Seminar Kasus Wisma Nuri Fiks!....
Seminar Kasus Wisma Nuri Fiks!....
Disusun Oleh:
Diketahui Oleh:
Segala puji serta syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Tn. I dengan Harga
Diri Rendah di Ruangan Nuri RSJ Prof. HB Saanin Padang”
Salawat serta salam tidak lupa penulis curahkan kepada junjungan kita nabi besar
Muhammad S.A.W yang telah menjadi uswah bagi pengikutnya, sehingga dapat
melahirkan peradaban baru di dunia ini, yaitu peradaban islam yang tidak pernah lekang
oleh [Link] menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,
semua itu dikarenakan keterbatasan pengalaman dan pengetahuan penulis. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran serta masukan yang membangun sebagai
bahan perbaikan dari berbagai pihak. Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat,
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi seluruh pembaca. Dalam penulisan makalah
ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.
Penulis sudah menyusun makalah seminar ini sesuai dengan arahan dari
pembimbing dan dari buku sumber yang ada. Namun, tidak ada yang sempurna maka dari
itu penulis mengharapkan kritik dan saran serta masukan yang dapat memperbaiki
makalah kasus ini. Harapan penulis, semoga makalah kasus dapat bermanfaat bagi semua
pihak. Diharapkan makalah kasus disetujui dan dilanjutkan ke tahap berikutnya.
(Penulis)
i
DAFTAR ISI
ii
BAB IV PENUTUP ....................................................................................................... 59
A. Kesimpulan ....................................................................................................... 59
B. Saran .................................................................................................................. 60
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 61
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa atau kesehatan mental merupakan kondisi individu yang
sejahtera, ketika individu sadar akan kemampuan yang dimilikinya mampu dalam
pengelolaan stress yang dialami serta beradaptasi dengan baik, mampu produktif
dalam bekerja serta berkontribusi terhadap lingkungannya (WHO,2022).
Kesehatan jiwa yaitu kondisi seseorang atau individu dapat memiliki perasaan
yang sejahtera baik secara subjektif maupun objektif yang dapat dilihat melalui
perkembangan fisik, kognitif, serta emosional yang optimal sehingga berdampak
pada peniliaian diri yang mencakup aspek konsep diri, self-control dan well-being
Harga diri rendah merupakan masalah keperawatan yang signifikan di
Indonesia, ditandai dengan evaluasi negatif terhadap diri sendiri, perasaan tidak
berharga, dan kecenderungan isolasi sosial, yang sering menyertai gangguan jiwa
seperti depresi dan skizofrenia. Menurut Hartini dan Pratama (2021), kondisi ini
dapat memicu penurunan kualitas hidup hingga risiko bunuh diri jika tidak
ditangani, terutama pada pasien dengan faktor risiko seperti status sosial ekonomi
rendah dan pendidikan terbatas. Prevalensi meningkat pada pasien kronis, di mana
harga diri rendah situasional dapat berkembang menjadi kronis akibat respons
negatif terhadap situasi seperti penyakit paru atau gangguan jiwa.
Kasus harga diri rendah penting untuk diangkat dalam seminar kasus
karena memiliki prevalensi yang cukup tinggi dalam praktik keperawatan jiwa
dan sering kali menjadi masalah utama maupun masalah yang menyertai
gangguan lain. Selain itu, penanganan harga diri rendah membutuhkan
pendekatan keperawatan yang komprehensif, meliputi komunikasi terapeutik,
terapi aktivitas kelompok, serta dukungan keluarga yang berkesinambungan.
Alasan lain pemilihan kasus ini adalah karena pasien dengan harga diri
rendah sering menunjukkan respon yang kurang adaptif terhadap lingkungan,
sehingga diperlukan intervensi keperawatan yang tepat untuk membantu pasien
mengenali potensi diri, meningkatkan kepercayaan diri, serta mengembangkan
koping yang lebih adaptif.
1
Dengan demikian, melalui seminar kasus ini diharapkan dapat
meningkatkan pemahaman mengenai konsep harga diri rendah, proses asuhan
keperawatan yang tepat, serta kemampuan dalam memberikan intervensi yang
efektif guna meningkatkan kualitas hidup pasien.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui penerapan asuhan keperawatan jiwa pada Tn. I dengan
masalah utama Harga Diri Rendah di ruang Nuri RSJ. Prof. HB Saanin Padang
2. Tujuan Khusus
a) Mampu mendeskripsikan hasil pengkajian keperawatan pada Tn. I dengan
Harga Diri Rendah di ruang Nuri RSJ. Prof. HB Saanin Padang
b) Mampu mendeskripsikan rumusan diagnosa keperawatan pada Tn. I
dengan Harga Diri Rendah di ruang Nuri RSJ. Prof. HB Saanin Padang
c) Mampu mendeskripsikan rencana keperawatan pada Tn. I dengan Harga
Diri Rendah di ruang Nuri RSJ. Prof. HB Saanin Padang
d) Mampu mendeskripsikan tindakan keperawatan pada Tn. I dengan Harga
Diri Rendah di ruang Nuri RSJ. Prof. HB Saanin Padang
e) Mampu mendeskripsikan evaluasi keperawatan pada Tn. I dengan Harga
Diri Rendah di ruang Nuri RSJ. Prof. HB Saanin Padang
f) Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Tn. I dengan
Harga Diri Rendah di ruang Nuri RSJ. Prof. HB Saanin Padang
C. Manfaat
1. Bagi Penulis
Hasil laporan kasus ini di gunakan untuk memperluas wawasan dan keilmuan
terutama perawatan pasien Harga Diri Rendah dan merupakan implementasi
dari kuliah yang telah diajarkan selama proses pembelajaran.
2. Bagi Institusi
Hasil laporan ini dapat digunakan sebagai referensi bagi mahasiswa
Keperawatan Kemenkes Poltekkes Padang khususnya dalam pengelolaan
pasien Harga Diri Rendah
2
3. Bagi Pelayanan Rumah Sakit
Asuhan keperawatan ini dapat digunakan sebagai pedoman atau standar untuk
menangani kasus-kasus serupa di masa mendatang. Dengan memahami
langkah-langkah efektif dalam menangani Harga Diri Rendah, institusi
pelayanan kesehatan dapat mengembangkan protokol yang lebih baik.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Harga Diri Rendah
Menurut Husni (2023) harga diri rendah dapat diartikan sebagai kondisi
seseorang yang memandang negatif kemampuan yang dimilikinya dan tidak
mampu mempertanggungjawabkan kehidupannya sehingga merasa tidak berguna.
Harga diri rendah adalah evaluasi diri negatif yang dilibatkan dengan perasaan
lemah, takut, tidak berdaya, putus asa, rapuh, tidak lengkap, tidak memiliki nilai,
dan tidak memadai. Sedangkan menurut Atmojo & Purbaningrum (2021). Harga
diri rendah kronis adalah perasaan negatif 10 terhadap diri sendiri yang dapat
merasakan kehilangan percaya diri, pesimis, dan tidak berharga di kehidupan yang
berlangsung sejak lama.
Harga diri rendah didefinisikan sebagai evaluasi negatif yang
berkelanjutan terhadap diri sendiri, yang meliputi perasaan tidak berharga,
hilangnya kepercayaan diri, pesimisme, dan kritik diri berlebihan, sering kali
menyertai gangguan konsep diri dalam praktik keperawatan. Menurut Rahayu et
al. (2021), kondisi ini muncul ketika individu membandingkan perilakunya
dengan standar pribadi yang tidak tercapai, menghasilkan pikiran negatif seperti
"saya ditakdirkan gagal" atau "tidak berguna".
4
Ketika kurang mendapat stimulasi dan kedekatan, perpisahan dengan
orang tua, penilaian negatif dari orang tua, kurangnya dukungan orang
tua, ketidakmampuan mempercayai orang terdekat.
b) Usia sekolah
Berhubungan dengan kegagalan mencapai tingkatan objektif, kehilangan
kelompok bermain, tanggapan negatif yang berulang.
c) Usia remaja
Berhubungan dengan jenis kelamin, perubahan penampilan, gangguan
hubungan berteman, kehilangan orang terdekat.
d) Usia sebaya
Berhubungan dengan perubahan yang berkaitan dengan penuaan.
3. Kronik
Dalam hal ini, evaluasi negatif terhadap diri yang berlangsung lama, seperti
sejak sakit atau dirawat, dapat menyebabkan pikiran negative terhadap diri
yang lebih besar, yang pada gilirannya dapat menyebabkan respons
maladaptive.
5
D. Rentang Respon Neurologis
Adapun rentang respon konsep diri
Keterangan :
a. Aktualisasi diri : Pernyataan konsep diri positif dengan pengalaman sukses.
b. Konsep diri positif : Mempunyai pengalaman positif dalam perwujudan
dirinya.
c. Harga diri rendah : Perasaan yang negatif pada diri sendiri, hilangnya percaya
diri, tidak berharga lagi, tidak berdaya, dan pesimis.
d. Keracunan identitas : Kegagalan seseorang untuk mengintegrasikan berbagai
identifikasi masa anak-anak.
e. Dipersonalisasi : Perasaan sulit membedakan diri sendiri dan merasa tidak
nyata dan asing.
a. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan timbulnya harga diri rendah
adalah:
1) Biologis
Timbulnya harga diri rendah sangat erat hubungannya dengan keturunan.
Adanya anggota keluarga dengan riwayat menderita penyakit kronis,
gangguan jiwa, penggunaan zat-zat terlarang serta trauma pada bagian
kepala dapat meningkatkan risiko terjadinya harga diri rendah pada
generasi berikutnya.
2) Psikologis
Faktor psikologis mencakup adanya riwayat penolakan dari lingkungan
sekitar, peristiwa yang tidak menyenangkan di masa lalu, kegagalan
6
berulang akibat harapan yang tidak realistis, tertanamnya penilaian negatif
pada diri dan kemampuan yang dimiliki serta kurangnya tanggung jawab
terhadap diri sendiri.
3) Faktor sosial budaya
Adanya penilaian negatif yang berasal dari orang-orang terdekat dan
lingkungan sekitar yang sudah melekat pada diri penderita, pendidikan
yang rendah, begitupun dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah.
b. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi yang dapat menimbulkan harga diri rendah adalah:
1) Riwayat trauma Riwayat trauma mencakup trauma akibat kekerasan
seksual yang berdampak pada fisik dan emosional yang tidak
menyenangkan, menghadapi peristiwa yang mengancam kehidupan,
berada dalam lingkungan dengan perilaku kekerasan baik itu sebagai
korban, saksi maupun pelaku.
2) Ketegangan peran
Ketegangan peran dapat terjadi karena:
a) Transisi peran perkembangan, yakni perubahan peran dan tugas yang
dialami saat peralihan masa perkembangan.
b) Transisi pera situasi, yakni perubahan yang terjadi dengan
bertambahnya anggota keluarga melalui kelahiran atau berkurangnya
anggota keluarga akibat kematian.
c) Transisi peran sehat-sakit, yakni perubahan yang terjadi saat seseorang
mengalami pergeseran kondisi dari sehat menjadi sakit yang dapat
menyebabkan ketidakmampuan melaksanakan peran seperti
sebelumnya.
Menurut PPNI (2017) adapun penyebab harga diri rendah kronis, yakni:
a. Terpapar situasi traumatis
b. Kegagalan berulang
c. Kurangnya pengakuan dari orang lain
d. Ketidakefektifan mengatasi masalah kehilangan
e. Gangguan psikiatri
f. Penguatan negatif berulang
g. Ketidaksesuaian budaya
7
F. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang timbul dari harga diri rendah kronis menurut
PPNI (2017):
8
G. Mekanisme Koping
Menurut buku keperawatan (SDKI, 2017): koping individu dan keluarga
tidak efektif sebagai berikut :
H. Penatalaksanaan
Menurut (Sudibyo et al., 2023). Penatalaksanaan yang dapat dilakukan
pada pasien dengan harga diri rendah antara lain:
1. Psikofarma
Dalam penanganan pasien dengan gangguan kesehatan jiwa, pengobatan
farmakologi, termasuk salah satu pendekatan yang efektif untuk menangani
pasien dengan gangguan kesehatan jiwa. Jenis pengobatan ini memberikan
beberapa jenis obat-obatan sesuai dengan gejala yang dialami oleh pasien.
Psikofarmaka adalah berbagai jenis obat yang bekerja pada sistem saraf pusat
dikenal sebagai psikofarmaka. Contohnya seperti obat berikut ini:
a. Obat antidepresan, yang digunakan untuk mengobati depresi ringan
hingga berat, kegelisaan, dan kondisi lainnya. Contoh: citalopram,
fluoxetine, dan antidepresan trisiklik.
9
b. Obat antipsikotik, digunakan untuk mengobati pasien yang menderita
gangguan psikotik, salah satunya adalah skizofrenia. Contoh: clozapine,
risperidone, dan sebagainya.
c. Obat penstabil mood, digunakan untuk mengobati gangguan bipolar yang
ditandai dengan pergantian fase menarik (bahagia yang berlebihan) dan
depresif (putus asa). Contoh: carbamazepine, lithium, olanzapine,
ziprasidone, dan valpromaide.
d. Obat anti kecemasan, untuk mengatasi berbagai jenis kecemasan dan
gangguan panik. Obat ini juga dapat berfungsi mengendalikan insomnia
dan agitasi yang menjadi gejala gangguan. Contoh: benzodiazepine,
alpazolam, diazepam, clonazepam, dan lorazepam.
2. Psikoterapi
Psikoterapi adalah terapi yang mendorong pasien untuk berinteraksi dengan
orang lain, termasuk perawat dan dokter. Tujuannya adalah untuk mencegah
pasien menarik diri atau mengasingkan diri lagi, yang dapat menyebabkan
kebiasaan yang buruk. Dalam psikoterapi, pasien dapat diminta untuk
berpartisipasi dalam aktivitas kelompok, permainan, atau latihan bersama.
3. Electro Convulsive Therapy (ECT)
Terapi kejang listrik (ECT) adalah teknik terapi yang menggunakan listrik
untuk mengobati sejumlah kondisi gangguan jiwa. Pasien dengan 17
skizofrenia yang tidak dapat diobati dengan terapi neutropleptika oral atau
injeksi biasanya menerima terapi ini.
4. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
Terapi aktivitas kelompok adalah suatu upaya memfasilitasi terapi terhadap
sejumlah pasien dengan gangguan jiwa secara bersamaan. Terapi ini bertujuan
untuk meningkatkan hubungan individu dengan orang lain dalam kelompok.
TAK biasanya diterapkan pada pasien dengan masalah keperawatan yang
sama. Terapi aktivitas kelompok dibagi menjadi 4, yaitu terapi aktivitas
kelompok stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi
sensori, terapi aktivitas kelompok stimulasi realita, dan terapi aktivitas
kelompok sosialisasi.
10
5. Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behaviour Therapy)
Terapi kognitif adalah terapi jangka pendek dan dilakukan secara teratur, yang
memberikan dasar berfikir pada pasien untuk mengekspresikan perasaan
negatif, memahami masalah, mengatasi perasaan negatif, serta mampu
memecahkan masalah tersebut. Terapi kognitif sebenarnya merupakan
rangkaian dengan terapi perilaku yang disebut terapi kognitif [Link]
kognitif merupakan salah satu bentuk psikoterapi yang melatih pasien untuk
mengubah pikiran otomatis negatif dan cara pandang seseorang terhadap
sesuatu sehingga menimbulkan perasaan lebih baik dan bertindak produktif.
11
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A. Pengkajian Keperawatan
Panduan utama untuk proses pembedahan adalah pengkajian. Tahap ini termasuk
mengumpulkan data dan memahami kebutuhan atau masalah pasien.
Menurut panduan pengkajian keperawatan jiwa (Kemenkes RI, 2021; Petunjuk
Teknis Pengisian Format Pengkajian Keperawatan Jiwa, 2023) isi dari data
pengkajian meliputi:
1. Identitas pasien
Nama, nama panggilan, usia, No. MR, jenis kelamin, alamat lengkap, tanggal
masuk dan keluarga yang bisa di hubungi.
2. Alasan masuk
Memeriksa faktor-faktor yang mendorong pasien atau keluarga untuk masuk
atau dirawat di rumah sakit atau puskesmas, apakah mereka telah mengetahui
tentang penyakit mereka sebelumnya, dan apakah keluarga telah mengambil
tindakan untuk mengatasi masalah mereka. Pasien dengan harga diri rendah
biasanya mengeluh tentang perasaan tidak berguna, tidak berharga,
mengkritik diri sendiri, malu, dan kurang percaya diri. Pasien yang kurang
harga diri biasanya tampak tidak berani menatap lawan bicara, lebih sering
menunduk, dan mudah tersinggung.
3. Faktor predisposisi
Faktor-faktor yang mungkin terjadi pada pasien dengan harga diri yang
rendah termasuk penolakan orangtua yang tidak realistis, kegagalan berulang,
ketergantungan pada orang lain, penolakan tanggung jawab pribadi, dan ideal
diri yang tidak realistis.
4. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan TTV, tinggi badan, berat badan dan tanyakan apakah ada
keluhan fisik yang dirasakan. Pasien dengan harga diri rendah biasanya
mengalami peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi, serta tanda-tanda
stres seperti kesulitan makan dan tidur. Mereka juga biasanya mengalami
penurunan berat badan karena tanda-tanda stres, seperti kesulitan tidur dan
12
penampilan yang tidak teratur, kotor dan tidak terawat.
5. Psikososial
a) Genogram
Menggambarkan hubungan pasien dan keluarganya dengan melihat dari pola
komunikasi, pengambilan keputusan, dan pola asuh.
b) Konsep diri
1) Gambaran diri
Tanyakan bagaimana klien melihat anggota tubuhnya, bagian tubuh yang
disukainya, dan reaksinya terhadap bagian tubuh yang tidak disukai dan
disukainya. Pasien dengan harga diri rendah cenderung merendahkan diri
sendiri, merasa bersalah kepada diri sendiri, dan merasa tidak mampu.
2) Identitas diri
Tanyakan status dan posisi pasien sebelum masuk dalam perawatan,
apakah pasien puas dengan status dan jabatannya, kepuasan pasien
sebagai laki-laki atau perempuan, dan keunikan mereka sesuai jenis
kelamin dan posisinya. Pasien yang tidak memiliki harga diri biasanya
menunduk, tidak percaya diri, dan tidak berani menatap orang lain saat
berbicara.
3) Fungsi peran
Peran pasien dalam keluarga, pekerjaan, atau kelompok masyarakat,
serta kemampuan pasien untuk melakukan peran tersebut, perubahan
yang dirasakan saat pasien sakit atau dirawat, dan bagaimana perasaan
mereka terhadap perubahan tersebut
Karena kurang percaya diri dan motivasi, pasien dengan harga diri
rendah biasanya tidak mampu melakukannya dengan baik.
4) Ideal diri
Tanyakan apa yang diharapkan klien tentang keadaan tubuh yang ideal,
jabatan, tugas, peran dalam keluarga, pekerjaan, atau sekolah, harapan
pasien terhadap lingkungannya dan penyakitnya, jika kenyataannya
tidak sesuai dengan harapannya. Pasien dengan harga diri rendah
biasanya kurang percaya diri, merendahkan martabat, dan menolak
kemampuan dirinya.
13
5) Harga diri
Tanyakan penilaian pasien terhadap dirinya. Pasien dengan harga diri
rendah biasanya merasa malu terhadap diri sendiri, merasa bersalah
terhadap diri sendiri, merendahkan martabat, memiliki pandangan hidup
yang tidak optimis, melakukan penolakan terhadap kemampuan dirinya
dan kurang percaya diri.
c) Hubungan sosial
Tanyakan tentang orang yang paling penting bagi pasien, cara penyelesaian
dari pasien jika ada masalah, kelompok apa saja yang diikuti dalam
masyarakat, peran mereka dalam masyarakat, hambatan yang dihadapi
dalam berinteraksi dengan orang lain, dan minat mereka dalam berinteraksi
dengan orang lain. Pasien yang merasa malu biasanya menarik diri dari
lingkungan sekitar.
d) Spritual
Tanyakan tentang nilai atau keyakinan, ibadah, kepuasan dalam
menjalankan ibadah. Pasien dengan harga diri rendah cenderung berdiam
diri dan tidak melaksanakan fungsi spritualnya.
6. Status mental
a) Penampilan
Observasi penampilan pasien dari ujung rambut hingga kaki, apakah ada
yang tidak rapi, penggunaan pakaian yang tidak sesuai, cara berpakaian
yang tidak seperti biasanya, kemampuan pasien untuk
berpenampilan, dan ketidakmampuan dalam berpenampilan berdampak
pada kesehatan mental pasien . Pasien dengan harga diri rendah biasanya
tidak memperhatikan kebersihan diri, seperti rambut yang kotor dan luluh,
kuku yang panjang dan hitam, kulit yang kotor, dan gigi yang kuning.
b) Pembicaraan
Pasien dengan harga diri rendah biasanya berbicara gagap, sering terhenti,
lambat, membisu, dan tidak mampu memulai komunikasi.
c) Aktivitas motorik
Pasien dengan harga diri rendah biasanya lebih sering menunduk, merasa
14
malu dan tidak berani untuk menatap lawan bicara.
d) Alam Perasaan
Pasien dengan harga diri rendah biasanya menunjukkan perasaan sedih,
tidak berharga, malu, dan merasa tidak berguna. Pasien sering
mengungkapkan perasaan kecewa terhadap diri sendiri, merasa gagal, serta
tidak puas dengan kemampuan yang dimiliki. Selain itu, pasien juga dapat
menunjukkan perasaan putus asa, rendah diri, dan kurang percaya diri dalam
menghadapi situasi kehidupan sehari-hari. Perasaan negatif ini biasanya
berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi interaksi sosial serta
aktivitas pasien.
e) Afek dan Emosi
Pasien harga diri rendah cenderung berekspresi datar atau tidak ada
perubahan ekspresi wajah saat ada stimulus senang dan sedih.
f) Interaski selama wawancara
Pasien harga diri rendah biasanya kurang atau tidak mampu melakukan
kontak mata saat diwawancara.
g) Proses pikir
1) Arus pikir
Pasien dengan harga diri rendah cenderung blocking atau pembicaraan
terhenti secara tiba-tiba tanpa adanya gangguan dari luar kemudian
dilanjutkan kembali.
2) Bentuk pikir
Pasien dengan harga diri rendah biasanya memiliki pemikiran berupa
fantasia atau lamunan untuk memuaskan keinginan yang tidak dapat
digapainya.
3) Isi pikir
(1) Pikiran rendah diri seperti selalu merasa bersalah pada dirinya serta
penolakan terhadap kemampuan diri dan menghina diri akan hal
apapun yang pernah dilakukan atau yang belum pernah
dilakukannya.
(2) Rasa bersalah seperti pengungkapan diri negatif
(3) Pesimis seperti berpandangan bahwa masa depannya yang suram
15
tentang banyak hal di dalam hidupnya.
h) Tingkat kesadaran
Pasien dengan harga diri rendah tingkat kesadaran composmentis, namun
ada gangguan orientasi diri terhadap orang lain.
i) Memori
Pasien dengan harga diri rendah mampu mengingat memori jangka panjang
atau jangka pendek.
j) Tingkat konsentrasi
Pasien dengan harga diri rendah biasanya memiliki tingkat konsentrasi yang
cenderung menurun karena adanya pemikiran akan ketidakmampuan
terhadap diri sendiri.
k) Kemampuan pengambilan keputusan
Pasien dengan harga diri rendah biasanya sulit untuk menentukan tujuan dan
pengambilan keputusan karena selalu terbayang ketidakmampuan dirinya
sendiri.
l) Daya tilik
Penyakit pasien dengan harga diri rendah biasanya diingkari, seperti tidak
menyadari akan gejala penyakit (perubahan fisik dan emosi), merasa tidak
perlu meminta pertolongan, tidak mau bercerita tentang penyakitnya, atau
menyalahkan hal-hal di luar dirinya atau lingkungan yang menyebabkan
penyakit atau masalah muncul.
7. Kebutuhan pasien pulang
a) Kemampuan pasien memenuhi kebutuhan.
b) Kegiatan sehari-hari (ADL).
8. Mekanisme Koping
Lihat bagaimana pasien bertindak saat menghadapi masalah; apakah mereka
menggunakan pendekatan adaptif, seperti berbicara dengan orang lain, mampu
menyelesaikan masalah, menggunakan teknik relaksasi, berolahraga, atau
pendekatan maladaptif, seperti minum alkohol, merokok, reaksi
lambat/berlebihan, menghindar, menciderai diri, dan sebagainya.
9. Masalah Psikososial dan Lingkungan
16
Pada umumnya klien dengan harga diri rendah mengalami masalah dalam aspek
psikososial dan lingkungan, seperti menarik diri dari pergaulan, merasa tidak
berharga, kurang percaya diri, serta kesulitan berinteraksi dengan keluarga
maupun masyarakat. Klien sering merasa ditolak, tidak dihargai, atau tidak
mampu memenuhi harapan lingkungan, sehingga cenderung menghindari
hubungan sosial.
10. Pengetahuan
Klien biasanya memiliki tingkat pengetahuan yang bervariasi mengenai kondisi
yang dialaminya. Sebagian klien dapat menyadari perasaan rendah diri yang
dialami, namun sering kali tidak mengetahui cara mengatasinya secara adaptif.
Klien membutuhkan edukasi dan dukungan untuk meningkatkan pemahaman
tentang kondisi dirinya serta cara membangun harga diri yang positif.
11. Aspek Medis
Klien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran biasanya
mendapatkan pengobatan seperti : Chlorpromazine (CPZ) 2 x 10 mg,
Trihexyphenidyl (THZ) 2 x 2 mg, dan Risperidone 2 x 2 mg.
A. Diangnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan Harga Diri rendah
B. Pohon Masalah
17
(Arsudi, 2022)
C. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa SLKI SIKI
keperawatan
1. Harga Diri Setelah dilakukan Promosi Harga Diri
Rendah intervensi Observasi
keperawatan selama • Identifikasi budaya,
4x pertemuan, maka agama, ras, jenis
harga diri meningkat, kelamin, dan usia
dengan kriteria hasil : terhadap harga diri
• Penilaian diri • Monitor verbalisasi yang
18
wajah • Berikan umpan balik
meningkat positif atas peningkatan
mencapai tujuan
• Perasaan malu • Fasilitasi lingkungan dan
menurun aktivitas yang
• Perasaan meningkatkan diri
Edukasi
bersalah
• Jelaskan kepada keluarga
menurun pentingnya dukungan
• Perasaan tidak dalam perkembangan
konsep positif diri pasien
mampu
• Anjurkan
melakukan mengidentifikasi
apapun kekuatan yang dimiliki
• Anjurkan
menurun
mempertahankan kontak
• Meremehkan mata saat berkomunikasi
kemampuan dengan orang lain
• Anjurkan membuka diri
mengatasi
terhadap kritik negatif
masalah • Anjurkan mengevaluasi
menurun perilaku
• Ajarkan cara mengatasi
bullying
• Latih peningkatan
tanggung jawab untuk
diri sendiri
• Latih
pernyataan/kemampuan
positif diri
• Latih cara berfikir dan
berperilaku positif
• Latih meningkatkan
kepercayaan pada
kemampuan dalam
menangani situasi
19
keterlibatan sosial • Identifikasi kemampuan
menigkat dengan berpartisipasi dalam
kriteria hasil: aktivitas tertentu
• Minat interaksi • Identifikasi sumber daya
meningkat untuk aktivitas yang
diinginkan
• Verbalisasi
• Identifikasi strategi
isolasi menurun meningkatkan partisipasi
• Verbalisasi dalam aktivitas
• Identifikasi makna
ketidakamanan
aktivitas rutin (mis:
ditempat umum bekerja) dan waktu luang
menurun • Monitor respons
• Perilaku menarik emosional, fisik, sosial,
diri menurun dan spiritual terhadap
aktivitas
Terapeutik
• Fasilitasi fokus pada
kemampuan, bukan
defisit yang dialami
• Sepakati komitmen
untuk meningkatkan
frekuensi dan rentang
aktivitas
• Fasilitasi memilih
aktivitas dan tetapkan
tujuan aktivitas yang
konsisten sesuai
kemampuan fisik,
psikologis, dan sosial
• Koordinasikan pemilhan
aktivitas sesuai usia
• Fasilitasi makna
aktivitas yang dipilih
• Fasilitasi transportasi
untuk menghadiri
aktivitas, jika sesuai
• Fasilitasi pasien dan
keluarga dalam
menyesuaikan
lingkungan untuk
20
mengakomodasi
aktivitas yang dipilih
• Fasilitasi aktivitas rutin
(mis: ambulasi,
mobilisasi, dan
perawatan diri), sesuai
kebutuhan
• Fasilitasi aktivitas
pengganti saat
mengalami keterbatasan
waktu, energi, atau gerak
• Fasilitasi aktivitas
motorik kasar untuk
pasien hiperaktif
• Tingkatkan aktivitas
fisik untuk memelihara
berat badan, jika sesuai
• Fasilitasi aktivitas
motorik untuk
merelaksasi otot
• Fasilitasi aktivitas
aktivitas dengan
komponen memori
implisit dan emosional
(mis: kegiatan
keagamaan khusus)
untuk pasien demensia,
jika sesuai
• Libatkan dalam
permainan kelompok
yang tidak kompetitif,
terstruktur, dan aktif
• Tingkatkan keterlibatan
dalam aktivitas rekreasi
dan diversifikasi untuk
menurunkan kecemasan
(mis: vocal group, bola
voli, tenis meja, jogging,
berenang, tugas
sederhana, permainan
sederhana, tugas rutin,
21
tugas rumah tangga,
perawatan diri, dan teka-
teki dan kartu)
• Libatkan keluarga dalam
aktivitas, jika perlu
• Fasilitasi
mengembangkan
motivasi dan penguatan
diri
• Fasilitasi pasien dan
keluarga memantau
kemajuannya sendiri
untuk mencapai tujuan
• Jadwalkan aktivitas
dalam rutinitas sehari-
hari
• Berikan penguatan
positif atas partisipasi
dalam aktivitas
Edukasi
• Jelaskan metode
aktivitas fisik sehari-
hari, jika perlu
• Ajarkan cara
melakukan aktivitas
yang dipilih
• Anjurkan melakukan
aktivitas fisik, sosial,
spiritual, dan kognitif
dalam menjaga fungsi
dan kesehatan
• Anjurkan terlibat
dalam aktivitas
kelompok atau terapi,
jika sesuai
22
• Anjurkan keluarga
untuk memberi
penguatan positif atas
partisipasi dalam
aktivitas
Kolaborasi
• Kolaborasi dengan
terapis okupasi dalam
merencanakan dan
memonitor program
aktivitas, jika sesuai
Rujuk pada pusat atau program
aktivitas komunitas, jika perlu
3. Defisit setelah dilakukan Dukungan Perawatan Diri
perawatan intervensi Observasi
diri keperawatan selama 1) Identifikasi kebiasaan
4x pertemuan, maka aktivitas perawatan diri
perawatan diri sesuai usia
meningkat dengan 2) Monitor tingkat
kriteria hasil : kemandirian
• Kemampuan 3) Identifikasi kebutuhan
mandi alat bantu kebersihan
meningkat diri, berpakaian, berhias,
• Minat dan makan
melakukan Terapeutik
perawatan diri 1) Sediakan lingkungan
meningkatkan yang terapeutik (mis:
• Verbalisasi suasana hangat, rileks,
keinginan privasi)
melakukan 2) Siapkan keperluan
perawatan diri pribadi (mis: parfum
meningkat sikat gigi, dan sabun
• Kemampuan mandi)
mandi 3) Dampingi dalam
• Kemampuan melakukan perawatan
mengenakan diri sampai mandiri
pakaian 4) Fasilitasi untuk
• Kemampuan menerima keadaan
ke toilet ketergantungan
(BAB/BAK)
23
• Kemampuan 5) Fasilitasi kemandirian,
makan bantu jika tidak mampu
meningkat melakukan perawatan
diri
6) Jadwalkan rutinitas
perawatan diri
Edukasi
1) Anjurkan melakukan
perawatan diri secara
konsisten sesuai
kemampuan
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah kategori dari perilaku keperawatan,
dimana perawat melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan
hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan. Implementasi keperawatan
adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien
dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke status kesehatan yang lebih baik
yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. Tindakan keperawatan
adalah prilaku atau aktivitas spesifik yang dikerjakan oleh perawat untuk
mengimplementasikan intervensi keperawatan (PPNI, 2018)
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap dimana proses keperawatan menyangkut
pengumpulan data obyektif dan subyektif yang dapat menunjukkan masalah apa
yang terselesaikan, apa yang perlu dikaji dan direncanakan, dilaksanakan dan
dinilai apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum, sebagian tercapai
atau timbul masalah baru (Oktiviani, 2021).
24
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian Keperawatan
I. Identitas Klien
Inisial Klien : Tn. I
Umur : 46 tahun
Alamat : Air Dingin, Balai Gadang, Koto Tangah Padang
Tgl. Rawat : 25 Maret 2026
Tgl. Pengkajian : 17 April 2026
No. Rekam Medik : 01.47.88
Informan : Keponakan Tn. I
Tn. I mengatakan bahwa saat ini dirinya harus merawat ibunya yang
mengalami kelumpuhan, namun Tn. I mengatakan bahwa dirinya tidak
memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehingga Tn. I mengatakan
merasa terbebani. Tn. I mengatakan bahwa dirinya sering merasa gagal, putus
asa, dan kecewa terhadap dirinya sendiri karena tidak mampu mencapai apa
yang diharapkannya. Tn. I mengatakan bahwa dirinya lebih sering menyendiri
25
karena merasa tidak percaya diri dan tidak tahu harus berbicara apa dengan
orang lain. Tn. I mengatakan bahwa perasaan tersebut semakin membuat
dirinya merasa tidak berguna dan semakin menurunkan kepercayaan dirinya.
26
Tn. I tidak pernah mengalami, menjadi pelaku, maupun saksi
aniaya seksual.
• Penolakan
Tn. I tidak pernah mengalami, menjadi pelaku, maupun saksi
penolakan dari keluarga maupun lingkungan.
• Kekerasan dalam Keluarga
Tn. I tidak pernah mengalami, menjadi pelaku, maupun saksi
kekerasan dalam keluarga.
• Tindakan Kriminal
Tn. I pernah menjadi saksi melihat orang memakai narkoba saat
sekitar usia 25 tahun.
V. Psikososial
a. Genogram
Tn. I tinggal serumah dengan ibunya, dan keluarga keponakannya. Pola
komunikasi Tn. I dengan keluarganya baik, keputusan di rumah Tn. I
diambil oleh keponakannya namun Tn. I dilibatkan dalam pengambilan
keputusan di keluarga termasuk untuk dirinya sendiri.
Tn. I mengatakan bahwa dirinya jarang memulai pembicaraan dan lebih
sering berbicara jika ditanya oleh orang lain. Tn. I mengatakan bahwa ia
merasa kesulitan untuk memulai komunikasi karena tidak tahu harus
berbicara apa. Tn. I mengatakan bahwa ia lebih nyaman bercerita kepada
27
keponakannya dibandingkan kepada ibunya. Tn. I mengatakan bahwa ia
merasa lebih aman dan tidak takut dihakimi saat bercerita dengan
keponakannya, sedangkan kepada ibunya Tn. I mengatakan merasa tidak
enak dan tidak ingin menambah beban pikiran ibunya yang sedang sakit.
Tn. I mengatakan bahwa dirinya sering memilih diam dan menyendiri
karena merasa tidak percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain.
b. Konsep Diri
• Citra Tubuh
Tn. I mengatakan secara umum menerima kondisi tubuhnya,
namun terdapat ketidakpuasan pada bagian wajah. Tn. I merasa
wajahnya kurang menarik (insecure), sehingga menurunkan rasa
percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain.
Tn. I tampak kurang percaya diri, sering menunduk, dan
menghindari kontak mata saat membicarakan penampilan fisiknya.
Hal ini menunjukkan adanya gangguan persepsi terhadap citra
tubuh yang berkontribusi terhadap perasaan rendah diri.
28
• Identitas Diri
Tn. I mengatakan bahwa dirinya adalah seorang laki-laki berusia
47 tahun, belum menikah, dan belum memiliki anak. Tn. I
mengatakan bahwa dirinya adalah seorang anak dalam
keluarganya. Namun Tn. I mengatakan bahwa dirinya merasa tidak
seperti laki-laki pada umumnya karena tidak bekerja dan tidak
memiliki penghasilan. Tn. I mengatakan bahwa ia merasa
tertinggal dibandingkan dengan orang lain seusianya. Tn. I juga
mengatakan bahwa ia pernah menjadi saksi narkoba di masa lalu
dan hal tersebut membuat dirinya merasa semakin tidak baik
sebagai pribadi.
• Peran Diri
Tn. I mengatakan bahwa perannya di rumah adalah sebagai anak
yang merawat ibunya yang mengalami kelumpuhan. Tn. I
mengatakan bahwa ia membantu ibunya dalam aktivitas sehari-
hari seperti membantu ibunya duduk di atas tempat tidur. Namun
Tn. I mengatakan bahwa dirinya tidak bekerja, tidak memiliki
penghasilan, dan hanya berada di rumah. Tn. I mengatakan bahwa
dirinya merasa tidak dapat menjalankan peran sebagai laki-laki
yang seharusnya mencari nafkah. Tn. I mengatakan bahwa ia
merasa tidak berguna karena tidak bisa mencari uang dan tidak bisa
membaca serta menulis. Tn. I juga mengatakan bahwa dirinya
merasa hanya menjadi beban dan tidak memiliki peran penting di
masyarakat.
• Ideal Diri
Tn. I mengatakan bahwa dirinya ingin cepat sembuh agar bisa
bekerja kembali. Tn. I mengatakan bahwa ia ingin membuka usaha
yang halal dan bisa menghasilkan uang. Tn. I mengatakan bahwa
dirinya ingin menjadi pribadi yang lebih baik, ingin berguna bagi
masyarakat, dan ingin disayangi oleh orang lain. Namun Tn. I
mengatakan bahwa dirinya merasa tidak mampu mencapai semua
itu karena merasa tidak punya kemampuan, merasa minder, dan
tidak percaya diri. Tn. I mengatakan bahwa ia sering merasa gagal,
putus asa, dan kecewa terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa
mencapai apa yang ia harapkan.
• Harga Diri
Tn. I mengatakan bahwa dirinya merasa tidak berguna, merasa
tidak mampu, dan merasa tidak bisa melakukan sesuatu dengan
baik. Tn. I mengatakan bahwa dirinya tidak mampu mencari
nafkah dan merasa bodoh karena sejak kecil tidak bisa membaca
dan menulis. Tn. I mengatakan bahwa dirinya sering merasa gagal
29
dalam hidup, terutama setelah usaha jamu yang pernah
dijalankannya tidak berhasil. Tn. I mengatakan bahwa ia sering
merasa kecewa terhadap dirinya sendiri, merasa menyesal jika
melakukan kesalahan, dan merasa rendah diri. Tn. I mengatakan
bahwa dirinya tidak merasa berharga dan menganggap dirinya
tidak memiliki kemampuan. Tn. I juga mengatakan bahwa
perasaan tersebut sudah dirasakannya sejak lama dan berlangsung
terus menerus. Tn. I mengatakan bahwa pada masa sekolah ia
pernah merasa sangat putus asa hingga pernah memiliki keinginan
untuk mengakhiri hidupnya karena merasa bodoh. Saat ini Tn. I
mengatakan bahwa ia masih sering merasa minder, lelah, patah
semangat, dan merasa tidak mampu mencapai harapan hidupnya.
Tn. I mengatakan bahwa ia ingin menjadi orang yang lebih baik
setelah keluar dari rumah sakit, namun ia juga merasa ragu apakah
dirinya mampu mencapai hal tersebut.
Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah Kronis
c. Hubungan sosial
• Orang Terdekat
Tn. I mengatakan bahwa orang yang paling berarti dalam hidupnya
adalah keponakannya karena keponakan tersebut yang merawat
dan mengurusnya.
• Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat
Tn. I mengatakan bahwa aktivitasnya lebih banyak dilakukan di
rumah, selain kegiatan berkebun, dan jarang terlibat dalam
kegiatan kelompok atau masyarakat.
• Hambatan dalam Berhubungan dengan orang lain
Tn. I mengatakan bahwa dirinya tidak ingin bersosialisasi dengan
orang lain. Tn. I mengatakan bahwa ia tidak tahu harus berbicara
apa ketika bertemu dengan orang lain sehingga memilih untuk
diam. Tn. I mengatakan bahwa dirinya merasa tidak percaya diri
saat berinteraksi dengan orang lain dan lebih memilih menyendiri.
Tn. I mengatakan bahwa ia jarang memulai pembicaraan dan
hanya berbicara jika ditanya. Tn. I mengatakan bahwa dirinya
merasa minder ketika berada di lingkungan sosial sehingga lebih
nyaman berada sendiri. Tn. I mengatakan bahwa ia lebih sering
menghabiskan waktu sendiri dan jarang bergaul dengan orang lain
karena merasa tidak mampu mengikuti pembicaraan.
30
• Nilai dan Keyakinan Klien
Tn. I beragama islam dan meyakini bahwa penyakit yang
dialaminya merupakan ujian yang datang dari Allah SWT.
• Kegiatan Ibadah
Tn. I menyatakan bahwa ia melaksanakan ibadah di rumah
namun belum secara rutin.
31
h. Isi Pikir
Tn. I mengatakan bahwa dirinya sering berpikir negatif tentang dirinya
sendiri, seperti merasa bodoh, tidak mampu, dan tidak berguna. Tn. I
mengatakan bahwa dirinya sering memikirkan kegagalan yang pernah
dialaminya dalam hidup. Tn. I mengatakan bahwa ia sering merasa
bersalah dan menyesal terhadap dirinya sendiri atas hal-hal yang telah
terjadi.
Masalah keperawatan : gangguan proses pikir
i. Proses Pikir
Tn. memiliki alur pikir yang cukup koheren.
Masalah keperawatan : gangguan proses pikir
j. Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran Tn. I compos mentis namun kadang tampak bingung.
Masalah keperawatan : Gangguan Proses Pikir
k. Memori
Tn. I mengatakan ia mengalami gangguan pada daya ingat, ditandai
dengan mudah lupa terhadap nama orang yang baru dikenal (gangguan
daya ingat jangka pendek) serta beberapa kejadian di masa lalu (ganguan
daya ingat jangka panjang). Tn. I mengatakan bahwa dirinya merasa
pelupa.
Masalah keperawatan : Gangguan proses pikir
l. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung
Tn. I mengatakan bahwa dirinya masih mampu berkonsentrasi dengan
cukup baik saat melakukan aktivitas. Tn. I mengatakan bahwa ia masih
bisa melakukan perhitungan sederhana sesuai dengan kemampuannya
sejak sekolah dasar, seperti penjumlahan dan pengurangan.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
m. Kemampuan Penilaian
Tn. I mengatakan bahwa dirinya sering merasa bingung dalam mengambil
keputusan sederhana. Tn. I mengatakan bahwa ketika diminta memilih
antara melakukan kegiatan seperti makan atau mandi terlebih dahulu,
dirinya tidak langsung dapat menentukan pilihan dan harus dibimbing oleh
orang lain. Tn. I mengatakan bahwa ia membutuhkan arahan dan bantuan
agar dapat memahami dan memutuskan apa yang harus dilakukan.
Masalah keperawatan : Gangguan proses pikir
n. Daya Tilik Diri
Tn. I mengatakan bahwa dirinya menyadari memiliki masalah dalam
dirinya. Tn. I mengatakan bahwa ia merasa tidak percaya diri dan merasa
rendah diri. Tn. I mengatakan bahwa dirinya membutuhkan bantuan dan
pengobatan untuk mengatasi kondisi yang dialaminya. Tn. I mengatakan
bahwa ia ingin sembuh dan ingin memperbaiki hidupnya agar menjadi
lebih baik.
32
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
33
Tn. I mampu melakukan aktivitas di dalam rumah secara mandiri seperti
menyaipkan makanan, membersihkan rumah (menyapu), mencuci
pakaian.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
i. Kegiatan/Aktivitas Di Luar Rumah
Tn. I mampu melakukan aktivitaas di luar rumah secara mandiri seperti
berbelanja kebutuhan pribadi (misalnya beli rokok) dengan berjalan kaki
ke warung.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
a. Koping Adaptif
Tn. I mengatakan ketika ada masalah Tn. I akan becerita dengan ibunya
dan keponakannya.
b. Koping Maladaptif
Tn. I mengatakan ketika ada masalah Tn. I menyakiti diri sendiri, seperti
merokok
Masalah keperawatan : Ketidakefektifan Koping individual
34
Tn. I tidak memiliki penghasilan yang tetap sebagai petani.
g. Masalah dengan pelayanan kesehatan
Tn. I tidak rutin minum obat pada pengobatan sebelumnya sehingga
pengobatan tidak berhasil.
Masalah keperawatan :
X. Pengetahuan
Tn. I saat ini sudah mengetahui tentang penyakitnya dan memahami
pentingnya pengobatan.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan
No Data Masalah
1. DS:
• Klien mengatakan
merasa dirinya tidak
berguna, bodoh, dan
tidak bermanfaat
• Klien merasa tidak
mampu bekerja dan
mencari nafkah
• Klien mengatakan
tidak bisa membaca
dan menulis Harga Diri Rendah
• Klien merasa bersalah
dan tidak mampu
35
berusaha dalam suatu
hal
DO:
• Tampak kurang
percaya diri
• Afek tumpul
• Menarik diri dari
aktivitas sosial
• Berjalan menunduk
2. DS:
• Klien mengatakan
lebih banyak
aktivitas di rumah
• Klien merasa lemas
saat berada di
keramaian Isolasi Sosial
• Klien mengatakan
tidak tahu harus
berbicara apa
dengan orang lain
DO:
• Jarang terlibat
dalam kegiatan
masyarakat
• Interaksi sosial
terbatas
3. DS:
• Klien mengatakan
jarang memotong kuku
• Klien mengatakan
kadang lupa merawat
diri
• Klien mengatakan Defisit perawatan diri (DPD)
kurang memperhatikan
kebersihan
DO:
• Kuku klien panjang
dan kotor
• Kebersihan diri kurang
optimal
36
• Penampilan kurang
terawat
4. DS:
• Klien mengatakan
terakhir minum obat 3
bulan yang lalu
DO:
• Riwayat rawat
berulang (4 kali Ketidakefektifan Penatalaksanaan
dirawat di RSJ) Program Terapeutik
• Tidak rutin kontrol
pengobatan
• Keluarga mengatakan
tidak mampu
mengontrol kepatuhan
minum obat
5. DS:
• Klien mengatakan
sedih karena ayah dan
adiknya meninggal
• Klien menyatakan
pernah mengalami Berduka Disfungsional
kegagalan usaha
DO:
• Ekspresi sedih
• Afek tumpul
• Menunjukkan tanda
keputusasaan
6. DS:
• Klien mengatakan
kakinya terasa kaku
DO: Gangguan Mobilitas Fisik
• Tampak gelisah
• Aktivitas motorik
terganggu
37
7. DS:
• Klien mengatakan
• Klien mengatakan
tidak tahu apa yang Hambatan Komunikasi Verbal
ingin dibicarakan
saat berinteraksi
dengan orang lain
• Klien mengatakan
hanya mampu
berinteraksi dalam
waktu singkat
DO:
• Bicara cepat dan
kadang terbata-bata
• Perpindahan topik
pembicaraan
• Afek tumpul
8. DS:
• Klien mengatakan
pasrah terhadap
kondisi Keputusasaan
• Klien merasa tidak
mampu
memperbaiki
keadaan
DO:
• Afek tumpul
• Ekspresi
menunjukkan
keputusasaan
9. DS:
• Klien mengatakan
mendengar suara
bisikan
• Suara menyuruh dan
mengajak Gangguan Persepsi Sensori:
• Halusinasi muncul Halusinasi Pendengaran
saat sendiri,
terutama sore hari
DO:
38
• Tampak berbicarra
sendiri
10. DS:
• Klien mengatakan
dirinya tidak
berguna
• Klien mengatakan
mudah lupa
• Klien tidak tahu apa
yang harus
dilakukan
DO: Gangguan Proses Pikir
• Alur pikir kadang
tidak terarah
• Perpindahan topik
• Kadang tampak
bingung
• Gangguan memori
jangka pendek dan
panjang
11. DS:
• Klien mengatakan
menyakiti diri
sendiri saat ada Ketidakefektifan Koping Individual
masalah (merokok)
DO:
• Mekanisme koping
maladaptif
• Ketergantungan
pada orang lain
dalam
menyelesaikan
masalah
39
12. DS:
• Klien tidak rutin
minum obat
sebelumnya Gangguan Pemeliharaan Kesehatan
• DO:
• Kekambuhan
berulang
• Ketidakpatuhan
terapi
• Perlu bantuan
keluarga dalam
pengobatan
40
B. Diagnosa Keperawatan
1. Harga diri rendah b.d pengalaman kegagalan berulang dan ketidakmampuan
memenuhi peran (ketidakmampuan membaca dan menulis) d.d menilai diri
negatif, merasa bersalah, merasa tidak mampu melakukan apapun, berjalan
menunduk
2. Isolasi sosial b.d ketidakmampuan menjalin interaksi sosial dan kurang
keterampilan komunikasi d.d merasa lemas saat berada di keramaian,
merassa tidak bisa berinteraksi dalam waktu yang lama, tampak menarik diri
dari lingkungan
3. Defisit perawatan diri b.d penurunan minat d.d minat melakukan perawatan
diri kurang
41
C. Rencana Tindakan Keperawatan
Nama : Irwan Joni
No. RM : 01.47.88
42
• Minat mencoba • Diskusikan pernyataan kemampuan
hal baru tentang harga diri positif membantu
• Diskusikan kepercayaan mengubah pola
meningkat terhadap penilaian diri pikir negatif dan
• Berjalan • Diskusikan pengalaman meningkatkan
menampakkan yang meningkatkan harga kesadaran diri
diri terhadap potensi
wajah meningkat
• Diskusikan persepsi negatif yang masih
• Postur tubuh diri dimiliki.
menampakkan • Diskusikan alasan 3. Penguatan positif
mengkritik diri atau rasa membantu
wajah meningkat
bersalah meningkatkan
• Perasaan malu • Diskusikan penetapan tujuan motivasi dan
menurun realistis untuk mencapai memperkuat
harga diri yang lebih tinggi perilaku adaptif.
• Perasaan bersalah
• Diskusikan Bersama Klien akan merasa
menurun keluarga untuk menetapkan dihargai dan lebih
• Perasaan tidak harapan dan Batasan yang percaya diri
jelas terhadap
mampu
• Berikan umpan balik positif kemampuannya.
melakukan atas peningkatan mencapai 4. Mendorong klien
apapun menurun tujuan melakukan
• Fasilitasi lingkungan dan aktivitas yang
• Meremehkan
aktivitas yang meningkatkan sesuai
kemampuan diri kemampuan
Edukasi
43
mengatasi • Jelaskan kepada keluarga
masalah menurun pentingnya dukungan dalam
perkembangan konsep
positif diri pasien
• Anjurkan mengidentifikasi
kekuatan yang dimiliki
• Anjurkan mempertahankan
kontak mata saat
berkomunikasi dengan orang
lain
• Anjurkan membuka diri
terhadap kritik negatif
• Anjurkan mengevaluasi
perilaku
• Ajarkan cara mengatasi
bullying
• Latih peningkatan tanggung
jawab untuk diri sendiri
• Latih
pernyataan/kemampuan
positif diri
• Latih cara berfikir dan
berperilaku positif
• Latih meningkatkan
kepercayaan pada
44
kemampuan dalam
menangani situasi
45
• Sepakati komitmen untuk 3. Aktivitas
meningkatkan frekuensi dan kelompok
rentang aktivitas memberikan
• Fasilitasi memilih aktivitas pengalaman
dan tetapkan tujuan aktivitas sosial yang
yang konsisten sesuai positif dan
kemampuan fisik, membantu klien
psikologis, dan sosial merasa menjadi
• Koordinasikan pemilhan bagian dari
aktivitas sesuai usia lingkungan.
• Fasilitasi makna aktivitas 4. Penguatan positif
yang dipilih meningkatkan
• Fasilitasi transportasi untuk motivasi dan
menghadiri aktivitas, jika memperkuat
sesuai perilaku adaptif
• Fasilitasi pasien dan dalam
keluarga dalam berinteraksi
menyesuaikan lingkungan sosial.
untuk mengakomodasi 5. Latihan bertahap
aktivitas yang dipilih membantu
meningkatkan
• Fasilitasi aktivitas rutin (mis:
kemampuan
ambulasi, mobilisasi, dan
interaksi sosial
perawatan diri), sesuai
dan mengurangi
kebutuhan
kecemasan saat
berhubungan
46
• Fasilitasi aktivitas pengganti dengan orang
saat mengalami keterbatasan lain.
waktu, energi, atau gerak 6. Aktivitas yang
• Fasilitasi aktivitas motorik meningkat secara
kasar untuk pasien hiperaktif bertahap
• Tingkatkan aktivitas fisik membantu klien
untuk memelihara berat menjadi lebih
badan, jika sesuai mandiri dan
• Fasilitasi aktivitas motorik membuka
untuk merelaksasi otot peluang interaksi
• Fasilitasi aktivitas aktivitas sosial.
dengan komponen memori
implisit dan emosional (mis:
kegiatan keagamaan khusus)
untuk pasien demensia, jika
sesuai
• Libatkan dalam permainan
kelompok yang tidak
kompetitif, terstruktur, dan
aktif
• Tingkatkan keterlibatan
dalam aktivitas rekreasi dan
diversifikasi untuk
menurunkan kecemasan
(mis: vocal group, bola voli,
tenis meja, jogging,
47
berenang, tugas sederhana,
permainan sederhana, tugas
rutin, tugas rumah tangga,
perawatan diri, dan teka-teki
dan kartu)
• Libatkan keluarga dalam
aktivitas, jika perlu
• Fasilitasi mengembangkan
motivasi dan penguatan diri
• Fasilitasi pasien dan
keluarga memantau
kemajuannya sendiri untuk
mencapai tujuan
• Jadwalkan aktivitas dalam
rutinitas sehari-hari
• Berikan penguatan positif
atas partisipasi dalam
aktivitas
Edukasi
• Jelaskan metode aktivitas
fisik sehari-hari, jika perlu
• Ajarkan cara melakukan
aktivitas yang dipilih
48
• Anjurkan melakukan
aktivitas fisik, sosial,
spiritual, dan kognitif
dalam menjaga fungsi dan
kesehatan
• Anjurkan terlibat dalam
aktivitas kelompok atau
terapi, jika sesuai
• Anjurkan keluarga untuk
memberi penguatan positif
atas partisipasi dalam
aktivitas
Kolaborasi
• Kolaborasi dengan terapis
okupasi dalam
merencanakan dan
memonitor program
aktivitas, jika sesuai
• Rujuk pada pusat atau
program aktivitas komunitas,
jika perlu
49
3. Defisit Setelah dilakukan Kriteria hasil : Dukungan Perawatan Diri Dengan memberikan
perawatan diri intervensi • Kemampuan a. Observasi pemahaman tentang
keperawatan selama mandi meningkat 1) Identifikasi kebiasaan perawatan kebersihan
4x pertemuan, maka • Minat melakukan aktivitas perawatan diri diri,Tn. I mampu
perawatan diri perawatan diri sesuai usia memahami tentang
meningkat meningkatkan 2) Monitor tingkat kemandirian perawatan kebersihan
• Verbalisasi 3) Identifikasi kebutuhan alat diri, memberikan
keinginan bantu kebersihan diri, kesempatan kepada
melakukan berpakaian, berhias, dan Tn. I mengatasi
perawatan diri makan masalah dengan
meningkat b. Terapeutik melatih dan
• Kemampuan 1) Sediakan lingkungan yang membimbing Tn. I
mandi terapeutik (mis: suasana melakukan perawatan
• Kemampuan hangat, rileks, privasi) diri secara bertahap
mengenakan 2) Siapkan keperluan pribadi
pakaian (mis: parfum sikat gigi, dan
• Kemampuan ke sabun mandi)
toilet 3) Dampingi dalam melakukan
(BAB/BAK) perawatan diri sampai
mandiri
• Kemampuan
4) Fasilitasi untuk menerima
makan meningkat
keadaan ketergantungan
5) Fasilitasi kemandirian, bantu
jika tidak mampu melakukan
perawatan diri
50
6) Jadwalkan rutinitas
perawatan diri
c. Edukasi
1) Anjurkan melakukan
perawatan diri secara
konsisten sesuai
kemampuan
D. Implementasi Keperawatan
Nama : Irwan Joni
51
A:
• Masalah harga diri rendah tercapai sebagian
• Tn. I mulai mengenal kemampuan diri
P:
• Lanjutkan latihan identifikasi kemampuan
• Rencanakan SP 2
Selasa, 21 April SP 2 S:
2026 • Mengevaluasi kemampuan • Tn. I mengatakan memiliki kemampuan yang
10.00 WIB klien positif
• Membantu memilih • Tn. I mengatakan ingin mencoba kemampuan
kemampuan yang bisa O:
dilakukan • Tn. I tampak lebih percaya diri
• Memberi motivasi • Tn. I mampu memilih kegiatan
A:
• Masalah harga diri rendah tercapai sebagian
• Tn. I mampu menilai kemampuan diri
P:
• Latih penggunaan kemampuan
• Rencanakan SP 3
Rabu, 22 April SP 3 S:
2026 • Melatih aktivitas sederhana • Tn. I mengatakan senang bisa melakukan kegiatan
16.00 WIB • Memberikan pujian • Tn. I mengatakan merasa dirinya berguna
• Memasukkan ke jadwal harian O:
• Tn. I tampak melakukan aktivitas
• Tn. I tampak lebih aktif
52
A:
• Masalah harga diri rendah tercapai sebagian
• Tn. I mulai percaya diri
P:
• Lanjutkan latihan kemampuan
• Rencanakan SP 4
Kamis, 23 April SP 4 S:
2026 • Mengevaluasi kegiatan • Tn. I mengatakan sudah percaya diri
16.00 WIB • Melatih mandiri • Tn. I mengatakan ingin terus melakukan kegiatan
• Memberikan reinforcement O:
• Tn. I tampak mandiri melakukan aktivitas
• Tn. I tampak lebih bersemangat
A:
• Masalah harga diri rendah tercapai sebagian besar
• Tn. I mampu mempertahankan kemampuan
P:
• Pertahankan kegiatan harian
• Evaluasi lanjutan
2. Isolasi sosial SP 1 S:
• Membina hubungan terapeutik • Tn. I mengatakan mau mencoba berbicara
Senin, 20 April • Mengajak komunikasi • Tn. I mengatakan merasa lebih nyaman
2026 • Memberikan rasa aman O:
14.00 WIB • Tn. I tampak mulai merespon
• Kontak mata mulai ada
A:
53
• Masalah isolasi sosial tercapai sebagian
• Tn. I mulai mau berinteraksi
P:
• Lanjutkan komunikasi terapeutik
• Rencanakan SP 2
Selasa, 21 April SP 2 S:
2026 • Melatih cara berkenalan • Tn. I mengatakan sudah bisa berkenalan
14.00 WIB • Memberi contoh • Tn. I mengatakan masih sedikit malu
• Mendampingi klien O:
• Tn. I tampak mencoba berkenalan
• Tn. I tampak berbicara dengan bantuan
A:
• Masalah isolasi sosial tercapai sebagian
• Tn. I mulai berinteraksi
P:
• Latih komunikasi sederhana
• Rencanakan SP 3
Rabu, 22 April SP 3 S:
2026 • Melatih interaksi dengan orang • Tn. I mengatakan sudah mulai berani berbicara
09.00 WIB lain • Tn. I mengatakan senang berinteraksi
• Mendampingi klien O:
• Memberikan pujian • Tn. I tampak berbicara dengan orang lain
• Kontak mata mulai baik
A:
• Masalah isolasi sosial tercapai sebagian
54
• Tn. I mampu interaksi sederhana
P:
• Lanjutkan latihan interaksi
• Rencanakan SP 4
Kamis, 23 April SP 4 S:
2026 • Melatih interaksi mandiri • Tn. I mengatakan sudah nyaman berinteraksi
09.00 WIB • Mengikutkan dalam kegiatan • Tn. I mengatakan tidak terlalu takut
• Memberikan motivasi O:
• Tn. I tampak aktif berbicara
• Tn. I tampak bergabung dengan orang lain
A:
• Masalah isolasi sosial tercapai sebagian besar
• Tn. I mampu berinteraksi mandiri
P:
• Pertahankan interaksi sosial
• Evaluasi lanjutan
3. Defisit perawatan SP 1 (Kebersihan diri: mandi) S:
diri • Membina hubungan saling • Tn. I mengatakan sudah mulai mandi, gosok
percaya. gigi, dan ganti pakaian sendiri, tetapi sering
Senin, 20 April • Mengidentifikasi lupa memotong kuku
2026 kemampuan klien dalam O:
11.00 WIB mandi. Melatih klien mandi • Tn. I tampak mampu menyebutkan alat-alat
dengan benar (gosok gigi, mandi
cuci rambut, bersih tubuh). A:
55
• Memasukkan ke dalam • SP 1 DPD mulai teratasi, Tn. I mampu
jadwal harian klien melakukan kebersihan diri (mandi)
P:
• Lanjutkan latihan mandi secara mandiri sesuai
jadwal
• Rencanakan SP 2
• Masukkan ke jadwal harian pasien
Selasa, 21 April SP 2 (Berhias dan berdandan) S:
2026 • Mengevaluasi SP 1. • Tn. I mengatakan mengerti pentingnya
11.00 WIB • Melatih klien berpakaian berdandan
rapi, menyisir rambut, dan • Tn. I mengatakan bersedia berdadan seperti
menjaga penampilan. menyisir rambut
• Memasukkan ke dalam O:
jadwal harian klien • Tn. I tampak mampu melakukan berdandan
(menyisir rambut)
• Tn. I mampu menyebutkan alat-alat berdandan
A:
• SP 2, DPD mualai teratasi sebagian, Tn. I
mampu melakukan berbandan
P:
• Lanjutkan latihan berdandan setiap hari
• Rencakan SP 3 melatih makan dan minum
secara mandiri
• Masukkan ke jadwal harian pasien
56
Rabu, 22 April SP 3 (Makan dan minum) S:
2026 • Mengevaluasi SP • Tn. I mengatakan sudah bisa makan dan
15.00 WIB sebelumnya. minum sendiri
• Melatih klien makan dan • Tn. I mengatakan sudah bisa merapikan alat
minum secara mandiri, makan
menjaga kebersihan saat O:
makan, dan merapikan alat • Tn. I tampak mencuci tangan sebelum makan
makan. dan sesudah makan
• Memasukkan ke dalam • Tn. I tampak sudah bisa merapikan alat makan
jadwal harian klien nya setelah makan
A:
• SP 3, DPD mulai teratasi sebagian, Tn. I
mampu makan dan minum sendiri dan bisa
merapikan alat secara mandiri
P:
• Lanjutkan latihan berdandan setiap hari
• Rencakan SP 4 melatih BAB/BAK secara
mandiri
• Masukkan ke jadwal harian pasien
Kamis, 23 April SP 4 (BAB dan BAK) S:
2026 • Mengevaluasi kemampuan • Tn. I mengatakan mengerti cara BAB/BAK
15.00 WIB klien. yang benar
• Melatih klien melakukan • Tn. I mengatakan akan membersihkan diri
BAB/BAK secara mandiri, setelah BAK/BAK
menjaga kebersihan diri O:
57
setelahnya, serta • Tn. I tampak pergi ke toilet saat ingin
membiasakan perilaku BAB/BAK
higienis. • Tn. I tampak membersihkan diri setelah
• Memasukkan ke dalam BAB/BAK
jadwal harian klien • Tn. I tampak merapikan pakain nya kembali
setlah BAB/BAK
A:
• SP 4, DPD teratasi, Tn. I mampu melakukan
BAB/BAK dengan benar
P:
• Lanjutkan latihan BAB/BAK secara mandiri
• Evaluasi kemapuan pasien dalam melakukan
perawatan diri secara menyeluruh SP 1,2,3,4
58
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seminar kasus ini menunjukkan bahwa harga diri rendah merupakan
masalah keperawatan jiwa yang kompleks dan sering muncul pada pasien dengan
gangguan mental, seperti skizofrenia. Kondisi ini ditandai dengan perasaan tidak
berharga, rendah diri, pesimis, serta ketidakmampuan individu dalam menilai
dirinya secara positif. Faktor penyebabnya meliputi aspek biologis, psikologis,
dan sosial budaya, serta dapat diperburuk oleh pengalaman traumatis, kegagalan
berulang, dan kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu,
penanganan harga diri rendah memerlukan pendekatan yang komprehensif dan
berkelanjutan.
Pada kasus Tn. I, didapatkan bahwa masalah utama yang dialami adalah
harga diri rendah kronis yang ditandai dengan perasaan tidak berguna, tidak
mampu bekerja, serta merasa bodoh karena tidak bisa membaca dan menulis.
Selain itu, ditemukan masalah keperawatan lain seperti isolasi sosial, defisit
perawatan diri, gangguan persepsi sensori berupa halusinasi pendengaran, serta
gangguan proses pikir. Kondisi ini diperparah oleh riwayat gangguan jiwa
sebelumnya, ketidakpatuhan pengobatan, serta adanya pengalaman hidup yang
tidak menyenangkan seperti kehilangan anggota keluarga dan kegagalan usaha.
Penerapan asuhan keperawatan pada Tn. I dilakukan melalui tahapan
proses keperawatan mulai dari pengkajian, penetapan diagnosa, perencanaan,
implementasi, hingga evaluasi. Intervensi yang diberikan difokuskan pada
peningkatan harga diri, peningkatan kemampuan interaksi sosial, serta
kemandirian dalam perawatan diri. Hasil implementasi menunjukkan adanya
peningkatan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti
mandi, berhias, makan, dan eliminasi secara mandiri, meskipun masih
memerlukan latihan dan pendampingan secara bertahap.
59
B. Saran
Dengan selesainya dilakukan asuhan keperawatan jiwa pada klien Tn. I
dengan Diagnosa Keperawatan Harga Diri Rendah diruangan Nuri, diharapkan
dapat memberikan masukan terutama pada:
1. Bagi Mahasiwa
Diharapkan ini dapat menambah wawasan mahasiswa dan dapat
mengaplikasikan ilmu pengetahuan tentang asuhan keperawatan Jiwa dengan
pasien Diagnosa Keperawatan Harga Diri Rendah
2. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan sebagai bahan untuk pelaksanaan pendidikan serta masukan
dan perbandingan untuk penelitian lebih lanjut asuhan keperawatan jiwa
dengan pasien Diagnosa Keperawatan Harga Diri Rendah
3. Bagi Pelayanan Keperawatan
Diharapkan ini akan memberikan manfaat bagi pelayanan keperawatan
dengan memberikan gambaran Harga Diri Rendah yang komprehensif serta
memberikan pelayanan yang lebih baik.
60
DAFTAR PUSTAKA
Ramadhani, A. S., Rahmawati, A. N. dan Apriliyani, I. (2021) “Studi Kasus Harga Diri
Rendah Kronis pada Pasien Skizofrenia,” Jurnal Keperawatan Notokusumo, 9(2),
hal. 13–23.
Fajariyah, N., & Tiara, D. (2023). Analisis Asuhan Keperawatan melalui Intervensi Terapi
Kognitif Prilaku dengan Masalah Keperawatan Harga Diri Rendah pada Nn. A
dan Nn. N di Desa Citayam Bogor. Jurnal
Nadhira, R. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa Klien Dengan Harga Diri Rendah Di
Ruang Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Prof Hb Saanin Padang. Karya Tulis
Ilmiah.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017) Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi
dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI (2018) Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta:
DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI (2017) Standar Luaran Keperawatan Indonesia, Jakarta : DPP
PPNI.
61