SATUAN ACARA PENYULUHAN TERAPI BERMAIN CLAY
DI RUANG RAWAT ARAFAH 2 RSUDZA
D
I
S
U
S
U
N
Oleh :
Kelompok 2:
Husna Faidzi. S. Kep
Anda Cahya Malia. S. Kep
Riska Belasari. S. Kep
Akhsanun Nadya. S. Kep
Yanda Fitria. S. Kep
Juhri Abadi. S. Kep
PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU ILMU KESEHATAN
UNVIERSITAS ABULYATAMA
ACEH BESAR
2025
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok bahasan : Terapi Bermain Clay
Sub pokok bahasan : Terapi Bermain Clay
Sasaran : Pasien Anak Di Ruang Rawat Arafah 1 RSUDZA
Hari/Tanggal : Minggu 23 Maret 2025
Waktu : 09:00
Tempat : Ruang Rawat Anak Arafah 1 RSUDZA
Pengorganisasian
Moderator : Anda cahaya malia
Pemateri : Husna Faidzi
Notulen : 1. Riska belasari
2. Yanda Fitria
Fasilitator : 1. Juhri Abadi
2. Akhsanun nadyya
A. Latar Belakang
Terapi bermain merupakan terapi yang digunakan agar mengurangi kecemasan ketakutan dan
anak dapat mengenal lingkungan, serta belajar mengenai perawatan serta prosedur yang
dilakukan oleh staf rumah sakit (Daniel, 2021). Salah satu macam terapi bermain yang sesuai
dengan tahapan anak usia pra sekolah 3-6 tahun yaitu bermain Clay. Selama di rumah sakit
permainan ini bisa dilakukan sendiri maupun dengan orang lain yaitu dampingan orang tua,
perawat, maupun teman sebaya nya yang ada di lingkungan sekitar nya (Nurmayunita Heny &
Apriyani Puji Hastuti, 2019). Bermain Clay akan melepaskan anak dari ketegangan dan
kecemasan yang di alami. Terapi bermain Clay dilakukan Karena dengan bermain anak akan
dapat mangalih kan rasa sakitnya pada permainan (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangan
nya dalam bermain. Akibat adanya distraksi dan relaksasi yang terjadi, anak yang mengalami
cemas akhirnya menjadi tidak cemas lagi. Clay dapat meningkatkan daya pikir anak dan
konsentrasi anak. Melalui Clay anak akan dapat mempelajari sesuatu yg rumit serta anak akan
berpikir bagaimana Clay dapat terbentuk sesuai gambar atau cetakan dengan rapi. Pemberian
terapi bermain Clay terhadap dampak hospitalisasi pada anak usia prasekolah yaitu ada pengaruh
terhadap penurunan kecemasan, kehilangan kontrol, dan ketakutan pada anak yang dirawat di
rumah sakit. Karena bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi anak – anak.
B. Tujuan Umum
Terapi bermain merupakan terapi yang digunakan agar mengurangi kecemasan ketakutan dan
anak dapat mengenal lingkungan, serta belajar mengenai perawatan serta prosedur yang
dilakukan oleh staf rumah sakit
C. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti terapi bermain diharapkan anak anak yang sedang dirawat dapat
1. Mengurangi kecemasan selama dirawat
2. Mengurangi ketakutan terhadap lingkungan rumah sakit
3. Motoric anak berkembang
D. Metode
Ceramah, Diskusi dan bermain.
E. Media
Clay, Roll dan plastic.
F. Proses Pelaksanaan
No Kegiatan Penyuluhan Waktu Kegiatan Peserta Media
1. Pembukaan 5 menit Menjawab
a. Salam salam
b. Perkenalan Mendengarkan
c. Menjelaskan tujuan
dari pertemuan
d. Kontrak waktu
2. Pelaksanaan 20 menit Clay
a. Membagikan Clay
b. Menyampaikan
materi
c. Memberikan
kesempatan kepada
pasien dan keluarga
untuk bertanya hal-
hal yang belum
jelas.
3. Penutupan 5 menit a. Menjawab
a. Menyimpulkan pertanyaan
kegiatan yang b. Memperhatikan
telah c. Menjawab salam
disampaikan.
b. Memberikan
salam penutup.
G. Evaluasi
1. Kriteria Struktur
a. Penyuluh mempersiapkan satuan acara penyuluhan
b. Penyuluh mempersiapkan dan membawa media untuk penyuluhan (leaflet
dan lembar balik).
c. Kontrak dengan pasien dan keluarga sudah dilakukan
2. Kriteria proses
a. Pada awal kunjungan, petugas sudah menjelaskan tujuan dilakukan
kunjungan.
b. Selama kegiatan penyuluhan, pasien, aktif mendengarkan dan
memperhatikan serta bermain.
c. Pasien aktif saat mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
d. Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
e. Kontrak telah diingatkan oleh petugas.
3. Kriteria hasil
a. Pasien kooperatif selama selama diskusi berlangsung.
b. Pasien kooperatif bertanya dan menjawab pertanyaan pertanyaan petugas.
c. Pasien dapat menjelaskan Pengertian, Penyebab, Tanda-tanda, Jenis,
Komplikasi, dan Cara mencegah yang baik pada perawat.
DAFTAR PUSTAKA
Aliyah, H., & Rusmariana, A. (2021). Gambaran Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah
Yang MengalamiHospitalisasi : Literature Review. Seminar Nasional Kesehatab, 1, 377–384.
Ardini, Pupung Puspa dan Anik Lestariningrum. (2018). Bermain dan Permainan Anak Usia
Dini (Sebuah Kajian Teori dan Praktik). Nganjuk: Adjie Media Nusantara.
Azam, M. (2020). Kecemasan Pada Anak Prasekolah. Varidika, 32, 37–44. Dinkes Jateng. Profil
Kesehatan Jawa Tengah. Chand SP, Marwaha R, Bender RM. (2020).
Anxiety (Nursing). In: StatPearls. StatPearls Publishing, Treasure Island (FL); 2021. PMID:
33760520. Daniel, D. (2021). Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah
Yang Mengalami Hospitalisasi : A Literature Review. 6(1).
Dinkes Jateng. (2020). Data dan Informasi. Semarang : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
[Link]
Fadlillah. (2018). Bermain dan Permainan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada media
Group, h. 6-11.
Handriana, I. (2019). Keperawatan Anak. LovRinz Hermand, T. Heather. (2018). Diagnosis
Keperawatan Definisi & Klasifikasi Jakarta: EGC.
Hidayati, H., Yulianingsih, Y., & Ratnasih, T. (2021). Metode Storytelling Melalui Musik
Instrumental dalam Menstimulus Kemandirian Anak Usia Dini. Murhum : Jurnal Pendidikan
Anak Usia Dini, 2(2), 48–57.
Jannah, N. I. (2018). Gambaran Tingkat Stress Pada Anak Usia Sekolah dengan Hospitalisasi di
RSUD Labuang Baji. Thesis. Kamil, Insan, Rismia Agustina, dan Abdurahman
Wahid. (2018). “Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani
Hemodialisis Di RSUD Ulin Banjarmasin.” Dinamika Kesehatan 9 (2): 366–77.
Kartika, L. (2021). Keperawatan Anak Dasar. Yayasan Kita Menulis. Khairani, A., O. N. (2018).
Pengaruh Hospitalisasi Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Preschool Di Rumah Sakit Tk Ii
Putri Hijau Kesdam I/Bb Medan. : Jurnal Riset Hesti Medan, 3, 2