0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan13 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pelayanan gizi di rumah sakit, termasuk terapi gizi yang disesuaikan dengan kondisi pasien dan pentingnya skrining gizi untuk mencegah malnutrisi. Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) dijelaskan sebagai metode sistematis dalam menangani masalah gizi, yang meliputi asesmen, diagnosis, intervensi, serta monitoring dan evaluasi. Selain itu, pelayanan gizi rawat jalan dan konseling gizi juga dibahas sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi pasien.

Diunggah oleh

Fanesa Gia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
0 tayangan13 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pelayanan gizi di rumah sakit, termasuk terapi gizi yang disesuaikan dengan kondisi pasien dan pentingnya skrining gizi untuk mencegah malnutrisi. Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) dijelaskan sebagai metode sistematis dalam menangani masalah gizi, yang meliputi asesmen, diagnosis, intervensi, serta monitoring dan evaluasi. Selain itu, pelayanan gizi rawat jalan dan konseling gizi juga dibahas sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi pasien.

Diunggah oleh

Fanesa Gia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pelayanan Gizi Rumah Sakit

Pelayanan gizi rumah sakit merupakan pelayanan yang diberikan dan disesuaikan
dengan keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status metabolisme tubuh.
Keadaan gizi dan penyakit yang diderita pasien saling berkaitan satu sama lain. Kondisi
pasien semakin buruk jika kebutuhan gizi tidak dapat terpenuhi untuk perbaikan organ tubuh.
Dengan adanya penyakit dan kekurangan gizi, fungsi organ yang terganggu akan semakin
memburuk (Kemenkes RI, 2013).

Terapi gizi atau terapi diet adalah bagian dari perawatan penyakit atau kondisi klinis
yang harus diperhatikan, agar pelaksanaannya tidak melebihi kemampuan organ tubuh untuk
melaksanakan fungsinya. Terapi gizi harus selalu disesuaikan dengan perubahan fungsi
organ. Pemberian diet pasien harus dievaluasi dan diperbaiki sesuai dengan perubahan
keadaan klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium, baik pasien rawat inap maupun rawat
jalan. Upaya peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat baik di dalam maupun di luar
rumah sakit, merupakan tugas dan tanggung jawab tenaga kesehatan, terutama tenaga gizi
(PGRS, 2013).

2.2 Gizi Rawat Inap

1. Skrining Gizi

Skrining atau pengkajian gizi merupakan tahap awal dalam pelaksanaan pelayanan
gizi rawat inap untuk menentukan kemungkinan terjadinya risiko malnutrisi atau adanya
kondisi khusus pada pasien rawat inap di rumah sakit. Skrining dilakukan sesegera mungkin
terhadap pasien baru di rumah sakit dalam kurun waktu 1x24 jam. Pelaksanaan skrining
dilakukan dengan cepat, singkat, dan disesuaikan dengan ketentuan masing-masing rumah
sakit.

Metode skrining gizi yang biasa digunakan antara lain Malnutrition Screening Tools
(MST), Malnutrition Universal Screening Tools (MUST), dan Nutrition Risk Screening
(NRS) 2002. Sementara itu, skrining pada pasien anak usia 1-18 tahun dapat menggunakan
Pediatric Yorkhill Malnutrition Score (PYMS), Screening Tools for Assessment of
Malnutrition in Paediatric (STAMP), dan Strong Kids. Jika hasil skrining gizi menunjukkan
pasien berisiko malnutrisi dan memiliki kondisi khusus, maka dilakukan asuhan gizi lanjutan
dengan langkah terstandar oleh ahli gizi rumah sakit. Sedangkan, pasien yang tidak berisiko
malnutrisi dianjurkan untuk melakukan skrining ulang setelah satu minggu. Jika ditemukan
risiko, maka dilakukan proses asuhan gizi terstandar (PAGT) (PGRS, 2013).

2. Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT)

Proses Asuhan Gizi Terstandar merupakan suatu proses terstandar sebagai suatu
metode pemecahan masalah yang sistematis dalam menangani problem gizi sehingga dapat
memberikan asuhan gizi yang aman, efektif dan berkualitas tinggi. Terstandar yang dimaksud
adalah memberikan asuhan gizi dengan proses terstandar yang menggunakan struktur dan
kerangka kerja yang konsisten sehingga setiap pasien yang mempunyai masalah gizi
mendapat asuhan gizi melalui proses empat langkah, yaitu pengkajian gizi, diagnosis gizi,
intervensi gizi, dan monitoring & evaluasi gizi (Kemenkes, 2017).

Tujuan proses asuhan gizi yaitu membantu pasien untuk memecahkan masalah gizi
dengan mengatasi berbagai faktor yang memiliki kontribusi pada ketidakseimbangan atau
perubahan status gizi pasien. Tujuan ini dapat dicapai melalui langkah-langkah dalam PAGT
dimulai dari pengumpulan data yang kemudian diidentifikasi masalah gizi dan penyebabnya.
Ketepatan dalam menentukan akar permasalahan akan mempengaruhi pemilihan intervensi
yang sesuai. Berdasarkan gejala dan tanda masalah gizi tersebut dapat dimonitor dan diukur
perkembangannya untuk menentukan tindakan selanjutnya.

a. Asesmen Gizi

Asesmen gizi merupakan pendekatan sistematik dalam mengumpulkan,


memverifikasi dan menginterpretasikan data pasien atau kelompok yang relevan
untuk mengidentifikasi masalah gizi, penyebab, serta tanda dan gejala. Kegiatan
asesmen gizi dilaksanakan segera setelah pasien teridentifikasi berisiko malnutrisi
dari hasil proses skrining gizi. Secara umum, asesmen gizi dilakukan bertujuan
untuk mendapatkan informasi yang cukup dalam mengidentifikasi dan membuat
keputusan atau menentukan gambaran masalah, penyebab masalah serta tanda dan
gejala terkait gizi (Kemenkes, 2017).

Secara spesifik tujuan asesment gizi dilakukan untuk:


 Mencegah kejadian berlanjut pada pasien yang berisiko malgizi dengan
cara mengidentifikasi kemungkinan masalah gizi di awal intervensi atau
rujukan.
 Mengidentifikasi kemungkinan masalah gizi pasien yang malnutrisi untuk
kemudian dilakukan intervensi gizi.
 Mendeteksi praktik-praktik yang dapat meningkatkan risiko malnutrisi dan
infeksi. Contohnya pemberian obat tertentu sebagai upaya tindakan medis
dapat menyebabkan pasien kehilangan nafsu makan.
 Mendeteksi kemungkinan masalah gizi pasien yang membutuhkan edukasi
dan konseling.
 Menentukan rencana asuhan gizi yang tepat.

Asesmen gizi dilakukan dalam 5 kategori, yaitu:

1. Riwayat terkait gizi dan makanan

Data terkait gizi dan makanan sering disebut juga dengan riwayat gizi.
Pengumpulan data riwayat gizi dapat dilakukan dengan mengidentifikasi data
asupan makanan, riwayat diet, frekuensi makan, besar porsi makanan yang
dikonsumsi, kebiasaan makan, alergi atau intoleransi terhadap makanan,
pengetahuan gizi, kepercayaan dan sikap terhadap makanan, akses terhadap bahan
makanan, serta aktivitas fisik pasien.

2. Data antropometri

Antropometri merupakan pengukuran fisik yang dilakukan pada pasien untuk


menilai keadaan gizi pasien. Data antropometri diperoleh dari pengukuran tinggi
badan dan berat badan, dan Indeks Masa Tubuh (IMT). Pada suatu kondisi jika
tinggi badan pasien tidak dapat diukur dengan panjang badan, hal ini dapat diatasi
dengan menggunakan estimasi tinggi lutut atau panjang rentang lengan,
sedangkan untuk berat badan dapat menggunakan estimasi lingkar lengan atas
(LiLA).

3. Data biokimia

Data biokimia meliputi hasil pemeriksaan laboratorium yang berkaitan dengan


status gizi, status metabolik dan gambaran fungsi organ yang berpengaruh
terhadap timbulnya masalah gizi. Pengambilan kesimpulan dari data laboratorium
terkait masalah gizi harus sesuai dengan data asesment gizi.

4. Data pemeriksaan fisik dan klinis terkait gizi

Pemeriksaan fisik dan klinis pasien dilakukan untuk mendeteksi adanya


kelainan yang berkaitan dengan gangguan gizi atau dapat menimbulkan masalah
gizi. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan melihat penampilan fisik, hilang
otot dan lemak, fungsi menelan, dan nafsu makan pasien, sedangkan tanda-tanda
vital pada pasien dapat dilakukan dengan melihat data yang ada pada rekam medis
atau wawancara langsung terhadap pasien atau keluarga pasien.

5. Data riwayat pasien

Data riwayat pasien meliputi data umum pasien (umur, pekerjaan, pendidikan)
riwayat medis termasuk riwayat penyakit keluarga, riwayat obat-obatan atau
suplemen yang sering dikonsumsi, sosial budaya, serta kondisi ekonomi pasien.

b. Diagnosis Gizi

Diagnosis gizi merupakan identifikasi dan pemberian nama problem gizi yang
spesifik di mana setiap masalah gizi akan diberikan nama sesuai dengan label atau
kodenya. Problem gizi merupakan masalah gizi yang aktual terjadi pada individu
dan atau keadaan yang berisiko menjadi penyebab masalah gizi. Diagnosis gizi
dapat berubah sesuai dengan respon pasien, khususnya terhadap intervensi gizi
yang telah diberikan. Diagnosis gizi bertujuan untuk menjelaskan dan
menggambarkan masalah gizi spesifik yang ditemukan pada individu yang
berkaitan dengan faktor penyebab atau etiologi dan dibuktikan dengan adanya
gejala/tanda yang terjadi pada individu (Kemenkes, 2017).

Penulisan diagnosis gizi terstruktur dengan konsep PES atau Problem,


Etiology dan Signs/Symptoms. Pernyataan Problem dengan Etiology dihubungkan
dengan kata “berkaitan dengan”, sedangkan Etiology dengan Sign/Symptom
dihubungkan dengan kata “ditandai dengan” (Kemenkes, 2017).

Diagnosis gizi dikelompokkan menjadi tiga domain, yaitu:

1) Domain Intake (NI)


Domain asupan/intake merupakan masalah gizi utama (P) yang
berkaitan dengan ketidaksesuaian asupan energi, makanan per oral, zat
gizi (protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral) serta asupan
cairan baik enteral maupun parenteral. Selain itu juga asupan
substansi bioaktif seperti suplemen, makanan fungsional dan alkohol.
2) Domain Klinis (NC)
Domain klinis merupakan masalah gizi utama (P) yang berkaitan
dengan perubahan kondisi medis atau fisik/fungsi tubuh.
3) Domain Behaviour (NB)
Domain perilaku - lingkungan/ behaviour merupakan masalah gizi
utama (P) yang berkaitan dengan kondisi lingkungan seperti
pengetahuan, perilaku, budaya, ketersediaan makanan di rumah tangga
dan keamanan pangan yang dapat mempengaruhi asupan zat gizi.
4) Domain Lain (NO)
Domain lain didefinisikan sebagai tidak munculnya masalah gizi
terkini karena adanya intervensi gizi, hasil dari asesment gizi, dan hasil
dari pengkajian gizi.
Domain diagnosis gizi terdiri dari domain asupan (11 klas),
domain klinis (3 klas), domain perilaku-lingkungan (3 klas) dan
domain lain (NO). Agar diagnosis gizi yang ditentukan tepat, maka
data assesmen gizi harus tersedia lengkap untuk mendukung penetapan
diagnosis gizi, asesmen gizi yang dilakukan harus spesifik, asesmen
gizi dapat menjadi sign dan symptom untuk menunjukkan problem dan
etiologi yang ditetapkan (Kemenkes 2017).
c. Intervensi Gizi
Intervensi gizi merupakan suatu tindakan terencana yang ditujukan
untuk mengubah perilaku gizi, kondisi lingkungan, atau aspek status kesehatan
individu. Terdapat dua komponen penting dalam intervensi gizi, yaitu
perencanaan dan implementasi.
1) Perencanaan
Perencanaan intervensi dibuat berdasarkan diagnosis gizi yang
ditetapkan. Tujuan dan prioritas intervensi gizi ditetapkan berdasarkan
masalah gizinya (Problem), strategi intervensi berdasarkan penyebab
masalahnya (Etiology), dan jika penyebab tidak dapat diintervensi,
maka strategi intervensi ditujukan untuk mengurangi tanda dan gejala
(Sign and Symptom). Dalam perencanaan intervensi juga ditetapkan
jadwal dan frekuensi asuhan. Perencanaan intervensi gizi meliputi:
 Penetapan tujuan intervensi dapat diukur, dicapai, dan
ditentukan waktunya.
 Preskripsi diet, menggambarkan rekomendasi mengenai
kebutuhan energi dan zat gizi individu yang dihitung
berdasarkan diagnosis gizi, kondisi pasien, dan jenis
penyakitnya. Selain itu juga ditentukan jenis diet, bentuk
makanan, komposisi zat gizi, serta rute dan frekuensi makan.
2) Implementasi
Implementasi merupakan kegiatan melaksanakan dan
mengkomunikasikan rencana asuhan gizi pasien oleh ahli gizi kepada
profesional pemberi asuhan (PPA) lainnya, meliputi dokter, fisioterapi,
farmasi, dan perawat.
d. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi gizi merupakan kegiatan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan dan respon pasien terhadap intervensi yang diberikan. Terdapat tiga
langkah dalam monitoring dan evaluasi gizi, yaitu:
1) Monitor perkembangan, yaitu mengamati perkembangan kondisi
pasien. Kegiatan yang berkaitan dengan monitor perkembangan
meliputi pemahaman dan ketaatan pasien, asupan makan pasien, status
gizi pasien, kesesuaian implementasi intervensi, serta menemukan
alasan jika tidak ada perkembangan pada kondisi pasien.
2) Mengukur hasil, yaitu mengukur perkembangan yang terjadi pada
pasien sebagai respon terhadap intervensi gizi. Parameter yang diukur
berdasarkan tanda dan gejala dari diagnosis gizi.
3) Evaluasi hasil, yang dikelompokkan menjadi 4 jenis, yaitu:
 Evaluasi perilaku dan lingkungan terkait gizi, meliputi tingkat
pemahaman, perilaku, akses, dan kemampuan yang mungkin
mempengaruhi asupan makanan.
 Evaluasi sumber asupan zat gizi, meliputi makanan, minuman,
suplemen, serta melalui rute oral, enteral, dan parenteral.
 Evaluasi tanda dan gejala fisik terkait gizi, meliputi antropometri,
biokimia, dan parameter pemeriksaan fisik klinis.
 Evaluasi kualitas hidup berdasarkan intervensi gizi yang telah
diberikan.
2.3 Pelayanan Gizi Rawat Jalan

Pelayanan gizi rawat jalan merupakan serangkaian kegiatan asuhan gizi yang
berhubungan dan berkesinambungan, dimulai dari assesmen/pengkajian, diagnosis,
intervensi, monitoring dan evaluasi kepada pasien di rawat jalan (PGRS, 2013).

Pelayanan gizi rawat jalan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien melalui
makanan yang diberikan sesuai penyakit yang diderita pasien. Asuhan gizi rawat jalan
pada umumnya disebut kegiatan konseling gizi dan dietetik atau edukasi/penyuluhan gizi.
Asuhan ini diberikan kepada pasien dalam bentuk rancangan diet, edukasi serta konseling
yang tepat sesuai dengan masalah dan kebutuhan gizi tiap individu dan terdokumentasi
dengan tepat (Asuhan Gizi Klinik : Konsep dan Kajian Kasus, 2021).

Sasaran dari pelayanan gizi rawat jalan ini, yaitu pasien, keluarga pasien, kelompok
pasien dengan masalah gizi yang sama, individu pasien yang datang atau dirujuk,
kelompok masyarakat yang dirancang secara periodik oleh rumah sakit (PGRS, 2013).

Gambar 1. Alur dan Asuhan Gizi Pasien Rawat Jalan

2.4 Konseling Gizi


1. Pengertian Konseling Gizi

Menurut Persagi (2010) konseling gizi adalah suatu bentuk pendekatan yang
digunakan dalam asuhan gizi untuk menolong individu dan keluarga dalam
memperoleh pengetahuan tentang permasalahan gizi. Setelah melakukan konseling
diharapkan individu dan keluarga mampu mengambil langkah-langkah untuk
mengatasi permasalahan gizi.

Menurut kamus gizi (2009) konseling gizi adalah proses komunikasi dua arah
antara konselor dengan pasien atau klien untuk membantu klien dalam mengenali dan
mengatasi permasalahan gizi. Dengan demikian, pengertian konseling gizi adalah
proses yang di dalamnya terdapat hubungan tatap muka antara seorang individu yang
memiliki permasalahan gizi yang tidak dapat diatasi sendiri dengan pekerja
profesional (orang yang terlatih dalam bidang gizi).
2. Tujuan Konseling Gizi

Dalam buku pendidikan dan konsultasi gizi oleh Supariasa (2012), yang dimaksud
dengan tujuan konseling gizi adalah sebagai berikut:

a. Membantu klien dalam mengidentifikasi dan menganalisis masalah klien serta


memberi alternatif pemecahan masalah. Melalui konseling klien dapat berbagi
masalah, penyebab masalah dan memperoleh informasi tentang cara mengatasi
masalah.
b. Menjadikan cara-cara hidup sehat di bidang gizi sebagai kebiasaan hidup
klien. Melalui konseling klien dapat belajar merubah pola hidup, pola
aktivitas, pola makan.
c. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan individu atau keluarga klien
tentang gizi. Melalui konseling klien mendapatkan informasi pengetahuan
tentang gizi, diet dan kesehatan.
3. Sasaran Konseling Gizi

Sasaran konseling gizi dapat dibagi menjadi empat golongan usia yaitu, konseling
anak-anak, konseling remaja, konseling orang dewasa dan konseling orang lanjut usia.
Menurut Persatuan Ahli Gizi (2010), sasaran konseling yang biasa disebut klien atau
pasien dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

a. Klien yang memiliki masalah kesehatan terkait dengan gizi, seperti klien yang
mempunyai penyakit kencing manis, penyakit jantung koroner, penyakit ginjal
dan lainnya dapat melakukan konseling agar dapat mengerti tentang penyakit,
penyebab penyakitnya dan alternatif pemecahannya. Sehingga dia akan
mampu menentukan sikap dan tindakannya mengatasi masalah penyakit dan
terapi gizinya.
b. Klien yang ingin melakukan tindakan pencegahan, konselor dapat
memberikan informasi tentang bagaimana menjaga kesehatan yang optimal
agar tubuh tetap sehat. Klien akan menyadari dan memahami tentang
informasi pola hidup sehat dan akan menentukan sikap serta tindakan yang
harus dilakukan khususnya dalam pola makan dan gizi seimbang untuk
menjaga kesehatannya.
c. Klien yang ingin mempertahankan dan mencapai status gizi yang optimal,
konselor akan memberikan informasi tentang status gizi, apa saja yang
mempengaruhi dan bagaimana akibat dari status gizi serta apa yang harus
dilakukan untuk dapat mencapai status gizi yang optimal. Sehingga klien
dapat mengerti dan mampu melakukan hal-hal untuk mencapai status gizi
yang optimal.

Adapun karakteristik dari klien dipengaruhi oleh beberapa faktor pada dirinya
seperti:

a. Perasaan, Pikiran dan Kecurigaan.


b. Klien tidak konsentrasi pada pemberi pesan atau konselor.
c. Klien bukan pendengar yang baik.
d. Kondisi diri yang kurang menguntungkan termasuk kurangnya daya tangkap
dan daya pancaindra.
4. Tempat dan Waktu Konseling Gizi

Konseling dapat dilakukan di mana saja seperti di rumah sakit, di posyandu, di


poliklinik, di puskesmas atau tempat lain yang memenuhi beberapa syarat sebagai
berikut:

a. Ruangan tersendiri.
b. Tersedia tempat atau meja.
c. Lokasi mudah dijangkau oleh klien, tidak terlalu jauh dan tidak berkelok
kelok, khususnya bagi klien yang memiliki keterbatasan fisik.
d. Ruangan memiliki cukup cahaya dan sirkulasi udara yang mendukung
kegiatan konseling, cukup terang, tidak pengap dan tidak panas.
e. Aman yaitu memberikan rasa aman kepada klien sehingga klien dapat
berbicara dengan bebas tanpa didengar dan diketahui oleh orang lain, tanpa
ketakutan menyampaikan masalahnya.
f. Nyaman yaitu membuat suasana yang mendukung proses konseling.
g. Tersedia tempat untuk ruang tunggu bagi klien.
h. Tenang yaitu lingkungan yang tenang, tidak bising dari suara atau kegaduhan
akan mendukung proses konseling.
i. Waktu antara 30 sampai 60 menit.
5. Manfaat Konseling Gizi

Konseling diharapkan mampu memberi manfaat kepada klien :


a. Membantu klien untuk mengenali permasalahan kesehatan dan gizi yang
dihadapi.
b. Membantu klien mengatasi masalah. Konselor memberikan beberapa
informasi atau alternatif pemecahan masalah.
c. Mendorong klien untuk mencari cara pemecahan masalah.
d. Mengarahkan klien untuk memilih cara yang paling sesuai baginya.
e. Membantu proses penyembuhan penyakit melalui perbaikan gizi klien.
6. Komunikasi Dalam Konseling Gizi

Konseling merupakan komunikasi dua arah yang terjadi antara konselor dan klien.
Komunikasi ini memberikan kesempatan kepada kedua pihak untuk saling bertanya
jawab, saling menanggapi, menggali informasi dan mengklarifikasi permasalahan
yang dihadapi. Dalam pelaksanaan konseling, konselor dapat berperan sebagai
pemberi dan penerima pesan, demikian juga klien dapat berperan sebagai pemberi dan
penerima pesan.

7. Perencanaan Konseling Gizi


a. Pengkajian kebutuhan zat gizi klien
Membandingkan data yang sudah diperoleh dari pengumpulan data kemudian
dibandingkan dengan standar baku (nilai normal) sehingga dapat dikaji dan
diidentifikasi berapa besar masalahnya.
b. Menetapkan tujuan
Dalam menetapkan tujuan harus jelas, rasional, menyesuaikan kebutuhan klien
, dibuat berdasarkan perubahan perilaku dan sesuai dengan target waktu
c. Sasaran
Sasaran dalam perencanaan edukasi gizi yaitu pasien dan keluarganya.
d. Materi
Materi yang akan disampaikan disesuaikan dengan permasalahan klien,
diawali dengan penjelasan hal yang mudah sampai ke hal yang rumit.
e. Metode
Menggabungkan berbagai metode belajar seperti, diskusi, tanya jawab dan
demonstrasi.
f. Media
Media yang digunakan sebaiknya lebih dari satu, seperti brosur, leaflet, food
model, contoh menu dsb.
8. Prinsip-prinsip dalam Komunikasi Konseling Gizi

Berikut beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam konseling yaitu:

a. Tentukan tujuan komunikasi. Sebelum memulai proses konseling, biasanya


konselor menanyakan tujuan dari klien datang ke tempat konseling.
b. Pahami isi pesan yang akan disampaikan dalam komunikasi. Konselor harus
benar-benar memahami pesan yang akan disampaikan kepada klien.
c. Samakan persepsi terlebih dahulu agar bisa berbicara dan berkomunikasi
dalam pengertian yang sama tentang pokok bahasannya.
d. Gunakan komunikasi verbal atau pun nonverbal untuk mencapai tujuan
komunikasi.
e. Gunakan alat bantu atau media yang tepat sesuai kebutuhan (seperti leaflet,
poster, brosur, booklet, food model atau benda asli, video untuk proses
terjadinya penyakit dan yang lainnya).
f. Berikan informasi secukupnya, tidak berlebihan atau tidak kurang, sesuai
situasi dan keadaan penerima pesan.
2.5 Penyuluhan Gizi
1. Pengertian Penyuluhan Gizi

Penyuluhan gizi merupakan suatu bentuk edukasi kepada masyarakat dengan


memberikan informasi mengenai gizi yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan membentuk kebiasaan makan yang baik (Kemenkes, 2018). Menurut
PGRS (2013) penyuluhan gizi adalah serangkaian kegiatan dalam bentuk
penyampaian pesan-pesan gizi dan kesehatan yang telah direncanakan serta
dilaksanakan untuk meningkatkan sikap dan pengetahuan pasien/klien dan lingkungan
dalam upaya peningkatan status gizi dan kesehatan. Penyuluhan gizi ditujukan untuk
masyarakat umum dengan target adanya pemahaman perilaku terhadap aspek
kesehatan yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Tujuan Penyuluhan Gizi


1. Menurut April (2019), terdapat beberapa tujuan dari penyuluhan gizi, yaitu:
Meningkatkan status gizi masyarakat dengan mengubah perilaku
masyarakat/pasien ke arah yang lebih baik sesuai dengan prinsip ilmu gizi
2. Meningkatkan kesadaran masyarakat/pasien mengenai prinsip gizi
3. Membantu individu, keluarga dan masyarakat berperilaku positif sehubung
dengan pangan dan gizi
4. Mengubah perilaku konsumsi makan (food consumption behavior) menjadi
lebih baik
5. Menyebarkan konsep baru tentang informasi gizi
3. Langkah-Langkah Perencanaan Penyuluhan Gizi
Menurut Departemen Kesehatan tentang langkah-langkah perencanaan
penyuluhan, terdapat 5 langkah perencanaan penyuluhan yaitu:
a. Mengenal masalah sebelum melakukan penyuluhan
b. Menentukan prioritas masalah gizi
c. Menentukan media penyuluhan gizi

Media penyuluhan gizi dibagi menjadi tiga jenis yaitu, media cetak, elektronik,
dan media papan (billboard).

d. Membuat rencana penilaian (evaluasi)


e. Membuat rencana jadwal pelaksanaan

Mekanisme penyuluhan gizi berdasarkan PGRS 2013 yaitu:

a. Persiapan penyuluhan
 Menentukan materi sesuai kebutuhan
 Membuat susunan/outline materi yang akan disajikan
 Merencanakan media yang akan digunakan
 Pengumuman jadwal dan tempat penyuluhan
 Persiapan ruangan dan alat bantu/media yang dibutuhkan
b. Pelaksanaan penyuluhan
 Ahli gizi menyampaikan materi penyuluhan
 Tanya jawab
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyuluhan
Faktor yang perlu diperhatikan dalam penyuluhan yaitu
a. Tingkat sosial ekonomi
Perlu dilakukannya survey mengenai sosial ekonomi pasien, sehingga saat
memberikan rekomendasi, misalnya makanan sehat yang dapat diolah dan
diterima oleh pasien.
b. Ketersediaan waktu pasien
Pemilihan waktu harus disesuaikan dengan keadaan pasien dan keluarga
pasien, sehingga tidak hanya pasien saja yang mendapat edukasi dari
penyuluhan namun keluarga pasien juga mendapat ilmu yang dapat diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari ketika sudah keluar dari Rumah Sakit.
c. Materi yang akan disampaikan

Materi yang akan disampaikan sebaiknya menggunakan bahasa yang mudah


dimengerti oleh pasien dan keluarga pasien. Jika materi disampaikan melalui
media seperti leaflet sebaiknya menggunakan desain menarik dan sederhana.
Dalam menyampaikan materi juga perlu memperhatikan hal-hal seperti
penampilan dari penyuluh, tutur kata, istilah yang digunakan, dan volume
suara.
d. Penyuluh
Individu yang akan melakukan penyuluhan sebaiknya telah memahami materi
yang akan disampaikan sehingga materi yang disampaikan dapat dimengerti
oleh sasaran dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Anda mungkin juga menyukai