PROPOSAL PENELITIAN
PERAN GANDA FUNGSIONARIS LEMBAGA
KEMAHASISWAAN FIS-H UNM DALAM MENJALANKAN
PROGRAM KERJA DAN PENUNTASAN AKADEMIK
THE DUAL ROLE OF FUNCTIONAL OFFICERS IN THE
STUDENT ORGANIZATION OF FIS-H UNM IN
IMPLEMENTING WORK PROGRAMS AND ACADEMIC
COMPLETION
PUTRI RAHAYU
220601501004
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
JURUSAN PPKn DAN HUKUM BISNIS
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUKUM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2025
HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL
Judul : Peran Ganda Fungsionaris Lembaga
Kemahasiswaan FIS-H UNM dalam
Menjalankan Program Kerja dan Penuntasan
Akademik
Nama : Putri Rahayu
NIM 220601501004
Jurusan : PPKn dan Hukum Bisnis
Program Studi : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Andi Aco Agus, S.H.,[Link] Dr. Imam Suyitno, [Link].
NIP. 19670818 20051 1 001 NIP. 19601209 198803 1 002
Mengetahui,
Ketua Jurusan Ketua Program Studi
Dr. Mustaring, [Link] Dr. Andi Aco Agus, S.H.,[Link]
NIP. 19671229 199403 1 002 NIP. 19670818 20051 1 001
i
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL ......................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1. Latar Belakang ............................................................................................ 1
2. Rumusan Masalah ....................................................................................... 6
3. Tujuan Penelitian ........................................................................................ 6
4. Manfaat Penelitian ...................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP ....................... 9
A. Kajian Pustaka............................................................................................. 9
1. Peran Ganda ............................................................................................ 9
2. Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan ............................................... 10
3. Program Kerja Lembaga Kemahasiswaan ............................................ 12
4. Penuntasan Akademik Mahasiswa ........................................................ 14
5. Landasan Teori ...................................................................................... 16
6. Penelitian Terdahulu ............................................................................. 19
B. Kerangka Konsep ...................................................................................... 22
BAB II METODE PENELITIAN ...................................................................... 23
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian................................................................ 23
B. Lokasi Penelitian ....................................................................................... 24
C. Fokus dan Deskripsi Fokus Penelitian ...................................................... 25
D. Tahap-tahap Penelitian .............................................................................. 26
E. Jenis dan Sumber Data .............................................................................. 28
F. Instrumen Penelitian.................................................................................. 30
G. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data .................................................. 31
H. Pengecekan Keabsahan Data..................................................................... 32
I. Teknik Analisis Data ................................................................................. 33
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 35
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pendidikan tinggi di Indonesia tidak hanya bertujuan untuk mencetak
lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan kerja,
melainkan juga membentuk manusia yang berkarakter, bertanggung jawab, dan
memiliki daya saing. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan
Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158) secara
eksplisit menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam
mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi individu yang beriman,
berakhlak mulia, sehat, cakap, mandiri, serta bertanggung jawab sebagai warga
negara yang demokratis (Republik Indonesia, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa
keberhasilan pendidikan tinggi tidak semata-mata diukur dari aspek akademik,
tetapi juga dari kemampuan mahasiswa dalam menjalankan peran sosial dan
kepemimpinan secara seimbang.
Salah satu medium strategis yang dapat menghubungkan antara penguasaan
keilmuan dan praktik kewarganegaraan adalah organisasi kemahasiswaan.
Keikutsertaan dalam organisasi kampus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk
mengembangkan keterampilan komunikasi, membangun jejaring, melatih
kepemimpinan, serta mengasah kemampuan menyelesaikan persoalan secara
kolaboratif. Penelitian Handani dan Prayoga (2022) menegaskan bahwa organisasi
kemahasiswaan berperan signifikan dalam pengembangan soft skills mahasiswa,
seperti komunikasi interpersonal, tanggung jawab sosial, kerja tim, dan
1
2
penghormatan terhadap perbedaan. Aktivitas ini mendorong mahasiswa untuk lebih
terlibat secara aktif, reflektif, dan solutif dalam dinamika sosial di lingkungan
kampus maupun masyarakat (Handani & Prayoga, 2022).
Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi juga menjadi sarana pelatihan
dalam pengelolaan waktu, penentuan prioritas, dan menjaga konsistensi antara
peran akademik dan nonakademik. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang
Standar Nasional Pendidikan Tinggi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2020 Nomor 47), yang menekankan pentingnya pembelajaran yang mencakup
ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan melalui kegiatan kurikuler maupun
ekstrakurikuler, termasuk organisasi kemahasiswaan (Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia, 2020). Dengan demikian, partisipasi aktif
mahasiswa dalam organisasi tidak dapat dipandang sekadar sebagai aktivitas
tambahan, melainkan sebagai bagian integral dari pendidikan tinggi yang holistik.
Mahasiswa pada dasarnya memiliki tanggung jawab utama dalam
menyelesaikan proses akademik secara optimal. Kewajiban ini mencakup
kehadiran dalam perkuliahan, penyelesaian tugas, keterlibatan dalam kegiatan
ilmiah, serta penyusunan skripsi sebagai tahap akhir studi. Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi (2020) menegaskan bahwa capaian pembelajaran mahasiswa
harus mencakup penguasaan keilmuan, kemampuan berpikir kritis, dan
keterampilan analitis. Oleh karena itu, kemampuan dalam mengelola waktu,
menjaga kedisiplinan belajar, dan mempertahankan kemandirian akademik menjadi
3
elemen penting dalam menentukan keberhasilan studi (Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, 2020).
Di Universitas Negeri Makassar (UNM), khususnya di Fakultas Ilmu Sosial
dan Hukum (FIS-H), organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas seperti Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) memegang peranan penting dalam mewadahi
aspirasi, mengembangkan potensi, dan melaksanakan berbagai program kerja
strategis yang melibatkan mahasiswa lintas program studi. Berdasarkan data
terbaru, BEM FIS-H UNM periode 2024–2025 telah menyelesaikan masa
kepengurusannya dengan total 33 fungsionaris yang berasal dari beragam latar
belakang akademik. Mayoritas pengurus berada pada semester 7 ke atas, bahkan
sebagian telah melewati semester 8. Pada fase tersebut, para mahasiswa umumnya
tengah fokus pada penyelesaian studi, seperti pengerjaan skripsi dan persiapan
kelulusan. Kondisi ini membuat keterlibatan mereka di BEM menuntut manajemen
waktu yang lebih cermat agar pelaksanaan tugas organisasi tetap berjalan tanpa
mengganggu pencapaian akademik (Badan Eksekutif Mahasiswa FIS-H UNM,
2025).
BEM FIS-H UNM memiliki struktur kelembagaan yang terbagi ke dalam
beberapa kementerian, masing-masing menjalankan program kerja yang bervariasi
namun saling terkait untuk mendukung visi dan misi organisasi. Program kerja
tersebut mencakup kegiatan yang bersifat akademik, sosial, advokatif, dan
pengembangan sumber daya mahasiswa. Pelaksanaan program kerja memerlukan
koordinasi intensif, pembagian tugas yang jelas, dan keterlibatan aktif seluruh
4
fungsionaris sepanjang periode kepengurusan (Badan Eksekutif Mahasiswa FIS-H
UNM, 2025).
Kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi para fungsionaris BEM
dalam menyeimbangkan tanggung jawab akademik dan amanah organisasi.
Padatnya agenda kerja, rapat koordinasi, dan kegiatan lapangan dapat mengurangi
waktu belajar, mengubah prioritas, serta memerlukan strategi adaptif agar kedua
peran dapat dijalankan secara optimal. Penelitian Saputri, Puspita, dan Sembiring
(2020) menunjukkan bahwa tanpa pengelolaan peran yang baik, mahasiswa
berisiko mengalami konflik peran dan penurunan performa akademik. Sebaliknya,
jika mampu mengelola kedua peran tersebut secara seimbang, mahasiswa dapat
mengembangkan keterampilan manajemen waktu, daya tahan mental, dan kapasitas
kepemimpinan yang bermanfaat di masa depan (Saputri, Puspita, & Sembiring,
2020).
Dalam konteks BEM FIS-H UNM, mahasiswa fungsionaris harus
menghadapi tuntutan peran ganda yang bersifat simultan: memenuhi standar
akademik termasuk progres skripsi, IPK, dan penyelesaian mata kuliah, serta
memastikan capaian program kerja kementerian. Teori konflik peran (role conflict)
menjelaskan bahwa ketidakseimbangan antara tuntutan akademik dan organisasi
dapat menimbulkan stres, kelelahan, serta menurunkan kinerja pada salah satu atau
kedua peran. Greenhaus dan Beutell (1985) membagi konflik peran menjadi konflik
berbasis waktu, tekanan, dan perilaku, yang secara nyata muncul dalam pengalaman
mahasiswa fungsionaris yang harus hadir di perkuliahan, menyelesaikan tugas, dan
melaksanakan program kerja secara bersamaan (Greenhaus & Beutell, 1985).
5
Selain tantangan manajemen waktu, pencapaian akademik menjadi
indikator penting keberhasilan mahasiswa dalam menjalankan peran ganda.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (2020) menekankan bahwa indikator seperti
jumlah mata kuliah yang telah ditempuh, IPK, serta kemajuan penyusunan skripsi
merupakan tolok ukur sejauh mana mahasiswa mampu menuntaskan studi tanpa
mengorbankan peran organisasi. Di sisi lain, kontribusi mahasiswa dalam
organisasi, berupa pencapaian target program kerja kementerian, menjadi ukuran
keberhasilan organisasi dan keterlibatan fungsionaris secara efektif (Badan
Eksekutif Mahasiswa FIS-H UNM, 2025).
Penelitian Nirmalasari dan Minai (2023) menunjukkan bahwa mahasiswa
yang mampu mengelola peran ganda dengan strategi koping yang baik, dukungan
sosial, dan pengaturan prioritas dapat mempertahankan kinerja akademik sekaligus
memenuhi target program organisasi. Temuan ini menunjukkan pentingnya
adaptasi perilaku dan pengelolaan prioritas bagi mahasiswa fungsionaris BEM,
sehingga konflik peran tidak menurunkan motivasi maupun produktivitas di kedua
ranah (Nirmalasari & Minai, 2023).
Berdasarkan kerangka tersebut, penelitian ini diarahkan untuk
mengeksplorasi pengalaman mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM periode
2024–2025 dalam menjalankan peran ganda, mengidentifikasi tantangan utama
dalam membagi waktu antara program kerja organisasi dan penuntasan akademik,
serta menilai hubungan antara pencapaian akademik dan kontribusi dalam
organisasi. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi teoretis dalam
6
kajian manajemen peran mahasiswa sekaligus rekomendasi praktis bagi perguruan
tinggi dalam membina mahasiswa fungsionaris secara holistik.
2. Rumusan Masalah
1. Apa tantangan utama yang dihadapi mahasiwa fungsionaris BEM FIS-H UNM
dalam membagi waktu antara program kerja organisasi dan kewajiban
penuntasan akademik?
2. Bagaimana mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM menjelaskan kondisi
penuntasan akademik mereka selama masa kepengurusan dan bagaimana
mereka memahami keterkaitannya dengan keterlibatan mereka dalam
organisasi?
3. Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi dan menganalisis tantangan utama yang dihadapi mahasiswa
fungsionaris BEM FIS-H UNM dalam menyeimbangkan pelaksanaan program
kerja organisasi dengan kewajiban penuntasan akademik.
2. Mendeskripsikan kondisi penuntasan akademik mahasiswa fungsionaris BEM
FIS-H UNM selama masa kepengurusan dan memahami bagaimana mereka
mengaitkan kondisi tersebut dengan keterlibatan mereka dalam organisasi
4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap
pengembangan kajian ilmu Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya dalam aspek
pembentukan karakter, kepemimpinan, dan partisipasi aktif mahasiswa di
7
lingkungan pendidikan tinggi. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat
memperkaya literatur mengenai manajemen peran ganda mahasiswa, khususnya
bagaimana mahasiswa fungsionaris organisasi kemahasiswaan menyeimbangkan
tanggung jawab akademik dan amanah organisasi. Temuan ini diharapkan menjadi
dasar bagi penelitian selanjutnya dalam konteks integrasi kegiatan akademik dan
pengembangan kapasitas kepemimpinan mahasiswa.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Mahasiwa Fungsionaris
1. Memberikan wawasan mengenai pengalaman nyata dalam
menyeimbangkan program kerja organisasi dan kewajiban penuntasan
akademik.
2. Menjadi sarana refleksi bagi mahasiswa untuk menilai identitas diri,
kapasitas kepemimpinan, serta mengembangkan strategi manajemen
waktu, penentuan prioritas, dan pemanfaatan dukungan sosial secara lebih
efektif.
b. Bagi Lembaga Kemahasiswaan (BEM FIS-H UNM)
1. Menyediakan data empiris yang dapat digunakan untuk merancang pola
kerja, struktur pembagian tugas, dan pengelolaan program kerja yang lebih
efisien.
2. Mendukung penyusunan program pelatihan atau bimbingan bagi pengurus
agar beban ganda akademik dan organisasi dapat dikelola secara
seimbang.
8
c. Bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNM
1. Menyajikan informasi berbasis fakta tentang kondisi mahasiswa
fungsionaris, sehingga dapat menjadi acuan dalam merumuskan kebijakan
pendampingan akademik dan pengembangan kapasitas mahasiswa.
2. Memberikan masukan untuk memperkuat kerja sama antara fakultas dan
organisasi kemahasiswaan dalam memfasilitasi pengembangan soft skills,
kepemimpinan, serta kesejahteraan mahasiswa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP
A. Kajian Pustaka
1. Peran Ganda
Peran ganda terjadi ketika seseorang menjalankan dua atau lebih peran
sosial secara bersamaan. Dalam Kamus Sosiologi, peran dipahami sebagai panduan
perilaku yang didefinisikan secara sosial atas suatu posisi, dan ditentukan oleh
harapan sosial terhadap posisi tersebut, bukan oleh sifat pribadi individu
(Abercrombie, Hill, & Turner, 2010, hlm. 479).
Sementara itu, J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto dalam Sosiologi: Teks
Pengantar dan Terapan menjelaskan bahwa peran merupakan aspek dinamis dari
kedudukan; seseorang dianggap menjalankan peran apabila menunaikan hak dan
kewajibannya sesuai status sosial yang dimilikinya. Dengan demikian, peran dan
status saling bergantung dan tidak dapat dipisahkan (Narwoko & Suyanto, 2004,
hlm. 159).
Dalam praktiknya, peran ganda sering menimbulkan konflik ketika tuntutan
antarperan saling berbenturan. Gamadhila, Zubair, dan Nurhikmah (2024)
menyatakan bahwa kondisi ini dapat menimbulkan tekanan fisik dan emosional,
sehingga dibutuhkan kemampuan adaptasi dan manajemen waktu yang baik agar
individu dapat tetap menjaga keseimbangan peran (Gamadhila, Zubair, &
Nurhikmah, 2024, hlm. 295).
Dengan demikian, peran ganda menjadi tantangan sosial yang menuntut
kemampuan adaptasi, manajemen waktu, dan penetapan prioritas agar masing-
masing peran dapat dijalankan secara proporsional tanpa saling mengorbankan.
9
10
2. Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan
a. Fungsionaris
Fungsionaris adalah individu yang menjalankan fungsi kepengurusan dalam
organisasi kemahasiswaan, dengan tanggung jawab menggerakkan program kerja
serta mengelola struktur organisasi. Peran ini menuntut komitmen, koordinasi, dan
kesadaran terhadap tujuan bersama (Pusat Bahasa, 2008, dalam Gunawan et al.,
2017, hlm. 172).
Dalam konteks organisasi, fungsi (function) dipahami sebagai sesuatu yang
berhubungan dengan lainnya atau sesuatu yang bergantung pada lainnya (Panuju,
2021, hlm. 324). Dengan demikian, keberadaan fungsionaris tidak dapat dipisahkan
dari keterkaitannya dengan elemen organisasi lain, sebab peran yang dijalankan
selalu berhubungan secara timbal balik dan saling mendukung demi tercapainya
tujuan organisasi.
Batara dan Wijono (2019) menekankan bahwa fungsionaris memegang
posisi strategis dalam mengatur kegiatan serta menjalankan kebijakan organisasi.
Kemampuan kepemimpinan dan manajerial menjadi faktor kunci agar organisasi
dapat berjalan secara efektif dan harmonis (Batara & Wijono, 2019, hlm. 359).
Selain itu, fungsionaris berperan dalam pengembangan soft skills dan
kreativitas anggota melalui program kerja nyata. Kegiatan tersebut turut
meningkatkan kapasitas dan kualitas organisasi secara keseluruhan (Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023).
Dalam konteks BEM FIS-H UNM, fungsionaris berperan sebagai
penggerak utama organisasi fakultas, menjalankan program kerja tiap kementerian,
11
membina anggota, dan menjaga stabilitas lembaga. Keberhasilan BEM sangat
bergantung pada kualitas, tanggung jawab, dan konsistensi fungsionaris dalam
menjalankan tugasnya sesuai tujuan bersama, sekaligus menyeimbangkan peran
akademik dan organisasi secara efektif.
b. Lembaga Kemahasiswaan
Lembaga kemahasiswaan memiliki peran penting dalam mengembangkan
kepemimpinan, keterampilan komunikasi, dan kapasitas manajerial mahasiswa.
Lembaga ini juga berfungsi sebagai wadah aspirasi, pelaksana advokasi, dan
jembatan komunikasi antara mahasiswa dan pihak kampus (Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023). Secara operasional,
lembaga merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program kerja yang
mendukung pengembangan akademik maupun sosial mahasiswa, sehingga menjadi
sarana pembelajaran praktis bagi fungsionaris dalam mengelola organisasi.
Secara konseptual, organisasi dipahami sebagai kesatuan orang-orang yang
tersusun secara teratur berdasarkan pembagian tugas tertentu (Syani, 2012, hlm.
115). Artinya, lembaga kemahasiswaan bukan sekadar struktur formal, tetapi
merupakan sistem sosial yang dibangun atas dasar koordinasi dan kerja sama
terarah untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ini, fungsionaris
menempati posisi penting sebagai penggerak utama dinamika lembaga sekaligus
penanggung jawab keberlangsungan program kerja.
Teori kelembagaan (institutional theory) menjelaskan bahwa organisasi
dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Kontingensi sosial ini
menghasilkan perbedaan dalam struktur, budaya, dan perilaku anggota organisasi
12
(Abercrombie, Hill, & Turner, 2010, hlm. 281). Perspektif ini relevan untuk
memahami bagaimana lembaga kemahasiswaan menyesuaikan pola interaksi, tata
kelola, dan strategi operasionalnya sesuai dengan konteks fakultas serta tantangan
yang dihadapi oleh fungsionaris. Dalam konteks BEM FIS-H UNM, hal ini terlihat
pada penyesuaian struktur, program kerja, dan koordinasi antar kementerian untuk
mendukung pengembangan akademik dan sosial mahasiswa secara seimbang.
3. Program Kerja Lembaga Kemahasiswaan
a. Program Kerja
Program kerja adalah rangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis
oleh organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dalam
konteks lembaga kemahasiswaan, program kerja menjadi pedoman penting agar
aktivitas organisasi berjalan secara terarah dan mendukung pengembangan
kemampuan mahasiswa secara optimal (Pramono, Suwarno, & Widodo, 2020, hlm.
22).
Selain menjadi acuan teknis, program kerja membantu organisasi dalam
menyelaraskan arah kegiatan dengan visi dan misi strategisnya. Maulina (2019,
hlm. 99) menegaskan bahwa program kerja yang disusun secara terencana dapat
meningkatkan mutu pelaksanaan kegiatan serta membentuk karakter mahasiswa.
Dalam konteks BEM FIS-H UNM, program kerja tidak hanya menjadi
pedoman pelaksanaan, tetapi juga sarana bagi fungsionaris untuk mengelola
organisasi, menyalurkan aspirasi mahasiswa, dan menjaga keseimbangan antara
tanggung jawab akademik dan amanah organisasi. Program kerja yang jelas,
13
terukur, dan sistematis membantu pengurus memprioritaskan kegiatan dan
mengelola waktu secara efektif.
b. Jenis Program Kerja Lembaga Kemahasiswaan
1. Program Kerja Berorientasi Akademik
Program kerja berorientasi akademik fokus pada pengembangan kapasitas
intelektual mahasiswa melalui seminar, workshop, pelatihan, lomba karya ilmiah,
riset, dan kegiatan lain yang bersifat ilmiah (Panduan PPK Ormawa, 2023).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi akademik dan prestasi
mahasiswa, sekaligus membangun budaya belajar yang aktif dan mendukung
pencapaian akademik secara optimal.
Dalam BEM FIS-H UNM, program akademik tercermin dalam kegiatan
seperti KERIS (Kelas Riset), Tim Riset, dan LK II yang menekankan
pengembangan keterampilan analitis dan riset bagi mahasiswa.
2. Program Kerja Berorientasi Non-Akademik
Program kerja berorientasi non-akademik berfokus pada pengembangan
soft skills, kepemimpinan, minat dan bakat, kegiatan sosial, serta advokasi
(Panduan PPK Ormawa, 2023). Tujuannya adalah membentuk karakter mahasiswa,
meningkatkan kerja sama, dan mengasah keterampilan komunikasi dan manajerial.
Contoh dalam BEM FIS-H UNM meliputi Skill-Up BEM, Teras Baca,
Workshop Advokasi, dan Kelas Kebendaharaan yang mendorong pengembangan
kapasitas anggota di luar ranah akademik.
14
4. Penuntasan Akademik Mahasiswa
a. Penuntasan Akademik
Penuntasan akademik merupakan proses mahasiswa dalam menyelesaikan
seluruh kewajiban akademik hingga dinyatakan lulus dan berhak memperoleh gelar
secara resmi. Kelulusan dicapai setelah mahasiswa memenuhi capaian
pembelajaran, menyelesaikan seluruh beban kredit, serta menuntaskan tugas akhir
sesuai dengan kurikulum yang berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
(Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2014).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Pendidikan Tinggi menyatakan bahwa mahasiswa dinyatakan lulus apabila telah
menyelesaikan seluruh proses pembelajaran sesuai standar nasional pendidikan
tinggi, termasuk tugas akhir sebagai salah satu persyaratan utama (Pasal 18,
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158).
Hutapea (2024, hlm. 14) menyatakan bahwa penuntasan masa studi
mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal, seperti motivasi dan
manajemen waktu, maupun eksternal, seperti dukungan keluarga dan lingkungan
akademik.
Dengan demikian, penuntasan akademik dapat dipahami sebagai bentuk
keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan studi secara menyeluruh, tepat
waktu, dan sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku, yang sekaligus
mencerminkan capaian kompetensi serta kesiapan mahasiswa untuk memperoleh
pengakuan akademik secara formal.
15
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi Penuntasan Akademik
Penuntasan studi mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor yang
memengaruhi proses belajar selama masa studi. Secara umum, faktor tersebut
terbagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup
motivasi belajar, kemampuan manajemen waktu, dan gaya belajar yang digunakan
mahasiswa, sedangkan faktor eksternal meliputi dukungan keluarga, lingkungan
belajar yang kondusif, serta ketersediaan fasilitas kampus seperti perpustakaan dan
laboratorium (Wicaksono, Linarsih, & Putri, 2023, hlm. 126). Oleh karena itu,
strategi yang tepat perlu diterapkan untuk mengatasi hambatan dari kedua sisi agar
mahasiswa dapat menyelesaikan studinya secara optimal dan tepat waktu.
c. Peran Lembaga Kemahasiswaan dalam Mendukung Penuntasan
Akademik
Lembaga kemahasiswaan memiliki peran penting dalam mendukung
keberhasilan akademik mahasiswa melalui berbagai program bantuan akademik,
seperti kelompok belajar, pelatihan manajemen waktu, dan penyediaan informasi
akademik. Partisipasi aktif dalam organisasi kampus terbukti meningkatkan
prestasi akademik dan kesiapan kerja mahasiswa, karena turut memfasilitasi
pengembangan keterampilan non-akademik (soft skills) seperti kepemimpinan,
komunikasi, dan kerja tim yang mendukung keberhasilan studi (Mustaqim &
Wahjoedi, 2024, hlm. 29). Oleh karena itu, lembaga kemahasiswaan tidak hanya
berfungsi sebagai ruang pengembangan sosial, tetapi juga sebagai mitra strategis
dalam mendorong pencapaian akademik mahasiswa secara menyeluruh.
16
5. Landasan Teori
Landasan teori menjadi fondasi konseptual yang membingkai seluruh
proses penelitian, memberikan pijakan dalam memahami permasalahan dan
menjelaskan keterkaitan antarvariabel dalam kerangka konsep. Dalam penelitian
ini, teori-teori yang digunakan meliputi teori peran (sebagai grand theory), teori
konflik peran dan manajemen waktu (sebagai teori pendukung), serta teori
dukungan sosial dan organisasi adaptif (sebagai teori kontekstual).
a. Teori Peran (Role Theory)
Teori peran merupakan grand theory dalam penelitian ini. Dalam buku
Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan yang disunting oleh J. Dwi Narwoko dan
Bagong Suyanto, peran (role) dijelaskan sebagai aspek dinamis dari kedudukan.
Seseorang dikatakan menjalankan peran ketika ia melaksanakan hak dan
kewajibannya sesuai status sosial yang dimiliki. Peran dan status saling bergantung,
tidak ada peran tanpa status, dan sebaliknya. Pemahaman ini menegaskan bahwa
mahasiswa fungsionaris menghadapi dinamika peran ganda karena memikul
tanggung jawab dari dua status sosial yang berbeda namun saling berkaitan
(Narwoko & Suyanto, 2017, hlm. 159).
Ralph Linton (1936) juga mendefinisikan peran sebagai aspek dinamis dari
status, yaitu seperangkat harapan terhadap perilaku individu berdasarkan posisinya
dalam masyarakat. Dalam hal ini, mahasiswa fungsionaris menjalankan dua peran
sekaligus: sebagai pelajar dan sebagai penggerak organisasi.
17
Teori ini menjelaskan akar dari konflik dan tantangan yang muncul akibat
tuntutan akademik dan tugas organisasi, serta bagaimana mahasiswa berupaya
menemukan keseimbangan dalam menjalankan keduanya.
Untuk memahami peran sebagai hasil kesadaran individu, konsep tindakan
sosial Max Weber relevan. Ia menyebut tindakan sosial sebagai perilaku bermakna
yang diarahkan pada orang lain. Mahasiswa fungsionaris menjalankan peran bukan
sekadar kewajiban struktural, melainkan sebagai wujud kesadaran dan tanggung
jawab sosial dalam organisasi dan akademik.
b. Teori Konflik Peran (Role Conflict Theory)
Menurut William J. Goode (1960), konflik peran terjadi ketika dua atau lebih
peran yang dijalankan seseorang memiliki tuntutan yang saling bertentangan atau
tidak dapat dipenuhi secara bersamaan. Dalam konteks mahasiswa fungsionaris,
konflik peran dapat muncul ketika jadwal kegiatan organisasi bertabrakan dengan
jadwal akademik, atau ketika ekspektasi dari lingkungan organisasi tidak sejalan
dengan beban kuliah.
Katz dan Kahn (1978) menambahkan bahwa konflik peran tidak hanya
bersifat struktural, tetapi juga psikologis, karena individu harus memilih atau
menyeimbangkan dua tanggung jawab besar yang sama-sama penting. Teori ini
digunakan untuk menjelaskan bagian “tantangan” dalam kerangka konsep
penelitian ini.
c. Teori Manajemen Waktu (Time Management Theory)
Menurut Lakein (1973), manajemen waktu adalah kemampuan individu
untuk merencanakan dan mengatur waktu secara efektif guna menyelesaikan
18
berbagai tanggung jawab dalam kehidupan. Dalam konteks peran ganda
mahasiswa, teori ini menjelaskan bagaimana mahasiswa fungsionaris
menggunakan strategi pengelolaan waktu dan prioritas untuk menyeimbangkan
tugas akademik dan organisasi.
Stephen R. Covey (1994) juga menyatakan bahwa manajemen waktu tidak
sekadar mengatur jadwal, tetapi juga melibatkan manajemen diri, yaitu kemampuan
untuk memutuskan apa yang paling penting dan mendesak.
d. Teori Dukungan Sosial
Menurut House (1981), dukungan sosial dibagi menjadi empat jenis utama:
dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan instrumental, dan dukungan
penghargaan. Keempat jenis dukungan ini sangat relevan dalam konteks mahasiswa
fungsionaris yang menghadapi tekanan ganda.
Teori ini membantu menjelaskan peran penting dari dukungan teman satu
tim, keluarga, serta sistem organisasi kampus yang adaptif dalam menjaga
keseimbangan peran mahasiswa. Dukungan sosial juga menjadi penyangga (buffer)
terhadap stres yang muncul akibat peran ganda, sebagaimana dijelaskan dalam
pendekatan buffering hypothesis oleh Cohen & Wills (1985).
e. Teori Organisasi Adaptif dan Kolaboratif
Organisasi kemahasiswaan perlu dipahami sebagai struktur sosial dinamis
yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dalam buku Sosiologi: Teks Pengantar dan
Terapan (Prasetyo & Suyanto, 2011), teori organisasi mencakup analisis tentang
struktur dan perilaku sosial dalam organisasi, yang berkembang dari model
birokratis menuju model organik yang lebih fleksibel, desentralistik, dan memberi
19
ruang kebebasan individu. Pendekatan ini relevan dalam mendukung fungsi ganda
mahasiswa.
Schein (2010) menyebut organisasi adaptif sebagai organisasi yang mampu
menyesuaikan struktur, budaya, dan kebijakan terhadap kebutuhan anggotanya.
Dengan pendekatan adaptif dan kolaboratif , organisasi kemahasiswaan dapat
menciptakan sistem yang memungkinkan mahasiswa tetap produktif tanpa
mengabaikan studi, melalui regulasi fleksibel dan semangat gotong royong.
Teori-teori tersebut saling melengkapi dalam menjelaskan fenomena peran
ganda mahasiswa fungsionaris. Dalam penelitian ini, Teori Peran (Role Theory)
menjadi landasan teori paling tepat dan utama untuk dijadikan dasar konseptual.
Teori Peran memberikan pijakan yang kuat dalam memahami bagaimana
mahasiswa menghadapi tuntutan dan harapan berbeda dari dua posisi sosialnya,
serta menjelaskan fenomena konflik peran dan upaya keseimbangan yang mereka
lakukan. Selanjutnya, Teori Konflik Peran dan Teori Manajemen Waktu
mendukung penjelasan operasional terkait tantangan konkret dan strategi
pengelolaan yang digunakan mahasiswa dalam menjalankan peran ganda. Di sisi
lain, Teori Dukungan Sosial dan Teori Organisasi Adaptif memberikan konteks
tambahan yang memperkuat analisis mengenai faktor pendukung eksternal berupa
dukungan sosial dari lingkungan dan fleksibilitas struktur organisasi yang
memungkinkan mahasiswa tetap produktif sekaligus menjaga keseimbangan peran.
6. Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu yang relevan adalah:
a. Penelitian yang dilakukan oleh Anjasmara Mirunggan Satria (2020) dengan
20
judul Dinamika Mahasiswa Berprofesi Ganda (Kehidupan Mahasiswa Menjalani
Peran Ganda di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta) membahas mengenai
motivasi mahasiswa dalam menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja seni,
hambatan yang dihadapi, serta strategi manajemen waktu yang digunakan. Hasil
dari penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dan kemampuan mengatur
waktu secara efektif menjadi faktor penting dalam menyeimbangkan peran
akademik dan non- akademik yang dijalankan oleh mahasiswa.
Adapun persamaan antara penelitian ini dengan penelitian yang akan
dilakukan adalah sama-sama membahas peran ganda yang dijalani oleh mahasiswa
dalam menjalankan dua tanggung jawab sekaligus. Namun, perbedaannya terletak
pada fokus kajian. Penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada mahasiswa
yang menjalani profesi sebagai pekerja seni di luar aktivitas perkuliahan, sedangkan
penelitian ini akan berfokus pada mahasiswa yang merangkap sebagai fungsionaris
lembaga kemahasiswaan, dengan penekanan pada keterkaitan antara peran tersebut
dengan pelaksanaan program kerja organisasi dan penyelesaian studi akademiknya.
b. Penelitian kedua yaitu Magfirah (2018) dengan judul Pengaruh Konflik
Peran Ganda terhadap Prestasi Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Palopo.
Penelitian ini menunjukkan bahwa konflik peran ganda yang dialami mahasiswa
memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi akademik mereka. Mahasiswa yang
menghadapi konflik peran, terutama dalam hal membagi waktu dan tanggung jawab
antara peran sebagai pelajar dan peran lainna, cenderung mengalami penurunan
dalam pencapaian akademiknya.
21
Adapun persamaan dari penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan
penulis yaitu sama-sama membahas hubungan antara peran ganda dan prestasi
akademik mahasiswa. Namun, perbedaan terletak pada fokus kajiannya. Penelitian
Magfirah meninjau konflik peran ganda secara umum, sedangkan penelitian penulis
lebih terfokus pada mahasiswa yang menjadi fungsionaris lembaga kemahasiswaan
serta bagaimana mereka mengimplementasikan program kerja dalam menjalankan
peran gandanya.
c. Penelitian ketiga yaitu Wahid Hidayat dkk. (2023) dengan judul Analisis
Pengaruh Organisasi Kemahasiswaan terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa
FMIPA Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa
keterlibatan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan memiliki pengaruh
positif terhadap prestasi akademik, meskipun pengaruh tersebut tidak signifikan
secara statistik. Namun demikian, partisipasi dalam organisasi memberikan
kontribusi terhadap pengembangan soft skills mahasiswa, seperti manajemen
waktu, komunikasi, dan tanggung jawab.
Adapun persamaan dari penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu sama-
sama mengkaji hubungan antara aktivitas organisasi kemahasiswaan dan kinerja
akademik mahasiswa. Perbedaannya terletak pada pendekatan dan fokus penelitian.
Penelitian Wahid Hidayat dkk. menggunakan pendekatan kuantitatif dan
membahas organisasi kemahasiswaan secara umum, sedangkan penelitian
penulis bersifat kualitatif dengan fokus khusus pada peran ganda fungsionaris
lembaga kemahasiswaan dalam menjalankan program kerja serta menuntaskan
kewajiban akademik di lingkungan FIS- H UNM.
22
B. Kerangka Konsep
Untuk lebih memahami alur dari penelitian ini dapat dilihat dari
kerangka konsep dibawah ini:
Tabel 2.1 Skema Kerangka Konsep
Peran Ganda Fungsionaris Lembaga
Kemahasiswaan FIS-H UNM
Tantangan mahasiswa Capaian akademik mahasiswa
fungsionaris dalam fungsionaris, meliputi indeks
menjalankan peran ganda, prestasi kumulatif (IPK),
meliputi kemampuan mengatur jumlah mata kuliah yang
waktu, potensi konflik peran ditempuh, dan perkembangan
antara tugas akademik dan penyusunan skripsi. Termasuk
tanggung jawab organisasi, keterlibatan dalam organisasi
tekanan akibat beban ganda, yang dilihat dari kehadiran,
serta strategi yang digunakan pelaksanaan program kerja,
untuk menjaga keseimbangan dan kontribusi terhadap
kedua peran tersebut. pencapaian tujuan organisasi.
Pemahaman tentang peran ganda mahasiswa
fungsionaris dalam menyeimbangkan kewajiban
akademik dan tanggung jawab organisasi, termasuk
tantangan yang dihadapi dan strategi yang
digunakan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian merupakan strategi umum yang digunakan peneliti
untuk memahami realitas sosial secara menyeluruh. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif karena bertujuan menggali secara mendalam pengalaman
subjektif mahasiswa fungsionaris dalam menjalankan peran ganda, baik dalam
organisasi kemahasiswaan maupun dalam studi akademik.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep verstehen yang dikembangkan oleh
Max Weber, di mana peneliti berupaya memahami makna subjektif di balik
tindakan sosial subjek penelitian. Artinya, peneliti tidak hanya mencatat perilaku
yang tampak, tetapi juga menafsirkan alasan, motivasi, serta cara pandang subjek
terhadap situasi dan realitas sosial yang mereka hadapi.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Menurut Sugiyono (2020:9), penelitian kualitatif adalah metode
penelitian yang digunakan untuk meneliti objek dalam kondisi alamiah, di mana
peneliti menjadi instrumen kunci, pengumpulan data dilakukan secara triangulasi
(gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan
makna daripada generalisasi.
Pendekatan deskriptif digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi atau
peristiwa secara sistematis, faktual, dan akurat sesuai dengan keadaan yang terjadi
23
24
di lapangan tanpa manipulasi variabel (Sugiyono, 2020:147). Dalam konteks ini,
penelitian difokuskan pada mahasiswa fungsionaris Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) FIS-H UNM, dengan tujuan untuk mendeskripsikan bagaimana mereka
menjalankan peran ganda dalam menyeimbangkan kewajiban akademik dengan
tanggung jawab organisasi.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas
Negeri Makassar (FIS-H UNM), yang berlokasi di Kampus Gunung Sari, Kota
Makassar, Sulawesi Selatan. FIS-H UNM menaungi berbagai program studi dan
memiliki organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas, salah satunya adalah Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang menjadi wadah koordinasi, representasi, dan
pengembangan kapasitas kepemimpinan mahasiswa melalui program kerja dan
kegiatan kelembagaan.
Lokasi penelitian dipilih secara purposive karena aktivitas fungsionaris
BEM FIS-H UNM mencerminkan dinamika peran ganda mahasiswa sebagai
pengurus organisasi sekaligus akademisi. Subjek penelitian merupakan mahasiswa
fungsionaris BEM FIS-H UNM periode 2024-2025 yang menjalankan peran
kepengurusan dan terlibat dalam pelaksanaan program kerja selama masa jabatan.
Akses penelitian diperoleh melalui prosedur resmi perizinan dan koordinasi
kelembagaan fakultas, sehingga pengumpulan data berlangsung efektif sesuai
kaidah etika penelitian. Seluruh proses penelitian dilaksanakan dengan menjunjung
tinggi prinsip objektivitas, kerahasiaan, dan etika penelitian agar temuan yang
dihasilkan valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
25
C. Fokus dan Deskripsi Fokus Penelitian
1. Fokus Penelitian
a. Peran ganda mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM, yang mencakup
keterlibatan simultan dalam pelaksanaan program kerja organisasi dan
penuntasan kewajiban akademik.
b. Program kerja BEM FIS-H UNM, yang meliputi pengelolaan, pelaksanaan,
dan evaluasi kegiatan sebagai tanggung jawab mahasiswa fungsionaris.
c. Penuntasan akademik mahasiswa, yaitu proses penyelesaian seluruh kewajiban
akademik secara optimal sambil tetap menjalankan tanggung jawab organisasi.
2. Deskripsi Fokus Penelitian
a. Peran ganda mahasiswa fungsionaris menekankan bagaimana mereka
menyeimbangkan dua ranah tanggung jawab utama, yakni organisasi dan
akademik, dalam kegiatan sehari-hari, serta bagaimana peran ini direalisasikan
secara konkret.
b. Program kerja difokuskan pada pengelolaan, pelaksanaan, dan evaluasi
kegiatan BEM FIS-H UNM, termasuk strategi adaptif yang diterapkan
mahasiswa fungsionaris untuk memastikan program berjalan efektif dan sesuai
tujuan organisasi.
c. Penuntasan akademik menyoroti bagaimana mahasiswa menyelesaikan
kewajiban akademik secara optimal sambil tetap terlibat aktif dalam organisasi,
serta peran dukungan sosial dan kelembagaan dalam membantu keberhasilan
penuntasan akademik.
26
D. Tahap-tahap Penelitian
1. Tahap Perencanaan
Tahap ini mencakup langkah awal sebagai dasar dalam melaksanakan penelitian
yang terarah dan valid secara metodologis.
a. Identifikasi dan Perumusan Masalah
Peneliti mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fenomena nyata di
lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar (FIS-H
UNM), khususnya pada mahasiswa yang menjabat sebagai fungsionaris di Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIS-H UNM. Mahasiswa tersebut memikul dua
tanggung jawab utama, yaitu menjalankan program kerja organisasi dan
menuntaskan kewajiban akademik. Permasalahan ini dirumuskan melalui observasi
awal dan diskusi eksploratif dengan beberapa fungsionaris yang bersedia
memberikan informasi awal.
b. Kajian Literatur dan Studi Pendahuluan
Peneliti mengkaji teori-teori yang relevan, termasuk teori peran, teori
konflik peran, manajemen waktu, dukungan sosial, dan organisasi adaptif, sebagai
landasan konseptual penelitian. Selain itu, studi pendahuluan dilakukan untuk
memahami dinamika dan ritme kerja BEM FIS-H UNM, baik dari aspek struktural
maupun fungsional, sehingga memberikan pemahaman yang komprehensif
mengenai pelaksanaan program kerja dan penuntasan akademik mahasiswa
fungsionaris.
c. Penyusunan Desain Penelitian
Peneliti merancang penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif,
27
menentukan fokus studi, menetapkan strategi pemilihan informan, serta
menyiapkan instrumen pengumpulan data seperti pedoman wawancara mendalam
dan lembar observasi.
2. Tahap Pelaksanaan
Tahap ini merupakan pelaksanaan nyata dari kegiatan penelitian lapangan.
a. Pengumpulan Data Lapangan
Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan mahasiswa fungsionaris
aktif dari BEM FIS-H UNM untuk mengeksplorasi pengalaman mereka dalam
menjalankan peran organisasi dan akademik secara bersamaan, termasuk strategi
yang diterapkan serta tantangan yang dihadapi. Observasi juga dilakukan terhadap
aktivitas kelembagaan BEM FIS-H UNM, seperti rapat, pelaksanaan program kerja,
dan interaksi informal antaranggota. Dokumen pendukung, meliputi struktur
organisasi, arsip program kerja, dan jadwal kegiatan, dikumpulkan untuk
melengkapi pemahaman kontekstual penelitian.
b. Pencatatan dan Pengelolaan Data
Hasil wawancara ditranskrip dan dikodekan berdasarkan tema untuk
mengidentifikasi pola pengalaman, konflik peran, strategi adaptif, serta bentuk
dukungan yang diterima mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM. Catatan
lapangan dan hasil observasi disusun secara sistematis guna memperkuat triangulasi
data. Dokumen pendukung, seperti struktur organisasi, arsip program kerja, dan
jadwal kegiatan, diklasifikasikan sesuai relevansi tematik terhadap fokus penelitian.
3. Tahap Evaluasi dan Penyusunan Laporan
Tahap ini mencakup proses interpretasi data hingga penyusunan laporan akhir yang
28
utuh dan valid.
a. Analisis Data
Data dianalisis secara tematik dengan pendekatan induktif untuk
mengungkap pola pengalaman, konflik peran, strategi adaptif, dan dukungan yang
diterima mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM. Analisis menjaga konteks
naratif dan kedalaman makna dari setiap informan, sehingga temuan tetap akurat
dan kontekstual.
b. Penyusunan Laporan Penelitian
Laporan penelitian disusun secara sistematis, meliputi latar belakang
masalah, kajian teori, metodologi, temuan lapangan, pembahasan, hingga
kesimpulan dan saran. Selain sebagai persyaratan akademik, laporan ini diharapkan
memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan tata kelola dan sistem
pendampingan bagi mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM.
E. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
Penelitian ini menggunakan data kualitatif yang bertujuan untuk
menggambarkan pengalaman mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM dalam
menjalankan peran ganda mereka. Data yang digunakan terdiri atas:
a. Data Primer
Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa
fungsionaris BEM FIS-H UNM yang sedang maupun pernah menjabat. Wawancara
difokuskan pada pengalaman mereka dalam menjalankan peran ganda, yaitu
melaksanakan program kerja organisasi sekaligus menyelesaikan kewajiban
29
akademik. Selain itu, data primer juga diperoleh melalui observasi terhadap
aktivitas organisasi dan dinamika akademik yang dijalani oleh para fungsionaris.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari dokumen resmi organisasi seperti program
kerja, laporan kegiatan, serta arsip administrasi BEM FIS-H UNM. Selain itu, data
sekunder juga mencakup dokumen administrasi akademik kampus yang relevan,
serta literatur berupa buku, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu.
2. Sumber Data
Sumber utama data dalam penelitian ini meliputi:
a. Mahasiswa Fungsionaris
Informan kunci merupakan mahasiswa aktif FIS-H UNM yang menjabat
sebagai pengurus di BEM FIS-H UNM. Mereka dipilih karena secara langsung
menjalani peran ganda, yaitu sebagai pengurus organisasi mahasiswa sekaligus
sebagai mahasiswa yang harus menyelesaikan kewajiban akademiknya.
b. Dokumentasi Organisasi
Sebagai pelengkap data primer, dokumen organisasi digunakan untuk
memperkuat konteks, seperti program kerja, laporan kegiatan, dokumen
administrasi akademik kampus dan dokumentasi visual.
Penentuan informan dilakukan menggunakan teknik snowball sampling,
yaitu memilih informan awal yang relevan dan memungkinkan penambahan
informan berikutnya berdasarkan rekomendasi dari informan sebelumnya. Teknik
ini digunakan untuk mendapatkan data yang kaya, mendalam, dan relevan sesuai
fokus penelitian.
30
F. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama
yang secara langsung mengumpulkan, memahami, dan menafsirkan data melalui
keterlibatan di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNM. Peneliti
mengambil posisi sebagai observer-as-participant dengan cara berinteraksi secara
terbatas dengan informan dan mengamati dinamika organisasi, namun tetap
menjaga jarak profesional agar tidak memengaruhi objektivitas dan keutuhan data
penelitian.
Selain itu, digunakan pula instrument pendukung berikut:
1. Pedoman Wawancara
Digunakan untuk menggali pengalaman, strategi, tantangan, dan bentuk
dukungan yang dialami mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM. Wawancara
dilakukan dengan pertanyaan terbuka agar informan dapat menceritakan
pengalamannya secara lebih bebas.
2. Panduan Observasi
Digunakan untuk mencatat aktivitas dan interaksi mahasiswa fungsionaris
BEM FIS-H UNM, baik dalam kegiatan organisasi maupun dalam menjalani
perkuliahan. Observasi dilakukan di lingkungan kampus untuk memperoleh
gambaran nyata yang relevan dengan hasil wawancara.
3. Dokumentasi
Meliputi arsip organisasi BEM FIS-H UNM berupa struktur kepengurusan,
laporan kegiatan, dokumentasi visual, serta dokumen akademik seperti transkrip
nilai dan data akademik terkait. Dokumen-dokumen ini berfungsi sebagai data
31
pendukung dan pembanding melalui teknik triangulasi untuk memperkuat
keabsahan dan validitas penelitian.
G. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik utama untuk
mengumpulkan data, yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.
Ketiga teknik tersebut dilaksanakan secara sistematis di lingkungan BEM FIS-H
UNM, dengan memperhatikan dinamika organisasi dan ketersediaan informan,
serta berlandaskan prinsip keabsahan data kualitatif.
1. Observasi
Observasi dilakukan secara langsung terhadap aktivitas mahasiswa
fungsionaris BEM, baik dalam kegiatan formal seperti rapat dan pelaksanaan
program kerja, maupun dalam interaksi sehari-hari di sekretariat. Observasi ini
bertujuan untuk menangkap pola interaksi, cara pengelolaan program kerja, serta
strategi mahasiswa dalam menyeimbangkan tanggung jawab organisasi dan
akademik. Hasil observasi dicatat dalam catatan lapangan (field notes) untuk
merekam situasi secara kontekstual.
2. Wawancara
Wawancara semi-terstruktur dilakukan kepada mahasiswa fungsionaris
BEM FIS-H UNM. Pertanyaan diarahkan untuk menggali pengalaman mereka
dalam menjalankan peran ganda, tantangan yang dihadapi, pencapaian akademik,
serta strategi pengelolaan waktu dan prioritas. Wawancara dilakukan secara
langsung dengan persetujuan informan, direkam, lalu ditranskrip secara verbatim
guna menjaga keakuratan data.
32
3. Dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk melengkapi data primer dengan arsip
organisasi BEM FIS-H UNM, seperti struktur kepengurusan, laporan kegiatan,
dokumentasi visual, serta dokumen akademik berupa transkrip nilai atau data studi
informan yang relevan. Dokumen-dokumen ini berfungsi sebagai bahan pendukung
dan pembanding (triangulasi) untuk memperkuat validitas temuan penelitian.
H. Pengecekan Keabsahan Data
Untuk menjamin keabsahan data dalam penelitian kualitatif ini, peneliti
menerapkan sejumlah teknik verifikasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip
keilmuan. Teknik-teknik ini bertujuan memastikan bahwa data yang diperoleh
benar-benar merepresentasikan realitas dan pengalaman subjek penelitian.
1. Triangulasi Sumber dan Teknik
Peneliti menggabungkan data dari wawancara, observasi, dan dokumentasi
untuk memastikan konsistensi informasi dari berbagai sumber. Wawancara
dilakukan terhadap fungsionaris BEM FIS-H UNM, sedangkan data dokumentasi
diperoleh dari arsip organisasi (struktur kepengurusan, laporan kegiatan, notulensi
rapat, dan dokumentasi visual) serta dokumen akademik.
2. Ketekunan Pengamatan (Prolonged Engagement)
Peneliti melakukan pengamatan secara berkelanjutan terhadap aktivitas
organisasi mahasiswa untuk memperoleh pemahaman yang utuh mengenai
dinamika internal. Proses ini dilakukan dengan membangun hubungan yang baik
dengan informan dan melakukan observasi berulang terhadap berbagai kegiatan,
sehingga data yang diperoleh lebih akurat, mendalam, dan kontekstual.
33
3. Pengecekan Anggota (Member Checking)
Setelah wawancara dan proses interpretasi awal, peneliti melakukan
klarifikasi ulang kepada informan untuk memastikan bahwa hasil temuan tidak
menyimpang dari maksud atau pengalaman yang mereka sampaikan.
4. Audit Trail dan Dokumentasi
Seluruh proses penelitian dicatat dan disusun secara sistematis, mulai dari
perencanaan, pengumpulan data, hingga analisis. Dokumentasi ini memungkinkan
penelusuran ulang atas data dan keputusan yang diambil selama penelitian.
I. Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga analisis data
dilakukan secara terus-menerus sejak pengumpulan data sampai pada tahap
kesimpulan. Tujuannya adalah untuk memahami secara lebih dalam bagaimana
mahasiswa fungsionaris menjalani peran ganda dalam organisasi dan akademik.
1. Reduksi Kata
Peneliti menyaring dan memilih data dari hasil wawancara, observasi, dan
dokumentasi, agar hanya data yang benar-benar berkaitan dengan fokus penelitian
yang digunakan. Data kemudian dikelompokkan ke dalam tema- tema seperti
strategi manajemen waktu, tantangan peran ganda, dan bentuk dukungan yang
diterima.
2. Penyajian Data
Data yang sudah dipilih dan dikelompokkan lalu disajikan dalam bentuk
narasi dan tabel sederhana. Hal ini memudahkan peneliti dalam membaca pola dan
keterkaitan antara pengalaman informan dengan aspek-aspek peran ganda yang
34
diteliti.
3. Analisis Tematik
Peneliti mencari tema-tema utama dari semua data yang telah dikumpulkan,
seperti dari transkrip wawancara dan catatan lapangan. Tema-tema ini dianalisis
untuk melihat keterkaitan dan makna di balik pengalaman mahasiswa, misalnya
bagaimana mereka menghadapi tekanan akademik sambil memimpin organisasi.
4. Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan ditarik berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dan
disesuaikan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Proses ini juga mengacu
pada teori-teori yang digunakan, sehingga hasilnya tetap sesuai dengan kenyataan
yang disampaikan oleh para informan.
35
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abercrombie, N., Hill, S., & Turner, B. S. (2010). Kamus sosiologi (D. Noviyani,
E. Adinugraha, & R. Widada, Penerj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Karya
asli diterbitkan 2006 sebagai The Penguin Dictionary of Sociology, 5th ed.).
Covey, S. R. (1994). First things first. Free Press.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia. (2020). Panduan penyusunan kurikulum pendidikan
tinggi di era industri 4.0 untuk mendukung Merdeka Belajar – Kampus
Merdeka (Edisi ke-4). Raja Grafindo Persada.
Katz, D., & Kahn, R. L. (1978). The social psychology of organizations (2nd ed.).
Wiley.
Lakein, A. (1973). How to get control of your time and your life. P.H. Wyden.
Linton, R. (1936). The study of man: An introduction. Appleton-Century- Crofts.
Narwoko, J. D., & Suyanto, B. (2004). Sosiologi: Teks pengantar dan terapan
(Edisi ke-4). Jakarta: Prenadamedia Group – Kencana.
Panuju, R. (2021). Spektrum komunikasi organisasi. Jakarta: Prenadamedia Group.
Sugiyono. (2020). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Syani, A. (2012). Sosiologi: Skematika, teori, dan terapan. Jakarta: Bumi Aksara.
Tim Penyusun. (2022). Pedoman penulisan skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan
Hukum UNM. Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri
Makassar. ISBN 978-623-387-044-3
Weber, M. (2006). Sosiologi: From Max Weber – Essays in Sociology (N.
Noorkholish & Tim Penerjemah Promothea, Penerj.). Pustaka Pelajar.
(Karya asli diterbitkan 1946)
Artikel/Jurnal
Chalikandy, M. (2023). Importance of program evaluation in English language
education. International Journal of English Literature and Social Sciences,
8(6).
Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering
hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310–357.
[Link]
36
Gamadhila, J. I., Zubair, A. G. H., & Nurhikmah. (2024). Konflik peran ganda
sebagai prediktor terhadap keberfungsian keluarga pada perempuan bekerja
dan berkeluarga di Kota Makassar. Jurnal Psikologi Karakter, 4(1), 293–
302.
Greenhaus, J. H., & Beutell, N. J. (1985). Sources of conflict between work and
family roles. Academy of Management Review, 10(1), 76–88.
Gunawan, I., Sari, D. M., Agustian, S., Marwiyah, S., Bagaskara, N. D., Sa’diyyah,
M., Sari, D. A. (2017). Prestasi belajar mahasiswa fungsionaris UKM KSR
PMI Unit Universitas Negeri Malang. Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(2), 171–
177.
Handani, S. S., & Prayoga, R. M. S. (2022). Peran organisasi kemahasiswaan
(Ormawa) untuk meningkatkan soft skill mahasiswa Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Bale Bandung. Resource: Research of Social
Education, 2(2), 23–31.
Maulina, I. (2019). Manajemen organisasi intra sekolah dalam meningkatkan mutu
pendidikan karakter. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 96–
102.
Mustaqim, G. P., & Wahjoedi, T. (2024). Effectiveness of student participation in
campus organizations. INCOME: Innovation of Economics and
Management,3(3), 29–35. [Link]
Nirmalasari, R., & Minai, F. (2023). Manajemen peran ganda mahasiswa pengurus
organisasi. Jurnal Manajemen Pendidikan, 12(1), 21–36.
Pramono, T., Suwarno, S., & Widodo, S. (2020). Strategi Badan Eksekutif
Mahasiswa (BEM) untuk mencapai program kerja organisasi di Universitas
Kadiri. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Administrasi Negara, 4(1), 43–48.
Saputri, L., Puspita, P. A., & Sembiring, D. A. E. P. (2020). Pengaruh organisasi
kemahasiswaan, konflik peran, stres organisasi terhadap prestasi akademik
mahasiswa FKIP Universitas Jambi. Indonesian Educational Administration
and Leadership Journal (IDEAL), 2(2), 49–59.
Sulastria, & Ichwani, S. U. (2020). Implementasi good governance pada organisasi
mahasiswa di Universitas Pamulang. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan,
7(2), 87–100.
Wicaksono, L., Linarsih, A., & Putri, A. (2023). Identifikasi permasalahan
akademik pada mahasiswa FKIP di Kalimantan Barat. Jurnal Visi Ilmu
Pendidikan, 15(1), 126–135. [Link]
37
Skripsi/Tesis
Annisa, S. S. (2023). Penyesuaian akademik mahasiswa selama masa
perkuliahan daring dan implikasinya bagi layanan bimbingan dan
konseling di perguruan tinggi [Tesis Magister, Universitas Pendidikan
Indonesia]. UPI Repository.
Batara, S. I., & Wijono, S. (2019). Budaya organisasi dan kinerja pada
fungsionaris lembaga kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana
(UKSW) [Skripsi, Universitas Kristen Satya Wacana]. Repositori UKSW.
Hutapea, A. T. (2024). Faktor-faktor yang mempengaruhi penyelesaian masa studi
mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam [Skripsi, Universitas
Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau].
Umari, C., Sari, M. I., & Hermawan, H. (2020). Peran ganda perempuan pelaku
usaha mikro dalam peningkatan pendapatan keluarga (Studi di Desa
Rejoagung Kecamatan Semboro Kabupaten Jember) [Skripsi, Universitas
Muhammadiyah Jember].
Dokumen Resmi/Panduan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (2014). Panduan penyusunan kurikulum
pendidikan tinggi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan
pengelolaan organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi. Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Panduan
Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK
Ormawa) 2023. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan
Teknologi.
Peraturan/Undang-Undang
Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Pendidikan Tinggi.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. (2020). Berita
Negara RI Tahun 2020 Nomor 47.
Laporan/Dokumen Organisasi
Badan Eksekutif Mahasiswa FIS-H UNM. (2025). Program kerja BEM FIS-H
UNM periode 2024–2025 [Laporan internal]. Makassar: UNM.