0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan36 halaman

TP

Dokumen ini membahas tentang pelayanan kesehatan yang meliputi definisi, dasar hukum, syarat utama, dan tingkatan pelayanan kesehatan di Indonesia. Pelayanan kesehatan terdiri dari layanan perseorangan dan masyarakat, serta diatur oleh Undang-Undang Kesehatan untuk memastikan hak dan keselamatan pasien. Selain itu, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memberikan perlindungan kesehatan kepada peserta melalui prinsip gotong royong dan kepesertaan wajib.

Diunggah oleh

Latifah Fitriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan36 halaman

TP

Dokumen ini membahas tentang pelayanan kesehatan yang meliputi definisi, dasar hukum, syarat utama, dan tingkatan pelayanan kesehatan di Indonesia. Pelayanan kesehatan terdiri dari layanan perseorangan dan masyarakat, serta diatur oleh Undang-Undang Kesehatan untuk memastikan hak dan keselamatan pasien. Selain itu, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memberikan perlindungan kesehatan kepada peserta melalui prinsip gotong royong dan kepesertaan wajib.

Diunggah oleh

Latifah Fitriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pelayanan Kesehatan

1. Definisi Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan merupakan suatu bentuk upaya yang

diselenggarakan oleh institusi atau tenaga kesehatan secara terpadu untuk

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui kegiatan promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang terkoordinasi dan

berkesinambungan. Pelayanan ini tidak hanya berfokus pada

penyembuhan penyakit, tetapi juga pada upaya mempertahankan dan

meningkatkan status kesehatan secara menyeluruh baik individu maupun

komunitas (Suparyanto, 2016) .Defenisi Pelayanan kesehatan menurut

Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2009 (Departemen

Kesehatan RI) yang tertuang dalam Undang-Undang Kesehatan tentang

kesehatan ialah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara

bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta

memulihkan kesehatan, perorangan, keluarga, kelompok ataupun

masyarakat. Berdasarkan Pasal 52 ayat (1) UU Kesehatan, pelayanan

kesehatan secara umum terdiri dari dua bentuk pelayanan kesehatan

yaitu:

25
26

a. Pelayanan kesehatan perseorangan (medical service).

Pelayanan kesehatan ini banyak diselenggarakan oleh

perorangan secara mandiri (selfcare), dan keluarga (family care) atau

kelompok anggota masyarakat yang bertujuan untuk menyembuhkan

penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga.

Upaya pelayanan perseorangan tersebut dilaksanakan pada institusi

pelayanan kesehatan yang disebut rumah sakit, klinik bersalin, praktik

mandiri.

b. Pelayanan kesehatan masyarakat (public health service).

Pelayanan kesehatan masyarakat diselenggarakan oleh

kelompok dan masyarakat yang bertujuan untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan yang mengacu pada tindakan promotif dan

preventif. Upaya pelayanan masyarakat tersebut dilaksanakan pada

pusat-pusat kesehatan masyarakat tertentu seperti puskesmas.

Kegiatan pelayanan kesehatan secara paripurna diatur dalam Pasal

52 ayat (2) UU Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yaitu:

a. Pelayanan kesehatan promotif, suatu kegiatan dan/atau serangkaian

kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan

yang bersifat promosi kesehatan, seperti edukasi kesehatan,

penyuluhan gizi, dan imunisasi yang diberikan di Puskesmas kepada

peserta JKN/BPJS.

b. Pelayanan kesehatan preventif, suatu kegiatan pencegahan terhadap

suatu masalah kesehatan/penyakit, misalnya skrining penyakit,


27

vaksinasi, dan deteksi dini yang dilaksanakan di Puskesmas bagi

masyarakat peserta JKN.

c. Pelayanan kesehatan kuratif, suatu kegiatan dan/atau

serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk

penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit,

pengendalian penyakit, pengendalian kecacatan agar kualitas

penderita dapat terjaga seoptimal mungkin, yang diberikan di

Puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama lainnya kepada

peserta JKN/BPJS.

d. Pelayanan kesehatan rehabilitatif, kegiatan dan/atau serangkaian

kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam

masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota

masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat,

semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya, dilakukan

di Puskesmas atau layanan rujukan yang bekerja sama dengan

BPJS/JKN untuk mendukung pasien pasca penyakit agar dapat

beraktivitas normal kembali.

2. Dasar Hukum Pelayanan Kesehatan

Semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan

kesehatan, maka semakin berkembang juga aturan dan peranan hukum

dalam mendukung peningkatan pelayanan kesehatan, alasan ini menjadi

faktor pendorong pemerintah dan institusi penyelenggara pelayanan

kesehatan untuk menerapkan dasar dan peranan hukum dalam

meningkatkan pelayanan kesehatan yang berorientasi terhadap


28

perlindungan dan kepastian hukum pasien (Komalawati, 1999).

Pelayanan kesehatan merupakan hak dasar setiap warga negara yang

dijamin oleh konstitusi dan dijabarkan lebih lanjut melalui regulasi sektor

kesehatan. Dasar hukum pemberian pelayanan kesehatan secara umum

diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Dalam Pasal 3 disebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sehat

secara fisik, mental, spiritual, dan sosial serta memperoleh pelayanan

kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Hak tersebut merupakan

bagian dari hak asasi manusia yang harus dipenuhi oleh negara tanpa

diskriminasi dalam bentuk apa pun. Selanjutnya, Pasal 4 menegaskan

bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertanggung jawab

dalam penyediaan sumber daya kesehatan yang dibutuhkan masyarakat,

serta menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan yang memenuhi

standar.

Pelayanan kesehatan sebagai manifestasi perlindungan negara

kepada masyarakat dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal 19 ayat (1), yang

menyatakan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan

untuk meningkatkan, memelihara, dan memulihkan kesehatannya.

Ketentuan ini menempatkan pelayanan kesehatan sebagai hak normatif

yang wajib dilindungi, bukan sekadar komoditas layanan. Pada tataran

operasional, fasilitas pelayanan kesehatan memiliki kewajiban untuk

memberikan layanan yang aman, bermutu, adil, dan nondiskriminatif.

Hal ini tercermin dalam Pasal 263 ayat (2), yang mengharuskan seluruh
29

bentuk pelayanan di fasilitas kesehatan diselenggarakan dengan

menjunjung tinggi prinsip keselamatan pasien serta efisiensi layanan.

Adapun ketentuan mengenai rumah sakit sebagai salah satu institusi

penyelenggara pelayanan kesehatan dirinci dalam Pasal 264, yang

mengatur bahwa rumah sakit wajib menyelenggarakan pelayanan

kesehatan secara profesional dengan mengutamakan kepentingan

pasien serta sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

Pelayanan kesehatan sejatinya merupakan suatu bentuk hubungan

hukum antara pemberi layanan dan penerima layanan, yang mencakup

tindakan profesional di bidang promotif, preventif, kuratif, maupun

rehabilitatif. Oleh karena itu, setiap aktivitas pelayanan kesehatan harus

diselenggarakan dengan berpedoman pada ketentuan hukum yang

berlaku agar memberikan jaminan kepastian dan perlindungan bagi

pasien. Hal ini penting mengingat kompleksitas pelayanan kesehatan

seringkali menimbulkan risiko hukum, sehingga diperlukan tata kelola

hukum yang responsif dan adaptif terhadap dinamika sistem pelayanan

kesehatan (Triwibowo, 2015).

Melalui keberadaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023,

negara menegaskan kembali tanggung jawabnya dalam mewujudkan

pelayanan kesehatan yang efektif dan berorientasi pada keselamatan

pasien. Pemerintah, dalam hal ini, tidak hanya bertindak sebagai

regulator, tetapi juga sebagai fasilitator dalam menyediakan sarana dan

prasarana, tenaga kesehatan, serta sistem pembiayaan yang berkelanjutan.


30

3. Syarat Utama Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi sejumlah syarat

pokok agar dapat dijalankan secara efektif dan efisien. World Health

Organization (WHO) menyebutkan bahwa ada enam pilar utama yang

menjadi dasar sistem pelayanan kesehatan yang tangguh, yaitu: tata

kelola kepemimpinan yang baik, pembiayaan yang berkelanjutan, tenaga

kesehatan yang kompeten dan memadai, sistem informasi kesehatan yang

handal, ketersediaan obat-obatan dan teknologi yang dapat diakses, serta

pelayanan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat (WHO, 2020).

Di Indonesia, Permenkes RI Nomor 43 Tahun 2019 tentang

Puskesmas menyatakan bahwa pelayanan kesehatan harus dilaksanakan

oleh tenaga kesehatan yang memiliki kualifikasi dan kompetensi sesuai

standar, dengan sarana dan prasarana memadai, sistem manajemen mutu,

serta jaminan keselamatan pasien yang diatur dalam standar pelayanan

minimal (Permenkes RI No. 43 Tahun 2019, 2019).

Pelayanan kesehatan juga wajib dilaksanakan secara menyeluruh,

berkesinambungan, dan tidak diskriminatif, serta menjamin hak pasien

untuk mendapatkan informasi, kenyamanan, dan perlindungan hukum

(Ardiansyah & Maulida, 2021). Selain itu, aspek etika dan budaya lokal

juga menjadi pertimbangan penting dalam penyelenggaraan pelayanan

kesehatan agar tercapai pelayanan yang holistik dan manusiawi (Susanti

et al., 2022).
31

4. Tingkat Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan merupakan upaya yang diselenggarakan

secara terpadu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui

kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dalam sistem

kesehatan nasional, pelayanan kesehatan dibedakan berdasarkan

tingkatan atau strata layanan, yang mencerminkan kompleksitas kasus,

jenis tenaga kesehatan, serta fasilitas yang tersedia. Pembagian

tingkatan ini bertujuan agar pelayanan dapat berjalan secara efisien

dan berkesinambungan melalui sistem rujukan yang teratur antar

fasilitas kesehatan (Kemenkes RI, 2016).

Menurut Setyawan (2019), tingkatan pelayanan kesehatan

terdiri dari tiga tingkatan atau jenjang.

a. Pelayanan kesehatan tingkat primer (primary health care)

Pelayanan kesehatan tingkat primer merupakan pelayanan

kesehatan dasar dan pertama yang menyediakan pelayanan promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitatif awal. Tenaga kesehatan di tingkat

pertama memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan

kesehatan dasar, edukasi, dan rujukan apabila dibutuhkan (Nursalam,

2017). Contoh pelayanan kesehatan pertama yaitu, puskesmas,

puskesmas pembantu, puskesmas keliling, balkesmas, praktek dokter

perorangan atau klinik rawat jalan.


32

b. Pelayanan kesehatan tingkat sekunder (secondary health services)

Pelayanan kesehatan tingkat sekunder merupakan pelayanan

kesehatan tindak lanjut dari pelayanan primer apabila kasus kesehatan

memerlukan pemeriksaan, penanganan atau fasilitas medis yang lebih

lengkap. Pelayanan di tingkat ini mencakup kegiatan kuratif dan

rehabilitatif dengan dukungan tenaga medis spesialis dan peralatan

yang lebih canggih (Notoatmodjo, 2012). Pelayanan sekunder juga

berfungsi sebagai tempat rujukan bagi pasien dari fasilitas kesehatan

tingkat pertama yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Contoh

pelayanan kesehatan kedua yaitu, rumah sakit tipe C dan D, dan

memerlukan tersedianya tenaga-tenaga spesialis.

c. Pelayanan kesehatan tingkat tersier (tertiary health services)

Pelayanan kesehatan tingkat tersier merupakan pelayanan

kesehatan yang diperlukan masyrakat yang sudah tidak dapat

ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Pelayanan tersier terdiri

dari pelayanan tingkat lanjut yang memberikan layanan subspesialis

dan superspesialis dengan sarana, prasarana, serta teknologi kedokteran

yang paling lengkap. Pelayanan di tingkat tersier bersifat

komprehensif dan mendalam, mencakup diagnosis, pengobatan,

tindakan bedah kompleks, serta rehabilitasi medik yang melibatkan

tenaga ahli multidisiplin (Nursalam, 2017). Contoh pelayanan

kesehatan tersier yaitu, rumah sakit tipe A dan B serta memiliki

pelayanan yang sudah kompleks dan membutuhkan tenaga kesehatan


33

sub spesialis.

B. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

1. Definisi Jaminan Kesehatan

Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan

agar Peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan

perlindungan dalam memenuhi Kebutuhan Dasar Kesehatan yang

diberikan kepada setiap orang yang telah membayar Iuran Jaminan

Kesehatan atau Iuran Jaminan Kesehatannya dibayar oleh Pemerintah

Pusat atau Pemerintah Daerah (Peraturan Presiden No.82 Tahun 2018).

2. Prinsip Jaminan Kesehatan Nasional

Jaminan Kesehatan Nasional mengacu pada prinsip Sistem

Jaminan Sosial Nasional (SJSN). JKN merupakan bagian dari SJSN yang

diselenggarakan dengan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang

bersifat wajib, tujuannya untuk menjamin kesehatan masyarakat secara

menyeluruh, seperti yang disebutkan dalam Peraturan Presiden Nomor 82

Tahun 2018:

a. Kegotongroyongan

Prinsip ini diwujudkan dalam mekanisme gotong royong dari

peserta yang mampu kepada peserta yang kurang mampu dalam

bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat; peserta yang berisiko

rendah membantu yang berisiko tinggi; dan peserta yang sehat

membantu yang sakit. Melalui prinsip kegotong-royongan ini, jaminan

sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat


34

Indonesia.

b. Nirlaba

Pengelolaan dana amanat tidak dimaksudkan untuk mencari

laba (nirlaba) bagi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, akan tetapi

tujuan utama penyelenggaraan jaminan sosial adalah untuk memenuhi

sebesar-besarnya kepentingan peserta. Dana amanat, hasil

pengembangannya, dan surplus anggaran akan dimanfaatkan sebesar-

besarnya untuk kepentingan peserta.

c. Akuntabilitas

Prinsip-prinsip manajemen ini diterapkan dan mendasari seluruh

kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil

pengembangannya.

d. Protabilitas

Jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang

berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat

tinggal dalam wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia.

e. Kepesertaan bersifat wajib

Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi

peserta schingga dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat

wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan

kemampuan ekonomi rakyat dan Pemerintah serta kelayakan

penyelenggaraan program. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di

sektor formal, bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi


35

peserta secara suka rela, sehingga dapat mencakup petani, nelayan dan

mereka yang bekerja secara mandiri, sehingga pada akhirnya sistem

Jaminan Sosial Nasional dapat mencakup seluruh rakyat.

f. Dana amanat

Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan titipan

kepada badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya

dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan

peserta.

3. Manfaat Jaminan Kesehatan

Manfaat Jaminan Kesehatan terdiri atas manfaat medis dan manfaat

nonmedis. Manfaat medis diberikan sesuai dengan indikasi medis dan

standar pelayanan serta tidak dibedakan berdasarkan iuran peserta.

Manfaat nonmedis diberikan berdasarkan iuran peserta (Peraturan

Presiden No. 82 Tahun 2018).

Setiap peserta berhak memperoleh manfaat jaminan kesehatan yang

bersifat pelayanan kesehatan perorangan, mencakup pelayanan promotif,

preventif, kuratif dan rehabilitatif, termasuk pelayanan obat, alat

kesehatan, dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis

yang diperlukan (Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2018). Pelayanan

kesehatan yang dijamin terdiri atas:

a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama, meliputi pelayanan kesehatan

nonspesialistik.

b. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, meliputi pelayanan


36

kesehatan.

c. Pelayanan ambulans darat atau air merupakan pelayanan transportasi

pasien rujukan dengan kondisi tertentu antar fasilitas kesehatan

disertai dengan upaya menjaga kestabilan kondisi pasien untuk

kepentingan keselamatan pasien.

d. Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian

pelayanan:

1) Penyuluhan kesehatan perorangan, meliputi paling sedikit

penyuluhan mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan

perilaku hidup bersih dan sehat

2) Imunisasi rutin, meliputi pemberian jenis imunisasi rutin sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

3) Keluarga berencana, meliputi konseling dan pelayanan

kontrasepsi, termasuk vasektomi dan tubektomi bekerja sama

dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

4) Skrining riwayat kesehatan dan pelayanan penapisan atau

skrining kesehatan tertentu, diberikan secara selektif yang

ditujukan untuk mendeteksi risiko penyakit dengan menggunakan

metode tertentu.

5) Peningkatan kesehatan bagi peserta penderita penyakit kronis,

ditujukan kepada peserta penderita penyakit kronis tertentu untuk

mengurangi risiko akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.


37

Pelayanan kesehatan yang tidak dijamin meliputi:

a. Pelayanan kesehatan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan;

b. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di fasilitas kesehatan yang tidak

bekerja sama dengan BPJS Kesehatan;

c. Pelayanan kesehatan untuk tujuan kosmetik;

d. Pelayanan untuk mengatasi infertilitas;

e. Pelayanan meratakan gigi atau ortodonsi;

f. Gangguan kesehatan/penyakit akibat ketergantungan obat dan/ atau

alkohol;

g. Pengobatan komplementer, alternatif dan tradisional, yang belum

dinyatakan efektif berdasarkan penilaian teknologi kesehatan;

h. Alat dan obat kontrasepsi, kosmetik;

i. Pelayanan kesehatan akibat tindak pidana penganiayaan, kekerasan

seksual, korban terorisme, dan tindak pidana perdagangan orang

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4. Kepesertaan JKN

Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja

paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran

jaminan kesehatan (Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2018).

a. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK)

Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), adalah

peserta yang tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu yang
38

iurannya dibayarkan oleh Pemerintah Pusat melalui APBN dan

Pemerintahan Darah melalui APBD.

Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan harus memenuhi

syarat sebagai warga negara Indonesia (WNI), memiliki NIK (Nomor

Induk Keluarga) di Dukcapil, dan terdaftar dalam Data Terpadu

Kesejahteraan Sosial. Kepesertaan PBI JK berlaku terhitung sejak

didaftarkan oleh Kementerian Kesehatan berdasarkan penetapan oleh

menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah dibidang sosial

kecuali untuk bayi yang dilahirkan dari ibu kandung dari keluaarga

yang terdaftar sebagai PBI JK otomatis sebagai peserta, sebagaimana

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (BPJS

Kesehatan, 2021).

b. Bukan Penerima Bantuan Iuran (Non PBI)

Peserta bukan PBI Jaminan Kesehatan sebagaimana dimaksud

terdiri atas:

1) Pekerja Penerima Upah (PPU)

a) PPU Penyelenggara Negara terdiri dari Pejabat Negara,

Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pusat/Daerah, PNS yang

diperbantukan pada BUMN/BUMD, TNI/PNS TNI, POLRI/PNS

POLRI, Pimpinan dan anggota DPRD, Kepala Desa dan

perangkat desa serta Pegawai pemerintah dengan

perjanjian kerja.

b) PPU Non Penyelenggara Negara terdiri dari Pegawai Badan


39

Usaha Milik Negara (BUMN), Pegawai Badan Usaha Milik

Daerah (BUMD) dan Pegawai Badan Usaha Swasta.

2) Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) adalah setiap orang yang

bekerja atau berusaha atas risiko sendiri, dan pekerja yang berada

diluar hubungan kerja atau pekerja mandiri yang mampu membayar

iuran, antara lain: Pengacara, Akuntan, Arsitek, Dokter, Notaris,

Penilai, Aktuaris, dan lain sebagainya.

3) Bukan Pekerja (BP) adalah setiap orang yang bukan termasuk

kelompok PPU, PBPU, PBI Jaminan Kesehatan, dan penduduk

yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah. Bukan Pekerja (BP)

terdiri atas:

a) Investor yaitu perorangan yang melakukan suatu investasi

(bentuk penanaman modal sesuai dengan jenis investasi yang

dipilihnya) baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.

b) Pemberi Kerja yaitu orang perseorangan yang mempekerjakan

tenaga kerja, dengan membayar gaji, upah atau imbalan dalam

bentuk lainnya.

c) Penerima Pensiun, terdiri atas : Penerima Pensiun Pejabat

Negara, Penerima Pensiun Pegawai Negeri Sipil, Penerima

Pensiun Prajurit/anggota Polri, Penerima Pensiun TNI, Veteran

dan Perintis Kemerdekaan.


40

C. Puskesmas

1. Definisi Puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan unit

pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung

jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja

tertentu secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan berdasarkan

asas otonomi daerah dan desentralisasi (Kemenkes RI, 2019). Puskesmas

berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang

menyelenggarakan pelayanan publik bidang kesehatan sekaligus

pembinaan peran serta masyarakat dalam menjaga kesehatan secara

mandiri dan berkesinambungan (Indriani, 2020). Peran Puskesmas

sangat strategis karena menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan dasar

yang langsung bersentuhan dengan masyarakat dalam mendukung sistem

pelayanan kesehatan nasional (Aldo, 2021).

Kedudukan Puskesmas dalam sistem pelayanan kesehatan di

Indonesia sangat penting karena menjadi penanggung jawab pelayanan

kesehatan di wilayah kecamatan secara menyeluruh dan terintegrasi

antara pelayanan individual dan pelayanan kesehatan masyarakat

(Kemenkes RI, 2019). Selain itu, Puskesmas tidak hanya memberikan

pelayanan kuratif dasar, tetapi juga menyelenggarakan upaya promotif

dan preventif yang menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat

melalui kegiatan lintas sektor dan partisipasi aktif warga (Indriani, 2020).

Oleh karena itu, puskesmas merupakan sarana kesehatan yang unik karena
41

mengintegrasikan pelayanan medis dasar dengan pendekatan kesehatan

masyarakat secara langsung di tingkat komunitas (Aldo, 2021).

Berdasarkan ketentuan terbaru, terdapat sedikitnya 18 program

pokok di Puskesmas yang harus dijalankan secara simultan dan terpadu,

antara lain: pelayanan rawat jalan, kesehatan ibu dan anak, keluarga

berencana, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan lingkungan, kesehatan

jiwa, pendidikan kesehatan, perawatan kesehatan masyarakat,

pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, kesehatan olahraga,

kesehatan usia lanjut, kesehatan mata, kesehatan kerja, pelayanan

laboratorium dasar, dan pencatatan pelaporan kesehatan masyarakat

(Aldo, 2021). Program-program tersebut merupakan bentuk

operasionalisasi dari peran Puskesmas dalam mendukung target

pencapaian indikator kesehatan nasional sesuai dengan regulasi

pemerintah (Kemenkes RI, 2019). Dengan menjalankan seluruh program

ini, Puskesmas diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang

komprehensif, bermutu, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat,

khususnya di wilayah kerja masing-masing (Indriani, 2020).

2. Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas

Prinsip Penyelenggaraan puskesmas berdasarkan Peraturan

Menteri Keschatan Nomor 75 Tahun 2014 (Permenkes, 2014) yaitu:

a. Paradigma sehat

Puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk

berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi risiko


42

kesehatan yang dihadapiindividu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

b. Pertanggungjawaban wilayah

Puskesmas menggerakkan dan bertanggung jawab terhadap

pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.

c. Kemandirian masyarakat

Puskesmas mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu,

keluarga, kelompok dan masyarakat.

d. Pemerataan

Puskesmas menyelengggarakan pelayanan kesehatan yang

dapat diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di

wilayah kerjanya secara adil tanpa membedakan status sosial,

ekonomi, agama, budaya dan kepercayaan.

e. Teknologi tepat guna

Puskesmas menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan

memanfaatkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan

pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak berdampak buruk bagi

lingkungan.

f. Keterpaduan dan kesinambungan

Puskesmas mengintegrasikan dan mengkoordinasikan

penyelenggaraan UKM dan UKP lintas program dan lintas sektor serta

melaksanakan sistem rujukan yang didukung dengan manajemen

puskesmas.
43

3. Tugas dan Fungsi Puskesmas

Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan

untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya

dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat (Permenkes,

2014).

Puskesmas dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud,

menyelenggarakan fungsi sebagai berikut (Permenkes Nomor 43, 2019):

a. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya

Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud,

puskesmas berwenang untuk:

1) Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan

masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan;

2) melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;

3) Melaksanakan komunikasi, informasi, pemberdayaan masyarakat

dalam bidang kesehatan; edukasi,

4) Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan

menyelesaikan masalah kesehatan pada setiap tingkat

perkembangan masyarakat yang bekerja sama dengan sektor lain

terkait;

5) Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan

upaya kesehatan berbasis masyarakat;

6) Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia

puskesmas;
44

7) Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan;

8) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses,

mutu, dan cakupan pelayanan kesehatan; dan

9) Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat,

termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon

penanggulangan penyakit.

b. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya

Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud,

puskesmas berwenang untuk:

1) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara

komprehensif, berkesinambungan dan bermutu;

2) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan

upaya promotif dan preventif;

3) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi

pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat;

4) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan

keamanan dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung;

5) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip

koordinatif dan kerja sama inter dan antar profesi;

6) Melaksanakan rekam medis;

7) Melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi terhadap mutu

dan akses pelayanan kesehatan;

8) Melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan;


45

9) Mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas

pelayanan kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan

10) Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis

dan sistem rujukan.

D. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

1. Definisi Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Pemanfaatan pelayanan kesehatan mengacu pada frekuensi, jenis,

dan intensitas penggunaan layanan kesehatan oleh individu atau

kelompok masyarakat. Menurut Andersen & Newman (2005),

pemanfaatan layanan kesehatan mencerminkan perilaku individu dalam

mencari, mengakses, dan menggunakan fasilitas dan tenaga kesehatan,

baik dalam kondisi sehat maupun sakit.

Menurut Notoadmodjo (2012), pemanfaatan dapat diukur dari

tindakan nyata yang dilakukan individu ketika membutuhkan bantuan

kesehatan, seperti kunjungan ke puskesmas, rawat inap, penggunaan

obat, atau konsultasi medis. Pemanfaatan pelayanan kesehatan juga

dipengaruhi oleh tiga kategori utama dalam model Andersen, yaitu:

a. Predisposing factors: Karakteristik individu sebelum muncul

kebutuhan untuk berobat.

b. Enabling factors: faktor yang memfasilitasi atau menghambat individu

dalam mengakses layanan kesehatan.

c. Reinforcing factors: kebutuhan kesehatan yang dirasakan atau

didiagnosis.
46

Dalam konteks Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pemanfaatan

merujuk pada sejauh mana peserta menggunakan haknya untuk

mendapatkan pelayanan kesehatan yang ditanggung BPJS Kesehatan,

baik di fasilitas kesehatan primer maupun sekunder.

2. Syarat Pokok Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan


Agar pelayanan kesehatan dapat dimanfaatkan secara optimal,

terdapat beberapa syarat pokok yang harus dipenuhi:

a. Ketersediaan (Availability)

Ketersediaan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan,

dan sarana pendukung menjadi dasar utama. Tanpa ketersediaan yang

memadai, masyarakat tidak akan dapat mengakses layanan meskipun

memiliki jaminan kesehatan.

b. Aksesibilitas (Accessibility)

Kemudahan fisik (jarak, transportasi), administratif (alur

layanan), ekonomi (biaya layanan), serta sosial-budaya menjadi

komponen utama dalam aksesibilitas. Akses yang sulit akan

menurunkan angka pemanfaatan layanan kesehatan.

c. Keterjangkauan (Affordability)

Pelayanan harus dapat dijangkau secara finansial. JKN bertujuan

untuk mengatasi hambatan biaya agar pelayanan dapat diakses oleh

semua golongan masyarakat.

d. Kualitas (Quality)

Mutu pelayanan yang meliputi kompetensi tenaga kesehatan,

waktu pelayanan, prosedur, dan komunikasi sangat memengaruhi


47

kepercayaan dan keinginan masyarakat untuk memanfaatkan layanan.

e. Penerimaan Sosial (Acceptability)

Pelayanan harus diterima oleh masyarakat dari sisi budaya, nilai,

dan norma. Misalnya, pelayanan yang memperhatikan kesopanan,

kenyamanan, dan keterbukaan terhadap gender atau kepercayaan

tertentu.

3. Stratifikasi Pelayanan Kesehatan

Stratifikasi pelayanan kesehatan merujuk pada tingkatan layanan

berdasarkan kompleksitas dan kebutuhan medis, yang terbagi menjadi:

a. Pelayanan Kesehatan Primer (Primary Health Care)

Pelayanan kesehatan primer merupakan layanan kontak pertama

individu dengan sistem kesehatan. Layanan ini bersifat umum dan

mencakup upaya promotif, preventif, serta kuratif dasar. Contohnya:

puskesmas, praktik dokter umum, klinik pratama. Dalam sistem JKN,

FKTP menjadi pintu masuk layanan kesehatan.

b. Pelayanan Kesehatan Sekunder (Secondary Health Care)

Pelayanan kesehatan sekunder merupakan layanan kesehatan

yang lebih kompleks dan memerlukan rujukan dari pelayanan primer.

Biasanya mencakup pelayanan spesialis dasar, seperti bedah, penyakit

dalam, kebidanan, dan anak. Diberikan di rumah sakit tipe C dan B.

c. Pelayanan Kesehatan Tersier (Tertiary Health Care)

Pelayanan kesehatan tersier merupakan pelayanan kesehatan

tingkat lanjut dan paling kompleks, biasanya diberikan oleh


48

subspesialis atau multidisiplin. Contohnya rumah sakit rujukan

nasional atau rumah sakit tipe A (Kementerian Kesehatan RI, 2018).

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan

Kesehatan

Anderson, dalam Notoatmodjo (2010), menggambarkan model

sistem kesehatan (health system model) yang berupa model kepercayaan

kesehatan. Dalam model Anderson ini terdapat 3 faktor utama dalam

pelayanan kesehatan, yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung dan

faktor kebutuhan.

a. Faktor Prediposisi (Predisposing Factors)

Karakteristik ini digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa

tiap individu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan

pelayanan kesehatan yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena

adanya ciri-ciri individu yang digolongkan ke dalam tiga kelompok

yaitu:

1) Ciri-ciri demografi

a) Usia

Usia merupakan faktor penting yang memengaruhi

pemanfaatan pelayanan kesehatan. Penelitian menunjukkan

bahwa kelompok usia lanjut cenderung lebih sering

memanfaatkan layanan kesehatan dibandingkan kelompok usia

muda, karena peningkatan risiko penyakit kronis seiring

bertambahnya usia.
49

b) Jenis Kelamin

Perbedaan jenis kelamin dapat memengaruhi pola

pemanfaatan layanan kesehatan. Misalnya, perempuan mungkin

lebih sering mengakses layanan kesehatan preventif

dibandingkan laki-laki, karena peran sosial dan kebutuhan

biologis tertentu (Irawan, 2018).

c) Status Perkawinan

Status perkawinan dapat memengaruhi keputusan dalam

mencari pelayanan kesehatan. Individu yang sudah menikah

mungkin lebih mempertimbangkan kebutuhan keluarga dalam

memanfaatkan layanan kesehatan, serta mendapatkan dukungan

sosial yang lebih besar dalam mengakses layanan tersebut.

2) Struktur sosial

a) Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pengetahuan

dan pemahaman individu mengenai pentingnya pelayanan

kesehatan, yang pada gilirannya memengaruhi perilaku

pencarian layanan kesehatan. Individu dengan pendidikan lebih

tinggi cenderung memiliki kesadaran yang lebih baik tentang

pentingnya menjaga kesehatan dan memanfaatkan layanan

yang tersedia.

b) Pekerjaan
Jenis dan kondisi pekerjaan dapat memengaruhi risiko

kesehatan dan akses terhadap layanan kesehatan. Pekerjaan


50

dengan risiko tinggi atau tekanan kerja yang besar dapat

meningkatkan kebutuhan akan pelayanan kesehatan. Selain itu,

jenis pekerjaan juga dapat memengaruhi waktu luang dan

fleksibilitas untuk mengakses layanan kesehatan.

c) Kesukuan

Kesukuan adalah perihal atau sifat mengenai suku (bangsa)

(KBBI). Setiap suku yang mengandung nilai kebudayaan banyak

mempengaruhi terbentuknya keyakinan dan perilaku masyarakat

diantaranya cara melaksanakan sistem pelayanan kesehatan

pribadi dan pemilihan tempat pelayanan kesehatan. Struktur

kesukuan memainkan peran penting dalam membentuk

kecenderungan perilaku masyarakat dalam mencari layanan

kesehatan formal maupun tradisional (Widyastuty, et al. 2023).

3) Manfaat-manfaat kesehatan

a) Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan individu tentang program JKN dan layanan

kesehatan yang tersedia memengaruhi keputusan untuk

memanfaatkan layanan tersebut. Kurangnya informasi dapat

menjadi hambatan dalam akses layanan kesehatan. Penelitian

menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan yang rendah terkait

JKN berhubungan dengan rendahnya pemanfaatan layanan

kesehatan.

Pengetahuan individu tentang layanan kesehatan,


51

termasuk prosedur, manfaat, dan cara pemanfaatannya, sangat

berpengaruh terhadap kecenderungan seseorang untuk

mengakses layanan tersebut. Dalam konteks Jaminan Kesehatan

Nasional (JKN), pemanfaatan layanan kesehatan sangat

ditentukan oleh sejauh mana peserta memahami sistem JKN,

alur rujukan, hak dan kewajiban peserta, serta jenis layanan

yang dijamin.

Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan terdiri dari

enam tingkatan, yang mengukur kemampuan berpikir mulai dari

yang paling dasar hingga yang paling kompleks. Keenam

tingkatan tersebut adalah:

(1) Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan merupakan tingkatan paling dasar, yaitu

kemampuan individu untuk mengingat kembali informasi

yang telah dipelajari sebelumnya. Misalnya, mengingat nama

fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) atau jenis layanan

yang ditanggung JKN.

(2) Pemahaman (Comprehension)

Tingkat pemahaman menunjukkan kemampuan untuk

menjelaskan kembali informasi dengan kata-katanya sendiri.

Dalam konteks JKN, individu dapat menjelaskan bagaimana

sistem rujukan bekerja atau menjelaskan prosedur klaim

pelayanan.
52

(3) Penerapan (Application)

Penerpan merupakan kemampuan untuk menggunakan

informasi dalam situasi nyata. Contohnya adalah

menggunakan kartu JKN secara benar ketika berobat atau

mengikuti prosedur rujukan sesuai ketentuan BPJS.

(4) Analisis (Analysis)

Pada tahap ini, individu mampu menguraikan informasi

menjadi bagian-bagian dan memahami struktur organisasi

informasi tersebut. Misalnya, peserta mampu membedakan

layanan yang dijamin dan tidak dijamin oleh JKN, atau

mampu mengevaluasi alasan di balik penolakan pelayanan

tertentu.

(5) Sintesis (Synthesis)

Sintesis mengacu pada kemampuan untuk

menggabungkan berbagai elemen informasi menjadi satu

bentuk yang baru dan bermakna. Dalam konteks JKN,

peserta mungkin mampu menyusun strategi penggunaan

layanan kesehatan yang efisien sesuai kebutuhannya dan

ketentuan program.

(6) Evaluasi (Evaluation)

Tingkatan tertinggi dari pengetahuan adalah

evaluasi, yaitu kemampuan untuk memberikan penilaian

terhadap suatu informasi atau kebijakan berdasarkan


53

kriteria tertentu. Contohnya, peserta dapat menilai

efektivitas program JKN dalam memenuhi kebutuhan

kesehatan keluarganya.

Pengukuran pengetahuan dalam penelitian

kuantitatif umumnya menggunakan instrumen kuesioner

yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Bentuk soal

bisa berupa pilihan ganda, benar/salah maupun jawaban

singkat (short answer). Skor diberikan pada setiap

jawaban yang benar (biasanya diberi nilai 1) dan jawaban

salah diberi nilai 0.

Pengukuran ini dapat digunakan untuk melihat

distribusi tingkat pengetahuan responden terhadap

program JKN, baik dalam aspek administratif (pencatatan,

rujukan, kepesertaan) maupun aspek klinis (jenis layanan,

manfaat, pengobatan yang ditanggung).

b) Keyakinan terhadap Pelayanan Kesehatan:

Kepercayaan terhadap efektivitas dan kualitas pelayanan

kesehatan memengaruhi kecenderungan individu untuk

menggunakan layanan tersebut. Tingkat kepercayaan yang

rendah dapat mengurangi pemanfaatan layanan kesehatan.

Persepsi positif terhadap layanan kesehatan, termasuk sikap

tenaga kesehatan yang ramah dan kompeten, dapat meningkatkan

kepercayaan dan pemanfaatan layanan (Noorhidayah et al.,


54

2022).

b. Faktor Pendukung (Enabling Factors)

1) Sumber daya keluarga

a) Pendapatan

Pendapatan keluarga sangat memengaruhi kemampuan

individu untuk mengakses layanan kesehatan, meskipun mereka

telah terdaftar dalam program JKN. Beberapa layanan tambahan

seperti pembelian obat di luar tanggungan JKN atau kebutuhan

transportasi ke fasilitas rujukan masih menjadi beban bagi

peserta. Penelitian oleh Ristianti & Sulistyowati (2020)

menunjukkan bahwa keluarga dengan penghasilan yang lebih

tinggi memiliki kecenderungan lebih besar dalam menggunakan

layanan kesehatan secara rutin karena hambatan biaya non-medis

lebih mudah diatasi.

b) Kepemilikan Asuransi

Kepemilikan kartu JKN (baik Penerima Bantuan Iuran/PBI

maupun non-PBI) merupakan salah satu bentuk enabling resource

yang langsung berkaitan dengan akses terhadap pelayanan

kesehatan. Menurut Wulandari & Hidayah (2018), peserta yang

memahami manfaat kartu JKN dan aktif menggunakannya

menunjukkan frekuensi kunjungan yang lebih tinggi

dibandingkan dengan peserta pasif.


55

c) Dukungan keluarga

Dukungan keluarga, baik secara emosional maupun

praktis, dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam

memanfaatkan layanan kesehatan. Misalnya, pasangan yang

mendorong dan menemani saat berobat akan meningkatkan

kemungkinan pemanfaatan layanan kesehatan. Penelitian Marlina

et al. (2021) mencatat bahwa dukungan keluarga, terutama

pasangan, memainkan peran penting dalam mengatasi hambatan

psikologis dan logistik dalam penggunaan layanan kesehatan.

2) Sumber daya masyarakat

a) Ketersediaan fasilitas dan pelayanan kesehatan

Ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai, seperti

puskesmas, klinik, dan rumah sakit, merupakan salah satu faktor

kunci yang memengaruhi tingkat pemanfaatan layanan kesehatan

oleh masyarakat (Sari & Lestari, 2022). Daerah yang memiliki

kepadatan fasilitas kesehatan yang tinggi memungkinkan

masyarakat memiliki pilihan layanan yang lebih beragam dan

meningkatkan kemungkinan berkunjung untuk mendapatkan

pengobatan atau konsultasi (Ismail et al., 2020). Tidak hanya

keberadaan fisik fasilitas kesehatan, tetapi juga ketersediaan

tenaga kesehatan, obat-obatan, alat medis, dan jam operasional

yang sesuai sangat menentukan kemudahan masyarakat dalam

mengakses pelayanan (Nurrochmah et al., 2021).


56

b) Aksesbilitas

Aksesibilitas mencakup faktor jarak geografis, waktu

tempuh, biaya transportasi, serta kemudahan birokrasi pelayanan.

Nugraheni & Utomo (2019) dalam studi di wilayah rural

Indonesia menemukan bahwa jarak jauh ke fasilitas kesehatan

dan sulitnya akses transportasi menjadi hambatan signifikan

dalam pemanfaatan layanan kesehatan oleh peserta JKN,

meskipun mereka memiliki jaminan finansial. Aksesibilitas juga

mencakup aspek non-fisik, seperti keramahan petugas kesehatan,

waktu tunggu yang efisien, dan prosedur administrasi yang jelas.

Bila akses ini rendah, peserta JKN cenderung menunda atau

menghindari penggunaan layanan kesehatan.

c) Sikap Petugas Kesehatan

Sikap petugas kesehatan merupakan salah satu dimensi non-

teknis dalam pelayanan yang memiliki dampak besar terhadap

persepsi pasien dalam memanfaatkan layanan kesehatan.

Menurut Donabedian (1988), kualitas pelayanan kesehatan tidak

hanya dilihat dari struktur dan hasil, tetapi juga dari proses

pelayanan, termasuk aspek sikap dan komunikasi interpersonal

petugas kesehatan. Sikap yang baik dari tenaga kesehatan

mencerminkan mutu layanan yang humanis dan berpusat pada

pasien (Tabrani et al., 2019).


57

c. Faktor Kebutuhan (Reinforcing Factors)

Dalam Model Perilaku Andersen, karakteristik kebutuhan

dianggap sebagai faktor yang paling langsung memengaruhi

pemanfaatan pelayanan kesehatan. Kebutuhan dapat bersifat subjektif

(perceived needs) atau objektif (evaluated needs), dan keduanya

memainkan peran penting dalam membentuk perilaku pencarian

pelayanan kesehatan.

1) Persepsi Kebutuhan atau Perceived (subject assesment)

Kebutuhan yang dirasakan merujuk pada penilaian subjektif

individu mengenai status kesehatannya dan sejauh mana ia merasa

membutuhkan pertolongan medis untuk mempertahankan

atau memulihkan kesehatannya (Cheng, et al. 2024). Konsep ini

menjadi bagian penting dalam model perilaku pencarian pelayanan

kesehatan karena keputusan untuk memanfaatkan layanan tidak

semata-mata dipengaruhi oleh kondisi medis yang obyektif, tetapi

juga oleh persepsi personal mengenai keparahan gejala atau

ancaman terhadap kesehatan (Health Seeking Behavior Review:

Indonesia, 2020). Persepsi tersebut sangat dipengaruhi oleh

berbagai faktor seperti pengalaman masa lalu, nilai-nilai budaya,

informasi yang tersedia, serta keyakinan individu terhadap

efektivitas layanan kesehatan (Malik et al., 2020).


58

2) Evaluated (clinical diagnosis)

Kebutuhan yang dievaluasi adalah penilaian objektif oleh

tenaga medis (dokter atau tenaga kesehatan) terhadap kondisi

kesehatan pasien berdasarkan pemeriksaan klinis dan diagnostik.

Ini mencakup hasil diagnosis, status medis, dan kebutuhan

perawatan lebih lanjut. Dalam konteks JKN, tenaga medis di FKTP

maupun rujukan akan menentukan apakah pasien membutuhkan

perawatan lebih lanjut, rujukan, atau bahkan rawat inap. Ketika

kebutuhan ini diidentifikasi oleh profesional kesehatan tetapi tidak

disadari atau tidak diterima oleh pasien, maka terjadi kesenjangan

antara kebutuhan objektif dan subjektif.

5. Skala Pengukuran Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Pengukuran pemanfaatan pelayanan kesehatan dapat dilakukan

dengan berbagai jenis skala, salah satunya Skala Guttman, yang

digunakan untuk memperoleh jawaban tegas dan bersifat dikotomis

seperti ya/tidak atau pernah/tidak pernah (Sugiyono, 2019). Skala

Guttman memberikan klasifikasi jelas terhadap suatu perilaku atau

fenomena, sehingga cocok digunakan untuk mengetahui ada atau

tidaknya pemanfaatan layanan kesehatan (Priyono, 2016).

Dalam penelitian ini, pemanfaatan pelayanan kesehatan diukur

berdasarkan kunjungan responden ke puskesmas dalam 3 bulan terakhir.

Penggunaan skala dikotomis 3 bulan ini sejalan dengan konsep

pengukuran indikator health service utilization yang direkomendasikan


59

WHO, yaitu menilai keterlibatan individu dalam mengakses layanan

kesehatan berdasarkan periode waktu tertentu dan mengklasifikasikannya

secara jelas. WHO merekomendasikan bahwa pengukuran indikator

pemanfaatan layanan kesehatan sebaiknya menggunakan periode waktu

yang relatif singkat agar responden mampu mengingat kunjungan dengan

akurat, dan periode ≤3 bulan dianggap optimal untuk meminimalkan

recall bias (World Health Organization, 2010). Selain itu, periode 3 bulan

mampu memberikan gambaran yang cukup representatif mengenai

perilaku akses layanan kesehatan tanpa terpengaruh oleh variasi musiman

atau peristiwa khusus jangka panjang (Balk et al., 2013). Metode ini

memudahkan perhitungan prevalensi pemanfaatan serta analisis

hubungan dengan variabel-variabel lain seperti dukungan keluarga,

aksesibilitas, atau sikap petugas kesehatan (Notoatmodjo, 2012).

Responden yang pernah berkunjung dikategorikan “ya” dan diberi skor 1,

sedangkan yang tidak berkunjung dikategorikan “tidak” dan diberi skor

0. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip Skala Guttman yang

menyederhanakan jawaban menjadi bentuk biner untuk memudahkan

pengolahan data kuantitatif (Sugiyono, 2019; Syaifuddin, 2020).

47
60

E. Kerangka Teori

Faktor predisposisi Faktor pendukung Faktor kebutuhan

Demografi Sumber daya Sumber daya Perseived Evaluated


keluarga masyarakat (subject (clinical
Jenis kelamin assessment) diagnosis)

Umur Pendapatan Ketersediaan


fasilitas
Struktur sosial Kepemilikan kesehatan
asuransi
Tingkat pendidikan kesehatan Aksesibilitas
pelayanan
Pekerjaan kesehatan
Dukungan
Kesukuan keluarga
Sikap Petugas
Health beliefs Kesehatan

Pengetahuan
Pemanfaatan pelayanan kesehatan
Keyakinan terhadap Persepsi
pelayanan kesehatan

Gambar 2.1 Kerangka Teori


Modifikasi behavioral model of health services use Andersen (2010)

Anda mungkin juga menyukai