0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan9 halaman

Strength and Toughness Analysis On Repair Welding Between Pipe A350 Lf2Cl1 and Api 5L X52

Penelitian ini menganalisis kekuatan dan ketangguhan sambungan pipa A350 LF2CL1 dan API 5L X52 setelah pengelasan berulang menggunakan FCAW dan SMAW. Hasil menunjukkan bahwa sambungan memenuhi persyaratan DNVGL dengan kekuatan tarik 510 MPa dan kekuatan impak rata-rata di atas 27J pada suhu -46°C. Meskipun terjadi peningkatan kekuatan tarik, kekuatan impak mengalami penurunan setelah pengelasan berulang.

Diunggah oleh

Anass Chougred
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan9 halaman

Strength and Toughness Analysis On Repair Welding Between Pipe A350 Lf2Cl1 and Api 5L X52

Penelitian ini menganalisis kekuatan dan ketangguhan sambungan pipa A350 LF2CL1 dan API 5L X52 setelah pengelasan berulang menggunakan FCAW dan SMAW. Hasil menunjukkan bahwa sambungan memenuhi persyaratan DNVGL dengan kekuatan tarik 510 MPa dan kekuatan impak rata-rata di atas 27J pada suhu -46°C. Meskipun terjadi peningkatan kekuatan tarik, kekuatan impak mengalami penurunan setelah pengelasan berulang.

Diunggah oleh

Anass Chougred
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DIMENSI, VOL. 7, NO.

1 : 78-86
MARET 2018
ISSN: 2085-9996

ANALISA KEKUATAN DAN KETANGGUHAN PADA PENGELASAN BERULANG


PADA PIPA A350 LF2CL1 DAN API 5L X52

STRENGTH AND TOUGHNESS ANALYSIS ON REPAIR WELDING BETWEEN PIPE


A350 LF2CL1 AND API 5L X52

Buyung Nul Hakim


Teknik Mesin,Fakultas Teknik,Universitas Riau Kepulauan, Batam, Indonesia
[Link]@[Link]

Abstrak

Pada penelitian ini dilakukan percobaan dengan mengunakan pipa berbeda yang telah mengalami pengelasan
berulang sebanyak satu kali dengan proses pengelasan awal Flux Core Arc Welding (FCAW) dan proses repair
menggunakan Shield Metal Arc Welding (SMAW), kemudianakan dilakukan uji tarik, uji makro, uji impak, uji
kekerasan dan Scanning Electron Microscopic (SEM). Tujuannya untuk mengetahui apakah sambungan pipa
ini memenuhi persyaratan dari peraturan DNVGL ditinjau dari aspek kekuatan tarik, impak dan ketangguhan.
Metode pengujian material akan dilakukan untuk melihat hasil yang menggambarkan kekuatan dan
karakteristik material. Sampel bahan uji berupa spesimen yang menggunakan standar AWS D1.1. Sifat beban
yang diberikan mencakup beban statis untuk uji tarik, uji kekerasan dan uji impact sedangkan uji makro untuk
melihat secara visual bentukdaripengelasan. Hasilpenelitianiniberupanilaikekuatan material yang kemudian
dibandingkan dengan nilai minimum persyaratan DNVGL. Beberapa hasil seperti penampang patahan juga
dapat mewakili karakter keuletan material. Hasil yang dicapai bahwa sambungan pipa ini memenuhi
persyaratan DNVGL ditinjau dari kekuatan tarik (510Mpa), kekuatan impak rata-rata di atas 27J pada suhu -
460C

Keywords :Flux Core Arc Welding (FCAW), Shield Metal Arc Welding (SMAW, Scanning Electron Microscopic
(SEM)

Abstract

In this experiment, experiments using different pipes have undergone repeated welding once with the initial
welding process of Flux Core Arc Welding (FCAW) and repair process using Shield Metal Arc Welding
(SMAW), then tensile test, macro test, test impact, hardness test and Scanning Electron Microscopic (SEM). The
objective is to know whether the pipeline connection meets the requirements of DNVGL regulations in terms of
tensile strength, impact and toughness. Material testing methods will be performed to see results that illustrate
the strength and characteristics of the material. Samples of test materials in the form of specimens using AWS
standard D1.1. Load properties include static load for tensile test, hardness test and impact test while macro
test to see visually the shape of welding.
The result of this research is material strength value which is then compared with minimum value of DNVGL
requirement. Some results such as fault cross section can also represent the material's ductility character. The
results achieved that this pipe joint meets the DNVGL requirements in terms of tensile strength (510 Mpa),
average impact strength above 27J at -460C

Keywords: Flux Core Arc Welding (FCAW), Shield Metal Arc Welding (SMAW), Scanning Electron
Microscopic (SEM)

78
DIMENSI, VOL. 7, NO. 1 : 78-86
MARET 2018
ISSN: 2085-9996

PENDAHULUAN
Pada proses perencanaan struktur baik itu di bidang perkapalan atau perminyakan
pemilihan prosedur pengelasan mempunyai peranan yang sangat penting. Prosedur
pengelasan ini (WPS) bertujuan untuk menentukan dimulai dari jenis kawat las yang akan
digunakan untuk menyambung struktur sesuai dengan perencanaan struktur secara
keseluruhan.
Fakta di lapangan sering dijumpai pekerjaan pengelasan tidak sempurna. Banyak
terjadi cacat las dikarenakan faktor dari tukang las, lingkungan pengelasan, cuaca.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka dibuat prosedur pengelasan perbaikan. Peraturan
atau panduan untuk prosedur pengelasan yang diterbitkan oleh badan international tidak
secara rinci membahas prosedur perbaikan pengelasan
Tinjauan Pustaka
Pengelasan adalah proses penyambungan antara dua bagian logam atau lebih dengan
menggunakan energy panas, maka logam yang di sekitar daerah las mengalami perubahan
struktur metalurgi, deformasi dan tegangan termal. Untuk mengurangi pengaruh tersebut,
maka dalam proses pengelasan perlu diperhatikan metode dan prosedur pengelasan yang
benar dan tepat, termasuk pemilihan bahan pengisi (filler) yang digunakan. Selain itu juga
diharapkan kekuatan sambungan las sama dengan material baja yang disambung.
Sambungan las yang akan digunakan pada sambungan konstruksi baja harus memenuhi
persyaratan yang ketat diantaranya adalah tegangan tarik dan ketangguhan harus mempunyai
nilai tinggi, minimal 27 Joule pada suhu yang –50°C atau 100 Joule pada suhu 0°C.
Proses FCAW sangat sering digunakan dalam industri pengelasan. Terdapat beberapa
nilai tambah dibandingkan dengan misal proses SAW atau GMAW.
Input Panas
Input panas adalah besarnya energy panas tiap satuan panjanglas ketika sumber panas
bergerak.
Input panas (H), dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:
𝐻𝐻 = 𝑃𝑃/𝑣𝑣 = 𝐸𝐸𝐸𝐸/𝑣𝑣 ………………….. (1)
Dimana :
P : Tenaga input (watt)
E :Potensiallistrik (volt)
I :Aruslistrik (amper)
v :Kecepatan Las (m/s)

79
DIMENSI, VOL. 7, NO. 1 : 78-86
MARET 2018
ISSN: 2085-9996

Input panas juga mempengaruhi bentuk penampang lintang lasan (welding bead) yang
meliputi besarnya permukaan logam induk yang mencair, permukaan bahan pengisi dan HAZ.
Fungsi utama sumber panas pada las cair (fusion welding) adalah untuk mencairkan logam,
yang mempunyai dua pengaruh, yaitu; pada pembentukan struktur mikrolas dan juga
menimbulkan siklus termal daerah lasan.
Siklus Termal Daerah Lasan
Selama pengelasan berlangsung, logam las dan daerah pengaruh panas atau heat
affected zone (HAZ) akan mengalami serangkaian siklus thermal, yaitu pemanasan sampai
mencapai suhu maksimum kemudian diikuti dengan pendinginan. Siklus thermal tersebut
mempengaruhi struktur mikro logam las dan HAZ, dimana logam akan mengalami
serangkaian transformasi fasa selama proses pendinginan, yaitu dari logam las cair berubah
menjadi Ferit-δ kemudian γ (Austenit) dan akhirnya menjadi α(Ferrit). Pada umumnya waktu
(cooling time) antara temperatur 8000C – 5000C dipakai sebagai acuan pada pengelasan baja
karbon, karena pada interval suhu tersebut terjadi trans-formasi fasa dari Austenit (γ) menjadi
Ferrite atau Bainite yang tergantung pada kecepatan pendinginannya. Besarnya waktu
pendinginan dapat dihitung dengan persamaan berikut:
𝑞𝑞
1 1
∆𝑡𝑡8/5 = 𝑣𝑣
� − � ……… (2)
2𝜋𝜋𝜋𝜋 500−𝑇𝑇0 800−𝑇𝑇0

dimana:
∆t8/5 : Waktu pendinginan antara 800 0C dan 5000C
T0 :Temperatur akhir las (0C)
q : Masukan panas (kJ/mm)
v : Kecepatan las (mm/s)
k : Konduktifitas termal (J/mm. s-1 K-1)
Struktur Mikro Las
Selama pendinginan dari logam cair sampai menuju suhu kamar, logam las mengalami
serangkaian perubahan fasa. Baja karbon rendah (kandungan C < 0,1%) akan mengalami
perubahan-perubahan fasa cair menjadi Ferrite δ ketika pembekuan berlangsung kemudian
berubah menjadi Austenite γ dan akhirnya menjadi Ferrite α dan Pearlite. Struktur mikro
yang akan terbentuk ditentukan pada saat pendinginan. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi struktur mikro, seperti komposisi akhir logam las, filler serta kondisi udara
sekitar pengelasan.

80
DIMENSI, VOL. 7, NO. 1 : 78-86
MARET 2018
ISSN: 2085-9996

Proses pendinginan pada las berlangsung secara kontinu, yaitu proses penurunan suhu
berlangsung tanpa adanya penurunan suhu secara mendadak. Proses pendinginan hasil
pengelasan pada umumnya berlangsung secara cepat sehingga untuk menganalis struktur
mikro hasil pengelasan tidak dapat digunakan diagram fasa. Diagram fasa hanya dapat
dipergunakan untuk kondisi dimana laju pendinginan sangat lambat dan proses difusi atom
berlangsung. Karena itu untuk menganalisis struktur mikro hasil pengelasan dapat digunakan
diagram Continuous Cooling Transformation (CCT).
Spesimen Uji
Berdasarkan mill certificate yang dikeluarkan specimen uji mempunyai nilai:
1. Pipa API 5L Gr. X52 :
Ultimate Tensile Load : 543 MPa
Ultimate Tensile Stress : 434 MPa
Impact Test at -50oC : 213 J
2. Pipa ASTM A350 LF2 CL1 :
Ultimate Tensile Load : 504 MPa
Ultimate Tensile Stress : 307 MPa
Impact Test at -46oC : 80.3 J
3. Kawat las merek Kiswell K-71TSR (AWS A5.20-05) untuk proses FCAW :
Ultimate Tensile Load : 588 MPa
Ultimate Tensile Stress : 522 MPa
Impact Test at -40oC : 120 J
4. Kawat las merek Lincoln Jetweld LH-75MR (AWS5.1 E7018-1 H4R) untuk proses
SMAW:
Ultimate Tensile Load : 568 MPa
Ultimate Tensile Stress :491 MPa
Impact Test at -46oC : 154 J
MetodePenelitian
Proses pengelasan yang dilakukan pertama ialah dengan proses FCAW, setelah
dilakukan pengujian merusak. Sampel uji dilakukan gauging pada daerah kolam las FCAW
kemudian dilakukan pengelasan SMAW sebagai perbaikan pengelasan.

81
DIMENSI, VOL. 7, NO. 1 : 78-86
MARET 2018
ISSN: 2085-9996

Gambar 1. Sampel uji

Gambar 2. Lokasi Pengambilan Spesimen Uji

Hasil dan Pembahasan


Uji Makro

Gambar3. Spesimen uji makro proses FCAW

82
DIMENSI, VOL. 7, NO. 1 : 78-86
MARET 2018
ISSN: 2085-9996

Gambar 4. Spesimen uji makro proses FCAW + SMAW

Uji makro untuk mengetahui gambaran struktur HAZ pada sambungan las
Uji Tarik

Uji Tarik
600

550
MPa

500

450
UTLb UTSb UTLa UTSa

Tabel 1. Hasil uji tarik

Dari hasil uji tarik, sampel mengalami kenaikan dibandingkan dengan sebelum
mengalami perbaikan atau dua kali pengelasan.
Uji Impak

Uji Impak
300.00
200.00
Joule

100.00
-
FaL +5 FaL +2 FaL +1 FaL WCL WCL FbL FbL +1 FbL +2 FbL +5
Rep

Before repair After repair

Tabel 2. Hasil uji impak pada suhu -460C

83
DIMENSI, VOL. 7, NO. 1 : 78-86
MARET 2018
ISSN: 2085-9996

Dari pengujian impak terlihat tingkat ketahanan semakin menurun setelah mengalami
pengelasan berulang.
Uji Kekerasan

350
Uji Kekerasan
300
250
Hv number

200
150
100
50
0
1 2 3 4 5 6 9 10 11 12 13 14 17 18 19
Hv b line 1 Hv b line 2 Hv b line 3

Hv a line 1 Hv a line 2 Hv a line 3

Table 3. Hasil uji kekerasan

Gambar 5. Lokasi pengujian kekerasan


Terlihat dari pengujian kekerasan, tingkat kekerasan sebelum dan sesudah mengalami
pengelasan berulang pada daerah kolam las tidak terdapat perubahan yang signifikan.
Uji SEM

Ferrit

Perlit

Gambar 6. Lokasi pada HAZ – proses welding FCAW

84
DIMENSI, VOL. 7, NO. 1 : 78-86
MARET 2018
ISSN: 2085-9996

Sebaran butiran pada gambar 6 memperlihatkan geometri bersudut akibat pendinginan


di HAZ saat proses pengelasan, hal ini mempengaruhi pada kekerasan dan mampu impak.

Ferrit

Perlit

Gambar 7. Lokasi pada kolam las – proses welding FCAW


Pada kolam las geometri butiran mampu tumbuh lebih merata dan sudut-sudut tajam tidak
banyak terlihat Gambar 7.

Ferrit

Perlit

Gambar 8. Lokasi pada HAZ – proses welding SMAW


Geometri butiran menyudut namun tidak setajam pada HAZ FCAW Gambar 6.

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dan pengujian merusak di atas, dapat disimpulkan Yield strength
setelah pengelasan dua kali mengalami kenaikan. Kemudian kekuatan impak mengalami
penurunan dan kekerasan cenderung tidak berubah. Hal ini disebabkan daerah kolam las
mengalami pemanasan yang berlebih dan juga pengamatan yang lain dapat terlihat dari
struktur mikro yang terjadi ukuran butiran mengalami perubahan menjadi lebih besar.

85
DIMENSI, VOL. 7, NO. 1 : 78-86
MARET 2018
ISSN: 2085-9996

DAFTAR PUSTAKA
American Welding Society, Structural Welding Code— Steel AWS D1.1/D1.1M:2015, no.
February. 2015.
DNVGL, “OFFSHORE STANDARDS, Metallic materials,” DNVGL-OS-B101, no. January,
2018.
DNVGL, “Fabrication and testing of offshore structures,” DNVGL-OS-C401, no. January,
2018.
D. P. FAIRCHILD, N. V BANGARU, J. Y. KOO, P. L. HARRISON, and A. OZEKCIN, “A
Study Concerning Intercritical HAZ Microstructure and Toughness in HSLA Steels,”
Weld. J., vol. 70, no. 12, p. 321s–330s, 1991.
K. Poorhaydari, B. M. Patchett, and D. G. Ivey, “Estimation of Cooling Rate in the Welding
of Plates with Intermediate Thickness,” Weld. J., vol. 84, no. 10, pp. 149–155, 2005.
M. Yuga, M. Hashimoto, and S. Suzuki, “Steel plates with excellent HAZ toughness for
offshore structures,” JFE Tech. Rep., vol. 18, no. 18(Mar), pp. 43–49, 2013.
S. Kou, Welding Metallurgy Second Edition, vol. 822, no. 1–3. 2003.
S. A. Mohamat, I. A. Ibrahim, A. Amir, and A. Ghalib, “The effect of Flux Core Arc Welding
(FCAW) processes on different parameters,” Procedia Eng., vol. 41, no. Iris, pp. 1497–
1501, 2012.
S. Ragu Nathan, V. Balasubramanian, S. Malarvizhi, and A. G. Rao, “Effect of welding
processes on mechanical and microstructural characteristics of high strength low alloy
naval grade steel joints,” Def. Technol., vol. 11, no. 3, pp. 308–317, Sep. 2015.

86

Anda mungkin juga menyukai