ASUHAN KEPERAWATAN
ARDS (Acute respiratory distress syndorome)
(Sylvie Puspita, [Link]., Ns., [Link])
“Science, honesty, Humanism, Religious, Excellent and Professionalism”
Oleh:
Edy Setyono
2025030379
PROGAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA
JOMBANG
2026
A. Konsep Dasar Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)
1. Defenisi ARDS
Acute respiratory distress syndorome (ARDS) atau sindrom
gangguan pernapasan akut merupakan salah satu penyakit paru akut yang
memerlukan perawatan yang intensif care unit (ICU). ARDS merupakan
bentuk kegagalan pernapasan yang mengancam jiwa, ditandai dengan
oksigenasi yang buruk, cedera paru inflamasi akut, difus yang
menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler alveolar dan
perkembangan edema paru non kardiogenik (Ariadi, 2021).
Menurut the American-European Consensus Conference (AECC),
kriteria ARDS meliputi terjadinya gagal napas akut, disertai adanya
infiltrat difus dikedua lapangan paru, rasio tekanan oksigen pembuluh
arteri berbanding fraksi oksigen yang diinspirasi (PaO2/FiO2) ≤200
mmHg, dengan pulmonary artery wedge pressure (PAWP) ≤18 mmHg
atau tanpa adanya hipertensi atrium kiri (Diamond, dkk, 2022).
2. Anatomi Fisiologi Paru
Paru – paru merupakan sepasang organ yang terletak di dalam
tulang rusuk. Masing – masing paru berada di kedua sisi dada, peran
utama paru – paru dalam sistem pernapasan adalah menampung udara
beroksigen yang kita hirup dari hidung dan mengalirkan oksigen tersebut
ke pembuluh darah untuk disebarkan keseluruh tubuh.
Paru – paru merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut yang
terletak dalam rongga thoraks dan merupakan organ tubuh yang sering
mengalami kelainan patologi. Paru terbagi menjadi dua yaitu paru kanan
yang berukuran lebih besar dan paru kiri, paru – paru kanan dibagi
menjadi tiga lobus oleh fissura interlobaris dan paru – paru kiri dibagi
menjadi dua lobus. Setiap paru – paru terbagi juga menjadi beberapa sub
bagian yaitu menjadi sepuluh unit terkecil yang disebut brochopulmonary
segments. Paru – paru kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang disebut
mediastinum (Handayani, 2021).
Paru – paru dibungkus oleh membran serosa yaitu pleura, pleura
yang melapisi rongga dada disebut pleura parietalis, sedangkan pleura
yang menyelebungi paru – paru disebut pleura vicelaris. Di antara pleura
parietalis dan pleura viceralis terdapat celah ruangan yang disebut cavum
pleura. Ruangan ini normalnya berisi sedikit cairan serous untuk melumasi
dinding dalam pleura cavum pleura memiliki tekanan negatif yang saling
tarik menarik, di mana ketika diafragma dan dinding dada mengembang
maka paru akan ikut tertarik mengembang begitu juga sebaliknya.
Fungsi utama paru – paru yaitu sebagai alat respirasi untuk
pertukaran gas oksigen (O2) dengan karbondioksida (CO2). Pertukaran ini
terjadi pada alveolus di paru melalui sistem kapiler. Pertukaran gas
tersebut untuk menyediakan kebutuhan oksigen bagi jaringan. Kebutuhan
oksigen dan karbondioksida akan berubah sesuai dengan tingkat aktivitas
dan metabolisme seseorang. Untuk melaksanakan fungsi tersebut,
pernapasan dapat dibagi menjadi empat mekanisme dasar yaitu :
a. Ventilasi paru
Ventilasi adalah sirkulasi keluar masuknya udara atmosfer dan alveoli.
Proses ini berlangsung di sistem pernapasan.
b. Difusi
Disfusi adalah pertukaran dari oksigen dan karbondioksida antara
alveoli dan darah. Proses ini terjadi di sistem pernapasan.
c. Transpor gas
Transpor gas adalah pengangkutan oksigen dan karbondioksida dalam
darah dan cairan tubuh ke dan dari sel. Proses ini terjadi sistem
sirkulasi.
d. Pengaturan ventilasi
Volume paru dan kapasitas fungsi paru merupakan gambaran
fungsi ventilasi sistem pernapasan. Dengan mengetahui besarnya
volume dan kapasitas fungsi paru dapat diketahui besarnya kapasitas
ventilasi maupun ada atau tidaknya kelainan fungsi ventilasi paru
(Ariadi, 2021).
3. Etiologi ARDS
Penyebab mekanis ARDS merupakan kebocoran cairan dari
pembuluh terkecil di paru – paru ke dalam kantung udara kecil tempat
darah teroksigenasi. Penyebab ARDS dapat dibedakan menjadi dua yaitu
kerusakan paru tidak langsung dan kerusakan paru lagsung. Penyebab
kerusakan baru secara langsung diantaranya disebabkan oleh pneumonia,
trauma inhalasi, aspirasi cairan lambung, near drowning, serta kontusio
paru. Sedangkan, kerusakan paru tidak lagsung dapat disebabkan karena
adanya pasca bypass kardiopulmonal, sepsis, transfusi, trauma (luka bakar,
flail chest, trauma kepala, multiple fracture), overdosis obat, pankreatitis.
Penyebab utama ARDS meliputi sepsis, pneumonia berat,
menghirup zat berbahaya, episode hampir tenggelam. Kasus pneumonia
yang parah biasanya menyerang kelima lobus paru – paru. Ada beberapa
faktor risiko terjadinya ARDS, sebanyak 20% klien ARDS
tidak
mempunyai faktor risiko yang teridentifikasi. Beberapa faktor risiko
ARDS meliputi usia lanjut, jenis kelamin wanita, merokok, penggunaan
alkohol, operasi vaskular aorta, operasi kardiovaskuler, cedera otak
traumatis (Diamond, dkk, 2020).
4. Tanda Dan Gejala ARDS
Beberapa gejala dan tanda yang dapat muncul pada penderita ARDS
adalah :
a. Napas pendek dan cepat
b. Sesak napas (Dispnea)
c. Tekanan darah rendah (hipotensi)
d. Tubuh terasa sangat lelah
e. Keringat dingin secara berlebihan
f. Bibir atau kuku berwarna kebiruan (sianosis)
g. Nyeri dada
h. Denyut jantung meningkat (takikardia)
i. Batuk
j. Demam
k. Sakit kepala atau pusing
l. Penurunan kesadaran (Pittara, 2022).
5. Komplikasi ARDS
Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus ARDS yaitu komplikasi
Ventilator Associated Pneumonia (VAP) sebanyak 30 hingga 65% yang
terjadi lebih dari 5 hingga 7 hari sejak penggunaan ventilasi mekanik.
Komplikasi tersebut terjadi dimulai dengan adanya kolonisasi patogen
seperti enterobacteriaceae, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus
(MRSA), dan batang gram negatif pada saluran napas bawah. Komplikasi
lain yang dapat terjadi pada kasus ARDS akibat dari ventilasi tekanan
positif pada paru yang komplians menurun yaitu barotrauma (emsifema
subkutan, pneumomediastinum,pneumothorax) (Aprilia, 2021).
6. Pathway
Trauma langsung/tidak langsung pada paru
Mengganggu Toksik terhadap
mekanisme epitelium alveolar
Pertahanan jalan
Kerusakan membran kapiler
Kehilangan fungsi silia jalan
Cairan
menumpu
Infiltrat alveolar k di Kebocoran cairan ke
interstitial alveoli dan ke
interstitial
ronchi
Mencairka
n sistem
surfactan
Bersihan jalan
napas tidak Hipoksemia Volume dan
efektif (D.0001) comliance paru
SIKI (I.01012) : Peningkatan Ketidakseimbang
Manajemen jalan napas kerja an ventilasi,
buatan pernapasan perfusi
Intoleransi
aktivitas Kelemahan
Sesak napas Gangguan
pertukaran gas
Defisit Nafsu (D.0003)
nutrisi makan
menuru
n Pola napas
tidak efektif
(D.0005)
Gambar 2.2 Pathway ARDS
7. Patofisiologi ARDS
Patologi yang mendasari ARDS adalah cedera paru -paru akut akibat dari
respons inflamasi sistemik yang tidak diatur terhadap cedera akut atau
peradangan. Respons seluler inflamasi dan mediator biokimia merusak membran
alveolar -kapiler. Kerusakan ini berkembang pesat, seringkali dalam 90 menit
dari respons inflamasi sistemik dan dalam waktu 24 jam. Membran kapiler yang
rusak memungkinkan sel -sel plasma dan darah keluar ke ruang interstitial.
Peningkatan tekanan interstitial dan kerusakan pada membran alveolar
memungkinkan cairan untuk memasuki alveoli.
Di dalam alveolus, cairan mencairkan dan menonaktifkan surfaktan. Sel-
sel penghasil surfaktan rusak oleh proses inflamasi, yang menyebabkan defisit
surfaktan, peningkatan tegangan permukaan alveolar dan keruntuhan alve olar
dengan atelektasis. Paru -paru menjadi kurang patuh dan pertukaran gas
terganggu. Saat sindrom berkembang, membran hialin terbentuk, lebih lanjut
mengurangi pertukaran gas dan kepatuhan. Akhirnya, perubahan fibrotik terjadi
di paru -paru. Septa-alveolar menebal dan luas permukaan alveolar untuk
pertukaran gas berkurang.
Hipoksemia menjadi refraktori atau resisten terhadap perbaikan dengan
oksigen tambahan dan PaCO2 naik karena difusi terganggu. Seiring
perkembangan ARDS, hipoksia jaringan menjadi signifikan dan asidosis
metabolik berkembang. Sepsis dan disfungsi sistem multi-organ dari ginjal, hati,
saluran pencernaan, SSP dan sistem kardiovaskular adalah penyebab utama
kematian dalam ARDS (Nurjannah, 2023).
8. Pemeriksaan penunjang ARDS
a. Laboratorium
AGDA : hipoksemia, hipokapnia (sekunder karena hiperventilasi),
hiperkapnia (pada emfisema atau keadaan lanjut), bisa terjadi alkalosis
respiratorik pada proses awal dan kemudian berkembang menjadi asidosis
respiratorik. Pada darah perifer bisa dijumpai gambaran leukositosis (pada
sepsis), anemia, trombositopenia (refleksi inflamasi sistemik dan kerusakan
endotel, peningkatan kadar
amylase (pada kasus pancreatitis sebagai penyebab ARDS). Gangguan
fungsi ginjal dan hati, gambaran kogulasi intravascular disseminata
yang merupakan bagian dari MODS.
b. Radiologi
Pada awal proses, dari foto thoraks bisa ditemukan lapangan paru
yang relatif jernih, namun pada foto serial berikutnya tampak bayangan
radiopak yang difus atau patchy bilateral dan diikuti pada foto serial
berikutnya tampak gambaran confluent tanpa gambaran kongesti atau
pembesaran jantung. Dari CT Scan tampak pola heterogen,
predominan limfosit pada area dorsal paru (foto supine).
c. USG
USG paru untuk mengetahui adanya kelainan serta adanya
gambaran lesi pada kedua lapang paru.
d. Foto thoraks
Ditujukan untuk menegakan diagnosa apabila terdapat gambaran
lesi
e. Bronkoskopi
Dapat dipertimbangkan untuk mengevaluasi kemungkinan infeksi
pada pasien akut dengan infiltrat paru bilateral. Sampel dapat diperoleh
dengan bronskop bronkus subsegmental dalam dan mengumpulkan
cairan yang dihisap setelah memberikan cairan garam nonbacteriostatic
(bronchoalveolar lavage,UUPA). Cairan dianalisis untuk diferensial
sel, sitologi,perak noda dan garam stain dan pemeriksaan kuantitatif
(Ariadi, 2021).
9. Manifestasi Klinis ARDS
Manifestasi awal ARDS biasanya berkembang 24 hingga 48 jam setelah
kerusakan awal. Berikut manifestasi klinis ARDS :
a. Dispnea, takipnea, dan kecemasan adalah manifestasi awal.
b. Gangguan pernapasan progresif berkembang, dengan
meningkatnya laju pernapasan retraksi interkostal dan penggunaan
otot aksesori pernapasan.
c. Adanya sianosis yang mungkin tidak membaik dengan pemberian
oksigen.
d. Suara napas awalnya jelas, tetapi Crackles dan Rhonchi dapat
berkembang.
e. Ketika kegagalan pernapasan berlangsung, perubahan status mental
seperti agitasi, kebingungan dan kelesuan terjadi.
f. ABG pada awalnya menunjukkan hipoksemia dengan PAO2
kurang dari 60 mmHg dan alkalosis pernapasan karena takipnea.
g. Perubahan x-ray dada mungkin tidak terbukti selama 24 jam
setelah timbulnya ARDS. Infiltrat difus pada awalnya terlihat,
berkembang menjadi pola 'putih'. CT scan thoraks memberikan
ilustrasi yang lebih baik tentang pola konsolidasi alveolar dan
atelektasis di ARDS (Nurjannah, 2023).
10. Klasifikasi ARDS
Kriteria Berlin mengklasifikasikan ARDS menjadi tiga kelompok berdasarkan
nilai PaO2/ FiO2 :
a. Ringan (mild), yaitu PaO2 /FiO2 lebih dari 200 mmHg, tetapi kurang dari
dan sama dengan 300 mmHg dengan positive-end expiratory pressure
(PEEP) atau continuous positive airway pressure (CPAP) ≥5 cmH2O.
b. Sedang, yaitu PaO2 /FiO2 lebih dari 100 mmHg, tetapi kurang dari dan
sama dengan 200 mmHg dengan PEEP ≥5 cmH2O.
c. Berat, yaitu jika PaO2 /FiO2 ≤ 100 mmHg dengan PEEP ≥5 cmH2O
(Ariadi, 2021).
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan pemikiran dasar dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien, agar
dapat mengidentifikasi, mengenali masalah – masalah, kebutuhan
kesehatan dan keperawatan pasien, baik fisik, mental, sosial dan
lingkungan.
a. Identitas pasien
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan,
suku/bangsa, agama, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian,
no rekam medis, diagnosa medis, dan alamat.
b. Keluhan utama
Merupakan keluhan yang dirasakan klien dilakukan pengkajian, nyeri
biasanya menjadi keluhan yang paling utama.
c. Riwayat penyakit sekarang
Merupakan pengembangan dari keluhan utama yang dirasakan.
d. Riwayat penyakit terdahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat penyakit
sebelumnya seperti hipertensi, DM, jantung, anemia, penggunaan obat
– obatan anti koagulen, aspirin, vasodilator, obat – obat adiktif dan
konsumsi alkohol berlebih.
e. Riwayat penyakit keluarga
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi penyakit keturunan dan
menular.
f. Pengkajian primer
1) Airway
a) Peningkatan sekresi pernapasan.
b) Bunyi napas krekels, ronki, dan mengi.
c) Jalan napas adanya sputum, secret, lendir, darah, dan benda
asing.
d) Jalan napas bersih atau tidak.
2) Breathing
a) Distress pernapasan : pernapasan cuping hidung,
takipneu/bradipneu, retraksi.
b) Peningkatan frekuensi napas.
c) Nafas dangkal dan cepat.
d) Kelemahan otot pernapasan.
e) Reflek batuk ada atau tidak.
f) Penggunaan otot bantu pernapasan.
g) Penggunaan alat bantu pernapasan ada atau tidak.
h) Irama pernapasan : teratur atau tidak.
i) Bunyi napas normal atau tidak.
3) Circulation
a) Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia.
b) Sakit kepala.
c) Gangguan tingkat kesadaran.
4) Disability
a) Keadaan umum : GCS, tingkat kesadaran, nyeri atau tidak.
b) Adanya trauma pada thoraks.
5) Exposure
a) Enviromental control.
b) Buka baju penderita tetapi cegah terjadinya hipotermi.
g. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : Kaji respirasi, SPO2 dan pantau irama nafas
pasien serta amati apakah ada otot bantu nafas.
b. Pemeriksaan fisik Head To Toe :
1. Kepala dan rambut : Lihat kebersihan kepala dan rambut.
2. Mata : Lihat konjungtiva anemis, apakah sklera ikterik atau
tidak serta amati pergerakan bola mata simetris.
3. Hidung : Lihat kesimetrisan dan kebersihan serta apakah ada
lesi atau polip.
4. Telinga : Lihat kebersihan pada telinga dan amati apakah ada
terdapat lesi atau perdarahan dan kelainan bentuk pada telinga.
5. Mulut : Lihat kesimetrisan mulut, kaji mukosa bibir kering
atau lembab, apakah terlihat sianosis pada bibir serta apakah
ada perdarahan dan apakah pasien menggunakan gigi palsu.
6. Leher atau tenggorokan : Raba dan rasakan adanya
pembengkakan kelenjar getah bening serta amati apakah
terdapat lesi pada leher atau tidak.
7. Dada/thorax : Paru-paru, jantung, sirkulasi. Inspeksi
kesimetrisan paru dan apakah terdapat lesi atau tidak,
Auskultasi apakah terdapat suaranafas tambahan, perkusi dan
palpasi apakah terdapat krepitasi dan bentuk abnormal.
8. Abdomen
Inspeksi : bentuk, adanya lesi, terlihat menonjol
Palpasi : terdapat nyeri tekan pada abdomen
Perkusi : Timpani pekak
Auskultasi : bagaimana bising usus
9. Ekstremitas : apakah terdapat pembengkakan pada ekstremitas
atas dan bawah serta apakah terdapat lesi atau tidak
10. Genetalia dan anus : perhatikan kebersihan, serta apakah
terdapat lesi atau perdarahan.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul menurut Standar Diagnosis
Keperawatan Indonesia (SDKI 2017) pada ARDS yaitu :
1) Pola napas tidak efektif (D.0005)
2) Bersihan jalan napas tidak efektif (D.0001)
3) Gangguan pertukaran gas (D.0003)
4) Defisit nutrisi (D.0019)
5) Intoleransi aktifitas (D.0056)
3. Intervensi keperawatan
Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan
No SDKI SLKI SIKI
1 Pola napas tidak Setelah dilakukan Pemantauan respirasi (I.01014)
tindakan
efektif (D.0005) keperawatan selama ...x........jam 1. Observasi
diharapkan pola napas membaik a. Monitor frekuensi, irama,
(L.01004) dengan kriteria hasil : kedalaman, dan upaya napas,
1. Dispnea menurun pola napas
2. Penggunaan otot bantu b. Auskultasi bunyi napas
napas menurun c. Monitor saturasi oksigen, nilai
3. Frekuensi napas membaik AGD hasil x-ray toraks
2. terapeutik
a. Atur interval waktu pemantauan
respirasi sesuai kondisi pasien
3. Edukasi
a. Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan
b. Informasikan hasil pemantauan
2 Bersihan jalan
Setelah dilakukan Manajeman jalan napas (I.01011)
tindakan
napas tidak keperawatan selama ...x. jam 1. Observasi
efektif (D.0001) diharapkan Bersihan jalan napas a. Monitor pola napas
membaik (L.01001) dengan kriteria (frekuensi, kedalaman,
hasil : usaha napas)
1. Batuk efektif meningkat b. Monitor bunyi napas
2. Produksi sputum menurun tambahan (mis. gurgling,
3. Pola napas membaik mengi, wheezing, ronkhi
kering)
c. Monitor sputum
(jumlah,warna,aroma)
2. Terapeutik
a. Pertahankan kepatenan
jalan napas
b. Posisi semi-fowler atau
fowler
c. Berikan minum hangat
d. Lakukan fisioterapi dada
e. Lakukan perawatan ETT
(Memperhatikan posisi
ETT, melakukan
penghisapan
lendir kurang dari 15
detik)
3. Edukasi
a. Jelaskan tujuan dan prosedur
manajeman
jalan napas.
3 Gangguan Setelah dilakukan tindakan Terapi oksigen (I.01026)
pertukaran gas keperawatan selama ...x. jam 1. Observasi
(D.0003) diharapkan pertukaran gas meningkat a. Monitor aliran, kecepatan
(L.01002) dengan kriteria hasil : aliran oksigen dan posisi
1. Dispnea menurun alat terapi oksigen
2. Pola napas membaik b. Monitor efektifitas terapi
oksigen
2. Terapeutik
a. Bersihkan secret pada
mulut, hidung dan trachea
b. Pertahankan kepatenan
jalan napas
c. Berikan oksigen tambahan
d. Gunakan perangkat oksigen
yang sesuai dengan tingkat
mobilisasi pasien
3. Edukasi
a. Ajarkan pasien dan keluarga
cara menggunakan oksigen
dirumah
4. Kolaborasi
a. Kolaborasi penentuan dosis
oksigen
b. Kolaborasi penggunaan
oksigen saat aktivitas
dan/tidur
4 Defisit nutrisi Setelah dilakukan tindakan Manajemen nutrisi (I.03119)
(D.0019) keperawatan selama ...x........jam 1. Observasi
diharapkan status nutrisi membaik a. Identifikasi status nutrisi
(L.03030) dengan kriteria hasil : b. Identifikasi makanan yang
1. Porsi makanan yang disukai
dihabiskan meningkat c. Identifikasi kebutuhan kalori
2. Frekuensi makan membaik dan jenis nutrient
3. Nafsu makan membaik d. Monitor asupan makanan
e. Monitor berat badan
2. Terapeutik
a. Lakukan oral hygiene
sebelum makan
b. Berikan makanan tingi kalori
dan tinggi protein
3. Edukasi
a. Ajarkan diet yang
diprogramkan
4. Kolaborasi
a. Kolaborasi dengan ahli gizi
5 Intoleransi Setelah dilakukan tindakan Manajemen energi (I.05178)
aktifitas keperawatan selama ...x. jam 1. Observasi
(D.0056) diharapkan toleransi aktifitas a. Monitor kelelahan fisik dan
meningkat (L.05047) dengan kriteria emosional
hasil : b. Monitor lokasi dan
1. Kemudahan dalam ketidaknyamanan selama
melakukan aktifitas sehari- melakukan aktifitas
hari meningkat 2. Terapeutik
2. Keluhan lelah menurun a. Lakukan rentang gerak
3. Dispnea saat pasif/aktif
aktifitas 3. Edukasi
menurun a. Anjurkan melakukan aktifitas
4. Frekuensi napas membaik secara bertahap
4. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan atau tindakan merupakan suatu hal
tindakan yang dilaksanakan oleh perawat untuk melaksanakan kegiatan –
kegiatan yang sudah di rencanakan dalam intervensi keperawatan
(Rahmawati, 2022).
5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan
meliputi penilaian yang menandakan keberhasilan dari mulai diagnosis
keperawatan, interveni dan implementasinya. Evaluasi digunakan sebagai
suatu hal yang dapat dijadikan perbandingan untuk status kesehatan
pasien, dengan tujuan untuk melihat kemampuan klien untuk mencapai
hasil melalui proses keperawatan (Rahmawati, 2022).