0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan28 halaman

LP Post Partum Normal

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang post partum spontan di RSUD Tjokronegoro Purworejo, yang mencakup definisi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, pemeriksaan penunjang, dan komplikasi yang mungkin terjadi setelah persalinan. Post partum adalah masa pemulihan setelah melahirkan yang berlangsung selama 6-8 minggu, di mana berbagai perubahan fisik dan psikologis terjadi pada ibu. Komplikasi yang dapat muncul termasuk perdarahan dan infeksi, yang memerlukan perhatian medis yang tepat.

Diunggah oleh

sazanin18
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan28 halaman

LP Post Partum Normal

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang post partum spontan di RSUD Tjokronegoro Purworejo, yang mencakup definisi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, pemeriksaan penunjang, dan komplikasi yang mungkin terjadi setelah persalinan. Post partum adalah masa pemulihan setelah melahirkan yang berlangsung selama 6-8 minggu, di mana berbagai perubahan fisik dan psikologis terjadi pada ibu. Komplikasi yang dapat muncul termasuk perdarahan dan infeksi, yang memerlukan perhatian medis yang tepat.

Diunggah oleh

sazanin18
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

POST PARTUM SPONTAN DI RUANG KASUARI

RSUD TJOKRONEGORO PURWOREJO

Disusun Oleh:

ELA FARIDA

21112

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PEMKAB PURWOREJO

TAHUN 2023
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Keperawatan Maternitas ini telah disahkan pada:

Hari :

Tanggal :

Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik

( ) ( )
1. KONSEP POST PARTUM

A. DEFINISI
Post partum adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan
kembali sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lama
masa nifas ini yaitu 6 – 8 minggu (Mochtar, 1998). Akan tetapi seluruh
alat genital akan kembali dalam waktu 3 bulan. Selain itu masa nifas /
purperium adalah masa partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6
minggu (Dian S, 2012).
Post patum spontan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi
pada kehamilan cukup bulan (37 s.d. 42 minggu), lahi spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa
komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Dian S, 2012).
Post portum / masa nifas dibagi dalam 3 periode, antara lain:
1. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan
berdiri dan berjalan-jalan.
2. Purperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat
genetalia yang lamanya mencapainya 6 – 8 minggu.
3. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan
sehat sempurna terutama bila selama hamil / waktu persalinan
mempunyai komplikasi (Dian S, 2012).

B. ETIOLOGI
Penyebab persalinan belum pasti diketahui, namun beberapa teori
menghubungkan dengan faktor hormonal, struktur rahim, sirkulasi rahim,
pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi (Hafifah, 2011):
1. Teori penurunan hormone.
Satu sampai dua minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan
hormone progesterone dan estrogen. Fungsi progesterone sebagai
penenang otot –otot polos rahim dan akan menyebabkan
kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila progesterone
turun.
2. Teori placenta menjadi tua.
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan
kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim.
3. Teori distensi rahim.
Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik
otot-otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenta.
4. Teori iritasi mekanik.
Di belakang servik terlihat ganglion servikale(fleksus
franterrhauss). Bila ganglion ini digeser dan ditekan misalnya oleh
kepala janin akan timbul kontraksi uterus.
5. Induksi partus.
Dapat pula ditimbulkan dengan jalan gagang laminaria yang
dimasukan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang
pleksus frankenhauser, amniotomi pemecahan ketuban), oksitosin
drip yaitu pemberian oksitosin menurut tetesan perinfus.

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Perubahan fisik
a. Involusi uterus.
Adalah proses kembalinya alat kandungan uterus dan jalan lahir
setelah bayi dilahirkan sehingga mencapai keadaan seperti sebelum
hamil. Setelah plasenta lahir, uterus merupakan alat yang keras,
karena kontraksi ini menyebabkan rasa nyeri/mules-mules yang
disebut after pain post partum terjadi pada hari ke 2-3 hari.
b. Kontraksi uterus.
Intensistas kontraksi uterus meningkat setelah melahirkan berguna
untuk mengurangi volume cairan intra uteri. Setelah 1 – 2 jam post
partum, kontraksi menurun stabil berurutan, kontraksi uterus
menjepit pembuluh darah pada uteri sehingga perdarahan setelah
plasenta lahir dapat berhenti.
c. After pain.
Terjadi karena pengaruh kontraksi uterus, normal sampai hari ke -3.
After pain meningkat karena adanya sisa plasenta pada cavum uteri,
dan gumpalan darah (stoll cell) dalam cavum uteri .
d. Endometrium.
Pelepasan plasenta dan selaput janin dari dinding rahim terjadi pada
stratum spunglosum, bagian atas setelah 2 – 3 hari tampak bahwa
lapisan atas dari stratum sponglosum yang tinggal menjadi nekrosis
keluar dari lochea. Epitelisasi endometrium siap dalam 10 hari, dan
setelah 8 minggu endometrium tumbuh kembali. Epitelisasi tempat
plasenta + 3 minggu tidak menimbulkan jaringan parut, tetapi
endometrium baru, tumbuh di bawah permukaan dari pinggir luka.
e. Ovarium.
Selama hamil tidak terjadi pematangan sel telur. Masa nifa terjadi
pematangan sel telur, ovulasi tidak dibuahi terjadi mentruasi, ibu
menyusui mentruasinya terlambat karena pengaruh hormon
prolaktin.
f. Lochea.
Adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina dalam
masa nifas, sifat lochea alkalis sehingga memudahkan kuman
penyakit berkembang biak. Jumlah lebih banyak dari pengeluaran
darah dan lendir waktu menstruasi, berbau anyir, tetapi tidak busuk.
Lochea dibagi dalam beberapa jenis :
1) Lochea rubra.
Pada hari 1 – 2 berwarna merah, berisi lapisan decidua, sisa-
sisa chorion, liguor amni, rambut lanugo, verniks caseosa sel
darah merah.
2) Lochea sanguinolenta.
Dikeluarkan hari ke 3 – 7 warna merah kecoklatan bercampur
lendir, banyak serum selaput lendir, leukosit, dan kuman
penyakit yang mati.
3) Lochea serosa.
Dikeluarkan hari ke 7 – 10, setelah satu minggu berwarna agak
kuning cair dan tidak berdarah lagi.
4) Lochea alba.
Setelah 2 minggu, berwarna putih jernih, berisi selaput lendir,
mengandung leukosit, sel epitel, mukosa serviks dan kuman
penyakit yang telah mati.
g. Serviks dan vagina.
Beberapa hari setelah persalinan, osteum externum dapat dilalui
oleh 2 jari dan pinggirnya tidak rata (retak-retak). Pada akhir
minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 1 jari saja. Vagina saat
persalinan sangat diregang lambat laun mencapai ukuran normal
dan tonus otot kembali seperti biasa, pada minggu ke-3 post partum,
rugae mulai nampak kembali.
h. Perubahan pada dinding abdomen.
Hari pertama post partum dinding perut melipat dan longgar karena
diregang begitu lama. Setelah 2 – 3 minggu dinding perut akan
kembali kuat, terdapat striae melipat, dastosis recti abdominalis
(pelebaran otot rectus/perut) akibat janin yang terlalu besar atau
bayi kembar.
i. Perubahan sistem urinaria.
Fungsi ginjal normal, dinding kandung kemih memperlihatkan
oedema dan hiperemi karena desakan pada waktu janin dilahirkan.
Kadang-kadang oedema trigonum, menimbulkan obstruksi dari
uretra sehingga terjadi retensio urin. Pengaruh laserasi/episiotomi
yang menyebabkan refleks miksi menurun.
j. Perubahan sistem gastro intestina.
Terjadi gangguan rangsangan BAB atau konstipasi 2 – 3 hari post
partum. Penyebabnya karena penurunan tonus pencernaan, enema,
kekakuan perineum karena episiotomi, laserasi, haemorroid dan
takut jahitan lepas.
k. Perubahan pada mammae.
Hari pertama bila mammae ditekan sudah mengeluarkan colustrum.
Hari ketiga produksi ASI sudah mulai dan jaringan mammae
menjadi tegang, membengkak, lebut, hangat dipermukaan kulit
(vasokongesti vaskuler).
l. Laktasi.
Pada waktu dua hari pertama nifas keadaan buah dada sama dengan
kehamilan. Payudara belum mengandung susu melainkan colustrum
yang dapat dikeluarkan dengan memijat areola mammae. Colustrum
yaitu cairan kuning dengan berat jenis 1.030 – 1,035 reaksi alkalis
dan mengandung protein dan garam, juga euglobin yang
mengandung antibodi bayi yang terbaik dan harus dianjurkan jika
tidak ada kontra indikasi.
m. Temperatur.
Temperatur pada post partum dapat mencapai 38 0C dan normal
kembali dalam 24 jam. Kenaikan suhu ini disebabkan karena
hilangnya cairan melalui vagina ataupun keringat, dan infeksi yang
disebabkan terkontaminasinya vagina.
n. Nadi.
Umumnya denyut nadi pada masa nifas turun di bawah normal.
Penurunan ini akibat dari bertambahnya jumlah darah kembali pada
sirkulasi seiring lepasnya placenta. Bertambahnya volume darah
menaikkan tekanan darah sebagai mekanisme kompensasi dari
jantung dan akan normal pada akhir minggu pertama.
o. Tekanan Darah.
Keadaan tensi dengan sistole 140 dan diastole 90 mmHg baik saat
kehamilan ataupun post partum merupakan tanda-tanda suatu
keadaan yang harus diperhatikan secara serius.
p. Hormon.
Hormon kehamilan mulai berkurang dalam urine hampir tidak ada
dalam 24 hari, setelah 1 minggu hormon kehamilan juga menurun
sedangkan prolaktin meningkat untuk proses laktasi.
2. Adaptasi psikologis ibu dalam menerima perannya sebagai orang tua.
Setelah melahirkan secara bertahap.
a. Fase Taking in
Terjadi pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan, ibu
membutuhkan perlindungan dan pelayanan, memfokuskan energy
pada bayi yang menyebabkan persepsi penyempitan dan
kemampuan menerima informasi kurang.
b. Fase Taking hold
Mulai dari hari ketiga setelah melahirkan. Pada minggu keempat
sampai kelima ibu siap menerima peran barunya dalam belajar
tentang hal-hal baru.
c. Fase Letting go
Dimulai sekitar minggu kelima setelah melahirkan. Anggota
keluarga telah menyesuaikan diri dengan lahirnya bayi (Linda,
2010).
D. PATOFISIOLOGI
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna
maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat genetal ini dalam
keseluruhannya disebut “involusi”. Disamping involusi terjadi perubahan-
perubahan penting lain yakni memokonsentrasi dan timbulnya laktasi yang
terakhir ini karena pengaruh hormon laktogen dari kelenjar hipofisis
terhadap kelenjar-kelenjar mamae.
Otot-otot uterus berkontraksi segera post psrtum, pembuluh-
pembuluh darah yang ada antara nyaman otot-otot uretus akan terjepit.
Proses ini akan menghentikan pendarahan setelah plasenta lahir.
Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks ialah segera post partum
bentuk serviks agak menganga seperti corong, bentuk ini disebabkan oleh
korpus uteri terbentuk semacam cincin. Peruabahan-perubahan yang
terdapat pada endometrium ialah timbulnya trombosis, degenerasi dan
nekrosis ditempat implantasi plasenta pada hari pertama endometrium
yang kira-kira setebal 2-5 mm itu mempunyai permukaan yang kasar
akibat pelepasan desidua dan selaput janin regenerasi endometrium terjadi
dari sisa-sisa sel desidua basalis yang memakai waktu 2 sampai 3 minggu.
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang merenggang
sewaktu kehamilan dan pertu setelah janin lahir berangsur-angsur kembali
seperti sedia kala (Hafifah, 2011).

PATHWAY

Gambar 1.6 (Nita Sari, 2015)


E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan post partum (Hafifah, 2011), meliputi :
1. Pemerikasaan umum: tensi, nadi, keluhan dan sebagainya.
2. Keadaan umum: TTV, selera makan, dll.
3. Payudara: air susu, putting.
4. Dinding perut, perineum, kandung kemih, rectum.
5. Sekret yang keluar atau lochea.
6. Keadaan alat kandungan.
7. Hemoglobin, hematokrit, leukosit, ureum.
8. Ultra sosografi untuk melihat sisa plasenta.

F. KOMPLIKASI POST PARTUM


1. Perdarahan.
Perdarahan yaitu darah yang keluar lebih dari 500-600 ml dalam
masa 24 jam setelah anak lahir. Perdarahan dibagi menjadi dua,
yaitu:
a. Perdarahan post partum primer yaitu pada 24 jam pertama
akibat antonia uteri, retensio plaseta, sisa plasenta, laserasi
jalan lahir dan involusio uteri.
b. Perdarahan post partum sekunder yaitu terjadi setelah 24
jam. Penyebab perdarahan sekunder adalah sub involusio
uteri, retensio sisa plasenta, infeksi postpartum.
Pada trauma atau laserasi jalan lahir bisa terjadi robekan perineum,
vagina serviks, forniks dan rahim. Keadaan ini dapat menimbulkan
perdarahan yang banyak apabila tidak segera diatasi. Robekan jalan
lahir atau ruptur perineum sekitar klitoris dan uretra dapat
menimbulkan perdarahan hebat dan mungkin sangat sulit untuk
diperbaiki. Episiotomi dapat menyebabkan perdarahan yang
berlebihan jika mengenai arteri atau vena yang besar, episitomi
luas, ada penundaan antara episitomi dan persalinan, atau ada
penundaan antara persalinan dan perbaikan episitomi.
2. Infeksi
Infeksi masa postpartum (puerpuralis) adalah infeksi pada
genitalia setelah persalinan, ditandai dengan kenaikan suhu hingga
mencapai 38ºC atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama
pasca persalinan dengan mengecualikan 24 jam pertama. Infeksi
postpartum mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh
masuk kuman-kuman atau bakteri ke dalam alat genetalia pada
waktu persalinan dan postpartum. Infeksi postpartum dapat
disebabkan oleh adanya alat yang tidak steril, luka robekan jalan
lahir, perdarahan, pre-eklamsia, dan kebersihan daerah perineum
yang kurang terjaga. Infeksi masa postpartum dapat terjadi karena
beberapa faktor pemungkin, antara lain pengetahuan yang kurang,
gizi, pendidikan, dan usia.
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala apa yang diketahui berdasarkan
pengalaman yang didapatkan oleh setiap manusia.
Pengalaman yang didapat dapat berasal dari pengalaman
sendiri maupun pengalaman yang didapat dari orang lain.
b. Pendidikan
Tingkat pendidikan ibu yang rendah akan mempengaruhi
pengetahuan ibu karena ibu yang mempunyai latar
belakangpendidikan lebih rendah akan sulit untuk
menerima masukan dari pihak lain.
c. Usia
Usia berpengaruh terhadap imunitas. Penyembuhan luka
yang terjadi pada orang tua sering tidak sebaik pada orang
yang muda. Hal ini disebabkan suplai darah yang kurang
baik, status nutrisi yang kurang atau adanya penyakit
penyerta seperti diabetes melitus. Sehingga penyembuhan
luka lebih cepat terjadi pada usia muda dari pada usia tua.
d. Gizi
Proses fisiologi penyembuhan luka perineum bergantung
pada tersedianya protein, vitamin (terutama vitamin A dan
C), dan mineral renik zink dan tembaga. Kolagen adalah
protein yang terbentuk dari asam amino yang diperoleh
fibroblas dari protein yang dimakan. Vitamin C dibutuhkan
untuk mensintesis kolagen. Vitamin A dapat mengurangi
efek negatif steroid pada penyembuhan luka (Siska S,
2019).
G. PENATALAKSANAAN
1. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang
selama 8 jam pasca persalian. Kemudian boleh miring-miring ke
kanan dan kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan
tromboembloli. Pada hari ke 2 diperbolehkan duduk, hari ke 3
jalan-jalan dan hari ke 4 sampai sudah diperbolehkan pulang.
2. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori, sebaiknya
makan-makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-
sayuran dan buah-buahan.
3. Miksi
Hendaknya kencing akan dilakukan sendiri akan secepatnya. Bila
kandung kemih panuh dan sulit tenang, sebaiknya dilakukan
katerisasi. Dengan melakukan mobilisasi secepatnya tak jarang
kesulitan miksi dapat diatasi.
4. Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3 sampai 4 hari pasca persalinan.
Bila terjadi opstipasi dan timbul koprostase hingga skibala
tertimbun di rectum, mungkin terjadi febris. Lakukan klisma atau
berikan laksan per oral atatupun per rektal. Dengan melakukan
mobilisasi sedini mungkin tidak jarang kesulitan defekasi dapat
diatasi.
5. Perawatan payudara
a. Dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak
keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayi.
b. Jika puting rata sejak hamil ibu dapat menarik-narik puting
susu. Ibu harus tetap menyusui agar puting selalu sering
tertarik.
6. Puting lecet
Puting lecet dapat disebabkan cara menyusui atau perawatan
payudara tidak benar dan infeksi monilia. Penatalaksanaan dengan
tekhnik menyusui yang benar, puting harus kering saat menyusui,
puting diberi lanolin. Monilia diterapi dengan menyusui pada
payudara yang tidak lecet. Bila lecetnya luas menyusuinya ditunda
24 jam sampai 48 jam air susu ibu dikeluarkan dengan atau pompa.
7. Payudara bengkak
Payudara bengkak disebabkan pengeluaran air susu yang tidak
lancar karena bayi tidak cukup sering menyusui atau terlalu cepat
disapih. Penatalaksanaan dengan menyusui lebih sering dan
kompres hangat. Susu dikeluarkan dengan pompa dan pemberian
analgesic.
8. Mastitis
Payudara tampak edema, kemerahan dan nyeri yang biasanya
terjadi beberapa minggu setelah melahirkan. Penatalaksanaan
dengan kompres hangat atau dingin, pemberian antibiotik dan
analgesic, menyusui tidak dihentikan.
9. Abses payudara
Pada payudara dengan abses air susu ibu dipompa, abses dinsisi,
diberikan antibiotik dan analgesic.
10. Laktasi
Umumnya produksi air susu ibu berlansung betul pada hari kedua
dan ketiga pasca persalinan. Pada hari pertama air susu
mengandung kolostrum yang merupakan cairan kuning lebih kental
daripada susu, mengandung banyak protein dan globulin (Hafifah,
2011).

[Link] ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Identitas pasien
Berisi nama pasien, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
agama, suku, alamat, no. RM, tanggal masuk, tanggal pengkajian
dan diagnosa medis.
b. Identitas penanggung jawab
Berisi nama penanggung jawab pasien dan hubungan dengan
pasien.
2. Keluhan utama
Hal-hal yang dikeluhkan saat ini dan alasan meminta pertolongan.
3. Riwayat haid
Umur Menarche pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar,
konsistensi, siklus haid, perkiraan tanggal partus.
4. Riwayat perkawinan
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa.
5. Riwayat obstetri
1) Riwayat kehamilan
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboratorium : USG,
darah, urine, keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional
dan impresi, upaya mengatasi keluhan, tindakan, dan pengobatan
yang diperoleh.
2) Riwayat persalinan
a) Riwayat persalinan lalu: Jumlah gravid, jumlah patal, dan
jumlah abortus, umur kehamilan saat bersalin, jenis persalinan,
penolong persalinan, BB bayi, kelainan fisik, kondisi anak saat
ini.
b) Riwayat nifas pada persalinan lalu: Pernah mengalami demam,
keadaan lochea, kondisi perdarahan selama nifas, tingkat
aktivitas setelah melahirkan, keadaan perineal, abdominal,
nyeri pada payudara, kesulitan eliminasi, keberhasilan
pemberian ASI, respon, dan support keluarga.
c) Riwayat persalinan saat ini: Kapan timbul his, pembukaan,
bloody show, kondisi ketuban, lama pesalinan, dengan
episiotomy atau tidak, kondisi perineum dan jaringan sekitar
vagina, dilakukan anastesi atau tidak, panjang tali pusat, lama
pengeluaran plasenta, kelengkapan plasenta, jumlah
perdarahan.
d) Riwayat new born: Apakah bayi lahir spontan atau dengan
induksi/tindakan khusus, kondisi bayi saat lahir (langsung
menangis atau tidak), apakah membutuhkan resusitasi, nilai
APGAR, jenis kelamin bayi, BB, panjang badan, kelainan
konginetal, apakah dilakukan bonding attachment secara dini
dengan ibunya, apakah langsung diberikan ASI atau susu
formula.
6. Riwayat KB dan perencanaan keluarga
Kaji pengetahuan klien dan pasangannya tentang kontrasepsi, jenis
kontrasepsi yang pernah digunakan, kebutuhan kontrasepsi yang akan
datang atau rencana penambahan anggota keluarga di masa mendatang.
7. Status kesehatan masa lalu
Berisikan riwayat kesehatan pasien, apakah sebelumnya pasien pernah
dirawat di rs atau tidak, dan riwayat alergi terhadap makanan atau
obat-obatan. Serta kebiasaan merokok, kopi, alkohol dan lain
sebagainya.
8. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan
secara genetic, menular, konginetal, atau gangguan kejiwaan yang
pernah diderita oleh keluarga.
9. Pola kebutuhan dasar ( data Bio-Psiko-Sosio-Kultural-Spiritual)
a. Nutrisi
Menu makan yang dikonsumsi, jumlah, jenis makanan (kalori,
protein, vitamin, tinggi serat), frekuensi, nafsu makan, pola minum,
jumlah, frekuensi.
b. Istirahat dan Tidur
Waktu (lama, kapan), nyaman atau tidak, penggunaan lampu atau
tidak.
c. Eliminasi
Apakah terjadi dieresis, adakah inkontinensia atau retensi urine
karena takut luka episiotomy, apakah perlu bantuan saat BAK. Pola
BAB, frekuensi, konsistensi, rasa takut BAB karena luka perineum.
d. Personal Hygiene
Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut dan
kebersihan genetalia, pola berpakaian.
e. Persepsi-sensori (nyeri atau ketidaknyamanan)
Ketidaknyamanan berkenaan dengan pembesaran payudara,
episiotomi, trauma perineal, hemoriod, kontraksi kuat (afterpain)
kuat dan teratur dalam periode 24 jam pertama dan akan berkurang
setiap hari.
f. Seksualitas
Bagaimana pola interaksi dan hubungan dengan pasangan meliputi
pengetahuan pasangan tentang seks, pola berhubungan selama
hamil, continuitas hubungan seksual, komunikasi antar pasangan.
10. Konsep Diri
Sikap penerimaan ibu terhadap tubuhnya, keinginan ibu menyusui,
persepsi ibu tentang tubuhnya terutama perubahan-perubahan selama
kehamilan dan setelah persalinan.
11. Peran
Pengetahuan ibu dan keluarga tentang peran menjadi orangtua dan
tugas-tugas perkembangan kesehatan keluarga, pengetahuan perubahan
involusi uterus, perubahan fungsi blass dan bowel. Pengetahan tentang
keadaan umum bayi, tanda vital bayi, kebutuhan emosional dan
kenyamanan, kebutuhan minum, perubahan kulit. Ketrampilan
melakukan perawatan diri sendiri (nutrisi dan personal hyhiene,
payudara) dan kemampuan melakukan perawatan bayi (perawatan tali
pusat, menyusui, memandikan dan mengganti baju/popok bayi,
membina hubungan tali kasih, cara memfasilitasi hubungan bayi
dengan ayah, dengan sibling dan kakak/nenek).
12. Pemeriksaan fisik
Status generalis dan head to toe.
a. Tanda-tanda vital
Kaji tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu pada Ibu. Periksa
tanda-tanda vital tersebut setiap 15 menit selama satu jam pertama
setelah melahirkan atau sampai stabil, kemudian periksa setiap 30
menit untuk jam-jam berikutnya. Nadi dan suhu diatas normal
dapat menunjukan kemungkinan adanya infeksi. Tekanan darah
mungkin sedikit meningkat karena upaya untuk persalinan dan
keletihan. Tekanan darah yang menurun perlu diwaspadai
kemungkinan adanya perdarahan post partum.
1) Tekanan darah, normal yaitu < 140/90 mmHg. Tekanan darah
tersebut bisa meningkat dari pra persalinan pada 1-3 hari post
partum.
2) Suhu, suhu tubuh normal yaitu kurang dari 38 C. Pada hari ke
4 setelah persalinan suhu Ibu bisa naik sedikit kemungkinan
disebabkan dari aktivitas payudara. Bila kenaikan mencapai
lebih dari 38 C pada hari kedua sampai hari-hari berikutnya,
harus diwaspadai adanya infeksi atau sepsis nifas.
3) Nadi, nadi normal pada Ibu nifas adalah 60-100. Denyut Nadi
Ibu akan melambat sampai sekitar 60 x/menit yakni pada
waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan istirahat
penuh. Ini terjadi utamanya pada minggu pertama post
partum. Pada ibu yang nervus nadinya bisa cepat, kira-kira
110x/mnt. Bisa juga terjadi gejala shock karena infeksi
khususnya bila disertai peningkatan suhu tubuh.
4) Pernafasan, pernafasan normal yaitu 20-30 x/menit. Pada
umumnya respirasi lambat atau bahkan normal. Mengapa
demikian, tidak lain karena Ibu dalam keadaan pemulihan
atau dalam kondisi [Link] ada respirasi cepat post
partum (> 30 x/mnt) mungkin karena adanya ikutan dari
tanda-tanda syok.
b. Kepala dan wajah
1) Rambut, melihat kebersihan rambut, warna rambut, dan
kerontokan rambut.
2) Wajah, adanya edema pada wajah atau tidak. Kaji adanya flek
hitam.
3) Mata, konjungtiva yang anemis menunjukan adanya anemia
kerena perdarahan saat persalinan.
4) Hidung, kaji dan tanyakan pada ibu, apakah ibu menderita
pilek atau sinusitis.
5) Mulut dan gigi, tanyakan pada ibu apakah ibu mengalami
stomatitis, atau gigi yang berlubang. Gigi yang berlubang
dapat menjadi pintu masuk bagi mikroorganisme dan bisa
beredar secara sistemik.
6) Leher, kaji adanya pembesaran kelenjar limfe dan pembesaran
kelenjar tiroid. Kelenjar limfe yang membesar dapat
menunjukan adanya infeksi, ditunjang dengan adanya data
yang lain seperti hipertermi, nyeri, dan bengkak.
7) Telinga, kaji apakah ibu menderita infeksi atau ada
peradangan pada telinga.
c. Pemeriksaan thorak
1) Inspeksi payudara
Kaji ukuran dan bentuk tidak berpengaruh terhadap produksi
asi, perlu diperhatikan bila ada kelainan, seperti pembesaran
masif, gerakan yang tidak simetris pada perubahan posisi
kontur atau permukaan. Kaji kondisi permukaan, permukaan
yang tidak rata seperti adanya retraksi atau ada luka pada kulit
payudara perlu dipikirkan kemungkinan adanya tumor. Warna
kulit, kaji adanya kemerahan pada kulit yang dapat
menunjukan adanya peradangan.
2) Palpasi Payudara
Pengkajian payudara selama masa post partum meliputi
inspeksi ukuran, bentuk, warna dan kesimetrisan serta palpasi
apakah ada nyeri tekan guna menentukan status laktasi. Pada
1 sampai 2 hari pertama post partum, payudara tidak banyak
berubah kecil kecuali sekresi kolostrum yang banyak. Ketika
menyusui, perawat mengamati perubahan payudara,
menginspeksi puting dan areola apakah ada tanda tanda
kemerahan dan pecah, serta menanyakan ke ibu apakah ada
nyeri tekan. Payudara yang penuh dan bengkak akan menjadi
lembut dan lebih nyaman setelah menyusui.
d. Pemeriksaan abdomen
1) Inspeksi Abdomen
Kaji adakah striae dan linea alba. Kaji keadaan abdomen,
apakah lembek atau keras. Abdomen yang keras menunjukan
kontraksi uterus bagus sehingga perdarahan dapat
diminimalkan. Abdomen yang lembek menunjukan sebaliknya
dan dapat dimasase untuk merangsang kontraksi.
2) Palpasi Abdomen
a) Fundus uteri Tinggi : Segera setelah persalinan TFU 2 cm
dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm diatas
pusat dan menurun kira-kira 1 cm setiap hari.
 Hari kedua post partum TFU 1 cm dibawah pusat.
 Hari ke 3 - 4 post partum TFU 2 cm dibawah pusat.
 Hari ke 5 - 7 post partum TFU pertengahan pusat-
symfisis.
 Hari ke 10 post partum TFU tidak teraba lagi.
b) Kontraksi, kontraksi lemah atau perut teraba lunak
menunjukan konteraksi uterus kurang maksimal sehingga
memungkinkan terjadinya perdarahan.
c) Posisi, posisi fundus apakah sentral atau lateral. Posisi
lateral biasanya terdorong oleh bladder yang penuh.
d) Uterus, setelah kelahiran plasenta, uterus menjadi massa
jaringan yang hampir padat. Dinding belakang dan depan
uterus yang tebal saling menutup, yang menyebabkan
rongga bagian tengah merata. Ukuran uterus akan tetap
sama selama 2 hari pertama setelah pelahiran, namun
kemudian secara cepat ukurannya berkurang oleh
involusi.
e) Diastasis rektus abdominis adalah regangan pada otot
rektus abdominis akibat pembesaran uterus jika dipalpasi.
e. Ekstremitas atas dan bawah
1) Varises, melihat apakah ibu mengalami varises atau tidak.
Pemeriksaan varises sangat penting karena ibu setelah
melahirkan mempunyai kecenderungan untuk mengalami
varises pada beberapa pembuluh darahnya. Hal ini disebabkan
oleh perubahan hormonal.
2) Edema, Tanda homan positif menunjukan adanya
tromboflebitis sehingga dapat menghambat sirkulasi ke organ
distal.
f. Genetalia
Perineum, kebersihan Perhatikan kebersihan perineum ibu.
Kebersihan perineum menunjang penyembuhan luka.
1) REEDA (red, edema, echymosis, discharge, loss of
approximation).
2) Lochea
Kaji jumlah, warna, konsistensi dan bau lokhia pada ibu post
partum. Perubahan warna harus sesuai. Misalnya Ibu
postpartum hari ke tujuh harus memiliki lokhia yang sudah
berwarna merah muda atau keputihan. Jika warna lokhia
masih merah maka ibu mengalami komplikasi postpartum.
Lokhia yang berbau busuk yang dinamankan Lokhia
purulenta menunjukan adanya infeksi disaluran reproduksi
dan harus segera ditangani.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan menurut SDKI 2016:
1. Nyeri akut b.d agen pencedera fisik, luka episiotomy post partum
spontan.
2. Perubahan pola eliminasi BAK (disuria) b.d trauma perineum.
3. Perubahan pola eliminasi BAB (konstipasi) b.d trauma persalinan.
4. Resiko defisit volume cairan b.d perdarahan.
5. Resiko infeksi b.d luka episiotomy post partum spontan.
6. Gangguan pola tidur b.d tanggung jawab member asuhan pada
bayi.
7. Resiko gangguan parenting b.d kurangnya pengetahuan tentang
cara merawat bayi.
8. Ketidakefektifan menyusui b.d suplai ASI tidak cukup.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1 Setelah dilakukan tindakan - pengkajian nyeri secara


keperawatan selama 3 x 24 jam komprehensif
diharapkan nyeri pasien berkurang - monitor tanda-tanda vital
dengan kriteria hasil : - Berikan teknik
- Melaporkan bahwa nyeri nonfarmakologis berupa
berkurang kompres dingin (Efektivitas
- Mampu mengontrol nyeri dengan kompres hangat dan kompres
menggunakan teknik non dingin terhadap intensitas
farmakologi nyeri luka perineum pada ibu
- Mampu mengenali nyeri (skala, post partum dib pm Siti
intensitas, frekuensi, dan tanda Julaeha Pekanbaru) (Elly S.
nyeri) & Wita R., 2019)
- Menyatakan rasa nyaman setelah - Ajarkan latihan relaksasi
nyeri berkurang nafas dalam
- Tanda vital dalam rentang normal - Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian analgetik
2 Setelah dilakukan tindakan -Kaji dan catat cairan masuk dan
keperawatan selama 3 x 24 jam keluar tiap 24 jam.
diharapkan pasien tidak mengalami -Anjurkan berkemih 6-8 jam post
gangguan eliminasi (BAK) dengan partum
kriteria hasil: -Berikan teknik merangsang
- Ibu dapat berkemih sendiri dalam berkemih seperti rendam
6-8 jam post partum tidak merasa duduk, alirkan air keran.
sakit saat BAK, jumlah urine 1,5-2 -Kolaborasi pemasangan kateter
liter/hari.
3 Setelah dilakukan tindakan - Kaji pola BAB, kesulitan
keperawatan selama 3 x 24 jam BAB, warna, bau, konsistensi,
diharapkan konstipasi tidak terjadi dan jumlah. Kaji bising usus
pada pasien dengan kriteria hasil : setiap 8 jam
- Pasien dapat BAB maksimal hari - Anjurkan pasien untuk
ke 3 post partum, feses lunak dan melakukan ambulasi sesuai
warna khas feses, bau khas feses, toleransi dan meningkatkan
tidak ada kesulitan BAB secara progresif.
- Pertahankan diet reguler
dengan kudapan diantara
makanan, tingkatkan makan
buah dan sayuran
- Anjurkan ibu BAB pada WC
duduk
- Kolaborasi pemberian
laksantia supositoria.
4 Setelah dilakukan tindakan - Monitor tanda-tada vital (Nadi,
keperawatan selama 3 x 24 jam Suhu, dan RR). Periksa ulang
diharapkan pasien tidak kekurangan kadar Hb/Ht
volume cairan dengan kriteria hasil : - Monitor status hidrasi (turgor
- Cairan masuk dan keluar kulit)
seimbang, Hb/Ht dalam batas - Catat intake output dan hitung
normal (12,0-16,0 gr/dL) balance cairan dalam 24 jam.
- Kolaborasi pemberian diuretic,
jika perlu.
5 Setelah dilakukan tindakan - Monitor tanda dan gejala
keperawatan selama 3x24 jam resiko infeksi serta TTV
infeksi teratasi dengan kriteria hasil: - Kaji luka perineum, keadaan
- Tanda-tanda vital dalam batas jahitan
normal - Memberikan Vulva hygiene
TD : 120/80 mmHg (hubungan vulva hygiene
N : 60-100 x/menit dengan pencegahan infeksi
RR : 20 x/menit luka perineum pada ibu post
partum di RS Pancaran Kasih
S : 36,5-37,5˚C GMIM Manado) (Yolanda B,
- Bebas dari tanda dan gejala dkk, 2015)
infeksi - Lakukan perawatan luka pada
- Menunjukkan kemampuan area luka dengan teknik
untuk mencegah timbulnya aseptic
infeksi - Ajarkan pasien membasuh
- Jumlah leukosit dalam batas vulva dengan cara yang benar
normal (5000-10.000) Sarankan pada pasien agar
mengganti pembalut tiap 4
jam.
- Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian antibiotic,
jika perlu
6 Setelah dilakukan tindakan - Dikaji rutinitas tidur yang
keperawatan selama 3x24 jam biasa dilakukan klien
Gangguan pola tidur teratasi dengan - Berikan perawatan petang hari
kriteria hasil: misalnya : personal hygiene
- Kuantitas dan kualitas tidur - ajarkan teknik
meningkat nonfarmakologis (distraksi)
- Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian analgetik
7 Setelah dilakukan tindakan - Kaji tingkat pengetahuan
keperawatan selama 3x24 jam resiko pasien dan suaminya.
gangguan proses parenting teratasi - Dorongan untuk menceritakan
dengan kriteria hasil: kesulitan menjadi orang tua
- Pasien dapat merawat bayi secara - Beri kesempatan pasien untuk
mandiri (memandikan, menyusui, melakukan perawatan bayi
dan merawat tali pusat) secara mandiri
- Latih ibu untuk perawatan
payudara secara mandiri dan
teratur
- Libatkan suami dan keluarga
dalam membantu pasien
merawat bayinya.
8 Setelah dilakukan tindakan - Pantau pembengkakan
keperawatan selama 3x24 jam payudara yang berhubungan
diharapkan keberhasilan menyusui dengan ketidaknyamanan atau
bayi meningkat dengan kriteria hasil: sakit
- Pengeluaran ASI cukup adekuat - Lakukan pijat oksitosin untuk
memperlancar ASI
- Ajarkan pasien mengenai
langkah-langkah pijat
oksitosin
- Libatkan keluarga untuk
membantu dan memberikan
dukungan pada pasien.

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi adalah langkah keempat dalam tahap proses keperawatan
dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan
keperawatan) yang telah direncanakan dalam rencana tindakan
keperawatan. Beberapa petunjuk pada implementasi adalah sebagai
berikut:
1. Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan
validasi.
2. Keterampilan interpersonal, intelektual, teknikal dilakukan dengan
cermat dan efisien pada situasi yang tepat.
3. Keamanan fisik dan psikologis dilindungi.
4. Dokumentasi intervensi dan respon klien.
E. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi merupakan tahap dimana proses penilaian dicapai meliputi
pencapaian tujuan dan kriteria hasil. Pelaksanaan evaluasi
didokumentasikan dalam bentuk catatan perkembangan dengan
menggunakan metode SOAP (Subjektif, Objektif, Assesment, dan
Planning).

DAFTAR PUSTAKA

Dina, S. 2022. Laporan Pendahuluan Post Partum Spontan.


Elly S. & Wita R., 2019. Efektivitas Kompres Hangat dan Kompres Dingin
terhadap Intensitas Nyeri Luka Perineum pada Ibu Post Partum di BPM
Siti Julaeha Pekanbaru. Journal Of Midwifery Science. 3(1):7-14.
Hafifah. 2011. Laporan Pendahuluan pada Pasien dengan Persalinan Normal.
Diakses pada tanggal 10 Juni 2020 pukul 10.00 WIB.
Linda, R. 2010. “Asuhan Keperawatan pada Ny. D dengan Post Partum Nomal di
Wilayah Kerja Puskesmas Delanggu Klaten”. Karya Tulis Ilmiah. Fakultas
Ilmu Kesehatan, Ilmu Keperawatan, Universitas Muhammadiyah
Surakarta, Surakarta.
Nitasari. 2015. Pathway Post Partum. Diakses pada tanggal 10 Juni 2020 pukul
10.10 WIB.
Siska, S. 2019. “Laporan Pendahuluan Post Partum”. Asuhan Keperawatan.
Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Yolanda B, dkk,. 2015. Hubungan Vulva Hygiene dengan Pencegahan Infeksi
Luka Perineum pada Ibu Post Partum di RS Pancaran Kasih GMIM
Manado. Jurnal Keperawatan. 3(2).

North American Nursing Diagnosis Association. 2015. Aplikasi Asuhan


keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc.
Jogjakarta: Media Action.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
(SDKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(SIKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai