0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan16 halaman

Setingkat

Dokumen ini mengatur tentang biaya perjalanan dinas pindah bagi Pegawai Negeri, termasuk komponen biaya seperti transportasi, pengepakan, dan uang harian. Pembayaran biaya dilakukan melalui mekanisme tertentu dan harus dipertanggungjawabkan dengan dokumen yang sah. Selain itu, terdapat ketentuan mengenai pembatalan perjalanan dan pertanggungjawaban biaya yang harus disampaikan dalam waktu tertentu.

Diunggah oleh

deniarkalausbain
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan16 halaman

Setingkat

Dokumen ini mengatur tentang biaya perjalanan dinas pindah bagi Pegawai Negeri, termasuk komponen biaya seperti transportasi, pengepakan, dan uang harian. Pembayaran biaya dilakukan melalui mekanisme tertentu dan harus dipertanggungjawabkan dengan dokumen yang sah. Selain itu, terdapat ketentuan mengenai pembatalan perjalanan dan pertanggungjawaban biaya yang harus disampaikan dalam waktu tertentu.

Diunggah oleh

deniarkalausbain
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MENTERI KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA
- 14 -
(4) Selain keluarga yang sah sebagaimana dimaksud pada
ayat (3), bagi Pegawai Negeri paling rendah golongan IV
atau pejabat eselon III diperkenankan pula untuk
membawa pembantu rumah tangga sebanyak 1 (satu)
orang.
(5) Pembantu rumah tangga sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) diberikan biaya sesuai tingkat penggolongan
untuk Pegawai Negeri Golongan I.

BAB VII
BIAYA PERJALANAN DINAS PINDAH

Pasal 18
(1) Biaya Perjalanan Dinas Pindah terdiri atas komponen
sebagai berikut:
a. biaya transpor pegawai;
b. biaya transpor keluarga;
c. biaya pengepakan dan angkutan barang; dan/atau
d. uang harian.
(2) Biaya Perjalanan Dinas Pindah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dibayarkan secara lumpsum dan
merupakan batas tertinggi sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan mengenai Standar Biaya.
(3) Komponen biaya Perjalanan Dinas Pindah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dicantumkan pada Rincian
Biaya Perjalanan Dinas sesuai dengan format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.

Pasal 19
Penggolongan tingkat Biaya Perjalanan Dinas Pindah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) mengacu
pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat
(1).

Pasal 20
(1) Biaya-biaya yang diberikan untuk Perjalanan Dinas
Pindah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)
huruf a, huruf b, huruf d, dan huruf f sebagai berikut:
a. biaya transpor pegawai;
b. biaya transpor keluarga yang sah;
c. uang harian; dan/atau
d. biaya pengepakan dan angkutan barang.
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
- 15 -
(2) Biaya-biaya yang diberikan untuk Perjalanan Dinas
Pindah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)
huruf c dan huruf e sebagai berikut:
a. biaya transpor keluarga;
b. uang harian; dan/atau
a. biaya pengepakan dan angkutan barang.
(3) Uang harian Perjalanan Dinas Pindah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf d diberikan
untuk pegawai bersangkutan dan masing-masing
anggota keluarga yang sah dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. selama 3 (tiga) hari setelah tiba di tempat tujuan
pindah/menetap yang baru;
b. paling lama 2 (dua) hari untuk tiap kali menunggu
sambungan (transit) dalam hal perjalanan tidak
dapat dilakukan langsung;
c. sebanyak jumlah hari tertahan dalam hal pegawai
yang bersangkutan jatuh sakit dalam Perjalanan
Dinas Pindah, satu dan lain hal menurut keputusan
KPA; atau
d. sebanyak jumlah hari tertahan dalam hal pegawai
yang sedang menjalankan Perjalanan Dinas Pindah
mendapat perintah dari pejabat yang menerbitkan
Surat Tugas untuk melakukan tugas lain guna
kepentingan negara.
Pasal 21
Perjalanan Dinas Pindah yang dilakukan dalam rangka
pindah tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)
huruf a atas permintaan sendiri, tidak diberikan biaya
Perjalanan Dinas.

Pasal 22
(1) Perhitungan biaya pengepakan dan angkutan barang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1)
didasarkan pada:
a. satuan biaya yang berlaku sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai
Standar Biaya;
b. volume barang; dan
c. jarak antara tempat kedudukan dengan tempat
tujuan.
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
- 16 -
(2) Jarak antara tempat kedudukan dengan tempat tujuan
sebagaimana dimaksud ayat (1) ditetapkan menurut
daftar jarak resmi atau menurut keterangan resmi dari
instansi yang berwenang.

Pasal 23
(1) Dalam biaya pengepakan dan angkutan barang
termasuk untuk bongkar muat dan penggudangan.
(2) Biaya pengepakan dan angkutan barang dengan
menggunakan kendaraan angkutan darat diberikan
sebesar 50% (lima puluh persen) dari satuan biaya
sesuai Peraturan Menteri Keuangan mengenai Standar
Biaya.
(3) Biaya pengepakan dan angkutan barang sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diberikan dalam hal Perjalanan
Dinas Pindah dilakukan dalam jarak:
a. kurang dari 100 (seratus) kilometer di Pulau Jawa/
Madura; atau
b. kurang dari 50 (lima puluh) kilometer di luar Pulau
Jawa/Madura.
(4) Satuan Volume Pengepakan dan Angkutan Barang yang
digunakan sebagai dasar perhitungan sebagaimana
tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 24
Biaya Perjalanan Dinas Pindah dibebankan pada DIPA
satuan kerja yang menerbitkan surat keputusan pindah/
mutasi.
BAB VIII
PELAKSANAAN DAN PROSEDUR
PEMBAYARAN BIAYA PERJALANAN DINAS

Pasal 25
(1) Pembayaran biaya Perjalanan Dinas diberikan dalam
batas pagu anggaran yang tersedia dalam DIPA satuan
kerja berkenaan.
(2) Pembayaran biaya Perjalanan Dinas kepada Pelaksana
SPD paling cepat 5 (lima) hari kerja sebelum Perjalanan
Dinas dilaksanakan.
(3) Pada akhir tahun anggaran, ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dapat melebihi 5 (lima) hari
kerja menyesuaikan dengan ketentuan yang mengatur
mengenai langkah-langkah menghadapi akhir tahun
anggaran.
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
- 17 -
(4) Pengajuan biaya Perjalanan Dinas Pindah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) diatur sebagai
berikut:
a. untuk huruf d berlaku untuk jangka waktu 1 (satu)
tahun terhitung sejak tanggal pemberhentian atau
meninggal dunia;
b. untuk huruf b, huruf c, dan huruf e berlaku paling
lambat 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal
dibayarkan pensiun pertama.

Pasal 26
(1) Pembayaran biaya Perjalanan Dinas dilakukan melalui
mekanisme UP dan/atau mekanisme Pembayaran
Langsung (LS).
(2) Pembayaran biaya Perjalanan Dinas dengan mekanisme
LS dilakukan melalui:
a. perikatan dengan penyedia jasa;
b. Bendahara Pengeluaran; atau
c. Pelaksana SPD.
(3) Perjalanan Dinas Jabatan yang dilakukan melalui
perikatan dengan penyedia jasa sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a meliputi :
a. Perjalanan Dinas Jabatan dalam rangka pelaksanaan
tugas dan fungsi yang melekat pada jabatan; dan
b. Perjalanan Dinas Jabatan dalam rangka mengikuti
rapat, seminar dan sejenisnya.
Pasal 27
(1) Pembayaran biaya Perjalanan Dinas dengan mekanisme
UP dilakukan dengan memberikan uang muka kepada
Pelaksana SPD oleh Bendahara Pengeluaran.
(2) Pemberian uang muka sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), berdasarkan persetujuan pemberian uang
muka dari PPK dengan melampirkan dokumen sebagai
berikut:
a. Surat Tugas atau surat keputusan pindah;
b. fotokopi SPD;
c. kuitansi tanda terima uang muka; dan
d. rincian perkiraan biaya Perjalanan Dinas.

Pasal 28
(1) Penyedia jasa untuk pelaksanaan Perjalanan Dinas
dapat berupa event organizer, biro jasa perjalanan,
perusahaan jasa transportasi, dan perusahaan jasa
perhotelan/ penginapan.
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
- 18 -
(2) Penetapan penyedia jasa sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan sesuai ketentuan yang mengatur
pengadaan barang/jasa pemerintah.
(3) Komponen biaya Perjalanan Dinas yang dapat
dilaksanakan dengan perikatan meliputi biaya transpor
termasuk pembelian/pengadaan tiket dan/atau biaya
penginapan.
Pasal 29
(1) Kontrak/perjanjian dengan penyedia jasa dapat
dilakukan untuk 1 (satu) paket kegiatan atau untuk
kebutuhan periode tertentu.
(2) Nilai satuan harga dalam kontrak/perjanjian tidak
diperkenankan melebihi tarif tiket resmi yang
dikeluarkan oleh perusahaan jasa transportasi atau tarif
penginapan/hotel resmi yang dikeluarkan oleh penyedia
jasa penginapan/hotel.
Pasal 30
(1) Pembayaran biaya Perjalanan Dinas kepada penyedia
jasa didasarkan atas prestasi kerja yang telah
diselesaikan sebagaimana diatur dalam kontrak/
perjanjian.
(2) Atas dasar prestasi kerja yang telah diselesaikan,
penyedia jasa mengajukan tagihan kepada PPK.
Pasal 31
(1) Pembayaran biaya Perjalanan Dinas Jabatan dengan
mekanisme LS dilakukan melalui transfer dari Kas
Negara ke rekening Bendahara Pengeluaran, pihak
ketiga atau Pelaksana SPD.
(2) Dalam hal biaya Perjalanan Dinas Jabatan yang
dibayarkan kepada Pelaksana SPD melebihi biaya
Perjalanan Dinas Jabatan yang seharusnya
dipertanggungjawabkan, kelebihan biaya Perjalanan
Dinas Jabatan tersebut harus disetor ke Kas Negara
melalui PPK.
(3) Penyetoran kelebihan pembayaran sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan:
a. menggunakan Surat Setoran Pengembalian Belanja
(SSPB) untuk tahun anggaran berjalan; atau
b. menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP)
untuk tahun anggaran lalu.
(4) Dalam hal biaya Perjalanan Dinas Jabatan yang
dibayarkan kepada Pelaksana SPD kurang dari yang
seharusnya, dapat dimintakan kekurangannya.
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
- 19 -
(5) Pembayaran kekurangan biaya Perjalanan Dinas
Jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat
dilakukan melalui mekanisme UP atau LS.

Pasal 32
Tata cara pengajuan tagihan kepada PPK, pengujian surat
permintaan pembayaran, dan penerbitan Surat Perintah
Membayar oleh Pejabat Penanda Tangan SPM, dan
penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) oleh
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)
berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan mengenai
tata cara pembayaran atas beban Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara.

Pasal 33
(1) Dalam hal terjadi pembatalan pelaksanaan Perjalanan
Dinas Jabatan, biaya pembatalan dapat dibebankan
pada DIPA satuan kerja berkenaan.
(2) Dokumen yang harus dilampirkan dalam rangka
pembebanan biaya pembatalan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi:
a. Surat Pernyataan Pembatalan Tugas Perjalanan
Dinas Jabatan dari atasan Pelaksana SPD, atau
paling rendah Pejabat Eselon II bagi Pelaksana SPD
di bawah Pejabat Eselon III ke bawah, yang dibuat
sesuai format sebagaimana tercantum dalam
Lampiran VII yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;
b. Surat Pernyataan Pembebanan Biaya Pembatalan
Perjalanan Dinas Jabatan yang dibuat sesuai format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran VIII yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini;
c. Pernyataan/Tanda Bukti Besaran Pengembalian
Biaya Transpor dan/atau biaya penginapan dari
perusahaan jasa transportasi dan/atau penginapan
yang disahkan oleh PPK.
(3) Biaya pembatalan yang dapat dibebankan pada DIPA
satuan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sebagai berikut:
a. biaya pembatalan tiket transportasi atau biaya
penginapan; atau
b. sebagian atau seluruh biaya tiket transportasi atau
biaya penginapan yang tidak dapat dikembalikan/
refund.
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
- 20 -
BAB IX
PERTANGGUNGJAWABAN BIAYA PERJALANAN DINAS

Pasal 34
(1) Pelaksana SPD mempertanggungjawabkan pelaksanaan
Perjalanan Dinas kepada pemberi tugas dan biaya
Perjalanan Dinas kepada PPK paling lambat 5 (lima) hari
kerja setelah Perjalanan Dinas dilaksanakan.
(2) Pertanggungjawaban biaya Perjalanan Dinas Jabatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan
melampirkan dokumen berupa:
a. Surat Tugas yang sah dari atasan Pelaksana SPD;
b. SPD yang telah ditandatangani oleh PPK dan pejabat
di tempat pelaksanaan Perjalanan Dinas atau pihak
terkait yang menjadi Tempat Tujuan Perjalanan
Dinas;
c. tiket pesawat, boarding pass, airport tax, retribusi,
dan bukti pembayaran moda transportasi lainnya;
d. Daftar Pengeluaran Riil sesuai dengan format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran IX yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini;
e. bukti pembayaran yang sah untuk sewa kendaraan
dalam Kota berupa kuitansi atau bukti pembayaran
lainnya yang dikeluarkan oleh badan usaha yang
bergerak di bidang jasa penyewaan kendaraan; dan
f. bukti pembayaran hotel atau tempat menginap
lainnya.
(3) Dalam hal bukti pengeluaran transportasi dan/atau
penginapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf
c, huruf e, dan huruf f tidak diperoleh,
pertanggungjawaban biaya Perjalanan Dinas Jabatan
dapat hanya menggunakan Daftar Pengeluaran Riil
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d.
(4) Pertanggungjawaban biaya Perjalanan Dinas Pindah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan
melampirkan dokumen berupa:
a. Fotokopi surat keputusan pindah;
b. SPD yang telah ditandatangani pihak yang
berwenang;
c. kuitansi/bukti penerimaan untuk uang harian;
d. kuitansi/bukti penerimaan untuk biaya transpor;
dan
e. kuitansi/bukti penerimaan untuk biaya pengepakan
dan angkutan barang.
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
- 21 -

Pasal 35
(1) PPK melakukan Perhitungan Rampung seluruh bukti
pengeluaran biaya Perjalanan Dinas dan disampaikan
kepada Bendahara Pengeluaran.
(2) PPK berwenang untuk menilai kesesuaian dan
kewajaran atas biaya-biaya yang tercantum dalam
daftar pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal
34.
(3) PPK mengesahkan bukti pengeluaran sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan menyampaikan kepada
Bendahara Pengeluaran sebagai pertanggungjawaban
UP atau bukti pengesahan Surat Permintaan
Membayar/Surat Permintaan Pencairan Dana (SPM/
SP2D) LS Perjalanan Dinas.
Pasal 36
Pihak-pihak yang melakukan pemalsuan dokumen,
menaikkan dari harga sebenarnya (mark up), dan/atau
Perjalanan Dinas rangkap (dua kali atau lebih) dalam
pertanggungjawaban Perjalanan Dinas yang berakibat
kerugian yang diderita oleh negara, bertanggung jawab
sepenuhnya atas seluruh tindakan yang dilakukan.
BAB X
PENGENDALIAN INTERNAL

Pasal 37
(1) Menteri/Pimpinan Lembaga menyelenggarakan
pengendalian internal terhadap pelaksanaan Perjalanan
Dinas.
(2) Pengendalian internal sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.

BAB XI
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 38
(1) Pejabat penerbit Surat Tugas sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (2) dapat memerintahkan pihak lain
di luar Pejabat Negara/Pegawai Negeri/Pegawai Tidak
Tetap untuk melakukan Perjalanan Dinas.
(2) Pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
melakukan Perjalanan Dinas untuk kepentingan
negara, digolongkan dalam tingkat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1).
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
- 22 -
(3) Penggolongan terhadap pihak lain sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) ditentukan oleh PPK dengan
mempertimbangkan tingkat pendidikan/kepatutan/
tugas yang bersangkutan.
(4) Pegawai Negeri Sipil Golongan I dapat melakukan
Perjalanan Dinas dalam hal mendesak/khusus, dalam
hal tenaga teknis tidak diperoleh di tempat
bersangkutan.
Pasal 39
Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan dalam rangka
pelaksanaan Peraturan Menteri ini ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Perbendaharaan.
BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 40

Ketentuan mengenai satuan volume barang sebagai dasar


perhitungan biaya pengepakan dan biaya angkutan barang
sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI digunakan
sebagai dasar penyusunan Standar Biaya pengepakan dan
angkutan barang dalam Peraturan Menteri Keuangan
mengenai Standar Biaya.

Pasal 41
Ketentuan mengenai Perjalanan Dinas yang dibiayai dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diatur dalam
Peraturan Menteri ini berlaku sepanjang belum diatur dalam
peraturan yang lebih tinggi.

BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 42
Pada saat Peraturan Menteri ini berlaku:
a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 7/KMK.02/2003
tentang Perjalanan Dinas Dalam Negeri bagi Pejabat
Negara, Pegawai Negeri Sipil, dan Pegawai Tidak Tetap;
dan
b. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.05/2007
tentang Perjalanan Dinas Jabatan Dalam Negeri bagi
Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 07/PMK.05/2008,
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
- 23 -

Pasal 43
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 3 Juli 2012
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

AGUS D. W. MARTOWARDOJO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 3 Juli 2012
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI
MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 678
LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 113/PMK.05/2012
TENTANG
PERJALANAN DINAS JABATAN DALAM NEGERI BAGI PEJABAT
NEGARA, PEGAWAI NEGERI, DAN PEGAWAI TIDAK TETAP

MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

Kementerian Negara/Lembaga: Lembar Ke :


............................... Kode No :
Nomor :

SURAT PERJALANAN DINAS (SPD)


1 Pejabat Pembuat Komitmen
2 Nama/NIP Pegawai yang melaksanakan
perjalanan dinas
3 a. Pangkat dan Golongan a.
b. Jabatan/Instansi b.
c. Tingkat Biaya Perjalanan Dinas c.
4 Maksud Perjalanan Dinas
5 Alat angkutan yang dipergunakan
6 a. Tempat berangkat a.
b. Tempat Tujuan b.
7 a. Lamanya Perjalanan Dinas a.
b. Tanggal berangkat b.
c. Tanggal harus kembali/tiba di c.
tempat baru *)
8 Pengikut : Nama Tanggal Lahir Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
9 Pembebanan Anggaran
a. Instansi a.
b. Akun b.

10 Keterangan lain-lain
coret yang tidak perlu Dikeluarkan di :
Tanggal

Pejabat Pembuat Komitmen

(……………………..…………)
NIP
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
-2-

I. Berangkat dari :
(Tempat Kedudukan)
Ke :
Pada Tanggal :
Kepala

(………………...…………….......................)
NIP
II. Tiba di : Berangkat dari :
Pada Tanggal : Ke :
Kepala : Pada Tanggal :
Kepala

(……………………………..……………) (……………………………………………..)
NIP NIP
III. Tiba di : Berangkat dari :
Pada Tanggal : Ke :
Kepala : Pada Tanggal :
Kepala

(……………………………..……………) (……………………………………………..)
NIP NIP
IV. Tiba di : Berangkat dari :
Pada Tanggal : Ke :
Kepala : Pada Tanggal :
Kepala

(……………………………..……………) (……………………………………………..)
NIP NIP
V. Tiba di : Berangkat dari :
Pada Tanggal : Ke :
Kepala : Pada Tanggal :
Kepala

(……………………………..…………) (……………………………………………..)
NIP NIP
VI. Tiba di : Telah diperiksa dengan keterangan bahwa perjalanan
(Tempat Kedudukan) tersebut atas perintahnya dan semata-mata untuk
Pada Tanggal : kepentingan jabatan dalam waktu yang sesingkat-
singkatnya.
Pejabat Pembuat Komitmen Pejabat Pembuat Komitmen

(…………………………..……………) (………………………………………….)
NIP NIP
VII. Catatan Lain-Lain
VIII. PERHATIAN :
PPK yang menerbitkan SPD, pegawai yang melakukan perjalanan dinas, para pejabat yang mengesahkan
tanggal berangkat/tiba, serta bendahara pengeluaran bertanggung jawab berdasarkan peraturan-
peraturan Keuangan Negara apabila negara menderita rugi akibat kesalahan, kelalaian, dan
kealpaannya.

MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

AGUS D. W. MARTOWARDOJO
LAMPIRAN II
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 113/PMK.05/2012
TENTANG
PERJALANAN DINAS JABATAN DALAM NEGERI BAGI PEJABAT
NEGARA, PEGAWAI NEGERI, DAN PEGAWAI TIDAK TETAP

MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RINCIAN BIAYA PERJALANAN DINAS

Lampiran SPD Nomor :


Tanggal :

No. PERINCIAN BIAYA JUMLAH KETERANGAN


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
JUMLAH : Rp
Terbilang

………….…, tanggal, bulan, tahun


Telah dibayar sejumlah Telah menerima jumlah uang sebesar
Rp…………………… Rp……………...……………………....

Bendahara Pengeluaran Yang Menerima

(…..……………………..) (…….………………..)
NIP NIP

PERHITUNGAN SPD RAMPUNG

Ditetapkan sejumlah : Rp ………………………….


Yang telah dibayar semula : Rp ………………………….
Sisa kurang/lebih : Rp ………………………….

Pejabat Pembuat Komitmen

(………………………………………..)
NIP

MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

AGUS D. W. MARTOWARDOJO
LAMPIRAN III
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 113/PMK.05/2012
TENTANG
PERJALANAN DINAS JABATAN DALAM NEGERI BAGI PEJABAT
NEGARA, PEGAWAI NEGERI, DAN PEGAWAI TIDAK TETAP

MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

I. KOMPONEN BIAYA PERJALANAN DINAS JABATAN MELEWATI BATAS KOTA

Biaya
Biaya Biaya Jumlah Hari Pemetian
Uang
Jenis Perjalanan Dinas Jabatan Transpor yang dan
Harian Penginapan Pegawai dibayarkan Angkutan
Jenazah
a. Perjalanan Dinas Jabatan
dalam rangka pelaksanaan Sesuai
√ √ √ -
tugas dan fungsi yang penugasan
melekat pada jabatan
b. Perjalanan Dinas Jabatan
Sesuai
untuk mengikuti rapat, √ 1) √ 1) √ 1) -
penugasan
seminar dan sejenisnya.
c. Perjalanan Dinas Jabatan
Maksimal 90
dalam rangka
√ √ 2) √ 3) (sembilan -
Pengumandahan
puluh) hari
(Detasering).
d. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk menempuh ujian √ √ √ 2 (dua) hari -
dinas/ujian jabatan.
e. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk menghadap Majelis
Penguji Kesehatan Pegawai
Negeri atau menghadap
seorang dokter penguji Sesuai
√ √ √ -
kesehatan yang ditunjuk, penugasan
untuk mendapatkan surat
keterangan dokter tentang
kesehatannya guna
kepentingan jabatan.
f. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk memperoleh
pengobatan berdasarkan
Sesuai
surat keterangan dokter √ √ √ -
penugasan
karena mendapat cedera
pada waktu/karena
melakukan tugas.
g. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk mendapatkan
Sesuai
pengobatan berdasarkan √ √ √ -
penugasan
keputusan Majelis Penguji
Kesehatan Pegawai Negeri.
h. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk mengikuti Maksimal 2
√ √ √ -
pendidikan setara (dua) hari
Diploma/S1/S2/S3.
i. Perjalanan Dinas Jabatan
Sesuai
untuk mengikuti √ 4) √ 5) √ -
penugasan
pendidikan dan pelatihan.
j. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk menjemput/
mengantarkan ke tempat
pemakaman jenazah Maksimal 3
√ √ √ √
pejabat negara/pegawai (tiga) hari
negeri yang meninggal
dunia dalam melakukan
perjalanan dinas.
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
-2-

Biaya
Biaya Biaya Jumlah Hari Pemetian
Uang
Jenis Perjalanan Dinas Jabatan Transpor yang dan
Harian Penginapan Pegawai dibayarkan Angkutan
Jenazah
k. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk menjemput/
mengantarkan ke tempat
pemakaman jenazah
pejabat negara/pegawai Maksimal 3
√ √ √ √
negeri yang meninggal (tiga) hari
dunia dari Tempat
Kedudukan yang terakhir
ke kota tempat
pemakaman.

Keterangan:

1. √ 1) : Rincian biaya Perjalanan Dinas Jabatan untuk mengikuti kegiatan rapat, seminar, dan
sejenisnya berdasarkan Lampiran tersendiri sebagaimana tercantum dalam Lampiran
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
2. √ 2) : Biaya penginapan diberikan pada
saat kedatangan dan selama masa Pengumandahan (Detasering) dalam hal tidak tersedia
rumah dinas.
3. √ 3) : Biaya transpor pegawai diberikan untuk transpor pada saat kedatangan dan kepulangan.
4. √ 4) : Uang Harian diberikan berupa uang saku sesuai standar biaya selama mengikuti
kegiatan.
5. √ 5) : Biaya Penginapan diberikan 1 (satu) hari pada saat kedatangan dan 1 (satu) hari pada saa
kepulangan.
6. Jenis Perjalanan Dinas Jabatan pada huruf j dan huruf k: uang harian, biaya transpor
pegawai/keluarga, dan biaya penginapan diberikan paling banyak untuk 4 (empat) orang.
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
-3-

II. KOMPONEN BIAYA PERJALANAN DINAS JABATAN DI DALAM KOTA LEBIH DARI 8 (DELAPAN) JAM

Biaya
Biaya Pemetian
Uang Biaya Jumlah Hari yang
Jenis Perjalanan Dinas Jabatan Transpor dan
Harian Penginapan dibayarkan
Pegawai Angkutan
Jenazah
a. Perjalanan Dinas Jabatan
dalam rangka pelaksanaan
√ √ √ Sesuai penugasan -
tugas dan fungsi yang
melekat pada jabatan
b. Perjalanan Dinas Jabatan
Sesuai
untuk mengikuti rapat, √ 1) √ 1) √ 1) -
penugasan
seminar dan sejenisnya.
c. Perjalanan Dinas Jabatan
Maksimal 90
dalam rangka
√ √ 2) √ 3) (sembilan puluh) -
Pengumandahan
hari
(detasering).
d. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk menempuh ujian √ √ √ 2 (dua) hari -
dinas/ ujian jabatan.
e. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk menghadap Majelis
Penguji Kesehatan Pegawai
Negeri atau menghadap
seorang dokter penguji Sesuai
√ √ √ -
kesehatan yang ditunjuk, penugasan
untuk mendapatkan surat
keterangan dokter tentang
kesehatannya guna
kepentingan jabatan.
f. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk memperoleh
pengobatan berdasarkan
Sesuai
surat keterangan dokter √ √ √ -
penugasan
karena mendapat cedera
pada waktu/karena
melakukan tugas.
g. mendapatkan pengobatan
berdasarkan keputusan Sesuai
√ √ √ -
Majelis Penguji Kesehatan penugasan
Pegawai Negeri.
h. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk mengikuti
Maksimal 2 (dua)
pendidikan setara √ √ √ -
hari
Diploma/S1/S2/S3.

i. Perjalanan Dinas Jabatan Sesuai


untuk mengikuti √ 4) √ 5) √ penugasan -
pendidikan dan pelatihan.
j. Perjalanan Dinas Jabatan
untuk menjemput/
mengantarkan ke tempat
pemakaman jenazah Maksimal 3 (tiga)
√ √ √ √
pejabat negara/pegawai hari
negeri yang meninggal
dunia dalam melakukan
perjalanan dinas.

Anda mungkin juga menyukai