0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan12 halaman

737_PB

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas model pembelajaran berbasis masalah (PBL) dalam meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa di SMPN IV Subang. Hasil menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan dengan model PBL memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan model konvensional, serta hasil belajar yang signifikan lebih baik. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan inovatif dalam pendidikan untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa.

Diunggah oleh

dedydoank
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan12 halaman

737_PB

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas model pembelajaran berbasis masalah (PBL) dalam meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa di SMPN IV Subang. Hasil menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan dengan model PBL memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan model konvensional, serta hasil belajar yang signifikan lebih baik. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan inovatif dalam pendidikan untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa.

Diunggah oleh

dedydoank
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Journal of Practice Learning and Educational Development

[Link] Submitted: 12-06-2025


E-ISSN: 2809-1205 Revised: 23-07-2025
Vol 5, No. 3 (2025) 704-715 Accepted: 15-08-2025
DOI: 10.58737/jpled.v5i3.737

The Effectiveness of Problem-Based Learning Models in


Improving Science Learning Outcomes and Student
Motivation

Shinta Dewi1, Munali2, Chandra Sagul Haratua3, Siti Alifah4


Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta1,2,3,4
*E-mail: shintadewi1979@[Link]

Abstract
The objectives of this study are: (1) to describe the motivation of students at SMPN IV Subang in terms
of the problem-based learning model, (2) to determine the effect of the problem-based learning model
on the science learning outcomes of students at SMPN IV Subang. This study is a descriptive and
quantitative experimental study. The subjects in this study were eighth-grade students at SMPN 4
Subang. The data collection techniques used were science achievement tests and learning motivation
questionnaires. The data analysis techniques used were descriptive statistical analysis of percentages
for student learning motivation data, while to examine the effect of the problem-based learning model
on the science achievement of students at SMPN IV Subang, an independent two-sample t-test was
used. The results of this study indicate that most students fall into the very high motivation category
(38.5%), while the group of students given the conventional learning model mostly fall into the
moderate motivation category (46.2%). For the hypothesis test on the effect of the problem-based
learning model, the sig score was 0.000 < 0.05, so Ho was rejected and H1 was accepted, concluding
that there was a difference in science learning outcomes between the group of students taught using
the problem-based learning model and the group of students taught using the conventional learning
model.

Keywords: Effectiveness, PBL, Learning Outcomes, Motivation

Pendahuluan
Pendidikan IPA di tingkat SMP berperan penting dalam membekali siswa dengan pengetahuan dasar
tentang alam semesta, termasuk pemahaman terhadap fenomena geologi seperti struktur bumi dan
proses perkembangannya. Materi ini bersifat abstrak dan konseptual, sehingga menuntut strategi
pembelajaran yang dapat membantu siswa memvisualisasikan serta mengaitkan materi dengan
kehidupan nyata. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah pembelajaran yang sistematis berdasarkan
metode ilmiah dengan pemberian pengalaman yang sistematis berdasarkan metode ilmiah dengan
pemberian pengalaman secara langsung atau proses penemuan yang dapat dilakukan melalui
kegiatan pembelajaran eksperimen maupun percobaan yang dengan karakteristik pembelajaran yang
berfokus proses penyelesaian masalah dan berpikir kritis siswa (Triandika, 2023).
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran
IPA, khususnya pada materi struktur bumi, masih tergolong rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh
beberapa faktor, seperti pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat, metode penyampaian
yang monoton, serta kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti proses belajar. Pembelajaran yang
terjadi belum melibatkan secara aktif siswa dan belum mengarahkan kemandirian siswa dan belum

704
mengembangkan kemampuan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengelolaan
keterampilan berpikir kritis dan kreatif belum dilaksanakan secara baik, masih berpusat pada guru,
dan siswa cenderung banyak menghafal materi pelajaran bukan memahami dan menganalisis
masalah (Sunardi, 2020).
Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif,
interaktif, dan berbasis pada partisipasi aktif siswa (Sunardi et al., 2025). Salah satu alternatifnya
adalah penerapan model Problem Based Learning. Model ini mendorong kemampuan berpikir kritis,
kemandirian, kerja sama kelompok dan motivasi siswa. Melalui model pembelajaran problem based
learning, siswa lebih termotivasi untuk belajar secara kompetitif namun tetap kolaboratif.
Menurut Junaid, et. al. (2021), model pembelajaran problem based learning adalah salah satu
model pembelajaran inovatif yang memberikan kondisi belajar aktif kepada peserta didik, pengertian
strategi berbasis masalah yaitu suatu strategi pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk
memecahkan suatu masalah melalui tahapan-tahapan metode ilmiah sehingga peserta didik dapat
mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki
keterampilan untuk memecahkan masalah.
Selain itu, model Problem-Based Learning (PBL) juga sangat relevan dalam pembelajaran IPA,
karena mendorong siswa untuk mengeksplorasi dan menyelesaikan masalah di kehidupan nyata
terkait topik yang sedang dipelajari. Dalam konteks materi struktur bumi, siswa dapat terlibat dalam
kegiatan seperti membuat model lapisan bumi atau melakukan pengamatan simulasi gejala geologi,
sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna (Murdani et al. 2022).
Namun, efektivitas model pembelajaran juga sangat dipengaruhi oleh faktor internal siswa,
seperti motivasi diri. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung menunjukkan
antusiasme dalam mengikuti pelajaran, aktif dalam diskusi, serta mampu menyelesaikan tugas-tugas
dengan baik. Sebaliknya, rendahnya motivasi akan berdampak pada kurangnya partisipasi dan hasil
belajar yang tidak maksimal. Hal ini juga diungkapkan oleh Hamdani, [Link]. (2021) bahwa siswa yang
memiliki motivasi belajar yang tinggi, akan selalu bersemangat dan berantusias selama proses
pembelajaran, serta merasakan pembelajaran yang sedang dilakukan menyenangkan.
Dijelaskan oleh Insyasiska (2015), dalam pembelajaran yang menggunakan model
pembelajaran problem based learning siswa diberikan tugas yang berkaitan dengan dunia nyata,
dimana siswa diminta untuk menyelesaikan masalah tersebut. Karena tugas tersebut berkaitan
dengan konteks nyata yang mereka kerap jumpai dalam kehidupan sehari hari sehingga siswa dapat
mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan terlibat aktif dalam mencari informasi sehingga dapat
memunculkan motivasi dalam diri siswa karena akan mendorong rasa ingin tau siswa dan minat serta
kemandirian siswa yang tinggi dalam proses memahami materi yang mereka sedang pelajari.
Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan penulis dengan guru bidang
studi IPA di SMPN 4 Subang diperoleh informasi bahwa model pembelajaran problem based learning
belum pernah digunakan dalam proses pembelajaran. Selama ini pembelajaran IPA masih
menerapkan model pembelajaran konvensional yaitu ceramah. Hal ini mengakibatkan siswa tidak
memiliki motivasi dalam belajar, mereka tidak terlalu antusias dalam pembelajaran, cepat merasa
bosan, dan berkurangnya motivasi terhadap mata pelajaran IPA sehingga hasil Belajar IPA siswa
belum optimal.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting untuk melakukan penelitian yang
mengkaji efektifitas model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan hasil belajar
IPA dan motivasi siswa khususnya pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Subang pada mata
pelajaran IPA.

Metode
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMPN 4 Subang, Jalan D. Kartawigenda Gg. Palabuan No.31,
Cigadung, Kec. Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41213). Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif dan penelitian kuantitatif eksperimen. Untuk mendeskripsikan motivasi siswa SMPN IV

705
Subang ditinjau dari model pembelajaran problem based learning digunakan penelitian deskriptif,
sedangkan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran problem based learning terhadap hasil
belajar IPA siswa SMPN IV Subang digunakan penelitian kuantitauif eksperimen .
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang tidak digunakan untuk menguji hipotesis, hanya
memberikan gambaran terkait suatu subyek atau keadaan. Menurut Tanjung, H., & Shinta (2024),
penelitian deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena apa adanya
karena dalam studi ini peneliti juga tidak melakukan manipulasi atau pemberian perlakuan-
perlakuan tertentu terhadap objek penelitian. Penelitian deskriptif dilakuan untuk mengetahui nilai
dari suatu variabel mandiri tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel
lain. Penelitian eksperimental adalah jenis penelitian yang paling dapat diandalkan secara ilmiah,
karena dilakukan dengan pengendalian yang ketat terhadap variabel-variabel yang tidak terkait
dengan eksperimen (Munali & Shinta, 2025).
Menurut Sugiyono (2018), penelitian eksperimental adalah suatu bentuk penelitian khusus
yang mengidentifikasi variabel-variabel penting dan hubungan di antara variabel-variabel tersebut.
Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh variabel perlakuan (variabel Independen) terhadap
variabel pengaruh (Variabel Dependen). Menurut Mumtaz, F. (2017) metode eksperimen melibatkan
manipulasi variabel independen, perbandingan antara kelompok eksperimen dan kontrol, serta
pengamatan terhadap perubahan pada variabel dependen
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuasi eksperimen. Desain penelitian yang
digunakan pada penelitian ini adalah posttest only control group design.

Tabel 1.
Posttest only control group design

Kelompok Perlakuan Postest


Eksperimen X O1
Kontrol X O2

Keterangan:
X = Model pembelajaran Problem Base Learning
Model pembelajaran Konvensional
O1 = Postest setelah diberi treatment model pembelajaran Problem Base Learning
O2 = Postest setelah diberi model pembelajaran konvensional

Populasi adalah seluruh karakteristik yang terdapat dalam lingkup penelitian (Tersiana, A.
2018). Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki karakteristik yang sama dengan
populasi (Imai, Kosuke, 2017). Dalam hal ini populasi target adalah seluruh siswa di SMPN 4 Subang.
Untuk sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIII sebanyak 26 siswa dijadikan kelas eksperimen
yang tergabung dalam populasi dan 26 siswa dijadikan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah
kelompok yang diberi model pembelajarn problem based learning dan kelas kontrol adalah kelompok
yang diberi model pembelajaran konvensional.
Data penelitian ini berupa data respon jawaban mengenai hasil belajar IPA dan skor motivasi
siswa kelasVIII SMPN 4 Subang dalam bentuk kuantitatif yaitu angka-angka kemudian dianalisis
dengan menggunakan program SPSS. Adapun teknik analisa data yang digunakan adalah analisa
deskriptif persentase untuk data motivasi belajar siswa dan analisis two sample independent t test jika uji
normalitas terpenuhi. Uji hipotesis ini untuk menguji hipotesis pengaruh model pembelajaran
terhadap hasil belajar IPA atau uji perbedaan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang diberi
perlakuan berupa model pembelajaran Problem Based Learning dan kelompok siswa yang diberi
perlakuan berupa model pembelajaran konvensional.

706
Hasil dan Pembahasan
1. Desriptif Data Motivasi Siswa
Pada bagian ini akan dideskripsikan data motivasi siswa yang diajarkan dengan
menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan motivasi siswa yang diajarkan
dengan menggunakan model pembelajaran konvensional, Berikut di bawah ini adalah output SPSS
dan penjelasannya tentang statistik deskriptif skor motivasi siswa pada semua kelompok:
Di bawah ini adalah output SPSS statistik deskriptif skor motivasi siswa yang diajarkan
dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning:

Tabel 2.
Motivasi Siswa Model Pembelajaran PBL

Statistics
PBL
N Valid 26
Missing 0
Mean 36.0769
Median 34.5000
Mode 29.00
Std. Deviation 8.31347
Variance 69.114
Range 23.00
Minimum 25.00
Maximum 48.00
Sum 938.00

Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan kemudian diolah secara statistik diperoleh
bahwa motivasi siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning mempunyai nilai mean = 36,07, median = 34,5, modus = 29, simpangan baku 8,31, varians =
69,114, range = 23, nilai minimum = 25, nilai maksimum = 48, dan jumlah = 938.
Di bawah ini adalah output SPSS statistik deskriptif skor motivasi siswa yang diajarkan
dengan menggunakan model pembelajaran Konvensional:

Tabel 3.
Motivasi Siswa Model Pembelajaran Konvensional

Statistics
KONV
N Valid 26
Missing 0
Mean 34.6154
Median 37.0000
Mode 30.00a
Std. Deviation 6.41297
Variance 41.126
Range 24.00
Minimum 24.00
Maximum 48.00
Sum 900.00

707
a. Multiple modes exist. The
smallest value is shown

Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan kemudian diolah secara statistik diperoleh
bahwa motivasi siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional nilai
mean = 34,61, median = 37, modus = 30, simpangan baku 6,41, varians = 41,12, range = 24, nilai
minimum = 24, nilai maksimum = 48, dan jumlah = 900.
Berdasarkan hasil penelitian siswa kelas VIII di SMPN 4 Subang dengan menggunakan
angket motivasi belajar berikut tabel interval kategori dan hasil penelitian berdasarkan interval
kategori tersebut terkait motivasi siswa adalah sebagai berikut:

Tabel 4.
Interval kategori motivasi kelompok siswa yang diberi model pembelajaran Problem Based Learning
siswa di SMPN 4 Subang
No Kategori Interval %
1 Sangat Tinggi 41-50 38,5
2 Tinggi 31-40 11,5
3 Sedang 21-30 50
4 Rendah 11-20 0

Tabel 5.
Interval kategori motivasi kelompok siswa yang diberi model pembelajaran Konvesional siswa di
SMPN 4 Subang

No Kategori Interval %
1 Sangat Tinggi 41-50 11,5
2 Tinggi 31-40 42,3
3 Sedang 21-30 46,2
4 Rendah 11-20 0

Berdasarkan jawaban responden mengenai aspek motivasi siswa untuk kelompok yang
diberi model pembelajaran problem based learning diperoleh hasil bahwa sebesar 38,5% (Kategori
sangat tinggi), 11,5% (Kategori tinggi), dan 50% (Kategori sedang). Sedangkan motivasi siswa untuk
kelompok yang diberi model pembelajaran konvensional diperoleh hasil bahwa sebesar 11,5%
(Kategori sangat tinggi), 42,3% (Kategori tinggi), dan 46,2% (Kategori sedang). Berdasarkan jawaban
responden mengenai aspek motivasi siswa untuk kelompok yang diberi model pembelajaran
problem based learning diperoleh hasil bahwa sebagian besar siswa termasuk dalam kategori
motivasi yang sangat tinggi (38,5%), sedangkan kelompok siswa yang diberi model pembelajaran
konvensional sebagian besar siswa termasuk dalam kategori motivasi yang sedang (46,2%).
Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan diterapkan model pembelajaran
problem based learning, motivasi siswa dalam pembelajaran lebih tinggi karena model pembelajaran
tersebut lebih menarik dan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyerap pembelajaran,
siswa lebih berkosentrasi pada saat proses belajar mengajar berlangsung Motivasi belajar adalah
penunjang, penggerak yang mendorong, mengarahkan dan memperkuat tingkah laku untuk belajar
dan menjadi semangat sehingga tercapainya suatu tujuan yang ditimbulkan dari dalam diri maupun
dari luar (Nuraisah, et al. 2022). Pembelajaran lebih inovatif dan terjadinya keterlibatan siswa dalam
pembelajaran yang lebih aktif dibandingkan pembelajaran konvensional. Siswa juga menjadi antusias
dan semangat dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

708
Sedangkan pada model pembelajaran konvensional, siswa cenderung pasif, tidak banyak
komentar dan cenderung diam saat guru menjelaskan materi. Hal ini sejalan dengan penelitian
Mardani, et al. (2021) bahwa terdapat perbedaan yang signifikan motivasi belajar siswa yang
mengikuti pembelajaran PBL dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Model
pembelajaran problem based learning dapat memberikan dorongan internal dan eskternal karena
pada model pembelajarn ini mendorong siswa untuk menyelidiki dan menemukan serta
menyelesaikan masalah yang yang diberikan oleh guru, dimana siswa tidak hanya menerima
pengetahuan saja yang mengakibatkan siswa menjadi tertarik untuk belajar karena masalah yang
diberikan berkaitan dengan konteks kehidupan sehari hari siswa.
Senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Ulfah, [Link]. (2021), yang berjudul: “The Effect of
Using The Problem Based Learning Model to IPA Learning Motivation in Students Class 4 Elementary School
of Kendayakan 01”, dimana rerata motivasi belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran
problem based learning sebesar 57,00, yang lebih tinggi dibandingkan rerata motivasi belajar siswa
yang menggunakan model pembelajaran konvensional 50,59.
Dalam pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran problem based learning , siswa
didorong untuk memahami konsep-konsep dan menemukan solusi permasalahan yang berhubungan
dengan konteks masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari khususnya yang berkaitan
dengan Ilmu Pengetahuan Alam. Dan dalam penerapannya model problem based learning siswa
diberikan proyek nyata yang dari proyek yang diberikan tersebut siswa dituntut untuk bekerja sama
dalam mencari solusi dari permasalahan yang diberikan.

2. Pengaruh Model Pembelajaran terhadap Hasil Belajar IPA


Sebelum dilakukan pengujian hipotesis untuk menganalisis Pengaruh Model Pembelajaran
terhadap Hasil Belajar IPA dengan menggunakan uji t dua sampel bebas (independent two sample t
test), terlebih dahulu dilakukan analisis deskriptif data terkait hasil belajar IPA siswa baik pada
kelompok pembelajaran Problem Based learning maupun pada kelompok pembelajaran
konvensional. Setelah itu dilakukan uji pra syarat analisis sebelum uji hipotesis menggunakan uji t
dua sampel bebas (independent two sample t test), yaitu uji normalitas dan uji homogenitas data.
Semua analisis dilakukan dengan bantuan software SPSS. Berikut adalah hasil analisa data deskriptif,
uji pra syarat dan uji hipotesis pengaruh model pembelajaran terhadap hasil belajar IPA:

a. Deskriptif data
Tabel 6.
Deskriptif skor hasil belajar IPA yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Problem
Based Learning

Statistics
PBL
N Valid 26
Missing 0
Mean 73.2692
Median 77.5000
Mode 95.00a
Std. Deviation 22.49188
Variance 505.885
Range 70.00
Minimum 30.00
Maximum 100.00
Sum 1905.00
a. Multiple modes exist. The
smallest value is shown

709
Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan kemudian diolah secara statistik diperoleh
bahwa hasil belajar IPA yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning mempunyai skor mean = 73,27, median = 77,7, modus = 95, simpangan baku 22,49, varians =
505,885, range = 70, nilai minimum = 30, nilai maksimum = 100, dan jumlah = 1905.

Tabel 7.
Deskriptif skor hasil belajar IPA yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran
konvensional

Statistics
KON
N Valid 26
Missing 0
Mean 43.6538
Median 40.0000
Mode 40.00
Std. Deviation 15.26812
Variance 233.115
Range 60.00
Minimum 15.00
Maximum 75.00
Sum 1135.00

Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan kemudian diolah secara statistik diperoleh
bahwa hasil belajar IPA yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional
mempunyai skor mean = 43,65, median = 40, modus = 40, simpangan baku 15,27, varians = 233,115,
range = 60, nilai minimum = 15, nilai maksimum = 75, dan jumlah = 1135.

b. Uji prasyarat analisis


Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam menguji hipotesis uji perbedaan adalah
sampel harus berasal dari populasi berdistribusi normal. Pengujian normalitas dilakukan untuk
mengetahui apakah sampel berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data
dilakukan terhadap data skor hasil belajar fisika untuk semua kelompok dengan uji Kolmogorov
smirnov menggunakan software SPSS.
Uji Normalitas Hasil Belajar IPA Kelompok Model Pebelajaran Problem Based Learning dan
Model Pembelajaran Konvensional

Tabel 7: Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


PBL KON
N 26 26
Normal Parametersa,b Mean 73.2692 43.6538
Std. Deviation 22.49188 15.26812
Most Extreme Differences Absolute .141 .133
Positive .117 .133
Negative -.141 -.123
Test Statistic .141 .133
Asymp. Sig. (2-tailed) .199c .200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.

710
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.

Berdasarkan output spss tersebut diperoleh skor signifikansi sebesar 0,199 untuk data hasil
belajar IPA kelompok model pembelajaran problem based learning dan 0,200 untuk data hasil belajar
IPA kelompok model pembelajaran konvensional. Skor signfikansi tersebut lebih dari 0,05, sehingga
dapat dikatakan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Uji Homogenitas Hasil Belajar IPA Kelompok Model Pembelajaran Problem Based Learning
dan Model Pembelajaran Konvensional. Uji homogenitas dilakukan untuk menguji kesamaan varian
antara setiap kelompok data. Persyaratan uji homogenitas diperlukan untuk melakukan analisis
inferensial dalam hal komparasi.

Table 8: Uji Homoginitas


Test of Homogeneity of Variances
HASIL
Levene Statistic df1 df2 Sig.
6.095 1 50 .017

Pada penelitian ini pengujian homogenitas varians pada penelitian ini menggunakan uji
Anova One Way dengan software SPSS yang dilakukan antara kelompok data hasil belajar IPA Siswa
yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning dan hasil belajar IPA
Siswa yang diajar dengan Menggunakan model pembelajaran konvensional. Berdasarkan output spss
tersebut diperoleh skor signifikansi sebesar 0,017 < 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa data Hasil
Belajar IPA Kelompok Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Model Pembelajaran
Konvensional tidak homogen.

c. Pengujian hipotesis
Tabel 9.
Uji Hipotesis Pengaruh Model Pembelajaran terhadap Hasil Belajar IPA
Group Statistics
KELOMPOK N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
HASIL PBL 26 73.2692 22.49188 4.41102
KONVENSIONAL 26 43.6538 15.26812 2.99432

Independent Samples Test


Levene's
Test for
t-test for Equality of Means
Equality of
Variances
Sig. Std. 95% Confidence
(2- Mean Error Interval of the
F Sig. t df
tailed Difference Differen Difference
) ce Lower Upper
HASIL Equal variances
6.095 .017 5.555 50 .000 29.61538 5.33133 18.90709 40.32368
assumed
Equal variances
5.555 44.005 .000 29.61538 5.33133 18.87083 40.35994
not assumed

711
Berdasarkan output SPSS pada tabel Paired samples test tersebut dapat dilihat bahwa
koefisien t hitung untuk equal variances not assumed diperoleh sebesar 5,555 dan skor signifikasi
sebesar 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan H1 diterima sehingga disimpulkan terdapat perbedaan
hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran
problem based learning dan kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.
Pada tabel grup statistik di atas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar IPA siswa
pada kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning
adalah 73,27 dan skor rata-rata hasil belajar IPA siswa pada kelompok siswa yang diajar dengan
menggunakan model pembelajaran konvensional adalah 43,00. Hal ini menunjukkan bahwa hasil
belajar IPA siswa lebih tinggi pada siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran
problem based learning dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran konvensional.
Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran berbasis
masalah dengan pembelajaran konvensional. Penggunaan model pembelajaran problem based
learning, hasil belajar siswa meningkat dibandingkan dengan penggunaan pembelajaran
konvensional. Hal ini membuktikan bahwa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol.
pada kelas eksperimen siswa lebih aktif, dimana ketika guru menjelaskan siswa terlibat aktif
didalamnya, memperhatikan dan bertanya apabila ada yang tidak mengerti tentang materi yang
diajarkan. Dalam pembagian tugas dan kelompok mereka memiliki motivasi yang tinggi hal ini dapat
terlihat dari antusiasme dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mereka saling
berdiskusi untuk menyampaikan ide-ide dan pendapatnya di kelompok diskusinya.
Sedangkan pada pembelajaran kelas kontrol siswa kurang terlibat aktif di dalamnya, minat
siswa terhadap pelajaran rendah, hanya beberapa siswa saja yang aktif untuk bertanya, saat siswa
kurang memahami materi yang telah dijelaskan, mereka cenderung menerima saja materi dan tidak
mnemiliki kemadirian dalam mengerjakan soal soal yang diberikan, hanya cenderung mencontoh
teman, siswa belum mampu berpikir kritis dan sistematis. ketika mengerjakan soal, siswa kesulitan
untuk menyelesaikan, mereka tidak mau bertanya justru mengobrol dengan temannya dan tidak
bersemangat untuk menyelesaikan soal yang diberikan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian
sebelumnya yang dilakukan Putri, A.A.A, et al (2018) yaitu terdapat perbedaan yang signifikan hasil
belajar IPA yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang menggunakan model pembelajaran
Problem Based Learning dengan t hitung = 4,75 > t tabel = 2,042 dengan skor rata-rata-rata siswa yang
menggunakan model pembelajaran problem based learning yaitu 16,52 dan skor rata-rata siswa
kontrol yaitu 11,77.
Selain itu, temuan penelitian yang sejalan dengan penelitian Afandi et al (2024) menunjukkan
adanya perbedaan signifikan antara hasil belajar IPAS peserta didik sebelum dan sesudah penerapan
model pembelajaran berbasis masalah. Uji t menunjukkan signifikansi sebesar 0,000 menolak Ho dan
menerima Ha, dengan rata-rata hasil belajar pre-test 57,40 dan post-test 75,18. Berdasarkan penelitian
tersebut, ddapat disimpulkam bahwa model pembelajaran problem based learning berpengaruh
positif terhadao hasil belajar IPAS materi wujud zat dan perubanhannya pada peserta didik kelas IV B
SD Negeri Pandeanlamper 03 Semarang.
Menurut Jauhari et al (2024), model pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan
yang berpusat pada siswa sehuingga siswa dapat berperan aktuif dalam pembelajaran sehingga
siswa menjadi tertarik dan antusias untuk mengikuti proses pembelajarabn. mereka juga beranui
dalam mengajukan pendapat dan pertanyaan dalam pembelajaran, juga mampu aktif dalm
berdiskusui kelompok. Menurut Arifin et al (2024), pada pembelajaran model pembelajaran problem
based learning siswa mengerjakan masalah autentik untuk mengumpulkan pengetahuan mereka,
mengembangkan keterampilan inkuiri dan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan
kepercayaan diri. keterlibatan siswa dalam menemukan sendiri pengetahuannya mengakibatkan
siswa dapat memecahkan masalah yang diberikan yang berkenaan dengan topik ilmu pengetahuan
alam. siswa melibatkan mereka sendiri dalam proses pembelajaran sehngga dalam pembelajarannya

712
menjadi bermakna, ingatan siswa menjadi lebih bertahan lama, siswa menjadi lebih memahami materi
tidak hanya sekedar menghapakl materi. berbeda dengan pembelajarn konvensional, guru yang
mendominasi pembelajaran konvensional hanya memberikan informasi.
Dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah pada hasil belajar ipa, siswa
dapat meningkatkan antusiasme belajar siswa dengan belajar berkelompok. siswa mampu
memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. siswa menjadi lebih aktif
dalam belajar. pada kelompok kontrol, pembelajaran dilakukan secara konvensional, biasanya
dilakukan oleh guru. dimana guru hanya menjelasksn materi dengan ceramah lalu memberikan
kesempatan untuk siswa memberikan pertanyaan bila dirasa materi yang telah dijelaskan kurang
dapat dipahami oleh merekja. temuan penelitian ini menyiratkan bahwa kelas yang diajarkan dengan
model pembelajaran berbasis masalah memiliki hasil belajar ipa yang lebih baik.
Model pembelajaran problem based learning juga melatih siswa untuk lebih percaya diri,
karena siswa dilibatkan secara aktif dalam diskusi dan berani menyampaikan pendapat karena
mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelompok lain di depan kelas. Pada model ini,
guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran, karena yang ditekankan
adalah keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Guru juga menggunakan masalah dunia nyata yang
akan diberikan kepada sisswa dan melatih mereka untuk mempertanyakan, menganalisis masalah
tersebut dan mencari solusi permasalahannya (Wahyuni, [Link].,2023).
Penelitian yang dilakukan oleh Hasanah & Utami (2017), menunjukkan terdapat pengaruh
model pembelajaran terhadap keterampilan proses sains, dimana bahwa kelas yang diajarkan dengan
pembelajaran konvensional memiliki keterampilan proses sains yang lebih rendah bagi siswa. Hasil
penelitian ini digunakan sebagai masukan bagi guru dan calon guru. anda memperbaiki diri
sehubungan dengan pengajaran yang telah dilakukan dan prestasi siswa yang telah dicapai dengan
memperhatikan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar sains siswa.
berdasarkan data hasil analisis dalam penelitian ini, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan antara kelompok siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran berbasis
masalah dan siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional.
Skor rata-rata hasil belajar sains siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran berbasis
masalah lebih tinggi daripada skor rata-rata kelompok siswa yang diajarkan menggunakan
pembelajaran konvensional. Dengan demikian model pembelajaran berbasis masalah mempengaruhi
hasil belajar sains siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka guru sebaiknya memaksimalkan hasil
belajar siswa dengan menggunakan berbagai model pembelajaran, salah satunya adalah model
pembelajaran berbasis masalah. saran bagi siswa agar menyadari bahwa semua mata pelajaran itu
penting dan memiliki minat yang lebih besar untuk dipelajari, terutama mata pelajaran sains.

Simpulan
Berdasarkan jawaban responden mengenai aspek motivasi siswa untuk kelompok yang diberimodel
pembelajaran problem based learning diperoleh hasil bahwa sebesar 38,5% (kategori sangat tinggi),
11,5% (kategori tinggi), dan 50% (kategori sedang). Sedangkan motivasi siswa untuk kelompok yang
diberi model pembelajaran konvensional diperoleh hasil bahwa sebesar 11,5% (kategori sangat
tinggi), 42,3% (kategori tinggi), dan 46,2% (kategori sedang). Berdasarkan jawaban responden
mengenai aspek motivasi siswa untuk kelompok yang diberi model pembelajaran problem based
learning diperoleh hasil bahwa sebagian besar siswa termasuk dalam kategori motivasi yang sangat
tinggi (38,5%), sedangkan kelompok siswa yang diberi model pembelajaran konvensional sebagian
besar siswa termasuk dalam kategori motivasi yang sedang (46,2%)
Berdasarkan hasil penelitian, pengujian hipotesis pengaruh model pembelajaran terhadap
hasil belajar IPA siswa koefifien t hitung untuk equal variances not assumed diperoleh skor sebesar
5,555 dan skor signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan H1 diterima sehingga
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang diajar dengan
menggunakan model pembelajaran problem base learning dan kelompok siswa yang diajar dengan

713
model pembelajaran konvensional. Pada tabel grup statistik tersebut dapat diketahui bahwa skor rata-
rata hasil belajar IPA siswa pada kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran problem based learning sebesar 73,27 dan skor rata-rata hasil belajar IPA siswa pada
kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional adalah 43,00.

Daftar Rujukan
Afandi, D.D., Subekti, E.E., & Saputro., S.A. (2024). Pengaruh Model Problem Based Learning
terhadap Hasil Belajar IPAS. Jurnal Inovasi, Evaluasi, dan Pengembangan Pembelajaran , 4(1),
113-120.
Arifin, M., et al.(2024). Penerapan Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran IPAS untuk
meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa. Journal of Education Research, 5 (4), 6109-
6121.
Azzahrotul Hasanah & Lisa Utami. (2017). Pengaruh Penerapan Model Problem Based Learning
terhadap Keterampilan Proses Sains. Jurnal Pendidikan Sains, 5(2), 56-64.
Hamdani, A.R., et. Al. (2021). Analisis Pengaruh Penggunaan Model Problem Based Learning
terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah FKIP Universitas
Mandiri, 7(2), 751-763.
Imai, Kosuke. 2017. Quantitative Social Science An Introduction. New Jersey: Princeton University
Press.
Insyasiska,D., Zubaidah, S. Susilo,H. (2015). Pengaruh Project Based Learning terhadap Motivasi
Belajar, Kreativitas, Kemampuan Berpikir Kritis dan Kemampuan Kognitif Siswa pada
pembelajaran Biologi. Jurnal Pendidikan Biologi, 7(1), 9-21.
Jauhari, S.F., Purnamasari, V., & Purwaningrum, M.R. (2024). Pengaruh Model Problem Based
Learning berbantuan Media Audio Visual terhadao Hasil Belajar IPAS. Jurnal Inovasi,
Evaluasi, dan Pengembangan Pembelajaran , 4(1), 36-43.
Junaid, M., Salahuddin, Anggraini, Rita. (2021). Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based
Learning terhadap Pemahaman Konsep IPA Siswa di SMPN 17 Tebo. Physics and Science
Education Journal (PSEJ), 1n(1), 16-21.
Mardani, N.K., Atmadja, N.B., & Suastika,L.N. (2021). Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based
Learning terhadap Motivasi dan Hasil Belajar IPS Jurnal Pendidikan IPS, 5(1), 55-65.
Mumtaz, Fairul. 2017. Kupas Tuntas Metode Penelitian. Pustaka Diantara
Munali & Dewi, S. 2025. Desain & Analisis Eksperimen, Lamongan: Kamila Press.
Murdani, M.H. Sukardi, Handyani, N. (2022). Jurnal Pengaruh Model Problem Based Learning dan
Motivasi terhadap Hasil Belajar Siswa. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 7(3), 2502-7069.
Nuraisah, I.M., Hendriana, H., & Supriatna,E. (2022). Gambaran Motivasi Belajar pada Siswa SMP
PGRI 1 Cianjur. Jurnal FOKUS, 5 (1), 19-25.
Putri, A.A.A., Swatra, I.W., & Tegeh, I.M. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based
Learning Berbantuan Media Gambar terhadap Hasil Belajar IPA Siswa kelas III SD.
Journal for Lesson and Learning Studies, 1(1), 21-32.
Sugiyono. 2018. Metodologi Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Sunardi, S. (2020). Global Era Education" Globalization of Global Education or Islamic
Education". Journal of Islamic and Social Studies (JISS), 1(1), 59-74.
Sunardi, S., Halimatuzzahrah, H., Zulfa, E., & Fadli, H. (2025). Inovasi Kurikulum Pendidikan Islam
Integrasi Antara Ilmu Keislaman dan Ilmu Modern di MA Darussalimin NW Sengkol
Mantang. Jurnal Mahasantri, 5(2), 60-67.
Tanjung, Hendri & Dewi, Shinta. 2024. Metode Penelitian Kuantitatif. Bogor: UIKA Press.
Tersiana, Andra. 2018. Metode Penelitian. Yogyakarta: Penerbit Yogyakarta.
Triandika, Elsa, Amprasto, & Rumanta, M. (2023). Pengaruh Model Problem Based Learning dan
Motivasi Belajar Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas
V Sekolah Dasar. Jurnal Nuansa Akademik, 8(1), 175-188.

714
Ulfah, A. 2021. The Effect of Using The Problem Based Learning Model to IPA Motivation in Student
Class 4 Elementary school of Kendayakan 01. Social, Humanities, and Education Studies
Journal, 4 (6), 396-403.
Wahyuni,E., Fitria, Yanti., Solfema, Hidayati, A. (2023). Implementation of Student Learning
Independence in Ethnoscience-Oriented Force Topics Through Problem Based Learning
Model. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 9 (12), 1141-1142.

715

Anda mungkin juga menyukai