antibodi

ASI kaya akan sel-sel kekebalan tubuh dan antibodi, seperti

IgA sekretori, yang melindungi bayi dari infeksi dengan cara

melapisi saluran pencernaan bayi, sehingga mencegah

mikroorganisme berbahaya menempel dan menyebabkan

penyakit.

7) Enzim dan Hormon

ASI juga mengandung enzim seperti lipase dan amilase

yang membantu pencernaan lemak dan karbohidrat. Hormon

seperti oksitosin dan prolaktin dalam ASI mempengaruhi perilaku

makan dan ikatan antara ibu dan bayi.

8) Laktosa

Merupakan komponen utama karbohidrat dalam ASI. Bila

dibandingkan dengan susu sapi, kandungannya cenderung lebih

banyak. Laktosa merupakan sumber energi yang mudah dicerna,

selain itu beberapa dari laktosa diubah menjadi asam laktat yang

mencegah timbulnya bakteri yang tidak diinginkan dan mungkin

membantu penyerapan kalsium dan mineral-mineral lainnya

(Mutmainnah, 2024).

c. Manfaat ASI

1) Bagi Bayi

Adapun beberapa manfaat ASI bagi bayi diantaranya yaitu

(Katmawati dkk, 2021) :


14

a) Aspek kesehatan

Salah satu dari sekian manfaat ASI yang cukup signifikan

dan terbilang sangat terlihat tidak lain dari segi kesehatan. Hal

ini karena ASI mengandung unsur-unsur bergizi nutrien dan zat

protektif yang tentunya dapat memberikan manfaat dalam

memenuhi kebutuhan bayi sehingga terhindar dari malnutrisi.

Selain merupakan cairan yang mampu diserap dan digunakan

oleh tubuh dengan cepat, ASI juga memiliki kandungan

antibodi yang mampu memberikan imunitas khusus bagi bayi

sehingga mengurangi terjadinya kanker limfomaligna. Tentu

hal ini pun membuat bayi yang mendapat ASI akan jauh lebih

sehat dibandingkan yang tidak diberikan ASI.

b) Aspek kecerdasan

Selain dari segi kesehatan, juga terdapat salah satu aspek

yang penting diketahui terkait manfaat ASI khususnya bagi bayi

yakni kecerdasan. Selain laktosa, DHA yang terdapat pada ASI

mampu memberikan proses mielinisasi otak, yakni proses

pematangan otak agar berfungsi optimal. Kegagalan pada

pertumbuhan otak yang tidak optimal kemudian akan

mempengaruhi proses perkembangan, sehingga menyebabkan

gangguan kemampuan kognitif, motorik, personal sosial dan

bahasa anak. Penelitian juga membuktikan bahwa anak yang


15

mendapat ASI Eksklusif mempunyai IQ lebih tinggi

dibandingkan dengan anak ASI non-eksklusif.

c) Aspek emosi

Selain aspek kesehatan dan kecerdasan, salah satu aspek

yang sering terlewat dari manfaat pemberian ASI pada bayi

yakni emosi. Seperti yang kita ketahui, pemberian ASI menjadi

salah satu perantara dari wujud kasih sayang oleh ibu kepada

bayinya, dimana saat ibu mendekap bayi maka didapatkan

rangsangan emosional. Beberapa manfaat ASI lainnya bagi bayi

yaitu sebagai perlindungan terhadap infeksi gastrointestinal,

menurunkan risiko kematian bayi akibat diare dan infeksi,

sumber energi dan nutrisi bagi anak usia 6 sampai 23 bulan,

serta mengurangi angka kematian di kalangan anak-anak yang

kekurangan gizi.

2) Bagi Ibu

Adapun beberapa manfaat ASI bagi ibu diantaranya yaitu

(Nardina dkk, 2021):

a) Aspek kesehatan ibu

Ditinjau dari aspek kesehatan pada ibu bahwa isapan bayi

akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofisis.

Oksitosin ini akan membantu involusi uterus dan mencegah

terjadi perdarahan post partum. Penundaan haid dan

berkurangnya perdarahan post partum mengurangi prevalensi


16

anemia akibat kekurangan zat besi. Selain itu, dapat

mengurangi angka kejadian karsinoma mammae pada ibu.

b) Aspek keluarga berencana

Pemberian ASI secara tidak langsung merupakan KB

alami sehingga dapat menjarangkan jarak kehamilan. Hal ini

dikarenakan hormon yang mempertahankan laktasi bekerja

menekan hormone ovulasi hingga dapat menunda kembalinya

kesuburan seorang ibu. Menurut penelitian, rerata jarak

kehamilan pada ibu yang menyusui adalah 24 bulan, sedangkan

ibu yang tidak menyusui adalah 11 bulan.

c) Aspek psikologis

Beberapa keuntungan menyusui adalah ibu akan merasa

bangga dan diperlukan oleh bayinya karena dapat menyusui

anak kesayangan dan yang diharapkan. Rasa bangga dan

dibutuhkan oleh sesama manusia ini yang memberikan

kekuatan dan motivasi pada ibu yang menyusui.

3) Manfaat Bagi Keluarga

Adapun beberapa manfaat ASI bagi keluarga diantaranya

yaitu (Nardina dkk, 2021):

a) Aspek ekonomi

Selain Air Susu Ibu (ASI) tidak perlu dibeli, pemberian

ASI terus menerus pada bayi menyebabkan anak mempunyai

kekebalan yang baik sehingga anak menjadi jarang sakit. Hal ini
17

tentunya dapat mengurangi pengeluaran sehingga dana bisa

dihemat atau dialokasikan untuk keperluan rumah tangga yang

lain.

b) Aspek psikologis

Pemberian ASI berdampak pada kesuburan ibu sehingga

jarak kehamilan dapat diatur sesuai yang diinginkan sehingga

suasana kejiwaan ibu baik dan kebahagiaan keluarga

bertambah. Hal ini tentunya bisa mendekatkan hubungan antara

bayi dengan keluarga.

c) Aspek kemudahan

Pemberian ASI dengan cara menyusui bayi bisa dilakukan

di mana saja, kapan saja serta tidak merepotkan karena tidak

perlu meminta pertolongan orang lain.

4) Manfaat Bagi Negara

Adapun beberapa manfaat ASI bagi negara di antaranya yaitu

(Nardina dkk, 2021):

a) Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak

Salah satu fungsi ASI diantaranya memberikan protektif

dan nutrien yang sesuai pada bayi dan menjamin status gizi bayi

baik sehingga akan terjadi penurunan angka kesakitan dan

kematian pada bayi. Beberapa penelitian epidemiologis

menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit


18

infeksi, seperti diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan

bagian bawah.

b) Mengurangi subsidi untuk rumah sakit

Dengan adanya program ASI eksklusif secara tidak

langsung menyebabkan biaya subsidi ke rumah sakit berkurang

atau menurun. Hal ini karena dapat memungkinkan dilakukan

rawat gabung ibu-anak sehingga akan memperpendek lama

rawat inap ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan

infeksi nosokomial serta mengurangi biaya perawatan anak

sakit.

c) Mengurangi devisa untuk membeli susu formula

ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua

ibu menyusui bayinya, diperkirakan akan mengurangi devisa

negara untuk membeli susu formula.

d) Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa

Pemberian ASI akan meningkatkan kualitas generasi

penerus bangsa kita. Hal ini dimungkinkan karena anak yang

mendapat ASI dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,

sehingga kualitas generasi penerus bangsa dapat terjamin.

d. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Ekslusif

Faktor yang mempengaruhi perilaku pelaksanaan pemberian


ASI ekslusif dibedakan menjadi tiga, yaitu : Faktor Pemudah
(Predisposing Factors), Faktor Pendukung (Enabling Factors),
19

Faktor Pendorong (Reinforcing Factors) (Wulandari S & Nurlaela


E, 2021)
1) Faktor Pemudah (Predisposing Factors)

a) Pendidikan

Pendidikan akan membuat seseorang terdorong untuk ingin

tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang didapatkan

akan menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki akan

membentuk keyakinan untuk perilaku. Ibu dengan pendidikan

tinggi akan lebih mudah menerima suatu ide baru dibandingkan

dengan ibu yang berpendidikan rendah, sehingga informasi dan

promosi tentang ASI akan lebih mudah diterima dan

dilaksanakan.

b) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil stimulasi informasi. Informasi

bisa berasal dari pendidikan formal maupun informal,

percakapan, membaca, mendengar, menonton dan pengalaman

hidup. Contoh pengalaman hidup yaitu pengalaman menyusui

anak.

c) Nilai-Nilai Adat atau Budaya

Adat budaya akan mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI

secara ekslusif karena sudah menjadi budaya yang masih

dilakukan di masyarakat. Contohnya adalah adat untuk melatih

pencernaan bayi, padahal hal tersebut tidak benar namun tetap


20

dilakukan oleh masyarakat karena sudah menjadi adat budaya

keluarga.)

2) Faktor Pendukung (Enabling Factors)

a) Pendapatan Keluarga

Pendapatan keluarga adalah penghasilan yang diperolah

suami dan istri dari berbagi kegiatan ekonomi sehari-hari,

misalnya gaji. Pendapatan tinggi memungkinkan keluarga cukup

pangan sehingga yang dikonsumsi ibu memiliki kandungan gizi

yang baik. Konsumsi makanan dengan kandungan gizi yang baik

akan menghasilkan ASI yang berkualitas baik.

b) Ketersediaan Waktu

Ketersediaan waktu ibu untuk menyusui bayinya secara

ekslusif berkaitan erat dengan status pekerjaannya. Banyak ibu

yang berhenti menyusui dengan alasan ibu kembali bekerja

setelah selesai cuti melahirkan. Padahal ibu yang bekerja, ASI

dapat diperah setiap 3-4 jam sekali untuk disimpan dalam lemari

pendingin.

c) Kesehatan Ibu

Kondisi kesehatan ibu sangat mempengaruhi proses

pemberian ASI Ekslusif pada bayi. Ibu yang mempunyai

penyakit menular (HIV,TBC, Hepatitis B) dan penyakit pada

payudara (kanker payudara, kelainan putting susu) tidak boleh

ataupun tidak bisa menyusui bayinya.


21

3) Faktor Pendorong (Reinforcing Factors)

a) Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga yaitu suami, orang tua serta saudara lain

sangat mempengaruhi keberhasilan menyusui, karena dukungan

keluarga berdampak pada kondisi emosi ibu sehingga akan

mempengaruhi produksi ASI. Ibu yang kurang mendapatkan

dukungan menyusui dari keluarga akan menurunkan pemberian

ASI. Peran orang tua adalah faktor yang paling dominan terhadap

pemberian ASI Ekslusif.

b) Dukungan Tenaga Kesehatan

Dukungan Petugas Kesehatan yang professional akan

menjadi faktor pendukung ibu dalam memberikan ASI.

Dukungan tenaga kesehatan kaitannya dengan nasehat kepada

ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya akan menentukan

berkelanjutan pemberian ASI.

2. Promosi Susu Formula

a. Promosi

Promosi adalah suatu komunikasi dari penjual dan pembeli yang

berasal dari informasi yang tepat yang bertujuan untuk merubah sikap

dan tingkah laku pembeli, yang tadinya tidak mengenal menjadi

mengenal sehingga menjadi pembeli dan tetap mengingat produk

tersebut (Hendri dkk, 2017).


22

Menurut Hendrik Dan Hendri (2017) tujuan utama promosi adalah

sebagai berikut :

a. Menginformasikan.

Menginformasikan pasar mengenai keberadaan suatu produk,

memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu produk baru,

menyampaikan perubahan harga kepada pasar dan menjelaskan

cara kerja suatu produk. Menginformasikan jasa – jasa yang

disediakan oleh perusahaan. Meluruskan kesan yang salah,

mengurangi kekhawatiran dan ketakutan pembeli serta membangun

citra perusahaan.

b. Membujuk pelanggan sasaran

Membujuk pelanggan melalu ipembentukan pilihan merk.

Mengalihkan pilihan merk tertentu. Mengubah persepsi pelanggan

terhadap atribut produk dan mendorong pembeli untuk berbelanja.

c. Mengingatkan pelanggan

Mengingatkan pelanggan bahwa produk yang bersangkutan

dibutuhkan dalam waktu dekat. Mengingatkan pelanggan akan

tempat – tempat yang menjual produk perusahaan, membuat

pelanggan tetap ingat walaupun tidak ada kampanye iklan, menjaga

agar ingatan pertama pelanggan jatuh pada produk perusahaan.

b. Susu Formula

Susu formula adalah susu yang dibuat oleh industri yang biasanya

di buat oleh susu sapi atau produk kedelai yang telah dimodifikasi.
23

Banyak fakor yang menyebabkan ibu memberikan susu formula

kepada bayinya. Alasan yang sering muncul adalah masalahh medis,

komplikasi selama kehamilan dan persalinan, rujukan keluarga, faktor

ibu bekerja, dan persepsi ibu tentang kurangnya produksi ASI

(Nurbaya, 2021).

Ada banyak piilihan susu formula yang beredar di pasaran, ada

yang terbuat dari susu sapi, susu kambing, susu kedelai dan lain- lain.

Meskipun industri susu telah berusaha membuat susu formula bayi

yang identik dengan ASI, namun kandungan sus formula tidak akan

bisa manyamai kandungan gizi pada ASI ( Nurbaya, 2021).

c. Promosi Susu Formula

Susu formula merupakan salah satu faktor yang dituding sebagai

penyebab rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif. Susu formula

adalah bisnis yang sangat menguntungkan saat ini. Produsen susu

formula mengincar Indonesia dan Cina karena jumlah penduduknya

yang besar. Produsen susu formula mempunyai berbagai cara untuk

mendapatkan konsumen (Toto Sudargo & Nur Aini Kusmayanti,

2023).

Saat ini, tempat bersalin, rumah sakit, dan Puskesmas sudah

menjadi sasaran distribusi dan promosi susu formula. Sering dijumpai,

produsen susu formula melibatkan petugas kesehatan dan tempat

pelayanan kesehatan dalam mendistribusikan dan mempromosikan

produk mereka (Toto Sudargo & Nur Aini Kusmayanti, 2023).


24

3. Peran Tenaga Kesehatan

a. Pengertian Peran

Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang

sesuai dengan posisi atau kedudukannya dalam sistem sosial

(Budiman & Riyanto, 2016).

b. Pengertian Tenaga Kesehatan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2012

mengatakan bahwa “Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang

mengabdikan diri dalam bidang kesehatan, serta memiliki

pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan

yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan

upaya kesehatan.

c. Pengertian Peran Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat penting dalam

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, baik secara individu

maupun kelompok, melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan

rehabilitatif. Peran tersebut meliputi sebagai edukator, komunikator,

fasilitator, dan motivator dalam upaya mengubah perilaku masyarakat

ke arah hidup sehat (Mubarak & Chayatin, 2016).

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 terdapat

beberapa peran tenaga kesehatan, antara lain :


25

1) Dalam Pasal 1 ayat 1 mengenai inisiasi menyusui dini menyebutkan

bahwa tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan

kesehatan wajib melakukan inisiasi menyusui dini terhadap bayi

yang baru lahir kepada ibunya paling singkat selama satu jam;

2) Dalam Pasal 13 mengenai informasi dan edukasi menyebutkan

bahwa untuk mencapai pemanfaatan pemberian ASI Ekslusif secara

optimal, petugas kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan

kesehatan wajib memberikan informasi dan edukasi ASI Ekslusif

kepada ibu atau anggota keluarga dari bayi yang bersangkutan sejak

pemeriksaan kehamilan sampai dengan periode pemberian ASI

Ekslusif selesai. Informasi dan edukasi ASI Ekslusif sebagaimana

yang di maksud adalah sebagai berikut :

a) Keuntungan dan keunggulan pemberian ASI;

b) Gizi Ibu;

c) Persiapan dan mempertahankan menyusui;

d) Akibat negatif dari pemberian makanan botol secara parsial

terhadap pemberian ASI;

e) Kesulitan untuk mengubah keputusan untuk tidak memberikan

ASI.

3) Dalam pasal 16 mengenai penggunaan susu formula bayi dan

produk bayi lainnya menyebutkan bahwa tenaga kesehatan harus


26

memberikan peragaan dan penjelasan atas penggunaan dan

penyajian susu formula bayi kepada ibu dan keluarga yang

memerlukan susu formula bayi, yaitu dalam kondisi :

a) Indikasi Medis;

b) Ibu tidak ada;

c) Ibu berpisah dari bayi.

4) Dalam pasal 17 mengenai penggunaan susu formula bayi dan

produk bayi lainnya menyebutkan bahwa setiap tenaga kesehatan

tidak diperbolehkan memberikan, menerima bantuan serta

mempromosikan susu formula bayi atau produk bayi lainnya yang

dapat menghambat program pemberian ASI Ekslusif kecuali pada

keadaan tertentu. Sehingga, dapat di sebutkan bahwa salah satu

peran tenaga kesehatan dalam pemberian ASI Ekslusif adalah

melindungi hak ibu menyusui untuk dapat melaksanakan program

ASI Ekslusif.

d. Cara Ukur Peran Tenaga Kesehatan

Pengukuran peran tenaga kesehatan dilakukan menggunakan

kuesioner tertutup yang disusun berdasarkan konsep peran tenaga

kesehatan sebagai edukator, komunikator, dan fasilitator dalam

mendukung pemberian ASI eksklusif. Instrumen ini menggunakan


27

skala Guttman, yaitu skala pengukuran dengan pilihan jawaban

dikotomis berupa “Ya” dan “Tidak”.

Menurut Sugiyono (2017), skala Guttman merupakan skala yang

memberikan jawaban pasti (tegas) untuk setiap item, di mana pilihan

jawabannya yaitu Setuju atau Tidak Setuju, ya atau tidak, pernah atau

tidak pernah. Jika pertanyaan diajukan dalam bentuk positif jawaban ya

diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0. Sebaliknya, jika pertanyaan negatif

jawaban ya diberi skor 0 dan tidak diberi skor 1.

Untuk menentukan tingkat peran tenaga kesehatan, skor total

dikonversi ke dalam bentuk persentase, kemudian dikategorikan

berdasarkan kriteria sebagai berikut:

 Peran kurang : jika nilai < 50% (skor 1)

 Peran lengkap : jika nilai ≥ 50% (skor 0).

B. Penelitian Terkait

1. Nur Aulia, Fairus Prihatin Idris, Harpiana Rahman (2023) judul

penelitian Hubungan Promosi Susu Formula dengan Kegagalan

Pemberian ASI Ekslusif di UPTD Puskesmas Bojo Baru. Metode

penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.

Semua populasi dijadikan sampel yaitu sebanyak 93 orang ibu

yang memiliki bayi usia 6-12 bulan. Variabel independen yang di teliti

yaitu promosi susu formula, sedangkan variabel dependennya yaitu


28

kegagalan pemberian ASI esklusif. Instrument yang digunakan adalah

kuesioner. Pengolahan data menggunakan analisis univariat dan

bivariate dengan uji chisquare.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan

promosi susu formula dengan kegagalan pemberian ASI eksklusif pada

bayi usia 0-6 bulan di UPTD Puskesmas Bojo Baru Kabupaten Barru

Tahun 2022 dengan nilai ρ value = 0.000. P Hasil penelitian

menunjukan bahwa terdapat hubungan promosi susu formula dengan

kegagalan pemberian ASI ekslusif pada bayi 0 - 6 bulan di UPTD

Puskesmas Bojo Baru Kecamatan Baru Tahun 2022 dengan nilai ρ

value = 0.000.

2. Sixtia Kusumawati (2021) judul penelitian Hubungan Sikap dan

Dukungan Tenaga Kesehatan dengan Keberhasilan pemberian ASI

Esklusif di Wilayah Puskesmas Berangas Kabupaten Barito Kuala.

Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan

menggunakan rancangan penelitian studi korelasi dan desain cross

sectional. Penelitian dilakukan di Wilayah Puskesmas Berangas

kabupaten Barito Kuala pada bulan Maret - April Tahun 2021. Variabel

independen yang di teliti yaitu sikap dan dukungan tenaga kesehatan,

sedangkan variabel dependennya yaitu keberhasilan ASI esklusif.

Populasi penelitian ini ialah seluruh ibu yang memiliki bayi usia

6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Berangas Kabupaten Barito


29

Kuala sebanyak 70 orang, sampel sebanyak 70 orang menggunakan

total sampling. Instrumen penelitian ini melakukan observasi kemudian

dianalisis. Hubungan antar variabel ditentukan dengan menggunakan

uji analisis bivariat chi Square

Hasil penelitian menunjukkan 53 orang (67,95%) diantaranya

memiliki sikap positif teradap pemberian ASI esklusif,61 orang

(78,2%) diantaranya mendapatkan dukunngan tenaga kesehatan dan 40

orang (62,82%) berhasil memberikan ASI esklusif. Penelitian ini

meyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara sikap

ibu dengan keberhasilan pemberian ASI esklusif dengan nilai p 0,0004

dan terdapat hubungan bermakna antara dukungan tenaga kesehatan

dengan keberhasilan pemberian ASI esklusif dengan nilai p sebesar

0,0007 .

3. Fitri Fatirotul Fauziah, Rupdi L. Siantar, Marni Br Karo (2023) judul

penelitian Hubungan Promosi Susu Formula dan dukungan suami

terhadap pemberian ASI esklusif pada ibu menyususi. Penelitian ini

merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross

sectional.

Jumlah responden 75 ibu menyusui yang bertempat tinggal di

Puskesmas Cikedal Kabupaten pandeglang. Variabel independen yang

di teliti yaitu Promosi Susu Formula dan Dukungan suami, sedangkan

variabel dependennya yaitu pemberian ASI esklusif.


30

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 75 responden

Yang ada promosi susu formula sebanyak 71 orang (94,7%) dan yang

tidak ada sebanyak 4 orang (5,3%). Yang suaminya mendukung

sebanyak 66 orang (88%) sedangkan yang suaminya tidak mendukung

sebanyak 9 orang (12%) yang melakukan pemberian ASI eksklusuf

dengan baik sebanyak 59 orang (78,7%) sedangkan yang tidak baik

sebanyak 16 orang (21,3%). Terdapat hubungan dukungan suami

dengan Pemberian ASI Eksklusif. Dengan hasil uji statistik diperoleh p-

value (0,018) < α (0,05), Terdapat hubungan dukungan suami dengan

Pemberian ASI Eksklusif. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh p-

value (0,018) < α (0,05).


31

C. Kerangka Teori Penelitian

Faktor Predisposisi/
Predisposing Factor
1. Umur
2. Paritas

3. Pendidikan
4. Pekerjaan
5. Pengetahuan
6. Sikap
7. Sosial budaya

Faktor Pendukung/ Enabling


Factor
1. Inisiasi menyusui dini Pemberian ASI
2. Promosi susu formula Ekslusif
3. Tempat bersalin
4. Rawat gabung
5. Jenis persalinan

Faktor Pendorong/ Reinforcing


Factor
1. Pelayanan konseling laktasi
2. Dukungan suami
3. Dukungan tenaga kesehatan
4. Dukungan keluarga

Gambar 2.1 : Kerangka Teori Penelitian

Sumber : Telah dimodifikasi dari Wulandari S & Nurlaela E, (2021),


Susiloretni, K. A., et al. (2015), Sihombing, M., et al. (2020), Hamima
Rani et al. (2022), Fikawati & Syafiq (2009), Siti Anisak et al. (2023),
Lawrence W. Green (2022).
32

D. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antar

konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti

(Notoatmodjo, 2018)

Promosi susu formula

Pemberian ASI Ekslusif

Peran Tenaga Kesehatan


SS

Tabel 2.2 Kerangka Konsep

E. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap tujuan penelitian yang

diturunkan dari kerangka pemikiran yang telah dibuat (Sujarweni, 2021).

Hipotesis Alternative (Ha) dalam penelitian ini adalah :

1. Ada hubungan antara promosi susu formula dengan pemberian ASI

ekslusif.

2. Ada hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan pemberian ASI

ekslusif.
33

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kuantitatif. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian untuk

mendapatkan gambaran yang akurat dari sebuah karakteristik masalah

yang mengklasifikasikan suatu data dan pengambilan data yang

berhubungan dengan angka-angka, baik yang diperoleh dari hasil

pengukuran maupun nilai suatu data yang diperoleh (Notoatmodjo,

2018).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas

Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang

Barat pada bulan Juli 2025.

C. Rancangan Penelitian

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

waktu cross sectional. Peneliti ingin melihat hubungan promosi susu

formula dan peran tenaga kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif

di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa

Kabupaten Tulang Bawang Barat.


34

D. Subjek Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau

subyek yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu

(Sujarweni, 2021). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu

yang memiliki bayi usia 7 - 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas

Rawat Inap Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang

Bawang Barat pada bulan Juli tahun 2025 yang berjumlah 54 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki

oleh populasi yang digunakan untuk penelitian (Sujarweni, 2021).

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total

sampling. Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana

seluruh anggota populasi digunakan sebagai sampel yaitu berjumlah

54 orang. Teknik ini dipilih agar hasil penelitian lebih akurat dan

representatif teradap populasi yang diteliti.

3. Teknik Sampling

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik

total sampling. Teknik ini umumnya digunakan ketika jumlah

populasi relatif kecil, sehingga memungkinkan untuk melibatkan

semua anggota populasi dalam penelitian (Notoatmodjo, 2023).


35

E. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja

yang dapat diteliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi dan

ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2018). Dalam penelitian ini, variabel

yang digunakan adalah variabel independent dan variabel dependent

Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini adalah promosi

susu formula dan peran tenaga kesehatan. Sedangkan variabel terikat

(dependent) dalam penelitian ini adalah pemberian ASI esklusif.

F. Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Opersional

Variabel Defenisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Hasil Ukur


Operasional Ukur

Dependent Pemberian Wawancara Kuesioner Ordinal [Link]


ASI saja pada ASI eksklusif
Pemberian bayi selama 6 [Link]
ASI Eksklusif bulan tanpa memberikan
tambahan ASI eksklusif
makanan/
minuman lain
kecuali obat
obatan

Independent Suatu Wawancara Kuesioner Ordinal 0. Tidak


komunikasi mendapatkan
Promosi Susu dari penjual promosi susu
Formula dan pembeli formula jika <
yang berasal 50%
dari
informasi [Link]
yang tepat promosi susu
bertujuan formula jika ≥
untuk 50%
merubah
sikap dan
36

tingkah laku
pembeli,
yang tadinya
tidak
mengenal
menjadi
mengenal
sehingga
menjadi
pembeli dan
tetap
mengingat
produk susu
formula
tersebut

Independent Peran tenaga Wawancara Kuesioner Ordinal 0. peran kurang


kesehatan jika < 50%
Peran Tenaga
sebagai
Kesehatan [Link] lengkap
edukator, jika ≥ 50%
komunikator
, fasilitator,
dan
motivator
dalam
pemberian
ASI eksklusif
kepada ibu
menyusui.

G. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengukur

fenomena alam atau sosial yang diteliti (Sugiyono, 2020). Instrumen

pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kuesioner.

Kuesioner yang digunakan di adopsi dari Arfun Nisa Martadillah

(2021) dan dimodifikasi oleh peneliti. Kuesioner telah dilakukan uji


37

validitas dan reliabilitas di Puskesmas Kibang Budi Jaya dan

didapatkan hasil seluruh item kuesioner valid dengan nilai Cronbach’s

Alfa = 0,712.

H. Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam

beberapa tahap yaitu sebagai berikut :

1. Mengajukan permohonan izin penelitian kepada Universitas Aisyah

Pringsewu.

2. Mengajukan permohonan izin kepada Kepala Puskesmas Rawat Inap

Mampu PONED Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat.

3. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri dan dibantu oleh

enumerator yang terdiri dari 6 bidan desa.

4. Menentukan responden yang memenuhi kriteria dan menjelaskan

kepada responden tentang tujuan penelitian.

5. Responden yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian diminta

menandatangani informed consent sebagai tanda persetujuan menjadi

responden.

6. Menjelaskan kepada responden cara pengisian kuesioner.


38

7. Peneliti melakukan wawancara kepada responden sambil mengisi

lembar jawaban kuesioner yang telah disediakan dengan teliti dan

cermat.

I. Pengolahan Data

Langkah-langkah pengolahan data meliputi editing, coding,

processing, cleaning, dan tabulating.

1. Editing adalah tahapan kegiatan memeriksa validitas data yang masuk

seperti memeriksa kelengkapan pengisian kuesioner, kejelasan

jawaban, relevansi jawaban, dan keseragaman suatu pengukuran.

2. Coding adalah kegiatan memberikan kode dalam bentuk angka dalam

mengklasifikasikan data dari jawaban menurut kategori masing-

masing responden sehingga memudahkan dalam pengelompokkan

data.

3. Processing adalah tahapan kegiatan memproses data agar dapat

dianalisis. Pemrosesan data dilakukan dengan cara meng-entry

(memasukkan) data hasil pengisian kuesioner ke dalam master tabel

atau database komputer.

4. Cleaning yaitu tahapan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah

dientry dan melakukan koreksi bila terdapat kesalahan.


39

5. Tabulating merupakan tahapan kegiatan pengorganisasian data

sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun, dan

ditata untuk disajikan dan dianalisis.

J. Analisis Data

Analisis data dilakukan secara bertahap yang meliputi analisis

univariat, bivariat dan multivariat.

1. Analisis univariat

Analisis univariat dilakukan terhadap setiap variabel dan hasil

penelitian, data ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

Data yang akan dianalisis pada penelitian ini adalah distribusi

frekuensi pemberian ASI eksklusif, promosi susu formula dan peran

tenaga kesehatan.

2. Analisis bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua

variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel

independen promosi susu formula dan peran tenaga kesehatan

sedangkan variabel dependen adalah pemberian ASI eksklusif.

Jenis uji statistik yang digunakan adalah uji chi square dengan

confident interval (CI) 95% dan α = 0,05. Hasil analisis secara

bermakna apabila nilai p ≤ α = 0,05 dengan ketentuan sebagai

berikut:
40

a. Jika p value ≤ α maka Ho ditolak

b. Jika p value > α maka Ho diterima (Darwel., dkk, 2022)

Anda mungkin juga menyukai