0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan40 halaman

Erythropoiesis Stimulating Agent

Proposal penelitian ini berjudul 'Korelasi Parameter Inflamasi dan Ureum Pre-Hemodialisis dengan Perubahan Hemoglobin pada Pasien yang Mendapat Terapi Erythropoiesis Stimulating Agent'. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara parameter inflamasi dan kadar ureum sebelum hemodialisis serta dampaknya terhadap perubahan kadar hemoglobin pada pasien PGK yang menerima terapi ESA. Proposal ini telah disetujui untuk diseminarkan dan merupakan bagian dari syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Sarjana Kedokteran di Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan40 halaman

Erythropoiesis Stimulating Agent

Proposal penelitian ini berjudul 'Korelasi Parameter Inflamasi dan Ureum Pre-Hemodialisis dengan Perubahan Hemoglobin pada Pasien yang Mendapat Terapi Erythropoiesis Stimulating Agent'. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara parameter inflamasi dan kadar ureum sebelum hemodialisis serta dampaknya terhadap perubahan kadar hemoglobin pada pasien PGK yang menerima terapi ESA. Proposal ini telah disetujui untuk diseminarkan dan merupakan bagian dari syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Sarjana Kedokteran di Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KORELASI PARAMETER INFLAMASI DAN UREUM

PRE-HEMODIALISIS DENGAN PERUBAHAN HEMOGLOBIN PADA


PASIEN YANG MENDAPAT TERAPI ERYTHROPOIESIS STIMULATING
AGENT

PROPOSAL PENELITIAN

OLEH:
HASICA SALSABILA ARZLI
NIM: 232023015

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN PROGRAM SARJANA


FAKULTAS KEDOKTERAN
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA
LUBUK PAKAM
2026
HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal dengan judul:

KORELASI PARAMETER INFLAMASI DAN UREUM


PRE-HEMODIALISIS DENGAN PERUBAHAN HEMOGLOBIN PADA
PASIEN YANG MENDAPAT TERAPI ERYTHROPOIESIS STIMULATING
AGENT

OLEH:
HASICA SALSABILA ARZLI
NIM: 232023015

Proposal ini Telah Diperiksa dan Disetujui untuk Diseminarkan di Hadapan


Peserta Seminar dan Komisi Penguji Proposal pada
Program Studi Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran
Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.

Lubuk Pakam, 13 Juni 2026

Disetujui oleh :
Pembimbing

dr. Elpiani Br Depari, [Link]


NPP. [Link].1986

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Proposal dengan judul :

KORELASI PARAMETER INFLAMASI DAN UREUM


PRE-HEMODIALISIS DENGAN PERUBAHAN HEMOGLOBIN PADA
PASIEN YANG MENDAPAT TERAPI ERYTHROPOIESIS STIMULATING
AGENT

OLEH:
HASICA SALSABILA ARZLI
NIM: 232023015

Proposal ini Telah Diseminarkan dan Diterima Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Melanjutkan ke Tahap Penelitian

Lubuk Pakam, 13 Juni 2026


Tim Penguji: Tanda Tangan
1. Penguji I:
Dr. Barita Aritonang, [Link] (………………..)
NIDN. 0127117201
2. Penguji II:
Dr. Bd. Elvi Era Liesmayani, [Link].T., [Link] (………………..)
NPP. [Link].1974
3. Penguji III:
dr. Elpiani Br Depari, [Link] (………………..)
NPP. [Link].1986

Disahkan oleh :

Dekan Kepala Program Studi

[Link] Rahmadani Sitepu, [Link], [Link]., dr. Nur Afni H.O, [Link]
[Link].,FISPH.,FISCM NPP. [Link].1987
NPP. [Link].1984

iii
PERNYATAAN PROPOSAL

Proposal dengan judul :

KORELASI PARAMETER INFLAMASI DAN UREUM


PRE-HEMODIALISIS DENGAN PERUBAHAN HEMOGLOBIN PADA
PASIEN YANG MENDAPAT TERAPI ERYTHROPOIESIS STIMULATING
AGENT

Dengan ini saya menyatakan bahwa proposal ini merupakan hasil karya saya
sendiri dan tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar
akademik pada suatu perguruan tinggi mana pun. Sepanjang pengetahuan saya,
tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang
lain, kecuali yang secara tertulis telah diacu dalam naskah ini dan dicantumkan
dalam daftar pustaka.

Lubuk Pakam, 13 Juni 2026


Peneliti

Hasica Salsabila Arzli

iv
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan proposal
penelitian skripsi ini dengan baik. Proposal penelitian ini disusun sebagai salah satu
syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Studi Sarjana Kedokteran di Institut
Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
Dalam proses penyusunan proposal penelitian ini, peneliti menyadari bahwa
banyak pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, dukungan, serta doa
sehingga proposal ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
peneliti menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Drs. Johannes Sembiring, M. Pd., M. Kes. selaku Ketua Yayasan Medistra
Lubuk Pakam yang telah memberikan dukungan dalam proses pendidikan dan
penyusunan proposal penelitian ini.
2. Dr. Rahmad Gurusinga, [Link]., Ns., [Link]. selaku Rektor Institut Kesehatan
Medistra Lubuk Pakam yang telah memberikan kesempatan, arahan dan
dukungan kepada peneliti dalam menempuh pendidikan.
3. Dr. dr. Rahmadani Sitepu, S. Pd., M. Kes., Sp. KKLP., FISPH., FISCM.
selaku Dekan Fakultas Kedokteran Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
yang telah memberikan kesempatan, arahan dan fasilitas kepada penulis
dalam menempuh pendidikan.
4. dr. Arif Sujatmiko, [Link], selaku Direktur Utama Rumah Sakit Granmed
Lubuk Pakam, yang telah memberikan ijin bagi peneliti untuk melakukan
penelitian di Rumah Sakit yang bapak pimpin.
5. dr. Nur Afni Heriyanti Octavia, [Link] selaku Kepala Program Studi
Fakultas Kedokteran Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam yang telah
memberikan kesempatan, arahan dan fasilitas kepada peneliti dalam
menempuh pendidikan.
6. dr. Elpiani Br Depari, M. Biomed. selaku dosen pembimbing yang telah
meluangkan waktu, tenaga, pikiran, serta memberikan arahan, masukan, dan

v
bimbingan dengan penuh kesabaran selama proses penyusunan proposal
penelitian ini.
7. Dr. Barita Aritonang, [Link]. selaku dosen penguji pertama yang telah
meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menguji serta memberikan
kritik, saran, masukan, dan bimbingan proses penyusunan proposal penelitian
ini.
8. Dr. Bd. Elvi Era Liesmayani, [Link].T., [Link]. selaku dosen penguji kedua yang
telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menguji serta memberikan
kritik, saran, masukan dan bimbingan proses penyusunan proposalpenelitian
ini.
9. Kedua orang tua dan keluarga tercinta yang senantiasa memberikan doa, kasih
sayang, dukungan moral maupun material, serta memberikan semangat yang
tiada henti kepada peneliti selama proses penyusunan proposal penelitian ini.
10. Seluruh teman-teman seperjuangan Fakultas Kedokteran Institut Kesehatan
Medistra Lubuk Pakam angkatan 2023 yang selalu memberikan dukungan,
bantuan, masukan dan saran dalam penyusunan proposal ini kepada peneliti.
11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
dalam penyusunan skripsi ini.
Peneliti menyadari bahwa proposal penelitian ini masih memiliki kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun demi penyempurnaan proposal penelitian ini. Akhir kata, peneliti
berharap semoga proposal penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kedokteran.

Lubuk Pakam, 13 Juni 2026


Peneliti

Hasica Salsabila Arzli

vi
vii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................v


DAFTAR ISI ................................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. viii
DAFTAR TABEL .........................................................................................................ix
DAFTAR SINGKATAN ............................................................................................... x
BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................................1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................4
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................................................4
1.3.1 Tujuan Umum ...............................................................................................5
1.3.2 Tujuan Khusus ..............................................................................................5
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................... 5
1.4.1 Manfaat Akademis ....................................................................................... 5
1.4.2 Manfaat Klinis ..............................................................................................5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 6
2.1 Penyakit Ginjal Kronis .........................................................................................6
2.2 Anemia ................................................................................................................. 7
2.3 Eritropoietin dan Respon Terapi Erythropoiesis Stimulating Agent (ESA) ....... 8
2.4 Inflamasi pada PGK ...........................................................................................10
2.5 Dampak Inflamasi Terhadap Anemia ................................................................ 12
2.6 Marker Inflamasi ................................................................................................12
2.6.1 Red cell distribution width .........................................................................12
2.6.2 Neutrophil-lymphocyte ratio (NLR) ..........................................................14
2.7 Ureum .................................................................................................................14
2.8 Kerangka Teori ...................................................................................................16
2.9 Kerangka Konsep ...............................................................................................17
2.10 Hipotesis Penelitian ......................................................................................... 17
BAB 3 METODE PENELITIAN .............................................................................. 18

vii
3.1 Desain Penelitian ............................................................................................... 18
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................................ 18
3.3 Populasi dan Sampel ..........................................................................................18
3.3.1 Populasi Penelitian .....................................................................................18
3.3.2 Sampel Penelitian .......................................................................................18
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ............................................................................. 18
3.4.1 Kriteria Inklusi ........................................................................................... 18
3.4.2 Kriteria Eksklusi .........................................................................................19
3.5 Variabel Penelitian ............................................................................................. 19
3.5.1 Variabel Independen ...................................................................................19
3.6 Definisi Operasional .......................................................................................... 19
3.7 Cara Pengumpulan Data .................................................................................... 20
3.8 Pengolahan dan Analisis Data ........................................................................... 20
3.9 Alur Penelitian ................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 23

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori ........................................................................................ 16


Gambar 2.2 Kerangka konsep ...................................................................................... 17
Gambar 3.1 Alur Penelitian ......................................................................................... 22

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian ..................................................... 19

ix
DAFTAR SINGKATAN

PGK : Penyakit Ginjal Kronis


RDW : Red Cell Distribution Width
NLR : Neutrophil-lymphocyte Ratio
ESA : Erytropoiesis Stimulating Agent
IL-6 : Interleukin-6
TNF-ɑ : Tumor Necrosis Factor-alpha
TGF-β : Tumor Growth Factor-beta
EPO : Erytropoietin
CRP : C-Reactive Protein
IL-1β : Interleukin-1beta
RBC : Red Blood Cell

x
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) telah menjadi salah satu ancaman kesehatan
masyarakat dengan angka morbiditas dan mortalitas yang terus meningkat secara
global. Sebagian besar pasien PGK memerlukan terapi hemodialisis untuk
mempertahankan fungsi ginjal. Berdasarkan data dari studi Global Burden of
Disease tahun 2017, PGK menempati urutan ke-12 penyebab kematian dunia
dengan sekitar 1,23 juta kematian langsung akibat PGK (Lancet, 2025). Pada
tahun 2021 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 673 juta kasus PGK di seluruh
dunia yang menyebabkan sekitar 1,5 juta kematian (Wang et al., 2025). Prevalensi
global pada PGK stadium 1-5 sebesar 13,4%. PGK menjadi beban besar terutama
di negara berkembang dan merupakan salah satu penyebab kematian yang terus
meningkat di dunia (Makmun et al., 2024).
Penyakit Ginjal Kronis di Amerika Serikat menjadi salah satu penyebab
utama penurunan kualitas hidup dan kematian. Data epidemiologi menunjukkan
bahwa jutaan penduduk Amerika mengalami PGK. Laporan dari United States
Renal Data System (USRDS) menunjukkan bahwa prevalensi PGK pada populasi
dewasa telah mencapai sekitar 14 -15%, dengan ratusan ribu pasien bergantung
pada Terapi Pengganti Ginjal, terutama hemodialisis reguler (Hidayangsih et al.,
2023; Johansen et al., 2025). Di kawasan Asia, angka kejadian PGK juga terus
meningkat berkisar antara 7,0% hingga 34,3%. Negara-negara Asia memiliki
beban PGK yang cukup tinggi dipimpin oleh Tiongkok dan India dengan estimasi
lebih dari 434,3 juta penderita dewasa dan sekitar 65,6 juta orang dengan PGK
stadium lanjut. akibat perubahan gaya hidup, peningkatan prevalensi penyakit
metabolik seperti diabetes dan hipertensi (Liyanage et al., 2021).
Penyakit Ginjal Kronis di Indonesia menjadi salah satu penyakit tidak
menular yang terus mengalami peningkatan prevalensi. Berdasarkan Data Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi PGK meningkat dari 0,2%
pada tahun 2013 menjadi 0,38% pada tahun 2018. Jumlah tersebut mencapai

1
peningkatan diagnosis klinis yang mencakup lebih dari 700 ribu penduduk
Indonesia (Sadikin, 2023). Menurut data Indonesian Renal Registry (IRR) dan
Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), jumlah pasien yang menjalani
hemodialisis terus meningkat setiap tahun. Hemodialisis menjadi terapi utama
pada pasien PGK stadium akhir untuk menggantikan fungsi filtrasi ginjal yang
telah menurun secara permanen. Pada tahun 2018 dilaporkan lebih dari 66 ribu
pasien menjalani terapi hemodialisis dan angka tersebut terus bertambah
(PERNEFRI, 2023; Sadikin, 2023).
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi Penyakit
Ginjal Kronis (PGK) di Sumatera Utara tercatat pada rentang 0,17% hingga
0,33% dari total penduduk, atau setara dengan kisaran 33.884 hingga 45.792 jiwa.
Kasus ini umumnya dipicu oleh penyakit penyerta seperti diabetes melitus dan
hipertensi (Sadikin, 2023).
Berdasarkan data di Rumah Sakit Grandmed pada bulan Januari 2026
terdapat 176 pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) yang menjalani hemodialisis
dan mengalami anemia.
Anemia merupakan salah satu komplikasi utama pada pasien PGK yang
menjalani hemodialisis. Anemia pada PGK terjadi akibat penurunan produksi
hormon eritropoietin oleh ginjal, inflamasi kronik, defisiensi besi, kehilangan
darah selama proses hemodialisis, serta penurunan usia eritrosit. Kondisi anemia
menyebabkan penurunan kapasitas pengangkutan oksigen ke jaringan sehingga
pasien sering mengalami lemah, mudah lelah, sesak napas, gangguan aktivitas,
hingga penurunan kualitas hidup. Selain itu, anemia yang tidak tertangani dengan
baik dapat meningkatkan risiko hipertrofi ventrikel kiri, gagal jantung, rawat inap
berulang, dan kematian pada pasien hemodialisis (Badura et al., 2024; Hasibuan
et al., 2024).
Dampak yang signifikan terhadap anemia pada pasien hemodialisis harus
mendapatkan terapi yang adekuat. Salah satu terapi utama adalah pemberian
Erythropoiesis-Stimulating Agent (ESA). ESA bekerja dengan merangsang
pembentukan eritrosit di sumsum tulang sehingga dapat meningkatkan kadar
hemoglobin pasien. Target terapi anemia pada pasien hemodialisis adalah
mempertahankan kadar hemoglobin agar pasien memiliki kualitas hidup yang

2
lebih baik serta menurunkan komplikasi kardiovaskular. Namun, respons terapi
ESA pada setiap pasien berbeda. Sebagian pasien menunjukkan peningkatan
hemoglobin yang baik, sedangkan sebagian lainnya mengalami hiporespons
terhadap ESA (Kurniawan & Hakam, 2026).
Salah satu faktor yang memengaruhi respons terapi ESA adalah inflamasi
kronik. Inflamasi dapat menghambat proses eritropoiesis melalui peningkatan
produksi sitokin proinflamasi dan hepsidin sehingga mengganggu metabolisme
besi dan menurunkan sensitivitas eritroid terhadap eritropoietin. Keadaan
inflamasi kronik juga sering ditemukan pada pasien hemodialisis akibat paparan
membran dialisis, infeksi kronik, stres oksidatif, dan akumulasi toksin uremik
(Badura et al., 2024; Portolés et al., 2021).
Red Cell Distribution Width (RDW) dan NeutrophilLymphocyte Ratio
(NLR) merupakan Parameter inflamasi yang banyak digunakan sebagai penanda
inflamasi sederhana dan mudah diperoleh dari pemeriksaan darah rutin. RDW
menggambarkan variasi ukuran eritrosit, sedangkan NLR mencerminkan
keseimbangan respon inflamasi dan imunologis tubuh. Peningkatan RDW dan
NLR dilaporkan berhubungan dengan inflamasi sistemik, anemia, serta prognosis
buruk pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis (Badura et al., 2024;
Handrean et al., 2025).
Kadar ureum pre-hemodialisis menjadi indikator penting pada pasien
hemodialisis. Tingginya kadar ureum mencerminkan akumulasi toksin uremik
akibat penurunan fungsi ginjal dan dapat memengaruhi proses eritropoiesis.
Toksin uremik diketahui mampu menekan fungsi sumsum tulang, memperpendek
usia eritrosit, serta memperburuk anemia pada pasien PGK. Oleh karena itu, kadar
ureum pre-hemodialisis diduga memiliki hubungan dengan perubahan kadar
hemoglobin pada pasien yang mendapatkan terapi ESA (Prodyanatasari &
Purnadianti, 2024; Suri et al., 2025).
Penelitian Badura et al., (2024) melaporkan bahwa inflamasi kronik
merupakan salah satu oenyebab utama gangguan eritropoiesis dan resistensi ESA
pada pasien PGK. Penelitian Chang et al., (2025) menunjukkan bahwa RDW dan
NLR berhubungan dengan inflamasi kronik dan gangguan hematopoiesis.
Penelitian Wathanavasin et al., (2026) menunjukkan bahwa inflamasi kronik dan

3
akumulasi toksin uremik memiliki hubungan dengan penurunan kadar
hemoglobin pada pasien hemodialisis. Namun, hasil penelitian terkait hubungan
parameter inflamasi dan ureum pre-hemodialisis dengan perubahan hemoglobin
pada pasien hemodialisis yang mendapat terapi ESA masih bervariasi. Selain itu,
penelitian mengenai faktor-faktor tersebut di Indonesia masih terbatas, padahal
jumlah pasien hemodialisis terus meningkat setiap tahun (Kurniawan & Hakam,
2026).
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang menganalisis hubungan
parameter inflamasi, seperti Red Cell Distribution Width (RDW) dan Neutrophil-
to-Lymphocyte Ratio (NLR), serta kadar ureum pre-hemodialisis dengan
perubahan hemoglobin pada pasien hemodialisis yang mendapatkan terapi
Erythropoiesis-Stimulating Agent (ESA). Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi ilmiah mengenai faktor-faktor yang memengaruhi
perubahan kadar hemoglobin pada pasien hemodialisis, sehingga dapat menjadi
dasar dalam evaluasi terapi anemia serta meningkatkan kualitas tatalaksana pasien
PGK.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Apakah terdapat hubungan antara Red Cell Distribution Width (RDW)
dengan perubahan kadar hemoglobin (ΔHb) pada pasien hemodialisis rutin
yang mendapat terapi ESA?
2. Apakah terdapat hubungan antara Neutrophil-Lymphosit Ratio (NLR)
dengan perubahan kadar hemoglobin (ΔHb) pada pasien hemodialisis rutin
yang mendapat terapi ESA?
3. Apakah terdapat hubungan antara kadar ureum pre-hemodialisis dengan
perubahan kadar hemoglobin (ΔHb) pada pasien hemodialisis rutin yang
mendapat terapi ESA?

4
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis hubungan parameter inflamasi dan kadar ureum pre-
hemodialisis terhadap perubahan kadar hemoglobin pada pasien hemodialisis.
1.3.2 Tujuan Khusus

1. Menganalisis hubungan antara Red Cell Distribution Width (RDW)


dengan perubahan kadar hemoglobin (ΔHb) pada pasien hemodialisis rutin
yang mendapat terapi ESA
2. Menganalisis hubungan antara Neutrophil-Lymphosit Ratio (NLR) dengan
perubahan kadar hemoglobin (ΔHb) pada pasien hemodialisis rutin yang
mendapat terapi ESA
3. Menganalisis hubungan antara kadar ureum pre-hemodialisis dengan
perubahan kadar hemoglobin (ΔHb) pada pasien hemodialisis rutin yang
mendapat terapi ESA

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah data ilmiah mengenai
hubungan marker inflamasi dan kadar ureum dengan perubahan hemoglobin pada
pasien hemodialisis, serta menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya di bidang
nefrologi.
1.4.2 Manfaat Klinis
Penelitian ini diharapkan dapat membantu klinisi dalam mengidentifikasi
faktor-faktor yang memengaruhi respons hemoglobin terhadap terapi ESA pada
pasien hemodialisis, sehingga dapat mendukung evaluasi dan tata laksana anemia
secara lebih optimal.

5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyakit Ginjal Kronis

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan kondisi yang ditandai dengan


penurunan fungsi ginjal secara progresif dan berlangsung lebih dari tiga bulan.
Penyakit ini ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (Estimated
Glomerular Filtration Rate; eGFR) hingga kurang dari 60 mL/menit/1,73m².
Penurunan tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan ginjal dalam
mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit, dan metabolisme tubuh
(Kalantar-Zadeh et al., 2021; Sadikin, 2023; Tonelli et al., 2026). Beberapa faktor
risiko diketahui berperan dalam terjadinya PGK, antara lain diabetes melitus,
hipertensi, dan glomerulonefritis, Infeksi atau obstruksi saluran kemih, penyakit
ginjal polikistik, dan riwayat keluarga dengan PGK juga meningkatkan risiko
terjadinya penyakit ini. Faktor lain seperti usia lebih dari 40 tahun dan obesitas
turut berkontribusi terhadap perkembangan PGK (Firmansyah, 2022; Nur et al.,
2025; Sadikin, 2023).
PGK diklasifikasikan berdasarkan kerusakan struktur dan fungsi ginjal
yang dinilai melalui penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR). Pada stadium I,
fungsi ginjal masih dapat normal dengan GFR ≥90 mL/menit/1,73 m², namun
telah ditemukan abnormalitas pada parameter urin atau struktur ginjal. Stadium II
ditandai dengan penurunan fungsi ginjal ringan dengn GFR 60–89 mL/menit/1,73
m² dan abnormalitas struktur dan parameter urin. Stadium III terbagi menjadi IIIa
dengan GFR 45–59 mL/menit/1,73 m² dan IIIb dengan GFR 30–44
mL/menit/1,73 m², diikuti stadium IV dengan penurunan fungsi ginjal berat
dengan GFR 15–29 mL/menit/1,73 m². Stadium V merupakan stadium akhir dan
dikenal sebagai kondisi gagal ginjal dengan GFR <15 mL/menit/1,73 m² (Levin &
E. Stevens, 2024; Sadikin, 2023).

6
Pada tahap awal patofisiologi penyakit ginjal kronik tergantung pada
penyakit yang mendasarinya, namun mekanisme kerusakan hampir sama pada
tahap lanjut. Masa ginjal mengalami penurunan, sehingga menyebabkan nefron
yang masih berfungsi memberikan reaksi kompensasi berupa hipertrofi, dan
kondisi ini dimediasi oleh zat vasoaktif, sitokin, dan faktor pertumbuhan seperti
transforming growth factor-β (TGF-β). Kondisi ini mengakibatkan peningkatan
tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus. Adaptasi ini awalnya
mempertahankan fungsi ginjal, namun jika terus berlanjut kemudian dapat
memicu sklerosis nefron. Kerusakan diperberat oleh aktivasi sistem renin-
angiotensin-aldosteron intrarenal. Progresifitas penyakit juga dipengaruhi faktor
lain seperti albuminuria, hipertensi, hiperglikemia, dan dislipidemia (Abdullah et
al., 2021; Anggraini, 2022; Gliselda, 2021).
Penatalaksanaan PGK bertujuan untuk memperlambat progresivitas
penyakit, menangani komplikasi, dan memberikan terapi pengganti ginjal pada
stadium akhir. Penanganan umumnya meliputi pengendalian tekanan darah dan
kadar glukosa darah, pemberian obat pengikat fosfat, penggunaan erythropoiesis-
stimulating agent (ESA), dan suplementasi zat besi. Modifikasi gaya hidup yang
dapat dianjurkan adalah diet rendah garam atau protein, berhenti merokok, dan
olahraga teratur. Pada stadium akhir, terapi pengganti ginjal dapat berupa
transplantasi ginjal, dialisis peritoneal, atau hemodialisis (Gliselda, 2021; Levin &
E. Stevens, 2024; Sadikin, 2023).

2.2 Anemia

Anemia merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada


penyakit ginjal kronik, yang ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin,
menurut World Health Organization (WHO) Hemoglobin (Hb) <12g/dl (<120g/l)
untuk wanita dan <13 g/dl (<130 g/l) untuk laki laki (Badura et al., 2024; Salwani
et al., 2023; Tonelli et al., 2026). Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai
faktor, seperti defisiensi eritropoetin, defisiensi zat besi, inflamasi kronis,
peningkatan kadar hepcidin, serta gangguan sumsum tulang (Badura et al., 2024;
Salwani et al., 2023; Tonelli et al., 2026).

7
Defisiensi eritropoetin merupakan penyebab utama anemia pada penyakit
ginjal kronik, yaitu suatu hormon penting yang produksinya menurun akibat
kerusakan ginjal. Eritropoetin berperan merangsang pembentukan eritrosit di
sumsum tulang, sehingga penurunan hormon ini akan mengganggu proses
eritropoiesis dan memicu terjadinya anemia. Kondisi ini diperparah oleh inflamasi
kronis yang sering terjadi pada pasien PGK, dimana kadar hepcidin meningkat
dan menghambat pelepasan cadangan zat besi, sehingga memperburuk anemia
(Bila et al., 2025; Salwani et al., 2023; Syed Ahmad Shah et al., 2025). Faktor lain,
seperti defisiensi vitamin D3 juga memiliki keterkaitan dengan anemia pada
penderita PGK. Vitamin D3 memiliki peranan dalam pengaturan eritropoiesis,
oleh karena itu, kekurangan vitamin D3 berpotensi memperburuk gangguan
sistem imun dan meningkatkan proses inflamasi pada pasien yang mengalami
penyakit ginjal kronis. Selain itu, pada pasien dengan PGK, ketidakseimbangan
metabolik, seperti hiperparatiroidisme dan hipermagnesemia, berpotensi
mempengaruhi kadar hemoglobin (Bila et al., 2025).
Anemia pada penyakit ginjal kronik dapat menurunkan kualitas hidup
serta meningkatkan risiko morbiditas pasien. Kondisi ini meningkatkan beban
kerja jantung sehingga memicu berbagai komplikasi kardiovaskular, seperti
hipertrofi ventrikel kiri, gagal jantung, dan penyakit jantung koroner. Komplikasi
kardiovaskular tersebut selanjutnya berkontribusi terhadap peningkatan risiko
kematian pasien PGK (Salwani et al., 2023; Syed Ahmad Shah et al., 2025).

2.3 Eritropoietin dan Respon Terapi Erythropoiesis Stimulating Agent (ESA)

Eritropoietin (EPO) adalah hormon glikoprotein yang berperan untuk


menstimulasi eritropoiesis. Hormon ini terutama disintesis di jaringan ginjal
sebagai respons terhadap kondisi hipoksia jaringan (Alshamsi, 2022). Bagian
ginjal penghasil utama eritropoietin adalah sel interstisial peritubular tipe I yang
berada di korteks atau di lapisan luar medula, diantara membran basolateral dari
tubulus proksimal dan kapiler peritubular (Nasution et al., 2024). Hormon EPO
yang sudah disintesis kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah, menuju
sumsum tulang, dan berikatan dengan reseptor EPO pada sel progenitor eritroid.

8
Ikatan ini mengaktifkan jalur pensinyalan intraseluler, yang mendorong
proliferasi dan diferensiasi prekusor eritroid serta mengurangi apoptosis, sehingga
pada akhirnya meningkatkan produksi eritrosit (Nasution et al., 2024; Shah et al.,
2025). Pasien PGK mengalami penurunan produksi eritropoetin akibat kerusakan
ginjal, sehingga akan menghambat eritropoesis dan terjadi anemia normositik
normokromik (Shah et al., 2025).
Erythropoiesis-stimulating agents (ESA) merupakan terapi utama dalam
pengobatan anemia pada PGK. ESA menstimulasi eritropoiesis melalui
peningkatan proliferasi dan pematangan sel progenitor eritroid, yang kemudian
meningkatkan jumlah eritrosit. ESA adalah bentuk rekombinan dari eritropoietin
(EPO) yang diproduksi secara sintetik menggunakan teknologi DNA rekombinan
dalam sistem kultur sel. Kategori ESA mencakup epoetin alfa, darbepoetin, dan
metoksi polietilen glikol-epoetin beta. Terapi ini dapat memperbaiki anemia pada
pasien PGK sehingga mengurangi kebutuhan transfusi darah (Aulia et al., 2024;
Salwani et al., 2023).
Respons pasien terhadap terapi ESA sangat bervariasi. Faktor yang
memengaruhi respons terapi meliputi status inflamasi kronik, defisiensi besi
absolut maupun fungsional, malnutrisi, hiperparatiroidisme sekunder, serta
akumulasi toksin uremik (Putri et al., 2020). Pada kondisi inflamasi terjadi
peningkatan sitokin proinflamasi seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis
factor-alpha (TNF-α), yang dapat mengganggu keseimbangan zat besi melalui
produksi hepsidin. Hepsidin menghambat penyerapan zat besi di usus dan
membatasi pelepasan zat besi dari tempat penyimpanan, sehingga mengurangi
ketersediaan zat besi untuk produksi eritrosit yang menyebabkan iron-restricted
erythropoiesis (defisiensi besi fungsional) meskipun cadangan besi yang adekuat
(Shah et al., 2025). Inflamasi juga menurunkan respons sumsum tulang terhadap
eritropoietin, meningkatkan stres oksidatif, dan memperpendek umur eritrosit,
sehingga menghambat kenaikan hemoglobin setelah pemberian ESA (Giovanni et
al., 2026).
Tingkat uremia meningkat seiring dengan progresi kerusakan ginjal.
Ureum yang meningkat bersifat toksik bagi sumsum tulang, sehingga
menghambat proses eritropoesis dan berhubungan dengan memendeknya umur

9
eritrosit akibat peningkatan fragilitas membran sel. Kondisi ini juga
meningkatkan inflamasi sistemik yang memicu resistensi eritropoietin endogen
(Amalia & Ratih, 2025). Gangguan mobilitas zat besi dapat mengganggu
eritropoesis sehingga ukuran eritrosit yang beredar menjadi tidak seragam dan
ditandai dengan peningkatan nilai RDW. Peningkatan RDW juga dapat
dipengaruhi oleh peningkatan kadar hepsidin akibat respons terhadap IL-6,
sehingga memengaruhi maturasi eritrosit serta menurunkan ekspresi reseptor
eritropoetin (Safitri et al., 2022).
Evaluasi respons ESA umumnya dilakukan dengan melihat perubahan
kadar hemoglobin dalam periode tertentu setelah terapi. Frekuensi hemodialisis
yang adekuat akan mengontrol kadar ureum sehingga hemoglobin yang lebih
stabil (Amalia & Ratih, 2025). Ada kecenderungan hubungan lama pasien
menjalani hemodialisis dengan penurunan kadar hemoglobin, sel eritrosit bisa
mengalami kerusakan selama menjalani hemodialisis. Oleh karena itu, kondisi
anemia yang dialami oleh penderita gagal ginjal kronik bukan hanya disebabkan
oleh penurunan produksi eritropoietin, tetapi juga akibat kerusakan sel darah
merah yang terjadi selama proses hemodialisis (Fatarona & Kholifah, 2024).

2.4 Inflamasi pada PGK

Inflamasi merupakan respons tubuh terhadap kerusakan sel atau penyakit


tertentu pada penyakit ginjal kronik (PGK) dapat berlangsung terus-menerus dan
berkembang menjadi inflamasi kronis. Selain sebagai respons terhadap kerusakan
jaringan, inflamasi juga merupakan bagian dari proses patofisiologi PGK, yang
memicu berbagai komplikasi, seperti penyakit kardiovaskular, gangguan mineral
dan tulang, anemia, serta penurunan kualitas hidup, dengan derajat inflamasi yang
semakin meningkat pada stadium lanjut (stadium 4–5) (Henein et al., 2022; Yan &
Shao, 2024).
Inflamasi sistemik pada Penyakit Ginjal Kronis (PGK) ikut serta dalam
timbulnya anemia. Peningkatan penanda inflamasi seperti protein C-reactive
(CRP) dan interleukin-6 (IL-6) telah menjadi indikator adanya inflamasi yang
persisten. Inflamasi ini memengaruhi jalur metabolisme zat besi melalui

10
peningkatan kadar hepcidin. Hepcidin berfungsi menghambat absorpsi zat besi di
saluran pencernaan serta pelepasan zat besi dari makrofag, yang kemudian
mengakibatkan defisiensi zat besi fungsional walaupun jumlah total zat besi
dalam tubuh mencukupi (Bila et al., 2025).
Salah satu bentuk inflamasi yang sering terjadi pada PGK adalah inflamasi
sistemik derajat rendah, yaitu inflamasi ringan yang berlangsung lama dan
berhubungan dengan peningkatan morbiditas serta mortalitas, terutama akibat
stres oksidatif yang memicu kerusakan pada organ dengan aktivitas metabolik
tinggi seperti ginjal dan jantung. Inflamasi yang tidak terkontrol dapat
menyebabkan kerusakan endotel, infiltrasi sel imun, dan aktivasi trombosit yang
meningkatkan kejadian aterosklerosis serta membuat plak menjadi tidak stabil
sehingga berpotensi memicu infark miokard atau stroke (Henein et al., 2022).
Selain itu, penurunan fungsi ginjal juga mengurangi kemampuan tubuh untuk
mengeliminasi mediator inflamasi seperti C-reactive protein (CRP), fibrinogen,
interleukin-6 (IL-6), tumor necrosis factor-α (TNF-α), dan interleukin-1β (IL-1β),
sehingga memperberat kondisi inflamasi pada pasien PGK (Tinti et al., 2021).
Kondisi uremia pada PGK juga memicu inflamasi sistemik, karena menyebabkan
disbiosis mikrobiota usus dan kerusakan sawar usus ("leaky gut") juga
memungkinkan translokasi bakteri serta endotoksin ke dalam sirkulasi darah,
yang kemudian memicu respons imun sistemik (Yan dan Shao, 2024).
Faktor eksternal seperti gaya hidup sedenter yang memicu penumpukan
lemak visceral juga diidentifikasi sebagai pendorong utama inflamasi kronis pada
pasien PGK. Proses hemodialisis juga dapat memicu potensi terjadinya inflamasi
dalam tubuh, karena darah mengalir di luar tubuh selama proses berlangsung.
Kontak darah dengan alat memicu aktivasi sistem imun, seperti respon terhadap
benda asing, kemudian melepaskan mediator inflamasi. Inflamasi dari risiko
infeksi dapat terjadi karena penusukan pembuluh darah saat pemasangan akses
hemodialisis. Thrombosis yang terjadi saat proses hemodialisis juga akan memicu
reaksi inflamasi. Inflamasi pada PGK dapat diperiksa melalui peningkatan kadar
CRP dan IL-6, serta kadar albumin yang rendah. Kondisi ini dapat meningkatkan
risiko komplikasi dan kematian pada pasien PGK (Campo et al., 2022).

11
2.5 Dampak Inflamasi Terhadap Anemia

Inflamasi yang sering terjadi pada pasien penyakit ginjal kronik berperan
penting dalam terjadinya anemia. Mediator inflamasi seperti interleukin-1 (IL-1),
interleukin-6 (IL-6), transforming growth factor-β (TGF-β), dan tumor necrosis
factor-α (TNF-α) dapat menghambat produksi eritropoetin (EPO), yaitu hormon
yang normalnya meningkat sebagai respons terhadap kondisi hipoksia untuk
merangsang pembentukan eritrosit. Akibatnya, produksi EPO menjadi menurun
dan pada sebagian pasien juga terjadi penurunan respons sumsum tulang terhadap
EPO meskipun kadarnya cukup. Hal ini membatasi ketersediaan eritrosit untuk
sintesis hemoglobin, yang pada akhirnya menyebabkan anemia (Portolés et al.,
2021).
Proses inflamasi merangsang sel imun (seperti makrofag dan limfosit T)
untuk melepaskan sitokin proinflamasi, terutama Interleukin-6 (IL-6). IL-6
kemudian bertindak sebagai mediator utama yang menginduksi hati untuk
memproduksi hormon hepsidin dalam jumlah tinggi, Kadar hepsidin yang tinggi
menyebabkan degradasi ferroportin. Hal ini mengakibatkan penyerapan besi di
usus halus (duodenum) terhambat dan menurunkan pelepasan cadangan zat besi
dari makrofag ke dalam sirkulasi, sehingga zat besi terperangkap di dalam sel
penyimpanan dan tidak bisa digunakan untuk pembentukan eritrosit dan pada
akhirnya memperburuk terjadinya anemia pada pasien (Portolés et al., 2021;
Prebawa & Suega, 2023; Rorimpandey et al., 2023).

2.6 Marker Inflamasi


2.6.1 Red cell distribution width
Red Cell Distribution Width (RDW) adalah parameter hematologi yang
sederhana dan mendasar yang menunjukkan perbedaan ukuran eritrosit dalam
darah, serta mendekati kriteria parameter laboratorium yang ideal. RDW awalnya
digunakan dalam pemeriksaan hematologi untuk membedakan beberapa jenis
anemia, karena ukuran rata-rata eritrosit merupakan petunjuk dalam mebedakan
penyakit anemia. RDW yang tinggi menunjukkan variasi ukuran eritrosit yang
besar disebut sebagai anisitosis, sedangkan RDW yang rendah menunjukkan

12
populasi ukuran eritrosit yang lebih homogen (García-Escobar et al., 2024;
Maruyama & Nakashima, 2023).
Nilai normal RDW sekitar 11,5% – 14,5%. RDW mengukur variasi
ukuran eritrosit dan meningkat pada anemia defisiensi besi, defisit folat/B12,
sindrom mielodisplastik, talasemia, transfusi, hemoglobinopati, autoimun, dan
kanker. Nilai RDW pada PGK yang tinggi dapat disebabkan inflamasi kronik dan
gangguan produksi eritrosit (Pusparani et al., 2021).
Terdapat berbagai mekanisme yang mengakibatkan terjadinya anisitosis
pada pasien dengan penyakit ginjal. Saat tubuh mengalami inflamasi, sitokin
proinflamasi seperti (TNF-α), (IL1β), dan (IL-6) mengganggu metabolisme zat
besi, memperpendek umur eritrosit dan mengganggu proses pembentukan eritrosit
di sumsum tulang, akibatnya eritrosit yang dihasilkan memiliki variasi ukuran
besar dan kecil. Ketidakseragaman ukuran eritrosit ini mengakibatkan
peningkatan nilai RDW. Defisiensi eritropoietin mengakibatkan penurunan
produksi Red Blood Cell (RBC) sehingga ukuran RBC lebih kecil, yang
meningkatkan RDW. Defisiensi zat besi pada PGK, menyebabkan gangguan
sintesis hemoglobin, menghasilkan RBC yang mikrositik dan hipokromik yang
meningkatkan RDW. Selain itu, hepsidin, hormon yang diproduksi hati dan
berperan dalam mengatur absorpsi serta pelepasan zat besi, sering meningkat pada
penyakit ginjal akibat inflamasi. Hal ini menurunkan ketersediaan zat besi,
semakin mengganggu eritropoiesis, dan berkontribusi terhadap anisitosis.
Defisiensi vitamin pada CKD akibat status nutrisi yang buruk termasuk
kekurangan zat besi, asam folat, dan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia
mikrositik atau makrositik yang secara signifikan meningkatkan RDW.
Hemodialisis pada pasien PGK lanjut dapat menyebabkan hemolisis, dan
meningkatkan pelepasan RBC yang belum berkembang. Selain itu, respons
inflamasi akibat dialisis juga dapat semakin mengganggu eritropoiesis dan
berkontribusi terhadap anisitosis. Terakhir, penurunan penghantaran oksigen
akibat anemia dan gangguan eritropoiesis akan merangsang pelepasan RBC yang
belum berkembang dari sumsum tulang sebagai kompensasi terhadap
berkurangnya kapasitas pengangkutan oksigen, sehingga turut meningkatkan
RDW (Giamouzis et al., 2024).

13
2.6.2 Neutrophil-lymphocyte ratio (NLR)
Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) merupakan rasio antara jumlah
neutrophil dan limfosit, yang dihitung pada pemeriksaan darah tepi. Parameter ini
dapat menjadi marker inflamasi karena mengkonjugasikan dua sel imun bawaan
dan adaptif. Nilai normal berkisar 1-2, pada nilai yang lebih dari 3 dan dibawah
0,7 menandakan hal patologis pada orang dewasa (Abdullah et al., 2024).
Saat jumlah neutrofil meningkat, sel ini akan melepaskan berbagai zat
inflamasi yang dapat merusak atau melemahkan dinding pembuluh darah,
sehingga pembuluh darah mengalami kerusakan atau penyempitan. Sebaliknya,
limfosit juga memiliki fungsi yang berbeda. Limfosit membantu mengatur dan
mengendalikan respon inflamasi agar tidak berlebihan. Limfosit juga memiliki
efek melindungi pembuluh darah dari proses aterosklerosis. Kalau nilai NLR
tinggi maka jumlah neutrofil meningkat (inflamasi meningkat), dan jumlah
limfosit menurun (perlindungan terhadap pembuluh darah berkurang). Kondisi ini
menunjukkan adanya inflamasi yang lebih berat di dalam tubuh (Akmal et al.,
2024).
Nilai NLR pada pasien PGK mewakili status inflamasi dan NLR dianggap
sebagai penanda prognostik komplementer untuk mengevaluasi risiko
kardiovaskular pada PGK tahap 3 hingga 5. Peningkatan jumlah neutrofil disertai
dengan penurunan jumlah limfosit dapat memprediksi kematian pada pasien yang
menjalani hemodialisis (Rahar et al., 2021).

2.7 Ureum

Ureum merupakan produk akhir dari metabolisme protein dan asam amino
yang diproduksi oleh hati, dan diekskresikan rata – rata 30g dalam satu hari.
Kadar ureum yang normal dalam darah berkisar antara 15-43 mg/dL (Iziana et al.,
2024). Pada PGK terjadi gangguan pembuangan ureum, sehingga menumpuk di
dalam darah dan menimbulkan uremia. Kondisi ini merupakan kondisi yang
berbahaya karena dapat menyebabkan sindroma uremik yang apabila tidak
ditangani menimbulkan kematian (Nuroini & Wijayanto, 2022; Syuryani et al.,
2021).

14
Upaya dalam menurunkan kadar ureum yang tinggi tentunya dengan
memperbaiki fungsi ginjal agar kembali normal. Pasien PGK yang sudah
mencapai stadium akhir (stage 5) atau pada ginjal yang tidak berfungsi dengan
baik sehingga membutuhkan cara untuk membuang zat- zat sisa memerlukan
terapi pengganti ginjal. Terapi yang dapat menggantikan fungsi ginjal tersebut
dapat berupa hemodialisis (cuci darah) ataupun transplantasi ginjal
(pencangkokan). Hemodialisis sendiri merupakan terapi yang menggunakan alat
khusus dengan tujuan mengeluarkan toksin uremik dan mengatur cairan akibat
penurunan laju filtrasi glomerulus dengan mengambil alih fungsi ginjal yang
menurun (Malfica et al., 2023).
Pada PGK kemampuan ginjal untuk menyaring darah menurun. Akibatnya,
berbagai zat sisa metabolisme seperti ureum dan kreatinin menumpuk di dalam
darah (uremia). Kadar ureum yang tinggi biasanya menunjukkan bahwa fungsi
ginjal menurun, tapi juga bisa mengganggu pembentukan eritrosit. Kondisi
uremia bisa mengganggu kerja sumsum tulang, Akibatnya, proses pembentukan
eritrosit menjadi terhambat. Selain itu, ureum yang tinggi juga bisa membuat
eritrosit lebih mudah rusak. Kondisi uremia juga dapat meningkatkan inflamasi
dalam tubuh. Inflamasi ini menyebabkan tubuh jadi kurang responsif terhadap
hormon eritropoietin (EPO). Karena itu, pada pasien PGK dengan kadar ureum
tinggi, kadar hemoglobinnya biasanya lebih rendah, apalagi kalau terapi dialisis
tidak dilakukan secara teratur, kadar ureum dalam darah bisa naik turun. Hal ini
bisa membuat penumpukan toksin jadi semakin tinggi pada pasien PGK
berhubungan dengan kelebihan cairan dalam tubuh (hiperhidrasi), gangguan
elektrolit, dan asidosis metabolik. Kondisi ini dapat memperburuk anemia secara
tidak langsung (Amalia et al., 2025; Hamza et al., 2020).

15
2.8 Kerangka Teori

Gambar 2.1 Kerangka Teori (Badura et al., 2024; Handrean et al., 2025)

16
2.9 Kerangka Konsep

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

2.10 Hipotesis Penelitian

H0: Tidak terdapat korelasi antara parameter inflamasi dan kadar ureum pre
– hemodialisis dengan perubahan hemoglobin pada pasien hemodialisis yang
mendapat terapi ESA.
H1: Terdapat korelasi antara paramter inflamasi dan kadar ureum pre –
hemodialisis dengan perubahan hemoglobin pada pasien hemodialisis yang
mendapat terapi ESA.

17
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian akan dilakukan menggunakan desain penelitian observasional


analitik dengan pendekatan kohort retrospektif. Desain penelitian ini digunakan
untuk menganalisis korelasi antara parameter inflamasi (Red Cell Distribution
Width/RDW dan Neutrophil-Lymphocyte Ratio/NLR) dan kadar ureum pre-
hemodialisis dengan perubahan hemoglobin pada pasien hemodialisis rutin yang
mendapat terapi Erythropoiesis-Stimulating Agent (ESA).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan di Unit Hemodialisis RS Grandmed Lubuk


Pakam. Data demografi, klinis dan laboratorium akan diambil dari rekam medis
pasien, sejak bulan Mei sampai Juli 2026.

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien
penyakit ginjal kronik (PGK) yang menjalani hemodialisis rutin di Unit
Hemodialisis RS Grandmed.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian akan diambil menggunakan teknik total sampling, yaitu
seluruh pasien Penyakit Ginjal Kronik yang menjalani hemodialisis rutin dan
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi selama periode penelitian.

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


3.4.1 Kriteria Inklusi
1) Pasien menjalani hemodialisis rutin ≥ 3 bulan
2) Mendapatkan terapi ESA secara rutin setiap kali Hemodialisis

18
3) Memiliki data RDW, hitung jenis leukosit, ureum pre-HD, dan
hemoglobin selama dua bulan berturut-turut
4) Saturasi Transferin (TSAT) ≥ 20%
3.4.2 Kriteria Eksklusi
1) Pasien dengan infeksi akut dalam periode penelitian
2) Pasien yang mendapat transfusi darah dalam 1 bulan pengamatan
3) Pasien dengan perdarahan aktif
4) Pasien rawat inap selama periode observasi
5) Data rekam medis tidak lengkap

3.5 Variabel Penelitian


3.5.1 Variabel Independen
1) Red Cell Distribution Width (RDW)
2) Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR)
3) Kadar ureum pre-hemodialisis
4) Perubahan kadar hemoglobin (ΔHb)
5) ΔHb dihitung dengan rumus = Hb bulan ke-1 – Hb bulan ke-0
3.5.2 Variabel Perancu
1) Usia
2) Lama menjalani Hemodialisis
3) Riwayat Diabetes mellitus

3.6 Definisi Operasional

Tabel 3.1 Defenisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel Definisi Cara Ukur Skala


Red Cell Nilai Red Cell Data rekam medis Numerik
Distribution Distribution Width
width dari pemeriksaan
darah lengkap bulan
awal

Neutrophil- Rasio neutrofil Data rekam medis Numerik


Lymphocyte absolut terhadap

19
Ratio limfosit absolut bulan
awal
Ureum pre- Kadar ureum sebelum Data rekam medis Numerik
hemodialisis tindakan hemodialisis
bulan awal (mg/dL)

Perubahan Selisih kadar Hb Perhitungan Numerik


Hemoglobin bulan ke-1 dan bulan
(ΔHb) ke-0 (baseline) (g/dL)

3.7 Cara Pengumpulan Data

Data penelitian akan diperoleh dari rekam medis pasien di unit


hemodialisis. Data yang akan dikumpulkan meliputi:
1. Peneliti akan mengidentifikasi pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi.
2. Data karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, lama menjalani hemodialisis)
3. Data baseline (bulan ke-0) RDW, NLR, Ureum pre-HD, kadar Hb akan
diambil dari rekam medis pasien dan kemudian dicatat.
4. Data Hb di bulan berikutnya (bulan ke-1) akan diambil dari rekam medis
dan kemudian dicatat.
5. Perubahan kadar Hb (ΔHb) akan dihitung, yaitu hasil selisih dari Hb bulan
ke-1 dengan bulan baseline (bulan ke-0), dan kemudian dicatat.
6. Semua data akan disajikan dalam tabel dan akan dianalisis secara statistik.

3.8 Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh akan disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel
dan dianalisis dengan Statistical package for the Social Sciences (SPSS). Sebelum
dilakukan uji korelasi, semua data akan dilakukan uji normalitas Kolmogorov-
Smirnov, karena data yang akan dianalisis lebih dari 50. Jika data berdistribusi
normal, maka uji korelasi yang akan digunakan Adalah uji korelasi Pearson. Jika
data tidak berdistribusi normal maka uji korelasi yang akan digunakan adalah uji
korelasi Spearman. Uji korelasi ini digunakan untuk menilai masing-masing

20
korelasi RDW, NLR dan Ureum pre-hemodialisis dengan perubahan hemoglobin
(ΔHb). Nilai p < 0,05 akan dianggap bermakna secara statistik.

3.9 Etika Penelitian

Penelitian ini akan diajukan untuk mendapatkan persetujuan dari Komite


Etik Penelitian Kesehatan Institut Kesehatan Medistra sebelum dilaksanakan.
Seluruh data pasien yang digunakan dalam penelitian ini akan dijaga
kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.

21
3.10 Alur Penelitian

Gambar 3.1 Alur Penelitian

22
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A., Abdullah, V., Syukri, M., & Salwani, D. (2024). Korelasi Rasio Netropil
Limfosit Terhadap Derajat Depresi pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang
Menjalani Hemodialisis. 7(2).
Abdullah, A., Salwani, D., Muhsin, M., Khairi, A. B., & Syukri, M. (2021). PUASA
RAMADHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP PROGRESIFITAS
PENYAKIT GINJAL KRONIK. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 21(3).
[Link]
Akmal, T. H., Susanto, A., Dewi, R. T. K., & Sunggoro, A. J. (2023). Hubungan Rasio
NeutroBl Limfosit terhadap Komplikasi Hubungan Rasio NeutroBl Limfosit
terhadap Komplikasi Kardiovaskular pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik
Hemodialisis Kardiovaskular pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Hemodialisis.
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 11(1).
Alshamsi, I. (2022). Extended Literature Review of the role of erythropoietin
stimulating agents (ESA) use in the management of post renal transplant anaemia.
Amalia, R., & Ratih, W. U. (2025). 1)Teknologi Laboratorium Medis, Ilmu Kesehatan,
Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia *Corresponding Author:
Rizka Amalia, Rizkaamalia0319@[Link]. 11(1).
Amalia, R., Ratih, W. U., & Suryanto, S. (2025). Hubungan Kadar Hemoglobin
Dengan Ureum Berdasarkan Frekuensi Hemodialisa Pada Pasien Gagal Ginjal
Kronik Di Rumah Sakit Soerojo Kota Magelang. Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan,
11 No 1.
Anastasya, C., Depari, E. B., Prasetyo, B., & Syahara, T. (2026). Distribusi Morfologi
Anemia Berdasarkan Indeks Eritrosit pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis yang
Menjalani Hemodialisis. MEDISTRA MEDICAL JOURNAL (MMJ), 3 no 2.
Anggraini, D. (2022). ASPEK KLINIS DAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM
PENYAKIT GINJAL KRONIK. An-Nadaa Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(2),
236. [Link]
Arriyani, F., & Wahyono, T. Y. M. (2023). Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronis pada
Kelompok Usia Dewasa : Literature Review: Risk Factors for Chronic Kidney
Disease in the Adult Age Group : Literature Review. Media Publikasi Promosi
Kesehatan Indonesia (MPPKI), 6(5), 788–797.
[Link]
Aulia, R. A., Mukti, A. W., & Sari, D. P. (2024). PENGGUNAAN
ERYTHROPOIETIN STIMULATING AGENT PADA PASIEN PENYAKIT
GINJAL KRONIS YANG MENJALANI HEMODIALISA. JURNAL
KESEHATAN TAMBUSAI, 5 No.3.
Badura, K., Janc, J., Wąsik, J., Gnitecki, S., Skwira, S., Młynarska, E., Rysz, J., &
Franczyk, B. (2024). Anemia of Chronic Kidney Disease—A Narrative Review of
Its Pathophysiology, Diagnosis, and Management. Biomedicines, 12(6), 1191.
[Link]
Bila, S., Evra, N. N., Putri, A. M., & Anggraini, D. (2025). Hubungan Antara Anemia
dan Fungsi Ginjal pada Pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis. Scientific Journal,
4(1), 06–14. [Link]

23
Campo, S., Lacquaniti, A., Trombetta, D., Smeriglio, A., & Monardo, P. (2022).
Immune System Dysfunction and Inflammation in Hemodialysis Patients: Two
Sides of the Same Coin. Journal of Clinical Medicine.
Carollo, C., Sorce, A., Mancia, E., Cirafici, E., & Ciuppa, M. E. (2025). Assessing the
Impact of Inflammation on Erythropoietin Resistance in Hemodialysis: The Role
of the NLR. Jounal Clinical of Medicine.
Chang, J., Qi, Z., Yin, X., Fang, X., & Sun, Q. (2025). The association between
neutrophil-to- lymphocyte ratio, platelet-to-lymphocyte ratio, red blood cell
distribution width, and physical function in elderly non-dialysis patients with
chronic kidney disease.
Dewi, N. W. A. M., Yenny, L. G. S., & Cahyawati, P. N. (2023). Hubungan Kadar
Kreatinin dan Ureum dengan Derajat Anemia pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik
di RSUD Sanjiwani Gianyar. Aesculapius Medical Journal, 3 No 1, 74–80.
Eka Safitri, D., Woelansari, E. D., & Suhariyadi. (2022). Relationship of Red Cell
Distribution Width (RDW) To the Results Total Iron Binding Capacity (TIBC) In
Chronic Kidney Failure Patients with Anemia. Medicra (Journal of Medical
Laboratory Science/Technology), 5(2), 109–114.
[Link]
Fatarona, A., & Kholifah, N. N. (2024). Relationship Of Hemodialysis Frequency
With Hemoglobin Levels In Patients With Chronic Renal Failure Or Chronic
Kidney Disease (Ckd) At Hospital in Jember Regency. Journal of Nursing
Periodic, 1(1), 41–46. [Link]
Faujiah, R. A., Wulandari, E. L., Setyawan, S., & Sukmagautama, C. (2026). Profil
Anemia pada Pasien Chronic Kidney Disease di Rumah Sakit Universitas Sebelas
Maret. Plexus Medical Journal, 4(6), 281–291.
[Link]
Firmansyah, J. (2022). FAKTOR RESIKO PERILAKU KEBIASAAN HIDUP YANG
BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GAGAL GINJAL KRONIK. Jurnal
Medika Hutama, 03 No 02.
García-Escobar, A., Lázaro-García, R., Goicolea-Ruigómez, J., González-Casal, D.,
Fontenla-Cerezuela, A., Soto, N., González-Panizo, J., Datino, T., Pizarro, G.,
Moreno, R., & Cabrera, J. Á. (2024). Red Blood Cell Distribution Width is a
Biomarker of Red Cell Dysfunction Associated with High Systemic Inflammation
and a Prognostic Marker in Heart Failure and Cardiovascular Disease: A Potential
Predictor of Atrial Fibrillation Recurrence. High Blood Pressure &
Cardiovascular Prevention, 31(5), 437–449. [Link]
00662-0
Giamouzis, G., Kourek, C., Magouliotis, D. E., Briasoulis, A., Zakynthinos, G. E.,
Sawafta, A., Iakovis, N., Afxonidis, G., Spiliopoulos, K., Triposkiadis, F.,
Athanasiou, T., Skoularigis, J., & Xanthopoulos, A. (2024). The Prognostic Role
of RDW in Hospitalized Heart Failure Patients with and Without Chronic Kidney
Disease. Journal of Clinical Medicine, 13(23), 7395.
[Link]
Giovanni, L. G. S., Ningrum Subadra, P. N. A., & Sutarka, I. N. (2026). Korelasi kadar
NLR dan kadar Hb pada pemberian terapi Erythropoietin Stimulating Agent (ESA)
pasien chronic kidney disease stage 5 on dialysis. Intisari Sains Medis, 17 No. 1,
219–224.

24
Gliselda, V. K. (2021). Diagnosis dan Manajemen Penyakit Ginjal Kronis (PGK).
Jurnal Medika Hutama, 02 No 04.
Hamza, E., Metzinger, L., & Metzinger-Le Meuth, V. (2020). Uremic Toxins Affect
Erythropoiesis during the Course of Chronic Kidney Disease: A Review. Cells,
9(9), 2039. [Link]
Handrean, G. E., Putra MN, I. M. M., & Pratama Putra, I. G. L. (2025). Patterns and
predictors of anaemia in haemodialysis patients: relationship with comorbidities
and dialysis exposure time. MEDISAINS JURNAL ILMIAH ILMU KESEHATAN,
23 no. 3, 165–170.
Hasibuan, S. F., Makmun, A., & Sukes, L. (2024). Profile of Anemia and the
Relationship between Hemoglobin Levels and Quality of Life in End-Stage
Chronic Kidney Disease Patients undergoing Chronic Hemodialysis at Hasan
Sadikin Hospital 2021-2022. 1(1).
Henein, M. Y., Vancheri, S., Longo, G., & Vancheri, F. (2022). The Role of
Inflammation in Cardiovascular Disease. International Journal of Molecular
Sciences, 23(21), 12906. [Link]
Hidayangsih, P. S., Tjandrarini, D. H., Sukoco, N. E. W., Sitorus, N., Dharmayanti, I.,
& Ahmadi, F. (2023). Chronic kidney disease in Indonesia: evidence from a
national health survey. PHRP OSONG PUBLIC HEALTH AND RESEARCH
PRESPECTIVES.
Hutasuhut, S. M., Nasution, A. T., & M. Feldy Gazaly Nasution. (2020). Correlation
between Red Cell Distribution Width (RDW) with Kidney Function and
Hematologic Parameters in Patients undergo Regular Hemodialysis. Journal of
Endocrinology, Tropical Medicine, and Infectiouse Disease (JETROMI), 2(4),
171–176. [Link]
Iziana, W. V., Widyantara, A. B., & Solikah, M. P. (2024). Hubungan Kadar Ureum
dan Kreatinin dengan Elektrolit Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik.
INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 4 No 6, 8902–8911.
Johansen, K. L., Gilbertson, D. T., Shuling Li, S. L., & Suying Li, S. L. (2025). US
Renal Data System 2024 Annual Data Report: Epidemiology of Kidney Disease in
the United States. 85(6).
Kalantar-Zadeh, K., Jafar, T. H., Nitsch, D., Neuen, B. L., & Perkovic, V. (2021).
Chronic kidney disease. The Lancet, 398(10302), 786–802.
[Link]
Kovesdy, C. P. (2021). Epidemiology of chronic kidney disease: an update 2022.
Kidney International Supplements.
Kurniawan, J. A., & Hakam, A. (2026). EVALUATION OF RENAL ANEMIA
THERAPY IN CHRONIC KIDNEY DISEASE PATIENTS UNDERGOING
HEMODIALYSIS IN HOSPITAL. Indonesian Journal of Global Health
Research, 8 nomor 1.
Lancet, L. (2025). Global, regional, and national burden of chronic kidneydisease in
adults, 1990–2023, and its attributable risk factors: a systematic analysis for the
Global Burden of Disease Study 2023. 406.
Levin, A., & E. Stevens, P. (2024). KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the
Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. 105(4S).

25
Liyanage, T., Toyama, T., Hockham, C., & Ninomiya, T. (2021). Prevalence of
chronic kidney disease in Asia: a systematic review and analysis. BMJ GLOBAL
HEALTH.
Makmun, A., Satirapoj, B., Tuyen, D. G., W. Y. Foo, M., Danguilan, R., Gulati, S.,
Kim, S., Bavanandan, S., Chiu, Y.-W., & C. W. T, S. (2024). The burden of
chronic kidney disease in Asia region: a review of the evidence, current
challenges, and future directions. KIDNEY RESEARCH AND CLINICAL
PRACTICE.
Malfica, M. J., Rosita, L., & Yuantari, R. (2023). Hubungan Ureum dan Kreatinin
Serum dengan Lamanya Terapi Hemodialisis pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis
(PGK) di RS PKU Bantul. 1 No 1, 8–18.
Maruyama, T., & Nakashima, K. (2023). Red cell distribution width in cardiac
diseases: Role of hemorheology and chronic inflammation. Journal of
Biorheology, 37(1), 13–20. [Link]
Marx-Schütt, K., Cherney, D. Z. I., Jankowski, J., Matsushita, K., Nardone, M., &
Marx, N. (2025). Cardiovascular disease in chronic kidney disease. European
Heart Journal, 46(23), 2148–2160. [Link]
Nasution, S. S., Kurniati, I., Ratna, M. G., & Ramadhian, M. R. (2024). Peran Anemia
sebagai Faktor Risiko Hipertensi Resisten pada Penyakit Ginjal Kronik. Medula,
14 No. 10.
Nur, M., Khalilah, N., Denta, A. O., & Mumpuningtias, E. D. (2025). Analisis Faktor
Risiko Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis. Wiraka
Medika: Jurnal Kesehatan, 15 No 1, 9–13.
Nuroini, F., & Wijayanto, W. (2022). GAMBARAN KADAR UREUM DAN
KREATININ PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DI RSU WIRADADI
HUSADA. JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH, 4
No 2.
Pandiangan, F. D. D. H. (2024). GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN PASIEN
GAGAL GINJAL KRONIK SESUDAH MELAKUKAN HEMODIALISIS.
Jurnal Medika Hutama, 02 No 04.
PERNEFRI, P. (2023). 13th ANNUAL REPORT OF INDONESIAN RENAL
REGISTRY 2020.
Portolés, J., Martín, L., Broseta, J. J., & Cases, A. (2021). Anemia in Chronic Kidney
Disease: From Pathophysiology and Current Treatments, to Future Agents.
Frontiers in Medicine, 8, 642296. [Link]
Prebawa, I. P. A. G., & Suega, K. (2023). CORRELATION OF C-REACTIVE
PROTEIN (CRP), AND INTERLEUKIN-6 (IL-6) WITH HEPCIDIN LEVELS
IN PATIENTS WITH ANEMIA OF CHRONIC DISEASE (ACD). AL-IQRA
MEDICAL JOURNAL : JURNAL BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN, 6 No 2, 1–
8.
Prodyanatasari, A., & Purnadianti, M. (2024). Hubungan Terapi Hemodialisa dengan
Kadar Hemoglobin dan Kreatinin Pasien Gagal Ginjal Kronik. Jurnal Sintesis, 5.
Pudjiastuty, D. R., Kurnia, D., Rustiana, T., Rukhiat, D., & Triana, N. (2026).
HUBUNGAN KADAR UREUM DENGAN HEMOGLOBIN PADA PASIEN
HEMODIALISIS RUTIN. 10 No 01.
Purnamasari, Y., Adhayanti, I., Tarigan, R. R., Lubis, M. R., Arto, N. S., & Youvella,
S. (2025). Hubungan Red Cell Distribution Width Terhadap Kadar Feritin dan

26
Total Iron Binding Capacity Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani
Hemodialisis. JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa, 4 No. 3.
Pusparani, C., Rahayuningsih, S. E., & Gurnida, D. A. (2021). Korelasi antara Nilai
Red Cell Distribution Width dengan Fungsi Ventrikel Kiri pada Anak dengan
Gagal Jantung Akibat Penyakit Jantung Rematik. Sari Pediatri, 23(3), 158.
[Link]
Putri, R. G. P., Sholihah, A., & Sukirto, N. W. (2020). Risk Factor for Erythropoietin
Resistance in Hemodialysis Patient : Literature Review. Ahmad Dahlan Medical
Journal, 1 No.2, 33-49 ;
Rahar, S., Marwah, S., & Kulshreshtha, B. (2021). Neutrophil lymphocyte ratio (NLR)
in type 2 diabetes mellitus and its correlation with renal function: An institutional
experience. Journal of Dr. NTR University of Health Sciences, 10(2), 82–87.
[Link]
Rorimpandey, N. G., Rambert, G. I., & Wowor, M. F. (2023). Gambaran Interleukin 6
dan Hepidin pada Penyakit Kronis yang Dapat Menyebabkan Anemia. Medical
Scope Journal, 5(1), 64–74. [Link]
Sadikin, B. G. (2023). Tatalaksana Penyakit Ginjal Kronik.
[Link]
Safitri, D. E., Woelansari, E. D., & Suhariyadi, S. (2022). Relationship of Red Cell
Distribution Width (RDW) To the Results Total Iron Binding Capacity (TIBC) In
Chronic Kidney Failure Patients with Anemia. Medicra (Journal of Medical
Laboratory Science T Echnology), 5(2).
Salwani, D., Syukri, M., & Abdullah, A. (2023). Anemia pada Penyakit Ginjal Kronis.
6(2).
Shah, H., Pal, A. P. S., Jeevan, A., Rudramuniyappa, J. T., & Shah, R. (2025).
Response to Erythropoietin Stimulating Agents in Anemia of Chronic Kidney
Disease Patients. Asian Journal of Pharmaceutical Research and Health Care,
17(1), 73–78. [Link]
Suri, A., Faizal, Kgs. M., & Anggraini, R. B. (2025). FAKTOR – FAKTOR YANG
BERHUBUNGAN DENGAN PENURUNAN KADAR HEMOGLOBIN PADA
PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA DI
RSUD Dr. (H.C) IR SOEKARNO PROVINSI KEPULAUAN BANGKA
BELITUNG 2024. JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI, 6 no.2.
Syed Ahmad Shah, Muhammad Bilal, Yaseen Khan, & Miaz Fareezuddin. (2025).
Different types of anemia in patients with chronic kidney disease. Pakistan
Journal of Medical Sciences, 41(7), 2017–2022.
[Link]
Syuryani, N., Arman, E., & Putri, G. E. (2021). PERBEDAAN KADAR UREUM
SEBELUM DAN SESUDAH HEMODIALISA PADA PENDERITA GAGAL
GINJAL KRONIK. Jurnal Kesehatan Saintika Meditory, 4(2), 117.
[Link]
Tinti, F., Lai, S., Noce, A., Rotondi, S., Marrone, G., Mazzaferro, S., Di Daniele, N., &
Mitterhofer, A. P. (2021). Chronic Kidney Disease as a Systemic Inflammatory
Syndrome: Update on Mechanisms Involved and Potential Treatment. Life, 11(5),
419. [Link]
Tonelli, M., Berns, J. S., Bozkurt, B., Cheung, R. S., Cuevas, Y., Effa, E. E., Eisenga,
M. F., Fishbane, S., Ginzburg, Y. Z., Haase, V. H., Hedayati, S. S., Kim, S.,

27
Moura-Neto, J. A., Nagler, E. V., Rossignol, P., Sahay, M., Tanaka, T., Yee-
Moon Wang, A., Wheeler, D. C., & Babitt, J. L. (2026). KDIGO 2026 Clinical
Practice Guideline for the Management of Anemia in Chronic Kidney Disease
(CKD). Kidney International, 109(1), S1–S99.
[Link]
Wang, L., He, Y., Han, C., & Zhu, P. (2025). Global burden of chronic kidney disease
and risk factors, 1990– 2021: an update from the global burden of disease study
2021. Frontiers in Public Health.
Wathanavasin, W., Jaturapisanukul, S., Janwetchasil, P., & Thongprayoon, C. (2026).
Effects of Hemodiafiltration Versus Hemodialysis on Uremic Toxins,
Inflammatory Markers, Anemia, and Nutritional Parameters: A Systematic
Review and Meta-Analysis. 18(86).
Yan, Z., & Shao, T. (2024). Chronic Inflammation in Chronic Kidney Disease.
Nephron, 148(3), 143–151. [Link]

28

Anda mungkin juga menyukai