0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan8 halaman

BAB 3

Modul ajar ini membahas tentang kemudahan shalat bagi orang yang sakit, dengan fokus pada pengajaran nilai cinta kepada Allah dan sesama. Peserta didik diajarkan cara shalat dalam berbagai posisi (duduk, berbaring, telentang) dan pentingnya menjaga ibadah meskipun dalam kondisi fisik terbatas. Pembelajaran dilakukan melalui metode yang menyenangkan dan empatik, termasuk simulasi dan diskusi, untuk menumbuhkan sikap peduli terhadap orang sakit.

Diunggah oleh

Ujong Kuta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan8 halaman

BAB 3

Modul ajar ini membahas tentang kemudahan shalat bagi orang yang sakit, dengan fokus pada pengajaran nilai cinta kepada Allah dan sesama. Peserta didik diajarkan cara shalat dalam berbagai posisi (duduk, berbaring, telentang) dan pentingnya menjaga ibadah meskipun dalam kondisi fisik terbatas. Pembelajaran dilakukan melalui metode yang menyenangkan dan empatik, termasuk simulasi dan diskusi, untuk menumbuhkan sikap peduli terhadap orang sakit.

Diunggah oleh

Ujong Kuta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL AJAR DEEP LEARNING (KBC)

MATA PELAJARAN : FIKIH


BAB 3 : MUDAHNYA SHALAT BAGI ORANG YANG SAKIT

A. IDENTITAS MODUL
Nama Madrasah : MIN 10 ACEH JAYA
Nama Penyusun : Risna Dewi, [Link].I
Mata Pelajaran : Fikih
Kelas / Fase / Semester : III (Tiga) / B / Ganjil
Alokasi Waktu : 8 JP (4 kali pertemuan)
Tahun Pelajaran : 2026/ 2027

B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK


● Pengetahuan Awal: Peserta didik memahami bahwa shalat adalah kewajiban. Sebagian
besar pernah mengalami sakit ringan (demam, flu) dan merasakan keterbatasan fisik.
● Minat: Peserta didik memiliki empati terhadap orang sakit dan tertarik pada cerita yang
menunjukkan kasih ubric Allah.
● Latar Belakang: Peserta didik mungkin pernah melihat anggota keluarga (kakek/nenek)
atau orang lain shalat dengan cara duduk, namun belum memahami aturannya secara
mendalam.
● Kebutuhan Belajar:
○ Visual: Membutuhkan gambar peraga atau video yang jelas untuk setiap posisi
shalat (duduk, berbaring, telentang).
○ Auditori: Membutuhkan penjelasan yang penuh empati dan menenangkan, serta
diskusi tentang bagaimana menunjukkan cinta kepada orang yang sakit.
○ Kinestetik: Sangat membutuhkan simulasi dan praktik langsung untuk merasakan
dan memahami setiap gerakan shalat dalam kondisi sakit.

C. TEMA KURIKULUM BERBASIS CINTA


● Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. Dan Rasul-Nya, Cinta Diri dan Sesama Manusia.
● Materi Insersi: Ibadah sebagai wujud cinta kepada Allah Swt., Membiasakan diri
menjaga kebersihan, kesehatan, dan keselamatan diri sebagai bentuk syukur dan
tanggung jawab, Adab kepada orangtua (saat merawatnya sakit).

D. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN


● Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai:
○ Konseptual: Memahami bahwa sakit bukanlah halangan untuk mencintai Allah
melalui shalat, dan Islam memberikan rukhsah (keringanan) sebagai wujud cinta-
Nya.
○ Prosedural: Mampu mempraktikkan tata cara shalat bagi orang sakit (duduk,
berbaring, telentang) dengan benar.
● Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Memberikan pengetahuan praktis
yang sangat berguna saat diri sendiri atau anggota keluarga mengalami sakit.
Menumbuhkan empati dan rasa cinta kepada ubric yang sedang diuji dengan sakit.
● Tingkat Kesulitan: Sedang. Membutuhkan imajinasi dan empati untuk memahami
kondisi orang sakit, serta ketelitian dalam mempraktikkan gerakan isyarat.
● Struktur Materi: Dimulai dari penguatan konsep bahwa cinta kepada Allah tak
terhalang kondisi, pengenalan berbagai cara shalat saat sakit secara bertahap (duduk,
berbaring, telentang), hingga perenungan hikmah di baliknya.
● Integrasi Nilai dan Karakter: Mengintegrasikan nilai sabar, syukur (saat sehat),
empati, istiqamah (tetap beribadah), dan cinta yang tak bersyarat kepada Sang
Pencipta.

E. DIMENSI PROFIL LULUSAN


● Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia:
Menunjukkan cinta dan ketaatan yang tak goyah kepada Allah dengan tetap
melaksanakan shalat meskipun dalam kondisi fisik yang terbatas.
● Kewargaan: Menumbuhkan sikap peduli dan siap membantu teman atau anggota
masyarakat yang sakit dan membutuhkan bantuan untuk beribadah.
● Penalaran Kritis: Mampu menentukan cara shalat yang paling sesuai dengan kondisi
sakit yang dialami, berdasarkan pemahaman tingkatan rukhsah.
● Kreativitas: Mampu memodifikasi tempat shalat (misalnya di tempat tidur) agar tetap
suci dan nyaman untuk beribadah saat sakit.
● Kolaborasi: Bekerja sama dalam kelompok untuk menyimulasikan cara membantu
orang sakit berwudhu (tayamum) dan shalat.
● Kemandirian: Memiliki kesadaran untuk tetap shalat saat sakit tanpa perlu diingatkan
secara terus-menerus.
● Kesehatan: Memahami bahwa shalat dalam kondisi sakit juga merupakan terapi spiritual
yang menenangkan jiwa, dan Islam sangat memperhatikan batasan kemampuan fisik
seseorang.
● Komunikasi: Mampu menjelaskan kepada keluarga tata cara shalat yang benar saat ada
yang sakit, sebagai bentuk cinta dan perhatian.
DESAIN PEMBELAJARAN

I. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)


Pada akhir fase B, dalam elemen fikih ibadah, peserta didik sudah terbiasa melaksanakan
puasa dan salat serta mengetahui rukhsah dalam salat. Di fase B ini peserta didik juga
mempersiapkan diri menghadapi masa taklif dengan memahami ketentuan khitan dan tanda-
tanda baligh..

B. LINTAS DISIPLIN ILMU


● Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK): Memahami keterbatasan
gerak tubuh saat sakit.
● Akidah Akhlak: Menginternalisasi sifat sabar dan syukur dalam menghadapi ujian sakit.
● Bahasa Indonesia: Menuliskan doa atau surat berisi ungkapan cinta dan semangat untuk
teman yang sedang sakit.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
● Pertemuan 1: Peserta didik mampu menjelaskan ketentuan shalat bagi orang sakit
sebagai bukti cinta Allah yang tak terbatas dengan penuh keyakinan (2 JP).
● Pertemuan 2: Peserta didik mampu mempraktikkan tata cara shalat dengan posisi duduk
sebagai cara beribadah yang penuh cinta saat fisik tak mampu berdiri (2 JP).
● Pertemuan 3: Peserta didik mampu mempraktikkan tata cara shalat dengan posisi
berbaring dan telentang sebagai wujud cinta yang tetap menyala dalam keterbatasan (2
JP).
● Pertemuan 4: Peserta didik mampu merenungkan dan menjelaskan hikmah di balik
kemudahan shalat bagi orang sakit sebagai anugerah cinta dari Allah (2 JP).

D. INDIKATOR KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN


1. Menjelaskan ubric mengapa orang sakit tetap wajib shalat.
2. Menyebutkan urutan keringanan cara shalat bagi orang sakit.
3. Mendemonstrasikan tata cara shalat dengan duduk (posisi iftirasy, ruku’, dan sujud).
4. Mendemonstrasikan tata cara shalat dengan berbaring (posisi miring ke kanan).
5. Menjelaskan cara melakukan ruku’ dan sujud dengan isyarat kepala.
6. Menjelaskan minimal 3 hikmah shalat bagi orang sakit.
7. Menunjukkan sikap empati dan cinta kepada orang yang sedang sakit.

E. IKLIM/BUDAYA MADRASAH
● Membangun budaya menjenguk dan mendoakan teman atau guru yang sakit sebagai
ekspresi cinta.
● Menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan penuh dukungan bagi setiap kondisi
peserta didik.
● Guru berbicara dengan nada lembut dan penuh kasih saat menjelaskan materi tentang
sakit.

F. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL


Cinta Tak Terhalang Sakit: Tetap Terhubung dengan Allah dalam Segala Keadaan.

G. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK
● Model Pembelajaran: Simulasi dan Role Playing (Bermain Peran)
● Pendekatan: Deep Learning (Mindful, Meaningful, Joyful Learning)
○ Mindful Learning: Peserta didik diajak untuk benar-benar merasakan dan ubri pada
setiap gerakan isyarat, membayangkan bagaimana berkomunikasi dengan Allah
melalui keterbatasan.
○ Meaningful Learning: Peserta didik memahami bahwa setiap keringanan syariat
adalah pesan cinta dari Allah yang menunjukkan betapa berharganya hamba-Nya.
○ Joyful Learning: Meskipun topiknya tentang sakit, pembelajaran dibuat
menyenangkan melalui permainan peran (ada yang menjadi ‘pasien’, ada yang
menjadi ‘perawat’ yang membantu berwudhu), sehingga menumbuhkan empati
dengan cara yang ceria.
● Metode Pembelajaran: Demonstrasi, Simulasi, Praktik Terbimbing, Diskusi, Bercerita.
● Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi:
○ Diferensiasi Konten: Materi disajikan melalui buku, peragaan langsung oleh guru,
dan video tutorial untuk orang sakit.
○ Diferensiasi Proses: Peserta didik bisa memilih peran saat simulasi. Praktik bisa
dilakukan secara individu atau berpasangan (saling membantu).
○ Diferensiasi Produk: Hasil belajar ditunjukkan melalui unjuk kerja (praktik shalat),
membuat kartu ucapan “Lekas Sembuh” yang berisi motivasi untuk tetap shalat, atau
menceritakan kembali hikmah yang dipelajari.
KEMITRAAN PEMBELAJARAN
● Lingkungan Sekolah: Bekerja sama dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk
memberikan pemahaman singkat tentang kondisi fisik saat sakit.
● Lingkungan Luar Sekolah/Masyarakat: Menugaskan peserta didik untuk
mempraktikkan adab menjenguk orang sakit (jika ada kerabat yang sakit) dan
menceritakan pengalamannya.
● Mitra Digital: Mencari video inspiratif tentang orang-orang yang tetap beribadah
dengan semangat meski dalam kondisi sakit parah.
LINGKUNGAN BELAJAR
● Ruang Fisik: Menggunakan matras atau alas yang nyaman untuk praktik shalat
berbaring. Menyiapkan bantal untuk simulasi shalat telentang.
● Ruang Virtual: Menampilkan gambar-gambar yang menunjukkan ketenangan dan
kedamaian saat beribadah.
● Budaya Belajar: Membangun budaya saling peduli, tidak menertawakan teman yang
sedang berperan sebagai orang sakit, dan saling memberikan semangat.
PEMANFAATAN DIGITAL
● Menayangkan video animasi tata cara shalat bagi orang sakit.
● Menggunakan proyektor untuk menampilkan poin-poin penting dan gambar peraga.
H. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PERTEMUAN 1 (2 JP : 70 MENIT)
Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. Dan Rasul-Nya
Pembahasan: Ketentuan Shalat Bagi Orang Sakit, Bukti Cinta Allah yang Tak Pernah Putus
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
● Pembukaan dengan Empati: Salam, doa, dan guru bertanya dengan lembut, “Anak-
anak, siapa yang pernah sakit? Apa yang kalian rasakan? Apakah saat sakit, cinta kita
kepada Allah boleh berkurang?”
● Menghubungkan dengan Cinta: Guru menegaskan, “Justru saat sakit, kita paling butuh
cinta dan pertolongan Allah. Dan Allah pun menunjukkan cinta-Nya yang luar biasa
dengan cara yang istimewa.”
● Tujuan Penuh Makna: “Hari ini kita akan belajar betapa sayangnya Allah kepada kita,
sehingga Dia tetap memberi kita cara untuk ‘berbicara’ dengan-Nya melalui shalat,
bahkan saat kita sedang sakit.”
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
● Menyimak Hadis Cinta (Meaningful): Guru membacakan dan menjelaskan hadis Nabi
Muhammad Saw. Tentang shalat sambil berdiri, jika tidak mampu maka duduk, dan jika
tidak mampu maka berbaring. Guru menekankan ini adalah “resep cinta” dari Rasulullah.
● Diskusi Penuh Perhatian (Joyful): Dalam kelompok, peserta didik berdiskusi,
“Mengapa shalat itu sangat penting sampai-sampai orang sakit pun tetap harus
melakukannya?”
● Berbagi Pemahaman: Setiap kelompok berbagi hasil diskusinya. Guru mengarahkan
kesimpulan bahwa shalat adalah koneksi cinta kita dengan Allah yang tidak boleh
terputus, seperti anak yang tetap ingin dekat dengan ibunya saat ia sakit.
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
○ Proses: Peserta didik visual dapat melihat poster urutan keringanan shalat. Peserta
didik auditori dapat ubri pada penjelasan dan cerita guru.
○ Produk: Hasil diskusi dapat berupa poin-poin yang ditulis di papan tulis atau
disampaikan secara lisan.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
● Refleksi: “Bagaimana perasaanmu setelah tahu bahwa Allah tidak pernah mau jauh dari
kita, bahkan saat kita lemah karena sakit?”
● Rangkuman: Sakit bukan ubric meninggalkan shalat, karena Allah telah menyediakan
cara yang penuh cinta dan kemudahan.
● Tindak Lanjut: Mengajak peserta didik untuk selalu bersyukur atas nikmat sehat yang
membuat kita bisa shalat dengan sempurna.
● Penutup: Salam dan doa.

PERTEMUAN 2 (2 JP : 70 MENIT)
Topik Panca Cinta: Cinta Diri dan Sesama Manusia
Pembahasan: Praktik Shalat Sambil Duduk, Beribadah dengan Cinta dalam Keterbatasan
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
● Pembukaan dengan Cinta: Salam, doa, dan mengulas kembali materi sebelumnya.
● Tujuan Penuh Makna: “Hari ini kita akan belajar cara pertama yang diajarkan
Rasulullah saat kita tidak kuat berdiri. Kita akan praktik shalat sambil duduk, sebagai
wujud cinta dan syukur karena kita masih diberi kekuatan untuk duduk.”
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
● Demonstrasi Guru (Mindful): Guru mencontohkan dengan perlahan dan jelas tata cara
shalat sambil duduk. Posisi duduk iftirasy, cara ruku’ (membungkuk sedikit), cara i’tidal
(kembali tegak), dan cara sujud (membungkuk lebih dalam dari ruku’).
● Praktik Terbimbing (Kinestetik): Semua peserta didik mencoba mempraktikkan shalat
sambil duduk secara bersama-sama, mengikuti arahan guru. Guru berkeliling untuk
membetulkan postur dengan sentuhan yang ramah.
● Bermain Peran (Joyful): Peserta didik berpasangan. Satu berperan sebagai
‘nenek/kakek’ yang sakit, dan satu lagi sebagai ‘cucu’ yang dengan penuh cinta
membimbing dan mengingatkan gerakan shalat duduk. Mereka bergantian peran.
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
○ Proses: Peserta didik yang sudah paham bisa langsung praktik mandiri. Yang masih
bingung akan dibimbing secara personal oleh guru.
○ Produk: Unjuk kerja praktik shalat sambil duduk.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
● Refleksi: “Apa yang kalian rasakan saat mencoba shalat sambil duduk? Apakah lebih
mudah atau lebih sulit dari yang dibayangkan?”
● Rangkuman: Shalat sambil duduk dilakukan jika tidak mampu berdiri, dengan ruku’ dan
sujud dilakukan dengan membungkukkan badan.
● Tindak Lanjut: Mengamati kembali gambar atau video tata cara shalat duduk untuk
memantapkan pemahaman.
● Penutup: Salam dan doa.

PERTEMUAN 3 (2 JP : 70 MENIT)
Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. Dan Rasul-Nya
Pembahasan: Praktik Shalat Berbaring dan Telentang, Cinta yang Tetap Hidup Saat Raga
Terbaring
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
● Pembukaan Penuh Kasih: Salam, doa, dan mengulas praktik shalat duduk.
● Tujuan Penuh Makna: “Bagaimana jika sakitnya lebih parah dan tidak bisa duduk?
Apakah cinta kita pada Allah berhenti? Tentu tidak. Hari ini kita akan belajar cara shalat
yang lebih istimewa lagi, yaitu sambil berbaring.”
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
● Demonstrasi Penuh Perasaan (Mindful): Guru menggunakan matras dan bantal untuk
mendemonstrasikan shalat sambil berbaring miring ke kanan menghadap kiblat, dan
shalat sambil telentang. Guru menunjukkan bagaimana ruku’ dan sujud dilakukan hanya
dengan isyarat kedipan mata atau anggukan kepala, “Lihat, bahkan hanya dengan isyarat
kecil, Allah sudah menerima ungkapan cinta kita.”
● Simulasi Empati (Kinestetik): Peserta didik mencoba kedua posisi tersebut. Mereka
diminta untuk memejamkan mata sejenak dan membayangkan sedang benar-benar shalat,
merasakan bagaimana hati tetap bisa khusyuk walau tubuh tak bergerak.
● Diskusi Isyarat Cinta: Guru memantik diskusi, “Menurut kalian, mengapa isyarat
kepala untuk sujud harus lebih rendah daripada untuk ruku’?” (Untuk menunjukkan
puncak ketundukan dan cinta kepada Allah).
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
○ Proses: Peserta didik yang tidak nyaman berbaring di lantai bisa mengamati dengan
saksama. Guru memberikan perhatian ekstra pada penjelasan konsep isyarat.
○ Produk: Kemampuan menjelaskan kembali tata cara shalat berbaring dan telentang.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
● Refleksi: “Bagian mana dari pelajaran hari ini yang paling menyentuh hati kalian tentang
cinta Allah?”
● Rangkuman: Jika tak mampu duduk, shalat dilakukan dengan berbaring atau telentang,
dengan ruku’ dan sujud menggunakan isyarat.
● Tindak Lanjut: Mendoakan orang-orang sakit di sekitar kita agar diberi kesembuhan
dan kekuatan untuk tetap mencintai Allah.
● Penutup: Salam dan doa.

PERTEMUAN 4 (2 JP : 70 MENIT)
Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. Dan Rasul-Nya, Cinta Diri dan Sesama Manusia
Pembahasan: Hikmah di Balik Keringanan, Memetik Buah Manis dari Ujian Penuh Cinta
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
● Pembukaan Penuh Syukur: Salam, doa, dan mengajak semua berdiri dan merasakan
nikmatnya bisa berdiri tegak. “Alhamdulillah, hari ini kita sehat. Mari kita syukuri
nikmat ini.”
● Tujuan Penuh Makna: “Setelah belajar semua kemudahan itu, hari ini kita akan
memetik buah manisnya. Kita akan mencari tahu, apa saja pesan cinta (hikmah) yang
Allah selipkan di balik ujian sakit.”
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
● Brainstorming Hikmah (Joyful & Kritis): Guru menulis “HIKMAH SHALAT SAAT
SAKIT” di tengah papan tulis. Peserta didik secara bergantian menyebutkan kata atau
kalimat yang menurut mereka merupakan hikmah (ubric: “Allah ubric”, “Sabar”, “Ingat
sehat”, “Hati tenang”).
● Menggali Makna Lebih Dalam (Meaningful): Guru mengelompokkan ide-ide peserta
didik dan mengembangkannya menjadi poin-poin hikmah yang utuh: mendekatkan diri
pada Allah, hati menjadi tenang, menyadari kemurahan Allah, mensyukuri nikmat sehat,
meningkatkan iman, dan dicintai Allah.
● Membuat Kartu Cinta (Kreatif): Peserta didik membuat kartu ucapan “Lekas Sembuh”
untuk teman yang (pura-pura) sakit. Di dalamnya, selain doa, mereka menuliskan satu
kalimat hikmah yang paling mereka sukai untuk memberi semangat.
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
○ Proses: Peserta didik yang suka menulis bisa ubri membuat kartu. Yang suka
berbicara bisa menceritakan hikmah yang paling berkesan baginya.
○ Produk: Kartu ucapan kreatif.

KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)


● Refleksi Akhir Bab: “Setelah belajar Bab 3 ini, apa pelajaran cinta terbesar yang kalian
dapatkan?”
● Rangkuman: Keringanan shalat saat sakit adalah bukti cinta Allah yang mengajarkan
kita untuk sabar, syukur, dan tetap terhubung dengan-Nya.
● Asesmen Sumatif: Guru melakukan penilaian akhir melalui ubri jawab lisan dan
penilaian praktik dari pertemuan sebelumnya.
● Penutup: Salam dan doa, dengan harapan semoga semua selalu sehat dan semakin cinta
beribadah.

I. ASESMEN PEMBELAJARAN
● ASESMEN DIAGNOSTIK (Awal Pembelajaran)
○ Teknik: Tanya jawab lisan pada awal pertemuan pertama.
○ Instrumen: Pertanyaan seperti, “Bolehkah kita tidak shalat kalau sedang sakit?”
● ASESMEN FORMATIF (Proses Pembelajaran)
○ Sikap: Jurnal observasi sikap empati, kesabaran saat praktik, dan antusiasme dalam
diskusi.
○ Pengetahuan: Keaktifan dalam brainstorming hikmah, jawaban lisan saat ubri
jawab.
○ Keterampilan: Keterlibatan dalam permainan peran dan simulasi.
● ASESMEN SUMATIF (Akhir Pembelajaran)
○ Unjuk Kerja: Praktik shalat dengan posisi duduk dan berbaring. Dinilai
menggunakan ubric yang mencakup kebenaran posisi, isyarat, dan kekhusyukan.
○ Produk: Penilaian kartu ucapan “Lekas Sembuh” berdasarkan kreativitas dan
kesesuaian pesan hikmah.
○ Tes Lisan: Menjawab pertanyaan tentang urutan keringanan shalat dan hikmahnya.

Mengetahui, Teunom, 2026


Kepala Madrasah Guru Mata Pelajaran

SYARIFAH USMAWIDAH, [Link].I RISNA DEWI, [Link].I


NIP. 19690717 199403 2 003 NIP. 19860515 200901 2 009

Anda mungkin juga menyukai