0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan40 halaman

6

Proposal penelitian ini membahas peran ganda fungsionaris lembaga kemahasiswaan FIS-H UNM dalam menjalankan program kerja dan penuntasan akademik. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam membagi waktu antara tanggung jawab organisasi dan akademik, serta menilai hubungan antara pencapaian akademik dan kontribusi dalam organisasi. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi teoretis dan praktis dalam pengelolaan peran ganda mahasiswa di pendidikan tinggi.

Diunggah oleh

Putri Rahayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan40 halaman

6

Proposal penelitian ini membahas peran ganda fungsionaris lembaga kemahasiswaan FIS-H UNM dalam menjalankan program kerja dan penuntasan akademik. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam membagi waktu antara tanggung jawab organisasi dan akademik, serta menilai hubungan antara pencapaian akademik dan kontribusi dalam organisasi. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi teoretis dan praktis dalam pengelolaan peran ganda mahasiswa di pendidikan tinggi.

Diunggah oleh

Putri Rahayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL PENELITIAN

PERAN GANDA FUNGSIONARIS LEMBAGA


KEMAHASISWAAN FIS-H UNM DALAM MENJALANKAN
PROGRAM KERJA DAN PENUNTASAN AKADEMIK

THE DUAL ROLE OF FUNCTIONAL OFFICERS IN THE


STUDENT ORGANIZATION OF FIS-H UNM IN
IMPLEMENTING WORK PROGRAMS AND ACADEMIC
COMPLETION

PUTRI RAHAYU
220601501004

PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
JURUSAN PPKn DAN HUKUM BISNIS
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUKUM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2025
HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL

Judul : Peran Ganda Fungsionaris Lembaga

Kemahasiswaan FIS-H UNM dalam

Menjalankan Program Kerja dan Penuntasan

Akademik

Nama : Putri Rahayu

NIM 220601501004

Jurusan : PPKn dan Hukum Bisnis

Program Studi : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Andi Aco Agus, S.H.,[Link] Dr. Imam Suyitno, [Link].


NIP. 19670818 20051 1 001 NIP. 19601209 198803 1 002

Mengetahui,

Ketua Jurusan Ketua Program Studi

Dr. Mustaring, [Link] Dr. Andi Aco Agus, S.H.,[Link]


NIP. 19671229 199403 1 002 NIP. 19670818 20051 1 001

i
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL ......................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1. Latar Belakang ............................................................................................ 1
2. Rumusan Masalah ....................................................................................... 6
3. Tujuan Penelitian ........................................................................................ 6
4. Manfaat Penelitian ...................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP ....................... 9
A. Kajian Pustaka............................................................................................. 9
1. Peran Ganda ............................................................................................ 9
2. Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan ............................................... 10
3. Program Kerja Lembaga Kemahasiswaan ............................................ 12
4. Penuntasan Akademik Mahasiswa ........................................................ 14
5. Landasan Teori ...................................................................................... 16
6. Penelitian Terdahulu ............................................................................. 19
B. Kerangka Konsep ...................................................................................... 22
BAB II METODE PENELITIAN ...................................................................... 23
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian................................................................ 23
B. Lokasi Penelitian ....................................................................................... 24
C. Fokus dan Deskripsi Fokus Penelitian ...................................................... 25
D. Tahap-tahap Penelitian .............................................................................. 26
E. Jenis dan Sumber Data .............................................................................. 28
F. Instrumen Penelitian.................................................................................. 30
G. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data .................................................. 31
H. Pengecekan Keabsahan Data..................................................................... 32
I. Teknik Analisis Data ................................................................................. 33
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 35

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pendidikan tinggi di Indonesia tidak hanya bertujuan untuk mencetak

lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan kerja,

melainkan juga membentuk manusia yang berkarakter, bertanggung jawab, dan

memiliki daya saing. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan

Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158) secara

eksplisit menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam

mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi individu yang beriman,

berakhlak mulia, sehat, cakap, mandiri, serta bertanggung jawab sebagai warga

negara yang demokratis (Republik Indonesia, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa

keberhasilan pendidikan tinggi tidak semata-mata diukur dari aspek akademik,

tetapi juga dari kemampuan mahasiswa dalam menjalankan peran sosial dan

kepemimpinan secara seimbang.

Salah satu medium strategis yang dapat menghubungkan antara penguasaan

keilmuan dan praktik kewarganegaraan adalah organisasi kemahasiswaan.

Keikutsertaan dalam organisasi kampus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk

mengembangkan keterampilan komunikasi, membangun jejaring, melatih

kepemimpinan, serta mengasah kemampuan menyelesaikan persoalan secara

kolaboratif. Penelitian Handani dan Prayoga (2022) menegaskan bahwa organisasi

kemahasiswaan berperan signifikan dalam pengembangan soft skills mahasiswa,

seperti komunikasi interpersonal, tanggung jawab sosial, kerja tim, dan

1
2

penghormatan terhadap perbedaan. Aktivitas ini mendorong mahasiswa untuk lebih

terlibat secara aktif, reflektif, dan solutif dalam dinamika sosial di lingkungan

kampus maupun masyarakat (Handani & Prayoga, 2022).

Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi juga menjadi sarana pelatihan

dalam pengelolaan waktu, penentuan prioritas, dan menjaga konsistensi antara

peran akademik dan nonakademik. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang

Standar Nasional Pendidikan Tinggi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun

2020 Nomor 47), yang menekankan pentingnya pembelajaran yang mencakup

ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan melalui kegiatan kurikuler maupun

ekstrakurikuler, termasuk organisasi kemahasiswaan (Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan Republik Indonesia, 2020). Dengan demikian, partisipasi aktif

mahasiswa dalam organisasi tidak dapat dipandang sekadar sebagai aktivitas

tambahan, melainkan sebagai bagian integral dari pendidikan tinggi yang holistik.

Mahasiswa pada dasarnya memiliki tanggung jawab utama dalam

menyelesaikan proses akademik secara optimal. Kewajiban ini mencakup

kehadiran dalam perkuliahan, penyelesaian tugas, keterlibatan dalam kegiatan

ilmiah, serta penyusunan skripsi sebagai tahap akhir studi. Direktorat Jenderal

Pendidikan Tinggi (2020) menegaskan bahwa capaian pembelajaran mahasiswa

harus mencakup penguasaan keilmuan, kemampuan berpikir kritis, dan

keterampilan analitis. Oleh karena itu, kemampuan dalam mengelola waktu,

menjaga kedisiplinan belajar, dan mempertahankan kemandirian akademik menjadi


3

elemen penting dalam menentukan keberhasilan studi (Direktorat Jenderal

Pendidikan Tinggi, 2020).

Di Universitas Negeri Makassar (UNM), khususnya di Fakultas Ilmu Sosial

dan Hukum (FIS-H), organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas seperti Badan

Eksekutif Mahasiswa (BEM) memegang peranan penting dalam mewadahi

aspirasi, mengembangkan potensi, dan melaksanakan berbagai program kerja

strategis yang melibatkan mahasiswa lintas program studi. Berdasarkan data

terbaru, BEM FIS-H UNM periode 2024–2025 telah menyelesaikan masa

kepengurusannya dengan total 33 fungsionaris yang berasal dari beragam latar

belakang akademik. Mayoritas pengurus berada pada semester 7 ke atas, bahkan

sebagian telah melewati semester 8. Pada fase tersebut, para mahasiswa umumnya

tengah fokus pada penyelesaian studi, seperti pengerjaan skripsi dan persiapan

kelulusan. Kondisi ini membuat keterlibatan mereka di BEM menuntut manajemen

waktu yang lebih cermat agar pelaksanaan tugas organisasi tetap berjalan tanpa

mengganggu pencapaian akademik (Badan Eksekutif Mahasiswa FIS-H UNM,

2025).

BEM FIS-H UNM memiliki struktur kelembagaan yang terbagi ke dalam

beberapa kementerian, masing-masing menjalankan program kerja yang bervariasi

namun saling terkait untuk mendukung visi dan misi organisasi. Program kerja

tersebut mencakup kegiatan yang bersifat akademik, sosial, advokatif, dan

pengembangan sumber daya mahasiswa. Pelaksanaan program kerja memerlukan

koordinasi intensif, pembagian tugas yang jelas, dan keterlibatan aktif seluruh
4

fungsionaris sepanjang periode kepengurusan (Badan Eksekutif Mahasiswa FIS-H

UNM, 2025).

Kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi para fungsionaris BEM

dalam menyeimbangkan tanggung jawab akademik dan amanah organisasi.

Padatnya agenda kerja, rapat koordinasi, dan kegiatan lapangan dapat mengurangi

waktu belajar, mengubah prioritas, serta memerlukan strategi adaptif agar kedua

peran dapat dijalankan secara optimal. Penelitian Saputri, Puspita, dan Sembiring

(2020) menunjukkan bahwa tanpa pengelolaan peran yang baik, mahasiswa

berisiko mengalami konflik peran dan penurunan performa akademik. Sebaliknya,

jika mampu mengelola kedua peran tersebut secara seimbang, mahasiswa dapat

mengembangkan keterampilan manajemen waktu, daya tahan mental, dan kapasitas

kepemimpinan yang bermanfaat di masa depan (Saputri, Puspita, & Sembiring,

2020).

Dalam konteks BEM FIS-H UNM, mahasiswa fungsionaris harus

menghadapi tuntutan peran ganda yang bersifat simultan: memenuhi standar

akademik termasuk progres skripsi, IPK, dan penyelesaian mata kuliah, serta

memastikan capaian program kerja kementerian. Teori konflik peran (role conflict)

menjelaskan bahwa ketidakseimbangan antara tuntutan akademik dan organisasi

dapat menimbulkan stres, kelelahan, serta menurunkan kinerja pada salah satu atau

kedua peran. Greenhaus dan Beutell (1985) membagi konflik peran menjadi konflik

berbasis waktu, tekanan, dan perilaku, yang secara nyata muncul dalam pengalaman

mahasiswa fungsionaris yang harus hadir di perkuliahan, menyelesaikan tugas, dan

melaksanakan program kerja secara bersamaan (Greenhaus & Beutell, 1985).


5

Selain tantangan manajemen waktu, pencapaian akademik menjadi

indikator penting keberhasilan mahasiswa dalam menjalankan peran ganda.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (2020) menekankan bahwa indikator seperti

jumlah mata kuliah yang telah ditempuh, IPK, serta kemajuan penyusunan skripsi

merupakan tolok ukur sejauh mana mahasiswa mampu menuntaskan studi tanpa

mengorbankan peran organisasi. Di sisi lain, kontribusi mahasiswa dalam

organisasi, berupa pencapaian target program kerja kementerian, menjadi ukuran

keberhasilan organisasi dan keterlibatan fungsionaris secara efektif (Badan

Eksekutif Mahasiswa FIS-H UNM, 2025).

Penelitian Nirmalasari dan Minai (2023) menunjukkan bahwa mahasiswa

yang mampu mengelola peran ganda dengan strategi koping yang baik, dukungan

sosial, dan pengaturan prioritas dapat mempertahankan kinerja akademik sekaligus

memenuhi target program organisasi. Temuan ini menunjukkan pentingnya

adaptasi perilaku dan pengelolaan prioritas bagi mahasiswa fungsionaris BEM,

sehingga konflik peran tidak menurunkan motivasi maupun produktivitas di kedua

ranah (Nirmalasari & Minai, 2023).

Berdasarkan kerangka tersebut, penelitian ini diarahkan untuk

mengeksplorasi pengalaman mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM periode

2024–2025 dalam menjalankan peran ganda, mengidentifikasi tantangan utama

dalam membagi waktu antara program kerja organisasi dan penuntasan akademik,

serta menilai hubungan antara pencapaian akademik dan kontribusi dalam

organisasi. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi teoretis dalam


6

kajian manajemen peran mahasiswa sekaligus rekomendasi praktis bagi perguruan

tinggi dalam membina mahasiswa fungsionaris secara holistik.

2. Rumusan Masalah

1. Apa tantangan utama yang dihadapi mahasiwa fungsionaris BEM FIS-H UNM

dalam membagi waktu antara program kerja organisasi dan kewajiban

penuntasan akademik?

2. Bagaimana mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM menjelaskan kondisi

penuntasan akademik mereka selama masa kepengurusan dan bagaimana

mereka memahami keterkaitannya dengan keterlibatan mereka dalam

organisasi?

3. Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi dan menganalisis tantangan utama yang dihadapi mahasiswa

fungsionaris BEM FIS-H UNM dalam menyeimbangkan pelaksanaan program

kerja organisasi dengan kewajiban penuntasan akademik.

2. Mendeskripsikan kondisi penuntasan akademik mahasiswa fungsionaris BEM

FIS-H UNM selama masa kepengurusan dan memahami bagaimana mereka

mengaitkan kondisi tersebut dengan keterlibatan mereka dalam organisasi

4. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap

pengembangan kajian ilmu Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya dalam aspek

pembentukan karakter, kepemimpinan, dan partisipasi aktif mahasiswa di


7

lingkungan pendidikan tinggi. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat

memperkaya literatur mengenai manajemen peran ganda mahasiswa, khususnya

bagaimana mahasiswa fungsionaris organisasi kemahasiswaan menyeimbangkan

tanggung jawab akademik dan amanah organisasi. Temuan ini diharapkan menjadi

dasar bagi penelitian selanjutnya dalam konteks integrasi kegiatan akademik dan

pengembangan kapasitas kepemimpinan mahasiswa.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Mahasiwa Fungsionaris

1. Memberikan wawasan mengenai pengalaman nyata dalam

menyeimbangkan program kerja organisasi dan kewajiban penuntasan

akademik.

2. Menjadi sarana refleksi bagi mahasiswa untuk menilai identitas diri,

kapasitas kepemimpinan, serta mengembangkan strategi manajemen

waktu, penentuan prioritas, dan pemanfaatan dukungan sosial secara lebih

efektif.

b. Bagi Lembaga Kemahasiswaan (BEM FIS-H UNM)

1. Menyediakan data empiris yang dapat digunakan untuk merancang pola

kerja, struktur pembagian tugas, dan pengelolaan program kerja yang lebih

efisien.

2. Mendukung penyusunan program pelatihan atau bimbingan bagi pengurus

agar beban ganda akademik dan organisasi dapat dikelola secara

seimbang.
8

c. Bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNM

1. Menyajikan informasi berbasis fakta tentang kondisi mahasiswa

fungsionaris, sehingga dapat menjadi acuan dalam merumuskan kebijakan

pendampingan akademik dan pengembangan kapasitas mahasiswa.

2. Memberikan masukan untuk memperkuat kerja sama antara fakultas dan


organisasi kemahasiswaan dalam memfasilitasi pengembangan soft skills,

kepemimpinan, serta kesejahteraan mahasiswa.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP

A. Kajian Pustaka

1. Peran Ganda
Peran ganda terjadi ketika seseorang menjalankan dua atau lebih peran

sosial secara bersamaan. Dalam Kamus Sosiologi, peran dipahami sebagai panduan

perilaku yang didefinisikan secara sosial atas suatu posisi, dan ditentukan oleh

harapan sosial terhadap posisi tersebut, bukan oleh sifat pribadi individu

(Abercrombie, Hill, & Turner, 2010, hlm. 479).

Sementara itu, J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto dalam Sosiologi: Teks

Pengantar dan Terapan menjelaskan bahwa peran merupakan aspek dinamis dari

kedudukan; seseorang dianggap menjalankan peran apabila menunaikan hak dan

kewajibannya sesuai status sosial yang dimilikinya. Dengan demikian, peran dan

status saling bergantung dan tidak dapat dipisahkan (Narwoko & Suyanto, 2004,

hlm. 159).

Dalam praktiknya, peran ganda sering menimbulkan konflik ketika tuntutan

antarperan saling berbenturan. Gamadhila, Zubair, dan Nurhikmah (2024)

menyatakan bahwa kondisi ini dapat menimbulkan tekanan fisik dan emosional,

sehingga dibutuhkan kemampuan adaptasi dan manajemen waktu yang baik agar

individu dapat tetap menjaga keseimbangan peran (Gamadhila, Zubair, &

Nurhikmah, 2024, hlm. 295).

Dengan demikian, peran ganda menjadi tantangan sosial yang menuntut

kemampuan adaptasi, manajemen waktu, dan penetapan prioritas agar masing-

masing peran dapat dijalankan secara proporsional tanpa saling mengorbankan.

9
10

2. Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan

a. Fungsionaris

Fungsionaris adalah individu yang menjalankan fungsi kepengurusan dalam

organisasi kemahasiswaan, dengan tanggung jawab menggerakkan program kerja

serta mengelola struktur organisasi. Peran ini menuntut komitmen, koordinasi, dan

kesadaran terhadap tujuan bersama (Pusat Bahasa, 2008, dalam Gunawan et al.,

2017, hlm. 172).

Dalam konteks organisasi, fungsi (function) dipahami sebagai sesuatu yang

berhubungan dengan lainnya atau sesuatu yang bergantung pada lainnya (Panuju,

2021, hlm. 324). Dengan demikian, keberadaan fungsionaris tidak dapat dipisahkan

dari keterkaitannya dengan elemen organisasi lain, sebab peran yang dijalankan

selalu berhubungan secara timbal balik dan saling mendukung demi tercapainya

tujuan organisasi.

Batara dan Wijono (2019) menekankan bahwa fungsionaris memegang

posisi strategis dalam mengatur kegiatan serta menjalankan kebijakan organisasi.

Kemampuan kepemimpinan dan manajerial menjadi faktor kunci agar organisasi

dapat berjalan secara efektif dan harmonis (Batara & Wijono, 2019, hlm. 359).

Selain itu, fungsionaris berperan dalam pengembangan soft skills dan

kreativitas anggota melalui program kerja nyata. Kegiatan tersebut turut

meningkatkan kapasitas dan kualitas organisasi secara keseluruhan (Kementerian

Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023).

Dalam konteks BEM FIS-H UNM, fungsionaris berperan sebagai

penggerak utama organisasi fakultas, menjalankan program kerja tiap kementerian,


11

membina anggota, dan menjaga stabilitas lembaga. Keberhasilan BEM sangat

bergantung pada kualitas, tanggung jawab, dan konsistensi fungsionaris dalam

menjalankan tugasnya sesuai tujuan bersama, sekaligus menyeimbangkan peran

akademik dan organisasi secara efektif.

b. Lembaga Kemahasiswaan

Lembaga kemahasiswaan memiliki peran penting dalam mengembangkan

kepemimpinan, keterampilan komunikasi, dan kapasitas manajerial mahasiswa.

Lembaga ini juga berfungsi sebagai wadah aspirasi, pelaksana advokasi, dan

jembatan komunikasi antara mahasiswa dan pihak kampus (Kementerian

Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023). Secara operasional,

lembaga merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program kerja yang

mendukung pengembangan akademik maupun sosial mahasiswa, sehingga menjadi

sarana pembelajaran praktis bagi fungsionaris dalam mengelola organisasi.

Secara konseptual, organisasi dipahami sebagai kesatuan orang-orang yang

tersusun secara teratur berdasarkan pembagian tugas tertentu (Syani, 2012, hlm.

115). Artinya, lembaga kemahasiswaan bukan sekadar struktur formal, tetapi

merupakan sistem sosial yang dibangun atas dasar koordinasi dan kerja sama

terarah untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ini, fungsionaris

menempati posisi penting sebagai penggerak utama dinamika lembaga sekaligus

penanggung jawab keberlangsungan program kerja.

Teori kelembagaan (institutional theory) menjelaskan bahwa organisasi

dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Kontingensi sosial ini

menghasilkan perbedaan dalam struktur, budaya, dan perilaku anggota organisasi


12

(Abercrombie, Hill, & Turner, 2010, hlm. 281). Perspektif ini relevan untuk

memahami bagaimana lembaga kemahasiswaan menyesuaikan pola interaksi, tata

kelola, dan strategi operasionalnya sesuai dengan konteks fakultas serta tantangan

yang dihadapi oleh fungsionaris. Dalam konteks BEM FIS-H UNM, hal ini terlihat

pada penyesuaian struktur, program kerja, dan koordinasi antar kementerian untuk

mendukung pengembangan akademik dan sosial mahasiswa secara seimbang.

3. Program Kerja Lembaga Kemahasiswaan

a. Program Kerja

Program kerja adalah rangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis

oleh organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dalam

konteks lembaga kemahasiswaan, program kerja menjadi pedoman penting agar

aktivitas organisasi berjalan secara terarah dan mendukung pengembangan

kemampuan mahasiswa secara optimal (Pramono, Suwarno, & Widodo, 2020, hlm.

22).

Selain menjadi acuan teknis, program kerja membantu organisasi dalam

menyelaraskan arah kegiatan dengan visi dan misi strategisnya. Maulina (2019,

hlm. 99) menegaskan bahwa program kerja yang disusun secara terencana dapat

meningkatkan mutu pelaksanaan kegiatan serta membentuk karakter mahasiswa.

Dalam konteks BEM FIS-H UNM, program kerja tidak hanya menjadi

pedoman pelaksanaan, tetapi juga sarana bagi fungsionaris untuk mengelola

organisasi, menyalurkan aspirasi mahasiswa, dan menjaga keseimbangan antara

tanggung jawab akademik dan amanah organisasi. Program kerja yang jelas,
13

terukur, dan sistematis membantu pengurus memprioritaskan kegiatan dan

mengelola waktu secara efektif.

b. Jenis Program Kerja Lembaga Kemahasiswaan

1. Program Kerja Berorientasi Akademik

Program kerja berorientasi akademik fokus pada pengembangan kapasitas

intelektual mahasiswa melalui seminar, workshop, pelatihan, lomba karya ilmiah,

riset, dan kegiatan lain yang bersifat ilmiah (Panduan PPK Ormawa, 2023).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi akademik dan prestasi

mahasiswa, sekaligus membangun budaya belajar yang aktif dan mendukung

pencapaian akademik secara optimal.

Dalam BEM FIS-H UNM, program akademik tercermin dalam kegiatan

seperti KERIS (Kelas Riset), Tim Riset, dan LK II yang menekankan

pengembangan keterampilan analitis dan riset bagi mahasiswa.

2. Program Kerja Berorientasi Non-Akademik

Program kerja berorientasi non-akademik berfokus pada pengembangan

soft skills, kepemimpinan, minat dan bakat, kegiatan sosial, serta advokasi

(Panduan PPK Ormawa, 2023). Tujuannya adalah membentuk karakter mahasiswa,

meningkatkan kerja sama, dan mengasah keterampilan komunikasi dan manajerial.

Contoh dalam BEM FIS-H UNM meliputi Skill-Up BEM, Teras Baca,

Workshop Advokasi, dan Kelas Kebendaharaan yang mendorong pengembangan

kapasitas anggota di luar ranah akademik.


14

4. Penuntasan Akademik Mahasiswa

a. Penuntasan Akademik

Penuntasan akademik merupakan proses mahasiswa dalam menyelesaikan

seluruh kewajiban akademik hingga dinyatakan lulus dan berhak memperoleh gelar

secara resmi. Kelulusan dicapai setelah mahasiswa memenuhi capaian

pembelajaran, menyelesaikan seluruh beban kredit, serta menuntaskan tugas akhir

sesuai dengan kurikulum yang berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia

(Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2014).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang

Pendidikan Tinggi menyatakan bahwa mahasiswa dinyatakan lulus apabila telah

menyelesaikan seluruh proses pembelajaran sesuai standar nasional pendidikan

tinggi, termasuk tugas akhir sebagai salah satu persyaratan utama (Pasal 18,

Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158).

Hutapea (2024, hlm. 14) menyatakan bahwa penuntasan masa studi

mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal, seperti motivasi dan

manajemen waktu, maupun eksternal, seperti dukungan keluarga dan lingkungan

akademik.

Dengan demikian, penuntasan akademik dapat dipahami sebagai bentuk

keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan studi secara menyeluruh, tepat

waktu, dan sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku, yang sekaligus

mencerminkan capaian kompetensi serta kesiapan mahasiswa untuk memperoleh

pengakuan akademik secara formal.


15

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi Penuntasan Akademik

Penuntasan studi mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor yang

memengaruhi proses belajar selama masa studi. Secara umum, faktor tersebut

terbagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup

motivasi belajar, kemampuan manajemen waktu, dan gaya belajar yang digunakan

mahasiswa, sedangkan faktor eksternal meliputi dukungan keluarga, lingkungan

belajar yang kondusif, serta ketersediaan fasilitas kampus seperti perpustakaan dan

laboratorium (Wicaksono, Linarsih, & Putri, 2023, hlm. 126). Oleh karena itu,

strategi yang tepat perlu diterapkan untuk mengatasi hambatan dari kedua sisi agar

mahasiswa dapat menyelesaikan studinya secara optimal dan tepat waktu.

c. Peran Lembaga Kemahasiswaan dalam Mendukung Penuntasan

Akademik

Lembaga kemahasiswaan memiliki peran penting dalam mendukung

keberhasilan akademik mahasiswa melalui berbagai program bantuan akademik,

seperti kelompok belajar, pelatihan manajemen waktu, dan penyediaan informasi

akademik. Partisipasi aktif dalam organisasi kampus terbukti meningkatkan

prestasi akademik dan kesiapan kerja mahasiswa, karena turut memfasilitasi

pengembangan keterampilan non-akademik (soft skills) seperti kepemimpinan,

komunikasi, dan kerja tim yang mendukung keberhasilan studi (Mustaqim &

Wahjoedi, 2024, hlm. 29). Oleh karena itu, lembaga kemahasiswaan tidak hanya

berfungsi sebagai ruang pengembangan sosial, tetapi juga sebagai mitra strategis

dalam mendorong pencapaian akademik mahasiswa secara menyeluruh.


16

5. Landasan Teori

Landasan teori menjadi fondasi konseptual yang membingkai seluruh

proses penelitian, memberikan pijakan dalam memahami permasalahan dan

menjelaskan keterkaitan antarvariabel dalam kerangka konsep. Dalam penelitian

ini, teori-teori yang digunakan meliputi teori peran (sebagai grand theory), teori

konflik peran dan manajemen waktu (sebagai teori pendukung), serta teori

dukungan sosial dan organisasi adaptif (sebagai teori kontekstual).

a. Teori Peran (Role Theory)

Teori peran merupakan grand theory dalam penelitian ini. Dalam buku

Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan yang disunting oleh J. Dwi Narwoko dan

Bagong Suyanto, peran (role) dijelaskan sebagai aspek dinamis dari kedudukan.

Seseorang dikatakan menjalankan peran ketika ia melaksanakan hak dan

kewajibannya sesuai status sosial yang dimiliki. Peran dan status saling bergantung,

tidak ada peran tanpa status, dan sebaliknya. Pemahaman ini menegaskan bahwa

mahasiswa fungsionaris menghadapi dinamika peran ganda karena memikul

tanggung jawab dari dua status sosial yang berbeda namun saling berkaitan

(Narwoko & Suyanto, 2017, hlm. 159).

Ralph Linton (1936) juga mendefinisikan peran sebagai aspek dinamis dari

status, yaitu seperangkat harapan terhadap perilaku individu berdasarkan posisinya

dalam masyarakat. Dalam hal ini, mahasiswa fungsionaris menjalankan dua peran

sekaligus: sebagai pelajar dan sebagai penggerak organisasi.


17

Teori ini menjelaskan akar dari konflik dan tantangan yang muncul akibat

tuntutan akademik dan tugas organisasi, serta bagaimana mahasiswa berupaya

menemukan keseimbangan dalam menjalankan keduanya.

Untuk memahami peran sebagai hasil kesadaran individu, konsep tindakan

sosial Max Weber relevan. Ia menyebut tindakan sosial sebagai perilaku bermakna

yang diarahkan pada orang lain. Mahasiswa fungsionaris menjalankan peran bukan

sekadar kewajiban struktural, melainkan sebagai wujud kesadaran dan tanggung

jawab sosial dalam organisasi dan akademik.

b. Teori Konflik Peran (Role Conflict Theory)

Menurut William J. Goode (1960), konflik peran terjadi ketika dua atau lebih

peran yang dijalankan seseorang memiliki tuntutan yang saling bertentangan atau

tidak dapat dipenuhi secara bersamaan. Dalam konteks mahasiswa fungsionaris,

konflik peran dapat muncul ketika jadwal kegiatan organisasi bertabrakan dengan

jadwal akademik, atau ketika ekspektasi dari lingkungan organisasi tidak sejalan

dengan beban kuliah.

Katz dan Kahn (1978) menambahkan bahwa konflik peran tidak hanya

bersifat struktural, tetapi juga psikologis, karena individu harus memilih atau

menyeimbangkan dua tanggung jawab besar yang sama-sama penting. Teori ini

digunakan untuk menjelaskan bagian “tantangan” dalam kerangka konsep

penelitian ini.

c. Teori Manajemen Waktu (Time Management Theory)

Menurut Lakein (1973), manajemen waktu adalah kemampuan individu

untuk merencanakan dan mengatur waktu secara efektif guna menyelesaikan


18

berbagai tanggung jawab dalam kehidupan. Dalam konteks peran ganda

mahasiswa, teori ini menjelaskan bagaimana mahasiswa fungsionaris

menggunakan strategi pengelolaan waktu dan prioritas untuk menyeimbangkan

tugas akademik dan organisasi.

Stephen R. Covey (1994) juga menyatakan bahwa manajemen waktu tidak

sekadar mengatur jadwal, tetapi juga melibatkan manajemen diri, yaitu kemampuan

untuk memutuskan apa yang paling penting dan mendesak.

d. Teori Dukungan Sosial

Menurut House (1981), dukungan sosial dibagi menjadi empat jenis utama:

dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan instrumental, dan dukungan

penghargaan. Keempat jenis dukungan ini sangat relevan dalam konteks mahasiswa

fungsionaris yang menghadapi tekanan ganda.

Teori ini membantu menjelaskan peran penting dari dukungan teman satu

tim, keluarga, serta sistem organisasi kampus yang adaptif dalam menjaga

keseimbangan peran mahasiswa. Dukungan sosial juga menjadi penyangga (buffer)

terhadap stres yang muncul akibat peran ganda, sebagaimana dijelaskan dalam

pendekatan buffering hypothesis oleh Cohen & Wills (1985).

e. Teori Organisasi Adaptif dan Kolaboratif

Organisasi kemahasiswaan perlu dipahami sebagai struktur sosial dinamis

yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dalam buku Sosiologi: Teks Pengantar dan

Terapan (Prasetyo & Suyanto, 2011), teori organisasi mencakup analisis tentang

struktur dan perilaku sosial dalam organisasi, yang berkembang dari model

birokratis menuju model organik yang lebih fleksibel, desentralistik, dan memberi
19

ruang kebebasan individu. Pendekatan ini relevan dalam mendukung fungsi ganda

mahasiswa.

Schein (2010) menyebut organisasi adaptif sebagai organisasi yang mampu

menyesuaikan struktur, budaya, dan kebijakan terhadap kebutuhan anggotanya.

Dengan pendekatan adaptif dan kolaboratif , organisasi kemahasiswaan dapat

menciptakan sistem yang memungkinkan mahasiswa tetap produktif tanpa

mengabaikan studi, melalui regulasi fleksibel dan semangat gotong royong.

Teori-teori tersebut saling melengkapi dalam menjelaskan fenomena peran

ganda mahasiswa fungsionaris. Dalam penelitian ini, Teori Peran (Role Theory)

menjadi landasan teori paling tepat dan utama untuk dijadikan dasar konseptual.

Teori Peran memberikan pijakan yang kuat dalam memahami bagaimana

mahasiswa menghadapi tuntutan dan harapan berbeda dari dua posisi sosialnya,

serta menjelaskan fenomena konflik peran dan upaya keseimbangan yang mereka

lakukan. Selanjutnya, Teori Konflik Peran dan Teori Manajemen Waktu

mendukung penjelasan operasional terkait tantangan konkret dan strategi

pengelolaan yang digunakan mahasiswa dalam menjalankan peran ganda. Di sisi

lain, Teori Dukungan Sosial dan Teori Organisasi Adaptif memberikan konteks

tambahan yang memperkuat analisis mengenai faktor pendukung eksternal berupa

dukungan sosial dari lingkungan dan fleksibilitas struktur organisasi yang

memungkinkan mahasiswa tetap produktif sekaligus menjaga keseimbangan peran.

6. Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu yang relevan adalah:

a. Penelitian yang dilakukan oleh Anjasmara Mirunggan Satria (2020) dengan


20

judul Dinamika Mahasiswa Berprofesi Ganda (Kehidupan Mahasiswa Menjalani

Peran Ganda di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta) membahas mengenai

motivasi mahasiswa dalam menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja seni,

hambatan yang dihadapi, serta strategi manajemen waktu yang digunakan. Hasil

dari penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dan kemampuan mengatur

waktu secara efektif menjadi faktor penting dalam menyeimbangkan peran

akademik dan non- akademik yang dijalankan oleh mahasiswa.

Adapun persamaan antara penelitian ini dengan penelitian yang akan

dilakukan adalah sama-sama membahas peran ganda yang dijalani oleh mahasiswa

dalam menjalankan dua tanggung jawab sekaligus. Namun, perbedaannya terletak

pada fokus kajian. Penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada mahasiswa

yang menjalani profesi sebagai pekerja seni di luar aktivitas perkuliahan, sedangkan

penelitian ini akan berfokus pada mahasiswa yang merangkap sebagai fungsionaris

lembaga kemahasiswaan, dengan penekanan pada keterkaitan antara peran tersebut

dengan pelaksanaan program kerja organisasi dan penyelesaian studi akademiknya.

b. Penelitian kedua yaitu Magfirah (2018) dengan judul Pengaruh Konflik

Peran Ganda terhadap Prestasi Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Palopo.

Penelitian ini menunjukkan bahwa konflik peran ganda yang dialami mahasiswa

memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi akademik mereka. Mahasiswa yang

menghadapi konflik peran, terutama dalam hal membagi waktu dan tanggung jawab

antara peran sebagai pelajar dan peran lainna, cenderung mengalami penurunan

dalam pencapaian akademiknya.


21

Adapun persamaan dari penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan

penulis yaitu sama-sama membahas hubungan antara peran ganda dan prestasi

akademik mahasiswa. Namun, perbedaan terletak pada fokus kajiannya. Penelitian

Magfirah meninjau konflik peran ganda secara umum, sedangkan penelitian penulis

lebih terfokus pada mahasiswa yang menjadi fungsionaris lembaga kemahasiswaan

serta bagaimana mereka mengimplementasikan program kerja dalam menjalankan

peran gandanya.

c. Penelitian ketiga yaitu Wahid Hidayat dkk. (2023) dengan judul Analisis

Pengaruh Organisasi Kemahasiswaan terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa

FMIPA Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa

keterlibatan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan memiliki pengaruh

positif terhadap prestasi akademik, meskipun pengaruh tersebut tidak signifikan

secara statistik. Namun demikian, partisipasi dalam organisasi memberikan

kontribusi terhadap pengembangan soft skills mahasiswa, seperti manajemen

waktu, komunikasi, dan tanggung jawab.

Adapun persamaan dari penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu sama-

sama mengkaji hubungan antara aktivitas organisasi kemahasiswaan dan kinerja

akademik mahasiswa. Perbedaannya terletak pada pendekatan dan fokus penelitian.

Penelitian Wahid Hidayat dkk. menggunakan pendekatan kuantitatif dan

membahas organisasi kemahasiswaan secara umum, sedangkan penelitian

penulis bersifat kualitatif dengan fokus khusus pada peran ganda fungsionaris

lembaga kemahasiswaan dalam menjalankan program kerja serta menuntaskan

kewajiban akademik di lingkungan FIS- H UNM.


22

B. Kerangka Konsep

Untuk lebih memahami alur dari penelitian ini dapat dilihat dari

kerangka konsep dibawah ini:

Tabel 2.1 Skema Kerangka Konsep

Peran Ganda Fungsionaris Lembaga


Kemahasiswaan FIS-H UNM

Tantangan mahasiswa Capaian akademik mahasiswa


fungsionaris dalam fungsionaris, meliputi indeks
menjalankan peran ganda, prestasi kumulatif (IPK),
meliputi kemampuan mengatur jumlah mata kuliah yang
waktu, potensi konflik peran ditempuh, dan perkembangan
antara tugas akademik dan penyusunan skripsi. Termasuk
tanggung jawab organisasi, keterlibatan dalam organisasi
tekanan akibat beban ganda, yang dilihat dari kehadiran,
serta strategi yang digunakan pelaksanaan program kerja,
untuk menjaga keseimbangan dan kontribusi terhadap
kedua peran tersebut. pencapaian tujuan organisasi.

Pemahaman tentang peran ganda mahasiswa


fungsionaris dalam menyeimbangkan kewajiban
akademik dan tanggung jawab organisasi, termasuk
tantangan yang dihadapi dan strategi yang
digunakan.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian merupakan strategi umum yang digunakan peneliti

untuk memahami realitas sosial secara menyeluruh. Penelitian ini menggunakan

pendekatan kualitatif karena bertujuan menggali secara mendalam pengalaman

subjektif mahasiswa fungsionaris dalam menjalankan peran ganda, baik dalam

organisasi kemahasiswaan maupun dalam studi akademik.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep verstehen yang dikembangkan oleh

Max Weber, di mana peneliti berupaya memahami makna subjektif di balik

tindakan sosial subjek penelitian. Artinya, peneliti tidak hanya mencatat perilaku

yang tampak, tetapi juga menafsirkan alasan, motivasi, serta cara pandang subjek

terhadap situasi dan realitas sosial yang mereka hadapi.

2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan

kualitatif. Menurut Sugiyono (2020:9), penelitian kualitatif adalah metode

penelitian yang digunakan untuk meneliti objek dalam kondisi alamiah, di mana

peneliti menjadi instrumen kunci, pengumpulan data dilakukan secara triangulasi

(gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan

makna daripada generalisasi.

Pendekatan deskriptif digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi atau

peristiwa secara sistematis, faktual, dan akurat sesuai dengan keadaan yang terjadi

23
24

di lapangan tanpa manipulasi variabel (Sugiyono, 2020:147). Dalam konteks ini,

penelitian difokuskan pada mahasiswa fungsionaris Badan Eksekutif Mahasiswa

(BEM) FIS-H UNM, dengan tujuan untuk mendeskripsikan bagaimana mereka

menjalankan peran ganda dalam menyeimbangkan kewajiban akademik dengan

tanggung jawab organisasi.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas

Negeri Makassar (FIS-H UNM), yang berlokasi di Kampus Gunung Sari, Kota

Makassar, Sulawesi Selatan. FIS-H UNM menaungi berbagai program studi dan

memiliki organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas, salah satunya adalah Badan

Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang menjadi wadah koordinasi, representasi, dan

pengembangan kapasitas kepemimpinan mahasiswa melalui program kerja dan

kegiatan kelembagaan.

Lokasi penelitian dipilih secara purposive karena aktivitas fungsionaris

BEM FIS-H UNM mencerminkan dinamika peran ganda mahasiswa sebagai

pengurus organisasi sekaligus akademisi. Subjek penelitian merupakan mahasiswa

fungsionaris BEM FIS-H UNM periode 2024-2025 yang menjalankan peran

kepengurusan dan terlibat dalam pelaksanaan program kerja selama masa jabatan.

Akses penelitian diperoleh melalui prosedur resmi perizinan dan koordinasi

kelembagaan fakultas, sehingga pengumpulan data berlangsung efektif sesuai

kaidah etika penelitian. Seluruh proses penelitian dilaksanakan dengan menjunjung

tinggi prinsip objektivitas, kerahasiaan, dan etika penelitian agar temuan yang

dihasilkan valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.


25

C. Fokus dan Deskripsi Fokus Penelitian

1. Fokus Penelitian

a. Peran ganda mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM, yang mencakup

keterlibatan simultan dalam pelaksanaan program kerja organisasi dan

penuntasan kewajiban akademik.

b. Program kerja BEM FIS-H UNM, yang meliputi pengelolaan, pelaksanaan,

dan evaluasi kegiatan sebagai tanggung jawab mahasiswa fungsionaris.

c. Penuntasan akademik mahasiswa, yaitu proses penyelesaian seluruh kewajiban

akademik secara optimal sambil tetap menjalankan tanggung jawab organisasi.

2. Deskripsi Fokus Penelitian

a. Peran ganda mahasiswa fungsionaris menekankan bagaimana mereka

menyeimbangkan dua ranah tanggung jawab utama, yakni organisasi dan

akademik, dalam kegiatan sehari-hari, serta bagaimana peran ini direalisasikan

secara konkret.

b. Program kerja difokuskan pada pengelolaan, pelaksanaan, dan evaluasi

kegiatan BEM FIS-H UNM, termasuk strategi adaptif yang diterapkan

mahasiswa fungsionaris untuk memastikan program berjalan efektif dan sesuai

tujuan organisasi.

c. Penuntasan akademik menyoroti bagaimana mahasiswa menyelesaikan

kewajiban akademik secara optimal sambil tetap terlibat aktif dalam organisasi,

serta peran dukungan sosial dan kelembagaan dalam membantu keberhasilan

penuntasan akademik.
26

D. Tahap-tahap Penelitian

1. Tahap Perencanaan

Tahap ini mencakup langkah awal sebagai dasar dalam melaksanakan penelitian

yang terarah dan valid secara metodologis.

a. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Peneliti mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fenomena nyata di

lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar (FIS-H

UNM), khususnya pada mahasiswa yang menjabat sebagai fungsionaris di Badan

Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIS-H UNM. Mahasiswa tersebut memikul dua

tanggung jawab utama, yaitu menjalankan program kerja organisasi dan

menuntaskan kewajiban akademik. Permasalahan ini dirumuskan melalui observasi

awal dan diskusi eksploratif dengan beberapa fungsionaris yang bersedia

memberikan informasi awal.

b. Kajian Literatur dan Studi Pendahuluan

Peneliti mengkaji teori-teori yang relevan, termasuk teori peran, teori

konflik peran, manajemen waktu, dukungan sosial, dan organisasi adaptif, sebagai

landasan konseptual penelitian. Selain itu, studi pendahuluan dilakukan untuk

memahami dinamika dan ritme kerja BEM FIS-H UNM, baik dari aspek struktural

maupun fungsional, sehingga memberikan pemahaman yang komprehensif

mengenai pelaksanaan program kerja dan penuntasan akademik mahasiswa

fungsionaris.

c. Penyusunan Desain Penelitian

Peneliti merancang penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif,


27

menentukan fokus studi, menetapkan strategi pemilihan informan, serta

menyiapkan instrumen pengumpulan data seperti pedoman wawancara mendalam

dan lembar observasi.

2. Tahap Pelaksanaan

Tahap ini merupakan pelaksanaan nyata dari kegiatan penelitian lapangan.

a. Pengumpulan Data Lapangan

Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan mahasiswa fungsionaris

aktif dari BEM FIS-H UNM untuk mengeksplorasi pengalaman mereka dalam

menjalankan peran organisasi dan akademik secara bersamaan, termasuk strategi

yang diterapkan serta tantangan yang dihadapi. Observasi juga dilakukan terhadap

aktivitas kelembagaan BEM FIS-H UNM, seperti rapat, pelaksanaan program kerja,

dan interaksi informal antaranggota. Dokumen pendukung, meliputi struktur

organisasi, arsip program kerja, dan jadwal kegiatan, dikumpulkan untuk

melengkapi pemahaman kontekstual penelitian.

b. Pencatatan dan Pengelolaan Data

Hasil wawancara ditranskrip dan dikodekan berdasarkan tema untuk

mengidentifikasi pola pengalaman, konflik peran, strategi adaptif, serta bentuk

dukungan yang diterima mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM. Catatan

lapangan dan hasil observasi disusun secara sistematis guna memperkuat triangulasi

data. Dokumen pendukung, seperti struktur organisasi, arsip program kerja, dan

jadwal kegiatan, diklasifikasikan sesuai relevansi tematik terhadap fokus penelitian.

3. Tahap Evaluasi dan Penyusunan Laporan

Tahap ini mencakup proses interpretasi data hingga penyusunan laporan akhir yang
28

utuh dan valid.

a. Analisis Data

Data dianalisis secara tematik dengan pendekatan induktif untuk

mengungkap pola pengalaman, konflik peran, strategi adaptif, dan dukungan yang

diterima mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM. Analisis menjaga konteks

naratif dan kedalaman makna dari setiap informan, sehingga temuan tetap akurat

dan kontekstual.

b. Penyusunan Laporan Penelitian

Laporan penelitian disusun secara sistematis, meliputi latar belakang

masalah, kajian teori, metodologi, temuan lapangan, pembahasan, hingga

kesimpulan dan saran. Selain sebagai persyaratan akademik, laporan ini diharapkan

memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan tata kelola dan sistem

pendampingan bagi mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM.

E. Jenis dan Sumber Data

1. Jenis Data

Penelitian ini menggunakan data kualitatif yang bertujuan untuk

menggambarkan pengalaman mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM dalam

menjalankan peran ganda mereka. Data yang digunakan terdiri atas:

a. Data Primer

Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa

fungsionaris BEM FIS-H UNM yang sedang maupun pernah menjabat. Wawancara

difokuskan pada pengalaman mereka dalam menjalankan peran ganda, yaitu

melaksanakan program kerja organisasi sekaligus menyelesaikan kewajiban


29

akademik. Selain itu, data primer juga diperoleh melalui observasi terhadap

aktivitas organisasi dan dinamika akademik yang dijalani oleh para fungsionaris.

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari dokumen resmi organisasi seperti program

kerja, laporan kegiatan, serta arsip administrasi BEM FIS-H UNM. Selain itu, data

sekunder juga mencakup dokumen administrasi akademik kampus yang relevan,

serta literatur berupa buku, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu.

2. Sumber Data

Sumber utama data dalam penelitian ini meliputi:

a. Mahasiswa Fungsionaris

Informan kunci merupakan mahasiswa aktif FIS-H UNM yang menjabat

sebagai pengurus di BEM FIS-H UNM. Mereka dipilih karena secara langsung

menjalani peran ganda, yaitu sebagai pengurus organisasi mahasiswa sekaligus

sebagai mahasiswa yang harus menyelesaikan kewajiban akademiknya.

b. Dokumentasi Organisasi

Sebagai pelengkap data primer, dokumen organisasi digunakan untuk

memperkuat konteks, seperti program kerja, laporan kegiatan, dokumen

administrasi akademik kampus dan dokumentasi visual.

Penentuan informan dilakukan menggunakan teknik snowball sampling,

yaitu memilih informan awal yang relevan dan memungkinkan penambahan

informan berikutnya berdasarkan rekomendasi dari informan sebelumnya. Teknik

ini digunakan untuk mendapatkan data yang kaya, mendalam, dan relevan sesuai

fokus penelitian.
30

F. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama

yang secara langsung mengumpulkan, memahami, dan menafsirkan data melalui

keterlibatan di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNM. Peneliti

mengambil posisi sebagai observer-as-participant dengan cara berinteraksi secara

terbatas dengan informan dan mengamati dinamika organisasi, namun tetap

menjaga jarak profesional agar tidak memengaruhi objektivitas dan keutuhan data

penelitian.

Selain itu, digunakan pula instrument pendukung berikut:

1. Pedoman Wawancara

Digunakan untuk menggali pengalaman, strategi, tantangan, dan bentuk

dukungan yang dialami mahasiswa fungsionaris BEM FIS-H UNM. Wawancara

dilakukan dengan pertanyaan terbuka agar informan dapat menceritakan

pengalamannya secara lebih bebas.

2. Panduan Observasi

Digunakan untuk mencatat aktivitas dan interaksi mahasiswa fungsionaris

BEM FIS-H UNM, baik dalam kegiatan organisasi maupun dalam menjalani

perkuliahan. Observasi dilakukan di lingkungan kampus untuk memperoleh

gambaran nyata yang relevan dengan hasil wawancara.

3. Dokumentasi

Meliputi arsip organisasi BEM FIS-H UNM berupa struktur kepengurusan,

laporan kegiatan, dokumentasi visual, serta dokumen akademik seperti transkrip

nilai dan data akademik terkait. Dokumen-dokumen ini berfungsi sebagai data
31

pendukung dan pembanding melalui teknik triangulasi untuk memperkuat

keabsahan dan validitas penelitian.

G. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik utama untuk

mengumpulkan data, yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.

Ketiga teknik tersebut dilaksanakan secara sistematis di lingkungan BEM FIS-H

UNM, dengan memperhatikan dinamika organisasi dan ketersediaan informan,

serta berlandaskan prinsip keabsahan data kualitatif.

1. Observasi

Observasi dilakukan secara langsung terhadap aktivitas mahasiswa

fungsionaris BEM, baik dalam kegiatan formal seperti rapat dan pelaksanaan

program kerja, maupun dalam interaksi sehari-hari di sekretariat. Observasi ini

bertujuan untuk menangkap pola interaksi, cara pengelolaan program kerja, serta

strategi mahasiswa dalam menyeimbangkan tanggung jawab organisasi dan

akademik. Hasil observasi dicatat dalam catatan lapangan (field notes) untuk

merekam situasi secara kontekstual.

2. Wawancara

Wawancara semi-terstruktur dilakukan kepada mahasiswa fungsionaris

BEM FIS-H UNM. Pertanyaan diarahkan untuk menggali pengalaman mereka

dalam menjalankan peran ganda, tantangan yang dihadapi, pencapaian akademik,

serta strategi pengelolaan waktu dan prioritas. Wawancara dilakukan secara

langsung dengan persetujuan informan, direkam, lalu ditranskrip secara verbatim

guna menjaga keakuratan data.


32

3. Dokumentasi

Teknik dokumentasi digunakan untuk melengkapi data primer dengan arsip

organisasi BEM FIS-H UNM, seperti struktur kepengurusan, laporan kegiatan,

dokumentasi visual, serta dokumen akademik berupa transkrip nilai atau data studi

informan yang relevan. Dokumen-dokumen ini berfungsi sebagai bahan pendukung

dan pembanding (triangulasi) untuk memperkuat validitas temuan penelitian.

H. Pengecekan Keabsahan Data

Untuk menjamin keabsahan data dalam penelitian kualitatif ini, peneliti

menerapkan sejumlah teknik verifikasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip

keilmuan. Teknik-teknik ini bertujuan memastikan bahwa data yang diperoleh

benar-benar merepresentasikan realitas dan pengalaman subjek penelitian.

1. Triangulasi Sumber dan Teknik

Peneliti menggabungkan data dari wawancara, observasi, dan dokumentasi

untuk memastikan konsistensi informasi dari berbagai sumber. Wawancara

dilakukan terhadap fungsionaris BEM FIS-H UNM, sedangkan data dokumentasi

diperoleh dari arsip organisasi (struktur kepengurusan, laporan kegiatan, notulensi

rapat, dan dokumentasi visual) serta dokumen akademik.

2. Ketekunan Pengamatan (Prolonged Engagement)

Peneliti melakukan pengamatan secara berkelanjutan terhadap aktivitas

organisasi mahasiswa untuk memperoleh pemahaman yang utuh mengenai

dinamika internal. Proses ini dilakukan dengan membangun hubungan yang baik

dengan informan dan melakukan observasi berulang terhadap berbagai kegiatan,

sehingga data yang diperoleh lebih akurat, mendalam, dan kontekstual.


33

3. Pengecekan Anggota (Member Checking)

Setelah wawancara dan proses interpretasi awal, peneliti melakukan

klarifikasi ulang kepada informan untuk memastikan bahwa hasil temuan tidak

menyimpang dari maksud atau pengalaman yang mereka sampaikan.

4. Audit Trail dan Dokumentasi

Seluruh proses penelitian dicatat dan disusun secara sistematis, mulai dari

perencanaan, pengumpulan data, hingga analisis. Dokumentasi ini memungkinkan

penelusuran ulang atas data dan keputusan yang diambil selama penelitian.

I. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga analisis data

dilakukan secara terus-menerus sejak pengumpulan data sampai pada tahap

kesimpulan. Tujuannya adalah untuk memahami secara lebih dalam bagaimana

mahasiswa fungsionaris menjalani peran ganda dalam organisasi dan akademik.

1. Reduksi Kata

Peneliti menyaring dan memilih data dari hasil wawancara, observasi, dan

dokumentasi, agar hanya data yang benar-benar berkaitan dengan fokus penelitian

yang digunakan. Data kemudian dikelompokkan ke dalam tema- tema seperti

strategi manajemen waktu, tantangan peran ganda, dan bentuk dukungan yang

diterima.

2. Penyajian Data

Data yang sudah dipilih dan dikelompokkan lalu disajikan dalam bentuk

narasi dan tabel sederhana. Hal ini memudahkan peneliti dalam membaca pola dan

keterkaitan antara pengalaman informan dengan aspek-aspek peran ganda yang


34

diteliti.

3. Analisis Tematik

Peneliti mencari tema-tema utama dari semua data yang telah dikumpulkan,

seperti dari transkrip wawancara dan catatan lapangan. Tema-tema ini dianalisis

untuk melihat keterkaitan dan makna di balik pengalaman mahasiswa, misalnya

bagaimana mereka menghadapi tekanan akademik sambil memimpin organisasi.

4. Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan ditarik berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dan

disesuaikan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Proses ini juga mengacu

pada teori-teori yang digunakan, sehingga hasilnya tetap sesuai dengan kenyataan

yang disampaikan oleh para informan.


35

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Abercrombie, N., Hill, S., & Turner, B. S. (2010). Kamus sosiologi (D. Noviyani,
E. Adinugraha, & R. Widada, Penerj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Karya
asli diterbitkan 2006 sebagai The Penguin Dictionary of Sociology, 5th ed.).
Covey, S. R. (1994). First things first. Free Press.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia. (2020). Panduan penyusunan kurikulum pendidikan
tinggi di era industri 4.0 untuk mendukung Merdeka Belajar – Kampus
Merdeka (Edisi ke-4). Raja Grafindo Persada.
Katz, D., & Kahn, R. L. (1978). The social psychology of organizations (2nd ed.).
Wiley.
Lakein, A. (1973). How to get control of your time and your life. P.H. Wyden.
Linton, R. (1936). The study of man: An introduction. Appleton-Century- Crofts.
Narwoko, J. D., & Suyanto, B. (2004). Sosiologi: Teks pengantar dan terapan
(Edisi ke-4). Jakarta: Prenadamedia Group – Kencana.
Panuju, R. (2021). Spektrum komunikasi organisasi. Jakarta: Prenadamedia Group.
Sugiyono. (2020). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Syani, A. (2012). Sosiologi: Skematika, teori, dan terapan. Jakarta: Bumi Aksara.
Tim Penyusun. (2022). Pedoman penulisan skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan
Hukum UNM. Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri
Makassar. ISBN 978-623-387-044-3
Weber, M. (2006). Sosiologi: From Max Weber – Essays in Sociology (N.
Noorkholish & Tim Penerjemah Promothea, Penerj.). Pustaka Pelajar.
(Karya asli diterbitkan 1946)
Artikel/Jurnal

Chalikandy, M. (2023). Importance of program evaluation in English language


education. International Journal of English Literature and Social Sciences,
8(6).
Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering
hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310–357.
[Link]
36

Gamadhila, J. I., Zubair, A. G. H., & Nurhikmah. (2024). Konflik peran ganda
sebagai prediktor terhadap keberfungsian keluarga pada perempuan bekerja
dan berkeluarga di Kota Makassar. Jurnal Psikologi Karakter, 4(1), 293–
302.
Greenhaus, J. H., & Beutell, N. J. (1985). Sources of conflict between work and
family roles. Academy of Management Review, 10(1), 76–88.
Gunawan, I., Sari, D. M., Agustian, S., Marwiyah, S., Bagaskara, N. D., Sa’diyyah,
M., Sari, D. A. (2017). Prestasi belajar mahasiswa fungsionaris UKM KSR
PMI Unit Universitas Negeri Malang. Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(2), 171–
177.
Handani, S. S., & Prayoga, R. M. S. (2022). Peran organisasi kemahasiswaan
(Ormawa) untuk meningkatkan soft skill mahasiswa Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Bale Bandung. Resource: Research of Social
Education, 2(2), 23–31.
Maulina, I. (2019). Manajemen organisasi intra sekolah dalam meningkatkan mutu
pendidikan karakter. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 96–
102.
Mustaqim, G. P., & Wahjoedi, T. (2024). Effectiveness of student participation in
campus organizations. INCOME: Innovation of Economics and
Management,3(3), 29–35. [Link]
Nirmalasari, R., & Minai, F. (2023). Manajemen peran ganda mahasiswa pengurus
organisasi. Jurnal Manajemen Pendidikan, 12(1), 21–36.
Pramono, T., Suwarno, S., & Widodo, S. (2020). Strategi Badan Eksekutif
Mahasiswa (BEM) untuk mencapai program kerja organisasi di Universitas
Kadiri. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Administrasi Negara, 4(1), 43–48.
Saputri, L., Puspita, P. A., & Sembiring, D. A. E. P. (2020). Pengaruh organisasi
kemahasiswaan, konflik peran, stres organisasi terhadap prestasi akademik
mahasiswa FKIP Universitas Jambi. Indonesian Educational Administration
and Leadership Journal (IDEAL), 2(2), 49–59.
Sulastria, & Ichwani, S. U. (2020). Implementasi good governance pada organisasi
mahasiswa di Universitas Pamulang. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan,
7(2), 87–100.
Wicaksono, L., Linarsih, A., & Putri, A. (2023). Identifikasi permasalahan
akademik pada mahasiswa FKIP di Kalimantan Barat. Jurnal Visi Ilmu
Pendidikan, 15(1), 126–135. [Link]
37

Skripsi/Tesis
Annisa, S. S. (2023). Penyesuaian akademik mahasiswa selama masa
perkuliahan daring dan implikasinya bagi layanan bimbingan dan
konseling di perguruan tinggi [Tesis Magister, Universitas Pendidikan
Indonesia]. UPI Repository.
Batara, S. I., & Wijono, S. (2019). Budaya organisasi dan kinerja pada
fungsionaris lembaga kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana
(UKSW) [Skripsi, Universitas Kristen Satya Wacana]. Repositori UKSW.
Hutapea, A. T. (2024). Faktor-faktor yang mempengaruhi penyelesaian masa studi
mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam [Skripsi, Universitas
Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau].
Umari, C., Sari, M. I., & Hermawan, H. (2020). Peran ganda perempuan pelaku
usaha mikro dalam peningkatan pendapatan keluarga (Studi di Desa
Rejoagung Kecamatan Semboro Kabupaten Jember) [Skripsi, Universitas
Muhammadiyah Jember].
Dokumen Resmi/Panduan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (2014). Panduan penyusunan kurikulum
pendidikan tinggi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan
pengelolaan organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi. Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Panduan
Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK
Ormawa) 2023. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan
Teknologi.
Peraturan/Undang-Undang
Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Pendidikan Tinggi.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. (2020). Berita
Negara RI Tahun 2020 Nomor 47.
Laporan/Dokumen Organisasi
Badan Eksekutif Mahasiswa FIS-H UNM. (2025). Program kerja BEM FIS-H
UNM periode 2024–2025 [Laporan internal]. Makassar: UNM.

Anda mungkin juga menyukai