0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan34 halaman

Bab II

Dokumen ini membahas evaluasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur Dana Desa di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, dengan fokus pada persepsi masyarakat terhadap kepentingan dan kinerja infrastruktur. Penelitian bertujuan untuk memberikan masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih efektif dan efisien. Selain itu, dokumen ini menguraikan pentingnya pembangunan desa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kesenjangan sosial.

Diunggah oleh

dewi.232210101008
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan34 halaman

Bab II

Dokumen ini membahas evaluasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur Dana Desa di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, dengan fokus pada persepsi masyarakat terhadap kepentingan dan kinerja infrastruktur. Penelitian bertujuan untuk memberikan masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih efektif dan efisien. Selain itu, dokumen ini menguraikan pentingnya pembangunan desa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kesenjangan sosial.

Diunggah oleh

dewi.232210101008
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

v

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Skala Likert ....................................................................................... 20


Tabel 3. 1 Alokasi dana desa berdasarkan kategori desa di kecamatan Bendahara
(2022-2024)Alokasi Dana Desa Berdasarkan Kategori Desa di
Kecamatan Bendahara (2022-2024) ................................................... 34
Tabel 3. 2 Kuesioner Tingkat Kepuasan dan Kepentingan .................................. 36

Tabel 4. 1 Tingkat Kepuasan (X) ........................................................................ 49


Tabel 4. 2 Tingkat Kepentingan (Y) ................................................................... 50
Tabel 4. 3 Uji Reabilitas Tingkat Kepuasan (X).................................................. 52
Tabel 4. 4 Uji Reabilitas Tingkat Kepentingan (Y) ............................................. 53
Tabel 4. 5 Tingkat Kepentingan (Y) ................................................................... 55
Tabel 4. 6 Tingkat Kepuasan (X) ........................................................................ 57
Tabel 4. 7 Tingkat Kesesuaian IPA ..................................................................... 58
Tabel 4. 8 Diagram Kartesius ............................................................................. 60
vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Mekanisme Keuangan Desa ............................................................. 8


Gambar 2. 2 Kuadran Kartesius ......................................................................... 23
Gambar 3. 1 Peta Kecamatan Bendahara…………………………………..…….32
vii

DAFTAR NOTASI DAN ISTILAH


8
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemajuan suatu negara dapat diukur dari ketersediaan Infrastruktur desa
yang terdapat di dalam wilayahnya. Ketika desa mampu berkembang dan
memiliki infrastruktur dengan baik, maka akan memberikan evaluasi positif
terhadap kemajuan kabupaten, kota, hingga provinsi yang menaunginya, dan pada
akhirnya mendorong percepatan pembangunan nasional secara keseluruhan
(Kemendesa PDTT, 2020). Kesadaran akan pentingnya pembangunan desa inilah
yang kemudian melatarbelakangi lahirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
tentang Desa, yang menjadi tonggak hukum penguatan desa dalam sistem
pemerintahan Indonesia.
Pembangunan desa bukan sekadar proses fisik semata, tetapi merupakan
strategi untuk mengurangi kesenjangan dan menurunkan angka kemiskinan,
terutama di wilayah perdesaan (Bappenas, 2019). Pemerintah melalui Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah ( UU Desa) juga
menegaskan pentingnya otonomi desa, yang memberikan ruang kepada desa
untuk mengelola sumber daya alam dan potensi lokal secara mandiri dan
berkelanjutan. Kemandirian ini diharapkan mendorong munculnya berbagai
inisiatif lokal yang berevaluasi pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan taraf
hidup warga desa (Syamsudin, 2020). Lebih jauh lagi, pembangunan desa
diarahkan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, melalui penyediaan
akses terhadap fasilitas umum, peningkatan layanan dasar, penciptaan lapangan
kerja, serta penguatan usaha produktif masyarakat.
Salah satu bentuk pemanfaatan Dana Desa yang menjadi prioritas adalah
pembangunan dan pengembangan infrastruktur desa. Infrastruktur seperti jalan
desa, jembatan, drainase, irigasi, sarana air bersih, serta fasilitas umum lainnya
memiliki peran penting dalam meningkatkan aksesibilitas masyarakat,
2

memperlancar aktivitas ekonomi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta


mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Meskipun pembangunan
infrastruktur desa terus mengalami peningkatan, keberhasilan pembangunan tidak
hanya diukur dari jumlah atau besarnya anggaran yang direalisasikan, tetapi juga
dari sejauh mana pembangunan tersebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat
dan memberikan manfaat yang nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Oleh karena itu, evaluasi terhadap pembangunan dan pengembangan infrastruktur
Dana Desa menjadi penting untuk mengetahui apakah pelaksanaan pembangunan
telah sesuai dengan harapan masyarakat sebagai penerima manfaat.
Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang merupakan salah satu
wilayah yang secara konsisten memperoleh alokasi Dana Desa untuk
pembangunan dan pengembangan infrastruktur. Berbagai pembangunan telah
dilaksanakan, namun masih terdapat berbagai persepsi masyarakat mengenai
kualitas pembangunan, pemerataan pembangunan, serta manfaat infrastruktur
yang telah dibangun. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap
pembangunan dan pengembangan infrastruktur berdasarkan persepsi masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi
pembangunan dan pengembangan infrastruktur Dana Desa dalam mendukung
kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang,
sehingga hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah
daerah maupun pemerintah desa dalam merumuskan kebijakan pembangunan
yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, rumusan masalah ini adalah :
1. Bagaimana hasil evaluasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur
Dana Desa dalam mendukung kesejahteraan masyarakat di Kecamatan
Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang?
2. Bagaimana tingkat kepentingan (importance) dan tingkat kinerja
(performance) pembangunan dan pengembangan infrastruktur Dana Desa
berdasarkan persepsi masyarakat di Kecamatan Bendahara Kabupaten
Aceh Tamiang?
3

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengevaluasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur Dana Desa
dalam mendukung kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Bendahara
Kabupaten Aceh Tamiang.
2. Menganalisis tingkat kepentingan dan tingkat kinerja pembangunan
infrastruktur berdasarkan persepsi masyarakat.

1.4 Batasan Masalah


Dalam upaya menjaga fokus dan kedalaman analisis penelitian, terdapat
dua batasan yang ditetapkan agar pembahasan tidak melebar dan tetap relevan
dengan tujuan penelitian. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut
1. Penelitian difokuskan pada evaluasi pembangunan dan pengembangan
infrastruktur yang dibiayai melalui Dana Desa di Kecamatan Bendahara,
Kabupaten Aceh Tamiang.
2. Evaluasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur dilakukan
berdasarkan persepsi masyarakat sebagai penerima manfaat terhadap
tingkat kepentingan (importance) dan tingkat kinerja (performance)
pembangunan infrastruktur.
3. Analisis penelitian menggunakan metode Importance Performance
Analysis (IPA) untuk mengukur tingkat kesesuaian antara kepentingan
dan kinerja serta menentukan prioritas perbaikan pembangunan dan
pengembangan infrastruktur Dana Desa.

1.5 Manfaat Penelitian


1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang pembangunan
desa, kebijakan publik, dan pembangunan infrastruktur. Selain itu, hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi ilmiah bagi peneliti
4

selanjutnya yang mengkaji evaluasi pembangunan dan pengembangan


infrastruktur Dana Desa dalam mendukung kesejahteraan masyarakat,
serta pengembangan metode evaluasi pembangunan desa.
2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan
bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Pemerintah Kecamatan
Bendahara, serta pemerintah desa dalam mengevaluasi pelaksanaan
pembangunan dan pengembangan infrastruktur Dana Desa. Hasil
penelitian ini juga diharapkan dapat membantu dalam menentukan
prioritas pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat, sehingga pelaksanaan pembangunan desa dapat berjalan lebih
efektif, efisien, tepat sasaran, dan mampu mendukung peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori dan Konsep Pembangunan


Pembangunan desa, yang berkaitan dengan program Dana Desa Desa,
adalah proses yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat
di daerah pedesaan melalui pembangunan infrastruktur, ekonomi, sosial, dan
budaya. Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,
pembangunan desa mencakup upaya untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, meningkatkan ketahanan sosial, dan memberdayakan masyarakat
untuk mengelola sumber daya alam dan lingkungan (Pratama et al., 2023).
Pembangunan desa merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang
bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan secara
menyeluruh. Menurut Todaro dan Smith (2015), pembangunan bukan hanya
sekadar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meliputi distribusi pendapatan yang
adil, peningkatan kualitas hidup, dan perluasan akses terhadap kebutuhan dasar.
Hal ini menjadi penting mengingat sebagian besar penduduk Indonesia masih
tinggal di wilayah perdesaan.

2.2 Konsep Desa


Desa merupakan unit pemerintahan terkecil yang memiliki hak otonomi
dalam merencanakan dan mengelola pembangunan sesuai dengan kebutuhan serta
skala prioritas masyarakat setempat. Kemandirian ini menjadi dasar bagi desa
dalam menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan
masyarakat secara berkelanjutan. Menurut Widjaja H.A.W. dalam bukunya
Otonomi Desa, desa dipahami sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang
memiliki susunan asli berdasarkan hak asal-usul yang bersifat istimewa.
Pengertian ini menekankan bahwa desa bukan sekadar unit pemerintahan
administratif, melainkan entitas yang tumbuh dari sejarah, adat, dan nilai-nilai
6

lokal yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakatnya. Lebih lanjut, Widjaja
menjelaskan bahwa landasan pemikiran dalam memahami pemerintahan desa
mencakup lima prinsip utama, yaitu keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli,
demokratisasi, dan pemberdayaan masyarakat. Prinsip-prinsip tersebut
mencerminkan bahwa pengelolaan pemerintahan desa harus menghargai
keragaman dan budaya, melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses
pembangunan, menjunjung tinggi kemandirian desa, serta mendorong terciptanya
tata kelola yang demokratis dan berkeadilan.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, desa
didefinisikan sebagai desa dan desa adat, atau yang disebut dengan nama lain,
yang selanjutnya disebut sebagai Desa. Dalam undang-undang tersebut, desa
dipahami sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang
jelas, serta memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan prakarsa
masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati
dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 pembetukan Desa harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Batas usia Desa induk paling sedikit 5 (lima) tahun terhitung sejak
pembentukan;
2. Jumlah penduduk sebagaimana diatur pada pasal 8 ayat (3) b;
3. Wilayah kerja yang memiliki akses transportasi antar wilayah;
4. budaya yang dapat menciptakan kerukunan hidup bermasyarakat sesuai
dengan adat istiadat Desa;
5. Memiliki potensi yang meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia,
dan sumber daya ekonomi pendukung;
6. Batas wilayah Desa yang dinyatakan dalam bentuk peta Desa yang telah
ditetapkan dalam peraturan Bupati/Walikota;
7

2.2.1 Dana Desa


Pengertian Dana Desa menurut peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60
Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara adalah: Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten/Kota dan digunakan
untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan,
pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Dana tersebut berasal
dari anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang merupakan sumber dari dana
perimbangan keuangan pusat dan daerah, jumlah yang diterima paling sedikit
adalah 10%. Dalam Peraturan Pemerintah, pengalokasian Dana Desa ditetapkan
berdasarkan jumlah desa yang ada, dengan mempertimbangkan beberapa variabel
penting seperti jumlah penduduk, tingkat kemiskinan, luas wilayah, serta tingkat
kesulitan geografis.
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Desa, pemerintah pusat memiliki kewajiban untuk mengalokasikan dana desa
melalui mekanisme transfer ke pemerintah kabupaten/kota. Dana ini kemudian
didistribusikan lebih lanjut oleh masing-masing kabupaten/kota kepada desa-desa
di wilayahnya dengan mempertimbangkan berbagai faktor agar tercipta distribusi
yang adil dan proporsional. Alokasi Dana Desa kepada masing-masing desa
ditentukan berdasarkan sejumlah indikator, yakni jumlah penduduk (30%), luas
wilayah (20%), dan angka kemiskinan (50%). Selain itu, hasil penghitungan
tersebut juga disesuaikan dengan tingkat kesulitan geografis masing-masing desa,
sehingga distribusi dana dapat mengakomodasi kebutuhan desa yang memiliki
tantangan fisik atau aksesibilitas tertentu.
Selanjutnya, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014
tentang Dana Desa yang Bersumber dari APBN, dijelaskan bahwa dengan luasnya
cakupan kewenangan desa sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-
undangan, maka penggunaan Dana Desa diprioritaskan untuk membiayai kegiatan
pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Hal ini dimaksudkan agar
Dana Desa tidak hanya berfungsi sebagai instrument pembiayaan pembangunan
8

fisik, tetapi juga menjadi pendorong utama dalam peningkatan kapasitas dan
kualitas hidup masyarakat desa secara berkelanjutan (DBPPKD, 2015).
Pertanggungjawaban terhadap penggunaan dan pengelolaan keuangan desa
ini merupakan tanggungjawab Kepala Desa untuk disampaikan kepada:
a. Bupati/Walikota pada setiap akhir tahun anggaran yang disampaikan
melalui camat,
b. Badan Permusyawaratan Desa pada setiap akhir tahun anggaran,
c. Masyarakat dalam musyawarah desa.

Gambar 2. 1 Mekanisme Keuangan Desa


Sumber : Suhirman (2015)

2.2.2 Pembangunan Desa


Pembangunan desa merupakan salah satu pilar strategis dalam upaya
pemerataan hasil pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di
wilayah pedesaan. Desa, sebagai unit pemerintahan terkecil yang langsung
9

bersentuhan dengan masyarakat, memegang peranan penting dalam proses


pembangunan nasional. Dalam konteks ini, pembangunan dan pengembangan
infrastruktur desa menjadi komponen krusial yang tidak hanya menunjang
kegiatan ekonomi dan , tetapi juga memperkuat ketahanan desa dalam
menghadapi tantangan pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan tidak
hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga harus
mempertimbangkan keragaman kebutuhan dasar, serta keinginan individu dan
kelompok dalam masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan idealnya menyentuh
seluruh dimensi kehidupan manusia, termasuk aspek , budaya, dan lingkungan
(Nasrullah, 2013).
Sementara itu, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
menegaskan bahwa tujuan pembangunan desa adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat desa, meningkatan kualitas hidup manusia, serta
mengurangi tingkat kemiskinan. Tujuan ini dicapai melalui berbagai upaya,
seperti penyediaan dan pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan
prasarana, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya
alam dan lingkungan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pembangunan desa
tidak hanya bersifat fisik dan ekonomis, tetapi juga mengandung dimensi
pemberdayaan dan keberlanjutan lingkungan hidup (Sululing, 2018).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 tentang Desa, yang
dijelaskan pada BAB VI tentang perencanaan pembangunan Desa pasal 63 ayat 1,
2 dan 3 yaitu:
1. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintah Desa sebagai satu kesatuan
dalam sistem perencanaan pembangunan daerah Kabupaten/Kota;
2. Perencanaan pembangunan Desa sebagaimana yang dimaksud pada ayat
(1) disusun secara partisipatif oleh pemerintah Desa sesuai dengan
kewenanganya;
3. Dalam penyusunan perencanaan pembangunan Desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib melibatkan lembaga kemasyarakatan Desa.
Menurut UU No. 66 Tahun 2007 tentang perencanaan pembangunan Desa,
10

Menurut Soewito MD, SH. (2007:184) hal-hal yang diperlukan dalam


perencanaan pembangunan Desa adalah :
1. Tersedianya data dan informasi selengkapnya yang akurat dan dapat
dipertanggung jawabkan tentang Desa yang bersangkutan yang mencakup
tentang:
a. Penyelenggaraan pemerintah Desa adalah seluruh proses kegiatan
manajemen pemerintah dan pembangunan Desa berdasarkan
kewenangan Desa yang ada, meliputi perencanaan, penetapan
kebijakan, pelaksanaan, pengorganisasian, pengawasan, pengendalian,
pembiayaan, koordinasi, pelestarian, penyempurnaan dan
pengembangan;
b. Organisasi tata laksana pemerintah Desa adalah lembaga yang dibentuk
oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan kemitraan
pemerintah Desa dalam memberdayakan masyarakat;
c. Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban dasar yang dapat
dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang
berhubungan dengan hak dan kewajiban Desa tersebut;
d. Profil Desa adalah gambaran menyeluruh mengenai karakter Desa yang
meliputi data dasar keluarga, potensi sumber daya alam, sumber daya
manusia, kelembagaan, sarana, dan prasarana, serta perkembangan
kemajuan dan permasalahan yang dihadapi Desa;
e. Informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintah,
pembangunan dan kemasyarakatan Desa adalah proses kegiatan
pelaporan Kepala Desa kepada masyarakat tentang pelaksanaan
pemerintahan Desa melalui media/pengumuman resmi dan meliputi
informasi pokok-pokok kegiatan.
2. Tersedianya peta Desa yang lengkap yang menggambarkan Desa dari segi:
a. Wilayah administrasi pemerintah Desa;
b. Peta potensial Desa;
c. Peta yang menggambarkan kondisi kependudukan;
d. Analisa data, keadaan Desa dan permasalahan Desa;
11

e. Tokoh pemuda, tenaga ahli, kader pembangunan Desa dan lain


sebagainya.

2.2.3 Pembangunan dan Pengembangan infrastruktur desa


Infrastruktur desa mencakup berbagai fasilitas dasar yang mendukung
kehidupan masyarakat, seperti jalan desa, jembatan penghubung antar dusun,
sistem drainase dan saluran irigasi, fasilitas penyediaan air bersih, sanitasi,
penerangan, hingga sarana dan prasarana pelayanan publik seperti posyandu, balai
desa, dan fasilitas pendidikan maupun kesehatan. Menurut Suryono (2021),
pembangunan desa mencakup serangkaian proses yang meliputi perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap program-program pembangunan
yang dilaksanakan secara partisipatif dan responsif terhadap kebutuhan
masyarakat desa. Pembangunan infrastruktur desa merujuk pada kegiatan
pembangunan fisik di wilayah pedesaan, seperti pembangunan jalan, jembatan,
irigasi, saluran air bersih, drainase, dan fasilitas umum lainnya, yang dimaksudkan
untuk memperkuat konektivitas, menunjang aktivitas ekonomi, serta
meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa (Kementerian Desa, PDTT, 2020).
Pengembangan infrastruktur desa tidak hanya bersifat menambah atau
memperluas jaringan infrastruktur yang telah ada, tetapi juga mencakup upaya
pemeliharaan, peningkatan mutu, dan penyesuaian terhadap kebutuhan
masyarakat yang terus berkembang (Bappenas, 2019). Pengembangan
infrastruktur desa yang berkelanjutan juga menuntut pendekatan yang holistik dan
inklusif. Tidak hanya aspek teknis yang harus diperhatikan, tetapi juga aspek ,
ekonomi, dan lingkungan.

2.2.4 SDgS Desa


Pada tahun 2020, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,
dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengeluarkan Peraturan Menteri Desa
Nomor 13 Tahun 2020 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2021.
Dalam regulasi tersebut, ditegaskan bahwa arah pembangunan desa harus
berlandaskan pada prinsip pembangunan berkelanjutan, yang kemudian
12

diformulasikan dalam kerangka program Sustainable Development Goals (SDGs)


Desa.
Program SDGs Desa merupakan adaptasi dari agenda global SDGs yang
disesuaikan dengan konteks lokal di tingkat desa. Melalui pendekatan ini,
pembangunan desa diarahkan agar memiliki tujuan yang jelas, kontekstual, dan
berjangka panjang, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi. Dengan
adanya SDGs Desa, diharapkan pembangunan tidak hanya bersifat fisik dan
sektoral, tetapi juga menyentuh dimensi , ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan
desa secara menyeluruh. SDGs Desa merupakan program strategis yang bertujuan
untuk mengentaskan kemiskinan, meningkatkan rasa aman masyarakat, serta
mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan. Program ini didukung penuh
oleh Dana Desa sebagai sumber pembiayaan utama, dan menjadi pedoman dalam
menyusun kebijakan, perencanaan, serta pelaksanaan pembangunan desa.
Merujuk pada Permendes PDTT Nomor 13 Tahun 2020, terdapat 18 tujuan utama
SDGs. Desa yang menjadi sasaran prioritas pembangunan, yaitu:
1. Desa Tanpa Kemiskinan
2. Desa Tanpa Kelaparan
3. Desa Sehat dan Sejahtera
4. Pendidikan Desa Berkualitas
5. Desa Berkesetaraan Gender
6. Desa Layak Air Bersih dan Sanitasi
7. Desa yang Berenergi Bersih dan Terbarukan
8. Pekerjaan dan Pertumbuhan Ekonomi Desa
9. Inovasi dan Infrastruktur Desa
10. Desa Tanpa Kesenjangan
11. Kawasan Permukiman Desa yang Berkelanjutan
12. Konsumsi dan Produksi Desa yang Sadar Lingkungan
13. Pengendalian dan Perubahan Iklim oleh Desa
14. Ekosistem Laut Desa
15. Ekosistem Daratan Desa
16. Desa Damai dan Berkeadilan
13

17. Kemitraan untuk Pembangunan Desa


18. Kelembagaan Desa yang Dinamis dan Budaya Desa yang Adaptif
Keseluruhan tujuan SDGs Desa tersebut mencerminkan komitmen
pemerintah dalam membangun desa secara holistik dan berkelanjutan. Dengan
mengintegrasikan agenda pembangunan global ke dalam program nasional
berbasis desa, SDGs Desa diharapkan mampu mempercepat pencapaian
kesejahteraan masyarakat desa secara inklusif dan berkeadilan.

2.3 Konsep Efektivitas


Istilah efektivitas berasal dari bahasa Inggris effective, yang berarti
berhasil atau sesuatu yang dilakukan dengan baik dan tepat sasaran. Efektivitas
sering kali dikaitkan dengan efisiensi dalam pencapaian tujuan organisasi atau
program kerja. Secara umum, efektivitas mengacu pada tingkat keberhasilan suatu
proses atau kegiatan dalam mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan.
Penelitian oleh Radhi et al. (2025) dalam Teras Jurnal berjudul "Efektivitas
Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Melalui Program Dana Desa Kabupaten
Pidie Jaya" membuktikan bahwa alokasi Dana Desa yang digunakan untuk
pembangunan infrastruktur memiliki evaluasi nyata terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan kemudahan akses antarwilayah. Hasil studi tersebut
menunjukkan bahwa:
 Pembangunan infrastruktur melalui Dana Desa telah memberikan
kemudahan akses transportasi, mengurangi biaya distribusi hasil pertanian,
dan mempercepat waktu tempuh antar dusun.
 Efektivitas pembangunan infrastruktur sangat dievaluasii oleh kualitas
perencanaan, pengawasan, serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan
kegiatan fisik.
 Kendala yang sering dihadapi meliputi keterbatasan kapasitas teknis
perangkat desa serta pengawasan yang belum optimal dari masyarakat
maupun pemerintah daerah.
14

2.3.1 Efektivitas Pembangunan infrastruktur desa


Efektivitas dalam pembangunan infrastruktur desa mengacu pada sejauh
mana pembangunan yang dilakukan mampu meningkatkan kehidupan ekonomi
masyarakat secara nyata. Infrastruktur desa—seperti jalan, saluran irigasi, sarana
air bersih, dan fasilitas pendidikan—menjadi kunci utama dalam mempercepat
pertumbuhan dan pemerataan pembangunan di pedesaan.
Beberapa aspek yang memengaruhi tingkat efektivitas infrastruktur desa terhadap
ekonomi masyarakat meliputi:
1. Aspek sosial
Pembangunan dan pengembangan infrastruktur desa memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat
dari sisi sosial. Infrastruktur yang memadai mampu mempermudah akses
masyarakat terhadap berbagai layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan,
dan administrasi pemerintahan. Dengan tersedianya jalan yang baik,
jembatan yang layak, serta fasilitas umum lainnya, masyarakat desa dapat
menjangkau pusat layanan publik dengan lebih cepat dan aman. Tak kalah
penting, infrastruktur yang baik turut membantu dalam upaya mitigasi
risiko bencana. Keberadaan saluran drainase, tanggul penahan banjir, serta
jalur evakuasi yang memadai dapat meminimalkan evaluasi bencana alam
terhadap keselamatan dan kehidupan sosial masyarakat desa secara
keseluruhan.
2. Aspek Ekonomi
Pembangunan infrastruktur desa memberikan evaluasi yang nyata terhadap
peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat. Salah satu kontribusi
utamanya adalah kemudahan akses terhadap lahan produksi pertanian,
perkebunan, dan hortikultura. Dengan adanya infrastruktur jalan,
jembatan, dan irigasi yang memadai, proses produksi dan distribusi hasil
pertanian menjadi lebih efisien dan tepat waktu. Kemudahan infrastruktur
juga memperlancar arus barang dan mobilitas manusia menuju pasar, baik
pasar lokal maupun regional, sehingga hasil produksi masyarakat dapat
dipasarkan dengan lebih luas dan bernilai jual lebih tinggi. Hal ini
15

berevaluasi pada meningkatnya daya saing produk desa serta memperkuat


posisi ekonomi masyarakat dalam rantai distribusi
3. Aspek fisik
Pembangunan infrastruktur desa juga memberikan evaluasi positif yang
signifikan dari sisi fisik, terutama dalam membuka aksesibilitas
antarwilayah. Keberadaan infrastruktur seperti jalan desa, jembatan, dan
fasilitas transportasi lainnya mampu menghubungkan kawasan yang
sebelumnya terisolasi, sehingga mempercepat konektivitas antar dusun
maupun antara desa dan pusat kegiatan ekonomi atau pemerintahan.
Dengan terbukanya akses ini, waktu tempuh perjalanan menjadi lebih
singkat dan biaya logistik pun menurun, baik untuk distribusi barang maupun
mobilitas masyarakat. Selain itu, infrastruktur fisik yang memadai turut
meningkatkan kelancaran angkutan barang dan penumpang, sehingga aktivitas
ekonomi dan sosial masyarakat dapat berjalan lebih efisien dan produktif.
Perbaikan dalam aspek fisik ini menjadi fondasi penting bagi pembangunan
sektor-sektor lainnya di desa.

2.3.2 Peran infrastruktur terhadap pengembangan wilayah


1. Aktivitas Ekonomi Masyarakat Desa
a) Mempermudah distribusi hasil pertanian, perikanan, dan usaha
masyarakat.
b) Menurunkan biaya transportasi dan biaya produksi.
c) Meningkatkan pendapatan masyarakat desa.
2. Peningkatan Akses Pelayanan Dasar

a) Mempermudah akses ke pendidikan, kesehatan, dan pelayanan


pemerintahan.
b) Meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.

3. Peningkatan Konektivitas Antarwilayah Desa


a) Memperlancar hubungan antar dusun dan antar desa.
16

b) Mempercepat mobilitas masyarakat dan distribusi barang.


4. Peningkatan Peluang Usaha dan Investasi Lokal
a. Mendorong berkembangnya UMKM dan usaha rumah tangga.
b. Menciptakan peluang ekonomi baru berbasis potensi desa.
5. Peningkatan Kesempatan Kerja Masyarakat
b) Menyerap tenaga kerja lokal selama pembangunan infrastruktur.
c. Membuka peluang kerja dan usaha setelah infrastruktur tersedia.

2.4 Infrastruktur Desa dan Kesejahteraan Masyarakat


Pembangunan infrastruktur desa tidak hanya berkaitan dengan perubahan
fisik pada wilayah perdesaan, tetapi juga berevaluasi langsung terhadap aspek
dan ekonomi masyarakat. Menurut Todaro dan Smith (2012), kesejahteraan
masyarakat tidak hanya ditentukan oleh tingkat pendapatan, tetapi juga mencakup
tersedianya layanan dasar, kesempatan kerja yang layak, akses terhadap
pendidikan dan kesehatan, serta lingkungan yang aman dan nyaman. Sejalan
dengan hal tersebut, Bappenas (2019) menyatakan bahwa pembangunan
infrastruktur di wilayah perdesaan merupakan bagian dari strategi pembangunan
nasional yang bertujuan untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah,
menurunkan angka kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat
melalui penguatan konektivitas wilayah. Infrastruktur yang memadai
memungkinkan desa untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal,
memperlancar distribusi barang dan jasa, membuka akses pasar bagi hasil
pertanian dan UMKM, serta menciptakan lapangan kerja baru.
Dalam sudut pandang teknik sipil, infrastruktur desa dapat dikategorikan
ke dalam berbagai jenis berdasarkan fungsi dan kontribusinya terhadap kehidupan
masyarakat. Berikut ini adalah jenis-jenis infrastruktur layanan dasar yang umum
dibangun melalui Dana Desa dan berevaluasi langsung terhadap kesejahteraan
masyarakat:
1. Infrastruktur transportasi
 Jalan desa (aspal, rabat beton, pengerasan)
 Jembatan desa
17

2. Infrastruktur pengairan dan irigasi


 Saluran irigasi teknis dan semi teknis
3. Infrastruktur air bersih dan sanitasi
 System penyediaan air minum (SPAM) desa
 Jamban sehat dan septictank komunal
4. Infrastruktur layanan
 Posyandu, Polindes dan balai desa
 Gedung PAUD dan sekolah dasar
5. Infrastruktur Penanggulangan Bencana dan Lingkungan
 Drainase, tanggul pengaman banjir, dan penghijauan desa
Pembangunan infrastruktur desa memiliki multiplier effect terhadap
kesejahteraan , yang dapat dilihat dari berbagai indikator sebagai berikut:
a. Aspek
 Akses layanan dasar
 Interaksi
 Budaya gotong royong
b. Aspek Ekonomi
 Produktivitas dan pendapatan
 Akses pasar
 Lapangan kerja
c. Aspek Kesehatan dan Lingkungan
 Kualitas lingkungan
 Penurunan penyakit
 Pencegahan bencana
Menurut Cahya (2008), infrastruktur memiliki peran strategis dalam
pengembangan wilayah:
1. Peningkatan Perekonomian
2. Peningkatan Kualitas Hidup
3. Stabilitas Makroekonomi
4. Daya Saing Wilayah
18

5. Pasar Tenaga Kerja


Secara keseluruhan, pengelolaan pembangunan dan pengembangan
infrastruktur desa merupakan salah satu faktor kunci dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat desa. Infrastruktur yang dibangun dengan dana desa
harus dirancang secara partisipatif, sesuai kebutuhan lokal, serta memperhatikan
aspek teknis dan keberlanjutan.
19

2.5 Metode Importance Performance Analysis

Metode Importance-Performance Analysis (IPA) pertama kali


diperkenalkan oleh Martilla dan James (1977) sebagai alat analisis untuk
mengukur tingkat kepentingan dan tingkat kinerja suatu atribut berdasarkan
persepsi responden. Dalam penelitian ini, IPA digunakan untuk menganalisis
tingkat kepentingan dan tingkat kinerja pengelolaan pembangunan serta
pengembangan infrastruktur yang didanai melalui Dana Desa terhadap
kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Bendahara.

Proses analisis diawali dengan penentuan lokasi penelitian dan pemilihan


responden yang menjadi sampel penelitian. Selanjutnya, responden diminta
memberikan penilaian terhadap setiap indikator yang diteliti berdasarkan dua
aspek, yaitu tingkat kepentingan (importance) dan tingkat kinerja atau
pelaksanaan (performance). Penilaian tersebut diperoleh melalui kuesioner yang
menggunakan skala pengukuran tertentu.

Data yang terkumpul kemudian dihitung nilai rata-rata tingkat kepentingan


dan tingkat kinerja untuk masing-masing indikator. Hasil perhitungan tersebut
selanjutnya dipetakan ke dalam Matriks Importance-Performance Analysis (IPA)
yang terdiri atas empat kuadran. Melalui matriks ini dapat diketahui indikator-
indikator yang menjadi prioritas utama untuk diperbaiki, indikator yang perlu
dipertahankan kinerjanya, indikator yang memiliki prioritas rendah, serta
indikator yang dinilai berlebihan dalam pelaksanaannya.
Kelebihan metode Importance-Performance Analysis dibandingkan
metode yang lain adalah sebagai berikut:
1. Prosedur dari metode ini cukup sederhana.
2. Pengambilan kebijakan dapat dengan mudah menentukan prioritas
kegiatan yang harus dilakukan dengan sumber daya yang terbatas.
3. Metode ini cukup fleksibel untuk diterapkan pada berbagai bidang.
Data yang digunakan untuk analisis ini adalah hasil kuisioner persepsi
masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur dengan dana desa berdasarkan
indikator penilaian yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini terdapat beberapa
20

variabel. Selanjunya, setelah didapatkan dari kuisioner diukur tingkat


kesesuainnya. Tingkat kesesuaian adalah hasil perbandingan skor kinerja dengan
skor kepentingan. Tingkat kesesuaian inilah yang akan menentukan urutan
prioritas peningkatan faktor-faktor yang memevaluasii kepuasan masyarakat
desa(Supranto, 2001).
Bobot penilaian menggunakan skala yang digunakan adalah skala likert
dengan 5 tingkatan yang tergambar pada Tabel 2.1 berikut:
Tabel 2. 1 Skala Likert

Tingkat Kepentingan Tingkat Kepuasan Bobot


Sangat Penting Sangat Puas 5
Penting Puas 4
Cukup Penting Cukup Puas 3
Kurang Penting Kurang Puas 2
Tidak Penting Tidak Puas 1
Sumber : (Sedarmayanti, 2011)
Dari hasil penilaian Tingkat kepentingan dan kinerja maka akan dihasilkan
perhitungan tingkat kesesuaian dan selanjutnya hasil tersebut dipetakan melalui
Diagram Kartesius untuk mengetahui prioritas dari setiap atribut. Dalam
menentukan sampel, penulis menggunakan rumus Slovin pada populasi, yang
dimana jumlah populasi didapat dari jumlah kepala keluarga yang terdapat di
Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang.

𝐍
𝒏= …(2.1)
𝟏 𝐍(𝒆)𝟐

Keterangan :
N = Ukuran Populasi
n = Ukuran Sampel
e = Nilai Margin of Error
21

2.5.1 Tingkat kesesuaian metode IPA (Importance Performance Analysis)


Tingkat kesesuaian dalam metode Importance-Performance Analysis (IPA)
merupakan perbandingan antara tingkat kinerja atau pelaksanaan yang dirasakan
oleh masyarakat (Xi) dengan tingkat kepentingan atau harapan masyarakat (Yi)
terhadap suatu indikator yang diteliti. Tingkat kesesuaian ini digunakan untuk
mengetahui sejauh mana pelaksanaan pembangunan dan pengembangan
infrastruktur yang didanai melalui Dana Desa telah memenuhi harapan
masyarakat. Nilai tingkat kesesuaian yang diperoleh dari hasil perhitungan IPA
dapat digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan pada setiap indikator
pengelolaan pembangunan dan pengembangan infrastruktur. Semakin tinggi nilai
tingkat kesesuaian, semakin baik kinerja yang dirasakan masyarakat dibandingkan
dengan harapan mereka. Sebaliknya, nilai tingkat kesesuaian yang rendah
menunjukkan bahwa pelaksanaan pembangunan infrastruktur belum sepenuhnya
memenuhi harapan masyarakat sehingga memerlukan perhatian dan perbaikan
lebih lanjut. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung tingkat kesesuaian
dalam metode IPA adalah sebagai berikut:

𝐗𝐢
𝑻𝒌𝒊 = 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % …(2.2)
𝐘𝐢

Keterangan :
Tki = Tingkat Kesesuaian
Xi = Skor Penilaian Kinerja (Kepuasan)
Yi = Skor Penilaian Kepentingan (Harapan)
 Apabila Tki bernilai lebih dari 100% artinya kualitas pelayanan sangat
memuaskan dan telah melebihi harapan Masyarakat desa.
 Jika Tki bernilai tepat 100% artinya kualitas pelayanan telah memuaskan
dan telah sesuai dengan harapan Masyarakat desa.
 Apabila Tki bernilai kurang dari 100% artinya kualitas pelayanan kurang
atau bahkan tidak memuaskan karenan belum sesuai dengan harapan
masyarakat desa
22

2.5.2 Matriks Kuadran IPA (Importance Performance Analysis)


Matriks Kuadran IPA merupakan suatu grafik yang terdiri atas empat
bagian yang dibatasi dua buah garis yang berpotongan tegak lurus pada garis
sumbu X dan sumbu Y. Sumbu X menggambarkan persepsi/kinerja aktual (realita
yang didapatkan masyarakat desa terkait layanan atau produk) serta sumbu Y
menggambarkan harapan/kepentingan (yang diharapkan masyarakat desa terkait
layanan atau produk). Penentuan posisi indikator (variabel) yang nantinya akan
diletakkan pada matriks kuadran, dapat ditentukan berdasarkan perhitungan skor
rata-rata realita dan skor rata-rata harapan.


x̄ i = …(2.3)

∑ 𝒀𝒊
𝐲̄𝐢 = …(2.4)
𝒏

Keterangan :
ȳ = Rata-rata tingkat kepentingan (harapan)
x̄ = Rata-rata tingkat kinerja (kepuasan)
n = Jumlah Responden
Dengan menggunakan rumus tersebut, seseorang dapat mencari peta posisi
kinerja-impertansi dalam diagram Cartesian.

∑𝒌𝒊 𝟏 𝐱̄
𝑿𝒊 = …(2.5)
𝒌

∑𝒌𝒊 𝟏 𝐲̄
𝒀𝒊 = …(2.6)
𝒌

Keterangan :
𝑿𝒊 = Nilai rata-rata kedua/garis pembatas vertikal
𝒀𝒊 = Nilai rata-rata kedua/garis pembatas horizontal
∑𝒌𝒊 𝟏 𝐱̄ = Jumlah rata-rata pertama data ke-ί variabel x
∑𝒌𝒊 𝟏 𝐲̄ = Jumlah rata-rata pertama data ke-ί variabel y
k = Jumlah Indikator pernyataan
23

Pengolahan data dengan menggunakan metode Importance and Perfomance


Analysis (IPA), Responden diminta menilai tingkat kepentingan dan tingkat
kepuasan terhadap pembangunan dan pengembangan infrastruktur desa yang
didanai melalui Dana Desa di Kecamatan Bendahara, dimana sumbu X mewakili
persepsi dan sumbu Y mewakili harapan masyarakat desa sehingga akan
didapatkan hasil berupa empat kuadran sesuai gambar dibawah ini:

Gambar 2. 2 Kuadran Kartesius

 Kuadran 1, area yang memuat atribut-atribut yang dianggap penting oleh


pengguna tetapi dalam kenyataannya atribut-atribut ini belum sesuai
dengan yang diharapkan (tingkat kepuasan masyarakat desa masih sangat
rendah). Di area ini pihak pengelola melakukan perbaikan secara terus-
meneruss agar performance dalam kuadran ini meningkat.
 Kuadran 2, area yang memuat atribut-atribut yang dianggap penting oleh
pengguna dan atribut atribut yang dianggap oleh pengguna sudah sesuai
dengan yang dirasakan sehingga tingkat kepuasannya relatif tinggi.
 Kuadran 3, area yang menuat atribut-atribut yang dianggap kurang penting
oleh pengguna dan pada kenyataannya kinerjanya kurang istimewa.
 Kuadran 4, area yang memuat atribut-atribut yang dianggap kurang
penting oleh pengguna dan dirasakan berlebihan.
2.5.3 Uji Validitas dan Realibilitas
Uji validitas dan reliabilitas adalah dua jenis uji yang digunakan untuk
mengevaluasi kualitas instrumen penelitian. Uji validitas mengukur sejauh mana
instrumen penelitian dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, sementara uji
24

reliabilitas mengukur konsistensi atau keandalan instrumen dalam menghasilkan


data yang sama pada pengukuran yang berbeda.
 Uji Validitas
Untuk dapat membuktikan validasi penelitian maka dilakukan uji validitas
yang bertujuan mengukur sah atau tidak validnya suatu kuesioner. Suatu
kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan/pernyataan pada kuesioner
mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner
tersebut (Ghozali, 2006). Pengujian dilakukan dengan mengkorelasikan
skor pada masing-masing item dengan skor totalnya. Pengukuran validitas
dilakukan dengan cara mengkorelasikan nilai skor butir/faktor
pertanyaan/pernyataan dari total skor variabel secara keseluruhan. Lalu
hasil nilai koefisien korelasi akan disebut sebagai r hitung dan akan
dibandingkan r tabel. Adapun untuk menghitung r hitung adalah sebagai
berikut:
𝑵 ∑ 𝒙𝒚 (∑ 𝒙)(∑ 𝒚)
𝒓𝒙𝒚 = …(2.7)
𝑵 ∑𝑿 𝟐 (∑𝑿)𝟐 (∑𝒚 𝟐 (∑𝒚)𝟐 )

Keterangan :
𝒓𝒙𝒚 : Koefisien korelasi antara variable X dan Variabel Y
∑ 𝒙𝒚 : Jumlah perkalian antara variable X dan Y
∑𝑿 𝟐 : Jumlah dari kuadrat nilai X
∑𝒚 𝟐 : Jumlah dari kuadrat nilai Y
(∑𝑿)𝟐 : Jumlah dari nilai x kemudian dikuadratkan
(∑𝒚)𝟐 : Jumlah dari nilai y kemudian dikuadratkan
Setelah mendapatkan r hitung kemudian dibandingkan dengan r tabel,
apabila r hitung < daripada r tabel, maka data tersebut dinyatakan tidak
valid. Sedangkan jika r hitung > r tabel, maka data tersebut dinyatakan
valid. Begitu juga dengan nilai signifikansi, jika nilai hitung signifikasni >
tingkat nilai signifikansi maka data tersebut dinyatakan tidak valid,
sebaliknya jika nilai hitung signifikasni < tingkat nilai signifikansi maka
data tersebut dinyatakan valid.
 Uji Realibilitas
25

Pengujian reliabilitas digunakan untuk menentukan konsistensi dari suatu


data yang di mana dalam penelitian ini adalah data kuesioner. Reliabel atau
tidak reliabelnya suatu data ditentukan oleh nilai cronbach’s alpha dan jika
nilainya > 0.7 maka data tersebut dianggap reliabel. Untuk itu dalam
pengujian reliabilitas, pelu diketahui nilai varian dari butir/faktor
pertanyaan/pernyataan yang akan diuji, sehinnga hal yang perlu ditentukan
dalam uji reliabilitas adalah varian butir dan varian totalnya terlebih
dahulu. Setelah itu nilai cronbach’s alpha bisa ditentukan dari hasil
perhitungan varian, yaitu membandingkan nilai hasil dengan 0.7. Adapun
cara menghitung varian butir/faktor, varian total dan nilai reliabilitas:
a. Varian Faktor/butir
(∑ 𝑿𝒊)𝟐
∑ 𝑿𝒊𝟐
𝑺𝒊 = 𝒏
…(2.8)
𝒏 𝟏

Keterangan :
Si = Varian tiap butir/factor
∑𝑋 𝑖 = Faktor /butir pernyataan X ke i
n = Jumlah Responden

b. Varian Total
(∑ 𝒀𝒊)𝟐
∑ 𝒀𝒊𝟐
𝑺𝒕 = 𝒏
…(2.9)
𝒏 𝟏

Keterangan :
St = Varian skor total
∑Y𝑖 = Faktor /butir pernyataan Y ke i
n = Jumlah responden

c. Nilai reabilitas
𝒌 ∑ 𝑺𝒊
𝒓𝒙 = ( )(𝟏 − ) …(2.10)
𝒌 𝟏 𝑺𝒕

Keterangan :
26

Rx = Nilai reabilitas
∑ 𝑺𝒊 = Jumlah varian tiap-tiap butir/factor
St = varian skor total
K = Jumlah data pertanyaan yang sah

2.6 Studi Literatur


No Nama Judul Hasil

1 Erni, dkk Analisis Hasil penelitian ini menunjukkan,


(2024) Penggunaan penggunaan dana desa tahun 2020 – 2022
Dana Desa di Desa Serdang Menang untuk
untuk pembangunan infrastruktur telah dikelola
Pembangunan dengan baik. Aspek transparansi,
Infrastruktur akuntabilitas, dan laporan
pertanggungjawaban telah terpenuhi
dalam pengelolaan keuangan, Sehingga
pengelolaan dana desa untuk
pembangunan infrastruktur desa
dikategorikan baik. Artinya Desa Serdang
Menang telah memenuhi ketentuan dalam
prinsip pengelolaan keuangan desa yang
tertera pada Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 20 Tahun 2018.

2 Rusli, Efektivitas Hasil penelitian menunjukkan bahwa


dkk Pengelolaan pengelolaan Anggaran Dana Desa tahun
(2023) Anggaran 2021 belum berjalan efektif. Terdapat
Dana Desa beberapa dimensi yang masih belum
dalam terlaksana sepenuhnya, seperti kurangnya
Pembangunan koordinasi perencanaan dan pendanaan
Infrastruktur yang efektif, keterbatasan sumber
Desa anggaran, perencanaan pembangunan
yang kurang matang, serta evaluasi
pandemi COVID-19 pada sosialisasi
masyarakat. Selain itu, ada aparat desa
yang kurang partisipatif, dan sarana-
prasarana infrastruktur di Desa Sileang
masih kurang memadai. Upaya yang dapat
27

No Nama Judul Hasil

dilakukan untuk mengatasi hambatan ini


adalah meningkatkan koordinasi
antarwilayah, meningkatkan kesadaran
masyarakat terhadap pembangunan
melalui musyawarah aktif, dan lebih
efektif dalam mensosialisasikan program-
program pembangunan kepada
masyarakat. Langkah-langkah ini
diharapkan dapat meningkatkan
efektivitas pengelolaan Anggaran Dana
Desa dan pembangunan infrastruktur di
Desa Sileang.

3 Ayu, dkk Efektivitas Hasil penelitian menunjukkan bahwa


(2025) Dana Desa Dana Desa memberikan kontribusi yang
dalam signifikan terhadap pembangunan
Pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan,
Infrastruktur sarana air bersih, dan fasilitas umum
dan lainnya. Peningkatan infrastruktur ini
Kesejahteraan berevaluasi langsung pada peningkatan
Masyarakat aksesibilitas, produktivitas ekonomi, dan
Perdesaan kualitas hidup masyarakat desa. Namun,
efektivitas pemanfaatan Dana Desa masih
menghadapi sejumlah tantangan, antara
lain kapasitas sumber daya manusia
perangkat desa, transparansi pengelolaan
anggaran, dan belum optimalnya
partisipasi masyarakat.

4 Vanti, Efektivitas Hasil penelitian menunjukan bahwa


dkk Penggunaan tingkat efektivitas dana desa pada Desa
(2021) Dana Desa Humbia Tahun Anggaran 2015-2018
Terhadap berada dalam kategori sangat efektif
Pembangunan karena mencapai tingkat efektivitas lebih
dan dari 100% sedangkan pada tahun anggaran
Pemberdayaan 2019-2020 efektivitas dana desa mencapai
Masyarakat di 100% dan dapat dikategorikan efektif.
Desa Humbia Adapun berdasarkan pada hasil
Kecamatan penyebaran kuesioner dan wawancara
28

No Nama Judul Hasil

Tagulandang dapat diketahui bahwa penggunaan dana


Selatan, desa mampu memberikan evaluasi
Kabupaten terhadap pembangunan dan pemberdayaan
Kepulauan masyarakat desa, dengan dibangunnya
Sitaro berbagai infrastruktur desa dan
dijalankannya program-program
pemberdayaan masyarakat sehingga
mampu menunjang kehidupan masyarakat
desa di berbagai bidang sosial ekonomi.

5 Milda, Efektivitas Hasil penelitian menunjukkan bahwa


dkk Penggunaan penggunaan dana desa termasuk dalam
(2025) Dana Desa kategori efektif, dengan indikator
Terhadap keberhasilan program, kepuasan
Pembangunan masyarakat, dan pencapaian sasaran
Infrastruktur berada di atas 70%. Pembangunan
Di Desa infrastruktur juga mengalami peningkatan
Timoreng signifikan. Faktor-faktor seperti partisipasi
Panua masyarakat, transparansi, dan kualitas
Kecamatan pendamping desa turut memberikan
Panca Rijang kontribusi terhadap efektivitas
Kabupaten penggunaan dana desa. Kesimpulannya,
Sidenreng dana desa berevaluasi secara signifikan
Rappang terhadap pembangunan infrastruktur di
Tanah 2021- desa ini.
2023

6 Meliza, Analisis Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa


dkk Efektivitas pengelolaan dana desa di Nagari Aua
(2024) Pengelolaan Kuniang Kecamatan Pasaman Kabupaten
Dana Desa Pasaman Barat belum bisa dikatakan
dalam efektif karena belum sesuai dengan
Meningkatkan peraturan yang ada yaitu untuk
Pertumbuhan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
Ekonomi dan infrastruktur pedesaan. Pemerintah nagari
Infrastruktur sendiri sudah memaparkan program kerja
Pedesaan yang dilakukan untuk meningkatkan
(Studi Kasus: pendapatan masyarakat namun masyarakat
Nagari Aua hanya sekedar mengetahui seperti itu
29

No Nama Judul Hasil

Kuniang, Kec. penggunaannya tapi tidak sesuai dengan


Pasaman, yang mereka terima dan rasakan. Padahal
Kab. Pasaman nagari Aua Kuniang memiliki potensi
Barat) yang sangat luas untuk digali.

7 Ati, dkk Evaluasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa


(2022) Pengelolaan tingkat efektivitas kebijakan Alokasi Dana
Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Muke, Kecamatan
Desa dalam Amabi Oefeto Timur, Nusa Tenggara
Upaya Timur, tergolong cukup efektif
Meningkatkan berdasarkan evaluasi pada aspek konteks,
Pembangunan input, proses, dan produk. Efektivitas
dan konteks memperoleh nilai 78,18 yang
Pemberdayaan termasuk kategori cukup tinggi, efektivitas
Masyarakat input sebesar 76,10 juga berada pada
kategori cukup tinggi, efektivitas proses
memperoleh nilai 81,45 yang termasuk
kategori tinggi, sedangkan efektivitas
produk memperoleh nilai 76,88 yang
termasuk kategori cukup tinggi. Secara
keseluruhan, hasil evaluasi menggunakan
Model Glickman menempatkan
pengelolaan ADD Desa Muke pada
Kuadran II, yang menunjukkan bahwa
pengelolaan Alokasi Dana Desa telah
berjalan cukup efektif dalam mendukung
pelaksanaan program dan pencapaian
tujuan pembangunan desa.

8 Sofa, dkk Evaluasi Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan


(2022) Penggunaan bahwa variabel realisasi dana desa di
Dana Desa bidang pembangunan desa tidak
Dalam Bidang berevaluasi signifikan terhadap
Pembangunan kemiskinan desa di Kabupaten Pemalang.
Desa Dan Hasil ini mengambarkan jika program
Bidang posyandu, pendidikan untuk anak usia dini
Pemberdayaan serta program pembangunan desa lainnya
Masyarakat belum memberikan evaluasi yang
Desa signifikan terhadap kemiskinan desa.
30

No Nama Judul Hasil

Terhadap Variabel realisasi dana desa di bidang


Kemiskinan pemberdayaan masyarakat desa
Desa Di menunjukkan evaluasi yang signifikan
Kabupaten negatif dengan nilai koefisien sebesar -
Pemalang 0,358970 dengan probabilitas 0,0000 yang
Tahun 2019- artinya peningkatan 1 juta realisasi dana
2020 desa dalam bidang pemberdayaan
masyarakat desa mampu mengurangi
jumlah penduduk miskin desa sebesar 36
jiwa. Hasil ini menggambarkan jika
Pemerintah Kabupaten Pemalang melalui
program pemberdayaan masyarakat
mampu untuk menurunkan tingkat
kemiskinan desa di Kabupaten Pemalang
pada tahun 2019-2020.

Anda mungkin juga menyukai