PPRA
PPRA
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
karuniaNya, tim penyusun dapat menyelesaikan buku Panduan Praktik Klinis Penggunaan
Antimikroba Profilaksis dan Terapeutik RS TAMAN HARAPAN BARU.
Panduan Pemberian Antimikroba (PPA) adalah acuan bagi seluruh petugas yang terkait
dengan pemberian antimikroba. Dengan adanya Panduan Pemberian Antimikroba diharapkan
terwujud pemberian antimikroba yang sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 2406/MENKES/PER/XII/2021 tentang Pedoman Umum Penggunaan
Antibiotik.
Kepada tim penyusun dan semua pihak yang telah berkontribusi di dalam penyusunan
panduan ini, kami menyampaikan terima kasih atas saran dan kritik yang sangat kami harapkan
untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang.
Bekasi,
Ketua Komite PPRA
RS Taman Harapan Baru
DAFTAR ISI
2
Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I. PENDAHULUAN 3
A. Latar Belakang 3
B. Tujuan 3
BAB II. PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA BIJAK 4
A. Penatagunaan Antibiotik (PGA) 4
BAB III. PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS DAN TERAPEUTIK 7
A. Antibiotik Profilaksis Pada Pembedahan 7
BAB IV. CARA PENGGUNAAN ANTIMIKROBA 20
A. Rekonstitusi dan Pelarutan Sediaan Injeksi Antimikroba 20
BAB V CATATAN KHUSUS 24
A. Kategori Keamanan Antimikroba Pada Kehamilan 24
B. Daftar Keamanan Obat Pada Kehamilan 25
C. Saat Pemberian Antibiotik 26
DAFTAR PUSTAKA 27
BAB I
3
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
penting, khususnya di negara berkembang. Salah satu obat andalan untuk mengatasi masalah
tersebut adalah antimikroba antara lain antibakteri/antibiotik, antijamur, antivirus, antiprotozoa.
Antibiotik merupakan obat yang digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
Antibiotik yang tidak digunakan secara bijak dapat memicu timbulnya masalah resistensi.
Penggunaan antibiotik secara bijak merupakan penggunaan antibiotik secara rasional dengan
mempertimbangkan dampak muncul dan menyebarnya bakteri resisten.
B. Tujuan
1. Sebagai acuan bagi klinis dalam memberikan terapi antimikroba baik profilaksis
maupun terapi empiris secara bijak
2. Untuk mencegah terjadinya resistensi antimikroba
BAB II
4
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA BIJAK
5
2. Antibiotik kelompok ini dicadangkan untuk mengatasi infeksi bakteri yang
disebabkan oleh MDRO dan merupakan pilihan terakhir pada infeksi berat yang
mengancam jiwa.
3. Menjadi prioritas program pengendalian resistensi antimikroba secara nasional dan
internasional yang dipantau dan dilaporkan penggunaannya.
4. Diresepkan oleh dokter spesialis dan dokter gigi spesialis, dikaji oleh
apoteker, dan disetujui penggunaannya oleh tim Penatagunaan Antibiotik (PGA) yang
merupakan bagian dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Rumah
Sakit.
5. Penggunaan sesuai dengan panduan praktik klinis, panduan penggunaan antibiotik
yang berlaku dan hasil pemeriksaan mikrobiologi.
Kategori Kategori
Kategori “ACCESS”
“WATCH” “RESERVE”
6
Gentamisin Sulfadiazin Sefiksim Polimiksin E
Seftazidime -
avibaktam
BAB III
7
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS DAN TERAPEUTIK
1. Definisi
Antibiotik profilaksis adalah antibiotik yang diberikan sebelum, saat, dan setelah prosedur
operasi untuk mencegah terjadinya komplikasi infeksiatau infeksi daerah operasi (IDO).
Pemberian antibiotik profilaksis setelah prosedur operasi maksimal 24 jam sejak pemberian
pertama.
2. Tujuan
Antibiotik berguna untuk mencegah kolonisasi atau berkembangnya bakteri yang masuk ke
jaringan target saat operasi. Antibiotik profilaksis tidak bertujuan mensterilkan jaringan target
karena bakteri akan dimatikan oleh sistem imunitas tubuh. Antibiotik profilaksis bertujuan
mencegah terjadinya komplikasi infeksi pascabedah di daerah operasi (IDO) dengan segala
konsekuensinya, seperti meningkatnya rata-rata lama rawat (average length of stay, ALOS),
meningkatnya biaya perawatan, dan diperlukan tindakan untuk mengatasi komplikasi,
menurunnya kinerja akibat mengalami komplikasi, dan meningkatnya mortalitas.
3. Indikasi
Antibiotik profilaksis digunakan pada prosedur operasi bersih dan bersih terkontaminasi,
Pilihan antibiotik profilaksis dilakukan berdasarkan pembagian kelas operasi menurut
Mayhall seperti tercantum pada tabel 7 Pada operasi bersih yang tidak melibatkan rongga
tubuh tidak perlu pemberian antibiotik profilaksis, misalnya operasi fibroadenoma mammae
(FAM), struma, tumor jaringan lunak, sirkumsisi, eksisi tumor jinak kulit kecil, insisi dan
drainase abses, jahit luka, ekstraksi kuku
5. Cara Pemberian
a. Antibiotik diberikan sebelum operasi, 30-60 menit sebelum insisi sehingga saat insisi
sudah terdapat antibiotik dalam kadar yang efektif di jaringan target operasi.
b. Antibiotik profilaksis diberikan dalam dosis tunggal. Dosis ulangan diberikan pada
operasi yang berlangsung lebih dari 3 jam, kemudian dosis ulangan diberikan 3 jam
setelah pemberian dosis pertama. Dosis ulangan diberikan juga bila terjadi perdarahan
8
>1500 mL (pada anak- anak perdarahan >15 mL/kgBB) dan kelipatannya, untuk
mempertahankan agar konsentrasi dalam jaringan tetap stabil.
c. Antibiotik dilarutkan dalam NaCl 0,9% 100 mL, diberikan secara intravena drip selama
15 menit di kamar operasi.
d. Sebelum pemberian antibiotik profilaksis tidak diperlukan skin test, tetapi diperlukan
anamnesis cermat tentang riwayat alergi terhadap golongan sefalosporin atau beta-
laktam.
6. Upaya Penurunan Risiko IDO Sebelum, Saat, dan Sesudah Pembedahan.
Prabedah
a. Sebelum operasi, mandi menggunakan sabun mandi biasa atau sabun berbahan
klorheksidin glukonat; pada operasi ortopedi dan operasi jantung harus digunakan sabun
berbahan klorheksidin glukonat.
b. Tidak diperlukan pemeriksaan mikrobiologi sebelum tindakan operasi untuk menentukan
jenis antibiotik profilaksis.
c. Khusus pada operasi kolorektal, dianjurkan preparasi usus besar berupa pemberian
pencahar (bowel preparation) dan metronidazol oral.
d. Pada prinsipnya pencukuran rambut atau bulu tidak diperlukan, kecuali rambut dan bulu
yang mengganggu prosedur operasi. Pencukuran hanya boleh dilakukan dengan alat cukur
(shaver), bukan dikerok, dan dilakukan di kamar bedah.
e. Surgical scrubbing dilakukan oleh tim bedah dengan sabun klorheksidin 4%; atau
prosedur handrub dilakukan dengan alkohol 70%.
f. Untuk pasien hiperglikemia, turunkan kadar gula darah sampai <200 mg/dL.
Untuk operasi besar dan berisiko, dapat dipertimbangkan screening MRSA dan dilakukan
eradikasi bila hasilnya positif.
Saat Pembedahan
a. Untuk antiseptik daerah operasi, digunakan klorheksidin 4% dalam larutan alkohol 70%,
kecuali pada pembedahan mata, digunakan povidon iodin.
b. Apabila telah dilakukan antisepsis dengan klorheksidin glukonat maka skin sealant tidak
diperlukan lagi.
c. Menghindari hipotermia perioperatif dengan mempertahankan suhu tubuh normal selama
periode perioperatif.
d. Gunakan wound protector devices untuk menurunkan IDO pada operasi bersih
terkontaminasi, terkontaminasi, dan kotor.
e. Irigasi luka insisi menggunakan larutan berbahan antiseptik (iodin povidon, klorheksidin)
dilakukan sebelum penutupan area operasi. Tidak dianjurkan melakukan irigasi luka insisi
menggunakan larutan antibiotik.
f. Benang yang mengandung triklosan direkomendasikan pada operasi terkontaminasi, untuk
menekan tumbuhnya bakteri pembentuk biofilm pada benang yang diserap lama (delayed
9
absorbable)
Pasca bedah
a. Mencegah hipoksemia dengan mempertahankan target SpO2 > 95 sampai pasien sadar
penuh.
b. Dianjurkan pemberian tambahan nutrisi parenteral pada pasien underweight yang
menjalani pembedahan mayor.
c. Tidak direkomendasikan menggunakan penutup luka yang mengandung antibiotik.
d. Pemasangan drain bukan indikasi untuk menambah atau memperpanjang pemberian
antibiotik.
10
TINGKAT
PEMBUKTIAN/ PERHATIAN/
No JENIS OPERASI ANTIBIOTIK KETERANGA
REKOMENDAS
I N
Mammae
1 Tumor jinak Ia/A Tanpa antibiotik
profilaksis
2 Tumor ganas Ia/A Seftriakson 2 Pengulangan
gram pemberian
antibiotik
diberikan 30-60 profilaksis,
menit sebelum jika lama
insisi intravena operasi > 3
drip selama 15 jam atau
menit volume
perdarahan
>1,5 L (untuk
dewasa) atau
15 mL/kgBB
(untuk anak).
Maksimal
lama
pemberian
antibiotik
profilaksis 24
jam setelah
pemberian
pertama.
*pemakaian
drain bukan
indikasi
pemanjangan
pemberian
antibiotik
11
3 Rekonstruksi, IIa/B Seftriakson 2
gram
Re-shaping
diberikan 30-60
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
Saluran cerna
1 Esofageal, Ia/A Seftriakson 2
gastroduoden gram
al, usus
halus, diberikan 30-60
apendiks menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
2 Kolorektal Ia/A Seftriakson 2
gram
diberikan 30-60
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
Kombinas
i dengan
Metronidazol
i.v. 500 mg
12
3 Saluran bilier Ia/A Seftriakson 2
gram
diberikan 30-60
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
Genitourinarius
13
1 Sistoskopi Ia/A Seftriakson 2
dengan/tanpa gram
manipulasi diberikan 30-60
atau menit sebelum
instrumentasi insisi intravena
saluran bagian drip selama 15
atas menit
14
drip selama 15
menit
Obstetri – Ginekologi
1 Histerektomi, Ia/A Seftriakson 2
abdominal, gram
vaginal, atau
diberikan 30-60
laparoskopi
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
2 Laparoskopi Ia/A Tanpa
diagnostik dan antibiotik
sterilisasi profilaksis
(MOW)
3 Bedah Caesar Ia/A Seftriakson 2
gram
diberikan 30-60
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
4 Kuretase Ia/A Seftriakson 2
abortus induksi gram
diberikan 30-60
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
5 Kuretase Ia/A Tanpa
abortus antibiotik
profilaksis
spontan
15
6 Repair Ia/A Seftriakson 2
fistula, gram
rekonstruks
diberikan 30-60
i neovagina
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
16
2 Struma Ia/A Tanpa antibiotik
Profilaksis
3 Fraktur Ia/A Seftriakson 2
mandibul gram
a
diberikan 30-60
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
4 Tonsilektomi, Ia/A Tanpa antibiotik
adenoidektomi Profilaksis
5 Penjahitan luka Ia/A Tanpa antibiotik
primer pada profilaksis
wajah
6 Operasi bibir III/C Seftriakson Risiko komplikasi akan
sumbing dosis anak: 30 lebih
merugikan
mg/kgBB
Bedah Syaraf
1 Kraniotomi Ia/A Seftriakson 2
gram
Bedah
sumsu diberikan 30-60
m menit sebelum
tulang insisi intravena
belakan drip selama 15
g menit
(medull
a
spinalis)
2 Shunting cairan Ia/A Seftriakson 2
serebrospinal gram
diberikan 30-60
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
17
Ortopedi
1 Prostesis sendi IIa/B Seftriakson 2
gram
diberikan 30-60
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
2 Implantasi Ib/A Seftriakson 2
dengan alat gram
fiksasi internal
diberikan 30-60
menit sebelum
insisi intravena
drip selama 15
menit
18
1 Operasi Ia/A Peribedah:
intraokula Levofloksasin
r: 0,5% tetes
ekstraksi mata,
katarak, diberikan 0,1
vitrektomi, ml
trabekulekto intrakamer
mi al
(intraoperat
if)
Pascabe
d ah:
Tetes mata
Levofloksasin
0,5% tiap 1-2
jam dalam
1 hari
pascabeda
h,
dilanjutkan 6
kali per hari
selama 1-2
minggu
49 Operasi Ib/A Seftriakson 2
kelopak gram
mata diberikan 30-
(repair 60 menit
kelopak sebelum
mata/ektr insisi
opion/ intravena
entropion) drip selama
, operasi 15 menit
orbita
(external
dacryocys
torhi
nostomy,
19
enukleasi,
eviserasi,
eksentera
si,
orbitotomi
lateral
dan
strabismu
s
50 Operasi Ib/A Tanpa jika terjadi lesi kornea,
pterigium antibiotik pascabedah diperlukan
pemberian antibiotik
profilaksis
topikal
levofloksasin 0,5% tetes
mata,
1 tetes setiap 3
jam selama 7 hari
BAB IV
20
21
22
23
Keterangan :
Cara pemberian sediaan injeksi (rute)
IM : intramuscular
IV : intravena
IVFD : intravena fluid drip
Injeksi intravena dapat diberikan dengan berbagai cara, untuk jangka waktuyang pendek atau
untuk waktu yang lama :
a. Injeksi bolus
Injeksi dengan volume kecil, biasanya diberikan dalamwaktu 3-5 menit kecuali
ditentukan lain untuk obat-obatan tertentu
b. Infus
Infus dapat diberikan secara singkat (intermittent) atau terus-menerus (continuous).
Infus singkat (intermittent infusion)
Infus singkat diberikan selama 10 menit atau lebih lama. Waktu pemberiaan infus
singkat sesungguhnya jarang lebih dari 6 jam per dosis.
Infus kontinu (continuous infusion)
Infus kontinu diberikan selama 24 jam. Volume infus dapat beragam mulai dari
volume infus kecil diberikan secara subkutan dengan pompa suntik (syringe pump),
misalnya 1 ml per jam, hingga 3 liter atau lebih selama 24 jam, misalnya nutrisi
parenteral.
24
BAB V
CATATAN KHUSUS
A. Kategori Keamanan Antimikroba Pada Kehamilan
Kategori A :
Pada studi terkontrol pada wanita gagal menunjukkan resiko pada janin pada trimester 1,
dan tidak ada bukti resiko pada trimester selanjutnya. Kemungkinan bahaya pada janin
sedikit.
Kategori B :
Dari hasil studi reproduksi pada hewan tidak menunjukkan resiko pada janin, tetapi tidak
ada studi terkontrol pada ibu hamil; atau studi pada reproduksi hewan menunjukkan efek
samping (penurunan fertilitas) yang tidak terkonfirmasi pada studi terkontrol pada
trimester pertama wanita (dan tidak ada bukti pada resiko trimester selanjutnya).
Kategori C :
Studi pada hewan menampakkan adanya efek samping pada janin (embryogenic,
teratogenic, atau lainnya), dan tidak ada tudi terkontrol padawanita, atau studi pada
wanita dan hewan tidak tersedia. Obat hanya diberikan jika potensial manfaat lebih besar
daripada resiko pada janin.
Kategori D :
Terjadi resiko pada janin, tetapi manfaat pemberian pada ibu hamil mungkin lebih
diterima meskipun resikonya (misal, obat dibutuhkan dalam situasi nenyelamatkan nyawa
atau untuk penyakit yang serius dimana obat yang lebih aman tidak dapat digunakan
atau tidak efektif).
Kategori X :
Studi pada hewan atau manusia menunjukkan ketidaknormalan pada janin, ada bukti
resiko pada janin berdasarkan pengalaman, atau keduanya; dan resiko penggunaan obai
ini pada wanita hamil jelas lebih banyak daripada manfaatnya. Obat dikontraindikasikan
pada wanita yang mungkin akan hamil.
26
Keterangan :
AC : Ante Coenam (sebelum makan)
DC : Durante Coenam (bersama makan)
PC : Post Coenam (sesudah makan)
DAFTAR PUSTAKA
27
Kemenkes RI. 2020. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2021
Tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
Kemenkes RI. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2406/MENKES/PER/XII/2011
Tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
28