PEMBELAJARAN LANGSUNG
A. Pengertian Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Model pembelajaran langsung atau Direct Instruction, juga dikenal dengan
istilah strategi belajar ekspositori dan whole class teaching. Pembelajaran
langsung merupakan suatu model pembelajaran yang terdiri dari penjelasan
guru mengenai konsep atau keterampilan baru terhadap siswa.
Menurut Arends (dalam Trianto, 2009) adalah suatu model pembelajaran
dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan
dengan pengetahuan deklaratif dan terstruktur dengan baik, dapat diajarkan
dengan pola kegiatan yang bertahap selangkah demi selangkah.
Model pembelajaran langsung (Direct Instruction) dilandasi oleh teori
belajar perilaku yang berpandangan bahwa belajar bergantung pada
pengalaman termasuk pemberian umpan balik. Suatu penerapan perilaku
dalam belajar adalah pemberian penguatan. Umpan balik kepada siswa dalam
pembelajaran merupakan penguatan yang merupakan penerapan teori perilaku
tersebut.
Sedangkan menurut Hamzah (2008) bahwa model pembelajaran langsung
adalah program yang paling efektif untuk mengukur keahlian dasar, keahlian
dalam memahami suatu materi dan konsep diri sendiri. Model pembelajaran
langsung ini sangat ditentukan oleh pendidik, artinya pendidik berperan
penting dan dominan dalam proses pembelajaran. Penyebutan ini mengacu
pada gaya mengajar dimana pendidik terlibat aktif dalam mengusung isi
pelajaran kepada peserta didik dan mengajarkannya kepada seluruh peserta
didik dalam kelas.
Sedangkan Joyce, Weil, Calhoun (1972) berpendapat suatu model
pembelajaran yang terdiri dari penjelasan guru mengenai konsep atau
keterampilan baru terhadap siswa.
Model pengajaran langsung memberikan kesempatan siswa belajar dengan
mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan apa yang dimodelkan
gurunya. Oleh karena itu hal penting yang harus diperhatikan dalam
menerapkan model pengajaran langsung adalah menghindari menyampaikan
pengetahuan yang terlalu kompleks. Di samping itu, model pengajaran
1
langsung mengutamakan pendekatan deklaratif dengan titik berat pada proses
belajar konsep dan keterampilan motorik, sehingga menciptakan suasana
pembelajaran yang lebih terstruktur.
B. Tujuan Pembelajaran Langsung
Pengajaran Langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan
belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif
yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari langkah demi langkah.
Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam sains merupakan contoh
pengetahuan deklaratif sederhana. Sedangkan cara mengoperasikan alat-alat
ukur dalam sains merupakan contoh pengetahuan prosedural. Selain model
pengajaran langsung efektif untuk digunakan agar siswa menguasai suatu
pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif sederhana, model ini juga
efektif untuk mengembangkan keterampilan belajar siswa. Beberapa
keterampilan belajar siswa yang harus dikembangkan oleh guru, seperti
menggaris bawahi, membuat catatan, dan membuat rangkuman.
C. Karakteristik Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Salah satu karakteristik dari suatu model pembelajaran adalah adanya
sintaks/tahapan pembelajaran. Selain harus memperhatikan sintaks, guru yang
akan menggunakan pengajaran langsung juga harus memperhatikan variabel-
variabel lingkungan lain, yaitu fokus akademik, arahan dan kontrol guru,
harapan yang tinggi untuk kemajuan siswa, waktu dan dampak dari
pembelajaran. Joyce and Weil berpendapat beberapa keunggulan terpenting
dari pembelajaran langsung adalah adanya Fokus akademik merupakan
prioritas pemilihan tugas-tugas yang harus dilakukan siswa selama
pembelajaran, aktivitas akademik harus ditekankan.
Pengarahan dan kontrol guru terjadi ketika memilih tugas-tugas siswa dan
melaksanakan pembelajaran, menentukan kelompok, berperan sebagai
sumber belajar selama pembelajaran dan meminimalkan kegiatan non
akademik. Kegiatan pembelajaran diarahkan pada pencapaian tujuan sehingga
guru memiliki harapan yang tinggi terhadap tugas-tugas yang harus
2
dilaksanakan oleh siswa. Dalam model pembelajaran langsung terdapat
beberapa ciri-ciri khusus yang memberikan keunggulan pada model ini.
Adapun ciri-ciri tersebut, diantaranya:
a. Fokus akademik
Fokus akademik berarti prioritas tertinggi yang diletakkan dalam
penugasan dan penyelesaian tugas akademik. Dalam hal ini, penggunaan
perangkat non akademik seperti misalnya mainan dan teka-teki tidak
terlalu ditekankan atau bahkan ditiadakan. Menurut beberapa para ahli,
fokus yang kuat terhadap masalah akademik menciptakan keterlibatan
siswa yang semakin kuat dalam rangka menghasilkan dan memajukan
prestasi mereka (Fisher, Berliner, Filby, Marliave, Ghen, dan Dishaw,
1980; Madaus, Airasian, dan Kellaghan, 1980; Rosenshine, 1970, 1971,
1985).
b. Arahan dan kontrol guru
Kontrol dan arahan guru diberikan saat guru memilih dan
mengarahkan tugas pembelajaran, menegaskan peran inti selama
memberi instruksi, dan meminimalisir jumlah percakapan siswa yang
tidak berorientasi akademik.
c. Harapan yang tinggi terhadap perkembangan siswa
Guru memiliki harapan besar kepada peserta didik serta concern
dalam bidang tersebut akan berupaya menghasilkan kemajuan akademik
serta perilaku kondusif demi terciptanya kemajuan dalam pendidikan.
d. Sistem manajemen waktu
Salah satu tujuan dari model pembelajaran langsung, yaitu
memaksimalkan waktu belajar siswa. Dalam hal ini, perilaku-perilaku
guru yang tampak berhubungan langsung dengan waktu yang dimiliki
siswa dan rating kesuksesan dalam mengerjakan tugas, yang pada
akhirnya juga berhubungan dengan tingkat kemajuan prestasi siswa.
Menurut Rosenshine (1970) siswa menghabiskan waktu 50% sampai
70% waktu untuk mengerjakan tugas seorang diri. Artinya, siswa dituntut
untuk menyelesaikan tugas dalam 50% sampai 70% dari jumlah waktu.
3
Jika hal ini dimaksimalkan, akan berdampak pada kemajuan prestasi
siswa yang cukup signifikan.
e. Atmosfer akademik yang cukup netral
Lingkungan instruksi langsung adalah tempat dimana pembelajaran
menjadi fokus utama dan tempat diman siswa terlibat dalam tugas-tugas
akademik dalam waktu tertentu dan mencapai rating kesuksesan yang
tinggi. Iklim sosial dalam lingkungan ini harus diciptakan secara positif
dan bebas dari pengaruh negatif. Dimana guru harus menghindari
praktek-praktek negatif, seperti mencela perilaku siswa.
D. Metode-metode yang ada didalamnya
Adapun metode-metode dari Strategi Pembelajaran Langsung adalah
sebagai berikut :
1) Metode Ceramah
Ceramah merupakan metode pembelajaran yang konvensional.
Ceramah jika terlalu sering digunakan tidak akan efektif. Menurut
Suprayekti (2003: 32) metode ceramah perlu diperbaiki dalam
penerapannya dengan cara :
a. Membangun daya tarik,
b. Memaksimalkan pengertian dan ingatan,
c. Melibatkan siswa,
d. Memberikan penguatan.
Cara untuk membangun minat siswa pada saat guru menerapkan
metode ceramah, yaitu:
a. Guru mengemukakan cerita atau visual yang menarik, seperti :
anekdot, cerita fiksi, kartun, atau media visual yang menarik
siswa
b. Kemukakan suatu masalah
c. Kemukakan nilai positif dan manfaat
d. Berikan pertanyaan yang memotivasi siswa untuk memiliki rasa ingin
tahu.
4
Metode ceramah dalam penerapannya perlu memaksimalkan
pemahaman dan ingatan. Adapun cara yang dapat ditempuh untuk
memaksimalkan pemahaman dan ingatan, yaitu :
a. Memberikan headlines dan kata kunci,
b. Kemukakan contoh dan analogi,
c. Gunakan media pembelajaran atau minimal alat bantu visual.
Agar siswa tidak pasif, maka penerapan metode ceramah perlu
melibatkan peserta didik.
Hal tersebut salah satunya dapat ditempuh dengan memberikan
tantangan spot. Tantangan spot adalah penghentian ceramah secara
periodik disertai dengan memberikan tantangan kepada siswa untuk
memberikan contoh dari konsep yang disajikan. Selain penggunaan
tantangan spot, pemberian latihan-latihan juga dapat melibatkan siswa
dalam ceramah. Latihan-latihan yang diberikan diarahkan untuk
memperjelas point-point yang telah disampaikan dalam cermah.
Materi yang disampaikan melalu metode ceramah mudah
terlupakan. Kondisi tersebut perlu diatasi dengan memberikan daya
penguat ceramah. Adapun cara untuk memberikan daya penguat dalam
metode ceramah, yaitu: aplikasi masalah dan review. Aplikasi masalah
adalah pemberian masalah atau pertanyaan pada siswa untuk
diselesaikan dengan memanfaatkan informasi yang diberikan pada
saat ceramah. Selain itu, penguatan dapat diberikan dengan
memberikan review. Review dalam hal ini siswa diminta mengulas
ceramah yang telah disampaikan.
2) Metode Resitasi
Metode resitasi biasanya digunakan untuk mendiagnosis kemajuan
belajar peserta didik. Resitasi diterapkan dengan menggunakan pola yaitu
guru bertanya, peserta didik memberikan respon, lalu guru memberikan
reaksi. Resitasi menurut Gage dan Berliner (melalui Mulyatiningsih,
2011: 225) umumnya digunakan dalam review, pengantar materi baru,
5
mengecek jawaban, praktik, dan mengecek pemahaman peserta didik
terhadap materi pelajaran dan ide-idenya.
3) Metode Praktik dan Drill
Metode praktik dilakukan setelah materi dipelajari atau guru
memberikan demonstrasi. Metode drill digunakan ketika peserta didik
diminta mengulang informasi pada topik-topik khusus sampai dapat
menguasai topik-topik yang diajarkan. Metode praktik dan drill
disebut juga metode praktik dan latihan. Metode tersebut diarahkan
pada pengulangan (repitisi) untuk membantu peserta didik memiliki
pemahaman yang lebih baik dan mudah mengingat kembali informasi
yang sudah disampaikan.
4) Team- Game- Tournament (TGT)
Metode TGT memiliki yang hampir sama dengan STAD. Metode
TGT menurut Mulyatiningsih (2011: 229) melibatkan aktivitas peserta
didik tanpa perbedaan status, dengan tutor teman sebaya, dan
mengandung unsur permainan dan penguatan. Adapun langkah- langkah
TGT, yaitu:
a. Guru menyajikan materi dengan ceramah dan tanya jawab
b. Pembentukkan kelompok dengan anggota 4-5 siswa yang heterogen;
guru memberikan tugas untuk belajar bersama dalam kelompok
c. Guru memberikan permainan berupa pertanyaan dimana siswa
dapat memilih sesuai dengan nomor yang dikehendaki
d. Guru memberikan kompetisi atau turnamen setiap selesai satu materi
ajar
e. Guru memberikan penghargaan pada kinerja kelompok yang paling
baik.
6
E. Fase-fase Pembelajaran Langsung
Tahapan atau sintaks model pembelajaran langsung menurut Bruce dan
Weil (1996), sebagai berikut:
a. Orientasi
Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akan sangat
menolong siswa jika guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi
terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk orientasi dapat
berupa: (1) kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang
relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa; (2) mendiskusikan
atau menginformasikan tujuan pelajaran; (3) memberikan
penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan; (4)
menginformasikan materi/konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang
akan dilakukan selama pembelajaran; dan(5) menginformasikan kerangka
pelajaran.
b. Presentasi
Pada fase ini guru dapat menyajikan materi pelajaran baik berupa
konsep-konsep maupun keterampilan. Penyajian materi dapat berupa: (1)
penyajian materi dalam langkah-langkah kecil sehingga materi dapat
dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek;(2) pemberian contoh-contoh
konsep; (3) pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara
demonstrasi atau penjelasan langkah-langkah kerja terhadap tugas; dan (4)
menjelaskan ulang hal-hal yang sulit.
c. Latihan terstruktur
Pada fase ini guru memandu siswa untuk melakukan latihan-
latihan. Peran guru yang penting dalam fase ini adalah memberikan umpan
balik terhadap respon siswa dan memberikan penguatan terhadap respon
siswa yang benar dan mengoreksi respon siswa yang salah.
d. Latihan terbimbing
Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing ini baik juga
digunakan oleh guru untuk mengases/menilai kemampuan siswa untuk
7
melakukan tugasnya. Pada fase ini peran guru adalah memonitor dan
memberikan bimbingan jika diperlukan.
e. Latihan mandiri
Pada fase ini siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, fase
ini dapat dilalui siswa jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas
85-90% dalam fase bimbingan latihan.
Di lain pihak, Slavin (2003) mengemukakan tujuh langkah dalam sintaks
pembelajaran langsung, yaitu sebagai berikut:
a. Menginformasikan tujuan pembelajaran dan orientasi pelajaran kepada
siswa. Dalam tahap ini guru menginformasikan hal-hal yang harus
dipelajari dan kinerja siswa yang diharapkan.
b. Me-review pengetahuan dan keterampilan prasyarat. Dalam tahap ini guru
mengajukan pertanyaan untuk mengungkap pengetahuan dan keterampilan
yang telah dikuasai siswa.
c. Menyampaikan materi pelajaran. Dalam fase ini, guru menyampaikan
materi, menyajikan informasi, memberikan contoh-contoh,
mendemontrasikan konsep dan sebagainya.
d. Melaksanakan bimbingan. Bimbingan dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman siswa dan
mengoreksi kesalahan konsep.
e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih. Dalam tahap ini,
guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih
keterampilannya atau menggunakan informasi baru secara individu atau
kelompok.
f. Menilai kinerja siswa dan memberikan umpan balik. Guru memberikan
reviu terhadap hal-hal yang telah dilakukan siswa, memberikan umpan
balik terhadap respon siswa yang benar dan mengulang keterampilan jika
diperlukan.
g. Memberikan latihan mandiri. Dalam tahap ini, guru dapat memberikan
tugas-tugas mandiri kepada siswa untuk meningkatkan pemahamannya
terhadap materi yang telah mereka pelajari.
8
F. Kelebihan dan Keterbatasan Model Pembelajaran Langsung
1. Kelebihan model pembelajaran langsung:
a) Dengan model pembelajaran langsung, guru mengendalikan isi
materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat
mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa.
b) Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun
kecil.
c) Dapat digunakan untuk menekankan poin-poin penting atau
kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal
tersebut dapat diungkapkan.
d) Dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan
pengetahuan faktual yang sangat terstruktur.
e) Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan
keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang
berprestasi rendah.
f) Dapat menjadi cara untuk menyampaikan informasi yang banyak
dalam waktu yang relatif singkat yang dapat diakses secara setara
oleh seluruh siswa.
g) Memungkinkan guru untuk menyampaikan ketertarikan pribadi
mengenai mata pelajaran (melalui presentasi yang antusias) yang
dapat merangsang ketertarikan dan dan antusiasme siswa.
h) Ceramah merupakan cara yang bermanfaat untuk menyampaikan
informasi kepada siswa yang tidak suka membaca atau yang tidak
memiliki keterampilan dalam menyusun dan menafsirkan informasi.
i) Secara umum, ceramah adalah cara yang paling memungkinkan
untuk menciptakan lingkungan yang tidak mengancam dan bebas
stres bagi siswa. Para siswa yang pemalu, tidak percaya diri, dan
tidak memiliki pengetahuan yang cukup tidak merasa dipaksa dan
berpartisipasi dan dipermalukan.
j) Model pembelajaran langsung dapat digunakan untuk membangun
model pembelajaran dalam bidang studi tertentu. Guru dapat
menunjukkan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati,
9
bagaimana informasi dianalisis, dan bagaimana suatu pengetahuan
dihasilkan.
k) Pengajaran yang eksplisit membekali siswa dengan ”cara-cara
disipliner dalam memandang dunia (dan) dengan menggunakan
perspektif-perspektif alternatif” yang menyadarkan siswa akan
keterbatasan perspektif yang inheren dalam pemikiran sehari-hari.
l) Model pembelajaran langsung yang menekankan kegiatan
mendengar (misalnya ceramah) dan mengamati (misalnya
demonstrasi) dapat membantu siswa yang cocok belajar dengan cara-
cara ini.
m) Ceramah dapat bermanfaat untuk menyampaikan pengetahuan yang
tidak tersedia secara langsung bagi siswa, termasuk contoh-contoh
yang relevan dan hasil-hasil penelitian terkini.
n) Model pembelajaran langsung (terutama demonstrasi) dapat
memberi siswa tantangan untuk mempertimbangkan kesenjangan
yang terdapat di antara teori (yang seharusnya terjadi) dan observasi
(kenyataan yang mereka lihat).
o) Demonstrasi memungkinkan siswa untuk berkonsentrasi pada hasil-
hasil dari suatu tugas dan bukan teknik-teknik dalam
menghasilkannya. Hal ini penting terutama jika siswa tidak memiliki
kepercayaan diri atau keterampilan dalam melakukan tugas tersebut.
p) Siswa yang tidak dapat mengarahkan diri sendiri dapat tetap
berprestasi apabila model pembelajaran langsung digunakan secara
efektif.
q) Model pembelajaran langsung bergantung pada kemampuan refleksi
guru sehingga guru dapat terus menerus mengevaluasi dan
memperbaikinya.
2. Keterbatasan Model Pembelajaran Langsung:
a) Model pembelajaran langsung bersandar pada kemampuan siswa
untuk mengasimilasikan informasi melalui kegiatan mendengarkan,
mengamati, dan mencatat. Karena tidak semua siswa memiliki
10
keterampilan dalam hal-hal tersebut, guru masih harus
mengajarkannya kepada siswa.
b) Dalam model pembelajaran langsung, sulit untuk mengatasi
perbedaan dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat
pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan siswa.
c) Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat
secara aktif, sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan
sosial dan interpersonal mereka.
d) Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan
strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru
tidak tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias, dan
terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan
pembelajaran mereka akan terhambat.
e) Terdapat beberapa bukti penelitian bahwa tingkat struktur dan
kendali guru yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran, yang menjadi
karakteristik model pembelajaran langsung, dapat berdampak negatif
terhadap kemampuan penyelesaian masalah, kemandirian, dan
keingintahuan siswa.
f) Model pembelajaran langsung sangat bergantung pada gaya
komunikasi guru. Komunikator yang buruk cenderung menghasilkan
pembelajaran yang buruk pula dan model pembelajaran langsung
membatasi kesempatan guru untuk menampilkan banyak perilaku
komunikasi positif.
g) Jika materi yang disampaikan bersifat kompleks, rinci, atau abstrak,
model pembelajaran langsung mungkin tidak dapat memberi siswa
kesempatan yang cukup untuk memproses dan memahami informasi
yang disampaikan.
h) Model pembelajaran langsung memberi siswa cara pandang guru
mengenai bagaimana materi disusun dan disintesis, yang tidak selalu
dapat dipahami atau dikuasai oleh siswa. Siswa memiliki sedikit
kesempatan untuk mendebat cara pandang ini.
11
i) Jika model pembelajaran langsung tidak banyak melibatkan siswa,
siswa akan kehilangan perhatian setelah 10-15 menit dan hanya akan
mengingat sedikit isi materi yang disampaikan.
j) Jika terlalu sering digunakan, model pembelajaran langsung akan
membuat siswa percaya bahwa guru akan memberitahu mereka
semua yang perlu mereka ketahui. Hal ini akan menghilangkan rasa
tanggung jawab mengenai pembelajaran mereka sendiri.
k) Karena model pembelajaran langsung melibatkan banyak
komunikasi satu arah, guru sulit untuk mendapatkan umpan balik
mengenai pemahaman siswa. Hal ini dapat membuat siswa tidak
paham atau salah paham.
l) Demonstrasi sangat bergantung pada keterampilan pengamatan
siswa. Sayangnya, banyak siswa bukanlah pengamat yang baik
sehingga dapat melewatkan hal-hal yang dimaksudkan oleh guru.
G. Contoh-Contoh Pembelajaran Langsung
Berikut ini adalah contoh materi yang dapat diterapkan dengan
menggunakan pembelajaran langsung yaitu “Garis dan Sudut”.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Persiapan
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran garis dan sudut. Misalnya
untuk memahami pengertian garis sejajar dengan mengaitkan dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Demonstrasi
a. Guru mengarahkan siswa untuk memahami pengertian garis sejajar
dengan memperhatikan gambar ubin yang disederhanakan.
b. Siswa diminta memberi contoh model garis sejajar pada lantai rumah
yang terbuat dari ubin, langit-langit rumah dari eternity.
c. Guru menjelaskan sifat-sifat garis sejajar dan memeperkenalkan garis-
garis sejajar selangkah demi selangkah.
12
3. Pelatihan Terbimbing
Guru memberikan latihan kepada siswa sambil memeriksa dan
membantu kesulitan siswa. Misalnya siswa diminta mengerjakan LKS
untuk memahami sifat garis sejajar.
4. Mengecek Pemahaman dan Memberi Umpan Balik
Guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman siswa dan
memberi umpan balik terhadap respon siswa mengenai materi yang kurang
jelas dipahami dalam pelatihan terbimbing.
5. Pelatihan Lanjutan
Guru memberikan tugas atau PR untuk dikerjakan secara mandiri
berupa latihan soal.
13