0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan36 halaman

Penyakit Tidak Menular Diabetes Mellitus: Imam Tri Sutrisno, M.Keep

Dokumen ini membahas tentang penyakit diabetes melitus, termasuk prevalensi global dan nasional, definisi, faktor risiko, manifestasi klinis, serta penatalaksanaan dan edukasi bagi pasien. Prediksi menunjukkan peningkatan jumlah penderita diabetes di Indonesia yang signifikan hingga tahun 2030. Penatalaksanaan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mencegah komplikasi melalui edukasi, pengaturan pola makan, dan aktivitas fisik.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan36 halaman

Penyakit Tidak Menular Diabetes Mellitus: Imam Tri Sutrisno, M.Keep

Dokumen ini membahas tentang penyakit diabetes melitus, termasuk prevalensi global dan nasional, definisi, faktor risiko, manifestasi klinis, serta penatalaksanaan dan edukasi bagi pasien. Prediksi menunjukkan peningkatan jumlah penderita diabetes di Indonesia yang signifikan hingga tahun 2030. Penatalaksanaan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mencegah komplikasi melalui edukasi, pengaturan pola makan, dan aktivitas fisik.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penyakit Tidak Menular

Diabetes Mellitus
Imam Tri Sutrisno, [Link]
Prevalensi

Jumlah orang dewasa penderita diabetes di dunia diperkirakan akan meningkat dari
150 juta pada tahun 2000 menjadi 300 juta pada tahun 2025
Badan kesehatan dunia WHO memprediksi kenaikan jumlah pasien DM tipe 2 di
Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030.
Prediksi International Diabetes Federation (IDF) juga menunjukkan bahwa pada
tahun 2019 - 2030 terdapat kenaikan jumlah pasien DM dari 10,7 juta menjadi 13,7
juta pada tahun 2030
Prevalensi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003, diperkirakan


penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun sebanyak 133 juta jiwa, dengan
prevalensi DM sebesar 14,7% pada daerah urban dan 7,2% pada daerah rural,
sehingga diperkirakan pada tahun 2003 didapatkan 8,2 juta pasien DM di daerah
rural.
Berdasarkan pola pertambahan penduduk, diperkirakan bahwa pada tahun 2030
nanti akan ada 194 juta penduduk yang berusia diatas 20 tahun dan dengan asumsi
prevalensi DM pada urban (14,7%) dan rural (7,2%), maka diperkirakan terdapat 28
juta pasien diabetes di daerah urban dan 13,9 juta di daerah rural.
Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 oleh Departemen
Kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi DM menjadi 8,5%.
Regional epidemiological status

Di negara-negara industri, jumlah Sementara mayoritas penderita


penderita diabetes akan meningkat diabetes melitus di negara-negara
sekitar sepertiga antara tahun 2000 dan industri berada pada kelompok usia
2025, sedangkan di negara-negara lanjut, mayoritas di negara-negara
berkembang jumlah tersebut akan berkembang cenderung berusia
meningkat lebih dari dua kali lipat [2]. setengah baya dan berada pada tahap
Pada tahun 2025, lebih dari 75% kehidupan paling produktif
populasi penderita diabetes di dunia
akan tinggal di negara-negara
berkembang
Definisi

Pada tahun 1999, WHO mendefinisikan diabetes melitus sebagai “gangguan metabolisme dengan
berbagai etiologi, yang ditandai dengan hiperglikemia kronis dengan gangguan metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein yang diakibatkan oleh defek sekresi insulin, kerja insulin, atau
keduanya.
Efek diabetes melitus meliputi kerusakan jangka panjang, disfungsi, dan kegagalan berbagai organ.
Dengan demikian, kelainan metabolisme diabetes diakibatkan oleh kerja insulin yang tidak memadai
pada jaringan target, akibat sekresi insulin yang kurang atau ketidakpekaan terhadap kerja insulin,
atau kombinasi keduanya.
Diabetes melitus adalah suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah
melebihi normal (hiperglikemia)
Diabetes melitus (DM) saat ini menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Berdasarkan
penyebabnya, DM dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu DM tipe 1, DM tipe 2, DM
gestasional dan DM tipe lain.
Regulation of blood glucose

Dua masalah utama yang berkaitan dengan insulin


pada diabetes tipe 2 adalah resistensi insulin dan
gangguan sekresi insulin. Resistensi insulin mengacu
pada penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin.
Biasanya, insulin mengikat reseptor khusus pada
permukaan sel dan memulai serangkaian reaksi yang
terlibat dalam metabolisme glukosa. Pada diabetes tipe
2, reaksi intraseluler ini berkurang, sehingga insulin
kurang efektif dalam merangsang penyerapan glukosa
oleh jaringan dan mengatur pelepasan glukosa oleh
hati (lihat Gambar 51-1). Mekanisme pasti yang
menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin pada diabetes tipe 2 tidak diketahui, meskipun
faktor genetik diduga berperan.
Faktor Resiko

Faktor risiko untuk diabetes tipe 2 meliputi:


1. Obesitas (BMI ≥ 27 kg/m2)
2. Riwayat diabetes keluarga riwayat diabetes gestasional, intoleransi
glukosa sebelumnya, atau melahirkan bayi dengan berat > 9 pon (4,1 kg)
3. Kadar lipoprotein densitas tinggi (HDL) ≤ 35 mg/dl atau trigliserida (LDL)
≥ 250 mg/dl
4. Hipertensi
5. Usia (≥ 45).
Manifestasi Klinis

Hiperglikemia meningkatkan konsentrasi cairan intravaskular, meningkatkan


tekanan osmotiknya, dan menarik air dari sel dan jaringan ke dalam darah. Hal ini
menyebabkan dehidrasi seluler dan hilangnya glukosa (glikosuria), elektrolit, dan
air dalam urin.
Dehidrasi seluler menyebabkan rasa haus dan peningkatan asupan air (polidipsia)
serta diuresis dengan peningkatan buang air kecil (poliuria).
Rasa lapar (polifagia) merupakan hasil dari upaya tubuh untuk meningkatkan
pasokan energinya, meskipun asupan lebih banyak karbohidrat tidak memenuhi
kebutuhan energi sel.
Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus
Penatalaksanaan Diabetes Melitus

Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup pasien


diabetes. Tujuan penatalaksanaan meliputi
1. Tujuan jangka pendek: menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup,
dan mengurangi risiko komplikasi akut.
2. Tujuan jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit
mikroangiopati dan makroangiopati.
3. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM.
Langkah-langkah Penatalaksanaan Khusus

Materi edukasi pada tingkat awal dilaksanakan Materi edukasi pada tingkat lanjut dilaksanakan di Pelayanan
di Pelayanan Kesehatan Primer yang meliputi: Kesehatan Sekunder dan/atau Tersier, yang meliputi:
1. Materi tentang perjalanan penyakit DM. 1. Mengenal dan mencegah penyulit akut DM.
2. Makna dan perlunya pengendalian dan 2. Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM.
pemantauan DM secara berkelanjutan.
3. Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit
3. Penyulit DM dan risikonya. lain.
4. Intervensi non-farmakologi dan farmakologis serta
target pengobatan.
4. Rencana untuk kegiatan khusus (contoh :
olahraga)
5. Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman
hasil glukosa darah atau urin mandiri (hanya jika 5. Kondisi khusus yang dihadapi (contoh : hamil,
alat pemantauan glukosa darah mandiri tidak puasa, kondisi rawat inap)
tersedia). 6. Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan
6. Mengenal gejala dan penanganan awal teknologi mutakhir tentang DM.
hipoglikemia
7. Pemeliharaan/perawatan kaki.
7. Pentingnya latihan jasmani yang teratur
8. Pentingnya perawatan kaki.
9. Cara menggunakan fasilitas perawatan kesehatan
Langkah-langkah Penatalaksanaan Khusus

Perilaku hidup sehat bagi pasien DM adalah Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi DM adalah:
memenuhi anjuran :
1. Mengikuti pola makan sehat. 1. Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta
hindari terjadinya kecemasan.
2. Meningkatkan kegiatan jasmani dan latihan
jasmani yang teratur 2. Memberikan informasi secara bertahap, dimulai dengan
hal-hal yang sederhana dan dengan cara yang mudah
3. Menggunakan obat DM dan obat lainya pada dimengerti.
keadaan khusus secara aman dan teratur. 3. Melakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan
4. Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri melakukan simulasi.
(PGDM) dan memanfaatkan hasil pemantauan 4. Mendiskusikan program pengobatan secara terbuka,
untuk menilai keberhasilan pengobatan. perhatikan keinginan pasien. Berikan penjelasan secara
sederhana dan lengkap tentang program pengobatan yang
5. Melakukan perawatan kaki secara berkala. diperlukan oleh pasien dan diskusikan hasil pemeriksaan
6. Memiliki kemampuan untuk mengenal dan laboratorium.
menghadapi keadaan sakit akut dengan tepat. 5. Melakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan
7. Mempunyai keterampilan mengatasi masalah pengobatan dapat diterima.
yang sederhana, dan mau bergabung dengan 6. Memberikan motivasi dengan memberikan penghargaan.
kelompok pasien diabetes serta mengajak 7. Melibatkan keluarga/pendamping dalam proses edukasi.
keluarga untuk mengerti pengelolaan pasien DM. 8. Perhatikan kondisi jasmani dan psikologis serta tingkat
8. Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan pendidikan pasien dan keluarganya.
kesehatan yang ada. 9. Gunakan alat bantu audio visual.
Elemen Edukasi Perawatan Kaki
Terapi Nutrisi Medis (TNM)

Prinsip pengaturan makan pada pasien DM hampir sama dengan anjuran makan
untuk masyarakat umum, yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan
kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu.
Pasien DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal
makan, jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama pada mereka yang
menggunakan obat yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu
sendiri
Karbohidrat

a. Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45 − 65% total asupan energi. Terutama karbohidrat yang
berserat tinggi.
b. Pembatasan karbohidrat total < 130 g/hari tidak dianjurkan.
c. Glukosa dalam bumbu diperbolehkan sehingga pasien diabetes dapat makan sama dengan
makanan keluarga yang lain.
d. Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.
e. Dianjurkan makan tiga kali sehari dan bila perlu dapat diberikan makanan selingan seperti buah
atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.
Lemak

a. Asupan lemak dianjurkan sekitar 20 − 25% kebutuhan kalori, dan tidak diperkenankan melebihi
30% total asupan energi.
b. Komposisi yang dianjurkan: lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori; Lemak tidak jenuh ganda < 10
%; Selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal sebanyak 12-15%
c. Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak
trans antara lain: daging berlemak dan susu fullcream; Konsumsi kolesterol yang dianjurkan
adalah < 200 mg/hari.
Protein

a. Pada pasien dengan nefropati diabetik perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg BB
perhari atau 10% dari kebutuhan energi, dengan 65% diantaranya bernilai biologik tinggi.
b. Pasien DM yang sudah menjalani hemodialisis asupan protein menjadi 1−1,2 g/kg BB perhari.
c. Sumber protein yang baik adalah ikan, udang, cumi, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit,
produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu dan tempe.
d. Sumber bahan makanan protein dengan kandungan saturated fatty acid (SAFA) yang tinggi
seperti daging sapi, daging babi, daging kambing dan produk hewani olahan sebaiknya dikurangi
untuk dikonsumsi
Natrium

a. Anjuran asupan natrium untuk pasien DM sama dengan orang sehat yaitu < 1500 mg per hari.
b. Pasien DM yang juga menderita hipertensi perlu dilakukan pengurangan natrium secara
individual.
c. Pada upaya pembatasan asupan natrium ini, perlu juga memperhatikan bahan makanan yang
mengandung tinggi natrium antara lain adalah garam dapur, monosodium glutamat, soda, dan
bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit.
Serat

a. Pasien DM dianjurkan mengonsumsi serat dari kacang-kacangan, buah dan


sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat.
b. Jumlah konsumsi serat yang disarankan adalah 20 − 35 gram per hari
Pemanis Alternatif

a. Pemanis alternatif aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman (Accepted Daily
Intake/ADI). Pemanis alternatif dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak
berkalori.
b. Pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan
kalori, seperti glukosa alkohol dan fruktosa.
c. Glukosa alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol, sorbitol dan xylitol.
d. Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada pasien DM karena dapat meningkatkan kadar LDL,
namun tidak ada alasan menghindari makanan seperti buah dan sayuran yang mengandung
fruktosa alami.
e. Pemanis tak berkalori termasuk aspartam, sakarin, acesulfame potasium, sukrose, neotame
Menentukan kebutuhan kalori (Rumus Harris-Benedict)

Pria: BMR = 66,5 + (13,75 × BB) + (5,003 × TB) − (6,755 × Usia)

Wanita: BMR = 66,5 + (9,563 × BB) + (1,850 × TB) − (4,676 × Usia)

Keterangan:
BMR = Basal Metabolic Rate (kalori/hari)
BB = Berat Badan (kg)
TB = Tinggi Badan (cm)
Usia = Umur (tahun)
Menentukan kebutuhan kalori (Rumus Harris-Benedict)

Kebutuhan Kalori Total: TEE = BMR x Faktor Aktivitas

Jenis Aktivitas Jenis Aktivitas


Sangat ringan (tidur, minim aktivitas) 1,2
Ringan (pekerja kantor, mahasiswa) 1,375
Sedang (guru, pekerja pabrik ringan) 1,55
Berat (buruh, petani, atlet amatir) 1,725
Sangat berat (atlet profesional, pekerja tambang) 1,9
Latihan Fisik

a. Program latihan fisik secara teratur dilakukan 3 − 5 hari seminggu selama sekitar 30 − 45 menit, dengan
total 150 menit per minggu, dengan jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut
b. Latihan fisik yang dianjurkan berupa latihan fisik yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang (50 − 70%
denyut jantung maksimal) seperti jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang
c. Denyut jantung maksimal dihitung dengan cara mengurangi 220 dengan usia pasien.
d. Pasien diabetes dengan usia muda dan bugar dapat melakukan 90 menit/minggu dengan latihan aerobik
berat, mencapai > 70% denyut jantung maksimal.
e. Pemeriksaan glukosa darah dianjurkan sebelum latihan fisik. Pasien dengan kadar glukosa darah < 100
mg/dL harus mengkonsumsi karbohidrat terlebih dahulu dan bila > 250 mg/dL dianjurkan untuk menunda
latihan fisik
f. Pada pasien DM tanpa kontraindikasi (contoh: osteoartritis, hipertensi yang tidak terkontrol, retinopati,
nefropati) dianjurkan juga melakukan resistance training (latihan beban) 2 − 3 kali/perminggu
SISTEM RUJUKAN PASIEN DIABETES MELITUS

• Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 374 Tahun 2009 tentang Sistem
Kesehatan Nasional, dapat dicapai melalui sistem rujukan yang jelas sesuai dengan peran dan
fungsi dari setiap jenjang fasilitas pelayanan kesehatan
• Nomor 1 tahun 2012 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan
• Sistem rujukan sendiri bersifat timbal balik antar pemberi pelayanan kesehatan, artinya
setelah permasalahan medis telah teratasi dengan optimal sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan, maka kasus tersebut harus dirujuk balik ke fasilitas pelayanan kesehatan perujuk.
SISTEM RUJUKAN PASIEN DIABETES MELITUS
Terima Kasih
1. Apa yang menjadi penyebab utama Diabetes Mellitus
tipe 1?
a. Resistensi insulin
[Link] produksi insulin akibat kerusakan sel beta
pancreas
c. Pola makan tinggi gula
[Link]
2. Resistensi insulin adalah penyebab utama Diabetes
Mellitus tipe 2

Benar

Salah
3. Diabetes Mellitus tipe 2 lebih sering terjadi pada anak-
anak dibandingkan orang dewasa

Benar

Salah
4. Manakah gejala klasik dari Diabetes Mellitus?
a. Nyeri sendi, mual, dan muntah
[Link] pendengaran dan vertigo
c. Poliuria, polidipsia, dan polifagia
[Link] dan pusing
5. Kadar gula darah sewaktu yang menunjukkan
diagnosis Diabetes Mellitus adalah?
a. ≥ 100 mg/dL
b.≥ 140 mg/dL
c. ≥ 180 mg/dL
d.≥ 200 mg/dL
6. Diabetes Mellitus dapat disembuhkan sepenuhnya
dengan pengobatan.

Benar

Salah
7. Komplikasi kronis yang sering terjadi pada penderita
Diabetes Mellitus adalah…
a. Asma, bronkitis, dan pneumonia
[Link], osteoporosis, dan hipotiroidisme
c. Retinopati diabetik, nefropati diabetik, dan neuropati
diabetic
[Link], anemia, dan gagal jantung
8. Hormon yang berperan dalam menurunkan kadar
glukosa darah adalah…
a. Insulin
[Link]
c. Adrenalin
[Link]
9. Hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah terlalu
tinggi

Benar

Salah
10. Salah satu tanda hipoglikemia pada penderita
diabetes adalah…
a. Luka sulit sembuh
[Link], berkeringat dingin, dan gemetar
c. Mulut kering dan sering haus
[Link] buang air kecil meningkat

Anda mungkin juga menyukai