0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan16 halaman

Diah Pro

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dengan fokus pada pembelajaran matematika di SMP yang masih rendah. Penelitian ini menyoroti penerapan model pembelajaran Explicit Instruction sebagai solusi untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa, dengan penekanan pada keterlibatan aktif dan bimbingan yang terstruktur. Penelitian bertujuan untuk memberikan bukti empiris tentang pengaruh model tersebut terhadap hasil belajar siswa kelas VII SMP Rangsang Pesisir.

Diunggah oleh

fatiya.azzahra267
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan16 halaman

Diah Pro

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dengan fokus pada pembelajaran matematika di SMP yang masih rendah. Penelitian ini menyoroti penerapan model pembelajaran Explicit Instruction sebagai solusi untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa, dengan penekanan pada keterlibatan aktif dan bimbingan yang terstruktur. Penelitian bertujuan untuk memberikan bukti empiris tentang pengaruh model tersebut terhadap hasil belajar siswa kelas VII SMP Rangsang Pesisir.

Diunggah oleh

fatiya.azzahra267
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam


meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Melalui pendidikan,
peserta didik tidak hanya dibekali dengan pengetahuan, tetapi juga
dikembangkan kemampuan berpikir, sikap, serta keterampilan yang dibutuhkan
untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Proses
pendidikan diharapkan mampu mengoptimalkan potensi peserta didik secara
menyeluruh, baik pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Oleh
karena itu, peningkatan mutu pendidikan menjadi suatu keharusan yang perlu
mendapat perhatian secara berkelanjutan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran strategis
dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Proses pembelajaran di
sekolah melibatkan berbagai komponen, antara lain guru, peserta didik,
kurikulum, serta model pembelajaran yang digunakan. Guru dituntut untuk
mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran yang terencana, sistematis,
dan bermakna. Pembelajaran yang efektif tidak hanya berfokus pada
penyampaian materi, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif peserta didik
agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki
kedudukan penting dalam sistem pendidikan. Pembelajaran matematika
diberikan pada setiap jenjang pendidikan karena berperan dalam melatih
kemampuan berpikir logis, sistematis, kritis, dan analitis. Selain itu,
matematika juga membekali peserta didik dengan keterampilan menyelesaikan
permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari maupun dalam
mendukung pembelajaran pada mata pelajaran lain. Oleh sebab itu,
keberhasilan pembelajaran matematika menjadi salah satu indikator penting
dalam menilai kualitas proses pembelajaran di sekolah.
Berdasarkan kondisi yang ada, capaian hasil belajar matematika siswa
SMP masih tergolong rendah dan belum mencapai hasil optimal. Sebagian
besar siswa memandang matematika sebagai mata pelajaran yang sulit,bersifat
abstrak, dan rumit untuk dipahami. Pandangan tersebut berdampak pada
menurunnya minat dan semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran
matematika, yang selanjutnya berpengaruh terhadap hasil belajar yang
diperoleh. Penelitian yang dilakukan oleh Salsabila (2023) mengungkapkan
bahwa hasil belajar matematika siswa SMP masih berada pada kategori sedang
hingga rendah karena siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti langkah-
langkah penyelesaian soal secara sistematis.
Rendahnya hasil belajar matematika siswa juga dipengaruhi oleh proses
pembelajaran yang masih bersifat konvensional. Pembelajaran matematika
cenderung berpusat pada guru, di mana guru lebih banyak menjelaskan materi
dan memberikan contoh soal, sementara siswa mendengarkan dan mencatat.
Pola pembelajaran seperti ini menyebabkan siswa kurang terlibat secara aktif
dalam proses pembelajaran dan hanya menghafal rumus tanpa menguasai
tahapan penyelesaian soal secara terstruktur. Akibatnya, siswa mengalami
kesulitan ketika dihadapkan pada soal-soal yang memerlukan penalaran logis
dan penyelesaian masalah secara bertahap.
Berkaitan dengan kondisi tersebut, pembelajaran matematika yang
kurang bervariasi dan tidak terstruktur dengan baik juga berdampak pada
rendahnya hasil belajar matematika siswa. Jannah dan Lestari (2025)
menyatakan bahwa pembelajaran yang tidak memberikan arahan yang jelas dan
bertahap kepada siswa dapat menghambat proses belajar matematika. Siswa
membutuhkan pembelajaran yang terstruktur agar dapat mengikuti alur materi
secara sistematis dan menyelesaikan soal dengan lebih baik. Oleh karena itu,
diperlukan suatu model pembelajaran yang mampu memberikan bimbingan
yang jelas serta mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran.
Pencapaian belajar matematika siswa tidak hanya ditentukan oleh
kemampuan intelektual yang dimiliki, tetapi juga sangat dipengaruhi pada
model pembelajaran yang diterapkan oleh guru di kelas. Penggunaan model
pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa mengikuti proses pembelajaran
secara terarah dan bertahap. Sebaliknya, penggunaan model pembelajaran yang
kurang sesuai berpotensi menyebabkan siswa mengalami kesulitan belajar dan
berdampak pada rendahnya hasil belajar matematika. Oleh karena itu,
pemilihan model pembelajaran yang efektif menjadi faktor penting dalam
meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMP.
Salah satu model pembelajaran yang dinilai efektif dalam meningkatkan
hasil belajar matematika siswa adalah model pembelajaran Explicit Instruction.
Menurut Rosenshine (2012), Explicit Instruction merupakan model
pembelajaran yang menekankan proses pembelajaran yang terstruktur,
sistematis, dan berpusat pada pemberian penjelasan yang jelas serta bertahap
dari guru. Model pembelajaran ini meliputi beberapa tahapan, yaitu
penyampaian tujuan pembelajaran, demonstrasi atau pemodelan materi, latihan
terbimbing, pemberian umpan balik, serta latihan mandiri. Tahapan-tahapan
tersebut disusun untuk membantu siswa mengikuti proses pembelajaran secara
konsisten dan terarah.
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model
pembelajaran Explicit Instruction memberikan dampak positif terhadap hasil
belajar matematika siswa SMP. Penelitian yang dilakukan oleh Sosiawan
(2020) menunjukkan bahwa penggunaan Explicit Instruction mampu
meningkatkan hasil belajar matematika siswa karena siswa memperoleh
bimbingan yang jelas selama proses pembelajaran. Selain itu, penelitian Rizki
(2023) mengungkapkan bahwa Explicit Instruction memberikan pengaruh
positif terhadap hasil belajar matematika siswa melalui pembelajaran yang
terstruktur dan bertahap.
Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Afriani (2021)
mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika berbasis Explicit Instruction
dapat meningkatkan penguasaan materi serta keterampilan siswa dalam
menyelesaikan soal matematika. Model pembelajaran ini memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berlatih secara bertahap dengan bimbingan
guru sebelum belajar secara mandiri, sehingga berdampak pada peningkatan
hasil belajar matematika siswa.
Merujuk pada berbagai temuan penelitian yang telah dipaparkan, dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran Explicit Instruction memiliki peranan
penting dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMP. Model
pembelajaran ini membantu siswa mengikuti proses pembelajaran secara
terstruktur, meningkatkan keterlibatan siswa, serta membiasakan siswa
menyelesaikan soal matematika secara sistematis. Oleh karena itu, penerapan
model pembelajaran Explicit Instruction dipandang sebagai salah satu alternatif
yang relevan untuk mengatasi permasalahan rendahnya hasil belajar
matematika siswa SMP.
Oleh karena itu, penelitian mengenai pengaruh model pembelajaran
Explicit Instruction terhadap hasil belajar matematika siswa SMP perlu
dilaksanakan untuk memperoleh bukti empiris yang lebih mendalam. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan
pembelajaran matematika, khususnya sebagai bahan pertimbangan bagi guru
dalam menentukan model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil
belajar matematika siswa SMP.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi
beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Hasil belajar matematika siswa SMP masih menunjukkan
kecenderungan yang belum optimal.
2. Sebagian siswa menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang
sulit dan bersifat abstrak sehingga menurunkan minat dan motivasi
belajar siswa.
3. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami langkah-langkah
penyelesaian soal matematika secara sistematis.
4. Proses pembelajaran matematika masih didominasi oleh metode
pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru.
5. Kurangnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran
matematika di kelas.
6. Model pembelajaran yang digunakan guru belum memberikan
bimbingan yang terstruktur dan bertahap kepada siswa.
7. Perlunya penerapan model pembelajaran yang mampu meningkatkan
hasil belajar matematika siswa secara efektif dan sistematis.

C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan tidak meluas, maka permasalahan
dalam penelitian ini dibatasi pada pengaruh model pembelajaran Explicit
Instruction terhadap hasil belajar matematika siswa. Penelitian ini difokuskan
pada pembelajaran matematika di tingkat SMP dengan subjek penelitian siswa
kelas VII. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi pada hasil
belajar kognitif siswa yang diperoleh melalui tes setelah penerapan model
pembelajaran Explicit Instruction. Model pembelajaran yang dikaji dalam
penelitian ini hanya terbatas pada penerapan model Explicit Instruction dan
tidak membandingkannya dengan model pembelajaran lainnya. Materi
pembelajaran yang diteliti disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku pada
sekolah tempat penelitian dilaksanakan.

D. Rumus Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang telah diuraikan, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Apakah terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Explicit
Instruction terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Rangsang
Pesisir?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan
model pembelajaran Explicit Instruction terhadap hasil belajar matematika
siswa kelas VII SMP Rangsang Pesisir.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara
teoretis maupun praktis,sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya
kajian ilmiah dalam bidang pendidikan matematika, khususnya yang
berkaitan dengan penerapan model pembelajaran Explicit Instruction
terhadap hasil belajar matematika siswa SMP. Selain itu, hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan dan referensi bagi
penelitian selanjutnya yang relevan dalam upaya meningkatkan kualitas
pembelajaran matematika.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan hasil
belajar matematika siswa kelas VII SMP Rangsang Pesisir melalui
penerapan model pembelajaran Explicit Instruction yang terstruktur
dan sistematis, sehingga siswa lebih mudah memahami konsep
matematika dan terampil dalam menyelesaikan soal.
b. Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi
guru matematika SMP Rangsang Pesisir dalam memilih dan
menerapkan model pembelajaran yang efektif, khususnya model
pembelajaran Explicit Instruction, untuk meningkatkan hasil belajar
matematika siswa kelas VII.
c. Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi
SMP Rangsang Pesisir sebagai bahan evaluasi dan masukan dalam
upaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran matematika di
sekolah.
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan
pemahaman dalam melakukan penelitian pendidikan, serta menjadi
bekal dalam mengembangkan kemampuan profesional di bidang
pendidikan matematika.

G. Kebaharuan dan Orisinalitas


Kebaharuan penelitian ini terletak pada penerapan model pembelajaran
Explicit Instruction yang disesuaikan dengan karakteristik siswa kelas VII SMP
Rangsang Pesisir, khususnya dalam konteks lingkungan sekolah pesisir yang
memiliki latar belakang kemampuan awal dan kondisi belajar siswa yang
beragam. Penelitian ini menekankan penerapan tahapan Explicit Instruction
secara sistematis dan terstruktur, mulai dari penyampaian tujuan pembelajaran,
pemodelan konsep, latihan terbimbing, pemberian umpan balik, hingga latihan
mandiri, yang dirancang untuk membantu siswa memahami konsep matematika
secara bertahap.
Selain itu, penelitian ini secara khusus memfokuskan pengukuran hasil
belajar matematika pada ranah kognitif, terutama pada kemampuan
pemahaman konsep dan penerapan langkah-langkah penyelesaian soal
matematika. Fokus tersebut membedakan penelitian ini dari penelitian
sebelumnya yang umumnya hanya meninjau hasil belajar secara umum tanpa
menekankan indikator kognitif tertentu.
Orisinalitas penelitian ini ditunjukkan melalui perbedaan subjek
penelitian, lokasi penelitian, waktu pelaksanaan, serta kondisi pembelajaran
yang diterapkan. Penelitian ini disusun dan dilaksanakan secara mandiri oleh
peneliti berdasarkan kaidah ilmiah dan tidak merupakan hasil plagiasi maupun
duplikasi dari penelitian terdahulu.
BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Hasil Belajar Matematika Siswa


Hasil belajar merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Hasil belajar menunjukkan sejauh mana peserta didik telah memahami materi
yang dipelajari setelah mengikuti proses pembelajaran dalam kurun waktu
tertentu. Melalui hasil belajar, guru dapat mengevaluasi efektivitas proses
pembelajaran serta menentukan langkah perbaikan yang diperlukan dalam
kegiatan pembelajaran selanjutnya.
Menurut Sudjana (2016), hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki
siswa setelah menerima pengalaman belajar. Kemampuan tersebut mencakup
perubahan perilaku yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat dari proses interaksi antara peserta
didik dengan lingkungan belajar yang dirancang oleh guru.
Bloom mengklasifikasikan hasil belajar ke dalam tiga ranah utama,
yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif
berkaitan dengan kemampuan intelektual siswa seperti pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif berkaitan
dengan sikap, nilai, dan minat belajar siswa, sedangkan ranah psikomotorik
berkaitan dengan keterampilan fisik dalam melakukan suatu aktivitas.
Dalam pembelajaran matematika di sekolah, hasil belajar yang sering
menjadi fokus utama adalah hasil belajar pada ranah kognitif. Hal ini
disebabkan karena pembelajaran matematika menuntut kemampuan berpikir
logis, analitis, dan sistematis dalam memahami konsep serta menyelesaikan
permasalahan matematika.
Hasil belajar matematika dapat diartikan sebagai tingkat penguasaan
siswa terhadap konsep-konsep matematika yang diperoleh setelah mengikuti
proses pembelajaran. Penguasaan tersebut dapat dilihat dari kemampuan siswa
dalam memahami konsep, melakukan perhitungan, serta menyelesaikan soal-
soal matematika secara tepat dan sistematis.
Hasil belajar matematika siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik
faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal meliputi kemampuan
awal, minat belajar, motivasi belajar, serta kesiapan belajar siswa. Sedangkan
faktor eksternal meliputi lingkungan belajar, metode atau model pembelajaran
yang digunakan guru, serta sarana dan prasarana pembelajaran yang tersedia di
sekolah.
Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil belajar
matematika siswa adalah model pembelajaran yang diterapkan oleh guru di
kelas. Model pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa memahami
konsep matematika secara lebih mudah dan meningkatkan keterlibatan siswa
dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran
yang sesuai menjadi faktor penting dalam meningkatkan hasil belajar
matematika siswa.
Dalam penelitian ini, hasil belajar matematika yang dimaksud adalah
hasil belajar pada ranah kognitif yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses
pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran Explicit
Instruction. Hasil belajar tersebut diukur melalui tes yang diberikan kepada
siswa setelah proses pembelajaran berlangsung.

B. Model Pembelajaran Explicit Instruction


Model pembelajaran merupakan suatu kerangka konseptual yang
digunakan oleh guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran
di kelas. Model pembelajaran memberikan pedoman bagi guru dalam
mengorganisasi kegiatan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai secara efektif.
Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam
pembelajaran matematika adalah model pembelajaran Explicit Instruction.
Model pembelajaran ini menekankan penyampaian materi secara langsung,
jelas, dan terstruktur oleh guru kepada siswa.
Menurut Rosenshine (2012), Explicit Instruction merupakan
pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa mempelajari
pengetahuan dan keterampilan secara bertahap melalui penjelasan yang jelas,
demonstrasi, latihan terbimbing, serta latihan mandiri. Model pembelajaran ini
menekankan pentingnya peran guru dalam memberikan bimbingan yang
sistematis kepada siswa selama proses pembelajaran.
Explicit Instruction memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu
pembelajaran yang terstruktur, penyampaian materi secara jelas, penggunaan
contoh yang relevan, serta pemberian latihan secara bertahap kepada siswa.
Melalui pembelajaran yang sistematis tersebut, siswa dapat memahami konsep
secara lebih mudah karena proses pembelajaran dilakukan secara bertahap.
Selain itu, model pembelajaran Explicit Instruction juga memberikan
kesempatan kepada siswa untuk memperoleh umpan balik secara langsung dari
guru. Umpan balik tersebut sangat penting untuk membantu siswa memperbaiki
kesalahan serta memperkuat pemahaman terhadap materi yang dipelajari.
Menurut Arends (2012), langkah-langkah dalam model pembelajaran
Explicit Instruction terdiri dari beberapa tahap, yaitu sebagai berikut:
1. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa
Pada tahap ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai serta
memberikan gambaran mengenai materi yang akan dipelajari sehingga siswa
memahami arah pembelajaran yang akan dilakukan.
2. Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
Guru menjelaskan konsep atau prosedur penyelesaian masalah secara jelas dan
memberikan contoh penyelesaian soal agar siswa dapat memahami langkah-
langkah yang harus dilakukan.
3. Latihan terbimbing
Siswa diberikan kesempatan untuk mengerjakan soal dengan bimbingan guru.
Pada tahap ini guru membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam
memahami materi atau menyelesaikan soal.
4. Memberikan umpan balik
Guru memberikan penilaian serta koreksi terhadap hasil pekerjaan siswa
sehingga siswa mengetahui kesalahan yang dilakukan dan cara
memperbaikinya.
5. Latihan mandiri
Siswa diberikan tugas atau latihan yang harus dikerjakan secara mandiri untuk
memperkuat pemahaman terhadap materi yang telah dipelajari.
Melalui tahapan-tahapan tersebut, model pembelajaran Explicit Instruction
dapat membantu siswa memahami materi secara sistematis serta meningkatkan
keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal matematika secara bertahap.

C. Hubungan Model Pembelajaran Explicit Instruction dengan Hasil Belajar


Matematika
Model pembelajaran memiliki peranan penting dalam menentukan
keberhasilan proses pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran yang tepat
dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih baik serta meningkatkan
hasil belajar yang dicapai.
Model pembelajaran Explicit Instruction memiliki hubungan yang erat
dengan peningkatan hasil belajar matematika siswa. Hal ini disebabkan karena
model pembelajaran ini menekankan penyampaian materi secara jelas,
sistematis, dan terstruktur sehingga memudahkan siswa dalam memahami
konsep matematika yang bersifat abstrak.
Dalam pembelajaran matematika, siswa sering mengalami kesulitan
dalam memahami konsep serta langkah-langkah penyelesaian soal. Melalui
model pembelajaran Explicit Instruction, guru dapat memberikan penjelasan
yang jelas serta contoh penyelesaian soal secara bertahap sehingga siswa dapat
mengikuti mengikuti proses berpikir yang digunakan dalam menyelesaikan
permasalahan matematika.
Selain itu, adanya latihan terbimbing dalam model pembelajaran
Explicit Instruction memungkinkan siswa memperoleh bantuan langsung dari
guru ketika mengalami kesulitan, sehingga kesalahan yang terjadi dapat segera
diperbaiki. Setelah itu, siswa diberikan kesempatan untuk berlatih secara
mandiri agar pemahaman terhadap materi semakin kuat.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan
model pembelajaran Explicit Instruction berpotensi meningkatkan hasil belajar
matematika siswa karena proses pembelajaran dilakukan secara sistematis,
terarah, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih secara
bertahap dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan matematika.

D. Penelitian Terdahulu yang Relevan


Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini antara
lain sebagai berikut :
Penelitian yang dilakukan oleh Sosiawan (2020) menunjukkan bahwa
penerapan model pembelajaran Explicit Instruction dapat meningkatkan hasil
belajar matematika siswa SMP. Penelitian tersebut menggunakan metode
eksperimen dengan desain pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa siswa yang belajar menggunakan model Explicit Instruction
memperoleh hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang
belajar menggunakan metode pembelajaran konvensional.
Penelitian yang dilakukan oleh Afriani (2021) juga menunjukkan bahwa
model pembelajaran Explicit Instruction mampu meningkatkan pemahaman
konsep matematika siswa. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa
pembelajaran yang dilakukan secara sistematis dan bertahap membantu siswa
memahami konsep matematika dengan lebih mudah.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Rizki (2023) menunjukkan
bahwa penggunaan model pembelajaran Explicit Instruction memberikan
pengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa. Hal ini disebabkan
karena model pembelajaran tersebut memberikan kesempatan kepada siswa
untuk berlatih secara bertahap dengan bimbingan guru.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Salsabila (2023) menunjukkan
bahwa penerapan model pembelajaran yang terstruktur seperti Explicit
Instruction dapat membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam
memahami langkah-langkah penyelesaian soal matematika secara sistematis.
Berdasarkan beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran Explicit Instruction memiliki pengaruh positif terhadap
peningkatan hasil belajar matematika siswa.

E. Kerangka Berpikir
Pembelajaran matematika merupakan salah satu proses penting dalam
meningkatkan kemampuan berpikir logis, sistematis, dan analitis siswa.
Namun, dalam praktiknya masih ditemukan berbagai permasalahan dalam
pembelajaran matematika di sekolah. Salah satu permasalahan yang sering
terjadi adalah rendahnya hasil belajar matematika siswa. Kondisi ini dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah penggunaan model
pembelajaran yang kurang tepat dalam proses pembelajaran.
Proses pembelajaran matematika yang masih bersifat konvensional dan
berpusat pada guru menyebabkan siswa kurang terlibat secara aktif dalam
kegiatan pembelajaran. Siswa cenderung hanya menerima penjelasan dari guru
tanpa memahami secara mendalam langkah-langkah penyelesaian soal
matematika. Akibatnya, siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep
serta menyelesaikan permasalahan matematika secara sistematis yang pada
akhirnya berdampak pada rendahnya hasil belajar matematika siswa.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan
tersebut adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat membantu
siswa memahami materi secara terstruktur dan sistematis. Model pembelajaran
Explicit Instruction merupakan salah satu model pembelajaran yang
menekankan penyampaian materi secara jelas, bertahap, dan terarah oleh guru
kepada siswa.
Model pembelajaran Explicit Instruction memiliki beberapa tahapan
pembelajaran, yaitu penyampaian tujuan pembelajaran, demonstrasi atau
pemodelan konsep, latihan terbimbing, pemberian umpan balik, serta latihan
mandiri. Melalui tahapan-tahapan tersebut, siswa memperoleh bimbingan yang
jelas dalam memahami konsep matematika serta mempelajari langkah-langkah
penyelesaian soal secara sistematis.
Selain itu, adanya latihan terbimbing memungkinkan siswa
memperoleh bantuan langsung dari guru ketika mengalami kesulitan dalam
memahami materi. Setelah itu, siswa diberikan kesempatan untuk melakukan
latihan secara mandiri sehingga pemahaman terhadap konsep yang dipelajari
menjadi lebih kuat.
Dengan demikian, penerapan model pembelajaran Explicit Instruction
diharapkan dapat membantu siswa memahami konsep matematika secara lebih
baik, meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, serta
melatih siswa dalam menyelesaikan soal matematika secara sistematis. Apabila
pemahaman konsep siswa meningkat, maka hasil belajar matematika siswa juga
diharapkan mengalami peningkatan. Oleh karena itu, model pembelajaran
Explicit Instruction diduga memiliki pengaruh terhadap hasil belajar
matematika siswa.
F. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan,
maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Hₐ : Terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Explicit Instruction
terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Rangsang Pesisir.
H₀ : Tidak terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Explicit
Instruction terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Rangsang
Pesisir.

Anda mungkin juga menyukai