Jurnal Spirit Edukasia FPIPSKR
Volume 02, No. 02, Desember 2022, hal. 360-366 Universitas PGRI
Semarang
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN SHOOTING AFTER A CENTERING PASS DAN
LATIHAN SHOOTING AFTER A DRIBBLE TERHADAP PENINGKATAN HASIL
SHOOTING PADA PEMAIN SEPAK BOLA USIA 12-13 TAHUN DI SSB SPULTURA
KUDUS
Muhammad Khoirul Anwar
Email: khoirinnida315@[Link]
Universitas PGRI Semarang
Abstract
This research is a quantitative research, collecting data using experimental methods with a quasi-
experimental research design with two groups Pretest Posttest. The population of this study was the entire SSB
Spultura Kudus team aged 12-13 years. The research sample consisted of 50 SSB Spultura Kudus players who
were divided into two groups, namely shots after centering and shots after dribbling. The sampling technique
used in this research is purposive sampling. The results of this study indicate that shooting after centering pass
and shooting after dribbling is effective. An independent-samples t-test hypothesis test was conducted to
determine the difference in the effect of shooting practice after centering pass versus shooting after dribbling
practice on the increase in shooting in soccer players aged 12-13 years who play SSB Spultura Kudus. ) >
ttable(2.11991) and Sig.(0.035) <(0.05), there is no difference in the effect of shooting practice after centering
pass and shooting practice after dribbling on increasing shooting in soccer players aged 12-13 in SSB
Spultura Kudus. means there is. The conclusion of this study is that in SSB Spultura Kudus athletes aged 12-13
years, shooting practice after centering pass has a significant effect on increasing shooting scores. As an
alternative to the SSB Spultura Kudus trainer, researchers have proposed various exercises
Keywords: Shooting After a Centering pass, Shooting After a Dribble practice.
Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, pengumpulan data menggunakan metode eksperimen dengan
desain penelitian quasi eksperimen dengan two groups Pretest Posttest. Populasi penelitian ini adalah seluruh
tim SSB Spultura Kudus yang berusia 12-13 tahun. Sampel penelitian ini terdiri dari 50 pemain SSB Spultura
Kudus yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu tembakan setelah operan centering dan tembakan setelah
menggiring bola. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa shooting setelah centering pass dan shooting setelah dribbling efektif. Uji
hipotesis independent-samples t-test dilakukan untuk mengetahui perbedaan pengaruh latihan shooting setelah
centering pass versus latihan shooting after dribbling terhadap peningkatan shooting pada pemain sepak bola
usia 12-13 tahun yang bermain SSB Spultura Kudus. ) > ttabel(2.11991) dan Sig.(0.035) < (0,05), tidak ada
perbedaan pengaruh latihan shooting setelah centering pass dengan latihan shooting setelah dribbling terhadap
peningkatan shooting pada pemain sepak bola usia 12-13 di SSB Spultura Kudus. berarti ada. Kesimpulan dari
penelitian ini adalah pada atlet SSB Spultura Kudus usia 12-13 tahun, latihan menembak setelah centering pass
berpengaruh signifikan terhadap peningkatan skor shooting. Sebagai alternatif dari pelatih SSB Spultura
Kudus, peneliti telah mengusulkan berbagai latihan
Kata Kunci: Latihan Shooting After a Centering pass, Shooting After a Dribble.
360
Spirit Edukasia, Volume 02, No 02, Desember 2022, hal. 360-366
PENDAHULUAN
Sepak bola merupakan olahraga yang populer dan sudah lama dikenal di tanah air. Tak perlu
dikatakan, sepak bola adalah permainan yang ditekankan, dimainkan banyak orang. Pemain sepak bola
luar biasa akan menjadi bintang dunia. Bagaimanapun, semua orang dapat meningkatkan kemampuan
mereka dan membantu tim untuk mendominasi pertandingan. Pencapaian prestasi atlet merupakan
tujuan definitif yang harus dicapai dengan melaksanakan persiapan yang dimodifikasi secara tertib,
terkondisikan dan disesuaikan.
Saat bermain sepak bola, sangat penting untuk memiliki beberapa teknik dasar yang terkait
erat. Teknik dasarnya adalah mengoper, menggiring bola, memeriksa dan menembak. Menguasai
teknik dasar sepak bola yang benar membutuhkan latihan yang baik, yang ter program dan
dipraktekkan secara teratur dan disiplin. Karena sekolah sepak bola merupakan tempat pembinaan
anak usia dini, maka harus menyertakan komponen yang dapat mendukung pembinaan SSB (sekolah
sepak bola). Komponen-komponen yang melaksanakan SSB meliputi orang-orang yang baik, pelatih
yang bagus, kepemimpinan dewan yang sangat baik, pelajaran yang jelas, dan kesempatan pelatihan
yang sesuai. Tujuan utama dari SSB adalah untuk membuka pintu bagi siswa untuk mengembangkan
kapsitas dan kemampuan mereka yang sebenarnya untuk menjadi pemain berkualitas yang dapat
bersaing dengan SSB lainnya. Dapat diakui oleh daerah setempat dan mengikuti kesesuaian asosiasi.
Selain itu, SSB juga memberikan landasan yang kuat tentang cara terbaik untuk bermain sepak bola
secara akurat dan akurat.
Dengan pengamatan peneliti selama dua minggu pada SSB Spultura Kudus yang berusia 12-13 tahun
dari tanggal 15 Februari 2021 hingga 1 Maret 2021 dan rincian pelatihan klub ini tiga kali seminggu,
peneliti I menemukan masalah dengan SSBSpultura. Atlet Kudus berusia 12-13 tahun. Masalah yang
peneliti dapatkan adalah tendangan (menembak). Peneliti mengamati bahwa SSB Spultura Kudus,
berusia 12-13 tahun selama sesi permainan, lebih sering mengebor off-goal saat menembak, sehingga
tidak ada gol yang tercipta. Pemain terus-menerus terburu-buru untuk menembak, yang sering
menyebabkan bola melenceng. Hasil observasi tes kemampuan shooting tanggal 15 Maret 2021, dari
20 atlet 5 orang (25%) kategori kurangsekali, 12 orang (60%) kategori kurang, 3 orang (15%) kategori
sedang. Dapat disimpulkan bahwa SSB Spultura Kudus perlu meningkatkan keterampilan
menembaknya. Tentu saja, tujuan yang dibuat akan menginspirasi tim untuk mengalahkan musuh.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan dua jenis latihan target dan membandingkan kedua
jenis latihan tersebut. Mencari jawabaan dengan membandingkan hasil dari kedua latihan menembak
tersebut, peneliti mencoba hal berikut: Perbedaan metode latihan menembak setelah centering pass
dan efek menembak setelah latihan dribbling memberikan hasil kepada atlet. lama di Sekolah Sepak
Bola Kudus Spultura.
Sepak bola adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua tim yang terdiri dari 11 orang.
Dua tim dari 11 bersaing untuk mencetak ("skor") bola bundar ke gawang lawan. Sepak bola adalah
permainan tim. Selama olahraga dimainkan, aturan sepak bola akan berkembang. Tentu saja, aturan
361
Spirit Edukasia, Volume 02, No 02, Desember 2022, hal. 360-366
berkembang, mengingat sepak bola adalah olahraga yang sangat populer dan banyak yang terus
dimainkan. Latihan adalah gerakan atau kondisi fisik yang melibatkan penggunaan kelompok otot
besar, seperti: B. Atletik, permainan, dan kegiatan yang lebih formal seperti: Aktivitas yang dapat
membangkitkan energi melalui aktivitas yang dapat meningkatkan joging, renang, lari, dan kerja otot
(Mohammad Fadhil Ulum, 2013: 69).
Motivasi pelatihan adalah untuk membantu atlet atau tim olahraga untuk mengembangkan
kemampuan lebih lanjut, dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Longgarkan postur normal Anda
dengan meletakkannya di depan Anda, lalu dengan cepat buka tangan Anda lebar-lebar dan rentangkan
tangan Anda yang lain. lengan ke belakang. Lutut kaki sedikit ditekuk dan lengan selalu lurus. Ketika
bola datang ke tangan sebelum memukul dan bola pertama kali mengubah posisinya, yaitu sedikit
berjongkok dari posisi semula. Sepak bola melibatkan menembak selama pertandingan dan ke gawang
saat memasukkan bola.
Sekolah Sepak Bola (SSB) adalah sebuah organisasi di bidang olahraga khususnya sepak bola
dengan tujuan untuk meningkatkan potensi para atlet. Tujuan sekolah sepak bola adalah untuk
mengembangkan atlet-atlet berbakat atau terampil yang dapat bersaing dengan sekolah sepak bola
lainnya, memuaskan masyarakat dan menjaga kelangsungan hidup organisasi, khususnya di bidang
sepak bola (Aprinova, 2016: 63-74).
Kelompok usia pertama untuk pelatihan menengah adalah kelompok usia 11-12, sering
disebut sebagai Junior D. Kelompok usia ini merupakan usia emas belajar. Berbagai materi latihan
yang diberikan mudah diingat oleh pemain junior D. Mulai dari kelompok usia ini, pelatih yang secara
intensif mengajarkan berbagai jenis teknik sepak bola seperti menggiring bola, mengontrol, mengoper,
menembak dan menyundul bola tidak ada masalah. Kelompok usia selanjutnya untuk pelatihan
menengah adalah 13-14 tahun, atau biasa disebut dengan Junior C. Tidak seperti Junior D, Grup Junior
C sedang dalam krisis. Pasalnya, anak usia ini mengalami pubertas. Pemain sering tidak terbiasa
dengan tubuh mereka karena pertumbuhan fisiologis mereka yang sangat cepat selama masa pubertas.
Doni & Marani (2019: 24-28) menjelaskan bahwa ciri-ciri pertumbuhan pada usia ini antara
lain pertumbuhan yang cepat dimana tubuh menjadi semakin tinggi, dan tubuh menjadi tidak seimbang
dan kaku. Akibatnya, saat ini sulit bagi pemain untuk mempelajari teknik sepakbola baru. Di sisi lain,
pemain perlu memulai latihan kekuatan untuk membiasakan diri dengan tubuh besar mereka.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah jenis survei kuantitatif. Penelitian kuantitatif dapat didefinisikan
sebagai metode penelitian berbasis filosofi positivis yang digunakan untuk mempelajari populasi atau
sampel tertentu. Pengambilan sampel biasanya dilakukan secara acak. Pengumpulan data
menggunakan alat survei. Analisis data bersifat kuantitatif dengan tujuan menguji hipotesis yang telah
ditetapkan (Sugiyono, 2017: 14).
362
Spirit Edukasia, Volume 02, No 02, Desember 2022, hal. 360-366
Metode adalah cara atau jalan yang harus diikuti untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan
penyelidikan adalah untuk memperjelas dan menyimpulkan hasil pemecahan masalah dengan cara
tertentu menurut prosedur penyelidikan. Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kuasi-
desain eksperimen adalah jenis studi dengan kelompok kontrol dan bahwa kelompok eksperimen tidak
dipilih secara acak. Peneliti menggunakan desain eksperimen semu karena ada variabel eksternal
dalam penelitian ini yang tidak dapat mereka kendalikan.
Populasi adalah seluruh subjek penelitian (Suharsimi Arikunto, 2010: 173). Semua individu
ini setidaknya harus memiliki karakteristik yang sama atau homogen. Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini hanya pemain SSB Spultura Kudus, dengan jumlah 50 orang.
Table 3.2 jumlah pemain
Umur Jumlah
10-11 15
12-13 18
14-15 17
Adapun sampel tersebut merupakan bagian atau perwakilan dari populasi yang diteliti
(Suharsimi Arikunto, 2010:104). Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sampling
bertarget. Teknik ini didasarkan pada subyek tertentu yang terkait dengan pengambilan sampel
penelitian ini. Dengan kata lain, (1) siswa SSB Spultura Kudus, (2) usia 12 sampai 13 tahun (3) belajar
sepak bola dasar. Teknik (4) harus mengikuti pertandingan antara semua pemain awal dan cadangan
(5). Dalam sampel tidak memenuhi kriteria diatas dinyatakan tidak sah sebagai sampel. Setelah
menetapkan pemikiran sampel diatas, yang memenuhi kriteria ada 18 orang.
Metode eksperimen, pengobatan yang disebut latihan, digunakan untuk mendapatkan data
yang konsisten dengan tujuan penelitian. Dalam latihan ini, kausalitas dilihat sebagai hasil dari
melakukan latihan. Data yang ditemukan dalam penelitian dapat dibagi menjadi tiga jenis: fakta, opini,
dan keterampilan. Tes digunakan untuk mengukur keberadaan dan derajat kompetensi pada mata
pelajaran yang dipelajari (Suharsimi Arikunto, 2010: 266). Oleh karena itu, dalam penelitian ini,
menggunakan pengujian akurasi tembakan sebagai teknik pengumpulan data. Ketelitian atau Shooting
adalah kemampuan yang berhubungan dengan kecermatan, ketenangan dan ketepatan untuk
menembak bola pada sasaran sesuai dengan arah gawang atau sasaran. Alat uji digunakan untuk
menguukur akurasi tembakan kegawang dengan menembakkan bola target yang ditentukan tiga kali
dan menjumlahkan hasilnya. Tes yang digunakan penelitian ini adalah tes bola ke sasaran (Nurhasan,
2001:157). Tes ini dimaksudkan untuk menguji kemampuan dan kemampuan Anda dalam menembak
bola ke sasaran.
1. Pengaruh latihan shooting after a centering pass terhadap hasil shooting
Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t sampel berpasangan untuk mengetahui
pengaruh pukulan centering pass terhadap skor tembakan pada pemain sepak bola usia 12-13
363
Spirit Edukasia, Volume 02, No 02, Desember 2022, hal. 360-366
tahun di SSB Spultura Kudus. Nilainya adalah |thitung|=|-4.670. | | > ttabel (2,30600) dan Sig.
(0,002) < (0,05), yang berarti bahwa pengaruh latihan menembak setelah operan centering
terhadap peningkatan shooting pada pemain sepak bola SSB Spultura Kudus 12-13 tahun To Do.
Dimana terjadi peningkatan rata-rata 28,18% hasil shooting dari pretest sebesar 7,22 naik menjadi
posttest sebesar 12,89.
2. Pengaruh latihan shooting after a dribble terhadap hasil shooting
Alasan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan shooting a dribble pada hasil
shooting atlet sepak bola usia 12-13 tahun SSB Spultura Kudus, maka dilakukan uji hipotesis
dengan paired sample t-test, diperoleh nilai |thitung|=|-5,754 |> ttabel (2,30600) dan Sig. (0,000)
< α (0,05), yang berarti ada pengaruh latihan shooting after a dribble terhadap peningkatan
shooting pada pemain sepak bola usia 12-13 tahun di SSB Spultura Kudus. Dimana terjadi
peningkatan rata-rata hasil shooting sebesar 24,48% dari pretest sebesar 6,00 naik menjadi posttest
sebesar 9,89.
3. Perbedaan pengaruh latihan shooting after a centering pass dan shooting after a dribble terhadap
hasil shooting
Alasan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara Latihan shooting
after a centering pass dan Latihan shooting after a dribble terhadap peingkatan shooting pada
pemain sepak bola usia 12-13 tahun di SSB Spultura Kudus, maka dilakukan uji hipotesis dengan
independent sample t-test .Diperoleh nilai thitung(2,307) > ttabel(2,11991) dan Sig.(0,035) < α
(0,05), yang berarti ada perbedaan pengaruh antara latihan shooting after a centering pass dan
latihan shooting after a dribble terhadap peningkatan shooting pada pemain sepak bola usia 12-13
tahun di SSB Spultura Kudus.
Rata-rata hasil shooting yang menggunakan latihan shooting after a centering pass sebesar
12,89 sedangkan rata-rata hasil shooting yang menggunakan latihan shooting after a dribble sebesar
9,89. Selain itu peningkatan rata-rata hasil shooting yang menggunakan latihan shooting after a
centering pass sebesar 28,18%. Sedangkan kelompok peningkatan rata-rata hasil shooting yang
menggunakan latihan shooting after a dribble sebesar 24,48%. Kami menyimpulkan bahwa latihan
menembak setelah operan centering secara signifikan lebih efektif dalam meningkatkan skor shooting,
karena program latihan menembak setelah centering pass menghasilkan tingkat peningkatan rata-rata
skor shooting yang lebih tinggi dibandingkan dengan shooting setelah latihan dribbling. Jumlah Atlet
usia 12-13 SSB Spultura Kudus.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan analisis dan pembahasan, bisa ditarik sari seperti berikut : (1) Latihan Shooting
After artistik Centering Pass memasrahkan kelanjutan yang berarti terhadap pertambahan resultan
Shooting ambang olahragawan sepak bola umur 12-13 Tahun SSB Spultura Kudus, (2) Latihan
364
Spirit Edukasia, Volume 02, No 02, Desember 2022, hal. 360-366
Shooting After artistik Dribble memasrahkan kelanjutan berarti terhadap pertambahan resultan
shooting ambang olahragawan sepak bola umur 12-13 Tahun SSB Spultura Kudus, (3) Latihan
Shooting After artistik Centering Pass lebih setia semenjak ambang tutorial Shooting After artistik
Dribble terhadap resultan Shooting ambang olahragawan sepak bola umur 12-13 Tahun SSB Spultura
Kudus.
DAFTAR PUSTAKA
Aprianova, F. (2016). Metode Drill Untuk Meningkatkan Teknik Dasar Menggiring Bola ( Dribbling
) Dalam Permainan Sepak bola Pada Siswa Sekolah Sepak bola Putra Zodiac Kabupaten
Bojonegoro Usia 13-15 Tahun. Jurnal Kepelatihan Olahraga, 1(1), 63–74.
Ardias Surya Putra. (2015). Pemetaan Manajemen Pembinaan Sekolah Sepak bola (Ssb) Yang Berada
Dibawah Naungan Ika Ssb (Ikatan Keluarga Sekolah Sepak bola) Di Kabupaten Bantul. 1.
Dhoni, R. R., & Marani, J. Dan I. N. (2019:24-28). Jurnal Ilmiah Sport Coaching And Education Vol
. 1 Januari 2019 Pembentukan Karakter Kerjasama Melalui Sepak bola Usia Dini Pada Liga
Indonesia Junior Soccer League Rio Rama Dhoni Juriana Dan Ika Novitaria Marani Fakultas
Ilmu Keolahragaan Universitas Nege. 1.
Dipiarsa, Yunus, & Andiana. (2020). Analisis Gerak Pada Shooting Menggunakan Punggung Kaki
Dalam Olahraga Sepak Bola (Studi Kasus Pada Sekolah Sepak bola Putra Arema U-15). Journal
Of Sport Science And Health, 2(2), 137–144.
Gabriel Possenti. (2017). Pengembangan Media Aplikasi Peraturan Permainan Dan Perwasitan Sepak
Bola Berbasis Android. 4, 9–15.
Harsono. (2015:32). Periodisasi Program Pelatihan. Bandung:Remaja Rosdakarya
.
H, A. F. (2013). Tingkat Keterampilan Bermain Sepak bola Siswa Usia 14-15 Tahun Ssb Satria
Pandawa Klaten. International Migration Review, 47(2), 330-373.
Http://[Link]/Doi/10.1111/Imre.12028/Abstract
[Link]. (2019). Pengembangan Log Book Pembelajaran Sepak Bola Dengan Pendekatan Taktis.
Jurnal Prestasi, 3(6), 68. Https://[Link]/10.24114/Jp.V3i6.15895
Mohammad Fadhil Ulum. (2013). Pengaruh Latihan Interval Pendek Terhadap Peningkatan Daya
Tahan Anaerobik Pada Pemain Hoki Sma 16. Jurnal Ilmiah, 2(1), 9.
Muhammad Sidik, N., Kurniawan, F., & Effendi, R. (2021). Pengaruh Latihan Sepak bola Empat
Gawang Terhadap Kemampuan Passing Stopping Sepak bola Ekstrakurikuler Di Smp Islam
Karawang. Jurnal Literasi Olahraga, 2(1), 60–67. Https://[Link]/10.35706/Jlo.V2i1.4434
Nugroho, W. A. (2016). Manajemen Pembinaan Sepak bola Pada Sekolah Sepak bola (Ssb) U-16 Se-
Kabupaten Wonosobo Tahun 2015. Skripsi Pendidikan Jasmani Kesehatan Dan Rekreasi
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
Nurhasan. 2001. Test dan Pengukuran dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta:Depdiknas
365
Spirit Edukasia, Volume 02, No 02, Desember 2022, hal. 360-366
Nur Ilham Muhammad Sidik Dkk, Pengaruh Latihan Sepak Bola Empat Gawng Terhadap
Kemampuan Passing Stopping Sepak Bola Ekastrakulikuler Di Smp Islam Karawang (2020:61-
67)
Rinaldi.P. (2014). Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Medan 2014. 2014.
Saptiyanto, I. D. (2015). Terhadap Ketepatan Shooting ( Eksperimen Pada Ssb Apacinti Kabupaten
Semarang U-16 Tahun 2015 ). Skripsi, 19–20.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D. Bandung: Alfabeta Bandung.
Suharsimi Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Sutrisno Hadi, 2009, Metodelogi Penelitian, Andi Ofset, Yogyakarta.
366