SESSION 2 : CERITA SASUKE UCHIHA & AKARI CHIYOMI (SENJU)
CERITA SASUKE DAN AKARI - SESI 2: GERHANA HATI
Bab 1: Ruang Kosong di Samping Bayangan
Satu bulan telah berlalu sejak perpisahan di perbatasan itu.
Bagi dunia, satu bulan hanyalah putaran waktu singkat. Namun bagi Sasuke Uchiha,
satu bulan adalah siksaan sunyi. Setiap kali ia melewati kediaman klan Senju atau
melihat kursi kosong di Akademi, dadanya terasa sesak. Akari Chiyomi benar-
benar pergi.
"Hn, mengganggu," gumam Sasuke sambil menghujamkan kunai ke batang pohon
hingga retak.
Ia merasa kehilangan anchor (jangkar) kemanusiaannya untuk kedua kali. Dulu,
Itachi merenggut keluarganya. Kini, takdir (dan Danzo) merenggut satu-satunya
gadis yang berani memegang tangannya yang berdarah tanpa rasa takut. Tanpa
suara ceria Akari yang memanggilnya "Sasuke-kun!", ruang di hati Sasuke perlahan
kembali diisi oleh jelaga hitam bernama dendam.
Bab 2: Obsesi yang Membakar
Sasuke menjadi mesin tempur yang dingin. Ia berlatih dua kali lebih keras dari
biasanya. Jika Naruto berlatih untuk diakui, Sasuke berlatih untuk membunuh.
Di dalam saku jubahnya, ia selalu membawa Bibit Lili 7 Hari pemberian Akari
yang kini telah mengering namun tetap ia simpan seperti jimat. Setiap kali rasa
lelah menghampiri, ia menatap bibit itu, mengingat janji Akari untuk kembali. Tapi
kemarahan jauh lebih cepat tumbuh daripada harapan.
“Kau terlalu lemah, Sasuke. Jika kau ingin berdiri di sampingku, jadilah kuat,” kata-
katanya sendiri pada Akari dulu kini berbalik menghantamnya. Ia merasa dialah
yang lemah karena tidak bisa mencegah Akari pergi.
Bab 3: Kedatangan Sang Gagak (H-1 Ujian Chunin)
Langit Konoha terasa berat sore itu. Ujian Chunin akan segera mencapai
puncaknya, namun suasana di desa terasa mencekam secara tidak wajar.
Sasuke baru saja selesai berlatih Chidori hingga tangannya gemetar. Saat ia
berjalan melewati koridor gelap di area penginapan, suhu udara tiba-tiba turun
drastis. Gagak-gagak hitam terbang rendah, memenuhi langit dengan suara parau
yang menyakitkan telinga.
Lalu, ia melihatnya. Sosok berjubah hitam dengan awan merah. Akatsuki.
"Sudah lama, adikku yang bodoh..."
Jantung Sasuke seakan berhenti berdetak. Suara itu. Suara yang menghantui setiap
mimpi buruknya selama bertahun-tahun. Itachi Uchiha berdiri di sana, di tengah
desa Konoha, seolah-olah dia adalah pemilik malam itu.
Bab 4: Konfrontasi Berdarah
"ITACHI!!!" raungan Sasuke membelah kesunyian.
Tanpa pikir panjang, Sasuke mengaktifkan Sharingan-nya. Kilatan listrik Chidori
berkumpul di tangannya, mencicit seperti ribuan burung yang marah. Ia berlari
kencang, menghancurkan dinding di sekitarnya, hanya memiliki satu tujuan:
Menembus jantung kakaknya.
Namun, Itachi bergerak seperti bayangan. Dengan satu gerakan tangan yang terlalu
cepat untuk dilihat, ia menangkap pergelangan tangan Sasuke.
Krak!
"Ugh!" Sasuke mengerang kesakitan saat tulang pergelangan tangannya dipaksa
menekuk.
"Kenapa kau begitu lemah?" bisik Itachi tepat di telinganya. "Di mana
kebencianmu? Apakah kau terlalu sibuk bermain rumah-rumahan dengan gadis
Senju itu hingga kau lupa cara membunuh?"
Mendengar nama Akari disebut oleh mulut Itachi yang kotor, amarah Sasuke
meledak. "JANGAN SEBUT NAMANYA!"
Itachi menatap Sasuke dengan mata Mangekyou Sharingan yang dingin. "Gadis itu
memiliki cahaya yang tidak pantas untuk monster sepertimu, Sasuke. Selama kau
masih terikat pada perasaan cengeng seperti itu, kau tidak akan pernah bisa
melampauluiku."
Bab 5: Patahnya Sang Harapan
Itachi mengangkat tubuh Sasuke, mencekiknya di tembok, dan memaksa Sasuke
masuk ke dalam Tsukuyomi. Di dalam dunia ilusi itu, Sasuke dipaksa melihat malam
pembantaian klan berkali-kali.
Namun kali ini, Itachi menambahkan sesuatu yang lebih kejam. Ia memperlihatkan
bayangan Akari yang tewas di tangan ANBU karena kesalahan Sasuke yang terlalu
lemah untuk melindunginya.
"TIDAAAKKK!"
Sasuke jatuh berlutut saat ilusi itu berakhir. Tubuhnya gemetar hebat. Bibit lili di
saku jubahnya terjatuh ke tanah, terinjak oleh sandal shinobi Itachi hingga hancur
menjadi debu.
"Jika kau ingin membunuhku, bencilah aku. Larilah, dan pegang teguh nyawamu
yang malang itu," ucap Itachi sebelum menghilang dalam kawanan gagak,
meninggalkan Sasuke yang hancur secara mental di tengah koridor yang gelap.
Pilihan Terakhir
Malam itu, sesuatu dalam diri Sasuke mati. Harapan yang sempat dipupuk oleh
Akari kini terkubur bersama debu bibit lili yang hancur.
Saat tim medis menemukannya pingsan, hanya ada satu pikiran yang tersisa di
benak Sasuke yang setengah sadar:
Akari... maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi cahaya untukmu. Aku harus menjadi
kegelapan untuk menghancurkan dia.
Sasuke menyadari satu hal pahit: Selama ia berada di Konoha yang "damai" ini, ia
tidak akan pernah mendapatkan kekuatan untuk membalas dendam. Godaan
Orochimaru mulai terdengar seperti melodi yang manis di telinganya.
Bab 6: Kamar yang Dingin
Hanya tinggal beberapa jam sebelum babak final Ujian Chunin dimulai, namun
suasana di kamar Sasuke Uchiha terasa lebih dingin daripada es. Tidak ada lampu
yang menyala. Hanya cahaya bulan yang menembus celah jendela, menyinari sosok
laki-laki yang duduk bersandar di kaki tempat tidur dengan napas yang berat.
Di genggamannya, terdapat sebuah bingkai foto kecil yang selama ini ia
sembunyikan di bawah bantal.
Deskripsi Foto: Di dalam foto itu, Akari terlihat tertawa lebar dengan latar
belakang pohon sakura yang mulai gugur. Ia mengenakan pita biru pemberian
Sasuke yang kontras dengan rambutnya. Di sampingnya, Sasuke kecil (usia 7
tahun) terlihat memalingkan wajah dengan rona merah di pipi, namun tangan
kirinya diam-diam menggenggam ujung lengan baju Akari. Itu adalah satu-satunya
bukti fisik bahwa Sasuke pernah memiliki "rumah" untuk pulang.
Sasuke menatap lekat-lekat wajah ceria Akari di foto itu. Jarinya gemetar saat
menyentuh permukaan kaca tepat di bagian mata cokelat Akari yang jernih.
"Kau bilang... kau akan kembali," bisik Sasuke, suaranya parau dan pecah. "Tapi
kenapa kau membiarkan aku sendirian di sini?"
Bab 7: Kamar yang Dingin dan Foto yang Retak
Hanya tinggal beberapa jam sebelum babak final Ujian Chunin dimulai, namun
kamar Sasuke Uchiha terasa seperti makam yang membeku. Tidak ada lampu yang
menyala. Hanya cahaya bulan pucat yang masuk melalui celah jendela, jatuh tepat
di atas sebuah bingkai foto kayu yang tergeletak di lantai.
Sasuke duduk bersandar di kaki tempat tidur, napasnya berat dan tidak beraturan.
Di tangannya, ia memegang foto itu—satu-satunya benda yang masih
menghubungkannya dengan sisi "manusia"-nya.
Deskripsi Foto (Visual): Dalam foto itu, Akari terlihat begitu cantik dan tenang.
Rambutnya yang berwarna gelap terkepang lembut, membingkai wajahnya yang
mungil. Mata cokelatnya yang jernih menatap lurus ke arah kamera, memberikan
kesan hangat yang bisa melelehkan es di hati siapa pun. Ia tidak tertawa lebar,
melainkan tersenyum tipis—sebuah senyum yang seolah berkata bahwa ia akan
selalu ada di sana, menunggu Sasuke pulang. Namun, di mata Sasuke yang
sekarang sedang dikuasai amarah, ketenangan Akari di foto itu justru terasa seperti
ejekan.
"Kenapa..." bisik Sasuke, suaranya parau. "Kenapa kau terlihat begitu damai saat
aku sedang terbakar di sini?"
Bab 8: Memutus Benang Takdir
Bayangan pertemuan dengan Itachi beberapa jam yang lalu kembali
menghantamnya. Rasa sakit di lehernya akibat Segel Gaib Orochimaru berdenyut
seirama dengan detak jantungnya yang penuh benci.
“Kau terlalu lemah karena kau masih memiliki sesuatu untuk dilindungi,” bisikan
Itachi seolah bergema di dinding kamar yang gelap itu.
Sasuke menatap wajah Akari di foto itu untuk terakhir kalinya. Di dalam pikirannya,
ia mulai melakukan sesuatu yang kejam: Ia memutus paksa bayangan Akari
dalam hatinya.
Satu per satu kenangan tentang Akari yang berdiri di depannya saat malam
pembantaian, Akari yang memberikan lili cahaya, dan Akari yang berjanji akan
menjadi istrinya... semua itu ia bungkus dalam kegelapan dan ia kunci rapat-rapat.
"Cinta adalah kelemahan," gumam Sasuke. Matanya yang hitam perlahan berubah
menjadi merah darah—Sharingan-nya aktif secara otomatis. "Dan aku tidak boleh
lemah lagi."
Bab 9: Penghancuran Simbol
Dengan tangan yang gemetar karena emosi, Sasuke meletakkan foto itu kembali ke
lantai. Ia berdiri, mengambil tas perlengkapan ninjanya, dan bersiap pergi. Namun,
saat kakinya melangkah, ia sengaja menginjak bingkai foto tersebut.
PRANG!
Bunyi kaca pecah menggema di kesunyian kamar. Retakan kaca itu menjalar tepat
di tengah wajah Akari, membelah senyum lembutnya menjadi kepingan-kepingan
tajam yang tidak beraturan.
Sasuke tidak menunduk. Ia tidak memungutnya. Baginya, Akari yang lembut dan
penuh cahaya sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah misi: Membunuh Itachi.
"Maafkan aku, Akari," ucap Sasuke dengan nada dingin yang belum pernah ia
gunakan sebelumnya. "Mulai hari ini, aku tidak akan lagi melihat ke belakang. Kau
bukan lagi jangkarku. Kau hanya masa lalu yang menghambatku."
Bab 10: Menuju Kegelapan Total
Sasuke melangkah keluar kamar, membiarkan foto yang hancur itu tertinggal di
lantai yang berdebu. Saat ia berjalan menuju arena Ujian Chunin, aura di sekitarnya
telah berubah total. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi kehangatan.
Ia telah memilih jalannya. Jalan yang penuh duri, darah, dan kesendirian. Hatinya
kini benar-benar tertutup rapat oleh dendam, persis seperti langit malam Konoha
yang tertutup awan mendung, menyembunyikan cahaya bulan—menyembunyikan
cahaya Akari.
Narasi Penutup: Di lantai kamar yang gelap, potongan kaca foto itu memantulkan
cahaya bulan terakhir. Wajah Akari yang retak seolah menangis dalam diam,
menjadi saksi bisu lahirnya pembalas dendam yang tidak lagi memiliki tempat
untuk pulang.
Bab 11: Langkah di Atas Debu
Sasuke melompat turun ke tengah arena dengan gaya yang dingin. Lawannya,
Gaara, sudah menunggu dengan pasir yang mulai merayap keluar dari
gentongnya. Genma Shiranui, sang pengadil, memberikan aba-aba memulai, namun
Sasuke tidak segera bergerak.
Ia meraba dadanya, di balik jubah birunya. Biasanya, di sana ada rasa hangat dari
lili cahaya Akari. Namun sekarang, yang ia rasakan hanyalah kekosongan dan sisa-
sisa dendam dari Itachi.
“Lihatlah aku, Akari. Lihat bagaimana cara monster yang kau sayangi ini
bertarung,” batinnya gelap.
Bab 12: Kecepatan yang Melampaui Batas
Tanpa peringatan, Sasuke melesat. Kecepatannya kini setara dengan Lee saat
membuka gerbang delapan, hasil dari latihan brutal yang ia lakukan untuk
melupakan rasa rindunya. Pasir Gaara yang biasanya tak tertembus, kini tertinggal
jauh di belakang bayangan Sasuke.
Bugh! Satu pukulan telak menghantam wajah Gaara.
Brak! Satu tendangan mengirim Gaara terpental ke dinding arena.
Sasuke bertarung dengan kebrutalan yang tidak biasa. Tidak ada senyum
kemenangan, hanya tatapan mata Sharingan yang dingin dan haus darah. Penonton
terkesiap melihat sisi gelap Uchiha yang biasanya tenang, kini mengamuk layaknya
badai yang tak terkendali.
Bab 13: Chidori – Nyanyian Seribu Burung
Saat Gaara menarik diri ke dalam bola pasir pelindungnya, Sasuke mulai merapal
segel tangan. Kilatan listrik berwarna biru keputihan mulai terkumpul di tangan
kirinya. Suaranya memekakkan telinga, seperti ribuan burung yang menjerit dalam
kesakitan—persis seperti jeritan hati Sasuke yang telah ia patahkan sendiri.
"Chidori!"
Sasuke berlari menaiki dinding arena dan menukik tajam. Tangannya menembus
bola pasir pelindung Gaara dengan mudah. Namun, saat tangannya masuk ke
dalam kegelapan pasir itu, sebuah penglihatan melintas di matanya.
Ia melihat bayangan Akari di dalam foto yang hancur itu. Akari yang menatapnya
dengan sedih, seolah memohon agar Sasuke tidak melangkah lebih jauh ke dalam
kegelapan.
"Diam!" geram Sasuke di tengah serangannya. "Kau tidak ada di sini!"
Bab 14: Darah dan Kegelapan
Darah merah segar menyemprot keluar dari bola pasir itu, mengenai wajah Sasuke.
Bau amis darah itu memicu memori malam pembantaian klan Uchiha. Segel Gaib di
lehernya mulai berdenyut liar, menyebarkan pola hitam yang menyakitkan ke
seluruh tubuhnya.
Gaara mengerang kesakitan di dalam sana, namun Sasuke tidak menarik
tangannya. Ia justru menekan lebih dalam.
"Kekuatan... aku butuh lebih banyak kekuatan!" teriak Sasuke, suaranya tumpang
tindih dengan suara listrik Chidori.
Tiba-tiba, bulu-bulu putih mulai jatuh dari langit. Genjutsu tidur massal dimulai.
Serangan Orochimaru ke Konoha telah tiba. Namun bagi Sasuke, musuh utamanya
bukanlah ninja musuh yang mulai bermunculan, melainkan dirinya sendiri yang kini
sudah tidak punya lagi anchor untuk menahannya dari kegilaan.
Bab 15: Mengejar Takdir
Saat Gaara dibawa lari oleh Temari dan Kankuro, Sasuke berdiri di tengah
kekacauan arena. Ia mengusap darah dari wajahnya, menatap ke arah gerbang
desa tempat terakhir kali ia melihat punggung Akari.
"Dunia ini harus hancur agar aku bisa menjadi kuat," bisiknya.
Sasuke melompat mengejar Gaara ke dalam hutan, meninggalkan semua kenangan
tentang Akari yang terkunci rapat di dalam kamarnya yang gelap. Di bawah
bayang-bayang pohon besar, Sasuke menyadari bahwa perjalanannya baru saja
dimulai—perjalanan di mana ia akan membuang segalanya, termasuk cintanya,
demi kekuatan yang dijanjikan oleh kegelapan.
Narasi Penutup: Pertarungan di arena Chunin bukan hanya soal kemenangan,
tapi tentang Sasuke yang secara resmi mengumumkan pada dunia bahwa ia telah
memilih jalannya. Tanpa Akari di sisinya, Sasuke hanyalah sebilah pedang tajam
tanpa sarung, siap melukai siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Bab 16: Hutan yang Terkutuk
Hutan Kematian terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Setelah pertemuan
mengerikan dengan "Ninja Rumput" (Orochimaru) yang meninggalkan bekas gigitan
panas di leher Sasuke, tubuhnya terasa seperti terbakar dari dalam.
Sasuke terkapar di bawah akar pohon raksasa, sementara Naruto pingsan dan
Sakura gemetar ketakutan menjaganya. Dalam tidurnya yang penuh igauan,
Sasuke tidak memimpikan kejayaan Uchiha. Ia memimpikan Akari.
Ia melihat Akari berdiri di perbatasan desa, melambaikan tangan dengan lili
cahayanya. Namun, dalam mimpi itu, lili tersebut perlahan menghitam dan layu.
Tangan Akari yang biasanya hangat berubah menjadi dingin dan transparan.
"Sasuke-kun... jangan biarkan dia menang," bisik suara Akari yang bergema di
kepalanya.
Bab 17: Bangkitnya Sang Monster
Saat tim dari Desa Bunyi (Zaku, Dosu, dan Kin) menyerang Sakura, insting
pelindung Sasuke meledak. Namun, itu bukan lagi insting pelindung yang murni.
Segel Gaib Orochimaru bereaksi terhadap kemarahan Sasuke, menyebarkan pola
api hitam ke seluruh kulitnya.
Sasuke bangkit. Auranya tidak lagi seperti shinobi Konoha, melainkan seperti iblis.
"Sakura... siapa yang melukaimu?" tanya Sasuke dengan suara yang berat dan
tidak manusiawi.
Matanya yang merah menatap tajam ke arah Zaku. Saat itu, kekuatan gelap yang
meluap-luap membuatnya merasa tak terkalahkan. Ia merasa seolah-olah ia bisa
menghancurkan seluruh hutan ini hanya dengan satu tangan.
Bab 18: Bayangan Akari yang Memudar
Sasuke mencengkeram lengan Zaku dari belakang. Ia menginjak punggung ninja
itu, bersiap untuk mematahkan kedua lengannya dengan keji. Kebahagiaan gelap
mulai menyelimuti hatinya saat mendengar rintihan ketakutan musuhnya.
Pada saat yang krusial itu, sekilas bayangan Akari melintas di depannya. Ia teringat
bagaimana Akari selalu menolak kekerasan yang tidak perlu. Ia teringat wajah Akari
yang cemberut saat melihatnya menghajar Naruto dulu.
“Sasuke... ini bukan kau,” bayangan Akari di pikirannya seolah menangis melihat
tangan Sasuke yang kini penuh dengan aura hitam.
Sasuke ragu sejenak. Namun, rasa sakit di lehernya dan bisikan kekuatan dari
Orochimaru jauh lebih kuat. “Akari tidak ada di sini untuk menyelamatkanku!”
batinnya liar.
KRAK!
Sasuke mematahkan lengan Zaku tanpa belas kasihan. Senyum tipis yang
mengerikan muncul di bibirnya. Dia telah mencicipi kekuatan kegelapan, dan dia
menyukainya.
Bab 19: Pelukan Sakura dan Suara Akari
Sasuke bersiap menyerang musuh berikutnya, namun Sakura tiba-tiba memeluknya
dari belakang sambil menangis, memohon agar ia berhenti.
Sentuhan Sakura memang membuatnya tenang, tapi jauh di dalam alam bawah
sadarnya, Sasuke mendengar suara lain. Suara lembut yang selalu memanggilnya
di malam pembantaian klan. Suara Akari.
"Sasuke-kun... pulanglah ke cahayamu..."
Pola hitam di tubuh Sasuke perlahan menyusut. Ia jatuh berlutut, terengah-engah.
Matanya kembali normal, namun ada sesuatu yang retak di dalamnya. Ia menyadari
satu hal: Tanpa Akari di sampingnya untuk menyeimbangkan hatinya, ia
akan dengan mudah ditelan oleh kegelapan ini.
Bab 20: Kesadaran yang Pahit
Malam itu, saat tim 7 beristirahat di dalam batang pohon, Sasuke menatap
tangannya yang tadi digunakan untuk menyiksa musuh. Ia meraba jubahnya,
mencari bibit lili kering yang ia simpan.
"Jika kau ada di sini, Akari... apakah kau akan takut melihatku?" bisiknya sangat lirih
hingga Sakura pun tak mendengarnya.
Sasuke menyadari bahwa Hutan Kematian bukan hanya ujian untuk menjadi
Chunin, tapi ujian untuk jiwanya. Dan jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia mulai
menyukai kekuatan gelap itu. Ia mulai merasa bahwa cinta Akari adalah beban
yang membuatnya tidak bisa melakukan apa yang "perlu" dilakukan untuk
membunuh Itachi.
Titik balik ini semakin memperkuat keputusannya di kemudian hari: Untuk
menjadi kuat, ia harus benar-benar membuang bayangan Akari dari
hatinya.
Bab 21: Pelarian di Bawah Bulan Pucat
Malam keberangkatan itu, Sasuke berjalan melewati gerbang desa yang sepi. Di
pikirannya, terlintas bayangan Akari yang memberikan lili cahaya di gerbang yang
sama saat ia pergi untuk penebusan dosa.
"Kau tidak di sini untuk menghentikanku, Akari," gumam Sasuke dingin.
Ia sengaja tidak membawa apapun yang berhubungan dengan gadis itu. Foto yang
hancur, bibit lili yang mengering—semuanya ia tinggalkan di lantai kamarnya yang
berdebu. Ia ingin menjadi kosong. Ia ingin menjadi senjata murni.
Kontras Dua Pernyataan
"Sasuke-kun... aku tahu kau akan pergi ke tempat Orochimaru," suara Sakura pecah
oleh tangisan. "Jangan pergi! Jika kau pergi, aku akan berteriak!"
Sasuke berdiri mematung, membelakangi Sakura. Isak tangis Sakura memenuhi
udara malam, penuh dengan keputusasaan dan permohonan agar Sasuke berhenti
demi kebahagiaan mereka di desa.
“Kenapa kau selalu menangis, Sakura?” batin Sasuke dingin.
Secara otomatis, memori Sasuke melompat kembali ke beberapa bulan lalu, saat
misi pengantaran medis ke perbatasan. Momen reuni yang seharusnya singkat,
namun mengubah seluruh cara pandangnya.
FLASHBACK: Reuni di Tengah Debu Perbatasan (Sasuke POV)
Aku masih ingat aroma obat-obatan dan tanah kering di kamp medis itu. Di sana,
aku melihatnya lagi. Akari. Dia bukan lagi anak kecil yang hobi menjahiliku di
Akademi. Dia berdiri dengan anggun, tanda Byakugou di dahinya bersinar redup,
simbol bahwa dia telah melampaui batas kemampuannya demi menolong orang
lain.
Malam itu, di tepi tenda herbal, Akari memberikan lili putih kepadaku. Bukan
dengan tangisan, tapi dengan keberanian yang membuatku kelu.
"Aku menyukaimu, Sasuke. Sangat menyukaimu," ucapnya lirih. Jemarinya
menyentuh tanganku, menyalurkan kehangatan yang tidak pernah kudapatkan dari
siapa pun sejak malam pembantaian klan.
Tapi yang paling menghantamku adalah kata-katanya setelah itu: "Jangan terlalu
tertekan... aku tahu tentang rencanamu. Lakukanlah apa yang kau pilih. Aku tidak
akan menghentikan langkahmu jika itu memang jalan yang harus kau tempuh."
Aku tertegun. Akari tahu kegelapan yang kupupuk. Dia tahu aku ingin pergi pada
Itachi. Tapi dia tidak melarangku. Dia tidak memohon padaku untuk tetap tinggal di
zona nyaman yang palsu ini. Dia justru memberiku "izin" untuk mencari kebenaran,
sambil memberikan peringatan tajam agar aku tidak buta oleh dendam.
Aku memberikan pita biru Uchiha padanya—benda kasar untuk mengikat kunai—
dan dia mengubahnya menjadi perhiasan feminim dengan kristal bulan sabit yang
pernah kuberikan padanya dulu.
"Sampai jumpa di masa depan, calon suamiku," bisiknya sambil menepuk dahiku.
Sentuhan yang hangat, penuh dukungan, dan keyakinan bahwa aku akan kembali.
Keputusan yang Mutlak
Kembali ke masa kini, di gerbang Konoha. Tangisan Sakura semakin keras.
"Aku akan melakukan apa pun untukmu! Aku akan membantumu balas dendam!
Jadi tolong... tetaplah di sini!" Sakura berseru sambil terisak hebat.
Sasuke memejamkan mata. Perbedaan itu terasa begitu nyata. Sakura
mencintainya dengan cara menahannya, memintanya menjadi orang lain demi
kedamaian desa. Akari mencintainya dengan cara melepaskannya,
membiarkannya menempuh jalan berduri karena dia tahu itulah satu-satunya cara
bagi Sasuke untuk menemukan kedamaian jiwanya.
“Kau tidak mengerti, Sakura. Hanya Akari yang benar-benar melihat siapa aku,”
bisik Sasuke dalam hati.
Sasuke menoleh sedikit, memberikan tatapan yang kosong namun tajam. "Sakura...
kau benar-benar menyebalkan."
"Sasuke-kun!"
Dalam sekejap mata, Sasuke berpindah ke belakang Sakura. Sebelum gadis itu
sempat berteriak, Sasuke memukul tengkuknya hingga pingsan. Saat tubuh Sakura
mulai jatuh, Sasuke menangkapnya sejenak, lalu meletakkannya di atas bangku
kayu dengan perlahan.
"Terima kasih... untuk segalanya," ucap Sasuke datar.
Ia berdiri tegak, meraba pergelangan tangannya sendiri seolah mencari sisa
kehangatan dari pita biru yang ia berikan pada Akari. Di dalam batinnya, ia
mengulang janji yang ia buat di perbatasan: Aku akan kembali hidup-hidup, Akari.
Bukan sebagai pecundang desa ini, tapi sebagai seseorang yang telah menemukan
kebenaran.
Tanpa menoleh lagi ke arah Sakura yang pingsan, Sasuke melangkah menembus
gerbang desa, masuk ke dalam kegelapan malam yang abadi. Pikirannya hanya
tertuju pada satu titik: Ujung jalan di mana Akari berjanji akan menunggunya.
Narasi Penutup: Sakura menangis karena ia takut kehilangan Sasuke. Akari
tersenyum karena ia tahu Sasuke harus pergi untuk bisa kembali seutuhnya. Dan
bagi Sasuke, hanya senyuman Akari-lah yang memberinya alasan untuk tetap
bernapas di tengah kegelapan.
Setelah melumpuhkan Sakura di bangku taman, Sasuke tidak langsung berlari. Ia
berdiri sejenak di bawah bayang-bayang gerbang Konoha, membiarkan angin
malam menyapu wajahnya. Di tengah kesunyian itu, suara isak tangis Sakura
memudar, digantikan oleh gema suara yang jauh lebih tenang dan dalam di
ingatannya.
Suara Akari.
Flashback: Gema di Perbatasan
Sasuke memejamkan mata, dan tiba-tiba ia merasa kembali ke malam di kamp
medis perbatasan itu. Ia bisa merasakan tekstur kasar tangkai lili di genggamannya
dan aroma tanaman herbal yang menguar dari jubah Akari.
"Hmm.. atau paling tidak, setidaknya aku tetap menjadi kandidat calon istrimu..."
Akari mengatakannya sambil mengerlingkan mata, sebuah godaan khas yang
biasanya membuat Sasuke mendengus kesal. Namun, detik berikutnya, suasana
berubah. Akari menatapnya dengan binar mata cokelat yang seolah menembus
lapisan pelindung di hati Sasuke.
"Jangan terlalu tertekan, Sasuke-kun. Aku tahu tentang rencanamu... tentang
dendam itu."
Genggaman Sasuke pada tangkai lili mengerat hingga buku jarinya memutih. Ia
tertegun. Di saat semua orang di Konoha—termasuk Kakashi dan Sakura—hanya
melihatnya sebagai "Genin berbakat" atau "teman satu tim", Akari melihat
kegelapan yang sedang ia pupuk. Akari melihat niatnya untuk pergi jauh sebelum
Sasuke sendiri mengakuinya.
"Sama seperti dulu, aku juga akan mengatakan... lakukanlah apa yang kau pilih.
Aku tidak akan menghentikan langkahmu jika itu memang jalan yang harus kau
tempuh," bisik Akari lembut, jemarinya menyentuh punggung tangan Sasuke,
menyalurkan kehangatan chakra medis yang menenangkan sarafnya yang tegang.
"Tapi, jangan lupa pada kebenarannya, ya? Jangan sampai kau buta dan
menghancurkan dirimu sendiri demi sesuatu yang mungkin tidak seperti
kelihatannya. Aku menunggumu di ujung jalan itu." 😊
Masa Kini: Gerbang Konoha
Sasuke membuka matanya. Sharingan-nya berkilat merah di kegelapan.
"Kebenaran..." gumam Sasuke lirih. "Apa yang kau lihat dari sana, Akari?"
Ia teringat betapa kontrasnya reaksi Akari dengan Sakura. Sakura menangis,
memohon, dan mencoba mengikatnya dengan kasih sayang yang menyesakkan.
Sakura ingin Sasuke tetap menjadi "Sasuke yang ia kenal".
Tapi Akari? Akari memberinya izin. Akari memberinya restu untuk menempuh jalan
berdarah itu karena dia tahu Sasuke tidak akan pernah tenang sebelum
menyelesaikan urusannya. Akari tidak mencoba mengubah jalannya; dia hanya
berjanji untuk tetap ada di ujung jalan itu, menunggunya kembali.
"Hn. Kau memang gadis yang aneh," Sasuke menyunggingkan senyum tipis yang
hampir tak terlihat—senyum tulus terakhirnya sebelum ia benar-benar
menanggalkan identitasnya sebagai ninja Konoha.
Ia meraba pergelangan tangannya, membayangkan pita biru Uchiha yang kini
melingkar di tangan Akari, dihiasi kristal bulan sabit. Itu adalah ikatannya. Itu
adalah janjinya.
Dengan satu lompatan cepat, Sasuke melesat masuk ke dalam kegelapan hutan. Ia
tidak lagi menoleh ke belakang. Ia tidak lagi peduli pada desa yang ia tinggalkan. Di
kepalanya hanya ada satu arah: Kekuatan. Dan satu tujuan akhir: Kembali pada
Akari setelah kebenaran terungkap.
Narasi Penutup: Sasuke telah pergi. Dia memilih untuk menghancurkan ikatan
yang mengikatnya pada kedamaian palsu, namun dia membawa satu-satunya
benang merah yang diberikan Akari di dalam batinnya. Perjalanan menuju
kegelapan dimulai, dan hanya waktu yang akan menjawab apakah "kebenaran"
yang dimaksud Akari akan menyelamatkannya atau justru menghancurkannya
BAB 29 : NARUTO YANG MENGEJAR SASUKE DAN PERTARUNGAN DI
LEMBAH AKHIR
Pertemuan di Lembah Akhir
Naruto berhasil menyusul Sasuke di Lembah Akhir, di depan patung raksasa Madara
Uchiha dan Hashirama Senju. Gemuruh air terjun seolah menjadi musik latar bagi
dua sahabat yang kini berdiri di ambang perpisahan berdarah.
"Sasuke! Kembali ke desa! Apakah kau akan membuang semua temanmu? Apakah
kau akan membuang janji yang kau buat pada Akari?!" teriak Naruto, suaranya
parau karena amarah dan kesedihan.
Mendengar nama itu disebut, jantung Sasuke berdenyut nyeri untuk sesaat. Namun,
ia langsung menekannya dalam-dalam. "Akari adalah bagian dari masa lalu yang
lemah, Naruto. Sama sepertimu."
Pertarungan Dua Takdir
Pertempuran pecah dengan dahsyat. Rasengan melawan Chidori. Kunai beradu
dengan tinju mentah.
Saat mereka saling hantam, Sasuke terus-menerus mendapatkan kilasan memori
(flashback). Ia melihat Akari yang tersenyum di foto itu. Ia melihat Akari yang
melindunginya dari Itachi saat mereka masih kecil.
Setiap kali bayangan Akari muncul, Sasuke menyerang Naruto lebih keras. Ia
seolah-olah sedang menghancurkan bayangan Akari yang ada di dalam kepalanya
sendiri melalui tubuh Naruto.
"Aku akan memutus ikatan ini!" raung Sasuke.
Transformasi Segel Gaib Tahap 2
Tubuh Sasuke mulai berubah. Kulitnya menjadi gelap, sayap seperti tangan raksasa
tumbuh di punggungnya, dan tanda hitam menutupi seluruh wajahnya. Dalam
bentuk monster ini, Sasuke tidak lagi terlihat seperti anak yang pernah dicintai
Akari.
Di tengah transformasi itu, ia melihat bayangan Akari berdiri di atas aliran air
terjun, menatapnya dengan air mata yang mengalir di pipinya yang pucat. Akari
terlihat ketakutan melihat sosok Sasuke yang sekarang.
“Sasuke-kun... ini bukan jalan menuju cahaya yang kau janjikan,” suara itu bergema
di batinnya.
"Cahaya itu sudah padam!" balas Sasuke dalam hati dengan penuh kebencian.
"Hanya kegelapan yang bisa membunuh Itachi!"
RASEN-CHIDORI DAN GEMA MASA LALU
Naruto berdiri terengah-engah di atas aliran air yang deras. Tubuhnya diselimuti
chakra merah Kyuubi yang mendidih. Di seberangnya, Sasuke berdiri dengan
tenang—terlalu tenang—dengan Segel Gaib tahap kedua yang mulai mengubah
kulitnya menjadi abu-abu gelap dan menumbuhkan sayap aneh di punggungnya.
"Kenapa, Sasuke?!" Naruto berteriak, suaranya parau karena air mata dan amarah.
"Kenapa kau harus pergi ke bajingan seperti Orochimaru? Kau punya kami! Kau
punya Sakura! Dan kau punya... Akari!"
Mendengar nama itu, pupil mata Sharingan Sasuke mengecil. Sejenak, bayangan
Akari di perbatasan terlintas. Senyumnya, lili cahayanya, dan janji "kandidat calon
istri" itu merobek konsentrasi Sasuke.
"Hn. Kau tidak tahu apa-apa, Naruto," balas Sasuke, suaranya berat dan dalam,
terdistorsi oleh kekuatan segel kutukan. "Ikatan... hanya akan membuatku lambat.
Perasaan cengeng kalian hanya akan menghalangi jalanku untuk membunuh
Itachi."
Dialog di Ambang Kematian
Naruto menerjang maju, tinjunya menghantam udara dengan ledakan chakra.
"Akari mencintaimu, bodoh! Dia menunggumu di ujung jalan, tapi kau malah
memilih masuk ke dalam lubang kegelapan ini! Apakah kau ingin dia melihatmu
menjadi monster seperti ini?!"
Sasuke menangkap tinju Naruto, kekuatan mereka beradu hingga air di bawah
mereka meledak ke atas.
"Justru karena dia menungguku, aku harus menjadi kuat!" raung Sasuke. "Dia sudah
melangkah jauh dengan Byakugou-nya, sementara aku? Aku masih terperangkap di
malam pembantaian itu! Jika aku tetap di Konoha dan bermain rumah-rumahan
dengan kalian, aku tidak akan pernah bisa melampauinya, apalagi Itachi!"
"Dia tidak pernah memintamu menjadi monster, Sasuke!" Naruto membalas,
matanya yang vertikal menatap tajam. "Dia ingin kau pulang! Dia bilang dia tidak
butuh lili di atas makam, dia butuh kau di depannya!"
"Maka dia harus menunggu lebih lama lagi!" Sasuke menendang dada Naruto
hingga terpental jauh ke arah patung Hashirama. "Karena hari ini, Sasuke Uchiha
yang kau kenal... sudah mati."
Benturan Terakhir
Sasuke mulai merapal Chidori. Listrik di tangannya berubah warna menjadi hitam
pekat, menyebarkan aroma hangus yang mengerikan. Di sisi lain, Naruto
mengumpulkan seluruh chakra Kyuubi ke telapak tangannya, membentuk bola
Rasengan yang membara ungu kemerahan.
"NARUTOOOOO!" "SASUKEEEEEE!"
Keduanya melompat dari atas patung. Di tengah udara, waktu seolah melambat
bagi Sasuke. Dalam sepersekian detik sebelum benturan, bayangan Akari muncul
kembali. Kali ini, Akari tidak tersenyum. Dia menangis, menatap Sasuke dengan
tatapan kecewa yang paling dalam.
“Jangan lupa pada kebenarannya, Sasuke-kun... jangan sampai kau buta,” suara
Akari bergema di kepalanya.
“Maafkan aku, Akari,” batin Sasuke dingin. “Demi kebenaran itu, aku harus
membuang hatiku.”
DUAARRRRRR!!!
Benturan dua jutsu tingkat tinggi itu menciptakan kubah cahaya hitam dan merah
yang menelan segalanya. Hutan di sekitar Lembah Akhir berguncang hebat. Air
terjun seolah terhenti sesaat oleh tekanan chakra yang luar biasa besar.
Kemenangan yang Pahit
Saat cahaya memudar, hujan mulai turun dengan deras. Naruto tergeletak pingsan
di atas tanah yang becek, napasnya lemah. Pelindung kepala Konoha-nya yang
tergores jatuh di sampingnya.
Sasuke berdiri di atasnya. Transformasi segel kutukannya perlahan memudar,
meninggalkan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Darah menetes dari
sudut matanya yang perih.
Ia menatap Naruto yang tak berdaya. Ia punya kesempatan untuk membunuh
sahabat terbaiknya itu untuk membangkitkan Mangekyou Sharingan. Namun,
tangan Sasuke gemetar. Ia teringat sentuhan hangat Akari di dahinya.
"Sampai jumpa di masa depan, calon suamiku..."
Sasuke mengepalkan tinjunya. Ia tidak membunuh Naruto. Bukan karena dia lemah,
tapi karena ia tidak ingin mengikuti cara Itachi sepenuhnya. Ia ingin mencari
jalannya sendiri—jalan yang diberkati oleh restu Akari, meski jalan itu sangat gelap.
"Hn. Kita akan bertemu lagi, Naruto," bisik Sasuke.
Ia memutar tubuhnya, berjalan tertatih masuk ke dalam kegelapan hutan menuju
wilayah Orochimaru. Di belakangnya, Lembah Akhir terkubur dalam hujan dan
kabut, memisahkan dua takdir yang kini tak lagi searah.
Narasi Penutup Sesi 2: Hari itu, ikatan Tim 7 hancur. Sasuke pergi membawa
luka di tubuh dan dendam di hati. Di tempat yang sangat jauh, di sebuah tenda
medis di perbatasan, kristal bulan sabit di pergelangan tangan Akari tiba-tiba retak
sedikit, seolah memberi tanda bahwa seseorang yang ia cintai baru saja kehilangan
cahayanya.
BAB 30 : KEDINGINAN DI BALIK PEDANG
Hampa di Bawah Tanah
Markas Orochimaru adalah labirin bawah tanah yang tidak mengenal siang dan
malam. Di sana, Sasuke menghabiskan hari-harinya dengan latihan yang
melampaui batas kewarasan manusia. Setiap tetes keringat dan darah yang jatuh,
ia gunakan untuk menghapus satu per satu kenangan lembut yang tersisa.
Namun, Akari adalah racun sekaligus penawar yang paling sulit ia buang.
Di tahun pertama, Sasuke sering terbangun tengah malam dengan tangan yang
meraba bantalnya, mencari keberadaan foto yang sudah ia hancurkan di Konoha. Ia
merindukan aroma herbal yang selalu mengikuti Akari. Ia merindukan gema suara
Akari yang memanggil namanya dengan nada mengejek sekaligus sayang.
"Hn, kelemahan," desis Sasuke pada kegelapan. Ia akan segera bangkit dan
menghantam dinding ruang latihan sampai tangannya berdarah, hanya agar rasa
sakit fisik bisa mengalihkan rasa sakit di hatinya.
Membakar Sisa Cahaya
Suatu hari, Kabuto membawakan jubah baru untuk Sasuke. Saat Sasuke mengganti
pakaiannya, ia menemukan bibit lili kering yang selama ini terselip di lipatan
jubah lamanya—bibit yang Akari berikan di perbatasan.
Sasuke menatap bibit kecil yang sudah mati itu cukup lama. Tangannya gemetar.
Memori tentang malam di tenda herbal itu kembali menyerang: sentuhan Akari di
dahinya, dan janji "kandidat calon istri".
Dengan wajah tanpa ekspresi, Sasuke menyalakan api kecil di ujung jarinya. Ia
membiarkan api itu melahap bibit lili tersebut hingga menjadi abu yang terbang
terbawa angin pengap lorong bawah tanah.
“Aku tidak butuh lili. Aku tidak butuh rumah. Aku hanya butuh kekuatan untuk
membunuh Itachi,” batinnya dengan paksa. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri
bahwa cinta Akari adalah belenggu yang membuatnya lemah.
Sosok Akari dalam Kegelapan
Di tahun kedua, Sasuke mulai sering bermeditasi di tengah ruangan yang dipenuhi
mayat para ninja percobaan. Orochimaru ingin Sasuke menjadi dingin, tidak
berperasaan, dan efisien.
Namun, di tengah meditasi itu, bayangan Akari sering muncul sebagai "hantu".
Sasuke membayangkan Akari berdiri di pojok ruangan, menatapnya dengan tanda
Byakugou yang bersinar sedih.
"Sasuke-kun... apa ini kebenaran yang kau cari?" bisik bayangan itu dalam
imajinasinya.
Sasuke akan segera menghunus pedang Kusanagi-nya dan menebas bayangan itu,
meski ia tahu itu hanya ilusi pikirannya sendiri. Ia mulai membenci Akari karena
Akari adalah satu-satunya orang yang tahu sisi rapuhnya. Ia takut jika ia bertemu
Akari lagi, semua dinding kebencian yang ia bangun selama bertahun-tahun akan
runtuh hanya dengan satu senyuman gadis itu.
Laporan Intelijen Kabuto
Tahun ketiga hampir berakhir. Kabuto masuk ke ruang latihan dengan tumpukan
laporan intelijen.
"Kau tahu, Sasuke-kun? Ada kabar menarik dari perbatasan," ujar Kabuto sambil
membetulkan kacamatanya. "Seorang kunoichi medis berambut hitam berhasil
menghentikan perang kecil di wilayah Utara hanya dengan kehadirannya. Mereka
memanggilnya 'Dewi Lili Cahaya'. Sepertinya dia benar-benar telah melampaui
Tsunade."
Sasuke tidak berhenti mengayunkan pedangnya. Namun, ayunannya menjadi
sedikit lebih liar dan bertenaga.
"Dia bukan urusanku," jawab Sasuke dingin.
"Benarkah? Padahal mata-mata kami bilang dia masih memakai pita biru kusam
di pergelangan tangannya. Pita yang terlihat seperti pengikat kunai milik Uchiha,"
pancing Kabuto lagi.
Pernyataan Dingin Sasuke
Sasuke berhenti mendadak. Aura chakranya meledak, menghancurkan pilar batu di
sampingnya. Matanya yang hitam kini berubah menjadi Sharingan yang berputar
dengan haus darah. Ia menoleh ke arah Kabuto dengan tatapan yang sangat
mematikan.
"Dengar baik-baik, Kabuto," suara Sasuke rendah, namun tajam seperti sembilu.
"Jangan pernah sebut namanya lagi di depanku seolah-olah dia adalah alasanku
untuk tetap menjadi manusia."
Sasuke menyarungkan pedang Kusanagi-nya dengan denting yang dingin.
"Tiga tahun lalu, aku telah memutus segalanya. Jika suatu saat dia muncul di
hadapanku untuk membawaku kembali ke Konoha yang menyedihkan itu... jika dia
mencoba menghalangi jalanku untuk membunuh Itachi..."
Sasuke terdiam sejenak, bayangan Akari yang tersenyum lembut melintas di
benaknya untuk terakhir kali sebelum ia benar-benar menguburnya.
"Aku sendiri yang akan menebasnya. Aku tidak akan ragu untuk
membunuhnya dengan tanganku sendiri jika dia menjadi penghalang
jalanku."
Kabuto terdiam, merasakan kedinginan yang nyata dari niat membunuh Sasuke.
Sasuke telah benar-benar berubah; dia bukan lagi bocah yang memberikan pita
biru, melainkan sang pembalas dendam yang siap menghancurkan cahayanya
sendiri demi ambisinya.
Narasi Penutup: Selama tiga tahun, Sasuke telah mengasah pedangnya untuk
Itachi, namun ia mengasah hatinya untuk membenci Akari. Ia siap untuk pertemuan
itu. Ia siap untuk membuktikan bahwa dia telah berhasil memutus ikatannya
BAB 31 : MISI DI GARIS WABAH
Perintah Sang Ular
Di ruang tahta bawah tanah yang dingin, Orochimaru menatap Sasuke dengan
tatapan lapar yang biasa. Di sampingnya, Kabuto memegang gulungan dokumen
medis.
"Sasuke-kun... waktunya hampir tiba untuk 'perpindahan' itu," desis Orochimaru,
suaranya bergema licik. "Tapi tubuhku saat ini menolak segalanya. Aku butuh
'wadah' sementara yang kuat, yang mampu bertahan dari kerusakan sel sebelum
aku mengambil tubuhmu."
Orochimaru menunjuk ke sebuah peta yang melingkari wilayah perbatasan utara—
wilayah medis.
"Wabah Merah menyebar di sana. Tapi, ada laporan tentang beberapa shinobi yang
terkena wabah, namun tidak mati. Sel mereka beradaptasi dan sembuh total tanpa
bantuan obat. Aku butuh salah satu dari mereka. Ambil dia untukku."
Tim Taka dan Syarat Pengawasan
Sasuke menatap peta itu tanpa emosi. "Aku akan pergi. Sendirian."
"Kuku... tidak secepat itu, Sasuke-kun," potong Orochimaru. "Kau boleh membawa
mainan barumu—Tim Taka—untuk membantumu. Tapi, wabah ini rumit. Shinobi
yang sembuh itu memiliki antibodi unik."
Orochimaru menyeringai tipis. "Misi utama kalian adalah mengawasi. Selama
enam bulan, kau harus mengamati bagaimana wabah itu menyebar, bagaimana tim
medis bekerja, dan obat apa yang mereka gunakan. Kau harus memastikan shinobi
target itu benar-benar 'bersih' sebelum kita mengambilnya. Jika kau bertindak
terlalu cepat, wadah itu akan hancur."
Sasuke mengepalkan tinjunya. Enam bulan. Di wilayah yang sama dengan Akari.
"Hn. Lakukan sesukamu."
Malam Pengawasan – Reuni Visual (Sasuke POV)
Enam bulan telah berlalu. Selama itu, aku dan Tim Taka bersembunyi di bayang-
bayang kamp medis perbatasan utara. Suigetsu, Karin, dan Jugo mengawasi
pergerakan pasien di bangsal, sementara aku... aku mengambil posisi di dahan
pohon oak tertinggi, mengawasi pusat kamp. Mengawasi dia.
Wabah Merah ini mengerikan. Aku melihat bagaimana kulit pasien melepuh dan
mereka mati dalam hitungan jam. Dan di tengah semua kematian ini, Akari Senju
berdiri sebagai satu-satunya pilar harapan.
Malam ini adalah malam yang dingin. Kamp sudah sunyi, hanya menyisakan isak
tangis samar dari tenda perawatan. Aku mengaktifkan Sharingan-ku, membiarkan
mata merah ini menembus kegelapan malam.
Aku melihat Akari keluar dari tenda utamanya.
Tiga tahun tidak bertemu, Akari kini berusia 12 tahun. Paras wajahnya telah
berubah banyak; tidak ada lagi sisa-sisa kepolosan masa kecil. Rambut hitam
dengan gradasi nya dibiarkan tergerai panjang, membingkai wajahnya yang kini
lebih tirus dan terlihat anggun dalam kedewasaan yang prematur. Matanya cokelat
jernih, namun menyimpan kedalaman kesedihan yang tak terukur. Ia mengenakan
pakaian kimono berornamen ungu tua dengan dalaman dress hitam yang senada
dengan warna rambutnya yang tergerai indah. Kimono itu sekarang membungkus
tubuhnya dan menutup tanda lahir bulan sabit dan lingkaran yang biasanya
terekpos tepat di lengan kanan di di dekat bahu nya yang menjadi tanda lahir segel
alami yang menyimpan chakra bulan (hamura) dalam dirinya. Kemudian, tanda
Byakugou diamond ungu di dahinya bersinar redup di bawah sinar bulan, simbol
kekuatan kontrol chakranya yang sempurna.
Dia terlihat... tenang. Namun, Sharingan-ku melihat sesuatu yang lain: Kelelahan
yang luar biasa di setiap aliran chakranya.
Aku mengamatinya saat dia berjalan menuju area pemakaman di belakang kamp.
Langkah kaki yang dulu sering berlari mengejarku, kini melangkah dengan beban
berat dari ratusan nyawa yang gagal ia selamatkan.
Dia berhenti di depan sebuah gundukan makam shinobi yang masih basah. Tanah
cokelat itu masih segar, tanda seseorang baru saja dikuburkan beberapa jam yang
lalu.
Akari berlutut di tanah yang dingin itu. Ia tidak menangis. Isak tangisnya sudah
habis selama tiga tahun ini. Dengan lembut, ia menyentuh tanah makam itu dengan
telapak tangannya.
Cahaya biru keputihan mulai berpendar dari tangannya—manifestasi dari chakranya
yang unik. Sesaat kemudian, dari tanah makam yang basah itu, tumbuh sebatang
bunga lili putih yang bercahaya lembut. Lili itu mekar sempurna di tengah
kegelapan, seolah memberikan cahaya terakhir bagi jiwa yang telah pergi.
"Menebus dosa..." bisikku sangat lirih, mengingat kata-katanya tiga tahun lalu.
Dia masih melakukannya. Masih menanam lili di atas makam.
Aku menatap paras wajahnya yang tertimpa cahaya lili tersebut. Begitu cantik,
namun begitu rapuh. Dadaku terasa sesak. Kenangan di perbatasan utara dulu, saat
aku memberikan pita biru, kembali menyerang.
“Jangan sampai kau buta dan menghancurkan dirimu sendiri, Sasuke-kun...”
Aku memejamkan mata Sharingan-ku keras-keras. Rasa sakit di leherku berdenyut,
mengingatkanku pada tujuan asliku. Misi Orochimaru.
"Maafkan aku, Akari," batin Sasuske dingin, mencoba membunuh kembali perasaan
lembut yang baru saja bangun. "Enam bulan pengawasan ini... adalah kesempatan
terakhirmu. Karena saat aku menemukan target Orochimaru, aku akan
menghancurkan kamp ini, dan kau... jika kau menghalangiku, kau akan menjadi lili
berikutnya yang tumbuh di tanah ini."
Aku melompat turun dari dahan pohon, kembali ke kegelapan sarang Tim Taka,
meninggalkan Akari sendirian di bawah cahaya bulan dan lili yang baru mekar.
Narasi Penutup: Enam bulan pengawasan dimulai. Sasuke telah melihat wajah
yang ia rindukan, namun ia menolaknya dengan paksa. Akari terus berjuang
melawan wabah, tidak menyadari bahwa seseorang yang ia tunggu sedang
mengamatinya dari kegelapan, bersiap untuk menjadi monster yang akan
menghancurkan dunia medis yang ia bangun.
Misi Pengintaian di Kamp Perbatasan
Malam itu, kamp medis perbatasan terasa sangat sunyi, hanya deru angin dingin
yang menyapu tenda-tenda putih. Di atas dahan pohon besar yang tersembunyi
kegelapan, Sasuke berdiri mematung. Di sampingnya, Tim Taka—Karin, Suigetsu,
dan Jugo—merunduk rendah, mengikuti instruksi pemimpin mereka.
Sasuke mengaktifkan Sharingan tiga tomoe-nya. Belum ada mata merah yang
mampu mengeluarkan api hitam, hanya mata merah yang sangat tajam, dingin,
dan penuh observasi. Fokusnya adalah mengawasi efektivitas pengobatan wabah
dan mencari "wadah" yang dimaksud Orochimaru.
Namun, di tengah pengawasan itu, seorang shinobi muda bernama Haturo
mendekati tenda utama. Di sana, Akari sedang berdiri menghirup udara malam.
Akari. Rambut hitam gradasi panjangnya tertiup angin sepoi-sepoi, memperlihatkan
gradasi warna ungu yang halus di bagian ujungnya, membingkai wajahnya yang
kini terlihat jauh lebih dewasa dan anggun. Ia tampak tenang, namun ada aura
ketegasan yang berbeda dari Akari kecil dulu.
Pernyataan Cinta yang "Salah Sasaran"
"Akari-chan!" Haturo memanggil dengan nada penuh damba. "Aku sudah menahan
ini sejak pertama kali kau sampai di kamp ini. Parasmu... kecantikanmu... kau
benar-benar seperti dewi bulan yang turun ke medan perang."
Akari menoleh, tersenyum sopan. "Haturo-kun, terima kasih atas pujianmu... tapi
sepertinya itu sedikit berlebihan," jawabnya tenang.
Haturo tidak menyerah. "Tidak! Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Akari-chan!
Siapapun pria yang kau tunggu di desa, aku yakin aku bisa lebih baik darinya. Aku
akan menjagamu di sini, di perbatasan ini!"
Selingan Tim Taka (Bisikan di Atas Pohon)
Suigetsu menyikut Karin, wajahnya penuh seringai jahil. "O-owh... lihat itu. Ada
kelinci bodoh yang sedang mencoba merayu mangsa singa."
Karin menyesuaikan kacamatanya, keringat dingin bercucuran melihat aura Sasuke
yang mendadak mendingin. "Suigetsu, tutup mulutmu! Kau tidak lihat Sasuke-kun?
Dia diam, tapi tangannya sudah memegang hulu pedang Kusanagi sangat
kencang!"
"Tapi dia benar, kan?" Suigetsu terkekeh pelan. "Siapa yang mau pria kaku seperti
robot yang hobinya cuma mendengus? Bocah itu punya peluang."
"Bodoh! Diam atau kau akan ditebas duluan!" desis Karin.
Jawaban Akari yang Mengejutkan
Di bawah sana, Akari tertawa kecil, suara yang membuat Sasuke di atas pohon
sedikit terpaku.
"Hmmm... bagaimana ya?" Akari meletakkan jarinya di dagu dengan gaya jenaka.
"Sebenarnya... aku sukanya sama pria yang mempunyai mata merah menyala...
seperti monster yang lebih seram daripada obake. Seperti itu."
Haturo melongo. "M-mata merah?"
"Iya," lanjut Akari, matanya berbinar jahil. "Dia terlihat bengis dan jahat... lalu dia
sangat tsundere dan kaku seperti robot. Bicara padanya itu sulit. Kau ingin bertemu
dengan laki-laki yang kusukai itu, Haturo-kun? Dia mungkin ada di sekitar sini
sekarang... sedang melihat kita." 😊
Haturo langsung merasa bulu kuduknya berdiri. Atmosfer di sekitarnya mendadak
terasa mencekam, seolah ada sepasang mata haus darah yang memang sedang
mengincarnya. "M-monster... bengis... seram? Akari-chan, seleramu... aneh sekali!
Aku... aku permisi dulu!"
Haturo lari terbirit-birit masuk ke barak, meninggalkan Akari yang tertawa halus
sendirian.
(Sasuke POV)
Aku berdiri diam di kegelapan dahan pohon. Sharingan-ku merekam setiap detik
ekspresi Akari—cara rambut gradasi ungunya bergerak, dan bagaimana ia
menyebutku sebagai "monster bengis".
Dia tahu. Dia pasti tahu aku ada di sini sejak malam pertama pengawasan ini
dimulai.
"Tsundere? Kaku seperti robot?" batin Sasuke, tangannya mengepal erat di hulu
pedang Kusanagi. Ada rasa panas yang aneh menjalar di dadanya, bukan rasa
marah karena bocah tadi, tapi rasa sesak karena Akari masih mengingat setiap
detail sifatku—bahkan yang paling buruk sekalipun.
Aku melihatnya mengusap pita biru Uchiha di pergelangan tangannya. Ia menatap
ke arah kegelapan hutan tempatku bersembunyi selama 6 bulan ini, seolah
memberikan tanda bahwa "kandidat calon istrinya" masih setia menepati janji.
"Hn. Terlalu banyak bicara," gumamku lirih, mencoba menyembunyikan getaran di
suaraku.
"Sasuke-kun... kita lanjut pengawasan ke bangsal belakang?" tanya Karin gemetar.
"Tidak. Selesai untuk malam ini," jawabku dingin. Aku melompat pergi, menjauh
dari kamp, namun bayangan wajah Akari yang berusia 12 tahun itu sudah tertanam
kuat di memoriku—lebih kuat dari misi yang diberikan Orochimaru.
Malam di perbatasan Utara itu ternyata menjadi malam yang sangat panjang bagi
Akari—dan malam yang sangat menguras kesabaran bagi Sasuke yang mengintai di
kegelapan.
Setelah Haturo lari terbirit-birit, rupanya keberaniannya memicu gelombang
"zombie cinta" lainnya. Satu per satu, sekitar sepuluh shinobi muda dari berbagai
unit medis dan pengawal kamp datang menghampiri Akari.
Antrean "Kematian" di Depan Tenda
Sasuke masih di dahan pohon yang sama, namun Sharingan-nya kini berdenyut
kencang. Ia harus menyaksikan sepuluh pria berbeda memberikan bunga liar,
cokelat ransum, hingga puisi-puisi payah di depan Akari.
"Akari-chan, kau adalah obat dari segala lukaku!" seru salah satu shinobi. "Jadilah
milikku, aku akan membawamu keluar dari tempat berdebu ini!" timpal yang lain.
Akari berdiri di sana, tetap dengan ketenangan dewasanya. Angin sepoi-sepoi
kembali memainkan ujung rambut hitamnya yang memiliki gradasi ungu cantik
itu. Ia tidak terlihat marah, justru ia tampak sedikit terhibur melihat kepanikan
massal para pemuda ini.
Akari mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar mereka tenang. Ia
tersenyum sangat manis—senyum yang bagi orang awam terlihat ramah, tapi bagi
Sasuke, itu adalah senyum "perangkap".
"Baiklah... baiklah, aku mengerti perasaan kalian," ucap Akari dengan nada yang
sangat sabar, hampir seperti seorang kakak yang membujuk adiknya. "Aku akan
mempertimbangkan untuk menerima cinta kalian..."
Para shinobi itu bersorak kegirangan. Namun, kalimat Akari belum selesai.
"Tapi... ada satu syarat mutlak," lanjut Akari. "Kalian baru boleh menjadi kekasihku
setelah kalian mendapat izin dari hantu obake bermata merah yang biasanya
bersembunyi di balik pohon. Dia sangat menyeramkan, matanya merah menyala,
dan dia tidak suka orang asing menyentuh miliknya. Bagaimana? Berani minta izin
padanya? (😊)"
Para shinobi itu terdiam. Mereka saling pandang dengan wajah pucat, merasakan
hawa dingin yang mendadak menusuk tulang punggung mereka.
Komentar Tim Taka (Karin & Suigetsu)
"Pfffttt—!" Suigetsu hampir jatuh dari dahan pohon karena menahan tawa. "Hantu
obake bermata merah? Dia benar-benar menyebutmu setan, Sasuke! Gila, dia
punya nyali besar mempermainkan sepuluh orang sekaligus—dan kau!"
Karin tidak tertawa. Ia justru menggigil hebat sambil memegang lengan baju
Sasuke. "Sasuke-kun... kendalikan chakramu! Pohon ini mulai retak karena niat
membunuhmu!
Jugo hanya mengamati dengan tenang. "Dia tidak menunjuk secara fisik, tapi
chakranya menyapa chakra Sasuke. Mereka sedang berkomunikasi... dengan cara
yang aneh."
Sasuke POV – Puncak Kesabaran
Aku menggenggam hulu pedang Kusanagi hingga buku jariku memutih. Sepuluh
orang. Sepuluh serangga pengganggu yang berani-beraninya mengantre di depan
gadisku.
Dan Akari? Dia malah menjadikan aku sebagai "hantu penjaga" untuk menakut-
nakuti mereka.
Aku menatap paras wajahnya dari kejauhan. Di usia 12 tahun ini, dia benar-benar
tahu cara menggunakan kecantikannya untuk memanipulasi situasi. Rambut
gradasi ungunya yang tertiup angin, tanda Byakugou-nya yang berkilau, dan
senyum jahil itu...
"Izin dari hantu obake bermata merah, ya?" batin Sasuke dingin.
Sejenak, aku ingin melompat turun, mencabut pedangku, dan menunjukkan pada
sepuluh pecundang itu siapa "obake" yang sebenarnya. Aku ingin menyeret Akari
masuk ke dalam tendanya dan memperingatkannya agar tidak lagi menebar
senyum pada sembarang orang.
Namun, misi Orochimaru menahanku. Aku harus tetap menjadi bayangan.
"Hn. Dasar pengganggu," gumamku.
Aku melihat para shinobi itu perlahan mundur, ketakutan oleh aura gelap yang
entah darimana asalnya (yang sebenarnya berasal dari niat membunuhku). Satu
per satu mereka bubar, meninggalkan Akari sendirian di bawah cahaya bulan.
Akari kemudian menoleh tepat ke arah posisiku. Ia mengangkat pergelangan
tangan kirinya—pameran pita biru Uchiha yang masih melingkar manis di sana. Ia
memberikan sebuah kedipan mata yang sangat singkat sebelum berbalik masuk ke
tendanya.
"Sasuke-kun... kau mau kemana?" tanya Karin saat melihatku melompat ke dahan
yang lebih dekat dengan kamp.
"Diam di sana. Aku hanya ingin memastikan tidak ada 'serangga' lain yang
mendekat," jawabku datar.
Malam itu, pengawasanku tidak lagi tentang misi Orochimaru. Malam itu, aku
benar-benar menjadi "obake bermata merah" yang menjaga tenda Akari dari
kegelapan, memastikan bahwa izin yang ia bicarakan tidak akan pernah didapatkan
oleh siapapun—kecuali aku.
Narasi Penutup: Akari tahu cara menjinakkan serigala di dalam diri Sasuke tanpa
harus menyentuhnya. Dengan menjadikannya hantu penjaga, ia memastikan
Sasuke tetap terpaku padanya selama enam bulan ini. Namun, permainan ini akan
segera berakhir saat target misi yang sebenarnya muncul.
Jugo—anggota Tim Taka yang paling tenang dan mampu berkomunikasi dengan
alam—akhirnya angkat bicara. Ia berdiri di dahan yang sedikit lebih gelap, matanya
yang berwarna jingga menatap lurus ke arah Sasuke yang tampak masih terpaku
pada tenda Akari.
Teguran dari Kegelapan
"Sasuke..." suara Jugo rendah, nyaris menyatu dengan desis angin malam. "Apakah
kau akan melupakan misi Orochimaru hanya karena ingin menyapa gadis lili itu?
Kalau dia tahu kita ada di sini, itu akan merepotkan, bukan?"
Sasuke terdiam. Tubuhnya yang tadinya condong ke arah kamp medis perlahan
tegak kembali. Kata-kata Jugo seperti siraman air es yang mematikan api emosi
yang baru saja tersulut di dadanya.
Karin mengangguk cepat, menyisir rambut merahnya dengan cemas. "Jugo benar,
Sasuke-kun! Orochimaru memberikan waktu enam bulan ini agar kita tetap menjadi
bayangan. Jika Akari—kunoichi medis tingkat tinggi itu—menyadari keberadaan
kita, dia pasti akan melaporkannya ke Konoha. Rencana kita untuk mengambil
'wadah' itu bisa berantakan!"
Suigetsu mencibir sambil memutar-mutar botol airnya. "Tapi kurasa dia sudah tahu,
deh. Kau dengar sendiri kan tadi? Dia menyebut-nyebut soal 'hantu bermata
merah'. Itu sudah jelas kode untuk bos kita ini."
Hati yang Terbelah (Sasuke POV)
Aku mengepalkan tangan di balik jubah hitamku. Ucapan Jugo benar-benar
menusuk tepat di sasaran.
Misi. Orochimaru. Wadah. Itachi.
Itu adalah rantai yang mengikatku. Selama enam bulan ini, aku harus menahan diri
untuk tidak melompat turun dan menarik Akari dari kerumunan shinobi medis itu.
Aku harus menahan diri untuk tidak membuang topeng "monster kaku" ini di
hadapannya.
Aku menatap tenda tempat Akari baru saja menghilang. Di dalam sana, ada satu-
satunya orang yang masih memanggilku "calon suami" dengan nada bangga,
sementara dunia luar mengenalku sebagai pengkhianat dan buronan.
"Aku tidak akan melupakan misinya," jawabku dingin, meski ada sedikit getaran
yang kutahan di tenggorokanku. "Dia hanya pengalih perhatian. Jangan biarkan
kehadiran Akari mengganggu kewaspadaan kalian."
"Tapi Sasuke-kun, matamu..." bisik Karin pelan.
Aku segera mematikan Sharingan-ku. Kegelapan kembali menyelimuti
pandanganku, namun visual Akari yang berusia 12 tahun dengan rambut hitam
gradasi ungu itu seolah sudah tercetak permanen di retina mataku. Wajah
tirusnya, senyum jahilnya, dan bagaimana dia dengan sabar menghadapi sepuluh
pria bodoh tadi...
"Besok, kita fokus pada target utama. Shinobi yang berhasil sembuh dari wabah itu
harus segera kita identifikasi selnya," perintahku tegas, mencoba mengembalikan
otoritas sebagai pemimpin Tim Taka.
Aku berbalik, membelakangi kamp medis. Namun, sebelum melompat pergi, aku
sempat melirik pergelangan tanganku sendiri. Kosong. Berbeda dengan
pergelangan tangan Akari yang masih dihiasi pita biru Uchiha.
"Kau benar-benar menunggu di ujung jalan, Akari," batin Sasuke pahit. "Tapi jalan
ini menuju ke neraka. Apakah kau masih akan tersenyum saat kau tahu aku datang
ke sini untuk menghancurkan harapan yang kau bangun?"
"Ayo pergi," ucapku sekali lagi.
Kami berempat melesat pergi meninggalkan perbatasan, kembali ke markas
persembunyian sementara. Namun, malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga
tahun, Sasuke tidak memimpikan Itachi atau malam pembantaian. Ia memimpikan
seorang gadis yang meminta izin pada "obake bermata merah" untuk menerima
cinta pria lain.
Narasi Penutup: Jugo telah mengingatkan Sasuke pada kenyataan pahit: bahwa
dia adalah pelarian yang memiliki tugas gelap. Namun, benih lili yang ditanam Akari
di hati Sasuke selama enam bulan pengawasan ini sudah tumbuh terlalu kuat untuk
dicabut hanya dengan sebuah peringatan.
BAB 32 : Tentang Akari dan Kekuatan Warisan Bulan (Hamura)
Visual Akari dengan memakai rompi chunin dan kimono modern tanpa lengan hitam
ungu sebagai pakaian misi membawa pedang peninggalan Tobirama Senju. Di
lengan atas Akari terdapat segel bawaan lahir bulan sabit dan lingkaran yang
berfungsi sebagai tanda lahir warisan chakra hamura. Di situ tersimpan chakra
bulan hamura yang membuat Akari dapat mengaktifkan mata Pseudo
Tenseigannya. Sebuah mata tenseigen yang berevelosi karena bercampur dengan
darah senju menjadi mata pseudo tenseigan. Pseudo Tenseigan Akari berasal dari
perpaduan chakra Senju yang kuat dan stabil dengan chakra Hamura yang bersifat
kosmik, tersimpan dalam segel bulan di lengannya sejak lahir. Karena
penyatuannya tidak sempurna, mata ini tidak berkembang seperti Tenseigan asli,
melainkan menjadi versi pseudo yang lebih fokus pada manipulasi energi dan
ruang chakra, bukan persepsi detail seperti Sharingan. Kelebihannya, Akari
mampu mengendalikan tekanan chakra di area luas, menciptakan “zona bulan”
yang memperlambat, menekan, bahkan mengacaukan aliran chakra lawan. Ia juga
bisa memurnikan atau menetralkan chakra tertentu berkat sifat Senju yang
harmonis, menjadikannya sangat kuat dalam pertarungan skala besar atau
melawan teknik berbasis energi.
Namun, kekurangannya terletak pada ketidakseimbangan energi: karena chakra
Senju dan Hamura belum benar-benar selaras, penggunaan kekuatan ini sering
menyebabkan overload pada tubuhnya. Jika dipaksakan, tekanan chakra yang ia
ciptakan justru berbalik menekan dirinya sendiri, membuat tubuhnya melemah,
kehilangan kontrol, bahkan berisiko merusak jalur chakra secara permanen. Untuk
bisa mengontrol Pseudo Tenseigan, Akari tidak cukup hanya menjadi lebih kuat—ia
harus menjadi lebih seimbang. Kunci utamanya ada pada menyelaraskan chakra
Senju dengan chakra Hamura di dalam tubuhnya. Ia perlu melatih kontrol emosi
secara ekstrem, karena mata itu bereaksi langsung pada perasaannya; semakin
tenang dan terpusat ia, semakin stabil pula kekuatannya.
Selain itu, Akari harus belajar mengalirkan chakra secara bertahap, bukan
meledakkannya sekaligus. Dengan latihan seperti meditasi chakra dan teknik
penyembuhan ala Senju, ia bisa “menjinakkan” energi Hamura agar tidak
memberontak di dalam tubuhnya. Segel di lengannya juga perlu diperkuat atau
dimodifikasi, berfungsi sebagai pembatas agar kekuatan tidak keluar di luar
kendali. Seiring waktu, jika Akari mampu mencapai keseimbangan antara kekuatan
dan kendali, Pseudo Tenseigan tidak lagi menjadi beban yang merusak, melainkan
berubah menjadi kekuatan yang stabil—meski tetap berbahaya jika ia kehilangan
kendali atas dirinya sendiri.
Kebangkitan Byakugō Seal setelah tiga tahun latihan medis jadi titik balik besar
buat Akari—bukan sekadar penambah kekuatan, tapi penstabil inti bagi Pseudo
Tenseigan miliknya. Chakra Hamura itu murni dan seharusnya stabil. Justru
“pseudo”-nya lahir karena ketidakselarasan antara chakra Hamura dan tubuh
manusia (Senju), bukan karena Hamura itu liar. Byakugō berfungsi seperti
“wadah kedua” yang membantu menyelaraskan keduanya.
Dengan Byakugō, Akari mampu menyimpan chakra dalam jumlah besar dan
melepaskannya secara terkontrol. Ini membuat Pseudo Tenseigan yang sebelumnya
mudah overload jadi lebih stabil, tidak mudah lepas kendali saat emosi
memuncak. Selain itu, kemampuan regenerasi dari Byakugō melindungi tubuhnya
dari kerusakan akibat tekanan chakra Hamura, sehingga ia bisa menggunakan
mata itu lebih lama tanpa langsung tumbang. Bahkan, aliran chakra Senju yang
terlatih lewat ninjutsu medis membantu “menjembatani” energi Hamura, membuat
aktivasi matanya terasa lebih halus dan tidak menyakitkan seperti dulu.
Efek uniknya muncul pada manifestasi chakra: bunga lili yang bisa ia ciptakan
menjadi simbol harmonisasi tersebut. Dulu mungkin bunga itu hanya muncul
spontan, tapi setelah Byakugō aktif, bunga lili itu bisa tumbuh dengan sadar,
bersinar lembut, dan membawa efek penyembuhan atau penenangan
chakra di sekitarnya. Dalam kondisi tertentu, bunga itu bahkan bisa menjadi
medium penyalur chakra Pseudo Tenseigan—menciptakan area yang menstabilkan
energi, bukan hanya menekan seperti sebelumnya.
Namun tetap ada batasnya. Byakugō memang menstabilkan, tapi bukan
menyempurnakan. Jika Akari memaksakan kekuatan terlalu jauh,
ketidakseimbangan dasar antara Senju dan Hamura tetap bisa muncul kembali—
hanya saja sekarang ia punya waktu lebih lama sebelum itu terjadi, dan peluang
lebih besar untuk mengendalikannya.
Cara paling mendekati sempurna untuk menstabilkan Pseudo Tenseigan bukan
sekadar menambah chakra, tapi menyempurnakan sumbernya. Karena masalah
utamanya adalah ketidakselarasan antara chakra Senju (kehidupan/fisik) dan
chakra Hamura (kosmik/bulan), maka Akari butuh resonansi langsung dengan
sumber Hamura: energi bulan.
Segel bulan sabit dan lingkaran di lengannya bisa dikembangkan menjadi media
sinkronisasi, bukan cuma penyimpan. Saat Pseudo Tenseigan aktif, Akari dapat
menyerap “chakra bulan” secara perlahan melalui segel itu—bukan sebagai boost
kekuatan, tapi sebagai penyetel frekuensi chakra Hamura dalam tubuhnya.
Dengan begitu, chakra Hamura di dalam dirinya menjadi lebih “murni” dan selaras,
sehingga tidak lagi bentrok dengan chakra Senju.
Namun proses ini tidak instan. Ia harus dilakukan dalam kondisi sangat terkontrol—
biasanya saat tenang dan di bawah cahaya bulan langsung—karena jika
dipaksakan, aliran chakra luar justru bisa memperparah ketidakseimbangan. Di
sinilah Byakugō Seal berperan penting sebagai penyangga, memastikan tubuhnya
tidak hancur saat proses sinkronisasi berlangsung.
Jika Akari berhasil menguasai tahap ini, Pseudo Tenseigan miliknya akan berevolusi
ke kondisi yang jauh lebih stabil—bukan menjadi Tenseigan murni, tapi versi unik
yang seimbang. Pada tahap ini, kekuatannya tidak lagi meledak karena emosi,
melainkan mengalir tenang namun jauh lebih dalam… seperti cahaya bulan yang
diam, tapi tak tergoyahkan.
Kalau Pseudo Tenseigan aktif dalam kondisi emosi yang meledak—amarah atau
kebencian—efeknya memang bisa sangat destruktif, bukan cuma ke luar tapi
terutama ke tubuh Akari sendiri.
Yang paling parah adalah overload chakra. Energi Senju–Hamura yang tidak
selaras akan melonjak tanpa kendali, menciptakan tekanan dari dalam seperti
“mendidih”. Ini bisa terasa seperti luka bakar internal, bukan api biasa, tapi
panas chakra yang merusak jaringan tubuh dan organ secara perlahan.
Secara fisik, tubuhnya bisa menunjukkan tanda ekstrem: retakan halus di kulit
seperti pecahan porselen bercahaya dari dalam, terutama di sekitar segel dan jalur
chakra utama. Dari retakan itu, cahaya kebiruan atau ungu bisa keluar—tanda
bahwa chakra di dalamnya sudah tidak tertahan lagi.
Lebih dalam lagi, yang paling berbahaya adalah kerusakan sistem chakra. Jalur
chakra bisa “robek” atau terdistorsi, menyebabkan aliran energi jadi kacau.
Akibatnya, setelah itu Akari bisa mengalami kelumpuhan sementara, kehilangan
kemampuan mengontrol chakra, bahkan dalam kondisi terburuk… tidak bisa
menggunakan ninjutsu sama sekali untuk waktu tertentu.
Selain itu, karena Pseudo Tenseigan terhubung dengan persepsi energi, kehilangan
kontrol juga bisa membuatnya kehilangan batas realita—melihat distorsi,
merasakan tekanan yang tidak ada, atau bahkan menyerang tanpa sadar karena
tidak bisa membedakan kawan dan lawan.
Kalau sampai mencapai titik puncak, kekuatan itu bisa berubah menjadi semacam
“ledakan balik”—bukan meledak keluar, tapi menghancurkan tubuh dari dalam,
seperti chakra yang menolak wadahnya sendiri. Itulah kenapa, bagi Akari,
mengendalikan emosi bukan cuma soal mental… tapi soal bertahan hidup.
LATIHAN BERSAMA JIRAYA
Flashback on.
3 tahun yang lalu....
Kala itu......
Angin kering berembus pelan di perbatasan wilayah itu—tanahnya retak, tandus,
seolah kehidupan enggan bertahan lama di sana. Namun di tengah kegersangan
itu, sebuah hutan herbal tumbuh seperti anomali, dipenuhi tanaman obat yang kuat
dan bunga-bunga liar yang menyimpan chakra alami. Tak jauh dari sana, berdiri
kamp medis sederhana, tempat para shinobi merawat luka di garis depan. Di antara
semuanya, sebuah sungai mengalir tenang, menjadi satu-satunya sumber
keseimbangan di wilayah itu.
Di tepi sungai itulah Akari berlatih.
Tubuhnya duduk bersila di atas batu, mata terpejam, sementara segel bulan sabit
dan lingkaran di lengannya berdenyut samar. Di sekelilingnya, bunga-bunga lili
perlahan tumbuh dari tanah—putih, bersinar lembut, seakan merespons chakra
yang keluar dari tubuhnya.
Sudah tiga hari.
Tiga hari sejak Tsunade mengirim Jiraya ke sini, memohon bantuan langsung
darinya untuk satu hal yang tidak bisa dia tangani sendiri—menyelaraskan
kekuatan dalam diri Akari yang nyaris merobek tubuhnya dari dalam.
“Posturmu sudah benar. Tapi aliran chakramu… masih terlalu dipaksa,” suara Jiraiya
terdengar dari belakang, santai tapi tegas.
Akari membuka matanya perlahan. “Kalau aku tidak menahannya, dia akan keluar
sendiri…”
“Dan kalau kamu terus menahannya, kamu yang akan hancur duluan,” balasnya
ringan.
Di bahu Jiraiya, seekor katak kecil berdeham. Fukasaku melompat turun, matanya
menatap Akari dengan dalam—bukan sekadar melihat, tapi seperti membaca
sesuatu yang lebih tua dari usia gadis itu sendiri.
“Hari kedua kau mencoba menahan. Hari pertama kau mencoba melawan,” ucap
Fukasaku pelan. “Hari ini… kau harus belajar menerima.”
Akari menggenggam tangannya. “Aku takut kalau aku menerima… aku tidak bisa
mengendalikan lagi.”
“Justru di situlah letak kendalinya,” jawab Jiraiya.
Latihan hari ketiga dimulai.
Akari kembali memejamkan mata, menarik napas dalam. Ia mulai mengaktifkan
chakra dalam tubuhnya—perlahan, seperti yang diajarkan. Chakra Senju mengalir
lebih dulu, hangat, stabil, seperti akar yang menancap ke tanah. Lalu… sesuatu
yang berbeda muncul.
Dingin.
Dalam.
Pseudo Tenseigan aktif.
Mata Akari terbuka, cahaya kebiruan bercampur ungu berdenyut dari dalamnya.
Udara di sekitarnya bergetar. Permukaan sungai beriak tak wajar, dan tanah di
bawahnya mulai retak halus.
“Lihat? Dia datang lagi…” suara Akari bergetar.
“Jangan dilawan!” seru Jiraiya.
Namun tekanan itu meningkat. Chakra dalam tubuhnya mulai tidak stabil. Retakan
tipis muncul di kulit lengannya, cahaya merembes keluar.
Saat itulah Fukasaku melompat lebih dekat, suaranya berubah—lebih dalam, lebih
tua.
“Aku pernah melihat kekuatan ini sebelumnya… jauh sebelum kau lahir, Nak.”
Akari terdiam, napasnya memburu.
“Dua saudara… anak dari kekuatan yang sama. Hagoromo Ōtsutsuki dan Hamura
Ōtsutsuki,” lanjutnya. “Yang satu mewarisi bumi, yang satu menjaga bulan.”
Cahaya di mata Akari bergetar hebat.
“Chakra Hamura itu murni. Tidak liar. Tidak rusak,” kata Fukasaku. “Yang
membuatnya menjadi seperti ini… adalah karena ia tidak sepenuhnya menyatu
dengan tubuhmu.”
“…karena aku manusia?” bisik Akari.
“Karena kau adalah percampuran,” jawabnya. “Dan percampuran itu belum
selaras.”
Tekanan di sekitar Akari mulai meningkat. Tanah retak lebih luas, bunga lili di
sekitarnya tumbuh liar, bersinar terlalu terang.
“Kalau begitu… bagaimana caranya menyelaraskannya?” suaranya hampir putus.
Fukasaku menatapnya tajam. “Dengan tidak memisahkan keduanya.”
Jiraiya melangkah maju. “Gunakan Sage Mode.”
Akari membeku sesaat. “Aku… belum sempurna.”
“Makanya aku di sini,” jawab Jiraiya sambil menyeringai tipis.
Akari menarik napas dalam, lalu mulai merasakan energi di sekitarnya. Alam. Angin.
Air. Tanah. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya fokus pada chakra dalam dirinya
—tapi juga chakra di luar dirinya.
Energi alam mulai masuk.
Perlahan.
Terarah.
Chakra Senju di tubuhnya mulai “mengakar” lebih dalam, sementara chakra
Hamura yang dingin mulai… menenangkan diri. Bukan karena ditekan, tapi karena
menemukan ritme yang sama.
“Bayangkan…” suara Fukasaku terdengar pelan, “tanah yang disentuh cahaya
bulan. Bukan bertabrakan… tapi saling melengkapi.”
Akari menggertakkan giginya, menahan gelombang terakhir.
Lalu—
Sunyi.
Angin berhenti bergejolak. Sungai kembali tenang. Retakan di tanah berhenti
menyebar.
Cahaya di mata Akari tidak hilang… tapi berubah.
Lebih stabil.
Lebih dalam.
Di sekelilingnya, bunga-bunga lili kembali tumbuh—kali ini perlahan, teratur.
Cahaya mereka lembut, tidak lagi menyilaukan. Beberapa bahkan mengambang di
atas permukaan air, bersinar seperti pantulan bulan.
Akari terengah, tapi tidak kesakitan.
“…ini…” bisiknya pelan.
Jiraiya menyilangkan tangan, tersenyum puas. “Nah. Itu baru benar.”
Fukasaku mengangguk kecil. “Kau tidak mengalahkan kekuatan itu. Kau menyatu
dengannya.”
Akari menatap tangannya—tidak ada retakan, tidak ada rasa terbakar. Untuk
pertama kalinya sejak kekuatan itu bangkit… tubuhnya tidak terasa seperti akan
hancur.
Ia menoleh ke sungai, melihat pantulan matanya sendiri.
Pseudo Tenseigan itu masih ada.
Tapi kini… tidak lagi terasa seperti kutukan.
Melainkan sesuatu yang… bisa ia pahami.
---------
Jiraiya menghela napas panjang sambil menatap Akari yang masih duduk bersila di
tepi sungai, aura chakranya perlahan mulai stabil setelah latihan barusan. Angin
sore berembus lembut, membawa aroma herbal dari hutan kecil di belakang
mereka. Sekilas, pemandangan itu terlihat damai—kalau saja bukan karena anak
berusia sembilan tahun di depannya pernah hampir membunuh satu unit ANBU
dalam semalam.
“…jujur aja ya,” kata Jiraiya tiba-tiba, memecah keheningan. “Aku udah ngelatih
banyak murid aneh… tapi kamu ini levelnya beda.”
Akari membuka satu matanya, menatap datar. “Itu pujian atau hinaan?”
“Campuran,” jawabnya santai. “Biasanya anak umur sembilan tahun itu sibuk main
petak umpet… kamu malah bikin gas beracun dengan sistem sirkulasi udara presisi
tinggi.”
Akari memalingkan wajah. “Itu… kesalahan.”
“Kesalahan?” Jiraiya mengangkat alis. “Itu bukan kesalahan. Itu proyek penelitian.”
“…aku hampir membunuh mereka.”
“Ya, itu bagian minusnya.”
Fukasaku di samping mereka berdeham pelan, seolah mencoba menjaga suasana
tetap waras.
Jiraiya lalu duduk di batu, menopang dagunya sambil menatap Akari. “Tsunade
ngirim kamu ke sini bukan buat dihukum doang. Dia takut.”
Akari terdiam.
“Bukan takut kamu jadi jahat,” lanjutnya, kali ini lebih serius. “Tapi takut kamu
kehilangan kendali atas sesuatu yang bahkan orang dewasa pun belum tentu bisa
tahan.”
Akari menggenggam tangannya pelan.
“…aku juga takut,” bisiknya.
Jiraiya menatapnya beberapa detik… lalu—
“Tapi santai aja,” katanya tiba-tiba dengan nada ringan. “Kamu masih lebih
mending daripada muridku yang satu itu.”
Akari mendengus kecil. “Naruto?”
“Yep. Naruto Uzumaki,” jawab Jiraiya cepat. “Kalau kamu tipe yang hampir
membunuh satu unit ANBU secara diam-diam… dia tipe yang teriak-teriak sambil
ngejar musuh terus nabrak tembok sendiri.”
“…serius?”
“Serius. Kadang aku mikir, dia itu ninja atau bencana alam.”
Akari menatapnya datar. “Dan kamu ngajarin dia?”
“Sayangnya, iya.”
“Berarti kamu juga bagian dari masalah.”
Jiraiya langsung tertawa keras. “Woi! Aku guru legendaris, tahu!”
“Guru mesum.”
“Itu branding!”
Fukasaku menghela napas panjang.
Jiraiya melanjutkan dengan santai, “Tapi bedanya gini. Naruto itu kayak api—liar,
meledak ke luar. Semua orang bisa lihat. Sedangkan kamu…” ia menunjuk Akari,
“kamu itu kayak racun. Diam, halus… tapi sekali lepas, langsung mematikan.”
Akari tidak membalas. Tapi matanya sedikit berubah.
“Makanya,” lanjut Jiraiya, “yang kamu butuhin bukan cuma kekuatan… tapi kontrol
yang lebih gila dari siapapun.”
“…dan kalau aku gagal?” tanya Akari pelan.
Jiraiya mengangkat bahu. “Ya kamu bakal meledak dari dalam. Kulit retak, chakra
kacau, terus boom—bukan ke luar, tapi ke diri sendiri.”
“…kamu bisa ngomong lebih halus gak sih?”
“Bisa sih. Tapi kurang dramatis.”
Akari memutar mata pelan.
Jiraiya lalu berdiri, menepuk bahunya ringan. “Denger ya, bocah. Kamu dikirim ke
sini bukan karena kamu gagal… tapi karena kamu punya potensi terlalu besar.”
Akari menatapnya.
“Dan jujur aja,” tambahnya sambil nyengir, “kalau kamu dan Naruto satu tim waktu
kecil… mungkin Konoha udah rata sekarang.”
“…aku tidak akan satu tim dengan orang bodoh.”
“Tenang. Dia juga bakal bilang hal yang sama tentang kamu.”
Akari terdiam sebentar… lalu tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Senyum tipis.
Sangat tipis.
Fukasaku mengangguk pelan, melihat perubahan kecil itu.
Jiraiya menyadarinya juga, lalu menyeringai lebar. “Nah, itu baru kemajuan.
Biasanya anak sembilan tahun kalau lagi latihan berat nangis… kamu malah hampir
kiamat terus bisa senyum lagi.”
“…aku tidak nangis.”
“Belum aja.”
Akari menatap sungai di depannya. Bunga-bunga lili perlahan bermekaran lagi, kali
ini stabil, bercahaya lembut.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama… ia tidak merasa seperti ancaman.
“…aku akan mengendalikannya,” katanya pelan, tapi pasti.
Jiraiya menyilangkan tangan, menatap langit sore. “Bagus. Soalnya kalau kamu
gagal…”
Akari melirik.
“…aku males nanganin dua anak bermasalah sekaligus. Satu Naruto aja udah cukup
bikin pusing.”
“…dasar guru tidak bertanggung jawab.”
“Eh, aku bertanggung jawab. Tapi ada batasnya.” Jiraiya nyengir. “Aku ini bukan
babysitter.”
“Jelas bukan. Babysitter tidak mesum.”
“HEI—itu fitnah!”
Suara tawa kecil akhirnya benar-benar keluar dari Akari.
Dan di tengah perbatasan yang keras itu… untuk sesaat, suasana terasa ringan.
Akari menunduk dalam, tubuh kecilnya membungkuk hampir sempurna hingga 90
derajat, rambut hitamnya jatuh ke depan menutupi sebagian wajahnya.
“Terima kasih, Jiraiya-sensei… aku sungguh berhutang budi padamu,” ucapnya lirih,
tapi penuh ketulusan.
Jiraiya terdiam sejenak.
Untuk pertama kalinya sejak tiga hari itu dimulai, ekspresinya tidak santai… tidak
bercanda.
“…hah,” hembusnya pelan, menggaruk belakang kepalanya.
“Kalau kamu ngomong kayak gitu terus, aku bisa jadi guru yang beneran serius
nanti,” lanjutnya setengah mengeluh.
Akari tetap menunduk.
Jiraiya melirik ke arah Fukasaku sekilas, lalu kembali menatap Akari.
“Denger ya,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah. “Aku bantu kamu bukan
karena kamu berhutang. Tapi karena… kamu masih punya jalan ke depan.”
Akari perlahan mengangkat wajahnya.
Jiraiya menyeringai kecil, tapi kali ini lebih hangat dari biasanya. “Dan kalau kamu
jatuh lagi, ya bangun lagi. Jangan malah bikin eksperimen aneh-aneh lagi, ngerti?”
“…aku tidak akan mengulanginya,” jawab Akari pelan.
“Bagus,” sahutnya cepat. “Soalnya aku nggak mau dengar ada bocah sembilan
tahun bikin senjata kimia lagi. Itu bikin reputasiku jelek.”
Akari berkedip pelan. “…itu tidak ada hubungannya dengan reputasimu.”
“Ada! Aku ini guru legendaris! Muridku harus keren, bukan… mengkhawatirkan.”
“…aku cukup yakin aku masih mengkhawatirkan.”
“Ya… itu juga benar sih.”
Fukasaku tertawa kecil di samping mereka.
Jiraiya lalu menepuk kepala Akari pelan—tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya
sedikit kaget.
“Tapi satu hal,” katanya santai lagi, nada bercandanya kembali. “Sekarang kamu
sudah lebih baik dari Naruto di satu hal.”
Akari menatapnya datar. “Apa?”
“Kamu bisa diam lima menit tanpa bikin masalah.”
“…itu standar yang rendah.”
“Untuk Naruto? Itu pencapaian luar biasa.”
Akari terdiam sejenak… lalu sudut bibirnya terangkat tipis lagi.
“Terima kasih… sensei,” ucapnya sekali lagi, kali ini tanpa membungkuk, tapi
dengan tatapan yang lebih tenang.
Jiraiya melambaikan tangan santai. “Iya iya. Kalau mau balas budi nanti aja—pas
kamu sudah kuat, jangan lupa traktir aku makan.”
“…itu alasanmu membantu?”
“Sebagian besar, iya.”
“…dasar tidak serius.”
“Justru aku serius soal makanan.”
Angin sore kembali berembus pelan, membawa cahaya senja yang memantul di
permukaan sungai. Bunga-bunga lili di sekitar Akari bersinar lembut—tidak lagi liar,
tidak lagi menyakitkan.
Dan untuk pertama kalinya… rasa hormat yang ia ucapkan barusan, bukan sekadar
formalitas.
Melainkan awal dari sesuatu yang benar-benar ia pahami.
----
Jiraiya berdiri diam cukup lama setelah sosok kecil itu menghilang di balik
rimbunnya hutan herbal. Angin senja berembus pelan, membawa suara sungai yang
kini kembali tenang—seolah tidak pernah terjadi gejolak hebat beberapa saat lalu.
Ia menghela napas panjang, lalu menyilangkan tangan di dada, tatapannya masih
tertuju ke arah tempat Akari pergi.
“Anak itu… bukan sekadar berbakat,” gumam Jiraiya pelan. “Ada sesuatu yang lebih
tua… lebih dalam dari itu.”
Di sampingnya, Fukasaku melompat naik ke batu, matanya menyipit mengamati
sisa-sisa aliran chakra di udara. Tak lama kemudian, Shima ikut muncul,
ekspresinya serius—tidak seperti biasanya.
“Chakra itu…” ujar Fukasaku perlahan, “aku pernah merasakan sesuatu yang
mirip… sangat lama sekali.”
Jiraiya meliriknya. “Dari zaman siapa?”
Fukasaku terdiam sejenak, seolah mengingat sesuatu yang nyaris terkubur oleh
waktu. “Dua sosok… yang membawa kekuatan berbeda, tapi berasal dari sumber
yang sama. Yang satu berjalan di bumi, yang satu memilih menjaga cahaya dari
atas.”
Jiraiya tidak menyela. Ia tahu, cara bicara Fukasaku memang selalu seperti itu—
tidak pernah langsung, tapi penuh makna.
“Yang menjaga bumi membawa keseimbangan,” lanjut Fukasaku. “Dan yang
menjaga cahaya… membawa ketenangan yang jauh, tapi kuat.”
Shima menyilangkan tangannya. “Dan anak itu… membawa jejak dari keduanya?”
“Tidak sepenuhnya,” jawab Fukasaku pelan. “Itulah masalahnya.”
Jiraiya menghela napas kecil. “Jadi bukan karena kekuatannya terlalu besar… tapi
karena tidak selaras?”
Fukasaku mengangguk. “Kekuatan itu seharusnya tenang. Mengalir seperti cahaya
yang menyentuh tanah. Tapi di dalam dirinya… ia terpecah. Tidak bertabrakan, tapi
juga belum menyatu.”
Shima mendengus pelan. “Wajar saja kalau tubuhnya hampir tidak sanggup
menahan.”
Jiraiya menatap ke arah sungai. Pantulan cahaya senja di permukaan air terlihat
lembut, hampir seperti bunga lili yang tadi tumbuh di sekitar Akari.
“…tapi dia berhasil menahannya,” katanya pelan.
“Bukan menahan,” koreksi Fukasaku. “Untuk pertama kalinya… ia mulai
mendengarkan.”
Hening sejenak.
Jiraiya menggaruk belakang kepalanya, lalu tersenyum tipis. “Heh… anak sembilan
tahun, ya.”
Shima meliriknya. “Kenapa?”
“Biasanya umur segitu masih ribut soal makanan atau mainan,” jawab Jiraiya
santai. “Yang ini malah belajar menyeimbangkan kekuatan kuno yang bahkan orang
dewasa pun bisa mati karenanya.”
Shima mendengus. “Dunia memang tidak adil.”
“Memang,” sahut Jiraiya ringan. “Tapi setidaknya dia nggak seberisik muridku yang
satu itu.”
Fukasaku meliriknya. “Yang rambut pirang itu?”
Jiraiya langsung nyengir. “Iya. Yang kalau latihan, bukannya fokus, malah bikin
masalah baru.”
Shima mengangkat alis. “Dan kau masih menganggapnya murid?”
“Sayangnya, iya.”
Fukasaku tertawa kecil. “Namun anak ini berbeda.”
Jiraiya mengangguk pelan. “Naruto itu seperti badai—keras, berisik, tapi jujur.
Semua orang tahu apa yang dia rasakan.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih dalam.
“Akari… seperti malam. Tenang di luar, tapi menyimpan sesuatu yang tidak semua
orang bisa lihat.”
Shima terdiam.
“Dan kalau malam itu pecah…” tambah Jiraiya pelan, “yang hancur bukan cuma
sekitarnya.”
Fukasaku menatap ke arah hutan herbal. “Namun hari ini, ia berhasil menenangkan
gelombangnya.”
Jiraiya tersenyum kecil. “Ya. Walaupun masih jauh dari sempurna.”
Shima melipat tangan. “Menurutmu, dia bisa benar-benar selaras?”
Jiraiya tidak langsung menjawab. Ia menatap langit yang mulai berubah warna, lalu
menghembuskan napas panjang.
“…kalau dia terus berjalan seperti tadi,” katanya akhirnya, “dia tidak akan menjadi
sesuatu yang menakutkan.”
Fukasaku menunggu.
Jiraiya menoleh, senyum santainya kembali muncul—meski kali ini terasa lebih
hangat.
“Dia akan jadi sesuatu yang… sulit dihentikan.”
Shima mendengus pelan. “Selama dia tidak meniru sifatmu.”
“Woi! Maksudnya apa itu?”
“Tidak serius, ceroboh, dan terlalu percaya diri.”
Jiraiya langsung protes, “Hei! Itu bukan kekurangan, itu gaya hidup!”
Fukasaku tertawa kecil lagi.
Angin senja kembali berembus, membawa ketenangan yang aneh di tengah wilayah
perbatasan yang keras itu. Dan di kejauhan, seorang anak kecil berjalan kembali ke
kamp medis—membawa kekuatan yang perlahan mulai ia pahami, tanpa benar-
benar tahu… betapa dekatnya ia dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya
sendiri.
FLASHBACK OFF
BAB 33 : KEMBALI KE MASA KINI “PERTEMUAN DENGAN SASUKE”
Dialog di Tengah Hutan Herbal
Sasame Senju, wanita berusia 30 tahun yang telah menjadi pengasuh Akari sejak
kecil, berdiri di sampingnya. Di sebelahnya ada seorang ninja medis senior Senju,
pria paruh baya dengan uban di rambutnya, sedang mencatat jumlah panen di
gulungan kertas.
"Akari-sama, konsentrasi daun Ketsueki pagi ini sangat bagus," ujar Sasame,
suaranya tenang dan penuh hormat. "Ini akan menjadi bahan utama untuk ramuan
penguat sel yang kau buat."
Ninja medis senior itu mengangguk, namun wajahnya terlihat cemas. "Benar,
Sasame. Tapi masalahnya... antibodi yang dihasilkan oleh shinobi yang sembuh dari
wabah itu sangat spesifik. Ramuan daun Ketsueki saja tidak cukup untuk
mereplikasi efeknya pada pasien lain."
Akari berhenti mencabut daun, ia menegakkan tubuhnya dan menatap ninja senior
itu. Mata cokelatnya jernih, mencerminkan pemikiran yang mendalam.
"Aku tahu, Sensei," jawab Akari lembut namun tegas. " Antibodi mereka adalah
kunci. Itulah kenapa aku butuh sampel sel mereka—bukan hanya sel darah, tapi sel
jaringan organ yang beradaptasi. Wabah ini menyerang sel induk, jadi kita harus
menciptakan obat yang bekerja di level seluler yang sama."
"Tapi Akari-sama," sela Sasame cemas. "Mengambil sampel sel dari shinobi yang
baru sembuh sangat berisiko. Itu bisa memicu kambuhnya wabah pada mereka.
Dan kau sendiri..."
Sasame melirik tanda diamond Byakugou di dahi Akari. "...kau sudah menggunakan
terlalu banyak chakra presisi untuk menstabilkan pasien. Jika kau harus melakukan
ekstraksi sel, segel chakra Hamura di lenganmu..."
Akari menyentuh lengan kirinya, tepat di atas segel chakra Hamura yang berbentuk
bulan sabit. Tanda bawaan lahir itu seolah berdenyut pelan. Ia tersenyum tipis,
mencoba menenangkan pengasuhnya.
"Jangan khawatir, Sasame. Kontrol chakraku sekarang sudah jauh lebih sempurna
daripada saat aku berusia 8 tahun di Akademi," ucap Akari, tatapannya
menerawang sejenak, mengingat malam mengerikan di mana ia hampir membunuh
Sasuke karena Pseudo Tenseigan.
"Lagipula," lanjut Akari, suaranya kembali datar dan profesional. "Kita tidak punya
pilihan. Jika kita tidak menemukan obatnya dalam satu bulan, wabah ini akan
menyebar ke desa-desa sekitar perbatasan. Aku tidak akan membiarkan lebih
banyak orang mati dalam kegelapan. Aku akan menanam lebih banyak lili, tapi
hanya untuk mereka yang tidak bisa kuselamatkan, bukan untuk mereka yang
masih punya kesempatan."
Sasuke POV :
Aku berdiri di dahan pohon oak terbesar yang tertutup rimbun daun, Sharingan tiga
tomoe-ku aktif, merekam setiap detail di hutan herbal ini.
Malam itu aku melihatnya sebagai dewi yang menakuti para shinobi muda, tapi pagi
ini, aku melihatnya sebagai seorang Master Ninja Medis yang Sebenarnya.
Akari berdiri tegak, angin sepoi-sepoi memainkan ujung rambut hitam dengan
gradasi ungu miliknya yang cantik. Tanda Byakugou di dahinya berkilau redup di
bawah sinar matahari pagi. Ekspresi wajahnya sangat serius, fokus, dan penuh
otoritas saat ia berbicara tentang level seluler wabah. Jubah medis taktisnya
terlihat fungsional, membedakannya dari perawat biasa. Dia memakai rompi
chunian dan kimono pendek modern tanpa legan dengan inner hitam di lengannya
warisan hamura itu tertampang jelas.
Namun, yang membuat Sharingan-ku terpaku adalah pergelangan tangan kirinya.
Di sana, di bawah sarung tangan medis yang ia kenakan setengah, aku melihatnya
dengan jelas: Pita biru Uchiha-ku, dengan kristal bulan sabit yang masih
terpasang rapi.
Lalu, Sharingan-ku mendeteksi denyut chakra yang tidak biasa di lengan kirinya,
tepat di mana tanda bawaan lahirnya—Segel Chakra Hamura—berada. Aku bisa
melihat aliran chakra Hamura yang boros di sana, terperangkap oleh segel itu. Itu
adalah chakra yang sama yang hampir menghancurkanku di Akademi.
Aku mengepalkan tangan di balik jubah hitamku. Jugo benar, aku harus tetap
menjadi bayangan. Tapi melihat Akari begitu dekat, mendengar dia membahas
tentang risiko ekstraksi sel yang bisa menghancurkan tubuhnya jika tidak dikontrol
dengan chakra presisi... itu membuatku muak.
"Kau tidak berubah, Akari," batin Sasuke dingin. "Masih saja mencoba menjadi
pahlawan dengan menaruhkan nyawamu sendiri."
Aku teringat kata-kata Akari di perbatasan utara tiga tahun lalu: "Jangan sampai
kau buta dan menghancurkan dirimu sendiri demi sesuatu yang mungkin tidak
seperti kelihatannya."
Dan sekarang, dia sendiri yang sedang berdiri di ambang pintu untuk
menghancurkan dirinya sendiri demi menyelamatkan orang asing.
Aku mematikan Sharingan-ku, kegelapan kembali menyelimuti pandanganku. Misi
Orochimaru adalah mengambil shinobi yang sembuh. Dan malam ini, setelah
mendengar diskusi mereka, aku tahu siapa targetnya. Shinobi yang sembuh itu
memiliki "antibodi kunci" yang dicari Orochimaru.
Narasi Penutup: Pagi itu, Sasuke tidak hanya melihat kecantikan Akari, tapi ia
melihat beban besar yang dipikul gadis itu. Sebuah beban yang mungkin akan
segera ia hancurkan dengan tangannya sendiri saat Tim Taka bergerak malam ini
untuk mengambil target misi mereka.
Perintah Sang Master Medis
Akari menoleh ke arah Sasame dan ninja medis senior dari klan Senju tersebut.
Ekspresinya mendadak berubah menjadi sangat profesional dan tajam.
"Sasame, Sensei," panggil Akari. "Kembalilah ke kamp sekarang. Periksa kondisi
Houga dari Kirigakure. Tubuhnya baru saja melewati fase kritis pemulihan dari
wabah, tapi sistem imunnya masih sangat labil. Pastikan detak jantung dan aliran
chakra di jalur tenketsunya tetap stabil."
Ninja medis senior itu mengangguk. "Houga-san adalah aset penting. Jika dia benar-
benar pulih, antibodinya bisa menyelamatkan ratusan nyawa. Tapi Akari-sama,
bagaimana denganmu?"
"Aku harus berjalan lebih jauh ke tengah hutan," jawab Akari sambil membetulkan
letak sarung tangan medisnya. "Aku butuh Aconite Ungu Langit. Tanaman itu
hanya tumbuh di area yang lembap dan dalam, jauh dari kebisingan. Tanpa
tanaman itu, aku tidak bisa menstabilkan ekstraksi antibodi untuk Houga. Efek
sampingnya bisa membakar sel sarafnya jika tidak dicampur dengan sari Aconite."
Sasame tampak cemas, ia melirik segel chakra Hamura di lengan Akari. "Tapi area
tengah hutan itu sangat sunyi, Akari-sama. Terlalu berbahaya jika kau sendirian.
Biar aku menemani—"
"Tidak perlu, Sasame," potong Akari dengan senyum menenangkan. "Kau lebih
dibutuhkan di kamp untuk mengawasi Houga. Aku hanya sebentar. Lagipula..."
Akari melirik ke arah rimbunnya pohon-pohon besar di sekelilingnya, suaranya
merendah seolah berbisik pada angin. "...hutan ini tidak sesunyi yang kau kira. Aku
merasa 'aman' di sini."
Sasame dan ninja senior itu membungkuk hormat, lalu bergegas kembali menuju
kamp medis.
Perjalanan ke Tengah Hutan (POV Sasuke)
Setelah memastikan kedua pengasuhnya menghilang di balik pepohonan, Akari
mulai melangkah masuk lebih dalam ke jantung hutan. Ia berjalan dengan tenang,
jubah medis hitam-ungunya berkibar pelan.
Aku terus membuntutinya dari bayang-bayang pohon ke pohon. Dari jarak ini,
Sharingan-ku bisa melihat detail yang lebih gila. Rambut hitamnya yang bergradasi
ungu tampak berkilau setiap kali terkena secercah cahaya matahari. Dia terlihat
sangat anggun, namun pedang katana di pinggangnya mengingatkanku bahwa dia
adalah predator yang mematikan jika diganggu.
Langkah kakinya sangat ringan, hampir tidak bersuara di atas dedaunan kering.
Itulah teknik kontrol chakra tingkat tinggi. Dia terus bergumam kecil, menghafal
koordinat tanaman yang ia cari.
"Di mana kau, Aconite Ungu..." bisik Akari lirih.
Ia berhenti di sebuah area yang sangat lembap, di mana kabut tipis mulai
menyelimuti permukaan tanah. Akari berlutut di depan sebuah bunga berwarna
ungu pekat yang bentuknya menyerupai lonceng terbalik.
"Ketemu," ucapnya lega.
Dialog Batin yang Terbelah
Aku berdiri di dahan pohon tepat di atasnya. Jarak kami hanya sekitar lima meter.
Aku bisa mencium aroma lili dan obat-obatan yang menguar dari tubuhnya.
Tanganku sudah menyentuh hulu pedang Kusanagi.
Inilah saatnya. Dia sendirian. Tanpa pengawal.
Orochimaru ingin Houga, sang shinobi Kirigakure yang sembuh itu. Dan Akari
sedang berusaha membuat antibodi untuk menyelamatkannya—tindakan yang
justru akan membuat Houga menjadi "wadah" yang lebih sempurna bagi
Orochimaru jika ia berhasil pulih total.
"Jika aku membawanya sekarang, misi ini akan selesai lebih cepat," pikirku.
Namun, saat aku melihat Akari dengan sangat hati-hati memetik bunga Aconite itu,
seolah bunga itu adalah nyawa manusia yang paling berharga, tanganku mendadak
kaku. Aku melihat pita biru Uchiha di pergelangan tangannya yang kini sedikit
kotor terkena tanah hutan.
"Sasuke-kun..."
Aku tersentak. Apakah dia memanggilku?
Akari tidak menoleh. Dia masih sibuk membersihkan akar tanaman itu, tapi
suaranya terdengar sangat jernih di tengah kesunyian hutan.
"Hutan ini sangat dingin pagi ini, bukan? Kau tidak ingin turun dan membantuku
mencari tanaman ini?" ucap Akari sambil tersenyum tipis, matanya tetap fokus
pada bunga di tangannya.
Sialan. Dia benar-benar tahu aku ada di sini sejak tadi.
Narasi Penutup: Penyamaran enam bulan itu runtuh dalam satu kalimat. Akari
secara terbuka mengundang sang "obake bermata merah" untuk menampakkan
diri di tengah hutan yang sunyi.
Konfrontasi di Balik Kabut Aconite
Sasuke POV
Aku melepaskan cengkeramanku pada dahan pohon. Dengan gerakan yang hampir
tidak bersuara, aku melompat turun, mendarat tepat lima meter di belakang
punggungmu. Jubah hitamku berkibar pelan saat kakiku menyentuh dedaunan
kering.
Aku tidak langsung menjawab. Aku berdiri tegak, membiarkan aura dingin dari
markas Orochimaru menyelimuti area sekitar kita. Mataku tetap hitam kelam,
namun aku tahu, di balik ketenangan ini, jantungku berdenyut lebih kencang dari
biasanya.
Aku menatap punggungmu. Aku melihat tanda di lengan kirimu itu—segel yang
menyimpan kekuatan yang hampir menghancurkanku dulu. Aku melihat kuncir
rambutmu yang bergerak pelan, dan tentu saja, pita biru Uchiha yang masih
melilit di pergelangan tanganmu.
"Hn," dengusku pelan, suara yang sudah tiga tahun tidak kau dengar secara
langsung.
Aku melangkah maju satu tindak, membiarkan bayanganku jatuh menutupi
tanaman Aconite yang sedang kau pegang. Suaraku rendah, tajam, dan tanpa
emosi—setidaknya itu yang ingin kutunjukkan.
"Kau terlalu percaya diri, Akari. Enam bulan ini aku bukan mengintip... aku sedang
memastikan apakah kau masih menjadi penghalang yang harus kusingkirkan atau
tidak."
Aku berhenti tepat di belakangmu, cukup dekat untuk mencium aroma lili yang
bercampur dengan bau tanah hutan. Aku tidak menyentuh pedangku, tapi tanganku
tetap siaga.
"Enam bulan adalah waktu yang lama untuk menyadari bahwa kau masih saja
membuang-buang bakatmu demi nyawa-nyawa shinobi yang sudah tidak berguna."
Aku menyipitkan mata, menatap segel di lenganmu yang terbuka itu.
"Sasuke-kun, apakah kau tidak merindukanku... bukankah membosankan mengintip
selama 6 bulan ini?" tanyamu dengan nada yang begitu tenang, seolah kita hanya
sedang bertemu di lorong Akademi dulu.
Aku memalingkan wajah sedikit, menghindari tatapan matamu jika kau berbalik
nanti.
"Merindukanmu? Jangan konyol. Aku hanya memastikan 'kandidat istriku' tidak mati
konyol karena wabah murahan ini sebelum aku sempat menyelesaikan urusanku
denganmu."
Sekarang giliranmu, Akari. Kau ingin berbalik dan menatap 'monster
bermata merah' ini secara langsung?
Akari hanya menjawab dengan santai dan kikian kecil.
“Xixxii... jadi kau masih menganggap diirku sebagai kandidat istri.. aku sangat
tersanjung sekaligus lega... aku sudah mendengar kabarmu dari desa.... kau
meninggalkaan desa dan bergabung dengan orochimaru... apakah hari-harimu
terasa sulit, sasuke kun?” ucap Akari
Aku mendengus pelan, sebuah reaksi otomatis untuk menutupi gejolak yang
muncul karena nada bicaramu yang terlalu santai—terlalu peduli. Aku melangkah
selangkah lagi, hingga bayanganku benar-benar menelan sosokmu yang sedang
berlutut.
"Jangan menyamakan kehidupanku dengan hari-harimu di kamp medis ini, Akari,"
jawabku dingin. Aku menyilangkan tangan di depan dada, membiarkan jubah
hitamku yang kaku tertiup angin hutan yang lembap.
"Sulit? Kata itu sudah tidak ada dalam kamusku sejak aku meninggalkan gerbang
Konoha. Di sana, di bawah asuhan Orochimaru, tidak ada ruang untuk kelemahan
seperti 'perasaan' atau 'kerinduan'. Yang ada hanyalah rasa lapar akan kekuatan."
Aku menunduk, menatap kuncir rambutmu yang bergerak pelan. Sharingan-ku
berdenyut di balik kelopak mataku yang tertutup, seolah memintaku untuk melihat
aliran chakramu yang unik itu sekali lagi.
"Aku bergabung dengannya karena hanya dia yang bisa memberiku apa yang tidak
bisa diberikan oleh desa yang pengecut itu. Kekuatan untuk menghancurkan dia,"
suaraku merendah, penuh dengan racun kebencian yang kupupuk selama tiga
tahun.
Aku terdiam sejenak, mataku terpaku pada pita biru Uchiha yang melilit di
pergelangan tanganmu. Benda itu terlihat sangat kontras dengan segel chakra
Hamura yang mengerikan di lengan atasmu.
"Kau masih menyimpan sampah itu," bisikku, merujuk pada pita biru yang
kuberikan dulu. "Kau bicara seolah-olah waktu berhenti tiga tahun lalu. Tapi lihatlah
dirimu... kau tumbuh menjadi seseorang yang sanggup mengendalikan chakra
Hamura yang boros itu sendirian di tengah hutan. Dan kau masih sempat-
sempatnya mencemaskan 'kesulitanku'?"
Aku memalingkan wajah, menatap ke arah kegelapan hutan yang lebih dalam.
"Jangan menyanjung dirimu sendiri. Aku di sini untuk sebuah tujuan. Dan jika kau
benar-benar ingin tahu apakah hariku sulit... jawabannya adalah iya. Sangat sulit
bagiku untuk menahan diri agar tidak menghancurkan setiap shinobi medis yang
mencoba mendekatimu selama enam bulan ini."
Aku menoleh sedikit, menanti kau berbalik dan menunjukkan wajahmu
yang kini berusia 12 tahun itu tepat di depan mataku. Apa yang akan kau
katakan sekarang, Akari?
Lalu Akari menjawab,
“Hmmm jadi tuan uchiha yang bengis ini cemburu ya...” Ucap Akari menatap
lembut sasuke sekaligus ada kerinduan yang terpatri di sana.
Aku tertegun sejenak. Kata "cemburu" itu meluncur dari bibirmu dengan begitu
mudah, seolah kau sedang menelanjangi dinding pertahanan yang kubangun
dengan susah payah selama tiga tahun di kegelapan.
Aku mendengus remeh, mencoba membuang muka, namun sudut mataku tidak
bisa berhenti memperhatikanmu. Kau akhirnya berbalik. Di bawah cahaya matahari
pagi yang menembus celah pepohonan, wajahmu yang kini berusia 12 tahun
terlihat begitu nyata. Tatapan lembutmu—yang bercampur dengan kerinduan dan
binar nanar itu—terasa lebih tajam menusuk jantungku daripada ribuan jarum
senbon.
"Cemburu?" ulangku dengan suara yang sengaja kubuat serak dan rendah. "Jangan
terlalu tinggi menilai dirimu, Akari. Aku hanya tidak suka melihat miliku dikerumuni
oleh serangga-serangga lemah yang bahkan tidak bisa memegang kunai dengan
benar."
Aku melangkah maju, memperpendek jarak di antara kita hingga aku bisa mencium
aroma lili yang segar dari tubuhmu—aroma yang selalu menghantuiku di markas
Orochimaru yang pengap. Aku menunduk, menatap langsung ke dalam mata
cokelatmu yang jernih.
Tanganku bergerak tanpa sadar, seolah memiliki kehendaknya sendiri. Ujung jariku
yang terbungkus sarung tangan hitam menyentuh dagumu, memaksamu untuk
terus menatapku.
"Tatapan nanar itu..." bisikku, Sharingan-ku berputar pelan secara otomatis, seolah
ingin merekam setiap inci wajahmu ke dalam memoriku yang haus. "Kenapa kau
menatapku seolah-olah aku adalah orang mati yang kembali hidup? Aku di sini,
Akari. Aku masih Sasuke yang kau beri bunga lili di perbatasan dulu."
Aku melirik ke arah lengan kirimu, pada segel chakra Hamura yang berdenyut pelan
di bawah rompi chunin-mu.
"Dan kau... kau masih saja menyimpan segel terkutuk ini. Kau masih saja memikul
beban dunia di pundak kecilmu."
Cengkeramanku di dagumu sedikit mengerat, namun tidak menyakitkan. Ada
kemarahan yang tertahan di mataku—marah karena kau masih terlihat begitu
murni, sementara aku sudah begitu kotor oleh kebencian.
"Katakan padaku, Akari. Setelah tiga tahun... setelah kau tahu siapa aku sekarang...
apakah kau masih menganggap monster yang berdiri di depanmu ini sebagai 'calon
suamimu'?"
Aku menunggu jawabanmu, Akari. Aku ingin melihat apakah keyakinanmu
itu akan goyah setelah melihat kegelapan di mataku.
Lalu akari menjawab “Wah kau begitu terobsesi pada ku ya ☺️”
Aku mendengus pelan, sebuah senyum miring yang tipis—khas Uchiha—muncul di
sudut bibirku. Aku tidak melepaskan dagumu, justru ibu jariku bergerak perlahan,
mengusap garis rahangmu yang kini terasa lebih tegas namun tetap lembut.
"Terobsesi?" ulangku dengan nada rendah yang bergetar di tenggorokan. "Hn.
Sebut saja begitu jika itu membuatmu merasa lebih baik, Akari."
Aku mencondongkan wajahku sedikit lebih dekat, hingga napas dingin markas
Orochimaru yang masih melekat padaku beradu dengan napas hangatmu yang
beraroma herbal. Sharingan-ku berputar lambat, mengunci pupil matamu, seolah
mencoba menembus masuk ke dalam pikiranmu yang selalu sulit kutebak.
"Bagaimana aku tidak terobsesi?" bisikku tepat di depan wajahmu. "Selama tiga
tahun, setiap kali aku memejamkan mata untuk bermeditasi, yang muncul bukan
hanya bayangan Itachi... tapi juga bayangan gadis menyebalkan yang memberiku
janji konyol di perbatasan."
Aku melirik ke arah pita biru di pergelangan tanganmu, lalu kembali menatap
matamu yang jernih. Ada kilat kemarahan yang bercampur dengan pengakuan
yang selama ini kupendam rapat-rapat di bawah tanah markas ular itu.
"Aku mengawasimu selama enam bulan ini bukan hanya untuk misi. Aku ingin
melihat apakah cahaya di matamu sudah redup karena beban dunia ini. Tapi
ternyata..." aku berhenti sejenak, menatap tanda Byakugou di dahimu dan kuncir
rambutmu yang bergoyang tertiup angin.
"Ternyata kau malah semakin bersinar. Dan itu membuatku ingin menghancurkan
siapa pun yang berani menatap cahaya itu selain aku."
Aku melepaskan dagumu dengan sentakan pelan, namun tanganku beralih
mencengkeram lengan kirimu—tepat di bawah segel chakra Hamura yang
berbentuk bulan sabit itu. Cengkeramanku kuat, posesif, seolah sedang menandai
wilayahku.
"Jadi, Akari... jika aku memang terobsesi, apa yang akan kau lakukan? Kau ingin lari,
atau kau ingin terus menjadi 'cahaya' bagi monster yang sudah tidak punya jalan
pulang ini?"
Aku menantangmu dengan tatapan Sharingan-ku yang merah menyala.
Kau masih bisa tersenyum dengan tenang setelah mendengar
pengakuanku yang gelap ini?
Akari menghambuskan nafas pelan...
Menyentil kepala sasuke...
“Berhentilah berbicara hal menyeramkan seperti itu...”
Akari mendekatkan wajahnya
“Kalau kau meletakan wajahmu terlalu dekat denganku... aku bisa saja menciummu
tau... hmm tapi... kau sekarang sangat tinggi remaja 16 tahun yang berhadapan
dengaan gadis 12 tahun hmmm sungguh ketimpangan tinggi yang signifikan 🤔"
Aku mematung. Sentilan kecil di dahiku itu terasa lebih mengejutkan daripada
serangan chidori mana pun. Selama tiga tahun, aku melatih tubuhku untuk menjadi
senjata pembunuh yang dingin, namun hanya dengan satu gerakan jari darimu,
pertahananku terasa konyol.
Aku mendengus, mencoba mengembalikan wibawa Uchiha-ku meski telingaku
mulai terasa panas. "Hn. Kau masih saja bersikap kurang ajar padaku, Akari,"
gumamku, tapi aku tidak menjauhkan wajahku.
Justru saat kau menantangku dengan kata "bisa saja menciummu", aku sengaja
tidak bergeming. Aku menatapmu lurus-lurus dengan Sharingan-ku yang masih
aktif, merekam keberanian di matamu yang tidak gentar sedikit pun.
"Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran gadis kecil yang tingginya bahkan tidak
sampai ke bahuku," balasku dengan nada rendah, sedikit mengejek namun ada
nada geli yang tertahan.
Aku berdiri tegak sepenuhnya, sengaja memamerkan perbedaan tinggi badan kita
yang cukup signifikan. Aku yang kini berusia 16 tahun, dengan jubah hitam yang
membuat postur tubuhku terlihat lebih lebar dan mengancam, berdiri menjulang di
depanmu yang masih berusia 12 tahun.
Aku menunduk, menatap kuncir rambutmu yang bergoyang saat kau mendongak
menatapku.
"Ketimpangan tinggi?" Aku mengulang kata-katamu sambil menyunggingkan
senyum miring yang tipis. "Itu bukan ketimpangan. Itu pengingat bahwa sementara
kau sibuk bermain dengan tanaman obat dan lili di perbatasan ini, aku sudah
menempuh jalan yang jauh lebih keras untuk menjadi pria yang bisa berdiri di
depanmu sekarang."
Aku melirik ke arah tanganmu yang tadi menyentilku, lalu kembali ke matamu.
"Dan soal menciumku..." aku menjeda kalimatku, membiarkan suasana hutan
herbal ini mendadak menjadi sangat intens. "Jangan memberikan ancaman yang
tidak sanggup kau lakukan, Akari. Karena jika aku yang memulainya, kau tidak akan
punya jalan untuk lari kembali ke kamp medismu itu."
Aku menyilangkan tangan di depan dada, menatap segel bulan sabit di lenganmu
yang terbuka.
"Katakan padaku, apa yang akan dilakukan Sasame jika dia tahu 'hantu obake
bermata merah' yang kau bicarakan tadi malam sedang berdiri tepat di depan
hidungmu sekarang?"
Akari mejawab “😁😁😁😁 Hihihi Dia akan takut sih nelihat ninja pelarian
konoha....Tapi.... Kau...”
(Menyentuh pipi sasuke dengan telunjuk ada bekas luka kecil di sana ... Akari
menyalurkan ninjutsu medisnya)
“Setidaknya kalau mau menjadi hantu obake itu jangan ada luka ini di wajah ya”
Ucap Akari.
Aku tertegun. Sentuhan ujung telunjukmu di pipiku terasa hangat, sangat kontras
dengan hawa dingin yang selalu menyelimuti tubuhku sejak bergabung dengan
Orochimaru. Aku bisa merasakan aliran chakra medismu yang sangat halus dan
presisi—chakra yang murni, tanpa setetes pun niat jahat—meresap masuk ke pori-
pori kulitku.
Bekas luka kecil yang kudapat dari latihan fisik gila-gilaan di markas ular itu
perlahan memudar, rasa perihnya hilang seketika di bawah kendali tanganmu.
Aku tidak menepis tanganmu. Aku membiarkanmu melakukan tugasmu sebagai
ninja medis, meski harga diriku sebagai Uchiha sedikit bergejolak karena dirawat
oleh gadis yang empat tahun lebih muda dariku.
"Hn. Luka sekecil ini tidak akan membunuhku, Akari," gumamku, namun suaraku
tidak lagi sedingin tadi. Ada nada pasrah yang jarang sekali kutunjukkan pada siapa
pun.
Aku menatapmu dari ketinggian postur tubuhku, memperhatikan fokus di matamu
saat kau menyalurkan ninjutsu medis itu. Cahaya hijau pucat dari tanganmu
terpantul di mataku yang kini sudah kembali hitam normal.
"Kau benar-benar tidak bisa melihat luka sedikit pun, ya?" bisikku sambil menatap
tanda Byakugou di dahimu yang jaraknya kini sangat dekat. "Bahkan pada monster
yang kau sebut 'obake' ini."
Aku meraih pergelangan tanganmu—tangan yang sedang menyembuhkanku—
dengan sangat pelan. Aku tidak mencengkeramnya, hanya menahannya agar tetap
berada di pipiku sejenak. Aku bisa merasakan denyut nadimu di bawah pita biru
Uchiha yang kau pakai.
"Jika aku tidak punya luka ini di wajahku, maka tidak ada lagi yang tersisa untuk
membuktikan bahwa aku telah melalui neraka untuk mencapaimu di perbatasan
ini," ucapku dengan nada yang lebih dalam, menatap langsung ke dalam mata
cokelatmu.
Akari masih membelai lembut pipiku kemudian tatapannya berubah tajam seketika
dan berkata “Sasuke kun, kau mengawasiku 6 bulan ini untuk misi orichimaru kan?
Apa misinya" ucapnya berubah tegas
Udara di sekitar kita mendadak membeku. Sentuhan hangat di pipiku yang tadinya
terasa menenangkan, kini berubah menjadi peringatan tajam saat jemarimu
berhenti bergerak. Perubahan binar matamu—dari kelembutan seorang gadis
menjadi ketajaman seorang ninja medis yang berkuasa—membuatku teringat siapa
dirimu sebenarnya.
Kau bukan sekadar pengagum; kau adalah aset strategis Konoha di perbatasan ini.
Aku tidak menjauh. Aku membiarkan mataku yang kembali hitam menatap
langsung ke dalam manik cokelatmu yang menuntut jawaban. Aku menyilangkan
tangan di depan dada, mencoba mengembalikan dinding es yang baru saja kau
retakkan.
"Hn. Ternyata kau tidak sebodoh itu untuk terus terbuai dalam reuni kecil ini,"
jawabku dengan nada rendah dan berbahaya.
Aku melirik ke arah kamp medismu, lalu kembali padamu. Aku maju selangkah,
mencondongkan tubuhku hingga bibirku berada tepat di samping telingamu,
membisikkan kenyataan yang pahit.
"Orochimaru tidak tertarik pada tanaman obatmu, Akari. Dia tertarik pada Houga—
shinobi Kirigakure yang baru saja 'pulih' dari wabah itu. Dia butuh antibodi yang
sempurna, dan dia butuh wadah yang mampu beradaptasi dengan kerusakan sel."
Aku menarik diri sedikit, menatap Segel Chakra Hamura di lenganmu yang
terbuka.
"Misiku adalah mengawasi efektivitas pengobatanmu selama enam bulan.
Memastikan target itu benar-benar 'bersih' sebelum aku dan Tim Taka
mengambilnya secara paksa. Dan sekarang..." aku menjeda kalimatku, Sharingan-
ku berputar satu kali secara otomatis. "...kau baru saja mengatakan padaku bahwa
kau butuh Aconite Ungu untuk mengekstrak antibodinya. Itu artinya, targetku sudah
matang."
Aku menatapmu dengan tatapan yang bengis, mencoba menyembunyikan rasa
sakit karena harus memposisikan dirimu sebagai musuh dalam misi ini.
"Sekarang katakan padaku, Akari. Sebagai ninja medis yang bersumpah
menyelamatkan nyawa, apakah kau akan menyerahkan target itu padaku, atau kau
akan memaksaku untuk menghancurkan seluruh kamp medismu—dan kau di
dalamnya—untuk menyelesaikan misi ini?"
Akari menunduk mengenggam tangan sasuke...
Menatap pita kunai dan ornamaen yang sasuke berikan kala itu.. meletakan tangan
sasuke ke benda itu..
"Kata kata ku tidak akan berubah... apapun pilihamu adalah ppilihanmu.... aku tidak
akan menghentikan pilihan itu... jika kau tetap pada kegelapan itu.. itu pilihanmu...
tapi... itu juga bukan berarti aku menyerah pada perasaanku sendiri... apapun itu....
perasaanku tidak akan hilang... aku akan menunggu menjadi salah satu yang paling
murni di sini (menunjuk dada sasuke) berapapun lamanya sampaj kau
menemukannya di tengah kegelapan itu. Sasuke aku tetap menyukaimu" Ucapnya
mantap
"Tapi aku tidak akan melupakan ganggung jawabku... di sini aku sudah bersumpah
untuk menebus dosa dosaku... menerima hukuman nona tsunade akibat kesslahan
masa lalu itu... bekerja keras menyembuhkan dan melindungi mereka adalah
tanggung jawabku... jadi aku akan tetap bertarung dengan my. Tanpa menentang,
melawan, mencoba menghentikan pilihamu. Aku bertarung untuk meelindungi
mereka.... meski itu berarti kemungkinan aku akan mati di tangan laki laki yang
kucintai" Ucapnya kini lebih tegas
Ending Of Seasson 2 Bagain 1.