KEPERAWATAN JIWA “Laporan Pendahuluan Pada Pasien Risiko
Bunuh Diri”
Oleh:
Atika Mairisa Putri
243311362
TK II B Sarjana Terapan Keperawatan
Dosen Pengampu:
Renidayanti, [Link]., [Link]., Sp. Jiwa
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
JURUSAN KEPERAWATAN KEMENKES POLTEKKES PADANG
TAHUN 2026
A. Konsep Dasar 1. Pengertian
Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh pasien untuk
mengakhiri kehidupannya (Maris, Berman, Silverman, dan Bongar, 2000). Bunuh diri
merupakan tindakan agresif yang langsung ditunjukan terhadap dirinya sendiri untuk
maksud mengakhiri kehidupannya (David A. Tomb, 2003).
Perilaku bunuh diri terbagi menjadi tiga kategori (Stuart, 2006):
1) Ancaman bunuh diri yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwa
seseorang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang yang ingin
bunuh diri mungkin mengungkapkan secara verbal bahwa ia tidak akan
berada di sekitar kita lebih lama lagi atau mengomunikasikan secara
nonverbal.
2) Upaya bunuh diri yaitu semua tindakan terhadap diri sendiri yang dilakukan
oleh individu yang dapat menyebabkan kematian jika tidak dicegah.
3) Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau
diabaikan. Orang yang melakukan bunuh diri dan yang tidak melakukan
bunuh diri akan terjadi jika tidak ditemukan tepat pada waktunya. 2.
Rentang Respon
1) Rentang respon perlindungan diri yang adaptif yaitu:
• Self-enhancement (Peningkatan diri): menyayangi kehidupan diri,
berusaha selalu meningkatkan kualitas diri.
• Growth-promoting risk-taking (Pengambilan risiko yang
meningkatkan pertumbuhan): berani mengambil risiko untuk
meningkatkan perkembangan diri.
2) Rentang respon maladaptif meliputi:
• Indirect self-destructive behavior (Perilaku destruktif diri tidak
langsung): perilaku merusak diri tidak langsung, aktivitas yang dapat
mengancam kesejahteraan fisik dan berpotensi mengakibatkan
kematian; individu tidak menyadari atau menyangkal bahaya
aktivitas tersebut.
• Self-injury (Pencenderaan diri): mencederai diri,tak bermaksud
bunuh diri, tetapi perilakunya dapat mengancam diri.
• Suicide atau bunuh diri: perilaku yang sengaja menimbulkan
kematian diri; individu sadar bahkan menginginkan kematian.
3. Faktor Penyebab
Menurut Damaiyanti (2012):
1) Faktor Predisposisi
• Diagnosis psikiatri: Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri
hidupnya dengan cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan
jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko
untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan efektif,
penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
• Sifat kepribadian: Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya
dengan besarnya risiko bunuh diri adalah antipati, impulsif, dan
depresi.
• Lingkungan psikososial: pengalaman kehilangan, kehilangan
dukungan sosial, kejadian-kejadian negatif dalam hidup, penyakit
kronis, perpisahan dan bahkan perceraian. Kekuatan dukungan
sosial sangat penting dalam menciptakan intervensi yang terapeutik,
dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab masalah, respons
seseorang dalam menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
• Riwayat keluarga: Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh
diri merupakan faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang
melakukan tindakan bunuh diri.
• Faktor Biokimia: Data menunjukkan bahwa pada klien dengan risiko
bunuh diri terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam
otak seperti serotonin, adrenalin, dan dopamin. Peningkatan zat
tersebut dapat dilihat melalui rekaman gelombang otak Electro
Encephalo Graph (EEG)
2) Faktor presipitasi
Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah:
• Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan
interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti.
• Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres.
• Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman
pada diri sendiri.
• Cara untuk mengakhiri keputusan.
4. Tanda Gejala
Menurut Fitria (2009), tanda dan gejala dari risiko bunuh diri adalah:
1) Mempunyai ide untuk bunuh diri
2) Mengungkapkan keinginan untuk mati
3) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
4) Impulsif
5) Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh)
6) Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
7) Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat
dosis mematikan)
8) Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah dan
mengasingkan diri)
9) Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang depresi,
psikosis dan menyalahgunakan narkoba)
10) Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronik atau terminal)
11) Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalam karier)
12) Sumber-sumber sosial Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil
5. Proses Terjadinya
Isyarat bunuh diri verbal/non verbal
Pertimbangan untuk melakukan bunuh diri
Ambulansi kematian Ancaman bunuh diri Kurangnya respon positif
Bunuh diri Upaya bunuh diri
6. Mekanisme Koping
Mekanisme pertahanan ego yang berhubungan dengan perilaku destruktif diri
tak langsung adalah:
1) Denial, mekanisme koping yang paling menonjol
2) Rasionalisme
3) Intelektualisasi
4) Regresi
Mekanisme pertahanan diri tidak seharusnya ditantang tanpa memberikan cara
koping alternatif. Mekanisme pertahanan ini mungkin berada di antara individu dan
bunuh diri. Perilaku bunuh diri menunjukkan mendesaknya kegagalan mekanisme
koping. Ancaman bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan
pertolongan agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan
kegagalan koping dan mekanisme adaptif.
7. Penatalaksanaan
Tingkah laku (pikiran, perasaan dan tindakan) digambarkan melalui hubungan
interpersonal dalam kelompok. Model ini juga menggambarkan sebab-akibat tingkah
laku anggota yang merupakan akibat dari tingkah laku anggota yang lain. Terapis
bekerja dengan individu dan kelompok. Anggota belajar dari interaksi antaranggota dan
terapis. Melalui proses ini, tingkah laku atau kesalahan dapat dikoreksi dan dipelajari.
Pertolongan pertama biasanya dilakukan secara darurat atau di kamar
pertolongan darurat di RS, di bagian penyakit dalam atau bagian bedah. Dilakukan
pengobatan terhadap luka-luka atau keadaan keracunan. Kesadaran penderita tidak
selalu menentukan urgensi suatu tindakan medis. Penentuan perawatan tidak tergantung
pada faktor sosial, tetapi berhubungan erat dengan kriteria yang mencerminkan
besarnya kemungkinan bunuh diri. Bila keadaan keracunan atau terluka sudah dapat
diatasi, maka dapat dilakukan evaluasi psikiatri. Tidak hanya berhubungan dengan
beratnya gangguan badaniah, tetapi juga dengan gangguan psikologis. Penting sekali
dalam pengobatannya untuk menangani juga gangguan mentalnya. Untuk pasien
dengan depresi dapat diberikan terapi elektrokonsulsi, obat-obatan terutama
antidepresan, dan psikoterapi.
8. Prinsip Tindakan Keperawatan
1) Otonomi (menghormati hak pasien)
2) Non-maleficence (tidak merugikan pasien)
3) Beneficience (melakukan yang terbaik bagi pasien)
4) Justice (bersikap adil kepada semua pasien)
5) Veracity (jujur kepada pasien dan keluarga)
6) Fidelity (selalu menepati janji kepada pasien dan keluarga) 7)
Confidentiality (mampu menjaga rahasia pasien)
B. Asuhan Keperawatan Teoritis 1. Pengkajian a. Identitas
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tanggal MRS
(masuk rumah sakit), informan, tanggal pengkajian, nomor rekam medis dan alamat
klien.
b. Alasan masuk
Tanyakan pada pasien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke rumah
sakit
c. Faktor predisposisi
Beberapa faktor prediposisi perilaku bunuh diri meliputi:
1) Diagnosa Medis Gangguan Jiwa: Diagnosa medis gangguan jiwa yang
berisiko untuk bunuh diri yaitu gangguan afektif, penyalahgunaan zat dan
skizofrenia. Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya
dengan bunuh diri mengalami gangguan jiwa.
2) Sifat Kepribadian: Sifat kepribadian yang meningkatkan risiko bunuh diri
yaitu suka bermusuhan, impulsif, kepribadian antisosial dan depresif.
3) Lingkungan Psikososial: Individu yang mengalami kehilangan dengan
proses berduka yang berkepanjangan akibat perpisahan dan perceraian,
kehilangan barang dan kehilangan dukungan sosial merupakan faktor
penting yang memengaruhi individu untuk melakukan tindakan bunuh diri.
4) Riwayat Keluarga: Keluarga yang pernah melakukan bunuh diri dan konflik
yang terjadi dalam keluarga merupakan faktor penting untuk melakukan
bunuh diri.
5) Menurunnya neurotransmiter serotonin, opiat dan dopamin dapat
menimbulkan perilaku destruktif diri.
d. Pemeriksaan fisik
Hasil pengukuran tanda-tanda vital (TD, Nadi, Suhu, Pernapasan, TB, BB) dan
keluhan fisik yang dialami oleh klien
e. Psikososial
1) Genogram: Genogram minimal tiga generasi yang dapat menggambarkan
hubungan klien dan keluarga.
2) Konsep Diri
• Gambaran Diri: Klien biasanya merasa tidak ada yang ia sukai lagi
dari dirinya.
• Identitas: Tanyakan pada klien apakah dia sudah menikah atau
belum, kalau sudah menikah apakah sudah memiliki anak
• Peran Diri: Tanyakan pada klien apakah klien seorang kepala
keluarga, ibu rumah tangga atau sebagai anak dari berapa bersaudara
• Ideal Diri: Klien menyatakan bahwa kalau nanti sudah
pulang/sembuh, klien akan melakukan apa untuk hidupnya
selanjutnya, apakah lebih bersemangat atau membuat lembaran baru.
• Harga Diri:Tanyakan apakah Klien Agresif, bermusuhan, implisif,
depresi dan jarang berinteraksi dengan orang lain
3) Hubungan sosial: Tanyakan menurut klien, orang yang paling dekat
dengannya siapa, ataukah teman sekamar yang satu agama. Apakah klien
adalah orang yang kurang peduli dengan lingkungannya atau sangat peduli
dengan lingkungannya? Apakah klien sering diam, menyendiri, murung dan
tak bergairah? Apakah klien merupakan orang yang jarang berkomunikasi
dan selalu bermusuhan dengan teman yang lain, ataukah sangat sensitif?
4) Spiritual
• Nilai dan keyakinan: Tanyakan apakah pasien percaya akan adanya
Tuhan atau dia sering mempersalahkan Tuhan atas hal yang
menimpanya.
• Kegiatan ibadah: Tanyakan apakah klien sering,selalu atau jarang
beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
f. Status mental
1) Penampilan: Pada penampilan fisik tidak rapi, mandi dan berpakaian harus
disuruh, rambut tidak pernah tersisir rapi dan sedikit bau, perubahan
kehilangan fungsi, tak berdaya seperti tidak tertarik, kurang mendengarkan.
2) Pembicaraan: Klien hanya mau bicara bila ditanya oleh perawat; jawaban
yang diberikan pendek, afek datar, lambat dengan suara yang pelan, tanpa
kontak mata dengan lawan bicara, kadang tajam, terkadang terjadi blocking.
3) Aktivitas Motorik: Klien lebih banyak murung dan tak bergairah, serta malas
melakukan aktivitas
4) Interaksi selama wawancara: Kontak mata kurang, afek datar, klien jarang
memandang lawan bicara saat berkomunikasi.
5) Memori: Klien kesulitan berpikir secara rasional, penurunan kognitif.
g. Kebutuhan persiapan pulang
1) Makan: biasanya pasien makan 3x sehari dengan vaik
2) BAB/BAK: biasanya pasien BAB/BAK mandiri
3) Mandi: biasanya pasien mandi 2x sehari, memakai sabun, menyikat gigi dan
mencuci rambut setiap 2 hari sekali
4) Berpakaian: biasanya pasien dapat meggunakan pakaian yang telah
disediakan
5) Istirahat dan tidur: biasanya pasien tidur siang setelah makan siang lebih
kurang 2 jam dan pada malam hari pasien tidur lebih kurang 7-8 jam.
6) Penggunaan obat: biasanya pasien minum obat 3x sehari
7) Pemeliharaan Kesehatan: biasanya pasien akan melanjutkan obat untuk
terapi dengan dukungan dari keluarga serta petugas Kesehatan
8) Aktivitas di dalam rumah: biasanya pasien jarang membantu dirumah
9) Aktivitas di luar rumah: biasanya pasien jarang bersosialisasi dengan
keluarga maupun lingkungan
h. Mekanisme koping
Mekanisme koping yang berhubungan dengan perilaku merusak diri tak langsung
adalah denial, rasionalisasi, intelektualisasi dan regresi. Seseorang yang melakukan
tindakan bunuh diri adalah individu yang telah gagal menggunakan mekanisme
pertahanan diri sehingga bunuh diri sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan
masalah hidupnya.
i. Masalah psikososial
Masalah berkenaan dengan ekonomi, dukungan kelompok, lingkungan, pendidikan,
pekerjaan, perumahan, dan pelayanan kesehatan.
j. Pengetahuan
Biasanya klien dengan risiko bunuh diri kurang pengetahuan tentang penyakitnya.
2. Daftar Masalah
Menurut Fitria (2009), adapun daftar masalah keperawatan pada klien dengan
risiko bunuh diri sebagai berikut:
1) Risiko bunuh diri.
2) Bunuh diri.
3) Isolasi sosial.
4) Harga diri rendah
3. Pohon Masalah
Pohon masalah Resiko Bunuh Diri (Fitria, 2009):
4. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan
1) Resiko Bunuh Diri
2) Harga diri rendah
3) Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
5. Rencana Keperawatan
Diagnosa Tujuan (SLKI) Intervensi (SIKI)
Risiko Setelah dilakukan…x interaksi, maka Pencegahan Bunuh Diri (I.14538)
Bunuh diharapkan Kontrol Diri (L.09076) Observasi
Diri pasien meningkat dengan kriteria • Identifikasi gejala risiko bunuh diri
hasil: (mis: gangguan mood, halusinasi,
delusi, panik,
• Verbalisasi ancaman kepada orang
lain menurun (5)
• Verbalisasi umpatan menurun (5) penyalahgunaan zat, kesedihan,
• Perilaku menyerang menurun (5) gangguan kepribadian)
• Perilaku melukai diri • Identifikasi keinginan dan pikiran
sendiri/orang lain menurun (5) rencana bunuh diri
• Perilaku agresif/amuk menurun • Monitor lingkungan bebas bahaya
(5) secara rutin (mis: barang pribadi,
• Suara keras menurun (5) pisau cukur, jendela)
• Verbalisasi keinginan bunuh diri • Monitor adanya perubahan mood
menurun (5) atau perilaku
• Verbalisasi isyarat bunuh diri
menurun (5) Terapeutik
• Verbalisasi ancaman bunuh diri • Libatkan dalam perencanaan
menurun (5) perawatan mandiri
• Verbalisasi rencana bunuh diri • Libatkan keluarga dalam
menurun (5) perencanaan perawatan
Perilaku merencanakan bunuh diri • Lakukan pendekatan langsung dan
•
menurun (5) tidak menghakimi saat membahas
Alam perasaan depresi menurun bunuh diri
•
(5) • Berikan lingkungan dengan
pengamanan ketat dan mudah
dipantau (mis: tempat tidur dekat
ruang perawat)
• Tingkatkan pengawasan pada
kondisi tertentu (mis: rapat staf,
pergantian shift)
• Lakukan intervensi perlindungan
(mis: pembatasan area,
pengekangan fisik), jika
diperlukan
• Hindari diskusi berulang tentang
bunuh diri sebelumnya, diskusi
berorientasi pada masa sekarang
dan masa depan
• Diskusikan rencana menghadapi ide
bunuh diri di masa depan (mis:
orang yang dihubungi, ke mana
mencari bantuan)
• Pastikan obat ditelan
Edukasi
• Anjurkan mendiskusikan perasaan
yang dialami kepada orang lain
• Anjurkan menggunakan sumber
pendukung (mis: layanan spiritual,
penyedia layanan)
• Jelaskan tindakan pencegahan
bunuh diri kepada keluarga atau
orang terdekat
• Informasikan sumber daya
masyarakat dan program yang
tersedia
• Latih pencegahan risiko bunuh
diri (mis: latihan asertif, relaksasi
otot progresif)
Kolaborasi
• Kolaborasi pemberian obat
antiansietas, atau antipsikotik,
sesuai indikasi
• Kolaborasi tindakan keselamatan
kepada PPA
• Rujuk ke pelayanan Kesehatan
mental, jika perlu
Strategi Pelaksanaan (SP):
a. Pasien 1) SP 1: percakapan untuk melindungi pasien dari percobaan bunuh diri
• Identifikasi beratnya masalah resiko bunuh diri: isyarat ancaman,
percobaan (jika percobaan, segera rujuk)
• Identifikasi benda-benda berbahaya dan mengamankannya
(lingkungan aman untuk pasien)
• Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat
daftar aspek positif diri sendiri, latihan afirmasi/berpikir aspek
positif yang dimiliki, daftar aspek keluarga dan lingkungan, latih
afirmasi/berpikir positif keluarga dan lingkungan
• Masukkan pada jadwal latihan berpikir positif 5 kali perhari
2) SP 2: percakapan melindungi pasien dari isyarat bunuh diri
• Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri sendiri. Beri pujian.
Kaji ulang resiko bunuh diri
• Diskusikan harapan dan masa depan
• Diskusikan cara mencapai harapan dan masa depan
• Latih cara-cara mencapai harapan dan masa depan secara bertahap
(setahap demi setahap)
• Masukkan pada jadwal latihan berpikir positif diri sendiri, keluarga
dan lingkungan, dan tahapan kegiatan yang dilatih.
3) SP 3: percakapan untuk meningkatkan harga diri pasien dari isyarat bunuh
diri
• Evaluasi kegiatan berpikir positif diri sendiri, keluarga dan
lingkungan, serta kegiatan yang dipilih. Beri pujian
• Latih tahap kedua latihan mencapai masa depan
• Masukkan pada jadwal latihan berpikir positif diri sendiri, keluarga
dan lingkungan, serta kegiatan yang dipilih untuk persiapan masa
depan.
4) SP 4: percakapan untuk meningkatkan kemampuan dalam
menyelesaikan masalah pada pasien isyarat bunuh diri
• Evaluasi kegiatan latihan peningkatan positif diri, keluarga dan
lingkungan, beri pujian
• Evaluasi tahap kegiatan mencapai harapan dan masa depan
• Latih kegiatan harian
• Nilai apakah resiko bunuh diri teratasi
b. Keluarga
1) SP 1: keluarga mengenal masalah, melindungi pasien dan
meningkatkan harga diri pasien
• Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
• Jelaskan pengertian, tanda dan gejala serta proses terjadinya resiko
bunuh diri
• Jelaskan cara merawat pasien dengan resiko bunuh diri
• Latih cara memberikan pujian hal positif pasien, memberi dukungan
pencapaian masa depan
• Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian
2) SP 2: keluarga dapat mendukung peningkatan harga diri pasien dan
menciptakan suasana positif
• Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian dan
penghargaan atas keberhasilan dan aspek positif pasien. Beri pujian
• Latih cara memberi penghargaan pada pasien dan menciptakan
suasana positif dalam keluarga: tidak membicarakan keburukan
anggota keluarga
• Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian
3) SP 3: keluarga dapat mendukung harapan masa depan pasien
• Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian dan
penghargaan kepada pasien serta menciptakan suasana positif dalam
keluarga. Beri pujian
• Bersama keluarga berdiskusi dengan pasien tentang harapan masa
depan dan langkah-langkah mencapainya.
• Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian
4) SP 4: keluarga dapat mendukung pasien dalam melakukan kegiatan
masa depan
• Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian dan
penghargaan kepada pasien serta menciptakan suasana positif dalam
keluarga. Beri pujian
• Bersama keluarga berdiskusi tentang langkah dan kegiatan untuk
harapan masa depan
6. Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan
keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan yang telah direncanakan,
perawat perlu memvalidasi apakah rencana tindakan keperawatan masih dibutuhkan
dan sesuai dengan kondisi klien saat ini (Damaiyanti, 2012).
Selain itu, salah satu hal yang penting dalam pelaksanaan rencana tindakan
keperawatan adalah teknik komunikasi terapeutik. Teknik ini dapat digunakan secara
verbal: kata pembuka, informasi, fokus. Selain teknik verbal, perawat juga harus
menggunakan teknik nonverbal seperti kontak mata, mendekati klien, tersenyum,
berjabat tangan, dan sebagainya. Kehadiran psikologis perawat dalam komunikasi
terapeutik terdiri dari keikhlasan, penghargaan, empati, dan konkret (Yusuf, 2019).
7. Evaluasi
Menurut Trimelia (2011), evaluasi dilakukan dengan berfokus pada perubahan
perilaku klien setelah diberikan tindakan keperawatan. Keluarga juga perlu dievaluasi
karena merupakan sistem pendukung yang penting. Menurut Keliat (1998), evaluasi
adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada
klien. Evaluasi dapat dilakukan berdasarkan SOAP sebagai pola pikir.
S : Respons subjektif dari klien terhadap intervensi keperawatan.
O : Respons objektif dari klien terhadap intervensi keperawatan.
A : Analisis ulang atas dasar subjek dan objek untuk mengumpulkan apakah masalah
masih ada, munculnya masalah baru, atau ada data yang berlawanan dengan masalah
yang masih ada.
P : perencanaan atau tindakan lanjut berdasarkan hasil analisis pada respons klien.
C. Daftar Pustaka
Damaiyanti, M. Iskandar. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama
Keliat, Budi Anna. (2006). Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
David. (2003). Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Direja. A. H. (2011). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika. Purba, dkk.
(2018). Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah psikososial dan gangguan
jiwa. Medan: USU Press.
Fitria, Nita. (2009). Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP & SP) untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa
Berat bagi Program S1 Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta.
Maris, R. W., Berman, A. L., Silverman, M. M., & Bongar, B. M. (2000). Comprehensive
Textbook Of Suicidology. Belmont: Guilford Press.
Yusuf, A., Fitryasari, R., & Tristiana, D. (2019). Kesehatan Jiwa: Pendekatan Holistik dalam
Asuhan Keperawatan (1st ed.). Jakarta: Mitra Wacana Media.
Stuart, Gail W. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Stuart, G. (2005). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EG
PPNI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik,
Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan,
Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI